Tag Archives: Street Art

Sudah Kenal, Sekarang Waktunya Sayang-Sayangan

Skena seni ruang publik berkembang secara khas di Bali.

Kehadiran komunitas-komunitas, seniman-seniman independen maupun entitas bisnis ikut meramaikan skena ini. Tembok-tembok di kota-kota administratif dan pariwisata, untuk tidak menyebut Bali secara keseluruhan, kini dihiasi oleh karya-karya mereka.

Ada doodle, grafiti, hingga karya-karya yang idealis. Ruang-ruang komersil (kafe, villa, dll) juga ikut membuka tembok mereka untuk digambari.

Perkembangan ini membuka kesempatan bagi skena seni ruang publik untuk diterima dan diapresiasi secara lebih luas. Publik yang tinggal atau sekadar mampir di Bali bisa ikut menikmati karya-karya mereka.

Namun, karya-karya tersebut masih terbatas pada tembok-tembok yang strategis—dekat dengan jalan utama atau tempat-tempat dengan kuantitas turis yang masif. Akibatnya, seni ini justru sedikit berjarak dengan masyarakat lokal.

Untuk menjembatani jarak ini, pada 2018, lahirlah Rurung Gallery.

Rurung adalah kata dalam bahasa Bali yang berarti jalan. Dia lahir atas inisiatif Wayan Subudi, Dewa Juana, Gusde Bima serta dukungan alumni muralis Mural Pasca Panen 1.

Rurung Gallery dimaksudkan sebagai gerakan untuk membawa seniman ruang publik dan karya mereka ke jalan, khususnya mengerucut ke gang-gang kecil yang luput dari sentuhan para seniman jalanan.

Pemilihan ruang ini membuka kesempatan yang lebih intim bagi para seniman yang terlibat untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Jalan ini juga diambil untuk mengenalkan kembali seni mural kepada anak-anak yang tinggal di sekitar gang tersebut.

Pada setiap serinya, Rurung mengajak lebih banyak teman seniman untuk terlibat sesuai dengan besar tembok yang tersedia. Dengan konsep street jamming, siapa saja boleh ikut berkolaborasi. Seniman undangan dan tidak lupa para seniman juga mengajak anak-anak di sekitaran gang untuk ikut menggambar bersama.

Bekerja sama dengan CushCush Gallery, Rurung Gallery sudah menggenapi tiga aktivitas di tiga gang berbeda. Berawal di 15-16 September 2018, dengan mengajak setidaknya 10 seniman, Rurung Gallery melakukan street jamming pertama mereka di Pasar Kumbasari, Jalan Sulawesi.

Street jamming kedua diadakan seminggu sesudahnya di gang Rajawali, Jl. Teuku Umar. Rurung Gallery #3 memboyong para seniman dan karya mereka ke gang Berlian, Sanglah.

Proses negosiasi ruang dengan para pemilik tembok dan lingkungan sekitar menjadi salah satu hal menarik dalam setiap aktivitas Rurung. Masing-masing seniman, dengan gaya berkaryanya masing-masing, ditantang untuk mengikuti dos and don’ts yang secara lisan disampaikan kepada mereka.

Manajemen ruang berupa pembagian tembok bagi para seniman, juga pemberian ruang untuk anak-anak atau siapa saja yang ingin terlibat menjadi hal lain yang juga menarik.

Kolektivitas kerja antar-seniman dalam skena seni ruang publik bukan hal yang baru. Rurung Gallery, dengan proses negosiasi dan manajemen ruang yang mereka lakukan, membuat masyarakat setempat turut hadir dalam kolektivitas tersebut.

Orang-orang yang kebetulan melintas mungkin saja mengira mereka ngayah untuk memperindah gang-gang tersebut. Hal itu justru menjadikan aktivitas Rurung punya aroma yang khas.

Rurung #1, #2, #3 sudah berjalan. Kopi-kopi dari seduhan bapak-ibu warga setempat sudah habis bareng sama candaan-candaan receh. Ya, mungkin aja ada seniman yang dapat kenalan baru dan tukar nomor hape atau foto selfie bareng.

Foto mural-mural baru juga sudah tersebar di medsos (@rurunggallery), tanda Rurung Gallery siap dengan seri-seri berikutnya. Nah, kalau kamu? Sudah siap buat kenalan, belum? Kalau gak mau lanjut sayang-sayangan ya gak papa, tapi tolong kasih kabar! [b]

Teks: Sidhi Vhisatya

The post Sudah Kenal, Sekarang Waktunya Sayang-Sayangan appeared first on BaleBengong.

Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain

Save Subak Bali

Sepetak sawah itu tanahnya telah mengering.

Dia dipenuhi plastik-plastik bekas yang menjadi artefak sisa makanan. Sebuah bendera besar tegak berkibar tertiup angin di tengah sawah tersebut. Bendera Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) menjadi pernyataan sikap warga sekitar terhadap rencana Reklamasi Teluk Benoa.

Terlihat pelantang suara (oudspeaker), drum, dan gitar yang masih terbungkus rapat. Panggung kecil telah terpasang di sawah yang telah mengering. Rumput dan jerami menguning memenuhinya. Di sisi bentangan sawah lainnya, tampak sebuah traktor masih terbungkus rapi dengan terpal hijau pudar ditinggal pengembalanya pulang berhari raya.

