Tag Archives: teluk benoa

Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa

Aksi Parade Budaya menolak rencana reklamasi pada 26 Mei 2018. Foto ForBALI.

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali turun ke jalan.

Tiga bulan menjelang izin lokasi reklamasi PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) berakhir pada 25 Agustus nanti, ribuan aktivis ForBALI kembali menggelar aksi depan kantor Gubernur Bali. Aksi tolak reklamasi dimulai dengan pawai dari parkir timur lapangan Renon, mengitari lapangan Niti Madala, menuju Bajra Sandhi, lalu sampai di kantor Gubernur Bali.

Di tengah situasi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Bali Juni nanti, antusias massa untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak surut. Hal itu terlihat dari ribuan massa aksi yang ikut dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa.

Selama parade budaya, massa aksi kembali membawa lelancingan bertuliskan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa – On Fire” yang diusung di atas kepala saat melakukan pawai. Orasi-orasi dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa juga diramaikan perwakilan dari Sukawati, Ubud, Tabanan, Sumerta, Kesiman, dan Renon.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa jika pada 25 Agustus 2018 rencana reklamasi Teluk Benoa batal, maka itu bukan karena Gubernur Bali yang terpilih, batalnya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah karena gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau suatu saat ada Gubernur yang menang dan habis menang bersurat kepada presiden, lalu 25 Agustus 2018 proyek ini batal, jangan berpikir bahwa itu gara-gara Gubernur yang baru. Kalau 25 Agustus 2018 izin lokasi berakhir, maka tidak ada urusan siapapun yang menghentikan kecuali adalah gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Gendo melanjutkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) rencana reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI tidak lolos di Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) karena rakyat Bali terus menolak rencana tersebut dengan melakukan demo, diskusi, menggelar konser mini, mendirikan baliho, mengibarkan bendera, memakai baju tolak reklamasi Teluk Benoa hingga dikriminalisasi karena menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Untuk itu Gendo mengajak untuk terus menggelar aksi-aksi tolak reklamasi Teluk Benoa karena perjuangan ini sudah benar dan agar Pemerintah Pusat tahu bahwa rakyat Bali Terus bergerak untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. “Kita berjuang untuk komitmen menyelamatkan Teluk Benoa. Kita sudah berbicara puputan, maka lakukanlah seperti orang yang siap puputan, kita harus tetap kuat,” tegasnya.

Parade Budaya tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini dimeriahkan oleh penampilan Band The Bullhead. Massa aksi menikmati alunan lagu dari band tersebut dengan riang gembira, setelah penampilan band The Bullhead usai, massa aksi kembali menuju parkir timur lapangan Renon dengan tertib sembari memungut sampah.

Aksi bersih-bersih pantai Sanur oleh Komunitas Leak Sanur 22 Mei 2018. Foto ForBALI.

Tak Hanya Aksi

Tak hanya aksi parade budaya, penolakan oleh ForBALI yang sudah berjalan sekitar lima tahun ini juga dilakukan dalam bentuk aksi bersih-bersih lingkungan ataupun pantai.

Empat hari sebelumnya, pada Selasa, 22 Mei 2018, Leak Sanur, basis gerakan Bali Tolak Reklamasi di wilayah Sanur menggelar kegiatan bersih-bersih pantai atau beach clean up.

I Wayan Hendrawan, Koordinator Leak Sanur menyatakkan bahwa kegiatan beach clean up memang rutin mereka lakukan hampir setiap minggu. Selain menjaga kebersihan pantai, kegiatan itu juga untuk menggugah kesadaran masyarakat dan pengunjung pantai agar senantiasa menjaga kebersihan.

Lebih lanjut Apel, panggilan akrabnya, menjelaskan upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan bergotong royong bersih-bersih lingkungan tapi juga berani melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan rakus yang dapat merusak lingkungan kita.

