Tag Archives: taman baca kesiman

Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca

Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik dan plastik.

Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis.

Tiga puluh April 2019 lalu, Taman Baca Kesiman (TBK), memperingati hari kelahirannya, lima tahun hadir di serambi kiri kota Denpasar. Peringatan diisi dengan menggelar acara unik, Pesta Baca. Sebuah pesta yang ‘menjamu’ para penyuka baca, melalui saling-silang pendapat, tentang buku yang dibaca, disukai, diapresiasi, dan secara literasi menginspirasi si pembaca menjadi sebuah aksi. Paling tidak untuk dirinya sendiri.

Barangkali Pesta Baca ini pesta perdana yang pernah digelar di tanah Bali. Tujuannya semacam memberi penghargaan kepada kaum pembaca secara adil merata dan setara. Karena selama ini yang banyak diberikan penghargaan kebanyakan penulisnya. Bukankah setiap karya buku yang ditulis, pasti menghendaki adanya sang pembaca?

Melalui Pesta Baca, Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca memang layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis. Membaca adalah sebentuk upaya aktif seseorang ‘bergaul’ atau berdialog dengan pikiran penulis, berkesinambungan, menguras tenaga dan pikiran untuk mencerna bacaan. Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik, dan plastik.

Asal usul Pesta Baca

Acara Pesta Baca di TBK ini bermula dari obrolan di meja makan, di rumah Batan Buah Kesiman, bersama keluarga saat merayakan hari Nyepi. Nyepi kita jadikan tradisi guyub keluarga karena satu-satunya momen terindah yang mampu ‘mendiamkan’ kita yang tinggal di Bali dari hiruk-pikuk kehidupan global yang kian menjauhkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Hanya Nyepi kita bisa ngobrol intim tidak terinterupsi oleh internet dan handphone.

Ketika itu saya lontarkan pertanyaan, punya ide nggak, untuk Ultah ke-5 Taman Baca Kesiman? Semuanya semangat sambil meraba-raba ide yang baik dan pas. Lalu, Termana mengusulkan ide PESTA BACA. Semua yang hadir menyambut baik ide tersebut, dan minta Termana menggambarkan wujud kongkrit ide pesta baca itu. Termana menjelaskan, bahwa pada Pesta Baca itu para penyuka Baca dihadirkan pada sebuah panggung kontestasi. Dua pembaca laki dan perempuan tampil, ini penting, agar tidak dominan laki-laki aja. Hal ini sejalan dengan moto TBK, bhineka dan setara.

Penjelasan Termana ini menjadikan curah pendapat Nyepi semakin hangat, dan langsung bentuk panitia kecil yang tediri dari saya, Bu Hani, Carlos, Termana, Ika, Jung Hadhi, dan Fenti. Kemudian diskusi lanjut dengan ide-ide acara tambahan selama Pesta Baca berlangsung seperti Kaos Keos Art, lapak buku, dongeng, musik, dan kuliner lokal.

Disepakati Pesta Baca digelar tiga hari, mulai dari t30 April 2019 hingga 2 Mei 2019. Ini momentum yang baik untuk melangsungkan Pesta Baca, karena pada tanggal itu ada hari-hari bersejarah. Pada 30 April adalah tanggal wafatnya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Sementara 1 Mei hari Buruh, dan 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, pas lah sudah. Dan hal ini semakin menambah semangat mengeksekusi ide Pesta Baca. Saking semangatnya, diskusi pun sampai pada perihal bagi tugas, siapa melakukan apa, terkait Pesta Baca. Ada yang mendapat tugas menghubungi narasumber, pengisi acara selingan Pesta Baca, konsumsi, kemudian pengisi pidato Kebudayaan, dan lainnya.

Nah ketika pembicaraan terkait rencana acara Pidato Budayaan, saya usulkan untuk tidak menggunakan istilah Pidato Kebudayaan. Saya usulkan pakai istilah lokal: Sobyah Budaya. Saya pikir istilah Pidato Kebudayaan terlalu formal, elitis, serius, resmi, dan serem, kurang pas dengan suasana Taman Baca Kesiman (TBK). Bercermin dari pengalaman sehari hari, kehadiran pengunjung TBK, hampir semuanya kelihatan informal dan santai, tidak terkait dengan tetek bengek aneka formalitas.

Kemudian setelah hari Nyepi, pertemuan panitia kecil berlanjut, dan tampaknya kepanitiaan harus diperbesar, karena kita ingin mendapat masukan dari berbagai kalangan dan persepektif agar acara menjadi lebih beragam, lancar dan sukses. Panitia kecil kemudian membuat group WA Pesta Baca dengan tambahan tambahan personel antara lain Bang Roberto, Luhde, Anton, Made Mawut, Ini Timpal Kopi, Daivii ditambah beberapa tenaga relawan seperti Riang, Teja, Bayu, Gilang. Kehadiran group WA Pesta Baca, semakin menjadikan komunikasi dan koordinasi tugas serta informasi semakin lancar, cepat dan mantap.

