Tag Archives: Sosial Budaya

Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo

Dunia sihir Mollo dari Dicky Senda di UWRF 2017

Gempita Ubud Writers and Readers Festival 2017 telah berakhir pada penghujung bulan Oktober lalu, akan tetapi kesan dan pesan dari setiap momen yang dilewati masih tersisa hingga kini.

Salah satu yang cukup menarik perhatian khalayak ramai adalah kehadiran salah satu orang muda dari pedalaman Mollo, Timor Tengah Selatan pada festival penulis dan pembaca terbesar di Asia Tenggara itu.

Christian Dicky Senda atau biasa disapa dengan Dicky, lahir pada tahun 1986 di Mollo Utara, salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia seorang penikmat sastra, film, dan kuliner.

Dicky telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya puisi Cerah Hati (2011), kumpulan cerpen Kanuku Leon (2013) dan Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi (2015). Dicky pernah hadir dan memperkenalkan karyanya di Makassar International Writers Festival (2013), Temu I Sastrawan NTT (2013), Asean Literary Festival (2014 dan 2016), Temu II Sastrawan NTT (2015), Festival Sastra Santarang (2015), Bienal Sastra Salihara (2015) dan Literature & Ideas Festival Salihara (2017). Pernah mengikuti program residensi seni dan lingkungan di Bumi Pemuda Rahayu Jogjakarta (2015) dan Asean-Japan Residency Program (2016).

Dicky cukup aktif bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Solidaritas Giovanni Paolo dan Forum SoE Peduli. Dicky kini menggagas kewirausahaan sosial bernama Lakoat Kujawas, sebuah proyek integrasi komunitas kesenian, perpustakaan, ruang kerja, dan homestay di desa Taiftob.

Hadir pada UWRF kali ini, Dicky mengisi empat program menarik di antaranya; Preserving Culture untuk memperkenalkan budaya dan tradisi orang Mollo bersama empat pembicara lainnya di Taman Baca, Ubud. Mempresentasikan Lakoat Kujawas pada Festival Club @Bar Luna. Mendemonstrasikan kemampuannya memasak aneka masakan khas Timor pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Selain itu, Dicky meluncurkan buku kumpulan cerpen ketiganya berjudul “SAI RAI” di Sri Ratih Cottage pada tanggal 28 Oktober 2017 lalu. Peluncuran ini dihadiri oleh banyak pengunjung, baik itu penulis, pembaca maupun juga mereka yang terlanjur penasaran dengan isi buku yang mengangkat fiksi penyihir Mollo ini.

 

Dicky Senda pada program The Kitchen-Food Memories from The Heart of Timor di Toko Toko.

Sai Rai merupakan kumpulan 19 cerita pendek, berkisah tentang dunia sihir orang Mollo yang selama ini mendapat stigma. Sesungguhnya, orang-orang yang disebut penyihir atau Suanggi dalam bahasa setempat adalah orang-orang yang sama seperti masyarakat kebanyakan (di Bali terkenal sebutan “Leak”). Mereka hanya kebetulan memiliki kemampuan tertentu yang membuat mereka terlihat berbeda. Menurutnya ini harus diangkat dan menjadi bahan untuk didiskusikan terutama kaum muda yang selama ini telah hanyut dalam pemahaman keliru.

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya, Suanggi adalah orang-orang yang selalu memberikan energi negatif, mereka pasti orang yang membunuh dan hal buruk lain disematkan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Dicky menemukan bahwa di Mollo ada jenis-jenis penyihir adalah orang-orang baik. Mereka menolong dan menyelamatkan manusia, seperti dukun. Terkadang mereka juga meramalkan nasib kehidupan, baik itu kehidupan manusia maupun juga lingkungan sekitar. Mereka hadir sebagai pengantara spiritual yang menjaga keseimbangan alam dan manusia.

