Tag Archives: Suka – Suka

Berubah menjadi Pintar, ZEN POWER SLIM 6000



Komunikasi adalah sebuah cara dalam menyampaikan informasi bagi manusia. Dengan kejelasan informasi yang diberikan, manusia kemudian mampu mengadaptasi diri untuk menjadi lebih baik. Berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi, kecepatan dalam mengirim dan menerima informasi lantas menjadi suatu hal yang sahih tatkala manusia juga dituntut untuk mengikuti tren manusia terkini dalam kehidupan global yang semakin dekat dan cepat dimanapun kita berada. Kekuatan dalam perjalanan informasi yang cepat juga membutuhkan perangkat tertentu yang diharapkan mampu memperbaiki dan menaikkan kinerja kebutuhan manusia di jaman sekarang. Internet. Gadget. Merupakan dua diantara banyak hal yang menjadi idola bagi masyarakat kita dari tua sampai muda. Semua kegiatan dalam kehidupan kita kental dengan dua hal tersebut. Menolak menjadi opsi terakhir bagi kita untuk merespon perubahan yang ada. Karena sesungguhnya, menolak perubahan bisa diindikasikan bahwa manusia sudah tidak mampu untuk berfikir, bertindak hingga hidup.


Perubahan yang terjadi sesungguhnya dapat dikawal dengan persiapan matang dan tidak selalu menjadi radikal. Gadget yang digadang – gadang menjadi suatu alat yang bisa memberikan akses pada kecepatan informasi tentunya akan menguras energi sebagai sumber daya utama yang membuatnya dapat hidup. Sedangkan kegiatan manusia yang juga turut meningkat tidak selalu memberikan waktu khusus untuk memberikan daya tambahan listrik pada gadget yang dimiliki. Apalagi jika sedang berada pada suatu tempat minim sumber daya listrik. Charger yang dibawa pada akhirnya akan menjadi aksesoris tas. Namun memang manusia dibekali akal yang tiada tara. Beberapa perangkat baru akhirnya terbentuk mengikuti kebutuhan gadget akan sumber daya listrik yang terbatas. Powerbank lalu muncul sebagai solusi yang diidamkan bagi setiap orang di masa ini.



Kesempatan yang besar dan pengguna gadget yang tinggi kemudian membuat banyak pihak mampu memproduksi powerbank. Namun kembali lagi pada kualitas yang tidak serta merta bisa diadu dari satu atau dua merek yang ada. Kecenderungan produksi massal dalam suatu usaha produksi pada akhirnya meningkatkan kuantitas dan menurunkan kualitas pada saat yang bersamaan. Penurunan kualitas produk tentunya akan berpengaruh pada kinerja yang ada. Apalagi berbicara dengan konteks kelistrikan. Bisa bayangkan jika menggunakan powerbank abal – abal pada gadget kesayangan kita? Masih untung kita mampu menyelamatkan data – data yang ada di saat mulai tercium bau sirkuit terbakar.
Melihat dari fenomena tersebut, sebuah perusahaan elektronik ternama dari Taiwan, ASUS, turun tangan menanggapinya. Asus yang terkenal dengan inovasinya kemudian memproduksi sebuah power bank andal dengan nama ASUS ZEN POWER SLIM 6000. Mengandung kapasitas baterai sebesar 6000mAh, power bank ini justru memiliki desain yang tipis dan sangat nyaman untuk digenggam dan dimasukkan ke dalam kantong celana. Bentuk yang tipis dengan berat hanya 170gr ternyata tidak menurunkan performa dari ASUS ZEN POWER SLIM 6000. Kecepatan pengisian ulang yang juga mampu memproteksi kelistrikan kepada gadget yang kita miliki menjadi andalan powerbank ini. Memiliki high-density dengan baterai lithium-polymer yang sangat canggih, ASUS ZEN POWER SLIM 6000 mempu mengeluarkan daya 2.4 A secara stabil. Ini sangat berbeda dengan beberapa powerbank lain yang terkadang mengeluarkan listrik dibawah ampere yang dimaksud dan memiliki daya yang berubah – ubah.

