Tag Archives: Sosok

Mendengar Franky, Membangun Asa di Masa Pandemi

Saya pertama kali mengenal lagu Franky Sahilatua saat masih SMP.

Kala itu saya tertarik mempelajari gitar. Lagu pertama yang saya mainkan adalah “Bis Kota”, berkisah tentang bus penuh penumpang di kota panas berdebu. Sederhana tapi penuh makna khas genre musik folk, seperti Joan Baez maupun Bob Dylan.

Franky memulai karier musik pada tahun 1974. Meskipun warna musik country sangat terasa pada lagu-lagunya, jiwa musik yang ia bawakan masih berada di sekitar atmosfer budaya Indonesia. Ini menjadi kelebihan dengan lirik yang naratif dan kerap menyentuh dunia sosial, seperti dilansir Wikipedia.

Pagi ini, puluhan tahun kemudian, saya tak sengaja mengetik namanya di kotak pencarian sebuah aplikasi musik di ponsel pintar. Ternyata ada lagu-lagu Franky, nyong Ambon kelahiran Surabaya yang telah berpulang pada 2011 silam. Maka, mengalunlah lagu-lagu seperti “Kemarin”, “Marina”, “Senja Indah di Pantai“, “Saudara Tua“, “Terminal”, Perahu Retak”, dan lainnya di kamar kontrakan tempat saya lebih banyak berdiam terutama di masa pandemi yang mencemaskan banyak orang.

Bersama Jane, sang adik, karya-karya Franky tak hanya bercerita tentang cinta. Tapi juga soal alam; bulan, kabut, hutan, laut gunung, sawah, bahkan telur dadar dan blue jeans, celana yang di masanya banyak digandrungi banyak pemuda di negeri ini tak luput ditulis dan dinyanyikan oleh mereka.

Ya, lagu-lagu Franky & Jane mengajak pendengar berpaling sejenak pada hal-hal yang sering kita lupakan. Kita seperti diajak menengok kehidupan sekitar; alam, entitas yang selalu diekploitasi demi keuntungan ekonomi semata. Juga tentang kehidupan sosial, dengan syair dan lirik yang tak mengkritik secara ekstrem, tapi membangun dan menggugah kesadaran bersama.

Candu Gawai

Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, mendengar lagu-lagu yang menenangkan batin tampaknya menjadi sebuah terapi, terutama bagi mereka yang dilanda kegalauan akibat masa depan yang tak pasti. Dirumahkan perusahaan atau mengalami pemutusan hubungan kerja yang berujung pada gangguan cemas bahkan depresi.

Imbauan berdiam di rumah oleh pemerintah memberi dampak sampingan; waktu luang warga lebih banyak dihabiskan dengan bermain gawai; menonton atau membaca berita di media sosial. Alih-alih terhibur, yang didapat malah kecemasan dan perasaan galau bahkan stres, takut tertular virus atau sebaliknya menularkan pada anggota keluarga dan kerabat lain.

Menurut para ahli seperti yang saya di sebuah situs berita, membatasi penggunaan media sosial adalah salah satu cara yang dianjurkan untuk mencegah depresi. Jika memang berselancar di internet malah membuat kondisi mental semakin memburuk ada baiknya menjauhkan sejenak gawai di tangan, diganti dengan membaca buku-buku yang memotivasi diri.

Bisa juga dengan membersihkan rumah dan berkebun seperti yang mulai banyak kawan saya lakukan. Atau, kembali menekuni kegemaran lama seperti mendengar atau bermain musik.

Bagi para penulis, agaknya sekarang masa yang baik untuk kembali menyunting tulisan yang pernah dibuat atau menulis karya baru berupa puisi, cerpen, kumpulan esai atau novel. Alhasil, berdiam di rumah menjadi berguna dengan aktivitas bermanfaat, melupakan sejenak hiruk pikuk media sosial yang kadang penuh dengan energi negatif; kekecewaan, kritik bahkan caci maki yang tak pernah berujung.

Selain memang banyak hal baik dan bermanfaat seperti konten agama dan spiritualitas, parenting, serta pendidikan yang sayangnya masih kalah penggemar dibandingkan aib dan gosip seorang pesohor misalnya. Atau video musik ‘Tik-tok” yang makin digandrungi.

