Tag Archives: Teknologi

How Secure Are You?

Tiada hari tanpa laptop. Tiap tarikan nafas pun tak lepas dari smartphone. 8 jam perhari tak lepas dari internet. Ini hasil survey pengguna internet Indonesia 2019 oleh hootsuite dan We Are Social. Sudahkah Anda aman (secure) dalam kegiatan digital itu?

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Memang nya aman dari ancaman siapa sih? Kalau di dunia jurnalis dan aktivis, banyak ‘musuh’ nya. Kasus pencurian data dan pembunuhan karena data banyak terjadi. Apakah selain mereka ada yang perlu diwaspadai? Iya, dari orang-orang sekeliling kita.

Saya bilang ke para jurnalis dan aktivis itu, “Kejahatan digital kadangkala bukan karena niat namun karena kesempatan.” Semisal hal yang paling kecil, sudahkah laptop Anda terproteksi password?

Mungkin Anda tertawa terbahak. Buat apa? Bila menganut SOP (Standard Operating Procedure) digital security, laptop tanpa proteksi adalah salah besar! Kemudian, “Apakah laptop Anda sering dipinjam sana sini?” Iya jawab para peserta pelatihan. Hahahaha. Itu langkah awal bunuh diri dalam kehidupan digital Anda.

Ketika laptop itu terpinjam, apakah drive D Anda bisa diakses oleh orang lain? Iya jawab para peserta. Ngeri-ngeri syedap ini hehehe.

Dalam SOP digital security, Anda boleh bermurah hati pinjamkan laptop namun harus log off dan berikan tamu itu akses (login lain) sebagai guest (tamu). Dan, folder-folder tertentu, bahkan drive D nya tidak bisa diakses oleh tamu itu.

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Kemudian, kapan terakhir Anda backup data-data dalam laptop Anda? Ada yang jawab sering! Dimana? Ada peserta yang jawab, “Ini di eksternal disk dan tinggal dicolok saja ke laptop.” Kemudian saya tebak, “Pasti lempengan kecil eksternal disk itu Anda bawa kemana-mana dalam tas. Ya apa iya?” Iya jawab mereka. Hahahaha, itu cara bunuh diri versi lain terhadap keberlangsungan kehidupan digital Anda.

Lempengan eksternal disk yang bisa dibawa kemana-mana itu bukan kegiatan backup data yang aman. Melainkan memindahkan data saja yang nantinya akan rusak oleh kecelakaan. Tidak berharap celaka ya namun tas Anda bisa saja kecurian. Tas Anda bisa saja hancur karena tabrakan. Eksternal disk itu kena benturan sana sini sehingga umur ekonomisnya cuma hitungan tahun, bahkan bulanan saja. Rentan disk error/bad sector atau korup.

Backup yang aman adalah data itu tersimpan di media dan tempat lain. Jikalau alat utama seperti laptop itu hancur atau kecurian, maka Anda masih punya data nya dari media lain. Entah itu eksternal disk di rumah ataupun di cloud (penyimpanan online).

Saya omong seperti ini bukannya tanpa pengalaman. Saya pernah kecurian laptop! Pernah merasakan eksternal disk yang sering saya bawa kemana-mana itu error. Tidak bisa terbaca lagi!

Banyak pertanyaan seputar penggunaan smartphone, browser, email, dan transportasi data hingga ber media sosial saya lontarkan kepada peserta pelatihan digital security bagi jurnalis dan aktivis. Tentunya pertanyaan itu berakhir dengan jawaban dan praktek melakukan pengamanan.

Pelatihan itu berlangsung hari Jumat dan Sabtu pada 1 – 2 Maret 2019 di Gedung Kompas Biro Bali. Penyelenggaranya dari Society Indonesia on Enviromental Journalist (SIEJ), Bali yang dikoordinatori oleh Mas Rofiqi Hasan. Beliau mempercayakan kepada saya untuk penyampaian materi digital security versi SIEJ.

Tujuan dari pelatihan ini beberapanya adalah peserta mampu mengamankan laptop dan PC nya. Mengelola password dengan aplikasi. Mampu backup data secara aman. Mampu berkomunikasi gunakan aplikasi yang punya fasilitas end to end encryption. Mampu berkirim data yang secure dan sebelumnya di enkripsi terlebih dahulu. Bisa browsing tanpa terlacak. Memahami alur komunikasi data di internet. Dan lain sebagainya.

