Tag Archives: Teknologi

I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali

I Made Suatjana saat menerima penghargaan dari Gubernur Bali Februari 2019 lalu.

Insinyur ini menggunakan teknologi untuk melestarikan aksara dan kalender Bali.

Amat menarik menelusuri profil budayawan I Made Suatjana. Dialah pembuat kalender Bali dan font aksara Bali Simbar. Keduanya produk teknologi ini telah menjadi bagian dari “harta nasional” bagi rakyat Bali.

Melalui font aksara Bali Simbar, rakyat Bali dan dunia secara umum dapat menulis aksara Bali secara digital. Di dunia yang kini serba canggih, budaya Bali dapat dikatakan tetap bertahan dan beradaptasi mengikuti medium perkembangan zaman.

Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada dewasa ini menjadi perhatian para warga Bali. I Wayan Koster selaku Gubernur menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Melalui Perda itu bahasa, aksara, dan sastra Bali sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kebijakan ini sebagai bentuk perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan potensi bahasa, aksara, dan sastra Bali. Sebagai penegas perda tersebut lahirlah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018. Pergub ini antara lain mengatur adanya Bulan Bahasa Bali yang akan rutin dilaksanakan pada Februari setiap tahun.

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali pertama kali diadakan pada Februari tahun ini. Ada seminar, pameran, perlombaan, serta penghargaan kepada masyarakat umum atau warga Bali yang turut berpartisipasi mengajegan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Panerima Anugerah

I Made Suatjana merupakan salah satu penerima Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dalam mengembangkan aksara Bali dalam bentuk font Bali Simbar.

Patut dicermati, aksara Bali termasuk salah satu dari sedikit aksara di Indonesia yang telah didigitalisasi. Beberapa aksara yang bisa diunduh dengan bebas di Internet seperti aksara Batak Karo, Batak Mandaling, Batak Pakpak, Batak Simalung, Batak Toba, Incoung Kerinci, Lampung, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Font Bali Simbar merupakan salah satu variasi program font yang menampilkan aksara Bali. Melalui program ini, huruf latin alfabet dapat dialihaksarakan menjadi aksara bali. Kini, font ini sangat berguna menjaga budaya Bali di dunia digital.

Sumbangan ini tak hanya sebagai inventarisasi budaya tetapi juga pengenalan Bali di aksara dunia. Orang-orang dari belahan dunia lain dapat mengakses dengan mudah font hasil karya I Made Suatjana ini. Bahkan font ini telah menjadi salah satu bentuk perlombaan untuk alih aksara di pendidikan tingkat SMP di Denpasar dan Badung.

Otak-atik Komputer

Lantas siapa I Made Suatjana ini? Bagaimana font ini bisa lahir dari tangan beliau?

I Made Suatjana merupakan warga Bali kelahiran Gadungan, Tabanan pada 14 Mei 1947. Pria yang kini menetap di Denpasar ini memiliki latar belakang pendidikan insiyur dan senang untuk mengutak-atik komputer.

Pada awal 1980an, Suatjana sudah meyakini komputer akan menggeser hal-hal yang dianggap konvensional. Saat itu komputer masih terbilang baru untuk Bali. Namun, Suatjana telah bercita-cita menjadikan komputer sebagai medium untuk melestarikan budaya Bali. Melalui kegemaranya tersebut, pada 1983, dia pun mulai mewujudkan idenya untuk memindahkan aksara Bali ke dalam program komputer.

Berbekal komputer berbasis DOS, Suatjana mencoba merangkai titik-titik hingga membentuk gambar dan pola seperti aksara Bali. Melalui Chiwriter, program berisi aneka simbol yang lazim digunakan untuk simbol matematika, kimia, dan fisika, aksara Bali memiliki peluang untuk diadaptasi dalam dunia digital.

Pada 1995 font aksara Bali bernama Bali Simbar pun rangkum dibuat.

Namun, prototipe ini belum sempurna seperti yang kini dapat diunduh dengan bebas dan gratis di internet. Perlu penyempurnaan dan koreksi tata letak dan bahasa. Sebab, aksara Bali memiliki pakem berbeda dengan huruf alfabet.

Setahun kemudian, dengan bantuan Yayasan Dwijendra, font Aksara Bali Simbar Dwijendra layak dipergunakan secara luas. Font ini dapat mendeteksi rupa aksara dan memperbaiki tata letak aksara agar sesuai dengan pakem.