Sebuah papan bertuliskan SAVE SUBAK BALI dipajang di pematang sawah. Dia menjadi penanda pergelaran yang akan dihelat hari itu.

Subak sebagai sistem tata kelola persawahan di Bali memang sudah cukup populer dan mulai terancam punah. Hal ini jelas merupakan salah satu akibat aktivitas alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan.

Pembengkakan jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan akan tempat tinggal. Pemukiman pun terus melebar dan mempersempit area sawah yang akhirnya tak lebih menjadi jeda pendek antara dua bangunan.

Subak sebagai sebuah sistem irigasi bisa bertahan karena ada sawah. Sawah bisa bertahan karena masih ada yang tidak tergoda untuk menjualnya dan memilih untuk bertani. Ketika petani dan sawah tidak lagi, ada maka subak hanya akan menjadi kenangan.

Berbicara tentang sawah tidak hanya masalah lahan penghidupan atau sumber tradisi, tetapi juga sebagai ruang bermain. Anak-anak menjadikan sawah sebagai tanah lapang tempat mereka bermain. Mulai dari bermain bola, perang lumpur dan yang tidak kalah seru dan telah menjadi tradisi adalah bermain layang-layang.

Ada ingatan romantis masa kecil akan sawah lapang dan luas, yang biasa digunakan untuk arena bermain. Meskipun bermain di sawah akan diselingi teriakan orang tua yang sedikit bawel karena lumpur memenuhi sekujur tubuh. Atau tangisan akibat luka kecil karena terjatuh saat sedang asyik berlarian di sawah.

Sayangnya ingatan itu terancam oleh kekhawatiran. Bahwa anak-anak di masa mendatang tidak akan lagi memiliki kesempatan mendapat pengalaman sama. Sebab, lahan mereka telah habis oleh bangunan beton.

“Anak-anak masih sering melayangan, sedangkan pendatang tambah banyak, batako dan beton terus bertambah. Kami ingin suasana pedesaan ini masih ada sehingga ada tempat bermain bagi anak-anak,” kata Koden, salah satu personel grup band Netterjack.

Akhirnya, kami pun menggagas acara Brother Keepers Forever yang bertemakan SAVE SUBAK BALI. Acara ini berlangsung pada Minggu (2/7) di Banjar Apuan, Singapadu, Sukawati, Gianyar.

“Ini juga karena dorongan dari Jes. Dia yang bilang kalau tempatnya asyik untuk sebuah acara,” Koden menambahkan.

Anak-anak muda Banjar Apuan Singapadu, Sukawati, Gianyar pun kembali memenuhi sawah. Meski bukan untuk mencangkul, setidaknya ini menjadi stimulan untuk mengingat kembali kenangan masa kecil. Kenangan yang semakin hari semakin terhapus oleh ruinitas dan pergeseran intensitas komunikasi dunia maya.

Kekhawatiran Koden memang beralasan. Melihat bangunan-bangunan perumahan yang menjorok semakin dalam ke lahan-lahan sawah produktif. Perlahan-lahan menimbun ingatan masa kecil akan sawah dengan campuran semen, pasir dan batako.

Orang-orang baru hadir entah dari mana. Tiba-tiba menjadi tetangga. Ada sekitar 250 kepala keluarga  pendatang dan membuka pemukiman baru di lingkungan tersebut. Hal ini diutarakan oleh Pak Made Parwira, warga setempat yang memberikan sawah garapannya untuk dijadikan lokasi acara.

“Mungkin sekitar 8 hektar sawah di sini telah habis menjadi perumahan. Ada sekitar 70 are, yang dulunya sawah kini sudah bertransformasi menjadi rumah-rumah hunian,” katanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah timur, menunjuk sebuah perumahan yang berdiri di tengah-tengah sawah.

Anak-anak muda yang memiliki kenangan romantis akan sawah saling bersolidaritas. Meminjamkan listrik, seperangkat sound system serta instrumennya, dan waktu untuk berdendang.

Ada pula yang  memberikan karya-karya mural yang dilukis di dinding. Ada 735art yang menggambar seekor kodok hijau raksasa di atas dinding batako telanjang. Di sisi lainnya seekor kera mengenakan pakaian belang (bojog poleng) sedang menggunakn cat spray.

Salah satu karya mural dari @mardiadinata.

Ada 735art, Frenk (Mardia Dinata), Antox, Peng, Egix dan kawan-kawan yang telah memulai karya mereka beberapa hari sebelumnya. Sedangkan Easy Tiger, Unkle Joy, Tockibe dan kawan-kawan lain masih asyik dengan dinding yang disediakan untuk menjadi media bagi mereka dalam berkarya.

Semakin malam penonton semakin ramai. Suara genset yang menjadi sumber energi untuk sound system seolah menjadi background bagi band-band yang bermain. Ada Moron Bross, Rograg, Matarantai, Rastaflute, Bebangkan Oi! Squad dan tentu saja tidak ketinggalan Koden Netterjack.

Salah satu band yang ikut memeriahkan acara Save Subak Bali.

