Tag Archives: ubud

Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas


Melalui laku kreatif, mereka melintasi batas di antara para perempuan.

Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali ikut serta dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01!. Mereka menjadi bagian dari 50 perempuan dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 21 – 25 Maret 2019.

Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona. Dalam acara itu Perempuan Lintas Batas (Peretas) mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan. Mereka juga menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.

Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh organisasi Peretas. Tujuannya sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara para pelaku kreatif. Penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, penyanyi, perupa, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Citra adalah perupa asal Indonesia. Namanya mulai dikenal dalam seni rupa Indonesia melalui karya-karyanya yang tidak hanya berupa lukisan, seni instalasi dan performance art dan telah dipamerkan di dalam dan di luar negeri.

Citra merupakan salah satu penerima penghargaan Gold Award Winner dalam kompetisi seni lukis UOB Painting of The Year 2017 kategori seniman profesional. Karya-karya Citra banyak mewakili isu-isu perempuan terutama mengenai identitas kultural, posisi perempuan dalam kultur patriarki dan realitas sosial dan budaya.

Novieta Tourisia adalah seniman serat, wastra dan pewarnaan alami. Novieta mendirikan Cinta Bumi Artisans, studio kriya yang proaktif menciptakan karya seni yang dapat dikenakan (wearable art) dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi berkelanjutan.

Karya-karya kolaboratifnya dihasilkan bersama pengrajin di Lembah Bada, Poso. Mereka mengangkat ranta atau kain kulit kayu. Bukan hanya dibuat sebatas menjadi aksesoris biasa, tapi juga menyuarakan kembali peran-peran perempuan adat dan kekuatan kosmologinya di masa pra-kolonial dan agama-agama baru masuk.

Beberapa karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Meet the Makers Indonesia, Beaten Bark of Asia Pasific, dan And the Beat Goes On di Weltkulturen Museum Jerman.

Trianingsih seniman multidisiplin yang juga menjadi founder Slab Indonesia, organisasi yang berfokus pada seni, sains dan teknologi. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Uma Seminyak, Outpost Canggu, dan Rumah Sanur.

Tria terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif seperti lokakarya, pameran dan talkshow. Selain pernah menjadi produser di Solo Radio dan Hardrock FM Bali, ia juga menjadi penulis lepas untuk Kelola Foundation. Tulisannya dapat dibaca di buku We Indonesians Rule dan Festival Fiksi Kompasiana. Tria tertarik dengan kerja kolektif perempuan dan kerjasama kreatif berbagai latar belakang akademisi dan seni.

Lilu merupakan seniman mural yang menyuarakan kepeduliannya terhadap anjing-anjing terlantar. Lilu juga menjadi penyelamat tunggal (solo rescuer) di Bali. Lilu tanpa pamrih menolong anjing-anjing terlantar, memberi makan, merawat dan memastikan bahwa anjing-anjing yang ia tolong mendapatkan kehidupan lebih baik. Lilu pernah berpartisipasi di pameran Micro Galleries, Trashstock, Mural Pasca Panen 2 dan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. [b]

The post Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas appeared first on BaleBengong.

Menikmati Deretan Program Gratis di Festival Hub UFF 2019


Kitchen Stage Sambal Smackdown di Indus UFF 2018. Foto Anggara Mahendra.

Tinggal dua minggu lagi, UFF 2019 digelar kembali.

Pada 26 – 28 April 2018 mendatang, Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC (UFF) akan kembali diadakan. Kali ini mengangkat tema Spice Up the World. Festival mengolah beragam program-program menarik sesuai ide untuk menjadikan makanan Indonesia mendunia.

Lebih dari 100 pembicara seperti chef, ahli gastronomi, dan pelaku industri kuliner baik nasional maupun internasional akan hadir. Mereka akan memeriahkan festival kuliner yang mengangkat makanan Indonesia sebagai bintangnya ini.

