Tag Archives: Sosial

Catatan Mingguan Men Coblong: Fiktif

Petani menggarap sawah di antara bangunan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri Tabanan. Foto Made Argawa.

MEN COBLONG membelalakkan matanya dengan perasaan marah.

Kok, ya, ada-ada saja yang dilakukan orang-orang yang memiliki akses kekuasaan dan wewenang untuk mengelola uang negara dengan sewenang-wenang? Bayangkan penduduk desa justru dijadikan korban untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Kapan sesungguhnya korupsi bisa dipangkas di negeri ini? Desa sebagai sumber pangan kehidupan justru dijadikan bancaan untuk pesta pora, dengan tega mencuri dana desa dengan menghadirkan desa-desa fiktif. Bangsa ini, jika disuruh mencuri duit rakyat ide-idenya selalu cemerlang dan cerdas.

Terungkapnya desa-desa fiktif itu setelah ada rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani beserta jajarannya belum lama. Desa fiktif merupakan desa tak berpenghuni, tetapi menerima dana desa.

Keberadaan desa fiktif ini tentunya akan merugikan negara. Mengingat dana desa selalu meningkat setiap tahunnya. Tahun ini, total alokasi dana desa mencapai Rp 70 triliun dan 2020 mendatang akan mencapai Rp 72 triliun.

Men Coblong benar-benar tidak habis pikir, marah yang muncrat sudah meleleh membasahi seluruh tubuh. Bagaimana caranya sesungguhnya mendidik bangsa ini?

Harusnya bangga dengan adanya perhatian pemerintah pada desa. Desa yang selama ini tidak dianggap. Desa yang selama ini kesepian. Desa yang selama ini menghidupi dirinya dengan cara-cara sederhana untuk bertahan hidup. Desa yang memiliki otoritas sendiri untuk mengelola seluruh sektor kehidupan dengan dana terbatas.

Alokasi dana desa yang jumlahnya tidak kecil harusnya mampu membuat desa menjadi tulang punggung pangan. Dana desa harusnya menjadi perhatian dari menteri yang bertanggungjawab pada desa. Dana desa harusnya dipakai untuk membangun sumber manusia di desa, sehingga ada regenerasi untuk masyarakat desa mengelola desanya.

Men Coblong menarin napas dadanya sesak. Sebab, Men Coblong tahu persis banyak anak muda tamat dengan akademik mumpuni di sekolah-sekolah berbasis pertanian, juga teknologi. Kemana mereka?

Harusnya pemerintah mulai memberikan solusi untuk membangun desa dengan mendatangkan para ahli pangan. Sehingga desa memiliki ide-ide cemerlang untuk mampu bertahan di tengah industri teknologi yang merambah dan merampas seluruh sendi kehidupan. Pemerintah harus mulai memanfaatkan para ahli pangan ini untuk turun ke desa, membangun industri pangan di desa juga pekerjaan keren. Karena mampu memberi solusi kekurangan pangan di negeri ini.

Ini mungkin harus jadi prioritas dan perhatian pemerintah. Dengan banyaknya sarjana turun ke desa, membangun desa dengan ketulusan, dijamin negara ini tidak akan kekurangan pangan.

Kenapa dana desa tidak dipakai untuk membangun sumber daya manusia dan alam saja? Kenapa dana desa justru untuk membangun kantor desa? Buat apa bangungan infrastruktur gagah tetapi tidak ada warga yang datang untuk berguru ke balai desa atau ke kantor desa.

Bagi Men Coblong jika ada kemauan semua hal pasti akan mudah diselesaikan. Harusnya dana desa itu benar-benar dipakai dan digunakan untuk mempercantik desa, desa menjadi pilihan hidup yang tidak kalah keren dari kota.

“Kamu itu selalu bermimpi, mana ada sarjana tamatan universitas ternama mau bekerja di desa?” tanya sahabat Men Coblong serius.

Men Coblong mengamini pernyataan sahabatnya itu, ini sesungguhnya tugas pemerintah, memanfaatkan sumber daya manusia yang berlimpah. Banyak sarjana mumpuni tetapi tidak memiliki idealis untuk membangun desa. Tamat sekolah pertanian justru bekerja sebagai ASN dikantor pemerintah, tanpa pernah bersentuhan dengan disiplin ilmunya.

Desa fiktif ini justru menunjukkan lemahnya kinerja pemerintah untuk mengelola keuangan negara. Sudah jadi rahasia umum, jika sudah menjabat para pejabat itu bak raja kecil yang ingin selalu dihormati layaknya bangsawan. Harusnya menjadi pejabat itu melayani rakyat, mengunjungi rakyat, dan rajin turun ke lapanga. Dengan begitu mereka tahu persis kondisi wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka.

Mengerikan sekali jika ada aparat yang mengutak-atik uang rakyat untuk kepentingan pribadi. Jika ini tidak segera dituntaskan dibuka ke publik, dan para pejabat yang bertanggungjawab wajib dan bertanggungjawab atas kelalaian ini. Sehingga kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi. Pejabat juga harusnya memiliki mata telinga lebar-lebar untuk mendengarkan beragam laporan dari rakyatnya.

Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut, dalam kurun waktu 2016 hingga 2018, tercatat sebanyak 212 kepala desa yang terjerat hukum lantaran diduga terlibat dalam praktik korupsi.

Men Coblong masih berharap ada solusi yang tegas dan pengawasan yang benar-benar mampu menjaga desa memiliki otoritas dan eksistensi sebagai sumber pangan. Jika desa dikelola dengan baik, Men Coblong yakin warga desa yang memiliki ilmu tinggi mau datang kembali ke desa membangun desa.

Syaratnya hanya dana desa benar-benar dikelola semaksimal mungkin. Untuk kesejahteran warga desa sehingga desa kembali memiliki harga diri sebagai lumbung pangan di negeri ini. Mereka akan menjelma jadi pahlawan-pahlawan pangan.

Selamat hari pahlawan 10 November 2019. Waktunya instrospeksi diri untuk membangun Indonesia maju dan bebas korupsi. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Fiktif appeared first on BaleBengong.

Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati

Oleh Rischa Sasmita

Hampir 100 persen siswa di Jembrana enggan bertani.

Keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar dunia tidak lepas dari proses fermentasi. Walaupun Jembrana hanya memiliki 800 ha lahan kering dengan produksi kakao kurang dari 2.000 ton, tetapi biji kakao Jembrana diminati oleh produsen cokelat lokal hingga dunia.

Negara seperti Jepang, Belanda, sampai Perancis antre untuk mendapat biji kakao Jembrana. Negara-negara tersebut jatuh cinta dengan biji kakao Jembrana.

Proses fermentasi sangat berpengaruh pada kualitas biji kakao yang akan dipasarkan. Kakao Jembrana terkenal dan dicintai produsen cokelat karena diproses melalui fermentasi. Proses ini membuat biji kakao sehat dan menciptakan aroma (bunga, buah, rempah dan madu) sekaligus menghilangkan rasa pahit dan memunculkan nutrisi.

Biji kakao Jembrana menjadi pusat perhatian pembeli hingga menerobos pasar dunia. Harganya pun termasuk mahal. Produsen memilih biji kakao Jembrana karena memiliki keunikan aroma. Hanya biji kakao Jembrana yang dapat memberi empat aroma sekaligus.

Menurut Pak Wayan Rata, petani asal Melaya yang sudah lama berkecimpung di pertanian kakao, fermentasi sangat berpengaruh terhadap kualitas biji kakao. Tidak kalah pentingnya adalah perawatan kakao sejak di kebun. “Tanaman kakao hendaknya dirawat layaknya anak,” kata Pak Rata.

Pak Rata berhasil mengelola kebun kakaonya karena merawat tanaman kakao dengan baik, mulai dari memotong cabang pohon, menerapkan sistem sambung dan menggunakan pupuk organik. Pemangkasan untuk menghindari adanya buah di cabang karena buah kakao yang baik adalah buah yang dekat dengan akar serta menggunakan pupuk organik. Adapun pemupukan yang baik dilakukan di awal dan di akhir musim hujan dengan menanam pupuk di area dekat tanaman kakao. Penanaman pupuk bertujuan menghindari penguapan dan dirusak ayam atau ternak lain. Begitu pula yang dilakukan petani kakao di Jembrana lainnya.

Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) didampingi Kalimajari meraih sertifikat komoditas UTZ Certified pertama di Indonesia karena telah memenuhi standar. UTZ Certified adalah standar yang dikembangkan oleh organisasi swasta dengan kantor pusat di Belanda. Selain itu kakao di Jembrana juga memiliki sertifikat dari Lembaga Pengawasan Uni Eropa (UE) sebagai pengakuan kualitas produk kakao di Jembarana. United state department of agriculture (USDA) juga dipegang kakao di Jembrana. Terlebih lagi kakao Jembrana lolos dalam 50 besar dari 166 sample dari 44 negara diajang Cocoa Excellent Award 2017. Penghargaan sangat hebat dan dapat dijadikan motivasi.

Generasi Enggan Bertani

Potensi dan prestasi yang mampu diraih sampai saat ini hendaknya perlu dipertahankan hingga nanti. Karena itu, keberhasilan petani kakao Jembrana memasarkan produknya hingga luar negeri terasa ironis karena berbanding terbalik dengan regenerasi petani kakao di Jembrana. Sebanyak 98 persen anak muda di kabupaten ini enggan bertani. Generasi yang terputus menjadi ancaman petani kakao Jembrana.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara di SMP Negeri 4 Negara mengenai peminatan siswa. Ternyata 98 persen siswa laki-laki di Jembrana tidak ingin menjadi petani. Hanya 2 persen yang ingin menjadi petani. Itu pun karena hobi bercocok tanam. Adapun siswa perempuan sebanyak 95 persen tidak ingin menjadi petani. Hanya 5 persen yang ingin menjadi petani karena membantu orang tuanya. Lebih besar lagi, 99 persen siswa di Jembrana tidak faham tentang kakao, tata cara bertani kakao dan potensi serta prestasi yang sudah diraih kakao di Jembrana.

Salah satunya siswa SMP Negeri 4 Negara I Gede Budi Astudiarta yang berasal dari Desa Baluk tepatnya Banjar Baluk Rening. Orang tuanya bekerja sebagai guru yang dimiliki lahan cukup luas untuk bertani. Namun, ia tidak memiliki minat di bidang pertanian karena alasan capek, kotor, malas, panas dan juga penghasilan yang tidak menjanjikan.

Men ngidang sugih ulian megae aluh di kantor. Ngengken kenyel dadi petani. Adenan asana adep tanah 1 hektar. Enggalan maan pis. Men ngantia cokelat mabuah enggala be mati,” kata Gede.

Kentalnya budaya patriaki dalam tradisi Bali, ditambah minimnya minat siswa di bidang pertanian khususnya pertanian kakao, membuat masa depan pertanian dalam ancaman. Lahan yang menyusut, regenerasi petani yang terputus karena kurangnya sosialisasi budaya agraris tanpa disadari tetapi pasti telah mengarahkan terjadinya pergeseran dan sudah dapat diprediksi dari tahun ke tahun akan punah.

Indonesia dikenal dengan negara agraris, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Kondisi alam mendukung, lahan luas serta iklim tropis dimana sinar matahari terlihat sepanjang tahun menjadi peluang petani untuk bertani sepanjang tahun. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian di Indonesia makin menyusut karena kurangnya minat regenerasi di bidang pertanian. Kurangnya minat ini menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Indonesia akan kehilangan gelar negara agrarisnya.

Budaya patriaki sudah berlangsung dari masa lampau di mana laki-laki ditempatkan di hierarki teratas sedangkan perempuan ditempatkan pada nomor dua. Adanya konsep purusa pradhana yang dianut masyarakat Bali, mengakibatkan perempuan di Bali sering dijuluki “pewaris tanpa warisan”. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kesetaraan gender. “Untuk kesetaraan gender, tidak setuju jika semua jatuh ke tangan laki-laki termasuk lahan untuk bertani. Padahal realita di Bali banyak petani perempuan yang aktif. Bahkan perempuan terlihat lebih banyak dari pada laki-laki,” kata Ibu Ni Ketut Arwati, dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana.

Bu Ketut bekerja di bidang ini sejak 31 Desember 2016. Pengalaman kegiatannya lebih sering terjun ke lapangan seperti memberikan sosialisasi bahwa PPPA bukan laki-laki saja, perempuan pun mampu. Masalah lain yang pernah diterima adalah pertengkaran istri dengan suami akibat media sosial dan kecurigaan.

Menurut Ibu Ni Ketut Arwati, budaya adat purusa pradhana di Bali membuatnya sulit untuk membela perempuan dalam hal hak waris. Namun, ia kagum dengan sosok perempuan yang mampu di bidang pertanian. Masalah patriaki, perempuan tidak mendapat hak waris dalam hal lahan untuk bertani, dapat diminimalisir dengan cara perempuan bekerja sama dengan laki-laki. Wanita harus meyakinkan suami untuk tidak menjual tanahnya dan memintanya untuk mengurus bersama suami. Apabila hal tersebut dapat diterapkan, Bu Arwati yakin 99 persen pertanian khususnya pertanian kakao di Bali tetap berkembang dari tahun ke tahun.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Petani itu Miskin?

Potensi dan prestasi yang mampu diraih kakao di Jembrana akan menurun apabila masyarakat masih takut akan pertanian membawa kemiskinan. Ketakutan masyarakat menjadi masalah besar dalam mempertahankan potensi dan prestasi kakao di Jembrana. Padahal anggapan petani itu miskin tidak selalu benar. Petani akan berhasil apabila bekerja dan bekerja sama secara serius. Kesetaraan gender sangat diperlukan dalam pertanian. Apabila kaum laki-laki dan perempuan mampu bekerja sama secara maksimal, maka hasil pertanian akan memuaskan. Salah satu contoh pertanian yang mampu membawa petani keranah sukses misalnya pertanian kakao.

Contohnya adalah pasangan suami-istri (pasutri) I Gede Eka Arsana, biasa dipanggil Guru Eka (50), dengan istrinya bernama Ni Made Ayu Budi Anggreni (39), biasa dipanggil Ibu Ayu. Pasangan yang memiliki 3 orang putri ini sukses menyekolahkan anaknya karena optimis pada hasil kebun. Pasangan ini kompak dalam menjalankan usaha pertanian kakao. Anggapan bahwa petani itu miskin yang kerap hadir di tengah telinga masyarakat tidak menjadi penghalang bagi pasutri untuk bertani.

“Dengan bermodalkan niat, fokus dan serius, tidak akan membawa kita pada hasil yang buruk,” kata Ibu Ayu.

Ibu Ayu adalah sosok wanita yang awalnya tidak mempunyai kemampuan mendalam tentang pertanian. Dia terjun di bidang pertanian semenjak awal menikah sekitar 25 tahun lalu. Ketika itu dia tidak mempunyai pikiran untuk bertani. Karena saat itu tidak ada yang membantu suaminya, dia pun ikut terjun ke kebun. Awalnya hanya membantu memetik dan mengangkat biji kakao.

“Saya mengalami banyak keluhan. Mulai dari kesusahan jalan, melihat tebing cukup tinggi dan haluan jalan rumit membuat saya sering terpeleset jatuh. Saat itu saya belum terbiasa menyeberang sungai. Sampai saya sempat jatuh terpeleset di sungai karena tidak bisa memilih haluan hingga nasi bekal ke kebun hanyut terbawa air,” katanya.

Pelan-pelan, Ibu Ayu pun kian paham tentang kakao. Misalnya bahwa buah kakao memiliki kulit tebal sekitar 3 cm. Bahwa setiap buah kako mengandung biji sebanyak 30-50 biji. Bahwa warna biji sebelum proses fermentasi dan pengeringan adalah putih yang lalu berubah mejadi keunguan atau merah kecokelatan.

“Parahnya lagi saya awam akan biji kakao. Pernah sekali memungut biji nangka saya kira biji kakao. Bentuk hampir sama membuat saya mengira biji nangka itu biji kakao. Lumayan si maan a ember. Kejadian tersebut membuat saya beranggapan bahwa cantik tidak menjamin hidup. Walaupun wanita ke kebun panas-panasan, kotor dan mengalami beraneka kejadian tidak menutup kemungkinan untuk bisa maju,” tambahnya lagi.

Pelajaran lain yang dia pelajari adalah sistem tanam. Tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tanaman kakao dengan tanaman lain sangat mempengaruhi hasil produksi kakao oleh karena itu, tata tanam memberikan hasil optimal.

Pasutri ini memiliki kebun seluas 5 hektar jenis tumpang sari, namun lebih banyak pohon kakao diurus bersama. “Panen kakao tidak menentu tergantung cuaca, jika cuaca mendukung setiap minggunya menghasilkan 2 kuintal biji kakao basah. Biji kakao basah dibeli oleh Koperasi KSS dengan harga per kilo Rp. 11.000, jadi dalam satu minggu pendapatan kotor kurang lebih Rp. 2.200.000,’’ katanya.

Suksesnya pasutri ini tidak hanya kompak dalam hal berkebun. Mereka kompak dalam segala bidang. Pasutri ini kompak mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompak dalam mengambil keputusan saat ada perbedaan pendapat. Guru Eka tidak pernah mengabaikan pendapat istrinya. Dia selalu menerima dan mencari jalan tengah apabila ada perbedaan pendapat untuk hal yang lebih positif. Kesetaraan gender membalut kekompakan pasutri ini.

KSS Peduli Petani

Tidak kalah penting suksesnya pasutri ini dari peran Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi ini didirikan dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga, meningkatkan produktivitas, dan kesejateraan petani. Selain itu Koperasi KSS bekerja sama dengan Kalimajari menyediakan bibit kakao berkualitas untuk menghasilkan kakao yang semakin baik. Koperasi KSS pernah mengekspor biji kakao ke pembeli domestik maupun pembeli internasional. Saat ini Koperasi KSS mengayomi 609 petani dari 38 subak abian.

Menurut Guru Eka pada tahun 2015 silam diadakan pelatihan pertanian kakao di subak abian. Subak abian merupakan istilah untuk kelompok tani daerah kering di Bali. Berbeda dengan subak di Bali yang pada umumnya di daerah persawahan. Kakao termasuk komoditas pertanian lahan kering.

Saat itu ia mengikuti dengan semangat hingga tertarik untuk bergabung di Koperasi KSS. Sebelum bergabung di Koperasi KSS, Guru Eka menjual biji kakao asalan yaitu biji kakao dijual dengan harga murah. Biji kakao dijual murah karena kualitasnya kurang baik dan tidak ada proses fermentasi. Karena merasa ada ikatan kemitraan atau sama-sama diuntungkan ia menjual biji kakao ke Koperasi KSS.

Menurut Guru Eka, petani konvensional yang saklek atau keras kepala akan mempengaruhi hasil pertanian kakao di Jembrana. Dia sendiri mengaku selalu cepat menerima informasi mengenai pertanian khususnya pertanian kakao. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong, Gur Eka langsung mengambil tindakan. Beda halnya dengan petani keras kepala. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong cabang, mereka memiliki banyak pendapat untuk membantah anggapan tersebut

“Nah depin gen. Nak nu liu buah pedalem ngetep. Mase batun nu payu adep,” ungkapan seperti itu kerap dikatakan petani konvensional. Petani konvensional lebih memilih membiarkan pohon kakao bercabang karena di cabangnya tumbuh buah kakao yang laku dijual secara asalan dengan harga murah.

Buah kakao pada cabang pohon tidak sama kualitasnya dengan buah kakao pada batang, hal ini menjadi alasan mengapa dilaksankan sistem potong agar menghasilan buah kakao berkualitas, banyak nurisi, harga dari biji kakao tinggi. “Buah yang baik adalah buah yang dekat dengan akar,” kata Bapak I Ketut Wiadnyana selaku Kepala Pengurus di Koperasi KSS (Senin, 5/8/2019).

Pasutri Sukses

Kegiatan bersamaan untuk mendapatkan hasil maksimal merupakan modal petani untuk meraih sukses khususnya pertanian kakao. Contohnya pasutri-pasutri di Jembrana yang berhasil dalam bertani. Kerja sama tidak lepas dari kesetaraan gender yang merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kewajiban setara. Kesetaraan gender sangat berpengaruh pada perkembangan pertanian di Indonesia dan masalah kemiskinan. Apabila diskriminasi berdasarkan gender terus terjadi maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan Indonesia sebagai negara agraris.

Masyarakat hendaknya sadar akan kesetaraan gender dan tidak lagi mendiskriminasi kaum perempuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki saling bekerja sama agar mencapai titik keharmonisan dan keberhasilan di segala bidang, baik bidang rumah tangga maupun pertanian khususnya pertanian kakao. Jika kesetaraan gender diterapkan oleh seluruh pihak maka kehilangan gelar negara agraris tidak akan terjadi. Bahkan akan mengembangkan potensi agraris Indonesia termasuk potensi serta prestasi kakao di Jembrana.

