Tag Archives: Tolak Reklamasi Teluk Benoa

ForBALI Segel Kantor DPRD dan Gubernur Bali


ForBALI dan Pasubayan Tolak Reklamasi saat aksi di DPRD Bali Sabtu (23-03-19). Foto Risky Darmawan.

ForBali dan Pasubayan kembali menggelar aksi tolak reklamasi.

Aksi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dan Pasubayan Tolak Reklamasi pada Sabtu (23/03/2019) dimulai dengan pawai dari parkir timur Renon dilanjutkan dengan mengitari jalan raya Puputan dan menuju kantor DPRD Bali.

Di depan kantor DPRD Bali massa aksi membentangkan spanduk besar 10 x 3 meter persegi. Tulisannya “Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres 51 tahun 2014″.

Hal tersebut sebagai sinyal kepada para anggota DPRD Bali agar serius bersikap dan melakukan tindakan konkret atas janji-janji politik yang sebelumnya pernah dikatakan saat kampanye.

Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa aksi ini merupakan aksi perdana penolakan reklamasi Teluk Benoa di tahun 2019. Aksi ini juga merupakan respon terhadap izin lokasi yang diterbitkan Menteri Susi Pudjiastuti pada 25 Desember 2018 lalu pada PT Tirta Wahana Bali International (PT TWBI).

“Izin lokasi baru merupakan cerminan sikap pemerintah yang tidak berpihak terhadap gerakan rakyat. Terlebih kita tidak tahu bahwa izin lokasi ini prosesnya dari nol atau tidak,” ujarnya.

Menurut Gendo jika izin lokasi itu baru mesti melalui proses dari nol sesuai dengan logika hukumnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan pembelaan sangat normatif. Ia acapkali mengatakan bahwa izin lokasi merupakan hal prosedural yang harus ia lakukan.

Namun, dalam konteks ini Genodo mengatakan bahwa rakyat Bali membutuhkan menteri sebagai pemegang kebijakan. Bukan sebagai administratur semata yang hanya mengecek kesesuian tata ruang lalu memberi stempel.

“Seharusnya Susi Pudjiastuti melakukan pengujian saat akan menerbitkan izin lokasi dan melakukan tindakan diskresi terhadap kewenangannya apakah reklamasi Teluk Benoa itu urgen atau tidak,” kata Gendo.

Teguran

Jerinx Superman Is Dead yang juga hadir pada aksi kali ini juga mengatakan bahwa aksi ini merupakan teguran terhada Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti terhadap izin lokasi yang terbitkan 25 Desember lalu. Jerinx juga mengkritik sikap Gubernur Bali Wayan Koster yang sampai detik ini tidak mau membuka surat yang sempat ia kirimkan kepada Presiden Joko widodo.

“Apabila memang benar Gubernu Bali Wayan Koster serius menolak reklamasi, seharusnya ia berani membuka isi suratnya kepada publik,” tandasnya.

Terkait izin lokasi reklamasi yang diterbitkan Susi Pudjiastuti Gendo Suardana juga menambahkan bahwa jika izin itu merupakan perpanjangan dan tidak melalui proses dari awal atau dari nol, maka hal ini merupakan preseden hukum yang buruk.

Di samping itu Gendo juga menjelaskan bahwa dalam skala lokal pada pilkada sebelumnya hampir semua partai menyatakan diri menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi ini merupakan pelajaran agar tidak menjadi kebiasaan saat pilkada partai-partai menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa, bahkan ada juga yang membuat pakta integritas atau ada juga politisi yang sampai turun aksi.

Apabila dibiarkan maka ini juga merupakan preseden buruk sebab rakyat hanya diberi janji-janji saja seolah-olah mereka menolak reklamasi tanpa ada sikap nyata.

Karena itu dalam aksi ini juga massa menekan agar partai-partai yang pernah membuat pakta integritas penolakan reklamasi atau yang menyatakan tolak reklamasi agar melakukan tindakan politik nyata. Misalnya dengan mendorong upaya-upaya politik entah dengan mekanisme rapat paripurna atau membentuk pansus yang sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya.

Aksi Parade Budaya dimeriahkan oleh orasi para basis penolak reklamasi Teluk Benoa, tarian barong dari Banjar Tatasan Kaja serta penampilan jamming dari musisi Jangkar Kuta.