Pulang ke Desa

Untuk itu, mendengar lagu-lagu Franky bagi saya bisa menjadi penyeimbang keadaan di luar diri yang chaotic. Simak saja syair lagu “Pada Bukit Pedesaan”: “Sekarang semua telah kutinggalkan/Tembok-tembok tinggi dan kepalsuan/Kuayun langkah/Kurentangkan tangan/Di bukit-bukit pedesaan//”.

Jika dirasa hidup di kota besar kini menjadi sulit, pulang ke kampung halaman menjadi pilihan yang tak salah, bahkan bisa menjadi tepat di tengah pandemi saat ini. Menggarap lahan sawah atau ladang, menjadi petani dan peternak yang merupakan akar budaya sebagian besar masyarakat Indonesia.

Di Bali, runtuhnya sendi-sendi ekonomi yang (hanya) berkiblat pada pariwisata hampir seratus tahun belakangan menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Bali masih akan terus bergantung pada pariwisata?

Sementara lahan-lahan produktif menyusut tajam akibat alih fungsi, pertanian dan perkebunan tak lagi dinikmati dan dihormati sebagai sebuah warisan budaya. Anak-anak muda lebih senang bekerja di kota, menjadi pencuci piring restoran atau petugas pembersih kamar hotel ketimbang tetap tinggal di desa menjadi petani.

Pertanian dianggap sesuatu yang kuno dan tak menghasilkan apa-apa. Bekerja di vila dan hotel apalagi di kapal pesiar jauh lebih bergengsi.

Kemajuan dan keberhasilan Bali karena pariwisata amatlah semu. Saat kawasan pariwisata sepi karena tak ada turis yang datang, pulang ke kampung halaman menjadi pilihan satu-satunya. Ini bukan sebuah kekalahan melainkan kemenangan apabila sisa lahan yang masih tersisa kita tanami, dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Membangun asa di desa yang kerap kali kita lupakan demi sebuah gengsi hidup di kota yang menurut Franky penuh “tembok-tembok tinggi dan kepalsuan.”

Kembali ke desa, menyatu dengan alam, hidup di masyarakat adat dan merasakan atmosfer kehidupan yang polos dan lugu. Harapan itu masih ada, asalkan kita mau. Bali perlu kembali ke budaya asli, budaya agraris yang makin tergerus industrialisasi secara massif dan membabi-buta, mengubah karakter dan tatanan kehidupan masyarakat sedemikian rupa.

Bukankah membangun dari desa juga menjadi program unggulan pemerintah saat ini? Mari kita memulainya. [b]

Putu Semiada, Membangun Manusia lewat Bahasa

Lewat tempat kursusnya, Putu Semiada tak hanya mengajarkan bahasa.

Putu Semiada memiliki mimpi besar untuk membangun tempat belajar di kampung halamannya setelah lulus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, mimpinya tak langsung bersambut, karena ia memutuskan untuk bekerja.

Mimpi yang tinggi, membuatnya nekat memutuskan pilihan. Pada tahun 2000 ia memutuskan bekerja sekaligus membuka tempat kursus bahasa Inggris.

Semiada memulai dengan 20 orang anak di kampungnya, Blahbatuh, Gianyar. Dia dibantu oleh seorang guru. “Saat itu saya tidak tahu marketing, saya hanya buka les. Tanpa sengaja ketemu dengan seorang guru, lalu dia kirim muridnya ke tempat les saya,” ceritanya.

Mendampingi murid 20 orang, nyatanya tidak menjamin kemajuan tempat kursus itu. Setelah sekian tahun sejak berdiri, kurang lebih 7 tahun tempat les dibuka, ia mulai mendapatkan sindirian dari orang-orang sekitarnya.

Kondisi Tempat kursus Prima Santhi waktu itu bagaikan hidup segan mati tak mau. Putu Semiada hampir menyerah dengan menutup tempat les itu. Karena tempat lesnya, seperti orang Bali bilang, buyung gen sing ada lewat (lalat aja ngga ada yang lewat).

“Bagaimana bisa survive?” tanyaya.

Namun, di sisi lain ia teringat kembali alasan awal membuka tempat kursus bahasa Inggris ini. Selain ingin membagikan kemampuan yang ia miliki, juga karena ia melihat anak-anak di desanya keluar desa untuk ikut les bahasa Inggris.