Pelatihan ini juga mengingatkan diri saya juga untuk tetap secure. Salam Secure!

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Jadi, Kapan Pak Gubernur Bali Bikin Akun Twitter?


Bayangkan kita hari ini merencanakan mau liburan.

Pertama, kita akan mencari informasi soal lokasi tujuan. Seberapa jauh perjalanan ke sana dari tempat bepergian kita, naik apa saja, asyik tidak lokasinya, sampai bagaimana pose-pose selfie keren di sana.

Kedua, untuk urusan tiket dan hotel, kita dengan segera menemukan beragam pilihan di aplikasi atau situs jasa tiket daring: Traveloka, Agoda, Booking, Hotels.com, PegiPegi, dan entah berapa banyak lagi aplikasi serupa.

Internet membuat persiapan dan pengurusan liburan jauh lebih mudah dan cepat. Asal sudah jelas apa yang mau dicari, tak sampai 30 menit semua sudah beres. Mangkus!

Sekarang, cobalah kita sebagai warga negara mau menggunakan layanan publik di Bali. Misal saja mau mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) rumah atau kantor baru. Maka, kita akan menemukan tembok tebal bernama birokrasi.

Pertama, cobalah cari dengan kata kunci – pengurusan IMB di Denpasar. Jika mencari di Google Indonesia, maka hasil di halaman pertama tak ada sama sekali yang langsung bisa merujuk ke situs Badan Publik yang melayani pengurusan tersebut. Sepuluh situs yang muncul adalah situs jual beli jasa dan rumah.

Kedua, cobalah cari sesuatu yang lebih mendalam terkait pemerintahan. Misalnya kata kunci – program unggulan Gubernur Bali.

Hasilnya? Tidak ada satu pun situs resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di halaman pertama mesin pencari. Mari lanjutkan di halaman kedua. Ada sih, tetapi versi gubernur lama, Made Mangku Pastika. Itu pun situsnya masuk kategori situs tidak aman versi mesin peramban (browser) Firefox.

Revolusi Apanya?

Membandingkan kemudahan rencana liburan sebagai konsumen dengan mengakses layanan publik di Denpasar atau Bali sebagai warga negara terasa sejauh Bumi dan langit bedanya. Jauuuuh sekali..

Terasa lebih jauh lagi ketika tiap hari kita diserbu dengan jargon-jargon Revolusi 4.0 ala rezim saat ini seolah-olah pemerintah dan mesin birokrasi sudah siap melakukannya. Revolusi 4.0 lebih mirip ilusi ketika dibawa ke layanan publik di negeri ini.

Tidak usahlah koar-koar soal Revolusi 4.0. Mari mulai dari hal paling sederhana saja. Buatlah pemerintahan yang lebih terbuka alias open government.

Sebenarnya Indonesia termasuk anggota Open Government Partnership (OGP) selama hampir 7 tahun. OGP atau Kemitraan Pemerintah Terbuka merupakan inisiatif global yang membawa visi menciptakan pemerintah yang lebih transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan warga. Tatakelola OGP dijalankan berdasarkan prinsip kemitraan yang setara (co-governance) antara pemerintah dan masyarakat sipil.

OGP adalah sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengamankan komitmen konkret pemerintah untuk mempromosikan dan mewujudkan transparansi, memberdayakan warga, memerangi korupsi, dan memanfaatkan teknologi memperkuat tata kelola pemerintahan. Komitmen ini menanggapi empat nilai utama: transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik, dan inovasi.

Di tingkat nasional, sudah ada beberapa inisiatif rencana aksi Open Government Indonesia (OGI) ini. Misalnya LAPOR sebagai saluran laporan pubik yang terbuka, portal data terbuka alias open data, serta kebijakan satu peta.

Beberapa daerah di Indonesia juga sudah menerapkannya. Kota Solok, Sumatera Barat contohnya membuat mekanisme penanganan keluhan, pengganggaran terbuka, dan kontrak terbuka.