Kesuksesan pasutri di Jembrana telah mengubah image petani dari yang selama ini diidentikkan dengan tua, miskin, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani muda, keren, menguntungkan, kekinian, dan tentunya kaya. Maka jadilah petani modern yang mau berubah, bukan petani kovensional. Dengan bertani berarti bersahabat dengan alam. Bila menghargai alam maka alampun memberikan kesejukan, kedamaian dan kekuatan serta memberikan manfaat pada manusia dan isinya.

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani, maka lahan yang ada lama-kelamaan bisa habis. Masyarakat Jembrana harusnya lebih melek informasi mengenai pertanian khususnya kakao karena kakao Jembrana diminati produsen cokelat dan mampu memiliki prestasi yang baik. Bukan lagi menanam beton-beton yang sudah pasti akan merusak citra agraris dan kakao Jembrana yang sudah mendunia. [b]

The post Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati appeared first on BaleBengong.

Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Oleh Ni Komang Bintang Kosiki

Petani Jembrana mampu membuktikan mereka bisa sejahtera bersama koperasi.

Masyarakat zaman sekarang lebih memilih bekerja di perusahaan atau toko dibandingkan menjadi petani. Sebagian besar masyarakat memandang seorang petani sebagai pekerjaan rendah dan berpenghasilan kecil.

Eitsssss.. Jangan salah dulu. Justru jasa petani itu sangat besar dan tidak semua petani itu miskin.

Contohnya saja I Wayan Rata, yang sering disebut Pak Rata, petani di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Beliau memiliki kebun kakao sendiri yang ia kelola bersama menantu dan cucunya. Dan, ternyata, cucunya yang bernama Desita juga mengikuti seleksi Anugrah Jurnalistik Siswa (AJS) yang sedang saya ikuti saat ini bersama 9 peserta lain.

Kami bersepuluh mengumpulkan informasi tentang Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan kakao Jembrana. Sepuluh peserta itu terdiri dari saya sendiri, I Putu Angga Ardi Wilyandika, Ni Made Gladis Desyani, Dewi Retno Wulan Kusuma Ningrum, Pajar Rizkian, I Made Dwi Mertha Mahendra, Dewa Ayu Komang Tri Aprilliani, Ni Putu Ayu Rischa Sasmita Yanti, Luh Komang Desita Anggreni, dan Ni Putu Wulan Prima Dewi. Kami berasal dari berbagai sekolah SMA/SMK di kabupaten Jembrana.

Kami dibagi menjadi lima kelompok dengan masing-masing tema berbeda. Saya sendiri mendapat tema manajemen koperasi bersama dengan Retno dari SMKN 4 Negara. Cerita yang membuat saya agak kesal sekaligus tertawa yaitu di mana saat saya dan Retno akan melakukan wawancara, kami membuat janji akan bertemu di Taman Pecangakan, Negara.

Tetapi, saya tidak menemukan Retno di manapun. Sudah keliling saya mencarinya. Saat saya telepon, HP Retno tidak aktif. Saya menelpon hingga belasan kali, tapi tetap tak dijawab. Saya pun mulai panik. Akhirnya saat saya mencoba menelpon Retno ke sekian kalinya. Syukurlah telepon saya dijawab. Ternyata, Retno dari tadi berada di patung kuda tepatnya di barat taman.

Saat saya dan Retno hendak wawancara ke Dinas Koperasi, ternyata beliau yang bersangkutan sedang ada acara di luar. Huhhhh… Sudah panik mencari Retno ditambah lagi kepala dinasnya tidak ada saat kami cari. Saya sedikit kesal. Kami pun menjadwal ulang untuk mewawancarai Dinas Koperasi, nasib saya memang tak beruntung kala itu. Saya malah ditinggal Retno. Padahal saya sudah menunggu Retno cukup lama di Taman Pecangakan. Pada jadwal selanjutnya akhirnya kami dapat mewawancarai Dinas Koperasi bersama-sama.

Lanjut lagi mengenai Pak Rata. Dengan luas kebun seluas 75 are di kebun Pak Rata terdapat 5 klon kakao antara lain panter, MCC 01, MCC 02, BLB, dan RTNJ 01. Menurut Pak Rata, budidaya tanaman kakao sama seperti mengurus anak, harus dengan kesabaran ekstra. Dalam mengurus pohonnya pun hal lain harus diperhatikan. Misalnya dalam pemangkasan, ada beberapa cabang harus dipangkas antara lain cabang mati, cabang air, cabang gantung, cabang selingkuh, cabang tumpuk, dan cabang balik.

Dulunya Pak Rata tidak tahu menahu mengenai kakao sampai akhirnya ia bertemu dan bekerja sama dengan Koperasi KSS. Koperasi ini bertujuan untuk menyejahterakan dan memberi harga pantas bagi para petani. Dengan demikian jasa petani mulai dipandang dan dihargai di masyarakat. Koperasi KSS menerapkan teknik fermentasi dalam pengolahannya sehingga menghasilkan biji kakao berkualitas baik.

Selain itu proses fermentasi ini juga menghasilkan aroma-aroma yang khas. Salah satunya aroma madu yang berhasil menarik hati perusahaan cokelat ternama di dunia maupun lokal. Bisa dibilang bahwa proses fermentasi ini menjadi kunci rasa dari coklat.

Sebuah Ide

Fermentasi merupakan teknik pengolahan makanan dari bahan pokok menjadi makanan siap saji dengan menggunakan mikroorganisme tertentu. Pengertian lain menyebutkan bahwa fermentasi merupakan proses produksi energi dalam sel pada suatu keadaan anaerobik (tanpa menggunakan oksigen) atau pembebasan energi tanpa adanya oksigen. Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba pada substrat organik.

Fermentasi dilakukan dengan meletakkan biji-biji kakao ke dalam kotak kayu yang sudah dilubangi bawahnya. Ingat, dalam melakukan fermentasi sebaiknya menggunakan biji kakao yang segar agar menghasilkan hasil terbaik dan mengurangi kegagalan saat proses fermentasi. Lubang pada bagian bawah kotak kayu memiliki fungsi sebagai jalan keluar masuknya oksigen, karbondioksida, dan air yang dihasilkan dari proses fermentasi.

Selanjutnya tumpukan biji kakao di dalam kotak bisa ditutup menggunakan karung goni, daun pisang, atau penutup lain. Selama fermentasi berlangsung, biji kakao diaduk atau dibalik setiap 1-2 hari sekali agar panas yang dihasilkan dari biji kakao fermentasi dapat merata.

Manfaat proses fermentasi ini antara lain memperkaya atau memperkuat rasa, aroma, dan komposisi makanan atau biji kakao. Dia juga bisa memperkaya nutrisi makanan, menghilangkan senyawa anti nutrien, dan meningkatkan nilai gizi. Makanan, minuman, atau olahan lain hasil fermentasi dapat meningkatkan kesehatan karena mengandung probiotik.

Dalam mengolah biji kakao pun tidak boleh asal-asalan. Contohnya dalam proses membelah buah kakao. Membelah buah kakao tidak boleh menggunakan pisau, parang, besi, atau benda tajam lain yang dapat melukai biji kakao. Disarankan menggunakan kayu karena tidak akan menyebabkan luka pada biji. Mengapa biji tidak boleh terluka? Karena dalam proses pengolahannya nanti, biji kakao yang terbelah atau luka akan ditumbuhi jamur di dalamnya. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi proses produksi.

Biji kakao fermentasi hasil petani Jembrana ini telah mendapat tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Hal ini yang memungkinkan untuk mengumpulkan 38 subak abian atau subak di lahan kering sehingga menjalin kerja sama dengan koperasi KSS. Sertifikat UTZ merupakan sebuah standar yang dikembangkan organisasi dengan kantor pusat di Belanda. Sertifikat EU yaitu sertifikat yang bisa diperoleh apabila produk yang dihasilkan berkualitas baik.

Adapun sertifikat Organic USDA diperoleh melalui proses berkelanjutan yang memerlukan dedikasi. Standar program organik internasional ini menyatakan bahwa tanaman organik harus ditanam di lahan bebas pestisida, herbisida, pupuk sintetis, dan bahan kimia lain yang penggunaannya tidak diperkenankan selama tiga tahun pertumbuhan.

Semua proses itu bisa dilakukan Koperasi KSS berkat dukungan Yayasan Kalimajari, organisasi di Denpasar yang mendampingi petani-petani kecil. Merekalah yang membantu KSS bisa mendapatkan tiga sertifikat tersebut.

Ketika berbicara soal koperasi, proses penguatan tidak hanya pada petani, tetapi juga pada tingkat koperasi. Bagusnya lagi, pemegang sertifikat di Koperasi KSS adalah koperasi itu sendiri, bukan pembeli. Lain halnya dengan di Sulawesi pemegang sertifikatnya yaitu pembeli. Jadi seluruh biaya dan segala macam akan ditanggung oleh pembeli. Namun, koperasi dan petani tidak boleh menjual biji ke manapun. Artinya koperasi dan petaninya tidak independen.

Lain halnya dengan koperasi KSS Jembrana yang sertifikatnya dipegang langsung Koperasi KSS. Jadi koperasi punya posisi tawar kuat serta bisa menjual biji kakaonya ke mana saja. Dengan catatan proses komunikasinya baik dan koperasi tidak selalu menuntut harga yang tinggi tetapi harga yang segnifikan yaitu harga yang pantas untuk perjuangan para petani. Oleh karena itu mengapa koperasi menjadi sesuatu yang sangat penting.

Pengurus koperasi KSS terdiri dari ketua I Ketut wiadnyana, sekertaris I Wayan Diana, sekretaris I Nengah Kardika, serta pengurus-pengurus lain yang membidangi bidangnya masing-masing.

Kepercayaan yang Hilang

Sebelum terkenal seperti sekarang, Koperasi KSS dulunya banyak menemukan kendala. Contohnya, bagaimana mengembalikan kepercayaan petani kepada koperasi KSS? Mengapa petani tidak percaya pada koperasi KSS ?

Koperasi KSS ini pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Pada saat itu pengurus koperasi tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dari situlah masyarakat mulai tak mempercayai koperasi tersebut sehingga ditutup. Akhirnya beroperasi kembali pada tahun 2011 dengan pengurus koperasi dan nama baru, tetapi dengan tempat atau bangunan sama.

