Tag Archives: Sosial

Nyepi dan Wabah Covid19

Rangkaian menuju Nyepi di tahun 2020 kali ini berjalan sepi. Pasalnya rangkaian persiapan menyambut hari raya Nyepi diinstruksikan oleh berbagai pemerintah daerah untuk tidak mengadakan kegiatan membuat orang berkerumun dan berkumpul dalam jumlah banyak.

Di desa saya, sejak tanggal 15 Maret sudah ada imbauan untuk belajar dan bekerja di rumah. Tetapi di kantor desa tempat saya bekerja sebagai kantor pelayanan publik belum menerapkan sistem bekerja dari rumah. Kami para aparat desa dan staf masih masuk seperti biasa dan masih melayani warga di bidang administrasi. Sedangkan di tempat kerja saya di yayasan, les pun diliburkan selama dua minggu.

Meski demikian, kegiatan adat di banjar tetap berjalan hampir seperti biasa untuk kegiatan persiapan Nyepi. Kegiatan ngayah di Pura Puseh Desa Angkah masih berjalan. Memang di desa kami tidak ada kebiasaan membuat dan mengarak ogoh-ogoh, sehingga kami lebih fokus ke persiapan mecaru dan melasti. Bagaimanapun juga kegiatan ngayah itu adalah wadah berkumpulnya banyak orang. Saya sendiri datang ngayah tetapi hanya menyetor urak banten yang menjadi bagian saya. Ngeri juga membayangkan bahwa masyarakat masih mementingkan adat dan kepercayaan mereka daripada logika pencegahan penyebaran virus Corona.

Untuk melasti yang harusnya membawa pratima ke laut, tahun ini telah mendapat instruksi untuk dilakukan di beji yang ada di desa. Dari surat tersebut maka saya simpulkan kegiatan melasti tahun ini harus dilokalisir hanya di desa pakraman setempat. Biasanya desa kami melakukan melasti hingga ke Pantai Soka dan itu arak-arakannya bisa menggunakan truk, mobil dan motor. Jarak dari desa ke Pantai Soka ada sekitar 10 km. Saya takut juga membayangkan jika melasti berjalan seperti biasa di tengah wabah virus Corona ini, bisa-bisa warga desa kami dari berbagai penjuru yang merantau pada pulang kampung dan ikut melasti. Lalu para umat Hindu jadi satu bertemu di Pantai Soka, karena bukan warga desa kami saja yang melasti ke Pantai Soka.

Akhirnya iring-iringan melasti di Desa Angkah jalan ke Pura Pangkung Sakti sebagai pura segara desa. Pura Pangkung Sakti ini cukup dekat dari Pura Puseh, kurang lebih hanya 1 km. Jadi para pengiring bisa berjalan kaki dari Pura Puseh ke Pura Pangkung Sakti. Saya sendiri tidak ikut melasti, tetapi dari status Whatsapp yang saya lihat dari tetangga saya, ternyata yang ikut banyak juga! Bukannya dari surat edaran bersama dari Gubernur Bali, PHDI Dan MDA, peserta yang mengikuti melasti harusnya dibatasi?

Akhirnya hari Nyepi datang dan saya melakukan aktivitas di rumah saja, seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian besar orang sejak datangnya penyakit akibat virus Corona di Indonesia atau sejak imbauan untuk membatasi aktivitas, hingga sekolah-sekolah dan kantor ditutup dan mulai menerapkan belajar dan bekerja dari rumah. Nyepi ini berjalan 24 jam, dari jam 6 pagi pada hari Rabu, 25 Maret 2020 hingga jam 6 pagi pada hari Kamis, 26 Maret 2020. Apa saja yang saya dan anggota keluarga saya lakukan di rumah?

Biasanya saya puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam, tetapi karena saya sedang tidak fit akibat sakit tenggorokan seperti kena flu, maka puasa tidak saya lakukan. Sebenarnya saya suka dengan konsep puasa untuk mendetoksifikasi badan dan saluran pencernaan saya, maka kali ini yang saya lakukan adalah membatasi makan dengan minum air putih dan makan buah saja. Selama hari Nyepi saya hanya makan buah pepaya dan buah naga serta minum air putih. Tidak makan yang lainnya.

Pukul 05.30 WITA saya bangun lalu minum air putih dilanjutkan dengan mandi. Setelah mandi, saya membuka halaman tutorial online untuk kuliah saya sampai pukul 06.15 WITA halaman tuton masih bisa diakses lalu akhirnya melambat dan terhenti. Akhirnya saya melanjutkan dengan kegiatan menulis blog tentang pengalaman saya, yang akan saya posting setelah post ini.

Lalu pukul 8.00 WITA saya melakukan latihan otot perut dengan aplikasi di HP yang bernama Abs Exercise selama 25 menit. Saya melakukan olah raga ditemani oleh Kalki, anak saya. Dia menghitung berapa jumlah repetisi yang saya lakukan. Saya sangat senang dan terbantu sekali dengan bantuan Kalki sehingga saya bisa fokus ke pernapasan dan otot tanpa lupa hitungan. Di sisi lain, adik Kavin sedang menggambar menggunakan Paint di laptop.

Pukul 09.00 WITA saya makan buah pepaya dan minum air putih. Setelah itu bercengkrama dengan anak-anak dan mengajak mereka belajar.

Pukul 10.00 WITA saya membaca buku kuliah Pengantar Statistik Sosial. Saya pikir kok relevan sekali dengan adanya wabah penyakit COVID-19 saya jadi banyak membaca data statistik di media.

Pukul 11.00 WITA anak-anak makan siang, sedangkan saya makan buah naga. Setelah itu saya ajak mereka untuk tidur siang. Eh, ternyata yang berhasil diajak tidur siang hanya Kalki, sedangkan Kavin masih asyik bermain dengan papa.

