Tag Archives: Toleransi

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini


Melasti sebagai salah satu rangkaian pelaksanaan Nyepi. Foto Anton Muhajir.

Berikut adalah sejumlah seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi tahun ini.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali menyampaikan pedoman pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 atau kalender masehi 2019 ini. Panduan ini disebarluaskan termasuk ke media sosial oleh PHDI Bali.

Ketua PHDI I Gusti Ngurah Sudiana dan majelis-majelis agama dan keagamaan di Bali menyatakan seruan bersama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya penyedia jasa transportasi laut, darat, dan udara tidak diperkenankan beroperasi selama Hari Raya Nyepi. Demikian juga lembaga penyiaran televisi dan radio. Penyedia jasa selular pun diharapkan mematikan data selulernya.

Seruan ini direspon Kemenkominfo dengan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika No 3 tahun 2019. Seluruh penyelenggara telekomunikasi yang menyediakan akses internet di Bali mendukung seruan kecuali di obyek vital dan sarana darurat. Misalnya rumah sakit, kantor polisi, militer, BPBD, BMKG, Basrnas, dan lainnya.

Rangkaian Nyepi dimulai dengan Melis/Melasti/Mekiyis sampai 6 Maret yang pelaksanaannya disesuaikan dengan desa setempat.
Selanjutnya adalah upacara Tawur Kesanga yang dilakukan dengan sejumpah prosesi.

Pertama, perwakilan dari masing-masing desa/kecamatan datang ke Pura Besakih membawa perlengkapan persembahyanganuntuk mohon Nasi Tawur dan Tirtha Tawur untuk disebarkan dan dipercikkan di wilayah masing-masing.

Selanjutnya tiap desa menggunakan Upakara Tawur Agung dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan dengan mengambil tempat pada Catuspata (perempatan utama) pada waktu tengai tepet (sekitar pukul 12.00 Wita).

Berlanjut sampai tingkat rumah tangga dengan sarana persembahyangan lebih sederhana. Misalnya menghaturkan Segehan Manca Warna 9 (sembilan) dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air yang didapatkan dari desa setempat, dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Keramaian kemudian berpindah ke jalan-jalan, disebut Pangerupukan, saat ribuan ogoh-ogoh dari ukuran kecil sampai 6 meter diarak oleh anak-anak dan orang tua. Dilengkapi aapi (obor), bunyi-bunyian seperti baleganjur dan lainnya. Ngerupuk dilakukan dengan keliling desa, dan parade ogoh-ogoh ini bisa sampai tengah malam.

Hingga Kamis pagi, pukul 6, petugas keamanan tradisional (pecalang) sudah berjaga-jaga di tiap pemukiman dan jalan. Keriuhan Pangerupukan berganti dengan sunyi, sepi. Nyepi Sipeng dilaksanakan 24 jam sejak jam 06.00 Wita sampai dengan jam 06.00 Wita keesokan harinya, dengan melaksakan Catur Brata Penyepian.

Di antaranya Amati Gni, yaitu tidak menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Amati Karya, tidak melakukan kegiatan fisik/kerja namun melakukan aktivitas rohani untuk refleksi diri. Amati Lelungan, tidak berpergian, dan Amati Lelanguan, tidak mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali juga menyepakati agar penganut agama dan keyakinan lain menyesuaikan pelaksanaan Brata Penyepian seperti tidak ada bunyi pengeras suara misalnya saat Sholat dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Dapat diberikan pengecualian bagi yang menderita atau sakit dan membutuhkan layanan untuk keselamatan. [b]

The post Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Toa

Foto https://islamreformis.wordpress.com

MEN COBLONG saat ini mulai agak malas membuka beberapa akun media sosialnya.

Bahkan sepuluh lebih grup WA di ponsel miliknya sering tidak dibaca, langsung dihapus. Beragam caci-maki dan permusuhan makin membuat Men Coblong merasa tidak nyaman, terlebih dengan munculnya kasus Meliana.

