Tag Archives: tabanan

Keindahan Munduk Temu, Dari Sunset hingga Sunrise

Perjalanan kali ini tim Kabarportal x Allabout Bali ditemani bareng Yudi Darmawan menyusuri wiilayah Tabanan yang indah dan selalu membuat rindu untuk kembali mengunjunginya…… Selengkapnya tonton keseruannya video dibawah ini ya, ingat untuk dukung kami dengan cara menyebarkan link artikel atau video youtubenya. Satu lagi, ingat untuk SUBSCRIBE chanel youtubenya ya….

The post Keindahan Munduk Temu, Dari Sunset hingga Sunrise appeared first on kabarportal.

Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot

Tanah Lot menjadi salah satu tempat wisata populer di Bali. Foto Komang Putrayasa (Flickr).

Apakah kalian pernah mengunjungi Pura Tanah Lot?

Rasanya kurang lengkap kalau ke Bali tidak mampir ke tempat ini. Pura Tanah Lot merupakan tempa persembahyangan bagi umat Hindu Bali. Di tempat ini ada dua pura. Satu di atas bongkahan batu dan yang satu berada di atas tebing di pinggir pantai.

Tanah Lot merupakan tempat wisata eksotis dengan pemandangan laut dan keindahan matahari tenggelamnya. Namun, pernahkah kalian mendengar mitos tentang tempat tersebut?

Ada beberapa mitos tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa mitos tersebut, tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah tempat ini.

Sejarah Pura Tanah lot

Menurut legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Jawa ke Bali.

Yang berkuasa di pulau Bali pada saat itu ialah Raja Dalem Waturenggong. Beliau menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya. Penyebaran agama Hindu pun berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Bali.

Dikisahkan, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi sinar tersebut. Tibalah beliau di sebuah pantai di Desa Beraban Tabanan.

Pada masa itu Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme.

Lalu Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo. Saat itu batu karang tersebut berada di daratan.

Dengan berbagai cara Bendesa Beraban Berusaha mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Berdasarkan legenda, Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang di tengah lautan.

Setelah peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti kemudian mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha. Dia pun menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.

Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.

Semenjak upacara tersebut rutin dilakukan penduduk Desa Beraban, kesejahteraan penduduk pun meningkat dengan pesat. Hasil panen pertanian melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

Adanya Tanah Lot sebagai tempat wisata populer di Bali saat ini turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Beraban. Namun, hati-hati. Tanah Lot juga memiliki sejumlah mitos.

Apa saja itu?

1. Membawa pasangan akan membuat hubungan cepat berakhir.

Konon, kalau kita membawa pasangan ke Tanah Lot, hubungan cepat berakhir. Menurut saya mitos ini rasanya kurang tepat karena banyak pasangan yang datang ke tempat ini mengaku hubungan mereka baik-baik saja.

Bahkan teman saya yang sering pergi melakukan persembahyangan ke sana dengan pacarnya baik-baik saja. Mungkin mitos ini berkembang untuk menjaga kesucian agar tempat itu tidak digunakan untuk hal yang negatif.

2. Ular Suci Penjaga pura Tanah Lot

Selain itu ada juga mitos tentang ular suci penjaga pura. Ular yang berada di tempat ini berjenis ular laut yang bisanya sangat mematikan.

Kenyataannya, ular di sana sangat jinak. Malah, konon katanya ular yang berada di dalam sebuah goa ini bisa mengabulkan permintaan sekaligus sebagai penjaga pura tersebut.

Tempat ular ini biasanya dijaga pawangnya. Kita dikenakan biaya untuk bisa memegang dan berfoto dengannya.

3. Air suci yang membuat awet muda

Mitos lain yang dipercaya masyarakat adalah air di Tanah Lot bisa membuat orang awet muda. Banyak pengunjung datang untuk membuktikan mitos itu sendiri, tetapi belum ada penelitian tentang kebenaran air suci ini.

Nah, itulah tadi mitos yang melekat pada Pura Tanah Lot. Untuk kalian yang ingin liburan di Bali jangan lupa mampir ke obyek wisata ini. [b]

The post Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot appeared first on BaleBengong.

