Tag Archives: Seni Rupa

Pameran Bersama Perupa Tiga Negara

Perupa tiga negara menggelar pemaran bersama.

Pemeran ini merupakan ikatan berkesenian antar perupa lintas negara yaitu Malaysia, Indonesia dan Singapura. Negara Singa menjadi tuan rumahnya.

Temanya tentang berpikir positif dengan aktivitas tanpa kekangan dan bebas memilih jalan hidup sesuai apa yang diharapkan.

Masing-masing negara menyertakan perupa. Indonesia mengirimkan 12 perupa, salah satu di antaranya adalah I Made Arya Dwita Dedok. Perupa dari Bali ini menggandeng istrinya yang juga seorang perupa Grace Tjondronimpuno dan perupa Bali yang sering berpameran luar negeri I Ketut Lekung Sugantika.

Dari tuan rumah, sebanyak 17 perupa turut berpartisipasi sementara Malaysia paling sedikit menyertakan perupanya yakni 6 orang.

Pameran ini berlangsung pada 6 Oktober hingga 28 Oktober. Pecinta seni rupa, kolektor berkumpul melihat hasil karya masing-masing perupa.

“Bertemu rekan seniman lintas negara membuka cakrawala senirupa antar perupa itu sendiri,” ujar Dedok yang ikut berpartisipasi selama pameran i Hotel Nuve Heritage tersebut.

Dedok menambahkan pemeran seperti ini membuktikan bahwa sekat dan perbedaan tidak jadi masalah justru satu hati karena lewat seni.

Pameran ini sekaligus menjadi perayaan karya besar oleh perupa dari beragam latar belakang. Mereka melupakan perbedaaan untuk berkolaborasi mengambil isu-isu nyata dalam hidup sehari-hari.

Pameran ini benar-benar kalaborasi yang membungkam segala bentuk intrik masing-masing pembeda baik personal maupun negara. [b]

The post Pameran Bersama Perupa Tiga Negara appeared first on BaleBengong.

Memahami Brutalnya Karya Seni Imam Sucahyo

Karya-karya Imam Sucahyo lekat dengan pergulatan kaum bawah. Foto Cata Odata.

Karya-karya Imam Sucahyo menyampaikan pergulatan masyarakat kelas bawah.

Cata Odata akan memamerkan karya Imam Sucahyo. Sebanyak 72 karya yang dibuat pada 2014-2017 itu menampilkan program preview, scene-to-scene, pemutaran film, dan diskusi sebagai rangkaian acaranya.

Diselenggarakan oleh Cata Odata dan dikurasi oleh Dwi S. Wibowo, Jagat Mawut merepresentasikan karakter karya Imam Sucahyo. Secara brutal, Imam menyampaikan pergulatan masyarakat kelas bawah yang lekat dengan persoalan-persoalan ekonomi, ruang, dan gender yang kompleks.

Banyak pihak mengenal karyanya sebagai art brut, raw art, maupun outsider art. Namun, Imam Sucahyo sendiri tidak pernah peduli pada identifikasi semacam itu.

Pameran ini kemudian hadir untuk membawa pertanyaan-pertanyaan seputar ‘dunia porak poranda’ yang dihadirkan oleh Imam secara gamblang dan bersamaan ke dalam diskusi.

Imam Sucahyo (1978) adalah seorang seniman otodidak yang lahir dan tumbuh di Tuban, Jawa Timur. Ia pertama kali mengenal dunia seni di sekitar awal tahun 2000. Sejak itu karyanya sering diikutsertakan dalam pameran kelompok di Tuban, Surabaya, dan Lampung.

Pada tahun 2014-2016, ia mengikuti pameran kelompok di Cata Odata (Ubud, Bali), Art Expo Malaysia (direpresentasikan oleh Cata Odata), Gallery Le Lieux 37 – kolaborasi dengan Gallery Artmenparis (Perancis), Gallery L’Echarpe (Perancis), Espace Eqart Gallery (Perancis), Paris Outsider Art Fair 2015 (Perancis), Pameran Biennale ke-6 di Museum E?phe?me?re (Perancis), dan Tuban Art Festival (Tuban, Jawa Timur).

Pameran tunggalnya pertama kali diselenggarakan pada 2015, di Bloo Art Space (Padangbai, Bali). Tahun ini, selain berpameran tunggal di Cata Odata, karya-karyanya juga akan tampil di Biennale Jatim (Surabaya, Jawa Timur).

Gambar dan lukisan Imam banyak menggunakan kombinasi dari ballpoint, pensil, krayon, spidol, kolase dan bahkan cat rambut baik di atas kertas maupun sobekan majalah dan juga kanvas. Ia merekam semua peristiwa dalam jenjang hidupnya secara tidak runut dan rumpang di berbagai sisi.