Lewat grup ini pula acara Pesta Baca semakin mengerucut dan pasti, antara lain Sobyah Budaya, Baca Adalah Nyawa, Lapak Baca, Kaos Keos Art, Dongeng dan Musik.

Sebagai langkah awal, kita merancang desain banner dan poster untuk dimunculkan di media sosial. Untuk desain banner, ada usulan dari Carlos untuk minta bantuan designer perempuan yang sudah banyak melahirkan karya- karya cantik dan menarik perhatian publik, namanya Ivana Kurniawati. Astungkara, Ivana Kurniawati putri Kalimantan yang bermukim di Thailand, dengan senang hati siap support desain untuk Pesta Baca.

Sobyah Budaya

Rencana awal Pesta Baca, untuk Sobyah Budaya diisi tokoh lokal, namun dalam perkembangannya, ada usulan agar Sobyah Budaya diisi tokoh nasional. Pertimbangannya karena kita ingin Pesta Baca tidak hanya untuk masyarakat lokal saja, kita ingin Pesta Baca menyeberang ke wilayah nasional dan bila perlu internasional. Karena kami berkeyakinan Pesta Baca ini ide dan acara baik, segala yang baik untuk kehidupan mesti menyebar ke segala penjuru. Sekalian mengenalkan TBK sebagai tempat paling asyik untuk bertegursapanya aneka perbedaan di Nusantara. Dan ini sesuatu yang nyata, tidak sekadar wacana saja.

Awal April saya dan Bu Hani melakukan perjalanan bisnis ke Blora Jawa Tengah. Nah, disini pula muncul keinginan mengunjungi rumah pujangga besar Indonesia yang disingkirkan Orde Baru Pramoedya Ananta Toer (alm). Kami mampir ke Pataba (Perpustakaan Anak Semua Bangsa) milik keluarga Pram di Jln. Pramoedya Ananta Toer, Blora.

Syukur alhamdulilah, kami bertemu dengan Ibu Soesilo Toer, kami dipersilakan duduk dan disajikan segelas air putih. Selang beberapa menit muncul Pak Soesilo Toer yang dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran kami. Setelah ngobrol panjang, kami sampaikan pada beliau bahwa kami bermaksud mengundang beliau hadir pada perayaan Lima Tahun TBK. Dan kami ingin beliau mengisi acara Sobyah Budaya. Syukur alhamdullilah, Astungkare, beliau menyatakan bersedia hadir. Woooo bukan main senangnya hati kami berdua, bak merasa mendapat dua truk durian runtuh. Beliau juga senang, karena cita-cita beliau sejak lama ingin tahu Pulau Bali dan kebetulan tanggal 30 April adalah tanggal wafatnya Pramoedya. Saya pikir Bpk. Soesilo Toer adalah sosok yang paling pantas mengisi Sobyah Budaya, karena beliau salah seorang putra terbaik bangsa yang lolos seleksi masuk universitas di Russia di era Presiden RI Bung Karno. Setelah tamat beliau pulang ke Indonesia dan ingin menyumbang keahliannya untuk Indonesia. Beliau juga seorang pejuang dan cinta Indonesia, dan sadar betul setelah tamat harus kembali mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

Namun apa lacur, begitu tiba di tanah air, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh kepala suku rezim Orde Baru, Soeharto. Beliau penulis yang produktif, hidup sederhana, dan banyak menterjemahkan karya-karya berbahasa Russia. Dan inilah sosok pribadi yang tepat dan pantas kita dengar dan kita simak bersama lewat Sobyah Budaya.

Baca adalah Nyawa

Dua-tiga tahun terakhir di bali sempat populer lagu Bali berjudul: Tuak Adalah Nyawa. Lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak, remaja dan orang dewasa, baik di desa maupun di kota. Jujur saya katakan lagu ini bagus, karena nadanya gembira, namun kurang pas di hati karena judul dan liriknya tidak mendidik, terutama untuk anak-anak dan remaja. Saya khawatir lagu ini bisabisa menjadi alat pembenar untuk anak- anak mengonsumsi alkohol.

Sebagaimana kita ketahui Bali tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Banyak hal mesti dibenahi, apalagi Bali dengan industri pariwisatanya, yang kurang senang dengan pemikiran kritis. Pariwisata membangun zone nyaman yang dalam banyak hal sering diterjemahkan apolitis atau “sing demen ruwet”. Dengan istilah Baca adalah Nyawa, akan bisa menggiring opini publik beralih dari tuak ke bacaan.

