Tag Archives: sloka institute

kamar kecil 2018-09-18 00:44:58

Terima kasih atas kontribusinya pada Anugerah Jurnalisme Warga 2018. Saran dan masukan atas #BazarSembako ini mohon dikirim ke kabar@balebengong.id atau kirim pesan lewat akun twitter/ig @balebengong.

Selamat menikmati pangan lokal berkualitas dari sekitar kita. Semua produk dalam satuan terus tersedia di Kios Balebengong.

Beras Merah Umawali-Tabanan

Hama tikus terkendali dan petani Dusun Pagi senyum lagi. Beras merah dari bibit lokal berkualitas dan burung hantu adalah pemandangan indah di desa kecil ini.

Silakan berkunjung ke Dusun Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Sekitar 2 jam dari Kota Denpasar. Saat malam, hiasan burung-burung hantu mengeluarkan pendar cahaya dari lampu di dalamnya.

Burung hantu adalah predator alami hama tikus yang membuat hasil panen sengkarut. Beras merah dipanen enam bulan sekali. Dusun ini juga baru memulai meninggalkan asupan kimiawi.

Garam laut Amed-Karangasem

Pada abad ke-15 Raja Karangasem yang pertama meminta masyarakat Amed untuk meminta upeti berupa garam.

Artinya garam Amed dari jaman tersebut sudah memiliki kualitas yang bagus. Namun
saat ini kondisi garam Amed sangat memprihatinkan, lahan garam sudah menyusut oleh pesatnya pembangunan pariwisata.

Namun masih ada kurang dari 25 KK petani garam yang terus menghidupkan warisan Amed dengan cara tradisional. Cara yang membuatnya kaya nutrisi dan tidak mengandung logam.

Kios Balebengong adalah etalase, anda bisa kontak langsung petani dan pengerajinnya jika memerlukan. Karena itu membutuhkan dukunganmu untuk meningkatkan misi kios serta meningkatkan kualitasnya. Kontak kami ya.

Gula merah dusun Besan, Dawan-Klungkung

Gula merah yang berbahan baku nira kelapa oleh para petani di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung. Pembuatan gula merah ini masih dengan cara tradisional yaitu menggunakan kayu bakar dan tungku tanah serta tanpa campuran bahan pengawet.

Lengis Nyuhtebel-Karangasem

Minyak goreng dari olahan kelapa ini dilakukan sejumlah pengerajin di desa dengan sejarah kebun Kelapa lebat, Nyuhtebel, Karangasem. Mereka ingin merevitalisasi kebun kelapa ini dengan mengolahnya, di tengah gempuran minyak sawit.

Dewi umbi
Kue-kue ini dibuat dari beberapa jenis umbi, ubi kayu (singkong), ubi jalar, ubi ungu, dan talas. Pembuat kue-kue berbahan umbi ini adalah para perempuan yang memiliki kepedulian dengan pangan lokal, berkomitmen mengurangi ketergantungan pada terigu dan beras (yang angka impornya sangat tinggi).

Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) adalah program tahunan Balebengong, media jurnalisme warga yang berdiri sejak 2007.
Tahun ini memberikan apresiasi pada warga yang akan mendokumentasikan suara-suara dari akar rumput. Kabar dari Akar.

Liputan mendalam, disajikan dalam multiplatform. Anda juga bisa mewartakan kabar dengan mengirimkan cerita sekitar kita, foto, atau video pendek ke: kabar@balebengong.id.
Karena NO NEUUS WITHOUT U. Tiada kabar tanpa kamu.

Maaf ya, nanti kita lanjut di kemping blogging saja

Suatu hari di sebuah pos pengungsi Gunung Agung di Denpasar, saya melihat sosok perempuan muda ini. Panggilannya Ita, saya bertanya dengan Dokter Rai yang mengajaknya dan keluarga Rumah Berdaya bakti sosial mengajari pengungsi membuat kerajinan dari koran bekas.

