Tag Archives: Seni Rupa

Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan

Batubulan adalah tempat lahirnya beragam kesenian.

Seniman lukis dan topeng Batuan yang tergabung dalam Kelompok Baturulangun berpameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Pameran bertajuk “Ibu Rupa Batuan” ini menghadirkan karya-karya lintas generasi ini adalah sebentuk penghormatan terhadap ibu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr I Wayan Adnyana membuka pameran pada Minggu (08/09), pukul 18.30 WITA di BBB. Pameran akan berlangsung hingga 18 September 2019.

Pameran yang dikuratori Wayan Jengki Sunarta ini menampilkan 76 karya, terdiri dari 52 seni lukis dan 24 seni topeng. Terkait tematik, Jengki menjelaskan, Ibu Rupa Batuan merujuk pada konteks harfiah sekaligus juga filosofis. “Ibu” menjadi metafora atau simbolisasi terkait spirit penciptaan, olah batin, untuk menghasilkan suatu karya yang memesona dan membuka ruang renung bagi khalayak pecinta seni.

“Ibu adalah kosa kata yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Secara biologis, ibu adalah sosok yang melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kita,” ungkapnya.

Menurut Jengki ikatan batin antara ibu dan anak adalah suatu keniscayaan yang tidak luntur digerus waktu. Ibu bisa juga dimaknai sebagai suatu pusat, ikatan, atau muasal. Pada tataran yang lebih luas, lanjutnya, bumi (tanah dan air) sering disebut “ibu pertiwi” di mana setiap penghuninya saling terhubung dalam satu kesatuan kosmologi.

Sebagai wilayah budaya, Desa Batuan bisa disebut ibu yang melahirkan dan memelihara aneka ragam kesenian yang bisa dinikmati hingga kini. Selain seni lukis, di Batuan juga lahir seni pahat topeng, ukiran, dan dramatari Gambuh. Bahkan seni lukis tradisional gaya Batuan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018.

Seniman generasi tertua adalah Ida Bagus Made Widja (1912-1992), Ida Bagus Made Togog (1913-1989), Nyoman Ngendon (1920-1947), I Made Djata (1920-2001). Sementara generasi termuda adalah I Wayan Aris Sarmanta (1995). Dari perbedaan generasi tersebut, tecermin bagaimana perkembangan serta pertumbuhan seni lukis dan topeng di Desa Batuan.

Karya sekitar 50 pelukis dari Batubulan dipamerkan, termasuk Ketut Tomblos (1922-2009) hingga Dewa Made Virayuga (1981).

Menurut Jengki, pameran ini membuktikan bahwa seni tradisi di Batuan masih tetap tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tersebut diwariskan secara masif dari generasi ke generasi.

“Upaya-upaya pewarisan itu sangat memungkinkan terjaganya spirit penciptaan seni di Desa Batuan,” ujar Jengki. [b]

The post Menghormati “Ibu” lewat Pameran Ibu Rupa Batuan appeared first on BaleBengong.

Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa

Energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar.

Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan pameran tunggal seniman Bali beraliran abstrak I Madè Sumadiyasa. Eksibisi bertajuk “Sacred Energy” MetaRupa I Madè Sumadiyasa akan dibuka secara resmi pada Minggu (28/07) pukul 18.30 WITA.

Pameran ini menghadirkan pembacaan atas periode terkini dan kilas balik proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu melalui sejumlah karya terpilih. Pameran akan berlangsung hingga 5 Agustus 2019.

I Madè Sumadiyasa, yang selama ini konsisten mengusung langgam abstrak, dikenal dengan lukisan-lukisannya yang gigantik. Pameran ini hakikatnya hendak mencermati konsistensi dan pergumulan berkaya Sumadiyasa selama ini sehingga menemu langgam abstraknya yang mempribadi.

Diharapkan pula pameran kali ini dapat memberikan gambaran utuh menyeluruh tentang tahapan cipta sang kreator, terutama mengacu pada pembacaan atas karya-karya periode terkini dan kilas balik pada proses kreatif I Madè Sumadiyasa terdahulu.