Setelah itu ditutup dengan penampilan terakhir dari The Dissland yang memainkan lagu-lagu membakar semangat agar terus berjuang sampai Teluk Benoa Menang. Seusai itu massa kembali ke parkir timur dan membubarkan diri dengan tetib dan rapi. [b]

The post ForBALI Segel Kantor DPRD dan Gubernur Bali appeared first on BaleBengong.

Spanduk Reject Reclamation Of Benoa Bay di Teluk Benoa

Environtment activists from ForBali, Walhi and supported by Greenpeace spreading a floating banner during the solidarity action to reject Reclamation of Benoa Bay in in Benoa Bay, 14 April 2018. Greenpeace Rainbow Warrior ship visiting Benoa Bay as a part of the Southeast Asia ship tour 2018.

ForBALI, Walhi Bali, dan Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk besar di perairan Teluk Benoa sehari setelah kapal Rainbow Warrior merapat di Pelabuhan Benoa.

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali melakukan aksi di kawasan perairan Teluk Benoa pada hari sabtu pagi, 14 April 2018. Aksi mereka kali ini dilakukan dengan membentangkan spanduk berukuran 15 x 9 meter bertuliskan “Reject Reclamation of Benoa Bay” dan 2 spanduk berukuran masing-masing 10 x 1 meter dengan pesan Batalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014.

Selain bersama WALHI Bali, ForBALI juga mendapat solidaritas dari Greenpeace yang sejak hari jumat sore, kapal mereka “Rainbow Warrior” bersandar di pelabuhan Benoa, Bali.

Koordinator Divisi Politik ForBALI menyebut aksi kali ini juga terbilang spesial mengingat aksi dilakukan pada saat kedatangan kapal Rainbow Warrior. “Lima tahun lalu silam, kapal Greenpeace pernah ke Bali, sebulan setelahnya isu reklamasi ini mencuat ke publik. Lima tahun setelah itu kapal rainbow warrior datang lagi, ini menjadi penanda bahwa selama lima tahun ini kita berhasil menyelamatkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi” ujarnya.

Momentum kedatangan kapal rainbow warior ini juga disebutnya sebagai pemantik semangat untuk terus berjuang melawan investasi rakus yang selalu mendapatkan backup kekuasaan. Untuk itu pihaknya mengajak serta Greenpeace dalam upaya penyelamatan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi. Dengan bergandengan tangan dengan semua komponen masyarakat sipil, Ia berharap tahun 2018 Teluk Benoa bisa menang. “untuk mencegah penghancuran lingkungan dan bencana di masa depan, tidak ada pilihan lain selain menghentikan upaya untuk mereklamasi teluk benoa, dan di tahun 2018 ini Teluk Benoa harus menang” tegas Moko.

Direktur Eksekutif WALHI Bali, I Made Juli Untung Pratama menjelaskan momentum kedatangan rainbow warior ini juga disebut sebagai momentum untuk menggaungkan bahwa teluk benoa sedang terancam. “Teluk benoa merupakan salah satu situs penting pendukung ekosistem global terutama burung-burung lintas benua. Sehingga pesan ini kita sampaikan kepada dunia internasional untuk bergandengan tangan bersama-sama menjaga teluk benoa dari ancaman eksploitasi” ujar Untung.

Juru kampanye Laut Greenpeace, Arifsyah Nasution mengatakan, pihaknya akan terus bersolidaritas untuk mendukung gerakan masyarakat adat dan seluruh komponen masyarakat sipil yang dengan tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “Greenpeace hari ini hadir di Teluk Benoa bersama WALHI Bali dan ForBALI untuk menjalankan aksi pembentangan spanduk dengan pesan “Reject Reclamation of Benoa Bay,” ujar Arifsyah.

(siaran pers)

The post Spanduk Reject Reclamation Of Benoa Bay di Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Bajingan Itu Bernama Gendo

Deklarasi tolak reklamasi di Bali selalu diikuti puluhan ribu peserta. Foto Arimbawa Ndud

Deklarasi tolak reklamasi di Bali selalu diikuti puluhan ribu peserta. Foto Arimbawa Ndud

Pada 31 Juli 2016, ribuan massa aksi kembali turun ke jalan.

Massa kembali dengan tuntutan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Massa berbaju putih dengan gaya baju adat ringan Bali memenuhi jalanan dengan membawa atribut bendera dan perlengkapan aksi lain. Aksi kesekian kalinya ini tetap diikuti ribuan peserta.

