Tag Archives: Sosial

Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan

Ngurah Suryawan saat peluncuran bukunya, Menyoal Bali yang Berubah. Foto Bentara Budaya Bali.

Tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan.

Saya sudah lama sekali tidak menulis opini ataupun esai ringan. Apalagi yang menanggapi tulisan dari Ngurah Suryawan: kawan lama di kolektif Etnohistori di Jogja. Alasannya sederhana, kualitas tulisan Ngurah jarang yang ada perlu ditanggapi.

Namun, beberapa minggu lalu Ngurah menulis esai bagus sekali di harian Kompas tentang Papua. Jadi mungkin, saya membatin, kawan Ngurah masih bisa diajak berpikir serius.

Tulisan ini ingin menanggapi corat-coret Ngurah di website Tatkala, soal apa yang Ngurah sebut sebagai tantangan bagi intelektual muda Hindu Bali.

Hindu atau Bali?

Inti dari corat-coret kawan Ngurah sebenarnya penting. Namun, ketika digores oleh pena Ngurah jadi terkesan kabur dan bertele-tele. Intinya kira-kira begini. Ngurah berangkat dari observasi kalau intelektual Bali tidak terdengar kiprahnya di kancah pemikiran nasional dan global. Saru gremeng, ujar Ngurah.

Menurut Ngurah, kemungkinan besar karena intelektual muda Hindu Bali berperilaku seperti katak dalam tempurung: hanya melihat Bali sebagai jagat pentas satu-satunya. Akibatnya, intelektual Bali dan Hindu terancam terjerumus dalam fenomena inward looking dan berpikir picik. Yang dibahas hanya Bali, dan sayangnya lagi, pembahasannya dominan soal membela kebudayaan Bali.

Saran kawan Ngurah, intelektual Bali dan Hindu perlu bergerak melampaui keBalian sendiri: melampaui romantisme pada kebudayaan dan masa lalu.

Ada beberapa catatan untuk kawan Ngurah dan poin penting yang berusaha ia bahas. Catatan pertama tentu saja: apa betul demikian sebagaimana yang disampaikan kawan Ngurah?

Bali dan Hindu dihela dalam satu hentakan napas dalam tulisan Ngurah, seakan-akan dua kategori itu simetris, kongruen, dan identik. Sebagai seorang antropolog yang pernah menulis Bali, Ngurah tentu harusnya tahu ini keliru. Bali tidak selalu identik dengan Hindu, apalagi Hindu modern ala Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang kita kenal sekarang.

Orang Bali ada yang Kristen dan Katolik, bahkan orang Bali ada yang Muslim. Mungkin lebih banyak lagi orang Bali yang tidak beragama Hindu modern ala PHDI dengan tri sandya tiga kali dan sebagainya. Mereka yang belajar studi agama memahami betul kalau kategori Hindu (yang di India dan bahkan yang dilekatkan di kebudayaan Bali) tersebut adalah konstruksi sosial.

Ketidakpahaman kawan Ngurah akan ketidaksimetrisan kategori Bali dan Hindu itu sendiri terlihat jelas ketika ia abai akan beberapa intelektual Bali yang sebenarnya kiprahnya sangat terdengar dan dominan di kancah pemikiran nasional. Tidak usah jauh jauh, kawan Ngurah sebenarnya bisa melihat rekan kita sendiri yang bernama Made “Tony” Supriatma.

Made adalah ahli studi politik militer di Indonesia, dan juga ahli studi Papua, studi yang belakangan kawan Ngurah coba geluti. Ia dididik di Cornell dibawah Ben Anderson dan diakui di level nasional sebagai salah seorang pemikir studi militer Indonesia. Made bahkan pentas jauh lebih dahulu di level nasional dibandingkan beberapa peneliti muda terdepan terkini di studi militer Indonesia—yang kebetulan saya kenal baik—seperti Evan Laksmana di Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Muhamad Haripin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya rasa kawan Ngurah abai melihat Made persis karena di analisis kawan Ngurah, intelektual Hindu dan intelektual Bali itu adalah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Made Tony kebetulan tidak dapat diringkus dengan pas oleh dua kategori Hindu dan Bali tadi. Namun, justru disitulah letak pentingnya Made Tony: ia telah berhasil melampaui penjara kategori Hindu, Bali, dan bahkan mungkin Katolik itu sendiri.

Saya tahu masih banyak intelektual Bali lain yang pentas di level nasional dan gaung kiprahnya sangat terdengar. Ada dua orang Bali yang kini jadi jurnalis terdepan di Tempo. Ada satu orang Bali yang kini jadi ahli batas maritim di level nasional. Jika tidak terdengar oleh Ngurah, mungkin karena kawan Ngurah masih terjebak dalam penjara kategori Bali dan Hindu.

Intelektual Bali yang berkiprah di pentas nasional tersebut mungkin sekali sudah melampai penjara dua kategori tersebut dan telah menjadi, simply, orang Indonesia saja.