Seniman asal Tabanan ini telah menggelar banyak pameran tunggal maupun bersama, baik di Indonesia atau di luar negeri. Beberapa pameran terpilihnya antara lain: “Songs of the Rainbow”, MADE at Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2008), “Sunrise”, MADE at Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran Bay, Bali, Indonesia (2005),”One World, One Heart”, MADE at ARMA Museum, Bali, Indonesia (2004), “Journeys”, MADE (simultaneously) at the Neka Art Museum, Bamboo Gallery and Komaneka Fine Art Gallery, Ubud – Bali, Indonesia.

Wicaksono Adi, kurator pameran ini, mengungkapkan bahwa abstrak-ekspresionisme Sumadiyasa bertumpu pada unsur-unsur emotif dan “abstraksi” bentuk-bentuk, lalu transisi menuju aspek immaterial objek-objek dan akhirnya merasuk dalam pusaran energi alam yang melampaui “abstraksi-abstraksi” itu sendiri. Suatu drama piktorial yang sangat dinamis dari situasi (state of) energi alam sekaligus tilikan subjektif yang termanifestasikan secara bebas dan spontan.

“Karya-karya Sumadiyasa boleh dikata sebuah upaya untuk menggambarkan daya-daya suci (sacred energy) sebagai energi ‘primal’ dalam cara pandang ‘kosmosentris’ di mana manusia tidak dipandang sebagai pusat dunia dan kehidupan,“ cetus Wicaksono Adi.

Dengan karya-karya abstrak ekspresionistik itu, pada awal dekade 1990, seniman kelahiran 1971 dan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, telah mengejutkan publik dan memperoleh apresiasi internasional. Sidini mahasiswa, pada tahun 1995, ia telah diundang dalam pameran Art Asia, International Fine Art Exhibition, cikal bakal Art Basel Hongkong. Salah satu karyanya dijadikan cover majalah Asian Art News, sebuah media seni penting di kawasan Asia (1996).

Ekspresi Kosmik

Mula-mula Sumadiyasa banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk semi representasional objek-objek, baik sosok-sosok manusia maupun bentuk-bentuk ideoreligius tradisional Bali seperti barong, ikon-ikon maupun figur-figur simbolik dunia perwayangan dan sejenisnya. Ekspresionisme Sumadiyasa pada fase ini bertumpu pada aspek emotif dari objek-objek berikut gambaran atmosfer di mana objek-objek itu hadir.

Setelah itu muncul “abstraksi” bentuk-bentuk yang menggantikan drama piktorial alamiah ke dalam konstelasi gerak objek-objek nan bebas sekaligus mengesankan keteraturan yang bersifat menyeluruh-utuh.

Karya-karya abstrak ekspresionistik I Madè Sumadiyasa tidak hanya objek retinal belaka. Pun bukan gambaran visual tentang kedahsyatan energi alam, tapi sudah menjadi wujud dari gelora energi itu sendiri.

Ia bukan sekadar drama piktorial tentang gejolak batin sang subjek pembuatnya, atau gambaran ekspresi daya-daya kosmik, melainkan juga wujud dari energi alam itu sendiri.

Di sana-sini energi kosmik itu ditampilkan dalam ukuran ekstra besar sehingga akan menimbulkan efek “totalitas performatif” yang lebih kuat pula. Yaitu efek pemaknaan intensional yang melebihi dimensi visual an sich, karena hal itu akan menimbulkan getaran yang lebih kuat pada si pemandang.

Melalui drama piktorial spektakuler itu gelora dan kebesaran ”energi kosmik”-nya tampil dalam wujud yang benar-benar nyata.

“Pameran ini mengajak hadirin untuk dapat melatih kepekaan terhadap kekuatan alam yang dahsyat itu. Apalagi bagi orang orang Indonesia yang hidup dalam rangkaian cincin api (ring of fire) dengan alam yang terus bergejolak, plus kehidupan yang dipenuhi kekerasan, fragmentasi dan konfrontasi brutal yang menjalar ke mana-mana,“ ujar Wicaksono Adi.