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Pengolahan cokelat di Primo Chocolate Bali lebih banyak menggunakan tangan daripada mesin. Foto Auditya Sari.

Penggemar cokelat pastilah ingin tahu rahasia kelezatan cokelat favorit.

Primo Chocolate Bali membeberkan formulasi yang mereka terapkan sehari-hari dalam produksi cokelat premium mereka. “Cokelat premium adalah di mana martabat dan kehormatan petani berada pada puncak tertinggi di suatu rantai nilai,” kata Giuseppe Verdacchi.

Pepe, panggilan akrabnya, adalah pemilik pabrik pengolah cokelat premium asal Italia yang sudah menetap di Bali puluhan tahun lamanya.

Pepe arsitek dari Roma yang jatuh cinta atas keindahan alam Indonesia. Dia bertemu Ni Komang Jati, wanita asal Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pernikahan mereka memberikan anugerah dua orang anak sekaligus mewujudkan cita-citanya untuk menetap di Bali.

Primo Chocolate hanya menyasar pasar premium yang mempunyai standar kualitas tinggi. Pemenuhan kebutuhan akan pasar premium ini mengharuskan Primo Chocolate selektif dalam memilih biji kakao yang akan diolah.

Tidak main-main, dengan alasan yang sama perusahaan ini membeli biji kakao fermentasi hasil produksi petani dengan harga 50 persen lebih tinggi dari pasar internasional pada umumnya. Mereka percaya bahwa petani akan menghargai pembeli dan dengan senang hati memproduksi biji kakao berkualitas kepada pembeli yang menghargai petani itu sendiri.

Dengan demikian rantai suplai pengolahan biji hingga pemasaran berkelanjutan tetap dapat berjalan secara berkesinambungan. Karena Pepe pun menyadari, tidak mudah mengajak petani untuk melakukan hal tersebut. Terlebih petani sudah sering mengalah terhadap harga biji di pasaran.

Petani lebih sering memproduksi biji kakao asalan tanpa fermentasi sehingga dibeli dengan harga murah.

Mendapat kesempatan untuk berkembang melalui penawaran harga tinggi dari Primo Chocolate merupakan satu penghargaan sendiri bagi petani kakao yang tergabung dalam Koperasi Kerta Samaya Samaniya, di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Petani yang tergabung dalam program Kakao Lestari sejak tahun 2011 ini memproduksi biji kakao fermentasi dan menghasilkan suatu produk biji kakao yang mempunyai profil aromatik seperti madu, buah, dan bunga.

Namun, tentunya kesempatan datang dengan sebuah tantangan. Petani dipaksa belajar lebih giat mengenai pertanian berkelanjutan agar menjadi siap untuk bersaing dengan potensi pasar lokal maupun internasional. Dalam mengembangkan hal tersebut, Koperasi Kerta Samaya Samaniya didampingi oleh Yayasan Kalimajari, lembaga pendampingan masyarakat tani berbasis di Bali yang mempunyai keahlian di komoditas kakao dan rumput laut.

Pekerja di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Rahasia

Primo Chocolate mempunyai rahasia khusus dalam mempertahankan kualitas dan menjaga produk cokelat olahan pabriknya menjadi berbeda dengan produk lainnya. Selain menjaga sektor hulu dengan meningkatkan perekonomian petani, sektor hilir di bagian pengolahan juga tak kalah pentingnya untuk diperhatikan.

“Handmade, heartmade,” ujar Komang Jati.

Menurut Komang, Primo mengolah biji kakao menjadi cokelat siap saji dengan peralatan sederhana, dikerjakan oleh tangan-tangan anak bangsa, yang peduli akan potensi negerinya sendiri. Mereka mau bekerja.

“Keringat mereka terlupakan oleh senyuman ketika produk yang mereka olah berhasil masuk ke pasar premium, dan pastinya dengan harga yang sepadan dengan kerja kerasnya,” kata Komang.

Selain itu, Komang menambahkan, Primo juga konsisten untuk tidak berpindah haluan menjadi industri besar yang terjun ke pasar cokelat umum. Produksi mereka memang tidak banyak, bahkan tergolong minim. Namun, Primo memastikan setiap cokelat yang keluar dari pabrik terjamin kualitas, tresibilitas dan petani yang memproduksi hidupnya sejahtera.