Tidak Berhenti Belajar

Catatan kedua. Jika memang kiprah intelektual Bali gaungnya tidak sekencang kiprah pemikir non-Bali, seperti yang Ngurah tuduhkan, mungkin sekali bukan karena mereka selalu berpikir inward looking dan jadi “jago-jago penjaga kebudayaan” untuk mengutip istilah lawas favorit kawan Ngurah. Mungkin sekali karena mereka telah berusaha berkiprah di pentas nasional, tetapi karena keterbatasan mereka masing-masing, tidak mampu menjadi salah satu pemikir yang terbaik.

Ngurah saya rasa adalah salah satu contoh yang bagus. Selepas berkutat dengan studinya tentang Bali, Ngurah kini mencoba berkiprah di pentas nasional dengan menjadi pemikir tentang Papua. Sejauh mana kiprah kawan Ngurah berhasil, masih kita nantikan.

Beberapa resep menjadi pemikir dan intelektual yang berhasil saya rasa kawan Ngurah sudah mafhum. Sebagai misal, jadilah pemikir merdeka dan bukan pemikir minder tukang kutip sarjana lain, menulis dengan logika yang runtut dan bahasa yang jernih, dan yang paling penting, proses belajar tidak berhenti seusai meraih gelar doktor. Justru gelar doktor itu menambah beban harapan pembaca pada sang intelektual.

Saya rasa tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan pada peran menjadi jago kebudayaan. Tantangan mereka kini adalah keluar dari zona nyaman repetisi tema pemikiran, dan tentu saja kemalasan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tulisan ini ingin saya tutup dengan dengan ucapan penyemangat pada kawan Ngurah: mungkin sekali kawan Ngurah nanti jadi intelektual Bali berikutnya yang kiprahnya terdengar di pentas nasional dan tidak hanya membahas soal budaya Bali. Dengan catatan, tentu saja, kawan Ngurah tidak berhenti belajar. [b]

The post Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan appeared first on BaleBengong.

Ape to? Kau Urek e?

Endy Suryanta menunjukkan kerajinan tangan yang ia buat dengan memanfaatkan batok kelapa. Foto Bali Tribune.

Cerita pahit getir usaha kecil menengah di Bali.

Kesuksesan para pegiat usaha kecil dan menengah di Bali ternyata diawali dengan pengalaman getir. Mereka melalui hidup dengan penuh perjuangan. Mimpi untuk merengkuh kesuksesan selalu mengiang dalam keseharian hidup.

Memelihara mimpi itulah yang menjadi pemandu hidup mereka. Jalan terbuka. Berbagai kesempatan kemudian hadir silih berganti. Ketika kita melihat mereka sukses hari ini, dibaliknya penuh dengan cerita perjuangan.

Ape jemak gae to kau urek,” sindir seorang krama (anggota) banjar kepada Yande suatu waktu.

Pekerjaan yang dipilihnya dianggap remeh karena selalu mengeruk buah kelapa untuk diambil tempurungnya. Usaha rumah tangga yang dilakukan awalnya berada di lingkungan banjar.

Banyak keluhan ketika itu ia dapatkan. Salah satunya tetangga di banjar yang tidak nyaman karena genangan air selalu meluber hingga ke pinggir jalan. Situasi seperti ini merugikan masyarakat lain. Bau busuk air kelapa yang menggenang membuat para tetangga mulai menunjukkan sikap tidak suka.

Namun, Yande bersama dengan adik dan keluarganya tetap bekerja dan berusaha untuk mengurangi genangan air kelapa di halaman depan rumahnya. Perlahan namun pasti ia mulai memikirkan untuk pindah ke tempat lain. Semuanya tercapai karena usaha batok kelapanya berkembang dengan pesat ketika itu.

Sindiran kau urek ini masih membekas hingga kini. Ledekan itu Yande jadikan motivasi untuk semakin jengah (semangat) terus berjuang dalam hidupnya. Perlahan-lahan, pesanan datang silih berganti.

Ia dan istrinya berhasil menabung dan membeli tanah yang lebih luas di sekitar desanya. Tanah ini ia rencanakan untuk tempat tinggal juga gudang seluruh kegiatan usahanya. Ia juga bermimpi dengan tempat barunya ini, ia bisa mendidik anak-anak muda untuk menekuni usaha batok kelapa dengan serius.

Perlahan tapi pasti, kini, cita-citanya itu mendekati kenyataan. Yande dengan tangan terbuka menerima kunjungan dari berbagai pihak yang ingin belajar tentang usaha batok kelapanya. Tidak hanya yang berasal dari Bali, tetapi juga dari daerah lain yang melakukan studi banding. Yande juga menyiapkan kamar-kamar untuk bermalam selama proses belajar di rumahnya.