Alex Jebadu dalam bukunya berjudul Bukan Berhala menuliskan, pengantara spiritual berperan sebagai penyembuh ulung dan peramal yang sanggup melihat apa yang terjadi di masa datang dan membaca titipan pesan dari dunia seberang, menyingkapkan pengetahuan mulia dengan kekuatan gaib. Ia juga berperan sebagai pelindung bagi semua anggota masyarakat yang datang kepadanya. Ia merupakan semacam roh pelindung karena ia diyakini berada dalam persekutuan dengan roh-roh dunia. Ia dipandang sebagai yang Ilahi dalam rupa manusia.

Raja-raja dan kaisar-kaisar diyakini sebagai dewa-dewi dalam rupa manusia-mahluk adikodrati. Mereka merupakan pengantara rakyat dengan dunia roh-roh. Dan peran ini telah ada jauh lebih dahulu dari pahlawan yang mengandalkan kekuatan fisik atau pemerintah politis. Praktik keagamaan ini masih terpelihara bentuk aslinya di dalam sejumlah masyarakat tradisional Afrika dan Melanesia. Pengantar spiritual dianggap sebagai mahluk transenden yang mulia, sebuah saluran komunikasi bagi para dewa dan roh-roh untuk berkomunikasi dengan manusia.

Setelah kaum misionaris Katolik masuk dan Kristenisasi terjadi di daratan Pulau Timor, orang-orang yang dipercaya sebagai pengantara spiritual ini justru dipandang sebagai orang yang buruk, yang tidak menjalankan hidup sesuai dengan perintah dan menjauhi larangan Tuhan seperti yang dituliskan di dalam kitab suci.

Belum lagi, isu politik yang berkembang dan mengharuskan warga  Indonesia memeluk salah satu agama yang diakui Negara. Sehingga mau tidak mau, pilihan terbaik untuk bertahan hidup adalah meninggalkan semuanya atau siap dibumihanguskan.

Dicky meyakini bahwa kehadiran para penyihir (Suanggi) atau pengantara spiritual ini telah membuat suatu komunitas/kebudayaan berjalan dengan sangat harmonis. Ia menyebut saat ini adalah sebaliknya, kita malah semakin meninggalkan hal tersebut. Kita berjalan sangat mundur dan dengan bangganya kita mengklaim diri bahwa kita adalah manusia-manusia modern.

Manusia modern sesungguhnya adalah mereka yang selalu memikirkan tentang keberlangsungan alam semesta ini. Menyiapkan tempat yang layak untuk dihuni anak cucu, generasi kita berpuluh-puluh tahun mendatang.

Bagi Dicky, penting untuk menulis hal tersebut dan diketahui banyak orang. Oleh karena itu, sebagai anak muda Mollo, ia merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya.

“Jangan sampai kita terpengaruh oleh stigma yang telah dibentuk oleh kelompok tertentu dan meninggalkan semuanya karena merasa itu adalah pilihan terbaik. Kita akan sangat rugi besar,” Ungkap Dicky

Mengapa orang Mollo sangat hebat dengan dongeng atau cerita-cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat? Karena kecintaan dan keterikatan mereka kepada alam yang begitu kuat. Hal-hal seperti itu yang sudah mulai dilupakan oleh generasi-generasi yang akan melanjutkan kehidupan orang Mollo, mungkin juga ini terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia termasuk di Nusa Tenggara Timur.

Hutan Fatumnasi di Kaki Gunung Mutis. Dok. Herworld

Berbicara tentang kekuatan orang Mollo akan dongeng yang tersebar di antara masyarakat, tidak terlepas dari mitos. Seorang pemikir strukturalis berkebangsaan Perancis, Roland Barthes yang getol mempraktikan model linguistic dan semiology Saussurean mengungkapkan Mitos lahir dari pengalaman kultural dan personal seseorang yang dibentuk sebagai makna konotasi yang kemudian berkembang kembali menjadi makna denotasi atau makna sebenarnya/harfiah.