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menggunakan prinsip pemerintahan terbuka itu antara lain untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan administrasi kependudukan, keterbukaan pengadaan barang atau jasa pemerintah, kota cerdas dan keterbukaan pemerintah desa, dan pembangunan yang inklusif.

Contoh praktik lain bisa dilihat di Wonosobo, Jawa Tengah dan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua membuktikan bahwa keterbukaan informasi dan kemudahan layanan lewat teknologi informasi bisa meningkatkan kualitas hidup warga.

Tuntutan Masyarakat

Sadar bahwa pemerintahan terbuka bisa meningkatkan kualitas layanan publik dan kehidupan warga, maka 107 organisasi masyarakat sipil (OMS) Indonesia pun terus mendorong agar pemerintah lebih serius mewujudkan pemerintahan terbuka ini. Sloka Institute, yayasan yang mengelola BaleBengong, termasuk dalam koalisi dengan anggota seluruh Indonesia ini.

Dalam Pertemuan Nasional Masyarakat Sipil untuk Pemerintahan Terbuka ke-3 Desember 2018 lalu, perwakilan OMS membuat pernyataan sikap untuk memastikan keberlanjutan aksi pemerintah Indonesia.

Tuntutan itu misalnya agar pemerintah memasukkan OGP dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan melibatkan OMS secara konsisten. Hal ini untuk menjamin keberlanjutan implementasinya ke depan. Untuk itu perlu adanya sekretariat bersama OGI antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil yang lebih operasional.

Koalisi ini juga menuntut agar Presiden terpilih dan anggota parlemen terpilih pada Pemilu 2019, memberikan jaminan keberlanjutan OGP melalui inisiatif ini dengan regulasi kuat. Hal itu karena hingga saat ini belum ada regulasi yang menjadi payung hukum dalam pelaksanaan inisiatif ini.

Komitmen pemerintahan terbuka itu memang perlu untuk terus menerus diingatkan kepada Badan Publik, seperti halnya Pemprov Bali yang kini memiliki pengelola baru, I Wayan Koster dan Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Sebab, seperti disampaikan oleh Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Pengelolaan Isu-isu Sosial, Ekologi, dan Budaya Strategis, bagaimana publik percaya kalau tidak transparan di zaman teknologi ini?

Karena itu, amat penting bagi Gubernur Bali saat ini untuk lebih terbuka dengan mengadaptasi kebijakan OGP, seperti SatuPeta, SatuData, e-planning, e-budgeting, dan lainnya.

Apalagi, di sisi lain, makin banyak warga kini bergantung pada Internet. Menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), penggunaan Internet di daerah urban mencapai 72 persen. Namun, penggunaannya lebih banyak untuk ngobrol ringkas alias chatting (89 persen) diikuti medsos, searching, browsing, download, dan lainnya.

Sayangnya, ketika penetrasi penggunaan Internet terus meningkat, penggunaannya untuk mengakses pelayanan publik masih rendah. Misalnya mencari informasi peraturan (16 persen) dan pelayanan publik (8 persen).

Karena itulah Yanuar pun mengajak Pemda/DPRD menyesuaikan dengan fakta ini. Misalnya menggunakan aplikasi chatting dan media sosial sebagai saluran pengaduan layanan publik.

Nah, mungkin Pak Gubernur Bali yang baru memulai. Misalnya dengan membuat saluran khusus keluhan di Twitter atau aplikasi WhatsApp. Gampang banget kan? [b]

The post Jadi, Kapan Pak Gubernur Bali Bikin Akun Twitter? appeared first on BaleBengong.

K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil


Filter air Nazava di kios Kopernik. Foto Anton Muhajir.

Dua hari untuk berbagi pengalaman mengurangi kemiskinan.

Kopernik Day (K-Day) adalah perayaan dua tahun Kopernik dalam melakukan eksperimentasi untuk menemukan solusi dalam upaya pengurangan kemiskinan. Acara yang berlangsung pada 14-15 Februari nanti akan menampilkan diskusi tentang solusi inovatif di bidang pertanian dan upaya untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai di pulau Bali, serta pertunjukan musik oleh seniman-seniman terbaik Bali.

