Tag Archives: Sosial

Aliran Bah Tukad Batuniti Masuk Pemukiman Warga

Warga menunjukkan rembesan air bah. Foto Made Selamat.

Setelah diperbaiki, tanggulnya malah bocor. Kok bisa?

Tanggul Daerah Aliran Sungai Tukad Batuniti yang dinormalisasi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Karangasem, kini mengalami kebocoran. Air bah merembes masuk wilayah ke pemukiman warga Selasa (15/1/2019).

Hal itu dibenarkan oleh Bhabinkamtibmas Tulambem Bripka I Gede Widiana bersama Babinsa Serda I Nyoman Suparwata saat memeriksa langsung ke lokasi.

Sebelumnya petugas mendapat info dari Kepala Wilayah (Kawil) Muntig, katanya salah satu Daerah Aliran Sungai Tukad Batuniti bocor. Air bahnya merembes masuk ke wilayah pemukiman warga. Setelah dicek ke lokasi memang benar terjadi. Airnya sampai masuk ke wilayah persawahan warga di sana.

“Meski tidak terlalu parah, warga nampak cemas melihat keadaan tersebut,” kata Gede Widiana.

Kawil Banjar Dinas Muntig I Made Suparta membenarkan terjadinya rembesan air bah. Rembesan air bah ini, sudah tiga kali terjadi. Setiap kali air bah melewati aliran Sungai Batuniti saat itu juga rembesan air bah masuk kepersawahan warga.

“Ada yang sampai menggenangi halaman rumah warga. Rembesannya terus mengalir. Kalau sampai tidak ditangani warga kami bisa jadi korban,” ucapnya.

Suparta mengaku heran karena kebocoran terjadi justru setelah tanggulnya dinormalisasi. “Sebelum dinormalisasi, hal ini tidak terjadi. Warga kami jadi cemas dan waswas,” sambungnya.

Saat ini warga yang tinggal di daerah tersebut sekitar 10 kepala keluarga. Pemukiman warga berada di dataran rendah. Apabila sampai jebol, tidak dipungkiri warga akan menjadi korban. Karena saat ini sudah memasuki musim hujan. [b]

The post Aliran Bah Tukad Batuniti Masuk Pemukiman Warga appeared first on BaleBengong.

Punya Masalah Pinjaman Daring? Lapor Saja ke LBH Bali


Makin hari, kasus terkait pinjaman daring makin banyak.

Di era yang semakin modern kini, kehidupan manusia semakin berkembang seiring dengan berkembangnya pula ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut berpengaruh pada perilaku manusia dalam mengakses informasi dan layanan elektronik.

Salah satunya mengakibatkan adanya tuntutan di masyarakat untuk gaya hidup serba cepat. Maka, muncullah teknologi keuangan atau finance technology (fintech) peminjaman dalam jaringan (daring). Pinjaman daring ini memberikan kemudahan untuk masyarakat dalam mengakses kebutuhan hidupnya dengan lebih cepat dan sederhana.

Namun, segala hal baik tentu tetap tidak dapat terlepas dari sisi negatif. Seperti halnya dalam peminjaman daring. Terlepas dari berbagai manfaat yang diberikan dalam peminjaman daring, kini di masyarakat muncul berbagai permasalahan terkait dengan peminjaman online.

Beberapa masalah yang muncul di antaranya adalah tingginya bunga pinjaman dan waktu pengembalian pinjaman yang terlalu singkat.

Adapun pengaturan mengenai peminjaman daring diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial.

Meskipun demikian, peraturan-peraturan mengenai penjualan daring yang telah ada belum dapat sepenuhnya memberikan perlindungan hukum khususnya bagi peminjam.

Melihat adanya berbagai permasalahan terkait peminjaman online dan untuk mengantisipasi adanya pelanggaran yang dilakukan kepada peminjam, maka YLBHI LBH Bali membuka POSKO PENGADUAN APLIKASI PINJAMAN ONLINE.

Jika ada peminjam pinjaman online yang mengalami permasalahan dalam peminjaman yang dilakukan, silakan menghubungi narahubung melalui WhatsApp/telepon di nomor 085215954245 (Nabila) atau langsung datang ke POSKO PENGADUAN APLIKASI PINJAMAN ONLINE LBH Bali di Jl. Plawa No. 57 Denpasar, Telp. (0361) 223010, email: lbhbali@indo.net.id, website: www.lbhbali.or.id.

Posko pengaduan buka pada Senin – Kamis, Pukul 10.00 – 15.00 WITA. [b]

The post Punya Masalah Pinjaman Daring? Lapor Saja ke LBH Bali appeared first on BaleBengong.

Setelah Pesta Kembang Api Usai

Ilustrasi foto tahun baru di Bali. Foto Antara.

Pesta kembang api di Candi Dasa baru saja usai.

Langit gelap di atas desa tepi pantai salah satu kawasan tetirah di Bali timur itu masih sesekali berpendar oleh kembang api. Terang menyilaukan. Gemerlap. Lalu kembali gelap.