Salah satu yang bisa menjadi gambaran atau contoh, masih diambil dari salah satu cerpen Dicky Senda berjudul “Kanuku Leon.” Ada sebuah kalimat yang berbunyi; Kenyataan tentang sebuah gunung purba di Timor yang konon menjadi tempat bersemadi seorang raja bernama Fatuneno yang sering berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan sakti. Karena kesaktiannya, ia mampu menikahi matahari dan lahirlah anak-anak dari matahari; si sulung Penguasa Negeri Timur, berikutnya Penguasa Mataair, dan si bungsu Penguasa Gunung Emas. Dengan persetujuan raja langit, raja bumi dan segenap alam semesta, mereka bertiga tumbuh menjadi tiga lelaki berjiwa ksatria.

Secara denotasi, kalimat tersebut hanya menceritakan tentang sebuah gunung purba, seorang Raja yang bisa berganti rupa menjadi manusia dan seekor ayam jantan dan Sang Raja yang menikahi Matahari. Akan tetapi seturut makna konotasi, bagi orang Mollo, Gunung merupakan simbol tempat berlindung bagi masyarakat zaman purba. Tempat di mana sumber rasa aman dan kekuatan. Raja Fatuneno melambangkan seorang pencipta yang mahakuasa dan pemurah serta dapat menjelma dalam banyak rupa, mampu mengendalikan matahari dan alam semesta. Demikianlah mitos berkembang dalam bentuk dongeng di tengah kehidupan masyarakat Mollo, menjadi sebuah kontrol sosial yang mendatangkan keseimbangan dalam keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta secara turun temurun.

Orang-orang Mollo. Dok. Dicky Senda

Dicky berharap, cerita-cerita yang telah ia tulis mendapat tempat di hati dan pikiran para generasi muda, khususnya di NTT. Agar isu-isu seperti ini menjadi akrab di telinga dan masuk ke dalam ruang-ruang diskusi sehingga suatu waktu dapat menjadi pertimbangan oleh pihak tertentu, seperti pemerintah dalam menentukan kebijakan yang mendukung kehidupan masyarakat NTT itu sendiri.

Tentu saja setiap orang bisa memakai caranya untuk kembali ke lingkungan mereka, ke kampung halaman masing-masing. Dicky telah membukanya dengan jalan sastra, teman-teman seniman yang lain atau akademisi mungkin bisa melakukannya dengan caranya sendiri.

Sebuah pesan yang ingin Dicky sampaikan bahwa, “penting bagi orang muda di Indonesia dan NTT khususnya untuk mulai sadar dengan situasi lingkungan di sekelilingnya. Kesadaran tentang, “siapa saya?”

Dalam hal ini, kita berbicara tentang identitas. Roh kita, ke mana saja kita pergi, identitas itu harus selalu dibawa. Sebagai anak muda NTT, kita tidak seharusnya malu dengan kebudayaan kita sendiri.

Pada akhirnya, SAI RAI adalah tentang bagaimana kita memilih jalan pulang untuk kembali ke dalam pelukan ibu semesta. Menemukan siapa kita sesungguhnya dan memaknai itu di sepanjang hidup kita. Sudahkah kamu membacanya?

 

The post Dicky Senda dan Tanggung Jawab Sosial Orang Mollo appeared first on BaleBengong.

Perupa Gorontalo “Lowali De Bali” di Galeri Monkey Forest

 

 

 

 

 

The post Perupa Gorontalo “Lowali De Bali” di Galeri Monkey Forest appeared first on BaleBengong.

Pesamuhan Agung Desa Adat Membahas Rekomendasi Perlindungan Anak

Ketua panitia Pesamuhan Agung Luh Riniti Rahayu, Bendesa Agung MUDP dan prajuru. Foto: Luh De Suriyani

Setelah putusan soal status perempuan dalam perkawinan dan hak waris pada 2010, tahun ini membahas hak perlindungan anak.

Pengurus dan pemimpin desa adat (desa pakraman) di Bali akan membahas upaya-upaya perlindungan anak dalam rapat besar, bertajuk Pasamuhan Agung VI Majelis Desa Pekraman (MDP) Bali pada 15 November di Denpasar. Rapat kerja ini dihelat dengan tema “Penguatan Eksistensi Desa Pekraman Menghadapi Tantangan Global”.

Dalam agenda pembahasan, persoalan yang dibahas dalam rapat komisi dan pleno nanti dibagi menjadi 3 yakni komisi eksistensi desa pakraman sebagai subjek hukum menghadapi tantangan global, komisi evaluasi program MUDP, dan komisi perlindungan anak dalam desa pakraman.

Hal ini dipaparkan ketua MUPD atau Bendesa Agung Jero Gede Suwena Putus Upadesha pada pertemuan dengan media pada Senin (13/11) di sekretariat MUDP, gedung Dinas Kebudayaan Bali, Denpasar. Suwena didampingi ketua panitia Pesamuhan Agung yang untuk kali pertama juga perempuan, aktivis Yayasan Bali Sruti dan staf ahli MUDP Bali Luh Riniti Rahayu. Juga ada pengurus MUDP Bali lainnya seperti aktivis perempuan Luh Putu Anggreni dan penggerak organisasi humanitarian Rotary Ni Nyoman Nilawati.

Menurut Suwena persoalan perlindungan anak menjadi tantangan dalam persoalan pawongan (manusia-manusianya) dalam upaya menegakkan filosofi Tri Hita Karana selain alam (palemahan), dan Tuhan (parahyangan). “Menyangkut generasi ke depan, banyak masalah terkait anak,” katanya.

Luh Riniti Rahayu menyebut persoalan anak adalah persoalan generasi berikut Desa Pakraman di Bali sehingga perlu diantisipasi. “Terkait Manusia Bali, anak-anak harus dilindungi karena terlalu banyak permasalahan. Tapi keputusan MUDP ini tiada gunanya jika tak disosialisasikan,” urainya.

Sementara Luh Putu Anggreni membagi sejumlah usulan yang akan dibahas dalam komisi perlindungan anak di desa pakraman ini adalah terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Misalnya mendorong MUDP membuat contoh perarem atau awig-awig (aturan adat) untuk usia minimal perkawinan 18 tahun, pendidikan pra nikah (menuju grahasta asrama), dan perlindungan anak berhadapan dengan hukum. “Kita harap disepakati soal ini, bagaimana desa adat bersikap pada masalah-masalah seperti ini, bagaimana panduannya,” urai perempuan yang saat ini menjadi Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Denpasar ini.

Kehadiran dan partisipasi perempuan dalam lembaga majelis adat menurut para perempuan ini sangat strategis untuk mendorong sejumlah keputusan populis seperti hasil putusan rapat akbar atau Pesamuhan Agung MUDP Bali 2010 lalu. Saat itu MUDP Bali dalam salah satu keputusannya menyatakan bagian hak waris untuk perempuan, pernikahan mengikuti keluarga perempuan (nyentana) dan pernikahan dengan hak kewajiban setara antara pihak laki dan perempuan (pada gelahang).

Dampak putusan pada 2010 itu menurut Suwena sangat positif karena ada yang mengadopsi dalam kebijakan desa atau menambah perspektif saat ada sengketa penikahan atau perceraian. “Sangat diterima positif, walau masih banyak yang belum menggunakan. Ini sepanjang masyarakat menghendaki, kita tak bisa paksakan,” katanya soal kekuatan putusan Pesamuhan Agung MUDP ini untuk 1493 desa adat/pakraman yang tercatat saat ini di Bali.

Sifatnya imbauan dan rekomendasi. Kalau sama sekali tak ada aturannya, harus digunakan sebagai pedoman termasuk warisan. Ia menyontohkan di Tabanan ada kawin antar kasta, tapi kasta brahmana di pihak calon istri. “Ini bentuk emansipasi perempuan ngajak laki ke rumah diberi status yang sama dengan perempuan,” ujarnya soal kasus yang akhirnya berujung kesepakatan bersama antar keluarga ini.

Sementara untuk sengketa hak waris atau perceraian, pihaknya beberapa kali jadi saksi ahli untuk menjelaskan sesuai keputusan Pesamuhan MUDP.

Pesamuhan Agung berkewenangan mengambil dan menetapkan keputusan strategis terkait permasalahan adat dan hukum adat Bali. Sejumlah masukan dan pemetaan masalah penting yang dihadapi Desa Pakraman dan akan dibahas tahun ini adalah pelaksanaan program tahunan Majelis Desa Pakraman (MDP) Bali, eksistensi Desa Pakraman setelah adanya UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, kedudukan MDP dan pendanaannya, kualitas pengurus Desa Pakraman, subjek hukum atas tanah, dan perlindungan anak.

Riniti Rahayu mengakui tak mudah mendorong desa-desa atau MDP di tingkat kabupaten dan kecamatan segera mengadopsi hasil putusan Pesamuhan ke dalam aturan adat masing-masing karena memiliki otonomi desa.  Pihaknya bersama sejumlah LSM seperti LBH APIK dan pegiat perlindungan perempuan lain kerap membuat workshop dan sosialisasi soal putusan sebelumnya. Putusan ini dinilai cukup progresif sebagai jalan untuk kesetaraan dan keadilan bagi perempuan Bali dalam hak dan kewajiban adatnya.

Misalnya pada sebuah workshop khusus soal hak perempuan ini oleh LSM pada 2015 di Denpasar, AA Sudiana, nayaka atau staf ahli MUDP Bali mengatakan memang ada pimpinan desa adat yang mungkin belum sreg dengan putusan ini namun secara resmi sudah menjadi kesepakatan bersama. “Ini putusan yang responsive HAM dan kesetaraan gender, tapi kenyataannya masih ada subordinasi dalam konstruksi budaya, menganggap perempuan pengekor,” katanya.

Ia mengingatkan Kitab Manawa Dharmasastra menyebutkan sangat jelas perempuan sangat dimuliakan dan dihormati. “Di mana wanita dihormati, di sanalah para dewa merasa senang, tak dihormati tak ada upacara suci apa pun yang berpahala,” kutipnya.

Salah satu kesadaran yang belum sepenuhnya muncul di pengurus desa pekraman adalah adat yang difungsikan tak responsive gender. “Keturunan kapurusa (patrilineal) dikonstruksi sebagai laki-laki padahal maknanya tentang kewajiban. Konsekuensinya, hanya laki-laki yang dianggap bisa bertanggungjawab secara adat dan agama. Ia menegaskan bisa saja status kapurusa ini perempuan kalau statusnya sentana rajeg,” jelasnya. Artinya perempuan juga berhak bertanggungjawab dalam hubungan dengan tempat suci (parahyangan), kekerabatan (pawongan), dan palemahan atau pengelolaan aset. Kecuali perempuan ninggal kedaton penuh atau menikah dan berganti agama.

Menurutnya tak sedikit kearifan lokal yang bisa jadi pertimbangan untuk distribusi waris secara adil ini. Misalnya paras paros atau kebersamaan dalam hak dan kewajiban, prinsip asih, asah, asuh dan sesana manut linggih atau hak sesuai kedudukan yang dimiliki.

Keputusan MUDP pada 15 Oktober 2010, menyatakan sejumlah hal dalam kedudukan perempuan dalam perkawinan dan pewarisan. Di antaranya suami istri dan saudara laki-laki mempunyai kedudukan yang sama untuk jamin anak dan cucunya untuk memelihara termasuk kekayaan imateriil seperti pura. Punya hak yang sama terhadap hak guna kaya. Selama dalam perkawinan, suami dan istrinya mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta gunakaya/gono-gini.

Anak kandung dan angkat baik laki atau perempuan yang belum kawin punya kedudukan yang sama terhadap gunkaya orang tuanya. Berhak atas harta gunaya setelah dikurangi sepertiga sebagai duwe tengah atau harta bersama.

Yang belum bisa diimplementasikan secara formal di antaranya anak yang mengikuti keluarga bapaknya (kapurusa) berhak atas satu bagian waris dan yang berstatus predana (mengikuti keluarga perempuan) berhak setengah bagian. Anak yang kawin dan pindah agama tak berhak atas harta warisan namun dapat diberikan bekal atau gunakaya oleh orangtuanya.