Keunikan lain yang ditawarkan adalah konsep auto-adjusting output yang dimana akan mampu mencharging gadget secara otomatis ketika kabel dimasukkan (USB-plug). Ketahanan pada suhu sekitar juga menjadi concern ASUS pada produk ini. Dengan memiliki sekitar 11 tipe proteksi dan kestabilan suhu mencapai 60 derajat celcius, membuat ASUS ZEN POWER SLIM 6000 memiliki umur pemakaian lebih panjang dibandingkan kawan powerbank lain. Sebuah pengakuan lewat BSMI Certification juga telah disematkan pada powerbank pintar ini. Bukannya tanpa alasan sertifikasi ini diberikan pada ASUS ZEN POWER SLIM 6000. Diketahui bahwa produk ini telah ditempa dalam beberapa tes sebelum disebarkan kepada konsumen. Diantaranya uji coba hingga 5000 kali pemakaian USB-plug, penggunaan di suhu ekstrem antara -40 derajat hingga 70 derajat celcius sampai uji jatuh dari ketinggian kantong celana dengan tinggi sekitar 80 cm secara berkali – kali. Hasilnya? ZEN POWER SLIM 6000 masih mampu bekerja dalam kondisi prima.

Alasan lain yang mungkin akan menjadi menyenangkan untuk memiliki ASUS ZEN POWER SLIM 6000 tentu adalah desain yang slim, ringan, kokoh dan warna yang cantik. Warna Burgundy Red atau Sand Gold yang elegan? Mari kita berjalan beriringan dengan perubahan yang ada tanpa mengesampingkan keputusan kita untuk memiliki salah satu powerbank pintar yang telah diciptakan oleh salah satu brand ternama. ASUS ZEN POWER SLIM 6000. Sangat cocok untuk ditaruh di kantongmu. 

AWAS! Wabah Pentol Korek Mengintai!


Pemikiran ini bermula setengah dekade yang lalu ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan strata satu di sebuah universitas di Bali. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sejenak diri ini mendapatkan lebih banyak waktu untuk menengok ke segala sisi dan menelisik lebih jauh tentang apa yang terlewat semasa dahulu sibuk berkutat dengan tugas kuliah, organisasi, maupun berbagai kegiatan berguna dan tak berguna lainnya. Dengan kata lain, selepas acara wisuda, waktu saya menjadi lebih banyak lowong sambil menyambi kerja di sebuah organisasi seni di bilangan daerah wisata di Bali.

