Tag Archives: Sosial Budaya

Inilah Para Nominasi Begadang Filmmaking Competition

Foto karya Mohamad Vector Rahmawan (Syahdu Cinema Nusantara) salah satu pemenang Instagram Photo Contest, sebuah kompetisi pengiring Begadang Filmmaking Competition 2017 pada 2 – 3 September 2017.

Begadang Filmmaking Competition adalah kompetisi unik.

Kompetisi dengan skala nasional ini menantang para pesertanya untuk menyelesaikan film pendek mereka dengan batas waktu produksi 34 jam. Penyelenggara kompetisi ini adalah organisasi film pendek Minikino sebagai kegiatan pra-event dari acara tahunan Minikino Film Week, Festival Film Pendek Internasional yang akan dilangsungkan pada 7-14 Oktober 2017 mendatang di Bali.

Pendaftaran dibuka pada 20 Juli 2017 sampai 25 Agustus 2017 secara on-line. Tercatat 40 tim peserta mendaftar, namun hanya 30 tim yang memenuhi persyaratan untuk maju ke tahap produksi.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimatan Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali.

Kegiatan utama kompetisi adalah pembuatan film yang dilakukan para peserta di lokasi mereka masing-masing. Proses ini telah berlangsung pada Sabtu (2/9) tepat pukul 8 pagi WITA. Panitia memberi aba-aba mulai secara on-line dengan memberitakan panduan-panduan elemen audio visual yang sebelumnya dirahasiakan.

Berita ini dilakukan serentak di berbagai kanal milik Minikino, termasuk Instagram, Facebook, Twitter dan website resmi. Juga diberitakan melalui nomer SMS pribadi masing-masing peserta.

Dengan menggunakan panduan ini, para peserta mulai membangun ide cerita mereka, merancang produksi, melakukan shooting, editing dan seluruh proses yang diperlukan untuk menyelesaikan film pendek dengan durasi maksimal 5 menit.

Tiga puluh empat jam kemudian, pada Minggu (3/9) pukul 6 sore, seluruh film karya peserta yang berhasil menyelesaikan filmnya harus sudah diterima panitia di Posko Begadang. Secara fisik, posko ini berada di sekretariat Minikino di Denpasar, Bali. Pengiriman file film juga dilakukan secara on-line.

Akhirnya, tersaring hanya 17 tim produksi yang berhasil membuktikan kehandalan menyelesaikan film pendek mereka sesuai batas waktu yang diberikan. Dari ke 17 karya ini, tim seleksi memilih 6 karya terbaik untuk masuk ke penilaian tim juri final, yang akan menentukan juara 1, 2 dan 3 Nasional.

Berikut ini daftar judul karya dari enam kelompok produksi yang menjadi nominasi pemenang:
1. 1 YANG TERSISA (Bali Atmosphere Film Sukasada, Buleleleng, Bali / 06:02)
2. ALMARI (Guru Banjarmasin, Kalimantan Selatan /2 menit)
3. DIA (D’ Lapan Tuju Malang, Jawa Timur / 4 menit)
4. KAMBING HITAM (Syahdu Cinema Nusantara Bekasi, Jawa Barat / 5menit)
5. MANTAP JIWA (YPS Studios Pictures Medan, Sumatera Utara / 5menit)
6. MIBER (Gunungan Cine Surabaya, Jawa Timur / 5 menit)

Keenam finalis tersebut juga diundang ke Bali pada saat festival film pendek internasional 3rd Minikino Film Week berlangsung di Bali 7 – 14 Oktober 2017. Mereka menerima penggantian biaya kedatangan sebesar Rp 1 juta serta akomodasi gratis untuk hadir dalam malam penganugerahan Internasional pada 14 Oktober 2017 di Denpasar.

Dalam acara ini akan diumumkan film pendek terbaik pertama, kedua dan ketiga, memperebutkan hadiah uang tunai sebesar Rp 10 juta.

Foto karya Muhammad Rofiqi (Laperkuy).

Minikino Film Week pada tahun ketiga menghadirkan kompetisi unik ini dengan harapan optimis, untuk menghubungkan lebih banyak lagi para pembuat film pendek di Indonesia, serta menawarkan sebuah pengalaman produksi yang dapat dikenang. Begadang Filmmaking Competition 2017 menjadi catatan yang penting dalam perjalanan waktu perkembangan film pendek di Indonesia dan akan menjadi ajang tahunan bersama-sama festival Minikino Film Week. [b]

The post Inilah Para Nominasi Begadang Filmmaking Competition appeared first on BaleBengong.

Simbiosis Mutualisme Lokal dan Pendatang di Bali

Para pemudik menunggu menjelang keberangkatan di Terminal Ubung, Denpasar pada Juni 2017. Foto Anton Muhajir.

“Susah ya gak ada orang Jawa..,”

Begitu kawan saya berujar saat hendak berangkat kerja. Dia bingung mencari penjual nasi yang pada hari-hari biasa mudah ditemui di pinggiran jalan Kota Denpasar.

Pada masa libur panjang Idul Fitri memang susah mencari pedagang kaki lima. Penyebabnya, para pedagang yang kebanyakan pendatang (baca: orang Jawa) pergi mudik ke kampung halaman merayakan hari besar agama Islam tersebut.

Biasanya seminggu atau dua minggu setelah Idul Fitri mereka akan balik ke Denpasar dan kembali bekerja sebagai pekerja non-formal. Misalnya pedagang kaki lima, buruh bangunan, pegawai salon dan spa, montir, pembantu rumah tangga, tukang cukur, bahkan pemulung dan tukang sampah. Sisanya bekerja di sektor pariwisata seperti karyawan hotel, supir, atau satpam.

Belum ada data pasti jumlah pendatang di Denpasar. Di sebuah portal berita yang saya baca saat puncak arus mudik Lebaran lalu jumlah pemudik di pelabuhan Gilimanuk yang meninggalkan Bali berjumlah 270 ribu orang.

Dari situ kita bisa tafsirkan besarnya jumlah penduduk pendatang di Bali. Persentasenya hampir 6 persen dari sekitar 4,2 juta penduduk Bali. Lebih dari 31 persen dari sekitar 840.000 penduduk Denpasar termasuk yang berasal dari berbagai kabupaten di Bali.

Jumlah pendatang yang menetap di Denpasar tak ayal membuat Denpasar menjadi sepi saat ditinggal mudik ketika Lebaran tiba. Ruas-ruas jalan menjadi lengang, warung-warung makan dan toko-toko tutup.

Di saat seperti ini Denpasar menunjukkan wajah aslinya sebagai kota urban seperti halnya Jakarta, tujuan urbanisasi yang sebagian besar penduduknya bukan warga asli melainkan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya tak hendak menulis tentang relasi penduduk lokal maupun pendatang yang kerap dianggap sebagai ancaman bagi warga lokal.
Saya ingin menulis tentang relasi antara penduduk lokal dan pendatang yang “mesra” dan harmonis yang sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ini terbukti dengan adanya kantong-kantong penduduk muslim yang kita temui di beberapa daerah di Bali seperti di Karangasem, Buleleng dan Jembrana jauh sebelum para pendatang dari Jawa yang merantau dan menetap di Bali belasan tahun belakangan.

Cerita kawan saya di awal tulisan ini menunjukkan tergantungnya warga lokal terhadap pendatang. Sebab, sektor-sektor non-formal memang kebanyakan dikuasai oleh pendatang. Bukan berarti warga lokal tak ada yang berkecimpung di sektor non-formal seperti pedagang kaki lima. Ada tetapi tak sebanyak warga pendatang. Wacana warga pendatang yang disebut sebagai ancaman terhadap warga lokal hendaknya disikapi dengan arif agar tidak terjebak dalam isu rasial.

Saya melihat relasi warga lokal dan pendatang ibarat simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan menguntungkan. Bidang pekerjaan yang tak banyak dikuasai oleh warga lokal diambil alih oleh warga pendatang.

Jika memang tak ingin dikuasai warga pendatang ada baiknya warga lokal mulai mengisi sektor-sektor non-formal dan membuang jauh rasa gengsi yang sering menjadi penghambat kemajuan. Ekonomi Denpasar yang seakan “lumpuh” selama liburan Idul Fitri menjadi penanda bahwa warga pendatang berperan besar dalam perputaran ekonomi di Kota Denpasar.

Beberapa tahun terakhir ada wacana yang dicetuskan oleh seorang senator asal Bali yakni tentang pemberdayaan ekonomi orang Bali dengan memberi label “Sukla” untuk warung milik orang Bali. Label ini artinya bersih dan suci baik dari segi kebersihan maupun cara penyajian makanan.

Seorang teman dalam status FB-nya mempertanyakan istilah “sukla” ini. “Bukankah istilah sukla hanya untuk makanan atau persembahan kepada para Bhatara atau Dewa?” begitu tulis teman saya.

Kini di beberapa ruas Kota Denpasar kita temui warung berlabel agama, Warung Hindu, sebagai penanda bahwa warung tersebut adalah milik orang Bali dan beragama Hindu.

Di sebuah buku yang saya baca di masa lalu saat Soekarno berkunjung ke India heran melihat warung atau toko berlabel agama seperti warung Muslim atau Hindu. Saat itu di Indonesia tak ada warung seperti itu. Namun kini di negeri kita warung berlabel agama mudah kita jumpai. Kita menjadi begitu berbeda dan tersekat bahkan dalam urusan makan.

Jika ingin memberdayakan orang Bali menurut saya tak perlu membuat gerakan berbau rasial. Orang Bali mesti mau mengisi sektor non-formal yang selama ini diisi warga pendatang tanpa harus menciptakan label-label yang menjauhkan kita dari semangat keberagaman.

Pendidikan juga harus diperhatikan, akan sangat bagus jika banyak pemuda dan pemudi Bali mengenyam universitas baik di Bali maupun di luar Bali. Jika lapangan pekerjaan di Bali dirasa sedikit ada baiknya merantau ke luar daerah. Untuk mengasah diri dan mencari pengalaman baru.

Dengan demikian tak ada lagi yang merasa bahwa warga pendatang adalah ancaman bagi warga lokal, sebuah sentimen yang bisa memicu perpecahan dan dijadikan komoditas politik untuk meraih kekuasaan. [b]

The post Simbiosis Mutualisme Lokal dan Pendatang di Bali appeared first on BaleBengong.