Untuk pertama kalinya, perayaan K-Day akan dilakukan selama dua hari berturut-turut untuk memberikan ruang bagi komunitas lokal untuk mendapatkan informasi dan pengalaman langsung mengenai proyek yang dikerjakan oleh Kopernik terkait eksperimentasi.

Pada 14 Februari, K-Day akan mengadakan lokakarya yang menjelaskan mengenai Sistem Irigasi Tetes ?Solutions Lab Kopernik, sebuah solusi bagi petani di daerah tandus untuk membantu meningkatkan produksi selama musim kering. Lokakarya ini juga akan membahas mesin injeksi yang merupakan mesin daur ulang plastik skala rumah tangga yang dibangun bekerja sama dengan ?Precious Plastic ?Bali.

“Sebagai organisasi yang berbasis di Bali, penting bagi kami untuk memberikan kontribusi untuk mengatasi tantangan utama yang dihadapi pulau ini dan salah satu area fokus kami di sini adalah masalah plastik sekali pakai. Kopernik percaya akan pentingnya fokus terhadap solusi dan kolaborasi dalam bekerja dengan pihak lain termasuk pemerintah, perusahaan, akademisi, masyarakat sipil, dan industri kreatif,” kata ?Ewa Wojkowska, Co-Founder dan
COO Kopernik ?.

Gelar wicara yang mengeksplorasi solusi inovatif di bidang pertanian pada 14 Februari akan menghadirkan pakar dan mitra Kopernik seperti ?Arianty Zakaria dari Dewan Sertifikasi UTZ. Akan ada juga gelar wicara yang membahas kampanye untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai di Bali bersama ?Pemerintah Daerah Gianyar, vokalis Navicula dan salah satu pencipta Pulau Plastik Gede Robi, Zakiyus Shadicky dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik dan Andre Dananjaya dari Kopernik. ?

Pada tahun 2010, Kopernik didirikan dengan keyakinan bahwa solusi yang lebih efektif sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah pembangunan agar lebih berkelanjutan.

Pada awal 2017, Kopernik mendedikasikan sumber dayanya untuk ‘eksperimentasi singkat’ dalam menemukan solusi yang efektif untuk mengurangi kemiskinan dan mengatasi beberapa tantangan sosial dan lingkungan utama di Indonesia. Eksperimentasi tersebut meliputi pengembangan dan pengujian produk serta pelayanan dengan mitra seperti Koperasi Madu Hutan Senoesa, UNICEF, UN Pulse Lab, dan mitra pemerintah seperti Dinas Koperasi Flores Timur.

Selain itu, hari kedua K-Day pada tanggal 15 Februari sebagai puncak acara akan menampilkan Navicula, The Hydrant, Nosstress, Zat Kimia, Celtic Room, Sandrayati Fay, Manja, Nymphea, Rasta Flute, dan DJ Marlowe. Acara ini juga akan menampilkan pasar komunitas yang menjajakan makanan ringan, pernak-pernik kesenian, dan kerajinan.

Acara ini juga akan menampilkan gelar wicara mengenai konsumsi alkohol yang bertanggung jawab yang disponsori oleh Diageo dan Rumah Sanur, dan para tamu dapat pulang dengan selamat bersama GO-JEK yang menyediakan diskon 50% untuk semua perjalanan GO-RIDE dan GO-CAR ke dan dari K-Day pada tanggal 14 dan 15 Februari dengan menggunakan kode GORIDEXKDAY dan GOCARXKDAY. [b]

The post K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil appeared first on BaleBengong.

Pertimbangan Bayar Tunai VS Kredit Laptop, Mana Paling Untung?

Kredit laptop bisa jadi salah satu solusi untuk membantu usaha kamu. Tapi, pernahkah kamu berpikir untung rugi antara bayar tunai dengan pembelian secara kredit?

Yuk kita bahas apa saja perbandingan pembelian laptop secara tunai maupun secara kredit berikut ini;

Pembelian tunai tidak dibebani bunga

Jelas saja jika membeli secara tunai tidak dibebani dengan bunga bulanan. Berbeda dengan pembelian secara kredit yang dibebankan bunga tiap bulan. Akan tetapi, pembebanan bunga dan simulasi cicilannya biasanya sudah diinformasikan secara transparan sebelum kamu menyetujui transaksi.

