Tag Archives: Sulawesi

Misteri Rammang-Rammang yang Perlu Sentuhan

Kunjungan sebentar ke Makassar memberi kejutan. Tidak hanya Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) untuk Sloka Institute, alasan utama ke kota tersebut, tapi juga misteri dan keindahan alam yang tersembunyi, Rammang-Rammang. Sampai ketika tiba di sana Rabu pagi sekitar pukul 10 WITA, aku belum tahu ke mana tujuan perjalanan. Di dalam jadwal yang sudah dikirim panitia sejak sekitar Continue Reading

Ibu Kangen Kalian, Hei Anak-anak Manis

“Bu guruuuuuu…,” begitu biasa Heri menyapaku sambil berjalan mengikuti langkahku ke sekolah saat melewati rumahnya.

Sapaan yang sama dilayangkan oleh anak-anak lainnya begitu melihat batang hidungku di sekolah. Beberapa dari mereka kadang langsung berhenti main bola dan menghampiriku. Minta salim. Lalu melanjutkan permainannya.

Sesederhana itu hidupku selama setahun di Majene. Sapa pagi, mengajar, bermain dengan anak-anak. Berbagi kuas dan cerita. Meski kadang harus kuingatkan lagi untuk membaca, dan membuat pekerjaan rumah.

anak anak

Sebagian besar waktu yang kuhabiskan bersama anak-anak sangat kurindukan kini.

Dusun Manyamba di kabupaten Majene letaknya 52 km dari kota, masuk dari jalan poros. Setelah masuk jalan menuju dusun, kita harus menempuh sekitar 7 km lagi melewati dusun sebelumnya yaitu dusun Seppong. Anak-anak tidak terlalu takjub dengan kehadiranku awalnya. Tentu saja. Aku adalah Pengajar Muda ke-4, artinya, ada 3 Pengajar Muda lain sebelum aku yang tentu memiliki kualitas berbeda namun dengan tujuan yang sama.

“Bu, nanti sore melukis ya di rumah ibu?” ujar Nisa penuh harap suatu waktu di sekolah. Aku menjawab, tentu, selesaikan dulu pekerjaan rumahmu ya. Dan Nisa serta beberapa orang yang menguping dari jauh mengangguk senang, lalu berlarian sambil berteriak girang, “Yuhuuuu, melukis di rumah bu Lina.”

Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan langkahku menuju rumah. Menuju kehangatan kakek nenek, sambil menghabiskan cumi rebus kuah hitam buatan ibu angkatku-anak kakek.

Dan sorenya seperti yang sudah dijanjikan, anak-anak akan muncul dengan langkah riang, meminta pewarna dan kertas gambar. Beberapa waktu mereka akan menghabiskan waktu mulai mencoreti kertasnya, lalu eksperimen dengan warna-warna. Tak jarang mereka terlihat frustasi, lalu mencampurkan sekian banyak warna dalam satu kertas, nyengir saat kutanya menggambar apa, lalu menjawab, “Anu, pelangi ji, bu.”

Aih, tak ada yang lebih ibu rindukan daripada kalian, hei anak-anak manis. Sudah naik kelas kan sekarang? Kemana langkah kalian selanjutnya? Semoga suatu saat nanti, ada jalan kita yang berjodoh lagi ya, dan kita bisa saling berbagi kisah. Seperti kemarin dulu itu, saat kalian menggayuti lengan ibu di perjalanan menuju sekolah….

 

*iya, ini emang postingan menye-menye mantan pengajar yang kangen sama murid-muridnya, terus kenapa?*

Ibu Kangen Kalian, Hei Anak-anak Manis

“Bu guruuuuuu…,” begitu biasa Heri menyapaku sambil berjalan mengikuti langkahku ke sekolah saat melewati rumahnya.

Sapaan yang sama dilayangkan oleh anak-anak lainnya begitu melihat batang hidungku di sekolah. Beberapa dari mereka kadang langsung berhenti main bola dan menghampiriku. Minta salim. Lalu melanjutkan permainannya.