Pukul 13.00 WITA saya bangun tidur siang tetapi Kalki masih terlelap. Saya pun bangun untuk makan buah Pepaya dan ngobrol dengan suami.

Pukul 14.00 WITA saya kembali membaca buku modul Pengantar Statistik Sosial dan mengerjakan latihan soal hingga akhirnya menyelesaikan modul 2.

Pukul 16.15 WITA Saya selesai membaca buku materi kuliah dan ke halaman rumah untuk memandikan anjing peliharaan saya, Golden. Saat mau memandikan Golden, ternyata Kalki sudah bangun dari tidur siang dan ikut membantu memberi shampoo pada si guguk.

Pukul 17.00 WITA memandikan anak-anak.

Pukul 17.30 WITA saya melakukan yoga Surya Namaskar 12 putaran.

Pukul 18.00 WITA saya mandi. Lalu makan buah naga bersama Kavin. Dan anak-anak pun makan soto ayam dan ketipat yang udah dipersiapkan sehari sebelum Nyepi. Lalu saya belajar kembali, kali ini materi Writing 4, Unit 1 tentang Prewriting.

Menjelang malam, welcome to the absolute darkness! Saya selalu suka dengan gelap gulitanya malam Nyepi, karena saya bisa lihat bintang di luar.

Pukul 19.30 WITA Saya ajak anak-anak lihat bintang di halaman. Saya pun berbincang-bincang dengan suami sambil mengagumi indahnya bintang. Saya bergumam, “kira-kira di tata bintang lainnya ada peradaban tidak ya seperti di tata surya kita? Planet kita sedang diserang wabah Corona.”

Suami saya menjawab, “Bintang di luar angkasa itu jumlahnya lebih dari jutaan, ya kemungkinan dari jumlah sekian bisa terdapat peradaban seperti di tata surya kita.”

Saya berkata sambil menerawang ke bintang yang bertaburan di bagian langit selatan, “bagaimana ya keadaan peradaban di luar sana?”

“Kurang lebih ya sama seperti peradaban kita.” Kata suami saya.

“Pengen tau bagaimana tingkat peradabannya, spesiesnya, dan keadaan alam planetnya.” Jawab saya sambil berlalu menyudahi menikmati bintang di angkasa.

Saat melihat bintang, Kalki dan Kavin juga bergumam terpesona dengan indahnya kelap-kelip cahaya di angkasa. Tetapi Kalki dibarengi dengan tingkah polahnya lompat-lompat dan ambil posisi berdiri sambil setengah jungkir-balik di atas rumput halaman.

Pukul 20.00 WITA Saya gosok gigi, anak-anak pun demikian, lalu kami sekeluarga bercengkrama di dalam tenda yang telah dibuatkan suami untuk anak-anak di ruang keluarga. Tendanya terbuat dari pondasi 4 buah kursi dan bangku panjang sebagai tulang atap lalu ditutup oleh sprei. Tenda ini sudah dibuat dari sebelum hari Nyepi untuk wahana bermain anak-anak supaya mereka tidak bosan.

Dari yang awalnya tenda hanya beralaskan matras Kalki dan Kavin, hingga pas hari Nyepi tenda tersebut sudah dilengkapi kasur. Kata suami, semalam sebelumnya Kavin minta tidur di tenda, tapi karena hanya beralaskan matras, badan suami saya jadi sakit semua. Saat suami kesakitan badannya tidur di lantai beralaskan matras, dia minta pindah ke kamar, tetapi Kavin nggak ngasih! Pas suami nanya, “Kavin badannya sakit nggak, tidur disini?”, Kavin menjawab, “Enggak.”

Akhirnya malam penghujung hari Nyepi saya yang diajak Kavin untuk tidur di tenda, sedangkan Kalki dan suami tidur di kamar. Begitulah saya dan keluarga menjalani hari Nyepi dan memaknainya. Saya berusaha memaknai hari Nyepi sebagai hari untuk merefleksikan diri dan berkontemplasi. Saya juga sempat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai apa itu hari Nyepi dan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya mereka lakukan pada hari Nyepi. Tapi ya namanya anak-anak, mereka masih aja suka bermain sambil teriak-teriak heboh dan ketawa cekikikan keras.

Keadaan selama hari raya Nyepi sebagai hari tahun baru Saka Umat Hindu memang dirayakan dengan tenang dan menyepi diri dari kehingar-bingaran atau pesta. Saya maknai tujuannya adalah menjauhkan diri dari keduniawian atau hedonisme sejenak. Tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, tidak boleh bepergian dan tidak boleh mencari hiburan. Keadaan seperti itu adalah kesempatan untuk berhenti dari kesibukan yang sudah terpola bagi manusia masa kini hidup di dunia. Itulah kesempatan untuk menenangkan diri dan merenungkan kehidupan. Menghubungkan diri dengan alam dan Tuhan secara spiritual.

Maka selama Nyepi kali ini, hampir tetap saya berjalan seperti sebelumnya, yaitu tidak ada siaran televisi, tidak ada akses internet, tetapi aliran listrik tetap ada. Suara kendaraan bermotor di luar pun sama sekali tidak ada, tidak ada suara anak-anak bermain di jalan, dan tidak ada tetangga yang menyetel musik keras-keras atau pun memainkan alat musik rindik. Semuanya hening.