Begitu juga jika bertransaksi secara kreditmelalui Kredivo. Semua pembelian dengan metode cicilan akan dikenai bunga 2,95%. Bunga ini akan diinformasikan di muka. Artinya ada persetujuan antara kedua belah pihak.

Kredivo memberikan pilihan tenor 3, 6 sampai dengan 12 bulan. Semakin lama pinjamannya, selisih yang dibayar pun akan semakin tinggi. Untuk itu kamu harus sesuaikan dengan kondisi finansial kamu.

Harga jauh lebih murah

Harga laptop yang dibeli secara tunai lebih murah dibandingkan dengan cara membeli secara kredit. Hal ini disebabkan karena ada selisih bunga yang dibebankan. Jika jeli sebetulnya kamu bisa lebih selektif memilih perusahaan pembiayaan yang menyediakan kredit laptop dengan bunga rendah.

Akan tetapi, pada saat tidak memiliki tabungan yang cukup dan terdesak dengan kebutuhan untuk membeli laptop dengan spesifikasi tertentu, kredit laptop bisa menjadi solusi.

Tidak berurusan dengan angsuran tiap bulan

Tentu kamu tidak perlu pusing membayar tagihan tiap bulan jika membeli laptop secara tunai. Tetapi, kamu perlu biaya di muka dengan jumlah yang cukup besar untuk pembelian secara tunai. Berbeda dengan pembelian secara mencicil. Tanpa uang muka, kamu sudah bisa membawa pulang laptop yang dibutuhkan dengan dana lebih ringan.

Salah satu yang memang akan membuat kamu harus lebih komitmen adalah saat pembayaran angsuran. Diusahakan untuk selalu membayar tagihan sebelum jatuh tempo. Jika pembayaran melewati jatuh tempo tentu risikonya harus membayar denda.

Hal ini sebetulnya bisa disiasati. Salah satunya dengan mengukur kemampuan cash flow bulanan dalam membayar cicilan. Seperti kata pakar keuangan, idealnya utang tidak boleh lebih dari 30 persen dari total pendapatan.

Misalnya jika gaji bulanan kamu sekitar Rp 3 jutaan per bulan, maka upayakan untuk mencicil barang dengan harga Rp900.000 per bulan.

Itulah beberapa pertimbangan antara bayar tunai dengan kredit laptop. Pertimbangkan dengan matang mana yang paling menguntungkan untuk kamu sendiri.

Utang tak selamanya menjadi momok yang menakutkan, jika dikelola dengan baik, utang justru bisa membantu roda bisnis kecil tanpa harus selalu bergantung pada penyedia modal besar.

Untuk mendapatkan pinjaman tunai secara online pun kini lebih mudah menggunakan Kredivo. Bagi pengguna cicilan maupun pengguna bayar 30 hari tanpa bunga bisa memanfaatkan layanan Pinjaman Tunai maupun Pinjaman Jumbo dari Kredivo.

Untuk Pinjaman Tunai, kamu bisa mengajukan pinjaman mulai dari Rp 500 ribu dengan tenor 30. Bagi pengguna akun cicilan bunganya hanya 2,95% saja, sedangkan bagi pengguna bayar dalam 30 hari bunganya 4%.

Untuk Pinjaman Jumbo diberikan kredit lebih besar mulai dari Rp 1 juta sampai dengan batas kredit limit yang dimiliki masih tersisa. Bunganya 2,95% dengan pilihan tenor 3 dan 6 bulan. Pinjaman tunai ini tidak hanya bisa digunakan untuk kebutuhan darurat saja tapi juga bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan produktif seperti untuk menunjang usaha kecil yang tengah berkembang.

Syarat untuk mendaftarpun sangat mudah. Semua pendaftaran bisa dilakukan dengan mengunduh aplikasi resmi Kredivo terlebih dahulu dari Google Play Store maupun App Store. Pastikan saja kamu sudah berusia minimal 18 tahun, punya penghasilan tetap minimal Rp 3 juta perbulan dan berdomisili di wilayah Jabodetabek, Kota Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Semarang, atau Denpasar.

Kredivo sudah bekerja sama dengan lebih dari 200+ merchant online di Indonesia. Artinya kamu bisa membandingkan dari semua merchant yang ada untuk mendapatkan laptop dengan harga terbaik yang hendak kamu beli.