Dari situlah tantangan terbesar dimulai. Masyarakat masih tidak percaya pada koperasi tersebut. Butuh kesabaran besar dan proses lumayan panjang untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terutama para petani. Salah satu cara koperasi KSS meyakinkan masyarakat dan petani yaitu dengan cara mensosialisasikan kepada mereka tentang koperasi baru. Pada akhirnya para petani mulai percaya kembali pada koperasi KSS.

Dalam proses ini koperasi KSS juga dibantu Yayasan Kalimajari untuk bangkit dari keterpurukan dan membimbing koperasi KSS agar lebih mandiri ke depanya. Saat ini koperasi KSS memiliki sekitar 609 petani dan juga terdiri dari 38 subak Abian.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti, yang kerap disapa Bu Agung, mempunyai peran penting dalam proses membangkitkan koperasi KSS menjadi lebih baik. Mengapa Bu Agung tertarik bekerja sama dengan koperasi KSS? Bu Agung mengaku tertarik menjalin kerja sama dengan KSS karena koperasi inilah satu-satunya koperasi kakao di Bali yang konsentrasinya pada komunitas.

“Koperasi itu harus ada sebagai wadah untuk menyatukan petani. Kalian tahu sendiri, dulunya petani di Jembrana hampir semua bekerja secara individual. Tidak ada yang mau berkolaborasi,” tutur Bu Agung saat kami wawancarai.

Menurut Bu Agung, penguatan tidak hanya dilakukan pada budidaya, tetapi juga di tingkat kelembagaan. Maka dari itulah harus ada sebuah lembaga yang kuat dan solid. “Ketika sebuah bisnis harus berjalan, pilihannya cuma dua, apakah dalam bentuk koperasi atau private sector. Kalau dalam bentuk private sector, seperti PT atau CV, itu gak mungkin karena itu harus ada penyertaan modal. Modalnya cukup gede dan petani tidak punya itu. Akhirnya kita pilih bahwa koperasilah satu-satunya keputusan yang paling tepat ketika berbicara wadah untuk komunitas,” lanjut Bu Agung kembali.

Dahulunya koperasi KSS seperti tidak memiliki jiwa. Ada beberapa tantangan terbesar koperasi KSS saat baru beroperasi. Misalnya bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat dan petani pada koperasi KSS. Bagaimana mengajak Subak Abian dan petani mau kembali mempercayai KSS dan mulai memikirkan fermentasi. Tantangan lainnya, mengubah pola pikir petani dari yang tidak ingin berubah menjadi ingin berubah serta meyakinkan petani bahwa biji fermentasi itu ada pasarnya.

Bu Agung mengaku terinspirasi dari semangat para petani yang ingin maju dan ingin bangkit selain juga karena tanggung jawab moral. “Ada harapan bahwa nantinya petani menjadikan kakao sebagai tabungan masa depan. Problem petani hanya satu, bagaimana mereka dihargai dengan sesuatu yang pantas dalam bentuk harga. Dan jawabannya hanya satu yaitu lewat fermentasi,” kata Bu Agung.

Dia melanjutkan melalui fermentasi dengan selisih harga yang cukup tinggi antara kakao fermentasi dengan yang non-fermentasi, petani juga bisa mengembalikan hak kebun yang telah mereka ambil. Artinya jangan hanya mengambil, tetapi juga mengembalikan apa yang sudah kita ambil. Kembalikan sekian persen dalam bentuk pupuk atau apa saja yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas kebun.

Kesulitan dan Tantangan

Saat kami ingin mewawancarai Pak Ketut Wiadnyana selaku ketua koperasi KSS, ternyata Pak Ketut sedang ada upacara agama, jadi kami memutuskan untuk mewawancarai Wayan Diana, yang akrab dipanggil Kak Andi. Kak Andi merupakan salah satu anggota pengurus KSS yang senang berbisnis. Die mengenal Koperasi KSS setelah diperkenalkan oleh orangtuanya. Sejak Maret 2018 dia menjadi anggota. Karena aktif dalam organisasi, Kak Andi pun diangkat menjadi pengurus koperasi.

Sumber modal Koperasi KSS awalnya sebanyak Rp 4.970.300.00. Kemudian ada modalnya dari bank BRI sebanyak Rp 500 juta dan dari bank BPD Rp 260 juta. Ada pula bantuan dari Dinas Koperasi Rp 300 juta. Menurut Kepala Bidang Koperasi I Puti Eka Artha, pemerintah memberikan talangan pada tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebanyak Rp 200 juta dan Rp 300 juta pada tahun ini. Semua sumber modal KSS merupakan pinjaman yang harus di ganti suatu saat.

Putu Eka Artha mengatakan pemerintah akan terus melakukan pembinaan dan monitoring. Pak Putu berharap dari segi kelembagaan, nantinya koperasi KSS ini bisa lebih profesional. Dari segi pengurus, ia berharap nantinya pengurus Koperasi KSS bisa lebih baik.

Setiap minimal setahun sekali koperasi KSS bersama para petani dan perwakilan di masing-masing subak Abian akan melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat ini membahas perkembangan, pemasukan, pengeluaran, keuntungan serta membahas segala sesuatu yang menyangkut koperasi KSS dan kakao.

Ada tiga prinsip operasi KSS yaitu transparansi, keberlanjutan, dan tracebility atau keterlacakan. Prinsip transparansi merupakan laporan seperti contohnya mengadakan RAT. Prinsip keberlanjutan mengenai bagaimana keterlibatan anak muda dalam perkembangan kakao atau pertanian. Prinsip tracebility membahas tentang data.

Buyer KSS saat ini berjumlah 20 terdiri dari lokal dan ekspor. Salah satunya perusahaan cokelat ternama di dunia, Valrhona dari Prancis. Cokelat Valrhona ini merupakan coklat terbaik dunia. Kakao yang dipilih dalam pengolahannya pun tidak sembarangan.

Dalam menjalin kerja sama dengan pembeli, koperasi KSS tidak sembarang pilih. Koperasi KSS mempunyai kriteria pembeli yang harus dipenuhi. Banyak pembeli yang ditolak karena dianggap tidak sportif. Kriteria lainnya, pembeli juga harus peduli dengan nasib petani.

Dalam pemasaran, jasa Bu Agung cukup besar. Dialah yang berusaha mencari pembeli agar mau bekerja sama hingga akhirnya berita tentang kakao fermentasi Jembrana ini terdengar sampai di perusahaan cokelat ternama dunia yaitu Valrhona. Karena kakao fermentasi Jembrana ini sudah menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan coklat terbaik dunia, maka tidak heran perusahaan cokelat ekspor maupun lokal yang lain mulai melirik kakao fermentasi Jembrana.

Salah satu pembeli lokal KSS yang kami wawancarai adalah I Wayan Alit Arthawiguna. Bapak yang sering disapa dengan Pak Alit ini merupakan pemilik perusahaan cokelat di daerah Tabanan. Dulu, perusahaannya bernama PT Agri Wisata Jaya Kencana lalu berganti nama menjadi PT Cau Chocolate pada tahun 2017.

Menurut saya, Pak Alit ini dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Contohnya, Pak Alit tidak hanya melihat pada aspek produksi, tetapi juga melihat potensi lain dari kebun dan pabriknya. Dia pun mengembangkan agrowisata berbasis kakao yaitu Chocolate Tour dan Subak Tour. Selain itu Pak Alit juga melakukan penelitian atau riset kecil terhadap kulit kakao. Selain sebagai pakan ternak, ternyata kulit kakao bisa juga diseduh layaknya teh. Kulit biji kakao banyak digunakan untuk pupuk dan ternyata bisa juga digunakan sebagai bahan scrub.

Menakjubkan bukan?

Kini perusahaan coklat milik Pak Alit diurus oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna, salah satu anaknya. Pak Alit menuturkan awal mula kerja samanya dengan Koperasi KSS. Saat bertemu dengan pihak KSS awalnya mereka berbincang mengenai kakao kemudian terjalinlah kerja sama antara KSS dengan PT Cau Chocolate. Menurut Pak Alit, Cau Chocolate memiliki misi untuk produksi (temoat menghasilkan cokelat), edukasi (tempat belajar tentang kakao dan cokelat), serta destinasi (sebagai tempat tujuanwisata). Rencananya juga akan dibuka koperasi kakao di Tabanan bernama Masako.

Kendali Mutu

Mengecek kualitas dan mengecek semua alur di koperasi, mulai dari masuknya biji hingga keluar, merupakan tugas seorang petugas kendali mutu (quality control). Posisi ini ditempati oleh I Puti Dian Pratama yang akrab dipanggil Kak Pepeng. Kak Pepeng ini sudah bergabung di KSS mulai dari Agustus 2017. Saat bergabung di KSS dia tidak tahu menahu mengenai kakao.

Menurut penuturan Kak Pepeng, syarat biji kakao yang bisa masuk koperasi KSS yaitu biji yang sudah melalui proses fermentasi. Jika tidak difermentasi, Koperasi KSS tidak akan menerima biji tersebut. Di Koperasi KSS biji kakao yang dijemur sembarangan dan tanpa proses fermentasi biasanya disebut dengan biji preman.

Ada dua sistem dalam pengambilan atau penerimaan biji. Pertama sistem pengambilan biji basah. Dalam sistem ini biasanya dilihat dari bijinya apakah bijinya masih fresh (segar) ataukah sudah lebih dari dua hari. Biasanya akan terlihat dari warna. Biji yang tidak fresh biasanya akan berwarna cokelat sedangkan biji yang baik akan berwarna putih.

Biasanya ada juga biji yang terserang penyakit penggerek buah kakao (PBK). Ciri-ciri bijinya dempet (double). Jika bagus, biji tersebut akan berbentuk butiran. Untuk harga plafon (harga maksimal) dari biji basah ini biasanya diambil Rp 12.000. Jika organik sedang jika biji RA (biji yang tercampur kimia) dihargai dengan harga Rp 11.000.

Kedua, sistem pengambilan biji biji kering yang sudah difermentasi. Biji fermentasi yang berhasil akan berwarna cokelat dan di dalamnya berongga. Sedangkan biji yang tidak difermentasi akan berwarna ungu. Untuk masalah harga sendiri biji kering fermentasi yang organik biasanya dihargai dengan harga Rp 38.000 sedangkan biji fermentasi yang RA dihargai dengan harga Rp 36.000. Keputusan tentang harga tidak hanya ada di tangan pengurus koperasi, tetapi juga anggota. Biasanya akan dibahas bersama dengan anggota, baik petani maupun subak abian.