I Madè Sumadiyasa juga meraih berbagai penghargaan, diantaranya: Finalist Indonesia Art Awards, Indonesia Art Foundation, Jakarta, Indonesia (2003), Finalist Phillip Morris ‘Indonesia Art Award (1996 & 1997), Best Still Life painting, Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta, Indonesia (1996), Best painting, Lustrum II, Indonesia Institute of Art (ISI), Yogyakarta, Indonesia (1994), Honorable mention for painting, Indonesia Institute of Art (STSI) Denpasar, Bali, Indonesia (1993) dan lain-lain. [b]

The post Energi Kosmik Gigantik dalam Kanvas Sumadiyasa appeared first on BaleBengong.

Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Bali Yang Binal (BYB) adalah sebuah pagelaran yang lahir dari kritik atas Bali Biennale, medio 2005. Event ini diinisiasi oleh Komunitas Pojok dan Komunitas Seni di Denpasar (KSDD ). Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Dalam perjalanannya, BYB tumbuh melebihi ekspetasi awal yang dibayangkan. BYB bukan hanya sebagai acara alternatif, namun menjadi wadah berkumpulnya seniman-seniman muda yang kemudian rutin mengadakan acara ini setiap 2 tahun sekali. BYB menjadi even dimana banyak seniman dengan berbagai bidang seni menunjukkan kepiawaiannya masing-masing, baik itu visual, musik, teater dan sebagainya, yang tidak ragu bereksperimen atau bersenang-senang menciptakan karya seni baru.

Kala acara Bali Biennale yang dikritik mati di tahun keduanya, BYB justru mampu melewati jaman hingga ke edisi #7 pada tahun 2017 yang lalu. Pada setiap pagelaran BYB, Komunitas Pojok selalu memilih tema-tema aktual yang dibungkus dalam balutan estetika. Seni dan kritik adalah formula untuk kemampuan keberlangsungan acara ini.

Pada edisi kali ini (BYB #8) yang menjadi tema adalah “Energi Esok Hari”. Kami memilih tema ini sebagai intisari dari semua permasalahan yang sedang terjadi atau yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari apabila dibiarkan. Bali sebagai sebuah pulau kecil yang mempunyai potensi investasi tinggi selalu menjadi obyek yang menggiurkan untuk dieksploitasi.

Benar bahwa Bali telah menjadi mesin yang memutar gerigi industri pariwisata, banyak kebutuhan yang kemudian diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Namun yang kemudian disayangkan dan butuh dikritik adalah keputusan-keputusan instan yang dipilih pemangku kebijakan dan investor dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Keinginan pemerintah dan investor untuk membangun sarana-sarana penunjang pariwisata seperti rencana reklamasi Teluk Benoa, rencana pembangunan tol lintas utara, rencana pembangunan bandara baru di Bali utara, dan lain sebagainya tentu membutuhkan energi yang besar. Dan kebutuhan energi ini hendak dijawab dengan cepat oleh para pemangku kebijakan tadi dengan membangun PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara baru di Celukan Bawang, Buleleng. Sebuah langkah yang tergesa-gesa dan keliru, karena Bali mempunyai potensi energi serta waktu yang cukup untuk beralih pada penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Batubara sudah dikenal sebagai sumber energi fosil yang merusak, tidak hanya dalam proses perubahannya menjadi energi tapi juga sejak proses pengambilannya. Diawali dengan kerusakan hutan, hilangnya ekosistem flora dan fauna, kerusakan di laut dalam proses distribusi dan pengolahan energi. Pembuangan limbah asap dari pembangkit-pembangkitnya serta konflik sosial yang ditimbukannya. Keheranan muncul ketika pulau kecil seperti Bali yang sudah memiliki satu unit PLTU Batubara, masih perlu membangun lagi yang baru. Berbagai pertanyaan baru kemudian muncul membutuhkan jawaban dan solusi, dan bagi kami batubara bukanlah jawaban dan solusinya.