Malam itu warga di sana tak hak hanya menikmati pesta tahun baru dengan menyalakan petasan dan kembang api, tetapi juga hiburan yang nyaris selalu ada di Bali apapun dan di mana pun acaranya: bola adil. Para penaruh mengadu nasib dengan memasang dari ribuan hingga puluhan ribu di kotak-kotak penentu keberuntungan atau sebaliknya, kebuntungan mereka.

Kami pulang di antara suara ledakan yang sesekali masih terdengar. Meninggalkan keriuhan pantai Candi Dasa oleh ribuan orang, dan sebagian turis asing, yang menikmati kemeriahan setahun sekali.

Kami menembus dingin suhu dini hari setelah perayaan tahun baru. Di atas sepeda motor, bersalip-salipan dengan pasangan yang melaju dan berpelukan tengah malam, saya bertanya kepada Ketut, adik sepupu yang tinggal di kampung.

“Terus ngapain setelah ini, Tut? Setelah pesta tahun baru. Setelah kembang api habis dibakar. Setelah tahun berganti angka.”

Ketut yang tahun ini baru akan lulus SD itu menjawab dengan kalimat sederhana, tetapi mengena. “Biasa gen. Tahun baru kan hanya angkanya yang berganti. Setelah ini ya kembali seperti biasa, sekolah sambil bantu meme ngubuh siap ajak sampi..” jawabnya campur dalam bahasa Indonesia dan Bali.

Sepeda motor kami terus melaju. Menyusuri jalan utama Karangasem – Denpasar lalu berbelok masuk jalan kampung yang lebih kecil dan sepi. Kami tenggelam di antara rimbun pohon-pohon kelapa. Beristirahat di rumah tua kami di antara riuhnya pesta tahun baru yang baru saja berlalu.

Sambil telentang sebelum memejamkan mata untuk tidur pertama kali di 2019, saya memikirkan jawaban Ketut. Anak kecil seringkali memberikan kedalaman dalam kesederhanaan.

Tahun baru memang sebuah ilusi yang terjadi berulang kali. Tiap kali angka terakhir tahun berganti, saat itu pula dunia merayakannya dengan gegap gempita. Adakah perayaan tahunan yang dirayakan dengan begitu meriah secara bersamaan oleh umat manusia selain tahun baru?

Ketika tahun berganti, saat itu pula setiap orang menyampaikan doa yang nyaris selalu sama dari masa ke masa. “Selamat tahun baru. Semoga tahun ini membawa lebih banyak kesejahteraan dan kesehatan..” Harapan dan doa sama yang terus diulang berkali-kali.

Ucapan selamat salin tempel (copy paste) ini kembar identik dengan ucapan-ucapan selamat hari raya agama apapun. Lalu dia disebar ke berbagai saluran pesan instan semacam WhatsApp atau media sosial Facebook. Saking seringnya, ucapan dan doa semacam ini pun makin terasa sekadar basa-basi.

Toh, meskipun sama dan terus diulang, doa serupa tetap saja kita sampaikan kepada orang lain maupun dirapalkan untuk diri sendiri. Bukankah doa memang tidak pernah basi berapa kali pun kita mengucapkannya?

Namun, doa pada saat tahun baru sangat berbeda dengan doa ala kaum agamawan. Jika doa-doa dalam ritual agama dilakukan secara lirih dalam hening, jika perlu tidak boleh ada suara-suara lain selain para pengucapnya, doa pada saat tahun baru justru dirayakan dalam gegap gempita. Mungkin dikirimkan sambil meniup terompet. Atau diteruskan ketika tangan lain menyalakan kembang api. Atau mungkin pengirimnya sendiri tak sadar apa yang dia baca dan teruskan lewat gawainya.

Toh, meskipun basa-basi, ucapan selamat dan doa tahun baru tetap perlu disampaikan. Begitu pula dengan perayaan tahun baru. Betapapun khayalinya pergantian tahun, kita tetap memerlukannya sebagai pelarian ataupun pengingat.

Sebagai pelarian, tahun baru selalu memberikan harapan. Seolah-olah begitu berganti tahun, kita seolah langsung berubah begitu saja sebagaimana angka terakhir pada tahun, dari 8 menjadi 9 pada tahun ini.

Sebagai pengingat, tahun baru selalu menjadi momentum untuk refleksi. Melihat kembali setahun yang sudah berlalu sembari membuat sekian resolusi. Beberapa orang dengan satire menuliskan resolusinya: menyelesaikan resolusi tahun lalu yang belum selesai. Guyon yang mengingatkan bahwa memang tak ada yang benar-benar baru pada saat tahun baru. Hanya angka yang berganti, seperti omongan Ketut.

Setelah berlalu sehari dua hari, orang akan kembali sadar bahwa pergantian tahun tidak berarti langsung mengubah nasib mereka layaknya para pemain bola adil di Candi Dasa. [b]

Catatan: Esai ini juga dimuat di Tribune Bali Minggu, 6 Januari 2018.

The post Setelah Pesta Kembang Api Usai appeared first on BaleBengong.

PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka

Deburan ombak mengisi keheningan malam di Celukan Bawang.