Malam itu, suara jangkrik terpaksa menyingkir dan diganti dengan alunan musik dari band-band pengisi acara. Nyamuk-nyamuk pun harus menjauh untuk menghindari kepulan asap dari api unggun yang memanggang beberapa jenis bahan makanan. Tidak lupa minuman lokal yang menjadi pelengkap untuk merayakan kebersamaan tersebut.

Keintiman muncul dari setiap wajah yang hadir di malam itu. Keintiman di tempat yang dahulu pernah menjadi arena bermain para pemuda ini. Tempat yang telah mereka abaikan akibat kesibukan rutinitas akan tuntutan yang mengikuti umur (semakin bertambah usia semakin menuntut).

Tempat yang mereka coba pertahankan agar anak-anak mereka masih bisa menikmati kesegaran udara dan bermain di atas lumpur. Bebas berlari dan menerbangkan layang-layang seperti halnya yang mereka lakukan dulu di masa kecil. [b]

The post Brother Keepers Forever, Menyelamatkan Subak dan Ruang Bermain appeared first on BaleBengong.

Visit Bali Years, Promosi Citra Bali oleh SLINAT

 

Foto wanita Bali yang dicitrakan eksotik.

Bali seolah tidak bosan-bosannya menerima kunjungan orang penting dunia.

Pada Maret 2017 lalu, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta 1.500 rombongannya berkunjung dan membuat heboh seisi negeri. Setelah itu, gantian Barrack Obama yang berkunjung ke Bali selama lima hari sejak 23 Juni 2017 lalu.

Setelah mantan presiden AS yang digantikan oleh Donald Trump itu, Perdana Menteri negara tetangga, Malaysia, Najib Tun Razak pun juga tidak mau ketinggalan untuk mengunjungi Bali.

Citra orang Barat melihat Bali dan masyarakatnya menjadi referensi utama branding pulau Bali di kancah dunia internasional. Citra yang bermula ketika para agen perubahan yang ternyata “pelarian dari Eropa pada  Perang Dunia pertama” yaitu Walter Spies dan Miguel Covarrubias dan beberapa seniman kenamaan lainnya yang tiba di Bali pada tahun 1930-an.

Mereka datang, berinteraksi bahkan menetap dan mengembangkan serta menyebarkan citra mereka akan Bali melalui karya-karya mereka kepada dunia internasional.

Citra Barat yang didapat dari citra tokoh-tokoh  itulah yang kemudian membuat pemerintah secara serius ingin mengelola dan mengembangkan citra tersebut dalam bentuk pengembangan pariwisata dan Bali menjadi pusatnya. Upaya tersebut dilakukan pemerintah dengan membentuk Bali Tourist Development Corporation (BTDC) pada tahun 1972, yang kemudian diganti namanya menjadi Indonesia Tourist Development Corporation (ITDC) pada tahun 2014.

Bali menjadi pilot project pengembangan pariwisata di Indonesia yang pada saat itu tidak terlepas dari publikasi jurnalis dari Amerika Hickman Powell dalam bukunya The Last Paradise: An American’sDiscovery’ of Bali in the 1920’s yang diterbitkan pada tahun 1930. Karena publikasi tersebut jumlah wisatawan yang datang ke Bali berangsur-angsur meningkat dari 11,278 kunjungan pada tahun 1969 hingga mencapai 2.114.991 kunjungan pada tahun 2008.

Pencapaian hari ini tentu tidak dibangun tanpa usaha, promosi pariwisata yang diawali tahun1930-an dilanjutkan dengan ciamik oleh pemerintah Indonesia. Beberapa jargon pariwisata sebagai promosi menarik perhatian wisatawan pun mulai dilakukan. Media massa di sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an di bawah pemerintahan Orde Baru, memunculkan berbagai tagline. Di antaranya “Indonesia, there is more to it than Bali”, “Indonesia, Bali and Beyond”, serta “Indonesia, Bali plus Nine”. Tagline yang menggunakan nama Bali, walau berkesan untuk mempromosikan daerah lain selain Bali tetapi tetap saja nama Bali muncul sebagai pemikat.

Sampai kemudian tahun 1991, muncul jargon “Visit Indonesia Year” yang terus bergulir sampai tahun 2008 kemudian kini beralih menjadi “Wonderful Indonesia”.

VISIT BALI YEARS

Keresahan di Balik Ekspansi

Peningkatan industri pariwisata di Bali tergambar dari peningkatan kunjungan para wisatawan. Pada tahun 2016 kunjungan wisata ke Bali mencapai angka 4,9 juta. Seolah tidak puas dengan pencapaian itu, tahun ini kunjungan wisata ditargetkan menjadi 5,5 juta pengunjung.

Saat kunjungan wisata meningkat maka akan diikuti peningkatan akomodasi pariwisata. Dari yang hanya 1.653 hotel di tahun 2006 menjadi 2.079 hotel pada tahun 2015, dan 4.880 hotel pada tahun 2016.

Pariwisata yang merupakan salah satu bentuk budaya baru ternyata lebih dianak-emaskan pada saat ini. Bahkan sektor pertanian yang merupakan pembentuk budaya Bali sendiripun harus dikorbankan untuk itu.

