Tag Archives: teroris

Teroris, Manusia Tanpa Nurani!

Saya tidak tahu mau berkata apa lagi, teroris itu seperti apa, jangankan dibandingkan dengan manusia, dengan binatang pun mereka tidak layak disandingkan. Wujud mereka memang seperti manusia, tapi rasanya yang mereka lakukan tidaklah layak disebut manusia. Mereka sangat sadis, membunuh orang dengan membabi buta dengan tujuan utama menciptakan rasa takut bagi semua orang, membuat rasa tidak aman dan kecemasan.

Kalau menurut saya, teroris itu tidak punya hati nurani, otaknya tidak normal karena yang dilakukan tidak masuk akal. Bagi orang normal, tentu tidak mungkin berani bunuh diri apalagi dengan tujuan membunuh orang lain, apalagi ikut mengorbankan anak-anak, sangat tidak berperikemanusiaan. Saya tidak tahu dan tidak bisa membayangkan bagaimana isi pikiran mereka yang ikut mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan bom. Duh, ngeri sekali.

Yang paling membuat sedih tentu saja para korban yang berjatuhan, baik yang meninggal ataupun luka. Semua kejadian teror itu pasti meninggalkan rasa sedih dan sakit yang tidak bisa hilang begitu saja. Kita semua berduka. Saya yakin kita semua yang normal pasti memendam rasa marah yang luar biasa terhadap prilaku teroris itu. Entah bagaimana mengungkapkan semua rasa marah ini. Rasanya berdoa saja agar para teroris itu segera sadar tidaklah cukup. Mereka rasanya tidak pernah habis, tidak mau sadar bahwa hidup damai dalam segala perbedaan itu sangatlah indah.

Kita kini berharap semoga pemerintah bisa berbuat lebih jauh lagi untuk menumpas semua teroris itu sampai ke akar-akarnya. Indonesia milik kita bersama, semoga damai semuanya..

Baca Juga:

Turut Berduka atas Tragedi Mako Brimob ; Berhenti Saling Menyakiti, Mulailah Saling Menghargai

Tiga hari ini timeline akun media sosial maupun chat group ramai akan cerita pula berita kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua Jakarta yang melibatkan napi terduga teroris dan tentu saja aparat setempat yang menewaskan 5 diantaranya. Miris… Seperti biasa, hingga hari ini masih menyisakan pro kontra tentang penyebab pemicu di kedua pihak, baik yang mendukung […]

[Esai Foto] Saya Tidak Benci Teroris

Potret Ngesti Puji Rahayu atau Yayuk di tempat kerjanya di jalan Teuku Umar Denpasar pada tahun 2012 sebagai asiten rumah tangga. Yayuk berpose dengan potret dirinya sebelum mengalami tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra

“Agama saya tidak pernah mengajarkan kebencian,” ujar Yayuk.

Dia menjawab ketika ditanya apa ia membenci teroris yang membuat tubuhnya mengalami luka bakar permanen. Ngesti Puji Rahayu akrab dipanggil Yayuk lahir di Jember pada tahun 1962. Dia salah satu korban langsung bom Bali I pada 12 Oktober 2002.

Saat kejadian ia tengah bersama teman-temannya di Paddys Club untuk bersenang-senang. Rencana menghibur hati justru berubah tragedi ketika bom meledak dan mengempaskan tubuhnya beberapa meter hingga dekat DJ booth.

Ia sempat tidak sadarkan diri. Ketika terbangun di sekitarnya sudah banyak tumpukan manusia dan orang-orang panik. Beberapa di antaranya berteriak “panas! panas!”

Yayuk menjelaskan bagaimana proses operasi sejak tahun 2002 di Australia yang membuat luka permanen di tubuhnya. Foto: Anggara Mahendra

Singkat cerita setelah kejadian itu, Yayuk dibawa ke ICU dan sempat dikira sudah meninggal karena kondisi fisiknya yang cukup parah. Bahkan ia sudah sampai dimandikan saat di kamar jenazah. Untungnya saat itu Yayuk siuman dan ditolong oleh Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) yang membawanya terbang ke Australia untuk operasi seluruh tubuhnya.

