Tag Archives: tabanan

BATI, Rumah Belajar Teknologi Sederhana

Pompa air dengan sumber energi dari aliran sungai. Foto Anton Muhajir.

Tempat tersembunyi ini memberikan beragam solusi.

Sebuah gerabah raksasa betuliskan BATI, Rus dan Made menyambut di pintu masuk. Wadah air tradisional ini adalah petunjuk apa yang akan ditemui di rumah dan kebun sekitar 2 hektar ini.

Setelah menempuh perjalanan berkendara 43 km dari pusat Kota Denpasar, akhirnya kami tiba di Desa Wanagiri Kauh, Kecamatan Selemadeg, Tabanan. Melewati jalanan desa yang sepi, sebagian rusak, menyusuri kebun dan persawahan, dan bertanya pada warga.

Lalu, tibalah kami di BATI, singkatan dari Bali Appropriate Technology Institute. BATI adalah rumah percontohan sekaligus tempat belajar teknologi tepat guna untuk keseharian terutama akses air dan biogas. Energi yang menjadi kebutuhan sehari-hari ini sudah diwujudkan secara swadaya sejak tahun 1975.

Di depan gerabah papan nama BATI, sebuah pabrik produksi virgin coconut oil (VCO) terlihat dari spanduk terpasang. Jalan setapak kombinasi beton dan rumput membelah kebun berisi kelapa, durian, pisang, dan lainnya di sisi kanan dan kiri. Sejumlah bak beton terlihat tertanam di atas tanah, berisi nama-nama pembuatnya, dicoret saat semen basah.

Setelah menuruni jalan setapak cukup terjal, gemericik air mengepung telinga. Terlihat dua jalur sungai mengelilingi BATI. Aliran Tukad Yeh Le ini menjadi halaman depan dan belakangnya. Riuh yang menenangkan.

Di sepanjang jalan setapak menanjak terjal ini terpasang sejumlah pipa-pipa menuju pemukiman di atas BATI. Pipa-pipa ini menyemprotkan air dari bawah, aliran sungai melalui pompa ramp hidrolik yang terpasang. Mendorong air secara vertikal.

Ada tiga pompa hidrolik yang dibuat I Gusti Made Rus Alit, pria kelahiran 6 November 1946 ini di sekitar rumahnya. Pompa pertama sekitar 1974-1975. Saat itu ia berusia sekitar 28 tahun, ijazah terakhir hanya SMP. Sempat melanjutkan SMA tapi tak tamat, lalu lanjut sekolah teologi di Selandia Baru selama tiga tahun.

Rus, panggilannya, membuat pompa pendorong air sungai ini untuk membantu warga yang saat itu terlihat kesulitan mencari air ke sungai menuruni tebing terjal tiap hari.

Gusti Ketut Ediputra, sepupu Rus berkisah pada tahun 1970-an ia tiap hari bertugas ambil air ke sungai dengan memikul keropak, pelepah kering dari pohon buah yang berfungsi sebagai ember. Waktu pagi dan sore dihabiskan untuk mencari air minum dan masak, sementara mandi langsung di sungai.

“Pagi sebelum sekolah penuhi gentong dan sore. Untuk masak dan minum, mandi di sungai atau telabah. Ibu ambil air pakai kendi air tanah,” ingatnya.

Memompa air dari sumur serapan dengan manual. Foto Anton Muhajir.

Berubah

Kerepotan Ediputra berubah sekitar 10 tahun kemudian ketika pompa hidrolik berhasil mengalirkan air dari sungai ke atas bukit. Dalam video arsip dokumentasi BATI yang ditayangkan di Kick Andy Show pada 2017, nampak para perempuan dan anak-anak gembira lalu membasuh wajahnya saat pipa mengalirkan air di dekat pemukiman mereka. Beban kerja kini berkurang. Rus mendapat apresiasi sebagai salah satu Kick Andy Hero pada 2017.

Sampai kini, pompa masih bisa berfungsi, walau pengguna air dari sungai ini makin berkurang setelah PDAM masuk. “Masih diakses sekitar 20 KK,” kata Rus. Mereka tidak mengeluarkan biaya bayar air.

Rus mengembangkan kemampuan pompa untuk menggerakkan alat penggiling yang diletakkan di area semburan air. Alat penggiling di pinggir sungai ini bisa menggiling beras atau ketan jadi tepung, menggiling daging, dan lainnya.