Ngacung

Kini kerajinan batok kelapa bernama “Yande Batok” sudah terkenal hingga ke luar negeri. Siapa menyangka juga jika sebelum memiliki workshop seperti sekarang, ia melalui jalan berliku merintis usahanya. Yande mengakui bahwa awal mula terjun ke usaha batok kelapa ini karena begitu banyaknya kelapa di daerah mereka di Banjarangkan, Klungkung ketika itu.

Yande bersama dengan adiknya merintis usaha batok kelapa ini dengan tujuan untuk memanfaatkan potensi yang besar dari buah kelapa tersebut. Pada tahun 1997, Yande mendapatkan ide awalnya dari adiknya untuk coba memanfaatkan kelapa yang berlimpah untuk dijadikan kerajinan tangan. Pada saat itu harga kelapa adalah Rp 1.000 per tiga butir.

Tahun 1997-1998 adalah masa-masa awal dan sulit dari perjuangan Yande bersama adiknya untuk merintis usaha batok kelapa ini. Pada tahun-tahun ini, ia berjuang untuk mengenalkan produknya dan mencari pelanggan. Yande dengan mengendarai Vespa membawa empat tas plastik yang berisi contoh-contoh kerajinan batok kelapa yang diproduksinya.

Ia ngacung (menawarkan barang) ke daerah pariwisata Kuta. Masuk dari satu toko ke toko lainnya tanpa mengenal lelah. Hasil kerja kerasnya itu adalah ia berhasil mengenalkan barang produksinya dan mendapatkan langganan baru. Ini adalah langkah awal yang baik pada saat itu untuk memperkenalkan produk batok kelapanya kepada masyarakat.

Yande menuturkan bahwa masa-masa ngacung itu adalah masa terberat dalam hidupnya. Pada masa ngacung inilah titik balik dari kehidupannya. Ketegarannya untuk terus mencari order (pesanan) akhirnya perlahan-lahan membuahkan hasil.

Contoh-contoh produk batok kelapa yang diproduksinya perlahan mulai dikenal oleh publik. Pada saat ngacung di Kuta itulah ia mendapatkan pesanan dari seorang yang tidak dia sangka sebelumnya. Yande mengaku sering menawarkan dagangannya di kawasan Kuta, terutama di sekitaran Toko Joger yang terkenal saat itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa suatu saat nanti Mr. Joger yang menjadi pemilik dari Joger akan membeli hasil kerajinannya.

Yande mengisahkan pada suatu hari ia menawarkan kerajinan batok kelapa miliknya kepada sesorang yang berdiri di depan Joger. Saat itu memang hari keberuntungannya. Tanpa Yande menyangka, laki-laki yang ia hampiri itu kemudian memesan barangnya ratusan buah. Sungguh ia sangat senang sekali.

Yang membuat Yande makin semringah adalah Mr. Joger, yang ia baru ketahui belakangan mengatakan bahwa potongan yang ia dapatkan hanya 2 persen, tidak 10 persen seperti penjual yang menaruh barang di Joger. Saat ini usahanya sudah maju dan berhasil untuk membuat Gudang dan rumah baru serta menyerap tenaga kerja di desanya.

Pesanan pun hadir silih berganti. Kini, bekerja sama dengan pemerintah dan Perusahaan Angkasa Pura, ia mengenalkan kerajinan batok kelapa hingga keluar negeri. Pemerintah juga semakin terbuka dan selalu mengajak Yande untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembinaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kerajinan tangan di Klungkung maupun di Bali secara umum.

Tidak hanya sampai di Bali. Yande juga membuka pintu workshopnya bagi pegiat-pegiat UKM yang ingin sungguh-sungguh belajar di tempatnya.

Limbah

Jika Yande fokus untuk “hanya” menggunakan batok (tempurung) kelapa untuk memproduksi kerajinan, tidak demikian yang dilakukan oleh Endy Suryanta. Anak muda ini justru secara cerdik melihat limbah kelapa yang tidak dipergunakan.

Selama ini yang menjadi prioritas memang hanya tempurung (batok) kelapanya. Sementara bagian yang lain, meski sudah dimanfaatkan, namun tetap tidak maksimal. Celah inilah yang dilihat Endy untuk kemudian memutar otak untuk menjadikannya bernilai guna.

Limbah batok kelapa yang biasanya hanya digunakan untuk kayu bakar tersebut disulap oleh Endy Suryanta menjadi berbagai kerajinan tangan yang cantik, bermanfaat, dan juga bernilai ekonomis. Dengan kerajinan limbah batok kelapa ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Hal itu berawal dari banyaknya limbah batok kelapa yang berada di sekitar rumahnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Endy memulai usahanya sejak tahun 2017 di Tabanan. Ia mengumpulkan batok-batok kelapa yang sudah tidak terpakai lalu dibuat menjadi produk mangkok, gelas, hingga lampu hias. “Supaya batok kelapa tidak terbuang sia-sia, saya berpikir kenapa tidak dipakai untuk kerajinan saja,” ujarnya.

