Tag Archives: ubud

UFF 2020 Akan Hadirkan Lebih dari 90 Pembicara

Suasana UFF 2019. Foto UFF.

Masakan dari berbagai daerah yang kurang dikenal pun hadir.

Festival kuliner terkemuka di Indonesia, Ubud Food Festival 2020 Presented by ABC (UFF) mengumumkan jajaran nama-nama pengisinya. Lebih dari 90 pembicara seperti koki, pemilik restoran, pengusaha makanan, petani, penulis buku masak, peneliti, dan pegiat kuliner akan hadir April nanti.

Pada 17-19 April mendatang, penjelajahan kuliner lintas budaya ini akan diisi dengan program-program menarik. Ada demo masak, acara spesial, jalan-jalan kuliner, masterclass, dan masih banyak lagi. Festival akan digelar di lebih dari 30 lokasi di Ubud dan sekitarnya dengan lokasi utama terletak di Taman Kuliner, Jl. Raya Sanggingan Ubud, Bali.

Pada tahun keenam, Festival telah berkembang menjadi salah satu ajang gourmet paling populer di Asia Tenggara. Dia menjadi platform utama bangsa ini untuk berbagi budaya kulinernya yang beragam, produk lokal yang unik, dan deretan menu spesial dari restoran-restoran terkemuka ke hadapan dunia.

Tahun ini, UFF20 hadir untuk menginspirasi para penggemar makanan baik nasional dan internasional dengan tema Heroes. Menurut Pendiri dan Direktur UFF Janet DeNeefe, salah satu aspek terpenting dari makanan yang tersaji di meja-meja adalah orang-orang di balik proses pembuatannya. Saat makan, kita cenderung lupa jika ada cerita di balik setiap makanan, setiap hidangan, setiap masakan.

“Kami ingin menyoroti orang-orang di balik proses pembuatan makanan dan peran penting yang mereka mainkan dalam menghadirkan cita rasa yang dapat kita nikmati saat ini,” katanya.

Sosok Pahlawan

Sejalan dengan tema tahun ini, UFF menyatukan sosok-sosok pahlawan makanan lokal untuk berkolaborasi dengan koki terkenal dari seluruh dunia, mendorong pertukaran lintas budaya dan menciptakan kreasi baru. Dari Amsterdam ke Adelaide, Bangka ke Banjarmasin, Düsseldorf ke Dubai, Maluku ke Manila, dan dari seluruh Bali, para koki yang hadir ke UFF20 merupakan bukti meningkatnya status makanan Indonesia di panggung kuliner dunia.

UFF20 akan menghadirkan dua koki selebriti sekaligus juri MasterChef Indonesia tahun ini, Juna Rorimpandey dan Renatta Moeloek. Mereka untuk pertama kali hadir di UFF. Presiden Indonesian Chef Association (ICA), Henry Alexie Bloem juga akan hadir mengisi program-program UFF. Ada pula pendiri Pasar Papringan di Temanggung, Jawa Tengah, Singgih Susilo Kartono dan penulis makanan sekaligus pendiri panduan digital makanan Indonesia bernama TopTables Indonesia Kevindra P. Soemantri.

Selain itu, UFF20 akan menghadirkan sosok-sosok kuliner dari berbagai penjuru nusantara. Mulai dari koki sekaligus pemandu acara TV Eddrian Tjhia dari Bangka, penulis 14 buku masak sekaligus konsultan makanan Agus Sasirangan dari Banjarmasin, hingga pemilik Warung Mbah Jingkrak yang populer dengan menu-menu pedasnya Ajeng Astri Denaya dari Semarang.

Beberapa nama yang merupakan peneliti dan pegiat makanan pun akan berbagi ilmunya di UFF. Misalnya Dr. Fenny M. Dwivany yang meneliti mengenai pisang bersama timnya The Banana Group, I Gede Artha Sudiarsana yang mendirikan agribisnis jamur untuk menghasilkan berbagai benih dan jenis jamur, serta Gede Yudiawan yang mengembangkan Dapur Bali Mula, dapur otentik Bali yang memproduksi arak Bali dan garam tradisional.

