Tag Archives: Sosial Budaya

Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca

Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik dan plastik.

Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis.

Tiga puluh April 2019 lalu, Taman Baca Kesiman (TBK), memperingati hari kelahirannya, lima tahun hadir di serambi kiri kota Denpasar. Peringatan diisi dengan menggelar acara unik, Pesta Baca. Sebuah pesta yang ‘menjamu’ para penyuka baca, melalui saling-silang pendapat, tentang buku yang dibaca, disukai, diapresiasi, dan secara literasi menginspirasi si pembaca menjadi sebuah aksi. Paling tidak untuk dirinya sendiri.

Barangkali Pesta Baca ini pesta perdana yang pernah digelar di tanah Bali. Tujuannya semacam memberi penghargaan kepada kaum pembaca secara adil merata dan setara. Karena selama ini yang banyak diberikan penghargaan kebanyakan penulisnya. Bukankah setiap karya buku yang ditulis, pasti menghendaki adanya sang pembaca?

Melalui Pesta Baca, Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca memang layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis. Membaca adalah sebentuk upaya aktif seseorang ‘bergaul’ atau berdialog dengan pikiran penulis, berkesinambungan, menguras tenaga dan pikiran untuk mencerna bacaan. Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik, dan plastik.

Asal usul Pesta Baca

Acara Pesta Baca di TBK ini bermula dari obrolan di meja makan, di rumah Batan Buah Kesiman, bersama keluarga saat merayakan hari Nyepi. Nyepi kita jadikan tradisi guyub keluarga karena satu-satunya momen terindah yang mampu ‘mendiamkan’ kita yang tinggal di Bali dari hiruk-pikuk kehidupan global yang kian menjauhkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Hanya Nyepi kita bisa ngobrol intim tidak terinterupsi oleh internet dan handphone.

Ketika itu saya lontarkan pertanyaan, punya ide nggak, untuk Ultah ke-5 Taman Baca Kesiman? Semuanya semangat sambil meraba-raba ide yang baik dan pas. Lalu, Termana mengusulkan ide PESTA BACA. Semua yang hadir menyambut baik ide tersebut, dan minta Termana menggambarkan wujud kongkrit ide pesta baca itu. Termana menjelaskan, bahwa pada Pesta Baca itu para penyuka Baca dihadirkan pada sebuah panggung kontestasi. Dua pembaca laki dan perempuan tampil, ini penting, agar tidak dominan laki-laki aja. Hal ini sejalan dengan moto TBK, bhineka dan setara.

Penjelasan Termana ini menjadikan curah pendapat Nyepi semakin hangat, dan langsung bentuk panitia kecil yang tediri dari saya, Bu Hani, Carlos, Termana, Ika, Jung Hadhi, dan Fenti. Kemudian diskusi lanjut dengan ide-ide acara tambahan selama Pesta Baca berlangsung seperti Kaos Keos Art, lapak buku, dongeng, musik, dan kuliner lokal.

Disepakati Pesta Baca digelar tiga hari, mulai dari t30 April 2019 hingga 2 Mei 2019. Ini momentum yang baik untuk melangsungkan Pesta Baca, karena pada tanggal itu ada hari-hari bersejarah. Pada 30 April adalah tanggal wafatnya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Sementara 1 Mei hari Buruh, dan 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, pas lah sudah. Dan hal ini semakin menambah semangat mengeksekusi ide Pesta Baca. Saking semangatnya, diskusi pun sampai pada perihal bagi tugas, siapa melakukan apa, terkait Pesta Baca. Ada yang mendapat tugas menghubungi narasumber, pengisi acara selingan Pesta Baca, konsumsi, kemudian pengisi pidato Kebudayaan, dan lainnya.

Nah ketika pembicaraan terkait rencana acara Pidato Budayaan, saya usulkan untuk tidak menggunakan istilah Pidato Kebudayaan. Saya usulkan pakai istilah lokal: Sobyah Budaya. Saya pikir istilah Pidato Kebudayaan terlalu formal, elitis, serius, resmi, dan serem, kurang pas dengan suasana Taman Baca Kesiman (TBK). Bercermin dari pengalaman sehari hari, kehadiran pengunjung TBK, hampir semuanya kelihatan informal dan santai, tidak terkait dengan tetek bengek aneka formalitas.

Kemudian setelah hari Nyepi, pertemuan panitia kecil berlanjut, dan tampaknya kepanitiaan harus diperbesar, karena kita ingin mendapat masukan dari berbagai kalangan dan persepektif agar acara menjadi lebih beragam, lancar dan sukses. Panitia kecil kemudian membuat group WA Pesta Baca dengan tambahan tambahan personel antara lain Bang Roberto, Luhde, Anton, Made Mawut, Ini Timpal Kopi, Daivii ditambah beberapa tenaga relawan seperti Riang, Teja, Bayu, Gilang. Kehadiran group WA Pesta Baca, semakin menjadikan komunikasi dan koordinasi tugas serta informasi semakin lancar, cepat dan mantap.