Tidak hanya sampai penyempurnaan aksara. Pada awal 2000-an, teman Suatjana menyarankannya untuk mematenkan program itu ke Unicode. Ini adalah standardisasi komputasi dunia untuk teks dikoordinir Unicode Consortium yang berpusat di Amerika Serikat.

Akhirnya, pada 2006 font aksara Bali Simbar Dwijendra diakui dan dibakukan secara internasional. Bahkan, pada 2009, font Aksara Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem perintah koreksi yang jika diaktifkan maka akan ada hasil koreksinya.

Kini, cita-cita Suatjana sudah tercapai. Gagasan tentang melestarikan budaya bangsa dengan memadukan teknologi sebagai media telah mendapat apresiasi dari semua kalangan.

Ini terbukti dengan diberikannya berbagai penghargaan dari pemerintah sebagai bentuk nyata apresiasi, termasuk Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama dari pemerintah Provinsi Bali.

Kalender Bali

Karya lain I Made Suatjana adalah kalender Bali yang kini memasuki tahun keempat. Kalender Bali cukup terbilang unik dari kalender lain pada umumnya. Kalender umum hanya menjabarkan tanggal dan keterangan hari-hari besar nasional. Adapun kalender Bali sedikit rumit dengan penjabaran hari-hari upacara keagamaan Bali yang terbilang banyak. Setiap harinya memiliki penjelasan tentang baik buruknya hari.

Ada hal mendasar yang membedakan kalender Masehi dengan kalender Bali. Kalender Masehi hanya menggunkan perhitungan matahari. Adapun kalender Bali menggunkan perhitungan bulan, matahari, dan kearifan lokal.

Kalender Bali menjabarkan lebih rinci fenomena pertanggalan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Bali yang terbilang kompleks. Di dalamnya termasuk mengenai hari baik maupun hari buruk untuk melakukan upacara agama.

Serupa alasan menekuni aksara Bali, penanggalan Bali menarik perhatian Suatjana untuk lebih mendalami warisan budaya leluhur yang adiluhung ini. Berbekal rasa ingin tahu dan lingkaran pertemanan Suatjana, dia pun mencari dan mengikuti perkembangan pertanggalan Bali.

Semula, pengetahuan ini hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, lambat laun, Suatjana merasa perlu menyebarluaskan pengetahuan ini agar tidak terputus dan punah.

Kalender hasil karya Suatjana secara umum sama dengan kalender Bali terbitan ahli sebelum beliau. Sebut saja kalender Bali karya Bambang Gde Rawi, legenda dunia perkalenderan Bali. Atau kalender I Wayan Gina, kalender dari Kanwil agama Hindu maupun kalender perpustakaan Gedong Kirtya.

Namun, terdapat pojok menarik di setiap lembaran kalender yang memuat informasi tentang pengetahuan kalender dan budaya Bali. Seperti ditampilkan pada edisi 2019, ada informasi tentang sejarah pertanggalan India.

Kebutuhan Pokok

Kalender bagi rakyat Bali khususnya menjadi kebutuhan pokok dalam menjalanan aktivitas budaya. Adanya hari dan bulan untuk menikah, kematian, membangun rumah, membuat kegiatan, dan masih banyak lagi tentu bertolak dari hari apa yang baik.

Bahkan sempat karena kalender yang berbeda, ada kejadian yang mempengaruhi praktik budaya dan menunda acara berlansung.

Tidak semua hari layak untuk sesuatu hal meski pada dunia globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh namun budaya Bali menolak itu!

Tidak semua hari layak untuk segala hal. Meski pada era globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh. Namun, budaya Bali menolak itu!

Apa yang dilakukan I Made Suatjana sebenarnya bukanlah hal baru. Mengingat banyak warga Bali mungkin juga memiliki pengetahuan lebih yang harusnya disebarluaskan kepada warga Bali lainnya. Namun, Suatjana hadir dan berani untuk memberikan persembahan nyata dengan keseriusannya.

Aksara Bali Simbar dan kalender Bali bukan produk instan. Ada proses yang selalu menuntut keseriusan dan pengorbanan. Namun, proses tidak selalu menghianati hasil. Hasil yang dipanen seperti menanam pohon jati menunggu puluhan tahun untuk menikmatinya.