Sejak operasi pertamanya tahun 2002, ia tidak boleh terkena matahari langsung karena kulit yang sudah terbakar tidak lagi memiliki lapisan kulit pelindung seperti kita yang masih normal. Biasanya ia akan merasakan gatal yang luar biasa jika terpapar sinar matahari langsung dan intensitas cukup lama.

Pada 2003 operasi Yayuk dilanjutkan di Rumah Sakit Royal Perth, Australia pada bagian telinganya. Kemudian di 2009 tangannya kembali dioperasi karena sudah terlalu banyak keloid yang tumbuh sehingga susah untuk berada pada posisi lurus. Sebagian besar operasi yang dilakukannya adalah permasalahan keloid yang tumbuh sejak tubuhnya mengalami luka bakar.

Yayuk berganti agama dari Islam ke Kristen karena pada proses pengobatan dan penyembuhannya banyak dibantu umat Kristen. Foto: Anggara Mahendra

Tragedi yang menimpanya membuat Yayuk berpindah kepercayaan dari Islam ke Kristen. Alasannya karena dalam proses pengobatan dan penyembuhan ia banyak ditolong oleh umat Kristen yang membuatnya yakin untuk mengubah kepercayaan.

Saat ini Yayuk menjalani hidup barunya dengan bekerja sebagai asisten di villa milik ekspatriat Jerman di daerah Krobokan. Tugasnya dimulai dari pagi hingga 3.30 sore dengan menyapu, menyiram, mencuci pakaian dan memberi makan dua anjing lokal milik pemiliknya.

Yayuk pada tahun 2012 ketika bekerja sebagai asisten rumah tangga di jalan Teuku Umar, Denpasar. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Krobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan villa, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di villa. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk tidak memiliki kendaraan sendiri dan sering menggunakan jasa transportasi umum untuk mobilitasnya. Foto: Anggara Mahendra
Suasana Ground Zero di jalan Legian, Kuta, Bali – Indonesia saat peringatan 14 tahun Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk bersama teman lainnya yang tergabung dalam Isana Dewata (Istri Anak dan korban Bom Bali) – yayasan non profit yang menaungi para korban bom bali untuk kesehatan fisik dan mental mereka. Foto: Anggara Mahendra
Buku memorial yang disediakan Yayasan Isana Dewata untuk menulis harapan dan doa untuk korban tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Canang (persembahan Hindu Bali), bir, karangan bunga dipersembahkan di Monumen Ground Zero untuk memberi penghormatan pada korban saat tragedi Bom Bali I dan II. Foto: Anggara Mahendra
Potret Ngesti Puji Rahayu atau akrab dipanggil Yayuk, salah satu korban langsung tragedi Bom Bali 2002. Ia mengalami luka bakar ketika berkunjung ke Paddys Club dan tubuhnya terlempar beberapa meter sampai ke booth DJ hingga tak sadarkan diri. Foto: Anggara Mahendra

The post [Esai Foto] Saya Tidak Benci Teroris appeared first on BaleBengong.

Pembebasan Sandera dan Teror di Perbatasan

Kendati penanganan sandera kini telah tuntas, kelompok teroris Abu Sayaff tetap harus diwaspadai. Para teroris hingga kini masih menyandera sejumlah warga asing, baik dari Malaysia, Kanada, Norwegia, dan Belanda. Dunia masih menahan napas dengan kelanjutan penyanderaan oleh kelompok radikal yang memberontak terhadap pemerintahan Filipina sejak 1970-an, yang telah memakan korban hingga 100.000 orang ini.

Di Tanah Air pembajakan di perairan Filipina 26/3 tersebut menjadi pemberitaan yang sangat mencekam. Karena peristiwa ini menyangkut perbatasan tiga negara, Presiden Joko Widodo mendukung penjajakan patroli bersama Malaysia-Filipina-Indonesia. Televisi mewartakan berulang-ulang isak tangis haru bahagia dan syukur keluarga sandera yang dibebaskan. Namun, mereka mengaku trauma oleh teror yang mereka alami.

