Tag Archives: Sosial Budaya

Pentas bersama Disabilitas di Bawah Pohon Beringin

Batan Bingin merupakan suatu istilah dari Bali.

‘Batan’ berarti di bawah dan ‘Bingin’ berarti pohon beringin. Bagi masyarakat Bali, pohon beringin merupakan pohon yang sangat disakralkan.

Dalam kegiatan sehari-hari, masyarakat Bali memanfaatkan pohon beringin. Misalnya, saat upacara adat Nyekah, umat Hindu Bali melaksanakan kegiatan ‘Ngangget Don Bingin’. Di Bali, pohon bingin juga diberikan sesajen dan dipakaikan saput poleng saking sakralnya.

Sakralnya pohon beringin di Bali itu menjadi inspirasi bagi I Ketut Gede Bendesa. Guru tari ini pun menggarap sebuah ide baru tentang pohon beringin. Dengan tangan ajaibnya ia berhasil membuat sebuah pangggung kecil-kecilan untuk pentas tari di bawah pohon beringin.

Pentas itu selanjutnya disebut sebagai Pentas Tari Batan Bingin. Dia merupakan pertunjukan seni yang berfokus pada seni tari. Lokasinya di areal Lapangan Astina Gianyar. Pelaksanaannya pada Juni-Agustus pada minggu kedua dan keempat kedua bulan itu.

Gede Bendesa berasal dari Serongga, Gianyar. Sehari-hari dia bekerja sebagai pelatih tari di Sanggar Sekar Dewata di Desa Serongga. Dia juga pendiri sanggar tersebut.

Dengan bantuan beberapa sukarelawan, Gede Bendesa menyiapkan Pentas Tari Batan Bingin dengan matang. “Tujuan saya mengadakan pentas tari ini alasannya simple, untuk melatih soft skill anak-anak di sanggar ini,” katanya ketika ditanya apa tujuan membuat pentas.

Menurut Gede Bendesa, pentas itu juga agar anak-anak membiasakan diri untuk tampil di hadapan banyak orang sekaligus melatih kemampuan public speaking mereka.

Hal unik lain dari pementasan pertunjukan tari ini adalah Gede Bendesa juga mengajak anak-anak kaum disabilitas untuk bergabung menari bersama dalam Pentas Tari Batan Bingin. Gede Bendesa pula yang melatih mereka.

Sanggar Tari Sekar Dewata memang juga membuka peluang untuk anak-anak kaum disabilitas untuk berlatih di sanggar.

Pak Tut, panggilan akrabnya, menciptakan beberapa bahasa isyarat untuk anak-anak yang terbatas dalam pendengarannya. Dengan begitu dia bisa berkomunikasi dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan.

I Wayan Sukarmen merupakan salah satu siswa Gede Bendesa yang berpartisipasi dalam Pentas Tari Batan Bingin.Menampilkan Tari Gebyar Duduk, I Wayan Sukarmen tampil dengan gemilang terlepas dari keharusannya untuk menampilkan tari dengan menggunakan kursi roda.

Ketika ditanya tentang apa yang menjadi kesulitannya, Sukarmen menjawab kesulitannya cuma dalam bergerak kalau melibatkan kaki. Namun, itu tidak terlalu menganggu juga karena tariannya sendiri sudah dimodifikasi agar lebih mudah ditarikan.

Remaja asal Kintamani, Bangli ini memang sudah menunjukkan ketertarikan dalam bidang seni tari sejak berumur empat tahun. Sukarmen mengatakan kondisi fisiknya tidak menjadi hambatan untuk menjalankan passionnya.

Saat ini Sukarmen sedang mengikuti Pelatnas yang dilakukan di Solo, Jawa Tengah. Dari mereka, kita dapat belajar kalau niat pasti ada jalan. [b]

The post Pentas bersama Disabilitas di Bawah Pohon Beringin appeared first on BaleBengong.

Dari Desa Membumikan Nilai-nilai Pancasila

Mengajak anak lebih dekat dengan alam di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman

Memaknai nilai-nilai Pancasila tidak sekadar seremonial belaka.

