Tag Archives: Sosok

Aktivisme Media Sosial dengan Menu Sarapan Instastory

Menu Sarapan Instastory dari Andi RHARHARHA tersaji pada 30 September-13 Oktober 2019 di Uma Seminyak, Badung. Kombinasi pedas, manis, pahit kehidupan bangsa hari ini.

Bagi RHARHARHA, partisipasi publik dalam gerakan aktivisme di media sosial tak kalah penting jika dibandingkan dengan aksi turun ke jalan. Dalam konteks hari ini, keduanya memiliki peran yang sama vital dalam mendorong perubahan sosial. Melalui media sosial, gerakan aktivisme di lapangan tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga digaungkan terus menerus melalui interaksi yang terjalin di sana.

Sarapan Instastory adalah catatan harian RHARHARHA tentang berbagai peristiwa sosial, politik, juga kemanusiaan yang dialaminya di Instagram. Melalui pameran ini, catatan tersebut dialihwahanakan dari dunia maya ke medium dan ruang konvensional dengan tujuan untuk menarik partisipasi publik agar turut serta dalam menyuarakan kegelisahannya tentang situasi terkini.

Selama hampir dua dasawarsa terakhir, media sosial telah menjelma menjadi arena yang mengubah habitus manusia kontemporer. Pola interaksi sosial yang semula berlangsung secara faktual melalui perjumpaan fisik, kini berganti dengan percakapan virtual di dunia maya. Situasi ini tidak hanya mencakup pada mekanisme komunikasi dan distribusi informasi, tetapi sekaligus berpengaruh pada cara pandang kita terhadap realitas, berikut sistem tata nilai yang berlaku di dalamnya.

Sebagai seniman dan pengguna aktif instagram, RHARHARHA berhadapan dengan realitas politiknya di sana. Sejak pindah ke bali, perasaan berjarak dengan gerakan aktivisme di Jakarta membuatnya secara sadar mengalihkan aksi politiknya dengan menyebarkan pesan-pesan ideologis melalui unggahan di media sosial.

Sejak awal tahun 2000-an, Ia menyaksikan metamorfosa dari berbagai platform media sosial, dari era Friendster hingga Instagram yang kita gunakan saat ini. Termasuk bagaimana publik mengakses dan memandang media sosial tersebut. Di masa awalnya, media sosial sebatas menjadi medium komunikasi dan eksistensi personal, namun yang kita lihat saat ini, media sosial telah berkembang menjadi ruang kontestasi kultural, politik, dan ekonomi.

Seiring dengan kemudahan memperoleh akses internet, hampir setiap individu kini memiliki akun media sosial dan terhubung satu sama lain. Media sosial menyajikan konektifitas antar individu tanpa adanya batasan jarak, sehingga penyebaran informasi dapat menjangkau publik yang lebih luas, sekaligus berlangsung lebih cepat dari sebelumnya yang harus melalui kontrol media massa (cetak ataupun elektronik).

Saat ini, setiap individu bisa menjadi agen distribusi informasi tentang apapun, kapanpun dan kepada siapapun. Fenomena ini membentuk kesadaran baru bagi RHARHARHA dalam mengembangkan proses berkesenian dan aktivisme politiknya. Jika sebelumnya seni aksi RHARHARHA berlangsung bersamaan dengan aksi turun ke jalanan di ibu kota Jakarta, kini seni aksi RHARHARHA bisa dilakukan dimana saja asalkan ada koneksi internet.

Berkaca dari situasi politik Indonesia terkini, media sosial sangat berperan penting dalam pembentukan arah gerakan massa. Arus informasi yang berlangsung sangat cepat, secara massif ditangkap dan membentuk opini publik di dunia maya, yang kemudian secara langsung berimbas pada segregasi politik di dunia nyata.

Di samping itu, media sosial juga menjadi medium konsolidasi publik yang sangat efektif, jika kita ingat, dalam kurun lima tahun ke belakang, sejumlah aksi demonstrasi berhasil merangkum massa yang besar. Meningkatnya partisipasi publik di ranah politik menjadi salah satu dampak paling signifikan dari perkembangan media sosial. (Dwi S. Wibowo)

Mosi Tidak Percaya

Salah satu ruang interaksi berhasil dibangun dalam aksi #BaliTidakDiam 24 September lalu. Sebuah jaring laba-laba bersuara Mosi Tidak Percaya jalin menjalin dengan coretan kata-kata dari peserta aksi, ditulis dengan kapur. Dimulai oleh Andi dan Savitri. Berikut percakapan singkat lewat aplikasi percakapan dengan Andi RHARHARHA.

