Tag Archives: ubud

Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018

Bali menjadi langganan banyak festival bergengsi. Salah satunya Ubud Village Jazz Festival.

Tahun ini festival jazz tahunan tersebut masuk tahun keenam. Festival bergengsi ini akan digelar pada 10 – 11 Agustus 2018 di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art) Ubud. Dari pukul 3 sore hingga 11.30 malam tiap harinya, para pecinta musik jazz akan dimajakan dengan alunan nada dari musisi-musisi ternama.

UVJF yang lahir dari inisiatif para musisi jazz dan pemerhati musik serta insan kreatif yang berbasis di Bali selalu memberi ruang dan turut mempromosikan musisi-musisi muda Indonesia untuk berekspresi dalam ajang internasional ini. Di samping tentu saja nama-nama besar dan melegenda seperti Idang Rasjidi Syndicate, musisi jazz legendaris dari Indonesia, yang telah menginspirasi ratusan musisi jazz Indonesia dari generasi di bawahnya. Juga akan tampil musisi jazz dari Amerika yang disegani di panggung jazz dunia, Benny Green Trio. “

Adalah sesuatu yang amat ditunggu oleh para pecinta jazz, melihat mereka tampil dalam satu perhelatan yang sama, mengingat mereka adalah musisi-musisi jazz papan atas,” kata Yuri mahatma, Co-founder dari UVJF.

Press Conference UVJF 2018 di Rumah Sanur Creative Hub. Foto Iin Valentine

UVJF 2018 mengangkat tema “Kebebasan Berekspresi”. Lebih lanjut, Yuri mengatakan bahwa kebebasan itu sangat penting dalam jazz. Kebebasan yang dimaksud tidak serta merta tanpa batas, melainkan tetap harus berdasarkan pengetahuan, suatu bentuk kebebasan yang bertanggung jawab. “Nggak asal bunyi,” imbuhnya.

Dalam rentang waktu cukup singkat UVJF telah mendapatkan reputasi membanggakan dalam lingkup lokal maupun global baik dari para seniman jazz, penikmat,  pecandu jazz serta dari pihak-pihak sponsor sebagai salah satu festival jazz terbaik.

Tahun sebelumnya, ajang ini mengalami peningkatan pengunjung sekitar 40%. Sementara, untuk tahun ini, penyelenggara menarget pengunjung sebanyak 4.000 orang dalam 2 hari penyelenggaraannya.

Sebagai salah satu festival bergengsi yang mempunyai nama hingga tingkat internasional, penyelenggara UVJF tetap melibatkan masyarakat lokal Ubud sebagai partisipan. Mereka dilibatkan dalam pembuatan instalasi di venue juga penyedia penyewaan mobil dan motor untuk keperluan festival. Mobil dan motor ini disewa dari koperasi lokal untuk membantu perekonomian sekitar.

Selain memberi ruang untuk berpartisipasi, penyelenggara UVJF juga memberikan dana punia kepada desa-desa yang dekat lokasi acara, seperti Desa Pengosekan dan Padang Tegal. Bagi masyarakat Ubud sendiri, UVJF dipandang sebagai festival yang dapat dinikmati segala golongan.

Selain didukung oleh volunteer dan komunitas, kali ini UVJF juga didukung Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Kementrian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta dari beberapa kedutaan besar negara-negara sahabat seperti Kedutaan Besar Austria, Kedutaan Besar Belanda, Institut Francais d’Indonesie, Goethe Institute, juga dari Keluarga Kerajaan Ubud (Ubud Royal Family). Dukungan ini yang memberi semangat bagi penyelenggara untuk menjadikan UVJF sebagai ajang perhelatan Jazz yang UNIVERSAL.

Suatu perpaduan yang amat menarik di mana nama-nama besar akan berbaur dengan jazzer-jazzer lainnya yang tidak kalah unik. “Jazz amat beragam, tujuan kami adalah menyebarkan cinta yang terpancar dari musik ini dalam segala bentuk ekspresinya,” kata Anom Darsana, juga co-founder dari UVJF.

Tak kurang dari 20 pertunjukan akan meramaikan panggung UVJF. Dari tanah air akan tampil kolaborasi dari Pianist latin jazz Nita Aartsen yang baru saja kembali dari tour Eropanya dengan drummer handal dari Belanda, Olaf Keus dan Dian Pratiwi (vocal), Ito Kurdhi, basis andal dari Bali, serta Ade Irawan, pianist tuna netra genius yang telah diakui oleh khalayak jazz dunia. Mereka akan tampil berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz dari berbagai belahan dunia.

