Tag Archives: Sosial

Pandemi Corona, Momentum Memperbaiki Pariwisata Nusa Penida

Sejak 2014, pariwisata makin menggeliat di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Pariwisata seperti candu memabukkan.

Bila kenikmatannya merasuki jiwa dan seketika dihentikan, maka dia membuat sang penikmatnya menggelepar ketagihan. Persis seperti itu yang terjadi pada pariwisata Bali termasuk Nusa Penida yang berkembang dengan pesat sejak tahun 2014.

Perkembangan Nusa Penida, gugusan pulau di Kabupaten Klungkung, Bali banyak dikunjungi karena memiliki objek wisata alam yang indah. Pariwisata Nusa Penida berkembang dengan pesat membuat masyarakat kecanduan mendapat uang dengan mudah. Seketika semua beralih profesi menjadi pengusaha dan pelaku pariwisata.

Kebun yang tadinya ditanami singkong dialih fungsikan menjadi penginapan. Warga yang tadinya menjadi buruh bangunan kemudian belajar menyopir menjadi pengantar wisatawan. Ada juga yang tadinya punya pengalaman minim di bidang memasak ditambah belajar di YouTube lalu membuka restoran.

Yang punya modal dan keberanian lebih membeli kapal cepat (speed boat) dan membuat beach club. Celakanya para pengusaha lokal itu hampir semuanya akses dana ke bank. Ketika terjadi virus corona yang menyebabkan tak ada wisatawan sama sekali, semuanya “menggelepar”.

Perkembangan pariwisata di Nusa Penida menyisakan sejumlah masalah. Perkembangan begitu pesat membuat pembangunan infrastruktur kalah cepat. Misalnya saja jalan raya baru belakangan diperbaiki. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering mati. Pelabuhan yang representatif pun belum ada.

Begitu pula daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah masih belum memadai. Sampah sering terlihat menumpuk di beberapa lokasi dan ladang masyarakat. Selain masalah itu, tak kalah pelik tentang sumber daya manusia yang masih minim. Tentang bagaiamana keterampilan (skill), sikap (attitude), dan pengetahuan (knowledge) yang masih minim. Bila dibiarkan akan menurunkan citra baik suatu destinasi.

Pemandu dan sopir pariwisata menyambut turis di Nusa Penida, Maret 2020. Foto Anton Muhajir.

Tawaran

COVID-19 yang mewabah ke seluruh dunia menyebabkan semua perekonomian lumpuh termasuk sektor pariwisata. Demikian pula pariwisata Nusa Penida yang baru enam tahun menggeliat. Bila tidak dilakukan pembenahan keberlanjutan, pariwisata Nusa Penida dikhawatirkan keberadaannya. Untuk itu wabah COVID-19 ini bisa menjadi momentum untuk introspeksi bersama.

Secara sadar kita harus akui ada kesalahan pengelolaan pariwisata Nusa Penida. Setelah adanya kesadaran bersama, baru kita benahi bersama-sama. Konsep pengelolaan tiga pulau satu manajemen perlu dilakukan dengan momentum matinya pariwisata akibat virus corona.

Caranya adalaha dengan membentuk satu Badan Pengelola Pariwasata Nusa Penida. Tugasnya mengelola objek wisata, sumber daya manusia, infrasruktur dan sosial budaya masyarakat.

Sedangkan para penginapan yang terbelit utang tak bisa membayar utang di bank bisa melakukan negoisasi dengan bank. Mereka bisa membentuk holding atau perusahan induk yang menaungi seluruh penginapan di Nusa Penida dengan penjamin investor yang pro pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berkelanjutan. Mungkin bisa koperasi atau atau apalah istilahnya yang menyuntikan dana segar agar bisa bayar utang dan perbaikan manajemen secara keseluruhan.

Tentunya pemilik tetap pemilik penginapan saham senilai akurasi tim penilai. Kemudian ada pengelola yang profesional sehingga melatih sumber daya manusia (SDM), memperbaiki standar properti dari pendanaan baru dan terutama karena perusahaan induk yang mengelolanya satu, maka perang harga tidak terjadi.

Demikian pula jumlah kamar di Nusa Penida diatur oleh holding sehingga tidak ada lagi istilah kelebihan kamar. Bila ada wabah seperti virus corona ini terjadi pun semua akan siap. Tak ada kelabakan lagi

Begitupula speed boat dan pemilik kendaraan pengantar tamu. Bisa masing-masing menyatukan diri membuat perusahaaan bersama. Istilahnya membuat perusahaan induk berdasarkan bisnis utamanya. Sehingga tak ada istilah kebanyakan boat yang menyebabkan kekurangan penumpang. Perang harga juga bisa dihindari. Demikian pula sopir. Tak ada saling membanting harga dan standar mobil. SDM juga bisa disamakan dan diperbaiki.

Bila tawaran itu bisa dilakukan, masalah manajemen pulau telah diatur Badan Pengelola Pariwisata, sedangkan perusahaan-perusahaan akomodasi sejenis bisa menggabungkan diri untuk menghindari kejadian gagal bayar bank. Selain itu perang harga dan standardisasi kualitas pelayanan pun akan bisa dibenahi sehingga kualitas pariwisata Nusa Penida akan lebih baik lagi setelah pandemi. [b]

Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Petani masih sibuk di sawah di tengah ancaman pandemi COVID-19. Foto Wayan Martino.

Tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja.

“Karena adanya wabah Corona, kita sekarang hanya di rumah dengan keluarga, menghadirkan kebersamaan. Kebersamaan menanggung masalah yang sama, minggu-minggu tanpa pemasukan.” Begitu unggahan Facebook seorang kawan.

