Tag Archives: ubud

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Adu Puisi segera Kembali Awal Desember nanti

Tahap final adu puisi akan diselenggarakan pada Sabtu (1/12) Ubud, Bali.

Penyair-penyair dari Jamaika dan Amerika Serikat; Jamel Hall dan Ahlaam Abduljalil akan tampil. Pelawak tunggal Valiant Budi akan membuka kegiatan bertajuk “The Grand Slam: Unspoken Anger” ini.

Kegiatan berbasis komunitas sastra dan seni ini merayakan puisi sebagai program utama. Penyelenggara mengedukasikan kultur Poetry Slam dalam membaca puisi di Pulau Bali setiap tiga bulan sepanjang tahun.

Poetry Slam atau Adu Puisi adalah konsep pembacaan puisi yang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Para pembaca puisi menyerukan karya orisinalnya kepada audiens selama maksimal tiga menit tanpa menggunakan properti.

Juri dipilih dari barisan penonton yang kemudian akan memberikan skor dengan rentang nilai 1 sampai dengan 9. Slammer, begitu pembaca puisi di Poetry Slam kerap dipanggil, yang mendapat nilai tertinggi akan diberi gelar Slam Champion.

Unspoken – Bali Poetry Slam dirintis Virginia Helzainka, Doni Marmer, dan Trifitri Muhammaditta. Di tiga kesempatan heats sejak akhir 2017, Adu Puisi mengangkat tema “Unspoken Anxiety” (Maret), “Unspoken Lust” (Juni) dan “Unspoken Freedom” (September). Untuk tahap final, kami mengambil tema “Unspoken Anger”.

Selain memberikan ruang apresiasi untuk puisi, Unspoken – Bali Poetry Slam juga ingin menyuarakan isu-isu yang umumnya sulit diungkapkan sebagai tema puisi pada setiap penyelenggaraan. Panggung Unspoken – Bali Poetry Slam menjadi ruang nyaman untuk mengucapkan yang tak terungkapkan, tanpa prasangka, dan bebas melepaskan hasrat dalam bentuk puisi.

Nama ‘UNSPOKEN’ atau ‘YANG TAK TERUNGKAPKAN’ pun menjadi nama resmi komunitas dan acara adu puisi ini.

Sebanyak enam slammers puisi diberi kesempatan untuk membacakan karya orisinalnya di atas panggung. Audiens turut merespons puisi secara leluasa dengan memetikan jari. Gerakan tersebut diartikan sebagai persetujuan penonton akan makna dan keindahan puisi yang dibacakan.

Selain para peserta, penyair tamu, dan hiburan menyelingi acara pada awal, pertengahan, dan akhir acara untuk menjaga suasana tetap segar, hangat, dan semangat. Pada pengujung acara, akan dipilih dua penampil terbaik yang kemudian akan maju pada babak final Poetry Slam pada akhir 2018 bersama penampil terbaik lain di Poetry Slam sebelumnya.

Sebagai penyelenggaraan perdana Poetry Slam di Bali dengan konsep seleksi heats dan final, penampil terbaik akan disematkan gelar Bali Poetry Slam Champion 2018 membawa pulang hadiah dari pendukung acara.

Enam finalis The Grand Slam nantinya akan tur keliling Bali di tahun depan dengan mengadakan Open Mic dan Workshop puisi ke sekolah-sekolah sebagai bentuk apresiasi dari kami telah berpartisipasi di Unspoken – Bali Poetry Slam 2018.

Unspoken – Bali Poetry Slam adalah acara tahunan dan rencananya akan kembali mulai diselenggarakan pada Februari 2019 mendatang.

Pemutakhiran detail acara “Unspoken Freedom” dapat dipantau melalui media sosial Facebook Unspoken – Bali Poetry Slam dan Instagram @unspokenpoetryslam. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi unspokenpoetryslam@gmail.com. [b]

The post Adu Puisi segera Kembali Awal Desember nanti appeared first on BaleBengong.

Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018

Bali menjadi langganan banyak festival bergengsi. Salah satunya Ubud Village Jazz Festival.

Tahun ini festival jazz tahunan tersebut masuk tahun keenam. Festival bergengsi ini akan digelar pada 10 – 11 Agustus 2018 di Museum ARMA (Agung Rai Museum of Art) Ubud. Dari pukul 3 sore hingga 11.30 malam tiap harinya, para pecinta musik jazz akan dimajakan dengan alunan nada dari musisi-musisi ternama.

UVJF yang lahir dari inisiatif para musisi jazz dan pemerhati musik serta insan kreatif yang berbasis di Bali selalu memberi ruang dan turut mempromosikan musisi-musisi muda Indonesia untuk berekspresi dalam ajang internasional ini. Di samping tentu saja nama-nama besar dan melegenda seperti Idang Rasjidi Syndicate, musisi jazz legendaris dari Indonesia, yang telah menginspirasi ratusan musisi jazz Indonesia dari generasi di bawahnya. Juga akan tampil musisi jazz dari Amerika yang disegani di panggung jazz dunia, Benny Green Trio. “

Adalah sesuatu yang amat ditunggu oleh para pecinta jazz, melihat mereka tampil dalam satu perhelatan yang sama, mengingat mereka adalah musisi-musisi jazz papan atas,” kata Yuri mahatma, Co-founder dari UVJF.

Press Conference UVJF 2018 di Rumah Sanur Creative Hub. Foto Iin Valentine

UVJF 2018 mengangkat tema “Kebebasan Berekspresi”. Lebih lanjut, Yuri mengatakan bahwa kebebasan itu sangat penting dalam jazz. Kebebasan yang dimaksud tidak serta merta tanpa batas, melainkan tetap harus berdasarkan pengetahuan, suatu bentuk kebebasan yang bertanggung jawab. “Nggak asal bunyi,” imbuhnya.

Dalam rentang waktu cukup singkat UVJF telah mendapatkan reputasi membanggakan dalam lingkup lokal maupun global baik dari para seniman jazz, penikmat,  pecandu jazz serta dari pihak-pihak sponsor sebagai salah satu festival jazz terbaik.

Tahun sebelumnya, ajang ini mengalami peningkatan pengunjung sekitar 40%. Sementara, untuk tahun ini, penyelenggara menarget pengunjung sebanyak 4.000 orang dalam 2 hari penyelenggaraannya.

Sebagai salah satu festival bergengsi yang mempunyai nama hingga tingkat internasional, penyelenggara UVJF tetap melibatkan masyarakat lokal Ubud sebagai partisipan. Mereka dilibatkan dalam pembuatan instalasi di venue juga penyedia penyewaan mobil dan motor untuk keperluan festival. Mobil dan motor ini disewa dari koperasi lokal untuk membantu perekonomian sekitar.

Selain memberi ruang untuk berpartisipasi, penyelenggara UVJF juga memberikan dana punia kepada desa-desa yang dekat lokasi acara, seperti Desa Pengosekan dan Padang Tegal. Bagi masyarakat Ubud sendiri, UVJF dipandang sebagai festival yang dapat dinikmati segala golongan.

Selain didukung oleh volunteer dan komunitas, kali ini UVJF juga didukung Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Kementrian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta dari beberapa kedutaan besar negara-negara sahabat seperti Kedutaan Besar Austria, Kedutaan Besar Belanda, Institut Francais d’Indonesie, Goethe Institute, juga dari Keluarga Kerajaan Ubud (Ubud Royal Family). Dukungan ini yang memberi semangat bagi penyelenggara untuk menjadikan UVJF sebagai ajang perhelatan Jazz yang UNIVERSAL.

Suatu perpaduan yang amat menarik di mana nama-nama besar akan berbaur dengan jazzer-jazzer lainnya yang tidak kalah unik. “Jazz amat beragam, tujuan kami adalah menyebarkan cinta yang terpancar dari musik ini dalam segala bentuk ekspresinya,” kata Anom Darsana, juga co-founder dari UVJF.