Selalu menggetarkan hati para pembela pertiwi.

Turunnya krama desa bersama para pemimpin adatnya, Bendesa Adat, patut menjadi catatan dalam sejarah pembangunan pariwisata di Bali ini. Perencanaan yang penuh rekayasa dengan mengabaikan kearifan lokal dan mengorbankan nilai-nilai kesucian telah memantik gelora perlawanan yang sungguh menggetarkan.

Desa Adat yang selama republik ini berdiri selalu menjadi anak penurut akan titah pemerintah di Jakarta, kini menggeliatkan nada perlawanan! Tidak satu tetapi sudah 39 Desa Adat mengikrarkan diri dalam satu kesatuan perjuangan mempertahankan kehormatan tanah Bali dalam balutan Pasubayan Desa Adat.

Desa Adat di Bali yang selama ini cendrung bersifat otonom ekslusif dan disibukkan dengan urusan ritual keagamaan di wilayahnya saja kini bangkit dengan kesadaran bersama untuk membela kesucian tanah Bali. Desa-desa pesisir selatan Bali dari sisi barat hingga ke timur telah berbulat tekad menolak rencana reklamasi teluk Benoa dan atas nama harga diri, persaudaraan dan menjaga kesucian tanah Bali desa-desa yang tidak ada di pesisir pantai pun turut serta dalam gerakan penolakan reklamasi.

Kesadaran kolektif yang muncul bukanlah pekerjaan yang mudah dan singkat. Prosesnya panjang, tahunan dan memerlukan konsistensi yang sangat mantap.

Gendo saat menerima pernyataan sikap dari Desa Adat Kuta awal tahun lalu. Foto Anton Muhajir.

Gendo saat menerima pernyataan sikap dari Desa Adat Kuta awal tahun lalu. Foto Anton Muhajir.

Sangar

Adalah seorang anak muda I Wayan Suardana yang biasa dipanggil Gendo dengan teman-temannya yang membangun kesadaran akan pentingnya penyelamatan Teluk Benoa dari rencana para investor yang hendak mengurugnya menjadi daratan baru untuk akomodasi pariwisata baru.

Kegigihan Gendo menunjukkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan investor beserta para pejabat di Bali untuk memuluskan rencana edan itu, layak mendapat acungan jempol. Gendo boleh saja berpenampilan norak dengan rambut gondrong dan wajah yang sangar. Kesannya preman habis!

Tetapi dia telah mampu mengkordinir para ahli di bidangnya untuk membuat kajian tandingan terhadap kajian yang dibuat untuk kepentingan investor oleh akademisi yang bisa dibayar itu.

Saya sempat beberapa kali bertemu dan berbicara dengan Gendo, tentang bahaya rencana reklamasi Teluk Benoa bagi eksistensi lingkungan dan manusia Bali. Pemikiran dan rencana advokasinya jelas bukan hasil pemikiran preman jalanan yang bermodal sangar doang. Ada otak dan ketulusan yang meluncur dari mulutnya.

Boleh saja Gendo dicap sebagai preman intelektual, bisa saja dia dianggap orang bayaran dari musuh reklamator. Tetapi kegigihannya, keseriusannya dan kemampuannya menyatukan para bendesa sungguh-sungguh menunjukan, Gendo telah mendapatkan Taksunya untuk memimpin perlawanan ini.

Pastilah bagi investor dan antek-anteknya di Bali, Gendo “sing sedeng pluasin” memang Bajingan!!! Bajingan yang memberi teror terhadap rencana yang telah mereka susun. Bajingan yang siap merampok aneka proyek yang akan mereka dapatkan dan bajingan biadab yang merusak rencana pesta mereka saat proyek ini berjalan.

Gendo memang bajingan!

Bagi saya, dan teman-teman yang sering ada dalam barisan massa aksi untuk menyuarakan penolakan terhadap reklamasi teluk Benoa, Gendo itu anak muda Bali yang bertampang rock, sedikit urakan dalam berbicara (kadang keras kalau sudah menyindir penguasa antek-antek investor) tetapi saat ini dia adalah daily hero yang dimiliki Bali.

Empat tahun bergerak dan bergerak terus. Tidak kenal siang atau malam. Mendekati para pemimpin adat. Memberikan kajian-kajian akademis. Mengorbankan waktu bersama keluarga. Menghemat waktu tidur dan bahkan menahan rasa sakit di badan.