Saya membacanya pagi-pagi buta sembari mengedip-ngedipkan mata melihat layar gawai lalu bergegas bangun tidur.

Kemudian masih banyak lagi beranda Facebook saya dipenuhi dengan berita soal Covid-19 yang dibagikan secara acak. Ada soal harapan. Ada pula soal rasa pesimis akan penularan wabah yang terus betambah.

Ada teman-teman sejawat yang secara kreatif memposting kegiatannya selama diam di rumah. Mereka berkampanye menggunakan tanda tagar #dirumahsaja, kemudian diteruskan secara berantai oleh yang lainnya.

Lalu ada pula soal anggota DPRD dalam bangga mengatakan dirinya adalah garda terdepan melawan virus sehingga harus di mendapat tes perdana. Tentang berita duka dari 25 pekerja medis yang meninggal karena merawat pasien Covid-19. Juga soal satu desa yang menolak jenazah positif Covid-19 saat mau dimakamkan.

Semuanya soal virus corona.

Petugas melakukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Curhatan Tetangga

Namun, di luar kabar itu semua, yang paling menarik perhatian saya adalah soal curhatan para tetangga, ibu-ibu PKK Banjar dan Bapak-bapak paruh baya di desa. Mereka selalu jujur dan buka-bukaan soal situasi. Tentu tanpa ada muatan politik seperti anggota-anggota dewan kita.

Purnama di bulan April ini, Purnama Kedasa akan berlangsung upacara piodalan di Pura Dalem. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya akan selalu ramai. Oleh segala usia dan semua status sosial.

Pura Dalem biasanya paling banyak orang yang bersembahyang (pemedek)-nya. Bisa sampai ribuan penangkil setiap harinya. Dudonan (susunan) upacara berlangsung selama empat hari.

Namun, piodalan kali ini akan berbeda. Waktu dan penangkil-nya dibagi per kelompok. Setiap giliran ngayah, pengayah-nya dibatasi hanya sepuluh orang.

Hal ini tentu disambut banyak pendapat. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa niat baik meyadnya seharusnya tidak dibatasi. Toh, tujuannya adalah untuk mendoakan bumi ini rahayu tanpa bencana.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah golongan orang-orang yang paling rajin perihal upacara. Mereka pula yang taat dan selalu ada di garda terdepan saat ngayah. Juga paling mengerti soal upacara.

“Bagaimana kita bisa terus diam di rumah, sementara kebutuhan sehari-hari tak bisa didiamkan begitu saja,” ungkap Pak Made. Mantan peternak babi ini tak pernah menonton berita sejak munculnya wabah Covid-19.

Lalu, sambil melilit sate, warga lain menimpali dengan cepat. Mengatakan bahwa sudah ada kabar dari pemerintah bahwa akan ada tunjangan sembako segera. Juga biaya listrik akan mendapat keringanan.

Pak Made melanjutkan mengeluarkan isi curhatannya. “Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah,” ujarnya.

“Sudah sebulan sepi tak ada bantuan apa-apa datang, kecuali mobil dengan toa berkeliling di jalan setiap hari,” lanjut Pak Made.

Dialah yang paling kritis di antara kami bertujuh yang sedang ngayah. Sebelumnya Ia juga bersikap sama, antipati sama pemerintah. Dia punya alasan sendiri, belasan anak babinya mati. Sampai saat ini dia belum mendapat solusi dan mengetahui penyebabnya.

Hampir semua peternak babi di desa merasakan hal sama. Harus rela kehilangan salah satu sumber nafkahnya.

Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah.

Pak Made

Melanggar Imbauan

Obrolan di tengah lingkaran tumpukan sate yang dililit ini memang menarik. Semua bisa saling mengeluarkan pendapat. Tak ada hambatan strata dan status sosial. Walaupun memang meski sedikit melanggar imbauan pemerintah soal social distancing yang jaraknya tak bisa dihindari hanya setengah meter.

Lalu, ada dua pengayah mencurahkan keluhannya karena harus dirumahkan dari pekerjaannya. Satunya bekerja di hotel dan satunya lagi bekerja di restoran. Pekerja hotel sedang berpikir keras mencari cara untuk melanjutkan cicilan sepeda motor Yamaha Nmax di dealer, yang tak mendapat keringanan.

Lalu yang berhenti jadi koki di restoran sedang dalam dilema antara beralih profesi petani atau menjual sawahnya. Sebab, selama ini sawahnya tak ada yang menggarap, hanya ditanami anak pohon albesia yang kurus kering. Sebagian telah mati tak terurus setelah sekali panen.

Di antara kami para pengayah, selalu saja ada yang bijak menjawab. Dia terlihat paling tua dengan rambut dan brewok panjang. Namanya Pak Mangku, Ia bukan seorang pemangku di Pura manapun. Namun, hanya karena senang sembahyang di berbagai pura saat tengah malam sehingga disebut Mangku oleh orang-orang.

Ia mengatakan, “Kita semua, mendapat masalah sama. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh penjuru dunia.”

“Konon menurut berita, kasus yang paling banyak justru ada di negara maju, Amerika. Bahkan di negara yang ada Avengers-nya pun Corona bisa menyerang begitu dahsyat apalagi di negara kita yang hanya ada Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng,” lanjutnya lalu tertawa.

Dengan lebih antusias Mangku melanjutkan. “Sebaiknya kita mulai dari diri sendiri, percuma menunggu pemerintah. Lakukan anjuran kesehatan dengan baik, agar corona tidak menyebar. Makanya pakai masker!”

Sambil dengan bangga dia memberi kode agar orang-orang melihat masker yang dia kenakan. Memang di antara kami hanya dia seorang yang memakai masker.

Pak Made pun tak mau kalah. Ia masih saja meyoalkan yadnya yang pemedeknya dibatasi. “Itu pemerintah, kita yang di Bali tak diizinkan meyadnya, tapi orang-orang dari Jawa dibiarkan masuk ke Gilimanuk!”

Kemudian dijawab oleh seorang yang sedang menyiapkan api untuk memanggang sate. “Kalau tak ada orang Jawa, kamu di mana bisa beli nomor!”.

Obrolan seketika berganti topik, dari virus corona beralih ke peruntungan jual beli nomor.

Kami pun menyelesaikan ayahan di pura pagi ini dalam obrolan yang tema utamanya corona dan nomor. Semenjak munculnya imbauan agar menghindari keramaian dan perkumpulan, judi nomor menjadi topik para lelaki yang paling sering dibicarakan. Sebab, tajen (sabung ayam) sudah tidak diperbolehkan sama sekali.

Mirip seperti peralihan pertemuan fisik menjadi obrolan video call conference yang hanya menggunakan gawai. Nomor pun bisa dibeli tanpa harus bertemu, cukup dengan pesan WhatsApp.

Pada pukul tujuh kami balik ke rumah masing-masing. Tumben bisa menyelesaikan ayahan begitu pagi. Semenjak ada imbauan pemerintah, jam ayahan pun dibuat terbatas dan sepagi-paginya. Namun, bagusnya ada kesempatan saya untuk olahraga pagi. Berolahraga di tempat biasa. Di jalanan di pinggir sawah yang sepi tanpa lalu-lalang kendaraan bermotor.

Imbauan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Situasi Berubah

Selepas pulang dari pasar, Ibu saya mengeluh dan seperti ngomong pada dirinya sendiri. Katanya sekarang bahan makanan susah dicari. Kadang harganya melonjak mahal. Lagi satu, katanya, dia sekarang menghabiskan banyak waktu di pasar. Sebab, semua pedagang memakai masker jadi butuh waktu menemukan dagang langganannya.

Dan, seperti biasa, saya tak mengubris keluhannya, dan lanjut pergi.

Sampai di jalan di tempat biasa sebagai arena kami untuk jogging, situasinya pun berubah. Sekarang jauh lebih banyak orang. Sebagian besar anak-anak muda. Laki maupun perempuan, baik mereka dari anak sekolahan atau para pekerja yang dirumahkan. Meski ramai tapi saya tak bisa menatap jelas wajah-wajah penuh keringat mereka. Sebagian besar memakai masker.

Seperti biasa saya selalu saja bertegur sapa dengan mereka yang sudah ada di sana sebelum para pelari kecil datang, adalah bapak-bapak petani. Selalu saya perhatian guratan wajah juga badannya yang nampak kekar dan mengilat di bawah mentari. Rasanya pikiran dan tubuh mereka tak gentar oleh corona dan virus apapun. Olahraga dan berjemur setiap hari.

Namun, kali ini berbeda. Mereka nampak bingung saat saya tanya soal kabar garapan padi yang siap panen. Katanya sejak adanya berita corona ini mereka kesusahan mencari teman penggarap lain. Pada bulan-bulan sebelumnya baik saat menandur atau panen, selalu mendapat bantuan tenaga oleh saudara-saudara penggarap dari Jawa dan Lombok.

Kini mereka harus saling menunggu satu sama lain karena di daerah sekitar para penggarap terbatas orangnya.

Kemudian saya membiarkan semua persoalan itu mengembang di udara, terbang bersama aroma tanah sawah. Tapi malah pikiran saya terhenti, saat mata tertuju pada kelompok pekerja keras yang tenggelam bersama padi-padi, berjemur dengan latar indahnya pegunungan.

Saat ini baru soal pembatasan akses dan imbauan untuk tetap rumah, sudah terjadi banyak persoalan. Bagaimana jika benar harus dikarantina (lockdown)?

Tentu dampaknya akan begitu terasa. Sebab, tidak semua bisa bertahan dalam kondisi diam saja. Juga tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja, lalu mengunggahnya dalam perasaan aman di media sosial. [b]

Tak Mudah Menjadi Waria, Apalagi di Tengah Pandemi COVID-19

Mami Sisca mengabdikan hidupnya memperjuangkan hak para waria. Foto Maria Pankratia.

Tiap masa selalu terasa sulit bagi sebagian besar waria.

Sejak memilih identitas gendernya yang dianggap abu-abu, waria harus menghadapi dunia yang serba kaku. Bagi banyak orang, waria adalah tabu. Tidak mungkin ada dunia di antara. Hanya ada laki-laki atau perempuan. Di antara itu adalah dosa.

Standar moral arus utama yang disematkan kepada waria, membuat mereka dibuang dari kehidupan yang wajar. Diusir oleh keluarga. Dikeluarkan dari sekolah. Diasingkan oleh sesama manusia.

Tanpa status sosial yang setara, hidup tidak pernah mudah bagi waria. Tanpa pengakuan terhadap keberadaan mereka, waria tak bisa serta merta memperoleh hak-hak serupa warga pada umumnya, terutama pendidikan dan pekerjaan. Pilihannya kemudian banyak yang menjual diri. Sebatas yang pernah saya tahu selama lebih dari 15 tahun akrab dengan mereka terutama di Bali, tidak ada waria yang tidak menjajakan layanan seks sebagai bagian dari sumber kehidupan mereka.

Kini, ketika COVID-19 menjadi pandemi di hampir seluruh Bumi, kehidupan mereka jauh lebih sulit dari yang pernah mereka alami. Setidaknya begitulah cerita teman-teman waria yang secara kebetulan saya temui dua minggu terakhir di Bali.