Tak kurang dari 20 pertunjukan akan meramaikan panggung UVJF. Dari tanah air akan tampil kolaborasi dari Pianist latin jazz Nita Aartsen yang baru saja kembali dari tour Eropanya dengan drummer handal dari Belanda, Olaf Keus dan Dian Pratiwi (vocal), Ito Kurdhi, basis andal dari Bali, serta Ade Irawan, pianist tuna netra genius yang telah diakui oleh khalayak jazz dunia. Mereka akan tampil berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz dari berbagai belahan dunia.

Akan tampil juga Idang Rasjidi Syndicate, seorang pianist dan entertainer sejati yang melalui permainan dan interpretasinya yang energik selalu berusaha menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan persatuan dalam keragaman, suatu yang selamanya relevan, bahkan harus makin sering kita dengungkan. Idang akan bermain dengan musisi-musisi yang muda belia sebagai generasi penerus.

Sedangkan dari manca negara akan tampil untuk pertama kalinya di Bali sebuah group fusion jazz dari Korea Selatan yang beranggotakan 4  wanita, A-FUZZ. Dari Autralia Emilia Schnall, seorang vocalis, pianist dan composer: Gerard Kleijn, salah seorang trumpeter andal dari Belanda, Judith Nijland, Vocalist jazz kenamaan Belanda, yang berkolaborasi dengan Astrid Sulaiman Trio, yang akan tampil membawakan beberapa aransemen dari album larisnya :”Jazz tribute to ABBA”, Insula, sebuah group world-jazz-fusion yang unik yang didatangkan khusus oleh lembaga kebudayaan perancis (Institut Francais), Triple Ace-Colours in jazz yang siap terbang ke Bali dari Vienna, Austria. Juga ada Sebastian Gramms, pemain kontra bass legendaris di Jerman yang akan membawa projectnya yang dinamakan FOSSILE 3.

Yang tak kalah istimewanya dari UVJF ke 6 ini adalah hadirnya musisi jazz kenamaan dari USA yaitu Benny Green Trio. Benny adalah satu dari sedikit musisi jazz sarat pengalaman dan yang masih mengalami langsung belajar,  berinteraksi dan berkolaborasi dengan raksasa-raksasa jazz dunia seperti Oscar Peterson, Vocalist jazz Betty Carter, drummer legendaris Art Blakey, dan mahaguru dari seluruh pemain bass era modern Ray Brown.

Untuk pertama kalinya juga, tahun ini UVJF telah menyelenggarakan kompetisi jazz band untuk para musisi muda pada tanggal 29 April 2018 bertempat di COLONY Creative Hub, Plaza Renon Denpasar. Acara ini diselenggarakan sekaligus sebagai acara memperigati hari jazz internasional yang telah ditetapkan oeh UNESCO (PBB) jatuh pada tanggal 30 April tiap tahunnya.

JODA BAND, yang digawangi musisi berusia 12-17 tahun, menjadi pemenang lomba tersebut. Mereka berhak atas 1 slot performance di salah satu panggung UVJF dan merekam 1 single yang dipersembahkan  oleh ANTIDA Music Studio.

Selain pertunjukan jazz, UVJF akan dilengkapi dengan Wifi provider gratis, stall makanan dan minuman, juga ada area VIP.

Mulai tahun ini, Ubud Village Jazz Festival menjalin kerja sama dengan Castlemaine Jazz Festival, Australia dimana diharapkan ke depan CJF dan UVJF dapat bersinergi dalam berkarya, saling mempromosikan, bertukar pengalaman dan merintis terjadinya pertukaran musisi jazz antara Bali-Castlemaine, yaitu Yuri Mahatma-Astrid Sulaiman Jazz Quartet untuk CJF dan Ade Ishs Trio untuk UVJF.