Ini pameran tentang apa, bagaimana proses kreatifnya?

Proses kreatifnya dengan mencatat keseharian yang saya alami dipengaruhi kondisi sosial, politik yang sedang terjadi. Juga hal receh/komedi yang ditemui di Instagram. Proses kreatifnya juga aktual merespon peristiwa yang sedang terjadi di Indonesia dari kasus pelemahan KPK sampai RUU KUHP, lambatnya penanganan kebakaran hutan, tenggelamnya berita tentang Papua, aksi Reformasi Dikorupsi, Bali Tidak Diam, Aksi Kamisan.

Karyanya merespon sejumlah isu saat ini seperti RUU KPK dan aksi kamisan. Bagaimana dua hal itu mempengaruhimu?

Sejak dahulu saya sebagai seniman melalui seni aksi RHARHARHA selalu menjadi bagian jika terjadi pelemahan KPK. Seperti dulu saat kasus Cicak Buaya, juga dengan Aksi Kamisan selalu bergabung hadir di depan istana negara untuk menjadi bagian kecil sebagai seniman turut menyuarakan dengan media lakban .

Aplikasi karya terlihat unik dengan bordir teks pada kain? Seolah berdarah-darah. Ini merujuk pada emosimu?

Bordir ini sebenarnya sebagai media baru saja. Sebagai seniman saya harus terus bermain atau berekplorasi dengan media baru untuk menyampaikan pesan agar mendapatkan perhatian yang tidak membosankan dan tetap jelas terbaca.

Kurasinya secara verbal tentang penggunaan medsos oleh artist-nya dalam mengomunikasikan ide, sementara di sisi lain medsos kini sangat mudah dimanipulasi kontennya. Apakah medsos masih powerful sebagai ruang aktivisme?

Saat panas-panasnya aksi Reformasi Dikorupsi, sosial media sangat penting untuk kita. Mampu mengadvokasi dan menyebarkan informasi tentang kebenaran aksi dan fokus membela kemanusiaannya.

The post Aktivisme Media Sosial dengan Menu Sarapan Instastory appeared first on BaleBengong.

Kaki Lumpuh, Tegap Hidup Mandiri

Kaki nya lumpuh sejak awal Sekolah Menengah Atas (SMA) di tahun 2003. Padahal dia terlahir normal hingga merasakan keanehan melemahnya daya otot kaki pada akhir SMP. Semenjak waktu itu hingga sekarang, dia berjalan sambil/seperti duduk. Untuk bepergian jauh gunakan kursi roda.

Dia kini berlabel manusia berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Bukan nya terkurung dengan keterbatasannya namun dia sudah piawai berbisnis (entrepreneur). Punya game center, toko komputer, beristri dan sudah punya 2 anak. Mrinding!

Saya terpana! Tak menyangka sama sekali. Kok bisa? Lanjut baca ya …

Dia bernama lengkap I Made Wahyu Diatmika dan saya panggil Wahyu. Di kampung Tabanan sana, dia dipanggil Dekwah. Doi sempat ragu dengan masa depan nya. Sempat pula tidak terima dengan kelumpuhannya.

Berawal Dari Suka Komputer Hingga Jadi Web Designer

Selesai tamat SMA, dia suka dengan komputer dan bermain game. Hingga suatu saat ada LSM PUSPADI memberinya kesempatan ikut Program Pelatihan Persiapan Keterampilan Kerja Bagi Penyandang Disabilitas. Salah satu silabus training nya adalah dunia blogging dan internet marketing.

Bali Blogger Community menugaskan saya dan teman sesama blogger, Gus Tulank namanya, memenuhi undangan dari PUSPADI untuk jadi pembicara internet marketing. Berlangsung di Gedung Annika Linden Centre Batubulan, 24 Januari 2013, peserta disabilitas ternyata dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Disitulah saya bertemu dengan Wahyu. Pada akhir pelatihan, Wahyu tanya ke saya, “Pak, bolehkah saya magang di BOC?