Kemudian putusan soal status perkawinan juga memberikan jalan tengah. Di antaranya upacara patiwangi (karena turun kasta/nyerod) tak boleh lagi dilaksanakan karena merugikan perempuan. Jika kedua mempelai ingin punya status kapurusa dan predana yang sama bisa melaksanakan dengan status pada gelahang dengan dasar kesepakatan bersama. Ini biasanya terjadi jika tak bisa nyentana. Desa Kekeran, Tabanan adalah salah satu desa yang sangat terbuka dengan model pada gelahang seperti ini.

Keputusan dalam perceraian juga dibuat. Misalnya bila bercerai bisa kembali ke rumah dengan status mulih daa/teruna (remaja) dan dapat melakukan swadarma dan haknya seperti biasa.

 

The post Pesamuhan Agung Desa Adat Membahas Rekomendasi Perlindungan Anak appeared first on BaleBengong.

Nosstress dan Solidaritas Keberagaman di Anugerah Jurnalisme Warga Balebengong 2017

 

Citizen Journalism Awards 2016/Foto Anggara Mahendra

Merayakan keberagaman di Anugerah Jurnalisme Warga tahun ini.

BaleBengong dan 11 media jaringan komunitas dan warga di Indonesia menghelat Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) tahun 2017. Puluhan karya dari warga berkompetisi membuat karya dengan topik Bhinneka Tunggal Media, Merayakan Keberagaman Indonesia melalui jurnalisme warga.

Mereka adalah Lingkar Papua (Papua), Kampung Media (NTB), Kabar Desa (Jawa Tengah), Plimbi (bandung), Kilas Jambi (Jambi-Sumatera), Tatkala (Buleleng-Bali), Nyegara Gunung (Bali), Nusa Penida Media (Klungkung-Bali), Sudut Ruang (Bengkulu), Peladang Kata (Kalimantan Barat), dan Noong (Bandung).

BaleBengong adalah portal jurnalisme warga di Bali dan merintis AJW pada 2016. Sejak tahun 2007, BaleBengong hadir sebagai media alternatif di tengah derasnya arus informasi dari media arus utama. Dalam portal ini warga bebas menulis atau merespon sebuah kabar. Warga tidak hanya menjadi obyek, tetapi subyek berita.

CItizen Journalism Awards 2016/Foto Anggara Mahendra

Tahun ini ada sejumlah penghargaan diberikan pada pewarta warga yang mengirimkan karyanya ke Balebengong dan 11 media lainnya. Dalam AJW yang dihelat Minggu malam (5/11) ini, juga akan dihelat diskusi bertajuk “Menjaga Privasi, Merayakan Kebebasan Berekspresi” dengan narasumber Sofia Dinata (aktivis LGBT), Sugi Lanus (Hanacaraka Society), dan Dewi Widyaningrum (ICT Watch/Internet Sehat).

Untuk mengguyubkan suasana, pengunjung diajak makan bersama atau megibung. Penganugerahan AJW 2017 akan dibawakan secara dramatikal oleh Teater Kalangan, kelompok lintas grup teater dihidupkan oleh anak-anak muda yang sangat produktif.

Made Adnyana Ole, pengelola Tatkala.co yang juga juri AJW 2017 menyebut kegiatan ini sudah menjadi semacam cita-cita. Bagi para penggelut jurnalisme warga lain, baik selaku pengelola portal, blog, atau kontributor. “Mereka, para penulis dan jurnalis warga itu memang layak diberi penghargaan,” katanya. Karena meski tak dapat honor dan digaji, justru seringkali nilai berita atau peristiwa yang mereka tulis jauh lebih penting dari penulis atau jurnalis di media umum.

“Dari situlah saya mendapat rumusan tentang jurnalisme warga. Bahwa warga di sini bukan jadi jurnalis sebagaimana jurnalis yang bekerja di industri media, melainkan mereka bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan untuk bercerita tentang apa saja yang mereka lihat, dengar dan pikirkan,” papar pria penulis ini.