Informasi lengkap perihal pre-event, tiket, dan jadwal serta artis UVJF 2018 dapat dipantau di akun berikut:

www.ubudvillagejazzfestival.com

Follow us on social media?#UVJF2018

Facebook: Ubud Village Jazz Festival

Instagram: Ubud Village Jazz Festival

Twitter: @ubudvillagejazz

YouTube: UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL

The post Bebas Berekspresi dalam Ubud Village Jazz Festival 2018 appeared first on BaleBengong.

Empat Perupa Berkarya secara Spontan di Ubud

Empat pelukis membuat karya secara spontan di Ubud. Foto Santana Ja Dewa

Ubud menawarkan aura budaya khas selain alamnya yang teduh & sejuk.

Tak salah berbagai wisatawan asing pun berdatangan. Destinasinya inilah rujukan bagi perupa untuk membangkitkan naluri dalam berkarya. Empat perupa secara sponton melukis bersama di sebuah resort terkenal, Arma Museum & Resort.

Perupa tersebut adalah I Made Gede Surya Darma, Made Mahendra “Mangku”, Made Duatmika & Putu Suta Kesuma. Mereka merespon eksotika panorama Ubud dengan aktivitasnya.

Made Mahendra “Mangku“ mengaku melakukan on the spot painting secara spontan. Hal ini untuk menjawab kerisauan setelah selama ini hanya berkarya di dalam studio. Dia ingin mencari suasana baru dalam berkarya.

“Ajakan berawal dari sosial media pada akhirnya direspon sahabat lainya, jadilah seperti ini,” katanya.

Mahendra menambahkan mereka ingin mengusir kejenuhan dan penat pikiran dengan melakukan penyegaran dalam memelihara naluri berkesenian. Melukis langsung di tempat dirasa sangat membantu rekan-rekan perupa agar bertegur sapa.

Hal senada dikatakan Made Duatmika. Menurutnya, melukis langsung di alam terasa berbeda dibandingkan di dalam studio. Mereka bisa merespon langsung objek lebih lagi dilakukan secara bersama-sama dengan sahabat perupa.

“Di sini saya menemukan keseruan yang tidak ada dalam studio. Ini menarik dan penuh warna karena melakukan proses berkarya secara bersama-sama,” ujarnya.

Lokasi yang teduh, sejuk dengan panorama gemercik air sungai dan rindang pohon menambah teduh perupa berkarya. Wisatawan yang lalu lalang pun tak kuasa untuk berhenti menikmati karya perupa. Mereka turut duduk di samping secara saksama melihat perupa dalam berkarya. [b]

The post Empat Perupa Berkarya secara Spontan di Ubud appeared first on BaleBengong.

Menyajikan Menu Lokal untuk Lidah Internasional

Go local or go home. Foto Anggara Mahendra.

Ayam betutu, tempe, rawon, pempek-pempek, rujak, es cendol…

Silakan tambahkan sendiri. Daftarnya akan sangat puanjaaang. Bukti bahwa Indonesia memiliki begitu banyak kekayaan kuliner khas. Semua memiliki ciri dan citarasa khas.

Namun, pertanyaannya, kenapa susah sekali menemukan menu-menu ala Nusantara itu restoran-restoran Indonesia?

Maafkan untuk pergaulan tata boga alias gastronomi saya yang memang kuper. Namun, berdasarkan pengalaman sendiri, menemukan menu-menu Indonesia di hotel atau restoran di negeri sendiri bukanlah pekerjaan mudah.

Apalagi jika sudah di luar negeri. Restoran khas Indonesia termasuk langka jika dibandingkan restoran khas negeri tetangga, Thailand atau Vietnam. Ada anggapan bahwa menu khas Indonesia memang kurang diminati lidah warga global.

Ah, apa anggapan itu benar? Pengalaman mengikuti Ubud Food Festival (UFF) 2018, sajian-sajian lokal ini sesungguhnya punya modal besar untuk bisa disajikan di meja makan internasional. Lidah-lidah mancanegara juga bisa berdecap menyantap nikmat menu-menu Nusantara ini.