Sebagai seorang pemuda yang hidup di tanah yang memiliki pergolakan global dan lokal yang ketat, Bali, pandangan saya kala itu tertuju pada keadaan Indonesia. Negara sekaligus rumah dimana saya lahir dan (mungkin) mati kelak. Pandangan saya tentang Indonesia sangatlah plural. Ya, Plural. Beragam. Seperti slogan negara ini, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda – beda tapi tetap satu. Saya merasakan kekaguman lebih pada Indonesia. Entah karena saya lahir dan besar di antara cerita heroik perjuangan pahlawan negara ini dalam mencapai kemerdekaannya atau sudah terbiasa hidup berdampingan dengan lingkungan yang berbeda suku, agama serta ras. Dalam radius 500 meter, saya memiliki teman Muslim, Kristen dan Budha. Oh ya, by the way, KTP saya bertuliskan Hindu. Berjalan lebih jauh lagi, sangat mudah menemukan bule maupun turis asia dan bercengkrama dengannya. Ketika bersekolah, tidak sedikit teman berbeda suku yang pada akhirnya menjadi kawan berbincang dan bercanda.
Semuanya berjalan dengan baik. Walaupun ada yang saling berbeda pendapat, kami menganggap itu adalah hal biasa. Sebuah proses pendewasaan. Bukan hanya pada poin berbeda pendapatnya saja namun ketika kita menerima pendapat berbeda sambil tetap didasari pada nuansa pertemanan yang tetap terjalin. Baik ketika berdiskusi dengan teman lama maupun kawan baru. Kita, yang berbeda warna kulit serta keyakinan ini sadar, hal terpenting adalah menjaga kerukunan di antara kita. Melihat semua persoalan sebagai sebuah hal yang perlu dicarikan solusi. Solusi bersama. Bukan sebuah versi yang dimana satu menang maupun satu kalah. Topik permbicaraan pun menjadi beragam. Dari hal yang masih bisa diantisipasi melalui logika baik itu membicarakan isu sosial sekitar atau sekedar menjalankan ritual mengamati kawan terdekat dan menelisik total (Baiklah, kadang ngegosip) ataupun membicarakan hal yang diluar kuasa logika. Kenapa agamamu bisa begitu, aku begini? Tuhan itu seperti apa ya? Berapa luas angkasa ini ya? Kapan kita akan diserang alien. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Dunia saya simpel. Bagi saya, kerukunan dan persatuan adalah utama. Perbedaan itu biasa. Pemaksaan sama sekali bukan landasan kebenaran. Setiap permasalahan pasti ada solusi. Simpel dan sempitnya dunia saya ternyata dimiliki juga oleh orang lain. Namun sayangnya dengan substansi yang berbeda. Mereka adalah individu yang merasa terzalimi akan sesuatu yang tak akan kunjung selesai. Terhadap sesuatu yang mengancam sehingga mereka perlu yang namanya perlindungan. Mereka tidak tinggal di area konflik namun merasa perlu bertempur dengan orang yang berbeda penalaran dengannya. Mereka sebenarnya bisa rukun namun entah mengapa selalu berucap kata yang mengarah pada perseteruan. Mereka adalah pihak - pihak yang nyaman menyalahkan orang di luar lingkungannya. Di luar pemikiran. Di luar suku. Di luar agama serta ras mereka. Hingga mungkin menganggap yang berbeda itu adalah bukan manusia yang patut diajak (walau) sekedar berdiskusi. Mereka gemar melakukannya. Tanpa gemar introspeksi ke dalam. Seakan melihat bahwa diri dan pemikirannya maha sempurna. Padahal mereka tahu mereka tidak (seperti itu).
Berbagai fenomena turut berjalan berdampingan (bahkan terlanjur mesra) terhadap hal ini. Sebutlah organisasi massa yang mengatasnamakan agama, suku dan ras tertentu mulai bermunculan. Tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Isi kitab suci diumbar dan dipakai sebagai bahan pembenaran. Jika merujuk pada konsep kemanusiaan nan logis yang bertentangan dengan pemikiran ‘sucinya’, hanya satu kata: LAWAN. Ini bukan hanya merujuk pada satu agama dan keyakinan namun pasti karena pemahaman yang mulai bergeser bahwa kepercayaan dan keyakinan pribadi telah boleh diatur dalam konstruksi massa yang lebih luas. Semacam pola penegasan yang tumbuh dan berkembang dari mayoritas yang dibekali cita – cita masa lalu akan kejayaan agama maupun komunitas minoritas yang berusaha lepas dari “jeratan” pihak lain yang telah membawa hidup mereka menjadi tertekan setara menuju nista.
Pola kita semua korban menjadi sangat trendi. Mereka adalah pelakunya. Mereka siapa? Tentu yang berbeda dari yang merasa dirinya korban. Berbeda keyakinan, suku, agama hingga ras. Menjadi super sensitif. Merasa diri superior namun merasa terancam jika bertemu dengan sesuatu yang bertentangan. Benar – benar terancam. Cara satu – satunya adalah menghilangkan ancaman tersebut. Tiada lagi upaya negosiasi. Jangankan kepada orang lain bahkan diri sendiri pun tidak mengenal yang namanya penerimaan perbedaan pendapat. Hal yang mencengangkan lainnya, ternyata ini tersebar hampir merata di setiap elemen kehidupan kita di Indonesia. Oh ya, jangan lupakan media yang beralih fungsi dari mencerahkan rakyat menjadi mencelakakan rakyat. Jumlah mereka tidak kalah besar dan turut menyumbang kemunduran berfikir warga negara kita yang tercinta ini lewat konten click bait. Media yang seharusnya dapat menjadi mediasi berfikir masyarakat menjadi arena tumpah ruah dalam menunjukan kekuatan lewat kata – kata pembenaran merujuk kolot, pemelintiran kebenaran hingga penghinaan melalui caci maki yang tercermin terbalik dari pendidikan tinggi yang dianut oleh individu terkait.
