Tag Archives: Sosial

Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya

Pembuat arak menuangkan produknya di Karangasem.

Mata yang merah, tenggorokan yang panas.

Lima pemuda duduk melingkar. Satu kawan saya, tiga teman dari kawan saya, satu persatu saling memperkenalkan diri. Di tengah berdiri tegak botol besar 1 liter yang berisikan arak Bali.

Dia bersandingkan dengan sebotol minuman bersoda dan berserakan jajanan di sekitarnya. Botol kecil yang telah dirobek dan diambil bagian bawahnya kini dialih fungsikan sebagai cangkir untuk minum.

Satu di antara kami memiliki tugas untuk memimpin dan menuangkan arak ke cangkir dan membagikannya secara melingkar berurutan.

Mereka bilang saya tak lemah. Mereka juga mengatakan orang Surabaya terbiasa minum. Begitu mereka menyindir saya. Jangankan menenggak, tercium aromanya ketika hendak meminumnya saja saya tak mampu.

Namun, mereka begitu memaksa dan menikmati setiap tegukan ketika saya hanya mencoba membaur menjadi lambang kekuatan manusia Surabaya dalam menghadapi tiap tetesnya. Apakah mereka tidak merasa saya sengaja menguatkan diri dengan sedikit menahan napas agar melewati fase “tercium aroma” ketika menenggak cangkir di tiap putarannya?

Pada saat bersamaan ketika cangkir sedang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, terdapat diskusi ringan di dalamnya. Bahkan kadang kala terjadi pula diskusi berat dengan tema yang menyudutkan salah satu di antara mereka, yang mana hanya bisa diam dan mengesampingkan ego.

“Sepuluh ribu pertama..” Kalimat ini sering tersuarakan dari mulut anak muda yang sedang berkumpul dengan kawannya. Kalimat itu mengisyaratkan untuk “cuk-cukan” dalam Bahasa bali yang memiliki arti patungan untuk membeli arak.

Aktivitas minum arak menjadi suatu fenemona dan sudah menjadi suatu kewajaran di tengah kehidupan anak muda Bali. Entah itu hanya sekadar berkumpul di rumah atau terdapat suatu acara diskusi, pameran seni, pementasan teater, dan sebagainya.

Entah mengapa aktivitas minum arak ini seperti menjadi suatu kewajiban.

Teringat ketika saya masih hidup dan tinggal di Surabaya, aktivitas meminum minuman keras hanya kami laksanakan pada saat akhir pekan dan saat ada momen istimewa seperti perayaan ulang tahun salah satu kawan.

Saya masih belum terbiasa dengan aktivitas minum tiap harinya. Ketika di Surabaya bisa dikatakan susah untuk mencari minuman berakohol. Umumnya hanya kafe, bar, atau club yang menjualnya. Itu pun bisa didapatkan dengan harga yang relatif mahal.

Namun, ketika berada di Bali saya menjumpai banyak tempat yang menjual minuman beralkohol. Banyak toko kecil bertuliskan “sedia arak”. Bahkan betapa kagetnya saya ketika memasuki sebuah minimarket modern pun menyediakannya.

Suatu pagi saya menghampiri sebuah kafe. Betapa terkejutnya ketika melihat daftar menu, di mana harga secangkir kopi dan segelas jus buah nyatanya lebih mahal ketimbang minuman beralkohol. Inilah momen yang menyadarkan saya bahwa sehat itu memang mahal. [b]

The post Perihal Arak dan Cerita-cerita di Baliknya appeared first on BaleBengong.

Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia

Google menampilkan doodle tentang perempuan pada 8 Maret 2019 lalu.

Gambar interaktif itu segera muncul hari itu ketika kamu sedang mengakses Internet lalu melakukan pencarian dengan mesin pencari Google. Google menampilkan gambar warna-warni dalam aneka bahasa bermakna sama, perempuan.

Hari itu dunia memang memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day.

Tepat 42 tahun lalu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meresmikan 8 Maret 2019 sebagai hari perjuangan hak perempuan. Hal itu sebagai bentuk apresiasi kepada wanita yang dirintis pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York oleh Partai Sosialis Amerika Serikat.