 

Lari ke hutan

Sesungguhnya, teror dan tindakan kekerasan di perbatasan Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 13 ribu pulau, memiliki 92 pulau terluar, dan 31 di antaranya adalah pulau berpenghuni. Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, adalah salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan laut Filipina dan Malaysia. Mencapai Maratua, dari ibu kota kabupaten, saja harus menempuh jarak laut tak kurang dari 100 km. Dengan kapal cepat memakan waktu 3 jam, atau 11 jam dengan kapal kayu, tergantung gelombang laut.

Sebagai fasilitator pulau-pulau kecil terluar dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Destructive Fishing Watch (DFW), saya sempat tinggal bersama warga Maratua selama delapan bulan. Dari mereka saya mendengar kisah-kisah teror dan mengalami langsung kengerian yang dibangkitkan oleh isu-isu teror itu.

Maratua tak hanya sekali diguncang teror karena letaknya di perbatasan. Kacil, kurang lebih 55 tahun, nelayan Maratua menuturkan, suatu malam di tahun 1991, dalam perjalanan bersampan memancing ke kampung sebelah, tiba-tiba segerombolan orang datang, menodongkan senjata. Mereka menghardik dan memaksa agar ditunjukkan arah ke perkampungan. Kacil tak menyangka bernasib apes saat perompak yang ia yakini berasal dari Filipina itu datang dan menyanderanya. Tak punya pilihan lain, ia pun mengantarkan para perompak bersenjata itu ke kampung tempatnya tinggal, kampung Bohe Bukut (sekarang namanya Teluk Harapan).

Kedatangan para perompak tak disadari warga lain, saat Kacil datang dan berteriak, “Mundu, mundu (bahasa Bajau Maratua untuk perompak),” warga malah berbondong-bondong menyaksikan kedatangan mereka di tepi pantai, menduga Kacil bercanda.

Warga baru percaya, ketika perompak menebar teror dengan menembakkan senjata dan berkeliling rumah, memburu harta. “Mereka hanya berdelapan, dengan kapal cepat. Kapal utamanya agak jauh di laut,” tutur Nely, ibu dua anak, dengan wajah bergidik. Saat kejadian, ia masih bocah yang tak tahu apa-apa, hanya ikut lari dengan ibunya ke arah hutan. Semua warga berlarian, banyak yang tak bersandal, menerobos semak dan perdu yang tumbuh di atas batu karang.

Warga yang tak sempat melarikan diri menjadi korban perompak. Emas mereka dijarah dan bahan makanan diangkut. Seorang warga yang sempat melawan langsung ditembak di tempat. Kejadian itu hanya semalam, namun teror yang ditinggalkan masih dirasa sangat mengerikan oleh warga Maratua.

 

Korban isu

Pulau Maratua, berbatasan dengan Filipina dan Malaysia, dihuni kurang lebih 3.500 jiwa dengan luas kurang lebih 2.375 hektar, terdiri diri empat kampung, sejak tahun 1990-an berkembang menjadi resor wisata. Pemodal dari Malaysia tak sedikit yang berusaha di pulau ini. Perompakan berulang di tahun 1992, setahun setelah nelayan Kacil disandera. Para perompak menyatroni resor. Selain menggarong harta, mereka juga menggagahi beberapa wisatawan perempuan yang berada di resor.

Sejak saat itu warga Maratua lebih sigap. Ketika ada isu pulau mereka menjadi incaran perompak, mereka akan langsung mengamankan diri ke hutan, tak peduli kaki berdarah-darah menginjak batu karang tajam dan berundak.

Tak jarang isu ini dihayati berlebihan oleh penduduk kampung. Tahun 2015 lalu, sempat muncul rumor mundu akan mengobrak-abrik kampung mereka lagi. Orang-orang kampung pun bergegas mengemas barang-barang berharga untuk dibawa lari ke hutan.