Lewat grup ini pula acara Pesta Baca semakin mengerucut dan pasti, antara lain Sobyah Budaya, Baca Adalah Nyawa, Lapak Baca, Kaos Keos Art, Dongeng dan Musik.

Sebagai langkah awal, kita merancang desain banner dan poster untuk dimunculkan di media sosial. Untuk desain banner, ada usulan dari Carlos untuk minta bantuan designer perempuan yang sudah banyak melahirkan karya- karya cantik dan menarik perhatian publik, namanya Ivana Kurniawati. Astungkara, Ivana Kurniawati putri Kalimantan yang bermukim di Thailand, dengan senang hati siap support desain untuk Pesta Baca.

Sobyah Budaya

Rencana awal Pesta Baca, untuk Sobyah Budaya diisi tokoh lokal, namun dalam perkembangannya, ada usulan agar Sobyah Budaya diisi tokoh nasional. Pertimbangannya karena kita ingin Pesta Baca tidak hanya untuk masyarakat lokal saja, kita ingin Pesta Baca menyeberang ke wilayah nasional dan bila perlu internasional. Karena kami berkeyakinan Pesta Baca ini ide dan acara baik, segala yang baik untuk kehidupan mesti menyebar ke segala penjuru. Sekalian mengenalkan TBK sebagai tempat paling asyik untuk bertegursapanya aneka perbedaan di Nusantara. Dan ini sesuatu yang nyata, tidak sekadar wacana saja.

Awal April saya dan Bu Hani melakukan perjalanan bisnis ke Blora Jawa Tengah. Nah, disini pula muncul keinginan mengunjungi rumah pujangga besar Indonesia yang disingkirkan Orde Baru Pramoedya Ananta Toer (alm). Kami mampir ke Pataba (Perpustakaan Anak Semua Bangsa) milik keluarga Pram di Jln. Pramoedya Ananta Toer, Blora.

Syukur alhamdulilah, kami bertemu dengan Ibu Soesilo Toer, kami dipersilakan duduk dan disajikan segelas air putih. Selang beberapa menit muncul Pak Soesilo Toer yang dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran kami. Setelah ngobrol panjang, kami sampaikan pada beliau bahwa kami bermaksud mengundang beliau hadir pada perayaan Lima Tahun TBK. Dan kami ingin beliau mengisi acara Sobyah Budaya. Syukur alhamdullilah, Astungkare, beliau menyatakan bersedia hadir. Woooo bukan main senangnya hati kami berdua, bak merasa mendapat dua truk durian runtuh. Beliau juga senang, karena cita-cita beliau sejak lama ingin tahu Pulau Bali dan kebetulan tanggal 30 April adalah tanggal wafatnya Pramoedya. Saya pikir Bpk. Soesilo Toer adalah sosok yang paling pantas mengisi Sobyah Budaya, karena beliau salah seorang putra terbaik bangsa yang lolos seleksi masuk universitas di Russia di era Presiden RI Bung Karno. Setelah tamat beliau pulang ke Indonesia dan ingin menyumbang keahliannya untuk Indonesia. Beliau juga seorang pejuang dan cinta Indonesia, dan sadar betul setelah tamat harus kembali mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

Namun apa lacur, begitu tiba di tanah air, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh kepala suku rezim Orde Baru, Soeharto. Beliau penulis yang produktif, hidup sederhana, dan banyak menterjemahkan karya-karya berbahasa Russia. Dan inilah sosok pribadi yang tepat dan pantas kita dengar dan kita simak bersama lewat Sobyah Budaya.

Baca adalah Nyawa

Dua-tiga tahun terakhir di bali sempat populer lagu Bali berjudul: Tuak Adalah Nyawa. Lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak, remaja dan orang dewasa, baik di desa maupun di kota. Jujur saya katakan lagu ini bagus, karena nadanya gembira, namun kurang pas di hati karena judul dan liriknya tidak mendidik, terutama untuk anak-anak dan remaja. Saya khawatir lagu ini bisabisa menjadi alat pembenar untuk anak- anak mengonsumsi alkohol.

Sebagaimana kita ketahui Bali tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Banyak hal mesti dibenahi, apalagi Bali dengan industri pariwisatanya, yang kurang senang dengan pemikiran kritis. Pariwisata membangun zone nyaman yang dalam banyak hal sering diterjemahkan apolitis atau “sing demen ruwet”. Dengan istilah Baca adalah Nyawa, akan bisa menggiring opini publik beralih dari tuak ke bacaan.

Dari menyukai tuak menjadi minat baca, begitulah idealnya. Melalui Pesta Baca dan Baca adalah Nyawa, berharap langkah kecil ini bisa menjadi alat tepat untuk mengusir picik serta fanatisme sempit warga dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk di Bali dan Indonesia.

Acara Baca adalah Nyawa, berdurasi 2.5 jam, terdiri dari dua sesi, sesi pertama dan kedua. Setiap sesi ada pemandunya, dan pemandu adalah orang-orang yang diseleksi dan dianggap mampu membangkitkan suasana cair sambil memberi highlight pada pesan-pesan dari buku yang dipestakan. Masing masing sesi diisi penyuka baca laki, perempuan dan transgender.

Masing- masing menceritakan buku apa yang dibaca, dan yang berpengaruh atau berkesan bagi dirinya. Kenapa buku itu begitu menginspirasi? Barangkali mendorong si pembaca untuk melakukan perubahan? Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens yang hadir. Nah disinilah arti Pesta Baca yang diharapkan terjadi proses pembelajaran sekaligus merangsang minat baca warga. Apalagi sang pembaca adalah orang- orang yang cukup mumpuni di bidangnya sehingga Baca adalah Nyawa memang benar- benar bernyawa dalam membangun semangat baca warga.

Lapak Baca

Ini acara tambahan yang saya pikir penting dan masih dalam satu paket acara Pesta Baca. Lapak Baca ini memberi ruang kepada para pelapak buku dan perpustakaan keliling untuk menampilkan, baik karya buku yang komersial maupun buku yang sekedar dipajang untuk dibaca gratis. Ini penting karena lewat Lapak Baca ini mendorong orang2 yang hadir pada pesta baca untuk lihat- lihat buku yang sedang hangat dan banyak dibaca orang. Barangkali ada yang tertarik membeli buku baik dari buku yang sedang dibicarakan maupun buku diluar dari yang sedang dipestakan aau buku-buku lain yang punya daya tarik tersendiri.

Kaos Keos Art

Saya menyebutnya Kaos Keos Art. Saya mengkoleksi banyak baju kaos yang sarat dengan pesan pesan perlawanan atau ketidakpuasan dengan kebijakan penguasa. Pada kaos itu kita bisa lihat bentuk perlawanan rakyat sehari- hari bergelut dengan ketidakadilan. Saya berfikir jika kaos ini dipajang dalam jumlah banyak pasti kelihatan seni dan orang bisa belajar dari pesan- pesan yang tertera pada baju kaos.

Sering kita baca di media massa ada orang ditangkap aparat karena pakai kaos bertuliskan Bali Tolak Reklamasi, ada bule yang pakai kaos palu arit terpaksa harus berurusan dengan apparat. Ternyata baju kaos bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi baju seni baik desain maupun pesannya dikemas artistik dan mampu bikin penguasa “keos”. Kaos Keos Art ini ingin menyampaikan pesan kepada publik. Inilah ekspressi jujur dari rakyat, jujur karena benar, dan benar menjadikan dia indah. Ini pula realita yang mesti disimak dan ditindaklanjuti penguasa.

Dongeng

Bali punya tradisi mendongeng. Saat ini kegiatan mendongeng semakin jarang, karena dunia saat ini dijejali hiburan modern, dan juga manusia semakin sibuk, hubungan kekerabatan yang dulunya guyub kini mulai menjauh dan cenderung lepas dari ikatan komunal atau guyub. Acara mendongeng disediakan untuk menghibur pengunjung yang bawa anak-anak. Harapannya kegiatan mendongeng ini bisa menarik pengunjung dan tradisi mendongeng bisa bangkit kembali tentunya dengan kemasan yang lebih memikat pengunjung.

Musik

Acara musik ini ditangani oleh Made Maut dan Carlos. Para musisi ini hampir semuanya adalah musisi yang punya sikap dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Dan hampir semuanya apresiatif dengan keberadaan TBK sebagai melting pot budaya dan gerakan sosial di Bali. Mereka semua mau berkontribusi tampil gratis sambil ikut mendukung dan menyimak opini-opini yang mengalir pada sesi Baca adalah Nyawa. Musisi hadir dengan musik dan lirik ciptaannya yang dipentaskan pada saat jeda acara untuk merelaksasi otak dalam berpesta baca.

Pada acara musik ini juga terjadi dialog seni antara musik dan puisi. Selagi musik dimainkan diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair yang hadir dengan spontanitas.

Yang jelas dan tak kalah pentingnya, bahwa acara Pesta Baca adalah acara swadaya dan swakelola dari inisiatif lokal, memaksimalkan produk lokal, untuk lokal, nasional dan internasional, tanpa harus sibuk mengorbankan alam dan budaya Bali untuk Pariwisata.

Terima kasih kepada seluruh tim TBK, tim Pesta Baca, para pengisi acara, pembaca, moderator, pencatat, musisi, pendokumentasi, pelapak buku, dan lainnya. Peminjaman baju kaos, pengunjung dan semua pihak yang mendukung acara Pesta Baca TBK April lalu. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan selama acara. Sampai ketemu pada acara Pesta Baca, April 2020.

The post Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja

Waktu kuliah seni rupa di Bali, kesal rasanya jika yang dibicarakan adalah pencapaian estetika yang merupakan pencapaian keindahan melulu.

Tembok medium seksi untuk menyampaikan pesan karena posisinya strategis bagi publik. Foto Komunitas Pojok.

Pemaknaan Bali yang indah ala Mooi Indie (Indonesia yang molek) ala Belanda masih menjadi pencapaian terhebat.

Iya, itu penting, tapi seni beserta estetikanya saya yakini sebagai metode menyampaikan suatu isu-isu krusial sosial juga. Menemukan mural-mural di tembok yang mengkritik keadaan Bali pun tidak jarang, lalu kenapa kita tidak membahasnyal di kelas, dan malah isu sosial menjadi semacam tabu?

Misal, saat diberi tema melukis tentang ekonomi di studio lukis, saya melukis tentang korupsi dibanding teman-teman yang melukis tentang kemiskinan dengan pencapaian estetika maksimal. Dosenku bilang apa? “Kenapa harus tentang korupsi yang terlalu berat, ga bisa ngelukis kayak temanmu tentang kemiskinan.” Seriously, pak? Kemiskinan lebih indah dari korupsi, gitu?

Itu cerita 10 tahun yang lalu. Bagaimana hari ini? Di bangku kuliah saat ini, saya kurang tahu apakah ceritanya masih sama. Tapi di luar sana, saat kampanye Pemilu gencar beberapa bulan lalu, salah satu baliho kampanye seorang kandidat Bali adalah kata-kata “Restorasi Bali.” Hmmmmm… apa sih sebenarnya yang ingin direstorasi? Keindahan Bali demi kesehatan ekonomi pariwisatanya yang kian terkikis? Bali sudah kian banyak berubah, beradaptasi, berakulturasi, dan tereksploitasi.

Namun, juga bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh yang baik untuk hal yang baik untuk bangsa kita. Misalnya kehadiran bank sampah plastik di setiap Banjar setiap minggu pagi, peraturan kota yang meniadakan penggunakan plastik di toko-toko dan restoran, sampai supir online pengantar makanan memiliki totebag sendiri.

Di Bali lah saya mengenal istilah Rwa Bhineda – bukan bermaksud spiritual, cuma ini satu konsep yang masih tidak bisa diterima banyak orang. Kenyataannya, dengan banyaknya informasi hari ini melalui berbagai sumber, baik dan buruk sangat berdekatan.

Di pemahaman Rwa Bhineda, bahwa ada dua sisi di segala hal dan kedua sisi itu harus seimbang, maka itulah satu pencapaian kehidupan yang patut dijalani. Jadi baik dan buruk memang sudah seharusnya berdampingan, dan aku rasa itu spirit yang diterapkan bahwa di saat kita merusak maka berbenah adalah penyeimbangnya.

Lalu di skena kesenian, Bali Yang Binal akan hadir untuk kedelapan kalinya. Baru ini saya baca bahwa perayaan kesenian yang Binal, mengkritik Biennale Seni di Indonesia tidaklah terjadi di Bali saja. Sudah pernah terjadi di Jawa, dimana ada perlawanan terhadap perlehatan Biennale yang hanya fokus dengan seni lukis saja.

Di Bali sendiri, Bali Yang Binal hadir untuk mengkritik kehadiran Bali Biennale pada tahun 2005 karena adanya keberpihakan terhadap perupa-perupa yang berpameran. Nama Bali Yang Binal memang menjadi parodi-nya Bali Biennale dan terdengar lebih menggelora.

Bali Yang Binal merupakan protes secara estetika dan menggunakan baliho serta tembok sebagai media untuk menggaungkan seni di ruang publik dengan mengangkat isu sosial sebagai temanya. Maka Bali Yang Binal saya lihat sebagai penyeimbang yang terus hadir untuk publik. Ini lho juga kesenian Bali, membahas isu sosial dan tidak melulu tentang keindahan.

Tema yang diangkat Bali Yang Binal ke-8 tahun ini adalah Energi Esok Hari. Satu hal yang sangat krusial dibicarakan belakangan ini. Keadaan Bali yang makin padat dan masih menjadi sumber pendapatan, dipermainkan menjadi tempat nyaman untuk pengusaha besar.

Tidak semua menolak keberadaan PLTU Celukan Bawang di Buleleng, satu contoh yang dibahas di Energi Esok Hari. Tapi penggunaan batubara sebagai sumber energi tidak bisa diperbaharui, asapnya tidak sehat untuk mahluk hidup dan melukai bumi pertiwi beserta warga sekitar sumbernya. Maka Bali Yang Binal akan menghadirkan hal krusial ini, yang cenderung tidak banyak dibicarakan.

Bali Yang Binal yang mengkritik keberadaan perlehatan seni Biennale di Bali akhirnya berlangsung lebih lama dari Biennale itu sendiri. Biennale tahun 2005 yang kemungkinan besar diadakan oleh pihak elit ternyata terjadi sekali saja. Apakah kehadiran Bali Biennale saat itu semata-mata kepentingan? Bali Yang Binal menjadi pengingat Bali bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh baik untuk bangsa kita.

The post Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja appeared first on BaleBengong.

Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca

kaos2/ka·os/ n keadaan kacau-balau. (https://kbbi.web.id/kaos-2-)

“Arak Connecting People” sebuah kalimat di salah satu kaus, plesetan dari salah satu raksasa telekomunikasi. Di awal kemunculan telepon genggam menjadi merek yang menghiasi tangan, telinga, dan saku masyarakat. Merek ini awalnya begitu berjaya, tetapi akhirnya limbung dan kini entah ke mana.

Toh, jargon dalam kaus tersebut masih mudah ditemui dalam lingkaran pergulan hingga kini.

Arak merupakan salah satu alkohol lokal. Minuman ini berhasil membuat lingkaran-lingkaran yang melahirkan obrolan konyol hingga perbincangan serius. Dari persoalan ringan koin jatuh hingga persoalan berat tentang negara bahkan agama.

Lingkaran-lingkaran yang tidak berhasil dibentuk secara turun temurun, bertukar pendapat hingga gagasan. Jauh sebelum merek yang mengklaim menghubungkan orang tersebut hadir dan semakin memisahkan setiap individu dalam ruang-ruang privat. Ruang yang membuat kebijakan publik pun menjadi urusan personal masing-masing, dan harus diselesaikan sendiri-sendiri.

Baju kaus tersebut tentu tidak hadir hanya sekadar memplesetkan sebuah jargon, tapi menggambarkan bagaimana jemawanya sebuah perusahaan mengklaim dirinya begitu berjasa menghubungkan setiap orang. Sementara ada hal kecil seperti arak (dan alkohol lokal lain seperti tuak, sopi dll) yang lebih dahulu melakukannya dan tentu saja menghubungkan dalam arti sebenarnya.

Tidak hanya sebuah suara ke telinga, tetapi menghubungkan dalam bentuk lebih intim, kehadiran seseorang dalam sebuah lingkaran. Kehadiran yang memungkinkan pertukaran pendapat dan gagasan di tempat yang sama. Mempererat lingkaran menjadi sebuah kelompok dan membuka kemungkinan bergerak menjadi kesatuan.

Melampau Jarak

Kata “connecting” yang didefinisikan oleh merek itu hanya membuat setiap orang terhubung melampaui jarak (pak pos sudah lakukan lebih dahulu) tapi mengabaikan kehadiran secara fisik. Tanpa disadari itu membuat setiap orang larut dalam persoalan dan kesendiriannya masing-masing. Padahal kehadiran satu sama lain bisa memunculkan dan menumbuhkan solidaritas.

Di barisan baju kaus yang lain sebuah kalimat tidak kalah nyentil juga hadir, “Dicari agama murah meriah” tertera di baju kaus belel yang sudah pudar, entah berapa kali perlakuan kering-cuci-pakai. Perlakuan yang bisa jadi timbul akibat si pemilik kaus harus bekerja keras memenuhi keinginan agama yang nyatanya tidak murah.

Baju kaus yang menyentil bagaimana gemercik rupiah harus dikeluarkan untuk membiayai keberlangsungan pesta sebuah agama. Menemukan agama yang murah meriah tentu menjadi sebuah misi mustahil. Kepercayaan yang diyakini akhirnya dilembagakan dalam sebuah agama akan memunculkan biaya. Biaya yang harus dikeluarkan pemeluk agama walau Tuhan tidak pernah menuntut.

Bahkan kalimat “tuhan maha pemurah” menunjukkan bagaimana kasih tuhan sering kali didengar walau pada kenyataannya tetap saja biaya harus dihadirkan untuk menjaga eksistensi agama tersebut.

Ada juga “Naskleng” baju kaus merah dengan font tulisan dan logo mirip dengan merek yang diplesetkan dari kata tersebut. Di bagian belakang ada sebuah kalimat ”acces to water sould NOT not be a public right”, sebuah kutipan dari Peter Brabeck, CEO Nestle (saat itu).

Naskleng dengan seekor burung terbaring mati adalah protes dari pernyataan itu.

Sosok pengusaha dengan kekuatan modalnya, secara sepihak dan seenaknya melihat dan menganggap air, kebutuhan utama semua makhluk hidup sebagai sebuah komoditi yang bisa dijual seenaknya. Sekali lagi bagaimana suara-suara gerah muncul dan berseliweran di antara kelakuan perusahan besar dengan kekuatan modal mereka.

Tidak ada banyak suara dari beragam kekacauan akibat kerakusan pengusaha dengan modalnya yang berhasil berkongsi dengan pemerintah. Membuat kebijakan hukum yang pada kenyataannya merebut ruang-ruang hidup warganya.

Informasi tentang pameran Kaos Keos. Foto Baskara

Miris

Ada yang miris dan menumpahkan lewat kaus, bahwasanya republik ini tak seperti “republic indomie”, ketika semua dikelola dan diorientasikan secara instan. Juga kalimat kutipan puisi Wiji Thukul “Ini tanah airmu di sini kita bukan turis”. Sampai plesetan cK (circle) menjadi circle Kleng, suara protes invasi retail 24 jam.