Satu per satu sampan dengan nyala lampu menepi. Mereka disambut beberapa rekannya yang kemudian membantu mendorong sampan hingga sampai ke atas pasir.

“Zonk… malam ini zonk.” Kalimat itu keluar dari nelayan yang selepas magrib telah mengisi pantai di Bali bagian utara itu.

Kalimat kekecewaan akibat tidak ada ikan bisa dijala. Tak ada rezeki untuk dibawa pulang setelah seharian tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat.

Malam semakin larut. Cahaya benderang di pantai pun perlahan padam. Menyisakan benderang pembangkit listrik yang masih sibuk memindahkan batubara dari kapal tongkang ke dalamnya.

Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang terus memproduksi pundi-pundi rupiah, nelayan malam itu harus kembali pulang tanpa ikan yang bisa dijual.

Nelayan-nelayan ini seolah sedang terjepit di antara cuaca ekstrem yang membatasi ruang gerak mereka melaut dan ikan-ikan yang seolah enggan mampir ke pinggir semenjak keberadaan PLTU.

Sebuah tanda tiba-tiba muncul dari dua buah sampan yang beriringan ke timur. Keduanya menjauhi PLTU dan pantai tempat nelayan Celukan Bawang biasa menambatkan perahu. Tanda itu membuat sekelompok nelayan lain yang sedari tadi menunggu berlarian menuju sampan yang bergerak perlahan semakin ke timur. Mencari posisi strategis untuk memojokkan kerumunan ikan. Lalu mereka menariknya.

Aekitar sepuluh laki-laki masuk ke dalam air. Menerobos ombak yang malam itu cukup tinggi. Mereka mengerahkan tenaganya untuk menarik jala.

Jala terus ditarik di tengah gulungan ombak. Sampan yang sebelumnya menebar jalan perlahan menepi. Mematikan lampu dan ditarik ke pantai. Sementara sampan lain masih terang dengan cahaya lampu dari mesin diselnya. Berusaha menjaga keseimbangan agar tetap bisa mengarahkan ikan tidak keluar dari jala yang sudah ditarik.

Jala semakin menepi dan dibawa ke pantai. Sebuah blek (ember cat 16 kg) datang menghampiri. Ember itu menjadi alat ukur berapa jumlah ikan yang bisa mereka tangkap malam itu.

Tak ada yang tahu seberapa banyak dan apa isi jala. Ikan-ikan kecil yang berkilau terkena cahaya lampu di permukaan bisa jadi tidak sebanyak ketika mereka berenang bergerombol mendatangi dan mengikuti sumber cahaya. Susahnya jala ditarik bisa jadi akibat arus gelombang. Bukan karena penuh oleh ikan yang berhasil dijala.

Dengan harap-harap cemas sekelompok nelayan tersebut membuka jala. Gemerlap ikan terlihat memantulkan cahaya senter salah seorang nelayan. Tampak selah polo, cotek saling berhimpitan di antara lele pantai lebih mendominasi karena ukuran mereka yang besar.

“Ikan jelek semua..” Salah seorang nelayan yang telah basah kuyup oleh air laut berteriak. Kecewa.

Kekecewaan itu timbul setelah melihat jumlah ikan masuk ke dalam jala tidak seberapa. Nantinya ikan tersebut harus dibagi ke semua yang ikut menangkap. Kekecewaan yang timbul karena sedari pagi mereka belum berani melaut akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Ikan-ikan dari jala dipindah kedalam blek. Tidak penuh. Ikan yang oleh nelayan disebut lele pantai (lele laut) disingkirkan. “Hati-hati. Sengatannya bisa bikin pingsan,” kata salah seoarang nelayan mengingatkan rekannya.

Lele pantai nantinya dibuang. Selain tidak laku dijual juga berbahaya. Bisa menyengat pengunjung yang melewati senja dengan mandi di pantai Celukan Bawang.

Hanya selah polo dan cotek yang dibiarkan dalam blek. Salah seorang pemuda yang ikut menarik jala mencoba mengaduk-aduk blek. Mendapati beberapa ekor cumi dalam timbunan ikan. Lumayan mengobati rasa kecewa dan berhasil membuatnya sedikit tersenyum.

“Udah. Bagi aja.” Ivan, nelayan yang tadi menebar jala berkata.

“Tidak. Dijual saja untuk beli rokok,” rekannya mengusulkan.

“Bagikan saja,” Ivan menjawab usulan rekannya.

Jumlah tangkapan yang hanya satu blek serta jenis ikan yang bercampur membuat harganya jatuh dan tidak seberapa. Sementara jumlah anggota yang ngoncor cukup banyak. Jika dijual, uang yang dibagi pun tidak akan seberapa. Jadi menurut Ivan lebih baik dibagi ikan saja.

“Ini tidak ada hasil namanya. Kalau orang sini bilangnya aebean, artinya hanya cukup untuk mebe (lauk),” rekan Ivan yang malam itu ikut ngoncor menjawab ketika disinggung terkait tangkapan mereka malam itu.

