Tag Archives: Sosial Budaya

BaleBengong 2018-08-11 23:06:33

 

Mencekam, mengintimidasi, horor, sekaligus komedi bisu a la Charlie Chaplin di episode Kebelet.

Matur tampi asih Teater Sekali Pentas (dan Teater Kalangan?) yang memberikan Kebelet dengan sangat murah hati. Tiga hari berturut secara gratis, menuntun tangan dan bahu kami, menyuguhkan kopi, cemilan, dan menghadiahkan beberapa keping artikel untuk dibawa pulang. Cocok dibaca saat kebelet di rumah atau kos-kosan.

Halnya kebelet, sensasi sekelebat yang menyakitkan, pertunjukkan ini menekan tubuh agar mengalah pada pikiran. Membiarkan otak menguasai selama 30 menit, melumpuhkan tubuh. Terutama tangan yang kebelet ambil ponsel lalu schrool, pencat-pencet, seolah-olah (selalu) ada panggilan darurat.

Kelupaan membawa ponsel sangat membantu saya nyinyir seperti di atas. Padahal kalau bawa ponsel juga pasti kebelet merogoh tas selama pertunjukkan 60 menit dalam dua sesi horor kombinasi lucu ini.

Jangan ragu untuk tertidur, dengan risiko terjatuh dari kursi dengan bantalan seukuran pantat balita. Mungkin menambah eksperimen bunyi di sesi pertama. Ketompyang. Atau sengaja tidak menyeting ponsel ke mode silent, lalu maksimalkan volume, dan hidupkan notifikasi medsos (FB, IG, Line, Twitter, semuanya). Tungting, tungting, bersahut-sahutan.

Hal ini bisa jadi lebih menantang ketiga aktor (Agus, Gita, dan Dedek). Serta sutradaranya, Jong alias Santiasa Putu Putra dan penata bunyi Heri Windi Anggara untuk sesi kedua.

Sebuah petualangan kompleks, salah satunya diajak ikut merasakan derita kawan-kawan tuna netra, terlebih saat hilir mudik di jalanan kota penuh lubang dan halangan di trotoar. Namun di sisi lain merayakan ketajaman indera mereka.

Ulasan terlalu panjang pasti melumpuhkan imaji, mumpung masih ada hari terakhir hari ini, ayo pacu adrenalin di panggung rumah Sekali Pentas yang ke-4 ini. Pertunjukan dengan aroma kopi dan mie instan rasa bakso ini dihelat di ruang berkesenian anyar di Denpasar, Canasta Art Space pada 10, 11, dan 12 Agustus 2018 mulai pukul 20.00 WITA.

The post appeared first on BaleBengong.

Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional

Remaja berusia 13 sampai 16 tahun dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek ini.

Youth Jury Board Minikino Film Week 4

Minikino Film Week (MFW) di bawah naungan yayasan Kino Media tahun ini masuk usia keempat. Sejak awal festival film pendek internasional ini dirancang sebagai festival yang masuk dalam keseharian masyarakat, membuka kesempatan pada semua orang mengalami suasana menonton bersama dan sekaligus mengajak untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang ditonton.

Tahun ini Minikino mengawali rangkaian kegiatan pra-festival dengan mengadakan pelatihan selama tiga hari penuh di Omah Apik, Pejeng, Gianyar. Pelatihan bertajuk ‘MFW 4 Youth Jury Camp 2018’ telah dilangsungkan pada tanggal 6-8 Juli 2018. Kegiatan ini membuka kesempatan bagi remaja berusia 13 sampai 16 tahun untuk dilatih mengapresiasi film-film pendek dan diakui sebagai 2018 International Youth Jury Board (badan penjurian remaja tingkat internasional untuk tahun 2018) dalam festival film pendek berskala internasional ini.