Ada pula kaus plesetan BALI “Bali Amblas Lantaran !nvestor” (tanda seru mewakili I ). Juga teriakan warga Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen yang merusak alam, dan warga Banyuwangi yang menolak tambang emas merenggut Gunung Tumpang Pitu. Kaus penolakan warga Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut pencabutan Perpres 51 Tahun 2014 cukup banyak dari beragam daerah dengan desain masing-masing.

Teriakan seorang anak yang kehilangan ayahnya di masa rezim Suharto yang otoriter, hingga teriakan penolakan pembangunan PLTU Batu Bara di Celukan Bawang di rezim Jokowi yang bebal.

Semua suara dari berbagai lapisan warga dari berbagai wilayah yang termuat dalam baju kaus berkumpul, membentuk sebuah barisan. Menunjukkan bahwa ada sikap kritis di antara dominasi penguasa pengusaha. Lahir kesadaran kritis yang menyeruak di antara sikap pengabaian dan abai berjamaah. Ada yang mengepalkan tangan dan melawan di antara ketakutan dan kepatuhan yang melanda.

Suara kritis perlawanan, dari masalah lingkungan, desakan adat dan tradisi, kuasa modal, kelakuan penguasa (pemerintah). Suara kecil yang menggendor dominasi perampasan ruang hidup yang terjadi. Suara dari masa ke masa, dari era Taring Padi yang baju kausnya telah belel, hingga kini ke era baju kaus Bali Tolak Reklamasi yang masih kinclong.

Barisan baju kaus ini dipajang, ditata berundag hingga menjadi sebuah karya instalasi berjudul “Kaos Keos” dari Agung Alit yang menghiasi halaman belakang Taman Baca Kesiman. Karya instalasi ini dibuat dan dipertontonkan dalam rangkaian Pesta Baca, perayaan ulang tahun yang ke-5 dari Taman Baca Kesiman. Karya yang mengingatkan bahwa baju kaus bukan hanya sebuah sarana untuk tampil gaul, tetapi juga media untuk menyuarakan sikap. Menyuarakan keberpihakan.

Sebuah karya yang kemudian tanpa disadari mendokumentasikan bagaimana suara-suara itu lahir dan terus didengungkan. Dari satu masa ke masa lain, dari generasi ke generasi berikutnya terhubung lewat media baju kaus. berhasil dikumpukan dan menjadi sebuah karya instalasi .

Sebuah karya seni instalasi bagaimana Sukarno sebagai proklamator dibandingkan dengan SiBuYa (SBY) sebagai reklamator, presiden di balik terakomodasinya ide reklamasi Teluk Benoa. Bagaimana perhatian seharusnya lebih diberikan pada dunia (bumi) bukan bank dengan rayuan kredit-kredit murah yang memenjara setiap orang pada kewajiban membayar bunga dari setiap kredit yang mereka dapatkan. “More World, Less Bank” hingga sentilan “For Sale, otak masih waras dijual karena jarang dipakai.”

Teriakan warga bahwa Bali akan hancur ketika sawah sebagai dasar tradisi dan budaya punah “Sawah punah, Bali benyah” sampai parodi Visit Bali Years.

Instalasi “Kaos Keos” menjadi gambaran bagaimana kekacauan situasi sosial jika kekuasaan modal (pengusaha) didukung penguasa (pemerintah) telah mengeksploitasi alam dan merenggut nilai-nilai warga. Ruang hidup mereka direbut. Alih-alih berpihak dan melindungi mereka sebagai kesatuan ruang-manusia yang dihidupi, malah merenggut ruang dan merampas ruang tersebut.

Jika suara-suara dalam baju kaus akhirnya bisa berkumpul dan berteriak bersama, semoga juga gerakan-gerakan perlawanan di setiap daerah bisa berkumpul, bersatu, dan saling menyuarakan. Bukankah Belanda berkuasa sedemikian lama akibat perlawanan terlokalisir di daerah, tidak bersatu. Bersatu dengan satu tujuan, merebut kembali ruang hidup yang dirampas penguasa-pengusaha dan menunjukkan suara rakyat bukan suara yang bisa dengan mudah diabaikan.

Semoga seni instalasi Kaos Keos bisa memicu perlawanan yang awalnya gelinding kecil menjadi sebuah gelindingan bola salju. Bisa menghancurkan dominasi oligarki dan kekuasaan rakus, bagaimana nyala kecil bisa bisa berkobar menjadi api yang berkobar untuk membakar kerakusan kongsi pengusaha-penguasa.

Ada teks di seni instalasi ini yang tidak kalah penting, “Kaos keos ulian bansos” dan “Wangun zat kimia lokal Bali.” Jika bansos memunculkan bentuk bantuan yang memanjakan, pembungkaman serta penundukan, mengebiri kesadaran dan sikip kritis warga. Penggunan zat kimia serta eksploitasi alam Bali sama kencangnya dengan jargon pemerintah yang menggunakan frase lokal.