Jika kita menggunakan kata pencari “hari perempuan sedunia”, maka akan dijabarkan bagiamana sejarah dan kilas balik perayaan hari ini. Bagaimana semangat dan tekad kaum perempuan untuk memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Sejalan dengan hal tersebut, Google pun merayakan Hari Perempuan Sedunia ini dengan mencantumkan petikan-petikan tokoh perempuan dunia berkarakter serta berjuang dengan keahlian dan caranya masing-masing.

Misalnya slogan Yoko Ono, “Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

“Mimpi yang Anda impikan sendiri hanya akan menjadi mimpi. Mimpi yang anda impikan bersama orang lain akan menjadi kenyataan.”

Yoko Ono

Atau slogan Mary Kom (Petinju India), “Jangan katakan Anda lemah, karena Anda adalah perempuan.”

Mengulas tentang penghormatan atas jasa dan jerih payah seorang wanita banyak tertuang dalam cerita-cerita di seluruh dunia. Saya ingin sedikit bernostalgia tentang kesetiaan Sinta menunggu suaminya menjemputnya dari negeri Alengka dalam kisah Ramayana.

Dewi Athena yang memimpin seribu pasukan lelaki dalam medan peperangan di Yunani. Hal ini serupa dengan Cut Nyak Dien atau Malahayati yang mengangkat senjata ikut berperang melawan kolonialisme di tanah Aceh.

Namun, nostalgia ini sedikit bias dengan hal-hal feminin yang menyatakan posisi wanita ternyata masih di bawah lelaki. Suatu pergolakan tentang catatan sejarah dan fakta yang terjadi hari ini.

Pada hari ini, permasalahan-permasalahan tentang wanita masih dan terus masif terjadi. Masih hangat di ingatan masyarakat Indonesia dan Lombok khususnya tentang kasus pelecehan seksual yang dilaporkan Baiq Nuril yang bermula dari rekaman cerita perselingkuhan kepala sekolah tempatnya dulu bekerja.

Keberanian Baiq Nuril membeberkan percakapan yang seharusnya menjadikan dirinya pahlawan justru terjerat dugaan pelanggaran UU ITE pasal 27 ayat 1 jo pasal 45 ayat 1 UU Nomor 11 tahun 2008. Kasus ini bahkan cukup viral hingga mendapat perhatian namun kini menguap terlupakan.

Dapat diasumsikan kasus serupa dapat muncul kembali dengan tokoh wanita lainnya yang menjadi korban.

Mungkin masalahan pelecehan wanita acap kali menguap menghilang dari perhatian masyarakat umum, tetapi google mencatatnya! Jika kita menggunakan kata pencarian “kasus wanita” di mesin pencari Google, akan ada banyak kejadian-kejadian serupa.

Bahkan dalam beberapa minggu lalu, kasus viral tertangkapnya politisi menggunakan narkoba di Jakarta, ada sosok wanita yang turut diseret sebagai topik pembahasan khasus politisi tersebut.

Klise memang jika menjadikan wanita hanya sebagai objek. Padahal kenyataannya peran wanita sangat dibutuhkan di lini-lini masyarakat atau yang kini tren disebut kaum emak-emak. Mungkin perjuangan kaum feminim menuntut haknya hingga sekarang
belumlah tuntas seperti cita-cita Mary Wollstonecraft ataupun R.A Kartini.

Namun, perlu digaris bawahi, hak apa yang sebenarnya yang dituntut wanita pada dewasa ini? Bukankah jauh sebelum gerakan feminin terjadi, wanita juga bisa menjadi kepala kerajaan? Bukankah wanita telah di letakan pada posisi yang tinggi dalam folklor kedaerahan sebagai seorang “ibu”. Ibu dari segala penciptaan dan surga ada di telapak kakinya.

Merefleksikan Hari Perempuan Sedunia, pantas kiranya menjadikan pembahasan-pembahasan tentang wanita untuk menjadi konsentrasi khusus. Kurangnya nilai-nilai kemanusiaan secara khusus terhadap kaum wanita menjadikannya sangat rentan untuk dicurangi haknya. Sudah saatnya manusia memanusiakan dirinya, bukan sebatas kesetaraan tetapi tentang nilai kemanusiaan. [b]

The post Bagaimana Dunia Maya Merayakan Hari Perempuan Sedunia appeared first on BaleBengong.