Hyang Jagat, hanya karena masalah toa? Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kasus Meliana, yang divonis 18 bulan penjara karena kasus penistaan agama perlu dilihat saksama. Meliana divonis bersalah setelah meminta masjid di dekat rumahnya mengecilkan suara azan.

“Apa yang diprotes Ibu Meiliana saya tidak paham, apakah pengajiannya atau azannya, tapi tentu apabila ada masyarakat yang meminta begitu tidak seharusnya dipidana,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Agustus 2018.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu akan melihat lebih rinci masalah tersebut. Ia menilai tak ada yang salah jika Meiliana hanya meminta pengeras suara yang digunakan masjid dikecilkan volumenya.
DMI pun telah berulang kali meminta masjid di seluruh Indonesia menyesuaikan volume pengeras suara. Suara dari pelantang yang digunakan di masjid tak boleh melampui masjid lain.

Apalagi, rata-rata jarak antar-masjid di daerah padat penduduk sekitar 500 meter. Masjid pun tak diperkenankan menggunakan rekaman suara pengajian.

“Harus mengaji langsung, karena kalau pakai tape (pemutar suara) yang mengaji nanti amalnya orang Jepang saja, yang bikin tape itu kan (orang Jepang), jadi harus langsung,” jelas Kalla.

Meiliana divonis penjara 18 bulan oleh Pengadilan Negeri Sumatera Utara pada Selasa, 21 Agustus 2018. Perempuan asal Tanjungbalai, Sumatera Utara, itu dinilai terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penghinaan suatu golongan di Indonesia terkait ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan, atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Men Coblong terperangah. Masa kanak-kanaknya berloncatan ketika dia masih seorang bocah lugu duduk di bangku SD. Guru di sekolah olahraga selalu menggunakan toa jika mengatur murid-muridnya lomba lari, atau beragam lomba di hari HUT Kemerdekaan RI.

Semua riang, semua bisa tersenyum girang.

Suara toa waktu itu seperti semangat yang membakar. Men Coblong pun sering diperkenankan guru untuk mencoba toa milik sekolah jika latihan upacara, tujuannya agar terbiasa bersuara lantang jika menjadi petugas upacara setiap hari Senin.

Tiba-tiba saja saat ini suara-suara dari toa saat ini justru menimbulkan masalah. Banyak yang memberi saran ini-itu. Kita baru saja merayakan “kemerdekaan” kita juga baru saja merasakan gemilangnya anak negeri bertarung di ajang Asian Games 2018. Lalu muncul si Toa yang melukai “kebersamaan”, “kemajemukan”, “keberagaman”, “toleransi”.

Yang ada di otak Men Coblong kenapa kasus-kasus seperti ini tidak dicarikan solusi oleh pemerintah. Padahal, kasus-kasus seperti inilah embrio retaknya tenun kebangsaan. Harus segera dicarikan obatnya. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Toa appeared first on BaleBengong.

Hari Raya Kurban dan Dialog Antar-Iman

Hari Raya Kurban bisa menjadi momentum untuk melakukan dialog antar-iman.

Seminggu terakhir ini saya membaca kembali novel Supernova; Akar.

Sebelumnya saya sudah pernah membaca novel karya Dewi Lestari (Dee) ini. Sebuah novel spiritual yang mengangkat nilai-nilai buddhisme, dengan tokoh utama Bodhi yang digambarkan memiliki kelainan karena sangat peka.

Banyak orang menyebut mempunyai indera keenam atau yang kini dikenal dengan istilah “indigo”. Sejak bayi ia diasuh oleh Zang Ta Long, akrab dipanggil Guru Liong, seorang biksu asal Cina yang mengabdi di vihara Pit Yong Kiong di daerah Lawang, 60-an kilometer dari Surabaya ke arah selatan.

Guru Liong menemukan Bodhi di halaman depan vihara, terbungkus sarung dalam kotak kardus rokok bekas yang diletakkan di bawah pohon pada waktu subuh. Waktu itu Bodhi menangis keras sekali, dibarengi angin ribut yang membikin setiap lembar daun berisik. Menurut Guru Liong, alam seperti ikut memerintahkannya untuk datang ke pohon itu. Dan, bayi itu dinamai Bodhi.