Laju perkembangan dunia pariwisata ini tak luput dari pengamatan Slinat, seniman jalanan yang tumbuh dan tinggal di Bali. Menyaksikan bagaimana dunia pariwisata berputar dan ternyata tidak bisa dinikmati seluruh masyarakat.

Ibarat sebuah kue, kue ini dimasak oleh masyarakat yang secara teguh menjalankan dan mempertahankan tradisi budayanya. Namun, mereka merupakan lapisan paling kecil  bahkan bisa jadi berakhir dengan tidak mendapatkan kue yang mereka buat.

Gambaran masyarakat oleh orang Bali ini seolah telah memberikan sugesti kepada orang Bali sehingga mereka merasa harus bersikap seperti apa yang telah dicitrakan. Walaupun sudah tidak bertelanjang dada, tetapi tetap harus harmonis mempertahankan tradisi. Tidak boleh ada sedikit pun gejolak. Tidak boleh ada sedikitpun penolakan karena itu akan merusak citra Bali.

Orang Bali harus tersenyum menampilkan semua yang indah dan mengubur luka. Keindahan sawah terasiring yang permai walau akhirnya para petani kebingungan ketika penjualan hasil panen tidak menutup ongkos produksi. Sunset yang indah walau sampah berjubel di bibir pantai. Prosesi upacara adat yag megah walau untuk membuatnya tidak jarang harus meminjam uang ke sana kemari. Berpura-pura bahagia sambil terus berteriak “Jaen Hidup di Bali (enak hidup di Bali)”

Melihat situasi tersebut, Slinat menampilkan kegerahan dan kegeraman tentang bagaimana industri ini telah memanfaatkan tradisi dan budaya Bali untuk kepentingan mereka sediri dalam beberapa karyana.

Diawali pada tahun 2011, secara lugas Slinat menumpahkan dalam sebuah karya stensil gadis Bali lengkap dengan Bunga Jepun (kamboja) di telinga dengan tagline “Take My Picture and Say That My Culture is Beautiful”. Lokasinya di salah satu dinding bangunan di tengah Kota Denpasar. Karya itu menyoroti bagaimana selama ini industri pariwisata hanya mengambil citra keindahan Bali tanpa mempedulikan budaya itu Bali itu sendiri.

Instagram Photo

Tidak hanya gadis Bali yang cantik dengan berhias bunga kamboja, Slinat juga  menampilkan wanita Bali di zaman dahulu (yang masih bertelanjang dada) dengan masker kamp konsentrasi Nazi era perang Dunia II. Media yang digunakan juga beragam, mulai dari stensil, poster, stiker dan yang cukup popular tentu saja mural besar di Pasar Kumbasari yang dibuat dalam acara bertajuk “Bali yang Binal” di tahun 2015.

“Bayangkan jika dulu gambar seperti ini yang dilihat dan dipublikasikan oleh orang asing, apakah mereka akan menganggap Bali itu indah?” demikian kata yang dilontarkan pada saya ketika ditanya ketika karyanya.

Ketika pada tahun 1930-an, orang-orang asing tiba dan melihat wanita menggendong seorang anak dengan bertelanjang dada dan menggunakan masker, tentu bukan surga terakhir yang akan ada dikepala mereka. Bisa jadi gambaran yang muncul adalah neraka yang lain. Citra Bali tidak akan seindah  sekarang. Adat tradisi akan berjalan apa adanya tanpa tuntutan harus megah, dan semakin semakin megah untuk mengakomodir kerakusan pemodal industri pariwisata.

Selama kurun waktu sekitar 6 tahun Slinat mengamati dan menumpahkan keresahan (jika tidak mau disebut kegeraman) dalam karya-karyanya. Karya yang akan dipamerkan di Uma Seminyak, Jl. Kayu Cendana No. 1, Oberoi Seminyak-Kuta. Solo Exhibition yang bertajuk “X VISIT BALI YEAR X” show, pameran ini akan menampilkan sekitar 31 karya yang menyoroti bagaimana perkembangan industri pariwisata di pulau ini.

Kartu post dari Slinat untuk promosi VISIT BALI YEARS

Pameran yang akan diselenggarakan di salah satu area favorit yang sering dikunjungi para wisatawan asing ini, seolah ingin merekonstruksi citra tentang Bali yang selama ini telah terbangun sejak tahun 1930-an. Citra orang asing yang selalu memuja dan memuji Bali, citra Barat yang disebarkan lewat media tulisan, seni lukis bahkan kartu pos.

Mengambil tagline buatan Orde Baru (Visit Indonesia Year) yang bertahan sampai masa reformasi diparodikan menjadi Visit Bali Years yang tujuannya sama, mempromosikan Bali melalui seni (termasuk didalamnya kartu pos). Hanya saja, promosi Bali yang akan dilakukan Slinat kali ini berdasarkan citra realita yang terjadi di Bali, realita yang selama ini ditutup-tutupi agar Bali masih menjadi “Master Piece of God“.

Pameran ini akan berlangsung pada 1–17 Juli 2017. Pada saat pembukaannya, para pengunjung dapat menikmati promosi citra Bali yang apa adanya dengan ditemani senandung musik blues oleh Made mawut dan dendang folk dari Qupit Nosstress serta tidak mau kalah hentakan beat dari Madness On Tha Block dan Koes Min.

