Tag Archives: Sosial Budaya

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan

Penampilan Navicula di acara Kopernik Day 2018: Perayaan 8 Tahun Kolaborasi dan Inovasi. Foto Fauzan Adinugraha/Kopernik.

Ratusan anak muda berkerumun di depan panggung.

Mengikuti aba-aba gitar dan drum, mereka mulai loncat sambil menganggukkan kepala. Sang vokalis berambut panjang memimpin: “Penguasa jagalah dunia Bumi kita, rumah kita bersama.”

Sebuah lagu yang mengingatkan penonton atas bahaya pembangunan tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan sekitar. Penonton pun serempak ikut bernyanyi, meneguhkan pesan sang vokalis.

Perpaduan antara musik dan pergerakan sosial telah berjalan lama. Lagu-lagu musisi folk seperti Iwan Fals, sang ‘wakil rakyat’, pada tahun 1990-2000an menjadi yel-yel perjuangan hak masyarakat miskin dan marjinal hingga saat ini.

Pada tahun 2007, band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, mempersembahkan lagunya ‘Di Udara’ kepada aktivis HAM Munir Said Thalib. Ada pula alunan lagu band Nosstress yang mengiringi isu tata pembangunan dan menyempitnya ruang kota di Bali.

Pendekatan seni dan budaya guna menyuarakan tantangan lingkungan dan sosial masa kini menjadi sarana efektif untuk menarik hati dan memulai dialog dengan masyarakat, terutama anak-anak muda.

Sebagai organisasi yang berupaya menemukan solusi efektif dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Kopernik menyadari bahwa dampak dari kegiatan suatu organisasi seringkali terbatas pada komunitas yang menerima dukungan tersebut secara langsung. Padahal mungkin saja ada daerah lain yang juga membutuhkan atau bahkan ada organisasi lain yang dapat meningkatkan efektifitas solusi tersebut.

Atas dasar itu, setahun terakhir ini Kopernik telah giat menjalin kerja sama dengan berbagai tokoh industri kreatif Indonesia untuk menyebarkan temuan dan mendorong dialog dalam rangka mengembangkan solusi-solusi efektif yang dapat memberikan perubahan sosial yang berkelanjutan. Beragam mitra kerja Kopernik — mulai dari musisi, sutradara sampai seniman — merupakan tokoh masyarakat yang berpengaruh dan memiliki posisi yang unik dalam mengangkat isu sosial dan meningkatkan partisipasi publik.

Salah satu mitra Kopernik, Navicula, dikenal sebagai band yang aktif terlibat dalam gerakan sosial dan lingkungan. Band asli Bali ini dijuluki sebagai Green Grunge Gentlemen karena pesan-pesan dalam musik mereka sarat dengan tema lingkungan seperti lagu “Metropolutan”, “Orangutan”, “Over Konsumsi”, atau “Di Rimba”.

Navicula, Erick EST dan Kopernik bersama pengguna lampu tenaga surya di Sumba saat proses produksi video klip Terus Berjuang. (Photo credit: Erick EST)

Bersama dengan Navicula dan sutradara Erick EST, Kopernik memproduksi video klip untuk lagu “Terus Berjuang” milik Navicula yang didedikasikan untuk para aktivis sosial dan lingkungan yang tengah berjuang mendorong perubahan sosial.

Video klip ini menyoroti isu kesenjangan akses listrik di daerah timur Indonesia dan menampilkan kegiatan beberapa Ibu Inspirasi Kopernik yang membantu memperluas akses energi di daerah terpencil melalui penjualan teknologi tepat guna, seperti lampu tenaga surya dan saringan air tanpa listrik.

Bukan hanya musik, seni audio-visual dan pertunjukan juga merupakan media yang efektif dalam meningkatkan wawasan masyarakat yang dapat mendorong perubahan sosial suatu kelompok masyarakat.