Sebenarnya, peristiwa itu sudah diketahui oleh Guru Liong lewat mimpi-mimpi dua tahun sebelumnya. Mimpi itu berulang terus setiap hari, pada seminggu terakhir sebelum Bodhi ditemukan.

Dalam mimpinya, ada sebuah pohon bodhi betulan menaungi satu peti besar berisi cahaya. Ketika dia mengintip ke dalam peti, tiba-tiba cahaya itu menjelma menjadi bayi yang sudah bisa jalan dan bicara, seperti Siddharta Gautama. Dan, bayi itu melayang di atas tanah dan membakar pohon itu dengan jarinya.

Pada umur enam tahun, Bodhi menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Dunia yang tertangkap panca indranya ternyata berbeda dengan orang lain. Terkadang, ia harus berjalan sambil terus meraba tembok, supaya bisa tetap mengukur dimensi panjang-lebar-tinggi, sesuatu yang orang lain lakukan tanpa usaha.

Ketika lantai yang ia pijak mendadak hilang dan berubah menjadi pusaran api, ia bingung mana yang harus dipercaya. Memejamkan mata dirasakannya percuma. Seringnya, kelopak matanya tak berfungsi. Apa yang ia lihat dengan mata terbuka dan terpejam sama. Kalau sudah tak kuat, ia cuma bisa bisa menangis. Atau ngompol.

Banyak lagi kejadian aneh lainnya seiring Bodhi tumbuh dewasa. Banyak yang mengira ia gila, epilepsi, halusinasi berat dan sebagainya. Termasuk Guru Liong. Sepertinya dia tahu sesuatu, tapi memilih diam. Rupanya waktu itu ia masih belum yakin.

Satu hari, Bodhi melewati lapangan besar yang sedang ada upacara kurban. Tak disengaja, matanya beradu dengan dengan sapi yang hendak disembelih. Dan….”badan saya tiba-tiba kaku. Saya tak bisa menjabarkan. Pokoknya ingin meledak. Air mata dan keringat dingin banjir jadi satu, Badan ini kayak dilem di tembok, tak bisa bicara, rahang kejang, Dan, makin-makin gawat karena ada puluhan hewan kurban di sana! Kambing, domba, sapi,…semuanya mengirimkan getaran yang sama, ketakutan dan kesedihan yang sama dashyat. Akhirnya, saya meletus, meraung-raung, histeris, rubuh, kejang-kejang, ngompol dan berak di celana, sampai akhirnya pingsan. Sadar-sadar sudah di rumah sakit…..” Begitu Dee menulis dalam novelnya.

Adegan Bodhi saat melewati lapangan tempat upacara kurban berlangsung dan reaksinya saat melihat puluhan hewan disembelih menarik dicermati. Bagi orang biasa, melihat hewan disembelih saat upacara kurban hal yang biasa, namun bagi Bodhi yang memiliki kelainan menjadi hal berbeda. Ia mampu menangkap dan merasakan getaran kesedihan dan ketakutan hewan yang akan disembelih.

Hal ini tentu bisa menjadi perdebatan, jika sebuah karya sastra yang notabena fiksi dibawa ke ranah agama, terlebih jika dikaitkan dengan latar belakang penulis novel yang bukan muslim.

Dialog Antar-Iman

Menurut saya, sebagai sebuah karya sastra seorang penulis bebas untuk menulis berbagai tema termasuk spiritualitas. Pada novel Dee ini mengacu pada spiritualitas lintas-agama yang bersifat terbuka dan mengangkat nilai-nilai universal serta masih jarang ditulis penulis Indonesia.