Dari kancah internasional, UFF20 menyambut deretan koki terkemuka. Ada koki kelahiran Barbados yang dinobatkan sebagai Chef of the Year oleh Gourmet Traveler Restaurant Award 2020 Paul Carmichael. Juga pendiri restoran Ministry of Crab yang berturut-turut masuk dalam Daftar Asia’s 50 Best Restaurant sejak 2015 Dharshan Munidasa. Hadir juga koki Vietnam-Australia yang mengepalai Sunda di Melbourne Khanh Nguyen.

Nama lainnya adalah peraih gelar koki bintang Michelin wanita termuda di Jerman Julia Komp hingga juri MasterChef Singapore yang memiliki serial memasak populer Tasty Conversations Audra Morrice.

FoodLover Pass

Selain mengumumkan jajaran nama pembicaranya, UFF20 juga meluncurkan FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, Masterclasses, Food Tours, dan Special Events yang nantinya dapat dinikmati para penggemar makanan. Demo masak dari para koki favorit hingga jalan-jalan ke pusat kuliner lokal akan melengkapi wawasan gastronomi pengunjung Festival. Begitu pula dengan kolaborasi para koki ternama dari dapur-dapur restoran terkemuka di dunia, akan menghadirkan pengalaman bersantap yang istimewa.

Dalam Kitchen Stage: Origins, koki yang dinobatkan oleh panduan restoran Prancis Gault Millau sebagai Most Talented Chef 2018 Dennis Huwaë, akan memasak sajian yang terinspirasi oleh warisan budaya Indonesia-Belanda. Sementara itu, pengunjung Festival dapat menikmati sesi demo masak a la Korea menggunakan daging premium dan bahan-bahan alami bersama koki sekaligus pemilik restoran SI JIN Steakhouse, Joel Lim Si Jin, dalam Kitchen Stage: Sizzle with SI JIN.

Untuk pertama kalinya, Festival menghadirkan Food Tour: Behind Men Juwel’s Kitchen Doors. Pengunjung Festival berkesempatan untuk melihat bagaimana juru masak dari Desa Sayan, Ubud, menyiapkan masakan ayam tradisional yang lezat, kemudian menyantapnya sembari menikmati pemandangan sawah yang indah.

Untuk program Special Event: Best of the Fest, Paul Carmichael dan Khanh Nguyen akan berkolaborasi dengan koki sekaligus penulis buku Chicken and Charcoal Matt Abergel dan koki terkemuka Chris Salans untuk menyajikan delapan menu kreasi masakan Karibia-Jepang-Indonesia. Sementara itu, Renatta Moeloek akan menyajikan masakan modern Prancis-Indonesia yang lezat bersama Wayan Sukarta, Head Chef bridges dalam Special Event: From Paris with Love.

Salah satu tujuan utama Festival adalah untuk menyoroti masakan dari berbagai daerah Indonesia yang kurang dikenal. Long Table Lunch di Casa Luna kembali melalui Special Event: Maluku, the Spice Islands. Jamuan makan spesial ini akan memperkenalkan makanan laut dan bahan-bahan lokal dari Kepulauan Maluku, Ambon, dan Banda Neira di Indonesia Timur.

Dalam sebuah misi untuk membawa makanan Indonesia ke hadapan dunia, Eddrian Tjhia juga akan menghadirkan sebuah perayaan luar biasa dari masakan tradisional asal Bangka dalam Special Event: Bangka at Plataran.

“Kami sangat senang mengumumkan jajaran lengkap pembicara yang bergabung dengan kami untuk tahun keenam ini,” ujar Janet DeNeefe.

“Kami juga sangat antusias dengan adanya lebih banyak masakan daerah-daerah di Indonesia daripada tahun sebelumnya. Dari warung lokal, petani, produsen artisan, dan juru masak dari pelosok desa hingga tempat-tempat menakjubkan, serta koki kelas dunia, kami memiliki ragam aspek gastronomi yang ingin Anda kenal di UFF20,” lanjutnya.