Sebagai anak bangsa sudah menjadi keharusan kita mengetahui, mengerti, dan mengamalkannya secara bijak dan kontekstual. Sebagaimana cita-cita founding father negeri ini yang menggali dan merumuskan semangatnya: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Pancasila adalah kristalisasi nilai-nilai tradisi masyarakat Nusantara yang notabene adalah inti peradaban Nusantara. Rumusan filosofis-ideologisnya bertolak dari cara hidup bangsa Indonesia untuk menghadapi masa depannya.

Sumber daya ataupun bentang alam negeri ini berlimpah dan subur. Panorama alamnya yang indah dengan beragam suku, adat, agama, dan kebudayaan. Penduduknya terkenal ramah. Oleh karena itulah sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu sadar, up-to-date berpikir ke depan memaknai nilai -nilai spirit Pancasila dengan membangun jati diri dalam kehidupan berbasis kompetensi dalam berbagai segi kehidupan dan profesi.

Sebagai pejabat pemerintahan, pegawai negeri, swasta, pegiat sosial, pendidik, pelajar, mahasiswa, pedagang, petani, maupun nelayan. Untuk membangun dan menjadikan negeri dan bangsa ini bermartabat, berdaulat, berdikari dan berkepribadian, sehingga slogan Bhinneka Tunggal Ika dan masyarakat adil makmur selalu terjaga dan menjadi nyata.

Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman di Desa Pakraman Serason, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan mencoba memaknai dan mengimplementasikannya dengan kegiatan-kegiatan biasa dan sederhana. Pesertanya adalah lintas generasi dengan konsep pemuliaan Bumi, air, sumber daya alam, serta sumber daya manusia berbasis kearifan budaya local dan Tri Hita Karana.

Anak-anak belajar menari di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman

Beragam Kegiatan

Adapun kegiatan yang direncanakan dan telah dilakukan berupa pemahaman dan pelaksanaan adat, peduli lingkungan, serta kegiatan sosial ekonomi,

Di bidang pemahaman dan pelaksanaan adat serta dan kebudayaan yang berlandaskan agama Hindu antara lain berupa tatwa dan etika Upacara Agama dan sarana Upakara serta cara pelaksanaannya dan nyastra, belajar seni tari, seni tabuh, gegitan, pasang aksara Bali.

Untuk menumbuhkan kepedulian pada lingkungan dan hidup sehat, kegiatannya antara lain belajar teknis pengelolaan sampah dan konsep Bank Sampah. Ada pula penanaman pohon langka, upakara, obat, dan konsumsi sebagai bentuk investasi air di perut bumi.

Di sini juga ada pelajaran pembuatan pupuk organik dengan bahan dan olah lokal, dan belajar bertani organik.

Di bidang keterampilan, kegiatan ekonomi, dan sosial, Pasraman Sahabat Serase juga mengajarkan organisasi kelompok/sekaha yang berkaitan dengan kegiatan bertani, beternak, perikanan, dan koperasi.

Ada pula pelajaran tentang pengelolaan dan pengolahan produk pertanian untuk petani, budi pekerti, publikasi, pasar dan pemasaran. Para siswa juga belajar berorganisasi dan keterampilan IPTek, menggambar dan mewarnai untuk anak-anak; dan memasak dan membuat jajan dengan bahan olah local yang sehat dan bergizi.

Secara rutin, kami juga melaksanakan kegiatan memperingati dan memaknai hari suci keagamaan, dan hari-hari besar nasional.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pola pikir dan sikap mental selalu membangun kecerdasan emosional, intelektual, spiritual, dan berbudaya. Kami juga ingin menumbuhkan keimanan, ketaqwaan, budaya melayani, kebersamaan, toleran, dan saling menghormati.

Untuk itulah di Pasraman Sahabat Serase Tegal Budaya Nang Oman diadakan penghormatan perayaan hari-hari besar nasional, untuk selalu mengingatkan dan penyegaran terhadap nilai-nilai spirit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kegiatan dimulai dari membersihkan lingkungan, lomba baca puisi kepahlawanan, lomba pidato kepahlawanan, lomba ngulat ketipat dan klatkat, penanaman pohon upakara, menebar bibit ikan di saluran air subak dan ajakan gemar memelihara dan makan ikan, lomba menangkap belut.