Bebek betutu salah satu menu lokal di UFF 2018. Foto Wayan Martino.

Tumbuhan Liar

Koki muda asal Payangan, desa tetangga Ubud, I Putu Dodik Sumarjana, membuktikannya. Sejak 2017, Dodik menjadi kepala chef Nusantara by Locavore, di mana dia biasa menyajikan masakan otentik Indonesia yang mulai jarang ditemukan.

Dodik memanfaatkan tumbuh-tumbuhan liar sebagai bahan masakan, seperti cocor bebek, pegagan, dan lain-lain. “Selain itu, kami juga mengekspos resep lama yang sudah hilang,” ungkap Dodik.

Tumbuhan liar sejatinya memang bisa dikonsumsi. Dodik dan rekan-rekannya kerap menelusuri bahan unik ini dengan bertanya kepada para kakek. Dari sana, Dodik mulai meracik menu masa lalu dan menyajikannya dengan gaya masa kini.

Pada hari terakhir UFF 2018 bulan lalu, Dodik mengisi sesi Teater Kuliner untuk menyajikan menu bebek betutu dengan metode sekam dari tanah liat. Teknik memasak ini didapatkan dari kakek Dodik yang memanfaatkan tanah liat sebagai pengganti sekam. Bebek yang telah dibumbui dan dibungkus daun, lalu dibalut adonan tanah liat hingga mengeras.

“Tanah liat akan membuat daging bebek menjadi lebih empuk,” jelasnya.

Menurut Dodik kekayaan makanan Indonesia seharusnya mampu bersaing dengan kuliner dunia. Setidaknya begitulah pengalamannya menyajikan makanan Indonesia di berbagai negara. Ia merasa bangga karena ragam rasa dari komposisi masakan Indonesia mampu mengundang decak kagum.

Petty Elliott, chef penulis buku Jakarta Bites, berpendapat serupa. Dia pun terus mencari cara agar makanan Indonesia dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Jadi, menurut Elliott, memasak sajian Indonesia tidak lagi harus memakan waktu lama dan rumit.

“Kita bisa membuat makanan Indonesia menjadi lebih modern. Rasa tetap sama. Tapi, teknik memasak dan penyajiannya berbeda,” tandas Petty.

Perempuan asal Manado ini memberi contoh olahan rawon yang dipadukan dengan steak tenderloin. Bentuknya steak, namun cita rasa Indonesia tetap ada dari siraman kuah rawon. Petty pun optimis dengan masa depan kuliner Indonesia yang semakin berkembang.

Chef Hans Christian yang menjadikan Kolak Kontemporer sebagai menu andalan melakukan hal serupa. Ini berawal dari kesukaannya pada olahan kolak dari mentornya, sehingga ia memilih untuk dipromosikannya di Amerika Serikat.

Baginya, untuk mengangkat menu lokal ke internasional, ada dua hal penting. Pasar yang spesifik dan presentasi menarik. Tiap pasar ada pendekatannya masing-masing. Kita juga harus fleksibel.

“Saya bukannya nggak mau bikin kolak otentik, tapi kadang ada orang yang belum pernah nyoba kolak, kita perbaharui saja sedikit agar bisa diterima. Yang membuat kolak ini kontemporer, dilihat dari bahan dan penyajiannya,” kata Christian.

Namun, Petty mengingatkan agar modifikasi itu tak melupakan bentuk klasik makanan Indonesia. Menurutnya, pengetahuan sejarah makanan Indonesia tetap menjadi bagian dari inspirasi kuliner Indonesia yang modern.

Memasak tak hanya membuat makanan tapi juga serupa pertunjukan teater. Foto Vifick Bolang.