FoodLover Pass yang dapat digunakan untuk mengakses Kitchen Stage, serta tiket untuk Masterclasses, Food Tours, dan Special Events sudah dapat dibeli melalui situs web UFF. Free Events atau program tidak berbayar akan diumumkan pada akhir bulan Februari 2020.

Kunjungi www.ubudfoodfestival.com untuk informasi selengkapnya. [b]

Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019

Made Taro, seorang pendongeng, penulis, dan pegiat permainan tradisional Bali mendapat penghargaan sepanjang masa di Ubud Writers and Readers Festival 2019 ini.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) yang ke-16 dimulai pada Rabu (23/10/2019). Pada Gala Opening ini, UWRF kembali memberikan penghargaan sepanjang masa atau Lifetime Achievement Award kepada sosok sastra terpilih. Tahun ini, penerima Lifetime Achievement Award UWRF adalah Made Taro, seorang pedongeng legendaris asal Bali yang telah berjasa dalam melestarikan cerita rakyat dan dongeng lisan khususnya di Bali.

Penghargaan ini pernah diberikan oleh UWRF kepada Sapardi Djoko Damono pada tahun 2018 dan Almarhumah NH. Dini pada tahun 2017.

Lahir pada tahun 1939 di Sengkidu, Bali Timur, Made Taro awalnya mempelajari arsitektur, tetapi menemukan panggilannya untuk menulis puisi dan dongeng anak-anak. Ia telah menulis berbagai buku mengenai dongeng tradisional, begitu pula lagu dan permainan yang terinspirasi dari kisah dongeng. Beberapa judul buku yang ia tulis antara lain Dari Goak Maling Taruh Sampai Goak Maling Pitik, Dari Ngejuk Capung Sampai Ngejuk Lindung, Mengapa Manusia Tidak Melihat Dewa?, dan Mendongeng Lima Menit. Made Taro juga telah kerap menerima penghargaan untuk karyanya dalam pelestarian dan usahanya mempopulerkan kembali dongeng-dongeng tradisional.

“Menerima penghargaan ini, saya terkejut sekaligus gembira. Namun, dalam hati saya juga bertanya-tanya apa sebabnya saya diberi penghargaan. Memang sudah 46 tahun saya berkarya, tapi mungkin sampai sekarang masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap remeh, ujar Made Taro.

“Apa yang saya kerjakan sejak tahun 1973 ini sudah saya terbitkan dalam bentuk buku. Jika dijumlah, mungkin ada lebih dari 40 buku. Dua dari buku-buku tersebut mendapat perhatian dari luar negeri, diterbitkan di Amerika Serikat dan Thailand. Tahun ini, karya saya mendapat perhatian dari UWRF. Saya tambah semangat. Semoga dengan adanya penghargaan ini, saya menjadi lebih bersemangat berkarya. Jadi, UWRF membuat saya semangat sehingga saya lupa saya sudah tua,” tutup Made Taro yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para hadirin Gala Opening.

Secara khusus, UWRF akan menghadirkan panel diskusi mendalam bersama Made Taro dalam sesi A Lifetime of Storytelling pada Minggu (27/10/2019) pukul 15.45-17.00 WITA di Indus Restaurant. Di tengah gempuran gadget dan permainan digital yang sangat membuat ketagihan, Made Taro melakukan perjalanan ke seluruh Bali dan sekitarnya, mengajar anak-anak tentang keajaiban permainan, lagu, dan cerita rakyat nasional. Dalam panel tersebut, Made Taro akan mengisahkan hampir empat dekade perjalanannya dalam merayakan cerita rakyat dan dongeng lisan.

Setelah Made Taro menerima penghargaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Cynthia Dewi Oka dan ditutup dengan pementasan tari Japatuwan yang dibawakan oleh kelompok tari Bumi Bajra dengan koreografer Dayu Ani.

Sebagai satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk tahun 2019 versi The Telegraph UK, Festival tahun ini menghadirkan lebih dari 180 pembicara yang datang dari 30 negara. Mereka akan bergiliran tampil dalam 70 sesi diskusi menarik yang dingkat dan dikembangkan dari tema tahun ini, Karma.

