Tag Archives: Sosial

DJ di Musik Bersuara: Disko dan Donasi untuk Tenaga Kesehatan

Program Musik Bersuara kali ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Dihelat dengan seru melalui akun IG @BaleBengong dan menampilkan panggung kolaborasi DJ dan VJ dari rumah.

Mereka adalah Mistral dan Mairakilla, dua DJ perempuan dan Artivak, musisi VJ. Ketiganya menghibur sekaligus menggalang donasi untuk bantuan alat pelindung diri (APD) tenaga kesehatan yang dihelat sejumlah relawan melalui program Jauh di Mata Dekat di Hati, donasi #APDuntukTenagaKesehatan yang sudah dihelat sejak Maret 2020.

Mistral memulai penampilan dari pertunjukan yang dikonsep 2 jam nonstop pada Rabu (15/4). Dari layar ponsel, suara musik terdengar jernih, mengalir menggerakkan tubuh. Beberapa orang yang menonton dan berinteraksi dari kolom komentar ada yang menjadikannya pengantar olahraga, workout di rumah. Di layar juga ada grafis Musik Bersuara berserta ajakan donasi ke nomor rekening yang sudah menyalurkan bantuan ke sejumlah layanan kesehatan di Indonesia.

foto: Igun

Salah satu DJ perempuan terbaik ini dikenal suka membujuk dan menggoda kerumunan saat bereksperimen di lantai dansa. Banyak pengaruh musik Mistral berasal dari Funk, Jazz, dan Soul. Di sela-sela pertunjukan dari rumah ini elemen klasik muncul dalam set-nya.

Jika siang hari ia gemar surfing di laut, pada malam hari Jasmine Haskell (alias Mistral) mulai mengejar hasratnya untuk menjadi DJ pada usia 17 tahun. Pembelajarannya dimulau di Liquid Bar. Tak lama kemudian, Jasmine memulai debutnya di bar play house dan kemudian berevolusi menjadi banyak bentuk suara bawah tanah lainnya yang dimainkan di banyak tempat di Bali dan Asia Tenggara; 66 Club, Junkyard, Woo Bar di The W Hotel, Jenja, Kafe Rumah, Koh, Disko Afrika, Maggie Choo di Bangkok, Bassavengers di Nagaba dan Calavera di KL, klub Mojo di Yangon.

Dia juga bermain di beberapa festival musik seperti Paradise in Bali, Dimension Playground, dan juga festival Sunblast. Saat ini ia adalah salah satu dari tiga penduduk untuk acara Sundaze di Manarai.

Selama karirnya, Mistral telah bermain bersama banyak DJ internasional terkenal dan pertunjukan musik seperti Jo Mills, Utah Jazz, Bag Raiders, T-Roy, Mike Steva, Filastine, Dennis Ferrer, Kembar Ragga, An-tenn-ae, dan lainnya.

Jasmine juga mendorong sebuah festival kemah komunitas unik yang disebut Banjar Campout. Program ini mendorong lahirnya talenta lokal dalam musik elektronik dan eksperimental serta pengalaman berharga.

Satu jam setelah disko untuk donasi, sesi kedua dilanjutkan DJ perempuan lainnya, Mairakilla yang berdarah Jepang-Indonesia, lahir dan besar di Pulau Bali. Ia juga penari dan drummer karena ibu penari dan ayah seorang DJ. Ia bermain di klub musik tepi pantai popuer, Finns, Rock Bar, dan klub malam Mirror.

Maira adalah DJ perempuan pertama yang bermain di Breakinvasion, acara tahunan breakdance di Indonesia. Dia juga memainkan hip-hop dan funk untuk Island Break, pertandingan Breakdance tahunan di Bali. Tapi gaya DJ-nya lebih seperti Intense House, Techno, Breakbeat to Baltimore Club ke Ghetto dengan Voguing Funky Breaks.

Penampilan kedua DJ perempuan ini dihidupkan oleh video jockey, Artivak. Ini adalah praktik seni dan desain multidisiplin yang menghubungkan musik, budaya, dan teknologi yang dipimpin oleh Rama Rowi & Ronald Tanos.