Boleh, sekalian aja tidur di kantor BOC selama magang,” jawab saya. Rumah Wahyu kan jauh di Tunjuk, Tabanan. Sedangkan kantor BOC di Denpasar Timur. Maka dari pada bolak-balik saya tawarkan kamar yang ada tempat tidur nya. Bukan hanya di kantor Google aja yang punya nap room, BOC pun punya hehehe.

Wahyu magang di kantor saya selama 3 bulan dan selanjutnya hampir 2 tahun kerja bersama saya di BOC Indonesia sebagai web designer. Selama itu pula tidur di kantor saya.

Selain jago buat website, Wahyu juga bisa memperbaiki laptop dan rakit komputer. Dia juga sering terlibat jual beli gadget, software dan pernak-pernik game. Awalnya dia mengerjakan itu karena dapat titipan dari teman-teman nya di Tabanan dan Denpasar. Saya mempersilahkan dia seperti itu di sela-sela tugas utama nya sebagai web designer. Karena proyek website di BOC berdasarkan target waktu. Selama bisa tepat waktu ya silakan atur saja kesibukannya.

Berani Jatuh Cinta!

Di suatu sore, Wahyu mendekati saya yang lagi duduk santai di depan kantor. “Pak Hendra, saya berencana mau menikah Pak. Bagaimana pendapat Pak Hendra? Apakah saya mampu menjalani nya Pak?” tanya Wahyu.

Out of the box batin saya. Wahyu yang difabel, masih belia dan berani berencana. “Wahyu. Kamu harus hadapi. Ajak bicara keluargamu untuk melamar minta pacarmu itu ke keluarganya. Jika kamu sudah mampu secara finansial, bertanggungjawab, dan niatan nya baik, meski tidak tahu masa depan seperti apa, namun yakin Tuhan akan memberikan kemudahan.” Tutur saya sok bijak.

Alhamdulillah jalan selanjutnya tetaplah mulus. Buktinya Wahyu dan Mayuni menikah pada 6 februari 2014. Kami di BOC turut hadir di pernikahan yang berlangsung dirumahnya Tunjuk, Tabanan.

Resign, Modal Tabungan dan Semangat Ubah Nasib

Setelah menikah, usia kehamilan istrinya makin membesar dan Wahyu mulai berdiam di Tunjuk, Tabanan. Minta ijin sama saya untuk 2 minggu di kantor dan 2 minggu menemani istri. Saya kabulkan. Hingga akhirnya Wahyu resign ketika istri sudah melahirkan. Tak mungkin lagi berkantor di BOC.

Berbekal tabungan dari gaji ketika di BOC, Wahyu beranikan diri buka rental PS3. Setelah 4 bulan rentalan tersebut berjalan, Wahyu mengajukan pinjaman KUR ke BRI untuk bikin warnet. Pinjamannya cukup untuk beli 5 PC saja. Seiring berjalan nya waktu nambah jadi 10 PC. Wow!

Sambil menjaga warnet nya sendiri, Wahyu juga bisnis online. Membuatkan website, jual beli PC dan laptop, gadget, dll yang semua sumber nya dari online.

Sebuah bank nasional, Maybank namanya pernah undang Wahyu ke Yogyakarta untuk ikut pelatihan entrepreneur. Alasan nya Wahyu punya omzet tertinggi dari para disabilitas lainnya. Wow lagee!

Seminggu setelah saya ikut pelatihan dari Maybank, entah dari mana datangnya ada orang yang mau bikin warnet dan dipercayakan kepada saya untuk membuatkan 5 komputer dan langsung seting jaringannya, setelah itu ada dari Lombok sebuah yayasan disuruh bikin webnya, dan setelah itu ada yang rakit komputer lagi dan ada 3 pesanan HP.” Cerita Wahyu mengukir nasib nya.