Tak hanya warga Sanur, beberapa turis asing juga ikut memungut sampah saat aksi bersih-bersih pantai tersebut.

I Ketut Ariawan, salah seorang peserta mengatakan pemuda Sanur memiliki beberapa komunitas yang rutin melakukan kegiatan beach clean up untuk menjaga pantai.

“Kami juga turut aktif dalam aksi-aksi demo menolak reklamasi Teluk Benoa,” jelasnya.

Pendirian Baliho oleh Forum Pemuda Karangasem dan Pemuda Geriana Kauh, 20 Mei 2018. Foto ForBALI.

Bangkit Melawan

Sebelumnya, pada 20 Mei lalu, ketika Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, aktivis ForBALI di Renon dan Karangasem juga melakukan aksi menolak reklamasi.

Pemuda Desa Adat Renon mengibarkan bendera ForBALI berukuran 8 x 6m pada tengah malam sekitar pukul 23.00 WITA. Mereka memasang bendera raksasa itu di Jl. Raya Puputan tepat di seberang Plaza Renon, jalur masuk menuju kawasan kantor pemerintahan Provinsi Bali.

I Gede Eka Suputra, koordinator kegiatan malam itu menjelaskan sebuah perjuangan membutuhkan semangat persatuan dan kesatuan. “Semangat itu harus terus dibangkitkan dalam perjuangan panjang ini,” ujar Eka panggilan akrabnya.

Di tempat berbeda pada hari yang sama, Forum Pemuda Karangasem (FPK) bersama pemuda Banjar Geriana Kauh, Desa Duda Utara juga kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Baliho 3 x 2 meter itu didirikan di pertigaan Banjar Bangbang Biaung, Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Kabupaten Karangasem merupakan daerah jauh dari Teluk Benoa dan tidak terdampak apabila Teluk Benoa direklamasi. Namun, semangat pemuda Karangasem yang tergabung dalam FPK ini menandakan bahwa solidaritas penyelamatan lingkungan sangatlah tinggi.

Koordinator FPK I Komang Subagiarta mengatakan walaupun berada di pegunungan dan jauh dari Teluk Benoa tetapi sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab sebagai pemuda Bali, mereka akan tetap konsisten menyatakan dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa. “Sesuai konsep Nyegara Gunung, kami memahami bahwa antara laut dan gunung adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Setiap tindakan di gunung akan berdampak pada laut, dan sebaliknya,” ujarnya.

Subagiarta menambahkan tahun 2018 merupakan tahun penentuan bagi habisnya masa berlaku dari izin lokasi milik investor yang ingin mereklamasi Teluk Benoa. Karena itu, menurutnya, mereka akan terus bergerak dan bertahan. “Teluk Benoa harus menang,” imbuhnya.

Sebelumnya pada hari yang sama FPK bersama WALHI Bali, ForBALI dan Frontier Bali melakukan aksi solidaritas terhadap pengungsi Gunung Agung. Mereka mendistribusikan sejumlah bahan logistik berupa obat-obatan, sembako, pakaian balita, dan keperluan MCK kepada pengungsi di Posko Pengungsi Banjar Tegeh, Desa Amertha Buana, Kabupaten Karangasem. [b]

The post Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Darah Muda WALHI Bali untuk Menangkan Teluk Benoa

Direktur WALHI Bali terpilih menegaskan sikap menolak reklamasi Teluk Benoa. Foto WALHI Bali.

WALHI Eksekutif Daerah Bali punya pemimpin baru.

I Made Juli Untung Pratama terpilih sebagai Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bali untuk periode 2018 – 2022 menggantikan Suriadi Darmoko, Direktur Eksekutif WALHI Bali periode 2014 – 2018. Pergantian direktur akan menjadi kekuatan baru perjuangan WALHI Bali untuk memperjuangkan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

Untung Pratama, yang lebih akrab dipanggil Topan, terpilih sebagai direktur eksekutif dalam Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH), rapat tertinggi WALHI Bali setiap empat tahun sekali pada Jumat (9/3). Selain pergantian pengurus, PDLH tersebut juga menyusun program kerja organisasi, salah satunya adalah menjaga komitmen dan konsistensi untuk memenangkan Teluk Benoa.