Akan tampil juga Idang Rasjidi Syndicate, seorang pianist dan entertainer sejati yang melalui permainan dan interpretasinya yang energik selalu berusaha menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan dalam keragaman, suatu yang selamanya relevan, bahkan harus makin sering kita dengungkan. Idang akan bermain dengan musisi-musisi yang muda belia sebagai generasi penerus.

Sedangkan dari manca negara akan tampil untuk pertama kalinya di Bali sebuah group fusion jazz dari Korea Selatan yang beranggotakan 4  wanita, A-FUZZ. Dari Autralia Emilia Schnall, seorang vocalis, pianist dan composer: Gerard Kleijn, salah seorang trumpeter andal dari Belanda, Judith Nijland, Vocalist jazz kenamaan Belanda, yang berkolaborasi dengan Astrid Sulaiman Trio, yang akan tampil membawakan beberapa aransemen dari album larisnya :”Jazz tribute to ABBA”, Insula, sebuah group world-jazz-fusion yang unik yang didatangkan khusus oleh lembaga kebudayaan perancis (Institut Francais), Triple Ace-Colours in jazz yang siap terbang ke Bali dari Vienna, Austria. Juga ada Sebastian Gramms, pemain kontra bass legendaris di Jerman yang akan membawa projectnya yang dinamakan FOSSILE 3.

Yang tak kalah istimewanya dari UVJF ke 6 ini adalah hadirnya musisi jazz kenamaan dari USA yaitu Benny Green Trio. Benny adalah satu dari sedikit musisi jazz sarat pengalaman dan yang masih mengalami langsung belajar,  berinteraksi dan berkolaborasi dengan raksasa-raksasa jazz dunia seperti Oscar Peterson, Vocalist jazz Betty Carter, drummer legendaris Art Blakey, dan mahaguru dari seluruh pemain bass era modern Ray Brown.

Untuk pertama kalinya juga, tahun ini UVJF telah menyelenggarakan kompetisi jazz band untuk para musisi muda pada tanggal 29 April 2018 bertempat di COLONY Creative Hub, Plaza Renon Denpasar. Acara ini diselenggarakan sekaligus sebagai acara memperigati hari jazz internasional yang telah ditetapkan oeh UNESCO (PBB) jatuh pada tanggal 30 April tiap tahunnya.

JODA BAND, yang digawangi musisi berusia 12-17 tahun, menjadi pemenang lomba tersebut. Mereka berhak atas 1 slot performance di salah satu panggung UVJF dan merekam 1 single yang dipersembahkan  oleh ANTIDA Music Studio.

Selain pertunjukan jazz, UVJF akan dilengkapi dengan Wifi provider gratis, stall makanan dan minuman, juga ada area VIP.

Mulai tahun ini, Ubud Village Jazz Festival menjalin kerja sama dengan Castlemaine Jazz Festival, Australia dimana diharapkan ke depan CJF dan UVJF dapat bersinergi dalam berkarya, saling mempromosikan, bertukar pengalaman dan merintis terjadinya pertukaran musisi jazz antara Bali-Castlemaine, yaitu Yuri Mahatma-Astrid Sulaiman Jazz Quartet untuk CJF dan Ade Ishs Trio untuk UVJF.

Informasi lengkap perihal pre-event, tiket, dan jadwal serta artis UVJF 2018 dapat dipantau di akun berikut:

www.ubudvillagejazzfestival.com

Follow us on social media?#UVJF2018

Facebook: Ubud Village Jazz Festival

Instagram: Ubud Village Jazz Festival

Twitter: @ubudvillagejazz

YouTube: UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

The post Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018 appeared first on BaleBengong.

Empat Perupa Berkarya secara Spontan di Ubud

Empat pelukis membuat karya secara spontan di Ubud. Foto Santana Ja Dewa

Ubud menawarkan aura budaya khas selain alamnya yang teduh & sejuk.

Tak salah berbagai wisatawan asing pun berdatangan. Destinasinya inilah rujukan bagi perupa untuk membangkitkan naluri dalam berkarya. Empat perupa secara sponton melukis bersama di sebuah resort terkenal, Arma Museum & Resort.