“Dahulu sebelum ada ini (PLTU) bisa mencari ikan sampai ke sana (area PLTU).” Ivan menceritakan pengalamannya, asap rokok keluar dari bibirnya. Tatapannya jauh ke arah gemerlap PLTU yang kini berdiri, memaksa menjadi tetangganya.

Lelaki yang sejak kecil telah menggantungkan hidup dari hasil laut ini sangat merasakan dampak keberadaan PLTU. Ivan mengatakan kini dia dan rekan-rekan nelayannya harus berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Kadang-kadang ada ikan mau ke pinggir, tetapi itu sangat jarang terjadi. Tidak sebanyak dahulu. Hanya sewaktu-waktu ada ikan yang mau kepinggir.

“Tidak seperti dulu, jika dulu sekalinya ikan ke pinggir bisa sampai harus dikeringkan,” lanjut Ivan.

Ikan-ikan kecil seperti selah polo, selah gerang, cotek dan bandrangan memang akrab dengan nelayan Celukan Bawang. Ikan-ikan yang ditangkap dengan cara ngoncor begitu melimpah. Bahkan para nelayan pernah merasakan hasil tangkapan hingga memenuhi tiga mobil pikap pengangkut ikan.

Ivan pernah harus mengeringkan ikan kecil hasil tangkapannya karena melebihi kebutuhan pasar.

Namun, sayangnya, jangankan kembali ke masa-masa ketika hasil tangkapan begitu melimpah hingga sampai harus dikeringkan, bisa mendapat beberapa blek ikan selah polo akan sangat berarti bagi nelayan Celukan Bawang. Harga ikan selah polo yang bisa mencapai Rp 700.000 per blek tentu sangat berarti bagi para nelayan. Terutama ketika mereka tidak bisa melaut lebih jauh akibat cuaca tidak bersahabat.

Sayang melimpahnya hasil laut bagi warga Celukan Bawang kini tinggal nostalgia romantis. Ikan-ikan kecil yang biasanya bisa didapatkan dengan mudah seolah melintas pun enggan.

Ivan dan rekan-rekan satu kelompoknya melangkah menyusuri pantai yang gelap. Membawa satu blek campuran ikan selah polo dan ikan cotek yang berhasil dijala. Kelompok mereka satu-satunya kelompok yang cukup sabar dan beruntung menemukan kerumunan ikan kecil. Nelayan lain telah pergi meninggalkan pantai Celukan Bawang. Pulang dengan kenyataan tak ada ikan bisa dioncor dan harapan semoga cuaca besok memungkinkan untuk melaut lebih jauh.


Matahari bersinar cukup terik walau hari belum berada di tengah. Angin bertiup kencang. Perahu-perahu tertambat dipantai. Hanya beberapa perahu tampak kecil di lautan. Kelabu muram.

Baidi sedang duduk di teras rumah. Dua ekor burung di sangkar masing-masing menggantung di atas teras.

“Cuaca masih ekstrem. Belum berani untuk melaut jauh ke tengah,” kata Baidi ketika ditanya apakah dia melaut dini hari tadi. “Hanya di pinggir saja mencari tongkol. Itu pun hanya dapat beberapa ekor,” lanjut ketua kelompok nelayan Bakti Kosgoro itu.

Lebih lanjut dia menceritakan. Ketika cuaca buruk seperti saat ini, nelayan tidak berani melaut terlalu jauh ke tengah. Kalaupun melaut paling hanya mencari ikan tongkol di pinggir. Keselamatan menjadi alasan utama nelayan. Gelombang dan angin kencang bisa saja menghantam mereka ketika memaksakan melaut lebih dalam.

Pada situasi seperti ini selain mencari tongkol yang juga tidak seberapa jumlahnya, ngoncor menjadi pilihan. Cara ini secara turun temurun dilakukan nelayan untuk bisa tetap mendapatkan ikan-ikan kecil yang datang ke pinggir perairan Celukan Bawang.

Ikan-ikan seperti selah polo, selah gerang, ikan cotek dan bandrangan banyak muncul di wilayah perairan Celukan Bawang. Mereka akan muncul bergiliran. Banyak dan tidak pernah kosong,
“Sekarang ikan-ikan itu naiknya di Sanggalangit. Kalau dulu-dulu ikan-ikan itu biasa naik di sini.” Baidi menceritakan susahnya menangkap ikan-ikan kecil sasaran nelayan ngoncor.

Ngoncor merupakan cara menangkap ikan dengan sistem berkelompok. Satu kelompok sekitar sepuluh orang. Satu-dua sampan akan berangkat menggunkan penerangan dari mesin disel. Mereka akan melihat apakah ada ikan kecil mengerubungi penerangan yang digantung di ujung sampan. Sampan akan berputar sepanjang pesisir. Mencari di mana gerombolan ikan berada. Berlayar perlahan berputar-putar dengan mata terus memperhatikan permukaan air laut yang diterangi lampu.

“Dulu yang ngoncor pakai petromaks. Namun, sejak sekitar tahun 2013 satu dua kapal mencoba pakai lampu dengan disel karena minyak tanah susah dan mahal. Sekarang semua sampan pakai lampu dengan disel. Selain untuk ngoncor juga pergi ke tengah,” kata Baidi menerangkan sumber cahaya yang digunakan dalam ngoncor.

Setelah sampan pengoncor menemukan ikan, baru kemudian jala ditebar. Anggota kelompok yang lain akan bersiap menarik dari bibir pantai. Sementara jala ditarik dari bibir pantai, sampan bergerak perlahan. Seolah menggiring ikan untuk terus mengikuti lampu dan masuk ke dalam jala.

Jala terus ditarik hingga akhirnya sampai di pantai. Butuh banyak orang dan tenaga besar untuk menarik jala di tengah gulungan ombak besar.

Ikan yang berhasil terperangkap di jala kemudian dibagi. Setengah untuk pengoncor, sampan dengan penerangan bergerilya mencari ikan. Sebagian lagi dibagi oleh masing-masing orang yang ikut menarik jala.

Sayangnya keberadaan PLTU Batubara yang berada di area tangkapan nelayan mengurangi jumlah ikan yang bisa ditangkap dari mengoncor. Selain karena garis pantai yang mengecil akibat keberadaan bangunan dan dermaga kapal tongkang PLTU, titik lokasi berdirinya PLTU merupakan tempat di mana ikan-ikan kecil biasanya berada. Semenjak keberadaan PLTU, otomatis jumlah ikan tersebut berangsur-angsur berkurang.

“Malam Jumat kemarin masih dapat 4 blek,” kata Baidi. “Tapi dua malam kemarin tidak ada ikan yang datang,” lanjutnya.

Selah gerang yang malam Jumat kemarin masih bisa ditangkap, dua malam setelahnya praktis lenyap. Hanya satu kelompok pengoncor berhasil menjala. Itupun hanya satu blek yang bercampur dengan lele laut. Jumlah yang relatif sedikit untuk dijual kemudian dibagi oleh anggota kelompok pengoncor.

Ketika kapal-kapal nelayan Celukan Bawang tertahan di pantai akibat cuaca tidak bersahabat, kapal tongkang memuat batubara terus keluar masuk perairan wilayah tangkapan mereka. Kapal-kapal itu memasok bahan bakar demi keberlangsungan PLTU Batubara yang beberapa tahun terakhir menjadi tetangga tak diundang.

Debu batubara yang tertiup angin jatuh ke perairan ketika dipindahkan dari tongkang ke dalam PLTU. Sisa-sisa itu kemudian menghitamkan air. Ketika arus sedang bergerak ke arah timur, secara otomatis dia memasuki area pesisir timur wilayah tangkapan nelayan.

Nelayan menduga itulah penyebab ikan-ikan kecil seperti selah polo dan selah gerang tidak lagi melimpah di pesisir wilayah tangkapan mereka.

Ikan-ikan yang sebelum keberadaan PLTU Celukan Bawang begitu mudah didapat dengan ngoncor kini seolah menjadi ikan langka. Sering kali nelayan hanya berputar-putar dengan lampu tanpa berhasil menemukan ikan yang mereka sasar. Ikan kecil yang dahulu menjadi andalan nelayan Celukan Bawang ketika cuaca ekstrim yang membuat mereka tidak bisa melaut ke tengah, kini pun tidak ada lagi. Seandainya ada itu tidak akan sebanyak dahulu.

Bagi nelayan Celukan Bawang setiap ikan yang didapat merupakan rezeki. Sayangnya rezeki seolah semakin ke tengah lautan, menjauh dan enggan menepi. Semakin susah diraih. Semakin tidak menentu. Dan ketika cuaca kemudian menjadi kendala, rezeki yang bisa mereka tangkap pun semakin sedikit.

“Biasanya tidak pernah seperti ini. Selalu ada saja ikan ke pinggir. Habis selah polo datang selah gerang, setelahnya datang cotek, cotek habis diganti bandrangan,” Baidi menceritakan.

Lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi nelayan di Celukan Bawang ini merasakan sekali bagaimana susahnya mencari ikan saat ini. Saat cuaca tidak bersahabat, mencari ikan di pinggir menjadi pilihan aman untuk tetap memnuhi kebutuhan keluarganya.

“Dahulu di PLTU itu tempat ikan-ikan mati (titik mati),” Baidi mengenang.

Lokasi dermaga PLTU Celukan bawang merupakan titik mati bagi ikan. Nelayan akan menggiring ikan-ikan kecil menggunakan lampu, kemudian menebar jala dan menarik jalanya dari pantai yang kini telah telah menjadi dermaga sibuk dengan tongkang batubara.

Baidi, Ivan dan nelayan Celukan Bawang lain telah merasakan bagaimana PLTU Celukan Bawang berbahan batubara telah merusak hasil tangkapan ikan dan menyerobot ruang penghidupan mereka ketika kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Nelayan tradisional dibuat terjepit. Antara cuaca yang semakin tidak bisa diprediksi nan ekstrem dan area tangkapan yang semakin sempit. Mau tidak mau mereka harus berlayar semakin ke tengah dengan biaya dan risiko yang terus bertambah.