Mural dari seniman Sautel Chago di kantor Kopernik tentang pemilahan sampah anorganik dan organik. (Photo credit: Reza Muharram Harahap/Kopernik)

Prinsip itu juga yang menjadi dasar Kopernik untuk memulai proyek Pulau Plastik bekerja sama dengan Akarumput, sebuah rumah produksi asal Bali dengan misi meningkatkan wawasan masyarakat mengenai isu lingkungan dan sosial melalui seni visual, musik dan kampanye media.

Pulau Plastik merupakan serial video edukasi yang memadukan pendekatan budaya populer dan antropologi dengan media visual guna menjangkau masyarakat lokal dan mendorong kesadaran untuk mengelola sampah dengan lebih baik.

Komponen seni dan budaya dalam proyek Pulau Plastik diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi produk plastik sekali pakai di Pulau Bali.

Berdasarkan hasil penelitian Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Pulau Bali menghasilkan hingga 268 ton sampah plastik setiap harinya dan 44 persen tidak diolah sehingga mencemari lingkungan (Gatra, 24 April 2018). Sampah plastik tersebut terbuang di sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut dan membahayakan kehidupan biota laut. Masalah ini tidak dapat diatasi hanya dengan lembaga sosial atau pemerintah saja, namun butuh partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Kopernik terus berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan industri kreatif dan lembaga sosial yang memperjuangkan isu sosial dan lingkungan, serta mendorong komunitas masyarakat untuk aktif berekspresi dan beraksi melalui medium masing-masing demi perjuangan mencapai pembangunan yang setara dan berkelanjutan. [b]

The post Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan appeared first on BaleBengong.

Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia

Catat tenggat pengiriman karyanya: 21 April 2018.

Indonesia Raja, kolaborasi antar-wilayah di Indonesia dalam bentuk pertukaran program film pendek yang diinisiasi Minikino, siap digelar kembali menyongsong tahun 2018 ini.

Setelah melalui proses seleksi programmer sejak 4 Maret 2018 lalu, akhirnya telah dilantik 9 programmer mewakili 9 daerah di Indonesia. Saat ini para programmer telah mulai bertugas untuk mengumpulkan dan nantinya akan melakukan kurasi atas film-film pendek dari daerahnya masing-masing. Hasilnya akan disusun menjadi sebuah program film pendek utuh, lengkap dengan tema dan tulisan pengantar.

Mereka yang terpilih, antara lain: Rickdy Vanduwin S untuk wilayah Bali, Aldino Kamaruddin Santoso (Balikpapan), Gerry Fairus Irsan (Bandung), Arlinka Larissa (Jabodetabek), Kemala Astika (Jawa Barat), Canggih Setyawan (Jawa Tengah), Nofita Sari (Jember), Mohammad Ifdhal (Palu), dan Nur Ulfati (Surabaya).

Selanjutnya, para filmmaker Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Indonesia Raja 2018 sudah bisa menyerahkan karyanya ke para programmer sesuai daerah masing-masing. Penyerahan karya film pendek dibuka sejak 1 April hingga 21 April 2018. Proses kurasi dan programming film pendek di masing-masing wilayah akan dimulai 22 April 2018.

Untuk itu, diimbau agar para filmmaker Indonesia tidak melewatkan tanggal submisi film pendek untuk Indonesia Raja 2018.

Proses mengundang dan memilih programmer di tahun ke-4 ini Minikino berusaha semakin selektif. Pengalaman dalam mengatasi berbagai kendala di tahun-tahun sebelumnya membuahkan berbagai catatan penting untuk diuji kembali tahun ini.

Selain menegaskan kesamaan visi, Minikino juga berusaha mencari calon programmer yang memiliki wawasan serta pemahaman teknis, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Yang juga berbeda pada edisi kali ini adalah persyaratan rentang usia produksi cukup panjang, yaitu semua film pendek yang diproduksi sejak 2010 bisa diikutsertakan.

Sembilan programmer mewakili 9 daerah di Indonesia yang akan mengkurasi karya-karya dalam Indonesia Raja 2018. Foto Minikino.