Apa yang Sebaiknya Jomblo Lakukan saat Valentine?


Mbloooo ini Hari Valentine, mblooo…

Semua orang tahu kalau tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari merayakan kasih sayang. Hari–hari sebelumnya di sepanjang jalan sudah berjejer penjual–penjual bunga dadakan. Toko–toko juga tidak ketinggalan memajang segala pernak–pernik, hadiah, dan boneka–boneka berwarna merah muda lucu menggemaskan.

Konon katanya semua itu adalah tanda kasih sayang yang diberikan untuk orang terkasih, terutama kekasih di hari merah muda ini.

Walaupun kasih sayang bisa dirayakan dan diungkapkan setiap hari, tetap saja hari Valentine selalu menjadi hari yang ditunggu oleh pasangan muda–mudi. Memberi dan menerima sesuatu di hari ini terasa lebih spesial. Jauh lebih spesial daripada nasi goreng dengan dua telur ceplok diatasnya.

Para muda–mudi yang memiliki kekasih biasanya sudah dari jauh–jauh hari menyiapkan kado apa yang akan diberikan pada kekasihnya. Lalu, banyak juga yang merencanakan strategi penembakan untuk dieksekusi pada hari valentine ini.

Katanya sih biar lebih spesial lagi.

Entah berapa kali saya menyebut kata “spesial” pada tulisan ini padahal baru bagian pembuka. Karena memang hari ini terasa begitu untuk sebagian orang. Lalu apa kabar dengan mereka yang tidak punya kekasih bahkan tidak punya gebetan?

*menunjuk diri sendiri

Tenang kalian tidak sendiri. Mari kita rancang kegiatan yang sekiranya bisa kita lakukan hari Valentine ini di saat mereka–mereka yang berpasangan sibuk memadu kasih.

Pertama, berdoa berjamaah agar hujan turun.

Hujan bisa menjadi alasan untuk tetap tinggal di rumah hari ini. Jadi kita tidak usah baper melihat pasangan yang berboncengan memenuhi jalan dan tempat–tempat nongkrong kekinian.

Namun, bagaimana jika tidak hujan sore ini? Marilah kita berdoa bersama–sama memohon hujan. Karena doa orang–orang tertindas selalu lebih didengarkan oleh Tuhan.

Berdoa, mulai.

Kedua, bermain dengan binatang peliharaan.

Biasanya banyak yang bilang, merayakan hari kasih sayang tidak harus dengan kekasih. Bisa juga kita merayakannya dengan keluarga. Mari kita pikirkan kemungkinan lain. Ayah dan ibu adalah pasangan, kadang mereka ingin menghabiskan waktu berdua tanpa anak–anak. Mengenang masa–masa muda saat berpacaran dulu.

Bagaimana dengan adik atau kakak? Jika mereka juga punya pacar masing–masing, tentu saja mereka akan pergi dengan pacar mereka bukan?

Tinggalah kita sendiri di rumah bersama binatang peliharaan. Ajaklah mereka bermain, walaupun mereka punya kekasih, tetapi kalian bisa melarang mereka untuk berkencan malam itu dan menemani kalian.

Abaikan pandangan kesal dari anjing atau kucing kalian. Sogok mereka dengan makanan yang lebih banyak. Niscaya mereka akan lebih memilih menghabiskan waktu bersama kalian.

Cerdas!

Ketiga, menanam bunga.

Nah.. untuk mendukung program penghijauan dan gerakan menanam pohon dari pemerintah, kalian bisa mengajak teman kalian sesama tuna asmara untuk menanam bunga.

Belilah bibit mawar atau Chrysant. Tanyakan cara menanamnya pada si penjual, kemudian mulailah menanam di rumah. Selain menambah kegiatan saat menjalani kesendirian pada hari Valentine, menanam bunga juga membuat kita berhemat untuk valentine tahun depan.