Mengapa harga biji organik lebih tinggi dibandingkan dengan harga biji RA atau bahan kimia? Karena biji organik lebih sehat. Ini dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan-bahan organik yang sudah pasti bebas dari bahan kimia. Adapun harga biji RA lebih rendah dikarenakan dalam budidayanya menggunakan bahan kimia sehingga dinilai kurang sehat.

Pengecekan biji organik sangatlah ketat hingga laboratorium. Bahkan dari pupuknya pun harus organik sehingga biasanya petani membeli pupuk di SIMANTRI. Untuk memastikan biji kakao tersebut organik sampai-sampai tanah, pupuk buah dan daunya diambil untuk diteliti. Untuk biji yang kecil, kempes, luka, terkena penyakit dan lain sebagainya tidak akan diterima di koperasi KSS.

“Kita sudah nggak menerima biji yang non fermentasi,” tutur Kak Pepeng saat berbincang dengan kami. Jika biji kakao fresh maka keberhasilan dalam fermentasi akan semakin besar.

Dalam penerimaan biji kakao dari Subak Abian yang pertama dilakukan adalah mengecek kadar airnya. Jika kadar airnya tinggi kemungkinan besar biji kakao tersebut akan ditumbuhi jamur. Biasanya para petani dari Subak Abian akan memasok biji kakao mereka karena biaya transportasi. Jika mereka sering mengirim hasil panen, biaya transportasi juga akan sering dikeluarkan. Maka dari itu petani menstok biji kakao mereka.

Namun, biasanya ada saja petani yang tidak menjemur biji kakaonya kembali sehingga adar air pada biji naik sedikit demi sedikit. Apalagi jika dalam penyimpannya tidak menggunakan alas. Hal ini akan membuat kadar air meningkat dan hal itu menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji. Para pembeli biasanya akan komplain jika terdapat jamur di dalam biji kakao.

Sebuah Proses

Ada beberapa tahap atau proses pengecekan biji kakao hingga dikirim kepada pembeli. Pertama saat barang masuk. Barang terlebih dahulu dicek berat dan kadar airnya, kemudian biji kakao yang sudah dicek diberi label asal biji pada setiap karung. Apabila ada indikasi jamur dalam atau terkena serangan serangga, maka barang tersebut akan dikembalikan langsung dan diberi pemahaman kembali pada petani atau Subak Abian yang menjual biji tersebut.

Kedua merupakan proses sortasi. Sortasi ini bertujuan untuk menyamakan kualitas dan menghilangkan biji-biji yang rusak, pipih, terlalu kecil, dempet (menyatu), dan terbebas dari benda asing dalam artian non biji kakao. Isi label kembali asal biji dan tanggal barang masuk agar mempermudah dalam pengecekan dan penelusuran barang. Jika sudah tersortasi akan dimasukan ke gudang.

Ketiga yaitu proses pengiriman. Setiap karung yang akan di kirim akan di cek kembali kadar airnya, maksimal 6,5 persen. Pastikan asal biji jelas, barangnya dari Subak Abian mana agar mudah menelusuri. Kemudian timbang berat per karung. Tahap terakhir yaitu packing kembali dengan karung baru dan dijarit (dijahit) rapi serta setiap karungnya diberi label tanggal pengemasan dan nomer karung.

Melalui semua proses tersebut, anggota Koperasi KSS bisa menjamin kualitas kakaonya dan mendapatkan kepercayaan dari pembeli. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan bagian dari Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Koperasi KSS Pembangkit Kakao di Bumi Makepung appeared first on BaleBengong.

Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar

Ketua Koperasi KSS menunjukkan cokelat olahan anggota koperasi.

Oleh Luh Komang Desita Anggraeni

Suatu ketika tiba-tiba saya dipanggil ibu guru ke depan kelas. Saya kira mau diberikan uang. Eeeehh, ternyata saya disuruh untuk mengikuti suatau kegiatan bersama teman satu kelompok ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah.

Awalnya saya merasa kurang yakin untuk mengikuti kegiatan itu. Karena, dari judulnya saja, kegiatan sudah kelihatan bergengsi sekali. Nama kegiatan tersebut Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) bersama Yayasan Kalimajari.

Setelah saya mencari tahu, ternyata benar bukan saya yang awalnya dipilih untuk mengikuti kegiatan tersebut tetapi teman lain. Karena dia sakit, akhirnya sayalah yang ditunjuk untuk menggantikanya. Karena alasan tersebut, saya pun mau dan mengiyakannya.

Terlalu Bersemangat

Awalnya saya diberitahukan untuk datang pada 2 Juni 2019 di SMKN 2 Negara. Datanglah saya dan teman ke sana. Kami berangkat pukul 06.00 WITA. Sesampainya di sana kami tidak melihat adanya kehidupan. Hanya ada keheningan dan kesunyian. Kami bingung bagaikan anak kehilangan induknya. Entah harus berbuat apa kami di sana.

Setelah menanti hampir tiga jam, kami memutuskan untuk menelepon ibu guru. Ternyata kami salah tanggal. “Ya ampuuuun…,” kami berteriak. Tanggal yang seharusnya itu 2 Juli 2019. Guru kami ternyata salah melihat jadwal. Maklum akibat faktor umur. Saking kesalnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi, ada enaknya juga dari kejadian ini, kami dapat bensin gratis.

Akhirnya pada tanggal sesuai jadwal, kami datang kembali ke SMKN 2 Negara. Tepat pukul 06.00 WITA kami sampai di lokasi. Kami datang sepagi itu karena saking semangatnya untuk mengikuti kegiatan ini. Sembari menunggu peserta lainnya, kami memutuskan untuk berkeliling sekolah.

Di sana kami bertemu seorang ibu yang sedang membersihkan salah satu ruangan. Kami bertanya kepada ibu itu. “Permisi, Ibu.. Mau tanya. Benar di sini tempat seleksi beasiswa AJS?” tanya Naning teman saya.

Si ibu menjawab, “Iya benar, Dik. Tunggu dulu ya ruangannya masih dibersihkan,” sahut ibu itu dengan tergesa-gesa.

Waktu berlalu. Tidak terasa kami sudah menunggu cukup lama di depan ruangan itu. Tapi, ternyata ruangan tersebut digunakan untuk pendaftaran siswa baru. Ibu itu mengira kami mau mendaftar di SMKN 2 Negara. Kami bertanya pada salah satu OSIS di sana. Dia menjawab sebenarnya ruangan seleksinya di dalam. Pas masuk kami melihat presentasi yang sedang ditanyangkan, kebetulan di presentasi itu ada foto kakek saya, Wayan Rata. Dari sanalah saya dikenal dengan, “Cucunya kakek Rata”.

Kami pun mengikuti kegiatan seleksi tersebut dengan baik. Bersaing dengan teman-teman dari sekolah lain jugayang memiliki bakat luar biasa. Dalam kegiatan itu kami menuliskan tentang dua tema yang telah diberikan panitia AJS.

Setelah menunggu cukup lama, sebulan setelah seleksi lomba dilakukan saya menerima telpon dari Auditya Sari atau Kakak Tya, selaku panitia AJS mengabarkan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya, 10 besar.

Kami para finalis diundang kembali mengikuti tiga hari penelitian kakao lestari Jembrana. Dari sepuluh besar kemudian diseleksi kembali mencari tiga besar sebagai pemenang untuk menerima beasiswa AJS.

Kurang Peka

Dari AJS inilah saya tahu hebatnya kakao Jembrana padahal saya sendiri berdampingan langsung dengan kakao. Kebetulan juga kakek saya seorang petani kakao asli Jembrana. Baru saya berpikir kenapa tidak dari dulu belajar tentang kakao. Padahal hasil bertani kakao lumayan menjanjikan, dengan proses fermentasi tentu saja.

Selama ini saya hanya membantu kakek memupuk kakao serta mengangkut air sebagai pelarut obat hama kakao serta memanen buah kakao. Itupun saya lakukan saat ada waktu luang.

Sebenarnya bukannya saya tidak berminat menangani kakao, tapi karena saking sibuknya harus sekolah full day sehingga tidak sempat untuk ikut membudidayakan kakao Jembrana. Saya hanya bisa membantu kegiatan-kegiatan ringan. Saya juga masih belum mengerti dan paham tentang cara membudidayakan kakao.

Berharga

Pada awal Agustus 2019, kami dikumpulkan kembali untuk mengikuti tiga hari pelatihan. Kali ini untuk lebih mendalami kakao Jembrana sekaligus menyeleksi finalis yang akan mendapatkan tiga terbaik dari yang terbaik.

Selama tiga hari pelatihan saya banyak sekali mendapatkan ilmu terutama tentang mengolah dari kakao sampai menjadi coklat siap makan (bean to bar). Selama pelatihan juga kami bisa lebih mengenal anggota peserta lain dan membangun tali persahabatan. Tawa riang kami rasakan semua selama pelatihan berlangsung dan lebih mengenal satu sama lain.

Pada hari pertama pelatihan kami diajarkan tentang proses fermentasi, penghasilan petani kakao dalam sebulan, budidaya kakao Jembrana dan banyak hal lain lagi.

Di hari kedua kami diajak berkunjung ke Cau Chocolate di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Di sana kami belajar proses pengolahan kakao menjadi cokelat siap makan di mana kakao yang digunakan murni kakao Jembrana dan bersertifikat organik.

Tibalah saatnya kami para semifinalis untuk menulis apa yang didapat dari pelatihan tiga hari tersebut. Temanya sesuai yang kami dapatkan masing-masing. Tulisan itu digunakan sebagai bahan seleksi juga di hari ketiga.

Banyak hal kami dapatkan selama pelatihan ini. Misalnya informasi bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi yang memiliki harga jual tinggi. Hal ini merupakan hasil kerja keras Koperasi Kerta Samaya Samaniya (KS) bekerja sama dengan Kalimajari. Ini membuktikan bahwa kakao Jembrana mampu menembus pasar Internasional.

Bahkan Koperasi KSS memiliki tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Ketiga sertifikat organik ini berguna untuk memenuhi kebutuhan kakao organik internasional, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini membuktikan bahwa walaupun bertempat di daerah terpencil, Jembrana memiliki sebuah komoditas yang menghasilkan banyak dolar dan memiliki nilai gizi untuk kesehatan. Kakao Jembrana telah membuktikan bahwa kami bisa dan mampu untuk melakukannya.

