Tag Archives: teluk benoa

Gagalnya Reklamasi adalah Kemenangan Rakyat Bali

Salam Kepal Tangan Kiri!!

Sebagaimana diketahui bersama bahwa 25 Agustus 2018 adalah batas akhir berlakunya izin lokasi reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar yang diberikan kepada PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT. TWBI). Izin ini pertama kali oleh Tjitjip Sutarjo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berlaku dua tahun sejak 25 Agustus 2014 sampai 25 Agustus 2016.

Akibat hukum dari terbitnya izin lokasi tersebut adalah PT. TWBI berhak menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Jika AMDAL tersebut layak maka Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI akan menerbitkan Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) dan selanjutnya Izin Lingkungan. Halmana akan menjadi dasar bagi permohonan izin pelaksanaan reklamasi dan jika izin pelaksaanan didapat maka Teluk Benoa sah secara hukum direklamasi oleh PT. TWBI.

Namun demikian, karena sikap penolakan yang masif dari masyarakat Bali baik Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dan seluruh komponennya bersama Pasubayan Desa Adat/Pekraman BTR, akhirnya sepanjang periode tahun 2014 sampai tahun 2016, AMDAL tersebut belum bisa diluluskan atau belum bisa dinyatakan layak karena terganjal faktor sosio kultural (adanya penolakan dari masyarakat).

Setelah tidak bisa memenuhi kelayakan AMDAL dalam tenggang waktu 25 Agustus 2014 s/d 25 Agustus 2016, PT. TWBI kembali mengajukan perpanjangan izin lokasi kepada Menteri KKP Susi Pudjiastuti. Hal ini karena dibenarkan oleh hukum, bahwa untuk izin lokasi reklamasi diperbolehkan diperpanjang hanya untuk 1 (satu) kali saja.

Permohonan PT. TWBI tersebut tidak dijawab oleh Menteri KKP. Tindakan Menteri KKP yang tidak menjawab surat permohonan itu secara hukum berarti Menteri Kelautan dan Perikanan dianggap memberikan persetujuan perpanjangan izin lokasi kepada PT. TWBI. Oleh karenanya, izin lokasi dapat diperpanjang 1 (satu) kali sehingga berlaku lagi selama 2 (dua) tahun, terhitung sejak 25 Agustus 2016 s/d 25 Agustus 2018 (vide; Perpres no 122 th 2012).

Dengan demikian batas akhir (daluarsa) izin lokasi yang dimiliki PT. TWBI berakhir pada 25 Agustus 2018. Sejak itu pula pembahasan AMDAL tersebut berhenti dan jika tidak dinyatakan layak oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan maka AMDAL tersebut tidak dapat dibahas lagi dan rencana reklamasi telah gagal.

Dalam proses waktu berjalan, gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar oleh PT. TWBI semakin menguat. Alhasil gerakan aksi massa terus digulirkan, kampanye terus dilaksanakan, kerja-kerja berbasis ilmiah dilakukan sampai Sabtu 25 Agustus 2018.

Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan baik melalui media maupun komunikasi kepada pihak terkait, termasuk kepada Menteri LHK dan jajarannya, kami mendapatkan informasi bahwa sampai batas akhir waktu 25 Agustus 2018, Menteri LHK belum menerbitkan SKKLH dan Izin Lingkungan atas AMDAL reklamasi yang disusun oleh PT. TWBI.

Alasan hukumnya, AMDAL tersebut masih mengalami kendala faktor sosio kultural karena sampai saat ini rencana proyek reklamasi tersebut masih ditolak masyarakat. Pada saat sama Pemrakarsa (PT. TWBI) belum dapat melakukan perbaikan atas kendala tersebut. Oleh sebab itu maka dapat disimpulkan bahwa rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar telah gagal dan disebabkan karena AMDAL tidak memenuhi kelayakan akibat adanya penolakan masyarakat Bali (terganjal faktor sosial budaya /sosio cultural).

Berkenaan dengan hal itu maka Kami dari ForBALI menyampaikan berita gembira ini kepada rakyat Bali bahwa perjuangan selama lebih dari 5 tahun dalam kondisi yatim piatu ini telah meraih kemenangan. Teluk Benoa masih bisa diselamatkan dari rencana reklamasi seluas 700 hektar oleh PT. TWBI.