Dee menyampaikan pandangan lain tentang upacara kurban pada hari raya Idul Adha berangkat dari penafsiran di luar agama Islam. Ini sebuah tonggak baru, di mana interfaith atau dialog antariman menjadi hal yang penting dilakukan di negeri majemuk seperti Indonesia. Tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di media sosial, tetapi lebih pada dialog nyata di forum resmi seperti diskusi dan seminar yang bahkan bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah misalnya menjelang hari besar keagamaan. Tujuannya tidak lain adalah membangun sikap apresiatif antar pemeluk agama. Tak hanya sekadar toleransi yang kadang bersifat semu dan hanya di permukaan.

Dengan dialog antar-iman, umat non-muslim bisa lebih paham makna Idul Adha secara mendalam, termasuk dilihat dari sejarah dan filsafat yang mendasarinya. Jika ada pandangan lain terhadap Idul Adha, itu dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan menjadi kewajiban umat muslim untuk menjelaskannya. Tak bersikap apriori dan anti terhadap kritik namun melihatnya sebagai sebuah keniscayaan di negara demokrasi.

Ijtihad, begitu istilah yang pernah saya dengar untuk menyebut sebuah usaha yang sungguh-sungguh yang sebenarnya bisa dilaksanakan siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Di Bali, sejak beberapa tahun lalu tiap menjelang Idul Adha ada saja yang memantik pertentangan soal sapi yang dianggap hewan suci dalam agama Hindu yang dijadikan hewan kurban pada saat Idul Adha.

Saya berpikir, jika ini tak diakomodir bisa menyebabkan masalah rasial, seperti yang terjadi di Pakistan antara pemeluk Hindu dan Muslim. Sudah saatnya dialog antar-iman digalakkan agar sekat-sekat antar pemeluk agama bisa dibuka dengan mengadakan dialog, duduk bersama dengan pikiran terbuka mencari titik temu berbagi hal antar pemeluk agama yang berbeda.

Terkait kurban, bukankan di Bali juga ada upacara di mana hewan dikurbankan seperti pada upacara mecaru atau pakelem? Saya pikir ritual kurban ada di banyak agama. Jadi tak perlu meributkan hal yang hanya dilihat dari satu sudut pandang. Mari saling mengapresiasi ajaran agama dengan melakukan dialog antar-iman. Tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, tentu dengan dialog dan musyawarah seperti para pendahulu dan leluhur kita lakukan di masa lalu. [b]

The post Hari Raya Kurban dan Dialog Antar-Iman appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran

Umat Muslim bermaaf-maafan setelah sholat Idul Fitri 2018.

MEN Coblong merasa girang, riang.

Bertumpuk perayaan keagamaan yang jatuh bulan Juni ini membuat liku-laku hidupnya menjadi terasa lebih “lurus” dan sedikit “mulus”. Apalagi di bulan Juni ini “umat” Indonesia juga akan memiliki sebuah perayaan “Pilkada”.

Semoga “perayaan” Pilkada seramah perayaan beragam agama yang numplek jatuh bulan Juni.

Membayangkan Lebaran yang kalau ditelisik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata lebaran diartikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Pendapat berbeda juga terdengar lebih menarik dan erotik bagi Men Coblong. Sebagian orang Jawa mempunyai pendapat berbeda mengenai kata lebaran. Kata lebaran berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “wis bar” yang berarti sudah selesai. Sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang dimaksud. “bar” sendiri adalah bentuk pendek dari kata “lebar” dalam bahasa jawa yang artinya selesai.

Saat ini, Pusat Bahasa hanya bisa memastikan bahwa kata “lebaran” merupakan sebuah kata dasar yang terdiri dari tiga suku kata, yaitu le + ba + ran.

Sungguh sebuah kata pun bisa memiliki beragam tafsir. Tafsir-tafsir yang indah, tentu masih bisa diperdebatkan tentu dengan cara-cara yang lebih masuk akal, logis, dan tidak nyerempet ke sana ke mari sehingga memunculkan kebenaran “tunggal” ala sebuah suku, agama, atau kelompok tertentu.