Puncak acara upacara bendera peringatan hari Kesaktian Pancasila di area tegalan dan diakhiri dengan menikmati hidangan ringan hasil olahan dari bahan setempat. Menunya nasi organik Umawali dari Subak Ganggangan, Br Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Nasi organik dilengkapi jukut don jelengot, nangka muda dan daun ketela pohon, kripik lindung(belut), sambel gedeblag. Sederhana tetapi nikmatnya maknyuuss. [b]

The post Dari Desa Membumikan Nilai-nilai Pancasila appeared first on BaleBengong.

Letupan Erupsi Semesta dan Raga MilitanArt

Yang mengharukan, pameran ini juga menampilkan karya (alm) Made Supena, anggota Militant Art yang meninggal pada 16 April 2019.

Karya Supena yang ditampilkan bertajuk “Sisa”, dan acara kali ini menjadi pameran terakhirnya.

Militan Art, kelompok Perupa Bali yang selama ini kosisten berkarya dan berpameran menggelar pameran ke-5. Dua puluh satu perupa berpartisipasi dalam pameran yang bertajuk “Eruption“.

Pameran dihelat di luar pulau Bali yakni Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

Pameran dibuka oleh Widjaja Putra, seorang pecinta seni, pada 4-11 Mei 2019 di Raos Gallery, Kota Batu.

Para perupa yang terlibat dalam pameran ini adalah Anthok S, Atmi Kristia dewi, Pande Paramartha, Kadek Eko, Made Supena, Ketut Agus Murdika, Ketut Suasana Kabul, Ketut Sugantika Lekung, Made Gunawan, Listya Wahyuni, Nyoman Sujana Kenyem, Loka Suara, Nyoman Diwarupa, Ngurah Paramartha, Gusti Buda, Teja Astawa, Pande Wijaya, Putu Sudiana Bonuz, Wayan Suastama, Uuk Paramahita, dan Wayan Dastra. Ada satu perupa dari Batu, Malang yang turut berpartisipasi dalam pameran ini, yakni Rifai Prasasti.

Komunitas seni rupa ini merayakan ulang tahun dengan pameran bersama. “Pameran kali ini untuk merayakan ulang tahun Militant Art ke lima,” ujar Nyoman Sujana Kenyem, Ketua Militant Arts.

Kurator pameran Wayan Jengki Sunarta menjelaskan bahwa istilah eruption (erupsi) mengandung makna kemunculan yang tiba-tiba, kejadian/peristiwa yang spontan atau mendadak. Dalam geologi, erupsi berarti suatu proses pelepasan material dari gunung berapi dalam jumlah yang tidak menentu.

“Namun, dalam konteks manusia, erupsi juga bisa dikaitkan dengan letupan atau letusan perasaan dan pikiran. Jika erupsi ini terjadi pada seniman, maka hal itu bisa menghasilkan suatu karya seni,” ujar Jengki.

Dalam pameran ini terlihat upaya anggota Militant Arts menafsirkan atau menejermahkan konsep erupsi menjadi karya seni rupa dengan berbagai corak/aliran, dari figurative hingga non figuratif (abstrak). Beberapa perupa menafsirkan erupsi dalam konteks peristiwa nyata yang terjadi pada gunung berapi. Misalnya bisa dilihat pada lukisan Anthok S yang berjudul “Keagungan #2”, menampilkan gunung yang erupsi dikaitkan dengan keagungan semesta. Demikian juga lukisan “Penjaga Mata Air” karya Nyoman Sujana Kenyem dan “Perempuan di Tengah Alam” karya Wayan Dastra.

Di sisi lain, sejumlah perupa Militant Arts berupaya menerjemahkan erupsi secara simbolis dan metaforis dalam konteks sosial, politik, dan psikologis (emosi). Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada lukisan Ketut Suasana Kabul yang berjudul “Dadu Demokrasi” mengaitkan erupsi dalam konteks politik. Atau, bisa disimak pada lukisan“Horsepower” karya Ngurah Paramartha yang mengaitkan erupsi dengan luapan perasaan.

Yang mengharukan, pameran ini juga menampilkan karya (alm) Made Supena, anggota Militant Art yang meninggal pada 16 April 2019. Karya Supena yang ditampilkan bertajuk “Sisa”, dan acara kali ini menjadi pameran terakhirnya.