Dari menyukai tuak menjadi minat baca, begitulah idealnya. Melalui Pesta Baca dan Baca adalah Nyawa, berharap langkah kecil ini bisa menjadi alat tepat untuk mengusir picik serta fanatisme sempit warga dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk di Bali dan Indonesia.

Acara Baca adalah Nyawa, berdurasi 2.5 jam, terdiri dari dua sesi, sesi pertama dan kedua. Setiap sesi ada pemandunya, dan pemandu adalah orang-orang yang diseleksi dan dianggap mampu membangkitkan suasana cair sambil memberi highlight pada pesan-pesan dari buku yang dipestakan. Masing masing sesi diisi penyuka baca laki, perempuan dan transgender.

Masing- masing menceritakan buku apa yang dibaca, dan yang berpengaruh atau berkesan bagi dirinya. Kenapa buku itu begitu menginspirasi? Barangkali mendorong si pembaca untuk melakukan perubahan? Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens yang hadir. Nah disinilah arti Pesta Baca yang diharapkan terjadi proses pembelajaran sekaligus merangsang minat baca warga. Apalagi sang pembaca adalah orang- orang yang cukup mumpuni di bidangnya sehingga Baca adalah Nyawa memang benar- benar bernyawa dalam membangun semangat baca warga.

Lapak Baca

Ini acara tambahan yang saya pikir penting dan masih dalam satu paket acara Pesta Baca. Lapak Baca ini memberi ruang kepada para pelapak buku dan perpustakaan keliling untuk menampilkan, baik karya buku yang komersial maupun buku yang sekedar dipajang untuk dibaca gratis. Ini penting karena lewat Lapak Baca ini mendorong orang2 yang hadir pada pesta baca untuk lihat- lihat buku yang sedang hangat dan banyak dibaca orang. Barangkali ada yang tertarik membeli buku baik dari buku yang sedang dibicarakan maupun buku diluar dari yang sedang dipestakan aau buku-buku lain yang punya daya tarik tersendiri.

Kaos Keos Art

Saya menyebutnya Kaos Keos Art. Saya mengkoleksi banyak baju kaos yang sarat dengan pesan pesan perlawanan atau ketidakpuasan dengan kebijakan penguasa. Pada kaos itu kita bisa lihat bentuk perlawanan rakyat sehari- hari bergelut dengan ketidakadilan. Saya berfikir jika kaos ini dipajang dalam jumlah banyak pasti kelihatan seni dan orang bisa belajar dari pesan- pesan yang tertera pada baju kaos.

Sering kita baca di media massa ada orang ditangkap aparat karena pakai kaos bertuliskan Bali Tolak Reklamasi, ada bule yang pakai kaos palu arit terpaksa harus berurusan dengan apparat. Ternyata baju kaos bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi baju seni baik desain maupun pesannya dikemas artistik dan mampu bikin penguasa “keos”. Kaos Keos Art ini ingin menyampaikan pesan kepada publik. Inilah ekspressi jujur dari rakyat, jujur karena benar, dan benar menjadikan dia indah. Ini pula realita yang mesti disimak dan ditindaklanjuti penguasa.

Dongeng

Bali punya tradisi mendongeng. Saat ini kegiatan mendongeng semakin jarang, karena dunia saat ini dijejali hiburan modern, dan juga manusia semakin sibuk, hubungan kekerabatan yang dulunya guyub kini mulai menjauh dan cenderung lepas dari ikatan komunal atau guyub. Acara mendongeng disediakan untuk menghibur pengunjung yang bawa anak-anak. Harapannya kegiatan mendongeng ini bisa menarik pengunjung dan tradisi mendongeng bisa bangkit kembali tentunya dengan kemasan yang lebih memikat pengunjung.

Musik

Acara musik ini ditangani oleh Made Maut dan Carlos. Para musisi ini hampir semuanya adalah musisi yang punya sikap dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Dan hampir semuanya apresiatif dengan keberadaan TBK sebagai melting pot budaya dan gerakan sosial di Bali. Mereka semua mau berkontribusi tampil gratis sambil ikut mendukung dan menyimak opini-opini yang mengalir pada sesi Baca adalah Nyawa. Musisi hadir dengan musik dan lirik ciptaannya yang dipentaskan pada saat jeda acara untuk merelaksasi otak dalam berpesta baca.

Pada acara musik ini juga terjadi dialog seni antara musik dan puisi. Selagi musik dimainkan diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair yang hadir dengan spontanitas.

Yang jelas dan tak kalah pentingnya, bahwa acara Pesta Baca adalah acara swadaya dan swakelola dari inisiatif lokal, memaksimalkan produk lokal, untuk lokal, nasional dan internasional, tanpa harus sibuk mengorbankan alam dan budaya Bali untuk Pariwisata.