Kini setelah usahanya mulai berkembang, ia mulai melangkah maju untuk membuka pasar. Ia melakukan produksi dan pemasaran produknya sendiri. Oleh sebab itulah ia aktif untuk mengikuti pameran dan promosi lainnya. Hal ini ia lakukan untuk mencari peluang mempromosikan produknya.

Harga kerajinan tangannya juga bervariasi dari mulai dari Rp 5000 sampai dengan Rp 5.800.000. Bahkan sekarang juga ada hiasan meja yang laku terjual Rp.7.800.000. Apabila dalam sebulan penjualannya ramai, Endy mengaku bisa meraup keuntungan bersih sampai Rp 6.000.000 per bulan.

Ke depannya ia ingin terus berkarya dengan menghasilkan berbagai bentuk kerajinan tangan yang unik dan tentunya bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. “Siapa tahu ke depannya bisa memotivasi adik-adik yang lain untuk berkarya dan semoga batok kelapa tidak lagi hanya dipandang sebelah mata,” ungkapnya (Lihat “Endy Sukses Olah Limbah Batok Kelapa”, Tribun Bali, 12 Agustus 2019).

Kisah Yande dan Endy bisa menjadi cermin bahwa hal yang tampak remeh dan tidak berguna di sekeliling kita bisa menjadi peluang besar.

Kau urek, adalah sindiran pejorative (merendahkan) yang diterima Yande pada awalnya. Namun, sekarang ia bisa dengan kepala tegak mengatakan bahwa dengan kau meurek lah ia bisa sukses seperti sekarang. Yande juga selalu mengingatkan kepada anaknya bahwa apa yang mereka lihat sekarang adalah berkat jasa kau (tempurung kelapa).

Sindiran kau urek membuatnya jengah dan kemudian bangkit berjuang dalam hidupnya hingga bisa sukses seperti sekarang. [b]

The post Ape to? Kau Urek e? appeared first on BaleBengong.

(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Demi pariwisata, kita biarkan investor memakan apa saja yang ada di Bali. Kartun Gus Dark.

Pelan tetapi pasti, muncul “agama pariwisata” dan para pengikutnya.

Sontak kita terkejut setelah sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa Pulau Bali sedang menuju kepada krisis air. Seolah kita tidak percaya, bahwa pulau dengan agama tirta, pemujaan terhadap air, justru kini bersiap akan kekurangan air.

Bentang persawahan melahirkan kebudayaan pertanian sekaligus sumber penghidupan pada masanya. Tatanan kebudayaan juga tercipta melalui pertanian, yang salah satu unsur pentingnya adalah pemujaan terhadap air dalam rangkaian ritual-ritual.

Namun, itu dulu.

Pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan sarana pariwisata tidak terelakkan. Mungkin sebuah keniscayaan, kebudayaan air tergerus oleh modernitas bernama pembangunan dan pariwisata.

Kita seolah terpapar kepada kondisi yang menuntut untuk semuanya mengabdi kepada pariwisata. Kerusakan lingkungan dengan demikian hanya menunggu waktu.

Sudah lama saya mendengar ungkapan tentang budaya air dan budaya jalan yang bertubrukan dalam realitas kontemporer Bali. Saya rasa tidak hanya di Bali. Pengalaman saya dalam memahami kondisi di Papua beberapa tahun belakangan ini mungkin lebih dramatis. Kita terpaksa berhadapan dengan ironi-ironi antara cerita kejayaan (dongeng) masa lalu dan kenyataannya kini.

Budaya air tumbuh dari keseluruhan kehidupan manusia Bali, terutama dalam ritual agama. Foto Anton Muhajir.

Agama (Kebudayaan) Tirta

Teks-teks tradisi tidak menemukan konteksnya dalam realitas kontemporer Bali. Perubahan melaju kencang menerabas semuanya, tanpa kecuali. Tersedia berbagai macam pilihan yang harus dipilih. Pilihan-pilihan sulit dan tantangan yang harus dihadapi itulah yang menandai perubahan Bali.

Teks-teks sejatinya berguna sebagai pondasi dan suluh untuk mengenali posisi dan identitas kita. Selebihnya, kita sepatutnya mengisi teks tersebut dengan semangat zaman (baca: konteks) kita hidup saat ini. Dengan demikian teks akan berubah menjadi spirit. Spirit teks tersebut adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian pulalah kita akan menjadi eling dalam dunia yang berlari kencang ini.

Bagaimana mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan rakyat Bali yang berubah? Bagaimana memaknai sumber-sumber air penghidupan terancam pencemaran dan kekeringan? Kisah peradaban air yang perlahan-lahan tergerus peradaban jalan (infrastruktur secara luas)?

Perubahan-perubahan itulah yang melanda Bali dan daerah-daerah lain di negeri ini. Dongeng peradaban air perlahan tergantikan dengan peradaban pembangunan pariwisata. Yang tidak ikut serta seolah-olah akan terlindas tewas peradaban yang melaju kencang tanpa henti. Infrastruktur seolah menjadi ideologi yang menandai kemajuan.