Dok Rai bilang yang mengajarkan Rumah Berdaya membuat bokor, dulang dari koran bekas ya Ita. Saya lihat Ita telaten dengan kondisi punggungnya berbentuk S. Ia duduk miring.

Ibunya bilang, Ita mengidap skoliosis, gejala melengkungnya tulang belakang ke samping. Pengidap bisa sulit bernapas dan nyeri hebat remaja dan dewasa jika tulang belakang yang melengkung bertambah parah. Detailnya di sini https://www.alodokter.com/skoliosis

Dari perjumpaan itu saya baru mengenal hal baru, skoliosis. Entah bagaimana, saya akhirnya berteman dengan Ita di FB. Beberapa kali dia posting isi blog. Saya baca, dan ternyata asik sekali membacanya. Mengalir, jernih, dan apa adanya. Via tulisannya di blog saya merasa kenal Ita lebih dekat, dan dia juga sangat terbuka dan senang mengampanyekan isu kesehatan selain skoliosis juga marfan syndrom. Silakan cek blog Ita apa itu.

Ita menyampaikan dengan leluasa ide, harapan, dan aktivitasnya dengan gamblang di blog. Ini yang mendorong saya mengundangnya untuk kelas asik teknologi informasi (KASTI) sesi blogging, 20 April lalu di gudang Sloka Institute/Balebengong.

“Prinsip hidup saya hopeless. Mungkin heran apa maksudnya,” pancingnya. Ya, saya bengong. Ternyata maksudnya ia akan menganggap hari ini adalah hari terakhirnya. “Hidup spontan, menjalani tanpa beban dan sepenuh hati,” ia membuat kami terdiam.

Ada banyak cerita tentang Ita. Ia juga punya tangan ajaib, apa saja akan dibuatnya sendiri jika ingin misal wadah-wadah dari koran bekas, jepit rambut, baju, sandal, apa saja.

Barter suvenir di KASTI

Selain Ita, kami mendapat semangat untuk oprek blog dari Putu Adi Susanta aka Blijunk, ahli radiografi alias tukang rontgen di RSUP Sanglah Denpasar. Ia membuat Radiografer.net untuk komunikasi di organisasi radiografer alih-alih manual dengan berkirim surat, dan juga mengelola blog personalnya. Blijunk yang supel dan penebar pesona ini ternyata bisa serius sampai-sampai menyiapkan presenatsi khusus yang detail dan panjang sekali untuk kami.

Belasan peserta KASTI kali ini sebagian baru saya temui. Misalnya Almira anak SMA yang berbeda dengan sebayanya menekuni ngblog dibanding medsos. Ada juga Intan dan kawannya relawan dari New Zealand yang saat ini mendampingi sebuah yayasan anak di Tabanan. Dua relawan Rumah Berdaya calon psikolog, dan lainnya.

Ah, senangnya sesi kelas hari ini. Selalu, kelas blogging lagi-lagi kurang waktu. Mohon maaf ya kawan-kawan yang hadir, nanti kita sekalian kemping blogging deh. Yuk…

 

Menghindari Pengintaian Mata-mata dalam Genggaman

Telepon seluler adalah alat mata-mata terbesar yang pernah ditemukan. Dulu kala, pengintaian dilakukan secara konvensional. Mata-mata, misalnya polisi, secara diam-diam akan mengikuti ke mana pun kita pergi. Kita tak tahu mereka sedang mengawasi. Sekarang berubah sebaliknya. Alat untuk mengintai itu sekarang berada dalam genggaman. Kita membawanya ke mana-mana. Hebatnya lagi, kita sebagai pengguna dengan penuh Continue Reading

Menghindari Pengintaian Mata-mata dalam Genggaman

Telepon seluler adalah alat mata-mata terbesar yang pernah ditemukan. Dulu kala, pengintaian dilakukan secara konvensional. Mata-mata, misalnya polisi, secara diam-diam akan mengikuti ke mana pun kita pergi. Kita tak tahu mereka sedang mengawasi. Sekarang berubah sebaliknya. Alat untuk mengintai itu sekarang berada dalam genggaman. Kita membawanya ke mana-mana. Hebatnya lagi, kita sebagai pengguna dengan penuh Continue Reading

Duta Besar Denmark Kunjungi Petani Garam Amed

kunjungan-dubes-denmark-ke-desa-amed

Duta Besar Denmark saat berkunjung ke Desa Amed, Karangasem. Foto Search for Common Ground.