Dimulai hari Rabu (23/10/19) sore, UWRF menggelar Press Call di Indus Restaurant @ Taman Baca, Ubud, bersama pembicara-pembicara utama seperti peneliti senior Human Rights Watch Andreas Harsono, penulis buku sekaligus jurnalis BBC Indonesia Famega Syavira Putri, dan penulis Zimbabwe-Amerika Serikat peraih berbagai penghargaan Novuyo Rosa Tshuma. Dalam Press Call tersebut, hadir pula Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe dan Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Ketut Suardana.

Pengertian Karma secara singkat dan alasan di balik pemilihan tema tahun ini dijabarkan oleh Ketut Suardana, sementara Janet DeNeefe berbagi mengenai aspek yang menjadikan UWRF semakin dikenal secara internasional. Beliau pun menambahkan beberapa saran bagi mereka yang ingin mulai menciptakan festival sastra di daerahnya masing-masing. “Saat akan memulai, Anda harus tahu kalau nantinya Anda akan bekerja keras untuk Festival,” ujarnya.

Sementara itu, Andreas Harsono memaparkan mengenai harapannya akan pelaporan yang jujur dan jurnalisme yang tidak memihak dalam industri media dengan banyaknya berita palsu yang ada. “Saya rasa, selama para jurnalis, terutama mereka yang masih muda, masih mau melakukan riset, pasti ada harapan,” tuturnya.

Famega Syavira Putri, yang telah menuliskan perjalanan daratnya dari Indonesia ke Afrika seorang diri juga berbagi momen berharga selama melakukan perjalanan. Sementara Novuyo Rosa Tshuma menjabarkan bahwa sejarah pun dapat dituturkan dalam kisah fiksi yang indah.

Pada malam harinya, UWRF resmi dibuka pada acara Gala Opening yang berlokasi di Puri Ubud. Malam Gala Opening dibuka oleh tari penyambutan dari Sekhaa Tabuh dan dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak termasuk Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Putra Sukawati dan Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Banyak orang yang berkata bahwa kita perlu sebuah komunitas untuk menciptakan sesuatu. Seperti yang Anda lihat, itulah yang telah menciptakan Ubud Writers & Readers Festival dan kami merasa sangat berterima kasih karena komunitas di sini telah medukung kami. Saya harap Anda dapat menikmati empat hari ke depan dan benar-benar merasakan apa yang ditawarkan oleh Ubud,” ujar Janet DeNeefe dalam sambutannya.

Selanjutnya, sambutan dilanjutkan oleh Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Events Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Dra. Esthy Reko Astuty M.Si dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Ardana Sukawati. Main Program UWRF dihadirkan pada hari beikutnya, Kamis (24/10/2019) setelah Festival Welcome di NEKA Museum dari Janet DeNeefe, Guy Gunaratne, dan Nirwan Dewanto.

Main Program UWRF akan hadir mulai 24-27 Oktober di tiga venue utama, yaitu Festival Hub @ Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Berbagai panel diskusi menarik dengan berbagai topik dapat dinikmati pengunjung Festival, misalnya sesi Rise of the Tiger, Imagining the Past, Precious Peatlands, dan masih banyak lagi. Selain itu akan ada pula 100 lebih program lainnya seperti Special Events, lokakarya, lokakarya budaya, pemutaran film, pameran seni, peluncuran buku, pertunjukan musik, dan lainnya.

“Ketika kami merenungkan 16 tahun terakhir dan tentang bagaimana Festival telah berkembang menjadi salah satu acara sastra terbaik dunia, kami dapat menghargai maknanya sebagai wadah untuk pertukaran lintas budaya,” ujar Pendiri & Direktur UWRF Janet DeNeefe.

“Melalui tema Karma tahun ini, kami merayakan para penulis, seniman, dan pegiat dari seluruh Indonesia dan dunia yang sangat menyadari konsekuensi dari tindakan mereka, dan bagaimana konsekuensi tersebut akan berdampak pada masa depan kita bersama,” lanjutnya.