“Saya lihat banyak anak-anak di desa yang les ke luar desa. Akhirnya saya berpikir kenapa nggak saya coba saja buka tempat les bahasa Inggris dengan bianya murah,” pikirnya.

Istimewanya, tak sekadar mengajarkan bahasa Inggris, dia menyelipkan ajaran pembangunan karakter di Prima Santhi. Sehingga dia sesekali menjuluki tempat kursusnya dengan “more than learning English”.

Gayung bersambut. Pada tahun 2006 usaha Putu menarik temannya untuk membantu. Dengan memberikan beasiswa untuk anak tidak mampu yang ikut kursus di Prima Santhi. Sepuluh anak dipilih untuk kursus gratis. “Dia membantu, tetapi tidak meminta imbal balik apapun. Itu yang sekaligus mendongkrak hidup saya mulai dikenal,” katanya.

Usaha Putu kembali mendapat dukungan dari teman lamanya pada tahun 2009. “Sama teman saya itu, saya disuruh berhenti bekerja, katanya, ngapain saya ngerjain tempat kursus beginian. Trus saya jawab, lalu apa yang bisa saya kembangkan? Dikasitahu kembangkan aja bahasa Inggrismu,” dia lanjut bercerita.

Tahun 2010 kemudian tanpa sengaja ketemu lagi dengan teman lamanya. “Saya langsung dikasi kata-kata kasar. Kalo orang mungkin sudah jerih (nyerah) tapi saya tidak. akhirnya saya nekat. 2010 saya berhenti bekerja, saya nekat. Istilahnya lagasin bayunya, itu yang saya tulis di Buku Lagasin Bayune.”

Lalu tantangan apa yang akan dihadapi ketika memutuskan berhenti dari pekerjaan? Tidak salah, bahwa tantangan itu datang dari orang terdekat. Istrinya sendiri. Namun, Putu berhasil meyakinkan istrinya. “Karena saya pikir meski kursus saya ngga jalan, saya masih bisa survive karena ada istri kerja.”

Setelah berhenti bekerja, Putu dimentoring teman lamanya. Cara mentoringnya simpel. Yaitu dengan fokus pada apa pun yang dilakukan. Artinya, membesarkan apa yang kamu lakukan. Tidak neko-neko. Dia memegang teguh konsep fokus membangun kursus ini.

“Kalau seperti pizza, kan d imana-mana sama, tapi topingnya saya perbaiki. Saya adakan lomba, workshop, tidak dibayar. Bahwa kami tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi termasuk story telling bagaimana sebuah kursus yang di desa itu bisa mendatangkan native speaker.”

Singkat cerita, Putu menganggap apa pun dukungan yang dilakukan temannya seperti beasiswa buat anak-anak yang tidak mampu, sangat ia syukuri. Sekecil apapun hasil yang diperoleh dia syukuri. Dia percaya syukur itu mendekatkan dengan energi.

Melewati banyak perjuangan, Putu seperti menuai bibit yang gigih ia tanam. Sekarang kursus Putu terus berkembang dengan memiliki 350 anak di Prima Santhi. Ia percaya, hasil ini didapatkan dengan jalan fokus.

“Sebenarnya saya ngga nyangka, karena sesuai konsep Lagasang Bayune, saya melakukan segala sesuatu dengan gembira,” katanya.

Seperti anak-anak yang tidak memikirkan target atau jumlah. Dengan kita melakukan sesuatu dengan gembira, masak sih ngga ada reward. Ketika menghadapi konsumen dengan wajah gembira tanpa cemberut pasti konsumen senang, pasti akan ada hasilnya, entah dari orang tersebut atau orang lain.

Seiring usahanya membuka tempat kursus, Putu tidak tinggal diam. Spanjang perjalanan ia tuang menjadi karya. Hingga tahun 2019 Putu Semiada sudah melahirkan tiga karyanya dalam bentuk buku. Buku pertama berjudul Lagasang Bayune bercerita tentang bagaimana ia membangun kursus dan ketemu orang-orang yang mendukung.

Kedua, ketika Putu ikut gerakan dan mulai bertemu dengan orang-orang baru. Kisah ini ada di buku kedua berjudul Tegtegan Bayune. Ketiga itu Lemesin Bayune, baru terbit 2019. Buku ini ditulis mengingat umurnya yang terus bertambah.