Kolaborasi ketiganya juga terlihat di sebuah gerakan, Banjar Camp Out. Didirikan di Bali oleh sejumlah orang yang memiliki hasrat yang sama untuk musik, seni, dan alam. Ini adalah ruang kreatif di alam untuk musik, seni, dan lokakarya.

Update donasi

Saat ini sudah puluhan dokter dan perawat yang meninggal dari dampak pandemi ini di Indonesia. Tak sedikit yang harus berpisah dari keluarga selama beberapa pekan agar tak membawa penyakit ke rumah. Kabar duka ini menyusul langkanya alat-alat pelindung diri seperti masker, baju hazmat, dan lainnya yang harganya melonjak bahkan hilang dari pasaran.

Terima kasih atas kontribusi kawan-kawan musisi dan seniman lain dalam aksi kolaborasi ini. Inisiatif ini bisa dibaca di laporan donasi publik minggu I https://balebengong.id/laporan-minggu-i-bantuan-apd-untuk-tenaga-kesehatan/

Sampai pada laporan publik minggu III, terkumpul hampir Rp 60 juta dari berbagai rekening. Puluhan orang berkontribusi dari Bali dan luar Bali. Sampai 19 April 2020, mereka adalah Man Angga, Gunawarma, Cok (bergantian dengan akun Nosstress), Made Maut, Bobby-SID, Sandrayati Fay, diskusi Happy Salma-Frischa, komedian Rare Kual, Wake Up Irish, AlienChild, Yan Sanjay-Pygmos, Dewa Gede Krisna, The Dissland-Made Ardha, diskusi buku Man Angga-Post Santa, Iksan Skuter, diskusi Rini Sialagan-Gendo Suardana, Zio, Soul n Kith, Reda Gaudamo, Dokter Gusti Martin, Krisna Float, The Pojoks, dan lainnya.

Ada beberapa event dengan topik lain tapi misinya untuk “APDuntukTenagaKesehatan” menggunakan rekening sama, yakni donasi melalui kaos dari brand Mayhem, Musik Bersuara oleh BaleBengong, dan bincang Sastra di Udara (Juli Sastrawan). Berikutnya ada dari Yayasan AJAR, dan lainnya.

Saatnya Bali Kembali ke Jati Dirinya, Bertani

Petani mengerjakan lahannya di Jatiluwih, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Pandemi ini mengingatkan kembali pada pertanian yang sudah terlupakan.

Pada mulanya masyarakat Bali mata pencahariannya adalah petani. Itu kita masih bisa lihat dengan jelas dari video, foto dan sejarah Bali tempo dulu.

Selain sejarah itu, kebudayaan agraris sampai sekarang kita lihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Contoh kecil saja pada bahan penjor, semua menggunakan bahan pertanian dan perkebunan.

Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat nyaman untuk berkesenian. Misalnya melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal. Hal ini misalnya dilakukan Walter Spies.

Kemudian para seniman itu mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.

Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Yang semula petani kini menjadi dagang acung, sopir travel dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat, sekarang didominasi pelaku pariwisata. Alasan utamanya, pariwisata membuat orang lebih mudah mendapat uang. Di sisi lain, pekerjaan sebagai petani makin kehilangan gengsinya.

Kemudian Bom Bali meledak 2002. Pariwisata Bali terpuruk.

Banyak pakar dan praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Menurut mereka selain karena pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.

Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakkan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata lahir kembali (reborn). Jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan sebelum bom. Itu karena baiknya ekonomi dunia dan promosi pariwisata.

Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ”kecanduan”, pertumbuhan akomodasi tak terkendali. Membuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi.

Pantai Kuta ditutup untuk mencegah meluasnya COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Kemudian muncullah virus corona baru penyebab COVID-19 di tahun 2020. Semua terenyak karena sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit ini. Hotel, restoran, objek wisata dan travel semua lumpuh total. Demikian juga efek multipliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dilakukan. Badai krisis membayangi. Suara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.

Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian. Sambil bekerja dari rumah, pemerintah bisa mulai merumuskan itu kembali. Tentu dengan para tim ahlinya, sehingga ada peta jalan tentang pertanian Bali. Misalnya dengan mengadakan moratorium perizinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.

Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian. Pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga. [b]

Pandemi Corona, Momentum Memperbaiki Pariwisata Nusa Penida

Sejak 2014, pariwisata makin menggeliat di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Pariwisata seperti candu memabukkan.