WALHI Bali merupakan bagian dari WALHI Nasional, yang didirikan pada 1996 oleh organisasi masyarakat sipil dan individu-individu yang peduli terhadap persoalan lingkungan hidup di Bali. WALHI Bali ikut berperan untuk memempromosikan kesadaran lingkungan hidup melalui Pendidikan, advokasi kebijakan, kampanye lingkungan hidup, pengorganisasian rakyat dan protes-protes sosial lainnya.

WALHI Bali juga merupakan bagian dari aliansi Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI), yang terus melakukan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sejak lima tahun lalu sampai hari ini. Memasuki tahun kelima gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang merupakan tahun penentuan di mana 25 Agustus 2018 adalah batas waktu izin lokasi reklamasi yang dipegang PT. TWBI, WALHI Bali mengajak rakyat Bali untuk terus berjuang bersama memenangkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi.

Merayakan pergantian pimpinan baru, WALHI Bali juga menggelar konser musik dengan tema “WALHI Memanggil: Ayo Menangkan Teluk Benoa”. Konser digelar di Kulidan Kitchen & Space, Jl Salya, Banjar Wangbung, Guwang, Sukawati, Gianyar pada Sabtu (10/3).

Acara yang dimulai sejak Pukul 17.00 WITA, menampilkan beberapa band yang selama ini aktif menyuarakan penyelamatan lingkungan diantaranya Advark, Prison & Guns, Cyclops, Racun Timur Menggoda dan Geekssmile.

Suriadi Darmoko Direktur Eksekutif WALHI Bali 2014-2018 menjelaskan bahwa pemilihan tema WALHI Memanggil: Ayo Menangkan Teluk Benoa adalah sebuah ajakan bagi seluruh komponen rakyat Bali untuk ikut menolak rencana reklamasi Teluk Benoa yang izinnya akan berakhir pada 25 Agustus 2018.

“Tagline memanggil ini memang sekarang banyak ada apalagi di tahun-tahun politik. Namun, sebelum tahun politik ini, WALHI sudah menggunakan tagline tersebut. WALHI memanggil adalah seruan dan ajakan dari WALHI Bali untuk kepada kita semua untuk terus berjuang tetap fokus memenangkan Teluk Benoa di tahun 2018 ini,” jelasnya.

I Made Juli Untung Pratama, Direktur Eksekutif WALHI Bali periode 2018-2022, dalam orasi politiknya menegaskan bahwa selama lima tahun sudah WALHI Bali bersama rakyat Bali ikut menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan bersama rakyat bali mengalami intimidasi, kriminalisasi, dan kekerasan karena menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, itu membuktikan bahwa WALHI Bali merupakan bagian dari rakyat. Tanpa partisipasi rakyat WALHI Bali bukan apa-apa.

“WALHI Bali adalah rumah bagi kita semua, rumah bagi kita yang memiliki mimpi, cita-cita, dan ingin mewujudkan lingkungan hidup yang adil dan lestari bagi generasi kita nanti. Tanpa partisipasi rakyat, WALHI bukan apa-apa,” tegasnya.

Topan menambahkan pergantian kepengurusan di WALHI Bali tidak mengubah komitmen dan konsistensi WALHI dalam menolak reklamasi. Sebaliknya, pergantian pengurus ini justru menguatkan sikap kami dan kami akan terus bergandengan tangan bersama kawan-kawan di ForBALI.

“WALHI Bali memanggil seluruh komponen rakyat Bali untuk terus berjuang bersama memenangkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi,” ujarnya lugas.

Konser musik, WALHI Memanggil: Ayo Menangkan Teluk Benoa, selain untuk terus menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, acara ini diadakan dalam rangka pergantian kepemimpinan di WALHI Bali.