“Jika Anda menyukai kisah yang luar biasa, jika Anda terbuka untuk ide-ide inovatif, jika Anda ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia dan sekitarnya, atau jika Anda percaya akan kekuatan kreativitas untuk menghasilkan perubahan yang nyata, maka datang dan nikmati keajaiban yang kini membuat UWRF lebih dikenal. Bagi banyak orang, UWRF telah mengubah hidup. Hal ini berlaku untuk saya, dan saya harap hal tersebut juga berlaku untuk Anda,” tutup DeNeefe.

The post Lifetime Achievement Award untuk Made Taro di UWRF 2019 appeared first on BaleBengong.

Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas


Melalui laku kreatif, mereka melintasi batas di antara para perempuan.

Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali ikut serta dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01!. Mereka menjadi bagian dari 50 perempuan dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 21 – 25 Maret 2019.

Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona. Dalam acara itu Perempuan Lintas Batas (Peretas) mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan. Mereka juga menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.

Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh organisasi Peretas. Tujuannya sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara para pelaku kreatif. Penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, penyanyi, perupa, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Citra adalah perupa asal Indonesia. Namanya mulai dikenal dalam seni rupa Indonesia melalui karya-karyanya yang tidak hanya berupa lukisan, seni instalasi dan performance art dan telah dipamerkan di dalam dan di luar negeri.

Citra merupakan salah satu penerima penghargaan Gold Award Winner dalam kompetisi seni lukis UOB Painting of The Year 2017 kategori seniman profesional. Karya-karya Citra banyak mewakili isu-isu perempuan terutama mengenai identitas kultural, posisi perempuan dalam kultur patriarki dan realitas sosial dan budaya.

Novieta Tourisia adalah seniman serat, wastra dan pewarnaan alami. Novieta mendirikan Cinta Bumi Artisans, studio kriya yang proaktif menciptakan karya seni yang dapat dikenakan (wearable art) dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi berkelanjutan.

Karya-karya kolaboratifnya dihasilkan bersama pengrajin di Lembah Bada, Poso. Mereka mengangkat ranta atau kain kulit kayu. Bukan hanya dibuat sebatas menjadi aksesoris biasa, tapi juga menyuarakan kembali peran-peran perempuan adat dan kekuatan kosmologinya di masa pra-kolonial dan agama-agama baru masuk.

Beberapa karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Meet the Makers Indonesia, Beaten Bark of Asia Pasific, dan And the Beat Goes On di Weltkulturen Museum Jerman.

Trianingsih seniman multidisiplin yang juga menjadi founder Slab Indonesia, organisasi yang berfokus pada seni, sains dan teknologi. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Uma Seminyak, Outpost Canggu, dan Rumah Sanur.

Tria terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif seperti lokakarya, pameran dan talkshow. Selain pernah menjadi produser di Solo Radio dan Hardrock FM Bali, ia juga menjadi penulis lepas untuk Kelola Foundation. Tulisannya dapat dibaca di buku We Indonesians Rule dan Festival Fiksi Kompasiana. Tria tertarik dengan kerja kolektif perempuan dan kerjasama kreatif berbagai latar belakang akademisi dan seni.

Lilu merupakan seniman mural yang menyuarakan kepeduliannya terhadap anjing-anjing terlantar. Lilu juga menjadi penyelamat tunggal (solo rescuer) di Bali. Lilu tanpa pamrih menolong anjing-anjing terlantar, memberi makan, merawat dan memastikan bahwa anjing-anjing yang ia tolong mendapatkan kehidupan lebih baik. Lilu pernah berpartisipasi di pameran Micro Galleries, Trashstock, Mural Pasca Panen 2 dan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. [b]

The post Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas appeared first on BaleBengong.

Menikmati Deretan Program Gratis di Festival Hub UFF 2019


Kitchen Stage Sambal Smackdown di Indus UFF 2018. Foto Anggara Mahendra.

Tinggal dua minggu lagi, UFF 2019 digelar kembali.