Perupa tersebut adalah I Made Gede Surya Darma, Made Mahendra “Mangku”, Made Duatmika & Putu Suta Kesuma. Mereka merespon eksotika panorama Ubud dengan aktivitasnya.

Made Mahendra “Mangku“ mengaku melakukan on the spot painting secara spontan. Hal ini untuk menjawab kerisauan setelah selama ini hanya berkarya di dalam studio. Dia ingin mencari suasana baru dalam berkarya.

“Ajakan berawal dari sosial media pada akhirnya direspon sahabat lainya, jadilah seperti ini,” katanya.

Mahendra menambahkan mereka ingin mengusir kejenuhan dan penat pikiran dengan melakukan penyegaran dalam memelihara naluri berkesenian. Melukis langsung di tempat dirasa sangat membantu rekan-rekan perupa agar bertegur sapa.

Hal senada dikatakan Made Duatmika. Menurutnya, melukis langsung di alam terasa berbeda dibandingkan di dalam studio. Mereka bisa merespon langsung objek lebih lagi dilakukan secara bersama-sama dengan sahabat perupa.

“Di sini saya menemukan keseruan yang tidak ada dalam studio. Ini menarik dan penuh warna karena melakukan proses berkarya secara bersama-sama,” ujarnya.

Lokasi yang teduh, sejuk dengan panorama gemercik air sungai dan rindang pohon menambah teduh perupa berkarya. Wisatawan yang lalu lalang pun tak kuasa untuk berhenti menikmati karya perupa. Mereka turut duduk di samping secara saksama melihat perupa dalam berkarya. [b]

The post Empat Perupa Berkarya secara Spontan di Ubud appeared first on BaleBengong.

Menyajikan Menu Lokal untuk Lidah Internasional

Go local or go home. Foto Anggara Mahendra.

Ayam betutu, tempe, rawon, pempek-pempek, rujak, es cendol…

Silakan tambahkan sendiri. Daftarnya akan sangat puanjaaang. Bukti bahwa Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan kuliner khas. Semua memiliki ciri dan citarasa khas.

Namun, pertanyaannya, kenapa susah sekali menemukan menu-menu ala Nusantara itu restoran-restoran Indonesia?

Maafkan untuk pergaulan tata boga alias gastronomi saya yang memang kuper. Namun, berdasarkan pengalaman sendiri, menemukan menu-menu Indonesia di hotel atau restoran di negeri sendiri bukanlah pekerjaan mudah.

Apalagi jika sudah di luar negeri. Restoran khas Indonesia termasuk langka jika dibandingkan restoran khas negeri tetangga, Thailand atau Vietnam. Ada anggapan bahwa menu khas Indonesia memang kurang diminati lidah warga global.

Ah, apa anggapan itu benar? Pengalaman mengikuti Ubud Food Festival (UFF) 2018, sajian-sajian lokal ini sesungguhnya punya modal besar untuk bisa disajikan di meja makan internasional. Lidah-lidah mancanegara juga bisa berdecap menyantap nikmat menu-menu Nusantara ini.

Bebek betutu salah satu menu lokal di UFF 2018. Foto Wayan Martino.

Tumbuhan Liar

Koki muda asal Payangan, desa tetangga Ubud, I Putu Dodik Sumarjana, membuktikannya. Sejak 2017, Dodik menjadi kepala chef Nusantara by Locavore, di mana dia biasa menyajikan masakan otentik Indonesia yang mulai jarang ditemukan.

Dodik memanfaatkan tumbuh-tumbuhan liar sebagai bahan masakan, seperti cocor bebek, pegagan, dan lain-lain. “Selain itu, kami juga mengekspos resep lama yang sudah hilang,” ungkap Dodik.

Tumbuhan liar sejatinya memang bisa dikonsumsi. Dodik dan rekan-rekannya kerap menelusuri bahan unik ini dengan bertanya kepada para kakek. Dari sana, Dodik mulai meracik menu masa lalu dan menyajikannya dengan gaya masa kini.

Pada hari terakhir UFF 2018 bulan lalu, Dodik mengisi sesi Teater Kuliner untuk menyajikan menu bebek betutu dengan metode sekam dari tanah liat. Teknik memasak ini didapatkan dari kakek Dodik yang memanfaatkan tanah liat sebagai pengganti sekam. Bebek yang telah dibumbui dan dibungkus daun, lalu dibalut adonan tanah liat hingga mengeras.