“Saya berpikir apa sih yang saya cari dalam hidup? Keluarga sudah punya. Istri sehat walaupun tidak kaya-kaya amat, tapi bisa membiayai hidup. Jadi saya pikir hidup tenang-tenang saja,” katanya.

Melalui buku ketiga ini Putu mengingatkan bahwa keinginan adalah sumber kesengsaraan. [b]

‘Pisang’ Terakhir Made Liu

Bersua Made Liu di kebun pisang terakhirnya.

Made Liu, wanita paruh baya pemilik ratusan pohon pisang di Dusun Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, kini hanya menghabiskan waktunya di rumah yang bisa jadi harus Ia tinggalkan. Tidak ada lagi aktifitas mencari daun pisang ke kebun, tidak ada juga buah pisang yang bisa dipanen karena induknya sudah habis dimakan alat berat.

Kasus sengketa tanah antara PT Ubud Resort dan puluhan Kepala Keluarga di Dusun Selasih seakan menjadi pukulan berat bagi Made dan para petani lainnya. Sebab kebun pisang yang selama ini telah menghidupinya hanya menyisakan tanah kosong, setelah susah payah ditanam kini terpaksa mati sia-sia.

Sore itu, Made menuturkan bagaimana saat alat berat masuk ke dalam lahan pisangnya, tidak ada perlawanan yang bisa Ia lakukan, tidak ada pilihan selain diam dan menonton para pekerja itu melakukan tugasnya. “Setelah pohon pisang ditebang, pohon yang masih bagus saya kumpulkan kembali, meski belum tahu akan ditanam dimana lagi,” ucapnya sambil menunjuk pohon pisang yang sempat terkumpul.

Sembari bercerita, Made menawarkan buah pisang yang sudah sempat dijadikan sebagai banten (sesajen), ditempatkan dalam anyaman sokasi. Pisang ini, katanya, merupakan jenis pisang raja yang ukuran buahnya besar serta rasanya manis. Namun perih yang harus Made terima karena pisang ini merupakan buah pisang terakhir yang bisa Ia panen dari kebun.

Made mengungkapkan saat pembongkaran pohon pisang, ada satu pohon yang berbuah dan sudah menguning. “Buah ini yang masih disisakan oleh alat berat itu,” tuturnya dengan tatapan kosong, seakan mengingat momen yang tidak akan pernah Ia lupakan.

Sebelum peristiwa sengketa tanah ini terjadi, biasanya setiap dua hari sekali Made akan menjual daun pisang (don biu batu) yang sudah dipanen sejak pagi hari. Hasil penjualan yang bisa Made peroleh sebesar Rp. 30.000,00 per ikat. Setiap berangkat Made bisa menjual 60 ikat sampai 70 ikat daun pisang. Daun pisang ini adalah jenis pisang batu yang memiliki daun lebar dan cenderung lebih kuat dibandingkan jenis pisang lainya, sehingga sangat digemari oleh masyarakat selaku konsumen.

Khusus di Pulau Bali, daun pisang banyak dimanfaatkan untuk membuat banten dan sebagai pembungkus nasi, sehingga setiap harinya kebutuhan akan daun pisang akan terus meningkat. Sisi lain, petani pisang di Dusun Selasih masih harus berjuang untuk tetap mempertahankan tanah yang sudah ditempatinya selama ini.

Meski kecil harapan, namun dalam setiap doa yang dipanjatkan ada harapan agar mereka bisa kembali menjadi petani pisang di Dusun Selasih.

Aktivisme Media Sosial dengan Menu Sarapan Instastory

Menu Sarapan Instastory dari Andi RHARHARHA tersaji pada 30 September-13 Oktober 2019 di Uma Seminyak, Badung. Kombinasi pedas, manis, pahit kehidupan bangsa hari ini.

Bagi RHARHARHA, partisipasi publik dalam gerakan aktivisme di media sosial tak kalah penting jika dibandingkan dengan aksi turun ke jalan. Dalam konteks hari ini, keduanya memiliki peran yang sama vital dalam mendorong perubahan sosial. Melalui media sosial, gerakan aktivisme di lapangan tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga digaungkan terus menerus melalui interaksi yang terjalin di sana.