Instalasi penting nan sederhana yang terpasang di sejumlah halaman BATI adalah bak penampung air hujan. Tak terlihat mencolok karena tertanam di bawah tanah sekitar 3 meter. Jika hujan, air di ujung talang jatuh ke permukaan rumput yang diisi saringan, kemudian mengalir ke bak dalam tanah itu.

Permukaan atas bak juga tertutup rapat, hanya menyisakan lubang tersambung pipa paralon dengan klep. Jika pipa ditekan, klep membuka, maka air langsung muncrat keluar di ujung pipa lainnya. Tak perlu mesin penarik. Saat diperlukan, air tinggal dipompa dengan Rus pump, istilah yang diberikan oleh mereka yang belajar ke BATI.

Menghitung Potensi

Rus yatim piatu sejak bayi, saat berusia 26 tahun ia sekolah di Selandia Baru walau belum bisa Bahasa Inggris. Ia mengaku takjub dengan kemajuan negeri dengan lebih banyak hewan ternak dibanding warganya itu. “Kita jauh terbelakang,” ujarnya.

Kembali ke desa, ia melihat kampungnya kotor karena hewan ternak seperti babi dan sapi berkeliaran. Dari pembicaraan dengan seorang teman, ia ingat kotoran menghasilkan gas. “Saya petani. Kalau injak lumpur kadang muncul blup-blup (gelembung), nah itu kan gas. Tinggal ditampung,” celotehnya.

Dicobalah proyek biogas pertama, ternak dikandangkan dan menghasilkan gas. Menggunakan kombinasi drum dan beton sebagai penampung kotoran. Warga pun heran.

Setelah itu ada persoalan lain kerepotan mengambil air ke sungai melewati tebing terjal. Dibuatlah pompa hidrolik itu. Menurutnya teknologi ini sudah dikenal lama namun jarang digunakan. Hanya menggunakan pipa galvanis, karet, dan menghitung potensi terjunan air.

Rus di kampung sekitar 1972-1980. Setelah itu pindah ke Jakarta karena ada World Vision, NGO internasional yang tertarik pada sepak terjangnya dan memanfaatkan untuk membantu lebih banyak komunitas di dalam dan luar negeri.

Sejak 1981 ia mulai keliling dunia termasuk kepulauan Pasifik dengan misi yang mirip, memecahkan masalah di daerah setempat. Terutama untuk akses air dan energi. Kemudian pindah kerja di WV Australia sekitar 1996, dan pada tahun 2000 mendirikan BATI di Tabanan, kampungnya.

“Saya capek, biar mereka yang belajar ke sini,” sahutnya. Namun, sampai kini ia masih diundang ke sejumlah daerah untuk membantu warga.

Ia merangkum, sejumlah persoalan sanitasi dan kesehatan bersumber dari air, seperti akses dan kualitas airnya. Pun di Bali, sampai kini masih ada daerah yang paceklik air dan harus membeli mahal air tangki. Saat musim kemarau, embung atau bendungan kering.

“Lebih baik tiap rumah memiliki bak penampungan sendiri, ini akan menimbulkan rasa memiliki. Kalau rusak, mereka perbaiki,” ingat Rus. Infrastruktur besar dan terpusat masih menyulitkan warga, terlebih jika rusak atau bocor dan menunggu lama untuk perbaikannya.

Sumber air di Bali termasuk melimpah tetapi kurang dimanfaatkan. Foto Anton Muhajir.

Tak Tertampung

Ia setuju potensi air permukaan masih melimpah terutama air hujan namun tak tertampung. Karena itu ia kini menggiatkan pembuatan bak kapasitas 10 ribu liter yang bisa dibuat dengan dana sekitar Rp 3 juta. Sebagai cadangan saat musim kemarau.

Sementara pompa hidrolik yang dibuatnya paling tinggi adalah semprotan vertikal ke atas sekitar 130 meter. Ia juga mencoba merakit pengeringan tenaga surya, pemanasan air tenaga surya, dan tungku hemat energi.

Rus mengaku semua keahlian ini tak didapatkan dari Selandia Baru tapi otodidak. Namun, semangat untuk membuat perubahan, mengejar kemajuan negeri orang yang memompa semangatnya untuk membuat solusi. Apa yang bisa dibuat untuk tinggal di sebuah tempat dengan nyaman.

Ia pernah tinggal di kampung Dayak, Kalimantan dan kesulitan saat buang air besar. Tiap malam ia diikuti babi yang menunggu kotoran. Karena tak mau diikuti babi terus, ia membuat jamban dengan kloset sederhana. Eh, makin banyak warga yang buat kloset sendiri.