Bila kenikmatannya merasuki jiwa dan seketika dihentikan, maka dia membuat sang penikmatnya menggelepar ketagihan. Persis seperti itu yang terjadi pada pariwisata Bali termasuk Nusa Penida yang berkembang dengan pesat sejak tahun 2014.

Perkembangan Nusa Penida, gugusan pulau di Kabupaten Klungkung, Bali banyak dikunjungi karena memiliki objek wisata alam yang indah. Pariwisata Nusa Penida berkembang dengan pesat membuat masyarakat kecanduan mendapat uang dengan mudah. Seketika semua beralih profesi menjadi pengusaha dan pelaku pariwisata.

Kebun yang tadinya ditanami singkong dialih fungsikan menjadi penginapan. Warga yang tadinya menjadi buruh bangunan kemudian belajar menyopir menjadi pengantar wisatawan. Ada juga yang tadinya punya pengalaman minim di bidang memasak ditambah belajar di YouTube lalu membuka restoran.

Yang punya modal dan keberanian lebih membeli kapal cepat (speed boat) dan membuat beach club. Celakanya para pengusaha lokal itu hampir semuanya akses dana ke bank. Ketika terjadi virus corona yang menyebabkan tak ada wisatawan sama sekali, semuanya “menggelepar”.

Perkembangan pariwisata di Nusa Penida menyisakan sejumlah masalah. Perkembangan begitu pesat membuat pembangunan infrastruktur kalah cepat. Misalnya saja jalan raya baru belakangan diperbaiki. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering mati. Pelabuhan yang representatif pun belum ada.

Begitu pula daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah masih belum memadai. Sampah sering terlihat menumpuk di beberapa lokasi dan ladang masyarakat. Selain masalah itu, tak kalah pelik tentang sumber daya manusia yang masih minim. Tentang bagaiamana keterampilan (skill), sikap (attitude), dan pengetahuan (knowledge) yang masih minim. Bila dibiarkan akan menurunkan citra baik suatu destinasi.

Pemandu dan sopir pariwisata menyambut turis di Nusa Penida, Maret 2020. Foto Anton Muhajir.

Tawaran

COVID-19 yang mewabah ke seluruh dunia menyebabkan semua perekonomian lumpuh termasuk sektor pariwisata. Demikian pula pariwisata Nusa Penida yang baru enam tahun menggeliat. Bila tidak dilakukan pembenahan keberlanjutan, pariwisata Nusa Penida dikhawatirkan keberadaannya. Untuk itu wabah COVID-19 ini bisa menjadi momentum untuk introspeksi bersama.

Secara sadar kita harus akui ada kesalahan pengelolaan pariwisata Nusa Penida. Setelah adanya kesadaran bersama, baru kita benahi bersama-sama. Konsep pengelolaan tiga pulau satu manajemen perlu dilakukan dengan momentum matinya pariwisata akibat virus corona.

Caranya adalaha dengan membentuk satu Badan Pengelola Pariwasata Nusa Penida. Tugasnya mengelola objek wisata, sumber daya manusia, infrasruktur dan sosial budaya masyarakat.

Sedangkan para penginapan yang terbelit utang tak bisa membayar utang di bank bisa melakukan negoisasi dengan bank. Mereka bisa membentuk holding atau perusahan induk yang menaungi seluruh penginapan di Nusa Penida dengan penjamin investor yang pro pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berkelanjutan. Mungkin bisa koperasi atau atau apalah istilahnya yang menyuntikan dana segar agar bisa bayar utang dan perbaikan manajemen secara keseluruhan.

Tentunya pemilik tetap pemilik penginapan saham senilai akurasi tim penilai. Kemudian ada pengelola yang profesional sehingga melatih sumber daya manusia (SDM), memperbaiki standar properti dari pendanaan baru dan terutama karena perusahaan induk yang mengelolanya satu, maka perang harga tidak terjadi.