Panggung seni oleh WALHI Bali selain diisi band, acara tersebut juga dimeriahkan oleh dengan lapak perpus zine dan cetak cukil dari komunitas Pena Hitam. Setelah performa band terakhir Geekssmile, acara dilanjutkan dengan performa Pena Hitam Dance Club yang mengajak seluruh warga yang hadir untuk menikmati malam akhir pekan tersebut. [b]

The post Darah Muda WALHI Bali untuk Menangkan Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Pemuda Lembongan dan Geriana Kauh Terus Gelorakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Ketika kelompok muda tak lelah suarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa dan minta Gubernur Bali tak menerbitkan rekomendasi bagi TWBI.

Pemuda Giriana Kauh, Karangasem kembali ke desa setelah status Gunung Agung turun dan menaikkan baliho tolak reklamasi.

Setelah kembali ke desa karena penurunan aktivitas Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, sejumlah pemuda yang tergabung dalam Batu Lumbang Community (BLC) Banjar Geriana Kauh Desa Selat Duda Utara, Kecamatan Selat Duda, Karangasem, pada 11 November 2017 mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa di perbatasan Desa.

I Komang Suparta, salah seorang pemuda yang ikut serta dalam pendirian baliho tersebut, menyampaikan bahwa walaupun mereka berada di daerah pegunungan, mereka juga turut menyuarakan penolakan reklamasi karena rencana reklamasi Teluk Benoa tidak saja akan merusak daerah pesisir di Teluk Benoa saja namun memberikan dampak negatif pada Pulau Bali secara keseluruhan.

Sedangkan Ketua Batu Lumbang Comunity (BLC) I Ketut Darmayasa, menjelaskan kegiatan yang mereka lakukan sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap alam dan sosial budaya Pulau Bali ke depannya serta tetap waspada terhadap manuver  pro reklamasi. “Inilah bentuk kepedulian kami dari pegunungan, di tengah-tengah kesiagaan terhadap aktivitas Gunung Agung, kita harus tetap waspada terhadap manuver-manuver mereka serta kami juga meminta agar Gubernur Bali tidak menerbitkan surat rekomendasi untuk TWBI,” jelasnya lebih lanjut.

Gerakan Lembongan

Sekaa Teruna Karya Bhakti di Lembongan dalam HUT

Memperingati HUT ke-37 pada tanggal 10 November 2017, para pemuda adat yang tergabung di dalam STT. Karya Bhakti, Banjar Kaja Desa Lembongan menggelar pementasan kesenian tradisional dan panggung musik.

Banjar Kaja, Desa Lembongan teletak di Pulau Nusa Lembongan yang berada di gugusan kepulauan Nusa Penida. Secara administrasi, Pulau Lembongan terletak di Kabupaten Klungkung, Bali. Peringatan ulang tahun juga bertepatan dengan pelantikan pengurus baru STT. Karya Bakti yang dihadiri oleh seluruh perangkat desa dan termasuk juga Bupati Klungkung.

Di lokasi acara peringatan ulang tahun sekaligus pelantikan pengurus baru tersebut, atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa bertebaran. Hal tersebut tidak lepas dari sikap mereka yang hingga saat ini menolak reklamasi Teluk Benoa.

Ketua STT. Karya Bhakti I Ketut Miskantara, menjelaskan, pemasangan atribut-atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa sebagai pesan bahwa warga masyarakat Banjar Kaja tetap konsisten dalam menolak reklamasi Teluk Benoa. Dalam kesempatan itu, ia  pun mendesak pemerintah daerah Bali dalam hal ini Gubernur Bali untuk tidak memberikan rekomendasi kepada PT. TWBI. “Kami, para pemuda Lembongan tetap konsisten dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa dan meminta Bapak Gubernur tidak terbitkan rekomendasi kepada TWBI,” tegasnya.

Penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh para pemuda juga mendapatkan dukungan penuh dari Kelian Dinas Banjar Kaja. Kelian  mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan para pemudanya.

Menurutnya dalam menghadapi kemajuan yang terjadi di Lembongan para pemuda dan pemudi tetap melestarikan seni budaya. Ia bahkan menyampaikan kebanggaannya terhadap para pemuda atas konsistensinya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa. “Paruman Banjar telah secara resmi menyatakan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa sehingga kita wajib melaksanakannya secara konsisten,”tegas I Ketut Saputra.

Selain dimeriahkan dengan atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa, dihadapan para undangan, lagu Bali Tolak Reklamasi yang menjadi simbol perjuangan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa juga dikumandangkan oleh musisi yang tergabung di dalam Muara Senja Band.

The post Pemuda Lembongan dan Geriana Kauh Terus Gelorakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi

Penampilan SID dalam aksi tolak reklamasi Teluk Benoa pada 24 Oktober 2017. Foto ForBALI.

Karena Gubernur Bali juga punya peran dalam membatalkan rencana reklamasi.

Saat masyarakat Bali masih fokus bersolidaritas pada masyarakat yang terkena efek peningkatan aktivitas Gunung Agung, beredar surat permohonan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa. Surat dari pihak investor PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) itu ditujukan kepada Gubernur Bali. Investor meminta agar Gubernur Bali memberikan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Menyikapi hal itu, ribuan massa aksi dari Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa bersama Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali mendatangi kantor Gubernur Bali pada Selasa, 24 Oktober 2017. Aksi dilakukan untuk mendesak Gubernur Bali agar tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana menjelaskan jika aksi tersebut merupakan salah satu pemberitahuan kepada rakyat Bali bahwa persoalan reklamasi Teluk Benoa, bukan semata-mata urusan pusat, tetapi juga merupakan urusan Gubernur Bali. Selama ini Gubernur Bali mengatakan bahwa urusan reklamasi adalah urusan pusat.

“Itu tidak benar. Sebab Gubernur Bali juga memiliki kewenangan, setidak-tidaknya untuk menerbitkan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa”, ujarnya.

Gendo menjelaskan, untuk mengajukan izin pelaksanaan reklamasi, investor selain menyertakan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL) dan berbagai persyaratan lainnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28/Permen-KP/2014 pasal 14 ayat (3) huruf j, pemrakarsa harus melengkapi persyaratan teknis yaitu harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur.

Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, PT. TWBI harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari Gubernur Bali agar dapat mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa. Fakta tersebut jelas menunjukan bahwa Gubernur Bali Made Mangku Pastika memiliki kewenangan dalam urusan reklamasi Teluk Benoa.

“Jika dia membantah bahwa kita selama ini mendemo Gubernur Bali Made mangku Pastika dan mengatakan bahwa kita demo salah alamat, maka itu merupakan kekeliruan terbesar dari Made Mangku Pastika, dari sekian banyak kekeliruan yang dia lakukan”, ujarnya.

Gendo menambahkan pada prinsipnya ForBALI akan mendesak Gubernur Bali agar menjadi gubernurnya rakyat yang juga bersikap menolak reklamasi dengan tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Sementara itu, Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Wayan Swarsa turun ke jalan bersama rakyat dan dengan semangat yang sama untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurutnya aksi massa berulang-ulang kali menjadi salah satu cara warga adat dalam berjuang dan beraspirasi dalam memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Seperti kita merayakan hari raya keagamaan di jagat Bali ini. Sepuluh kali putaran hari raya Galungan telah kita lalui. Apakah ada yang berubah dalam memaknai itu semua? tentu saja tidak ada yang berubah,” katanya.