Terima kasih kepada seluruh tim TBK, tim Pesta Baca, para pengisi acara, pembaca, moderator, pencatat, musisi, pendokumentasi, pelapak buku, dan lainnya. Peminjaman baju kaos, pengunjung dan semua pihak yang mendukung acara Pesta Baca TBK April lalu. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan selama acara. Sampai ketemu pada acara Pesta Baca, April 2020.

The post Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca

kaos2/ka·os/ n keadaan kacau-balau. (https://kbbi.web.id/kaos-2-)

“Arak Connecting People” sebuah kalimat di salah satu kaus, plesetan dari salah satu raksasa telekomunikasi. Di awal kemunculan telepon genggam menjadi merek yang menghiasi tangan, telinga, dan saku masyarakat. Merek ini awalnya begitu berjaya, tetapi akhirnya limbung dan kini entah ke mana.

Toh, jargon dalam kaus tersebut masih mudah ditemui dalam lingkaran pergulan hingga kini.

Arak merupakan salah satu alkohol lokal. Minuman ini berhasil membuat lingkaran-lingkaran yang melahirkan obrolan konyol hingga perbincangan serius. Dari persoalan ringan koin jatuh hingga persoalan berat tentang negara bahkan agama.

Lingkaran-lingkaran yang tidak berhasil dibentuk secara turun temurun, bertukar pendapat hingga gagasan. Jauh sebelum merek yang mengklaim menghubungkan orang tersebut hadir dan semakin memisahkan setiap individu dalam ruang-ruang privat. Ruang yang membuat kebijakan publik pun menjadi urusan personal masing-masing, dan harus diselesaikan sendiri-sendiri.

Baju kaus tersebut tentu tidak hadir hanya sekadar memplesetkan sebuah jargon, tapi menggambarkan bagaimana jemawanya sebuah perusahaan mengklaim dirinya begitu berjasa menghubungkan setiap orang. Sementara ada hal kecil seperti arak (dan alkohol lokal lain seperti tuak, sopi dll) yang lebih dahulu melakukannya dan tentu saja menghubungkan dalam arti sebenarnya.

Tidak hanya sebuah suara ke telinga, tetapi menghubungkan dalam bentuk lebih intim, kehadiran seseorang dalam sebuah lingkaran. Kehadiran yang memungkinkan pertukaran pendapat dan gagasan di tempat yang sama. Mempererat lingkaran menjadi sebuah kelompok dan membuka kemungkinan bergerak menjadi kesatuan.

Melampau Jarak

Kata “connecting” yang didefinisikan oleh merek itu hanya membuat setiap orang terhubung melampaui jarak (pak pos sudah lakukan lebih dahulu) tapi mengabaikan kehadiran secara fisik. Tanpa disadari itu membuat setiap orang larut dalam persoalan dan kesendiriannya masing-masing. Padahal kehadiran satu sama lain bisa memunculkan dan menumbuhkan solidaritas.

Di barisan baju kaus yang lain sebuah kalimat tidak kalah nyentil juga hadir, “Dicari agama murah meriah” tertera di baju kaus belel yang sudah pudar, entah berapa kali perlakuan kering-cuci-pakai. Perlakuan yang bisa jadi timbul akibat si pemilik kaus harus bekerja keras memenuhi keinginan agama yang nyatanya tidak murah.

Baju kaus yang menyentil bagaimana gemercik rupiah harus dikeluarkan untuk membiayai keberlangsungan pesta sebuah agama. Menemukan agama yang murah meriah tentu menjadi sebuah misi mustahil. Kepercayaan yang diyakini akhirnya dilembagakan dalam sebuah agama akan memunculkan biaya. Biaya yang harus dikeluarkan pemeluk agama walau Tuhan tidak pernah menuntut.

Bahkan kalimat “tuhan maha pemurah” menunjukkan bagaimana kasih tuhan sering kali didengar walau pada kenyataannya tetap saja biaya harus dihadirkan untuk menjaga eksistensi agama tersebut.

Ada juga “Naskleng” baju kaus merah dengan font tulisan dan logo mirip dengan merek yang diplesetkan dari kata tersebut. Di bagian belakang ada sebuah kalimat ”acces to water sould NOT not be a public right”, sebuah kutipan dari Peter Brabeck, CEO Nestle (saat itu).

Naskleng dengan seekor burung terbaring mati adalah protes dari pernyataan itu.

Sosok pengusaha dengan kekuatan modalnya, secara sepihak dan seenaknya melihat dan menganggap air, kebutuhan utama semua makhluk hidup sebagai sebuah komoditi yang bisa dijual seenaknya. Sekali lagi bagaimana suara-suara gerah muncul dan berseliweran di antara kelakuan perusahan besar dengan kekuatan modal mereka.