Sekadar informasi, proses programming film pendek diperlukan untuk menyusun suatu tema yang dapat menghubungkan film-film pendek itu agar lebih nyaman ditonton. Selanjutnya diharapkan dapat merangsang diskusi produktif di antara penonton. Untuk tujuan ini, programmer juga perlu memikirkan urutan filmnya, mana yang lebih tepat sebagai pembuka, dan mana yang lebih tepat untuk mengakhiri.

Demikianlah tugas kesembilan programmer Indonesia Raja 2018 yang terpilih.

Para programmer dapat dihubungi langsung melalui informasi resmi Minikino untuk Indonesia Raja, juga berbagai persyaratan untuk mendaftarkan film pendeknya.

Pengumuman final untuk program Indonesia Raja 2018 akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat pada 3 Juni 2018 mendatang melalui berbagai kanal pemberitaan. Setelah itu, program-program tersebut siap untuk disebar pada acara-acara screening di seluruh wilayah di Indonesia. [b]

The post Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia appeared first on BaleBengong.

Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan

Ayu dan barisan massa aksi Women’s March Bali. Foto Iin Valentine

Minggu, 4 Maret 2018  lalu, menjadi hari yang tidak biasa bagi saya.

Ya, Minggu, bangun pagi. Jarang sekali terjadi. Pukul 07.10 WITA, saya sampai di area parkir timur Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar untuk mengikuti aksi Women’s March. Ini adalah aksi pertama yang saya ikuti setelah terakhir, sekitar tahun 2016 lalu ikut aksi Bali Tolak Reklamasi di Desa Kelan.

Namun, di tempat saya berdiri, tak ada tanda-tanda yang merujuk pada aksi tersebut. Saat itu saya jadi ragu. Bener ngga nih acaranya hari ini?

Masih berbekal sedikit rasa ngantuk, saya merogoh tas yang isinya amburadul untuk mengambil ponsel. Saya mau memastikan kembali pengumuman acaranya, apakah sudah berada di tempat dan waktu yang benar. Poster digital yang saya simpan di ponsel mengatakan bahwa titik kumpulnya memang benar, di area parkir timur Lapangan Renon. Jamnya pun benar (walaupun ngaret 10 menit).

Tak sampai 10 menit berjalan, saya lihat kerumunan orang dengan mengenakan pakaian bernuansa hijau toska dan ungu, sesuai dress code acara itu, sedang berkumpul. Di kerumunan itu, seseorang berpakaian nyentrik telah mencuri perhatian saya. Ia tampil sangat percaya diri dengan balutan kemeja ungu dengan kamen (kain) berwarna pink yang dililitkan khas lelaki Bali, lengkap dengan udeng (hiasan kepala) berwarna senada.

Tak ketinggalan, sepasang anting cantik menghiasi kedua telinganya. Membuat penampilannya sangat eye catching. Ia adalah Ayu Bagaoesoekawatie, salah satu koordinator lapangan aksi Women’s March Bali tersebut.

Sebelum aksi dimulai, Ayu menjelaskan tata tertib kepada para peserta. Menurut Ayu, ini adalah aksi yang tidak sembarangan. Ketertiban dan keamanan tetap harus dijaga, mengingat bahwa aksi itu berlangsung di ruang publik dengan aktivitas yang ramai.

Mereka sudah siap dengan membawa poster yang bertuliskan berbagai pernyataan sikap seputar isu gender, kekerasan, hingga penolakan terhadap RKUHP.

“Perempuan bersatu!”

“Tak bisa dikalahkan!”

“Perempuan Bergerak!”

“Tak bisa dihentikan!”

Begitulah seruan yel-yel yang dikomando oleh Ayu penanda aksi Women’s March telah dimulai. Para peserta menirukan yel-yel tersebut dengan penuh semangat sambil berjalan mengelilingi lapangan. Berbagai kalangan ikut ambil bagian menyuarakan pernyataan sikap. Perwakilan LBH APIK Bali, KISARA Bali, mahasiswa, pelajar, dan kalangan umum membaur dalam barisan.

Massa membawa poster yang bertuliskan penyataan sikap dan tuntutan. Foto Iin Valentine.

Seperti yang tertulis di poster, aksi ini menyoroti isu seputar gender, bagaimana perempuaan, anak, dan kelompok rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan. Baik itu kekerasan fisik psikis, maupun  verbal. Selain menyuarakan pernyataan sikap, ajakan untuk saling menghormati sesama manusia pun ikut disuarakan.

Aksi yang diikuti mayoritas oleh perempuan itu diadakan dalam rangka memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Women’s March sendiri berawal dari perlawanan kaum perempuan dan kelompok minoritas di Amerika Serikat terhadap Presiden Trump yang sering merendahkan hak-hak mereka.

“Tidak ada lagi suit-suitan di jalan! Tidak ada lagi panggilan sayang di jalanan! It’s not gentlemen! Kami cukup dihormati. Hormati sebagai manusia. Berikan ruang hidup yang sama seperti manusia yang lain!” teriak Ayu saat memimpin barisan aksi.

“Melawan penindasan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Perempuan bergerak, melawan penindasan, yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

Yel-yel terdengar dinyanyikan beberapa kali. Mencuri perhatian masyarakat yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sekadar mendokumentasikan, bertanya-tanya itu aksi untuk apa, hingga ada beberapa yang memutuskan untuk ikut bergabung dalam aksi.

Sebanyak 8 tuntutan diajukan dalam aksi. Foto Iin Valentine.

Selanjutnya, Eka Purni Astiti, perwakilan KISARA Bali, menegaskan bahwa isu kekerasan berbasis gender dan kriminalisasi upaya-upaya peningkatan kesehatan reproduksi dan juga seksual menjadi tantangan ke depannya. Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2016, terdapat lebih dari 200.000 kasus kekerasan pada perempuan.

“Ini hanya menjadi sedikit bagian dari apa yang kami perjuangkan. Dengan berjalan kaki di aksi ini,” jelas Eka.

Menurut Eka, untuk dapat mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender, anak-anak muda dan seluruh masyarakat harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa jenis-jenis kekerasan berbasis gender. “Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis dan seksual,” lanjutnya.

Setelah mengelilingi lapangan sebanyak dua kali, aksi ini ditutup di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja dengan pembacaan puisi dan orasi dari beberapa peserta aksi. [b]

The post Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan appeared first on BaleBengong.

Paket Komplit Teater Kalangan: Bermain, Belajar, Bergembira dan Berkeringat Bersama

oleh Iin Valentine

Awal tahun 2017 yang lalu, menjadi permulaan baru bagi perjalanan saya menyelami dunia perteateran. Pementasan berjudul “Energi Bangun Pagi Bahagia” yang dibawakan oleh pentolan Bengkel Mime Theatre Yogyakarta, yaitu Mas Andy Sri Wahyudi dan kawan-kawan pada Februari 2017, secara tidak langsung menjadi momen perkenalan saya —dari Teater Orok Unud— dengan kawan-kawan Teater Kalangan. Meskipun beberapa penghuni di dalamnya secara personal memang sudah saya kenal. Mempersiapkan pementasan Mas Andy, memberi saya kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Teater Kalangan, yang awalnya saya kira sama dengan teater kampus pada umumnya. Lalu, apakah Teater Kalangan memang seperti yang saya pikirkan?

Sejak bergabung di Teater Orok pada tahun 2013, bisa dibilang sangat jarang saya “keluar” dari sana. Selalu ada hal yang sulit dijelaskan ketika saya memutuskan untuk dekat ataupun menjauh dari sesuatu, orang, atau pun semacamnya. Itu pula yang terjadi ketika saya berkenalan dengan Teater Kalangan. Saya tidak pernah diiming-imingi atau dijanjikan sesuatu, tetapi hasil ngobrol sampai larut, bicara musik, buku, referensi teater, hingga hal remeh temeh lainnya entah kenapa memberi saya dorongan yang kuat untuk tidak menjauh dari kelompok teater yang lahir di Singaraja itu. Di tengah kebingungan mencari “rumah” karena masa aktif saya di Teater Orok Unud waktu itu hampir habis, maka kehadiran Teater Kalangan saya anggap sebagai keberuntungan dan sekaligus penyelamat bagi jiwa yang kebingungan ini. Hahaha …

Setelah tidak terlalu intens di Orok, ada rindu yang sangat rindu untuk terlibat kembali dalam sebuah produksi. Dan ketika ditawari untuk ambil bagian dalam produksi Kalangan, saya langsung YES!

Monolog DOR dan hal-hal baru
Terlibat langsung dalam proses kreatif Teater Kalangan saya mulai pada pementasan monolog DOR dalam rangka Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya. Kalau tidak salah, pementasan itu berlangsung pada 17 Juni 2017 di Taman Baca Kesiman. Saat itu saya bersama beberapa kawan lainnya menjadi pemeran pembantu, semacam properti hidup, bintangnya adalah Santiasa Putu Putra. Oya, Jong nama pasarannya. Saat itu saya dibuat bingung. Katanya ini monolog, tapi kok ada banyak orang di panggung? Kok pakai pemeran pembantu segala? Begitu kiranya pertanyaan yang muncul. Maklum saja, sebelumnya, yang saya pahami tentang monolog adalah lakon yang dimainkan oleh seorang aktor. Kemudian, pemahaman itu patah ketika pandangan baru dari Kalangan saya terima, bahwa monolog, bukan lagi perihal berapa orang aktor yang ada di panggung, namun lebih kepada siapa yang mendominasi siapa. Jadi, sah saja ketika monolog itu menampilkan lebih dari satu aktor di atas panggung, asalkan tetap satu orang yang mendominasi, bisa dikatakan sebagai otaknya.

Melalui proses latihan DOR itu juga saya dikenalkan pada metode latihan baru. Saya termasuk orang kebanyakan yang biasanya melakukan pemanasan dengan metode lawas, berlari keliling sekian kali, lalu peregangan, dan kawanannya. Dari produksi DOR, metode jadul yang laris manis itu ter-update. Akrablah saya dengan latihan suzuki, latihan pernafasan, juga bergerak dengan mengikuti irama musik. Ternyata, itu amat sangat melelahkan! Lewat hari pertama latihan, badan terasa sakit. Koyo menempel di mana-mana. Fisik benar-benar digodok sedemikian rupa untuk mencapai kesetaraan energi antarpemain. Dan ketika terlibat lagi dalam proses kreatif selanjutnya —yang hampir semuanya menguras tenaga— agaknya saya menjadi terbiasa dengan latihan seperti itu. Meskipun ujungnya tetap akan melelahkan, tapi tidak membuat saya kapok!

Selama di Teater Orok, saya memang lebih sering bermain monolog, namun monolog yang pada umumnya dikenal orang. Bentuk pementasannya pun selalu realis, tidak pernah ada eskplorasi ekstrim dalam penggarapan. Yang banyak digodok waktu itu adalah masalah rasa, takaran emosi, dan dialog. Blocking dan bisnis kecil di atas panggung, urutan ke sekian. Nah, berbeda dengan Kalangan. Di sini, (menurut saya) eksplorasi dilakukan ekstrim. Naskah menjadi semacam panduan atau garis besar alur cerita. Pada eksekusinya, tidak selalu dimainkan secara utuh. Pada produksi DOR, yang menjadi menarik adalah hadirnya berbagai macam impresi gerak yang menggambarkan berbagai hal, suasana, dan tempat. Misalnya saat menggambarkan pasar, para pemeran pembantu memberikan impresi gerak sebagai pedagang, tukang parkir, dan hal lainnya yang berhubungan dengan suasana di pasar. Tentu itu juga tidak sembarang impresi, karena sebelumnya pengamatan langsung sudah dilakukan oleh sutradara. Dan saat itu saya sadar bahwa riset juga sangat penting untuk pementasan.