Sementara perupa, Made Gunawan melihat pameran ini secara karya sangat pariatif. Eruption disini merupakan letupan perasaan bukan saja letupan gunung yang sudah umum melainkan letupan gagasan dalam berkesenian yang mesti dieksplorasi.

The post Letupan Erupsi Semesta dan Raga MilitanArt appeared first on BaleBengong.

Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca

Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik dan plastik.

Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis.

Tiga puluh April 2019 lalu, Taman Baca Kesiman (TBK), memperingati hari kelahirannya, lima tahun hadir di serambi kiri kota Denpasar. Peringatan diisi dengan menggelar acara unik, Pesta Baca. Sebuah pesta yang ‘menjamu’ para penyuka baca, melalui saling-silang pendapat, tentang buku yang dibaca, disukai, diapresiasi, dan secara literasi menginspirasi si pembaca menjadi sebuah aksi. Paling tidak untuk dirinya sendiri.

Barangkali Pesta Baca ini pesta perdana yang pernah digelar di tanah Bali. Tujuannya semacam memberi penghargaan kepada kaum pembaca secara adil merata dan setara. Karena selama ini yang banyak diberikan penghargaan kebanyakan penulisnya. Bukankah setiap karya buku yang ditulis, pasti menghendaki adanya sang pembaca?

Melalui Pesta Baca, Taman Baca Kesiman (TBK) memberi ruang dan apresiasi kaum penyuka baca, karena penyuka baca memang layak dihormati sebagaimana layaknya penghormatan terhadap penulis. Membaca adalah sebentuk upaya aktif seseorang ‘bergaul’ atau berdialog dengan pikiran penulis, berkesinambungan, menguras tenaga dan pikiran untuk mencerna bacaan. Membaca maha penting untuk membangun Indonesia cantik, tanpa picik, fanatik, dan plastik.

Asal usul Pesta Baca

Acara Pesta Baca di TBK ini bermula dari obrolan di meja makan, di rumah Batan Buah Kesiman, bersama keluarga saat merayakan hari Nyepi. Nyepi kita jadikan tradisi guyub keluarga karena satu-satunya momen terindah yang mampu ‘mendiamkan’ kita yang tinggal di Bali dari hiruk-pikuk kehidupan global yang kian menjauhkan anggota keluarga satu dengan lainnya. Hanya Nyepi kita bisa ngobrol intim tidak terinterupsi oleh internet dan handphone.

Ketika itu saya lontarkan pertanyaan, punya ide nggak, untuk Ultah ke-5 Taman Baca Kesiman? Semuanya semangat sambil meraba-raba ide yang baik dan pas. Lalu, Termana mengusulkan ide PESTA BACA. Semua yang hadir menyambut baik ide tersebut, dan minta Termana menggambarkan wujud kongkrit ide pesta baca itu. Termana menjelaskan, bahwa pada Pesta Baca itu para penyuka Baca dihadirkan pada sebuah panggung kontestasi. Dua pembaca laki dan perempuan tampil, ini penting, agar tidak dominan laki-laki aja. Hal ini sejalan dengan moto TBK, bhineka dan setara.

Penjelasan Termana ini menjadikan curah pendapat Nyepi semakin hangat, dan langsung bentuk panitia kecil yang tediri dari saya, Bu Hani, Carlos, Termana, Ika, Jung Hadhi, dan Fenti. Kemudian diskusi lanjut dengan ide-ide acara tambahan selama Pesta Baca berlangsung seperti Kaos Keos Art, lapak buku, dongeng, musik, dan kuliner lokal.

Disepakati Pesta Baca digelar tiga hari, mulai dari t30 April 2019 hingga 2 Mei 2019. Ini momentum yang baik untuk melangsungkan Pesta Baca, karena pada tanggal itu ada hari-hari bersejarah. Pada 30 April adalah tanggal wafatnya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Sementara 1 Mei hari Buruh, dan 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, pas lah sudah. Dan hal ini semakin menambah semangat mengeksekusi ide Pesta Baca. Saking semangatnya, diskusi pun sampai pada perihal bagi tugas, siapa melakukan apa, terkait Pesta Baca. Ada yang mendapat tugas menghubungi narasumber, pengisi acara selingan Pesta Baca, konsumsi, kemudian pengisi pidato Kebudayaan, dan lainnya.