Keadaan Nyepi di Bali lebih ketat dari pada Nyepi di Jawa. Saya ingat dulu waktu masih merayakan Nyepi di Jawa, saat saya masih kecil masih bisa nonton TV di rumah dengan mama dan adik saya. Mau keluar rumah pun tidak takut ada pecalang yang akan menegur. Saat masih kecil mama saya selalu menyediakan stok makanan dan cemilan-cemilan untuk anak-anaknya. Tetapi semakin besar semakin diajarkan untuk berpuasa seharian oleh orang tua dan oleh guru agama di sekolah.

Kini saya sudah 8 kali merayakan Nyepi di Bali sejak menikah tinggal di Bali, dan hingga Nyepi kali ini, menyalakan kompor dan lampu masih saya lakukan di rumah untuk keperluan yang penting. Tapi kami tidak membuat masakan apa-apa, hanya menghangatkan masakan yang sudah dipersiapkan dari hari sebelum Nyepi. Karena bagi saya mematikan api bagian dari catur brata penyepian adalah mematikan api yang di dalam diri sendiri, bukan hanya secara simbolis mematikan api kompor dan api penerangan di rumah. Dan yang paling tau mengenai rumah terkecil kita yaitu badan kita tempat jiwa bernaung adalah diri kita sendiri.

Selamat Tahun Baru Saka 1942~

Mengenali Bipolar, Menemukan Renjanaku

Ini adalah hari ke-12 aku bekerja di tempat yang benar-benar aku suka. Dengan bidang yang juga luar biasa aku sukai dan merasa dekat dengan dunia itu.

Sebelumnya aku bekerja di sebuah kantor konsultan interior di Bali. Selama 2,5 hari saja. Loh, kenapa? Kok cepet amat? Itu dianggap probation juga enggak deh kayaknya.

Ya, aku tau. Makanya setelah berhasil bekerja selama 3 hari penuh di pekerjaan yang sekarang, akupun merayakannya dengan memesan makanan favorit untuk dinikmati bersama sang pacar. Ceritanya menghadiahi diri sendiri dan bersyukur atas keberhasilan melewati rekor 2,5 hari bekerja.

Sebelumnya saya juga pernah bekerja di Jakarta. Di kantor konsultan interior-arsitektur juga. Bertahan hanya 1 hari. Lebih parah lagi ya. Hehe.

Mundur lagi ke belakang, saat baru lulus kuliah, aku sempat bekerja di kantor konsultan interior khusus interior spa di hotel-hotel. Kantornya di Bandung. Dengan pemandangan kolam renang yang asri. Lumayanlah, bertahan 4 bulan. Tapi keluarnya juga tidak enak kondisinya.

“Kamu kenapa sih Mi?”

Itu yang banyak ditanyakan orang ke aku. Aku sebetulnya punya jawabannya, namun aku agak malu mengungkapkannya karena jawabannya bisa panjang kali lebar. Dan aku juga tidak mau terkesan menuntut minta dipahami.

Aku adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Aku hidup dengan gangguan bipolar tipe II dan gangguan kepribadian ambang sejak kecil. Gangguan-gangguan itu membuat emosi, semangat, serta energiku naik-turun. Hal-hal yang menurut orang lain tidak penting bisa menjadi pencetus serangan panikku dalam hitungan detik. Stresor-stresor yang biasa dialami oleh orang banyak bisa menjadi pencetus depresi terdalamku bahkan sampai membuatku menyakiti diri sendiri.

Di kantor pertama yang aku masuki tepat setelah aku lulus kuliah, aku merasa tidak nyaman karena aku merasa hasil kerjaku tidak akan terlalu bermanfaat untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Dari kecil aku punya passion untuk menjadi dokter dan ingin secara langsung, literally (cie bahasa Jakselnya keluar :p), menolong nyawa orang.

Menurutku dulu yang namanya menolong orang itu harus benar-benar menolong nyawanya. Nggak bisa dengan cara lain, haha.. Nah balik lagi, di kantorku itu, aku bertugas mendesain interior spa khusus hotel-hotel bintang 5 di seluruh dunia. Dan aku stres sekali karena rasanya kok yang aku lakukan tidak mengubah dunia menjadi lebih baik (padahal ya ngga harus seidealis itu juga sih kalau hidup).

Ditambah tekanan-tekanan lembur tiap hari, masuk jam 9 pagi pulang jam 11 malam hampir tiap hari dengan imbalan yang juga tidak sesuai harapan dan janji HRD-nya. Makin streslah aku dan makin tidak merasa punya renjana di sana. Keluarlah aku dalam kondisi emosi memuncak, serangan panik, dan hampir kejang di kantor.

Oke, selanjutnya, kantor kedua, di Jakarta. Ini adalah kantor konsultan interior-arsitektur yang cukup ternama di Jakarta. Aku sebetulnya semangat sekali saat diterima bekerja di sini. Lalu masuklah aku di hari pertama, kebetulan juga hari pertama setelah tahun baru kalau tidak salah. Karyawannya ada sekitar 200 orang totalnya. Tempat makannya cukup mungil. Setiap siang dapat makan siang, lalu akupun mengekor teman kerja yang lain untuk ikut ambil makan siang.

Waduh. Penuh banget nget, nget. Bejubel. Mau jalan aja susah. Lalu pas duduk, aku didudukin orang dari kiri-kanan. Langsunglah kena serangan panik. Sepanjang siang ke sore aku nahan nangis.

Ditambah pikiran-pikiran idealisku keluar lagi, memperkuat niatku buat langsung resign. Saat sampai rumah aku langsung menangis terus dan besoknya aku langsung mengundurkan diri. Habis itu aku masuk fase depresi hampir 6 bulan. Fase depresi yang kumaksud adalah perasaan ingin bunuh diri tiap hari, merasa diri tidak berharga, merasa hanya membebani orang lain, susah sekali bangun dari tempat tidur, susah sekali mandi (rekor sebulan pernah tidak mandi sama sekali), menyakiti diri sendiri, minum obat dari psikiater banyak-banyak berharap over dosis, dan banyak lagi yang lain yang males aku sebutin satu-satu.