Isu terjadi September 2015, diawali dengan kedatangan kapal mundu di perairan Derawan-Maratua. Isu ini cepat sekali menyebar, membuat warga panik dan ketakutan. Begitu terdengar kabar tentang kedatangan mundu, warga kampung bersepakat membentuk kelompok jaga malam yang berpatroli di dermaga dan pinggir pantai. Saban malam terlihat bapak-bapak dan pemuda berjaga di dermaga kampung. Mereka baru pulang saat fajar menyingsing.

“Paling tidak, saat mundu datang, warga bisa langsung mengamankan diri ke hutan,” ujar Naspin, kepala RT 3 kampung Teluk Harapan pasrah. Ia turut berjaga setiap malam. Saat Pulau Kakaban, yang berjarak 30-40 menit dengan kapal cepat dari Pulau Maratua didatangi kapal yang mereka duga mundu, di bulan September itu, makin kalutlah warga.

Pulau Kakaban, seperti Maratua, adalah pulau tujuan wisata. Di pulau itu tak ada orang yang tinggal, hanya ada beberapa penjaga loket yang kadang menginap. Malam itu mereka menginap dan terjaga saat sebuah kapal besar merapat. Dua orang nelayan asal Derawan yang berjaga langsung berlarian masuk hutan. Beruntung tidak ada penerangan listrik, dan keadaan gelap gulita. Sang perompak tak mengambil apa pun, bahkan tidak menyadari dua orang berlarian sambil gemetar dalam gelap.

Isu itu tersebar cepat. Warga Maratua semakin siap lari saat mundu akan datang. Bulan September berlalu, mundu yang ditakuti belum merapat di Pulau Maratua. Warga merasa agak tenang, dan sebuah pesta pernikahan di kampung Bohe Silian yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya dilangsungkan.

Seperti biasa, bila sebuah pesta digelar, warga dari kampung-kampung lain akan hadir. Nurhajija, misalnya, berangkat dari kampung Teluk Harapan malam itu bersama Jahin, suaminya. Jalanan sepanjang pulau gelap, kecuali saat melewati perkampungan. Ketika mencapai tempat pesta, lalu menikmati beberapa lagu yang disuguhkan para biduanita, dan bersalaman dengan para mempelai, tersiar kabar mundu sudah sampai di dermaga.

Tak menunggu lama, semua tamu yang hadir dari kampung-kampung sebelah menghidupkan kendaraan mereka buru-buru pulang, khawatir anak-anak yang di rumah. Ketika Nurhajija bersama suami meninggalkan kampung Bohe Silian, melewati kampung Payung-payung, warga dua kampung itu sudah menyiapkan buntelan atau tas-tas besar berisi barang-barang berharga, siap lari ke hutan. Begitu juga di kampung Teluk Harapan, semua warga awas. Kengerian merebak, anak-anak kecil dibangunkan, diajak siap lari.

Pagi tiba, mundu tidak juga kunjung datang. Warga bernapas lega. Namun tidak pernah benar-benar merasa aman atau lepas dari kengerian bahkan hanya oleh isu kedatangan mundu.

Maratua merupakan satu contoh kehidupan di perbatasan, titik paling rawan dari sebuah kedaulatan negara. Warga terbungkus kengerian sepanjang masa oleh kedatangan perompak-perompak ini di masa lalu. Masa kini? Dengkuran perompak pun dapat membuat nelayan paling tegap yang tak gentar menantang ombak, menyiapkan dirinya masuk hutan. Kapan mereka merasa benar-benar aman?

 

Dimuat di harian Bali Post, 14 Mei 2016

Pembebasan Sandera dan Teror di Perbatasan

Kendati penanganan sandera kini telah tuntas, kelompok teroris Abu Sayaff tetap harus diwaspadai. Para teroris hingga kini masih menyandera sejumlah warga asing, baik dari Malaysia, Kanada, Norwegia, dan Belanda. Dunia masih menahan napas dengan kelanjutan penyanderaan oleh kelompok radikal yang memberontak terhadap pemerintahan Filipina sejak 1970-an, yang telah memakan korban hingga 100.000 orang ini.