Sarapan Instastory adalah catatan harian RHARHARHA tentang berbagai peristiwa sosial, politik, juga kemanusiaan yang dialaminya di Instagram. Melalui pameran ini, catatan tersebut dialihwahanakan dari dunia maya ke medium dan ruang konvensional dengan tujuan untuk menarik partisipasi publik agar turut serta dalam menyuarakan kegelisahannya tentang situasi terkini.

Selama hampir dua dasawarsa terakhir, media sosial telah menjelma menjadi arena yang mengubah habitus manusia kontemporer. Pola interaksi sosial yang semula berlangsung secara faktual melalui perjumpaan fisik, kini berganti dengan percakapan virtual di dunia maya. Situasi ini tidak hanya mencakup pada mekanisme komunikasi dan distribusi informasi, tetapi sekaligus berpengaruh pada cara pandang kita terhadap realitas, berikut sistem tata nilai yang berlaku di dalamnya.

Sebagai seniman dan pengguna aktif instagram, RHARHARHA berhadapan dengan realitas politiknya di sana. Sejak pindah ke bali, perasaan berjarak dengan gerakan aktivisme di Jakarta membuatnya secara sadar mengalihkan aksi politiknya dengan menyebarkan pesan-pesan ideologis melalui unggahan di media sosial.

Sejak awal tahun 2000-an, Ia menyaksikan metamorfosa dari berbagai platform media sosial, dari era Friendster hingga Instagram yang kita gunakan saat ini. Termasuk bagaimana publik mengakses dan memandang media sosial tersebut. Di masa awalnya, media sosial sebatas menjadi medium komunikasi dan eksistensi personal, namun yang kita lihat saat ini, media sosial telah berkembang menjadi ruang kontestasi kultural, politik, dan ekonomi.

Seiring dengan kemudahan memperoleh akses internet, hampir setiap individu kini memiliki akun media sosial dan terhubung satu sama lain. Media sosial menyajikan konektifitas antar individu tanpa adanya batasan jarak, sehingga penyebaran informasi dapat menjangkau publik yang lebih luas, sekaligus berlangsung lebih cepat dari sebelumnya yang harus melalui kontrol media massa (cetak ataupun elektronik).

Saat ini, setiap individu bisa menjadi agen distribusi informasi tentang apapun, kapanpun dan kepada siapapun. Fenomena ini membentuk kesadaran baru bagi RHARHARHA dalam mengembangkan proses berkesenian dan aktivisme politiknya. Jika sebelumnya seni aksi RHARHARHA berlangsung bersamaan dengan aksi turun ke jalanan di ibu kota Jakarta, kini seni aksi RHARHARHA bisa dilakukan dimana saja asalkan ada koneksi internet.

Berkaca dari situasi politik Indonesia terkini, media sosial sangat berperan penting dalam pembentukan arah gerakan massa. Arus informasi yang berlangsung sangat cepat, secara massif ditangkap dan membentuk opini publik di dunia maya, yang kemudian secara langsung berimbas pada segregasi politik di dunia nyata.

Di samping itu, media sosial juga menjadi medium konsolidasi publik yang sangat efektif, jika kita ingat, dalam kurun lima tahun ke belakang, sejumlah aksi demonstrasi berhasil merangkum massa yang besar. Meningkatnya partisipasi publik di ranah politik menjadi salah satu dampak paling signifikan dari perkembangan media sosial. (Dwi S. Wibowo)

Mosi Tidak Percaya

Salah satu ruang interaksi berhasil dibangun dalam aksi #BaliTidakDiam 24 September lalu. Sebuah jaring laba-laba bersuara Mosi Tidak Percaya jalin menjalin dengan coretan kata-kata dari peserta aksi, ditulis dengan kapur. Dimulai oleh Andi dan Savitri. Berikut percakapan singkat lewat aplikasi percakapan dengan Andi RHARHARHA.

Ini pameran tentang apa, bagaimana proses kreatifnya?

Proses kreatifnya dengan mencatat keseharian yang saya alami dipengaruhi kondisi sosial, politik yang sedang terjadi. Juga hal receh/komedi yang ditemui di Instagram. Proses kreatifnya juga aktual merespon peristiwa yang sedang terjadi di Indonesia dari kasus pelemahan KPK sampai RUU KUHP, lambatnya penanganan kebakaran hutan, tenggelamnya berita tentang Papua, aksi Reformasi Dikorupsi, Bali Tidak Diam, Aksi Kamisan.