Demikian juga di Gurun Gobi, pedalaman China air susah. Ia mengajak warga buat tangki air dalam tanah, salju ditampung jadi air minum. “Saya bermimpi orang dengan mudah dapat air. Teknologi sederhana bisa mengatasi masalah itu. Sebelum lari ke laut ditangkap sehingga tak banjir. Tak perlu beli air,” serunya.

Di sejumlah sudut halaman BATI, makin banyak bak yang dibuat sebagai hasil karya praktik warga dalam dan luar negeri yang datang. Ada juga percontohan aquaponic, cara menyaring air organik dengan tumbuhan, ikan, lalu lapisan kerikil dan pasir. Juga kincir air dan kolam-kolam ikan dari pengolahan air sungai dan hujan.

Tebing terjal diubah lanskapnya jadi sebuah tempat tinggal, lokasi retreat, dan kursus. Tempat yang nyaman untuk belajar dan refleksi atas persoalan-persoalan bumi. Kemudian mencari solusinya. [b]

Tulisan ini pertama kali terbit di Mongabay Indonesia.

The post BATI, Rumah Belajar Teknologi Sederhana appeared first on BaleBengong.

Nasib Jatiluwih setelah Menjadi Warisan Budaya Dunia

Banyaknya turis justru menjadi ancaman bagi masa depan subak di Jatiluwih.

Pada 2012, Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan sistem subak di Bali sebagai warisan budaya dunia (WBD). Kawasan WBD ini berada di lima wilayah kabupaten di Bali yaitu Bangli, Gianyar, Tabanan, Buleleng, dan Badung. Luasnya lebih dari 19.500 hektar.

Jatiluwih, kawasan sawah berundak di kaki Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Tabanan bisa disebut sebagai ikon subak sebagai WBD. Tiga tahun terakhir lebih dari 200.000 turis domestik dan mancanegara mengunjungi kawasan ini tiap tahun.

Namun, banyaknya turis justru menjadi ancaman bagi masa depan Jatiluwih. Begitu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, Jatiluwih hanya dianggap sebagai daerah tujuan pariwisata, bukan lagi lahan pertanian yang harus dilestarikan.

Laporan mendalam ini akan melihat bagaimana kondisi subak di Jatiluwih khususnya dan Bali pada umumnya setelah penetapan sebagai WBD sejak tujuh tahun lalu.

Selamat membaca lebih lengkap di laman khusus: Subak Jatiluwih, Warisan Dunia dalam Ancaman. [b]

The post Nasib Jatiluwih setelah Menjadi Warisan Budaya Dunia appeared first on BaleBengong.

Dari Desa Membumikan Nilai-nilai Pancasila

Mengajak anak lebih dekat dengan alam di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman

Memaknai nilai-nilai Pancasila tidak sekadar seremonial belaka.

Sebagai anak bangsa sudah menjadi keharusan kita mengetahui, mengerti, dan mengamalkannya secara bijak dan kontekstual. Sebagaimana cita-cita founding father negeri ini yang menggali dan merumuskan semangatnya: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Pancasila adalah kristalisasi nilai-nilai tradisi masyarakat Nusantara yang notabene adalah inti peradaban Nusantara. Rumusan filosofis-ideologisnya bertolak dari cara hidup bangsa Indonesia untuk menghadapi masa depannya.

Sumber daya ataupun bentang alam negeri ini berlimpah dan subur. Panorama alamnya yang indah dengan beragam suku, adat, agama, dan kebudayaan. Penduduknya terkenal ramah. Oleh karena itulah sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu sadar, up-to-date berpikir ke depan memaknai nilai -nilai spirit Pancasila dengan membangun jati diri dalam kehidupan berbasis kompetensi dalam berbagai segi kehidupan dan profesi.

Sebagai pejabat pemerintahan, pegawai negeri, swasta, pegiat sosial, pendidik, pelajar, mahasiswa, pedagang, petani, maupun nelayan. Untuk membangun dan menjadikan negeri dan bangsa ini bermartabat, berdaulat, berdikari dan berkepribadian, sehingga slogan Bhinneka Tunggal Ika dan masyarakat adil makmur selalu terjaga dan menjadi nyata.

Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman di Desa Pakraman Serason, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan mencoba memaknai dan mengimplementasikannya dengan kegiatan-kegiatan biasa dan sederhana. Pesertanya adalah lintas generasi dengan konsep pemuliaan Bumi, air, sumber daya alam, serta sumber daya manusia berbasis kearifan budaya local dan Tri Hita Karana.

Anak-anak belajar menari di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman

Beragam Kegiatan

Adapun kegiatan yang direncanakan dan telah dilakukan berupa pemahaman dan pelaksanaan adat, peduli lingkungan, serta kegiatan sosial ekonomi,

Di bidang pemahaman dan pelaksanaan adat serta dan kebudayaan yang berlandaskan agama Hindu antara lain berupa tatwa dan etika Upacara Agama dan sarana Upakara serta cara pelaksanaannya dan nyastra, belajar seni tari, seni tabuh, gegitan, pasang aksara Bali.

Untuk menumbuhkan kepedulian pada lingkungan dan hidup sehat, kegiatannya antara lain belajar teknis pengelolaan sampah dan konsep Bank Sampah. Ada pula penanaman pohon langka, upakara, obat, dan konsumsi sebagai bentuk investasi air di perut bumi.

Di sini juga ada pelajaran pembuatan pupuk organik dengan bahan dan olah lokal, dan belajar bertani organik.

Di bidang keterampilan, kegiatan ekonomi, dan sosial, Pasraman Sahabat Serase juga mengajarkan organisasi kelompok/sekaha yang berkaitan dengan kegiatan bertani, beternak, perikanan, dan koperasi.

Ada pula pelajaran tentang pengelolaan dan pengolahan produk pertanian untuk petani, budi pekerti, publikasi, pasar dan pemasaran. Para siswa juga belajar berorganisasi dan keterampilan IPTek, menggambar dan mewarnai untuk anak-anak; dan memasak dan membuat jajan dengan bahan olah local yang sehat dan bergizi.

Secara rutin, kami juga melaksanakan kegiatan memperingati dan memaknai hari suci keagamaan, dan hari-hari besar nasional.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pola pikir dan sikap mental selalu membangun kecerdasan emosional, intelektual, spiritual, dan berbudaya. Kami juga ingin menumbuhkan keimanan, ketaqwaan, budaya melayani, kebersamaan, toleran, dan saling menghormati.

Untuk itulah di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman diadakan penghormatan perayaan hari-hari besar nasional, untuk selalu mengingatkan dan penyegaran terhadap nilai-nilai spirit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kegiatan dimulai dari membersihkan lingkungan, lomba baca puisi kepahlawanan, lomba pidato kepahlawanan, lomba ngulat ketipat dan klatkat, penanaman pohon upakara, menebar bibit ikan di saluran air subak dan ajakan gemar memelihara dan makan ikan, lomba menangkap belut.

Puncak acara upacara bendera peringatan hari Kesaktian Pancasila di area tegalan dan diakhiri dengan menikmati hidangan ringan hasil olahan dari bahan setempat. Menunya nasi organik Umawali dari Subak Ganggangan, Br Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Nasi organik dilengkapi jukut don jelengot, nangka muda dan daun ketela pohon, kripik lindung(belut), sambel gedeblag. Sederhana tetapi nikmatnya maknyuuss. [b]

The post Dari Desa Membumikan Nilai-nilai Pancasila appeared first on BaleBengong.

Bercumbu Dengan Air Terjun di Tabanan

Tabanan tidak selalu bicara Tanah Lot, Jatiluwih atau Kebun Raya Bedugul. Banyak potensi yang ternyata masih belum dikembangkan secara maksimal termasuk air terjun berikut ini. Lokasi air terjun ini memang berada di lahan pribadi namun oleh pemilik lahan air terjun ini belumlah dimaksimalkan, beruntung sekali tim Kabarportap dan Allabout Bali berkesempatan menengok air terjun yang […]

The post Bercumbu Dengan Air Terjun di Tabanan appeared first on kabarportal.

UNIK!! Panen Padi Dengan Anggapan

Penulis tidak sengaja melewati wilayah Wangaya yang masuk ke wilayah kabupaten Tabanan. Dijuluki “Lumbung Padi”, kabupaten ini memiliki keunikan sendiri dalam proses panennya. Meski jaman sudah cukup maju dan modern, petani di wilayah ini masih memakai cara tradisional dalam memanen padi. Bagaimana dan apa nama alatnya, yuk simak melalui video berikut ini dan jangan lupa […]

The post UNIK!! Panen Padi Dengan Anggapan appeared first on kabarportal.