Semua itu dilakukan oleh Gendo bajingan! Demi tanah kelahirannya…

Gendo berorasi dalam sebuah aksi tolak reklamasi di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Gendo berorasi dalam sebuah aksi tolak reklamasi di Kedonganan. Foto Anton Muhajir.

Semangat Puputan
Saya sungguh tidak tertarik dengan tuduhan kontra intelejen yang mengembuskan isu Gendo adalah provokator bayaran untuk menggagalkan rencana reklamasi Teluk Benoa karena persaingan bisnis.

Boleh saja Gendo memang bajingan sebelumnya tetapi saat ini Gendolah yang mau dan rela melakukan kerja untuk bumi Bali.

Dalam pemahaman saya sebagai orang Bali, mereka yang berlaku curang terhadap tanah Bali yang telah ditanami panca datu oleh Rsi Agung Markandeya, akan mendapat bencana dalam hidupnya.

Tanah Bali juga telah mendapatkan pasupati dari Ida Mpu Kuturan yang maha bijak untuk menjaga ajeg Bali ini dengan Desa Adatnya. Karena itu setiap ada rencana yang bisa mengakibatkan Bali kembali gonjang-ganjing maka taksu beliau akan hadir kembali.

Begitu juga roh dari yang Maha Suci Dang Hyang Niratha sepertinya telah meresapi jiwa-jiwa krama Bali yang bergerak terus di jalanan. Ketenangan dan kewibawaan yang terpancar dalam setiap aksi sekiranya berasal dari restunya yang telah lama mengamati prabawa Teluk Benoa dari pulau Serangan.

Jadi, saya hanya mau bilang kepada para penguasa yang masih buta hati dan tuli. Hati-hatilah dengan rencanamu mereklamasi teluk Benoa. Bajingan Gendo itu tidak hanya satu! Gendo telah membelah semangat perlawanannya kepada ratusan ribu krama Bali yang sudah pasti akan mempertahankan keyakinannya terhadap teluk Benoa dengan semangat Puputan!

Hentikan sekarang juga rencana busuk itu sehingga kelak engkau masih bisa mengumpat Gendo sebagai Bajingan dengan sisa senyum di bibir. [b]

The post Bajingan Itu Bernama Gendo appeared first on BaleBengong.

Anak Kerobokan Tolak Reklamasi Telok Benoa

Tolak-Reklamasi-Teluk-Benoa-1

Gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa semakin meluas, masyarakat Kerobokan pun mulai menyatakan sikap untuk Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Ditandai dengan pemasangan baliho Tolak Reklamasi dan pengerahan massa pada tanggal 31 Januari 2016 yang lalu. Kegiatan itu sudah diliput dan disiarkan oleh beberapa media. Kalau tidak salah, salah satu tokoh yang belakangan paling getol menolak Reklamasi Teluk Benoa, Gendo juga hadir disana.

Saya sendiri sebenarnya sudah mendapat info dari salah seorang teman tentang rencana aksi itu, tapi sayang infonya tidak jelas sehingga saya tidak ikut. Padahal kalau sudah atas nama masyarakat Kerobokan, saya ingin ikut. Setelah aksi itu, saya secara pribadi juga ingin ikut menyatakan sikap.

Saya dan salah satu teman yang juga mantan Ketua STT di banjar kami pun berkomunikasi, dia juga secara tulus dari hati ingin menyatakan sikap. Kebetulan dia punya percetakan dan siap untuk membuatkan baliho, saya sendiri siap membuatkan rangkanya, tinggal mencari beberapa kawan lagi untuk membantu memasangnya.

Siang tadi, 6 Pebruari 2016 akhirnya saya dan beberapa teman sudah berkumpul, baliho pun dicetak dan kami siapkan rangkanya. Hanya bersama sekitar 8 orang, baliho Anak Kerobokan (Anker) Tolak Reklamasi Teluk Benoa kami pasang di depan balai banjar Anyar Kaja. Walaupun tidak berhasil mengerahkan massa, kami memberanikan diri menyatakan diri sebagai Sameton Banjar Anyar.

Begitulah pernyataan sikap kami, dengan tegas menyatakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa!

Tolak-Reklamasi-Teluk-Benoa-2

Baca Juga:

Reklamasi Vs Revitalisasi: Eufeisme Tipu-Tipu

Warga Pulau Bali, belakangan lekat sekali mendengar istilah reklamasi dan revitalisasi. Kata reklamasi diakrabi lebih awal sejak isu reklamasi terhadap Teluk Benoa berhembus medio 2012. Sejak mulai terdengar ke publik, megaproyek reklamasi Teluk Benoa telah memicu pro dan kontra, menjadi perbincangan hangat di bale banjar hingga ke segala sudut pulau.