Kelompok petani garam Amed, Karangasem kedatangan Duta Besar Denmark.

Kunjungan Dubes Denmark untuk melihat bagaimana program Mabesikan Project: Art for Social Change di desa ini. Seniman dan organisasi masyarajat sipil mengajak petani terlibat kampanye perlindungan garam khas desa ini.

Pemerintah Denmark bersama Search for Common Ground Indonesia merupakan pendukung utama program Mabesikan Project, program hibah seni dan budaya dari pemerintah Denmark, yang dilaksanakan oleh Search for Common Ground Indonesia.

Dalam Mabesikan Project, 10 kelompok kolaborasi antara seniman dan organisasi masyarakat sipil di Bali merespon berbagai persoalan lingkungan, gender dan inklusivitas sosial di Denpasar, Gianyar, Bangli, Karangasem dan Tabanan.

Kegiatan-kegiatan tersebut diinisiasi oleh 14 orang seniman dan 9 organisasi masyarakat sipil di Bali dengan berbagai latar belakang kreatif dan isu.

Kampanye Garam Amed
Amed merupakan salah satu wilayah program Mabesikan yang berhasil membangun jejaring kolaborasi dalam isu perlindungan lahan garam. Selama hampir satu tahun pelaksanaan program, berbagai pihak telah bertemu dan melakukan upaya awal untuk mendorong produktivitas lahan dan petani garam di Desa Purwakerti.

Peran seniman dalam upaya perlindungan lahan garam di Amed dinilai sangat penting.

Workshop seni mural dan fotografi bertema perlindungan garam Amed dilakukan Arie Putra dan Rudi Waisnawa bersama komunitas. Upaya ini mampu menggerakkan kesadaran masyarakat dan petani tentang pentingnya menjaga warisan leluhur, menjaga kualitas dan produktifitas lahan garam di Amed.

Program ini sekaligus juga ikut mempromosikan potensi pariwisata di wilayah pantai Amed.

Tidak berhenti pada pembuatan karya seni bersama komunitas, seniman di program ini bersama Sloka Institute juga mendorong peran pewarta warga dalam menyuarakan perlindungan lahan garam Amed.

Conservation International Indonesia untuk Kawasan Konservasi Perairan (KKP) turut mendukung program ini dengan memfasilitasi pertemuan multi-stakeholder dan geo-tagging lahan garam Amed bersama petani garam dan komunitas pewarta warga.

Dalam kunjungannya ke Amed, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge didampingi Deputi Duta Besar Elsebeth Sondergaard Krone dan tim Search for Common Ground Indonesia. Mereka melihat langsung karya seni mural Arie Putra dan lahan pertanian garam di objek wisata Tirta Jemeluk bersama anggota kelompok petani Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Lingkara Photography Community di Denpasar untuk melihat pameran foto Garam Amed karya Rudi Waisnawa.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia menyampaikan apresiasi yang sangat besar atas inisiatif dan usaha yang telah dikeluarkan oleh para seniman dan organisasi lokal dalam membawa perubahan sosial bagi komunitas mereka.

Kunjungan ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah Kabupaten Karangasem, yaitu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Camat Kecamatan Abang dan Kepala Desa Purwakerti. Search for Common Ground Indonesia sebagai penyelenggara Mabesikan Project juga turut mendampingi rombongan. [b]

The post Duta Besar Denmark Kunjungi Petani Garam Amed appeared first on BaleBengong.