“Tanah liat akan membuat daging bebek menjadi lebih empuk,” jelasnya.

Menurut Dodik kekayaan makanan Indonesia seharusnya mampu bersaing dengan kuliner dunia. Setidaknya begitulah pengalamannya menyajikan makanan Indonesia di berbagai negara. Ia merasa bangga karena ragam rasa dari komposisi masakan Indonesia mampu mengundang decak kagum.

Petty Elliott, chef penulis buku Jakarta Bites, berpendapat serupa. Dia pun terus mencari cara agar makanan Indonesia dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Jadi, menurut Elliott, memasak sajian Indonesia tidak lagi harus memakan waktu lama dan rumit.

“Kita bisa membuat makanan Indonesia menjadi lebih modern. Rasa tetap sama. Tapi, teknik memasak dan penyajiannya berbeda,” tandas Petty.

Perempuan asal Manado ini memberi contoh olahan rawon yang dipadukan dengan steak tenderloin. Bentuknya steak, namun cita rasa Indonesia tetap ada dari siraman kuah rawon. Petty pun optimis dengan masa depan kuliner Indonesia yang semakin berkembang.

Chef Hans Christian yang menjadikan Kolak Kontemporer sebagai menu andalan melakukan hal serupa. Ini berawal dari kesukaannya pada olahan kolak dari mentornya, sehingga ia memilih untuk dipromosikannya di Amerika Serikat.

Baginya, untuk mengangkat menu lokal ke internasional, ada dua hal penting. Pasar yang spesifik dan presentasi menarik. Tiap pasar ada pendekatannya masing-masing. Kita juga harus fleksibel.

“Saya bukannya nggak mau bikin kolak otentik, tapi kadang ada orang yang belum pernah nyoba kolak, kita perbaharui saja sedikit agar bisa diterima. Yang membuat kolak ini kontemporer, dilihat dari bahan dan penyajiannya,” kata Christian.

Namun, Petty mengingatkan agar modifikasi itu tak melupakan bentuk klasik makanan Indonesia. Menurutnya, pengetahuan sejarah makanan Indonesia tetap menjadi bagian dari inspirasi kuliner Indonesia yang modern.

Memasak tak hanya membuat makanan tapi juga serupa pertunjukan teater. Foto Vifick Bolang.

Pertunjukan ala Teater

Tak melulu tentang menu itu sendiri, proses memasak menu-menu Indonesia pun bisa disajikan layaknya sebuah atraksi. Sebuah pertunjukan. Sebuah teater. Beberapa program di UFF 2018, seperti Mr Wayan Balinese Cooking Class and Lunch, Kolak Pisang Kontemporer with Hans Christian, Battle of the Babi, serta Henry Alexie Bloem’s Balinese Sea Dancer bisa ditonton ala teater.

Memasak, sesungguhnya memang adegan-adegan yang menjadi sebuah cerita. Komponen dapur di dalamnya, sebagai properti yang mendukung adegan memasak. Sementara, chef adalah aktor sekaligus sutradara, sang pemegang kendali dalam pertunjukan.

Selama memasak, kita tak hanya disuguhi visual orang sedang memasak, tetapi juga mendengar bunyi-bunyian selama proses terjadi. Dalam sesi Mr Wayan Balinese Cooking Class and Lunch pada 13 April 2018, misalnya, bunyi yang menonjol adalah yang dihasilkan oleh Chef Oten Sujana beserta peserta kelas saat memotong bumbu.

Pisau ukuran besar khas Bali (blakas) beradu dengan talenan, dengan tempo memotong cukup tinggi, serta suara menghentak saat menumbuk bumbu di sebuah lesung, memberikan ambience berbeda. Begitu pula ketika bunyi saat chef sedang menggoreng, ketika bahan makanan bertemu dengan panasnya minyak, ataupun spatula bergesekan dengan penggorengan.

Tak jarang selama ini bunyi-bunyi tersebut kita abaikan, karena terlalu fokus dengan hasil akhir hidangan.

Mengamati bagaimana tubuh para chef melakukan pergerakan juga menarik. Di Battle of the Babi yang mengadu Chef Made Lugra vs Chef Made Sayoga, gestur mereka terlihat sangat dinamis berpacu dengan waktu. Tubuh-tubuh itu meruang sedemikian rupa, mengisi seluruh area memasak. Tetapi ada kalanya juga gerakan itu melambat ketika mereka harus mengisi detail-detail saat plating.