Bentuk-bentuk penolakan pun mewujud dalam baliho-baliho penolakan yang dipasang di segala sudut kota. Namun, muncul aksi tandingan yang ‘menjual’ wacana revitalisasi Teluk Benoa. Seakan tak mau kalah, baliho dukungan terhadap revitalisasi pun ramai dipasang di segala sudut kota.

Warga Bali pun jadi bimbang. Yang tadinya menolak reklamasi mulai beralih menyetujui revitalisasi. Ada juga yang teguh menolak reklamasi dan revitalisasi. Akibatnya, perang argumen pun masih berlanjut di masyarakat. Yang teguh menolak beralasan revitalisasi hanya kedok untuk tetap menguruk Teluk Benoa. Sementara itu, yang setuju mengajukan alasan revitalisasi bagus untuk perekonomian warga.

Reklamasi dan revitalisasi sebenarnya menjadi kata baru dan asing buat warga Bali. Reklamasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna (misal dengan cara menguruk daerah rawa-rawa)’. Dalam terminologi tata lingkungan, reklamasi dimaknai sebagai pekerjaan atau usaha dalam pemanfaatan suatu kawasan atau lahan yang tidak berguna dan berair untuk dijadikan lahan yang berguna dengan cara dikeringkan. Di lain hal, KBBI memberi makna revitalisasi sebagai proses, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.

Karena digemborkan setelah isu reklamasi banyak mendapat tentangan, revitalisasi hanya dipandang sebagai pengalihan atau penghalusan untuk rencana reklamasi Teluk Benoa. Memang sering kali pemerintah atau pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan permainan kata untuk mencapai tujuan. Satu contoh yang masih lekat di ingatan kita ialah cara pemerintah Orde Baru dalam menyebut ‘penaikan harga BBM’ dengan istilah ‘penyesuaian harga’. Contoh lain, istilah ‘dirumahkan’ yang kerap didengungkan pengusaha kala memecat buruhnya.

Ribuan anak muda turun ke jalan menolak reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa.

Ribuan anak muda turun ke jalan menolak reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa.

Aksi "Pesisir Bergerak" menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Aksi “Pesisir Bergerak” menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Konser tolak reklamasi Teluk Benoa bertajuk Svara Bumi di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Oktober 2014.

Konser tolak reklamasi Teluk Benoa bertajuk Svara Bumi di Rolling Stone Cafe, Jakarta, Oktober 2014.

Eufemisme yang diterapkan pemerintah Orde Baru memang terbukti sukses meredam gejolak penolakan penaikan harga BBM. Sama halnya dengan taktik pengusaha dalam memecat buruh. Namun, ketika kondisi di masyarakat berubah seiring dengan makin terdidiknya masyarakat, gaya bahasa menghaluskan itu pun tak mempan lagi meredam gejolak. Masyarakat pun paham bahwa meskipun terdengar halus, makna di balik kata itu tetaplah sama dalam penerapannya. Dalam kedua contoh itu, gaya bahasa eufemisme menjadi sebuah cara tipu-tipu untuk menggapai sebuah tujuan.

Dalam hal reklamasi dan revitalisasi Teluk Benoa, taktik eufemisme pun bukan tak mungkin sedang diterapkan. Bagaimana tidak? Ketika wacana reklamasi ditentang keras, dilontarkanlah rencana revitalisasi yang memberi kesan memberdayakan dan lebih sedikit kesan merusak, terlebih terdengar menguntungkan secara ekonomi. Harapannya tentu saja untuk menuai persetujuan warga Bali. Namun, jika kemudian revitalisasi dilakukan dengan menguruk hutan mangrove, mengubur sedemikian banyak habitat biota laut, apalah bedanya dengan reklamasi? Ah, sekali lagi, taktik eufemisme digunakan sebagai upaya tipu-tipu.

__________

Artikel ini ditulis oleh Ni Nyoman Dwi Astarini, saya pinjam-pakai dari koran Media Indonesia dengan judul asli Tipu-tipu.
Foto-foto yang ditampilkan baik di halaman ini maupun halaman depan adalah milik ForBALI, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi.