Tag Archives: serangan jantung

Hati Hati! Obat Ini Bisa Meningkatkan Risiko Stroke Dan Serangan Jantung

Salah satu obat yang paling banyak dikonsumsi orang adalah obat pereda sakit. Obat obatan jenis ini yang laris manis bak kacang goreng bisa dibeli bebas atau dengan resep dokter. Apakah kamu pernah membeli obat pereda sakit itu? Bagaimana jika obat yang kamu minum itu dapat meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung?

Baca juga: Merokok Meningkatkan Risiko Serangan Jantung Sampai 8 Kali Lipat

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam British Medical Journal, obat obatan pereda sakit golongan diclofenac dapat meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung sampai 50%. Penelitian yang tergolong besar ini melibatkan sekitar 6,3 juta partisipan. Selain stroke dan serangan jantung, mengonsumsi diclofenac juga dapat meningkatkan risiko perdarahan pada saluran pencernaan.

Diclofenac adalah obat anti inflamasi non streoid (NSAID) yang digunakan untuk meredakan demam, sakit gigi dan nyeri sendi pada anak anak dan orang dewasa.

Di Inggris sendiri, peredaran obat diclofenac telah dilarang sejak tahun 2015. Penelitan kali ini diharapkan mampu memantik perhatian global tentang dampak yang bisa timbul bagi pasien akibat mengonsumsi diclofenac.

“Sudah saatnya kita memahami risiko diclofenac dan sedapat mungkin mengurangi penggunaannya.” harap tim peneliti dari Universitas Aarhus, Denmark. “Diclofenak seharusnya tidak dijual sebagai obat bebas dan pada kemasannya harus ditulis peringatan tentang risiko yang bisa terjadi saat mengonsumsinya.”

Penelitian yang dipimpin oleh Morten Schmidt, PhD ini menganalisa data lebih dari 6,3 juta orang Denmark dewasa. Yang dipilih ini adalah mereka yang mengonsumsi obat pereda sakit sekurang kurangnya setahun sebelum penelitian ini dimulai pada bulan Januari 1996.

Partisipan penelitian ini yang mengonsumsi NSAID adalah mereka yang berusia antara 46 tahun sampai 49 tahun, sedangkan yang mengonsumsi paracetamol dan pereda nyeri yang lainnya adalah mereka yang berusia rata rata 56 tahun.

Untuk memudahkan analisa data, peneliti membagi pasien menjadi beberapa grup berdasarkan faktor risiko jantung yang mereka alami. Apakah termasuk, rendah, sedang atau berat.

Hasilnya, para peneliti menemukan diclofenac berhubungan dengan peningkatkan risiko beberapa masalah jantung utama seperti detak jantung yang tidak normal, penyakit jantung iskemik, stroke, gagal jantung dan serangan jantung. Masalah jantung dan pembuluh darah ini terjadi hanya 30 hari setelah pengobatan dengan diclofenac dimulai. Risiko risiko tersebut tidak meningkat pada pasien yang minun pereda nyeri lain seperti ibuprofen, naproxen dan paracetamol.

Risiko masalah jantung dan pembuluh darah makin meningkat seiring dengan makin lamanya mereka mengonsumsi diclofenac. Hal ini bila dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi obat atau mengonsumsi obat jenis lain.

Pasien yang sebelumya memiliki risiko rendah sebelum minum diclofenac, risiko masalah jantung dan pembuluh darah rata rata meningkat setelah mereka mengonsumsi obat pereda nyeri tersebut, bila dibandingkan dengan mereka yang minum ibuprofen.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Duduk Terlalu Lama Tidak Baik Buat Jantung

Dibandingkan dengan mereka yang minum paracetamol, peminum diclofenac memiliki risiko serangan jantung atau stroke, tiga kali lebih tinggi.

Dengan hasil penelitian ini diharapkan, pasien dan petugas kesehatan lebih berhati hati dalam memilih obat pereda nyeri, utamanya diclofenac. Untuk jenis jenis obat diclofenac yang dijual di Indonesia bisa dicari sendiri di Google.