Saya sebagai generasi penerus bangsa yang tinggal di Jembrana bangga tinggal di sini. Saya ingin mengembangkan lebih banyak lagi perusahaan cokelat terutama di Jembrana dan lebih memperkenalkan lebih luas tentang betapa hebatnya kakao Jembrana.

Satu Kata Kunci

Agar kakao Jembrana bisa menembus pasar internasional ada satu kata kunci yang bisa kita gunakan yaitu “FERMENTASI”. Dari proses inilah kakao Jembrana sudah terkenal sampai ke dunia Internasional dan patut di perhitungkan untuk nilai jualnnya. Banyak pembeli dari luar negeri berdatangan untuk melihat, menjalin kerja sama, atau membeli kakao Jembrana. Mungkin mereka penasaran bagaimana kakao Jembrana bisa sehebat itu.

Para pembeli tersebut datang dari berbagai negara di seluruh dunia. Ada beberapa pembeli yang bekerja sama dengan Koperasi KSS, seperti Valrhona dari Perancis, Ubud Raw dari Gianyar, Cracacoa, Cau Cocolate dari Tabanan, dan Pod dari Badung.

Banyaknya pembeli kakao Jembrana membuktikan bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi dan mutu terjamin. Hal ini karena Koperasi KSS mampu memenuhi syarat-syarat yang diberikan pembeli sehingga pembeli pun percaya dan berani membeli biji kakao Jembrana. Sertifikat juga sebagai kunci utama untuk menarik pembeli dan sebagai pembuktian bahwa kakao Jembrana hebat setelah difermentasi.

Fermentasi. Apa sih fermentasi? Yang saya tahu, fermentasi adalah pematangan biji kakao supaya bagian dalam biji kakao ketika dijemur akan kering sempurna antara kulit dan daging dalam biji kakao.

Tujuan fermentasi adalah meningkatkan kualitas biji kakao, membangkitkan aroma khas biji kakao, serta mengurangi rasa pahit biji kakao. Dengan demikian saat pengolahan menjadi cokelat rasa pahit yang timbul tidak terlalau kuat. Sebab, rasa pahit biji kakao yang belum difermentasi akan membuat yang memakannya merasa mual. Tujuan lain fermentasi adalah mengurangi kadar air dari kakao tersebut.

Proses fermentasi dimulai dari biji basah setelah panen dilakukan. Fermentasi dilakukan selama 6-7 hari, tergantung ukuran biji kakao itu. Jika biji kakao berukuran sedang, proses fermentasi dilakukan 6 hari dengan pembalikan biji kakao 2 kali selama 2 hari dihitung setelah biji kakao sudah masuk ke kotak fermentasi. Sedangkan untuk biji kakao berukuran besar proses pembalikannya dilakukan 3 kali selama 2 hari dan bertambah waktu fermentasi menjadi 7 hari (1 minggu).

Proses pembalikan juga berbeda-beda. Jika ukuran kotak fermentasi itu 40 cm, pengadukan dilakukan sedalam 20 cm dari bibir kotak fermentasi. Kemudian yang mengalami proses pengadukan paling atas dipindahkan ke paling bawah. Kegiatan ini dilakukan agar biji kakao mengalami proses fermentasi secara lancar dan merata. Untuk membantu penghangatan dan membangkitkan aroma, setelah kotak fermentasi penuh terisi biji kakao ditambahkan daun pisang di kotak paling atas.

Saat melakukan fermentasi, pastikan kotoran dalam lubang-lubang di kotak dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar pada saat penyusutan atau air yang keluar dari biji kakao dapat mengalir lancar dan tidak tersendat di dalam kotak. Jika tidak dibersihkan dia bisa mengakibatkan air yang keluar akan tertampung di dalam kotak fermentasi. Proses fermentasi akan gagal dan dapat mempengaruhi kualitas dari biji kakao itu sendiri.

Pembersihan kotoran dari lubang kotak fermentasi sebaiknya tidak menggunakan deterjen ataupun pewangi lain. Cukup bersihkan dengan air. Membersihkan menggunakan pewangi akan mengakibatkan rasa, aroma, dan kualitas kakao tersebut menurun dan jamur akan berkembang biak nanti. Alat yang digunakan pun tidak sembarangan. Cukup dengan serabut kelapa saja kita sudah dapat membersihkan kotoran yang menempel pada kotak fermentasi.

Sesudah melakukan proses fermentasi biji kakaonya pasti akan kotor. Betul tidak? Pastinya! Pasti diri setiap orang menginginkan agar semua terlihat bersih. Seperti saya contohnya jika melihat biji kakao kotor, ada keinginan dalam hati saya untuk mencucinya supaya terlihat bersih.

Tapiiii, Kakak Pepeng, salah satu pegawai Koperasi KSS yang ahli fermentasi, menyarankan agar biji kakao yang kotor tidak usah dicuci. Hal ini karena akan mengakibatkan aroma biji kako tersebut menghilang dan tidak ada aroma yang timbul. Akibat lainnya, biji kakao akan rentan terkena jamur dalam yang akan mengakibatkan harga jual kakao menurun.

Malaikat Membantu

Para petani kakao Jembrana terutama di sekitar Melaya yang melakukan proses fermentasi biasanya menjual biji kakao mereka di Koperasi KSS. Kantor Koperasi KSS di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Lokasinya strategis dan mudah untuk dicari karena berada di pinggir jalan raya Gilimanuk – Denpasar, tepatnya di depan gedung olahraga Yowana Mandala.

Adanya Koperasi KSS membantu petani kakao dengan cara membeli kakao mereka dan langsung memasarakan kepada para pembeli. Sebelum ada Koperasi KSS, para petani kakao Jembrana membawa biji kakao mereka ke pedagang biasa. Itu pun tanpa proses fermentasi. Harga yang diberikan pun sangat rendah, berkisar Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram sesuai dengan daerah masing-masing.

Para petani kakao kurang puas dengan hasil yang didapat karena biji kakao yang mereka jual tidak dapat menutupi biaya budidaya. Para petani mengeluh karena murahnya harga yang diberikan. Itu pun belum dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itulah para petani kakao mau membawa hasil panen mereka ke Koperasi KSS karena koperasi mampu menjamin harga dan memenuhi keinginan para petani. Koperasi juga bisa memotivasi dan mengajak para petani melakukan proses fermentasi untuk meningkatan nilai jual biji kako.

Terkait harga yang diberikan pada anggota Koperasi KSS, biasanya para anggota akan rapat terlebih dahulu untuk menentukan harga. Dalam rapat, para anggota akan menyampaikan pendapat sampai mendapat kesepakatan bersama. Kesepakatan hasil rapat akan dijadikan sebagai harga tetap dan menjadi harga beli tertinggi (plafon) dalam membeli biji kakao dari petani.

Pada tahun 2019 harga jual kakao kering dan difermentasi yang sudah tersertifikasi UTZ akan dihargai Rp 36.000 per kg. Kakao organik kering dan sudah difermentasi seharga Rp 38.000 per kg sedangkan basah organik dibeli Rp 12.000 per kg. Adapun kakao basah non-organik Rp 11.000 per kg. Harga kakao dapat diturunkan sesuai kualitas.

Salah satu petani, I Wayan Rata, kurang setuju dengan harga yang diberikan Koperasi KSS karena proses fermentasi dan perawatan menghabiskan cukup banyak biaya. Harga tersebut belum dapat menyeimbangkan antara pengeluaran perawatan si kakao dan pemasukannya.

Koperasi KSS membantu para petani untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Membantu perekonomian petani yang hanya bergantung dari hasil kebun mereka. Koperasi mau memberikan harga tinggi untuk biji kako berkualitas dan menggunakan pupuk organik. Petani yang mau melakukan fermentasi dan saran-saran dari Koperasi KSS pasti akan mendapatkan harga yang layak.

Koperasi KSS bekerja sama dengan Yayasan Kalimajari memberi inovasi untuk melakukan suatu proses yaitu fermentasi. Awalnya petani tidak mau melakukan fermentasi karena kata petani hanya berpikir instan. Tidak mudah bagi Koperasi KSS untuk mengajak para petani agar mau melakukan fermentasi, tetapi dengan seiringnya waktu para petani mau melakukan fermentasi.

Para petani yang mau melakukan proses fermentasi pun sekarang perekenomian mereka agak meningkat dan terbantu dengan adanya Koperasi KSS.

Sejuta Harapan

Adalah selembar kertas yang mampu membawa para pembeli luar negeri berdatangan untuk membeli kakao Jembrana. Kertas itu adalah sebuah gambaran dan pembuktian bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi.

Seperti kata I Gusti Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, banyak sekali biji kakao di Indonesia dan seluruh dunia, akan tetapi orang tidak akan peduli kakaonya ini dari mana. Mereka hanya melihat kualitas dari biji kakao tersebut. Para pembeli pun bertanya-tanya, “Apa yang Anda miliki sehingga percaya diri sekali?”. Sertifikasi inilah yang membuktikan dan meyakinkan pembeli bahwa kakao Jembrana ini memiliki kualitas tinggi.

Lembaran kertas itu adalah sertifikat UTZ, Organic USDA, dan Organic EU. Di balik kertas ini terlihat bagaimana perjalanan dan proses dari biji kakao sekaligus membuktikan kepada pembeli dari mana asalnya dan bagaimana pengelolaan dari kebun hingga koperasi. Sertifikasi ini juga membuktikan bahwa makanan yang dimakan kakao ini memang dari bahan organik tanpa tercampur dengan bahan kimia (pestisida). Sertifikat seolah berbicara kepada orang sehingga orang baru itu tertarik. Dari sertifikasi inilah pembeli dapat memilih kriteria seperti apa yang mereka inginkan. Dengan sertifikat ini pembeli bisa menilai bahwa kakao Koperasi KSS sudah lolos kriteria yang mereka inginkan.

Hebatnya lagi, pemilik sertifikat ini adalah koperasi itu sendiri. Bukan di pembeli, seperti halnya terjadi di Sulawesi. Ini menunjukkan perbedaannya. Kalau sertifikasi berada di tangan pembeli, maka petani bekerja hanya untuk kepentingan mereka, sedangkan jika di tangan koperasi, maka koperasilah yang menyejahterakan para petani kakao.

Meskipun demikian, adanya sertifikasi juga menambah tanggung jawab Koperasi KSS untuk bisa mempertahankannya. Ini bukan perkara mudah. Di dalam sertifikasi terdapat informasi bagaimana caranya agar dapat melanjutkan sertifikasi tersebut, baik dari sisi kualitas ataupun tanggung jawab terhadap seluruh mekanisme sertifikat. Tanggung jawab tersebut ada di level koperasi maupun petani.

