Tag Archives: Sosial

Saat Konten Jadi Candu, Empati pun Luruh Satu-Satu

2002, saat itu saya hamil muda anak pertama. Saluran tv belum sebanyak sekarang, tapi semua serentak menayangkan musibah Bom Bali. Tiga kali ledakan di tempat berbeda dan menewaskan ratusan orang, terbanyak warganegara Australia. Alih-alih berkabung, hampir tiap saat gelimpangan mayat yang dijejerkan di ruang mayat RS Sanglah terekspos hampir setiap menyalakan tv. Maksud hati hendak […]

Parenting 101:Anak Bersikap Rasis, Salahnya Di mana?

“Dy..kamu Cina ya?”Bungsuku terdiam, tak tahu menjawab apa. “Iya soalnya kamu putih. Kata Mas Nganan kalo kulitnya putih itu orang Cina. Kalo kita kan hitem-hitem.”Bungsuku hanya melongo, menatap kawan-kawannya.Entah dia mengerti atau tidak, tapi jelas tak merasa terganggu. Saya bersyukur saat itu. Atas ketidakpahaman si bungsu dan temperamen saya yang tidak serta merta bereaksi. Seringkah […]

Fun Flash Fiction 2020 – Nulis Aja Dulu

NAD_FFF20_Lanjutan Hari_11 Tema_BunuhSajaAku! Judul : ‘Membunuh’ IbuJumlah kata : jelas lebih dari 100 [Apa….Negatif lagi…kurang apa coba treatment yang kau jalani??]Suara Ibu yang pertama terdengar saat speaker handphone kunyalakan.Aku terdiam.Kebiasaan Ibu, hanya memahami hasil bukan proses. Tak tahu ia..betapa lelahnya aku menjalani segala terapi, demi mendapatkan buah hati.[Nanti kau bisa diceraikan, Tya. Keluarga Hasto itu […]

DJ di Musik Bersuara: Disko dan Donasi untuk Tenaga Kesehatan

Program Musik Bersuara kali ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Dihelat dengan seru melalui akun IG @BaleBengong dan menampilkan panggung kolaborasi DJ dan VJ dari rumah.

Mereka adalah Mistral dan Mairakilla, dua DJ perempuan dan Artivak, musisi VJ. Ketiganya menghibur sekaligus menggalang donasi untuk bantuan alat pelindung diri (APD) tenaga kesehatan yang dihelat sejumlah relawan melalui program Jauh di Mata Dekat di Hati, donasi #APDuntukTenagaKesehatan yang sudah dihelat sejak Maret 2020.

Mistral memulai penampilan dari pertunjukan yang dikonsep 2 jam nonstop pada Rabu (15/4). Dari layar ponsel, suara musik terdengar jernih, mengalir menggerakkan tubuh. Beberapa orang yang menonton dan berinteraksi dari kolom komentar ada yang menjadikannya pengantar olahraga, workout di rumah. Di layar juga ada grafis Musik Bersuara berserta ajakan donasi ke nomor rekening yang sudah menyalurkan bantuan ke sejumlah layanan kesehatan di Indonesia.

foto: Igun

Salah satu DJ perempuan terbaik ini dikenal suka membujuk dan menggoda kerumunan saat bereksperimen di lantai dansa. Banyak pengaruh musik Mistral berasal dari Funk, Jazz, dan Soul. Di sela-sela pertunjukan dari rumah ini elemen klasik muncul dalam set-nya.

Jika siang hari ia gemar surfing di laut, pada malam hari Jasmine Haskell (alias Mistral) mulai mengejar hasratnya untuk menjadi DJ pada usia 17 tahun. Pembelajarannya dimulau di Liquid Bar. Tak lama kemudian, Jasmine memulai debutnya di bar play house dan kemudian berevolusi menjadi banyak bentuk suara bawah tanah lainnya yang dimainkan di banyak tempat di Bali dan Asia Tenggara; 66 Club, Junkyard, Woo Bar di The W Hotel, Jenja, Kafe Rumah, Koh, Disko Afrika, Maggie Choo di Bangkok, Bassavengers di Nagaba dan Calavera di KL, klub Mojo di Yangon.

Dia juga bermain di beberapa festival musik seperti Paradise in Bali, Dimension Playground, dan juga festival Sunblast. Saat ini ia adalah salah satu dari tiga penduduk untuk acara Sundaze di Manarai.

Selama karirnya, Mistral telah bermain bersama banyak DJ internasional terkenal dan pertunjukan musik seperti Jo Mills, Utah Jazz, Bag Raiders, T-Roy, Mike Steva, Filastine, Dennis Ferrer, Kembar Ragga, An-tenn-ae, dan lainnya.

Jasmine juga mendorong sebuah festival kemah komunitas unik yang disebut Banjar Campout. Program ini mendorong lahirnya talenta lokal dalam musik elektronik dan eksperimental serta pengalaman berharga.