Pada 26 – 28 April 2018 mendatang, Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC (UFF) akan kembali diadakan. Kali ini mengangkat tema Spice Up the World. Festival mengolah beragam program-program menarik sesuai ide untuk menjadikan makanan Indonesia mendunia.

Lebih dari 100 pembicara seperti chef, ahli gastronomi, dan pelaku industri kuliner baik nasional maupun internasional akan hadir. Mereka akan memeriahkan festival kuliner yang mengangkat makanan Indonesia sebagai bintangnya ini.

UFF menghadirkan program berbayar dan program tidak berbayar. Program berbayar terdiri dari Kitchen Stage @ Indus Restaurant, Special Events yang didukung oleh AQUA Reflections, Masterclasses, Food Tours, dan satu dari tiga Kids Events yaitu Celebrate Indonesian Food.

Festival bekerja sama dengan berbagai hotel dan restoran terbaik di Ubud dan sekitarnya untuk menyelenggarakan program-program tersebut.

Tak Berbayar

Selain berbayar, ada pula program tidak berbayar yang dipusatkan di Festival Hub @ Taman Kuliner di Jalan Raya Sanggingan, Ubud. Lebih dari 70 kios makanan, minuman, kerajinan, alat masak, komunitas, dan lainnya akan mengisi sudut-sudut Festival Hub @ Taman Kuliner.

Pengunjung dapat menemukan berbagai hidangan khas nusantara dari para vendor pilihan di UFF. Ada makanan dari Aceh, Ternate, Manado, dan tentunya Bali. Tidak ketinggalan, makanan khas Asia seperti dari Thailand dan Korea.

Festival Hub @ Taman Kuliner terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh siapa saja. Pengunjung tidak akan dikenakan biaya untuk masuk ke area ini untuk menikmati program-program gratis dari UFF.

Setidaknya ada enam kategori untuk program gratis yang bisa dinikmati di Festival Hub @ Taman Kuliner selama festival. Mereka adalah Food for Thought, Quick Bites, Teater Kuliner, Kids Events, pemutaran film, dan pertunjukkan musik.

Pengunjung dapat menambah wawasan seputar dunia dan lanskap kuliner yang menarik dalam sesi Food for Thought. Ini adalah panel diskusi yang melibatkan para pembicara Festival. Salah satu sesi panel diskusi yang digelar di Festival Hub @ Taman Kuliner ini dinamai Spice Up the World.

Founder & Director UFF Janet DeNeefe akan bergabung bersama perwakilan dari Aceh Culinary Festival yaitu Wan Windi Lestari dan Dra. Irmayani. Mereka akan mendiskusikan ide untuk membumbui dunia dengan makanan Indonesia.

Ada pula sesi Waste Not Want Not. Diskusi ini akan membahas mengenai limbah makanan dan kedaulatan pangan. Narasumbernya antara lain Aretha Aprilia dan Murdijati Gardjito.

Sesi Reality Bites akan menguak fakta di balik reality TV. Hadir sosok-sosok dunia kuliner yang kerap muncul di layar kaca. Finalis MasterChef Australia 2017 Ben Ungermann, pemandu acara Asian Food Channel Rinrin Marinka, dan chef restoran bintang MichelinLe Du di Bangkok Thitid Tassanakajohn (Chef Ton).

Bebek betutu salah satu menu lokal di UFF 2018. Foto Wayan Martino.

Program Baru

Dalam UFF tahun ini, akan ada program baru yang diperkenalkan yaitu Quick Bites. Sesi ini merupakan presentasi mendalam selama 20 menit dari satu pembicara Festival mengenai topik tertentu.

Setiap hari, pengunjung Festival dapat menikmati sesi Quick Bites yang menyajikan topik-topik yang berbeda, mulai dari gerakan Slow Food, makanan fermentasi dari Indonesia, buah-buahan asal Bali yang mulai langka, komunitas pertanian, dan lainnya.

Demo masak di UFF tidak hanya dapat ditemui dalam sesi Kitchen Stage @ Indus Restaurant, melainkan juga dalam sesi Teater Kuliner di Festival Hub @ Taman Kuliner. Pada hari Jumat (26/04/2019), pengunjung Festival dapat bergabung dalam serunya demo masak bersama Alessandro Colombis yang akan menyajikan sambal toro poddu dari Sumba Barat dalam sesi Sumbanese Sambal.

Selain itu, Ayu Gayatri Kresna dan Gede Kresna akan memasak hidangan-hidangan khas Indonesia yang diolah dalam bambu. Pasangan dari Pengalaman Rasa ini akan menghadirka ayam timbungan (Bali), tu-in ayam (Maumere, Flores), dan pa’piong (Toraja, Sulawesi) dalam sesi Cooking in Bamboo.

Dari Ternate, Pendiri Cengkeh Afo and Gamalama Spices Kris Syamsudin dan timnya akan memasak hidangan tradisional Ternate dalam sesi Once Upon a Time in Ternate.

Teater Kuliner pada hari pertama ini akan ditutup dengan sesi Exploresep by Kecap ABC bersama Gerry Girianza. Ambassador Kecap ABC sekaligus pembawa acara Exploresep ini akan mengajak pengunjung Festival, khususnya laki-laki, untuk memasak makanan sehari-hari yang mudah dibuat dan lezat untuk dihidangkan kepada pasangannya di rumah.

Khas Bali

Pada hari Sabtu (27/04/2019), Teater Kuliner akan dimeriahkan dengan sajian makanan khas Bali. Misalnya ayam bakar bumbu kecombrang dan urap kejelongkot oleh I Ketut Buda dalam sesi Fresh from the Future Farmers. Ada minuman khas Aceh dalam sesi Aceh’s Legendry Kupi Sareng. Juga makanan unik asal Pulau Yamna di Papua dalam sesi A Taste of Yamna Island yang dimasak oleh The Jungle Chef Charles Toto.

Pada sore harinya, pengunjung Festival dapat bergabung dengan chef ternama Indonesia Bara Pattiradjawane dalam sesi Sambal ABC Extra Pedas di mana ia akan memasak mie terpedas di dunia dengan lebih dari 250 cabai dan Sambal ABC Extra Pedas.

Selanjutnya, pada Minggu (28/04/2019), Adhitia Julisiandi akan memasak makanan khas Toba dalam sesi Fish Fits for Kings, Ragil Imam Wibowo akan memasak makanan khas Aceh menggunakan lebih dari 20 rempah berbeda dalam sesi Acehnese Spice Celebration, serta pakar kuliner paling dicintai di Indonesia Sisca Soewitomo ditemani Novia R. Soewitomo akan menyiapkan hidangan-hidangan klasik khas Betawi dalam sesi Classics from the Capital.

Festival Hub @ Taman Kuliner bukan hanya akan diramaikan oleh sesi Food for Thought, Quick Bites, dan Teater Kuliner saja. Para pengunjung Festival yang datang bersama keluarga juga bisa mendaftarkan anak-anaknya untuk mengikuti Kids Events.

Dua dari tiga Kids Events UFF tahun ini merupakan program gratis yaitu Growing Gardeners dan Ice Cream Chemistry.

Meriah

Selepas petang, pengunjung Festival dapat menikmati pemutaran film dan pertunjukkan musik yang meriah. Tahun ini, Festival akan menghadirkan film-film pilihan seperti Gudeg Mbah Lindu, Wei, The Balinese Bastard and 100 Roosters, Pulau Plastik, dan My Life in a Recipe.

Sementara itu, pertunjukkan musik Festival tahun ini akan disemarakkan oleh penampilan terbaik dari Bali Breathe, Love Mafia, para penari Swami Vivekananda Cultural Center, Soul & Kith, dan Alien Child pada hari Jumat dan Sabtu.

Puncaknya, pada Opening Night Party di Festival Hub @ Taman Kuliner yang terbuka untuk umum, pengunjung Festival akan dihibur oleh penampilan dari Kul Kul Connection, Ary Juliant & The Badjigur Bluegrass, Love x Stereo, Rhythm Rebels, serta musik dangdut rekaya digital dari Feel Koplo.