Jika wartawan bekerja dengan batasan nilai-nilai berita sesuai dengan karakter media tempatnya bekerja, maka jurnalis warga menurut Ole mungkin saja menulis hal-hal tak bernilai di mata umum. Tapi mereka memasukkan nilai pada tulisan dengan cara mereka.

Ary Pratiwi dari Nyegara Gunung menyebut kesempatan ini juga mendorong warga pesisir menyuarakan perspektif mereka tentang keberagaman dari sudut pandang darat dan laut yang tak terpisahkan.

Band Nosstress, trio folk cum aktivis terlibat dalam AJW tahun ini. Nyoman Angga, personil band Nosstress punya harapan terkait gerakan jurnalisme warga di Indonesia ini. “Media yang memberi pembinaan pada warga, untuk bisa mewartakan berita penting, berguna, dan tentu bebas dusta. Dunia pasti jauh lebih baik jika warganya tidak mudah hanyut oleh hoax, apalagi sampai juga menjadi agen hoax,” katanya.

Oh, Ini Bukan Nosstress? Foto: Dok Nosstress

Warga menurutnya punya posisi penting mewartakan hal keseharian seperti kesehatan dan pendidikan. “Misal ada guru merasa kini sekolah bagai pabrik kapitalis penghasil produk, itu ditulis. Pasti asyik, dan membangkitkan gejolak ikut bicara di masyarakat,” harap Angga.

Hal paling sederhana dan penting juga menurutnya jika Ibu-ibu mewartakan update harga bahan pokok dan di mana termurah, agar hidup rumah tangga menjadi hemat dan bahagia.

Sementara untuk Gunawarma Kupit, juga dari Nosstress, semangat jurnalisme warga ini adalah gerakan kolektif. “Musik Nosstress kan berangkat dari komunitas, dan gerakan jurnalisme warga adalah salah satu kunci yg mengiringi perjalanan kami,” tuturnya.

Usai menelurkan dua album penuhnya, Perspektif Bodoh I (2011) Perspektif Bodoh II (2014), serta album kolaborasi bareng Mitra Bali Fair Trade berjudul “Viva Fair Trade” (2015), trio musisi ini meluncurkan album bertajuk “Ini Bukan Nosstress”.

Secara materi, lagu-lagu mereka kali ini hadir secara personal. Masing-masing lagu, diciptakan hingga kemudian dilantunkan langsung oleh sang empunya, tidak lagi bertiga. Itulah mengapa mereka tak ingin menyebut album ini sebagai bagian dari album Nosstress.

Ada 9 lagu yang disuguhkan Angga, Kupit dan Cok yang masing-masing melahirkan 3 buah lagu. Di album ini juga menghadirkan beberapa sahabat musisi berkolaborasi. Mereka adalah Dadang SH. Pranoto (Dialog Dini Hari, Navicula) yang juga berperan sebagai produser album ini, Deny Surya (Dialog Dini Hari), Sony Bono, WayanSanjaya, Windu Estianto, FendyRizk dan Dony Saxo.

Perhelatan AJW tahun ini juga dirangkaikan dengan peringatan 10 tahun Bali Blogger Community (BBC), yang kelahirannya setelah BaleBengong pada 2007 dan turut mengelola secara bersama sampai kini. AJW didukung dengan dukungan publik melalui sejumlah donasi dari KitaBisa, bazzar sembako dari desa-desa di Bali, dan lainnya. “Untuk menyemai semangat keberagaman tak hanya etnis juga ide, suara-suara dari berbagai sudut nusantara,” seru Desak Putu Diah Dharmapatni dari BaleBengong.

 

 

 

The post Nosstress dan Solidaritas Keberagaman di Anugerah Jurnalisme Warga Balebengong 2017 appeared first on BaleBengong.

Dua Seniman Bali Raih UOB Painting of the Year 2017

Dua perupa Bali bersama penerima UOB Painting of The Year 2017 lain di Jakarta.

Pencapaian ini diharapkan menjadi titik awal bagi perkembangan seni rupa di Bali.