Walaupun harus diakui bahwa ancaman reklamasi itu masih ada karena Perpres No.51 th 2014 masih berlaku. Namun, peristiwa kemenangan tetap harus kita kabarkan dan rayakan. Pentingnya kemenangan ini adalah untuk mengajarkan penguasa dan pengusaha agar tidak semena-mena terhadap alam Bali di masa depan.

Pada kesempatan ini tentu saja kami sampaikan terima kasih kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah secara obyektif menilai AMDAL yang diajukan oleh PT. TWBI, karena setidak-tidaknya rakyat Bali masih dihargai dalam proses pengambilan kebijakan dalam lingkungan hidup. Yang paling utama adalah ucapan terima kasih Kami kepada seluruh Rakyat Bali yang berjuang di manapun, termasuk solidaritas dari seluruh masyarakat baik, di nasional, regional, maupun internasional. Terima kasih kepada insan pers yang selama ini bersedia mengabarkan seluruh advokasi penolakan reklamasi Teluk Benoa walaupun situasinya sangat berat.

Kemenangan ini adalah kemenangan milik semua pejuang, bukan hanya di Bali tetapi pada seluruh pejuang yang sedang mempertahankan hak hidup dan masa depan mereka. Kemenangan ini bukan akhir dari perjuangan tetapi ini adalah pemantik agar setiap orang terus-menerus menjaga alam demi kehidupan yang lebih baik. Terima kasih. [b]

The post Gagalnya Reklamasi adalah Kemenangan Rakyat Bali appeared first on BaleBengong.

Lima Tahun Diam, Gubernur Bali Justru Diberi Penghargaan

Lima tahun penolakan reklamasi Teluk Benoa tidak juga membuat Pemprov Bali bersikap.

Baik Gubernur Bali maupun DPRD Bali tidak pernah mengambil sikap apapun untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa. Padahal, sejak lima tahun bergulirnya, masyarakat Bali terus melawan pemaksaan rencana tersebut.

Tidak adanya ketegasan sikap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang berpihak kepada rakyat Bali telah menyuburkan pembungkaman terhadap aspirasi rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Pada Sabtu, 25 Agustus 2018, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali melakukan aksi demonstrasi.

Aksi kali ini merupakan momentum bagi masyarakat Bali dalam memberikan sebuah penghargaan atau rekor kepada Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Selama lima tahun menjadi Gubernur Bali, Pastika hanya pasif. Tidak peduli dan mendengarkan aspirasi rakyat dalam upaya menolak reklamasi Teluk Benoa.

Dalam aksi kemarin, Gubernur Bali pun diberikan penghargaan bahwa telah didemontrasi oleh rakyatnya sendiri selama lebih dari lima tahun sedari dilantik menjadi Gubernur hingga mau purna jabatan.

Wayan Gendo Suardana koordinator ForBALI mengatakan bahwa Made Mangku Pastika patut mendapatkan piagam penghargaan ini sebab sepanjang sejarah, hanya dialah Gubernur yang didemo sedari dilantik menjadi Gubernur bali, hingga akan habis jabatannya.

“Penghargaan ini patut kita berikan agar gubernur selanjutnya tidak melakukan hal sama,” pungkasnya.

Izin Habis

Setelah lima tahun berjuang memastikan batalnya reklamasi Teluk Benoa, Rakyat Bali akhirnya sampai pada titik akhir perjuangan, 25 Agustus 2018. Tanggal itu bertepatan dengan habisnya masa berlaku izin lokasi reklamasi yang dipegang oleh investor.

Gendo menjelaskan bahwa hal tersebut bermula pada 25 Agustus 2014 silam. Saat itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan izin lokasi reklamasi Teluk Benoa kepada investor, PT. Tirta Wahana Bali International (PT. TWBI).

Izin lokasi reklamasi ini diterbitkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu yaitu Sharif Cicip Sutarjo pasca terbitnya Perpres Nomor 51 Tahun 2014 yang diterbitkan Presiden kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Izin lokasi reklamasi Teluk Benoa yang dipegang PT. TWBI saat ini, masa berlakunya hingga 25 Agustus 2016. Setelah melewati perpanjangan pada 2016 silam yang sempat diperpanjang oleh menteri Susi Pudjiastuti, izin lokasi reklamasi Teluk Benoa berlaku hingga 25 Agustus 2018.