Satu jam setelah disko untuk donasi, sesi kedua dilanjutkan DJ perempuan lainnya, Mairakilla yang berdarah Jepang-Indonesia, lahir dan besar di Pulau Bali. Ia juga penari dan drummer karena ibu penari dan ayah seorang DJ. Ia bermain di klub musik tepi pantai popuer, Finns, Rock Bar, dan klub malam Mirror.

Maira adalah DJ perempuan pertama yang bermain di Breakinvasion, acara tahunan breakdance di Indonesia. Dia juga memainkan hip-hop dan funk untuk Island Break, pertandingan Breakdance tahunan di Bali. Tapi gaya DJ-nya lebih seperti Intense House, Techno, Breakbeat to Baltimore Club ke Ghetto dengan Voguing Funky Breaks.

Penampilan kedua DJ perempuan ini dihidupkan oleh video jockey, Artivak. Ini adalah praktik seni dan desain multidisiplin yang menghubungkan musik, budaya, dan teknologi yang dipimpin oleh Rama Rowi & Ronald Tanos.

Kolaborasi ketiganya juga terlihat di sebuah gerakan, Banjar Camp Out. Didirikan di Bali oleh sejumlah orang yang memiliki hasrat yang sama untuk musik, seni, dan alam. Ini adalah ruang kreatif di alam untuk musik, seni, dan lokakarya.

Update donasi

Saat ini sudah puluhan dokter dan perawat yang meninggal dari dampak pandemi ini di Indonesia. Tak sedikit yang harus berpisah dari keluarga selama beberapa pekan agar tak membawa penyakit ke rumah. Kabar duka ini menyusul langkanya alat-alat pelindung diri seperti masker, baju hazmat, dan lainnya yang harganya melonjak bahkan hilang dari pasaran.

Terima kasih atas kontribusi kawan-kawan musisi dan seniman lain dalam aksi kolaborasi ini. Inisiatif ini bisa dibaca di laporan donasi publik minggu I https://balebengong.id/laporan-minggu-i-bantuan-apd-untuk-tenaga-kesehatan/

Sampai pada laporan publik minggu III, terkumpul hampir Rp 60 juta dari berbagai rekening. Puluhan orang berkontribusi dari Bali dan luar Bali. Sampai 19 April 2020, mereka adalah Man Angga, Gunawarma, Cok (bergantian dengan akun Nosstress), Made Maut, Bobby-SID, Sandrayati Fay, diskusi Happy Salma-Frischa, komedian Rare Kual, Wake Up Irish, AlienChild, Yan Sanjay-Pygmos, Dewa Gede Krisna, The Dissland-Made Ardha, diskusi buku Man Angga-Post Santa, Iksan Skuter, diskusi Rini Sialagan-Gendo Suardana, Zio, Soul n Kith, Reda Gaudamo, Dokter Gusti Martin, Krisna Float, The Pojoks, dan lainnya.

Ada beberapa event dengan topik lain tapi misinya untuk “APDuntukTenagaKesehatan” menggunakan rekening sama, yakni donasi melalui kaos dari brand Mayhem, Musik Bersuara oleh BaleBengong, dan bincang Sastra di Udara (Juli Sastrawan). Berikutnya ada dari Yayasan AJAR, dan lainnya.

Saatnya Bali Kembali ke Jati Dirinya, Bertani

Petani mengerjakan lahannya di Jatiluwih, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Pandemi ini mengingatkan kembali pada pertanian yang sudah terlupakan.

Pada mulanya masyarakat Bali mata pencahariannya adalah petani. Itu kita masih bisa lihat dengan jelas dari video, foto dan sejarah Bali tempo dulu.

Selain sejarah itu, kebudayaan agraris sampai sekarang kita lihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Contoh kecil saja pada bahan penjor, semua menggunakan bahan pertanian dan perkebunan.

Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat nyaman untuk berkesenian. Misalnya melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal. Hal ini misalnya dilakukan Walter Spies.

Kemudian para seniman itu mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.

Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Yang semula petani kini menjadi dagang acung, sopir travel dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat, sekarang didominasi pelaku pariwisata. Alasan utamanya, pariwisata membuat orang lebih mudah mendapat uang. Di sisi lain, pekerjaan sebagai petani makin kehilangan gengsinya.

Kemudian Bom Bali meledak 2002. Pariwisata Bali terpuruk.

Banyak pakar dan praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Menurut mereka selain karena pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.

Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakkan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata lahir kembali (reborn). Jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan sebelum bom. Itu karena baiknya ekonomi dunia dan promosi pariwisata.

Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ”kecanduan”, pertumbuhan akomodasi tak terkendali. Membuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi.

Pantai Kuta ditutup untuk mencegah meluasnya COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Kemudian muncullah virus corona baru penyebab COVID-19 di tahun 2020. Semua terenyak karena sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit ini. Hotel, restoran, objek wisata dan travel semua lumpuh total. Demikian juga efek multipliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dilakukan. Badai krisis membayangi. Suara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.

Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian. Sambil bekerja dari rumah, pemerintah bisa mulai merumuskan itu kembali. Tentu dengan para tim ahlinya, sehingga ada peta jalan tentang pertanian Bali. Misalnya dengan mengadakan moratorium perizinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.

Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian. Pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga. [b]