Apakah pemikiran saya skeptik? Hanya berfikir tentang kemungkinan negatif semata? Mari saya pikirkan. Hmm.. Tidak juga. Coba terka apa yang terjadi pada Indonesia beberapa waktu terakhir. Isu apa yang hangat dan gampang menjadi trending topic di dunia maya yang luas ini? Tentunya selain hal penting yang patut direspon layaknya alam, pendidikan, pembangunan karakter dll, hal yang populer dan membuat semua orang menjadi sahih saat berkomentar pastinya hal yang berhubungan dengan Suku, Agama dan Ras.
Ketika semua mengkonsepkan diri layaknya pentol korek (berkepala tapi digesek dikit, Nyala), bahkan hal sederhana mampu menjadi sebuah pemicu api. Salah kata. Video yang diedit. Masalah orang beda suku yang jualan di warung. Pahlawan yang dulu berjuang memerdekakan Indonesia yang kini tersimbolisasi dalam uang menjadi sebuah arena debat baru. Tidak munculnya karakter pahlawan dari daerah tertentu dalam nominal uang lama menjadi sebuah cela bagi keberlangsungan hidup (satu atau beberapa) masyarakat di daerah tersebut. Lain nada sama lagu. Sekumpulan orang di daerah lain merasa dilecehkan akibat perwujudan gambar pahlawan yang pakaiannya tidak sesuai dengan anjuran dari keyakinan mereka yang terpampang dalam lembaran uang kertas. Tentunya wajah pendahulu kita terpampang karena jasanya memerdekakan negara dari penjajahan bangsa lain. Sebuah bukti kongkrit dimana kemanusiaan dan hak merdeka harus ditebus mahal bahkan hingga beratus tahun lamanya. Sebuah karya nyata demi kemerdekaan negara Indonesia. Jika pada masa tersebut pahlawan kita hanya memikirkan Suku, Agama dan Ras mereka, apa mungkin kita sekarang bisa menghirup udara kemerdekaan?
Sebuah pola kata penuh khianat kerap terlontar pada eksistensi dasar negara, Pancasila. Keraguan yang terucap keras lewat TOA  yang dikendalikan oleh para pemimpin organisasi Suku, Agama Ras tertentu memperlihatkan bahwa negara sebaiknya (jika boleh dibilang, Harus) mengikuti aturan agama tertentu agar semua menjadi baik. Sejarah coba dibelokkan. Perjuangan pendahulu kita coba dicoreng. Dengan lantangnya mereka menyumpah serapah kan segala aspek kenegaraan dan daruratnya negara jika suara mereka tidak didengar. Mereka siap menurunkan presiden! Mereka siap kudeta! Berawal dari kepentingan Suku, Agama dan Ras menuju Permakzulan? Sekarang anda tahu kemana pola dari seluruh kejadian ini.
Saya percaya Indonesia itu kaya. Indonesia itu indah dan diperebutkan oleh siapa saja. Kita saja yang terlanjur terlena hidup di negara yang asri ini. Sehingga kita kadang lupa bahwa kita hendak diadu domba bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dari negara ini. Apa yang mereka bisa buat untuk membuat kita tidak mencintai tanah air? Banyak. Angkat saja isu sensitif, agama misalnya, lalu benturkan dengan agama sebelah. Atau mau yang lain? Angkat isu tentang pendatang lalu kembangkan menjadi sentimen skala provinsi? Seketika lebarlah jurang dari tanah kerukunan yang dahulu mati – matian diperjuangkan oleh pendahulu kita. Mungkin menyiratkan sebuah utopia tingkat tinggi? Menginginkan merdeka sendiri tanpa tahu sulitnya mengelola sebuah negara.
Di sini saya tidak berbicara yang mana agama yang lebih dan yang tidak. Mana suku terhebat maupun bukan atau ras yang superior maupun kebalikan. Siapa juga yang tahu kita akan lahir di suku dan ras apa? Apakah selama kita hidup kita akan memupuk kebencian lantaran perbedaan warna kulit atau bentuk wajah dan dialek semata? Kita semua tahu bahwa semua agama juga mengajarkan kebaikan. Mengajarkan kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Membuat manusia menemukan jati diri menjadi manusia yang, ya, manusiawi. Bukan menjadikan agama sebagai perisai untuk mendobrak keyakinan ataupun bergulat dengan agama lainnya. Setahu saya agama dan keyakinan adalah urusan personal manusia dan Tuhannya. Itu saja sudah cukup sejuk untuk dilakukan. Rasanya tidak perlu kita menurunkan konsep agama dengan membawanya kedalam konflik duniawi.
-->
Kita adalah manusia. Manusia yang memiliki hak sama untuk mempertahankan rumah, Indonesia, dari segala ancaman yang berpotensi mengusik kerukunan yang terjalin baik selama ini. Manusia yang lahir hidup dan (nanti) mati di Indonesia. Kita memiliki kepala yang pastinya bertujuan membuat sejuk dan memberikan aspek positif pada dunia ini. Bukan hanya terbatas pada Agama, Suku dan Ras semata. Tidak. Karena kita adalah manusia yang hakikatnya bisa berfikir panjang setidaknya dalam level berbangsa dan bernegara. Kita bukan pentol korek yang kepalanya digesek lalu nyala. Bukan Ckrek dan Buzzzz….
-->-->-->-->

AWAS! Wabah Pentol Korek Mengintai!


Pemikiran ini bermula setengah dekade yang lalu ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan strata satu di sebuah universitas di Bali. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sejenak diri ini mendapatkan lebih banyak waktu untuk menengok ke segala sisi dan menelisik lebih jauh tentang apa yang terlewat semasa dahulu sibuk berkutat dengan tugas kuliah, organisasi, maupun berbagai kegiatan berguna dan tak berguna lainnya. Dengan kata lain, selepas acara wisuda, waktu saya menjadi lebih banyak lowong sambil menyambi kerja di sebuah organisasi seni di bilangan daerah wisata di Bali.

Sebagai seorang pemuda yang hidup di tanah yang memiliki pergolakan global dan lokal yang ketat, Bali, pandangan saya kala itu tertuju pada keadaan Indonesia. Negara sekaligus rumah dimana saya lahir dan (mungkin) mati kelak. Pandangan saya tentang Indonesia sangatlah plural. Ya, Plural. Beragam. Seperti slogan negara ini, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda – beda tapi tetap satu. Saya merasakan kekaguman lebih pada Indonesia. Entah karena saya lahir dan besar di antara cerita heroik perjuangan pahlawan negara ini dalam mencapai kemerdekaannya atau sudah terbiasa hidup berdampingan dengan lingkungan yang berbeda suku, agama serta ras. Dalam radius 500 meter, saya memiliki teman Muslim, Kristen dan Budha. Oh ya, by the way, KTP saya bertuliskan Hindu. Berjalan lebih jauh lagi, sangat mudah menemukan bule maupun turis asia dan bercengkrama dengannya. Ketika bersekolah, tidak sedikit teman berbeda suku yang pada akhirnya menjadi kawan berbincang dan bercanda.
Semuanya berjalan dengan baik. Walaupun ada yang saling berbeda pendapat, kami menganggap itu adalah hal biasa. Sebuah proses pendewasaan. Bukan hanya pada poin berbeda pendapatnya saja namun ketika kita menerima pendapat berbeda sambil tetap didasari pada nuansa pertemanan yang tetap terjalin. Baik ketika berdiskusi dengan teman lama maupun kawan baru. Kita, yang berbeda warna kulit serta keyakinan ini sadar, hal terpenting adalah menjaga kerukunan di antara kita. Melihat semua persoalan sebagai sebuah hal yang perlu dicarikan solusi. Solusi bersama. Bukan sebuah versi yang dimana satu menang maupun satu kalah. Topik permbicaraan pun menjadi beragam. Dari hal yang masih bisa diantisipasi melalui logika baik itu membicarakan isu sosial sekitar atau sekedar menjalankan ritual mengamati kawan terdekat dan menelisik total (Baiklah, kadang ngegosip) ataupun membicarakan hal yang diluar kuasa logika. Kenapa agamamu bisa begitu, aku begini? Tuhan itu seperti apa ya? Berapa luas angkasa ini ya? Kapan kita akan diserang alien. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Dunia saya simpel. Bagi saya, kerukunan dan persatuan adalah utama. Perbedaan itu biasa. Pemaksaan sama sekali bukan landasan kebenaran. Setiap permasalahan pasti ada solusi. Simpel dan sempitnya dunia saya ternyata dimiliki juga oleh orang lain. Namun sayangnya dengan substansi yang berbeda. Mereka adalah individu yang merasa terzalimi akan sesuatu yang tak akan kunjung selesai. Terhadap sesuatu yang mengancam sehingga mereka perlu yang namanya perlindungan. Mereka tidak tinggal di area konflik namun merasa perlu bertempur dengan orang yang berbeda penalaran dengannya. Mereka sebenarnya bisa rukun namun entah mengapa selalu berucap kata yang mengarah pada perseteruan. Mereka adalah pihak - pihak yang nyaman menyalahkan orang di luar lingkungannya. Di luar pemikiran. Di luar suku. Di luar agama serta ras mereka. Hingga mungkin menganggap yang berbeda itu adalah bukan manusia yang patut diajak (walau) sekedar berdiskusi. Mereka gemar melakukannya. Tanpa gemar introspeksi ke dalam. Seakan melihat bahwa diri dan pemikirannya maha sempurna. Padahal mereka tahu mereka tidak (seperti itu).