Gendo juga menambahkan bahwa proses penyusunan dan penilaian AMDAL reklamasi Teluk Benoa milik PT. TWBI dapat dilakukan jika izin lokasinya masih berlaku. Sedangkan batas akhir izin lokasi reklamasi Teluk Benoa milik PT.TWBI adalah 25 Agustus 2018.

“Jika pada 25 Agustus 2018 ini, AMDAL tidak lulus kelayakan, izin lingkungan tidak terbit, dan masa berlaku izin lokasi reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI habis, maka secara hukum hal itu berarti proyek reklamasi PT. TWBI otomatis batal dan Teluk Benoa menang,” imbuhnya.

Dalam aksi puncak lima tahun perjuangan melawan rencana reklamasi Teluk Benoa, ForBALI juga menyatakan sikap sekaligus tuntutannya.

Pertama, per tanggal 25 Agustus 2018 tidak ada lagi kegiatan penilaian AMDAL karena hari ini masa berlaku izin lokasi reklamasi Teluk Benoa milik PT. TWBI sudah habis.

Kedua, meminta Presiden Republik Indonesia Cq Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia mengumumkan secara terbuka dan tertulis bahwa status AMDAL reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI tidak layak.

Ketiga, meminta Presiden Republik Indonesia agar melakukan upaya hukum dan politik untuk mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi dengan membatalkan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014.

Keempat, meminta Gubernur dan Wakil Gubernur Bali terpilih untuk menghentikan manuver politik yang meresahkan rakyat Bali dan bekerja sungguh-sungguh untuk memastikan Teluk Benoa benar-benar aman dari ancaman reklamasi yang merusak fungsi-fungsi konservasinya.

Kelima, menyerukan kepada seluruh masyarakat Bali yang selama ini bekerja keras, berjuang dan mengorbankan segala kepentingan pribadinya untuk bersatu padu dan tidak terpengaruh manuver elite politik yang berusaha menelikung agenda-agenda gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Keenam, menyerukan kepada masyarakat pejuang Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa untuk tetap waspada di puncak perjuangan lima tahun ini agar siaga sampai 25 Agustus 2018, setelahnya dapat merayakan kemenangan. Pada 25 Agustus 2018, tidak ada pilihan lain selain memenangkan Teluk Benoa. Oleh karena itu, maka harus dipastikan Teluk Benoa Menang. [b]

The post Lima Tahun Diam, Gubernur Bali Justru Diberi Penghargaan appeared first on BaleBengong.

Jelang 25 Agustus Baliho BTR Terus Bertambah

Izin Lokasi reklamasi Teluk Benoa segera berakhir.

Menjelang berkhirnya izin lokasi reklamasi milik PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) pada 25 Agustus 2018 nanti, berbagai elemen masyarakat di Bali terus bersikukuh menentang proyek reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa.

Hal itu terlihat dari antusiasme komunitas maupun desa adat di Bali untuk mendirikan baliho penolakan reklamasi yang tiap hari saling susul-menyusul dan berlipat ganda.

Bagai bara api yang disiram bensin, setiap hari pendirian baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan imbauan habisnya izin lokasi reklamasi milik investor yang akan memasuki batas akhir pada 25 Agustus 2018 mendatang saling susul-menyusul dan berlipat ganda. Aksi itu menjadi momentum puncak dari gerakan rakyat yang terus bergerak selama lima tahun melawan proyek rakus tersebut.

Antusiasme ini menjadi pertanda jelas bahwa masyarakat Bali siap memenangkan Teluk Benoa.

Pada Rabu, 22 Agustus 2018, pendirian baliho penolakan reklamasi dilakukan oleh Forum Generasi Pemuda Kusamba Klungkung. Mereka memasang baliho berukuran 3×4 meter di Jalan ByPass Kusamba Lingkungan Desa Pekraman Kusamba dan di Jln Raya Kusamba, Desa Pekraman Kusamba.