Sesi membuat lawar di Ubud Food Festival. Foto Anggara Mahendra.

Menunggu Nenek

Menariknya, dalam pertunjukan memasak yang ditampilkan para chef, penonton dapat berinteraksi secara bebas. Feedback pun diberikan langsung oleh chef.

Hal ini juga sering terjadi dalam pertunjukan teater eksperimental yang tidak ingin berjarak dengan penontonnya. Di situ sangat terlihat antusiasme para penonton. Mereka bertanya, mencatat, memotret, dan menikmati prosesnya.

Kelancaran proses memasak itu juga tidak terlepas dari kerja sama tim. Jika chef sebagai pemegang kendali, tim bertindak sebagai penyokong untuk menjalankan proses dan menyediakan kebutuhannya.

Prosesnya serupa orang Bali saat menyiapkan upacara di pura. Para lelaki akan membuat lawar. Biasanya, mereka duduk berjejer di satu tempat. Lalu, peristiwa teater itu dimulai dengan memotong bebumbuan, daging, dan mencampurnya dengan adonan lawar.

Ada bunyi yang riuh diciptakan oleh bertemunya blakas dengan talenan yang bersumber tak hanya dari satu orang. Gestur orang Bali mengaduk lawar juga sangat khas, cenderung bertenaga, menjadi tontonan yang menarik.

Peristiwa ini unik untuk disajikan kepada konsumen tingkat internasional. Mereka tidak hanya disuguhi hidangan finalnya, sehingga proses memasak, tak hanya sekadar jadi proses di belakang layar, tetapi menarik pula untuk ditampilkan.

Chef pun memiliki kesempatan untuk mengedukasi penonton yang mayoritas orang asing itu tentang nilai-nilai lokal yang diangkat dengan menunjukkan secara nyata melalui peralatan tradisional yang dipakai, hingga bahan-bahan yang digunakan.

Chef Oten Sujana, misalnya, sengaja memakai peralatan tradisional dan memasak dengan tungku karena ingin mengenalkan unsur lokalitas Bali. Apalagi peserta yang ikut kelas memasak ini adalah orang-orang yang berasal dari luar. Mulai dari peralatan yang digunakan dan cara memasaknya.

“Saya ajak mereka merasakan pengalaman saya ketika dulu menunggu nenek memasak di kampung,” jelas Chef Oten seusai kelas memasak.

Pengunjung memenuhi lokasi food truck selama pelaksanaan Ubud Food Festival. Foto Anton Muhajir.

Tetap Dijaga

Menurut Chef Made Lugra yang berfokus pada masakan Bali, pembacaan dalam dunia bisnis kuliner sangat penting. Tak hanya terhadap pasar, tetapi juga pemilihan bahan makanan. Harus ada alasan kenapa bahan makanan “ini” dipakai. Sebelum ia membuat menu, kewajibannya adalah pergi ke pasar, melihat apa saja bahan yang bisa diolah dari petani.

“Konsep kami memang untuk mengembangkan potensi bahan makanan yang berasal dari petani, agar mereka juga sejahtera. Kalau bukan kita yang blow up bahan-bahan ini, siapa lagi?” jelas chef di Ubud’s Ayung Resort ini.

Makanan Bali terkenal disajikan tercampur dan tentu cita rasanya “nendang”. Itu karena masakan Bali identik dengan bumbu dan rempahnya. Menurut chef Henry Alexie, cita rasa semacam ini yang harus tetap dijaga.

“Kita harus mengedukasi konsumen yang kebanyakan orang luar. Tampilkan saja seperti aslinya, sehingga ketika orang mencoba, bisa dapat experience-nya. Jika kita ubah rasa itu sesuai keinginan tamu, itu bisnis aja namanya,” ujarnya.

Menonton film tentang kuliner Nusantara. Foto Wayan Martino.

Menyampaikan Cerita

Selain presentasi hidangan yang harus menarik, menurut Chef Oten dan Chef Henry, pegiat kuliner juga harus bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk mengangkat menu lokal ke meja makan internasional. Misalnya sekolah, perusahaan, hotel, pemerintah, atau media. Dengan demikian perjuangan mereka mereka lakukan selama ini tidak pincang.