The post Pertimbangan Bayar Tunai VS Kredit Laptop, Mana Paling Untung? appeared first on Devari.

Rentannya Perempuan jadi Korban Pelanggaran Privasi

Foto Privacy International

Perempuan dan transgender paling rentan jadi korban pelanggaran privasi.

Sehari setelah putus dengan pacarnya, I Gede Tista langsung mengeluarkan ancaman kepada sang mantan. Pemuda berusia 19 tahun itu mengirim foto setengah telanjang mantan pacarnya, NWSN, kepada orangtua korban.

Melalui pesan yang dikirim melalui WhatsApp itu, Tista memberikan ancaman: balik pacaran atau fotomu aku sebar.

Tista berusaha menekan sang mantan lewat bapaknya.

Namun, dia justru mendapatkan ancaman balik. Melihat foto anaknya, sang orangtua pun geram. Si bapak langsung melaporkan Gede Tista ke Polres Bangli, Bali pada Senin, 26 November 2018 lalu.

Penyidik Polres Bangli langsung memeriksa Tista. Menurut Kepala Humas Polres Bangli Sulhadi, pekerja kapal pesiar itu bisa diancam dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 45 ayat 1 jo Pasal 27 ayat 1.

Pasal 27 ayat 1 UU ITE menyatakan tiap orang dilarang untuk dengan sengaja dan tanpa hak menyebarluaskan dan atau membuat informasi elektronik yang mengandung muatan melanggar asusila. Menurut Pasal 45 ayat 1, pelakunya bisa kena pidana penjara enam tahun dan atau denda hingga Rp 1 miliar.

Polisi sendiri belum menahan Tista karena mereka masih melakukan pemeriksaan terhadap korban. “Korban belum bersedia diperiksa karena masih malu,” kata Sulhadi ketika saya hubungi lewat telepon.

Kelompok Rentan

Sehari sebelum saya membaca berita tentang kasus pengiriman foto asusila NWSN oleh mantan pacarnya ini, saya mendapatkan laporan tentang praktik pelanggaran privasi terhadap perempuan dan transgender. Laporan ini diterbitkan Privacy International, kelompok masyarakat sipil berpusat di London, Inggris yang fokus pada advokasi hak-hak atas privasi.

Penyebaran foto NWSN bisa jadi contoh betapa rentannya perempuan menjadi korban pelanggaran privasi. Kasus itu menjadi pembuka banyaknya kasus pelanggaran privasi terhadap perempuan.

Pengambilan foto oleh Tista bisa jadi dilakukan tanpa persetujuan pacarnya saat itu. Namun, foto itu yang kemudian (akan) disebarluaskan. Tujuannya untuk balas dendam. Foto pribadi korban, sesuatu yang amat privat, justru jadi alat tawar menawar bagi pelaku.

Revenge porn, istilah untuk penyebaran foto pribadi (biasanya cenderung sensual) oleh mantan, hanya salah satu bentuk pelanggaran privasi terhadap perempuan. Menurut Privacy International, pelanggaran privasi pada perempuan dan transgender itu juga dilakukan melalui pengumpulan dan penyebaran informasi pribadi (doxing), pelecehan di media sosial, pencurian akun korban, dan pengawasan secara daring (surveillance).

Pertama, pengambilan dan penyebaran foto tanpa persetujuan. Ini biasanya terjadi ketika korban tidak sadar bahwa dia telah difoto dalam posisi sangat personal. Dalam banyak kasus sih sensual atau bahkan telanjang, penuh ataupun sebagian.

Pelaku melakukannya dengan dalih untuk dokumentasi pribadi, tetapi bisa jadi foto itu hanya alat untuk menyandera korban: jangan macam-macam atau foto telanjangmu aku sebar!

Masalahnya adalah kadang-kadang foto yang dibuat untuk tujuan dokumentasi pribadi pun bisa bocor dan kemudian tersebar ke jagat daring. Bisa dengan sengaja atau tidak sengaja, seperti kasus pada Ariel Peterpan dengan dua pasangannya.