UFF menghadirkan program berbayar dan program tidak berbayar. Program berbayar terdiri dari Kitchen Stage @ Indus Restaurant, Special Events yang didukung oleh AQUA Reflections, Masterclasses, Food Tours, dan satu dari tiga Kids Events yaitu Celebrate Indonesian Food.

Festival bekerja sama dengan berbagai hotel dan restoran terbaik di Ubud dan sekitarnya untuk menyelenggarakan program-program tersebut.

Tak Berbayar

Selain berbayar, ada pula program tidak berbayar yang dipusatkan di Festival Hub @ Taman Kuliner di Jalan Raya Sanggingan, Ubud. Lebih dari 70 kios makanan, minuman, kerajinan, alat masak, komunitas, dan lainnya akan mengisi sudut-sudut Festival Hub @ Taman Kuliner.

Pengunjung dapat menemukan berbagai hidangan khas nusantara dari para vendor pilihan di UFF. Ada makanan dari Aceh, Ternate, Manado, dan tentunya Bali. Tidak ketinggalan, makanan khas Asia seperti dari Thailand dan Korea.

Festival Hub @ Taman Kuliner terbuka untuk umum dan dapat diakses oleh siapa saja. Pengunjung tidak akan dikenakan biaya untuk masuk ke area ini untuk menikmati program-program gratis dari UFF.

Setidaknya ada enam kategori untuk program gratis yang bisa dinikmati di Festival Hub @ Taman Kuliner selama festival. Mereka adalah Food for Thought, Quick Bites, Teater Kuliner, Kids Events, pemutaran film, dan pertunjukkan musik.

Pengunjung dapat menambah wawasan seputar dunia dan lanskap kuliner yang menarik dalam sesi Food for Thought. Ini adalah panel diskusi yang melibatkan para pembicara Festival. Salah satu sesi panel diskusi yang digelar di Festival Hub @ Taman Kuliner ini dinamai Spice Up the World.

Founder & Director UFF Janet DeNeefe akan bergabung bersama perwakilan dari Aceh Culinary Festival yaitu Wan Windi Lestari dan Dra. Irmayani. Mereka akan mendiskusikan ide untuk membumbui dunia dengan makanan Indonesia.

Ada pula sesi Waste Not Want Not. Diskusi ini akan membahas mengenai limbah makanan dan kedaulatan pangan. Narasumbernya antara lain Aretha Aprilia dan Murdijati Gardjito.

Sesi Reality Bites akan menguak fakta di balik reality TV. Hadir sosok-sosok dunia kuliner yang kerap muncul di layar kaca. Finalis MasterChef Australia 2017 Ben Ungermann, pemandu acara Asian Food Channel Rinrin Marinka, dan chef restoran bintang MichelinLe Du di Bangkok Thitid Tassanakajohn (Chef Ton).

Bebek betutu salah satu menu lokal di UFF 2018. Foto Wayan Martino.

Program Baru

Dalam UFF tahun ini, akan ada program baru yang diperkenalkan yaitu Quick Bites. Sesi ini merupakan presentasi mendalam selama 20 menit dari satu pembicara Festival mengenai topik tertentu.

Setiap hari, pengunjung Festival dapat menikmati sesi Quick Bites yang menyajikan topik-topik yang berbeda, mulai dari gerakan Slow Food, makanan fermentasi dari Indonesia, buah-buahan asal Bali yang mulai langka, komunitas pertanian, dan lainnya.

Demo masak di UFF tidak hanya dapat ditemui dalam sesi Kitchen Stage @ Indus Restaurant, melainkan juga dalam sesi Teater Kuliner di Festival Hub @ Taman Kuliner. Pada hari Jumat (26/04/2019), pengunjung Festival dapat bergabung dalam serunya demo masak bersama Alessandro Colombis yang akan menyajikan sambal toro poddu dari Sumba Barat dalam sesi Sumbanese Sambal.