Men Coblong sendiri lebih menyukai kata “Lebaran” karena kesannya lebih Indonesia. Lebih merakyat dan lebih mistis mendarat di hati, pikiran dan perasaan Men Coblong di tengah “amuk” beragam argumentasi tentang mempertanyakan kembali menjadi “umat” Indonesia.

Men Coblong teringat ketika masih kanak-kanak. Tumbuh dan besar di sebuah lingkungan yang tidak pernah mengajarinya arti “berbeda”. Lingkungan yang dulu jika orang menyebut daerah “Cijantung” tentu pikiran orang-orang akan identik dengan beragam hal-hal berbau “kekerasan”. Kesannya “seram” karena sebagai seorang anak perempuan yang tumbuh-besar di lingkungan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), kemudian lebih dikenal sebagai Kopassus, Men coblong tumbuh sederhana.

Ketika bulan puasa, Men coblong juga ikut berpuasa, sekali pun tidak harus sampai tuntas. Rasanya ikut girang jika saat berbuka tiba, Men coblong juga ikut berbuka. Minimal ikut menikmati kesegaran buah kurma yang rasanya manis dan lucu bagi Men Coblong. Apalagi kalau bisa ikut berbuka puasa bersama dengan keluarga muslim.

Nikmatnya kolak kolang-kaling masih terasa sampai hari ini mengapung di palung tenggorokan Men Coblong. Menimbulkan muncratan-muncratan kenangan yang begitu indah mengalir deras ke dalam hati dan pikiran Men Coblong. Ibarat hujan deras yang jatuh mengguyur seluruh tanaman yang menjelang mati di dalam tubuh Men Coblong.

Kenangan Lebaran semasa kanak-kanak itu menimbulkan juga gelombang getir yang menghantam pikiran dan tubuh Men Coblong masa kini. Dulu, ketika kanak-kanak Men coblong tidak pernah merasa ada “kasta-kasta” dalam tubuh anak-anak yang tumbuh di lingkungan militer di Jakarta Timur itu, sekali pun Men Coblong tahu, untuk masuk ke lingkungan perumahan di Cijantung III, harus melewati beragam pos-pos keamanan.

Waktu SD Men Coblong bersama keluarga tinggal di Jalan Pualaka, nama-nama jalan di komplek perumahan itu mengambil nama jalan yang identik dengan daerah di Timor-Timur.

Tidak ada sekat, tidak ada hal-hal yang mengerat anak-anak masa itu untuk untuk merasa berbeda satu sama lain. Bahkan urusan jender juga tidak diingat anak-anak masa itu. Kenapa? Karena sebagai anak tentara, anak-anak di lingkungan Men Coblong juga biasa bermain perang-perangan. Biasanya siapa pun bisa memimpin sebagai komandan pasukan.

Biasanya jika komandan pasukan itu anak lelaki, anak-anak lain memetik daun nangka yang dijahit dengan lidi menyerupai mahkota, yang menunjukkan anak lelaki itu berbeda dari anak lain, karena anak-anak lain sepakat: anak yang dipilih jadi komandan pasukan harus berbeda. Perbedaan itu dari “mahkota” daun nangka yang bertengger di atas kepala.

Jika yang jadi komandan pasukan anak perempuan, maka anak yang lain akan membuat rangkaian mahkota dari bunga-bunga rumput.

Untuk senjata, biasanya anak-anak itu membuatnya dari pelepah daun pisang. Pokoknya semua ikut berperang dan berang melawan kelompok berbeda. Setelah main perang-perangan usai, biasanya pasukan yang tadinya berperang kembali rukun dan mulailah petualangan baru, mencari buah-buahan yang bisa mereka makan.

Anak-anak itu sering naik ke pohon jambu klutuk, jambu air, pohon mangga, dan pohon rambutan yang banyak tumbuh di sekitar area di Cijantung. Tidak ada batas lelaki dan perempuan. Anak perempuan pun bebas bergelantungan seperti kera di atas pohon.

Masalah baru muncul, ketika para orang tua menganggap anak perempuan tidak pantas bergelantungan di pohon. Anak perempuan tidak pantas bermain perang-perangan. Anak perempuan cocoknya main boneka dan main masak-masakan.