Sesederhana itu hidupku selama setahun di Majene. Sapa pagi, mengajar, bermain dengan anak-anak. Berbagi kuas dan cerita. Meski kadang harus kuingatkan lagi untuk membaca, dan membuat pekerjaan rumah.

anak anak

Sebagian besar waktu yang kuhabiskan bersama anak-anak sangat kurindukan kini.

Dusun Manyamba di kabupaten Majene letaknya 52 km dari kota, masuk dari jalan poros. Setelah masuk jalan menuju dusun, kita harus menempuh sekitar 7 km lagi melewati dusun sebelumnya yaitu dusun Seppong. Anak-anak tidak terlalu takjub dengan kehadiranku awalnya.

“Bu, nanti sore melukis ya di rumah ibu?” ujar Nisa penuh harap suatu waktu di sekolah. Aku menjawab, tentu, selesaikan dulu pekerjaan rumahmu ya. Dan Nisa serta beberapa orang yang menguping dari jauh mengangguk senang, lalu berlarian sambil berteriak girang, “Yuhuuuu, melukis di rumah bu Lina.”

Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan langkahku menuju rumah. Menuju kehangatan kakek nenek, sambil menghabiskan cumi rebus kuah hitam buatan ibu angkatku-anak kakek.

Dan sorenya seperti yang sudah dijanjikan, anak-anak akan muncul dengan langkah riang, meminta pewarna dan kertas gambar. Beberapa waktu mereka akan menghabiskan waktu mulai mencoreti kertasnya, lalu eksperimen dengan warna-warna. Tak jarang mereka terlihat frustasi, lalu mencampurkan sekian banyak warna dalam satu kertas, nyengir saat kutanya menggambar apa, lalu menjawab, “Anu, pelangi ji, bu.”

Aih, tak ada yang lebih ibu rindukan daripada kalian, hei anak-anak manis. Sudah naik kelas kan sekarang? Kemana langkah kalian selanjutnya? Semoga suatu saat nanti, ada jalan kita yang berjodoh lagi ya, dan kita bisa saling berbagi kisah. Seperti kemarin dulu itu, saat kalian menggayuti lengan ibu di perjalanan menuju sekolah….

 

*iya, ini emang postingan menye-menye mantan pengajar yang kangen sama murid-muridnya, terus kenapa?*

Wisata Makam Toraja, Dari Gua Romeo Juliet Sampai Pohon Besar Anak

Bosan dengan pantai? Mari sejenak lepas penat di pegunungan. Kabut yang turun di pagi hari, udara yang relatif sejuk, dan jalanan menanjak menantang adrenalin barulah sedikit dari bejibun pengalaman yang bisa kita rasakan. Seperti juga yang kudapatkan di Tana Toraja. Daerah yang letaknya di tengah perbukitan ini bisa ditempuh selama 8 jam perjalanan dengan bus dari Makassar. Bertempat di Celebes atau, kini, Sulawesi nama pulaunya.

Tana Toraja cukup dikenal di Indonesia, mulai dari upacara adatnya, misal upacara kematian, biasa dikenal dengan Rambu Solo yang benar-benar megah, Rumah tradisional yang disebut Tongkonan dan keadaan alamnya benar-benar membuat kita menyadari Indonesia memang kaya.

tongkonan

Juga sangat menarik ialah makam-makam di Toraja yang berbeda dengan tempat kebanyakan di Indonesia. Karena keunikannya ini, beberapa makam di Toraja menjadi tempat wisata yang terkenal dan dijadikan suguhan untuk para wisatawan baik nasional maupun internasional. Demikian pula denganku, berjudul jalan-jalan sekaligus ingin mengenal Toraja, tentu aku disuguhkan wisata makam oleh kawan yang memang asli anak Toraja.

Di Toraja, wisata makam sudah biasa dilakukan. Makam yang bisa dikunjungi pun banyak mulai dari Kete’Kesu, Londa, Lemo dan makam anak seperti Kambira. Karena kawanku ini tinggal di kawasan Rantepao, sekitar 10km dari Makale-ibukota Toraja, maka agar lebih mubeerdah bepergian kami menyewa sebuah motor.

Kete’Kesu menjadi perhentian pertama kami. Terletak di tenggara Rantepao, di dekat pintu masuk kami bisa langsung melihat jejeran Tongkonan lengkap dengan lumbung padinya. Di sekitarnya juga terdapat beberapa bangunan megalith yang menambah indah pemandangan. Di belakang jejeran Tongkonan inilah terdapat makam di tebing-tebing yang kita harus melalui jalanan menanjak dan menurun untuk mencapainya. Sepanjang jalan kami melewati tengkorak-tengkorak, entah tulang belikat, betis, atau tangan. Juga tengkorak kepala yang jumlahnya sangat banyak. Berserakan begitu saja, di jalanan menuju puncak makam. Peti yang menampung tengkorak tersebut sepertinya jatuh atau memang sudah lapuk dimakan usia. Menyebabkan seluruh isinya berserakan. Lucu (dan mirisnya) bahkan ada sebuah tengkorak kepala yang di dandani seolah sedang merokok dan habis menyesap beer.

Tiba di puncak, terdapat sebuah gua yang sangat gelap, tempat warga yang meninggal disemayamkan. Di depan gua tersebut ada juga peti-peti yang berserakan serta barang-barang milik orang-orang yang telah tiada. Orang-orang Toraja tidak ingin mengotori tanah. Karena mereka percaya tanah adalah sumber kehidupan. Karena itulah sebisa mungkin, mereka tidak menguburkan mayat di dalam tanah. Sebagai gantinya mereka meletakkan jasad-jasad itu di peti dan digantungkan menurut garis kekerabatan. Ada juga yang diletakkan di tebing-tebing dan gua.

tau-tau

Di pemakaman Londa, lebih ekstrem lagi. Kita dapat masuk ke dalam guanya bahkan ada abang-abang yang siap mengantar dengan lampu minyak. Pemakaman yang satu ini jelas lebih ramai daripada Kete’Kesu. Saat kami ke sana saja ada universitas yang sedang studi tur. Di pintu masuk gua terdapat tau-tau (patung-patung) si orang meninggal. Tau-tau biasa dibuat sebagai representasi si orang yang meninggal. Namun karena harganya agak mahal, kebanyakan yang menggunakan tau-tau hanyalah orang berkasta. Tau-tau juga dijadikan souvenir-souvenir kecil dengan harga beragam untuk para tamu. Di dalam gua, berjejer dan berserak tengkorak-tengkorak serta bunga dan foto.

romeo n juliet

Uniknya di sini ada dua tengkorak yang ditaruh di tempat berdekatan dan dikalungkan bunga. Orang sini menyebutnya Romeo dan Julietnya Londa karena mereka juga mati dengan kisah cinta yang menggenaskan karena kedua keluarga tidak setuju. Entah benar atau tidak, karena menurut si abang, cerita itu sudah ada sejak dulu. Yang pasti cerita dan tengkorak itu sangat legendaris, bahkan ada beberapa tamu yang berfoto bersama tengkorak si Romeo dan Juliet. Jalan dalam gua sangat menantang, di beberapa spot kami harus merangkak (benar-benar merangkak ya ini) untuk dapat melewati jalan yang tingginya hanya sebetis saya. Hanya sekitar 3 menit merangkak, baju dan celana sudah belepotan tanah basah khas gua, wheew, 3 menit terlama dalam hidup saya, tapi itu semua terbayar dengan pengalamannya.

kambira2

Meski agak terganjal dengan komersialisasi makam di Toraja, aku cukup menikmati pemandangan menuju pemakaman karena pasti ada pepohonan hijau dan udara sejuk sepanjang jalan. Di Lemo, pemakaman di tengah bebatuan curam, kami melihat pemandangan yang kurang lebih sama. Desa, lalu makam. Dan juga kadang ada penjual souvenir. Tidak heran karena memang makam-makam itu ada di masing-masing kampung. Kalau memang ingin berwisata makam, tidak lengkap tanpa mengunjungi makam anak-anak, Kambira.

Kambira, sebuah pohon besar yang memiliki banyak liang yang ditutup dengan papan sehingga menyerupai jendela. Banyaknya liang itu memperlihatkan banyaknya anak yang ditanam di sana. Kambira terletak di tengah rerimbunan pohon bambu dan sangat rindang. Anak-anak yang meninggal sebelum giginya tumbuhlah yang disatukan dengan pohon besar ini. Mengapa pohon? Karena getah pohon dipercaya sebagai simbol susu ibu dan pohon sendiri menentramkan sehingga dipercaya sebagai tempat istirahatnya anak-anak ini. Kambira letaknya 19 km dari Rantepao di kabupaten Sangalla.

Selain wisata makam, Tana Toraja juga menyuguhkan berbagai keindahan alam serta keunikan budayanya. Cara satu-satunya apalagi kalau bukan langsung ke sana? Selamat menabung! :)

Wisata Makam Toraja, Dari Gua Romeo Juliet Sampai Pohon Besar Anak

Bosan dengan pantai? Mari sejenak lepas penat di pegunungan. Kabut yang turun di pagi hari, udara yang relatif sejuk, dan jalanan menanjak menantang adrenalin barulah sedikit dari bejibun pengalaman yang bisa kita rasakan. Seperti juga yang kudapatkan di Tana Toraja. Daerah yang letaknya di tengah perbukitan ini bisa ditempuh selama 8 jam perjalanan dengan bus dari Makassar. Bertempat di Celebes atau, kini, Sulawesi nama pulaunya.

Tana Toraja cukup dikenal di Indonesia, mulai dari upacara adatnya, misal upacara kematian, biasa dikenal dengan Rambu Solo yang benar-benar megah, Rumah tradisional yang disebut Tongkonan dan keadaan alamnya benar-benar membuat kita menyadari Indonesia memang kaya.

tongkonan

Juga sangat menarik ialah makam-makam di Toraja yang berbeda dengan tempat kebanyakan di Indonesia. Karena keunikannya ini, beberapa makam di Toraja menjadi tempat wisata yang terkenal dan dijadikan suguhan untuk para wisatawan baik nasional maupun internasional. Demikian pula denganku, berjudul jalan-jalan sekaligus ingin mengenal Toraja, tentu aku disuguhkan wisata makam oleh kawan yang memang asli anak Toraja.

Di Toraja, wisata makam sudah biasa dilakukan. Makam yang bisa dikunjungi pun banyak mulai dari Kete’Kesu, Londa, Lemo dan makam anak seperti Kambira. Karena kawanku ini tinggal di kawasan Rantepao, sekitar 10km dari Makale-ibukota Toraja, maka agar lebih mubeerdah bepergian kami menyewa sebuah motor.

Kete’Kesu menjadi perhentian pertama kami. Terletak di tenggara Rantepao, di dekat pintu masuk kami bisa langsung melihat jejeran Tongkonan lengkap dengan lumbung padinya. Di sekitarnya juga terdapat beberapa bangunan megalith yang menambah indah pemandangan. Di belakang jejeran Tongkonan inilah terdapat makam di tebing-tebing yang kita harus melalui jalanan menanjak dan menurun untuk mencapainya. Sepanjang jalan kami melewati tengkorak-tengkorak, entah tulang belikat, betis, atau tangan. Juga tengkorak kepala yang jumlahnya sangat banyak. Berserakan begitu saja, di jalanan menuju puncak makam. Peti yang menampung tengkorak tersebut sepertinya jatuh atau memang sudah lapuk dimakan usia. Menyebabkan seluruh isinya berserakan. Lucu (dan mirisnya) bahkan ada sebuah tengkorak kepala yang di dandani seolah sedang merokok dan habis menyesap beer.

Tiba di puncak, terdapat sebuah gua yang sangat gelap, tempat warga yang meninggal disemayamkan. Di depan gua tersebut ada juga peti-peti yang berserakan serta barang-barang milik orang-orang yang telah tiada. Orang-orang Toraja tidak ingin mengotori tanah. Karena mereka percaya tanah adalah sumber kehidupan. Karena itulah sebisa mungkin, mereka tidak menguburkan mayat di dalam tanah. Sebagai gantinya mereka meletakkan jasad-jasad itu di peti dan digantungkan menurut garis kekerabatan. Ada juga yang diletakkan di tebing-tebing dan gua.

tau-tau

Di pemakaman Londa, lebih ekstrem lagi. Kita dapat masuk ke dalam guanya bahkan ada abang-abang yang siap mengantar dengan lampu minyak. Pemakaman yang satu ini jelas lebih ramai daripada Kete’Kesu. Saat kami ke sana saja ada universitas yang sedang studi tur. Di pintu masuk gua terdapat tau-tau (patung-patung) si orang meninggal. Tau-tau biasa dibuat sebagai representasi si orang yang meninggal. Namun karena harganya agak mahal, kebanyakan yang menggunakan tau-tau hanyalah orang berkasta. Tau-tau juga dijadikan souvenir-souvenir kecil dengan harga beragam untuk para tamu. Di dalam gua, berjejer dan berserak tengkorak-tengkorak serta bunga dan foto.

romeo n juliet

Uniknya di sini ada dua tengkorak yang ditaruh di tempat berdekatan dan dikalungkan bunga. Orang sini menyebutnya Romeo dan Julietnya Londa karena mereka juga mati dengan kisah cinta yang menggenaskan karena kedua keluarga tidak setuju. Entah benar atau tidak, karena menurut si abang, cerita itu sudah ada sejak dulu. Yang pasti cerita dan tengkorak itu sangat legendaris, bahkan ada beberapa tamu yang berfoto bersama tengkorak si Romeo dan Juliet. Jalan dalam gua sangat menantang, di beberapa spot kami harus merangkak (benar-benar merangkak ya ini) untuk dapat melewati jalan yang tingginya hanya sebetis saya. Hanya sekitar 3 menit merangkak, baju dan celana sudah belepotan tanah basah khas gua, wheew, 3 menit terlama dalam hidup saya, tapi itu semua terbayar dengan pengalamannya.

kambira2

Meski agak terganjal dengan komersialisasi makam di Toraja, aku cukup menikmati pemandangan menuju pemakaman karena pasti ada pepohonan hijau dan udara sejuk sepanjang jalan. Di Lemo, pemakaman di tengah bebatuan curam, kami melihat pemandangan yang kurang lebih sama. Desa, lalu makam. Dan juga kadang ada penjual souvenir. Tidak heran karena memang makam-makam itu ada di masing-masing kampung. Kalau memang ingin berwisata makam, tidak lengkap tanpa mengunjungi makam anak-anak, Kambira.

Kambira, sebuah pohon besar yang memiliki banyak liang yang ditutup dengan papan sehingga menyerupai jendela. Banyaknya liang itu memperlihatkan banyaknya anak yang ditanam di sana. Kambira terletak di tengah rerimbunan pohon bambu dan sangat rindang. Anak-anak yang meninggal sebelum giginya tumbuhlah yang disatukan dengan pohon besar ini. Mengapa pohon? Karena getah pohon dipercaya sebagai simbol susu ibu dan pohon sendiri menentramkan sehingga dipercaya sebagai tempat istirahatnya anak-anak ini. Kambira letaknya 19 km dari Rantepao di kabupaten Sangalla.

Selain wisata makam, Tana Toraja juga menyuguhkan berbagai keindahan alam serta keunikan budayanya. Cara satu-satunya apalagi kalau bukan langsung ke sana? Selamat menabung! 🙂