Berbagai fenomena turut berjalan berdampingan (bahkan terlanjur mesra) terhadap hal ini. Sebutlah organisasi massa yang mengatasnamakan agama, suku dan ras tertentu mulai bermunculan. Tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Isi kitab suci diumbar dan dipakai sebagai bahan pembenaran. Jika merujuk pada konsep kemanusiaan nan logis yang bertentangan dengan pemikiran ‘sucinya’, hanya satu kata: LAWAN. Ini bukan hanya merujuk pada satu agama dan keyakinan namun pasti karena pemahaman yang mulai bergeser bahwa kepercayaan dan keyakinan pribadi telah boleh diatur dalam konstruksi massa yang lebih luas. Semacam pola penegasan yang tumbuh dan berkembang dari mayoritas yang dibekali cita – cita masa lalu akan kejayaan agama maupun komunitas minoritas yang berusaha lepas dari “jeratan” pihak lain yang telah membawa hidup mereka menjadi tertekan setara menuju nista.
Pola kita semua korban menjadi sangat trendi. Mereka adalah pelakunya. Mereka siapa? Tentu yang berbeda dari yang merasa dirinya korban. Berbeda keyakinan, suku, agama hingga ras. Menjadi super sensitif. Merasa diri superior namun merasa terancam jika bertemu dengan sesuatu yang bertentangan. Benar – benar terancam. Cara satu – satunya adalah menghilangkan ancaman tersebut. Tiada lagi upaya negosiasi. Jangankan kepada orang lain bahkan diri sendiri pun tidak mengenal yang namanya penerimaan perbedaan pendapat. Hal yang mencengangkan lainnya, ternyata ini tersebar hampir merata di setiap elemen kehidupan kita di Indonesia. Oh ya, jangan lupakan media yang beralih fungsi dari mencerahkan rakyat menjadi mencelakakan rakyat. Jumlah mereka tidak kalah besar dan turut menyumbang kemunduran berfikir warga negara kita yang tercinta ini lewat konten click bait. Media yang seharusnya dapat menjadi mediasi berfikir masyarakat menjadi arena tumpah ruah dalam menunjukan kekuatan lewat kata – kata pembenaran merujuk kolot, pemelintiran kebenaran hingga penghinaan melalui caci maki yang tercermin terbalik dari pendidikan tinggi yang dianut oleh individu terkait.
Apakah pemikiran saya skeptik? Hanya berfikir tentang kemungkinan negatif semata? Mari saya pikirkan. Hmm.. Tidak juga. Coba terka apa yang terjadi pada Indonesia beberapa waktu terakhir. Isu apa yang hangat dan gampang menjadi trending topic di dunia maya yang luas ini? Tentunya selain hal penting yang patut direspon layaknya alam, pendidikan, pembangunan karakter dll, hal yang populer dan membuat semua orang menjadi sahih saat berkomentar pastinya hal yang berhubungan dengan Suku, Agama dan Ras.
Ketika semua mengkonsepkan diri layaknya pentol korek (berkepala tapi digesek dikit, Nyala), bahkan hal sederhana mampu menjadi sebuah pemicu api. Salah kata. Video yang diedit. Masalah orang beda suku yang jualan di warung. Pahlawan yang dulu berjuang memerdekakan Indonesia yang kini tersimbolisasi dalam uang menjadi sebuah arena debat baru. Tidak munculnya karakter pahlawan dari daerah tertentu dalam nominal uang lama menjadi sebuah cela bagi keberlangsungan hidup (satu atau beberapa) masyarakat di daerah tersebut. Lain nada sama lagu. Sekumpulan orang di daerah lain