Saat ini Wahyu terlihat mondar-mandir dari Tunjuk Tabanan ke kantor saya. Kerjakan rakitan komputer dan jadikan tempat datang nya gadget-gadget yang di order dari seluruh Indonesia dan belahan dunia luar untuk pelanggan nya di Bali 🙂

Well, Wahyu tahun 2003 apakah menyadari nasib nya pada tahun 2019 akan beda? Ingatkah dia pernah putus asa? Ada 2 kata kunci yang saya amati yang mungkin orang lain bilang sebagai keberuntungan hidup. Padahal keberuntungan itu berasal dari kata MAU dan GERAK.

Wahyu MAU untuk membuka diri dan GERAK ikut pelatihan. Wahyu MAU untuk tanya ke saya untuk GERAK magang di BOC. Wahyu MAU untuk terima saran saya dan GERAK melamar pacar nya. Wahyu MAU untuk tanggungjawab dan GERAK untuk bekerja. Wahyu MAU untuk mikir, buat strategi hidup dan GERAK meminjam uang di bank. Wahyu MAU untuk ubah NASIB dengan GERAK kerjakan rakitan komputer, buat web, jual beli gadget, dll yang berkaitan dengan bisnis.

How about me? How about you? Tertampar bukan?

Nasib itu ada di tangan manusia. Takdir ada ditanganNya.

The post Kaki Lumpuh, Tegap Hidup Mandiri appeared first on BaleBengong.

Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan

foto: nosstress.com

Kupit ialah Komang Guna Warma yang ingin menjadi sesuatu, yang kita tau itu dia.

Di dunia kapitalistik ini banyak hal sering berhenti pada ukuran angka-angka, misalnya dibentuk tendensi berpikir makanan yang paling mahal seakan sah menjadi makanan yang paling lezat.

Tapi di dunia manusia juga ada hal-hal magis tidak boleh mati. Misalnya, bagaimana kita sepakat kalau makanan juara ialah makanan yang dimasak oleh orang tercinta, apalagi bahannya dipetik tidak jauh dari meja makan kita.

Setidaknya bagi saya, dan mungkin juga bagi ribuan fans guna warma yang kandas di dunia kapitalisme ini, mengganggap ia (Kupit dan karya-karyanya) ialah kesatuan masakan yang dimasak oleh orang yang kita cinta dan bahan-bahannya dari kebun sendiri. Sesuatu yang sederhana jika kita tulis di kertas. Tapi ketika itu sudah melantun menjadi sebuah kesatuan, kemudian menyentuh indera kita, meresap pada darah kita dan relung- paling sunyi di tubuh kita. Saat itu Tuhan seperti sengaja belum menciptakan kata-kata untuk menggambarkan perjalanan itu. Mungkin agar kita bisa jeda untuk mengingat bisa merasa, atau agar kapitalisme tidak bisa mencatat dan menaruh perjalanan itu di list menu-nya.

Dunia banyak mulai mengenal Kupit Nosstress melalui lagunya yang berjudul Tanam Saja, lagu dengan kumpulan kalimat sederhana, gampang meresap dan tumbuh di mana-mana. Lagu itu tercipta karena buah kegundahan Kupit melihat kebun di depan rumahnya luluh lantak pasca upacara adat.

Tapi ketika kegundahan di kebunnya dipetik untuk kemudian diolah. Kupit berhasil memasaknya menjadi lagu. Lagu itu seakan bisa memposisikan manusia ialah Kupit dan kebun di depan rumah ialah seluruh dunia dengan kenyataan yang tak seindah dulu.

Selain jago meracik lagu dan memanen kegundahan, memiliki suara yang begitu magis ialah kunci. Bagaimana lulusan komputer ini bisa ada di atas pijakannya hari ini. Suara magis ini bukan sekedar karunia yang esa, bukan juga karena karma baiknya hingga memiliki pasangan mba Sandrayati Fey, tapi lebih dalam dari itu.

Salah satu komponen rahasia suara magis Kupit ialah adanya flu dalam hidungnya yang terus hinggap. Pernah ia ingin mengobati flu itu secara tuntas, tapi orang yang memahami kedalaman suara Kupit ketika itu sangat takut, dan melarang ia menyembuhkan flu itu. Karena takut itu akan mengubah suara magisnya.

Sekiranya Kupit pernah hadir di dalam doa kalian, tolong jangan sekali mendoakan agar Kupit benar-benar sehat, tapi doakan-lah kupit sehat dengan flu yang terus ada itu.