Tari Gandrung Sepi Penerus, Legong Muani Kian Digemari

Penampilan Legong Muani oleh Sanggar Ardhanareswari di PKB beberapa waktu lalu. Foto Nyoman Mahayasa.

Tari Gandrung di Bali pernah mengalami masa kejayaannya.

Sekitar tahun 1928, Made Sarin, penari Gandrung asal Banjar Ketapian Kelod, Denpasar menjadi salah satu penari ternama bahkan hingga saat ini, kenang Made Bandem, Budayawan Bali.

Namun hari ini, tak banyak lagi penari gandrung laki-laki. Seiring perkembangan zaman, penari-penari perempuan hadir mengisi kekosongan tari yang awalnya dilakoni oleh kaum pria.

Di Banjar Ketapian Kelod sendiri, yang terkenal dengan tari tersebut, hanya tersisa dua orang laki-laki yang masih meneruskan Tari Gandrung. Made Satria Dwi salah satunya.

Menjadi seorang penari Gandrung sudah dilakoni Made Satria Dwi sejak duduk di bangku SMP. Awalnya, pemuda kelahiran tahun 1993 asal Banjar Ketapian Kelod, Denpasar satu ini sangat enggan menarikan Gandrung. Dia bahkan sempat berulang kali menolak.

Namun, dia kemudian akhirnya menjadi penari Gandrung hingga saat ini. Berbagai panggung pun sudah pernah ia pijak sebagai seorang penari gandrung.

“Dulu saya tidal mau, takut dikira bencong menari kayak gitu. Seperti joged lanang,” ujar Satria sambil menyeruput secangkir kopi di hadapannya.

Tari Gandrung yang memiliki fungsi sebagai tari pergaulan ini tak hanya di Banyuwangi, begitu pun di Bali. Sama seperti di Banyuwangi, Di Bali sendiri, awalnya tarian ini dibawakan oleh kaum pria yang menari sebagai sosok perempuan.

Bahkan menurut Made Bandem, budayawan Bali dalam bukunya Ensiklopedi Tari Bali (1983), tak hanya sebagai tari pergaulan, tari yang sejak awal dilakoni para pria ini pun dikatakan sebagai tari pertanian dan keselamatan.

Dulu tarian ini kerap ditampilkan sebagai ucapan syukur saat panen. Kemudian berkembang lagi menjadi tarian keselamatan saat muncul wabah penyakit.

Namun seiring perkembangan zaman, para perempuan hadir mengisi kesenian tari di Bali. Termasuk Gandrung sendiri, tidak jarang perempuan menarikan Gandrung hari ini. Bahkan di Denpasar, selain di Ketapian Kelod, adapun banjar lain yang para penari gandrungnya adalah perempuan.

Tidak hanya Gandrung sesungguhnya. Pada awalnya, tari-tarian Bali memang dilakoni oleh kaum pria. Justru kehadiran perempuan dalam kesenian Bali baru muncul setelahnya.

Namun kini persepsi masyarakat sendiri berubah, di mana penari identik dengan perempuan. Jika kemudian lelaki menari, khususnya tarian dalam sosok perempuan, stigma masih kerap berkeliaran di masyarakat.

Satria kembali menceritakan bahwa di Banjar Ketapian Kelod tidak sembarang orang bisa menjadi Penari Gandrung. Khusus laki-laki, adapun mereka yang memiliki garis keturunan penari Gandrung. Sementara untuk kaum perempuan, adalah mereka yang sudah menstruasi.

Tak berhenti di situ, mereka pun harus mengalami proses sakralisasi. Karena dari sisi garis keturunan diwajibkan menjadi penerus penari gandrung, maka mau tidak mau Satria harus mengikutinya.

Namun, belum melakukan prosesi sakralisasi sebagaimana mestinya, saat menari Gandrung biasa, Ia mengalami kerauhan (trance). Dari sana kemudian Ia merasa bahwa secara tidak langsung Ia telah mengalami proses sakralisasi tersebut.

“Dulu karena kewajiban garis keturunan itu, makanya mau gak mau. Tapi kemudian saat nari, belum proses sakralisasi, saya trans, semacam kerauhan kalau di Bali. Jadi sakralisasi secara tidak langsung. Bisa dikatakan memang sudah dipilih,” ujarnya.

Semacam ada taksu sendiri, saat menari Gandrung, Satria merasakan bahwa dirinya adalah seorang perempuan. Namun hanya saat prosesi menari saja, selepas itu ia kembali menjadi laki-laki utuh.

Bukan tidak mungkin kalau kemudian ada yang terhanyut dan menjadikan sisi kewanitaan yang lebih dominan.

“Bisa saja kalau tidak terkontrol, lalu kemudian merasa nyaman jadi perempuan. Asal jangan sampai terhanyut saja. Saya sendiri selepas nari, ya kembali laki-laki biasa,” ujarnya.

Yang menjadi kekhawatiran dan tidak bisa dipungkiri, bahwa penari gandrung laki-laki semakin sedikit hari ini. Bukan tidak mungkin jika tidak dilestarikan satu hari bisa punah.

Satria menambahkan untuk penari gandrung laki-laki di banjarnya saja tinggal dua orang termasuk dirinya.