Tantangan warga Bali hari ini adalah arus globalisasi dunia yang deras menuju Bali. Budaya sebagai salah satu benteng haruslah dijaga dan dikembangkan agar tidak tergerus. Warga Bali memiliki potensi tersebut!

Melalui fasilitas pemerintah, dorongan-dorongan dari atas menuju bawah (up to bottom) harus sesuai porsinya. Inisiatif dari bawah ke atas (bottom to up) juga harus gencar diwacanakan. Tinggal bagaimana keberlanjutannya untuk warga Bali, rakyat Bali, dan budaya Bali.

Agar benang budaya yang coba diteruskan oleh I Made Suatjana dapat dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk menjaga Bali. Bisa saja di lain hari, warga Bali lainnya menjadi Suatjana kedua, ketiga, dan seterusnya dalam cerita membangun Bali. [b]

The post I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali appeared first on BaleBengong.

Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia

Google menampilkan doodle tentang perempuan pada 8 Maret 2019 lalu.

Gambar interaktif itu segera muncul hari itu ketika kamu sedang mengakses Internet lalu melakukan pencarian dengan mesin pencari Google. Google menampilkan gambar warna-warni dalam aneka bahasa bermakna sama, perempuan.

Hari itu dunia memang memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day.

Tepat 42 tahun lalu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan 8 Maret 2019 sebagai hari perjuangan hak perempuan. Hal itu sebagai bentuk apresiasi kepada wanita yang dirintis pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis Amerika Serikat.

Jika kita menggunakan kata pencari “hari perempuan sedunia”, maka akan dijabarkan bagiamana sejarah dan kilas balik perayaan hari ini. Bagaimana semangat dan tekad kaum perempuan untuk memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Sejalan dengan hal tersebut, Google pun merayakan Hari Perempuan Sedunia ini dengan mencantumkan petikan-petikan tokoh perempuan dunia berkarakter serta berjuang dengan keahlian dan caranya masing-masing.

Misalnya slogan Yoko Ono, “Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

“Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

Yoko Ono

Atau slogan Mary Kom (Petinju India), “Jangan katakan Anda lemah, karena Anda adalah perempuan.”

Mengulas tentang penghormatan atas jasa dan jerih payah seorang wanita banyak tertuang dalam cerita-cerita di seluruh dunia. Saya ingin sedikit bernostalgia tentang kesetiaan Sinta menunggu suaminya menjemputnya dari negeri Alengka dalam kisah Ramayana.

Dewi Athena yang memimpin seribu pasukan lelaki dalam medan peperangan di Yunani. Hal ini serupa dengan Cut Nyak Dien atau Malahayati yang mengangkat senjata ikut berperang melawan kolonialisme di tanah Aceh.

Namun, nostalgia ini sedikit bias dengan hal-hal feminin yang menyatakan posisi wanita ternyata masih di bawah lelaki. Suatu pergolakan tentang catatan sejarah dan fakta yang terjadi hari ini.

Pada hari ini, permasalahan-permasalahan tentang wanita masih dan terus masif terjadi. Masih hangat di ingatan masyarakat Indonesia dan Lombok khususnya tentang kasus pelecehan seksual yang dilaporkan Baiq Nuril yang bermula dari rekaman cerita perselingkuhan kepala sekolah tempatnya dulu bekerja.

Keberanian Baiq Nuril membeberkan percakapan yang seharusnya menjadikan dirinya pahlawan justru terjerat dugaan pelanggaran UU ITE pasal 27 ayat 1 jo pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 tahun 2008. Kasus ini bahkan cukup viral hingga mendapat perhatian namun kini menguap terlupakan.

Dapat diasumsikan kasus serupa dapat muncul kembali dengan tokoh wanita lainnya yang menjadi korban.

Mungkin masalahan pelecehan wanita acap kali menguap menghilang dari perhatian masyarakat umum, tetapi google mencatatnya! Jika kita menggunakan kata pencarian “kasus wanita” di mesin pencari Google, akan ada banyak kejadian-kejadian serupa.

Bahkan dalam beberapa minggu lalu, kasus viral tertangkapnya politisi menggunakan narkoba di Jakarta, ada sosok wanita yang turut diseret sebagai topik pembahasan khasus politisi tersebut.