Untuk tetap mempertahankan sertifikasi itu, Koperasi harus bisa membuktikan bahwa mereka tetap mampu memenuhi kriteria yang diminta dari waktu ke waktu. Pihak pembeli akan membuktikan sendiri apakah kakao Jembrana memang organik atau tidak. Caranya antara lain dengan menguji sampel biji, daun, batang, dan dicampur dengan bahan lainnya kemudian dikirim ke laboratorium di Belanda.

“Kenapa di Belanda? Karena laboratoriumnya independen. Ketika laboratorium di Belanda mengatakan lolos, barulah Koperasi KSS bisa mendapat sertifikat tersebut,” kata Bu Agung.

Bu Agung menambahkan tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat ini. Banyak hambatan, seperti kurangnya pola pikir petani, mahalnya dana sertifikasi, dan belum optimalnya sosialisasi.

Koperasi KSS juga memiliki sertifikasi UTZ dari Belanda. UTZ berbicara soal produk-produk yang dihasilkan secara berkelanjutan, berbicara tentang stabilitas serta akuntabilitas, sosial dan ekonomi bahwa biji kakao yang dihasilkan bukan dari hutan lindung.

Jadi, dengan adanya sertifikasi tersebut Koperasi sudah bisa berjualan berdasarkan standar organik yang benar. Tidak hanya sertifikat abal-abal. Koperasi akan menjual barangnya kepada pembeli yang juga punya sertifikat sama. Koperasi KSS akan mengeluarkan satu surat bernama transaction certificate (TC) yang hanya boleh dikeluarkan apabila produsen telah sah memiliki sertifikat organik. Itu pun hanya untuk pembeli tertentu.

Sertifikat yang dimiliki Koperasi Koperasi KSS tidak bisa dicabut oleh orang lain, karena sertifikat tersebut sudah dipatenkan. Kecuali sertifikat ini dipegang oleh pembeli baru bisa dicabut. Kecuali Koperasi KSS membuat kesalahan pada waktu perpanjangan sertifikat dan saat itu melakukan transaksi jual beli, tetapi tidak bisa dicabut juga.

Sedikit Saja

Dengan semua hal yang tidak mudah untuk dilalui ini, petani kakao Jembrana tetap semangat dan semakin maju.

Harapan saya sebagai generasi penerus pertanian di Jembrana, semoga semakin banyak pembeli yang datang ke Jembrana untuk menjalin kerja sama agar dapat meningkatkan perekonomian para petani.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha dan sungguh-sungguh melakukannya, seperti halnya petani di Jembrana. Kunci menuju sukses adalah rajin, tekun, kreatif, dan displin.

Berakit-berakit kita kehulu, berenang-renang kita ketepian. Bersakit- sakit kita dahulu, bersenang-senang kita kemudian. Berjuanglah kita dahulu, merasakan sakit, sedih, nanti hasilnya akan memuaskan hati dan kemudian baru merasakan senang dan beruntung. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan karya favorit dalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar appeared first on BaleBengong.

Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan

Pekerja perempuan di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gladis Desyani Putri

“Kopi cokelat” begitu kerap saya menyebutnya ketika masih belia.

Tidak pernah terpikirkan bahwa buah berbentuk oval dan dominan berwarna hijau ini ternyata memiliki segudang manfaat dan peran. Siapa yang tidak mengenal cokelat? Remaja Indonesia tentu sangat menyukai olahan pabrik satu ini. Bukan hanya manis, tetapi juga lezat. Buah ini juga telah diteliti mampu melepaskan hormon endorfin ke otak sehingga memicu perasaan bahagia pada konsumenya.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu penghasil buah kakao di Bali. Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali, Jembrana bukanlah tempat ramai atau sarat dengan kemacetan. Kabupaten ini lebih terasa sunyi dan tenang. Seolah semua penduduknya bergerak perlahan.

Namun, kini Jembrana tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena buah kakao.

Buah yang disebut “makanan para dewa” (the food of the gods) ini dikenal sebagai bahan pembuat makanan seperti bubuk cokelat yang dipakai dalam pembuatan kue, dan permen cokelat. Carolus Linnaeus, ahli botani dari Swedia, memberikan nama Latin “Theobroma cacao” untuk tanaman kakao pada 1735. “Theobroma” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makanan para dewa” sedangkan “cacao” adalah bahasa Maya yang merujuk pada tanaman kakao.

Linnaeus menggunakan nama ini karena pengaruh literatur Bangsa Spanyol yang menceritakan mengenai bangsa Maya dan Aztek. Mereka mengasosiasikan kakao dengan para dewa dan sering menggunakannya dalam ritual keagamaan. Meskipun berasal dari dataran Amerika, kakao kini ditanam di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Kakao telah dibudidayakan secara luas di Indonesia sejak tahun 1970. Kakao menjadi salah satu andalan ekspor non migas milik Indonesia (Wardani, 1988).

Menurut Morganelli (2006) cokelat merupakan hasil olahan biji kakao (Theobroma cacao) yang tumbuh pertama kali di hutan hujan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Sejarah mengenai cokelat dimulai dari ditemukanya cokelat oleh Bangsa Olmek di Amerika Selatan tiga ribu tahun lalu. Bertahun-tahun setelah bangsa Olmek punah, cokelat pun masih dinikmati Bangsa Maya yang menghuni Amerika Selatan. Olahan dari tanaman kakao ini, secara historis berasal dari Amerika dan disebarkan ke wilayah Indonesia akibat pengaruh Spanyol pada tahun 1560 tepatnya di Minahasa.

Setelah membaca dari beberapa literatur, saya menyimpulkan bahwa tingkah petani yang hanya kenal instan dan sukar menerima perubahan menyebabkan kualitas kakao di Indonesia tidak pernah meningkat. Hingga saat ini, Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika Barat.

Namun, sayangnya, kualitas kakao Indonesia masih rendah di pasar internasional. Kakao Indonesia didominasi oleh biji-biji tanpa fermentasi, biji dengan kadar kotoran tinggi serta terkontaminasi serangga, jamur dan mikotoksin (Wahyudi, et al., 2007).

Untuk menghasilkan produk cokelat berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus terutama dalam tahap fermentasi. Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp (daging buah) dan mematikan biji, tapi juga memperbaiki dan membentuk cita rasa cokelat yang enak serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Savitri, kurangnya perhatian para petani pada proses fermentasi inilah yang menyebabkan produksi biji kakao Indonesia kalah dengan produksi Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria. Bahkan, di Jepang, biji coklat dari Indonesia hanya untuk makanan ternak karena kualitasnya rendah.

Dewi dalam Keluarga

Bali telah banyak dikenal hingga kancah internasional sebagai daerah pariwisata. Kultur budaya dan keindahan alamnya menarik turis domestik dan mancanegara untuk bertandang ke Bali. Namun, kini Bali juga memiliki potensi lain yang tak kalah menarik, kakao fermentasi dari Jembrana. Kabupaten di ujung barat Bali ini telah mengirim 11 ton kakao fermentasi dengan tujuan 5 ton ke Perancis, 2 ton ke Jepang, dan 4 ton. Semuanya adalah simbol keberhasilan usaha petani anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

Petani kakao yang tidak mengenal lelah dan terus memupuk semangat untuk lebih baik adalah kunci sukses utama keberhasilan Jembrana. Mendengar kata “petani”, masyarakat mungkin akan cenderung terbayang dengan kehidupan penuh peluh, kotor, dan tentu saja seorang laki-laki dengan cangkul sebagai senjata utamanya. Namun, di era globalisasi yang sudah mengakui emansipasi wanita, peran petani tidak hanya diambil laki-laki.

Ungkapan perempuan sebagai dewi dalam keluarga mungkin cocok dikenakan pada kaum hawa di seluruh dunia. Standar yang sedari dulu dipergunakan oleh perempuan hanya tentang kecantikan dan ketrampilan dalam mengurus suami beserta anak. Namun, tidakkah perlu untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum hawa untuk merentangkan sayapnya? Terutama wanita yang gemar bertani.

Menjadi petani tidak hanya tentang mencangkul di sawah atau pulang dengan baju lusuh dan kotor. Seorang petani juga memiliki harkat dan martabat sendiri. Tidak dipungkiri bahwa seorang petani merupakan seorang pengusaha bertamengkan kebun dan lahan.

Seorang petani kakao dituntut untuk tekun dan sabar. Perempuan sebagai insan yang lembut tentu saja memiliki kemampuan jika diberikan kesempatan untuk menekuni bidang ini. Bukan karena keterpaksaan, tetapi dari hati nurani murni ingin mandiri. Seperti dilansir dari sumber-sumber di Internet, diskriminasi gender masih kerap terjadi. Misalnya dalam hal perbedaan penentuan tugas karena jenis kelamin, bukan berdasarkan kompetensi dan kemampuan. Adapun kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Menjadi petani tidak mesti tampak lusuh, tapi tidak juga takut kotor. Sebuah kerja keras tidak bisa didapat jika setengah-setengah. Karena itu, perempuan belia seperti saya ini supaya jangan takut mencoba hal baru. Para petani kakao Jembrana telah membuktikanya. Kerja keras dan kuatnya pemberdayaan perempuan sehingga timbul hubungan kerja sama yang timbal balik, membuahkan hasil hingga ke kancah dunia.

Pahlawan Agronomi

Secara khusus saya sempat berbincang dengan salah satu petani wanita yang sudah terjun ke bidang ini sejak ia menikah. “Pernah belajar akuntansi pada salah satu universitas di Jakarta, eh, tidak disangka malah menjadi petani kakao untuk membantu suami,” ungkap Ni Made Budi Ayu Anggreni saat kami datangi di kediamanya.

Beliau menceritakan pengalaman pertamanya saat menginjakkan kaki di kebun. Sedari kecil ia hanya fokus pada pendidikan dan sesekali membantu keluarga berdagang. Sama sekali tidak pernah beroikir akan menjadi seorang petani seperti sekarang membuat Kadek Ayu, begitu kerap ia disapa, tidak memiliki pengalaman dan gambaran pasti mengenai dunia pertanian.

Pengalaman menggelikan pun tidak luput ia rasakan ketika pertama kali berada di kebun suami yang diwariskan turun temurun tersebut. Salah satunya saat salah mengira biji nangka sebagai biji kakao. Kedua biji ini memang agak mirip hanya saja memiliki perbedaan dari segi ukuran. Biji nangka lebih besar daripada biji kakao.