merasa dilecehkan akibat perwujudan gambar pahlawan yang pakaiannya tidak sesuai dengan anjuran dari keyakinan mereka yang terpampang dalam lembaran uang kertas. Tentunya wajah pendahulu kita terpampang karena jasanya memerdekakan negara dari penjajahan bangsa lain. Sebuah bukti kongkrit dimana kemanusiaan dan hak merdeka harus ditebus mahal bahkan hingga beratus tahun lamanya. Sebuah karya nyata demi kemerdekaan negara Indonesia. Jika pada masa tersebut pahlawan kita hanya memikirkan Suku, Agama dan Ras mereka, apa mungkin kita sekarang bisa menghirup udara kemerdekaan?
Sebuah pola kata penuh khianat kerap terlontar pada eksistensi dasar negara, Pancasila. Keraguan yang terucap keras lewat TOA  yang dikendalikan oleh para pemimpin organisasi Suku, Agama Ras tertentu memperlihatkan bahwa negara sebaiknya (jika boleh dibilang, Harus) mengikuti aturan agama tertentu agar semua menjadi baik. Sejarah coba dibelokkan. Perjuangan pendahulu kita coba dicoreng. Dengan lantangnya mereka menyumpah serapah kan segala aspek kenegaraan dan daruratnya negara jika suara mereka tidak didengar. Mereka siap menurunkan presiden! Mereka siap kudeta! Berawal dari kepentingan Suku, Agama dan Ras menuju Permakzulan? Sekarang anda tahu kemana pola dari seluruh kejadian ini.
Saya percaya Indonesia itu kaya. Indonesia itu indah dan diperebutkan oleh siapa saja. Kita saja yang terlanjur terlena hidup di negara yang asri ini. Sehingga kita kadang lupa bahwa kita hendak diadu domba bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan dari negara ini. Apa yang mereka bisa buat untuk membuat kita tidak mencintai tanah air? Banyak. Angkat saja isu sensitif, agama misalnya, lalu benturkan dengan agama sebelah. Atau mau yang lain? Angkat isu tentang pendatang lalu kembangkan menjadi sentimen skala provinsi? Seketika lebarlah jurang dari tanah kerukunan yang dahulu mati – matian diperjuangkan oleh pendahulu kita. Mungkin menyiratkan sebuah utopia tingkat tinggi? Menginginkan merdeka sendiri tanpa tahu sulitnya mengelola sebuah negara.
Di sini saya tidak berbicara yang mana agama yang lebih dan yang tidak. Mana suku terhebat maupun bukan atau ras yang superior maupun kebalikan. Siapa juga yang tahu kita akan lahir di suku dan ras apa? Apakah selama kita hidup kita akan memupuk kebencian lantaran perbedaan warna kulit atau bentuk wajah dan dialek semata? Kita semua tahu bahwa semua agama juga mengajarkan kebaikan. Mengajarkan kemanusiaan. Memanusiakan manusia. Membuat manusia menemukan jati diri menjadi manusia yang, ya, manusiawi. Bukan menjadikan agama sebagai perisai untuk mendobrak keyakinan ataupun bergulat dengan agama lainnya. Setahu saya agama dan keyakinan adalah urusan personal manusia dan Tuhannya. Itu saja sudah cukup sejuk untuk dilakukan. Rasanya tidak perlu kita menurunkan konsep agama dengan membawanya kedalam konflik duniawi.
-->
Kita adalah manusia. Manusia yang memiliki hak sama untuk mempertahankan rumah, Indonesia, dari segala ancaman yang berpotensi mengusik kerukunan yang terjalin baik selama ini. Manusia yang lahir hidup dan (nanti) mati di Indonesia. Kita memiliki kepala yang pastinya bertujuan membuat sejuk dan memberikan aspek positif pada dunia ini. Bukan hanya terbatas pada Agama, Suku dan Ras semata. Tidak. Karena kita adalah manusia yang hakikatnya bisa berfikir panjang setidaknya dalam level berbangsa dan bernegara. Kita bukan pentol korek yang kepalanya digesek lalu nyala. Bukan Ckrek dan Buzzzz….
-->-->-->-->