Ini Bahayanya Mengonsumsi Kolesterol Baik Secara Berlebihan

Tidak selamanya yang baik baik itu menguntungkan bagi kesehatan, pun demikian dengan kolesterol high-density lipoprotein (HDL) atau kerap disebut dengan kolesterol baik. Menurut penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam ESC Congress 2018, kadar kolesterol baik yang terlalu tinggi di dalam darah berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan kematian.

Baca juga: Berapa Kadar Asam Urat, Gula Darah dan Kolesterol Yang Normal?

Dr. Marc Allard-Ratick dari Emory University School of Medicine, Atlanta, Amerika Serikat, selaku kepala tim peneliti mengatakan: “Sudah saatnya kita mengubah pandangan tentang kolesterol HDL. Bila sebelumnya dokter selalu menyarankan pasien untuk banyak banyak mengonsumsi kolesterol baik, maka kini saran tersebut sebaiknya dipikirkan kembali.”

Kolesterol HDL dikatakan sebagai kolesterol baik karena molekul HDL yang terdapat pada kolesterol ini terlibat dalam pengangkutan kolesterol dari dalam pembuluh darah menuju liver untuk selanjutnya dibuang ke luar tubuh. Jadi dengan kata lain, kolesterol HDL membantu menurunkan risiko sumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh penumpukan kolesterol. Mereka yang kadar kolesterol HDL-nya rendah berisiko tinggi menderita atherosklerosis dan penyakit kardiovaskuler.

Penelitian kali ini menitikberatkan pada hubungan antara kolesterol HDL dengan risiko serangan jantung dan kematian pada 5.965 orang penderita penyakit jantung. Partisipan penelitian ini berusia rata rata 63 tahun dan 35 persennya berjenis kelamin wanita.

Partisipan penelitian kemudian dibagi menjadi lima kelompok berdasarkan kadar kolesterol HDL-nya. Kelompok pertama memiliki kadar kolesterol HDL kurang dari 30 mg/dl (0.78 mmol/L), kelompok kedua dengan kadar kolesterol HDL antara 31-40 mg/dl (0.8-1 mmol/L); kelompok ketiga memiliki kadar kolesterol HDL antara 41-50 mg/dl (1.1-1.3 mmol/L); kelompok keempat memiliki kadar kolesterol HDL antara 51-60 mg/dl (1.3-1.5 mmol/L); dan mereka yang memiliki kadar kolesterol HDL lebih dari 60 mg/dl (1.5 mmol/L) dimasukan ke dalam kelompok lima.

Setelah dilakukan pengamatan selama empat tahun, sebanyak 769 (13%) partisipan mengalami serangan jantung atau meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskuler. Partisipan yang memiliki kadar kolesterol HDL antara 41-60 mg/dl (1.1-1.5 mmol/L) memiliki risiko terendah mengalami serangan jantung atau kematian akibat penyakit kardiovaskuler. Risiko serangan jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskuler meningkat pada mereka yang memiliki kadar kolesterol HDL lebih rendah dari 41 mg/dl atau lebih tinggi dari 60 mg/dl.

Peingkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovasuler dan serangan jantung meningkat 50% pada partisipan yang kadar kolesterol HDL-nya lebih dari 60 mg/dl (1.5 mmol/L) bila dibandingkan dengan partisipan yang kadar kolesterol HDL-nya antara 41 – 60 mg/dl.

Baca juga: 5 Langkah Menurunkan Kolesterol Tanpa Obat

Hubungan ini tetap konsisten setelah beberapa faktor risiko penyakit jantung seperti diabetes, merokok, kadar kolesterol LDL, kebiasaan minum minuman beralkohol, ras dan jenis kelamin diperhitungkan.

Mesikpun penyebab pasti dari peningkatan risiko serangan jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada mereka yang kadar kolesterol HDL-nya tinggi masih belum diketahui, tetapi para ahli menduga kadar kolesterol HDL yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya disfungsi dari HDL sehingga fungsi perlindungannya menjadi lemah.