Untuk itu, dengan kemampuan yang kami miliki sebagai seniman, kami ingin berkontribusi dalam mengkampanyekan penggunaan energi ramah lingkungan, menarik dan bergandengan bersama dengan semua pihak yang peduli lingkungan dan Bali, demi hari esok yang lebih baik. Rangkaian BYB #8 telah dimulai dengan gelaran Sawer Nite, sebuah event penggalian dana pada 19–21 April 2019 lalu di Cushcush Gallery. Pada 18 Mei, Pra Bali Yang Binal #8 digelar di Taman Baca Kesiman.

Pada tahapan ini akan dilakukan pemantapan materi, sehingga karya-karya yang dihasilkan pada Bali Yang Binal #8 bisa sesuai dengan tema yang diangkat. Selain itu akan ada juga pameran baliho dari seniman-seniman pendukung Bali Yang Binal #8. Selanjutnya baliho-baliho ini akan dibawa ke Celukan Bawang sebagai media “demonstrasi visual”.

Tahapan selanjutnya adalah pembukaan Bali Yang Binal #8 pada 30 Juni di Taman Baca Kesiman. Pembukaan akan diisi dengan technical meeting untuk seniman-seniman yang berpartisipasi. Pada 6-8 Juli Bali Yang Binal #8 akan mengajak seniman-seniman mural untuk jamming mural langsung di daerah terdampak. Hal ini dilakukan agar seniman-seniman lebih memahami persoalan, dan pada sisi lain kegelisahan masyarakat terdampak terwakili oleh visual-visual yang ditampilkan oleh seniman-seniman tersebut.

Kemudian penutupan Bali Yang Binal #8 akan dilaksanakan pada 14 Juli 2019. Penutupan rencananya diadakan di lapangan Lumintang dengan memamerkan kembali baliho-baliho yang dipamerkan pada pra Bali Yang Binal #8 dan mural jamming di Celukan Bawang dan diiringi oleh beberapa kawan-kawan musisi.

The post Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari appeared first on BaleBengong.

Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata



Senjakala Bali Dwipa karya Made Bayak.

Made Bayak bercerita tentang pameran tunggalnya di Amerika Serikat.

Rencana pameran ini sudah dirancang selama dua tahun. Dari awal tahun 2016 pertama kali proses interview karya dan aktivitas saya sebagai seniman (visual dan musik). Kurator dan penulis pameran ini adalah Peter Brosius, Alden DiCamilio dan Sarah Hitchner.

Judul Pameran old Gods | new Gods in Bali, bisa diartikan bebas Tuhan lama dan baru (di Bali), merupakan gagasan yang membingkai pameran tunggal ini. Berikut penjelasan tentang tema ini.

Berbicara Bali tidak akan pernah habis. Pulau kecil ini sudah sangat terkenal di mana-mana. Bahkan, saat masuk imigrasi di Amerika pun ini terjadi. Ketika saya ditanya “Kamu dari mana?”, saya jawab, “Indonesia..” mereka masih bertanya. Saat saya bilang dari Bali suasana menjadi lebih cair.

Tidak bisa dipungkiri juga popularitas Bali sebagai tujuan wisata dunia adalah sebuah kenyataan dan anugerah luar biasa. Alam yang konturnya berbukit, gunung dan danau, wilayah pedesaan dipenuhi sawah berpetak-petak, sungai-sungai mengalir seperti ular, pantai dengan pemadangan indah nan eksotis, masayarakat Bali yang masih menghidupi tembah sembahyang/pura-pura dengan napas spiritual peninggalan leluhur.

Semuanya menghasilkan banyak sekali bentuk-bentuk kebudayaan yang bisa kita lihat sampai saat ini. Semua gambaran brosur dan promosi wisata Bali adalah benar adanya.