Itulah salah satu alasan kenapa mereka kemudian membulatkan tekad untuk menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang (berbahan bakar batubara) tahap kedua. [b]

The post PLTU Batubara yang Membuat Ikan kian Langka appeared first on BaleBengong.

Aksi dan Petisi untuk Ibu Nuril dan Septyan

Ada harapan dari 2 kasus di Pulau Bali dan Lombok. Walau belum final, solidaritas dan dukungan hadir menyuarakan keadilan bagi korban.

Belasan lembaga hukum dan pendampingan perempuan menyampaikan petisi ke hakim-hakim Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar, Senin (19/11). Mereka minta penegak hukum mempertimbangkan aspek sosial dan psikologis dalam pemutusan perkara terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Petisi ini dipicu kasus Ni Luh Putu Septyan, seorang guru dan ibu dari mendiang 3 anak perempuan dan laki-laki berusia 2-6 tahun yang terjadi di Sukawati, Gianyar. Saat ini proses hukumnya ditangani oleh Pengadilan Tinggi Bali, sebelumnya oleh Pengadilan Negeri Gianyar diputus 4 tahun 6 bulan atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum selama 19 tahun penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan banding.

Sebanyak 12 orang aktivis dan advokat dari 13 lembaga yang tergabung dalam Solidaritas Lawan KDRT ini menyampaikan petisi ke pimpinan PT Denpasar. Jaringan ini terdiri dari Bali Woman Crisis Center (Bali WCC), Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI) Bali, Tim Advokasi Perlindungan Anak (TAPA), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), LBH APIK Bali, Lady Lawyers Bali, Luh Bali Jani, Lentera Anak Bali, Asosiasi Profesi Hukum Indonesia (APHI) Bali, Bali Sruti, Forum Perempuan Mitra Kasih, LBH Panarajon, dan OBH KPPA Bali.

Dalam petisinya disebutkan kasus yang terjadi di Gianyar atas nama Ni Luh Putu Septyan sebenarnya adalah korban KDRT yang kemudian melakukan bunuh diri dengan tujuan mengakhiri hidupnya bersama-sama dengan anak-anaknya. Namun karena bunuh diri yang gagal sedangkan nyawa anak-anaknya tidak tertolong, akhirnya Septyan yang awalnya adalah korban KDRT berubah menjadi pelaku tindak pidana.

Oleh hakim, terdakwa diputus bersalah sesuai Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Namun hakim mempertimbangkan hasil persidangan terkait latar belakang peristiwa yang akhirnya menghilangkan nyawa ketiga anaknya.

I Made Somya Putra, salah seorang pendamping hukum Septyan memaparkan banyak hal yang dijadikan pembenar untuk melakukan berbagai kekerasan. Di antaranya kekerasan fisik (physical abuse), kekerasan psikis (phychological violence), maupun kekerasan seksual (sexual violence).

Menurutnya 14 tahun Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga belum mampu memberikan perlindungan terhadap kaum rentan seperti perempuan dan anak-anak sehingga penegak hukum diharapkan lebih peka menyikapi persoalan ini. “Korban wajib dilindungi baik dari sisi hukum maupun melakukan rehabilitasi kesehatan psikisnya,” ujar Somya.

Rekomendasi petisi ini adalah mendorong pemerintah dan DPR melakukan penyempurnaan UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT khususnya perlindungan atas korban yang menjadi pelaku tindak pidana. Berikutnya mendukung korban mendapatkan rehabilitasi atas proses hukum yang berlangsung.

Peristiwa seperti yang dialami Septyan kerap terjadi, namun perspektif latar belakang yang diawali sebagai korban KDRT menjadi pelaku dinilai sering dikesampingkan. Luka Psikis yang diperoleh tidak mendapat perhitungan yang baik oleh penegak hukum serta justru berusaha dihukum penjara seberat mungkin tanpa memikirkan rehabilitasi luka psikis korban yang menjadi pelaku.

Solidaritas Lawan KDRT memberi petisi ke pimpinan Pengadilan Tinggi Denpasar

Ni Luh Sukawati dari Tim Advokasi Perlindungan Anak (TAPA) dan pengacara Septyan menyebut persidangan membuktikan KDRT oleh suami dan keluarganya sejak menikah. “Kami berharap tak hanya nilai hukum tapi latar belakang korban, psikologis, dan sosiologisnya,” urai Sukawati. Tindakan bunuh diri mengajak anak-anaknya dibuktikan di persidangan sebagai akumulasi KDRT di internal keluarganya. Misalnya dengan melakukan serangkaian pemeriksaan psikologis dan kejiwaan oleh psikiater.

Ketua PT Denpasar I Ketut Gede bersama Wakil Ketua Sutoyo menerima petisi ini dan menyampaikan Senin pagi sesaat sebelum menerima audiensi jaringan solidaritas ini sudah membuat keputusan menguatkan putusan PN Gianyar. Pernyataan ini disambut tepuk tangan peserta audiensi.