Tidak ada banyak suara dari beragam kekacauan akibat kerakusan pengusaha dengan modalnya yang berhasil berkongsi dengan pemerintah. Membuat kebijakan hukum yang pada kenyataannya merebut ruang-ruang hidup warganya.

Informasi tentang pameran Kaos Keos. Foto Baskara

Miris

Ada yang miris dan menumpahkan lewat kaus, bahwasanya republik ini tak seperti “republic indomie”, ketika semua dikelola dan diorientasikan secara instan. Juga kalimat kutipan puisi Wiji Thukul “Ini tanah airmu di sini kita bukan turis”. Sampai plesetan cK (circle) menjadi circle Kleng, suara protes invasi retail 24 jam.

Ada pula kaus plesetan BALI “Bali Amblas Lantaran !nvestor” (tanda seru mewakili I ). Juga teriakan warga Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen yang merusak alam, dan warga Banyuwangi yang menolak tambang emas merenggut Gunung Tumpang Pitu. Kaus penolakan warga Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut pencabutan Perpres 51 Tahun 2014 cukup banyak dari beragam daerah dengan desain masing-masing.

Teriakan seorang anak yang kehilangan ayahnya di masa rezim Suharto yang otoriter, hingga teriakan penolakan pembangunan PLTU Batu Bara di Celukan Bawang di rezim Jokowi yang bebal.

Semua suara dari berbagai lapisan warga dari berbagai wilayah yang termuat dalam baju kaus berkumpul, membentuk sebuah barisan. Menunjukkan bahwa ada sikap kritis di antara dominasi penguasa pengusaha. Lahir kesadaran kritis yang menyeruak di antara sikap pengabaian dan abai berjamaah. Ada yang mengepalkan tangan dan melawan di antara ketakutan dan kepatuhan yang melanda.

Suara kritis perlawanan, dari masalah lingkungan, desakan adat dan tradisi, kuasa modal, kelakuan penguasa (pemerintah). Suara kecil yang menggendor dominasi perampasan ruang hidup yang terjadi. Suara dari masa ke masa, dari era Taring Padi yang baju kausnya telah belel, hingga kini ke era baju kaus Bali Tolak Reklamasi yang masih kinclong.

Barisan baju kaus ini dipajang, ditata berundag hingga menjadi sebuah karya instalasi berjudul “Kaos Keos” dari Agung Alit yang menghiasi halaman belakang Taman Baca Kesiman. Karya instalasi ini dibuat dan dipertontonkan dalam rangkaian Pesta Baca, perayaan ulang tahun yang ke-5 dari Taman Baca Kesiman. Karya yang mengingatkan bahwa baju kaus bukan hanya sebuah sarana untuk tampil gaul, tetapi juga media untuk menyuarakan sikap. Menyuarakan keberpihakan.

Sebuah karya yang kemudian tanpa disadari mendokumentasikan bagaimana suara-suara itu lahir dan terus didengungkan. Dari satu masa ke masa lain, dari generasi ke generasi berikutnya terhubung lewat media baju kaus. berhasil dikumpukan dan menjadi sebuah karya instalasi .

Sebuah karya seni instalasi bagaimana Sukarno sebagai proklamator dibandingkan dengan SiBuYa (SBY) sebagai reklamator, presiden di balik terakomodasinya ide reklamasi Teluk Benoa. Bagaimana perhatian seharusnya lebih diberikan pada dunia (bumi) bukan bank dengan rayuan kredit-kredit murah yang memenjara setiap orang pada kewajiban membayar bunga dari setiap kredit yang mereka dapatkan. “More World, Less Bank” hingga sentilan “For Sale, otak masih waras dijual karena jarang dipakai.”

Teriakan warga bahwa Bali akan hancur ketika sawah sebagai dasar tradisi dan budaya punah “Sawah punah, Bali benyah” sampai parodi Visit Bali Years.

Instalasi “Kaos Keos” menjadi gambaran bagaimana kekacauan situasi sosial jika kekuasaan modal (pengusaha) didukung penguasa (pemerintah) telah mengeksploitasi alam dan merenggut nilai-nilai warga. Ruang hidup mereka direbut. Alih-alih berpihak dan melindungi mereka sebagai kesatuan ruang-manusia yang dihidupi, malah merenggut ruang dan merampas ruang tersebut.

Jika suara-suara dalam baju kaus akhirnya bisa berkumpul dan berteriak bersama, semoga juga gerakan-gerakan perlawanan di setiap daerah bisa berkumpul, bersatu, dan saling menyuarakan. Bukankah Belanda berkuasa sedemikian lama akibat perlawanan terlokalisir di daerah, tidak bersatu. Bersatu dengan satu tujuan, merebut kembali ruang hidup yang dirampas penguasa-pengusaha dan menunjukkan suara rakyat bukan suara yang bisa dengan mudah diabaikan.