Tak ada yang menatuhi aturan itu. Ketika itu anak-anak itu tumbuh-besar dengan cara mereka. Yang satu berpuasa yang lain juga ikut berpuasa. Kesadaran itu muncul karena “cinta-kasih ” yang menetes tanpa dipaksakan, juga tanpa teori rumit tentang “Indonesia”. Bahkan ketika yang muslim ikut merayakan hari raya Waisak, dan ikut makan di rumah teman beragama Budha, tidak ada larangan dari orang tua. Tidak ada pertanyaan apakah menu makanan berupa ayam guling itu dipotong oleh orang seiman?

Ah, masa kecil yang indah. Tak ada kecurigaan. Tak ada “kasta-kasta” yang mengunci mulut, hati, pikiran dan perasaan kanak-kanak ketika itu. Perayaan keagamaan adalah “pesta” hati untuk mencintai satu sama lain.

Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. Semoga hati dan pikiran kita dibersihkan untuk kembali “sadar” menjadi manusia “Indonesia” dengan beragam bentuknya. Yang satu sama lain tidak sama! [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Lebaran appeared first on BaleBengong.

Nasakom! Jaen Saan… Mari Kita Makan!

Mural Prasasti Tragedi Trisaksti dan Mei 1998 di Jakarta. Foto Antara via BeritaDaerah.co.id

Barangkali hujan bulan Mei akan lebih tabah dari hujan bulan Juni.

Suara adzan baru saja berlalu. Nur Nurhayatun, istri Pan Delem atau ibu dari Wayan Marhaen dan Kadek Dianawati siap-siap berbuka. Di atas meja, aneka makanan telah tersaji. Ada sate lilit, lawar, hingga komoh.

Malam itu menjadi semakin spesial, karena pada pagi harinya Pan Delem dan Wayan Marhaen merayakan Galungan. Mereka duduk melingkar.

“Nasakom! Jaen saan… Mari kita makan!” Marhaen memulai kenduri. Ia bermaksud menyebut akronim nasi, sate, komoh sebagai Nasakom.

“Husshh. Berdoa dulu! Karena ibu sedang menjalankan ibadah puasa, maka ibu kalian yang akan memimpin doa kali ini,” Pan Delem mengingatkan.

Keluarga Pan Delem adalah replika kebhinekaan Indonesia yang raya. Marhaen, karena lahir sebagai laki-laki dari seorang ayah yang Bali, memutuskan untuk menjadi pengikut agama Bali. Ia enggan menyebut dirinya orang Hindu; sebab ketika bersekolah dari TK hingga perguruan tinggi, tak sekalipun dia bersentuhan atau dipersentuhkan dengan Weda. Ia mengikuti Das Kapital, tetapi juga selalu berusaha untuk mencari dan menemukan kearifan agama Bali.

Lagi pula, pikir Marhaen, tak banyak orang Bali yang betul-betul paham hakikat menjadi seorang Hindu. Setidaknya hal itu dirasakannya dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, yang juga membuat Marhaen tak habis pikir, orang Bali tak pernah mau tahu makna berbagai ritual yang mereka lakukan hampir setiap hari itu. Kerena putus asa dan malas mencari; ditambah para pemukanya yang tidak dekat dengan umat, mereka kemudian menyederhanakannya dengan istilah nak mula keto — memang begitu adanya.

Sementara itu, anak kedua Pan Delem, Kadek Dianawati, kini kuliah di sebuah perguruan tinggi yang pendiri yayasannya adalah seorang imam Katolik. Kadek sudah terbiasa berinteraksi dengan orang dari berbagai latar keluarga. Bahkan, cowoknya kini seorang Katolik. Malam hari ketika hendak tidur, Kadek selalu menyempatkan diri membaca Bhagawadgita.