“Oleh karena itu kami hanya bermain di niche market, pasar premium lokal, nasional, bahkan internasional,” tambahnya.

Proses pengolahan Primo Chocolate pada dasarnya sama dengan proses pengolahan cokelat pada umumnya. Hanya saja, penggunaan mesin diminimalisir sedikit mungkin. Hanya ada beberapa alat mekanisasi, yaitu grinder dan roaster.

Selebihnya, seperti proses pemecahan biji kakao menjadi nibs dilakukan dengan menumbuk biji menggunakan lesung dan alu, persis seperti proses pemisahan beras dari gabah. Sedangkan proses tempering, dilakukan secara manual dengan menggunakan meja marmer dan alat oles sederhana.

Proses pencetakan menjadi cokelat batang pun menggunakan cetakan manual, dibantu dengan mesin mini untuk memberikan vibrasi untuk menghindari adanya rongga udara yang mempengaruhi kualitas. Pendingin cokelat yang sudah dicetak dilakukan di dalam ruangan tertutup bersuhu 16 derajat celcius.

Jangan tanya tentang higienitas. Ketika mengunjungi ruangan ini, kita diharuskan menggunakan alas kaki khusus, apron, penutup kepala dan mulut.

Satu yang menarik adalah mesin-mesin yang digunakan Primo merupakan hasil kolaborasi desain antara Pak Pepe dan satu anak bangsa, tertulis jelas namanya di setiap mesin yang digunakan, yaitu “Verdacchi and Mulyadi”.

Memang terdapat beberapa material yang harus didatangkan dari wilayah lain, seperti batu yang digunakan untuk mesin grinder harus didatangkan dari India. Namun, hal ini karena setelah melalui beberapa kali eksperimen, batu di wilayah Indonesia tidak cukup kuat dengan pertimbangan mesin produksi yang efektif dan efisien.

Terlepas dari itu semua, seperti kita sudah punya alasan cukup kuat untuk berhenti meremehkan kualitas dan potensi anak bangsa.

Dalam menjalankan usahanya, Pepe dan Komang dibantu oleh anak pertamanya, Gusde Verdacchi. Gusde merupakan bukti anak milenial yang mematahkan anggapan bahwa membantu orang tua menjalankan bisnis usaha keluarga merupakan hal yang kuno.

Bersama-sama dengan orang tua dan tim Primo Chocolate Bali, Gusde saat ini sedang bereksperimen untuk menemukan formulasi proses pemanasan (roasting) yang terbaik untuk meningkatkan kualitas produk yang diolah. “Masing-masing biji kakao dari beda lokasi, mempunyai karakteristik berbeda pula sehingga perlakuan juga harus dibedakan untuk memunculkan sifat terbaik dari biji kakao tersebut,” kata Gusde.

Gusde kemudian melanjutkan dengan menyebutkan beberapa hasil percobaan yang sudah ia lakukan, termasuk pengaturan suhu optimal dan waktu yang dibutuhkan dalam proses pemanasan.

Jika kalian tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses pengolahan cokelat dari bean to bite, atau sekadar ingin tahu mengenai sejarah dan cerita menarik mengenai cokelat. Primo Chocolate Factory membuka kelas setiap hari kerja dari Senin hingga Jumat dari pukul 8 pagi hingga 6 sore.

Jangan lupa mendaftar terlebih dahulu melalui website resminya di www.primobali.net atau datang langsung ke Cafe Primo Bali di Jalan Bumbak Dauh No.130, Kerobokan, Kuta Utara, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361. [b]

The post Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali appeared first on BaleBengong.

Habis Sawah, Terbit Toko Modern, lalu Mati!

Petani menggarap sawah di antara bangunan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri Tabanan. Foto Made Argawa.

Sebagai kota penyangga Denpasar, Tabanan berkembang cepat.

Beberapa kawasan tampak berubah drastis seperti jalur By Pass Denpasar – Gilimanuk terutama di kawasan Kecamatan Kediri, Tabanan. Toko dan pusat perbelanjaan berjajar di sepanjang jalan penghubung Jawa – Bali ini.