Andre Dananjaya termasuk pihak lain yang terlibat dalam promosi menu-menu khas Nusantara itu. Bersama timnya, sutradara muda dari Bali itu membuat dokumenter bertajuk Nusa Rasa. Film ini merupakan bagian dari promosi makanan Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Selama kurang lebih 30 menit, dua seri Nusa Rasa tayang di hadapan publik UFF 2018. Kedua seri ini mengambil lokasi berbeda, Bali dan Palembang. Tim Nusa Rasa memilih lokasi ini karena ingin menunjukan akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia dalam makanan.

“Kita sering melihat banyak foto makanan yang estetik di media sosial, tapi tidak ada pengetahuan tentang makanan itu. Nusa Rasa ingin menyampaikan cerita itu,” jelas Andre.

Ada alasan tersendiri kenapa Andre memilih Bali dan Palembang. Di Bali, mereka memakai pendekatan filosofi makanan. Ide memasak bukan hanya urusan perut, tapi juga persembahan.

Adapun di Palembang, ada upaya konservasi ikan belida oleh warga, karena Sungai Musi yang membelah kota di Sumater Selatan ini mulai tercemar. Ande ingin menunjukkan bahwa makanan tak sekadar mengisi perut tetapi juga terkait erat dengan pelestarian lingkungan.

Andre mengungkapkan makanan lebih dari sekadar kebutuhan pokok. Di balik setiap makanan, ada tradisi, kepercayaan, politik, folklor hingga mitos. Pengetahuan inilah yang perlu disebarluaskan melalui aneka kekayaan menu Nusantara. [b]

Artikel ini merupakan kolaborasi bersama Diah Dharmapatni dan Iin Valentine.

The post Menyajikan Menu Lokal untuk Lidah Internasional appeared first on BaleBengong.

Merayakan Keberagaman Lewat Festival Makanan

Gede Kresna dan istrinya menjelaskan cara memasak dan filosofi menu khas Bali. Foto Anton Muhajir.

Makanan tak melulu tentang lidah dan perut tetapi juga identitas.

Indonesia tak hanya memiliki keberagaman etnis dan bahasa tetapi juga makanan yang beraneka rupa. Selama Ubud Food Festival 2018, aneka makanan Nusantara bertemu sekaligus merayakan perbedaan selama tiga hari pada 13-15 April 2018.

Ubud Food Festival merupakan agenda tahunan yang diadakan Yayasan Mudra Swari Saraswati di Ubud, Gianyar, Bali. Sejak 2015 lalu, festival ini menyajikan aneka rupa menu dan diskusi terkait kuliner. Tak melulu tentang rasa, lidah dan perut tetapi juga identitas.

Gede Kresna dan Ayu Gayatri, pasangan dari Buleleng, Bali misalnya menyajikan menu khas Bali, arak bali lengkap dengan pasangannya, babi goreng, pada Jumat, 13 April 2018. Di depan sekitar 20 peserta, sebagian besar warga mancanegara, Kresna dan Ayu menunjukkan cara masak dengan menu-menu lokal sekaligus menjelaskan makna di baliknya.

“Minum arak di Bali ada etikanya. Misalnya yang mengundang untuk minum tidak boleh sampai mabuk,” kata Kresna yang sehari-hari bekerja sebagai arsitek. Dia dan istrinya juga mengelola Pengalaman Rasa yang disebut sebagai laboratorium pangan (food lab). Pengalaman Rasa biasa memberikan kelas kuliner tradisional di di Rumah Intaran, Buleleng tempat di mana Kresna tinggal saat ini.

Kresna, dalam bahasa Inggris tidak terlalu lancar, menjelaskan bahwa arak bali juga memiliki khasiat. Misalnya untuk mengobati orang flu atau menyegarkan badan saat musim dingin. Dia menjelaskan bahwa arak bali yang dia sajikan terbuat dari bahan-bahan maupun peralatan tradisional.

Contohnya pada pipa penyulingan. Dia menggunakan peralatan bambu, bukan pipa paralon sebagaimana digunakan sebagian pembuat arak. “Penggunaan peralatan tradisional juga agar kita menjaga bahan-bahan alami di sekitar kita. Itu salah satu filosofi di Bali,” ujarnya.

Menurut Kresna, menu khas Bali tidak kalah dengan menu negara lain jika dikemas dengan cara menarik sekaligus menyampaikan nilai-nilai di baliknya. Melalui Ubud Food Festival bapak dua anak itu ingin mengangkat agar kuliner lokal lebih mendapat tempat di konsumen internasional.