Dari ibunya, Kadek sering mendapat pengetahuan tentang iman dari perspektif Muslim. Sesekali ia juga menemukan kearifan dari tradisi Bali dari ayahnya, Pan Delem. Kini, sejak pacaran dengan seorang Katolik, Kadek pun mulai mengenal lagu-lagu gereja yang menyejukkan hati.

“Juni akan datang, tetapi Mei berlalu dengan sisa sesak di dada. Semoga sederet peristiwa di bulan Mei hanya riak kecil dari kebhinekaan kita. Meme (ibu) mengutuk serangkaian teror dan bom di Mako Brimob dan Surabaya beberapa waktu yang lalu! Bila hujan adalah personifikasi air mata, barangkali hujan bulan Mei akan lebih tabah dari hujan bulan Juni,” Nurhayatun membuka percakapan setelah kenduri selesai.

“Nanang rasa, kita sekeluarga tidak sepakat dengan kekerasan. Kita tidak ingin Indonesia terpecah belah; karena keluarga mungil kita adalah cerminan bahwa perbedaan itu niscaya dan bahkan bisa berdampingan!” Pan Delem menimpali.

“Kebhinekaan sudah final sejak negara ini berdiri! Asalkan, empat pilar kebangsaan ajeg, agar kita tidak dibayang-bayangi mimpi buruk perpecahan atau disintegrasi bangsa!” sahut Wayan Marhaen.

“Yang juga harus dituntaskan saat ini adalah cita-cita kemerdekaan yang disebut sebagai jembatan emas itu! Termasuk pula menuntaskan tuntutan Reformasi 98! Dua puluh tahun yang seharusnya membuat segenap bangsa semakin dewasa dalam berdemokrasi!” ujar Wayan Marhaen.

“Kadek sih nggak tahu Soeharto seperti apa, hingga Bli Marhaen sebegitu bencinya pada mantan mertua Prabowo itu. Kan, waktu 98, Kadek baru lahir. Hehehe,” Kadek Dianawati mulai nimbrung, kemudian meraih buah surudan di atas meja.

“Bli waktu itu juga baru enam tahun, Dek. Tetapi, tidak ikut merasakan tangan besi Harto karena masih kecil atau baru lahir, bukanlah sebuah alasan untuk tidak peduli dengan sejarah!” Marhaen menambahkan. “Bukan begitu, Nang?”

Pan Delem mendeham, mengangguk, lalu diperbaikinya kaca matanya yang bulat.

“Yaaa. Waktu itu Nanang masih jadi PNS, dipaksa ikut Golkar. Nanang dan teman-teman yang lainnya dikumpulin di balai banjar; ikut penataran P4; lalu diberi seragam kuning-kuning berlogo pohon beringin. Hahaha!” kenang Pan Delem.

“Agak risih memang mengingat masa-masa itu. Tetapi, seperti kata kakamu, Dek, reformasi harus dituntaskan!” Pan Delem melanjutkan.

“Sebentar, sebentar. Ini diskusi kok jadi melebar ke mana-mana? Tapi, memang sih kalau Meme pikir-pikir, ternyata bulan Mei tahun ini telah melalui banyak peristiwa, ya. Meme menyambut Bulan Ramadhan. Nanang dan Wayan juga baru saja merayakan Galungan. Umat Budha, bulan Mei ini, merayakan Waisak. Termasuk juga itu, peringatan 20 tahun reformasi bagi bangsa Indonesia! Wah, bulan yang istimewa,” Nurhayatun merespon.

“Bagi umat Katolik, Mei juga identik sebagai bulannya Bunda Maria, Me. The Month of Mary,” sahut Kadek.

“Ya, bulan Mei yang luar biasa sekaligus tak berarti apa-apa terutama dalam hal penegakan kasus pelanggaran HAM di masa lalu, termasuk penculikan aktivis dalam prahara Orde Baru,” kata Wayan Marhaen.

“Termasuk Tukul Arwana yang katanya diculik itu?”

“Wiji Thukul, bukan Tukul Arwana!”

“Ooo… hehehe. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hilangnya anak orang, Bli?”