Lanjut, ke kantor konsultan interior di Bali yang tahun lalu menerimaku untuk kerja dengan mereka. Sepertinya sudah kebayang ya kenapa aku hanya bertahan 2,5 hari? Same old, same old. Cerita lama. Idealisme menolong orang, mengubah dunia, bidang yang tidak sesuai renjana, dan kawan-kawannya yang lain.

Namun kali ini gejalanya juga dilengkapi dengan psikosomatis. Aku muntah-muntah dan diare di kantor saking stresnya. Padahal kerjanya juga tidak berat, lho. Malah cenderung aku sukai karena pekerjaannya adalah menulis buku interior (dulu saat kuliah aku beberapa kali menulis buku interior). Tapi ya itu tadi, idealisme, renjana, dkk. Selama 2,5 hari berlalu dan akupun keluar tanpa ba bi bu (tapi tetep pamit kok via email dan whatsapp).

Habis itu lagi-lagi aku masuk fase depresi berbulan-bulan. Da kumaha atuh, kita kan butuh penghasilan buat hidup yah.

Setelah berbulan-bulan lemes dan putus asa, akhirnya cahaya terang datang. Aku ditawari pekerjaan yang sesuai dengan minatku dan di bidang yang aku sukai oleh seseorang yang melihat sepak terjangku selama satu tahun hidup di Bali.

“Wah, pekerjaan apa itu Mi?”, tanya banyak teman dekatku.

Pekerjaan ini sesuai dengan cita-citaku menjadi seorang psikiater. Bergelut di dunia kesehatan jiwa. Dan sesuai juga dengan latar belakang pendidikanku di dunia desain. Dan lagi-lagi sesuai sekali dengan minat dan hobiku dalam berkomunitas. Klop sekali, kan?

Aku bekerja di sebuah pusat rehabilitasi psikososial untuk ODGJ di Bali. Aku menangani desain grafis, website, bantu-bantu di sekretariat, dokumentasi, dan banyak lainnya. Ada satu komunitas kesehatan jiwa juga yang aku urus ini itunya, berhubungan dengan desain, website, event coordinating, dan printilan lainnya. Selain itu aku juga membantu produksi infografis dan website seorang profesional di bidang kesehatan jiwa.

Total sudah 12 hari aku bekerja di pusat rehabilitasi psikososial tersebut. Sudah 2 bulan aku bekerja mengurus komunitas kesehatan jiwa yang aku sebutkan di atas. Dan sudah 5 bulan aku bekerja membuat infografis.

“Bagaimana perasaanmu Dek?” tanya mamaku.

AKU SENANG. SENANG SEKALI. Aku merasa sangat berdaya. Aku senang sekali dengan semua kegiatanku sekarang. Terima kasih banyak untuk pihak-pihak yang memberikan kepercayaan padaku. Terima kasih banyak untuk google, youtube, dan sahabat-sahabatku yang banyak mengajarkanku cara membuat website dan urus SEO-nya, haha. Dan tentunya terima kasih banyak untuk seluruh manusia-manusia favoritku yaitu keluargaku, teman hidupku, sahabat-sahabatku, dan: Tuhan 🙂

Hari Pers Nasional untuk Siapa?

Salah satu tuntutan buruh Bali dalam aksi May Day dengan meminta dimasukkannya biaya upacara. Foto Metro Bali.

Makin banyak tuntutan pada jurnalis ketika pendapatan pas-pasan.

Marty Baron, editor baru di Boston Globe bertemu dengan seorang kardinal. Pertemuan itu merupakan undangan dari sang pemimpin gereja. Salah satu percakapan menarik dari pertemuan ini adalah keduanya berbicang soal kegiatan jurnalistik.

Kardinal mengajak Marty Baron menjalin kerja sama untuk mengembangkan Kota Boston. Namun, sayangnya, permintaan itu bertepuk sebelah tangan.

Marty mengatakan, akan lebih baik jika pers menjalankan fungsinya secara independen. Plot ini merupakan bagian dari film Spotlight.

Tayangan tadi rasanya mewakili persitiwa wajib dari seorang wartawan. Dunia pers banyak berubah sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini pada era milenial.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi pembicara dalam diklat jurnalistik yang diselenggarakan oleh kawan-kawan dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Indonesia (KMHDI) di Mataram, Lombok.

Saya memberikan materi jurnalistik dasar. Isinya membahas seputar membuat judul, membuat lead atau kepala berita dan elemen berita. Sederhana.

Namun, sebelum memberikan materi ini, saya menanyakan pada peserta siapa yang memiliki keinginan menjadi seorang jurnalis. Ternyata dari 40 orang peserta diklat, hanya 17 orang yang memiliki hasrat menjadi kuli tinta.

Lantas, saya bertanya lagi. Apa yang membuat peserta yang masih berstatus mahasiswa ini berminat menjadi jurnalis. Jawabnnya beragam. Ada yang mengatakan tertarik pada dunia kewartawanan. Ada yang penasaran dengan pekerjaan wartawan. Paling banyak karena pekerjaan wartawan dinilai bebas dan bisa berjalan pada rel idealisme mereka.

Alasan terakhir ini juga saya alami ketika baru mencoba-coba menjadi wartawan. Apalagi saat masih kuliah saya kerap nongkrong bareng dengan rekan pers mahasiswa. Kumpul untuk diskusi lebih tepatnya.

Singkat cerita, saya sampaikan kepada para mahasiwa ini bayangan mereka tentang dunia jurnalistik tidak sepenuhnya benar.