Tari LGBT

Berbeda dengan Satria, para penari laki-laki di Sanggar Ardhanareswari memang para kaum lesbian, gay, biseksual, and transgender (LGBT). Sanggar yang berasal dari Sading, Mengwi, Badung ini pun justru semakin berkembang dalam menyajikan tari legong klasik.

Sejak terbentuk tahun 2012, hingga saat ini ada total 14 penari yang berada di bawah naungan Sanggar Ardhanareswari. Ditambah dengan crew, ada sekitar 20 anggota di dalamnya.

Menjadi kebanggaan tersendiri, bagi para penari, di mana mereka bisa menampilkan babak-babak legong secara utuh.

Menurut Gusti Made Wira, Manajer Sanggar Ardhanareswari, justru saat ini, ada kecenderungan di mana babak-babak tertentu pada Legong tidak ditampilkan. Yang dikhawatirkan jika terus tidak dimainkan akan dilupakan.

Mengambil contoh Legong Keraton Lasem yang pada awal diciptakan, dimainkan selama 45 menit. Namun saat ini kerap dimainkan dalam durasi 20 menit saja. Itupun sudah termasuk condong.

“Menari legong menjadi satu kebanggan buat kami. Kami laki-laki dan bisa menarikan legong secara lengkap. Karena kami laki-laki staminanya lebih kuat dari perempuan,” ujarnya.

Asal muasal Sanggar Ardhanareswari sendiri adalah untuk mewadahi para seniman LGBT. Di tambah lagi, saat itu (alm.) Nengah Suarca, pendiri sanggar cukup prihatin dengan kelestarian tari legong sesuai pakemnya.

Wira menambahkan, di awal bahkan mereka menamai diri dengan Cross Gender Bali. Karena saat itu, di rumah Suarca yang berkumpul adalah para seniman LGBT.

“Awalnya namanya malah Cross Gender Bali, karena kebetulan di rumah Pak Suwarca, jadi tempat berkumpul para seniman LGBT,” ujar Wira.

Kerap tampil pada piodalan di Sading, diskriminasi menjadi kaum marjinal sendiri justru tak terasa. Menurutnya selama lima tahun ini, di sana mereka diterima apa adanya.

Walau tidak dipungkiri masih ada pandangan dari beberapa pihak, yang hanya melihat mereka dari kulitnya saja.

Tak hanya di desa asal sanggar tersebut, apresiasi pun mereka dapatkan dengan kesempatan tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) empat tahun berturut-turut. Bahkan Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar memberikan sebuah sekretariat untuk Sanggar Ardhanareswari di Sesetan.

“Justru kalau sampai diskriminasi belum ada ya. Di Sading sendiri, karena kami memang total ngayah, kami sangat diterima apa adanya,” ujarnya.

Pembinaan Sesuai Fungsi

Made Bandem menilai jika masih ada pemikiran bahwa menjadi penari adalah banci atau diskriminasi pada penari kaum LGBT adalah sesuatu yang sangat disayangkan.

Jika ditilik dari sejarah seni tari di Bali sendiri, Bandem mengungkapkan bahwa di awal Tarian Bali dilakoni kaum pria. Sangat jarang bahkan tidak diperkenankan untuk menari saat itu.

Hingga kemudian seiring perkembangannya perempuan mulai menjadi penari.

“Awalnya di zaman kerajaan, penari Bali itu laki-laki. Dulu perempuan, seperti istri dan putri Raja masih dilarang untuk tampil. Seperti Gambuh juga, itu dulunya laki-laki. Namun karena perkembangan dan perubahan zaman, kemudian perempuan masuk menjadi penari,” ujarnya.

Menurutnya perlu ada pembinaan dan edukasi kepada masyarakat tentang fungsi dari tarian itu sendiri. Bukan kemudian membatasi karena perbedaan gender. Hal ini untuk mengantisipasi kepunahan seni itu sendiri.

Baik itu dari pemerintah, turun ke masyarakat juga oleh institusi pendidikan.

“Perlu ada pembinaan tentang fungsi tari itu sendiri. Jangan sampai dibatasi karena pemikiran seperti itu. Lama kelamaan bisa punah,” ujar Bandem.

Bagi Gede Edi Sulastana, salah satu penari di Sanggar Ardhanareswari, menjadi bagian untuk melestarikan tari klasik. Hampir lima tahun bergabung, menurut pria asal Negara ini banyak pakem yang kemudian Ia ketahui tentang tari legong klasik.

“Setelah gabung di sini jadi tahu pakem legong klasik. Tujuannya juga di sini kan untuk melestarikan Legong klasik karena saat ini orang cenderung ke tari-tari kreasi,” ujar Gede.

Selain mendapat tempat untuk berkegiatan secara positif, saat ini Ia juga aktif mengajar tari. Tak hanya legong juga beberapa tari lainnya sejak satu tahun ke belakang ini.

Ia menyampaikan bahwa dukungan tak hanya Ia peroleh dari teman-teman di sanggar. Begitu pun dengan orang tua yang menerima kegiatannya tersebut.

Bahkan tak jarang, jika ia tampil di lingkungan rumahnya, orang tua turut hadir untuk menonton pertunjukkannya.

“Orang tua tahu dan menerima. Bahkan kalau saya sedang tampil di rumah (Negara), mereka datang untuk menonton,” ujarnya.