Siapa tahu, hanya Tuhan yang tahu, Valentine tahun depan kita sudah punya pasangan dan bunga itu bisa kita petik untuk diberikan kepada pasangan kita. Jadi tidak usah membeli bunga mahal–mahal.

Kalian tahu kan, saat valentine harga bunga naik 3x lipat. Menang banyak! jogged

Keempat, lomba mengisi TTS.

Selain membunuh waktu, mengisi TTS atau teka teki silang adalah olah raga untuk otak kita juga menambah wawasan. Jadikan itu sebagai lomba dengan teman–teman sesama tuna asmara dan tentukan hadiah untuk pemenangnya.

Atau nyontek salah satu adegan di film Dilan 1990 (masih ingat kan?). Isilah semua TTS dan hadiahkan pada kekasih, pada saatnya nanti kalian memiliki kekasih. Agar dia tidak pusing mengisinya lagi.

Romantis!!

Kelima, membagikan coklat kepada anak-anak tetangga.

Anak–anak mana sih yang tidak suka coklat? Jika kalian tidak punya kekasih untuk diberikan coklat, kumpulkan anak -anak disekitaran rumah kalian. Ajak mereka bermain dan bagikan coklat.

Jangan lupa, minta doa agar kalian cepat menemukan tambatan hati. Semakin banyak yang berdoa untuk kalian, bisa membuat Tuhan lebih iba dan mempercepat pegiriman jodoh yang tertunda.

Keenam, membuat Eco Enzyme.

Nah lho, makanan apa pula ini eco enzyme? Well, ternyata eco enzyme bukan nama sejenis makanan. Eco Enzyme ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand.

Gagasan proyek ini adalah untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya kita buang ke dalam tong sampah sebagai pembersih organik. Jadi eco enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air.

Warnanya coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Eco enzyme bisa kalian pakai sehari-hari untuk membersihkan lantai, dapur bahkan kamar mandi.

So, daripada bengong di Hari Valentine, membuat eco enzyme sendiri di rumah sepertinya lebih berguna. Selain bikin rumah kinclong, kalian juga sudah ikut membantu membersihkan tanah dari bahan kimia berbahaya dari pembersih-pembersih yang dijual di pasaran.

Buat yang banyak, ya! Siapa tahu bisa kalian jual dan menjadi bisnis yang menguntungkan. Mulia sekali, bukan? Berfaedah!!!

Itulah beberapa kegiatan yang bisa kalian para pemeluk kesendirian a.k.a jomblo lakukan di hari Valentine ini. Cukup enam saja, nanti kalau kebanyakan kalian bisa bingung lalu ujung–ujungnya tidur. Nah, itu lebih bagus sepertinya.

Selamat merayakan hari kasih sayang. [b]

The post Apa yang Sebaiknya Jomblo Lakukan saat Valentine? appeared first on BaleBengong.

Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan

Komunitas KNB saat menjenguk Ni Wayan Lepug di Ubud. Foto Herdian Armandhani.

Di usia 85 tahun Ni Wayan Lepug harus hidup sebatang kara.

Anak satu-satunya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Cucunya kandung nenek yang tinggal di Ubud ini sudah setahun belakangan tidak pernah menjenguknya ke rumah mungil berukuran 3×3 meter di Jalan Gatotkaca Gang Buntu Denpasar.

Dahulu saat masih sehat, Nenek Ubud berprofesi sebagai pedagang buah Salak di Pasar Badung, Denpasar. Ia mulai berjualan dari tahun 1951. Hingga suatu musibah terjadi menyebabkan pingganggya separuh mati rasa dan susah untuk duduk secara normal.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan belas kasihan tetangga ataupun dermawan yang mengetahu nasibnya.

Kondisi rumah mungil Nenek Ubud bisa dikatakan tidak sehat. Rumah mungil ini tidak begitu terawat dan penuh debu. Jika musim hujan datang, rembesan dan tetesan bocor menjadi tak terbendung.

Mengetahui kondisi Nenek Ubud yang sangat memprihatinkan, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) menggagendakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menjenguk dan merawat Nenek Ubud secara sukarela seminggu dua kali yakni setiap Selasa dan Sabtu.