Klise memang jika menjadikan wanita hanya sebagai objek. Padahal kenyataannya peran wanita sangat dibutuhkan di lini-lini masyarakat atau yang kini tren disebut kaum emak-emak. Mungkin perjuangan kaum feminim menuntut haknya hingga sekarang
belumlah tuntas seperti cita-cita Mary Wollstonecraft ataupun R.A Kartini.

Namun, perlu digaris bawahi, hak apa yang sebenarnya yang dituntut wanita pada dewasa ini? Bukankah jauh sebelum gerakan feminin terjadi, wanita juga bisa menjadi kepala kerajaan? Bukankah wanita telah di letakan pada posisi yang tinggi dalam folklor kedaerahan sebagai seorang “ibu”. Ibu dari segala penciptaan dan surga ada di telapak kakinya.

Merefleksikan Hari Perempuan Sedunia, pantas kiranya menjadikan pembahasan-pembahasan tentang wanita untuk menjadi konsentrasi khusus. Kurangnya nilai-nilai kemanusiaan secara khusus terhadap kaum wanita menjadikannya sangat rentan untuk dicurangi haknya. Sudah saatnya manusia memanusiakan dirinya, bukan sebatas kesetaraan tetapi tentang nilai kemanusiaan. [b]

The post Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia appeared first on BaleBengong.

How Secure Are You?

Tiada hari tanpa laptop. Tiap tarikan nafas pun tak lepas dari smartphone. 8 jam perhari tak lepas dari internet. Ini hasil survey pengguna internet Indonesia 2019 oleh hootsuite dan We Are Social. Sudahkah Anda aman (secure) dalam kegiatan digital itu?

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Memang nya aman dari ancaman siapa sih? Kalau di dunia jurnalis dan aktivis, banyak ‘musuh’ nya. Kasus pencurian data dan pembunuhan karena data banyak terjadi. Apakah selain mereka ada yang perlu diwaspadai? Iya, dari orang-orang sekeliling kita.

Saya bilang ke para jurnalis dan aktivis itu, “Kejahatan digital kadangkala bukan karena niat namun karena kesempatan.” Semisal hal yang paling kecil, sudahkah laptop Anda terproteksi password?

Mungkin Anda tertawa terbahak. Buat apa? Bila menganut SOP (Standard Operating Procedure) digital security, laptop tanpa proteksi adalah salah besar! Kemudian, “Apakah laptop Anda sering dipinjam sana sini?” Iya jawab para peserta pelatihan. Hahahaha. Itu langkah awal bunuh diri dalam kehidupan digital Anda.

Ketika laptop itu terpinjam, apakah drive D Anda bisa diakses oleh orang lain? Iya jawab para peserta. Ngeri-ngeri syedap ini hehehe.

Dalam SOP digital security, Anda boleh bermurah hati pinjamkan laptop namun harus log off dan berikan tamu itu akses (login lain) sebagai guest (tamu). Dan, folder-folder tertentu, bahkan drive D nya tidak bisa diakses oleh tamu itu.

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Kemudian, kapan terakhir Anda backup data-data dalam laptop Anda? Ada yang jawab sering! Dimana? Ada peserta yang jawab, “Ini di eksternal disk dan tinggal dicolok saja ke laptop.” Kemudian saya tebak, “Pasti lempengan kecil eksternal disk itu Anda bawa kemana-mana dalam tas. Ya apa iya?” Iya jawab mereka. Hahahaha, itu cara bunuh diri versi lain terhadap keberlangsungan kehidupan digital Anda.

Lempengan eksternal disk yang bisa dibawa kemana-mana itu bukan kegiatan backup data yang aman. Melainkan memindahkan data saja yang nantinya akan rusak oleh kecelakaan. Tidak berharap celaka ya namun tas Anda bisa saja kecurian. Tas Anda bisa saja hancur karena tabrakan. Eksternal disk itu kena benturan sana sini sehingga umur ekonomisnya cuma hitungan tahun, bahkan bulanan saja. Rentan disk error/bad sector atau korup.

Backup yang aman adalah data itu tersimpan di media dan tempat lain. Jikalau alat utama seperti laptop itu hancur atau kecurian, maka Anda masih punya data nya dari media lain. Entah itu eksternal disk di rumah ataupun di cloud (penyimpanan online).

Saya omong seperti ini bukannya tanpa pengalaman. Saya pernah kecurian laptop! Pernah merasakan eksternal disk yang sering saya bawa kemana-mana itu error. Tidak bisa terbaca lagi!