Sebenarnya, pertemuan dengan teman-teman waria ini untuk sebuah pekerjaan yang lain. Kami sedang menulis kisah teman-teman minoritas: gay, mantan pengguna heroin, orang dengan HIV AIDS (ODHA), pekerja seks, dan waria. Namun, cerita waria selalu terasa lebih dramatis. Begitu pula kali ini, di tengah gempuran pandemi.

Waria-waria ini banyak yang bekerja untuk memberikan layanan seks. Ada yang daring (online), ada pula luring. Mereka yang menjajakan layanan seks lsecara daring ini biasanya menggunakan aplikasi semacam MiChat. Adapun mereka yang menjajakan secara langsung biasanya di dua lokasi paling terkenal di Denpasar, Bung Tomo dan Renon.

Karakter waria di dua lokasi ini berbeda. Di Bung Tomo, biasanya untuk waria yang status sosial dan pendidikannya lebih “rendah”. Tidak pernah sekolah. Baca tulis pun susah. Mereka tergabung dalam Warcan, singkatan dari Waria Cantik.

Di Renon, mereka bergabung dalam wadah Persatuan Waria Renon alias Perwaron. Waria-waria di sini umumnya lebih memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Ada yang lulusan S1. Malah, aku pernah dengar kalau ada yang lulusan S2 luar negeri meski aku tidak pernah ketemu langsung sama orangnya.

Di luar Denpasar, ada pula komunitas waria yang sangat terkenal adalah Wargas, singkatan dari Waria Singaraja. Mbak Siska, pentolannya, termasuk waria disegani di Bali. Karena karismanya itu pula, sebatas pengetahuan saya, waria di Singaraja termasuk yang paling merdeka di Indonesia. Termasuk untuk berekspresi dan menjajakan layanannya.

Mister and Miss Gaya Dewata 2016/Foto: Luh De Suriyani

Suka Duka

Meski berbeda lokasi dan status sosial, pelanggan mereka kurang lebih sama: anak-anak muda yang ingin melampiaskan berahinya, suami-suami yang tak terpuaskan oleh istrinya, atau sekadar laki-laki yang ingin mencoba fantasi berbeda.

Dalam sekali layanan, waria-waria ini mendapatkan bayaran beragam. Paling besar bisa sampai Rp 300 ribu atau bahkan lebih. Paling rendah Rp 50.000 sekali transaksi. Paling tidak enak? Dibawain balok besi sama pelanggan yang tidak bisa bayar.

“Kami pernah sampai harus merangkak di bawah kawat besi karena dikejar-kejar pelanggan preman yang tidak bisa bayar. Jadi waria tapi kayak tentara saja,” kata salah satu waria. Tawanya lalu lepas setelah bercerita.

Dina, sebut saja begitu namanya, sehari-hari menjajakan diri di Renon. Biasanya, dalam semalam dia bisa mendapatkan Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Selain di Renon, dia juga menjual jasa lewat layanan aplikasi. Namun, kini dia tak bisa lagi mendapatkan pengguna jasa.

“Sepi. Gara-gara corona,” kata Selfie, nama samaran waria lainnya.

Meski sudah bekerja di salah satu layanan kesehatan, Selfie biasanya masih memberikan layanan melalui aplikasi. Selain untuk memuaskan hasrat seksual, karena statusnya sekarang tanpa pacar, Selfie juga menjajakan diri untuk mendapatkan tambahan pendapatan.

Makin Susah

Namun, seperti juga Dina, kini tak ada lagi pelanggan yang menggunakan jasa Selfie. Tak ada masukan tambahan yang biasa dia gunakan untuk hidup sehari-hari: makan, bayar kos, dan tentu saja biaya perawatan tubuh, aset penting mereka.

Tanpa pendapatan tambahan, menurut waria-waria itu, hidup jadi makin susah. Apalagi mereka juga hidup sendiri tanpa keluarga. Malah, ada yang menjadi tulang punggung keluarga seperti Kamila, nama samaran lainnya.

Kamila agak berbeda dengan Selfie dan Dina. Dia punya identitas gender “ganda”, laki-laki ketika siang dan perempuan ketika malam. Namanya queer. Berbeda dengan waria yang 24 jam memang tampil seperti perempuan.

Sebagai queer, Kamila bekerja menyanyi tanpa suara (lypsinc) dan menari di dua tempat hiburan di daerah Seminyak dan Kuta. Selain digaji bulanan, dia juga bisa mendapatkan bonus dari layanan seks pada tamu-tamu yang memesannya.

“Sekarang tidak ada sama sekali. Turis sudah pada pergi,” tuturnya.

Nyaris tak ada turis tersisa di Bali saat ini. Tempat-tempat wisata di Bali, terutama Kuta dan Legian, yang biasanya riuh hampir 24 jam, kini serupa kuburan. Lengang. Begitu pula dua tempat Kamila dulu bekerja. Keduanya sudah tutup dan merumahkan karyawannya.

Tanpa pendapatan sebagai queer, Kamila kini harus bertahan menghidup istri dan satu anaknya.

Ketika dunia sedang berperang melawan pandemi COVID-19, orang-orang seperti Selfie, Dina, dan Kamila pun makin terlupa. [b]

Catatan: Berikut tambahan informasi penggalangan bantuan untuk transpuan di Bali.

Halo teman-teman,

Mengingat situasi di Bali sekarang sedang menghadapi pandemik covid-19 (korona), masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah dan mengurangi aktivitas sosial, belanja dan hiburan. Akibatnya banyak dari kita yang menjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh karena terputusnya akses pendapatan.