Jadi sampai jumpa disana, Kawan…

Mari terbangun dari peninaboboan  kata-kata manis Bali eksotik, surga terakhir dan berbagai kata manis lainnya. Cukuplah mencuci muka karena eksploitasi industri pariwisata terhadap budaya dan alam Bali akan tergambar jelas. Hanya saja kita masih terlalu enggan untuk mengakuinya. [b]

The post Visit Bali Years, Promosi Citra Bali oleh SLINAT appeared first on BaleBengong.

Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Mural Karya REbelline, menyoroti pengaruh media sosial dimasa kini.

Tampak sebuah gang kecil yang hanya bisa  dilewati sebuah mobil yang tepat di depan sisi sebelah kanan gang tersebut berdiri posko bergambar sebuah ormas beken di Bali. Sebuah gambar wanita ada di belakang Tugu (sebutan untuk tempat pemujaan yang berdiri sendiri), seolah hendak mengintip siapa yang hendak berlalu lalang di gang itu. Sebuah gedung kost-kostan tinggi menjulang, membelakangi gang seolah tidak ingin melihat himpitan rumah kecil yang ada dibawahnya. Sebuah mesin pengaduk semen menepi di sisi sebelah kiri gang, dibawah anak tangga yang menempel pada dinding toko yang tak kunjung berhasil membangun ruangan diatas lantai pertama.

Hari itu – Sabtu, kendaraan masih berlalu lalang dijalan depan gang, jalan yang menghubungkan tiga daerah utama kota Denpasar, Kreneng (pasar, sekolah, unifersitas dan polisi), alun-alun kota Denpasar (Pusat Pemerintahan kota Denpasar dan Kodam IX/Udayana) dan Renon (pusat pemerintahan Propinsi Bali). Jalan Letda Reta Gang XVIII,  Banjar /Dusun Yang Batu Kauh Dangin Puri Kelod adalah sudut kecil dari kota Denpasar, menjadi tempat para perantau (terutama dari kalangan militer/ tentara angkatan darat) untuk menyewa sebuah kamar atau mengontrak sebuah rumah selama bertugas di Denpasar karena asrama dirasakan tidak cukup nyaman untuk ditinggali. Tepat di simpang tiga Jalan Letda Reta menuju Jalan Yang Batu Kangin, sebuah baliho besar dterpasang pada sebuah pohon perindang jalan yang masih bertahan setelah pohon lainnya habis oleh laju pembangunan. Sebuah baliho acara yang diselenggarakan oleh XVIII project yang bertajuk Urban Street Art, lengkap dengan deretan pengisi acara dan juga pihak yang membatu terselenggaranya acara tersebut.

Ada hal yang sedikit menggelitik ketika membaca baliho bertajuk Urban Street Art yang tanpa menggunakan kata sambung “and (dan)”. Ketika ditanyakan pada Ketut Jesna , selaku penggagas acara tersebut, kenapa acara ini bertajuk URBAN STREET ART bukan URBAN dan STREET ART, sambil melengos dia hanya bilang “biarkan saja seperti itu” seolah ingin memberikan kebebasan pada yang melihat dan membaca untuk menterjemahkan tajuk acara tersebut.

Terkait kata Urban tentu saja tidak bisa dipungkiri, wilayah Yang Batu khususnya dan Denpasar secara lebih luas telah menjadi daerah urban. Walau tradisi masih berlangsung didalamnya tetapi perubahan fungsi lahan profesi telah berlangsung. Wilayah yang awalnya dari persawahan menjadi wilayah pemukiman kota yang menjadi tempat bagi para perantau mengadu nasib dan berinteraksi sosial.

Dilema muncul pada dua kata terakhir, apakah dua kata ini berdiri sendiri atau menjadi satu kesatuan, menjadi Street and Art atau menjadi Street Art saja. Melihat bagaimana daftar pengisi acara yang dipenuhi oleh sekitar 21 street artist dan bagaimana geliat street art di Bali akhir-akhir ini, tentu cara paling mudah adalah menganggap ini sebagai sebuah acara street art sebagai bentuk seni urban,. Namun sepertinya kesimpulan itu premature, ketika mendapati Street and Art merupakan kata yang berdiri sendiri.

 

 

Proses pengerjaan mural oleh salah satu seniman mural

Urban Art

Suara benturan biji gotri dalam kaleng ketika cat spray digunakan oleh para grafiti yang sedang membuat font nama dengan permainan bentuk dan komposisi warna. Beberapa diantaranya menggunakan masker untuk mengurangi aroma cat. Tampak beberapa pembuat mural dengan tekun, menggoreskan kuas membuat garis sketsa dengan teliti. Di sudut lainnya seorang artis mural khusuk dengan rol catnya. Hari itu Gang XVIII menjadi hiruk pikuk dengan para penggiat seni jalanan (seni publik) yang hadir untuk berkarya, merias dinding muram gang dengan karya beraneka warna, aneka bentuk dan aneka isu.