Banyak pertanyaan seputar penggunaan smartphone, browser, email, dan transportasi data hingga ber media sosial saya lontarkan kepada peserta pelatihan digital security bagi jurnalis dan aktivis. Tentunya pertanyaan itu berakhir dengan jawaban dan praktek melakukan pengamanan.

Pelatihan itu berlangsung hari Jumat dan Sabtu pada 1 – 2 Maret 2019 di Gedung Kompas Biro Bali. Penyelenggaranya dari Society Indonesia on Enviromental Journalist (SIEJ), Bali yang dikoordinatori oleh Mas Rofiqi Hasan. Beliau mempercayakan kepada saya untuk penyampaian materi digital security versi SIEJ.

Tujuan dari pelatihan ini beberapanya adalah peserta mampu mengamankan laptop dan PC nya. Mengelola password dengan aplikasi. Mampu backup data secara aman. Mampu berkomunikasi gunakan aplikasi yang punya fasilitas end to end encryption. Mampu berkirim data yang secure dan sebelumnya di enkripsi terlebih dahulu. Bisa browsing tanpa terlacak. Memahami alur komunikasi data di internet. Dan lain sebagainya.

Pelatihan ini juga mengingatkan diri saya juga untuk tetap secure. Salam Secure!

Pelatihan Digital Security Denpasar Bali

Jadi, Kapan Pak Gubernur Bali Bikin Akun Twitter?


Bayangkan kita hari ini merencanakan mau liburan.

Pertama, kita akan mencari informasi soal lokasi tujuan. Seberapa jauh perjalanan ke sana dari tempat bepergian kita, naik apa saja, asyik tidak lokasinya, sampai bagaimana pose-pose selfie keren di sana.

Kedua, untuk urusan tiket dan hotel, kita dengan segera menemukan beragam pilihan di aplikasi atau situs jasa tiket daring: Traveloka, Agoda, Booking, Hotels.com, PegiPegi, dan entah berapa banyak lagi aplikasi serupa.

Internet membuat persiapan dan pengurusan liburan jauh lebih mudah dan cepat. Asal sudah jelas apa yang mau dicari, tak sampai 30 menit semua sudah beres. Mangkus!

Sekarang, cobalah kita sebagai warga negara mau menggunakan layanan publik di Bali. Misal saja mau mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) rumah atau kantor baru. Maka, kita akan menemukan tembok tebal bernama birokrasi.

Pertama, cobalah cari dengan kata kunci – pengurusan IMB di Denpasar. Jika mencari di Google Indonesia, maka hasil di halaman pertama tak ada sama sekali yang langsung bisa merujuk ke situs Badan Publik yang melayani pengurusan tersebut. Sepuluh situs yang muncul adalah situs jual beli jasa dan rumah.

Kedua, cobalah cari sesuatu yang lebih mendalam terkait pemerintahan. Misalnya kata kunci – program unggulan Gubernur Bali.

Hasilnya? Tidak ada satu pun situs resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di halaman pertama mesin pencari. Mari lanjutkan di halaman kedua. Ada sih, tetapi versi gubernur lama, Made Mangku Pastika. Itu pun situsnya masuk kategori situs tidak aman versi mesin peramban (browser) Firefox.

Revolusi Apanya?

Membandingkan kemudahan rencana liburan sebagai konsumen dengan mengakses layanan publik di Denpasar atau Bali sebagai warga negara terasa sejauh Bumi dan langit bedanya. Jauuuuh sekali..

Terasa lebih jauh lagi ketika tiap hari kita diserbu dengan jargon-jargon Revolusi 4.0 ala rezim saat ini seolah-olah pemerintah dan mesin birokrasi sudah siap melakukannya. Revolusi 4.0 lebih mirip ilusi ketika dibawa ke layanan publik di negeri ini.

Tidak usahlah koar-koar soal Revolusi 4.0. Mari mulai dari hal paling sederhana saja. Buatlah pemerintahan yang lebih terbuka alias open government.

Sebenarnya Indonesia termasuk anggota Open Government Partnership (OGP) selama hampir 7 tahun. OGP atau Kemitraan Pemerintah Terbuka merupakan inisiatif global yang membawa visi menciptakan pemerintah yang lebih transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan warga. Tatakelola OGP dijalankan berdasarkan prinsip kemitraan yang setara (co-governance) antara pemerintah dan masyarakat sipil.