Nah ketika pembicaraan terkait rencana acara Pidato Budayaan, saya usulkan untuk tidak menggunakan istilah Pidato Kebudayaan. Saya usulkan pakai istilah lokal: Sobyah Budaya. Saya pikir istilah Pidato Kebudayaan terlalu formal, elitis, serius, resmi, dan serem, kurang pas dengan suasana Taman Baca Kesiman (TBK). Bercermin dari pengalaman sehari hari, kehadiran pengunjung TBK, hampir semuanya kelihatan informal dan santai, tidak terkait dengan tetek bengek aneka formalitas.

Kemudian setelah hari Nyepi, pertemuan panitia kecil berlanjut, dan tampaknya kepanitiaan harus diperbesar, karena kita ingin mendapat masukan dari berbagai kalangan dan persepektif agar acara menjadi lebih beragam, lancar dan sukses. Panitia kecil kemudian membuat group WA Pesta Baca dengan tambahan tambahan personel antara lain Bang Roberto, Luhde, Anton, Made Mawut, Ini Timpal Kopi, Daivii ditambah beberapa tenaga relawan seperti Riang, Teja, Bayu, Gilang. Kehadiran group WA Pesta Baca, semakin menjadikan komunikasi dan koordinasi tugas serta informasi semakin lancar, cepat dan mantap.

Lewat grup ini pula acara Pesta Baca semakin mengerucut dan pasti, antara lain Sobyah Budaya, Baca Adalah Nyawa, Lapak Baca, Kaos Keos Art, Dongeng dan Musik.

Sebagai langkah awal, kita merancang desain banner dan poster untuk dimunculkan di media sosial. Untuk desain banner, ada usulan dari Carlos untuk minta bantuan designer perempuan yang sudah banyak melahirkan karya- karya cantik dan menarik perhatian publik, namanya Ivana Kurniawati. Astungkara, Ivana Kurniawati putri Kalimantan yang bermukim di Thailand, dengan senang hati siap support desain untuk Pesta Baca.

Sobyah Budaya

Rencana awal Pesta Baca, untuk Sobyah Budaya diisi tokoh lokal, namun dalam perkembangannya, ada usulan agar Sobyah Budaya diisi tokoh nasional. Pertimbangannya karena kita ingin Pesta Baca tidak hanya untuk masyarakat lokal saja, kita ingin Pesta Baca menyeberang ke wilayah nasional dan bila perlu internasional. Karena kami berkeyakinan Pesta Baca ini ide dan acara baik, segala yang baik untuk kehidupan mesti menyebar ke segala penjuru. Sekalian mengenalkan TBK sebagai tempat paling asyik untuk bertegursapanya aneka perbedaan di Nusantara. Dan ini sesuatu yang nyata, tidak sekadar wacana saja.

Awal April saya dan Bu Hani melakukan perjalanan bisnis ke Blora Jawa Tengah. Nah, disini pula muncul keinginan mengunjungi rumah pujangga besar Indonesia yang disingkirkan Orde Baru Pramoedya Ananta Toer (alm). Kami mampir ke Pataba (Perpustakaan Anak Semua Bangsa) milik keluarga Pram di Jln. Pramoedya Ananta Toer, Blora.

Syukur alhamdulilah, kami bertemu dengan Ibu Soesilo Toer, kami dipersilakan duduk dan disajikan segelas air putih. Selang beberapa menit muncul Pak Soesilo Toer yang dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran kami. Setelah ngobrol panjang, kami sampaikan pada beliau bahwa kami bermaksud mengundang beliau hadir pada perayaan Lima Tahun TBK. Dan kami ingin beliau mengisi acara Sobyah Budaya. Syukur alhamdullilah, Astungkare, beliau menyatakan bersedia hadir. Woooo bukan main senangnya hati kami berdua, bak merasa mendapat dua truk durian runtuh. Beliau juga senang, karena cita-cita beliau sejak lama ingin tahu Pulau Bali dan kebetulan tanggal 30 April adalah tanggal wafatnya Pramoedya. Saya pikir Bpk. Soesilo Toer adalah sosok yang paling pantas mengisi Sobyah Budaya, karena beliau salah seorang putra terbaik bangsa yang lolos seleksi masuk universitas di Russia di era Presiden RI Bung Karno. Setelah tamat beliau pulang ke Indonesia dan ingin menyumbang keahliannya untuk Indonesia. Beliau juga seorang pejuang dan cinta Indonesia, dan sadar betul setelah tamat harus kembali mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