Namun, ada wacana lain yang ternyata sangat miris seiring dengan semua gambaran pariwisata eksotis Bali. Ada “Tuhan” baru menyeruak di antara tuhan “lama” yang menjadi warisan leluhur di Bali. Ada sejarah kelam (pembunuhan masal) yang sampai saat ini masih tersembunyi kemudian coba dihilang ingatkan secara memori kolektif kita.

Peranan politik kebudayaan dengan ritual pembersihan tanah Bali dari hal-hal yang dianggap mengganggu keseimbangan sangat berhasil membuat sebagian besar generasi Bali tertidur dan mimpi indah tentang peninggalan Bali yang adiluhung. Kita disuguhi dan dipaksa mengonsumsi konsep-konsep seperti Tri Hita Karana dan bangga sudah merasa menyeimbangkan hidup dengan alam, manusia dan tuhan.

Karya kolaborasi Made Bayak dan anak istri, Sekala Niskala Bali Tolak Reklamasi

Tidak Terkendali

Padahal, di lain sisi kita membiarkan Teluk Benoa mau diuruk. Kita biarkan wilayah tempat suci kita dijual dan membangun beton-beton baru tidak terkendali. Kita biarkan sumber-sumber air kita kotor oleh sampah. Kita hanya asyik memenuhi hasrat supaya dibilang menjadi lebih modern.

Ada Dewa-dewa baru berwujud dolar dan investasi yang cenderung rakus dalam pawisata massal. Mereka mengabaikan semua aspek manusia, lingkungan dan tuhan di Bali. Wujud Dewa Konsumerisme yang menjangkiti kita adalah seberapa banyak barang baru yang kita punya. Itu menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang.

Hal paling mengkawatirkan adalah berkurangnya pasokan air tanah yang notabene sumber kehidupan bagi kebudayaan Bali. Tercemarnya sumber-sumber air dari sampah plastik dan limbah rumahan adalah dampak nyata yang bisa kita lihat dari ketidakpedulian.

Ini bukan persoalan anti pariwisata atau anti pembangunan, tapi bagaimana kebenaran itu seharusnya diketahui bersama, dipelajari sehingga kita bisa melangkah lebih percaya diri untuk melanjukan kebudayaan Bali. Harusnya kita bisa melahirkan sebuah budaya belajar, terbuka, dan bisa bersikap kritis terhadap diri kita sendiri.

Industry, hidden history and legacy the island of the gods karya Made Bayak.

Tentang Karya

Pameran ini bisa dikatakan kerja sama dengan salah satu dosen di universitas di Atlanta Amerika, University of Georgia (UGA) Departemen Antropologi, tepatnya berada di Athens Georgia. Untuk pameran karya-karya seni akan berlangsung di galeri Athens Institute for Contemporary Art (ATHICA). Pameran akan dibuka pada 25 Maret 2019 dan berlangsung hingga 28 April 2019.

Karya-karya yang dipilih kurator dan penulis merupakan keseluruhan tema dan gagasan yang menjadi ketertarikan saya sebagai seniman. Mulai dari tema lingkungan, pariwisata massal di Bali, kekerasan, kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM), serta keterlibatan seni dan kesenian pada perjuangan Bali tolak reklamasi. Pameran ini akan menyentuh karya-karya musik bersama band GEEKSSMILE di mana saya bergabung sebagai pemain gitar.

Ada sekitar 15 karya dengan berbagai ukuran yang akan dipajang selama pameran berlangsung. Ukuran karya terbesar adalah 2×3 meter dengan judul “Senja Kala Bali Dwipa”. Karya ini bercerita tentang cikal bakal pariwisata Bali dimulai dengan datangnya kapal Belanda KPM membawa orang-orang yang ingin melihat surga terakhir. Kemudian ada cerita bagaimana pembunuhan masal yang menghilangkan 80.000 jiwa manusia Bali dan tak pernah tercatat dalam sejarah resmi yang bisa kita pelajari.