Perubahan ini tentunya berdampak langsung terhadap lingkungan di wilayah tersebut. Makin banyak pembangunan, alih fungsi lahan pun meningkat.

Tabanan memiliki jargon terkenal dan sering diungkapkan oleh pimpinan daerah maupun instansi, Tabanan adalah lumbung padi Bali. Namun, sampai kapan jargon tersebut bisa bertahan?

Data Dinas Pertanian Tabanan, pada 2010 jumlah lahan pertanian di Tabanan seluas 22.455 hektare. Setelah itu luas lahan pertanian di Tabanan terus turun menjadi 22.435 hektare (2011), 22.388 hektare (2012 dan 2013), 21.962 hektare (2014), 21.742 hektare (2015) dan 21.452 hektare (2016).

Apakah Tabanan bisa mempertahankan identitas budaya agraris di tengah gempuran pembangunan? Bagaimana petani berjuang dalam banyaknya masalah pertanian seperti ketersediaan air, regenerasi petani, masalah pupuk hingga pasca panen?

Jargon lumbung padi Bali selayaknya diganti menjadi Tabanan gudang toko modern.

Anggaplah Tabanan sudah gagal mempertahankan budaya agrarisnya karena generasi muda enggan menjadi petani, jargon lumbung padi Bali selayaknya diganti menjadi Tabanan gudang toko modern.

Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu pada 2017, Tabanan memiliki sekitar 126 toko modern atau berprilaku modern yang belum jelas perizinannya. Sementara, 76 lainnya sudah pernah memiliki izin namun belum memperbaharui izin lagi. Totalnya 202 toko modern.

Jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak jika mengacu pada Denpasar atau Badung. Namun, menurut saya jumlah tersebut luar biasa kalau ukurannya untuk kota satelit atau penyangga seperti Tabanan.

Ada moratorium toko modern merujuk pada Surat Edaran Gubernur Bali tahun 2011 mengenai pendirian toko modern. Adalah menunda sementara atau moratorium setiap pembangunan dan pemberian izin pasar modern (hypermaket, supermarket dan minimarket baik minimarket berjeraring maupun non-berjejaring) sampai kabupaten/kota memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail Tata Ruang yang memiliki kekuatan hukum. Setahu saya saat ini Tabanan belum memiliki Rencana Detai Tata Ruang (RDTR).

Tabanan memiliki Peraturan Daerah (Perda) Toko Swalayan dan sudah ketok palu pada 1 Maret 2016. Namun, celakanya, dalam Perda tersebut masih ada ketidaksingkronan nomenklatur. Pada Bab III, Pasal V, Ayat IV di Perda ini mengatur pendirian minimarket berjaringan hanya dapat dilakukan di tepi jalan protokol dan jalan arteri.

Sementara saat ini klasifikasi jalan yang digunakan oleh Pemerintah Tabanan adalah jalan pemerintah pusat, jalan pemerintah provinsi, jalan pemerintah kabupaten dan jalan desa. Ini menjadi salah satu alasan Perda belum bisa berjalan.

Rupa-rupanya perbaikan teks dalam Perda membutuhkan waktu panjang sehingga pertumbuhan toko modern di Tabanan sama seperti cendawan di musim penghujan.

Seiring dengan itu, pertumbuhan toko modern mengurangi luas sawah.

Mati Oleh Globalisasi

Toh, toko-toko modern itu juga kemudian mati akibat globalisasi, seperti dialami Jhon Khanedy.

Duduk di pojok tokonya yang hanya berisi beberapa barang dagangan, Jhon Khanedy termenung sambil melihat pembeli hilir mudik di toko modern berjaringan (Indomaret) yang tepat berdiri di sebelah selatan toko kelontongnya. Tiga bulan awal pada 2017 omset jualan pria 40 tahun itu menurun 100 persen karena kalah bersaing dengan toko di sebelahnya.

Toko Khanedy didirikan pada 2007 dan harus dijual untuk menutupi hutang Rp 400 juta. Hutang itu dari pembangunan toko dan mengisi modal usaha. Suami dari Ni Wayan Niti itu menceritakan, sebelum berdirinya toko modern berjaringan di sebelahnya pada 1 Maret 2017, omset jualannya lumayan, bisa mencapai Rp 3 juta perhari.