Kedua, pengumpulan dan penyebaran informasi personal (doxing). Pelaku yang berniat mencari latar belakang korban bisa dengan mudah melakukan pengumpulan informasi ini melalui berbagai saluran, terutama media sosial.

Di sisi korban, baik perempuan ataupun transgender, kadang-kadang membuat posisi mereka rentan dengan mengunggah foto-foto personal mereka. Niatnya hanya untuk berbagi entah kepada teman, keluarga, atau orang tertentu. Namun, di tangan pelaku, foto-foto personal bisa jadi alat untuk melakukan perundungan (bullying) ataupun pelecehan (harrasment).

Privacy International mengutip Dubravka Šimonovic, Pelapor Khusus Kekerasan terhadap Perempuan di PBB, mengatakan penyebaran foto intim perempuan termasuk yang dimodifikasi atau diolah lagi secara digital tanpa persetujuan pemilik, pada umumnya bertujuan untuk merendahkan derajat korban. Hal itu termasuk pelanggaran terhadap privasi dan hak perempuan untuk hidup aman secara daring.

Foto Privacy International

Represi pada Ekspresi

Ketiga, pelecehan secara daring (online harrasment). Perempuan dan (apalagi) transgender sering kali menjadi korban pelecehan secara terbuka, terutama melalui media sosial, baik karena ekspresi ataupun penampilan mereka.

Kasus yang dialami Anindya Shabrina Prasetiyo di Surabaya bisa menjadi contoh. Hanya karena memprotes pembubaran diskusi dan mengekspresikan protesnya melalui media sosial, dia justru diancam dengan UU ITE Pasal 27 ayat 3. Anindya tidak hanya mendapatkan pelecehan, tetapi juga pembungkaman untuk berekspresi.

Baru-baru ini terjadi juga kasus serupa di Bali. Ketika kelompok advokasi kalangan LGBT terpaksa menutup semua akun media sosial mereka hanya karena polisi membubarkan acara tahunan mereka.

Dalam budaya patriarkis saat ini, perempuan dan transgender tidak bebas berekspresi. Begitu pula dalam aktivitas di Internet. Padahal, ekspresi adalah bagian dari pilihan pribadi. Sesuatu yang amat personal dan privat.

Keempat, pencurian akun korban dengan cara meretas. Pelaku pelanggaran ini pada umumnya adalah orang-orang terdekat, seperti pasangan atau mantan pasangan. Tujuannya untuk tahu lebih banyak tentang kegiatan perempuan yang dijadikan korban.

Pelanggaran ini semakin mudah ketika di sisi lain, perempuan dan transgender termasuk kelompok yang kurang melek keamanan digital. Bagaimanapun kesenjangan digital laki-laki dan perempuan masih terjadi, termasuk kesadaran tentang keamanan digital.

Pengaturan katakunci (password) yang lemah dan keterbukaan pada aplikasi-aplikasi berbahaya hanya sekadar contoh penyebab rentannya perempuan jadi korban pencurian akun media sosial.

Kelima, pengawasan secara daring (surveillance). Pengawasan ini dilakukan banyak pihak, bahkan termasuk keluarganya sendiri. Tidak hanya oleh negara, tetapi juga oleh orangtua atau saudara. Para pengawas ala Big Brother ini lalu mengatur bagaimana perempuan dan transgender harus bersikap di publik, dalam hal ini media sosial.

Meskipun media sosial di satu sisi bisa menjadi media berekspresi bagi perempuan dan transgender, tetapi di sisi lain juga menjadi layar terbuka untuk mengawasi mereka.

Pengawasan ini makin parah ketika dilihat dari sudut pandang bahwa data adalah minyak baru bagi korporasi digital. Semua gerak-gerik perempuan yang terbuka menjadi objek untuk diperjualbelikan oleh korporasi: kebiasaan, kesehatan, belanja, minat, dan bahkan doa-doa yang dipanjatkan.

Dan tak banyak perempuan yang mungkin sadar bahwa privasi yang mereka bagi di media sosial adalah data-data yang bisa dijual pada pengiklan atau juru kampanye. Bagi korporasi digital, privasi perempuan adalah komoditas mahal. [b]

The post Rentannya Perempuan jadi Korban Pelanggaran Privasi appeared first on BaleBengong.