Kondisi paling buruk dihadapi oleh mereka yang menjadi pekerja harian atau yang bergantung pada pendapatan harian. Banyak dari mereka tak dapat bekerja atau terpaksa bekerja tanpa punya pilihan sebab dengan tinggal di rumah itu berarti tak ada penghasilan sama sekali. Hal tersebut tentu meningkatkan risiko penularan pada mereka yang sudah rentan.

Salah satu kelompok yang paling terdampak itu adalah kawan-kawan waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang selama ini banyak bekerja sebagai pengamen jalanan, pekerja seks, serta perias/penjaja jasa salon. Oleh karena himbauan kepada masyarakat untuk tetap di rumah, kini banyak dari teman teman transpuan kini tak lagi punya pendapatan. Ancaman tersebut menyangkut kelangsungan hidup mereka yang paling mendasar, yaitu akses terhadap makanan.

Maka, kami-kawan-kawan sehati yang tergabung di dalam QLC Bali, sebuah tempat aman bagi kelompok queer di Bali – berinisiatif untuk melakukan penggalangan dan penyaluran dana/bantuan yang dikhususkan bagi teman-teman waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang paling terdampak.

Donasi bisa berupa uang dapat ditransfer melalui:

Bank BRI No. Rek. 002301022908505 a/n. ADI WICAKSONO

Atau

Bank BCA No. Rek. 1662626516 a/n. VENNA AGNIASARI

Harap memberikan tambahan 019 pada akhir nominal untuk mempermudah tracking donasi.
Contoh: 50.000 menjadi 50.019

Konfirmasi bukti transfer melalui WA narahubung di bawah.

Kami juga akan mengabarkan balik terkait penggunaan dan bukti penyaluran dana sebagai bentuk upaya terhadap akuntabilitas dan transparansi.

Karena kebutuhan yang mendesak, kami membatasi fase pertama penggalangan dana hingga akhir hari senin 30 Maret 2020 untuk bisa segera kami salurkan di hari berikutnya.

Kami sangat berterima kasih untuk bantuan kawan-kawan semua! Dan kami mohon agar informasi ini bisa disebarluaskan secara bijak dan terbatas mengingat kerentanan kelompok minoritas seksual dan gender di Indonesia.

Narahubung:
Venna, +62 812-1311-433
Natha, +62822-3178-3271

Kamu bisa berkoordinasi atau menyampaikan bukti transfer pada salah satu saja kontak tersebut.

Nyepi dan Wabah Covid19

Rangkaian menuju Nyepi di tahun 2020 kali ini berjalan sepi. Pasalnya rangkaian persiapan menyambut hari raya Nyepi diinstruksikan oleh berbagai pemerintah daerah untuk tidak mengadakan kegiatan membuat orang berkerumun dan berkumpul dalam jumlah banyak.

Di desa saya, sejak tanggal 15 Maret sudah ada imbauan untuk belajar dan bekerja di rumah. Tetapi di kantor desa tempat saya bekerja sebagai kantor pelayanan publik belum menerapkan sistem bekerja dari rumah. Kami para aparat desa dan staf masih masuk seperti biasa dan masih melayani warga di bidang administrasi. Sedangkan di tempat kerja saya di yayasan, les pun diliburkan selama dua minggu.

Meski demikian, kegiatan adat di banjar tetap berjalan hampir seperti biasa untuk kegiatan persiapan Nyepi. Kegiatan ngayah di Pura Puseh Desa Angkah masih berjalan. Memang di desa kami tidak ada kebiasaan membuat dan mengarak ogoh-ogoh, sehingga kami lebih fokus ke persiapan mecaru dan melasti. Bagaimanapun juga kegiatan ngayah itu adalah wadah berkumpulnya banyak orang. Saya sendiri datang ngayah tetapi hanya menyetor urak banten yang menjadi bagian saya. Ngeri juga membayangkan bahwa masyarakat masih mementingkan adat dan kepercayaan mereka daripada logika pencegahan penyebaran virus Corona.

Untuk melasti yang harusnya membawa pratima ke laut, tahun ini telah mendapat instruksi untuk dilakukan di beji yang ada di desa. Dari surat tersebut maka saya simpulkan kegiatan melasti tahun ini harus dilokalisir hanya di desa pakraman setempat. Biasanya desa kami melakukan melasti hingga ke Pantai Soka dan itu arak-arakannya bisa menggunakan truk, mobil dan motor. Jarak dari desa ke Pantai Soka ada sekitar 10 km. Saya takut juga membayangkan jika melasti berjalan seperti biasa di tengah wabah virus Corona ini, bisa-bisa warga desa kami dari berbagai penjuru yang merantau pada pulang kampung dan ikut melasti. Lalu para umat Hindu jadi satu bertemu di Pantai Soka, karena bukan warga desa kami saja yang melasti ke Pantai Soka.

Akhirnya iring-iringan melasti di Desa Angkah jalan ke Pura Pangkung Sakti sebagai pura segara desa. Pura Pangkung Sakti ini cukup dekat dari Pura Puseh, kurang lebih hanya 1 km. Jadi para pengiring bisa berjalan kaki dari Pura Puseh ke Pura Pangkung Sakti. Saya sendiri tidak ikut melasti, tetapi dari status Whatsapp yang saya lihat dari tetangga saya, ternyata yang ikut banyak juga! Bukannya dari surat edaran bersama dari Gubernur Bali, PHDI Dan MDA, peserta yang mengikuti melasti harusnya dibatasi?