Bukan Melacur

Tidak dipungkiri oleh Gusti Made Wira bahwa memang kemudian Sanggar Ardhanareswari menjadi wadah yang mengumpulkan kaum LGBT. Namun ini dinilai sebagai satu hal positif, di mana para kaum LGBT dapat menyalurkan aktifitasnya bukan pada hal-hal negatif yang menjadi stigma di masyarakat.

“Karena kami tidak hidup dari melacur. Justru di sanggar ini sebagai wadah teman-teman untuk menyalurkan lewat kegiatan positif,” ujar Wira.

Memang tidak mudah menurutnya untuk menjaga konsistensi anggota di Sanggar tersebut. Selama lima tahun ini cukup banyak yang keluar masuk.

Seperti seleksi alam. Mereka yang memang ikhlas bergabung dan menari itulah yang terus bertahan. Ada juga yang merasa jenuh, tidak cocok bahkan dilarang oleh pihak keluarga karena takut sang anak menjadi LGBT.

“Pasti ada titik jenuh buat teman-teman di sini. Apalagi tidak dibayar per orangnya. Karena setiap dapat penghasilan, kami gunakan untuk membeli perlengkapan di sanggar. Jadi yang memang konsisten di sini, mereka benar-benar tulus ikhlas menari,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Made Bandem. Menurut pria yang pernah menjadi guru besar ISI Denpasar tersebut, jangan sampai stigma masyarakat membuat bakat dan kesenian terpasung. Walaupun berbeda, namun apa yang dilakukan jika itu positif tetap harus diberikan ruang dan apresiasi.

“Mereka lahir dengan bakat jangan sampai disisihkan. Ada nilai positif yang disalurkan,” tutur Bandem. [b]

The post Tari Gandrung Sepi Penerus, Legong Muani Kian Digemari appeared first on BaleBengong.

Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Mural Karya REbelline, menyoroti pengaruh media sosial dimasa kini.

Tampak sebuah gang kecil yang hanya bisa  dilewati sebuah mobil yang tepat di depan sisi sebelah kanan gang tersebut berdiri posko bergambar sebuah ormas beken di Bali. Sebuah gambar wanita ada di belakang Tugu (sebutan untuk tempat pemujaan yang berdiri sendiri), seolah hendak mengintip siapa yang hendak berlalu lalang di gang itu. Sebuah gedung kost-kostan tinggi menjulang, membelakangi gang seolah tidak ingin melihat himpitan rumah kecil yang ada dibawahnya. Sebuah mesin pengaduk semen menepi di sisi sebelah kiri gang, dibawah anak tangga yang menempel pada dinding toko yang tak kunjung berhasil membangun ruangan diatas lantai pertama.

Hari itu – Sabtu, kendaraan masih berlalu lalang dijalan depan gang, jalan yang menghubungkan tiga daerah utama kota Denpasar, Kreneng (pasar, sekolah, unifersitas dan polisi), alun-alun kota Denpasar (Pusat Pemerintahan kota Denpasar dan Kodam IX/Udayana) dan Renon (pusat pemerintahan Propinsi Bali). Jalan Letda Reta Gang XVIII,  Banjar /Dusun Yang Batu Kauh Dangin Puri Kelod adalah sudut kecil dari kota Denpasar, menjadi tempat para perantau (terutama dari kalangan militer/ tentara angkatan darat) untuk menyewa sebuah kamar atau mengontrak sebuah rumah selama bertugas di Denpasar karena asrama dirasakan tidak cukup nyaman untuk ditinggali. Tepat di simpang tiga Jalan Letda Reta menuju Jalan Yang Batu Kangin, sebuah baliho besar dterpasang pada sebuah pohon perindang jalan yang masih bertahan setelah pohon lainnya habis oleh laju pembangunan. Sebuah baliho acara yang diselenggarakan oleh XVIII project yang bertajuk Urban Street Art, lengkap dengan deretan pengisi acara dan juga pihak yang membatu terselenggaranya acara tersebut.

Ada hal yang sedikit menggelitik ketika membaca baliho bertajuk Urban Street Art yang tanpa menggunakan kata sambung “and (dan)”. Ketika ditanyakan pada Ketut Jesna , selaku penggagas acara tersebut, kenapa acara ini bertajuk URBAN STREET ART bukan URBAN dan STREET ART, sambil melengos dia hanya bilang “biarkan saja seperti itu” seolah ingin memberikan kebebasan pada yang melihat dan membaca untuk menterjemahkan tajuk acara tersebut.

Terkait kata Urban tentu saja tidak bisa dipungkiri, wilayah Yang Batu khususnya dan Denpasar secara lebih luas telah menjadi daerah urban. Walau tradisi masih berlangsung didalamnya tetapi perubahan fungsi lahan profesi telah berlangsung. Wilayah yang awalnya dari persawahan menjadi wilayah pemukiman kota yang menjadi tempat bagi para perantau mengadu nasib dan berinteraksi sosial.

Dilema muncul pada dua kata terakhir, apakah dua kata ini berdiri sendiri atau menjadi satu kesatuan, menjadi Street and Art atau menjadi Street Art saja. Melihat bagaimana daftar pengisi acara yang dipenuhi oleh sekitar 21 street artist dan bagaimana geliat street art di Bali akhir-akhir ini, tentu cara paling mudah adalah menganggap ini sebagai sebuah acara street art sebagai bentuk seni urban,. Namun sepertinya kesimpulan itu premature, ketika mendapati Street and Art merupakan kata yang berdiri sendiri.