“Saya ingin mengenalkan lagi kekayaan kuliner Bali kepada publik luas, termasuk warga internasional,” kata Kresna seusai memandu sesi memasak bersama istrinya.

Pengunjung memenuhi kawasan food truck di Ubud Food Festival. Foto Wayan Martino.

Menyatukan Nusantara

Selama tiga hari, Ubud Foof Festival diadakan di Ubud, salah satu pusat pariwisata Bali yang terkenal dengan tradisinya. Kawasan desa internasional ini pun penuh dengan demo masak, diskusi, musik, ataupun pertunjukan film tentang kuliner. Menu-menu khas Bali maupun bagian lain Indonesia pun terus menebarkan aroma nan menggoda selama Ubud Food Festival.

Tahun ini, Ubud Food Festival membawa tema Generasi Inovasi. Tema ini, menurut Direktur Ubud Food Festival Janet DeNeefe, untuk menghargai generasi muda Indonesia yang telah menyajikan banyak inovasi ke dunia industri kuliner Nusantara.

Meskipun demikian, menurut Janet, Ubud Food Festival juga tetap membawa isu keberagaman meskipun tidak secara langsung melalui sajian demo memasak, tur kuliner, ataupun diskusi selama festival. Memasak sendiri hanya salah satu even di Ubud Food Festival. Ada juga menonton film, musik, dan kegiatan budaya lain.

Dengan beragam menu dari berbagai daerah di Indonesia, Ubud Food Festival ingin menyatukan Nusantara di Bali.

Tahun ini, misalnya, menu-menu kuliner dari beberapa daerah Indonesia Timur ikut hadir, seperti dari Papua dan Timor. Dalam sesi bertema Papua, Timor, and Bali on the Table hadir pegiat kuliner dari ketiga daerah di luar Jawa tersebut yaitu Charles Toto dari Jayapura, Papua dan Dicky Senda dari pegunungan Timor.

Charles Toto terkenal sebagai koki rimba (jungle chef) yang mengolah menu-menu lokal Papua untuk turis yang berkunjung ke pulau paling timur Indonesia itu. Tahun lalu dia juga tampil di salah satu sesi untuk mengenalkan khas makanan Papua.

Sejak 2006, Charles membuat menu-menu khas Papua dengan bahan-bahan dari hutan untuk turis yang berkunjung ke Papua. Dia juga mendirikan Jungle Chef Community yang memberikan pelatihan kepada 120 warga lokal Papua agar mampu menyajikan menu khas Papua kepada turis.

Di Ubud Food Festival kali ini, dia berbagi tentang swamening, makanan khas Papua yang lebih dikenal dengan nama sayur lilin. Kekuatan gastronomi Papua sebenarnya tidak kalah sama dengan daerah lain di Indonesia.

Beragam menu khas Indonesia hadir di Ubud Food Festival termasuk sate. Foto Anton Muhajir.

Diplomasi Cita Rasa

Menurut Charles, swamening berbahan dasar telur tebu yang biasa dikonsumsi warga Papua. Cara memasaknya dengan membakar batu. Namun, saat ini, menu ini semakin jarang dimasak dan dimakan warga Papua. “Karena itu saya ingin mengenalkannya di sini. Kami mencoba mengangkat itu agar orang Papua sendiri mau mengenal kembali ternyata mereka hebat dengan mengelola apa yang mereka miliki,” kata Charles.

Charles menambahkan Ubud Food Festival juga tempat mengumpulkan semua orang yang bicara pangan lokal agar warga internasional tahu bahwa kekayaan gastronomi Indonesia luar biasa. “Makanan (Indonesia) tidak hanya dari Bali, Jawa, dan Sumatera tetapi di timur, seperti Ambon dan Papua, juga banyak,” ujarnya.

Tak hanya keberagaman menu dan citarasa, Charles menyatakan, festival makanan di Bali ini juga menjadi perayaan atas keberagaman sosial dan etnis. “Melalui makanan, kami ingin mengajak orang lain lebih tahu cita rasa Papua yang juga luas. Kekuatan cita rasa lokal ini yang harus kita diplomasikan ke negara-negara lain,” tambahnya.