Semoga seni instalasi Kaos Keos bisa memicu perlawanan yang awalnya gelinding kecil menjadi sebuah gelindingan bola salju. Bisa menghancurkan dominasi oligarki dan kekuasaan rakus, bagaimana nyala kecil bisa bisa berkobar menjadi api yang berkobar untuk membakar kerakusan kongsi pengusaha-penguasa.

Ada teks di seni instalasi ini yang tidak kalah penting, “Kaos keos ulian bansos” dan “Wangun zat kimia lokal Bali.” Jika bansos memunculkan bentuk bantuan yang memanjakan, pembungkaman serta penundukan, mengebiri kesadaran dan sikip kritis warga. Penggunan zat kimia serta eksploitasi alam Bali sama kencangnya dengan jargon pemerintah yang menggunakan frase lokal.

Kebijakan yang akan membuat Bali harus menanggung beban infrastruktur atas nama pembangunan, kemajuan, dan kemakmuran masyarakat. Silakan cari tahu bagaimana rancang bangun yang mereka rencanakan untuk panglima yang bergelar, Industri Pariwisata”. [b]

The post Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Pesta Baca, cara asyik usir picik rayakan 5 tahun Taman Baca Kesiman

Taman Baca Kesiman (TBK) hadir pertama kali di Denpasar pada tanggal 30 April 2014. Sejak muncul di ruang publik 5 tahun silam dengan tujuan menjadi tempat asyik mengusir picik.

Perpustakaan alternatif yang sering disebut “TBK” ini menjadi semacam oase segar bagi pecinta buku di tengah-tengah suntuknya dunia pariwisata massal di Bali yang semakin keras dan berisik.

Tapi TBK dibangun bukan untuk anti pada arus besar pembangunan pariwisata yang begitu dipuja, namun justru hendak menawarkan alternatif kesadaran kritis. Agar publik yang berkunjung di TBK bisa melihat dan menikmati Bali dengan cara berbeda dari wisata mainstream, yakni: membaca buku, berdiskusi dan berkolaborasi, dengan terus merawat dan memberi hormat pada kebhinekaan Indonesia.

Dilengkapi dengan koleksi lebih dari 4,000 buku, warung kecil, kebun organik sehat dan play ground hijau, TBK juga sering didapuk menjadi venue acara-acara alternatif dan independen oleh kalangan muda di Denpasar dan sekitarnya, seperti: launching album musik, buku, nonton bareng film-film indie, pagelaran musik, hingga acara ultah beragam komunitas.

https://www.youtube.com/watch?v=KsADrhMtHTk Berdendang TBK

5 tahun lalu TBK lahir, ia didirikan dari ide dan tangan dingin pasangan pebisnis dengan bendera Fair Trade, Agung Alit dan Hani Duarsa. Memanfaatkan tanah kebun warisan orangtua, pasangan ini memilih “mewakafkan” tanah waris itu menjadi ruang perpustakaan yang terbuka untuk publik, alih-alih mengubahnya untuk membangun hotel atau villa mewah pribadi. Tapi tentu saja pilihan itu bukan tanpa konsekuensi. Ribuan koleksi buku pribadi Agung Alit dan Hani Duarsa dipindahkan dari rumah pribadi ke perpustakaan TBK ini untuk bisa diakses dan dibaca khalayak banyak.

Ubi dan jagung urab

Masuk di umur ke-5, Taman Baca Kesiman memang belum bisa memenuhi harapan semua orang agar menjadi perpustakaan ideal dan mapan. Sebagai tempat membaca buku, TBK masih terus berproses. Kami berusaha untuk terus hidup dan berdinamika di saat laju pesat teknologi informasi begitu mendominasi gaya hidup masyarakat urban kekinian.

Sumber informasi yang membludak dari berbagai platform media sosial dan berita online, seolah mengharuskan orang untuk membaca cepat dan singkat. Aktivitas membaca buku offline apalagi di perpustakaan, dianggap menjadi sebuah aktifitas kemewahan, tapi sekaligus bisa juga dikira kurang kerjaan. Kebiasaan membaca buku, apalagi menulis dan mendiskusikan buku memang belum membudaya bagi orang Indonesia pada umumnya. Tak heran jika tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah, di level internasional tingkat literasi kita bahkan setara dengan negara Botswana di Afrika.

Minat baca buku dan kesadaran literasi yang rendah tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi Taman Baca Kesiman untuk berkontribusi dalam upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Semangat untuk mendorong penguatan minat baca, berdiskusi, menghargai perbedaan pendapat, berpikir kritis dan progresif akan terus dipelihara dan bergelora di Taman Baca Kesiman.