Budaya air tumbuh dari kesuluruhan kehidupan manusia Bali. Filsafat keagamaan manusia Bali memandang laut dengan pantainya sebagai kawasan suci. Maka, bukanlah kebetulan jika kawasan pantai yang mengitari tanah Bali “dipagari” dengan pura. Dari beragam pura inilah diharapkan vibrasi kesucian dan kemurnian itu mengalir, menyusup ke puncak pikir, ke kedalaman hati, hingga ke relung batin umat manusia.

Siklus air dalam kebudayaan Bali bermula dari pegunungan, lantas menembus ke dalam bumi, menyembul lagi menjadi mata air, yang kemudian mengalirkan air ke sungai-sungai, menyejahterakan umat manusia dengan segenap mahluk seisi semestaraya, hingga akhirnya semua bermuara ke laut (Sumarta, 2015: 103-105).

Penelitian awal saya di Batur memberikan potret bahwa air begitu pentingnya dalam tataran religius juga budaya kemasyarakatan. Tidak salah yang menyebut bahwa Danau Batur, salah satunya, adalah sumber air di Balidwipa.

Dari Danau Batur lah air terbagi ke seluruh pelosok Bali. Air mengairi sawah-sawah, lahan pertanian, disedot industri pariwisata, hingga detak kehidupan rumah tangga manusia Bali. Pondasi kehidupan pertanian yang menjadi asal-muasal kehidupan manusia Bali tidak bisa dilepaskan dari peradaban air ini.

Sekaa Subak menjadi institusi penting yang memastikan berjalannya peradaban air pada lahan-lahan pertanian masyarakat. Selain sebagai jantung kehidupan, air menciptakan filosofinya sendiri. Totalitas kehidupan keagamaan manusia Bali dinapasi salah satunya oleh air. Dan Batur, dengan Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur menjalani ritual penyembahan utama, salah satunya terhadap air.

Denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur itulah yang menciptakan Pasihan, aliansi jejaring Subak-Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak bahkan kini mungkin lebih di Balidwipa.

Pasihan inilah yang merupakan penyokong dari pelaksanaan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Dan bukan hanya di Danau Batur, danau-danau lainnya di Bali—Tamblingan dan Buyan—juga mempunyai jaringan subak tersendiri.

Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, menjadi ekspresi ritual dari para penyungsung Subak yang menyembah Ida Bhatari Dewi Danu di Pura Ulun Danu Batur. Sebagai bentuk rasa syukur, penyungsung Subak mempersembahkan hasil buminya (ngaturang sawinih atau sarin tahun) sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Persembahan inilah yang digunakan sebagai bahan ritual Ngusaba Kadasa.

Pasihan adalah jaringan sosial budaya dengan orientasi ritual ke Pura Ulun Danu Batur, sebagai pura penting dalam pemujaan air. Pusat orientasi ritual memiliki legitimasi yang menjadi panduan bagi masyarakat pengikutnya (Majalah Batur, Pasihan: Aliran Peradaban Air Batur, Edisi 2 Maret 2019).

Sebuah proyek hotel sedang mangkrak di Bukit Timbis, Desa Kutuh, Badung, Bali. Foto Anton Muhajir.

Tubrukan

Transformasi global berimplikasi dengan semakin memuncaknya pengaruh pembangunan yang menenggelamkan kebudayaan air. Salah satu rekayasa sosial terpenting Bali pasca kolonial adalah hasrat kuasa pariwisata yang sejatinya sudah terbentuk sejak rezim kolonial Belanda menduduki Indonesia.

Hasrat baru “ideologi kenikmatan” ini berlangsung “berkelanjutan” di berbagai wilayah di Indonesia, terutama juga di Bali. Seluruh energi dikerahkan untuk sektor yang kemudian perlahan-lahan menyingkirkan bidang pertanian.

Pembangunan pascakolonial menitikberatkan kepada pariwisata yang menyulap segala macam kerikil-kerikil tajam menjadi properti-properti pentas pariwisata. Pondasi yang membangunnya adalah otentisitas (keaslian atau keeksotisan) budaya. Orientasi dan distribusi sosial ekonomi dengan demikian juga ikut berubah.

Sumarta (2015: 106) dengan detail menarasikan bahwa dalam budaya air, pusat distribusi sosial ekonomi berorientasi pada gunung dengan ulun danu sebagai pusat.

Saat budaya jalan menerjang, pusat perputaran sosial ekonomi berubah menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban yang berada di kaki Pulau Bali. Dari kaki Bali inilah para wisatawan didistribusikan menuju ke berbagai daerah di Bali. Dan mereka juga dipulangkan kembali melalui kaki Pulau Bali.

Rakyat Bali yang menjadi serdadunya dibuat tanpa jeda memikirkan pariwisata. Adakah yang kritis terhadap pariwisata?