Koordinator pemasangan I Ketut Agus Susanto menjelaskan bahwa Generasi Muda Kusamba dengan tegas menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa karena Bali tidak butuh pulau buatan. Bali dikenal dengan adat dan budayanya. Selain itu Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi dan kawasan suci bagi masyarakat Hindu pada umumnya dan sangat tidak layak untuk direklamasi.

Agus mengatakan reklamasi Teluk Benoa sangat berpotensi untuk menyebabkan bencana ekologis akut yang dapat menyebabkan abrasi di sepanjang pantai di Bali timur. “Jadi, bagi kami Generasi Muda Kusamba tolak reklamasi Teluk Benoa ialah harga mati untuk mencegah kerusakan lingkungan di Bali,” pungkasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Forum Pemuda Batubulan Gianyar. Mereka mendirikan baliho berukuran 4×2 meter di pertigaan patung barong Batubulan sekitar pukul 19:30 WITA Selasa kemarin.

I Kadek Yuliana Putra selaku koordinator aksi pemasangan baliho mengatakan pemasangan baliho tersebut merupakan bentuk imbauan kepada masyarakat luas bahwa 25 Agustus merupakan batas akhir dari izin lokasi reklamasi yang dimiliki investor.

Dia menegaskan bahwa 25 Agustus 2018, izin lokasi akan habis, AMDAL akan tumbang dan otomatis Teluk Benoa akan menang.

Marak dan Serentak

Sebelumnya di Desa Pakraman keramas juga warga mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Lokasinya di pintu masuk Desa Keramas, tepatnya di pertigaan Jalan Selukat. Aksi pemasangan baliho berukuran 3×5 meter tersebut dilakukan pada Selasa, 22.30 Wita dan dikoordinatori oleh Gede Supartha.

Supartha mengatakan Desa Pakraman Keramas konsisten mendukung gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa bersama ForBALI dan siap memenangkan Teluk Benoa.

Begitu pula di Desa Adat Sanur. Baliho penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa juga didirikan oleh Semeton Buruwan Sanur Kaja di Jalan Danau Beratan tepatnya di depan Banjar Buruwan Sanur Kaja.

Setiap hari baliho-baliho penolakan terhadap rencana reklamasi semakin marak berdiri secara serentak. Hal ini karena 25 Agustus sudah dekat dan pada tanggal tersebut merupakan batas akhir izin lokasi reklamasi yang dimiliki pemrakarsa yang dalam hal ini PT. TWBI.

Baliho-baliho terus berdiri sebagai bentuk konsistensi penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa dan imbauan bahwa tanggal 25 Agustus 2018 mendatang izin lokasi akan habis dan AMDAL dinyatakan tidak layak, maka otomatis rencana reklamasi di Teluk Benoa batal.

Pemasangan baliho ini juga merupakan respon balasan terhadap perusakan baliho oleh oknum tak bertanggung jawab. “Semoga oknum yang merusak baliho tolak reklamasi Teluk Benoa kami ini tahu, kami ini serius untuk memenangkan Teluk Benoa. Jangan anggap remeh komitmen Desa Adat Kelan untuk memenangkan Teluk Benoa,” ujar Koordinator aksi pemasangan baliho, Ketut Sukadana di Desa Kelan, Badung. [b]

The post Jelang 25 Agustus Baliho BTR Terus Bertambah appeared first on BaleBengong.

Cara Unik Melawan Perobek Spanduk Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Inilah cara unik dan efisien untuk mendidik publik dari ForBALI. Mereka membalas perusakan (lagi) sedikitnya empat spanduk di pinggir jalan dari desa adat ini dengan melempar balik umpannya.

Spanduk-spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa kembali dirusak, dan belum ada yang ditindak. Baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang dirobek secara senyap tersebut, secara serentak ditambal oleh masyarakat masing-masing desa adat dengan tulisan yang pada intinya memberikan pesan bahwa baliho tersebut telah dirobek karena menolak reklamasi Teluk Benoa. Desa adat yang melakukan aksi tersebut adalah Desa Adat Kepaon, Desa Adat Jimbaran, dan Desa Adat Sumerta.