Jalur pendaftaran MFW4 Youth Jury Camp 2018 dibagi dua yaitu, jalur pendaftaran umum dan jalur beasiswa. Untuk jalur umum, pendaftaran dipromosikan di Indonesia dan Asia Tenggara melalui website dan media sosial, dengan persyaratan biaya pendaftaran. Sedangkan jalur beasiswa hanya dibatasi untuk 2 (dua) remaja yang memiliki Nomor Induk Siswa Nasional dari wilayah Bali. Penerima beasiswa mendapatkan fasilitas bebas biaya sepenuhnya, namun melalui proses wawancara dan proses seleksi yang ketat.

“Ini merupakan kesempatan yang istimewa dan bergengsi untuk para remaja. Mereka mendapat pelatihan khusus dan diberikan peran yang penting secara aktif menilai film-film pendek kategori anak, remaja dan keluarga. Film-film pendek yang dinilai oleh para juri remaja adalah yang sudah lolos resmi dari tim seleksi Minikino. Di dalam pelatihan ini mereka menentukan 5 nominasi internasional untuk Youth Jury Award 2018,” kata direktur festival Minikino Film Week 4, Edo Wulia.

Sebanyak 6 (enam) remaja dari Bali, Jakarta, dan Tangerang berhasil menyelesaikan rangkaian pelatihan intensif tersebut dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari festival sebagai MFW 4 Youth Jury Board. Mereka adalah Sophie Louisa (15) dan Keane Levia Koenathallah (16) dari Tangerang Selatan, Natasya Arya Pusparani (15) dari Jakarta Selatan, Seika Cintanya Sanger (15) dari Tabanan, serta Ni Ketut Manis (15) dan I Putu Purnama Putra (15) dari Karangasem.

Di hari pertama MFW4 Youth Jury Camp 2018, peserta dibekali dengan sejumlah materi tentang sejarah film dunia termasuk pengaruhnya di Indonesia, tata-cara mendengarkan dan mengemukakan pendapat, mengenal elemen gambar dan suara dalam film, serta kreatifitas tutur visual. Pelatihan ini langsung disampaikan oleh dewan komite Minikino Film Week 2018, yaitu Direktur Festival Edo Wulia, Direktur Program Fransiska Prihadi, Direktur Eksekutif I Made Suarbawa, serta fotografer resmi untuk festival, Syafiudin Vifick ‘Bolang’ yang secara profesional telah dikenal luas di Indonesia.

Modul-modul yang disiapkan dan diberikan para pengajar dalam pelatihan ini memiliki peran besar. Membantu para juri remaja menyaring puluhan film pendek internasional yang ditonton dan dibahas secara mendalam menjadi 5 (lima) nominasi 2018 Youth Jury Award. Keputusan ini dihasilkan melalui metode diskusi yang serius, proses mempertanggungjawabkan pendapat dan berujung pada mufakat.

Proses ini menciptakan tidak hanya sebuah proses penjurian yang kritis, namun juga generasi muda yang memiliki kualitas kepemimpinan yang sekaligus memiliki kepekaan untuk melihat, mendengarkan, mengemukakan pendapat, dan kemampuan mencari titik temu untuk kepentingan bersama.

I Putu Purnama Putra, salah satu peserta dari Karangasem yang mengikuti MFW4 Youth Jury Camp lewat jalur beasiswa berkata bahwa ia digembleng banyak hal selama 3 hari tersebut. “Awalnya saya kaget, ternyata lolos seleksi beasiswa. Saya agak jarang nonton film, dan kalau pun menonton hanya menikmati saja. Tapi sekarang saya juga ikut menilai apakah tontonan itu bagus atau tidak.”

Natasya Arya Pusparani yang berasal dari Jakarta Selatan juga menyatakan bahwa MFW4 Youth Jury Camp ini merupakan sebuah pengalaman baru baginya. “Sebenarnya saya tipe orang yang lebih suka mendengarkan (pendapat orang lain). Tapi di MFW4 Youth Jury Camp ini saya dibimbing para mentor untuk berani mengemukakan pendapat. Pengalaman yang sangat bagus buat saya. Suasananya juga sangat bersahabat.” Ungkapnya.