Menurut Swarsa, hal yang sama pula terjadi dalam perjuangan ini, ketika kita ingin memperjuangkan alam dari kerakusan. Untuk kesekian kalinya, dengan semangat yang sama dan di tempat yang sama masyarakat adat kembali turun ke jalan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Tidak ada istilah kita untuk menyerah atau mundur setapak pun untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebab konsistensi merupakan hal mutlak dalam mempertahankan adat Bali dan Teluk Benoa,” pungkasnya.

Aksi di depan kantor gubernur ini juga dimeriahkan oleh musisi Superman Is Dead (SID) yang selalu konsisten bersama rakyat untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Konsistensinya dalam menolak reklamasi ini menyebabkan SID izin konser musiknya di Bali selalu dipersulit.

Tidak hanya itu, SID mengecam segala tindakan yang dilakukan oleh penguasa dan aparat terhadap atribut perjuangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Banyak orang yang diintimidasi saat menggunakan kaos atau bendera ForBALI.

“Apabila SID manggung izinnya sering dipersulit, pemerintah dan aparat masih terkesan paranoid dalam menyingkapi aspirasi masyarakat terkait penolakan reklamasi,” pungkasnya.

Dalam aksi tersebut, peserta aksi juga membacakan peryantaan sikap.

1. Mendesak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika untuk tidak mengeluarkan rekomendasi untuk Izin Pelaksanaan Reklamasi Teluk Benoa.

2. Menuntut Gubernur Bali dan DPRD Bali segera bersikap secara kelembagaan untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51 tahun 2014 dibatalkan dengan cara bersurat kepada Presiden agar Presiden segera membatalkan Perpres Nomor 51 tahun 2014 dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

3. Menuntut DPRD Bali segera menerbitkan rekomendasi kepada Gubernur Bali agar Gubernur Bali bersurat kepada Presiden untuk membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa sekaligus meminta Presiden membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014 sebagai pertanggungjawaban politik atas surat Gubernur Bali tanggal 23 Desember 2013 yang meminta pemerintah pusat mengubah kawasan konservasi Teluk Benoa menjadi kawasan pemanfaatan umum.

4. Meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden nomor 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA dengan memberlakukan kembali Perpres 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA. [b]

The post Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi appeared first on BaleBengong.

Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi

Penampilan SID dalam aksi tolak reklamasi Teluk Benoa pada 24 Oktober 2017. Foto ForBALI.

Karena Gubernur Bali juga punya peran dalam membatalkan rencana reklamasi.

Saat masyarakat Bali masih fokus bersolidaritas pada masyarakat yang terkena efek peningkatan aktivitas Gunung Agung, beredar surat permohonan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa. Surat dari pihak investor PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) itu ditujukan kepada Gubernur Bali. Investor meminta agar Gubernur Bali memberikan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Menyikapi hal itu, ribuan massa aksi dari Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa bersama Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali mendatangi kantor Gubernur Bali pada Selasa, 24 Oktober 2017. Aksi dilakukan untuk mendesak Gubernur Bali agar tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana menjelaskan jika aksi tersebut merupakan salah satu pemberitahuan kepada rakyat Bali bahwa persoalan reklamasi Teluk Benoa, bukan semata-mata urusan pusat, tetapi juga merupakan urusan Gubernur Bali. Selama ini Gubernur Bali mengatakan bahwa urusan reklamasi adalah urusan pusat.

“Itu tidak benar. Sebab Gubernur Bali juga memiliki kewenangan, setidak-tidaknya untuk menerbitkan rekomendasi izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa”, ujarnya.

Gendo menjelaskan, untuk mengajukan izin pelaksanaan reklamasi, investor selain menyertakan izin lokasi dan izin lingkungan (AMDAL) dan berbagai persyaratan lainnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28/Permen-KP/2014 pasal 14 ayat (3) huruf j, pemrakarsa harus melengkapi persyaratan teknis yaitu harus mendapatkan rekomendasi dari Gubernur.