Sebuah hymne, lagu kebangsaan yang heroik bersahaja juga lahir dari Kupit dan Agung Alit. Dari anak-anak sampai orang tua fasih menyanyikan refrain lagu ini, “Sayang Bali… Tolak Reklamasi… Bangun Bali kita dibohongi. Rusak Bumi dan anak negeri..”

Aksi corat-coret di kertas lusuh siaran pers tolak reklamasi pada 2013, menjadi jejak duet biduan dan aktivis yang mendirikan Taman Baca Kesiman itu. Kini, anthem BTR dinyanyikan dalam aneka bahasa oleh aktivis Asia Tenggara.

Suara flu Kupit juga membuat lagu Dekon karya Ketut Putu di album Prison Songs besutan Taman 65 ini hidup kembali. “Dekon nike tuhu wejangane becik. Margi kesaratan mangda ical je sayahe. De je uyut mesogsag mengajak timpal. Bersatu pang teguh, rakyat buruh tani musuhe nu galak tikus tikus ekonomi…”

Kupit akan Melali Bareng Musisi pada Sabtu, 22 Juni ke Karangasem, tanah kelahiran bapaknya. Melihat tegalan aneka jenis kelapa madan (bernama), olahannya, dan konser di Bukit Pekarangan, Ngis.

Tata, adik Kupit membagi kedekatannya dengan kakaknya.

Sejak umur 4 tahun, Kupit sudah senang bernyanyi. Awalnya ia hanya ikut-ikutan kakaknya dan kerap memegang peran backing vocal semasa ia kecil.

Seiring ia tumbuh, kesenangan bernyanyi sempat redup, terutuma selama SD. Mungkin karena dia sibuk belajar sampai selalu menjadi juara kelas dan pemimpin regu pramuka se-kelurahan Tonja.

Namun saat ia beranjak ke bangku SMP, ketertarikannya akan musik kembali. Diawali kesukaannya pada majalah, di antaranya majalah Gadis, Aneka, dan Gaul, ia bertemu dengan seorang dagang majalah yang mempunyai sebuah gitar butut. Tapi gitar ialah gitar. Bagi anak seumur kupit dengan bekal sekolah yang ngepas, gitar ini termasuk barang langka.

Singkat cerita, gitar ini dibeli oleh kupit, seharga beberapa puluh ribu. Inilah gitar pertama Kupit, yang kini keberadaannya entah di mana. Bukan karena kupit teledor, tetapi ada teman yang suka pinjam dan tidak kembalikan.

Nah, seiring waktu berjalan, Kupit pun SMA. Sudah lebih ganteng karena pakai behel. Di SMA ia bertemu banyak teman lain yang suka main musik. Pada awalnya, ia punya band yang namanya Crocourt Acoustic. Dengan personil sekitar satu tim sepakbola. Semacam band Eagles dari negeri Paman Samuel. Di masa-masa inilah Kupit mulai punya idola-idola dalam bermusik, yang sampai kini masih ia kagumi. Yang paling ia senangi adalah Jack Johnson.

Kupit menemukan sesuatu yang keren dari Jack Johnson, tak hanya musinya. Tapi dari kisah-kisah hidup, keseharian Jack yang sederhana, dan kepeduliannya terhadap isu sosial dan lingkungan yang tercermin dalam lagu-lagunya juga. Kupit memiliki pemikiran yang mirip seperti ini, dan bisa dibilang memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Sama seperti idolanya, namun dalam skala yang lebih kecil.

Oh iya, saat SMA, Kupit juga bagian dari tim basket SMA 7 yang dilatih oleh si Macan dari timur Chong Wei (terkenal sebagai pelatih galak). Ia lumayan lihai dalam freestyle basket, dan hingga kini masih sering bermain basket di lapangan basket di seberang Kertalangu.

Nah akhirnya, band Crocourt Acoustic yang dibentuk bersama teman-temannya ini kian berkurang personilnya. Dari satu tim sepakbola, mengecil jadi sebesar satu tim basket, dan akhirnya jadi tersisa 3 orang dan tidak bisa dibuat tim olahraga lain lagi. Maka jadilah Nosstress, yang hingga kini menjadi band kecintaan Kupit.

The post Kupit Guna Warma, Merdunya Kesahajaan appeared first on BaleBengong.

Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi

Dadang SH Pranoto, vocalist band Dialog Dini Hari

Sebuah akar menjelajah ke inti bumi dan sumber air. Inilah sebaran akar Pohon Tua.

Dadang S.H. Pranoto. Musisi band grunge Navicula dan trio folk Dialog Dini Hari ini mempunyai arti istimewa di hati penggemarnya. Tak hanya ngband, ia juga bermain solo dengan nama panggung Pohon Tua.

Akarnya menyebar di proyek musik lain, seperti duo Conscius Coup dan duo Electric Gipsy berkolaborasi dengan musisi lain. Memberi warna lain seorang Dadang. Di hampir semua band tersebut, Dadang berperan juga sebagai vokalis cum gitaris.

Lalu kenapa akarnya menancap kokoh di benak pendengarnya? Seorang penulis yang suka merekam remah pikiran dan catatannya dalam sebuah blog: wustuk.com. Selancar dunia maya membawa ke halaman blognya ketika mengetik nama Pohon Tua atau Dadang SH Pranoto. Ada sekitar 15 bahkan lebih tulisan yang berkenan dengannya.

Awalnya adalah kekaguman seorang penggemar lalu menjadi penulis buku yang isinya menaksir lirik-lirik lagu gubahan sang idola. Bukunya ini berjudul Dua Senja Pohon Tua.

Ada yang menyimpul ketika membaca tulisan-tulisan tentang Pohon Tua:  Spiritualisme. Circa 2011, di satu sesi Bali Emerging Writers Festival, Juniartha wartawan senior yang memoderasi diskusi dengan Dadang, juga membagi kekagumannya. Pohon Tua, jiwanya tua.

Spiritualisme Dadang barangkali adalah keyakinannya yang penuh pada musik dan perenungannya tentang hidup dan sekitar. Terdengar dari lirik-lirik lagu yang ia nyanyikan: liris, sederhana, dan mengena. Perlu jeda ketika mendengarkan lagunya dan menelisik lebih jauh ke samudera makna.

Dadang baik dalam Dialog Dini Hari atau Pohon Tua seperti hidup dalam lirik-lirik yang ia gubah. Barangkali ada serpihan jiwanya yang turut hidup di lirik itu.

Dusun Pagi, Desa Senganan, Penebel, Tabanan, Bali. Foto: Martino Wayan

Minggu besok, 16 Juni 2019, ia akan menemani Melali ke Dusun Pagi Tabanan. Mari berdendang bersama Dadang, dan membincangkan spiritualisme dalam lirik-liriknya.

Semisal dalam lagu Kancil di album solonya Kubu Carik. “Oh kancil, kau di mana. Pak tani entah ke mana, tak ada ladang, hutan tak lagi rindang. Pohon-pohon siap ditebang…”

Atau bersiul bersama Matahari Terbit. “Kurenungi wajahnya, kuselami indahnya. Kukabarkan pada pagi sang fajar kan terbit dari matanya…”

The post Dadang Pohon Tua, Akarnya Menancap di Poros Bumi appeared first on BaleBengong.

“Juru Ukur Tanah” yang Mengoleksi Sepatu Mahal

Atas nama koleksi, satu sepatu bisa seharga puluhan juta.

Pekerjaan menyenangkan adalah dambaan banyak orang. Bekerja sebagai juru ukur tanah merupakan pekerjaan Adhi Kresna. Hal ini membuatnya kini berkecimpung di dunia pertanahan.

Meski terkesan bekerja di ranah serius, Adhi memiliki hobi tak biasa, yakni mengoleksi sepatu yang harganya terbilang tidak murah. Dia harus merogoh kocek lebih jika dibandingkan sepatu biasa.

Selepas tamat SMA Negeri 4 Denpasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional. Awal mula Adhi mulai menggemari hobi ini adalah sejak ia duduk di bangku SMA tahun 2012.

Menurutnya, sepatu itu sifatnya dinamis. Semakin berkembangnya teknologi, maka semakin berkembang juga teknologi pada sneaker khususnya.