Mulai dari menyoroti masalah sosial, Slinat merespon anak tangga yang menempel didinding bangunan di depan gang dengan gambar seorang wanita bermasker dalam posisi duduk, sehingga tampak seolah wanita tersebut sedang duduk dianak tangga, tampak kelelahan, dengan  caption “manusia-mausia kalah melawan dari gelap malam, fight for your right fight for your life fight for your rice” dan sebuh kalimat yang lain “manusia hanya melakukan yang belum selesai lalu mati”, kemuraman terlehat dari cat yang dibiarak menfalir dan kalimat-kalimat yang termuat didinding.

Dibawah anak tangga seorang anak perempuan membungkuk, seolah menggendong tangga yang sedang diduduki oleh sang wanita, dibawah kaki anak perempuan tersebut tertulis kalimat SAVE CHILDREN, isu yang masih menjadi fokus Peanut Dog. Ketika gambar ini dilihat secara utuh, sebuah tampilan realita seolah tergambar jelas, ketika kita sedang memberikan beban pada anak-anak, eksploitasi alam yang sedang masif terjadi akibat pembangunan yang hanya berfokus pada infrastruktur hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan dan sosial yang nantinya harus dipikul oleh generasi selanjutnya (anak-anak).

Tidak hanya itu karya laki-laki dengan berbagai sosmed disekitarnya solah menjadi perilaku urban kekinian. Ketika interaksi berlangsung lebih aktif di duania maya, hingga tidak lagi ada batas yang jelas antara dunia maya dan dunia nyata.

Proses pembuatan mural “Save Childern”

Karya grafiti yang menampilkan berbagai macam font, walau perlu sedikit usaha untuk membacanya tetapi tetap saja menarik perhatian dan enak dipandang. Sosok “Ksatria Baja Hitam (Kotaro Minami)” muncul di salah satu bagian dinding sepanjang kurang lebih 60 meter, mengingatkan kembali pada sosok super hero yang dinanti anak-anak usia SD ditahun 1990-an, masa ketika anak-anak dimanjakan oleh tayangan film anak-anak (mulai dari kartun Saint Saiya, Candy Candy, Sailor Moon, Doraemon sampai serial anak-anak seperti Ksatria Baja Hitam, Ultraman dan Power Rangers), sebuah kondisi yang jauh berbeda dengan hari ini ketika televisi dipenuhi oleh drama mulai dari Indonesia, India sampai Turki, debat politik yang membosankan dan tentu saja gosip.

Disudut yang lain sebuah gambar wajah yang hanya menampilkan mata dan bagian atas kepala yang berambutkan bunga matahari, dengan sebuah kalimat “budayakan menanam”, seolah menjadi harapan dan doa yang ingin agar  warga kota untuk tetap menanam walau lahan sudah tidak lagi seberapa, karena menanam itu kunci.

Sekitar 18 seniman yang berkarya dalam Urban Street Art antara lain; SMRASHITWO, TOCKIBE, BGS4, BRUTALLMARK, MUTASEIGHT, NEDSONE, PEANUTDOG, JIKOLA, FATALART, 735ART, MASCT, REBELLINE, SLINAT, WAP, KINS, DICKO, POTLOT, MAJOUL dan TOCKIBE. Antusasme terlihat dari sebagian besar berkaraya bersama pada saat acara, bahkan beberapa seniman telah memuli proses berkarya pada hari senin sebelumnya. Di ujung gang sebuah panggung kecil dan pendek, dengan backgroud dari seng bergambar seorang wajah lelaki tua. Panggung tersebut tidak hanya menjadi panggung hiburan mereka yang hadir, baik untuk berkarya maupun untuk menikmati acara, tetapi menjadi panggung bagi anak-anak sekitar sana menunjukkan talentanya. Dibuka dengan penampilan tari puspanjali, acara dilanjutkan dengan suguhan permainan gender dari Agus dan kawan-kawan, kemudian sebuah tarian telek dibawakan oleh indra ddan nanda, lengkap dengan topeng kertas buatan 735art, topeng yang dibuat khusus untuk penampilan mereka hari itu. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan pada seni tradisi yang cenderung kaku juga diperlukan. Bukan untuk melunturkan tradisi atau agar menarik anak-anak menggeluti seni tradisi, tetapi untuk menjaga seni itu hidup dan tumbuh sehingga perubahan yang terjadi pun hendaknya bisa masuk dan diterima.

Panggung untuk menguji mental, mempertontonkan apa yang mereka bisa mulai dari permainan instrumen gender sampai tari-tarian. Menariknya, kali ini anak-anak itu tampil membawakan kesenian tradisional tidak dengan kostum biasanya, mereka menggunakan Sick adn Suck, band gang XVIII juga tampil sebelum penampilan akustik dari penyanyi reggae Freddy Kayaman  yang dilanjutkan dengan jam session dari pengunjung dan pemuda sekitar yang ingin menyumbangkan keterampilannya bermain musik.

Belum cukup dengan itu  sebuah tanah lapang di sudut gang digunakan untuk memajang beberapa kreasi modifikasi dari komunitas motor Besi Tua Bali. Motor-motor custom yang tidak lazim dan dengan suara knalpot yang melengking berjajar rapi seolah berada dalam festival otomotif. Motor-motor yang telah dimodifikasi yang tentu saja harganya tidak murah ini bisa menjadi komponen STREET dalam tema acara. Motor-motor yang melintasi jalanan, yang dibangun dengan waktu yang tidak singkat dan biaya yang tidak murah, dengan ketelitian dan ketekunan merupakan bentuk baru seni urban,custom motor juga merupakan sebuah karya seni.