Taman Baca Kesiman merupakan salah satu perpustakaan asyik di Denpasar.

Untuk terus memantik minat baca tersebut, dalam rangka peringatan 5 Tahun Taman Baca Kesiman, kami menggelar PESTA BACA pada 30 April-2 Mei 2019. Berlokasi di Taman Baca Kesiman, Jalan Sedap Malam 234, Denpasar.

Puncak perayaan “Pesta Baca” 5 Tahun TBK akan digelar 30 April, pukul 17.30 WITA, dengan acara utama “Sobyah Kebudayaan” dari Bapak Soesilo Toer (sastrawan cum pemulung) yang khusus diundang di acara ini dan datang langsung dari Blora, Jawa Tengah. Soesilo Toer juga penulis banyak judul novel, dan adik bungsu dari sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Pesta Baca pada hari 2 dan 3 akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti Bedah Buku dan diskusi, Lapak Buku, Kaos Keos Art, Mendongeng, dan Bermusik.

The post Pesta Baca, cara asyik usir picik rayakan 5 tahun Taman Baca Kesiman appeared first on BaleBengong.

Rara Sekar dan Pesona Sejarah Alternatif

Foto: Luh De

Pesona Rara Sekar tak hanya pada suara, lagu, atau petikan gitarnya. Perempuan yang pernah tinggal di Ubud, kini meneruskan kuliah di New Zealand ini mengusik dengan pernyataan dan gugatannya saat di atas panggung. Tidak berapi-api, namun mempengaruhi penonton.

“Tini Yanti versi Made Mawut, kita inteprestasi ulang. Pernah dibubarkan (diskusi soal 65) waktu kuliah banyak ditabukan, dialog antar agama diserang FPI. Trauma masih membekas dan api amarah. Saya nangis di polisi kenapa justru kami yang mengalah, knowledge dikalahkan. Sejarah untuk siapa, peran kita di mana. Sejarah dibekukan, ingatan dirawat. Kita yang jadi prisma agar echo-echo bertambah,” demikian penggalan dari beberapa menit orasinya di panggung sebelum tampil.

Sebelum konser, saya yang tidak banyak tahu kiprah Rara dan Banda Neira (sudah bubar), menemuinya sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Sebuah konser, pemutaran film, dan dialog bertajuk Sekeping Kenangan di Taman Baca Kesiman, Denpasar. Wawancara singkat tapi merasakan hasratnya yang tinggi pada isu-isu marjinal.

Berikut rangkumannya.

Bagaimana keterlibatan Rara di album Prison Songs?

Tak ikut dokumentasi tapi menginteprestasikan ulang lagu Tini dan Yanti, kemudian kita merekam, dan dirilis bareng. Untuk Prison Songs mendukung proyek sebagai kontributor bukan kapasitas sebagai researcher.

Mau gak mau ikut di arus gerakan tak hanya setor karya, apakah menarik isunya untuk kamu?

Sangat menarik. Dalam diskografi Banda Neira sebagian lagunya politis, dalam satu album pasti ada 1-2 yang berkaitan dengan isu politik. Kenapa mengiyakan terlibat karena Ananda jurnalis dan aku aktif di komunitas aktivis HAM. Dulu pekerja sosial kerja di Kontras sejak kuliah aktif, jebolan sekolah HAM pertama mereka sekitar tahun 2009, masuk komunitas mereka. Saya sudah diperkenalkan dengan tantangan HAM, dan ini sesuatu yang dekat di hati dan menjadi bagian dari gerakan itu.

Tini dan Yanti disebut lagu yang paling sering dinyanyikan di penjara oleh penyintas, bagaimana membayangkan ketika mengaransemen ulang?

Selalu memikirkan tiap membawakan bahwa ini tanggung jawab besar, dikasi kehormatan untuk menciptaan ulang sejarah yang sangat intim. Sejarah keluarga yang jadi alternatif dari buku sejarah di sekolah, dan sering jadi alat politik. Punya beban jadi orang yang menginteprestasikan dan membawakannya secara populer. Energinya kuat walau hanya membayangkan dan dengar cerita behind the scene. Mengumpulkan energi saat memamainkan karena kuat sekali, tak mungkin tak tersentuh, ada perasaan membuncah. Kami (Banda Neira) jarang membawakan karena terlalu besar energinya. Punya makna sejarah yang tinggi yang tak bisa dimainkan semena-mena.

Pernah ketemu keluarga pemilik lagu?

Ketemu tapi tak ngobrol banyak, kan ketemu keluarga penyinats lainnya. Paling ada respon, “Oh yang menyanyikan Tini dan Yanti kamu ya?” Mungkin karena perempuan sendiri di album ini. Lagu kamu menyentuh sekali. Membayangkan yang menyanyi mengalami penderitaan, membuka empati yang dalam. Aku berharap yang dengar di generasi berbeda bisa merasakan sedikit dari waktu itu.

