Tag Archives: Teknologi

Ayo Berkarya dan Berbagi 2017-05-20 00:46:01

Terima kasih Money&I Magazine tlah beri kesempatan memuat tulisan lengkap saya tentang bangun Aset Digital di edisi mei-juli 2017. Semoga bisa buka wawasan dan memerkuat misinya: empowering entrepreneur.

Aset digital di Majalah Money&I

” … Dalam dunia marketing bisnis, dulu terbiasa cetak ribuan brosur untuk media promosi. Sejak ada internet, brosur itu berubah jadi e-flyer atau file gambar yang bisa disebarkan lewat email dan media sosial untuk promosi. Dulu harus sewa ruko untuk jualan, jaman internet cukup dengan website dan media sosial untuk etalase jualan. Murah meriah! Internet mampu menghemat ongkos produksi dan marketing!

Dapetin majalah ini di Gramedia/e-magz di getscoop.com.

Cover majalah Money&I edisi Mei 2017

Urat Malu Putus Dengan Google!

# Malu Bertanya Sesat Di jalan.
# Sering Bertanya, malu-malu’in!
# Google Map’in saja!

Saya bingung! Di malam hari cari plang nama Bali Outbound & Farmstay (BOF), Bedugul. Maksud hati mau on kan aplikasi Google Maps eh lihat sinyal HP munculkan E. Beruntung HP teman bisa locate BOF di Google Maps. Sesuai petunjuk si mbah, akhirnya rombongan saya blusukan masuk jalan desa dan yay! sampai di BOF!

Dulu, pas aktif di komunitas Bali Outbound, BOF pernah jadi lokasi kegiatan sosial We Are Family. Klo mau kesana, tinggal ingat-ingat plang nama dan mencari nya. Cara ini sebenarnya tidak efektif dan kuras energi karena harus siapkan mata untuk melotot kemudian beri beban otak untuk menggali memori.

Aksi mata melotot dan gali memori harusnya selesai hanya dengan sebuah aplikasi yaitu Google Maps. Bahkan kita tidak perlu cari warung, pinggirkan mobil dan siapkan anti malu untuk bertanya-tanya. Biar nggak dilabelin “Malu bertanya, sesat dijalan”. Dengan hadir nya Google Maps, label itu berubah jadi “Sering bertanya, ya malu-malu’in!” hahaha.

Kami, para mentor sehabis kegiatan Pesantren Digital Indonesia Camp IV silaturahmi ke Bapak Kadek Swanjaya, pemilik BOF untuk berdiskusi tentang permasalahan petani Bedugul. Kesejahteraan petani terusik akibat ketimpangan harga jual di petani dengan harga jual di pasar (end user). Ketimpangan itu justru untungkan pihak middleman yang leluasa bisa permainkan harga di sisi petani dan pasar.

Kembali omongin Google Maps ya. Suatu usaha jika terdaftar di Google Bisnis dan tercantum di Google Maps akan memudahkan calon pembeli (buyer) untuk langsung transaksi dengan pemilik usaha (owner). Buyer bisa hindari peran middleman yang bakal kuras dompet nya.

Buyer internasional ataupun dalam negeri yang saat ini melek internet, akan gunakan Google Maps untuk cari langsung ke produsen. Setelah landing di bandara, mereka cukup sewa motor dan cuzz langsung menuju ke lokasi produsen. Tanpa harus tanya dan tanpa harus buka peta kertas segede gambreng itu. Inilah kiblat efisiensi yang akan dianut oleh netizen.

Ketika melihat para alumni Pesantren Digital Indonesia yang ikuti pelajaran Google+ dan Google bisnis, lantas usaha mereka tercantum didalamnya, sungguh jadi kebahagiaan yang tiada terhingga.

Semoga langkah kecil ini mampu kurangi dan hilangkan peran middleman yang selama ini ciptakan kesenjangan sosial ekonomi masyarakat.

Salam DONGKRAK!
Dari ONline GeraK RAih Kemakmuran!

Urat Malu Putus Dengan Google!

# Malu Bertanya Sesat Di jalan.
# Sering Bertanya, malu-malu’in!
# Google Map’in saja!

Saya bingung! Di malam hari cari plang nama Bali Outbound & Farmstay (BOF), Bedugul. Maksud hati mau on kan aplikasi Google Maps eh lihat sinyal HP munculkan E. Beruntung HP teman bisa locate BOF di Google Maps. Sesuai petunjuk si mbah, akhirnya rombongan saya blusukan masuk jalan desa dan yay! sampai di BOF!

Dulu, pas aktif di komunitas Bali Outbound, BOF pernah jadi lokasi kegiatan sosial We Are Family. Klo mau kesana, tinggal ingat-ingat plang nama dan mencari nya. Cara ini sebenarnya tidak efektif dan kuras energi karena harus siapkan mata untuk melotot kemudian beri beban otak untuk menggali memori.