Karyanya merespon sejumlah isu saat ini seperti RUU KPK dan aksi kamisan. Bagaimana dua hal itu mempengaruhimu?

Sejak dahulu saya sebagai seniman melalui seni aksi RHARHARHA selalu menjadi bagian jika terjadi pelemahan KPK. Seperti dulu saat kasus Cicak Buaya, juga dengan Aksi Kamisan selalu bergabung hadir di depan istana negara untuk menjadi bagian kecil sebagai seniman turut menyuarakan dengan media lakban .

Aplikasi karya terlihat unik dengan bordir teks pada kain? Seolah berdarah-darah. Ini merujuk pada emosimu?

Bordir ini sebenarnya sebagai media baru saja. Sebagai seniman saya harus terus bermain atau berekplorasi dengan media baru untuk menyampaikan pesan agar mendapatkan perhatian yang tidak membosankan dan tetap jelas terbaca.

Kurasinya secara verbal tentang penggunaan medsos oleh artist-nya dalam mengomunikasikan ide, sementara di sisi lain medsos kini sangat mudah dimanipulasi kontennya. Apakah medsos masih powerful sebagai ruang aktivisme?

Saat panas-panasnya aksi Reformasi Dikorupsi, sosial media sangat penting untuk kita. Mampu mengadvokasi dan menyebarkan informasi tentang kebenaran aksi dan fokus membela kemanusiaannya.

The post Aktivisme Media Sosial dengan Menu Sarapan Instastory appeared first on BaleBengong.

Kaki Lumpuh, Tegap Hidup Mandiri

Kaki nya lumpuh sejak awal Sekolah Menengah Atas (SMA) di tahun 2003. Padahal dia terlahir normal hingga merasakan keanehan melemahnya daya otot kaki pada akhir SMP. Semenjak waktu itu hingga sekarang, dia berjalan sambil/seperti duduk. Untuk bepergian jauh gunakan kursi roda.

Dia kini berlabel manusia berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Bukan nya terkurung dengan keterbatasannya namun dia sudah piawai berbisnis (entrepreneur). Punya game center, toko komputer, beristri dan sudah punya 2 anak. Mrinding!

Saya terpana! Tak menyangka sama sekali. Kok bisa? Lanjut baca ya …

Dia bernama lengkap I Made Wahyu Diatmika dan saya panggil Wahyu. Di kampung Tabanan sana, dia dipanggil Dekwah. Doi sempat ragu dengan masa depan nya. Sempat pula tidak terima dengan kelumpuhannya.

Berawal Dari Suka Komputer Hingga Jadi Web Designer

Selesai tamat SMA, dia suka dengan komputer dan bermain game. Hingga suatu saat ada LSM PUSPADI memberinya kesempatan ikut Program Pelatihan Persiapan Keterampilan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas. Salah satu silabus training nya adalah dunia blogging dan internet marketing.

Bali Blogger Community menugaskan saya dan teman sesama blogger, Gus Tulank namanya, memenuhi undangan dari PUSPADI untuk jadi pembicara internet marketing. Berlangsung di Gedung Annika Linden Centre Batubulan, 24 Januari 2013, peserta disabilitas ternyata dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Disitulah saya bertemu dengan Wahyu. Pada akhir pelatihan, Wahyu tanya ke saya, “Pak, bolehkah saya magang di BOC?

Boleh, sekalian aja tidur di kantor BOC selama magang,” jawab saya. Rumah Wahyu kan jauh di Tunjuk, Tabanan. Sedangkan kantor BOC di Denpasar Timur. Maka dari pada bolak-balik saya tawarkan kamar yang ada tempat tidur nya. Bukan hanya di kantor Google aja yang punya nap room, BOC pun punya hehehe.

Wahyu magang di kantor saya selama 3 bulan dan selanjutnya hampir 2 tahun kerja bersama saya di BOC Indonesia sebagai web designer. Selama itu pula tidur di kantor saya.

Selain jago buat website, Wahyu juga bisa memperbaiki laptop dan rakit komputer. Dia juga sering terlibat jual beli gadget, software dan pernak-pernik game. Awalnya dia mengerjakan itu karena dapat titipan dari teman-teman nya di Tabanan dan Denpasar. Saya mempersilahkan dia seperti itu di sela-sela tugas utama nya sebagai web designer. Karena proyek website di BOC berdasarkan target waktu. Selama bisa tepat waktu ya silakan atur saja kesibukannya.