Satu hal yang membekas juga dari latihan DOR adalah tentang kerja sama dan percaya pada tim. Ada fase latihan ketika kami harus memupuk kepercayaan satu sama lain dengan menjatuhkan badan, dan mempercayakan pada kawan untuk menangkap kita. Ternyata pikiran amat sangat berpengaruh. Awalnya saya sangat takut, apalagi lantai kan keras, kalau jatuh, bagaimana? Setakut itu. Setidakpercaya itu pada kawan. Dan ketika semua dipasrahkan, dipercayakan, kepercayaan diri si kawan juga akan naik. Dan, yak! Tangkap! Tubuh saya ditopang oleh kaki dan kedua tangannya. Pesan moralnya adalah: ketika kita percaya antartim, kekhawatiran akan tersingkir. Adegan seekstrim apa pun akan dilalui dengan ringan. Karena secara tak langsung, ada perjanjian untuk saling mendukung. Itu tidak hanya berlaku bagi aktor, tim produksi lainnya juga perlu menanamkan itu.

Ruang sebagai Teks
Sebelum mengikuti proses kreatif bersama Kalangan, anggapan saya tentang teater masih sangat konvensional dan menganggap bahwa ruang teater itu sempit pada panggung sebagaimana yang menjadi panggung pertunjukan pada umumnya. Kita sangat saklek pada hal-hal alamiah yang sebenarnya hal itu bisa dijadikan sebagai teks dan bagian dari pementasan. Hal ini juga saya dapatkan ketika membaca buku Ideologi Teater pada salah satu bab yang ditulis oleh Ibed Surgana Yuga.

Bersama Kalangan, saya dicekoki dengan pandangan baru yang akhirnya membuat saya sepakat bahwa ruang di sekitar kita ini baik tempat, tubuh, maupun suara yang selama ini dianggap sebagai noise atau gangguan, justru adalah sebuah teks yang bisa dimainkan dan direspon. Hal ini yang belakangan selalu dijadikan materi latihan. Misalnya metode-metode latihan yang diberikan oleh Jong dengan mengkolaborasikan antara musik dan gerak, melebur dengan ruang tempat latihan, dan hal-hal di sekitar. Kami jadi terbiasa merespon sesuatu. Irama musik, tubuh, suasana, bentuk pepohonan, corak kulit kayu, dan hal-hal sekitar kami jadikan sebagai partitur untuk menentukan dinamika dalam bergerak. Semua itu adalah teks yang dapat memperkaya cerita.

Setidaknya materi ini yang juga selalu diterapkan dalam tiap produksi Kalangan yang saya ikuti setelah DOR. Mulai dari respon puisi Membaca Pagi karya Wulan Dewi Sarawati, Bebunyian, hingga Buah Tangan Dari Utara.

Proses yang gembira dan melelahkan
Teater Kalangan hadir memberi warna baru bagi teater di Bali. Saya melihat kecenderungan Kalangan dalam tiap produksinya adalah menampilkan bentuk yang eksperimental dan bermain dengan simbol, sehingga untuk dapat memaknainya, kita perlu melakukan pembacaan yang lebih. Untungnya, biasanya akan disediakan booklet untuk memberikan gambaran tentang pentas yang dibawakan.

Dalam proses latihan, saya merasa latihan itu bukan lagi menjadi hal yang enggan untuk dilakukan. Hal itu bukan karena latihannya tidak melelahkan, tetapi karena latihannya menyenangkan. Saya berterima kasih pada Sisir Tanah, sudah menciptakan Lagu Bahagia, karena sejauh ini, lagu itu adalah lagu wajib untuk membuka latihan. Kami semua bergerak dan berjingkrak sesuai irama lagu. Lelahnya mungkin setara dengan lari keliling lapangan tenis Dr Goris sebanyak sepuluh kali, tetapi bahagianya yang berlipat ganda. Tidak ada alasan untuk malas, karena latihan dibuka dengan keceriaan. Rasanya seperti sedang berjingkrak di arena konser!