Aksi mata melotot dan gali memori harusnya selesai hanya dengan sebuah aplikasi yaitu Google Maps. Bahkan kita tidak perlu cari warung, pinggirkan mobil dan siapkan anti malu untuk bertanya-tanya. Biar nggak dilabelin “Malu bertanya, sesat dijalan”. Dengan hadir nya Google Maps, label itu berubah jadi “Sering bertanya, ya malu-malu’in!” hahaha.

Kami, para mentor sehabis kegiatan Pesantren Digital Indonesia Camp IV silaturahmi ke Bapak Kadek Swanjaya, pemilik BOF untuk berdiskusi tentang permasalahan petani Bedugul. Kesejahteraan petani terusik akibat ketimpangan harga jual di petani dengan harga jual di pasar (end user). Ketimpangan itu justru untungkan pihak middleman yang leluasa bisa permainkan harga di sisi petani dan pasar.

Kembali omongin Google Maps ya. Suatu usaha jika terdaftar di Google Bisnis dan tercantum di Google Maps akan memudahkan calon pembeli (buyer) untuk langsung transaksi dengan pemilik usaha (owner). Buyer bisa hindari peran middleman yang bakal kuras dompet nya.

Buyer internasional ataupun dalam negeri yang saat ini melek internet, akan gunakan Google Maps untuk cari langsung ke produsen. Setelah landing di bandara, mereka cukup sewa motor dan cuzz langsung menuju ke lokasi produsen. Tanpa harus tanya dan tanpa harus buka peta kertas segede gambreng itu. Inilah kiblat efisiensi yang akan dianut oleh netizen.

Ketika melihat para alumni Pesantren Digital Indonesia yang ikuti pelajaran Google+ dan Google bisnis, lantas usaha mereka tercantum didalamnya, sungguh jadi kebahagiaan yang tiada terhingga.

Semoga langkah kecil ini mampu kurangi dan hilangkan peran middleman yang selama ini ciptakan kesenjangan sosial ekonomi masyarakat.

Salam DONGKRAK!
Dari ONline GeraK RAih Kemakmuran!

BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali

Bekraf Developer Day Bali

Bekraf Developer Day bertujuan mendukung para pelaku ekonomi kreatif.

Dengan dukungan khususnya di subsektor aplikasi, web, IoT dan game, Bekraf Developer Day diharapkan mampu menginspirasi dengan pengalaman para developer yang telah sukses. Membuat komitmen dari industri untuk memicu semangat kemandirian kewirausahaan developer atau pengembang piranti lunak.

Bekraf Developer Day adalah acara dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia untuk mendukung tumbuh kembangnya dan mewujudkan kemandirian Bangsa melalui sektor industri kreatif (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT). Bekraf Developer Day sudah diadakan di kota-kota besar diseluruh Indonesia, dan sudah banyak membantu para developer muda Indonesia.

Mei ini BDD akan diadakan di Bali. Ini adalah BDD pertama yang dihadiri Google, Microsoft, IBM, dan Samsung dalam satu panggung.

Acara ini bersifat gratis dan dapat dihadiri oleh seluruh developer tanpa kecuali yang akan diadakan pada:

Jadwal Pelaksanaan 06 May 2017 07:00 s/d 06 May 2017 18:00
Lokasi Aston Denpasar Hotel & Convention Center, Jl. Gatot Subroto Barat No.283, Denpasar – Bali, Google Maps: https://goo.gl/LWmrjT
Tema dari acara Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Digital
Link Pendaftaran https://dicoding.id/e/577

Peserta akan mendapatkan update teknis dari para praktisi yang telah sukses dalam pengembangan aplikasi, web, game, dan Internet of Things yang dikemas dalam sesi inspirasi, workshop/masterclass, live coding, dan talkshow.

Tidak lupa juga akan ada banyak workshop/masterclass bagi teman-teman yang ingin belajar mengenai (Web Developer / App Developer / Game Developer / IoT) :

Talkshow Industri mengenai Dukungan Industri untuk Pengembang Lokal dari :

  • IBM Indonesia
  • Samsung Indonesia
  • Microsoft
  • Google
  • Dicoding

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Dicoding dengan dukungan Asosiasi Game Indonesia, Codepolitan, Dicoding Elite, Google, Google Developer Expert, IBM Indonesia Intel Innovator, Komunitas ID-Android, Microsoft Indonesia, Samsung Indonesia, dan perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia.

Event Bekraf Developer Day 2017 ini juga didukung oleh Komunitas Lokal :
Startup Bali (SuBali) : https://www.facebook.com/groups/subali/
Game Developer Bali (Gamedev) : https://www.facebook.com/groups/gamedevbali/
BaliJS : https://www.facebook.com/groups/923989567684064/

The post BEKRAF Developer Day Segera Hadir di Bali appeared first on BaleBengong.