Akhirnya hari Nyepi datang dan saya melakukan aktivitas di rumah saja, seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian besar orang sejak datangnya penyakit akibat virus Corona di Indonesia atau sejak imbauan untuk membatasi aktivitas, hingga sekolah-sekolah dan kantor ditutup dan mulai menerapkan belajar dan bekerja dari rumah. Nyepi ini berjalan 24 jam, dari jam 6 pagi pada hari Rabu, 25 Maret 2020 hingga jam 6 pagi pada hari Kamis, 26 Maret 2020. Apa saja yang saya dan anggota keluarga saya lakukan di rumah?

Biasanya saya puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam, tetapi karena saya sedang tidak fit akibat sakit tenggorokan seperti kena flu, maka puasa tidak saya lakukan. Sebenarnya saya suka dengan konsep puasa untuk mendetoksifikasi badan dan saluran pencernaan saya, maka kali ini yang saya lakukan adalah membatasi makan dengan minum air putih dan makan buah saja. Selama hari Nyepi saya hanya makan buah pepaya dan buah naga serta minum air putih. Tidak makan yang lainnya.

Pukul 05.30 WITA saya bangun lalu minum air putih dilanjutkan dengan mandi. Setelah mandi, saya membuka halaman tutorial online untuk kuliah saya sampai pukul 06.15 WITA halaman tuton masih bisa diakses lalu akhirnya melambat dan terhenti. Akhirnya saya melanjutkan dengan kegiatan menulis blog tentang pengalaman saya, yang akan saya posting setelah post ini.

Lalu pukul 8.00 WITA saya melakukan latihan otot perut dengan aplikasi di HP yang bernama Abs Exercise selama 25 menit. Saya melakukan olah raga ditemani oleh Kalki, anak saya. Dia menghitung berapa jumlah repetisi yang saya lakukan. Saya sangat senang dan terbantu sekali dengan bantuan Kalki sehingga saya bisa fokus ke pernapasan dan otot tanpa lupa hitungan. Di sisi lain, adik Kavin sedang menggambar menggunakan Paint di laptop.

Pukul 09.00 WITA saya makan buah pepaya dan minum air putih. Setelah itu bercengkrama dengan anak-anak dan mengajak mereka belajar.

Pukul 10.00 WITA saya membaca buku kuliah Pengantar Statistik Sosial. Saya pikir kok relevan sekali dengan adanya wabah penyakit COVID-19 saya jadi banyak membaca data statistik di media.

Pukul 11.00 WITA anak-anak makan siang, sedangkan saya makan buah naga. Setelah itu saya ajak mereka untuk tidur siang. Eh, ternyata yang berhasil diajak tidur siang hanya Kalki, sedangkan Kavin masih asyik bermain dengan papa.

Pukul 13.00 WITA saya bangun tidur siang tetapi Kalki masih terlelap. Saya pun bangun untuk makan buah Pepaya dan ngobrol dengan suami.

Pukul 14.00 WITA saya kembali membaca buku modul Pengantar Statistik Sosial dan mengerjakan latihan soal hingga akhirnya menyelesaikan modul 2.

Pukul 16.15 WITA Saya selesai membaca buku materi kuliah dan ke halaman rumah untuk memandikan anjing peliharaan saya, Golden. Saat mau memandikan Golden, ternyata Kalki sudah bangun dari tidur siang dan ikut membantu memberi shampoo pada si guguk.

Pukul 17.00 WITA memandikan anak-anak.

Pukul 17.30 WITA saya melakukan yoga Surya Namaskar 12 putaran.

Pukul 18.00 WITA saya mandi. Lalu makan buah naga bersama Kavin. Dan anak-anak pun makan soto ayam dan ketipat yang udah dipersiapkan sehari sebelum Nyepi. Lalu saya belajar kembali, kali ini materi Writing 4, Unit 1 tentang Prewriting.

Menjelang malam, welcome to the absolute darkness! Saya selalu suka dengan gelap gulitanya malam Nyepi, karena saya bisa lihat bintang di luar.

Pukul 19.30 WITA Saya ajak anak-anak lihat bintang di halaman. Saya pun berbincang-bincang dengan suami sambil mengagumi indahnya bintang. Saya bergumam, “kira-kira di tata bintang lainnya ada peradaban tidak ya seperti di tata surya kita? Planet kita sedang diserang wabah Corona.”

Suami saya menjawab, “Bintang di luar angkasa itu jumlahnya lebih dari jutaan, ya kemungkinan dari jumlah sekian bisa terdapat peradaban seperti di tata surya kita.”

Saya berkata sambil menerawang ke bintang yang bertaburan di bagian langit selatan, “bagaimana ya keadaan peradaban di luar sana?”

“Kurang lebih ya sama seperti peradaban kita.” Kata suami saya.

“Pengen tau bagaimana tingkat peradabannya, spesiesnya, dan keadaan alam planetnya.” Jawab saya sambil berlalu menyudahi menikmati bintang di angkasa.

Saat melihat bintang, Kalki dan Kavin juga bergumam terpesona dengan indahnya kelap-kelip cahaya di angkasa. Tetapi Kalki dibarengi dengan tingkah polahnya lompat-lompat dan ambil posisi berdiri sambil setengah jungkir-balik di atas rumput halaman.

Pukul 20.00 WITA Saya gosok gigi, anak-anak pun demikian, lalu kami sekeluarga bercengkrama di dalam tenda yang telah dibuatkan suami untuk anak-anak di ruang keluarga. Tendanya terbuat dari pondasi 4 buah kursi dan bangku panjang sebagai tulang atap lalu ditutup oleh sprei. Tenda ini sudah dibuat dari sebelum hari Nyepi untuk wahana bermain anak-anak supaya mereka tidak bosan.