Tim Komunitas KNB membagi diri menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan melakukan piket untuk merawat Nenek. Saat disambangi tim Komunitas KNB pada Selasa, 12 Februari 2019, kemarin Nenek Ubud sedang rebahan di ranjang usangnya. Ia pun tergopoh-gopoh bangkit menyambut relawan Komunitas KNB.

Nenek Ubud cara berjalannya membungkuk sambil berpegangan pada benda di sekelilingnya.

Relawan Komunitas KNB membawakan sarapan bubur ayam hangat untuk disantap pagi itu. Sedangkan relawan lain ada yang merapikan ranjang Nenek Ubud istirahat, mencuci gelas dan piring , serta mengajak Nenek Ubud mengobrol.

Beberapa tim juga ada yang membelikan lauk pauk Nenek saat makan siang. Nenek Ubud begitu senang ada yang memperhatikannya.

“Odah (red: sebutan nenek dalam bahasa Bali) tidak dapat membalas kebaikan adik-adik sekalian,” ucapnya sambil berkaca-kaca.

Ketua Project Kunjungan ke Nenek Ubud Ayu Zulalina mengatakan kegiatan mereka semata-mata untuk membahagiakan Nenek sehingga bisa hidup lebih layak.

“Mudah-mudahan kegiatan sederhana kami bisa membuata hati nenek senang. Kami mengaisihi dan merawat beliau seperti Nenek kami sendiri. Setidaknya apa yang kami lakukan bisa membuat kehidupan nenek menjadi lebih layak,” ungkapnya. [b]

The post Menjenguk Odah untuk Berbagi Kebahagiaan appeared first on BaleBengong.

Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi


Jah Megesah Vol. 03 menghadirkan Rudolf Dethu dan Ayip Budiman. Foto Wendra Wijaya.

Membangun peradaban adalah membangun mental manusia.

Manusia menjadi energi besar kemajuan jika memiliki kebanggaan dan keterlibatan aktif bagi apa yang diperjuangkannya. Dua pembicara Jah Megesah Vol. 03, Rudolf Dethu dan Ayip Budiman, sepakat menempatkan manusia menjadi unsur vital, melalui kreativitas dan militansi yang dimilikinya.

Jah Megesah kali ini mengambil tema Rumah Sanur: Modal Manusia, Musik, dan Militansi. Obrolan di Rompyok Kopi Komunitas Kertas Budaya, Negara, Jembrana ini dimoderatori Umam al Maududy.

Diskusi ini mendapat perhatian serius dari banyak pihak. Sebab aktivasi ruang, baik berupa komunitas ataupun wilayah atau kota, memiliki persamaan mendasar meski dengan tantangan yang beragam.

“Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan terhadap apa saja yang diperjuangkan. Jika kebanggaan ini melekat, otomatis militansi akan tumbuh sebagai modal dasar untuk membangun sesuatu. Apa pun itu,” ungkap Ayip.

Ayip merupakan inisiator Rumah Sanur. Sejak awal, ia memang membentuk Rumah Sanur menjadi rumah kreatif bagi siapa saja. Melaui Rumah Sanur, Ayip berupaya mengarahkan pembangunan kreativitas yang inklusif. Caranya dengan membentuk ekosistem kreatif untuk mendorong inovasi sosial yang berfokus pada pengelolaan sumber daya dan pengembangan produk.

Untuk mencapainya, ada tiga hal mendasar yang menjadi titik berangkat Rumah Sanur, yakni sense of place, 3rd space, dan serendipity space. Ketiganya bersinergi untuk memberi sensasi pertemuan bagi setiap orang.

Menurut Ayip kesan sebuah tempat sangat penting di dalam menumbuhkan keinginan untuk selalu datang. Menariknya adalah ketika orang-orang dari berbagai latar belakang mengunjungi Rumah Sanur, pengelola menskenariokan kedatangan itu agar terjadi hubungan baru di antara pengunjung.

“Karena itu, konsep yang dibangun di Rumah Sanur memungkinkan untuk terjalinnya relasi baru di antara sesama pengunjung. Sekali lagi, kita sengaja skenariokan jalinan relasi itu,” terangnya.