“Sudah diputuskan jika pertimbangan PN Gianyar sudah tepat. Saya tambah pertimbangan yang lebih tajam antara lain menimbang JPU kurang memahami kondisi psikis kejiwaan jika terdakwa melakukan tindak pidana pada anak kandungnya karena trauma mendalam di pernikahan pertama dan berulang di pernikahan kedua,” papar Sutoyo yang menjadi hakim sidang banding kasus ini. Sutoyo menyontohkan kekerasan seperti tindakan membentak, pemukulan kelapa, dan tak menafkahi istri.

Pria ini melanjutkan, ada akumulasi KDRT yang membuat terdakwa depresi berat sehingga goncangan jadi katarsis, pelepasan kecemasan dari beban yang dipikulnya. “Dalam konteks penegakan hukum memang memenuhi unsur pidana tapi konteks sosial dan kultural harus mendapat pertimbangan matang dari hukum yang mendiskreditkan perempuan,” sebut Sutoyo.

Kegagalan bunuh diri dan kehilangan anak menurutnya sudah jadi sanksi berat dan terdakwa sudah tidak memiliki apa pun. Tuntutan penjara terlalu lama dianggap bisa jadi trigger dan destruktif di masa depan bagi korban. Sutoyo mengingatkan, jika dalam HAM ada genocide maka dalam konteks KDRT ada fenomena familycide seperti kasus di Palembang. Penyebabnya masalah rumah tangga, ekonomi, kekerasan, dan lainnya.

Pihak PT Denpasar juga menerima surat dari Komnas Perempuan yang meminta keadilan dan keringanan hukuman bagi korban. Putusan penjara 4 tahun, 6 bulan belum final, JPU bisa mengajukan kasasi atas kelanjutan kasus ini.

Korban pelecehan seksual di Lombok

Pada Minggu (18/11) pagi di Lapangan Renon, Denpasar, puluhan warga bersimpati dengan kasus seorang perempuan korban pelecehan seksual yang ajaibnya malah dipidana sebagai pelaku penyebaran konten asusila.

Yoga dan Nada untuk Ibu Nuril dan korban-korban pelecehan seksual lainnya. Demikian judul besar kampanye publik yang dihelat spontan ini. Ada spanduk putih yang mengundang respon dan tanda tangan warga yang mendatangi aksi yoga ini.

Kegiatan utama adalah mengirimkan energi dan dukungan pada Ibu Nuril melalui yoga dan refleksi bersama. Yoga dipandu Narcis, instruktur yoga berpengalaman yang menutup dengan merefleksikan perasaan hari ini.

Setelah itu peserta duduk melingkar dan menceritakan pendapatnya soal kasus Ibu Nuril dan berbagi pengalaman kasus-kasus di Bali.

Korban kekerasan seksual malah terjerat pidana UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) memutuskan vonis enam bulan penjara dan denda Rp500 juta. MA memvonis Nurul melanggar aturan UU ITE dengan menyebarkan informasi elektronik yang mengandung muatan kesusilaan.

Luh Putu Anggreni, aktivis LBH APIK dan Ketua P2TP2A Kota Denpasar dalam refleksi mengatakan tak sedikit korban jadi pelaku dalam kasus terkait kekerasan dan KDRT. “Tak banyak perempuan yang mau membawa kasusnya ke persidangan, banyak pertimbangan,” katanya.

Hal ini diamini Ni Putu Candra Dewi, advokat LBH Bali yang juga mendampingi kasus kekerasan seksual. Penanganan barang bukti menurutnya sangat penting agar tak disalahgunakan.

Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Komnas Perempuan 2017 menunjukkan 76% kekerasan terhadap perempuan di ranah publik atau komunitas adalah Kekerasan Seksual yang terdiri dari kasus Pencabulan (911), Pelecehan Seksual (704) dan Perkosaan (699).

Dalam pernyataan sikapnya terkait putusan kasasi MA Ibu Nuril ini, Komnas Perempuan menilai tingginya angka pelecehan seksual ini belum diimbangi dengan perlindungan hukum yang memadai bagi korban. Tidak dikenalnya tindakan pelecehan seksual oleh KUHP (kecuali jika memenuhi unsur pencabulan), telah menyebabkan banyak korban pelecehan seksual bungkam, atau jikapun kasus itu diungkapkan, hanya kepada orang-orang terdekat saja.

Ungkapan kepada orang-orang terdekat ini, kerap digunakan oleh pelaku untuk melaporkan korban ke Kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik, melanggar UU ITE, dll yang dalam ini perlu dilihat sebagai upaya ‘memindahkan’ pertanggungjawaban hukum pelaku pelecehan seksual, kepada korban dari tindakan pelecehan seksual itu sendiri. Pola ini terus berulang, sehingga impunitas terhadap pelaku pelecehan seksual berjalan bersamaan dengan dikriminalkannya para korban.

Berikut kronologis yang dirangkum jaringan kebebesan berekspresi di internet SAFENET.