Namun apa lacur, begitu tiba di tanah air, beliau ditangkap dan dipenjarakan oleh kepala suku rezim Orde Baru, Soeharto. Beliau penulis yang produktif, hidup sederhana, dan banyak menterjemahkan karya-karya berbahasa Russia. Dan inilah sosok pribadi yang tepat dan pantas kita dengar dan kita simak bersama lewat Sobyah Budaya.

Baca adalah Nyawa

Dua-tiga tahun terakhir di bali sempat populer lagu Bali berjudul: Tuak Adalah Nyawa. Lagu ini banyak dinyanyikan anak-anak, remaja dan orang dewasa, baik di desa maupun di kota. Jujur saya katakan lagu ini bagus, karena nadanya gembira, namun kurang pas di hati karena judul dan liriknya tidak mendidik, terutama untuk anak-anak dan remaja. Saya khawatir lagu ini bisabisa menjadi alat pembenar untuk anak- anak mengonsumsi alkohol.

Sebagaimana kita ketahui Bali tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Banyak hal mesti dibenahi, apalagi Bali dengan industri pariwisatanya, yang kurang senang dengan pemikiran kritis. Pariwisata membangun zone nyaman yang dalam banyak hal sering diterjemahkan apolitis atau “sing demen ruwet”. Dengan istilah Baca adalah Nyawa, akan bisa menggiring opini publik beralih dari tuak ke bacaan.

Dari menyukai tuak menjadi minat baca, begitulah idealnya. Melalui Pesta Baca dan Baca adalah Nyawa, berharap langkah kecil ini bisa menjadi alat tepat untuk mengusir picik serta fanatisme sempit warga dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk di Bali dan Indonesia.

Acara Baca adalah Nyawa, berdurasi 2.5 jam, terdiri dari dua sesi, sesi pertama dan kedua. Setiap sesi ada pemandunya, dan pemandu adalah orang-orang yang diseleksi dan dianggap mampu membangkitkan suasana cair sambil memberi highlight pada pesan-pesan dari buku yang dipestakan. Masing masing sesi diisi penyuka baca laki, perempuan dan transgender.

Masing- masing menceritakan buku apa yang dibaca, dan yang berpengaruh atau berkesan bagi dirinya. Kenapa buku itu begitu menginspirasi? Barangkali mendorong si pembaca untuk melakukan perubahan? Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama audiens yang hadir. Nah disinilah arti Pesta Baca yang diharapkan terjadi proses pembelajaran sekaligus merangsang minat baca warga. Apalagi sang pembaca adalah orang- orang yang cukup mumpuni di bidangnya sehingga Baca adalah Nyawa memang benar- benar bernyawa dalam membangun semangat baca warga.

Lapak Baca

Ini acara tambahan yang saya pikir penting dan masih dalam satu paket acara Pesta Baca. Lapak Baca ini memberi ruang kepada para pelapak buku dan perpustakaan keliling untuk menampilkan, baik karya buku yang komersial maupun buku yang sekedar dipajang untuk dibaca gratis. Ini penting karena lewat Lapak Baca ini mendorong orang2 yang hadir pada pesta baca untuk lihat- lihat buku yang sedang hangat dan banyak dibaca orang. Barangkali ada yang tertarik membeli buku baik dari buku yang sedang dibicarakan maupun buku diluar dari yang sedang dipestakan aau buku-buku lain yang punya daya tarik tersendiri.

Kaos Keos Art

Saya menyebutnya Kaos Keos Art. Saya mengkoleksi banyak baju kaos yang sarat dengan pesan pesan perlawanan atau ketidakpuasan dengan kebijakan penguasa. Pada kaos itu kita bisa lihat bentuk perlawanan rakyat sehari- hari bergelut dengan ketidakadilan. Saya berfikir jika kaos ini dipajang dalam jumlah banyak pasti kelihatan seni dan orang bisa belajar dari pesan- pesan yang tertera pada baju kaos.