Peluang usaha tak hanya melulu datang sejalur dengan pendidikan. Kegemaran pun bisa mendatangkan uang asal jeli melihat peluang. Begitu yang terjadi pada laki-laki berusia 23 tahun ini. Dia memiliki taktik ketika ada di titik jenuh mengoleksi sepatu, ia menyiasati agar sepatunya dapat dijual dengan harga lebih tinggi. Kemudian dia kembali berburu sepatu langka lainnya guna mempertahankan kegemarannya ini.

“Dengan mengoleksi sepatu, aku bisa dapet perpaduan warna yang unik. Selain kualitas, sesuatu yang bisa aku dapet contohnya yang bisa mengikat tali sendiri atau sepatu anti gravitasi,” ungkapnya.

Di antara koleksi yang dimiliki, sejauh ini sepatu termahal yang ia pernah beli mencapai 1.500 dolar atau setara Rp 20 juta. Dia memiliki dua pasang sepatu termahal dibanding belasan sepatu lainnya.

Jika ditotal, ia sudah menghabiskan uang puluhan juta rupiah hanya demi hobinya ini, meski tak dipungkiri ia juga sering mendapat keuntungan karenanya.

Mahal itu Relatif

Menurutnya mahal itu relatif. Harga mahal akan worth to buy ketika melihat sepatu dengan harga Rp 2 juta dan Rp 200 ribu. Perbedaannya dapat dilihat dari material bahan, sejarah, dan teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan.

Di antara beberapa sepatu yang dimiliki, sepatu dengan sejarah paling berkesan baginya adalah Nike SB Baby Bear. Sepatu ini pertama dirilis pada 2006 bersamaan dengan 3 seri pack, yaitu papa bear, mama bear, dan baby bear. Sepatu ini collabs dengan merk toy ternama yaitu bearbrick..

“Menurutku ini sepatu spesial karena bahannya. Dari logo dengan warna hijau lime, kemudian dengan suede hijau dan seperti bulu yang melambangkan seperti bulu beruang pada masing-masing sisinya. Perawatannya juga dibilang cukup susah karena bulunya rentan copot dan hanya dirilis di Jepang,” katanya.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan untuk berhenti mengoleksi sepatu, laki-laki bernama lengkap Komang Adhi Kresna Purnama bercerita. “Berhenti? Tidak! Karena sepatu ini aku pakai terus, ganti-ganti tiap hari. Bukan hanya dikoleksi, tapi dipakai juga sehari-hari,” jelas Adhi sambil menunjukan salah satu sepatu kesayangannya.

Adhi juga mengungkapkan, bahwa menyayangi sepatu sama seperti ia menyayangi pasangannya. Saat ia bercerita seberapa sayang dengan sepatu-sepatunya. “Ya nyayangin seperti di angin-anginin, diajak pergi, dimandiin, tapi gak sampe dicium sih,” cetusnya sambil terkekeh bercanda.

Hebatnya, meski telah bekerja di Kementerian Agraria dan Tata Ruang wilayah Badung, Adhi tetap bisa mengimbangi sisi seriusnya dalam bekerja dengan hobinya yang sebelumnya tak pernah di duga. Berawal dari hobinya pula, ia terlihat sangat menekuni apa yang telah dipilihnya dengan konsisten.

Terbukti dari besar niatnya laki-laki kelahiran 5 Maret 1996 ini hingga bergabung dengan Indonesia Sneaker Team agar dapat lebih memahami berbagai kualitas dari sepatu yang ada.

Kesetiaannya berbuah manis. Begitu banyak relasi yang dimiliki, bahkan hingga relasi dari Negeri Jiran. Tak heran, hal ini membuatnya banyak memiliki teman di luar Pulau Bali hanya karena hobi.

“Pokoknya sepatu adalah jiwaku, kalau mau tanya tentang sepatu, boleh tanya ke aku. Hehehe,” tangkasnya.

Pada akhirnya, kesetiaan, konsistensi, dan ketekunan atas segala hal yang telah dipilih sejak awal, akan memberikan nilai lebih lainnya apabila dilakoni dengan senang hati. Hingga kini, tak hanya hobi, materi, dan relasi yang didapat oleh Adhi, tetapi juga esensi dari setiap hal yang dipelajari. [b]

The post “Juru Ukur Tanah” yang Mengoleksi Sepatu Mahal appeared first on BaleBengong.