Demikian pula jumlah kamar di Nusa Penida diatur oleh holding sehingga tidak ada lagi istilah kelebihan kamar. Bila ada wabah seperti virus corona ini terjadi pun semua akan siap. Tak ada kelabakan lagi

Begitupula speed boat dan pemilik kendaraan pengantar tamu. Bisa masing-masing menyatukan diri membuat perusahaaan bersama. Istilahnya membuat perusahaan induk berdasarkan bisnis utamanya. Sehingga tak ada istilah kebanyakan boat yang menyebabkan kekurangan penumpang. Perang harga juga bisa dihindari. Demikian pula sopir. Tak ada saling membanting harga dan standar mobil. SDM juga bisa disamakan dan diperbaiki.

Bila tawaran itu bisa dilakukan, masalah manajemen pulau telah diatur Badan Pengelola Pariwisata, sedangkan perusahaan-perusahaan akomodasi sejenis bisa menggabungkan diri untuk menghindari kejadian gagal bayar bank. Selain itu perang harga dan standardisasi kualitas pelayanan pun akan bisa dibenahi sehingga kualitas pariwisata Nusa Penida akan lebih baik lagi setelah pandemi. [b]

Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Petani masih sibuk di sawah di tengah ancaman pandemi COVID-19. Foto Wayan Martino.

Tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja.

“Karena adanya wabah Corona, kita sekarang hanya di rumah dengan keluarga, menghadirkan kebersamaan. Kebersamaan menanggung masalah yang sama, minggu-minggu tanpa pemasukan.” Begitu unggahan Facebook seorang kawan.

Saya membacanya pagi-pagi buta sembari mengedip-ngedipkan mata melihat layar gawai lalu bergegas bangun tidur.

Kemudian masih banyak lagi beranda Facebook saya dipenuhi dengan berita soal Covid-19 yang dibagikan secara acak. Ada soal harapan. Ada pula soal rasa pesimis akan penularan wabah yang terus betambah.

Ada teman-teman sejawat yang secara kreatif memposting kegiatannya selama diam di rumah. Mereka berkampanye menggunakan tanda tagar #dirumahsaja, kemudian diteruskan secara berantai oleh yang lainnya.

Lalu ada pula soal anggota DPRD dalam bangga mengatakan dirinya adalah garda terdepan melawan virus sehingga harus di mendapat tes perdana. Tentang berita duka dari 25 pekerja medis yang meninggal karena merawat pasien Covid-19. Juga soal satu desa yang menolak jenazah positif Covid-19 saat mau dimakamkan.

Semuanya soal virus corona.

Petugas melakukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Curhatan Tetangga

Namun, di luar kabar itu semua, yang paling menarik perhatian saya adalah soal curhatan para tetangga, ibu-ibu PKK Banjar dan Bapak-bapak paruh baya di desa. Mereka selalu jujur dan buka-bukaan soal situasi. Tentu tanpa ada muatan politik seperti anggota-anggota dewan kita.

Purnama di bulan April ini, Purnama Kedasa akan berlangsung upacara piodalan di Pura Dalem. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya akan selalu ramai. Oleh segala usia dan semua status sosial.

Pura Dalem biasanya paling banyak orang yang bersembahyang (pemedek)-nya. Bisa sampai ribuan penangkil setiap harinya. Dudonan (susunan) upacara berlangsung selama empat hari.

Namun, piodalan kali ini akan berbeda. Waktu dan penangkil-nya dibagi per kelompok. Setiap giliran ngayah, pengayah-nya dibatasi hanya sepuluh orang.

Hal ini tentu disambut banyak pendapat. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa niat baik meyadnya seharusnya tidak dibatasi. Toh, tujuannya adalah untuk mendoakan bumi ini rahayu tanpa bencana.

Mereka yang berpendapat seperti ini adalah golongan orang-orang yang paling rajin perihal upacara. Mereka pula yang taat dan selalu ada di garda terdepan saat ngayah. Juga paling mengerti soal upacara.

“Bagaimana kita bisa terus diam di rumah, sementara kebutuhan sehari-hari tak bisa didiamkan begitu saja,” ungkap Pak Made. Mantan peternak babi ini tak pernah menonton berita sejak munculnya wabah Covid-19.

Lalu, sambil melilit sate, warga lain menimpali dengan cepat. Mengatakan bahwa sudah ada kabar dari pemerintah bahwa akan ada tunjangan sembako segera. Juga biaya listrik akan mendapat keringanan.

Pak Made melanjutkan mengeluarkan isi curhatannya. “Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah,” ujarnya.