 

 

Proses pengerjaan mural oleh salah satu seniman mural

Urban Art

Suara benturan biji gotri dalam kaleng ketika cat spray digunakan oleh para grafiti yang sedang membuat font nama dengan permainan bentuk dan komposisi warna. Beberapa diantaranya menggunakan masker untuk mengurangi aroma cat. Tampak beberapa pembuat mural dengan tekun, menggoreskan kuas membuat garis sketsa dengan teliti. Di sudut lainnya seorang artis mural khusuk dengan rol catnya. Hari itu Gang XVIII menjadi hiruk pikuk dengan para penggiat seni jalanan (seni publik) yang hadir untuk berkarya, merias dinding muram gang dengan karya beraneka warna, aneka bentuk dan aneka isu.

Mulai dari menyoroti masalah sosial, Slinat merespon anak tangga yang menempel didinding bangunan di depan gang dengan gambar seorang wanita bermasker dalam posisi duduk, sehingga tampak seolah wanita tersebut sedang duduk dianak tangga, tampak kelelahan, dengan  caption “manusia-mausia kalah melawan dari gelap malam, fight for your right fight for your life fight for your rice” dan sebuh kalimat yang lain “manusia hanya melakukan yang belum selesai lalu mati”, kemuraman terlehat dari cat yang dibiarak menfalir dan kalimat-kalimat yang termuat didinding.

Dibawah anak tangga seorang anak perempuan membungkuk, seolah menggendong tangga yang sedang diduduki oleh sang wanita, dibawah kaki anak perempuan tersebut tertulis kalimat SAVE CHILDREN, isu yang masih menjadi fokus Peanut Dog. Ketika gambar ini dilihat secara utuh, sebuah tampilan realita seolah tergambar jelas, ketika kita sedang memberikan beban pada anak-anak, eksploitasi alam yang sedang masif terjadi akibat pembangunan yang hanya berfokus pada infrastruktur hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan dan sosial yang nantinya harus dipikul oleh generasi selanjutnya (anak-anak).

Tidak hanya itu karya laki-laki dengan berbagai sosmed disekitarnya solah menjadi perilaku urban kekinian. Ketika interaksi berlangsung lebih aktif di duania maya, hingga tidak lagi ada batas yang jelas antara dunia maya dan dunia nyata.

Proses pembuatan mural “Save Childern”

Karya grafiti yang menampilkan berbagai macam font, walau perlu sedikit usaha untuk membacanya tetapi tetap saja menarik perhatian dan enak dipandang. Sosok “Ksatria Baja Hitam (Kotaro Minami)” muncul di salah satu bagian dinding sepanjang kurang lebih 60 meter, mengingatkan kembali pada sosok super hero yang dinanti anak-anak usia SD ditahun 1990-an, masa ketika anak-anak dimanjakan oleh tayangan film anak-anak (mulai dari kartun Saint Saiya, Candy Candy, Sailor Moon, Doraemon sampai serial anak-anak seperti Ksatria Baja Hitam, Ultraman dan Power Rangers), sebuah kondisi yang jauh berbeda dengan hari ini ketika televisi dipenuhi oleh drama mulai dari Indonesia, India sampai Turki, debat politik yang membosankan dan tentu saja gosip.

Disudut yang lain sebuah gambar wajah yang hanya menampilkan mata dan bagian atas kepala yang berambutkan bunga matahari, dengan sebuah kalimat “budayakan menanam”, seolah menjadi harapan dan doa yang ingin agar  warga kota untuk tetap menanam walau lahan sudah tidak lagi seberapa, karena menanam itu kunci.

Sekitar 18 seniman yang berkarya dalam Urban Street Art antara lain; SMRASHITWO, TOCKIBE, BGS4, BRUTALLMARK, MUTASEIGHT, NEDSONE, PEANUTDOG, JIKOLA, FATALART, 735ART, MASCT, REBELLINE, SLINAT, WAP, KINS, DICKO, POTLOT, MAJOUL dan TOCKIBE. Antusasme terlihat dari sebagian besar berkaraya bersama pada saat acara, bahkan beberapa seniman telah memuli proses berkarya pada hari senin sebelumnya. Di ujung gang sebuah panggung kecil dan pendek, dengan backgroud dari seng bergambar seorang wajah lelaki tua. Panggung tersebut tidak hanya menjadi panggung hiburan mereka yang hadir, baik untuk berkarya maupun untuk menikmati acara, tetapi menjadi panggung bagi anak-anak sekitar sana menunjukkan talentanya. Dibuka dengan penampilan tari puspanjali, acara dilanjutkan dengan suguhan permainan gender dari Agus dan kawan-kawan, kemudian sebuah tarian telek dibawakan oleh indra ddan nanda, lengkap dengan topeng kertas buatan 735art, topeng yang dibuat khusus untuk penampilan mereka hari itu. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan pada seni tradisi yang cenderung kaku juga diperlukan. Bukan untuk melunturkan tradisi atau agar menarik anak-anak menggeluti seni tradisi, tetapi untuk menjaga seni itu hidup dan tumbuh sehingga perubahan yang terjadi pun hendaknya bisa masuk dan diterima.