Proses penjurian dalam Youth Jury Camp 2018 berlangsung lancar dan mencapai hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun semuanya masih akan berlanjut. Pada saat festival MFW 4 di Bali, tanggal 6 sampai 13 Oktober 2018 mendatang, para juri remaja tingkat internasional ini akan melanjutkan kembali diskusi mereka untuk menentukan 1(satu) peraih penghargaan prestisius 2018 MFW Youth Jury Award. Bahkan seluruh komite festival ikut penasaran menunggu keputusan mereka. Untuk info lebih lanjut bisa diikuti di tautan link minikino.org/filmweek

Levia (16) dalam sesi review MFW4 Youth Jury Camp 2018
Levia (16) mengemukakan pendapatnya tentang film yang baru saja ditonton.(foto: Vifick Bolang)
Hari kedua MFW4 Youth Jury Camp 2018
Para peserta menonton film pendek calon nominasi Youth Jury Award Minikino Film Week 4. (foto: Vifick Bolang)
Edo Wulia (Direktur Festival Minikino Film Week) menjelaskan materi sejarah film dunia. (foto: Vifick Bolang)
Diskusi bersama, saling mendengarkan dan berpendapat untuk mencapai mufakat.(foto: minikino)

The post Remaja Jadi Juri Festival Film Pendek Internasional appeared first on BaleBengong.

Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan

Penampilan Navicula di acara Kopernik Day 2018: Perayaan 8 Tahun Kolaborasi dan Inovasi. Foto Fauzan Adinugraha/Kopernik.

Ratusan anak muda berkerumun di depan panggung.

Mengikuti aba-aba gitar dan drum, mereka mulai loncat sambil menganggukkan kepala. Sang vokalis berambut panjang memimpin: “Penguasa jagalah dunia Bumi kita, rumah kita bersama.”

Sebuah lagu yang mengingatkan penonton atas bahaya pembangunan tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan sekitar. Penonton pun serempak ikut bernyanyi, meneguhkan pesan sang vokalis.

Perpaduan antara musik dan pergerakan sosial telah berjalan lama. Lagu-lagu musisi folk seperti Iwan Fals, sang ‘wakil rakyat’, pada tahun 1990-2000an menjadi yel-yel perjuangan hak masyarakat miskin dan marjinal hingga saat ini.

Pada tahun 2007, band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, mempersembahkan lagunya ‘Di Udara’ kepada aktivis HAM Munir Said Thalib. Ada pula alunan lagu band Nosstress yang mengiringi isu tata pembangunan dan menyempitnya ruang kota di Bali.

Pendekatan seni dan budaya guna menyuarakan tantangan lingkungan dan sosial masa kini menjadi sarana efektif untuk menarik hati dan memulai dialog dengan masyarakat, terutama anak-anak muda.

Sebagai organisasi yang berupaya menemukan solusi efektif dalam upaya penanggulangan kemiskinan, Kopernik menyadari bahwa dampak dari kegiatan suatu organisasi seringkali terbatas pada komunitas yang menerima dukungan tersebut secara langsung. Padahal mungkin saja ada daerah lain yang juga membutuhkan atau bahkan ada organisasi lain yang dapat meningkatkan efektifitas solusi tersebut.

Atas dasar itu, setahun terakhir ini Kopernik telah giat menjalin kerja sama dengan berbagai tokoh industri kreatif Indonesia untuk menyebarkan temuan dan mendorong dialog dalam rangka mengembangkan solusi-solusi efektif yang dapat memberikan perubahan sosial yang berkelanjutan. Beragam mitra kerja Kopernik — mulai dari musisi, sutradara sampai seniman — merupakan tokoh masyarakat yang berpengaruh dan memiliki posisi yang unik dalam mengangkat isu sosial dan meningkatkan partisipasi publik.