Nyoman Sudiartika perwakilan Desa Adat Jimbaran tolak reklamasi Teluk Benoa, menegaskan bahwa penambalan baliho yang dirobek tersebut dilakukan secara spontan dan menggunakan dana urunan dari masyarakat Desa Adat Jimbaran. Lebih lanjut, Sudiartika menambahkan aksi penambalan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang dirobek tersebut membawa pesan kepada masyarakat yang melintasi simpang Universitas Udayana Jimbaran, agar tau bahwa telah terjadi perusakan terhadap baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat Jimbaran. “Kita sengaja membiarkan untuk dilihat masyarakat umum bahwa itulah yang terjadi terhadap penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa. Itu pesan kita kepada masyarakat umum, kita tetap melawan, menolak rencana reklamasi Teluk Benoa,” tegasnya.

Perwakilan masyarakat Desa Adat Kepaon, Kadek Susila menerangkan bahwa penambalan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang disobek tersebut, adalah respon spontan dari masyarakat Desa Adat Kepaon. Lebih lanjut, dana yang digunakan untuk menambal baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang disobek tersebut adalah berasal dana kolektif. “Iya Benar, dananya berasal dari dana kolektif”, terangnya.

Susila juga menegaskan bahwa penambalan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa yang disobek tersebut, untuk menunjukkan kepada oknum yang merobek baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa adat Kepaon agar tau bahwa sikap Desa Adat Kepaon menolak rencana reklamasi Teluk Benoa adalah sikap yang serius. “Jadi biar orang yang merobek itu tau kalau kita tidak berjuang setengah-setengah. Kita terus melawan rencana reklamasi Teluk Benoa. Kita kerus berjuang sampai rencana reklamasi Teluk Benoa benar-benar dibatalkan,” tegasnya.

Perwakilan Desa Adat Sumerta, I Wayan Murdika menerangkan aksi penambalan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat sumerta membawa pesan, bahwa Desa Adat Sumerta mengutuk aksi perobekan baliho tersebut. Murdika pun mengingatkan kepada oknum yang merobek baliho tersebut, bahwa karma menghantui oknum tersebut. “Ingat karmamu menunggu bagi yg merobek baliho tolak reklamasi Teluk Benoa kami,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Murdika pun menjelaskan setelah aksi penambalan baliho ini, Desa Adat Sumerta akan melakukan penambahan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa dalam waktu dekat sebagai komitmen untuk memenangkan Teluk Benoa. “Rencana kita ada penambahan-penambahan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa, itu adalah pesan bahwa semakin kita dikekang, kita semakin semangat untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.”

Dihubungi secara terpisah, Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI), menerangkan bahwa penambalan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat yang dirobek secara senyap adalah sindiran terhadap penguasa atas jaminan kebebasan berekspresi yang sudah dijamin oleh konstitusi. “Memang sebaiknya perusakan baliho ini dibalas santai saja. Cukup dengan tempelan spanduk sebagai bentuk sindiran atas buruknya jaminan keamanan dan kebebasan ekspresi,” terangnya.

The post Cara Unik Melawan Perobek Spanduk Tolak Reklamasi Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Perusakan Baliho Tolak Reklamasi Terjadi Lagi

Perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di Sesetan Denpasar. Foto ForBALI.

Aksi perobekan baliho tolak reklamasi secara serentak kembali terjadi.

Perusakan baliho tersebut dilakukan dengan cara merobek dan erat kaitannya di mana izin lokasi reklamasi Teluk Benoa PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) akan berakhir pada 25 Agustus 2018. Perobekan secara senyap tersebut terjadi di Desa Adat Kepaon, Desa Adat Kelan, Desa Adat Jimbaran, Desa Adat Bualu dan Desa Adat Sumerta.

Pemuda Desa Adat Kepaon, Kadek Susila mengatakan bahwa perobekan baliho yang terjadi berjumlah tiga baliho di sepanjang jalan By Pass Ngurah Rai Suwung. Lebih lanjut, Susila menjelaskan sudah terjadi dua puluh kali aksi perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di Desa Adat Kepaon.

Susila pun menegaskan bahwa perobekan baliho tolak reklamsi Teluk Benoa merupakan suatu intimidasi mengungkapkan pendapat di muka umum. Susila pun mengajak seluruh barisan tolak reklamasi Teluk Benoa untuk tidak takut terhadap intimidasi tersebut.