OGP adalah sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengamankan komitmen konkret pemerintah untuk mempromosikan dan mewujudkan transparansi, memberdayakan warga, memerangi korupsi, dan memanfaatkan teknologi memperkuat tata kelola pemerintahan. Komitmen ini menanggapi empat nilai utama: transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik, dan inovasi.

Di tingkat nasional, sudah ada beberapa inisiatif rencana aksi Open Government Indonesia (OGI) ini. Misalnya LAPOR sebagai saluran laporan pubik yang terbuka, portal data terbuka alias open data, serta kebijakan satu peta.

Beberapa daerah di Indonesia juga sudah menerapkannya. Kota Solok, Sumatera Barat contohnya membuat mekanisme penanganan keluhan, pengganggaran terbuka, dan kontrak terbuka.

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menggunakan prinsip pemerintahan terbuka itu antara lain untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan administrasi kependudukan, keterbukaan pengadaan barang atau jasa pemerintah, kota cerdas dan keterbukaan pemerintah desa, dan pembangunan yang inklusif.

Contoh praktik lain bisa dilihat di Wonosobo, Jawa Tengah dan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua membuktikan bahwa keterbukaan informasi dan kemudahan layanan lewat teknologi informasi bisa meningkatkan kualitas hidup warga.

Tuntutan Masyarakat

Sadar bahwa pemerintahan terbuka bisa meningkatkan kualitas layanan publik dan kehidupan warga, maka 107 organisasi masyarakat sipil (OMS) Indonesia pun terus mendorong agar pemerintah lebih serius mewujudkan pemerintahan terbuka ini. Sloka Institute, yayasan yang mengelola BaleBengong, termasuk dalam koalisi dengan anggota seluruh Indonesia ini.

Dalam Pertemuan Nasional Masyarakat Sipil untuk Pemerintahan Terbuka ke-3 Desember 2018 lalu, perwakilan OMS membuat pernyataan sikap untuk memastikan keberlanjutan aksi pemerintah Indonesia.

Tuntutan itu misalnya agar pemerintah memasukkan OGP dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan melibatkan OMS secara konsisten. Hal ini untuk menjamin keberlanjutan implementasinya ke depan. Untuk itu perlu adanya sekretariat bersama OGI antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil yang lebih operasional.

Koalisi ini juga menuntut agar Presiden terpilih dan anggota parlemen terpilih pada Pemilu 2019, memberikan jaminan keberlanjutan OGP melalui inisiatif ini dengan regulasi kuat. Hal itu karena hingga saat ini belum ada regulasi yang menjadi payung hukum dalam pelaksanaan inisiatif ini.

Komitmen pemerintahan terbuka itu memang perlu untuk terus menerus diingatkan kepada Badan Publik, seperti halnya Pemprov Bali yang kini memiliki pengelola baru, I Wayan Koster dan Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Sebab, seperti disampaikan oleh Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Pengelolaan Isu-isu Sosial, Ekologi, dan Budaya Strategis, bagaimana publik percaya kalau tidak transparan di zaman teknologi ini?

Karena itu, amat penting bagi Gubernur Bali saat ini untuk lebih terbuka dengan mengadaptasi kebijakan OGP, seperti SatuPeta, SatuData, e-planning, e-budgeting, dan lainnya.

Apalagi, di sisi lain, makin banyak warga kini bergantung pada Internet. Menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), penggunaan Internet di daerah urban mencapai 72 persen. Namun, penggunaannya lebih banyak untuk ngobrol ringkas alias chatting (89 persen) diikuti medsos, searching, browsing, download, dan lainnya.

Sayangnya, ketika penetrasi penggunaan Internet terus meningkat, penggunaannya untuk mengakses pelayanan publik masih rendah. Misalnya mencari informasi peraturan (16 persen) dan pelayanan publik (8 persen).

Karena itulah Yanuar pun mengajak Pemda/DPRD menyesuaikan dengan fakta ini. Misalnya menggunakan aplikasi chatting dan media sosial sebagai saluran pengaduan layanan publik.

Nah, mungkin Pak Gubernur Bali yang baru memulai. Misalnya dengan membuat saluran khusus keluhan di Twitter atau aplikasi WhatsApp. Gampang banget kan? [b]

The post Jadi, Kapan Pak Gubernur Bali Bikin Akun Twitter? appeared first on BaleBengong.