“Sudah sebulan sepi tak ada bantuan apa-apa datang, kecuali mobil dengan toa berkeliling di jalan setiap hari,” lanjut Pak Made.

Dialah yang paling kritis di antara kami bertujuh yang sedang ngayah. Sebelumnya Ia juga bersikap sama, antipati sama pemerintah. Dia punya alasan sendiri, belasan anak babinya mati. Sampai saat ini dia belum mendapat solusi dan mengetahui penyebabnya.

Hampir semua peternak babi di desa merasakan hal sama. Harus rela kehilangan salah satu sumber nafkahnya.

Pemerintah itu seperti polisi India, datangnya selalu terlambat. Mengapa tidak dari sebelum-sebelumnya. Corona harusnya bisa dicegah.

Pak Made

Melanggar Imbauan

Obrolan di tengah lingkaran tumpukan sate yang dililit ini memang menarik. Semua bisa saling mengeluarkan pendapat. Tak ada hambatan strata dan status sosial. Walaupun memang meski sedikit melanggar imbauan pemerintah soal social distancing yang jaraknya tak bisa dihindari hanya setengah meter.

Lalu, ada dua pengayah mencurahkan keluhannya karena harus dirumahkan dari pekerjaannya. Satunya bekerja di hotel dan satunya lagi bekerja di restoran. Pekerja hotel sedang berpikir keras mencari cara untuk melanjutkan cicilan sepeda motor Yamaha Nmax di dealer, yang tak mendapat keringanan.

Lalu yang berhenti jadi koki di restoran sedang dalam dilema antara beralih profesi petani atau menjual sawahnya. Sebab, selama ini sawahnya tak ada yang menggarap, hanya ditanami anak pohon albesia yang kurus kering. Sebagian telah mati tak terurus setelah sekali panen.

Di antara kami para pengayah, selalu saja ada yang bijak menjawab. Dia terlihat paling tua dengan rambut dan brewok panjang. Namanya Pak Mangku, Ia bukan seorang pemangku di Pura manapun. Namun, hanya karena senang sembahyang di berbagai pura saat tengah malam sehingga disebut Mangku oleh orang-orang.

Ia mengatakan, “Kita semua, mendapat masalah sama. Tidak hanya di sini, bahkan di seluruh penjuru dunia.”

“Konon menurut berita, kasus yang paling banyak justru ada di negara maju, Amerika. Bahkan di negara yang ada Avengers-nya pun Corona bisa menyerang begitu dahsyat apalagi di negara kita yang hanya ada Si Buta dari Gua Hantu dan Wiro Sableng,” lanjutnya lalu tertawa.

Dengan lebih antusias Mangku melanjutkan. “Sebaiknya kita mulai dari diri sendiri, percuma menunggu pemerintah. Lakukan anjuran kesehatan dengan baik, agar corona tidak menyebar. Makanya pakai masker!”

Sambil dengan bangga dia memberi kode agar orang-orang melihat masker yang dia kenakan. Memang di antara kami hanya dia seorang yang memakai masker.

Pak Made pun tak mau kalah. Ia masih saja meyoalkan yadnya yang pemedeknya dibatasi. “Itu pemerintah, kita yang di Bali tak diizinkan meyadnya, tapi orang-orang dari Jawa dibiarkan masuk ke Gilimanuk!”

Kemudian dijawab oleh seorang yang sedang menyiapkan api untuk memanggang sate. “Kalau tak ada orang Jawa, kamu di mana bisa beli nomor!”.

Obrolan seketika berganti topik, dari virus corona beralih ke peruntungan jual beli nomor.

Kami pun menyelesaikan ayahan di pura pagi ini dalam obrolan yang tema utamanya corona dan nomor. Semenjak munculnya imbauan agar menghindari keramaian dan perkumpulan, judi nomor menjadi topik para lelaki yang paling sering dibicarakan. Sebab, tajen (sabung ayam) sudah tidak diperbolehkan sama sekali.

Mirip seperti peralihan pertemuan fisik menjadi obrolan video call conference yang hanya menggunakan gawai. Nomor pun bisa dibeli tanpa harus bertemu, cukup dengan pesan WhatsApp.