Kebijakan yang akan membuat Bali harus menanggung beban infrastruktur atas nama pembangunan, kemajuan, dan kemakmuran masyarakat. Silakan cari tahu bagaimana rancang bangun yang mereka rencanakan untuk panglima yang bergelar, Industri Pariwisata”. [b]

The post Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan

Lukisan yang menggambarkan masyarakat Bali dan anjingnya. Foto Agus Juniantara.

jing anjing anjing anjing kintamani
beli dari pulau bali
jing anjing anjing anjing kintamani
senyumnya manis sekali

Lagu Shaggy Dog berjudul Anjing Kintamani itu asyik sekali untuk didengarkan. Band dari Yogyakarta itu mengutip tentang anjing asal Bali yang dijadikan tema lagu ini. Mereka mengisyaratkan bahwa anjing Kintamani ini merupakan hewan yang ramah untuk dipelihara.

Ternyata kata “Bali” tidak hanya merujuk pada pantai pasir putihnya, tetapi juga hewan endemik berkaki empat yang setia.

Hubungan masyarakat Bali dengan hewan tidak hanya sebatas tuan dan majikan. Masyarakat Bali memiliki tradisi dan hari raya yang secara khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para hewan. Hal ini tercermin dari perayaan hari raya Tumpek Kandang yang jatuh hari Sabtu Wuku Uye (Pawukon dalam kalender Bali) kemarin.

Pada hari Tumpek Kandang, masyarakat melakukan upacara untuk Dewa Siwa dalam wujud Rare Angon (seorang anak pengembala). Para peternak, yang memiliki hewan peliharaan, serta masyarakat Bali umumnya merayakan ritual ini setiap 210 hari sekali.

Nilai-nilai menyayangi dan saling menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini juga tertuang dalam filosofi Tri Hita Karana. Tiga hal penyebab kebahagiaan di dunia dengan hidup selaras. Selaras dengan alam beserta isinya salah satunya contohnya.

Bahkan, dalam cerita Mahabarata, sang Yudistira dalam perjalannya menuju Kahyangan ditemani seekor anjing yang setia. Hewan bukan hanya sebagai alat kesenangan penyalur hobi atau pembajak sawah, tetapi hewan sebagai “teman yang mendukung” manusia dalam kesehariannya.

Pesan moral ini juga terdapat dalam kebudayaan agama lain semisal The Seven Sleepers.

Manusia bukan sebagai subjek yang berdiri sendiri, tetapi berdampingan dan selaras dengan seluruh ciptaan Tuhan. Perlindungan-perlindungan tentang hewan beserta alam secara turun temurun terwarisi melalui cerita folklor kedaerahan. Dunia  kekinian mengenalnya dengan sebutan animal welfare.

Animal atau hewan memiliki hak sama untuk hidup dengan layak di dunia sebagaimana kodratnya. Sekali lagi, sesuai sesuai kodratnya. Bukan memanjakanya secara berlebihan hingga menjadikannya lelucon ataupun menyiksa dan mengonsumsinya dengan brutal.

Dok Akun Instagram @Blungbangperkasa

Kepedulian saat Nyepi

Kembali lagi pada budaya Bali tentang rasa menyayangi dan mengasihi para hewan. Tahun ini Tumpek Kandang jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2019. Perlu adanya nostalgia kembali tentang relevansi nilai animal welfare cita rasa Bali ini. Perlu disadari, perayaan ini bukanlah sekadar seremonial tetapi juga  bagaimana sekilas ingatan untuk selaras terhadap alam menjadi kesadaran bersama.

Pada rangkaian hari raya Nyepi pekan lalu, terdapat fenomena sosial yang dituangkan dalam beragam wujud ogoh-ogoh. Adanya ogoh-ogoh Save Dog Bali, ogoh-ogoh Himsa Karma yang dipersonifikasikan bagaimana manusia menyiksa binatang demi kepuasannya, dan yang paling menarik yakni ogoh-ogoh Sog? Manu Petaka.

Ogoh-ogoh Sog? Manu Pataka buah karya STT Acarya Perkasa Banjar Blungbang, Penarungan, Mengwi, Badung mengangkat tema tentang unsur kehidupan di alam. Konsep ogoh-ogoh ini mengambarkan ketika manusia menjadi malapetaka bagi alamnya sendiri. Rakus, tamak, dan terlalu sombong karena menganggap manusia berdiri sendiri.

Manusia dapat memunahkan makhluk lain dengan semena-menanya. Mungkin di Bali isu tentang pelanggaran animal welfare lebih mengarah kepada anjing Bali. Anjing yang dibiarkan liar tak terurus hingga mengidap virus rabies dan berujung pada eliminasi massal.

Tidak semua anjing mungkin berakhir mati dengan tenang, bisa saja singgah dulu di piring para penyantap. Untuk hal ini bukan hanya anjing liar, tetapi yang terpelihara dengan baik pun bisa menjadi target jika dibiarkan berkeliaran terlalu jauh dari rumahnya.