“Suami saya sampai tertawa, padahal sudah dapat satu ember,” ucap Kadek Ayu sambil tertawa geli mengingat kejadian itu. Memulai sesuatu dari dasar ketika sudah menikah begini merupakan sesuatu yang unik dan menantang untuk Kadek Ayu. Dia menerangkan, awal mula niatnya hanya untuk membantu suami karena mertua tidak di rumah dan dia sendirian. Bahkan ketika telah dikaruniai seorang putri yang cantik jelita, Kadek Ayu tidak vakum dari kegiatanya bertani kakao.

Kadek Ayu menuturkan dengan senyum semringah mengingat momen pertama ia mengajak kedua putrinya ke kebun. Keduanya tampak senang dan tidak lupa pula ikut membantu. Kedua malaikatnya itu akan mengumpulkan biji kakao kemudian dibawa pulang dan dijemurnya. Setelah itu mereka sepakat menjual biji tersebut kepada guru di sekolah mereka yang juga kebetulan pedagang biji kakao.

Uang hasil penjualan ditabung di bank. Inginnya digunakan untuk keperluan masa depan. Kadek Ayu dan suami telah mengajarkan buah hatinya untuk hidup mandiri dan mencintai pekerjaan kedua orang tuanya.

Kadek Ayu tersenyum sendu sambil menatap kami. “Saya nggak mau mereka merasa malu dan terintimidasi oleh ejekan dari teman-temanya karena kami hanyalah petani kakao. Saya dan suami ingin menanamkan pada mereka bahwa petani kakao juga pahlawan, tapi di ladang,” ujarnya.

Ajaran itu pun tidak sia-sia karena kedua putri mereka kini telah sukses dengan jalan masing-masing. Kini tinggal si bungsu yang masih duduk di sekolah menengah pertama.

Seorang ibu, istri, sekaligus petani wanita yang mengurus kebun bukanlah pekerjaan yang dibilang mudah. Bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan untuk anak-anak sekolah. Lalu siangnya berangkat ke kebun hingga sore menjelang. Belum lagi mengurus pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, mencuci, dan memasak merupakan tanggung jawab besar bagi Kadek Ayu. Beliau tidak ingin hal tersebut menghalangi jalanya untuk tetap bertani kakao.

Ibu beranak tiga itu yakin jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesabaran, sesulit apapun itu pasti akan diberikan jalan oleh-Nya. Benar saja, masa-masa penuh tantangan ketika harus mengurus si kecil di rumah dan bertani kakao berhasil Kadek Ayu lewati dengan lancar.

“Dulu saya ini juga termasuk perempuan manja di masa muda. Suka belanja, berpenampilan cantik. Ah, pokoknya yang kayak gitu! Tapi sekarang saya sadar bahwa itu semua bukan segalanya,” tuturnya. Lagi-lagi dengan senyum khas di wajahnya.

Kadek Ayu menyayangkan pendidikanya yang tidak bisa lancar hingga usai dikarenakan sakit. Namun, kini ia tidak lagi menyesal karena menyadari bahwa inilah jalan yang ditunjukkan Tuhan. Memiliki suami, tiga anak yang jelita, dan menjadi petani wanita kakao yang berperan dalam memajukan kakao Jembrana merupakan jawaban Tuhan atas hal-hal malang yang menimpanya dahulu. Ia sangat bersyukur.

Wanita berumur 45 tahun ini merasa tidak terbebani dengan profesinya sebagai petani. Malahan merasa sangat menikmatinya. Menurut Kadek Ayu, petani meskipun lusuh-lusuh begitu sebenarnya juga berjasa dalam menghasilkan bahan pangan. Penghasilannya pun tidak kalah dengan pekerjaan orang elite jika musim panen tiba.

Intinya adalah tentang kesabaran dan tekun. Apalagi saat serangan hama beberapa tahun silam. Kala itu keadaan sungguh kacau. Kadek dan suami kebingungan, padahal sudah mencari di berbagai sumber, tidak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya kedua pasangan petani ini mengenal sistem sambung pucuk, samping, dan batang. Keadaan pun kembali pulih.

Lagi-lagi bicara soal takdir. Tidak lama setelah itu, tepatnya akhir 2015, mereka dipertemukan dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan Yayasan Kalimajari. Mulai dari sini kerja sama dan kerja keras kedua belah pihak digencarkan. Lika-liku akibat musim yang tidak stabil, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), dan belum ditemukanya skill yang tepat dalam memfermentasi biji kakao pun dihadapi.

Sampai akhirnya kakao fermentasi Jembrana berhasil mendapatkan perhatian dunia. Sejumlah besar buah kakao hasil fermentasi dari Jembrana diekspor ke luar negeri dan berhasil menyabet sertifikat Cacao Excellent 2017, di Paris, Perancis.

Kabupaten Jembrana, khususnya di Koperasi KSS menjadi daerah pertama di Indonesia yang berhasil menyabet penghargaan kelas dunia dalam hal fermentasi kakao. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat segala dan serta pengorbanan sejumlah komponen koperasi yang terlibat dalam keberhasilan ini. Tidak luput juga peran petani kakao yang atas kerja kerasnya mampu menghasilkan biji berkualitas dan mempertahankan kebun yang terserang hama kala itu. Dalam konteks lebih khusus dari topik yang sedang saya bicarakan, petani wanita juga memegang andil penting.

Kala itu saya dan rekan saya mengunjungi Koperasi KSS. Kami bertemu dengan beberapa petani wanita yang bertugas di penyortiran biji. Semua petani tersebut sangat ramah dan menerima kehadiran kami dengan tangan terbuka. Ketika ditanya soal peran wanita dalam program kakao lestari, mereka memberikan jawaban sederhana namun membuat diri saya baru sadar akan potensi yang dimiliki wanita.

Salah satu petani wanita, Ibu Kerti, menuturkan bahwa penyortiran biji memerlukan kesabaran dan ketelitian. Seorang laki-laki mungkin bisa melakukanya juga, akan tetapi bakat wanita yang merupakan bawaanya dari lahir tentang keterampilan semacam itu tidak bisa diremehkan. Petani wanita ini secara khusus terjun di bidang pengolahan biji kakao sedangkan Ibu Kadek Ayu yang merawat pohon kakao di kebun. Keduanya sama-sama petani wanita kakao di Jembrana dengan peran yang berbeda namun untuk tujuan yang sama.

Kenapa Tidak?

Tingginya peran perempuan di Koperasi KSS, baik dari kebun maupun pengolahan, menunjukkan pentingnya kesetaraan gender dalam pertanian, termasuk kakao berkelanjutan di Jembrana. Petani laki-laki dan perempuan tidak boleh dibeda-bedakan haknya. Kepala Bidang Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jembrana, Ni Ketut Arwati, S.Pd, menyatakan ketidaksetujuanya tentang perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki pada beberapa aspek kehidupan. Salah satunya dalam memilih pekerjaan dan meneruskan kehidupan.

“Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan, sih. Adat purusa di Bali membuat ini susah,” pungkas ibu dua orang anak ini. Budaya yang telah masyarakat yakini sejak dahulu sungguh sulit untuk diubah, meski demi kebaikan dan merupakan bentuk dari proses penyesuaian terhadap globalisasi.

Bagaimanapun, salah merombak tradisi di masyarakat akan menimbulkan perpecahan dan konflik. Anggapan bahwa perempuan hanya bertugas melayani suami dan tidak diberi kesempatan bekerja serta memperluas pengetahuan, sampai saat ini masih saja tertanam dalam benak masyarakat. Mereka belum memahami situasi dunia yang tidak bisa kaku semacam itu.

Akan tetapi, suasana menjadi sedikit canggung setelah membicarakan adat dan nasib perempuan di masa lalu. Ibu Arwati tersenyum dan menatap kami, seolah tidak ingin membuat kami yang masih menempuh pendidikan ini ikut terseret arus. Melihat suasana telah kembali normal, akhirnya kami mulai pada bagian inti yaitu mengenai petani wanita kakao di Jembrana.

“Saya sih setuju-setuju saja dengan wanita yang bertani. Kenapa tidak? Kalau karena gengsi dan takut kotor, itu sih cuma kedok supaya bisa malas-malasan di rumah,” ujarnya sambil mengerling pada kami berdua. Melihat reaksi kami yang salah tingkah, beliau melanjutkan. “Maksud ibu, perempuan juga bisa. Srikandi bahkan bisa membunuh ksatria termasyur semacam Bhisma bukan? Saran saya, tidak perlu gengsi asalkan pekerjaanya positif,” ujarnya.

Banyak pengaduan yang pernah Ibu Arwati terima, tapi yang paling melankolis adalah kasus sepasang suami istri berseteru karena dimulai dari media sosial. Sambil menceritakanya, wanita umur 53 tahun itu menyuguhkan kami segelas air dan beberapa kali bertanya mengenai prospek kami ke depan. Pembicaraan dengan beliau sungguh ringan dan keibuan. Tidak lupa, di akhir percakapan kami Ibu Arwati kembali membuka suaranya.

“Kapan-kapan saya mau, deh, berkunjung ke kebun kakaonya. Siapa tahu tertarik bertani juga!” Kami berdua tersenyum mendapat respon menyenangkan tersebut.

Meninjau hal yang telah saya paparkan, menurut saya pemberdayaan perempuan perlu lebih digencarkan lagi dengan menyadari kelebihan yang dimiliki insan bernama wanita ini. Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang. Tidak memandangnya sebelah mata seolah wanita hanya pelengkap dan tidak bisa berdikari. Saya rasa cukup dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dari diri saya sendiri yang kebetulan juga merupakan seorang perempuan yang masih menuntut pendidikan, saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan kerja keras. Menekuni bidang yang diminati adalah sebuah pilihan tersendiri. Bila minat saya berada di pertanian kakao, mengapa tidak?

Sedangkan dari lingkungan sekitar saya rasa lebih banyak untuk melibatkan wanita dalam setiap program, khususnya dalam hal ini yaitu program kakao lestari. Bahwa potensi yang ada pada diri wanita tidak akan pernah mencuat jika tidak ada rasa saling menghargai dan membutuhkan. Seseorang akan memberikan hal lebih dari kemampuanya ketika merasa dihargai.

Harapannya, semoga peran perempuan dalam program kakao lestari dapat lebih diapresiasi lagi. Misalkan dengan tidak mencibir setiap langkah yang ia tempuh jika tidak merugikan siapapun. Karena sosok dewi ini pun dapat memimpin tanpa terus harus dipimpin. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS)

The post Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan appeared first on BaleBengong.