Dari yang awalnya tenda hanya beralaskan matras Kalki dan Kavin, hingga pas hari Nyepi tenda tersebut sudah dilengkapi kasur. Kata suami, semalam sebelumnya Kavin minta tidur di tenda, tapi karena hanya beralaskan matras, badan suami saya jadi sakit semua. Saat suami kesakitan badannya tidur di lantai beralaskan matras, dia minta pindah ke kamar, tetapi Kavin nggak ngasih! Pas suami nanya, “Kavin badannya sakit nggak, tidur disini?”, Kavin menjawab, “Enggak.”

Akhirnya malam penghujung hari Nyepi saya yang diajak Kavin untuk tidur di tenda, sedangkan Kalki dan suami tidur di kamar. Begitulah saya dan keluarga menjalani hari Nyepi dan memaknainya. Saya berusaha memaknai hari Nyepi sebagai hari untuk merefleksikan diri dan berkontemplasi. Saya juga sempat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa itu hari Nyepi dan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya mereka lakukan pada hari Nyepi. Tapi ya namanya anak-anak, mereka masih aja suka bermain sambil teriak-teriak heboh dan ketawa cekikikan keras.

Keadaan selama hari raya Nyepi sebagai hari tahun baru Saka Umat Hindu memang dirayakan dengan tenang dan menyepi diri dari kehingar-bingaran atau pesta. Saya maknai tujuannya adalah menjauhkan diri dari keduniawian atau hedonisme sejenak. Tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian dan tidak boleh mencari hiburan. Keadaan seperti itu adalah kesempatan untuk berhenti dari kesibukan yang sudah terpola bagi manusia masa kini hidup di dunia. Itulah kesempatan untuk menenangkan diri dan merenungkan kehidupan. Menghubungkan diri dengan alam dan Tuhan secara spiritual.

Maka selama Nyepi kali ini, hampir tetap saya berjalan seperti sebelumnya, yaitu tidak ada siaran televisi, tidak ada akses internet, tetapi aliran listrik tetap ada. Suara kendaraan bermotor di luar pun sama sekali tidak ada, tidak ada suara anak-anak bermain di jalan, dan tidak ada tetangga yang menyetel musik keras-keras atau pun memainkan alat musik rindik. Semuanya hening.

Keadaan Nyepi di Bali lebih ketat dari pada Nyepi di Jawa. Saya ingat dulu waktu masih merayakan Nyepi di Jawa, saat saya masih kecil masih bisa nonton TV di rumah dengan mama dan adik saya. Mau keluar rumah pun tidak takut ada pecalang yang akan menegur. Saat masih kecil mama saya selalu menyediakan stok makanan dan cemilan-cemilan untuk anak-anaknya. Tetapi semakin besar semakin diajarkan untuk berpuasa seharian oleh orang tua dan oleh guru agama di sekolah.

Kini saya sudah 8 kali merayakan Nyepi di Bali sejak menikah tinggal di Bali, dan hingga Nyepi kali ini, menyalakan kompor dan lampu masih saya lakukan di rumah untuk keperluan yang penting. Tapi kami tidak membuat masakan apa-apa, hanya menghangatkan masakan yang sudah dipersiapkan dari hari sebelum Nyepi. Karena bagi saya mematikan api bagian dari catur brata penyepian adalah mematikan api yang di dalam diri sendiri, bukan hanya secara simbolis mematikan api kompor dan api penerangan di rumah. Dan yang paling tau mengenai rumah terkecil kita yaitu badan kita tempat jiwa bernaung adalah diri kita sendiri.

Selamat Tahun Baru Saka 1942~

Mengenali Bipolar, Menemukan Renjanaku

Ini adalah hari ke-12 aku bekerja di tempat yang benar-benar aku suka. Dengan bidang yang juga luar biasa aku sukai dan merasa dekat dengan dunia itu.

Sebelumnya aku bekerja di sebuah kantor konsultan interior di Bali. Selama 2,5 hari saja. Loh, kenapa? Kok cepet amat? Itu dianggap probation juga enggak deh kayaknya.

Ya, aku tau. Makanya setelah berhasil bekerja selama 3 hari penuh di pekerjaan yang sekarang, akupun merayakannya dengan memesan makanan favorit untuk dinikmati bersama sang pacar. Ceritanya menghadiahi diri sendiri dan bersyukur atas keberhasilan melewati rekor 2,5 hari bekerja.

Sebelumnya saya juga pernah bekerja di Jakarta. Di kantor konsultan interior-arsitektur juga. Bertahan hanya 1 hari. Lebih parah lagi ya. Hehe.

Mundur lagi ke belakang, saat baru lulus kuliah, aku sempat bekerja di kantor konsultan interior khusus interior spa di hotel-hotel. Kantornya di Bandung. Dengan pemandangan kolam renang yang asri. Lumayanlah, bertahan 4 bulan. Tapi keluarnya juga tidak enak kondisinya.

“Kamu kenapa sih Mi?”

Itu yang banyak ditanyakan orang ke aku. Aku sebetulnya punya jawabannya, namun aku agak malu mengungkapkannya karena jawabannya bisa panjang kali lebar. Dan aku juga tidak mau terkesan menuntut minta dipahami.

Aku adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Aku hidup dengan gangguan bipolar tipe II dan gangguan kepribadian ambang sejak kecil. Gangguan-gangguan itu membuat emosi, semangat, serta energiku naik-turun. Hal-hal yang menurut orang lain tidak penting bisa menjadi pencetus serangan panikku dalam hitungan detik. Stresor-stresor yang biasa dialami oleh orang banyak bisa menjadi pencetus depresi terdalamku bahkan sampai membuatku menyakiti diri sendiri.