“Jangan takut, kalau dirobek bikin lagi dan pasang lagi. Kita harus tetap berjuang hingga Perpres Nomor 51 Tahun 2014 tersebut dibatalkan,” tegasnya.

Perwakilan masyarakat Desa Adat Jimbaran, Nyoman Sudiartika menjelaskan perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa Desa adat Jimbaran terjadi di simpang Kampus Universitas Udayana Jimbaran. Sudiartika menerangkan bahwa perobekan baliho tersebut dilakukan oleh orang-orang terlatih, karena di simpang Universitas Udayana Jimbaran tersebut telah terpasang kamera CCTV.

“Jika dicek di simpang Unud Jimbaran sudah terpasang CCTV, dan mereka berani melakukan hal seperti itu. Saya pikir mereka adalah orang-orang terlatih,” jelasnya.

Sudiartika pun menegaskan bahwa penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa harus terus disuarakan sampai Perpres Nomor 51 Tahun 2014 dibatalkan. “Saya yakin bahwa pemasangan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa sudah berada di jalan yang benar karena mereka yang merusak baliho tersebut melakukan secara diam-diam. Itu sudah menjadi keyakinan kita untuk terus bergerak,” tegasnya.

Ketut Sukadana, Perwakilan Masyarakat Desa Adat Kelan mengecam aksi perusakan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat Kelan yang sudah terjadi tujuh kali di tempat sama. Lokasi perobekan baliho tersebut tepatnya di dekat Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Kelan.

Ia pun meyakini bahwa aksi perobekan baliho serentak ini adalah upaya-upaya untuk meredam suara rakyat yang telah siap untuk memenangkan Teluk Benoa. Sukadana pun menegaskan bahwa komitmen Desa Adat Kelan Sudah Bulat, tidak bisa diganggu gugat dan siap dengan segala risiko menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

“Desa Adat Kelan sudah berkomitmen untuk menolak reklamasi di kawasan suci Teluk Benoa. Apapun risiko dari perjuangan ini Desa Adat Kelan siap menghadapi,” tegasnya.

I Nyoman Sueta, Koordinator Bualu Tolak Reklamasi Teluk Benoa menyampaikan perobekan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa milik Desa Adat Bualu yang terpasang di Catus Pata Desa Adat Bualu. Sueta pun menyayangkan aksi perobekan baliho tersebut dan dia menegaskan Desa Adat Bualu tetap konsisten untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

“Robek satu akan muncul lagi seribu. Kami sudah siapkan semua baliho yang akan kami pasang,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Adat Bualu dan Kepala Lingkungan Banjar Penyarikan, Desa adat Bualu.

Desa Adat Sumerta juga menjadi sasaran perobekan baliho tolak rekalamasi Teluk Benoa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. I Wayan Murdika Kepala Dusun Banjar Peken Desa Adat Sumerta yang juga Ketua BAMPER Sumerta sangat menyayangkan dan mengecam terjadinya lagi pengrusakan baliho BTR.

“Baliho-baliho yang warga dirikan adalah wujud aspirasi masyarakat desa kami. Sungguh perbuatan yang tidak dapat diterima akal sehat. Kami tidak akan menyerah. Kami akan segera dirikan baliho baru,” tegasnya.

Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) Wayan Gendo Suardana menyatakan situasi ini seperti komedi. Baru beberapa waktu politisi di Bali menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa, tetapi ternyata tidak menjamin aspirasi warga aman dari intimidasi.

“Sungguh lucu. Baru saja Bali melewati proses politik dan semua politisi berikut partai politik yang eksis di Bali menyatakan sikapnya menolak reklamasi Teluk Benoa ternyata sekarang baliho aspirasi warga sudah rusak parah,” katanya.

Sembari tertawa Gendo menyindir satire kondisi ini. “Ini situasi paradoks dan menggelikan. Rakyat ternyata tetap harus berjuang sendiri dari berbagai tekanan. ForBALI tentu akan segera menyikapi dengan menyerukan perlawanan serentak terhadap pelecehan ini,” tegasnya. [b]

The post Perusakan Baliho Tolak Reklamasi Terjadi Lagi appeared first on BaleBengong.