Media Musik

Di sisi lain, Rudolf Dethu mengungkapkan strategi untuk menarik kedatangan pengunjung adalah lewat media musik. Ia percaya, musik merupakan alat komunikasi paling efektif untuk mempertemukan, sekaligus merekatkan berbagai kalangan.

“Musik bisa merangkul siapa saja, paling gampang ditularkan untuk menciptakan crowd. Karena itu, musik yang kita programkan mesti lintas genre dan berjenjang untuk menarik massa yang berbeda,” ungkapnya.

Dethu yang selama ini dikenal sebagai propagandis mengingatkan bahwa modal manusia adalah segala-galanya. “Melelahkan itu pasti. Kita mesti menjadi host, menyambut setiap orang yang datang dan menciptakan suasana yang akrab ke sesama audience,” ujar Dethu.

“Selain itu, kita juga melakukan pendampingan terhadap musisi. Memang benar kita open terhadap segala genre musik, tapi bukan berarti kita tidak mengkurasinya. Kurasi penting untuk menjaga kualitas pertunjukan sekaligus sebagai tanggung jawab kita juga kepada publik,” tambahnya.

Namun, tiap kota punya ceritanya masing-masing.

Pengelola Rompyok Kopi sekaligus Koordinator Komunitas Kertas Budaya, Nanoq da Kansas, mengisahkan bagaimana ia dan kawan-kawan di Jembrana cukup militan untuk membangun tempat yang diproyeksikan sebagai rumah singgah tersebut.

Hampir setiap hari, selalu saja ada aktivitas utamanya mengenai pembelajaran seni kepada pelajar di Jembrana. “Tapi akhirnya malah warga yang seperti enggan datang. Rompyok jadi terkesan tenget dan hanya jadi tempat bagi ‘orang-orang serius’,” ungkapnya.

Terkait hal ini, sekali lagi Dethu menerangkan jika segalanya akan bisa cair lewat musik. Namun yang mesti digarisbawahi adalah, komunikasi yang ditawarkan harus lebih ngepop. Karena itu, pengelola mesti mampu merangkul setiap kalangan dari berbagai usia.

Sementara Ayip menjelaskan bahwa keberadaan tempat harus memberi manfaat dan mampu mengakomodasi aktivitas warga. Hal ini berarti, penting untuk menciptakan persamaan antara sesama manusia, tidak ada perlakuan yang berbeda.

Di sisi lain, lanjut pria yang juga merupakan konsultan branding beberapa kota di Indonesia, pemahaman terhadap peta potensi wajib dimiliki. Namun, tak berhenti sampai di sana, pemuktahiran juga menjadi keharusan karena selalu berlaku dinamis. Setiap tempat, termasuk kota memiliki karakternya masing-masing, entah itu karena pengaruh historis atau lainnya.

Dengan demikian, setiap kota mesti memiliki story telling-nya sendiri untuk memproduksi wacana yang mampu mencerminkan identitas masing-masing, tanpa mengabaikan siapa saja yang menjadi bagian di dalamnya.

“Segalanya harus dirangkul. Bergerak bersama dan menciptakan kesamaan visi untuk mencapai apa yang diharapkan. Interaksi harus dibangun dengan titik berat pada transformasi pengetahuan,” demikian Ayip.

Sementara Wakil Bupati Jembrana, Made Kembang Hartawan, mengapresiasi program Jah Megesah yang diselenggarakan Jimbarwana Creative Movement (JCM) bersama Komunitas Kertas Budaya. Menurutnya program ini penting sebagai media edukasi, utamanya di era digital yang demikian pesat.

Menurut Kembang orang-orang yang survive adalah mereka yang kreatif dan mampu meningkatkan nilai produk. Kreativitas masyarakat Jembrana tentu juga merupakan kekayaan daerah yang mesti diapresiasi dengan serius.

“Karena itulah, Pemda (Pemkab Jembrana) ingin memaksimalkan kreatif muda Jembrana, salah satunya dengan membangun creative hub,” tukasnya. [b]

The post Rumah Sanur, Modal Manusia, Musik dan Militansi appeared first on BaleBengong.