Di kantor pertama yang aku masuki tepat setelah aku lulus kuliah, aku merasa tidak nyaman karena aku merasa hasil kerjaku tidak akan terlalu bermanfaat untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Dari kecil aku punya passion untuk menjadi dokter dan ingin secara langsung, literally (cie bahasa Jakselnya keluar :p), menolong nyawa orang.

Menurutku dulu yang namanya menolong orang itu harus benar-benar menolong nyawanya. Nggak bisa dengan cara lain, haha.. Nah balik lagi, di kantorku itu, aku bertugas mendesain interior spa khusus hotel-hotel bintang 5 di seluruh dunia. Dan aku stres sekali karena rasanya kok yang aku lakukan tidak mengubah dunia menjadi lebih baik (padahal ya ngga harus seidealis itu juga sih kalau hidup).

Ditambah tekanan-tekanan lembur tiap hari, masuk jam 9 pagi pulang jam 11 malam hampir tiap hari dengan imbalan yang juga tidak sesuai harapan dan janji HRD-nya. Makin streslah aku dan makin tidak merasa punya renjana di sana. Keluarlah aku dalam kondisi emosi memuncak, serangan panik, dan hampir kejang di kantor.

Oke, selanjutnya, kantor kedua, di Jakarta. Ini adalah kantor konsultan interior-arsitektur yang cukup ternama di Jakarta. Aku sebetulnya semangat sekali saat diterima bekerja di sini. Lalu masuklah aku di hari pertama, kebetulan juga hari pertama setelah tahun baru kalau tidak salah. Karyawannya ada sekitar 200 orang totalnya. Tempat makannya cukup mungil. Setiap siang dapat makan siang, lalu akupun mengekor teman kerja yang lain untuk ikut ambil makan siang.

Waduh. Penuh banget nget, nget. Bejubel. Mau jalan aja susah. Lalu pas duduk, aku didudukin orang dari kiri-kanan. Langsunglah kena serangan panik. Sepanjang siang ke sore aku nahan nangis.

Ditambah pikiran-pikiran idealisku keluar lagi, memperkuat niatku buat langsung resign. Saat sampai rumah aku langsung menangis terus dan besoknya aku langsung mengundurkan diri. Habis itu aku masuk fase depresi hampir 6 bulan. Fase depresi yang kumaksud adalah perasaan ingin bunuh diri tiap hari, merasa diri tidak berharga, merasa hanya membebani orang lain, susah sekali bangun dari tempat tidur, susah sekali mandi (rekor sebulan pernah tidak mandi sama sekali), menyakiti diri sendiri, minum obat dari psikiater banyak-banyak berharap over dosis, dan banyak lagi yang lain yang males aku sebutin satu-satu.

Lanjut, ke kantor konsultan interior di Bali yang tahun lalu menerimaku untuk kerja dengan mereka. Sepertinya sudah kebayang ya kenapa aku hanya bertahan 2,5 hari? Same old, same old. Cerita lama. Idealisme menolong orang, mengubah dunia, bidang yang tidak sesuai renjana, dan kawan-kawannya yang lain.

Namun kali ini gejalanya juga dilengkapi dengan psikosomatis. Aku muntah-muntah dan diare di kantor saking stresnya. Padahal kerjanya juga tidak berat, lho. Malah cenderung aku sukai karena pekerjaannya adalah menulis buku interior (dulu saat kuliah aku beberapa kali menulis buku interior). Tapi ya itu tadi, idealisme, renjana, dkk. Selama 2,5 hari berlalu dan akupun keluar tanpa ba bi bu (tapi tetep pamit kok via email dan whatsapp).

Habis itu lagi-lagi aku masuk fase depresi berbulan-bulan. Da kumaha atuh, kita kan butuh penghasilan buat hidup yah.

Setelah berbulan-bulan lemes dan putus asa, akhirnya cahaya terang datang. Aku ditawari pekerjaan yang sesuai dengan minatku dan di bidang yang aku sukai oleh seseorang yang melihat sepak terjangku selama satu tahun hidup di Bali.

“Wah, pekerjaan apa itu Mi?”, tanya banyak teman dekatku.

Pekerjaan ini sesuai dengan cita-citaku menjadi seorang psikiater. Bergelut di dunia kesehatan jiwa. Dan sesuai juga dengan latar belakang pendidikanku di dunia desain. Dan lagi-lagi sesuai sekali dengan minat dan hobiku dalam berkomunitas. Klop sekali, kan?

Aku bekerja di sebuah pusat rehabilitasi psikososial untuk ODGJ di Bali. Aku menangani desain grafis, website, bantu-bantu di sekretariat, dokumentasi, dan banyak lainnya. Ada satu komunitas kesehatan jiwa juga yang aku urus ini itunya, berhubungan dengan desain, website, event coordinating, dan printilan lainnya. Selain itu aku juga membantu produksi infografis dan website seorang profesional di bidang kesehatan jiwa.

Total sudah 12 hari aku bekerja di pusat rehabilitasi psikososial tersebut. Sudah 2 bulan aku bekerja mengurus komunitas kesehatan jiwa yang aku sebutkan di atas. Dan sudah 5 bulan aku bekerja membuat infografis.

“Bagaimana perasaanmu Dek?” tanya mamaku.

AKU SENANG. SENANG SEKALI. Aku merasa sangat berdaya. Aku senang sekali dengan semua kegiatanku sekarang. Terima kasih banyak untuk pihak-pihak yang memberikan kepercayaan padaku. Terima kasih banyak untuk google, youtube, dan sahabat-sahabatku yang banyak mengajarkanku cara membuat website dan urus SEO-nya, haha. Dan tentunya terima kasih banyak untuk seluruh manusia-manusia favoritku yaitu keluargaku, teman hidupku, sahabat-sahabatku, dan: Tuhan 🙂