Khanedy berencana setelah tokonya yang berlokasi di Jalan Yehgangga-Pesiapan itu laku, Ia pulang ke rumah istrinya di Desa Tangguntiti, Selemadeg Timur dan kembali akan memulai usaha baru.

Kisah dari Jhon Khanedy mungkin menggambarkan kejadian serupa dibanyak tempat di Tabanan. Masyarakat kalah berhadapan dengan korporasi besar yang berbentuk toko modern berjaringan.

Pada narasi awal film The New Rules Of The World, Jhon Pilger mengatakan globalisasi adalah sekelompok kecil orang-orang yang lebih kaya dibandingkan jumlah keseluruhan.

Toko modern berjaringan adalah pasar yang dikuasai segelintir orang dengan kemampuan membuka outlet secara luas. Sistem yang dibentuk, menjaring pada banyak tempat dan mengantarnya pada satu kantong.

Jika pemerintah daerah berpihak pada wong cilik, persoalan toko modern di Tabanan harusnya tidak sampai berlarut-larut. Menurut saya mutlak dibutuhkan ketegasan pimpinan daerah.

Toko modern semakin memperjelas tampilan globalisasi sebenarnya seperti yang digambarkan Jhon Pilger pada film dokumenternya yang dirilis pada 2001. Globalisasi yang membunuh hajat hidup masyarakat kecil secara langsung, seperti Jhon Khanedy. [b]

The post Habis Sawah, Terbit Toko Modern, lalu Mati! appeared first on BaleBengong.

Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Bali Jungle Camping termasuk salah satu tempat glamping baru di Pupuan, Tabanan, Bali. Foto Anton Muhajir.

Mari menuju Pupuan untuk menikmati rimbun kebun dari balik tenda atau bahkan vila.

Di dunia jalan-jalan (traveling) sedang ada tren kemah manja yang lebih akrab disebut glamour camping (glamping). Kegiatan ini berupa kemah tetapi semua peralatan sudah disediakan pengelola lokasi glamping ini, seperti tenda, matras, sampai wifi.

Hal sama juag terjadi di Bali. Beberapa lokasi glamping ini terus bermunculan, seperti di Ubud, Gianyar; Bukit Asah, Karangasem; atau Kintamani, Bangli. Salah satu tempat baru itu adalah Bali Jungle Camping di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali. Lokasinya berada di daerah sejuk di tengah perkebunan hutan (agroforestri) yang asri dan sejuk.

Desa Padangan berjarak sekitar 65 km dari Denpasar. Lama perjalanan antara 1,5 jam sampai 2 jam dengan kendaraan pribadi. Rute perjalanan dari Denpasar ke arah Negara menyusuri jalan utama Jawa – Bali. Setelah Desa Bajra, mengambil arah ke Singaraja melalui Pupuan.

Perjalanan menyusuri jalan raya Pupuan – Singaraja bisa menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan menuju Padangan. Jalanan memang relatif berkelok-kelok dan menanjak di beberapa titik, tetapi menyajikan pemandangan alam yang menawan. Sawah berundak khas Bali berada di kanan kiri jalan, berselang-seling dengan kebun kakao, sungai dengan air jernih, bahkan pedagang durian sepanjang jalan jika lewat pada Februari – April ini.

Pemandangan sawah berundak di perjalanan menuju Pupuan menjadi pemandangan yang menyenangkan. Foto Anton Muhajir.

Lokasi Bali Jungle Camping berjarak sekitar 3 km dari jalan utama Pupuan – Singaraja. Akses jalan aspal besar dan mulus memudahkan jika membawa mobil, apalagi sepeda motor. Setelah itu, jalan menuju lokasi perkemahan berupa gang selebar kira-kira 2 meter sebelum kemudian tiba di kebun lokasi Bali Jungle Camping.

Penunjuk lokasi ke tempat kemah manja ini adalah papan nama Bali Jungle Camping di tepi jalan. Jika tersesat, pertanyaan untuk warga setempat adalah, “Di mana lokasi vila Padangan?” Sebab, belum banyak warga setempat yag tahu bahwa di lokasi tersebut ada tempat kemah manja. Warga lebih mengenalnya sebagai vila.