Di Tanah Air pembajakan di perairan Filipina 26/3 tersebut menjadi pemberitaan yang sangat mencekam. Karena peristiwa ini menyangkut perbatasan tiga negara, Presiden Joko Widodo mendukung penjajakan patroli bersama Malaysia-Filipina-Indonesia. Televisi mewartakan berulang-ulang isak tangis haru bahagia dan syukur keluarga sandera yang dibebaskan. Namun, mereka mengaku trauma oleh teror yang mereka alami.

 

Lari ke hutan

Sesungguhnya, teror dan tindakan kekerasan di perbatasan Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 13 ribu pulau, memiliki 92 pulau terluar, dan 31 di antaranya adalah pulau berpenghuni. Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, adalah salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan laut Filipina dan Malaysia. Mencapai Maratua, dari ibu kota kabupaten, saja harus menempuh jarak laut tak kurang dari 100 km. Dengan kapal cepat memakan waktu 3 jam, atau 11 jam dengan kapal kayu, tergantung gelombang laut.

Sebagai fasilitator pulau-pulau kecil terluar dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Destructive Fishing Watch (DFW), saya sempat tinggal bersama warga Maratua selama delapan bulan. Dari mereka saya mendengar kisah-kisah teror dan mengalami langsung kengerian yang dibangkitkan oleh isu-isu teror itu.

Maratua tak hanya sekali diguncang teror karena letaknya di perbatasan. Kacil, kurang lebih 55 tahun, nelayan Maratua menuturkan, suatu malam di tahun 1991, dalam perjalanan bersampan memancing ke kampung sebelah, tiba-tiba segerombolan orang datang, menodongkan senjata. Mereka menghardik dan memaksa agar ditunjukkan arah ke perkampungan. Kacil tak menyangka bernasib apes saat perompak yang ia yakini berasal dari Filipina itu datang dan menyanderanya. Tak punya pilihan lain, ia pun mengantarkan para perompak bersenjata itu ke kampung tempatnya tinggal, kampung Bohe Bukut (sekarang namanya Teluk Harapan).

Kedatangan para perompak tak disadari warga lain, saat Kacil datang dan berteriak, “Mundu, mundu (bahasa Bajau Maratua untuk perompak),” warga malah berbondong-bondong menyaksikan kedatangan mereka di tepi pantai, menduga Kacil bercanda.

Warga baru percaya, ketika perompak menebar teror dengan menembakkan senjata dan berkeliling rumah, memburu harta. “Mereka hanya berdelapan, dengan kapal cepat. Kapal utamanya agak jauh di laut,” tutur Nely, ibu dua anak, dengan wajah bergidik. Saat kejadian, ia masih bocah yang tak tahu apa-apa, hanya ikut lari dengan ibunya ke arah hutan. Semua warga berlarian, banyak yang tak bersandal, menerobos semak dan perdu yang tumbuh di atas batu karang.

Warga yang tak sempat melarikan diri menjadi korban perompak. Emas mereka dijarah dan bahan makanan diangkut. Seorang warga yang sempat melawan langsung ditembak di tempat. Kejadian itu hanya semalam, namun teror yang ditinggalkan masih dirasa sangat mengerikan oleh warga Maratua.

 

Korban isu

Pulau Maratua, berbatasan dengan Filipina dan Malaysia, dihuni kurang lebih 3.500 jiwa dengan luas kurang lebih 2.375 hektar, terdiri diri empat kampung, sejak tahun 1990-an berkembang menjadi resor wisata. Pemodal dari Malaysia tak sedikit yang berusaha di pulau ini. Perompakan berulang di tahun 1992, setahun setelah nelayan Kacil disandera. Para perompak menyatroni resor. Selain menggarong harta, mereka juga menggagahi beberapa wisatawan perempuan yang berada di resor.

Sejak saat itu warga Maratua lebih sigap. Ketika ada isu pulau mereka menjadi incaran perompak, mereka akan langsung mengamankan diri ke hutan, tak peduli kaki berdarah-darah menginjak batu karang tajam dan berundak.