Hampir tujuh tahun menjadi seorang wartawan, hal pertama yang harus disadari menjadi pekerja pers adalah buruh. Iya, kami ini buruh.

Tiap tahun pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day. Tiap 1 Mei, jurnalis turun ke jalan bersama buruh pabrik berteriak meminta kenaikan upah.

Walaupun wartawan bisa mewawancarai presiden, menteri, gubernur, bupati hingga pemulung, status buruh ini tidak berubah.

Namun, mungkin masih ada jurnalis yang menganggap pekerjaan ini bisa mengangkat derajatnya karena bisa dekat dengan pejabat.

Saya tekankan pada para mahasiswa ini agar menghindari sikap yang demikian. Karena kelak ketika benar mereka menjadi jurnalis, akan muncul sikap sombong.

Sombong, karena merasa bangga dekat dengan pejabat tapi, isi dompet pas-pasan.

Selain persoalan upah, hal lain yang menjadi tantangan seorang wartawan saat ini adalah harus cepat. Kecepatan diperlukan untuk mengimbangi media sosial.

Pengalaman saya bekerja dengan sistem model ini adalah kelelahan secara fisik dan pikiran. Secara fisik karena harus menatap layar gawai yang kecil, lelah pikiran yang harus mengimbangi kecepatan media sosial.

Politik Redaksi

Saya juga menyampaikan jika ada ruang redaksi dengan kebijakannya. Saya menyebut ini politik redaksi.

Politik redaksi bisa menjadi sangat kejam bagi para wartawan muda, apalagi yang mengusung semangat idealis dan kebebasan.

Saya menceritakan pengalaman saat mulai menjadi wartawan. Ada kebijakan di tempat saya bekerja tidak boleh membuat berita yang menyinggung pemerintah.

Kebijakan ini lantaran, akan ada acara dari kantor tempat saya bekerja dan sepenuhnya dibantu oleh pemerintah daerah ini. Saya cukup syok mengetahui hal ini. Meski akhirnya tidak begitu lama bekerja di tempat tersebut.

Belum lagi ada cerita dari seorang teman wartawan. Ia menyebutkan, harus rajin mengunggah berita yang dihasilkan dari tempatnya bekerja ke media sosial pribadinya.

Menurut kawan saya ini, hal tersebut tidak masuk akal. Ia menilai media sosialnya mutlak adalah miliknya sendiri. Saya juga menilai seperti itu.

Unggahan di media sosial secara masif dilakukan oleh perusahaan media agar memancing orang untuk membuka (clickbait) sehingga menaikkan peringkat di Google sehingga mendapatkan uang lebih banyak. Singkatnya, lebih banyak klik, lebih banyak uang.

Selain cerita dari saya, para peserta juga ada yang mengungkapkan unek-uneknya melihat dunia jurnalistik. Ada yang menarik, lebih tepatnya saya ingat.

Ada yang mengeluh dengan perilaku wartawan yang melakukan tindak pemerasan. Cerita ini saya dapat dari mahasiswi dari Lampung.

Ia menyebutkan, ada segerombolan wartawan atau lebih tepatnya mengaku wartawan merusak jalan desa yang baru diaspal. Lantas kerusakan tersebut mereka foto.

Para pengaku wartawan ini kemudian mendatangi rumah warga atau pengurus desa dan mengancam akan menayangkan foto tersebut jika mereka tidak diberikan uang.

Ini kriminal, kata saya. Saya menyarankan agar warga mendapatkan pengetahuan yang benar tentang pekerjaan wartawan. Ajak organisasi wartawan semisal, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atau Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Saya berpesan kepada peserta diklat jurnalistik ini agar lebih menimbang-nimbang lebih dalam keinginan berkarier sebagai wartawan. Pilihlah tempat bekerja yang bisa memberikan penghasilan memadai dan bisa membuat berkembang secara karya jurnalistik.

Selain itu, pekerjaan wartawan bisa dilakoni dengan baik dan mumpuni, jika Anda memiliki latar belakang ekonomi keluarga yang bagus. Dalam artian bisa menunjang pekerjaan Anda.

Sehingga saat melakoni pekerjaan wartawan, ada tidak akan tergoda oleh bujuk rayu imbalan di luar hak Anda. Simpelnya saya menyebut amplop, atau ajakan untuk kompromi seperti yang dialami oleh Marty Baron.

Soal amplop ini, saya kira aliansi atau perkumpulan pers hingga pemerintah di Indonesia belum memiliki solusinya. Percayalah.

Jadi, untuk siapa sebenarnya peringatan Hari Pers Nasional ketika persoalan menjadi jurnalis mulai dari upah hingga beban kerja yang tidak selesai dibahas, atau itu-itu saja.

Kapan basa-basi ini berakhir? [b]

Korban Kekerasan Anak dan Perempuan di Bali Terus Bertambah

Pelajar mengenal internet sehat di stan Balebengong

Kasus kekerasan pada anak dan perempuan terus bertambah. Siapkah kita menanganinya?

Kawin usia muda membuat sejumlah anak terpaksa putus sekolah. Guru sekolah mengaku menyurati dan ke rumah siswa untuk mencegah drop-out. Ada juga kasus bunuh diri dengan sejumlah latar belakang pada remaja. Ada yang minum pestisida, menceburkan diri ke danau, atau gantung diri. Demikian rangkuman curhat bersama guru dan siswa difasilitasi LBH APIK Bali di sebuah SMP di Songan, Bangli, Maret 2019 lalu.

Luh Putu Nilawati, Direktur LBH APIK Bali mengingatkan hak anak di antaranya untuk hidup, makan, belajar, kesehatan, rumah, tumbuh kembang, dan lainnya. Di luar rumah, anak berhak diberikan perlindungan dari guru, pemerintah, dan masyarakat.