Salah satu mitra Kopernik, Navicula, dikenal sebagai band yang aktif terlibat dalam gerakan sosial dan lingkungan. Band asli Bali ini dijuluki sebagai Green Grunge Gentlemen karena pesan-pesan dalam musik mereka sarat dengan tema lingkungan seperti lagu “Metropolutan”, “Orangutan”, “Over Konsumsi”, atau “Di Rimba”.

Navicula, Erick EST dan Kopernik bersama pengguna lampu tenaga surya di Sumba saat proses produksi video klip Terus Berjuang. (Photo credit: Erick EST)

Bersama dengan Navicula dan sutradara Erick EST, Kopernik memproduksi video klip untuk lagu “Terus Berjuang” milik Navicula yang didedikasikan untuk para aktivis sosial dan lingkungan yang tengah berjuang mendorong perubahan sosial.

Video klip ini menyoroti isu kesenjangan akses listrik di daerah timur Indonesia dan menampilkan kegiatan beberapa Ibu Inspirasi Kopernik yang membantu memperluas akses energi di daerah terpencil melalui penjualan teknologi tepat guna, seperti lampu tenaga surya dan saringan air tanpa listrik.

Bukan hanya musik, seni audio-visual dan pertunjukan juga merupakan media yang efektif dalam meningkatkan wawasan masyarakat yang dapat mendorong perubahan sosial suatu kelompok masyarakat.

Mural dari seniman Sautel Chago di kantor Kopernik tentang pemilahan sampah anorganik dan organik. (Photo credit: Reza Muharram Harahap/Kopernik)

Prinsip itu juga yang menjadi dasar Kopernik untuk memulai proyek Pulau Plastik bekerja sama dengan Akarumput, sebuah rumah produksi asal Bali dengan misi meningkatkan wawasan masyarakat mengenai isu lingkungan dan sosial melalui seni visual, musik dan kampanye media.

Pulau Plastik merupakan serial video edukasi yang memadukan pendekatan budaya populer dan antropologi dengan media visual guna menjangkau masyarakat lokal dan mendorong kesadaran untuk mengelola sampah dengan lebih baik.

Komponen seni dan budaya dalam proyek Pulau Plastik diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi produk plastik sekali pakai di Pulau Bali.

Berdasarkan hasil penelitian Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Pulau Bali menghasilkan hingga 268 ton sampah plastik setiap harinya dan 44 persen tidak diolah sehingga mencemari lingkungan (Gatra, 24 April 2018). Sampah plastik tersebut terbuang di sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut dan membahayakan kehidupan biota laut. Masalah ini tidak dapat diatasi hanya dengan lembaga sosial atau pemerintah saja, namun butuh partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Kopernik terus berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan industri kreatif dan lembaga sosial yang memperjuangkan isu sosial dan lingkungan, serta mendorong komunitas masyarakat untuk aktif berekspresi dan beraksi melalui medium masing-masing demi perjuangan mencapai pembangunan yang setara dan berkelanjutan. [b]

The post Kolaborasi Seni dan Gerakan Sosial untuk Perubahan appeared first on BaleBengong.

Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia

Catat tenggat pengiriman karyanya: 21 April 2018.

Indonesia Raja, kolaborasi antar-wilayah di Indonesia dalam bentuk pertukaran program film pendek yang diinisiasi Minikino, siap digelar kembali menyongsong tahun 2018 ini.

Setelah melalui proses seleksi programmer sejak 4 Maret 2018 lalu, akhirnya telah dilantik 9 programmer mewakili 9 daerah di Indonesia. Saat ini para programmer telah mulai bertugas untuk mengumpulkan dan nantinya akan melakukan kurasi atas film-film pendek dari daerahnya masing-masing. Hasilnya akan disusun menjadi sebuah program film pendek utuh, lengkap dengan tema dan tulisan pengantar.

Mereka yang terpilih, antara lain: Rickdy Vanduwin S untuk wilayah Bali, Aldino Kamaruddin Santoso (Balikpapan), Gerry Fairus Irsan (Bandung), Arlinka Larissa (Jabodetabek), Kemala Astika (Jawa Barat), Canggih Setyawan (Jawa Tengah), Nofita Sari (Jember), Mohammad Ifdhal (Palu), dan Nur Ulfati (Surabaya).