Pertunjukan ala Teater

Tak melulu tentang menu itu sendiri, proses memasak menu-menu Indonesia pun bisa disajikan layaknya sebuah atraksi. Sebuah pertunjukan. Sebuah teater. Beberapa program di UFF 2018, seperti Mr Wayan Balinese Cooking Class and Lunch, Kolak Pisang Kontemporer with Hans Christian, Battle of the Babi, serta Henry Alexie Bloem’s Balinese Sea Dancer bisa ditonton ala teater.

Memasak, sesungguhnya memang adegan-adegan yang menjadi sebuah cerita. Komponen dapur di dalamnya, sebagai properti yang mendukung adegan memasak. Sementara, chef adalah aktor sekaligus sutradara, sang pemegang kendali dalam pertunjukan.

Selama memasak, kita tak hanya disuguhi visual orang sedang memasak, tetapi juga mendengar bunyi-bunyian selama proses terjadi. Dalam sesi Mr Wayan Balinese Cooking Class and Lunch pada 13 April 2018, misalnya, bunyi yang menonjol adalah yang dihasilkan oleh Chef Oten Sujana beserta peserta kelas saat memotong bumbu.

Pisau ukuran besar khas Bali (blakas) beradu dengan talenan, dengan tempo memotong cukup tinggi, serta suara menghentak saat menumbuk bumbu di sebuah lesung, memberikan ambience berbeda. Begitu pula ketika bunyi saat chef sedang menggoreng, ketika bahan makanan bertemu dengan panasnya minyak, ataupun spatula bergesekan dengan penggorengan.

Tak jarang selama ini bunyi-bunyi tersebut kita abaikan, karena terlalu fokus dengan hasil akhir hidangan.

Mengamati bagaimana tubuh para chef melakukan pergerakan juga menarik. Di Battle of the Babi yang mengadu Chef Made Lugra vs Chef Made Sayoga, gestur mereka terlihat sangat dinamis berpacu dengan waktu. Tubuh-tubuh itu meruang sedemikian rupa, mengisi seluruh area memasak. Tetapi ada kalanya juga gerakan itu melambat ketika mereka harus mengisi detail-detail saat plating.

Sesi membuat lawar di Ubud Food Festival. Foto Anggara Mahendra.

Menunggu Nenek

Menariknya, dalam pertunjukan memasak yang ditampilkan para chef, penonton dapat berinteraksi secara bebas. Feedback pun diberikan langsung oleh chef.

Hal ini juga sering terjadi dalam pertunjukan teater eksperimental yang tidak ingin berjarak dengan penontonnya. Di situ sangat terlihat antusiasme para penonton. Mereka bertanya, mencatat, memotret, dan menikmati prosesnya.

Kelancaran proses memasak itu juga tidak terlepas dari kerja sama tim. Jika chef sebagai pemegang kendali, tim bertindak sebagai penyokong untuk menjalankan proses dan menyediakan kebutuhannya.

Prosesnya serupa orang Bali saat menyiapkan upacara di pura. Para lelaki akan membuat lawar. Biasanya, mereka duduk berjejer di satu tempat. Lalu, peristiwa teater itu dimulai dengan memotong bebumbuan, daging, dan mencampurnya dengan adonan lawar.

Ada bunyi yang riuh diciptakan oleh bertemunya blakas dengan talenan yang bersumber tak hanya dari satu orang. Gestur orang Bali mengaduk lawar juga sangat khas, cenderung bertenaga, menjadi tontonan yang menarik.

Peristiwa ini unik untuk disajikan kepada konsumen tingkat internasional. Mereka tidak hanya disuguhi hidangan finalnya, sehingga proses memasak, tak hanya sekadar jadi proses di belakang layar, tetapi menarik pula untuk ditampilkan.

Chef pun memiliki kesempatan untuk mengedukasi penonton yang mayoritas orang asing itu tentang nilai-nilai lokal yang diangkat dengan menunjukkan secara nyata melalui peralatan tradisional yang dipakai, hingga bahan-bahan yang digunakan.