Ada juga hak partisipasi, bicara, mengungkapkan pendapat, melalui kelompok muda di banjar seperti STT, Pramuka, dan lainnya. “Tidak boleh ada yang pegang Mulut, pipi, payudara, perut, bawah celana selain ibu dan dokter kalau sakit,” ingatnya untuk para siswa.

Jika terjadi pelecehan seksual, Nilawati menyarankan melapor ke orang tua atau guru. “Tidak dipenjara, dihukum. Tapi diobati. Kalau melakukan hubungan seksual pada anak, laki-laki dan perempuan bisa jadi pelaku,” sebutnya.

Diskusi yang sama namun lebih santai berlanjut di sebuah balai banjar kecil di Songan. Belasan anak dan remaja juga menyuarakan soal menikah muda dan masalah bunuh diri. “Ada yang bunuh diri karena diancam fotonya (telanjang) disebar,” cerita seorang anak perempuan.

Diskusi-diskusi dan mendengarkan suara anak-anak kini jadi keniscayaan. Tantangan perlindungan anak dan perempuan makin kompleks, sementara penanganannya masih kedodoran. Karena kurangnya sarana, sumber daya manusia, dan mekanisme kerjasama.

Catatan akhir tahun

Perempuan diusir setelah pisah padahal punya putra bagaimana haknya terkait anak? Banyak prajuru adat tidak tahu hukum perlindungan anak dan perempuan, sehingga dilatih sebagai paralegal, pendamping hukum oleh warga.

Demikian pemantik dari Luh Putu Anggreni, pengurus Lembaga Bantuan Hukum Aliansi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Bali pada diskusi Laporan Tahunan LBH APIK, 28 Januari 2020 di Kantor PHDI Bali, Denpasar.

Paralegal adalah seorang yang bukan advokat, yang memiliki pengetahuan di bidang hukum, baik hukum materiil maupun hukum acara dengan pengawasan atau Organisasi Bantuan Hukum. Paralegal berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Ia bisa bekerja sendiri di komunitas atau bekerja untuk Organisasi Bantuan Hukum.

LBH APIK Bali melatih paralegal komunitas 24 orang yang terlatih di Denpasar, Badung, Gianyar, Bangli, dan Buleleng. Ada juga paralegal adat 26 orang, survivor orang dengan HIV/AIDS (ODHA) 10 orang, paralegal penyintas korban kekerasan 10 orang, dan lansia 20 orang.

Kasus kekerasan seksual terus muncul termasuk dilakukan keluarga. Ia mencontohkan seorang anak perempuan yang selalu marah jika lihat laki-laki usai peristiwa kekerasan seksual dari bapak tirinya. “Kami ajak ke UGD karena harus visum karena robekan dan trauma. Tiap ada dokter laki-laki datang langsung teriak. Seorang anak SD kelas 6 harus angkat kaki untuk periksa, saya saja periksa KB angkat kaki susah,” kisahnya.

Ibu kandung korban menurutnya cenderung melindungi pelaku, bapak tiri. “Dia peduli sama ibunya, kalau berani bicara, ibunya diancam dihabisi. Setelah 2 tahun tidak tahan dan cerita ke tantenya,” lanjut Anggreni. Kasus lain yang mirip, seorang anak SMA baru mau terbuka dengan kasus kekerasannya setelah sakit maag akut. Ibunya takut melaporkan pelaku, salah satu yang alasannya risau jika jadi janda lagi kalau dilaporkan ke polisi.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) pun gagal disahkan 2019. Ia berharap semoga segera disahkan, terlebih saat ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Bali, IGA Bintang Darmavati yang akrab dikenal dengan Bintang Puspayoga.

Sejumlah pihak mendorong agar RUU PKS disahkan jadi UU segera karena ada kewajiban rehab sosial dan reintegrasi. Karena peristiwa kekerasan bisa berpengaruh pada korban setelah dewasa.

Kekerasan seksual terkait inses, dilakukan paman atau bapak tiri juga menyulitkan penanganan karena sulit masuk ke rumah yang pelakunya keluarga sendiri. “Tidak mudah, shelter belum ada,” ujarnya tentang rumah aman oleh pemerintah di Bali. Agar korban aman, pihaknya mina polisi agar segera menangkap pelaku. Tantangan lainnya, meyakinkan ibu kandung agar tidak membela suaminya. Di Bali, baru ada RSUP Sanglah yang punya tim cepat penanganan korban kekerasan seksual yang meliputi obgyn, forensik, dan psikiater siap menerima korban.

“Harusnya rumah sakit lain juga punya agar satu pintu. Saat ini perlu ada MoU menggratiskan biaya korban kekerasan seksual, jika tidak punya JKN,” harapnya.

LBH APIK Bali juga memiliki program mendampingi anak-anak ODHA, dengan tim penjangkau lapangan 3 orang yang bergerak di Denpasar, Gianyar, dan Badung. Perempuan Bali dengan HIV masih ada yang mendapat stigma di masyarakat.

“Kakek jual tanah lalu ke kafe-kafe, dadongnya dikasi oleh-oleh HIV. Menularkan ke istrinya. Anaknya mendiskriminasi tidak boleh satu piring, dekat anak dan cucu,” ceritanya salah satu kasus dari lapangan.

Ada juga Kepala Sekolah yang ingin memecat anak yang tertular HIV dari orang tuanya ketika dibawakan obat antiretroviral (ARV). Ini adalah pengobatan yang diwajibkan untuk menekan pertumbuhan virus dalam tubuh, ODHA bisa beraktivitas dan sehat jika rutin berobat. Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) dan Dinas Kesehatan pun diminta turun untuk selamatkan anak ini.

Untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), saat ini ada antrean untuk minta perceraian sah sekitar 25 orang setelah cerai secara adat. “Anak-anak tak punya akte, mantan suaminya sudah nikah lagi. Sementara mantan istri tidak punya uang untuk bayar pengadilan pengesahan perceraian,” kata Anggreni yang berharap penambahan jatah subsidi dana untuk kasus seperti ini.

Sejumlah program tersebut didanai sejumlah lembaga donor seperti OXFAM dan Robert Lemelson Foundation. Program lainnya bersama Undef adalah program untuk lanjut usia. Menurutnya banyak lansia jadi korban anak menantu. Bersama Medan dan Jogja, jumlah lansia di Bali dinilai tinggi. Apalagi lansia tidak punya anak atau semua anak perempuan sudah nikah. Telantar, tak punya kartu lansia atau miskin. Tidak masuk KK karena anak sudah punya KK sendiri. Bali sudah punya Perda perlindungan Lansia, salah satunya rencananya, ada wadah berbagi antar lansia.

Data kasus LBH APIK Bali

Pada 2018, jumlah total 248 kasus yang ditangani. Kasus terbanyak adalah KDRT 159 kasus. Disusul kasus diskriminasi, kekerasan seksual persetubuhan, dan anak berhadapan dengan hukum (ABH). Terbanyak di Denpasar 154 kasus, lalu Gianyar, Buleleng, dan Badung.

Kemudian pada 2019 ada 408 kasus yang ditangani. Jumlah kasus KDRT meningkat jadi 236 kasus, disusul kekerasan seksual, dan ABH. Paling banyak melibatkan dewasa, anak-anak, lalu lansia.

Sementara data kompilasi BP3A Provinsi Bali pada 2018 tercatat sebanyak 571 kasus. Terbanyak di Denpasar 126, Badung 105, Gianyar 52, Klungkung 12, Karangasem 54, Bangli 21, Buleleng 37, Jembrana 27, Tabanan 39, data Polda Bali 28, dan data P2TP2A 70. Melibatkan laki-laki 154 orang, dan perempuan 417 orang.

Merujuk perbandingan data LBH APIK, ada kenaikan signifikan dua tahun terkahir. Dari segi latar belakang, kebanyakan korban belum bekerja sehingga mengakses bantuan miskin pada LBH APIK. “Ada yang bisa bayar tapi kami lebih murah dibanding kantor pengacara,” terang Anggreni.

Dari kasus KDRT, lebih banyak korban pilih bercerai dibanding menangani KDRT-nya jadi ada kemungkinan pelaku bisa melakukannya ke orang lain. Banyak kasus seperti ini penyelesaiannya ditelantarkan, atau melakukan cerai adat beberapa tahun tanpa mengurusnya ke pengadilan. Sejumlah dampak ikutannya adalah tak ada keadilan harta gono gini, anak, apalagi surat-surat administrasi yang dibutuhkan, misal ketika pindah ke rumah bajang. LBH APIK menyebut ada keterbatasan dana APBN yang bisa diakses, sehingga sedikit yang bisa dibantu untuk proses hukum formal.

Penanganannya dimulai dengan mediasi, jika sudah tak ada solusi baru pendampingan perceraian. Mediasi diutamakan, misalnya suami diundang ke P2TP2A untuk komunikasi soal hak asuh anak, dan lainnya.

Selain penanganan, rantai berikutnya adalah keamanan korban termasuk perlindungan identitas anak di media. Kasus terakhir yang dikeluhkan adalah publikasi 14 anak pelaku pembegalan yang diperlihatkan wajahnya, alamat rumah, dan sekolahnya dengan lengkap. Apalagi tersebar luas di media sosial. “Ada UU Sistem Peradilan Anak yang melarang, ternyata di-blowup,” keluh Anggreni.

Salah seorang psikolog di layanan P2TP2A Denpasar mengingatkan KDRT dimulai dari pacaran, dan ini bisa dicegah. Para pelaku sebagian masih muda, perli konseling pra nikah, namun tak banyak faskes yang menyediakan layanan konseling.

Dalam diskusi yang dihadiri sejumlah pihak terkait dalam penanganan kasus melibatkan anak dan perempuan ini dibahas pola sinergi penangannya. Siapa berbuat apa, melakukan apa? Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Bali meminta ada rasa memiliki selain regulasi yang ada. Pemerintah dan lembaga masyarakat berbagi peran.

LBH APIK memiliki 6 lawyer perempuan dan 3 laki-laki. Bagian dari Forum Pengada Layanan (FPL) 113 LSM di Indonesia yang tercatat di Komnas Perempuan.

Perda Bantuan Hukum pun sudah disahkan DPRD Bali, dan diharapkan bisa mengeluarkan anggaran agar tak banyak antre untuk yang perlu dana bantuan hukum perdata. Kecuali kasus pidana gratis.

Sita Van Bamellen, Dewan Pengawas LBH APIK Bali mengapresiasi program 3 tahun terakhir ini termasuk untuk lansia. Menurutnya banyak kasus sangat menyedihkan. Ia berharap tak hanya jumlah kasus tapi sejauh mana memberikan pendampingan efektif. Misalnya kasus terkait ODHA banyak yang berdimensi hukum, tapi tak mau melanjutkan ke proses hukum. Apakah cukup konsultasi saja?

Dokter Sri Wahyuni, psikiater tim LBH APIK menambahkan dalam kasus ODHA, banyak yang masih depresi karena belum terbuka dengan statusnya, terutama yang beragama Hindu. Sementara non Hindu kebanyakan di Bali tidak tinggal bersama keluarga besar, atau sudah cerai.