Hadirnya lagu sebagai pengantar latihan ternyata berhasil memberi energi yang positif. Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa saat di Orok, masih saja ada rasa malas dan enggan untuk pemanasan dengan serius. Ya, karena pemanasannya membosankan. Itu-itu saja. Tidak ada kebahagiaan. Ah, sedih sekali. Latihan yang berat tidak dibuka dengan bahagia. Lelahnya jadi berlipat. Tapi saya bersyukur punya pengalaman di Orok, karena ketika saya bersama Kalangan, saya tidak shock dengan model latihan yang berat.

Masing-masing pementasan bersama Kalangan, punya kesan dan tingkat lelah tersendiri. Monolog DOR, bagi saya berkesan karena merupakan produksi pertama dengan Kalangan dan ibarat pintu yang membukakan jalan untuk saya menjelajah lebih jauh dan membuat pengalaman baru. Lalu, respon puisi Membaca Pagi. Ini lelahnya luar biasa. Menjadi tantangan juga ketika harus bermain di arena yang luas dan mengakrabi segala macam elemen yang ada di sana dengan impresi-impresi gerak. Tembok, pohon, lantai, tiang, bebatuan, semua terlibat karena itu adalah teks. Selanjutnya, Bebunyian. Bebunyian adalah pementasan yang naskahnya murni dari Teater Kalangan yang mengangkat isu tentang Bali. Penggambaran Bali dari masyarakat agraris dan tradisonal hingga berkembang menuju modernitas dengan segala masalahnya. Tantangan baru muncul dalam produksi Bebunyian, sebab yang kami gunakan sebagai panggung adalah sebuah lahan halaman kosong. Sehingga, kami perlu energi ekstra untuk membangun instalasi. Lelahnya tak hanya fisik, tapi juga pikiran, karena wacana yang diangkat adalah wacana besar, sementara media yang dipakai untuk menyampaikan itu adalah melalui visual dan bunyi-bunyi, tanpa dialog. Selain itu, urusan perizinan juga meminta perhatian lebih. Ya maklum saja, karena tempat pementasannya ada di perumahan, dan tetangganya galak. Hahaha..

Dan, yang paling membekas buat saya pribadi adalah Buah Tangan dari Utara, yang ditampilkan 10 Desember 2017 dan mengangkat isu tentang PLTU Celukan Bawang-Singaraja. Satu bulan kami menyiapkannya. Lelahnya jangan ditanya, tapi hasilnya bikin gembira. Penonton tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga partisipan dalam peristiwa yang dibangun di panggung. Sehingga peristiwa itu jadi milik bersama.

Rumah yang selalu terbuka
Teater Kalangan menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin tinggal. Itu sebabnya di awal saya menyebutkan “penghuni” untuk menggambarkan orang-orang yang ada di dalamnya. Tidak ada batasan berapa lama harus menetap, tidak ada keharusan untuk selalu tinggal, semua berhak pergi kapan pun ingin pergi. Tetapi, ketika sudah memutuskan untuk tinggal, harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Menariknya, berada di rumah Kalangan, seperti belajar di ruang kelas yang bebas. Semua bisa menjadi guru sekaligus murid. Karena, penghuninya berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Ada penulis, orang teater, penari, penyanyi, designer grafis, hingga guru sekolahan dalam arti sesungguhnya. Meskipun begitu, semua punya porsi yang sama untuk saling mengejek satu sama lain. Tapi setelah itu, kami masih tetap berkeluarga. Begitulah jalinan ikatan di Teater Kalangan. Terbentuk ikatan yang tidak terbatas pada proses kreatif berteater semata, tetapi juga menjadi lebih personal.

Penghuni yang berasal dari disiplin ilmu yang berbeda juga memberikan keuntungan dalam memperkaya referensi. Tak hanya teater, tetapi juga musik, buku, film, olah tubuh, hingga tempat nongkrong seru, dagang nasi murah, dan banyak lagi. Referensi-referensi itu yang kurang lebih mempengaruhi penemuan baru yang diaplikasikan di Kalangan.