Vitamin Terkenal Ini Ternyata Tidak Bermanfaat

Banyak yang percaya minum vitamin saat sakit dapat mempercepat penyembuhan, benarkah demikian menurut studi terbaru? Ternyata beberapa jenis vitamin dan suplemen makanan yang cukup populer di kalangan masyarakat, tidak terlalu bermanfaat bagi kesehatan. Untungnya, vitamin dan suplemen makanan ini juga tidak berbahaya bila dikonsumsi. Demikian kurang lebih hasil studi dari tim peneliti Rumah Sakit St. Michael, Universitas Toronto, Kanada.

Baca juga: Manfaat Buah Lemon, Gudangnya Vitamin C Alami

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology ini lebih jauh menyebutkan, multivitamin, vitamin D, kalsium dan vitamin C tidak memberi manfaat yang berarti dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler, serangan jantung, stroke atau kematian dini. Umumnya vitamin dan suplemen makanan ini dikonusmsi untuk menambah asupan gizi yang kurang didapatkan dari makanan.

Temuan ini sebenarnya cukup mengejutkan mengingat selama ini banyak orang yang minum vitamin dan suplemen dengan harapan dapat terhindari dari berbagai macam penyakit berbahaya. Meskipun manfaatnya kecil, minum vitamin dan suplemen makanan seperti multivitamin, vitamin D, kalsium dan vitamin C tidak berbahaya bagi tubuh, asal dikonsumsi sesuai dengan aturan pakainya.

Selain menemukan jenis vitamin dan suplemen yang manfaat kesehatannya rendah, studi kali ini juga membuktikan bahwa asam folat dan vitamin B yang mengandung asam folat dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dan stroke.

Baca juga: Cara Mendapatkan Vitamin C Yang Baik Bagi Tubuh

Studi ini kembali menegaskan pentingnya mengetahui jenis vitamin yang kita konsumsi termasuk kebutuhan tubuh terhadap vitamin tersebut. Tidak semua vitamin harus kita konsumsi dalam bentuk suplemen karena dari makanan, vitamin tersebut sudah mencukupi. Kita juga harus paham tentang kekurangan vitamin dan mineral yang kemungkinan terjadi pada tubuh kita. Kalau memang tidak paham caranya, silakan berkonsultasi ke dokter terdekat.

Mengurangi Konsumsi Trans Fat Sudah Benar. Ini Alasannya

Bertahun tahun yang lalu, para ahli telah menyimpulkan teori tentang penurunan risiko penyakit jantung saat konsumsi trans fat dikurangi. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam  JAMA Cardiology, kembali menguatkan teori tersebut.

Bila lemak yang kita konsumsi diberi peringkat, maka trans fat menduduki peringkat paling bawah alias trans fat merupakan zat lemak yang paling jelek untuk dikonsumsi. Seperti halnya lemak jenuh, trans fat dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).

Tidak sampai disitu, trans fat juga berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung, diabetes tipe 2, inflamasi dan masalah pada memori serta fungsi kognitif.

Baca juga: Inilah Tanda Tanda Awal Stroke

Studi terbaru ini mengambil data penduduk yang tinggal di kota New York, Amerika Serikat. Data diambil pada daerah yang penduduknya kerap mengonsumsi trans fat dan daerah yang penduduknya jarang mengonsumsi trans fat.

Setelah diamati selama setahun, data penduduk yang masuk rumah sakit karena serangan jantung dan stroke kemudian dianalisa dan diambil kesimpulan, penduduk yang tinggal di daerah yang dilakukan pembatasan konsumsi trans fat mengalami penurunan kasus serangan jantung dan stroke bila dibandingkan dengan daerah yang tidak dilakukan pembatasan konsumsi trans fat.

Dari studi ini bisa kita simpulkan bahwa, pembatasan konsumsi trans fat memiliki dampak yang cukup besar dalam penurunan risiko serangan jantung dan stroke.

Merokok Meningkatkan Risiko Serangan Jantung Sampai 8 Kali Lipat

For young adults who smoke, the risk of a major heart attack is 8 times higher than for their peers who never smoked or who gave it up, a UK study found. Untuk mereka yang dewasa pun, merokok dapat meningkatkan