Hari kian malam, tampak anak-anak, remaja sampai ibu-ibu berbaur di dalam gang,. Berbagai bentuk kesenian berkumpul dalam satu Gang, berinteraksi dan berkarya, musik, grafiti, mural, gamelan, tarian, modifikasi motor dan pinstrip hadir dalam satu gang. Mereka menampilkan seni yang mereka geluti untuk mengembalikan semangat “ngayah” para seniman tradisi yang mulai terkikis oleh industri (akibat bakat dan ketrampilan serta ongkos berkesenian yang  telah dinominalkan membuat “ngayah” seolah menjadi sebuah kata yang naif).

Mural karya MSCT (Maaf Saya Coret)

URBAN STREET ART yang di selenggarakan di sebuah Gang kecil di Yang Batu Kauh,pada hari sabtu,17 Juni 2017 seolah ingin menunjukkan jika seni hari ini tidak hanya seni tradisi (gamelan atau tari-tarian yang kini menjadi menu bagi para wisatawan yang datang ke Bali) tetapi ada berbagai bentuk seni baru sebagai bentuk ekspresi yang berkembang sesuai dengan perkebangan jaman. Hal ini seperti yang diungkapkan secara singkat oleh Jesna “seni itu tidak harus kita bisa menari, ini lho ada custom (motor) ada grafiti dan banyak seni lain”. Menyentil pemahaman lama yang masih banyak dianut, jika seni masih berupa tarian, gamelan, ukir dan bentuk seni lain yang telah menjadi tradisi.

Acara yang dilaksanakn dengan semangat gotong royong dan solidaritas, mengumpulkan seniman dari berbagai bentuk seni dalam satu gang kecil, mengkritisi pemahaman seni yang terpatron pada seni tradisi dengan tradisi.  Melepaskan diri dari jebakan bentuk seni tradisi dengan semangat seni tradisi “ngayah”, alih-alih terjebak pada bentuk (simbol) seniman-seniman yang tampil dan pihak yang ikut berpartisipasi menyelenggarakan acara ini mempertahankan semangat “ngayah”( yang mengandung solidaritas, gotong royong, sukarela dan tanpa pamrih)  tanpa tekanan dari otoritas yang lebih tinggi (penguasa) seperti yang berlangsung pada masa kerajaan (mungkin sampai sekarang).

 

URBAN STREET ART, telah menunjukkan berbagai rupa seni hari ini (walau belum semua) serta memperlihatkan nilai tradisi masih ada meski di lingkungan URBAN (yang cenderung individual) dan tampil dalam wujud yang berbeda, wujud yang mungkin saja menyentil pemahaman sempit akan seni.

l.taji//18//6//2017

The post Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar appeared first on BaleBengong.

WAY UP Exhibition, Pameran Kolaborasi Street Art

Sejumlah tempat di Ubud penuh warna-warni.

Cata Odata memamerkan karya-karya street artist yang terlibat dalam WAY UP. Kasper berkolaborasi bersama 1escV, BOMBDALOVE, Kmis3, Lezart, Nedsone, Peanut Dog, SleecK, SLINAT, dan Yapstwo di 20 dinding di kawasan Ubud.

Karya mereka dipamerkan pada 8 Januari – 11 Februari 2017.

WAY UP adalah proyek kolaborasi street art yang diinisiasi oleh Cata Odata, Kasper dan ALLCAPS Store & Gallery. Proyek ini dimulai dengan ide untuk berkontribusi menyemarakkan suasana jalanan di sekitar Ubud dan berkolaborasi dengan street artist di Bali.

Melalui perjalanan yang akan selalu menjadi keberlanjutan bagi Kasper untuk menyebarkan semangat positifnya, ia mengajak semua orang untuk terlibat melalui kontes instagram #UbudScavengerHunt. Scavenger hunt dalam konteks ini diterjemahkan sebagai pencarian jejak atau perburuan.

Ia menantang semua orang untuk memburu 20 karya dalam proyek WAY UP dan memberikan salah satu karya aslinya kepada pemenang yang akan diumumkan pada 11 Februari 2017. WAY UP bisa ditelusuri melalui peta online yang dapat diakses di http://way-up.cataodata.com/follow-the-map.html.

 

Kasper dan 9 street artist di Bali

Lukas Kasper (Kasper) adalah seorang street artist dari Brisbane, Australia. Baru-baru ini ia melakukan perjalanan ke beberapa negara dan berkolaborasi dengan beberapa street artist. Pengalaman bertahun-tahun sebagai relawan di RSCPA (Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals) dan Wildlife Organization di Australia Zoo, sebagai wujud kepeduliannya menyoal kesejahteraan hewan, ia terjemahkan menjadi salah satu ide untuk menciptakan karakter dalam karyanya.

Nama proyek kolaborasi ini adalah WAY UP, yang terinspirasi dari perjalanan Kasper. Ia merintis kerja keseniannya secara otodidak, bermula dari ketertarikannya pada kegiatan melukis dinding dan gambar-gambar di dinding-dinding jalanan di kotanya tinggal, Brisbane, saat ia masih aktif bermain skateboard.