Bali Jungle Camping memang relatif baru. Menurut pemiliknya, Ni Ketut Sulamin, pada awalnya dia dan suaminya hanya membuat vila pribadi di kampung. Sulamin berasal dari Padangan sementara suaminya bekerja di sebuah hotel di Nusa Dua, Badung. Pasangan ini tinggal di Denpasar dan sesekali pulang kampung ke Padangan.

Sejak dua tahun lalu, mereka membangun vila di tengah kebun kopi. Lansekap kebun itu termasuk curam dengan sungai kecil di bagian bawah. Dari semula hanya satu vila dengan satu kamar, mereka lalu membangun vila lain.

“Karena setelah kami mikir-mikir, biaya perawatan satu vila dengan dua vila sama saja. Kenapa tidak sekalian saja bikin lagi untuk disewakan?” kata Sulamin pada Februari lalu.

Bali Jungle Camping menyediakan tenda-tenda siap pakai termasuk matras, listrik, dan wifi. Foto Anton Muhajir.

Dari hanya dua, saat ini vila di Bali Jungle Camping menjadi empat unit dengan bentuk bangunan ala rumah joglo Jawa. Mereka memang membelinya dari Yogyakarta.

Sejak tahun lalu, mereka menambah fasilitas lain, tempat kemah. Saat ini ada sembilan tenda terletak di bagian bawah kebun seluas 60 are ini. Seperti glamping pada umumnya, tenda-tenda itu sudah terpasang rapi. Tenda pun terpasang tidak di tanah tetapi di atas balai-balai. Dia lebih mirip pondokan tetapi dengan tenda sebagai ruang menginapnya.

Pengunjung tinggal datang karena semua keperluan sudah disediakan: matras, listrik, bahkan wifi. Lapar? Bali Jungle Camping juga memiliki restoran dengan menu-menu lokal Bali ataupun Barat. Bahan bakunya terutama dari kebun sendiri.

Nama Bali Jungle Camping sendiri, menurut pengelola harian Wayan Sri Martini, karena lokasi kemah yang berada di tengah kebun. “Kami ingin mengajak pengunjung agar bisa tinggal dan menikmati suasana hutan,” ujarnya.

Lokasi kemah Bali Jungle Camping dikelilingi kebun kopi robusta, komoditas utama di Pupuan. Suasana hijau berpadu dengan gemericik air sungai sebagai batas paling bawah. Untuk menikmatinya pengunjung bisa menjelajahi jalan-jalan setapak yang sudah dibuat bagi pengunjung.

Selain tanaman kopi robusta, di kebun Bali Jungle Camping juga ada tanaman-tanaman lain, seperti manggis, durian, lamtoro, pisang, pepaya dan seterusnya. Mereka menambah asri dan sejuk suasana. Ada juga tanaman obat-obatan maupun umbi-umbian yang sehari-hari dipakai di dapur perkemahan.

Suasana asri dan hijau di Bali Nungle Camping termasuk jembatan bambu. Foto Anton Muhajir.

Untuk kegiatan tambahan, pengunjung bisa jalan-jalan (trekking) menyusuri perkebunan di sekitar lokasi Bali Jungle Camping, belajar memasak menu khas Bali, ataupun main lumpur. Ada kolam khusus yang biasanya dipakai anak-anak untuk main lumpur. “Agar mereka lebih dekat dengan alam,” Sri menambahkan.

Menurut Sri, selain keluarga, pengunjung di tempat kemah ini adalah anak-anak sekolah. “Biasanya anak-anak antusias menjelajah apa saja yang ada di kebun kami. Biar mereka tidak main gadget saja,” kata Sri. Pengelola Bali Jungle Camping menyediakan staf yang bisa memperkenalkan sistem pertanian dan menjelajah kebun, termasuk bermain.

Dengan fasilitas kebun, hutan, sungai maupun alam lainnya, Bali Jungle Camping bisa menjadi pilihan liburan di kawasan Pupuan. [b]

The post Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan appeared first on BaleBengong.