“Dalam laporannya, Komnas HAM menyebut Tim Mawar yang dibentuk Kopassus semasa Orde Baru adalah yang paling bertanggungjawab terkait kasus itu. Thukul hanya salah satu aktivis – yang juga seorang penyair – dari 13 aktivis lainnya yang belum kembali dan diduga sebagai korban penghilangan secara paksa! Keluarga korban menuntut penyelesaian kasus itu, melalui aksi diam dengan berdiri memegang payung hitam di depan Istana Kepresidenan setiap Kamis sejak 2007. Bayangkan, 11 tahun sudah mereka melakukan aksi itu, tetapi negara tidak pernah bersungguh-sungguh mengungkap kejahatan HAM di masa lalu!”

“Kalau punya niat baik, seharusnya Pak Jokowi sejak dulu bertemu dengan keluarga korban. Lalu, yang paling penting, segera menuntaskan kasus-kasus tersebut! Mumpung pemeran kuncinya masih hidup,” Pan Delem ikut menambahkan.

“Meme sudah merasa aman di era reformasi ini?” tanya Kadek Dianawati kepada Nurhayatun, ibunya.

“Aman-aman saja, toh, Dek. Sudah, jangan memancing-mancing. Meme lagi puasa. Diskusi soal negara itu berat, biar sama kakak dan bapakmu saja,” jawab Nurhayatun.

“Tapi bom dan terorisme lebih marak di era reformasi. Hahaha! Gimana, Bli, Nang?” Kadek Dianawati memantik.

“Ya, itu tantangan negara demokrasi. Memang banyak yang memandang bahwa pemerintahan otoriter seperti negara Orde Baru relatif lebih aman dan terkontrol. Tetapi, hak-hak prinsip manusia diabaikan. Orang tidak boleh berserikat, apalagi mengkritik atau tidak setuju dengan pemerintah. Kebebasan pers juga tidak ada. Mau Kadek kembali ke era itu?” Pan Delem berusaha menjawab.

“Perekonomian Indonesia, Kadek pernah baca, katanya terkuat di Asia Tenggara ketika era Orde Baru,” Kadek Dianawati kembali memancing.

“Pemenang Nobel ekonomi dari Bengala, namanya Amartya Sen, pernah menulis buku Development as Freedom. Sen mengkritik konsep pembangunan yang hanya diukur dari tujuan akhir negara dalam mencapai kesejahteraan. Tesis Sen sekaligus mengkritik mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang merumuskan konsep pembangunan dengan membatasi kebebasan sipil dan politik. Menurut Sen, pembangunan harus menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Dan oleh sebab itu, kesejahteraan perlu beriringan dengan kebebasan berpendapat, berserikat, hingga berkeyakinan.”

“Ini, Dek” Pan Delem melanjutkan, “bukan bermaksud mengungkit-ungkit kesalahan penguasa Orde Baru. Reformasi yang kita raih dengan berdarah-darah dan pertaruhan nyawa adalah ongkos yang sangat mahal untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis. Bahwasannya hari ini masih terseok-seok dalam berdemokrasi, itu persoalan lain. Nanang hanya tidak mau mundur ke belakang dengan kemajuan ekonomi dan keamanan semu seperti era Orde Baru!”

“Telak, Nang! Haha. Bapan cang ne!” Wayan Marhaen menyahut.

“Ya, santai nae, Bli. Kadek tidak ikut arus yang pro, tidak ikut yang kontra. Apalagi sama Harto! Hahaha. Kalau kata si cagub, nasbedag katanya!” ujar Kadek berusaha mengikuti dialek salah seorang calon gubernur yang kontroversial itu sembari terpingkal-pingkal.

“Bisa gitu adikku, nok. Jangan sampai qe kena virus Orba, Dek!” canda Wayan Marhaen.

“Tenang, Bli. Selama ada Nanang dan qe yang selalu sewot, aku sujud. Hahaha.” [b]

The post Nasakom! Jaen Saan… Mari Kita Makan! appeared first on BaleBengong.