Website Tidak Penting?

Ada yang suskes jualan lewat media sosial. Dagang nya laku di Instagram, Facebook, Twitter, Youtube dan Google+. Kemudian ditanya, kenapa tidak buat dan jualan juga lewat website?

Untuk apa buat website jika sudah dagang dan kaya lewat media sosial?

Ya, website belum lah penting bagi netizen yang:

1. Belum sadar akan keselamatan bisnis nya. Media sosial itu punya kebijakan yang tidak menentu yang kadangkala bisa mematikan/suspended akun member nya. Kasus paling parah adalah akun kecurian dan sulit untuk diambil kembali. Sedangkan website, kalau data hilang/error/kecurian bisa minta reset password pada perusahaan web hosting (semisal BOC Indonesia). Mereka punya backup di mesin lain dan kembalikan (restore) data website dan email seperti sedia kala.

2. Belum sadar dengan kenyamanan bernavigasi (user friendly) dalam belanja online bagi pelanggannya. Letak kategorisasi produk dan foto campur jadi satu. Syukur-syukur ada album nya. Sedangkan website, punya navigasi yang jelas. Menu navigasi nya terpampang di atas atau di bawah. Dengan menu-menu yang jelas semisal About Us, Products (dropdown Category A, B, C, dst), Gallery, Package, Promo, News, Contact, dll sesuai kebutuhan.

3. Belum ingin mendapatkan profit yang lebih besar lagi. Cukup terlena dengan profit dari media sosial. Sedangkan website, mampu muncul di Google Search dan mesin pencari lainnya (Bing, Yahoo, dll). Netizen masih gunakan search engine untuk cari produk.

4. Belum sadar dengan sistem database penjualan. Pembelian di media sosial cukup sapa sist, gan, kakak, tanya ini itu, tanya rekening, kirim uang dan kirim barang. Selesai. Sedangkan website, mampu sediakan sistem reservasi/sistem pembelian yang runut terstruktur. Tinggal klik, isi, next, chekout, bayar, tunggu barang datang. Website mampu secara otomatis simpan data/identitas pelanggan, kurangi stock, data penjualan, dan bisa kirim email masal ke pelanggannya untuk tetap kontak dan ciptakan pelanggan yang loyal yang mau untuk membeli ulang (repeating buyer).

5. Belum tahu tentang penting nya brand identity dalam bisnis dimana website adalah unsur pokok dalam keberadaan sebuah perusahaan. Sudah menjadi standart dan diakui dalam bisnis di seluruh dunia. Media sosial tetap lah tempat untuk berjejaring secara sosial.

6. Belum faham, ternyata ikutan besarkan brand orang (perusahaan lain) yaitu gmail.com dan yahoo.com. Mungkin juga hotmail dan live.com. Pedagang di media sosial gunakan nama email mereka. Misal [email protected] dll. Sedangkan jika punya website, pebisnis itu punya email dengan nama website nya. Misal [email protected] atau [email protected] Email itu secara terus menerus muncul di kartu nama atau di ucapan ketika berjejaring. Terbuka potensi website itu akan terbuka oleh netizen. Klo gmail? Yang terbuka ya halaman miliknya gmail.com. Berapa tahun pedagang medsos itu punya email gmail? Selama itulah dia membesarkan brand gmail 🙂 Kenapa tidak besarkan brand sendiri?

7. Belum faham bahwa foto produk yang di upload ke media sosial tidak setajam foto aslinya. Mesin media sosial otomatis akan kurangi kualitas dan ukuran foto. Akibatnya asal tampil, asal terlihat yang sejatinya dpi resolusinya sudah berkurang banyak. Sedangkan website, bisa atur sendiri kualitas dan ukuran foto produk yang akan ditampilkan.

8. Masih suka dan berjiwa pedagang, bukan pebisnis. Pedagang biasanya sendirian dalam melayani pelanggannya. Begitupula perlakuan terhadap akun-akun media sosialnya. Karena follower nya sudah ratusan ribu, tidak rela dioperasikan orang lain (staf nya). Lha kalo staf nya kabur? Diare (Diam-diam resign). Muntaber (Mundur tanpa berita). Sedangkan website, bisa mencipta user dengan berbagai level operasional. Paling tinggi admin, dibawahnya ada editor, author yang hak akses nya bisa diatur. Pebisnis itu harus bekerja dalam team yang punya key activities, job description, dan SOP yang terorganisir. Berwawasan luas dan membawa dampak positif bagi orang banyak.

8. Belum mau untuk naik kelas. Merasa cukup dengan jualan lewat media sosial. Sedangkan adanya website mampu mencipta potensi yang tersebut diatas.

Salam DONGKRAK
(Dari ONline GeraK RAih Kemakmuran)