Palguna (2007:28) mengungkapkan dengan tepat sekali. “Memang satu dua orang pernah mencoba berperan kritis. Yang dikiritik bukan pariwisata, tapi investor atau pelaku-pelaku di tingkat bawah. Tapi jarang sekali kami mengetahui bagaimana cara investor mendiamkan orang-orang kritis. Karena investor itu bekerja seperti mahluk halus. Ia ada di mana-mana tapi tidak kelihatan. Tiba-tiba sebuah kawasan telah dikuasainya.”

Pelan namun pasti, muncullah “agama pariwisata” yang memiliki banyak pengikutnya. Mereka adalah para serdadu yang siap mati demi pariwisata, yang memang menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Dari mulai manajer hotel berbintang, pegawainya, tukang kebun, dosen dan profesor pariwisata di perguruan tinggi, hingga bendesa adat dan perempuan front office di sebuah villa mewah di Ubud.

“Agama pariwisata” telah menerjemahkan dirinya begitu cair dan menjadi saudara, rekan kerja bahkan tetangga dan krama di banjar. Oleh sebab itulah, “agama pariwisata” telah mewariskan cara berpikir dan (seolah-oleh) ketergantungan terhadap kehadirannya yang merasuk dalam setiap tempat dan waktu.

Kita menyaksikan arus padat pariwisata dimulai di kaki Pulau Bali. Di kaki Pulau Bali jugalah kawasan ekslusif pariwisata hadir di Nusa Dua dengan berbagai hotel bintang lima dan fasilitas pariwisata mewah yang mengelilinginya. Di kaki Pulau Bali telah menjadi simbol terikatnya manusia Bali dengan pariwisata dan pernak-pernik di dalamnya.

Terikatnya kaki Bali menjadi cerminan penting bahwa kita masih kehilangan siasat untuk memikirkan satu hal penting: apa daya kita (selain) setelah pariwisata? [b]

The post (Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata” appeared first on BaleBengong.

Nuduk Ide ala Rurung Gallery

Rurung adalah ruang. Selain berkarya di luar ruang, Rurung Gallery pun memamerkan karya di dalam ruangan. Seperti kali ini, di pameran ke-6, bertajuk Nuduk.

Pameran karya oleh Rurung Gallery hadir sebagai wadah gerakan seni jalanan di Bali. Dalam berkarya bersama ini, Rurung memiliki kecenderungan mengambil atau mendapatkan inspirasi dari hal lain. Seperti suatu elemen grafis yang terlihat di jalan, garis, bentuknya, juga material yang ada di sekitarnya.

Konsep ini tecerminkan menjadi kata “nuduk” yang dalam bahasa Bali artinya “memungut” atau “mengambil”. Lewat “Nuduk”, Rurung ingin menghadirkan kembali yang diambil tersebut ke jalanan untuk disuguhkan kepada publik. Memberikan perspektif-perspektif baru maupun rasa nostalgia, kali ini dalam bentuk pameran. Berkarya di kesenian, pasti ada satu atau banyak inspirasi, entah itu bersifat imajinatif maupun dari hal nyata di kehidupan.

Event Rurung Gallery kali ini mencoba untuk menampilkan karya-karya dari teman-teman street art ke dalam bentuk ruang, dengan mengajak teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam perjalanan projek Rurung Gallery. Bertempat di Lingkara, Renon, pameran dari tanggal 5 – 26 Juli 2019. Artist yang berpameran adalah Zola Longor, Vonzealous, Pansaka, Swoofone, Dxgo, Uncle Joy, Ikynata, Masgaga, Eka Sudarma Putra, Varkoiivark, Sanggarasi, Donik Dangin, Belanonik, Beluluk, Blelozz, dan Thirdfunc.

Ditambah dengan program edukasi, workshop mengenai teknik-teknik kekaryaan yang sering digunakan seorang street artist kepada generasi muda. Workshop ini bertujuan mengajarkan bahwa ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk menggambar di media tembok ini. Setiap teknik memiliki tingkat kesulitan masing-masing dan hasil yang berbeda pula. Para pengajar workshop adalah seniman-seniman yang sudah ahli di masing-masing teknik yang mereka gunakan. Workshop diadakan 3 kali pada tanggal 6 juli, 13 Juli, dan 20 Juli diisi Uncle Joy untuk workshop menggambar karakter, Nedsone untuk workshop Graffiti, dan Vampira Adisa pada workshop stensil.

Dalam acara pembukaan pameran dimeriahkan oleh Matilda dan Kaset Kulcha, lalu di penutupan digoyang oleh SS dan DJ Saylow.

Pameran ini disponsori oleh Nothing Cloth, Rutopia, Voordurend, TokoTondo, Bujidet Arjuna, Ruang Gembira, Lingkara Space, Juice Time, dan Drink House Bali. Media partner oleh Kind Magz, Kopi Keliling, dan BaleBengong.