Tak jarang isu ini dihayati berlebihan oleh penduduk kampung. Tahun 2015 lalu, sempat muncul rumor mundu akan mengobrak-abrik kampung mereka lagi. Orang-orang kampung pun bergegas mengemas barang-barang berharga untuk dibawa lari ke hutan.

Isu terjadi September 2015, diawali dengan kedatangan kapal mundu di perairan Derawan-Maratua. Isu ini cepat sekali menyebar, membuat warga panik dan ketakutan. Begitu terdengar kabar tentang kedatangan mundu, warga kampung bersepakat membentuk kelompok jaga malam yang berpatroli di dermaga dan pinggir pantai. Saban malam terlihat bapak-bapak dan pemuda berjaga di dermaga kampung. Mereka baru pulang saat fajar menyingsing.

“Paling tidak, saat mundu datang, warga bisa langsung mengamankan diri ke hutan,” ujar Naspin, kepala RT 3 kampung Teluk Harapan pasrah. Ia turut berjaga setiap malam. Saat Pulau Kakaban, yang berjarak 30-40 menit dengan kapal cepat dari Pulau Maratua didatangi kapal yang mereka duga mundu, di bulan September itu, makin kalutlah warga.

Pulau Kakaban, seperti Maratua, adalah pulau tujuan wisata. Di pulau itu tak ada orang yang tinggal, hanya ada beberapa penjaga loket yang kadang menginap. Malam itu mereka menginap dan terjaga saat sebuah kapal besar merapat. Dua orang nelayan asal Derawan yang berjaga langsung berlarian masuk hutan. Beruntung tidak ada penerangan listrik, dan keadaan gelap gulita. Sang perompak tak mengambil apa pun, bahkan tidak menyadari dua orang berlarian sambil gemetar dalam gelap.

Isu itu tersebar cepat. Warga Maratua semakin siap lari saat mundu akan datang. Bulan September berlalu, mundu yang ditakuti belum merapat di Pulau Maratua. Warga merasa agak tenang, dan sebuah pesta pernikahan di kampung Bohe Silian yang sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya dilangsungkan.

Seperti biasa, bila sebuah pesta digelar, warga dari kampung-kampung lain akan hadir. Nurhajija, misalnya, berangkat dari kampung Teluk Harapan malam itu bersama Jahin, suaminya. Jalanan sepanjang pulau gelap, kecuali saat melewati perkampungan. Ketika mencapai tempat pesta, lalu menikmati beberapa lagu yang disuguhkan para biduanita, dan bersalaman dengan para mempelai, tersiar kabar mundu sudah sampai di dermaga.

Tak menunggu lama, semua tamu yang hadir dari kampung-kampung sebelah menghidupkan kendaraan mereka buru-buru pulang, khawatir anak-anak yang di rumah. Ketika Nurhajija bersama suami meninggalkan kampung Bohe Silian, melewati kampung Payung-payung, warga dua kampung itu sudah menyiapkan buntelan atau tas-tas besar berisi barang-barang berharga, siap lari ke hutan. Begitu juga di kampung Teluk Harapan, semua warga awas. Kengerian merebak, anak-anak kecil dibangunkan, diajak siap lari.

Pagi tiba, mundu tidak juga kunjung datang. Warga bernapas lega. Namun tidak pernah benar-benar merasa aman atau lepas dari kengerian bahkan hanya oleh isu kedatangan mundu.

Maratua merupakan satu contoh kehidupan di perbatasan, titik paling rawan dari sebuah kedaulatan negara. Warga terbungkus kengerian sepanjang masa oleh kedatangan perompak-perompak ini di masa lalu. Masa kini? Dengkuran perompak pun dapat membuat nelayan paling tegap yang tak gentar menantang ombak, menyiapkan dirinya masuk hutan. Kapan mereka merasa benar-benar aman?

 

Dimuat di harian Bali Post, 14 Mei 2016