Pengunjung Festival yang ingin menikmati pengalaman festival kuliner secara lebih luas dapat membeli FoodLover Pass yang dijual sejak tanggal 25 Februari 2019 lalu. FoodLover Pass ini merupakan tiket yang dapat digunakan untuk mengakses 18 demo masak, termasuk dua kompetisi kuliner dalam sesi Kitchen Stage @ Indus Restaurant.

Festival menyediakan 1, 2, dan 3-Day FoodLover Pass dengan harga berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 850.000. Dengan FoodLover Pass, pengunjung dapat menghemat sekitar 40% dibandingkan dengan membeli tiket satuan untuk setiap sesi Kitchen Stage.

Tiket masuk juga diberlakukan untuk mengakses Special Events yang didukung oleh AQUA Reflections, Masterclasses, Food Tours, dan satu Kids Event yaitu Celebrate Indonesian Food. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Festival dan program, silakan mengunjungi laman ubudfoodfestival.com. [b]

The post Menikmati Deretan Program Gratis di Festival Hub UFF 2019 appeared first on BaleBengong.

Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan

Komunitas KNB saat menjenguk Ni Wayan Lepug di Ubud. Foto Herdian Armandhani.

Di usia 85 tahun Ni Wayan Lepug harus hidup sebatang kara.

Anak satu-satunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Cucunya kandung nenek yang tinggal di Ubud ini sudah setahun belakangan tidak pernah menjenguknya ke rumah mungil berukuran 3×3 meter di Jalan Gatotkaca Gang Buntu Denpasar.

Dahulu saat masih sehat, Nenek Ubud berprofesi sebagai pedagang buah Salak di Pasar Badung, Denpasar. Ia mulai berjualan dari tahun 1951. Hingga suatu musibah terjadi menyebabkan pingganggya separuh mati rasa dan susah untuk duduk secara normal.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan belas kasihan tetangga ataupun dermawan yang mengetahu nasibnya.

Kondisi rumah mungil Nenek Ubud bisa dikatakan tidak sehat. Rumah mungil ini tidak begitu terawat dan penuh debu. Jika musim hujan datang, rembesan dan tetesan bocor menjadi tak terbendung.

Mengetahui kondisi Nenek Ubud yang sangat memprihatinkan, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) menggagendakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menjenguk dan merawat Nenek Ubud secara sukarela seminggu dua kali yakni setiap Selasa dan Sabtu.

Tim Komunitas KNB membagi diri menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan melakukan piket untuk merawat Nenek. Saat disambangi tim Komunitas KNB pada Selasa, 12 Februari 2019, kemarin Nenek Ubud sedang rebahan di ranjang usangnya. Ia pun tergopoh-gopoh bangkit menyambut relawan Komunitas KNB.

Nenek Ubud cara berjalannya membungkuk sambil berpegangan pada benda di sekelilingnya.

Relawan Komunitas KNB membawakan sarapan bubur ayam hangat untuk disantap pagi itu. Sedangkan relawan lain ada yang merapikan ranjang Nenek Ubud istirahat, mencuci gelas dan piring , serta mengajak Nenek Ubud mengobrol.

Beberapa tim juga ada yang membelikan lauk pauk Nenek saat makan siang. Nenek Ubud begitu senang ada yang memperhatikannya.

“Odah (red: sebutan nenek dalam bahasa Bali) tidak dapat membalas kebaikan adik-adik sekalian,” ucapnya sambil berkaca-kaca.

Ketua Project Kunjungan ke Nenek Ubud Ayu Zulalina mengatakan kegiatan mereka semata-mata untuk membahagiakan Nenek sehingga bisa hidup lebih layak.

“Mudah-mudahan kegiatan sederhana kami bisa membuata hati nenek senang. Kami mengaisihi dan merawat beliau seperti Nenek kami sendiri. Setidaknya apa yang kami lakukan bisa membuat kehidupan nenek menjadi lebih layak,” ungkapnya. [b]

The post Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan appeared first on BaleBengong.