Tulisan pengantar pameran oleh Savitri Sastrawan, fhoto oleh Gus Yoga, Adi Suarcandra, dan Gusde Bima.

The post Nuduk Ide ala Rurung Gallery appeared first on BaleBengong.

KB Krama Bali dan Kualitas Hidup Manusia Bali

Instruksi Gubernur Koster soal KB Krama Bali sontak mengundang tanda tanya besar.

Banyak yang bertanya-tanya apa latar belakang kebijakan Gubernur Bali mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali. Salah satunya adalah “perlawanannya” terhadap program Keluarga Berencana (KB) dengan dua anak cukup.

Ironisnya, Provinsi Bali dulu sempat mencuat dan disanjung-sanjung karena keberhasilannya mensukseskan program rintisan rezim otoritarian Orde Baru tersebut. Salah satu menteri yang berperan saat itu adalah mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Oka.

Salah satu bunyi Instruksi Gubernur Koster adalah: “Segera menghentikan kampanye dan sosialisasi Keluarga Berencana (KB) dengan dua anak cukup atau dua anak lebih baik kepada jajarannya yang menangani urusan keluarga berencana.“

Yang justru menjadi fokus Gubernur Koster adalah mengampanyekan dan mensosialisasikan KB Krama Bali berdasarkan kearifan lokal yang diarahkan untuk mewujudkan manusia (krama) Bali yang unggul dan keluarga berkualitas. KB krama Bali yang dimaksudkan dalam intruksi ini adalah urutan penamaan anak pada keluarga Bali yaitu Putu/Wayan, Made/Kadek, Komang/Nyoman, dan Ketut.

Tidak jelas sejak kapan penggunaan tradisi penamaan anak pada masyarakat Bali berlangsung dengan empat anak tersebut. Nama dengan awalan Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut sangat jelas menunjukkan urutan kelahiran dari yang lebih tua hingga yang paling muda. Jika memiliki anak kelima, sering disebutkan dengan Wayan balik untuk menunjukkan perputaran kembali dari awal.

Hal lainnya juga adalah penggunaan I pada awal nama Wayan/Made/Nyoman/Ketut untuk mencirikan laki-laki dan Ni yang mencirikan perempuan. Tradisi empat anak dengan penamaan Wayan/Made/Nyoman/Ketut jelas berkaitan dengan status kebangsawanan (Kasta) sebagai Wasya atau Sudra.

Jika merujuk kepada catatan sejarah, nama depan orang Bali tersebut pertama kali disuratkan pada masa pemerintahan Raja Gelgel Klungkung yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang memerintah Balidwipa pada abad ke-14. Beliau adalah anak keempat dari Sri Kresna Kepakisan yang diangkat menjadi pemimpin Bali oleh Mahapatih Gajah Mada pada masa pemerintahan Majapahit berkuasa di Bali.

Almarhum Prof. I Wayan Jendra menegaskan perlunya dipertanyakan dan dilakukan kajian teks lebih mendalam untuk membuktikan. Apakah pemberian nama orang Bali tersebut sebagai pengaruh Majapahit atau bukan.

Stagnan

Meski berargumentasi melindungi kearifan lokal dan warisan leluhur, juga dikaitkan dengan visi pembangunan Bali Nangun Sad Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru, patut diduga kebijakan ini lahir dari argumentasi keterdesakan orang Bali di tanahnya sendiri.

Arus migrasi dan interkoneksi dunia membuat Bali terpapar pada dunia global. Bali justru mengundang dunia dan kapital sekaligus hadir melalui pariwisata. Dunia yang semakin sempit dan tanpa batas membuat Bali dan manusianya menghadapi berbagai risiko.

Sebagai warga dunia global, identitas dan jati diri Bali—dengan empat anak—terus-menerus menghadapi tantangan.

Saya meyakini bahwa kebijakan KB Krama Bali ini sarat dengan nuansa “membangun benteng” di tengah keterdesakan tersebut. Saya tidak yakin bahwa sebelum memutuskan untuk membuat instruksi, Gubernur Koster dan timnya melakukan kajian secara mendalam dan berkualitas. Apalagi didesiminasi ke publik.

Asumsinya saya kira adalah kekhawatiran populasi manusia Bali sebagai warga dunia global yang semakin terhimpit. Memperkuat benteng paling mudah dilakukan adalah saat kita membayangkan diri secara bersama-sama menjadi orang Bali.

Kita merasa dominan di wilayah kita. Kita mengindentikkan diri kita bersama-sama. Kita membayangkan bahwa ancaman tersebut selalu harus datang dari luar (baca: migrasi dan banyaknya para pendatang).

Salah satu yang menjadi momok bagi Bali adalah arus migrasi yang menambah sesaknya penduduk. Hal tersebut berbading terbalik dengan stagnan bahkan berkurangnya jumlah krama Hindu Bali. Hal ini terbukti dari data tahun 2016, 2017, dan 2018, di mana jumlah penduduk krama Hindu Bali stagnan di angka 3,6 juta penduduk dari total jumlah penduduk Bali yaitu 4.216.171 jiwa.