Saya juga memajang sebuah karya instalasi tentang kosmologi Bali yang berkaitan erat dengan berbagai peristiwa di Bali. Kabarnya kosmologi ini pernah dipakai referensi untuk membuang potongan tubuh korban pembataian masal sesuai arah mata angin. Dia juga sempat digunakan sebagai tema perjuangan dan even besar menolak rencana busuk reklamasi Teluk Benoa.

Ada beberapa karya dalam ilustrasi buku Prison Songs bersama kawan-kawan Taman 65 di Denpasar juga akan dipamerkan. Dua buah karya kolaborasi saya dengan anak, Damar Langit Timur dan istri, Kartika Dewi juga dipilih dan diikutsertakan dalam pameran ini. Satu dengan judul “Skala Niskala Bali tolak reklamasi” dengan ukuran 2×2 meter. Satu lagi dengan judul “Reminder of the Nir Gender” dengan ukuran 170x300cm.

Selama pameran berlangsung akan ada banyak kegiatan mulai dari artist talk, diskusi panel, workshop, pemutaran video, diskusi kelas dan lainnya.

Kontak personal jika ada yang ditanya untuk mempertegas adalah dengan saya langsung, Made Bayak, bisa kirim pesan melalui WhatsApps 08174763566. Mohon sabar kalau responnya agak lambat. [b]

The post Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki


Para perempuan muda ini mendobrak kondisi kultural nak mule keto.

Perjumpaan pertama dengan geng Futuwonder ini adalah sebuah sesi setengah hari untuk menulis dan mengarsipkan biografi seniman perempuan Bali ke Wikipedia. Para relawan dibekali beberapa artikel untuk dirangkum dalam beberapa paragraf. Nantinya itu menjadi pintu masuk mengembangkan artikel-artikel lanjutan.

“Sangat sedikit profil seniman perempuan yang tersedia dan bisa diakses publik,” urai Citra Sasmita.

Citra salah satu perintis Futuwonder bersama Seni Savitri, Ruth Onduko, dan lainnya.

Dalam sesi saat itu kami agak terburu-buru membuat konten karena sebagian waktu diisi belajar cara memasukkan dan aturannya dulu di Wikipedia. Namun, sesi itu tetap produktif dan mendorong kami untuk mengenal lebih jauh para seniman perempuan di Bali.

Setelah sesi itu, saya jadi sangat ingin bersua atau berkunjung ke salah satu seniman. Mengenal karya, gagasannya, dan suka duka mereka.

Ketika itu saya kebagian merangkum profil Mangku Muriati. Sosok perempuan pelukis tradisional khas Wayang Kamasan di Klungkung yang membuat lukisan mengejutkan berjudul Wanita Karir.

Terlihat sosok perempuan sedang mengajari laki-laki, menunjukkan pekerjaannya sebagai guru. Ada juga perempuan dalam figur wayang mengenakan pakaian resmi jas menenteng tas. Di tengah keseragaman lukisan Kamasan, pengembangan ide untuk merekam kehidupan sosial ke lukisan tradisi sangat menyegarkan dahaga.

Beberapa bulan kemudian, Futuwonder membuat pameran bertajuk Efek Samping: Masa Subur. Judul unik dan mendorong pertanyaan, tebak-tebakan, dan rasa penasaran. Sebelumnya ada serial poster publikasi di medsos dari akun @Futuwonder yang memberi tahu ada undangan (open call) bagi seniman perempuan dan akan diseleksi untuk pameran Efek Samping pada 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali tetapi juga peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Mereka turut mengirimkan karya dan ide terbaik dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Saya tidak menghadiri pembukaan pameran, tetapi untungnya bisa hadir saat diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman Bali mukim di Inggris) pada 27 Oktober 2018.

Belasan orang, laki-laki dan perempuan duduk lesehan. Salah satunya mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden SBY, Marty Natalegawa bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembicara di perhelatan Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), dan pameran ini jadi salah satu mata acara yang didukung.