Selain itu, Ayu Gayatri Kresna dan Gede Kresna akan memasak hidangan-hidangan khas Indonesia yang diolah dalam bambu. Pasangan dari Pengalaman Rasa ini akan menghadirka ayam timbungan (Bali), tu-in ayam (Maumere, Flores), dan pa’piong (Toraja, Sulawesi) dalam sesi Cooking in Bamboo.

Dari Ternate, Pendiri Cengkeh Afo and Gamalama Spices Kris Syamsudin dan timnya akan memasak hidangan tradisional Ternate dalam sesi Once Upon a Time in Ternate.

Teater Kuliner pada hari pertama ini akan ditutup dengan sesi Exploresep by Kecap ABC bersama Gerry Girianza. Ambassador Kecap ABC sekaligus pembawa acara Exploresep ini akan mengajak pengunjung Festival, khususnya laki-laki, untuk memasak makanan sehari-hari yang mudah dibuat dan lezat untuk dihidangkan kepada pasangannya di rumah.

Khas Bali

Pada hari Sabtu (27/04/2019), Teater Kuliner akan dimeriahkan dengan sajian makanan khas Bali. Misalnya ayam bakar bumbu kecombrang dan urap kejelongkot oleh I Ketut Buda dalam sesi Fresh from the Future Farmers. Ada minuman khas Aceh dalam sesi Aceh’s Legendry Kupi Sareng. Juga makanan unik asal Pulau Yamna di Papua dalam sesi A Taste of Yamna Island yang dimasak oleh The Jungle Chef Charles Toto.

Pada sore harinya, pengunjung Festival dapat bergabung dengan chef ternama Indonesia Bara Pattiradjawane dalam sesi Sambal ABC Extra Pedas di mana ia akan memasak mie terpedas di dunia dengan lebih dari 250 cabai dan Sambal ABC Extra Pedas.

Selanjutnya, pada Minggu (28/04/2019), Adhitia Julisiandi akan memasak makanan khas Toba dalam sesi Fish Fits for Kings, Ragil Imam Wibowo akan memasak makanan khas Aceh menggunakan lebih dari 20 rempah berbeda dalam sesi Acehnese Spice Celebration, serta pakar kuliner paling dicintai di Indonesia Sisca Soewitomo ditemani Novia R. Soewitomo akan menyiapkan hidangan-hidangan klasik khas Betawi dalam sesi Classics from the Capital.

Festival Hub @ Taman Kuliner bukan hanya akan diramaikan oleh sesi Food for Thought, Quick Bites, dan Teater Kuliner saja. Para pengunjung Festival yang datang bersama keluarga juga bisa mendaftarkan anak-anaknya untuk mengikuti Kids Events.

Dua dari tiga Kids Events UFF tahun ini merupakan program gratis yaitu Growing Gardeners dan Ice Cream Chemistry.

Meriah

Selepas petang, pengunjung Festival dapat menikmati pemutaran film dan pertunjukkan musik yang meriah. Tahun ini, Festival akan menghadirkan film-film pilihan seperti Gudeg Mbah Lindu, Wei, The Balinese Bastard and 100 Roosters, Pulau Plastik, dan My Life in a Recipe.

Sementara itu, pertunjukkan musik Festival tahun ini akan disemarakkan oleh penampilan terbaik dari Bali Breathe, Love Mafia, para penari Swami Vivekananda Cultural Center, Soul & Kith, dan Alien Child pada hari Jumat dan Sabtu.

Puncaknya, pada Opening Night Party di Festival Hub @ Taman Kuliner yang terbuka untuk umum, pengunjung Festival akan dihibur oleh penampilan dari Kul Kul Connection, Ary Juliant & The Badjigur Bluegrass, Love x Stereo, Rhythm Rebels, serta musik dangdut rekaya digital dari Feel Koplo.