Selanjutnya, para filmmaker Indonesia yang ingin berpartisipasi dalam Indonesia Raja 2018 sudah bisa menyerahkan karyanya ke para programmer sesuai daerah masing-masing. Penyerahan karya film pendek dibuka sejak 1 April hingga 21 April 2018. Proses kurasi dan programming film pendek di masing-masing wilayah akan dimulai 22 April 2018.

Untuk itu, diimbau agar para filmmaker Indonesia tidak melewatkan tanggal submisi film pendek untuk Indonesia Raja 2018.

Proses mengundang dan memilih programmer di tahun ke-4 ini Minikino berusaha semakin selektif. Pengalaman dalam mengatasi berbagai kendala di tahun-tahun sebelumnya membuahkan berbagai catatan penting untuk diuji kembali tahun ini.

Selain menegaskan kesamaan visi, Minikino juga berusaha mencari calon programmer yang memiliki wawasan serta pemahaman teknis, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Yang juga berbeda pada edisi kali ini adalah persyaratan rentang usia produksi cukup panjang, yaitu semua film pendek yang diproduksi sejak 2010 bisa diikutsertakan.

Sembilan programmer mewakili 9 daerah di Indonesia yang akan mengkurasi karya-karya dalam Indonesia Raja 2018. Foto Minikino.

Sekadar informasi, proses programming film pendek diperlukan untuk menyusun suatu tema yang dapat menghubungkan film-film pendek itu agar lebih nyaman ditonton. Selanjutnya diharapkan dapat merangsang diskusi produktif di antara penonton. Untuk tujuan ini, programmer juga perlu memikirkan urutan filmnya, mana yang lebih tepat sebagai pembuka, dan mana yang lebih tepat untuk mengakhiri.

Demikianlah tugas kesembilan programmer Indonesia Raja 2018 yang terpilih.

Para programmer dapat dihubungi langsung melalui informasi resmi Minikino untuk Indonesia Raja, juga berbagai persyaratan untuk mendaftarkan film pendeknya.

Pengumuman final untuk program Indonesia Raja 2018 akan diumumkan secara terbuka kepada masyarakat pada 3 Juni 2018 mendatang melalui berbagai kanal pemberitaan. Setelah itu, program-program tersebut siap untuk disebar pada acara-acara screening di seluruh wilayah di Indonesia. [b]

The post Indonesia Raja Memanggil Para Filmmaker Indonesia appeared first on BaleBengong.

Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan

Ayu dan barisan massa aksi Women’s March Bali. Foto Iin Valentine

Minggu, 4 Maret 2018  lalu, menjadi hari yang tidak biasa bagi saya.

Ya, Minggu, bangun pagi. Jarang sekali terjadi. Pukul 07.10 WITA, saya sampai di area parkir timur Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar untuk mengikuti aksi Women’s March. Ini adalah aksi pertama yang saya ikuti setelah terakhir, sekitar tahun 2016 lalu ikut aksi Bali Tolak Reklamasi di Desa Kelan.

Namun, di tempat saya berdiri, tak ada tanda-tanda yang merujuk pada aksi tersebut. Saat itu saya jadi ragu. Bener ngga nih acaranya hari ini?

Masih berbekal sedikit rasa ngantuk, saya merogoh tas yang isinya amburadul untuk mengambil ponsel. Saya mau memastikan kembali pengumuman acaranya, apakah sudah berada di tempat dan waktu yang benar. Poster digital yang saya simpan di ponsel mengatakan bahwa titik kumpulnya memang benar, di area parkir timur Lapangan Renon. Jamnya pun benar (walaupun ngaret 10 menit).