Pada pukul tujuh kami balik ke rumah masing-masing. Tumben bisa menyelesaikan ayahan begitu pagi. Semenjak ada imbauan pemerintah, jam ayahan pun dibuat terbatas dan sepagi-paginya. Namun, bagusnya ada kesempatan saya untuk olahraga pagi. Berolahraga di tempat biasa. Di jalanan di pinggir sawah yang sepi tanpa lalu-lalang kendaraan bermotor.

Imbauan menjaga jarak untuk mencegah penularan virus corona di Denpasar. Foto Anton Muhajir.

Situasi Berubah

Selepas pulang dari pasar, Ibu saya mengeluh dan seperti ngomong pada dirinya sendiri. Katanya sekarang bahan makanan susah dicari. Kadang harganya melonjak mahal. Lagi satu, katanya, dia sekarang menghabiskan banyak waktu di pasar. Sebab, semua pedagang memakai masker jadi butuh waktu menemukan dagang langganannya.

Dan, seperti biasa, saya tak mengubris keluhannya, dan lanjut pergi.

Sampai di jalan di tempat biasa sebagai arena kami untuk jogging, situasinya pun berubah. Sekarang jauh lebih banyak orang. Sebagian besar anak-anak muda. Laki maupun perempuan, baik mereka dari anak sekolahan atau para pekerja yang dirumahkan. Meski ramai tapi saya tak bisa menatap jelas wajah-wajah penuh keringat mereka. Sebagian besar memakai masker.

Seperti biasa saya selalu saja bertegur sapa dengan mereka yang sudah ada di sana sebelum para pelari kecil datang, adalah bapak-bapak petani. Selalu saya perhatian guratan wajah juga badannya yang nampak kekar dan mengilat di bawah mentari. Rasanya pikiran dan tubuh mereka tak gentar oleh corona dan virus apapun. Olahraga dan berjemur setiap hari.

Namun, kali ini berbeda. Mereka nampak bingung saat saya tanya soal kabar garapan padi yang siap panen. Katanya sejak adanya berita corona ini mereka kesusahan mencari teman penggarap lain. Pada bulan-bulan sebelumnya baik saat menandur atau panen, selalu mendapat bantuan tenaga oleh saudara-saudara penggarap dari Jawa dan Lombok.

Kini mereka harus saling menunggu satu sama lain karena di daerah sekitar para penggarap terbatas orangnya.

Kemudian saya membiarkan semua persoalan itu mengembang di udara, terbang bersama aroma tanah sawah. Tapi malah pikiran saya terhenti, saat mata tertuju pada kelompok pekerja keras yang tenggelam bersama padi-padi, berjemur dengan latar indahnya pegunungan.

Saat ini baru soal pembatasan akses dan imbauan untuk tetap rumah, sudah terjadi banyak persoalan. Bagaimana jika benar harus dikarantina (lockdown)?

Tentu dampaknya akan begitu terasa. Sebab, tidak semua bisa bertahan dalam kondisi diam saja. Juga tak semua di antara kita dapat menulis tagar #dirumahsaja, lalu mengunggahnya dalam perasaan aman di media sosial. [b]

Tak Mudah Menjadi Waria, Apalagi di Tengah Pandemi COVID-19

Mami Sisca mengabdikan hidupnya memperjuangkan hak para waria. Foto Maria Pankratia.

Tiap masa selalu terasa sulit bagi sebagian besar waria.

Sejak memilih identitas gendernya yang dianggap abu-abu, waria harus menghadapi dunia yang serba kaku. Bagi banyak orang, waria adalah tabu. Tidak mungkin ada dunia di antara. Hanya ada laki-laki atau perempuan. Di antara itu adalah dosa.

Standar moral arus utama yang disematkan kepada waria, membuat mereka dibuang dari kehidupan yang wajar. Diusir oleh keluarga. Dikeluarkan dari sekolah. Diasingkan oleh sesama manusia.

Tanpa status sosial yang setara, hidup tidak pernah mudah bagi waria. Tanpa pengakuan terhadap keberadaan mereka, waria tak bisa serta merta memperoleh hak-hak serupa warga pada umumnya, terutama pendidikan dan pekerjaan. Pilihannya kemudian banyak yang menjual diri. Sebatas yang pernah saya tahu selama lebih dari 15 tahun akrab dengan mereka terutama di Bali, tidak ada waria yang tidak menjajakan layanan seks sebagai bagian dari sumber kehidupan mereka.