Dalam kamus populer, WAY UP juga diartikan sensasi yang tinggi, di mana seseorang merasa senang dan tidak memedulikan apapun kecuali fakta bahwa ia bersenang-senang. WAY UP sendiri secara harafiah diartikan sebagai “jalan menuju”, mencerminkan Kasper yang akan terus melanjutkan apa yang ia kerjakan dan menghadapi segala kemungkinan baik dan buruk yang menunggunya.

Selama dua bulan sejak akhir November 2016 hingga awal Januari 2017, Kasper menghasilkan karya di 12 dinding dan 8 dinding kolaborasi dengan 9 street artist di Bali. Dalam perjalanan kekaryaannya, Kasper selalu melatari setiap karakter dengan motif galaksi sebagai pengandaian semesta alternatif versinya.

Dari proses kolaborasi ini, ia berkenalan dengan banyak bentuk interaksi berbeda yang memperkaya kreativitasnya. Misalnya kampanye perlindungan paus di Lamalera yang terus disampaikan Lezart, Kmis3 yang baru-baru ini memiliki proyek kerja sama dengan Jakarta Aid Animal Network, SleecK seorang street artist dan tattoo artist yang tertarik dengan simbolisme, budaya, dan kemistisan. Ada Yapstwo dengan karakternya yang mulai konsisten lewat karakter yang terinspirasi oleh babi (karakter: terminologi untuk figur khas yang berfungsi sebagai tanda visual seorang street artist), Nedsone seorang grafitti writer yang dikenal dengan kreasi wildstyle, dan 1escV dengan karakter yang mengilustrasikan persona kanak-kanak.

Juga dengan kampanye BOMBDALOVE melalui stiker, stensil, dan wheatpaste – gerakan cinta dan proyek berkelanjutan (a love movement and a street art project), ‘X Visit Bali Year X’ oleh SLINAT, sebuah parodi jargon pariwisata Bali yang dibuat untuk merespon bentuk-bentuk pariwisata yang menjual kebudayaan, serta ‘Save Children’ oleh Peanut Dog yang mengkritik pemenuhan hak-hak anak.

Workshop kreatif dan Kelas Belajar

Secara umum, street art dipahami sebagai seni yang dikembangkan di ruang publik mencakup graffiti, stensil, wheatpaste, gerilya seni, mural, stiker, isolasi, media interaktif, pahatan, mozaik, dan instalasi jalanan. Pendapat lain berkata bahwa street art adalah sebuah seni yang terinspirasi oleh lingkungannya dan ini merujuk pada definisi dan penggunaannya yang berubah.

Street art kemudian juga dipahami sebagai intervensi ruang publik, yang ketika bentuk street art itu hadir dan diakui oleh sekelompok masyarakat, menimbulkan kepemilikan kolektif.

Dalam setiap programnya, Cata Odata berupaya mendorong proses dialog terjadi melalui kegiatan workshop kreatif dan kelas belajar. Bulan Desember lalu, Cata Odata menjadi tuan rumah untuk workshop kreatif: SPRAY JAM! (sebuah pengenalan spray paint dan praktik dasar street art) yang dihadiri oleh sembilan peserta dari usia pelajar hingga orang dewasa dan kelas belajar: WHAT IS STREET ART? yang menghadirkan Kasper, SLINAT, dan Trax51 dari ALLCAPS Store & Gallery (sekaligus pengelola akun Instagram @balistreetart_official) untuk memandu diskusi.

Cata Odata dan ALLCAPS Store & Gallery

Cata Odata adalah sebuah galeri dan ruang interdisipliner yang berbasis di Ubud. Salah satu misinya adalah melakukan upaya-upaya mendekatkan seniman dan karya dengan penikmatnya. Untuk itu, Cata Odata membuka diri seluasnya terhadap bentuk-bentuk kolaborasi seni dan kreatif.

Cata Odata dan ALLCAPS menjadi kurator bersama dalam proyek ini. ALLCAPS adalah sebuah penyedia kebutuhan graffiti dan galeri yang mengkhususkan pada seni kontemporer urban. Spray Jam adalah salah satu kegiatan reguler yang diadakan untuk mendukung skena lokal di Bali.

Sebagai ruang komunitas street art yang berbasis di Canggu, ALLCAPS terkoneksi baik dengan banyak komunitas street art dan aktif terlibat dalam banyak event besar street art. Tahun lalu mereka menyelenggarakan Tropica Festival untuk pertama kalinya.

Selain mempertemukan skena lokal dan internasional, Tropica Festival mencoba melakukan pemetaan lokasi street art di Bali, dimulai dari daftar street artist yang terlibat tahun lalu. Proyek WAY UP dengan peta onlinenya merupakan salah satu lanjutan program ini.

Kontak:
CATA ODATA
Jl. Penestanan Kelod, Ubud
(Seberang Pura Dalam Penestanan Kelod)
Galeri : Senin – Sabtu, 10AM – 7 PM
(Minggu, buat janji dahulu)
wonder@cataodata.com
0822-3323-7857
Facebook Page       : Cata Odata
Instagram               : @cataodata
Lokasi                      : Maps

The post WAY UP Exhibition, Pameran Kolaborasi Street Art appeared first on BaleBengong.