Baiq Nuril Maknun adalah pegawai honorer yang sudah bekerja di sebuah SMA di Lombok sejak 2010. Ia dipecat pada 2015 dan lantas dilaporkan ke polisi dengan menggunakan Pasal 27 Ayat 1 UU ITE dengan tuduhan menyebarkan rekaman bermuatan melanggar kesusilaan. Di Pengadilan Negeri Mataram, Nuril diputus tidak bersalah. Tapi ia kalah dalam proses banding di Mahkamah Agung dan dihukum enam (6) bulan penjara dan denda 500 juta rupiah.

Agustus 2012

Suatu hari di bulan Agustus 2012, sekitar pukul 16.30 WITA, Ibu Nuril menerima telepon dari Muslim (M), Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram. Saat itu M bercerita tentang perselingkuhannya.

Ibu Nuril merekam pembicaraan M tersebut dengan HP Nokia miliknya. Perekaman tersebut dilakukan Ibu Nuril dengan niat semata-mata untuk dijadikan bukti bahwa dirinya tidak memiliki hubungan khusus dengan M. Di sekolah sudah berhembus kabar bahwa Ibu Nuril memiliki hubungan khusus dengan M lantaran sering lembur bertiga bersama Ibu L (Bendahara sekolah) juga.

Ibu Nuril mengaku hampir setiap hari M meneleponnya. Awalnya memang membicarakan soal pekerjaan, tapi ujung-ujungnya pasti M membicarakan hal-hal yang mengarah ke pelanggaran kesusilaan.

M diketahui beberapa kali merayu dan mengajak Ibu Nuril untuk menginap di hotel. Ajakan ini selalu ditolak Ibu Nuril. Ibu Nuril juga sempat menceritakan keberadaan rekaman ini pada F, rekan kerja di Mataram.

Antara Desember 2014 – Januari 2015

Ibu Nuril meminta kembali HP Nokia-nya yang dititipkan pada LAR, kakak iparnya, yang bekerja di Dinas Kebersihan Kota Mataram dan menyerahkannya ke HIM (pegawai sekolah) yang selama kurang lebih 2 minggu selalu meminta HP berisi rekaman tersebut.

Kemudian, HIM membuat copy rekamannya ke laptop miliknya. Hal ini berlangsung tanpa disaksikan oleh Ibu Nuril. HIM lalu mengirimkan rekaman tersebut ke MHJ dan MHK. Rekaman tersebut diteruskan MHJ kepada SKR dan ID (Pengawas sekolah).

M lalu dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram dan dimutasi menjadi Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah Dispora Kota Mataram. Sebelum dimutasi menjadi, M memecat Baiq Nuril yang saat itu berstatus sebagai guru honorer. Empat hari sebelumnya, Ibu Nuril sempat dipanggil oleh Kepala Dispora Kota Mataram.

17 Maret 2015

M resmi melaporkan Ibu Nuril ke Polres Mataram dengan Nomor Laporan: LP/K/216/III/2015 dengan Pasal 27 Ayat 1 UU ITE juncto Pasal 45 UU ITE. Setelah itu, mediasi antara Ibu Nuril dan M untuk damai dilakukan, tapi tidak berhasil karena M meminta jabatannya sebagai Kepala Sekolah dikembalikan dulu, baru laporannya tidak dilanjutkan.

27 Maret 2017

Ibu Nuril dipanggil Penyidik Polres Mataram dan langsung ditahan. Ibu Nuril ditahan penyidik kepolisian dengan Surat Perintah Penahan Nomor: Sprin – Han/35/III/2017/Reskrim dari Polres Mataram tertanggal 24 Maret 2017 sampai dengan 15 April 2017.

12 April 2017

Penahanan Ibu Nuril oleh Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Mataram sejak tanggal 12 April 2017 sampai dengan 1 Mei 2017

4 Mei 2017

Sidang perdana kasus di Pengadilan Negeri Mataram dengan agenda pembacaan Surat Dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum.

26 Juli 2017

Ibu Nuril dinyatakan bebas melalui Putusan Pengadilan Negeri Mataram Nomor 265/Pid.Sus/2017/PN.Mtr yang menyatakan Ibu Nuril tidak terbukti telah melanggar Pasal 27 Ayat 1 UU ITE. Seusai putusan, Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding hingga kasasi ke Mahkamah Agung.

26 September 2018

Mahkamah Agung memutuskan Ibu Nuril bersalah. Petikan Putusan Kasasi Nomor 574K/Pid.Sus/2018 yang baru diterima pada 9 November menyatakan Ibu Nuril telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 27 Ayat 1 UU ITE oleh Mahkamah Agung.

16 November 2018

Terbit Surat Panggilan Terdakwa Nomor B-1109/P.2.10/11/2018 untuk melaksanakan Putusan MA yang menyatakan Ibu Nuril harus menghadap Jaksa Penuntut Umum pada 21 November 2018.

Kabar terakhir kasus ini adalah:

19 November 2018

Pengacara mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke MA. Juga melaporkan pelaku pelecehan seksual ke Kepolisian NTB.

MA menyatakan menunda eksekusi dengan pertimbangan dukungan masyarakat. Presiden Joko Widodo juga menyatakan mendukung Nuril jika mengajukan PK.

The post Aksi dan Petisi untuk Ibu Nuril dan Septyan appeared first on BaleBengong.