Kasus yang ditangani selama 2018-2019 sebanyak 40 orang tapi tak terus menerus dalam pendampingan hanya monitor mium obat. Pengasuhan anak sendirian oleh ibunya juga perlu dukungan karena anak yang terapi ARV seperti mabuk laut di awal-awal konsumsi. Perlu dukungan dan bantu pengasuhan agar tak putus obat. Untuk mencegah jadi AIDS, karena akan mudah terinfeksi paru atau toksoplasma. Ada juga seorang ibu dengan HIV dan terinfeksi TB mencari penghasilan membuat keripik, ini bisa berdampak buruk dari asap penggorengan.

“Di sekolah juga tak dibuka status HIV-nya, karena tak semua guru punya empati dan pengertian yang sama. Jika tersebar, anaknya bisa depresi. Padahal bisa hidup sehat dengan ARV dan pengetahuan kespro,” papar Sri. Dalam kasus ini, hal paling memberatkan adalah ketidaktahuan dan diskriminasi.

Luh Gede Yastini, anggota Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak (KPPAD) Bali yang fokus pada kasus ABH sebagai korban atau pelaku mengingatkan, merujuk pasal 105 UU SPPA setelah 5 tahun sarana harus ada seperti shelter. Pemulihan psikologi ini untuk melihat apakah ada persoalan dengan lingkungan atau peer group? Pemulihan psikologi dinilai penting untuk tak mengulang tindakan pidana.

Ia juga menyuarakan banyaknya kasus pembuangan bayi, menurutnya ada 9 bayi dibunuh dulu sebelum dibuang merujuk data RS Sanglah pada 2017-2019 dari total 42 kasus pembuangan bayi. “Perlu mendorong pemahaman reproduksi, layanan konseling kehamilan di luar nikah, dan lainnya,” harapnya.

Bali sebagai daerah yang menggenjot sektor pariwisata juga menghadapi kasus anak-anak terkait industri pariwisata. Ia berharap standar perlindungan anak di sektor pariwisata misalnya PHRI mencatat nama anak yang masuk ke hotel dalam manifes. “Jika ada musibah seperti bencana alam, anak-anak tercatat,” ujar Yastini.

Yohana dari Yayasan Gerasa, berbagi pengalamannya sebagai pendamping hukum. Saat ini ia mendampingi korban anak eksploitasi ekonomi yang terlibat pembegalan. Dari observasinya, pelaku anak ini mencuri untuk ibu angkat. Mereka perlu identitas anak seperti KIA. Ia berharap para pihak perlu koordinasi rutin untuk tindak lanjut sejumlah kasus.

‘Pisang’ Terakhir Made Liu

Bersua Made Liu di kebun pisang terakhirnya.

Made Liu, wanita paruh baya pemilik ratusan pohon pisang di Dusun Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, kini hanya menghabiskan waktunya di rumah yang bisa jadi harus Ia tinggalkan. Tidak ada lagi aktifitas mencari daun pisang ke kebun, tidak ada juga buah pisang yang bisa dipanen karena induknya sudah habis dimakan alat berat.

Kasus sengketa tanah antara PT Ubud Resort dan puluhan Kepala Keluarga di Dusun Selasih seakan menjadi pukulan berat bagi Made dan para petani lainnya. Sebab kebun pisang yang selama ini telah menghidupinya hanya menyisakan tanah kosong, setelah susah payah ditanam kini terpaksa mati sia-sia.

Sore itu, Made menuturkan bagaimana saat alat berat masuk ke dalam lahan pisangnya, tidak ada perlawanan yang bisa Ia lakukan, tidak ada pilihan selain diam dan menonton para pekerja itu melakukan tugasnya. “Setelah pohon pisang ditebang, pohon yang masih bagus saya kumpulkan kembali, meski belum tahu akan ditanam dimana lagi,” ucapnya sambil menunjuk pohon pisang yang sempat terkumpul.

Sembari bercerita, Made menawarkan buah pisang yang sudah sempat dijadikan sebagai banten (sesajen), ditempatkan dalam anyaman sokasi. Pisang ini, katanya, merupakan jenis pisang raja yang ukuran buahnya besar serta rasanya manis. Namun perih yang harus Made terima karena pisang ini merupakan buah pisang terakhir yang bisa Ia panen dari kebun.

Made mengungkapkan saat pembongkaran pohon pisang, ada satu pohon yang berbuah dan sudah menguning. “Buah ini yang masih disisakan oleh alat berat itu,” tuturnya dengan tatapan kosong, seakan mengingat momen yang tidak akan pernah Ia lupakan.

Sebelum peristiwa sengketa tanah ini terjadi, biasanya setiap dua hari sekali Made akan menjual daun pisang (don biu batu) yang sudah dipanen sejak pagi hari. Hasil penjualan yang bisa Made peroleh sebesar Rp. 30.000,00 per ikat. Setiap berangkat Made bisa menjual 60 ikat sampai 70 ikat daun pisang. Daun pisang ini adalah jenis pisang batu yang memiliki daun lebar dan cenderung lebih kuat dibandingkan jenis pisang lainya, sehingga sangat digemari oleh masyarakat selaku konsumen.

Khusus di Pulau Bali, daun pisang banyak dimanfaatkan untuk membuat banten dan sebagai pembungkus nasi, sehingga setiap harinya kebutuhan akan daun pisang akan terus meningkat. Sisi lain, petani pisang di Dusun Selasih masih harus berjuang untuk tetap mempertahankan tanah yang sudah ditempatinya selama ini.

Meski kecil harapan, namun dalam setiap doa yang dipanjatkan ada harapan agar mereka bisa kembali menjadi petani pisang di Dusun Selasih.