Data-data statistik kependudukan itu sangat mungkin menjadi acuan Gubernur Koster mengambil kebijakan ini. Keluarga masyarakat Hindu Bali, kemungkinan dominan di wilayah urban, sudah jarang yang mempunyai empat orang anak. Jika demikian, nama Nyoman dan Ketut dipastikan langka. Ini berarti populasi pertumbuhan masyarakat Hindu Bali dipastikan menurun di wilayah berpenduduk padat.

Bagaimana dengan masyarakat Hindu Bali di daerah perdesaan?

Poster kampanye KB dua anak cukup di Bali.

Kuasa Pengaturan

Kritik terhadap Program Keluarga Berencana (KB) sangat menghujam. Intinya adalah negara dengan otoritasnya masuk untuk mengatur wilayah-wilayah privat manusia (urusan kelamin dan kebebasan menentukan memiliki anak atau tidak). Di samping soal kuasa negara tersebut, kebijakan KB sangat jelas tidak sensitif gender dan menjadikan perempuan sebagai obyeknya. Kekuasaan negara telah masuk ke ruang-ruang privat manusia.

Saya masih ingat bagaimana awalnya adalah sosialisasi namun akhirnya pemaksaan alat kontrasepsi kepada perempuan agar menghentikan mempunyai anak. Kekuasaan telah masuk ke alat kelamin. Ia tidak hanya berbentuk tentara, polisi, dan lembaga-lembaga, namun juga peraturan, program-program, dan sudah tentu instruksi.

Rezim pengaturan melalui KB krama Bali juga sangat kental nilai patriarki yang dan menjadikan perempuan sebagai obyek percobaan. Baik KB maupun KB krama Bali jelas tidak beradasar pada keadilan dan kesetaraan gender. Yang menjadi “korban” dari segala macam kebijakan ini adalah para perempuan. Perjuangan melahirkan adalah menyerahkan diri antara hidup dan mati, metegul bok akatih (mengikatkan rambut satu helai) untuk menggambarkan bagaimana perjuangan perempuan dalam melahirkan.

Saya ingat betul, saat mendampingi istri melahirkan, saya merasakan kesakitan yang tiada tara perempuan berjuang melahirkan. Di mana keadilan dan kesetaraan pada perempuan?

Rezim pengaturan kebijakan ini jelas sangat diskriminatif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Diskriminatif karena mengandaikan bahwa populasi masyarakat Hindu Bali hanya pada wilayah-wilayah urban.

Bagaimana dengan saudara Hindu Bali yang berada di daerah pelosok dan perdesaaan? Apakah mereka saat memiliki empat anak akan terjamin penghidupannya? Dimana tanggungjawab negara pasca instruksi dikeluarkan?

Ujung dari desain kebijakan ini saya kira bukan hanya menambah populasi masyarakat Hindu Bali. Populasi meski sedikit tapi memiliki kualitas kehidupan yang memadai tentu akan lebih elok.

Saya kira, hal lebih urgen diperhatikan justru bagaimana memastikan orang-orang Bali yang ada kini (dan minoritas) hidup sejahtera dan berdaulat atas ruang-ruang hidup mereka. Orang-orang Bali yang tangguh dan berkarakter petarung dan jujur. Memastikan karakter kuat itulah yang mesti dipikirkan bagaimana peta jalannya.

Kita juga memiliki kerinduan bagaimana orang-orang Bali menjadi berkualitas, memiliki kapasitas, dan mempunyai posisi tawar untuk menegakkan martabatnya di tanah kelahiran mereka. Bukan justru menjadi kuli dan kacung. Hak-hak atas ruang hidup bagi orang Hindu Bali itulah yang harus diperjuangkan oleh negara. Bukan justru menjadi kaki tangan dari kekuasaan negara dan kapital.

Di samping itu, memastikan orang-orang Hindu Bali terhadap penghidupan yang layak dan kesejahteraan itu juga jauh lebih penting daripada mengurus orang Bali punya anak.

Ah, saya tetiba teringat bagaimana sekeluarga, dengan empat anak bahkan lebih, hidup beratapkan klangsah kehujanan, kedinginan, dan melawan panas di sebuah desa di pegunungan Bali utara. Di belahan tanah Bali lainnya, di timur Bali, sekeluarga dengan empat anak bahkan lebih mengalami gangguan jiwa tanpa perhatian pemerintah.

Di mana kehadiran negara? Di mana tanggungjawab negara yang memastikan penghidupan yang layak bagi warganya? Tidak bertanggungjawab kok menginstruksikan mempunyai empat anak. Juari gen (tidak tahu malu). [b]

The post KB Krama Bali dan Kualitas Hidup Manusia Bali appeared first on BaleBengong.