Sering kita baca di media massa ada orang ditangkap aparat karena pakai kaos bertuliskan Bali Tolak Reklamasi, ada bule yang pakai kaos palu arit terpaksa harus berurusan dengan apparat. Ternyata baju kaos bukan sekedar penutup tubuh saja, tapi baju seni baik desain maupun pesannya dikemas artistik dan mampu bikin penguasa “keos”. Kaos Keos Art ini ingin menyampaikan pesan kepada publik. Inilah ekspressi jujur dari rakyat, jujur karena benar, dan benar menjadikan dia indah. Ini pula realita yang mesti disimak dan ditindaklanjuti penguasa.

Dongeng

Bali punya tradisi mendongeng. Saat ini kegiatan mendongeng semakin jarang, karena dunia saat ini dijejali hiburan modern, dan juga manusia semakin sibuk, hubungan kekerabatan yang dulunya guyub kini mulai menjauh dan cenderung lepas dari ikatan komunal atau guyub. Acara mendongeng disediakan untuk menghibur pengunjung yang bawa anak-anak. Harapannya kegiatan mendongeng ini bisa menarik pengunjung dan tradisi mendongeng bisa bangkit kembali tentunya dengan kemasan yang lebih memikat pengunjung.

Musik

Acara musik ini ditangani oleh Made Maut dan Carlos. Para musisi ini hampir semuanya adalah musisi yang punya sikap dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat. Dan hampir semuanya apresiatif dengan keberadaan TBK sebagai melting pot budaya dan gerakan sosial di Bali. Mereka semua mau berkontribusi tampil gratis sambil ikut mendukung dan menyimak opini-opini yang mengalir pada sesi Baca adalah Nyawa. Musisi hadir dengan musik dan lirik ciptaannya yang dipentaskan pada saat jeda acara untuk merelaksasi otak dalam berpesta baca.

Pada acara musik ini juga terjadi dialog seni antara musik dan puisi. Selagi musik dimainkan diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair yang hadir dengan spontanitas.

Yang jelas dan tak kalah pentingnya, bahwa acara Pesta Baca adalah acara swadaya dan swakelola dari inisiatif lokal, memaksimalkan produk lokal, untuk lokal, nasional dan internasional, tanpa harus sibuk mengorbankan alam dan budaya Bali untuk Pariwisata.

Terima kasih kepada seluruh tim TBK, tim Pesta Baca, para pengisi acara, pembaca, moderator, pencatat, musisi, pendokumentasi, pelapak buku, dan lainnya. Peminjaman baju kaos, pengunjung dan semua pihak yang mendukung acara Pesta Baca TBK April lalu. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan selama acara. Sampai ketemu pada acara Pesta Baca, April 2020.

The post Menjamu Pecinta Baca di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.

Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja

Waktu kuliah seni rupa di Bali, kesal rasanya jika yang dibicarakan adalah pencapaian estetika yang merupakan pencapaian keindahan melulu.

Tembok medium seksi untuk menyampaikan pesan karena posisinya strategis bagi publik. Foto Komunitas Pojok.

Pemaknaan Bali yang indah ala Mooi Indie (Indonesia yang molek) ala Belanda masih menjadi pencapaian terhebat.

Iya, itu penting, tapi seni beserta estetikanya saya yakini sebagai metode menyampaikan suatu isu-isu krusial sosial juga. Menemukan mural-mural di tembok yang mengkritik keadaan Bali pun tidak jarang, lalu kenapa kita tidak membahasnyal di kelas, dan malah isu sosial menjadi semacam tabu?

Misal, saat diberi tema melukis tentang ekonomi di studio lukis, saya melukis tentang korupsi dibanding teman-teman yang melukis tentang kemiskinan dengan pencapaian estetika maksimal. Dosenku bilang apa? “Kenapa harus tentang korupsi yang terlalu berat, ga bisa ngelukis kayak temanmu tentang kemiskinan.” Seriously, pak? Kemiskinan lebih indah dari korupsi, gitu?