Janet DeNeefe menambahkan, belum semua menu-menu khas Indonesia hadir di Ubud Food Festival. Untuk itulah dia ingin membawa menu lain, seperti dari Aceh dan Medan, untuk diperkenalkan juga di Ubud Food Festival mendatang. Menurutnya dengan

“Indonesia ini negara yang sangat beragam tetapi makanan yang justru menyatukan,” ujar warga Australia bersuamikan orang Bali itu. [b]

The post Merayakan Keberagaman Lewat Festival Makanan appeared first on BaleBengong.

Jagadhita, Tema Ubud Writers & Readers Festival 2018

UWRF dengan bangga mengumumumkan tema terpilih tahun ini.

Tema yang diusung Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2018 ditarik dari sebuah filosofi Hindu kuno yang berbicara mengenai kebahagiaan dan kesejahteraan, yaitu ‘Jagadhita’. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tema selalu menjadi bagian penting UWRF.

UWRF yang tahun ini memasuki perayaan ulang tahun ke-15 akan diadakan pada 24-28 Oktober mendatang.

Tema ‘Jagadhita’ bermakna ‘kebahagiaan di jagat raya sebagai sebuah tujuan hidup’. Bagi UWRF 2018, arti dari Jagadhita ini ditafsirkan ulang sebagai ‘dunia yang kita ciptakan’ atau ‘the world we create’ dalam bahasa Inggrisnya.

“Tema tahun lalu, ‘Sangkan Paraning Dumadi’, atau ‘Asal Muasal’, mengingatkan kita mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang kita bagi,” jelas Janet DeNeefe, Founder & Director UWRF.

“Di saat sekarang ini, saat perbedaan memisahkan kita hingga melupakan persamaan yang kita miliki, kami akan menanyakan bagaimana kesejahteraan dan harmoni akan dicari di tahun 2018 ini,” Janet menambahkan.

Menurut Janet, tahun ini UWRF akan merayakan penulis, seniman, cendekiawan, dan pegiat dari berbagai penjuru Indonesia dan negara-negara lain yang telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga harmoni dan kesejahteraan.

“Jagadhita akan mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan merenungkan arti dan makna hidup yang selama ini kita jalani. Bagaimana kita sebagai manusia dapat mengantarkan hal-hal positif di dunia yang kita ciptakan,” ujarnya.

Jagaditha, tema Ubud Writers and Readers Festival 2018.

Bersamaan dengan peluncuran tema ini, UWRF juga meluncurkan poster resmi UWRF 2018 hasil karya seniman asli pulau Bali, Budi Agung Kuswara yang dikenal di komunitas seni dengan nama Kabul. Karya seni yang dinamakan Anonymous Ancestors ini adalah sebuah upaya Kabul dalam memaknai ulang satu momen dan merangkainya kembali menjadi sebuah pernyataan terkait situasi kehidupan saat ini.

“Saat melihat wajah-wajah di foto dari Bali era 1930an membawa saya pada satu pertanyaan mengenai siapa wajah-wajah itu,” ungkap Kabul mengenai inspirasi di balik poster UWRF 2018.

Menurut Kabul, Anonymous Ancestors adalah bentuk apresiasi untuk wajah-wajah di foto tersebut, leluhur masyarakat Bali zaman modern ini. “Mereka adalah pelaku industri pariwisata, yang sekarang menjadi bagian dari proses kehidupan baik secara ekonomi maupun spiritual,” lanjutnya.

Kabul juga menjelaskan bahwa karya seninya untuk UWRF 2018 ini adalah upaya dirinnya dalam memaknai Jagadhita sebagai sebuah kemakmuran yang bukan hanya sekadar akumulasi angka-angka dan memaknai kemakmuran bukan tentang upaya bertahan hidup. Pandangan Kabul akan konsep Jagadhita ini sejalan dengan apa yang akan digali dan dibedah di UWRF, yaitu konsep kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran bagi manusia di jagat raya ini.

Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2004 di Ubud oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai sebuah proyek penyembuhan dari tragedi Bom Bali I yang menghancurkan pariwisata Pulau Bali, UWRF kini dikenal sebagai festival sastra terbesar di Asia Tenggara dan sejajar dengan festival-festival sastra dunia lainnya yang telah memiliki banyak penggemar.

Sebuah wadah untuk membawa sastra dan seni Indonesia ke hadapan dunia internasional, sekaligus ruang yang mengajak pengunjungnya mengenali isu-isu besar yang selama ini mengelilingi kehidupan kita. [b]

The post Jagadhita, Tema Ubud Writers & Readers Festival 2018 appeared first on BaleBengong.