Chef Oten Sujana, misalnya, sengaja memakai peralatan tradisional dan memasak dengan tungku karena ingin mengenalkan unsur lokalitas Bali. Apalagi peserta yang ikut kelas memasak ini adalah orang-orang yang berasal dari luar. Mulai dari peralatan yang digunakan dan cara memasaknya.

“Saya ajak mereka merasakan pengalaman saya ketika dulu menunggu nenek memasak di kampung,” jelas Chef Oten seusai kelas memasak.

Pengunjung memenuhi lokasi food truck selama pelaksanaan Ubud Food Festival. Foto Anton Muhajir.

Tetap Dijaga

Menurut Chef Made Lugra yang berfokus pada masakan Bali, pembacaan dalam dunia bisnis kuliner sangat penting. Tak hanya terhadap pasar, tetapi juga pemilihan bahan makanan. Harus ada alasan kenapa bahan makanan “ini” dipakai. Sebelum ia membuat menu, kewajibannya adalah pergi ke pasar, melihat apa saja bahan yang bisa diolah dari petani.

“Konsep kami memang untuk mengembangkan potensi bahan makanan yang berasal dari petani, agar mereka juga sejahtera. Kalau bukan kita yang blow up bahan-bahan ini, siapa lagi?” jelas chef di Ubud’s Ayung Resort ini.

Makanan Bali terkenal disajikan tercampur dan tentu cita rasanya “nendang”. Itu karena masakan Bali identik dengan bumbu dan rempahnya. Menurut chef Henry Alexie, cita rasa semacam ini yang harus tetap dijaga.

“Kita harus mengedukasi konsumen yang kebanyakan orang luar. Tampilkan saja seperti aslinya, sehingga ketika orang mencoba, bisa dapat experience-nya. Jika kita ubah rasa itu sesuai keinginan tamu, itu bisnis aja namanya,” ujarnya.

Menonton film tentang kuliner Nusantara. Foto Wayan Martino.

Menyampaikan Cerita

Selain presentasi hidangan yang harus menarik, menurut Chef Oten dan Chef Henry, pegiat kuliner juga harus bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk mengangkat menu lokal ke meja makan internasional. Misalnya sekolah, perusahaan, hotel, pemerintah, atau media. Dengan demikian perjuangan mereka mereka lakukan selama ini tidak pincang.

Andre Dananjaya termasuk pihak lain yang terlibat dalam promosi menu-menu khas Nusantara itu. Bersama timnya, sutradara muda dari Bali itu membuat dokumenter bertajuk Nusa Rasa. Film ini merupakan bagian dari promosi makanan Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Selama kurang lebih 30 menit, dua seri Nusa Rasa tayang di hadapan publik UFF 2018. Kedua seri ini mengambil lokasi berbeda, Bali dan Palembang. Tim Nusa Rasa memilih lokasi ini karena ingin menunjukan akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia dalam makanan.

“Kita sering melihat banyak foto makanan yang estetik di media sosial, tapi tidak ada pengetahuan tentang makanan itu. Nusa Rasa ingin menyampaikan cerita itu,” jelas Andre.

Ada alasan tersendiri kenapa Andre memilih Bali dan Palembang. Di Bali, mereka memakai pendekatan filosofi makanan. Ide memasak bukan hanya urusan perut, tapi juga persembahan.

Adapun di Palembang, ada upaya konservasi ikan belida oleh warga, karena Sungai Musi yang membelah kota di Sumater Selatan ini mulai tercemar. Ande ingin menunjukkan bahwa makanan tak sekadar mengisi perut tetapi juga terkait erat dengan pelestarian lingkungan.

Andre mengungkapkan makanan lebih dari sekadar kebutuhan pokok. Di balik setiap makanan, ada tradisi, kepercayaan, politik, folklor hingga mitos. Pengetahuan inilah yang perlu disebarluaskan melalui aneka kekayaan menu Nusantara. [b]

Artikel ini merupakan kolaborasi bersama Diah Dharmapatni dan Iin Valentine.

The post Menyajikan Menu Lokal untuk Lidah Internasional appeared first on BaleBengong.