Film maker – Half time Lecture – Full time Rocker


            Beberapa tahun lalu saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merangkak perlahan menyelesaikan skripsi. Beberapa tahun sesudahnya, saya kembali menjadi penggiat film yang pernah digeluti bertahun yang lalu. Berbulan yang lewat saya menjadi dosen untuk sebuah institusi setelah menyelesaikan tesis yang cukup mencekik. Beribu detik selanjutnya saya berada dalam formasi Duo Rock, MR HIT.
            Duo Rock? Ya. Dua orang yang memainkan musik rock. Drum dan gitar. Itu saja. Aneh? Ga masalah. Yang penting Pede. Selain itu ternyata ini sangat membantu menghilangkan jenuh di tengah kegiatan akademis yang kadang menyita perhatian. Pagi nya boleh lah berpakaian rapi dengan etika layaknya soko guru yang siap membantu memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Selanjutnya diakhiri dengan loncat - loncat di atas panggung dan teriak - teriak sampai serak. Tapi Puas! btw, Sekarang MR HIT ber empat loh. hahaha... akhirnya kita punya temen :) (tulisan ini di update setelah formasi utuh)

            Selain bermusik, ternyata saya masih senang mengabadikan momen dan membuat film. Ah. Menyenangkan. Sekalian saja dikawinkan antara pengetahuan akademis, video dan musik rock. Apa jadinya? Dharma wacana singkat dengan balutan musik rock dan di abadikan di video. Mau Lihat? Tuh, dibawah ada video satu.
            Oke. Sebelum melebar, jadiii, Yuk, saling support talenta dan kreativitas yang ada. Karena lewat seni, kita bisa menjadikan dunia ini lebih baik. Jos! Mari Support MR HIT dengan cara subscribe Youtube nya dan KLIK di SINI.

#postingan ini memang 100% buat promo koq :p

Format Duo ROCK




Format FULL Band


Film maker – Half time Lecture – Full time Rocker


            Beberapa tahun lalu saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merangkak perlahan menyelesaikan skripsi. Beberapa tahun sesudahnya, saya kembali menjadi penggiat film yang pernah digeluti bertahun yang lalu. Berbulan yang lewat saya menjadi dosen untuk sebuah institusi setelah menyelesaikan tesis yang cukup mencekik. Beribu detik selanjutnya saya berada dalam formasi Duo Rock, MR HIT.
            Duo Rock? Ya. Dua orang yang memainkan musik rock. Drum dan gitar. Itu saja. Aneh? Ga masalah. Yang penting Pede. Selain itu ternyata ini sangat membantu menghilangkan jenuh di tengah kegiatan akademis yang kadang menyita perhatian. Pagi nya boleh lah berpakaian rapi dengan etika layaknya soko guru yang siap membantu memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Selanjutnya diakhiri dengan loncat - loncat di atas panggung dan teriak - teriak sampai serak. Tapi Puas! btw, Sekarang MR HIT ber empat loh. hahaha... akhirnya kita punya temen :) (tulisan ini di update setelah formasi utuh)

            Selain bermusik, ternyata saya masih senang mengabadikan momen dan membuat film. Ah. Menyenangkan. Sekalian saja dikawinkan antara pengetahuan akademis, video dan musik rock. Apa jadinya? Dharma wacana singkat dengan balutan musik rock dan di abadikan di video. Mau Lihat? Tuh, dibawah ada video satu.
            Oke. Sebelum melebar, jadiii, Yuk, saling support talenta dan kreativitas yang ada. Karena lewat seni, kita bisa menjadikan dunia ini lebih baik. Jos! Mari Support MR HIT dengan cara subscribe Youtube nya dan KLIK di SINI.

#postingan ini memang 100% buat promo koq :p

Format Duo ROCK




Format FULL Band