Pengunjung Festival yang ingin menikmati pengalaman festival kuliner secara lebih luas dapat membeli FoodLover Pass yang dijual sejak tanggal 25 Februari 2019 lalu. FoodLover Pass ini merupakan tiket yang dapat digunakan untuk mengakses 18 demo masak, termasuk dua kompetisi kuliner dalam sesi Kitchen Stage @ Indus Restaurant.

Festival menyediakan 1, 2, dan 3-Day FoodLover Pass dengan harga berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 850.000. Dengan FoodLover Pass, pengunjung dapat menghemat sekitar 40% dibandingkan dengan membeli tiket satuan untuk setiap sesi Kitchen Stage.

Tiket masuk juga diberlakukan untuk mengakses Special Events yang didukung oleh AQUA Reflections, Masterclasses, Food Tours, dan satu Kids Event yaitu Celebrate Indonesian Food. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Festival dan program, silakan mengunjungi laman ubudfoodfestival.com. [b]

The post Menikmati Deretan Program Gratis di Festival Hub UFF 2019 appeared first on BaleBengong.

Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan

Komunitas KNB saat menjenguk Ni Wayan Lepug di Ubud. Foto Herdian Armandhani.

Di usia 85 tahun Ni Wayan Lepug harus hidup sebatang kara.

Anak satu-satunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Cucunya kandung nenek yang tinggal di Ubud ini sudah setahun belakangan tidak pernah menjenguknya ke rumah mungil berukuran 3×3 meter di Jalan Gatotkaca Gang Buntu Denpasar.

Dahulu saat masih sehat, Nenek Ubud berprofesi sebagai pedagang buah Salak di Pasar Badung, Denpasar. Ia mulai berjualan dari tahun 1951. Hingga suatu musibah terjadi menyebabkan pingganggya separuh mati rasa dan susah untuk duduk secara normal.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan belas kasihan tetangga ataupun dermawan yang mengetahu nasibnya.

Kondisi rumah mungil Nenek Ubud bisa dikatakan tidak sehat. Rumah mungil ini tidak begitu terawat dan penuh debu. Jika musim hujan datang, rembesan dan tetesan bocor menjadi tak terbendung.

Mengetahui kondisi Nenek Ubud yang sangat memprihatinkan, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) menggagendakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menjenguk dan merawat Nenek Ubud secara sukarela seminggu dua kali yakni setiap Selasa dan Sabtu.

Tim Komunitas KNB membagi diri menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan melakukan piket untuk merawat Nenek. Saat disambangi tim Komunitas KNB pada Selasa, 12 Februari 2019, kemarin Nenek Ubud sedang rebahan di ranjang usangnya. Ia pun tergopoh-gopoh bangkit menyambut relawan Komunitas KNB.

Nenek Ubud cara berjalannya membungkuk sambil berpegangan pada benda di sekelilingnya.

Relawan Komunitas KNB membawakan sarapan bubur ayam hangat untuk disantap pagi itu. Sedangkan relawan lain ada yang merapikan ranjang Nenek Ubud istirahat, mencuci gelas dan piring , serta mengajak Nenek Ubud mengobrol.

Beberapa tim juga ada yang membelikan lauk pauk Nenek saat makan siang. Nenek Ubud begitu senang ada yang memperhatikannya.

“Odah (red: sebutan nenek dalam bahasa Bali) tidak dapat membalas kebaikan adik-adik sekalian,” ucapnya sambil berkaca-kaca.

Ketua Project Kunjungan ke Nenek Ubud Ayu Zulalina mengatakan kegiatan mereka semata-mata untuk membahagiakan Nenek sehingga bisa hidup lebih layak.

“Mudah-mudahan kegiatan sederhana kami bisa membuata hati nenek senang. Kami mengaisihi dan merawat beliau seperti Nenek kami sendiri. Setidaknya apa yang kami lakukan bisa membuat kehidupan nenek menjadi lebih layak,” ungkapnya. [b]

The post Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Adu Puisi segera Kembali Awal Desember nanti

Tahap final adu puisi akan diselenggarakan pada Sabtu (1/12) Ubud, Bali.