Kini, ketika COVID-19 menjadi pandemi di hampir seluruh Bumi, kehidupan mereka jauh lebih sulit dari yang pernah mereka alami. Setidaknya begitulah cerita teman-teman waria yang secara kebetulan saya temui dua minggu terakhir di Bali.

Sebenarnya, pertemuan dengan teman-teman waria ini untuk sebuah pekerjaan yang lain. Kami sedang menulis kisah teman-teman minoritas: gay, mantan pengguna heroin, orang dengan HIV AIDS (ODHA), pekerja seks, dan waria. Namun, cerita waria selalu terasa lebih dramatis. Begitu pula kali ini, di tengah gempuran pandemi.

Waria-waria ini banyak yang bekerja untuk memberikan layanan seks. Ada yang daring (online), ada pula luring. Mereka yang menjajakan layanan seks lsecara daring ini biasanya menggunakan aplikasi semacam MiChat. Adapun mereka yang menjajakan secara langsung biasanya di dua lokasi paling terkenal di Denpasar, Bung Tomo dan Renon.

Karakter waria di dua lokasi ini berbeda. Di Bung Tomo, biasanya untuk waria yang status sosial dan pendidikannya lebih “rendah”. Tidak pernah sekolah. Baca tulis pun susah. Mereka tergabung dalam Warcan, singkatan dari Waria Cantik.

Di Renon, mereka bergabung dalam wadah Persatuan Waria Renon alias Perwaron. Waria-waria di sini umumnya lebih memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Ada yang lulusan S1. Malah, aku pernah dengar kalau ada yang lulusan S2 luar negeri meski aku tidak pernah ketemu langsung sama orangnya.

Di luar Denpasar, ada pula komunitas waria yang sangat terkenal adalah Wargas, singkatan dari Waria Singaraja. Mbak Siska, pentolannya, termasuk waria disegani di Bali. Karena karismanya itu pula, sebatas pengetahuan saya, waria di Singaraja termasuk yang paling merdeka di Indonesia. Termasuk untuk berekspresi dan menjajakan layanannya.

Mister and Miss Gaya Dewata 2016/Foto: Luh De Suriyani

Suka Duka

Meski berbeda lokasi dan status sosial, pelanggan mereka kurang lebih sama: anak-anak muda yang ingin melampiaskan berahinya, suami-suami yang tak terpuaskan oleh istrinya, atau sekadar laki-laki yang ingin mencoba fantasi berbeda.

Dalam sekali layanan, waria-waria ini mendapatkan bayaran beragam. Paling besar bisa sampai Rp 300 ribu atau bahkan lebih. Paling rendah Rp 50.000 sekali transaksi. Paling tidak enak? Dibawain balok besi sama pelanggan yang tidak bisa bayar.

“Kami pernah sampai harus merangkak di bawah kawat besi karena dikejar-kejar pelanggan preman yang tidak bisa bayar. Jadi waria tapi kayak tentara saja,” kata salah satu waria. Tawanya lalu lepas setelah bercerita.

Dina, sebut saja begitu namanya, sehari-hari menjajakan diri di Renon. Biasanya, dalam semalam dia bisa mendapatkan Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Selain di Renon, dia juga menjual jasa lewat layanan aplikasi. Namun, kini dia tak bisa lagi mendapatkan pengguna jasa.

“Sepi. Gara-gara corona,” kata Selfie, nama samaran waria lainnya.

Meski sudah bekerja di salah satu layanan kesehatan, Selfie biasanya masih memberikan layanan melalui aplikasi. Selain untuk memuaskan hasrat seksual, karena statusnya sekarang tanpa pacar, Selfie juga menjajakan diri untuk mendapatkan tambahan pendapatan.

Makin Susah

Namun, seperti juga Dina, kini tak ada lagi pelanggan yang menggunakan jasa Selfie. Tak ada masukan tambahan yang biasa dia gunakan untuk hidup sehari-hari: makan, bayar kos, dan tentu saja biaya perawatan tubuh, aset penting mereka.