Menurutmu bagaimana Komunitas Taman 65 merangkum jadi 6 lagu dari banyak karya lainnya?

(Wawancara jelang konser ini tiba-tiba disela seorang laki-laki muda yang ingin foto dengan Rara, saya mempersilakan namun Rara meminta fans-nya menunggu sebentar agar selesai dulu)

Apa tadi pertanyaannya? Oh ya, tak tahu persisnya kemarin ngorol dengan anak-anak Taman 65 mereka bilang sulit sekali menemukan karena tergantung memori penyintas yang makin menua seperti kepingan puzzle yang dirangkai ulang. Aku salut sih, terutama Made Maut yang kerja keras kalau false dicari nadanya. Mungkin itu yang membuat kenapa 6 lagu tapi ini inteprestasi aku saja atas cita-cita mereka.

Harapan dari acara ini agar pesannya lebih cepat dirasakan anak muda. Selain lagu apa yang perlu diluaskan untuk mendiskusikan pesannya?

Pertanyaan bagus dan sulit dijawab, tantangan bagi komunitas apa pun. Kelebihan acara seperti ini pop culture, musik paling tepat mengkomunikasikan ke generasi milenial, karena mereka konsumsi tiap hari. Kekuatan audio visual yang perlu diutak atik tapi tak melupakan konten. Tantangan lebih besar tak cuma melakukan event dan penyebaran ide tapi menumbuhkan nalar kritis dari diri kita karena itu yang dimatikan di beberapa dekade. Sesuatu yang membutuhkan proses lama, ini tugas utama kita selain membuat acara juga dialog dan diskusi lebih mendalam dan konsisten.

Judul acara Sekeping Kenangan, tanpa embel 65. Apakah menurutmu ketika menyebut 65, komunisme, atau PKI masih menimbulkan ketakutan?

Bukan takut tapi ketidaktahuan. Acara ini tak berusaha mengeksekusi hanya membicarakan peristiwa 65 yang masih sulit dibicarakan, tapi membawa misi lebih besar. Merawat ingatan sejarah alternatif yang tak tunduk pada kekuasaan. Sejarah ditulis siapa, narasi ini lebih penting. Ketika menggunakan bahasa tentang hubungan kemanusiaan kita perlu merangkul sebagai perjuangan bersama. Tak hanya 65, juga isu lain seperti LGBT karena masih yang banyak menutup dirinya. Ini sebuah kesempatan dan ruang untuk memperkenalkan dan berkenalan. Menurut aku ruang seperti ini sangat penting dan salut untuk komunitas 65 bisa membuat ruang yang aman dan membuka cakrawala.

====

Rara menyanyikan Tini dan Yanti dengan gitar seorang diri saat konser di Taman Baca Kesiman, Denpasar. Banda Neira, duo Rara dan Ananda Badudu sudah dibubarkan dan keduanya melanjutkan hasratnya masing-masing.

Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang. Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia. Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang. La historia me absolvera, La historia me absolvera.”

Gde Putra menyebut dalam buku Prison Songs jika syair “La Historia Me Absolvera” dikutip dari kalimat Fidel Castro saat dia memberikan pidato pembelaan di pengadilan pada 1953. Pemimpin revolusioner Kuba ini diadili karena menyerang Moncada Barack, markas tentara pemerintah. Penyerangan ini menjadi tonggak revolusi di Kuba.

Buku Prison Songs mengisahkan Tini (sang istri) melahirkan anak perempuan mereka. Santosa berimajinasi buah hatinya yang baru lahir itu bernama Yanti. Sebelum pria ini dijemput maut dan hilang tak berjejak, dia menuliskan syair “Tini dan Yanti” di dinding tembok penjara. Si pencipta syair tidak pernah bertemu lagi dengan istri dan buah hati yang dia rindukan setengah mati. Menurut para eks Tapol, Santosa tak tampak lagi di penjara sekitar akhir Desember 1965 atau awal Januari 1966.

Syair puisi Santosa ini lalu digubah menjadi lagu oleh Amirudin (Mister Amir atau Pak Atjit panggilan namanya oleh para tahanan politik). Lelaki asal Madura yang pernah bertugas sebagai Kepala RRI Kupang dan cakap membuat nada lagu.

La Historia Me Absolvera dalam bahasa Indonesia berarti sejarah akan membebaskan kita semua. Salah satunya potongan sejarah yang dihadirkan oleh para penyintas, musisi, seniman, dan komunitas anak muda Taman 65 di TBK.

 

 

The post Rara Sekar dan Pesona Sejarah Alternatif appeared first on BaleBengong.