Berani Jatuh Cinta!

Di suatu sore, Wahyu mendekati saya yang lagi duduk santai di depan kantor. “Pak Hendra, saya berencana mau menikah Pak. Bagaimana pendapat Pak Hendra? Apakah saya mampu menjalani nya Pak?” tanya Wahyu.

Out of the box batin saya. Wahyu yang difabel, masih belia dan berani berencana. “Wahyu. Kamu harus hadapi. Ajak bicara keluargamu untuk melamar minta pacarmu itu ke keluarganya. Jika kamu sudah mampu secara finansial, bertanggungjawab, dan niatan nya baik, meski tidak tahu masa depan seperti apa, namun yakin Tuhan akan memberikan kemudahan.” Tutur saya sok bijak.

Alhamdulillah jalan selanjutnya tetaplah mulus. Buktinya Wahyu dan Mayuni menikah pada 6 februari 2014. Kami di BOC turut hadir di pernikahan yang berlangsung dirumahnya Tunjuk, Tabanan.

Resign, Modal Tabungan dan Semangat Ubah Nasib

Setelah menikah, usia kehamilan istrinya makin membesar dan Wahyu mulai berdiam di Tunjuk, Tabanan. Minta ijin sama saya untuk 2 minggu di kantor dan 2 minggu menemani istri. Saya kabulkan. Hingga akhirnya Wahyu resign ketika istri sudah melahirkan. Tak mungkin lagi berkantor di BOC.

Berbekal tabungan dari gaji ketika di BOC, Wahyu beranikan diri buka rental PS3. Setelah 4 bulan rentalan tersebut berjalan, Wahyu mengajukan pinjaman KUR ke BRI untuk bikin warnet. Pinjamannya cukup untuk beli 5 PC saja. Seiring berjalan nya waktu nambah jadi 10 PC. Wow!

Sambil menjaga warnet nya sendiri, Wahyu juga bisnis online. Membuatkan website, jual beli PC dan laptop, gadget, dll yang semua sumber nya dari online.

Sebuah bank nasional, Maybank namanya pernah undang Wahyu ke Yogyakarta untuk ikut pelatihan entrepreneur. Alasan nya Wahyu punya omzet tertinggi dari para disabilitas lainnya. Wow lagee!

Seminggu setelah saya ikut pelatihan dari Maybank, entah dari mana datangnya ada orang yang mau bikin warnet dan dipercayakan kepada saya untuk membuatkan 5 komputer dan langsung seting jaringannya, setelah itu ada dari Lombok sebuah yayasan disuruh bikin webnya, dan setelah itu ada yang rakit komputer lagi dan ada 3 pesanan HP.” Cerita Wahyu mengukir nasib nya.

Saat ini Wahyu terlihat mondar-mandir dari Tunjuk Tabanan ke kantor saya. Kerjakan rakitan komputer dan jadikan tempat datang nya gadget-gadget yang di order dari seluruh Indonesia dan belahan dunia luar untuk pelanggan nya di Bali 🙂

Well, Wahyu tahun 2003 apakah menyadari nasib nya pada tahun 2019 akan beda? Ingatkah dia pernah putus asa? Ada 2 kata kunci yang saya amati yang mungkin orang lain bilang sebagai keberuntungan hidup. Padahal keberuntungan itu berasal dari kata MAU dan GERAK.

Wahyu MAU untuk membuka diri dan GERAK ikut pelatihan. Wahyu MAU untuk tanya ke saya untuk GERAK magang di BOC. Wahyu MAU untuk terima saran saya dan GERAK melamar pacar nya. Wahyu MAU untuk tanggungjawab dan GERAK untuk bekerja. Wahyu MAU untuk mikir, buat strategi hidup dan GERAK meminjam uang di bank. Wahyu MAU untuk ubah NASIB dengan GERAK kerjakan rakitan komputer, buat web, jual beli gadget, dll yang berkaitan dengan bisnis.

How about me? How about you? Tertampar bukan?

Nasib itu ada di tangan manusia. Takdir ada ditanganNya.

The post Kaki Lumpuh, Tegap Hidup Mandiri appeared first on BaleBengong.