Panggung untuk menguji mental, mempertontonkan apa yang mereka bisa mulai dari permainan instrumen gender sampai tari-tarian. Menariknya, kali ini anak-anak itu tampil membawakan kesenian tradisional tidak dengan kostum biasanya, mereka menggunakan Sick adn Suck, band gang XVIII juga tampil sebelum penampilan akustik dari penyanyi reggae Freddy Kayaman  yang dilanjutkan dengan jam session dari pengunjung dan pemuda sekitar yang ingin menyumbangkan keterampilannya bermain musik.

Belum cukup dengan itu  sebuah tanah lapang di sudut gang digunakan untuk memajang beberapa kreasi modifikasi dari komunitas motor Besi Tua Bali. Motor-motor custom yang tidak lazim dan dengan suara knalpot yang melengking berjajar rapi seolah berada dalam festival otomotif. Motor-motor yang telah dimodifikasi yang tentu saja harganya tidak murah ini bisa menjadi komponen STREET dalam tema acara. Motor-motor yang melintasi jalanan, yang dibangun dengan waktu yang tidak singkat dan biaya yang tidak murah, dengan ketelitian dan ketekunan merupakan bentuk baru seni urban,custom motor juga merupakan sebuah karya seni.

Hari kian malam, tampak anak-anak, remaja sampai ibu-ibu berbaur di dalam gang,. Berbagai bentuk kesenian berkumpul dalam satu Gang, berinteraksi dan berkarya, musik, grafiti, mural, gamelan, tarian, modifikasi motor dan pinstrip hadir dalam satu gang. Mereka menampilkan seni yang mereka geluti untuk mengembalikan semangat “ngayah” para seniman tradisi yang mulai terkikis oleh industri (akibat bakat dan ketrampilan serta ongkos berkesenian yang  telah dinominalkan membuat “ngayah” seolah menjadi sebuah kata yang naif).

Mural karya MSCT (Maaf Saya Coret)

URBAN STREET ART yang di selenggarakan di sebuah Gang kecil di Yang Batu Kauh,pada hari sabtu,17 Juni 2017 seolah ingin menunjukkan jika seni hari ini tidak hanya seni tradisi (gamelan atau tari-tarian yang kini menjadi menu bagi para wisatawan yang datang ke Bali) tetapi ada berbagai bentuk seni baru sebagai bentuk ekspresi yang berkembang sesuai dengan perkebangan jaman. Hal ini seperti yang diungkapkan secara singkat oleh Jesna “seni itu tidak harus kita bisa menari, ini lho ada custom (motor) ada grafiti dan banyak seni lain”. Menyentil pemahaman lama yang masih banyak dianut, jika seni masih berupa tarian, gamelan, ukir dan bentuk seni lain yang telah menjadi tradisi.

Acara yang dilaksanakn dengan semangat gotong royong dan solidaritas, mengumpulkan seniman dari berbagai bentuk seni dalam satu gang kecil, mengkritisi pemahaman seni yang terpatron pada seni tradisi dengan tradisi.  Melepaskan diri dari jebakan bentuk seni tradisi dengan semangat seni tradisi “ngayah”, alih-alih terjebak pada bentuk (simbol) seniman-seniman yang tampil dan pihak yang ikut berpartisipasi menyelenggarakan acara ini mempertahankan semangat “ngayah”( yang mengandung solidaritas, gotong royong, sukarela dan tanpa pamrih)  tanpa tekanan dari otoritas yang lebih tinggi (penguasa) seperti yang berlangsung pada masa kerajaan (mungkin sampai sekarang).

 

URBAN STREET ART, telah menunjukkan berbagai rupa seni hari ini (walau belum semua) serta memperlihatkan nilai tradisi masih ada meski di lingkungan URBAN (yang cenderung individual) dan tampil dalam wujud yang berbeda, wujud yang mungkin saja menyentil pemahaman sempit akan seni.

l.taji//18//6//2017

The post Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar appeared first on BaleBengong.

Merayakan (Hari) Film sebagai Media Edukasi

Sesi diskusi bertajuk “Perempuan Indonesia dalam Sinema” di Taman Baca Kesiman, Denpasar. 

Hari Film Nasional dirayakan tiap 30 Maret.

Tahun ini, sejumlah pemutaran film dilakukan secara nasional di berbagai daerah, termasuk di Denpasar, Bali. Selama tiga hari, karya-karya sineas Indonesia turut diputar untuk merespon tema “Merayakan Keberagaman”.

Di Taman Baca Kesiman, sejak Rabu (22/3) hingga Jumat (25/3) kemarin, total 6 film, yang terdiri dari 4 film pendek dan 2 film panjang diputar. Antara lain: On The Origin of Fear (Bayu Prihantoro Filemon, 2016), Kitorang Basudara (Ninndi Raras, 2015), Pangreh (Harvah Agustriansyah, 2016), Balik Jakarta (Jason Iskandar, 2016) yang tergabung dalam Kompilasi Film Pendek “Mencari Indonesia” di hari pertama pemutaran.