Tanpa pendapatan tambahan, menurut waria-waria itu, hidup jadi makin susah. Apalagi mereka juga hidup sendiri tanpa keluarga. Malah, ada yang menjadi tulang punggung keluarga seperti Kamila, nama samaran lainnya.

Kamila agak berbeda dengan Selfie dan Dina. Dia punya identitas gender “ganda”, laki-laki ketika siang dan perempuan ketika malam. Namanya queer. Berbeda dengan waria yang 24 jam memang tampil seperti perempuan.

Sebagai queer, Kamila bekerja menyanyi tanpa suara (lypsinc) dan menari di dua tempat hiburan di daerah Seminyak dan Kuta. Selain digaji bulanan, dia juga bisa mendapatkan bonus dari layanan seks pada tamu-tamu yang memesannya.

“Sekarang tidak ada sama sekali. Turis sudah pada pergi,” tuturnya.

Nyaris tak ada turis tersisa di Bali saat ini. Tempat-tempat wisata di Bali, terutama Kuta dan Legian, yang biasanya riuh hampir 24 jam, kini serupa kuburan. Lengang. Begitu pula dua tempat Kamila dulu bekerja. Keduanya sudah tutup dan merumahkan karyawannya.

Tanpa pendapatan sebagai queer, Kamila kini harus bertahan menghidup istri dan satu anaknya.

Ketika dunia sedang berperang melawan pandemi COVID-19, orang-orang seperti Selfie, Dina, dan Kamila pun makin terlupa. [b]

Catatan: Berikut tambahan informasi penggalangan bantuan untuk transpuan di Bali.

Halo teman-teman,

Mengingat situasi di Bali sekarang sedang menghadapi pandemik covid-19 (korona), masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah dan mengurangi aktivitas sosial, belanja dan hiburan. Akibatnya banyak dari kita yang menjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari oleh karena terputusnya akses pendapatan.

Kondisi paling buruk dihadapi oleh mereka yang menjadi pekerja harian atau yang bergantung pada pendapatan harian. Banyak dari mereka tak dapat bekerja atau terpaksa bekerja tanpa punya pilihan sebab dengan tinggal di rumah itu berarti tak ada penghasilan sama sekali. Hal tersebut tentu meningkatkan risiko penularan pada mereka yang sudah rentan.

Salah satu kelompok yang paling terdampak itu adalah kawan-kawan waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang selama ini banyak bekerja sebagai pengamen jalanan, pekerja seks, serta perias/penjaja jasa salon. Oleh karena himbauan kepada masyarakat untuk tetap di rumah, kini banyak dari teman teman transpuan kini tak lagi punya pendapatan. Ancaman tersebut menyangkut kelangsungan hidup mereka yang paling mendasar, yaitu akses terhadap makanan.

Maka, kami-kawan-kawan sehati yang tergabung di dalam QLC Bali, sebuah tempat aman bagi kelompok queer di Bali – berinisiatif untuk melakukan penggalangan dan penyaluran dana/bantuan yang dikhususkan bagi teman-teman waria atau transpuan (dan keluarga dekatnya) yang paling terdampak.

Donasi bisa berupa uang dapat ditransfer melalui:

Bank BRI No. Rek. 002301022908505 a/n. ADI WICAKSONO

Atau

Bank BCA No. Rek. 1662626516 a/n. VENNA AGNIASARI

Harap memberikan tambahan 019 pada akhir nominal untuk mempermudah tracking donasi.
Contoh: 50.000 menjadi 50.019

Konfirmasi bukti transfer melalui WA narahubung di bawah.

Kami juga akan mengabarkan balik terkait penggunaan dan bukti penyaluran dana sebagai bentuk upaya terhadap akuntabilitas dan transparansi.

Karena kebutuhan yang mendesak, kami membatasi fase pertama penggalangan dana hingga akhir hari senin 30 Maret 2020 untuk bisa segera kami salurkan di hari berikutnya.

Kami sangat berterima kasih untuk bantuan kawan-kawan semua! Dan kami mohon agar informasi ini bisa disebarluaskan secara bijak dan terbatas mengingat kerentanan kelompok minoritas seksual dan gender di Indonesia.

Narahubung:
Venna, +62 812-1311-433
Natha, +62822-3178-3271

Kamu bisa berkoordinasi atau menyampaikan bukti transfer pada salah satu saja kontak tersebut.