K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil


Filter air Nazava di kios Kopernik. Foto Anton Muhajir.

Dua hari untuk berbagi pengalaman mengurangi kemiskinan.

Kopernik Day (K-Day) adalah perayaan dua tahun Kopernik dalam melakukan eksperimentasi untuk menemukan solusi dalam upaya pengurangan kemiskinan. Acara yang berlangsung pada 14-15 Februari nanti akan menampilkan diskusi tentang solusi inovatif di bidang pertanian dan upaya untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai di pulau Bali, serta pertunjukan musik oleh seniman-seniman terbaik Bali.

Untuk pertama kalinya, perayaan K-Day akan dilakukan selama dua hari berturut-turut untuk memberikan ruang bagi komunitas lokal untuk mendapatkan informasi dan pengalaman langsung mengenai proyek yang dikerjakan oleh Kopernik terkait eksperimentasi.

Pada 14 Februari, K-Day akan mengadakan lokakarya yang menjelaskan mengenai Sistem Irigasi Tetes ?Solutions Lab Kopernik, sebuah solusi bagi petani di daerah tandus untuk membantu meningkatkan produksi selama musim kering. Lokakarya ini juga akan membahas mesin injeksi yang merupakan mesin daur ulang plastik skala rumah tangga yang dibangun bekerja sama dengan ?Precious Plastic ?Bali.

“Sebagai organisasi yang berbasis di Bali, penting bagi kami untuk memberikan kontribusi untuk mengatasi tantangan utama yang dihadapi pulau ini dan salah satu area fokus kami di sini adalah masalah plastik sekali pakai. Kopernik percaya akan pentingnya fokus terhadap solusi dan kolaborasi dalam bekerja dengan pihak lain termasuk pemerintah, perusahaan, akademisi, masyarakat sipil, dan industri kreatif,” kata ?Ewa Wojkowska, Co-Founder dan
COO Kopernik ?.

Gelar wicara yang mengeksplorasi solusi inovatif di bidang pertanian pada 14 Februari akan menghadirkan pakar dan mitra Kopernik seperti ?Arianty Zakaria dari Dewan Sertifikasi UTZ. Akan ada juga gelar wicara yang membahas kampanye untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai di Bali bersama ?Pemerintah Daerah Gianyar, vokalis Navicula dan salah satu pencipta Pulau Plastik Gede Robi, Zakiyus Shadicky dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik dan Andre Dananjaya dari Kopernik. ?

Pada tahun 2010, Kopernik didirikan dengan keyakinan bahwa solusi yang lebih efektif sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah pembangunan agar lebih berkelanjutan.

Pada awal 2017, Kopernik mendedikasikan sumber dayanya untuk ‘eksperimentasi singkat’ dalam menemukan solusi yang efektif untuk mengurangi kemiskinan dan mengatasi beberapa tantangan sosial dan lingkungan utama di Indonesia. Eksperimentasi tersebut meliputi pengembangan dan pengujian produk serta pelayanan dengan mitra seperti Koperasi Madu Hutan Senoesa, UNICEF, UN Pulse Lab, dan mitra pemerintah seperti Dinas Koperasi Flores Timur.

Selain itu, hari kedua K-Day pada tanggal 15 Februari sebagai puncak acara akan menampilkan Navicula, The Hydrant, Nosstress, Zat Kimia, Celtic Room, Sandrayati Fay, Manja, Nymphea, Rasta Flute, dan DJ Marlowe. Acara ini juga akan menampilkan pasar komunitas yang menjajakan makanan ringan, pernak-pernik kesenian, dan kerajinan.

Acara ini juga akan menampilkan gelar wicara mengenai konsumsi alkohol yang bertanggung jawab yang disponsori oleh Diageo dan Rumah Sanur, dan para tamu dapat pulang dengan selamat bersama GO-JEK yang menyediakan diskon 50% untuk semua perjalanan GO-RIDE dan GO-CAR ke dan dari K-Day pada tanggal 14 dan 15 Februari dengan menggunakan kode GORIDEXKDAY dan GOCARXKDAY. [b]

The post K-Day, Merayakan Dua Tahun Eksperimen di Daerah Terpencil appeared first on BaleBengong.