Sementara isu di luar Bali? Beraneka! Tentang plastik yang menjadi bagian jeroan ikan. Macan dan monyet yang diburu dan dipamerkan di media sosial. Penyimpangan orang utan yang “viral”. Gajah yang berontak dan balas dendam karena rumahnya digusur dan dibakar untuk lahan pertanian. Masih dan terlalu banyak untuk dijadikan contoh. Masih dan terus terjadi hingga hari ini.

Kebenarannya, bukan hanya Bali yang memiliki filosifi tentang menjaga alam, menyayangi hewan, dan hidup selara. Hampir di seluruh pelosok Indonesia, budaya dan tradisi tentang animal welfare dapat dirujuk dan menjadi panutan. Andai manusia di Indonesia “eling” dengan akar budaya dan jati dirinya. Mungkin memang perlu pematik tentang fenomena ini. Influencer dari negara barat misalnya. Karna bangsa ini masih menjadi pengikut arus deras budaya dan tren negri orang. Bukanlah hal negatif memang karena Indonesia masih “galau” tentang karakternya.

Menuju pada bagian penutup, bukan kesimpulan positif ataupun kritik yang perlu ditekankan dalam tulisan ini. Semoga ini menjadi nostalgia dan pengingat tentang budaya Indonesia serta relevansinya pada hari ini. Indonesia tetaplah bangsa yang besar meski masih banyak hal compang camping yang membalut kesehariannya. [b]

The post Tumpek Kandang, Penghormatan Bali pada Hewan appeared first on BaleBengong.

Meriahnya Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Nyepi

Pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941. Foto Herdian Armandhani.

Bahkan ada ogoh-ogoh yang bisa mengeluarkan cahaya dari matanya. Kok bisa?

Pawai Ogoh-ogoh lazim diselenggarakan sehari sebelum Umat Hindu Indonesia khususnya di Bali melaksanakan Nyepi dan Tahun Baru Caka. Nyepi tahun ini jatuh pada Kamis (7/3/2019).

Ogoh-ogoh merupakan salah satu kearifan lokal Bali. Dia berupa karya seni terbuat dari anyaman bambu yang dihias menjadi sebuah bentuk sangat artistik. Bentuk ogoh-ogoh kebanyakan berukuran besar, sedang maupun minimalis.

Karaktek ogoh-ogoh dibuat berasal dari cerita-cerita dalam Mitologi Dewa-Dewi Agama Hindu dan cerita Mahabarata. Bentuk paling banyak berwujud Bhutakala, raksasa yang memiliki sifat jahat dan sangat menakutkan.

Kesenian ogoh-ogoh sudah sejak lama ada di Bali. Umumnya satu banjar, setingkat dusun, di Bali membuat satu ogoh-ogoh untuk diarak pada prosesi pengrupukan sebelum Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka.

Pawai ogoh-ogoh dilakukan dengan membawa ogoh-ogoh yang sudah dihias mengelililingi areal desa, kecamatan maupun kota. Pawai ogoh-ogoh menjadi daya magnet warga lokal maupun wisatawan asing untuk menyaksikan kreasi karya seni pemuda-pemudi Bali.

Untuk menambah kemeriahan tradisi kesenian ogoh-ogoh, beberapa daerah di Pulau Dewata membuat kompetisi perlombaan dalam pawai ogoh-ogoh.

Salah satunya perlombaan pawai ogoh-Ogoh di Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar pada Rabu (6/3/2019) pukul 18.00 wita.

Mata Bercahaya

Puluhan ogoh-ogoh ikut berlomba dibawa berkeliling disaksikan ribuan warga. Ogoh-ogoh dihias dengan cantik. Bahkan ada beberapa ogoh-ogoh terlihat bergerak dengan ditambahkan mesin penggerak dan mengeluarkan cahaya dari kedua mata yang bersumber dari energi genset.

Ogoh-ogoh yang diarak ditempatkan di atas bilah bambu berbentuk bujur sangkar. Kemudian diangkat puluhan pemuda untuk digerakkan.

Kesenian ogoh-Ogoh yang diperlombakkan tidak sekadar dibawa berkeliling. Pengunjung dapat menyaksikan beberapa pemuda menari dan ada seorang penduduk desa yang membacakan cerita sembari mengolah kata mengenai latar belakang karakter ogoh-ogoh dibuat.

Beberapa pemuda-pemudi menyalakan kembang api untuk mencuri perhatian pengunjung yang menyaksikan pawai ogoh-ogoh.

Kesenian ogoh-ogoh tahun ini pun oleh pemerintah setempat dilarang menggunakan styrofoam sebagai bahan dasar. Hal ini untuk kampanye lingkungan.

Musik pengiring juga tidak boleh menggunakan tata suara dan musik modern. Musik pengiring harus murni dari gamelan Bali. Ogoh-ogoh yang sudah dibawa kelilingng desa, kecamatan maupun kota selanjutkan dibakar di setra (kuburan) sebagai simbol memusnahkan energi jahat di semesta. [b]

The post Meriahnya Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Nyepi appeared first on BaleBengong.