Sementara karya Arifin C. Noer, “Suci Sang Primadona” produksi tahun 1977 menjadi suguhan di hari kedua. Pada hari ketiga sekaligus hari terakhir pemutaran di Taman Baca Kesiman, “The Mirror Never Lies” karya Kamila Andini yang diproduksi pada tahun 2011 lalu.

Hari ini, film pun bukan sekadar suguhan hiburan semata. Film yang baik sejatinya mampu menjadi media edukasi secara visual dan atau audio-visual. Yakni dengan menjadi wadah isu-isu yang terjadi di masyarakat, baik dari sisi sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, hingga politik, yang kemudian dituturkan oleh sang sutradara baik dalam kemasan dokumenter maupun fiksi.

Lebih jauh, pemutaran juga dilakukan sebagai bentuk apresiasi kepada para sineas yang menelurkan karya-karyanya.

“Film-film pendek seperti ini bagus untuk sering diputar di sini, misalnya setiap minggu. Sebagai tuan rumah, ya harus sering ditonton, karena ini bentuk apresiasi terhadap film Indonesia,” ujar Alit Ambara, salah seorang penonton.

Merayakan film tak hanya menyaksikannya secara visual. Namun sesi sharing dan diskusi pun dibuka, khususnya di hari terakhir, diskusi bertajuk “Perempuan Indonesia dalam Sinema” menjadi penutup rangkaian perayaan HFN 2017 di Denpasar.

Menghadirkan 2 narasumber sebagai pembicara, yakni penulis asal Bali, Oka Rusmini dan Rhoda Graurer, peneliti sekaligus film-maker perempuan asal Amerika yang sudah menetap kurang lebih 17 tahun di Bali.

Perempuan dan Kekerasan Kultural

 

Merujuk pada dua karya terakhir, Suci Sang Primadona dan The Mirror Never Lies secara gamblang mengangkat perempuan tak hanya dari tokoh berperan termasuk cerita dan konflik yang terjadi di dalamnya.

Merespon kedua karya tersebut, Oka Rusmini menyampaikan adanya kekerasan kultural yang kerap dialami perempuan, khususnya di Indonesia.

Sebut saja dalam film The Mirror Never Lies, di mana wajah tokoh Tayung yang diperankan oleh Atiqah Hasiholan, dalam kesehariannya harus ditutupi masker. Hal itu karena status perempuan Suku Bajo tersebut yang tidak jelas apakah memiliki suami atau tidak. Lebih ke belakang diceritakan bahwa sang suami hilang saat melaut dan tidak diketahui kondisinya apakah masih hiduo atau sudah meninggal.

“Di situ tampak jelas bahwa masyarakat perempuan Indonesia masih mengalami kekerasan kultural,” ujar Oka Rusmini.

Di sisi lain ada pesan tersirat, bagaimana dalam satu kondisi perempuan mampu dan mau tidak mau harus mengambil peran laki-laki untuk menyambung hidup.

Membandingkan dengan karya sebelumnya, yakni Suci Sang Primadona, Oka menilik penggambaran perempuan dari sosok laki-laki. Sisi erotis tubuh perempuan yang kerap menjadi pandangan pria terhadap perempuan.

Sementara di The Mirror Never Lies ada hal-hal detail tentang perempuan yang digambarkan Kamila.

Dalam salah satu adegannya bagaimana tubuh Tayung gemetar karena gairahnya terhadap Tudo. Secara alamiah melahirkan respon kerinduan Tayung terhadap sosok laki-laki yang sempat kosong karena kepergian sang suami. Di mana detail seperti ini tidak ditunjukkan jika merujuk pada sudut pandang pria.

“Ada bahasa yang berbeda dari laki-laki dan perempuan. Jika dilihat pada Suci Sang Primadona, sutradaranya pria, menggambarkan perempuan dari sudut pandang pria. Sementara di karya ini, ada hal-hal detail tentang perempuan yang digambarkan sang sutradara, Kamila, yang juga seorang perempuan,” papar Oka.

Sementara Rhoda Grauer menilai kekerasan kultural perempuan pun dialami dalam industri film. Dari sisi pemeran misalnya, seorang tokoh perempuan dalam film Amerika adalah sosok yang cantik, kurus, berambut pirang hingga berpenampilan glamour.

Dan di balik layar, sosok sutradara perempuan masih dipandang sebelah mata, diragukan dalam sisi kemampuan jika dibandingkan dengan para sutradara pria.

“Bagaimana film Amerika memperlakukan perempuan: 80 persen dalam film Amerika, perempuan harus cantik, kurus, glamour. Di sisi lain, sutradara perempuan dinilai tidak terlalu kuat dan diragukan kemampuannya. It’s really sickening,” tutur Rhoda.

Lalu yang menjadi pertanyaan lebih lanjut, adalah makna dari peringatan hari perempuan dalam skala internasional atau hari Kartini dalam skala nasional, Indonesia. Jika yang diperingati adalah sosok Kartini dengan cara berpikirnya, pada realitanya yang kerap ditonjolkan adalah sebatas simbolik perempuan berkebaya.

“Yang dirayakan dalam hari Kartini adalah perempuan berkebaya. Bukan perempuan yang berpikir, padahal Kartini itu kan bukan ibu-ibu PKK,” ujar Oka. [b]

The post Merayakan (Hari) Film sebagai Media Edukasi appeared first on BaleBengong.