Disiplin
Di rumah ini juga dibangun disiplin dan budaya. Saat kumpul santai, atau istirahat, sah-sah saja kita bercanda. Namun, ketika latihan dimulai, tentu saja harus fokus. Disiplin waktu juga penting, mengingat jadwal dan kesibukan masing-masing yang tak sama. Nah, urusan disiplin waktu itu yang terkadang saya masih kebablasan. Tetapi, lama-kelamaan ada kesadaran yang memang tumbuh dari tuntutan untuk selalu disiplin. Selain tentang disiplin dan fokus, Teater Kalangan juga menyediakan wadah untuk berdiskusi. Di Denpasar, belum pernah saya temui ada budaya diskusi teater yang tumbuh dengan subur. Entah apa penyebabnya. Atau mungkin saja saya yang belum tahu bahwa itu memang ada. Lagi-lagi saya bersyukur akan kehadiran Teater Kalangan, sebab telah memberi wadah muda-mudi ini untuk bertukar pikiran. Meskipun agak melenceng dari jadwal yang diagendakan tiap bulan, tapi ini wajib diteruskan. Begitu pula dengan kepenulisannya. Tapi saya masih kambuhan, sih… Masih harus sering diketok, hehehe.

Teater Kalangan sangat serius dalam membangun kelompoknya. Selain mengutamakan semangat kolektif, di sini masing-masing penghuni juga didorong untuk tumbuh dan berkembang. Yang punya ketertarikan di kepenulisan, didorong untuk terus menulis, begitu pula dengan yang punya interest lain. Ya seperti membangun keluarga sungguhan. Banyak hal yang harus diurus. Manajemen juga mesti dipikirkan. Syukurnya, Kalangan sadar akan pentingnya branding dan pemetaan penonton. Sebagai kelompok profesional, hal tersebut memang sangat perlu dilakukan. Media sosial dan web juga terus di-update. Secara tidak langsung itu adalah cara untuk “menanamkan dan memupuk” Kalangan dalam pikiran pemirsanya.

Harapan ke depan
Selama bersama Kalangan, banyak hal dan mafaat yang saya dapat. Kepekaan terhadap ruang, kemampuan beradaptasi, menjadi tidak bingung ketika dihadapkan pada momen yang “tiba-tiba”, banyak lagi. Menurut saya, bukan hal yang berlebihan ketika saya bilang Teater Kalangan menyediakan menu dengan paket komplit. Belajar bisa, melatih disiplin, latihan bisa, jalan-jalan sambil nonton pentas atau konser bisa, menambah teman, dan banyak hal. Ke depannya, saya berharap ritme yang sudah terbangun di Kalangan, tidak menurun. Juga tetap dengan visi misi, target yang jelas, karya yang makin gila, dan relasi yang kian luas! Semoga energi dari Kalangan juga dapat memberi pengaruh positif bagi kawan-kawan pegiat seni dan jagat perteateran di tanah ini.

Terima kasih untuk pembaca yang betah sampai titik terakhir. Maaf ya, kalau celotehan saya ke mana-mana, semoga tidak merasa percuma karena meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Have a great day, everyone!

Oya, satu lagi: Jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah latihan, pang metaksu!

 

Biodata Penulis
Iin Valentine, seorang penikmat buku, musik, dan penggemar foto. Pertama kali berteater di Teater Orok, Unud. Tahun-tahun yang dihabiskan membuatnya menjadi Ketua Teater Orok selama dua periode dan meraih penghargaan sebagai aktris terbaik dalam beberapa event teater lokal nasional. Tulisan berupa esai, opini, dan ulasan dimuat dalam sejumlah media masa. Kini sembari nyekripsi, menjadi pekerja serabutan di Teater Kalangan sebagai aktor, kadang pimpinan produksi, penulis, properti, dan penonton.

The post Paket Komplit Teater Kalangan: Bermain, Belajar, Bergembira dan Berkeringat Bersama appeared first on BaleBengong.