Penyair-penyair dari Jamaika dan Amerika Serikat; Jamel Hall dan Ahlaam Abduljalil akan tampil. Pelawak tunggal Valiant Budi akan membuka kegiatan bertajuk “The Grand Slam: Unspoken Anger” ini.

Kegiatan berbasis komunitas sastra dan seni ini merayakan puisi sebagai program utama. Penyelenggara mengedukasikan kultur Poetry Slam dalam membaca puisi di Pulau Bali setiap tiga bulan sepanjang tahun.

Poetry Slam atau Adu Puisi adalah konsep pembacaan puisi yang pertama kali muncul di Amerika Serikat. Para pembaca puisi menyerukan karya orisinalnya kepada audiens selama maksimal tiga menit tanpa menggunakan properti.

Juri dipilih dari barisan penonton yang kemudian akan memberikan skor dengan rentang nilai 1 sampai dengan 9. Slammer, begitu pembaca puisi di Poetry Slam kerap dipanggil, yang mendapat nilai tertinggi akan diberi gelar Slam Champion.

Unspoken – Bali Poetry Slam dirintis Virginia Helzainka, Doni Marmer, dan Trifitri Muhammaditta. Di tiga kesempatan heats sejak akhir 2017, Adu Puisi mengangkat tema “Unspoken Anxiety” (Maret), “Unspoken Lust” (Juni) dan “Unspoken Freedom” (September). Untuk tahap final, kami mengambil tema “Unspoken Anger”.

Selain memberikan ruang apresiasi untuk puisi, Unspoken – Bali Poetry Slam juga ingin menyuarakan isu-isu yang umumnya sulit diungkapkan sebagai tema puisi pada setiap penyelenggaraan. Panggung Unspoken – Bali Poetry Slam menjadi ruang nyaman untuk mengucapkan yang tak terungkapkan, tanpa prasangka, dan bebas melepaskan hasrat dalam bentuk puisi.

Nama ‘UNSPOKEN’ atau ‘YANG TAK TERUNGKAPKAN’ pun menjadi nama resmi komunitas dan acara adu puisi ini.

Sebanyak enam slammers puisi diberi kesempatan untuk membacakan karya orisinalnya di atas panggung. Audiens turut merespons puisi secara leluasa dengan memetikan jari. Gerakan tersebut diartikan sebagai persetujuan penonton akan makna dan keindahan puisi yang dibacakan.

Selain para peserta, penyair tamu, dan hiburan menyelingi acara pada awal, pertengahan, dan akhir acara untuk menjaga suasana tetap segar, hangat, dan semangat. Pada pengujung acara, akan dipilih dua penampil terbaik yang kemudian akan maju pada babak final Poetry Slam pada akhir 2018 bersama penampil terbaik lain di Poetry Slam sebelumnya.

Sebagai penyelenggaraan perdana Poetry Slam di Bali dengan konsep seleksi heats dan final, penampil terbaik akan disematkan gelar Bali Poetry Slam Champion 2018 membawa pulang hadiah dari pendukung acara.

Enam finalis The Grand Slam nantinya akan tur keliling Bali di tahun depan dengan mengadakan Open Mic dan Workshop puisi ke sekolah-sekolah sebagai bentuk apresiasi dari kami telah berpartisipasi di Unspoken – Bali Poetry Slam 2018.

Unspoken – Bali Poetry Slam adalah acara tahunan dan rencananya akan kembali mulai diselenggarakan pada Februari 2019 mendatang.

Pemutakhiran detail acara “Unspoken Freedom” dapat dipantau melalui media sosial Facebook Unspoken – Bali Poetry Slam dan Instagram @unspokenpoetryslam. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi unspokenpoetryslam@gmail.com. [b]

The post Adu Puisi segera Kembali Awal Desember nanti appeared first on BaleBengong.