Ketika tiba di lokasi pameran, mata langsung terarah pada rangkaian plastik bening yang disusun tergantung. Isinya kutipan-kutipan isi Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat pengertian kata “perempuan” dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebuah politik bahasa yang perlu digugat.

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Apakah anak-anak dibiarkan mengutip arti kata perempuan ini dari KBBI, kitab bahasa yang menjadi pedoman formal. Ada beberapa versi KBBI yang rutin diperbaharui, namun uraian kata ini sama saja.

Gerakan Dialektika

Ingatan pun terbang ke dua sosok pemikir dan perangkum pengetahuan. Paulo Freire protes atas “kebudayaan bisu” yang menimpa lingkungannya kala itu. Ini adalah kondisi kultural masyarakat yang memiliki ciri takut mengungkapkan pikiran dan perasaanya sendiri. Ada lagi Socrates yang senang mendengar gagasan orang lain, memertentangkan, kemudian mengeksplorasi menjadi sebuah pemikiran baru.

Futuwonder kemudian adalah wujud gerakan dialektika, untuk mempertanyakan, melawan, dan memberikan pengetahuan untuk keluar dari kondisi kultural “nak mule keto.” Ungkapan dalam basa Bali yang bermakna biarkan saja, sudah dari sononya.

Karya lain dalam Efek Samping ini sangat beragam, mengeksplorasi keramik, kain, game board, dan lainnya. Saya akan bernapas dulu sebelum menyelesaikan merangkum karya mereka. 🙂

Saras Dewi, dosen Universitas Indonesia yang juga menulis puisi dan menyanyi mengingat sosok Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang mukim di Bali. Menurut penulis buku Island of Bali pada 1938 ini, (pada saat itu) semua orang Bali adalah seniman. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari bak seniman, dengan menari, megambel, sembahyang, membuat ragam sarana upakara, dan lainnya.

“Dia memiliki kepekaan pada situsi estetik,” tutur Saras memulai bahasan soal seni. Namun secara sosial kegiatan luar domestik didominasi laki-laki, situasinya menjadi patriarkhi.

Sinta Tantra yang mukim 30 tahun di Inggris merasakan kehidupan berkesenian yang multikultural. Ini berpengaruh pada minatnya pada kebebasan eksplorasi. Tidak ada yang membatasi bentuk seni menurut gender. Ia menyukai street art, membuat mural di gedung dan jalanan.

“Bali sangat turisme, lebih kontemporer di Jogja dan Jakarta,” sebut perempuan muda ini.

Futuwonder memberi ruang untuk jeda sekaligus jalur marathon. Mulai mengenal isunya jika belum familiar dari evolusi kata perempuan dari KBBI terbitan 80an sampai 90an yang sangat diskriminatif. Kemudian mendorong penikmat Efek Samping: Masa Subur untuk sprint, lari kencang atau maraton. Pembelajaran harus dipercepat karena terlalu banyak yang harus dilakukan, untuk bersuara.

“Masa Subur dianggap tanggungjawab rahim. Menerjemahkan kesuburan di luar pengertian tradisional. Kesuburan ingin berkarya, saya lihat tak hanya jadi objek tapi pengetahuan ketimpangan gender masih ada di Bali,” Citra Sasmita memaparkan pemikirannya. Ini adalah sebuah aktualisasi gagasan jadi karya seni.

Karja, pemilik galeri yang juga melukis masih merasakan stereotip dalam karya seni.

Menurutnya sebagai seniman ia mengeksekusi inspirasi. Tapi kemudian ada pengkotak-kotakan, cap tradisi atau turisme?

Futuwonder dibentuk pada awal tahun 2018 oleh empat perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Masa Subur adalah awalnya diajukan untuk salah satu hibah seni, tapi sayangnya tidak lolos. Meskipun gagal dapat dana hibah, tetap dilaksanakan secara swadaya dan swadana.

Tantangan yang masih dirasakan adalah sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya yang tidak mengikuti arus utama estetika dalam ruang yang representatif. [b]

The post Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki appeared first on BaleBengong.