Dua perupa dari Bali berhasil meraih penghargaan Gold Award  dan Bronze Award untuk kategori seniman professional pada perhelatan kompetisi seni lukis UOB Painting Of The Year tahun 2017. Citra Sasmita dengan judul lukisan “Old Mountain and Imaginary Pilars” meraih Gold Award UOB Painting of The Year 2017 sedangkanI Wayan Arnata dengan lukisan berjudul “Footprints” meraih Bronze Award.

Citra Sasmita dengan judul lukisan “Old Mountain and Imaginary Pilars”.

Melalui karya “Old Mountain and Imaginary Pilars”, Citra Sasmita mengangkat tema tentang subordinasi perempuan dalam budaya patrilineal. Tidak hanya di ranah sosial, melainkan juga di seni rupa itu sendiri di mana posisi seniman perempuan kerap kali dianggap tidak mampu bersaing dengan seniman pria.

Secara lebih luas, dalam karyanya, Citra juga mengangkat imaji budaya patrilineal tersebut melalui simbol-simbol dalam kebudayaan timur, seperti imaji gunung yang melambangkan sifat maskulinitas dari kebudayaan tersebut.

Sementara itu, seniman I Wayan Arnata melalui lukisan “Footprints” mengangkat tema perjalanan untuk mengenal diri sendiri melalui proses berkesenian. Arnata menjelaskan bahwa sebuah perjalanan akan mengantarkan manusia untuk menemukan jati dirinya sekaligus sampai pada titik kebijaksanaan di mana semua itu dapat nampak melalui karya yang dihasilkannya.

Melalui teknik tradisional Bali yaitu ‘ngodi’ Wayan Arnata melukis dengan menggunakan benang yang direkatkan di atas permukaan kanvasnya.

I Wayan Arnata melalui lukisan “Footprints” mengangkat tema perjalanan untuk mengenal diri sendiri melalui proses berkesenian.

Citra Sasmita merupakan seniman kelahiran tahun 1990 yang berasal dari Tabanan, selama ini karya-karyanya banyak terinspirasi dari tema perempuan dan kritik atas budaya partiarkhis. Karya-karyanya cukup banyak melukiskan tema kekerasan sosial dan budaya yang harus dialami kaum perempuan dalam memperjuangkan hidupnya dalam sistem kebudayaan.

Sementara itu I Wayan Arnata berasal dari Sukawati, Gianyar. Ciri khas dari lukisannya adalah teknik ‘ngodi’ yang menggunakan benang sebagai medium untuk melukis. Teknik tersebut diperolehnya dari mendiang kakeknya yang merupakan seorang sangging (seniman ornament tradisional Bali).

Tahun ini merupakan penyelenggaraan UOB Painting of The Years Indonesia yang ketujuh kalinya, dimulai sejak tahun 2011. Selama ini sayangnya seniman dari Bali belum ada yang berhasil menjadi pemenang, meskipun beberapa kali ada yang berhasil masuk menjadi nominasi.

Ternyata, pada tahun 2017 ini, dua seniman Bali sekaligus berhasil menjadi pemenangnya. Meskipun belum terpilih menjadi pemenang utama UOB Painting of The Year. Pencapaian ini harapannya dapat menjadi titik awal bagi perkembangan seni rupa di Bali, sekaligus dapat mendorong seniman-seniman lain dari Bali untuk memberanikan diri mengikuti kompetisi-kompetisi seni agar dapat mengangkat nama Bali di kancah seni rupa kontemporer Indonesia.

 

Daftar pemenang UOB Painting of the Year

Kategori professional artist
Painting of The Year – Kukuh Nuswantoro (Yogyakarta)
Gold Award – Citra Sasmita (Bali)
Silver Award – Decki Firmansyah ( Yogyakarta)
Bronze Award – I Wayan Arnata (Bali)

Kategori Emerging Artist
Most Promising Artist of The Year – Alvian Anta Putra (Yogyakarta)
Gold Award – Galih Reza Suseno (Yogyakarta)
Silver Award – Bambang Nurdiansyah (Yogyakarta)
Bronze Award – Anis Kurniasih (Solo)

The post Dua Seniman Bali Raih UOB Painting of the Year 2017 appeared first on BaleBengong.