Dalam kasus reklamasi Teluk Benoa, PT. TWBI harus mendapatkan rekomendasi terlebih dahulu dari Gubernur Bali agar dapat mengajukan izin pelaksanaan reklamasi di Teluk Benoa. Fakta tersebut jelas menunjukan bahwa Gubernur Bali Made Mangku Pastika memiliki kewenangan dalam urusan reklamasi Teluk Benoa.

“Jika dia membantah bahwa kita selama ini mendemo Gubernur Bali Made mangku Pastika dan mengatakan bahwa kita demo salah alamat, maka itu merupakan kekeliruan terbesar dari Made Mangku Pastika, dari sekian banyak kekeliruan yang dia lakukan”, ujarnya.

Gendo menambahkan pada prinsipnya ForBALI akan mendesak Gubernur Bali agar menjadi gubernurnya rakyat yang juga bersikap menolak reklamasi dengan tidak menerbitkan rekomendasi untuk izin pelaksanaan reklamasi Teluk Benoa.

Sementara itu, Koordinator Pasubayan Desa Adat/Pakraman Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Wayan Swarsa turun ke jalan bersama rakyat dan dengan semangat yang sama untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurutnya aksi massa berulang-ulang kali menjadi salah satu cara warga adat dalam berjuang dan beraspirasi dalam memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Seperti kita merayakan hari raya keagamaan di jagat Bali ini. Sepuluh kali putaran hari raya Galungan telah kita lalui. Apakah ada yang berubah dalam memaknai itu semua? tentu saja tidak ada yang berubah,” katanya.

Menurut Swarsa, hal yang sama pula terjadi dalam perjuangan ini, ketika kita ingin memperjuangkan alam dari kerakusan. Untuk kesekian kalinya, dengan semangat yang sama dan di tempat yang sama masyarakat adat kembali turun ke jalan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Tidak ada istilah kita untuk menyerah atau mundur setapak pun untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebab konsistensi merupakan hal mutlak dalam mempertahankan adat Bali dan Teluk Benoa,” pungkasnya.

Aksi di depan kantor gubernur ini juga dimeriahkan oleh musisi Superman Is Dead (SID) yang selalu konsisten bersama rakyat untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Konsistensinya dalam menolak reklamasi ini menyebabkan SID izin konser musiknya di Bali selalu dipersulit.

Tidak hanya itu, SID mengecam segala tindakan yang dilakukan oleh penguasa dan aparat terhadap atribut perjuangan rakyat dalam menyampaikan aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Banyak orang yang diintimidasi saat menggunakan kaos atau bendera ForBALI.

“Apabila SID manggung izinnya sering dipersulit, pemerintah dan aparat masih terkesan paranoid dalam menyingkapi aspirasi masyarakat terkait penolakan reklamasi,” pungkasnya.

Dalam aksi tersebut, peserta aksi juga membacakan peryantaan sikap.

1. Mendesak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika untuk tidak mengeluarkan rekomendasi untuk Izin Pelaksanaan Reklamasi Teluk Benoa.

2. Menuntut Gubernur Bali dan DPRD Bali segera bersikap secara kelembagaan untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51 tahun 2014 dibatalkan dengan cara bersurat kepada Presiden agar Presiden segera membatalkan Perpres Nomor 51 tahun 2014 dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

3. Menuntut DPRD Bali segera menerbitkan rekomendasi kepada Gubernur Bali agar Gubernur Bali bersurat kepada Presiden untuk membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa sekaligus meminta Presiden membatalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014 sebagai pertanggungjawaban politik atas surat Gubernur Bali tanggal 23 Desember 2013 yang meminta pemerintah pusat mengubah kawasan konservasi Teluk Benoa menjadi kawasan pemanfaatan umum.

4. Meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden nomor 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA dengan memberlakukan kembali Perpres 45 tahun 2011 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan SARBAGITA. [b]

The post Rakyat Bali Desak Pastika Tidak Terbitkan Rekomendasi appeared first on BaleBengong.