Tak sampai 10 menit berjalan, saya lihat kerumunan orang dengan mengenakan pakaian bernuansa hijau toska dan ungu, sesuai dress code acara itu, sedang berkumpul. Di kerumunan itu, seseorang berpakaian nyentrik telah mencuri perhatian saya. Ia tampil sangat percaya diri dengan balutan kemeja ungu dengan kamen (kain) berwarna pink yang dililitkan khas lelaki Bali, lengkap dengan udeng (hiasan kepala) berwarna senada.

Tak ketinggalan, sepasang anting cantik menghiasi kedua telinganya. Membuat penampilannya sangat eye catching. Ia adalah Ayu Bagaoesoekawatie, salah satu koordinator lapangan aksi Women’s March Bali tersebut.

Sebelum aksi dimulai, Ayu menjelaskan tata tertib kepada para peserta. Menurut Ayu, ini adalah aksi yang tidak sembarangan. Ketertiban dan keamanan tetap harus dijaga, mengingat bahwa aksi itu berlangsung di ruang publik dengan aktivitas yang ramai.

Mereka sudah siap dengan membawa poster yang bertuliskan berbagai pernyataan sikap seputar isu gender, kekerasan, hingga penolakan terhadap RKUHP.

“Perempuan bersatu!”

“Tak bisa dikalahkan!”

“Perempuan Bergerak!”

“Tak bisa dihentikan!”

Begitulah seruan yel-yel yang dikomando oleh Ayu penanda aksi Women’s March telah dimulai. Para peserta menirukan yel-yel tersebut dengan penuh semangat sambil berjalan mengelilingi lapangan. Berbagai kalangan ikut ambil bagian menyuarakan pernyataan sikap. Perwakilan LBH APIK Bali, KISARA Bali, mahasiswa, pelajar, dan kalangan umum membaur dalam barisan.

Massa membawa poster yang bertuliskan penyataan sikap dan tuntutan. Foto Iin Valentine.

Seperti yang tertulis di poster, aksi ini menyoroti isu seputar gender, bagaimana perempuaan, anak, dan kelompok rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan. Baik itu kekerasan fisik psikis, maupun  verbal. Selain menyuarakan pernyataan sikap, ajakan untuk saling menghormati sesama manusia pun ikut disuarakan.

Aksi yang diikuti mayoritas oleh perempuan itu diadakan dalam rangka memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Women’s March sendiri berawal dari perlawanan kaum perempuan dan kelompok minoritas di Amerika Serikat terhadap Presiden Trump yang sering merendahkan hak-hak mereka.

“Tidak ada lagi suit-suitan di jalan! Tidak ada lagi panggilan sayang di jalanan! It’s not gentlemen! Kami cukup dihormati. Hormati sebagai manusia. Berikan ruang hidup yang sama seperti manusia yang lain!” teriak Ayu saat memimpin barisan aksi.

“Melawan penindasan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Perempuan bergerak, melawan penindasan, yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

Yel-yel terdengar dinyanyikan beberapa kali. Mencuri perhatian masyarakat yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sekadar mendokumentasikan, bertanya-tanya itu aksi untuk apa, hingga ada beberapa yang memutuskan untuk ikut bergabung dalam aksi.

Sebanyak 8 tuntutan diajukan dalam aksi. Foto Iin Valentine.

Selanjutnya, Eka Purni Astiti, perwakilan KISARA Bali, menegaskan bahwa isu kekerasan berbasis gender dan kriminalisasi upaya-upaya peningkatan kesehatan reproduksi dan juga seksual menjadi tantangan ke depannya. Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2016, terdapat lebih dari 200.000 kasus kekerasan pada perempuan.

“Ini hanya menjadi sedikit bagian dari apa yang kami perjuangkan. Dengan berjalan kaki di aksi ini,” jelas Eka.

Menurut Eka, untuk dapat mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender, anak-anak muda dan seluruh masyarakat harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa jenis-jenis kekerasan berbasis gender. “Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis dan seksual,” lanjutnya.

Setelah mengelilingi lapangan sebanyak dua kali, aksi ini ditutup di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja dengan pembacaan puisi dan orasi dari beberapa peserta aksi. [b]

The post Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan appeared first on BaleBengong.