Itu cerita 10 tahun yang lalu. Bagaimana hari ini? Di bangku kuliah saat ini, saya kurang tahu apakah ceritanya masih sama. Tapi di luar sana, saat kampanye Pemilu gencar beberapa bulan lalu, salah satu baliho kampanye seorang kandidat Bali adalah kata-kata “Restorasi Bali.” Hmmmmm… apa sih sebenarnya yang ingin direstorasi? Keindahan Bali demi kesehatan ekonomi pariwisatanya yang kian terkikis? Bali sudah kian banyak berubah, beradaptasi, berakulturasi, dan tereksploitasi.

Namun, juga bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh yang baik untuk hal yang baik untuk bangsa kita. Misalnya kehadiran bank sampah plastik di setiap Banjar setiap minggu pagi, peraturan kota yang meniadakan penggunakan plastik di toko-toko dan restoran, sampai supir online pengantar makanan memiliki totebag sendiri.

Di Bali lah saya mengenal istilah Rwa Bhineda – bukan bermaksud spiritual, cuma ini satu konsep yang masih tidak bisa diterima banyak orang. Kenyataannya, dengan banyaknya informasi hari ini melalui berbagai sumber, baik dan buruk sangat berdekatan.

Di pemahaman Rwa Bhineda, bahwa ada dua sisi di segala hal dan kedua sisi itu harus seimbang, maka itulah satu pencapaian kehidupan yang patut dijalani. Jadi baik dan buruk memang sudah seharusnya berdampingan, dan aku rasa itu spirit yang diterapkan bahwa di saat kita merusak maka berbenah adalah penyeimbangnya.

Lalu di skena kesenian, Bali Yang Binal akan hadir untuk kedelapan kalinya. Baru ini saya baca bahwa perayaan kesenian yang Binal, mengkritik Biennale Seni di Indonesia tidaklah terjadi di Bali saja. Sudah pernah terjadi di Jawa, dimana ada perlawanan terhadap perlehatan Biennale yang hanya fokus dengan seni lukis saja.

Di Bali sendiri, Bali Yang Binal hadir untuk mengkritik kehadiran Bali Biennale pada tahun 2005 karena adanya keberpihakan terhadap perupa-perupa yang berpameran. Nama Bali Yang Binal memang menjadi parodi-nya Bali Biennale dan terdengar lebih menggelora.

Bali Yang Binal merupakan protes secara estetika dan menggunakan baliho serta tembok sebagai media untuk menggaungkan seni di ruang publik dengan mengangkat isu sosial sebagai temanya. Maka Bali Yang Binal saya lihat sebagai penyeimbang yang terus hadir untuk publik. Ini lho juga kesenian Bali, membahas isu sosial dan tidak melulu tentang keindahan.

Tema yang diangkat Bali Yang Binal ke-8 tahun ini adalah Energi Esok Hari. Satu hal yang sangat krusial dibicarakan belakangan ini. Keadaan Bali yang makin padat dan masih menjadi sumber pendapatan, dipermainkan menjadi tempat nyaman untuk pengusaha besar.

Tidak semua menolak keberadaan PLTU Celukan Bawang di Buleleng, satu contoh yang dibahas di Energi Esok Hari. Tapi penggunaan batubara sebagai sumber energi tidak bisa diperbaharui, asapnya tidak sehat untuk mahluk hidup dan melukai bumi pertiwi beserta warga sekitar sumbernya. Maka Bali Yang Binal akan menghadirkan hal krusial ini, yang cenderung tidak banyak dibicarakan.

Bali Yang Binal yang mengkritik keberadaan perlehatan seni Biennale di Bali akhirnya berlangsung lebih lama dari Biennale itu sendiri. Biennale tahun 2005 yang kemungkinan besar diadakan oleh pihak elit ternyata terjadi sekali saja. Apakah kehadiran Bali Biennale saat itu semata-mata kepentingan? Bali Yang Binal menjadi pengingat Bali bisa menjadi tempat berbenah, menjadi contoh baik untuk bangsa kita.

The post Bali Yang Binal, Berkesenian Bukanlah tentang Keindahan Saja appeared first on BaleBengong.