Imam Sucahyo merekam semua peristiwa dalam jenjang hidupnya secara tidak runut dan rumpang di berbagai sisi. Foto Cata Odata.

Selama 14 tahun hidup sebagai pengguna obat terlarang memberi dampak psikosis seperti halusinasi dan paranoia yang mengaburkan batas kesadarannya, termasuk dalam berkarya. Pengalaman merantau di berbagai daerah Indonesia memberi banyak persinggungan sosial terutama seputar pergulatan masyarakat kelas bawah.

Hal itu menjadikan karya-karya Imam sebagai mozaik atas khazanah hidup dari para manusia yang selama ini termajinalkan.

Karya-karya Imam dikurasi oleh Dwi S. Wibowo (1990) yang lahir di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Mengambil studi di jurusan Ilmu Sastra Indonesia, fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Pernah aktif di komunitas sastra Rawarawa.

Dwi mengawali karier menulisnya melalui karya puisi dan cerita pendek. Pada tahun 2009 meraih penghargaan Radar Bali Literary Award, tahun 2013 meraih penghargaan penulis cerita terbaik dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora). Tahun 2014 mengikuti lokakarya kritik dan kuratorial seni rupa yang diselenggarakan Dewan Kesenian jakarta dan Ruang Rupa.

Dia juga pernah bekerja sebagai redaktur di rubrik seni Jogja Review, penulis lepas di Bali Post minggu, dan kontributor tetap untuk majalah Sarasvati. Pada tahun 2017, Ia bergabung Cata Odata sebagai seorang penulis dan peneliti.

Cata Odata (2014) adalah sebuah rumah seni dengan pendekatan interdisipliner berbasis di Ubud, Bali, yang berfungsi sebagai ruang pamer, studio seniman, dan seniman residensi yang memupuk dialog antara seni dan publik melalui program-program yang dibawanya.

Cata Odata menyelenggarakan berbagai aktivitas seperti pameran seni rupa, kelas belajar, workshop kreatif, diskusi terbuka, proyek kolaborasi, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang selalu mengedepankan keyakinan bahwa seni dapat dinikmati oleh siapapun dalam bentuk yang seluas-luasnya.

Gambar dan lukisan Imam banyak menggunakan kombinasi dari beragam media. Foto Cata Odata.

Serangkaian pameran, akan ada pula kegiatan SCENE-TO-SCENE pada Rabu, 11 – Minggu, 15 Oktober 2017, 11:00 – 18:00 WITA.

Diskusi ini untuk mengenali lebih dekat perjalanan kreatif seniman dengan melihat setiap karya- karya terpajang dengan ditemani kurator dan seniman secara langsung. Julukan scene-to-scene dipilih untuk menjabarkan setiap fase dari proses berkesenian seorang seniman.

Akan ada pula pemutaran film BBC One Imagine Series berjudul Turning The Art World Inside Out pada Minggu, 22 Oktober 2017, 18:00 – 19:30 WITA.

Film dokumenter oleh Jack Cocker di mana peononton akan diajak untuk menjelajah bagaimana mengartikan ‘Outsider Art’ di abad ke-21 ini.

Melengkapi keduanya, akan ada CO.Study bertema “Melangkah masuk ke luar: percakapan tentang “Seni liyan” di sekitar kita pada Jumat, 3 November 2017, 18:00 – 20:00 WITA.

Gelombang Art Brut dan Seni Outsider di Indonesia tidak dipungkiri semakin aktif dibanding sebelumnya. Institusi seni internasional atau individu pecinta seni berlomba untuk menemukan ‘talenta baru’, – seniman di luar lingkar utama dunia seni sendiri yang menciptakan karya dengan nilai kejujuran sama atau malah lebih tinggi dari sebelumnya.

Bersama Dwi S. Wibowo sebagai moderator, sebuah diskusi terbuka akan dilakukan untuk membangun dialog seputar percakapan tersebut. [b]

The post Memahami Brutalnya Karya Seni Imam Sucahyo appeared first on BaleBengong.

Eksplorasi Tiada Henti Pegrafis Bali Utara

Komunitas Studio Grafis Undiksha akan berpameran di Bentara Budaya Bali.

Mereka akan menampilkan seni grafis bertema “Explora(c)tion”. Pameran ini akan dibuka pada Sabtu (13/05) pukul 19.00 WITA di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar.

Merujuk tajuknya, yakni “Explora(c)tion”, pameran ini berupaya mempertautkan semangat penjelajahan aksi melalui Studio Grafis Undiksha, wahana pergaulan kreatif yang guyub gayeng itu.

Menurut kurator, Made Susanta Dwitanaya, setiap kreator yang terlibat di dalam program ini dibebaskan mengekspresikan pencarian masing-masing, seturut pilihan teknik, ragam stilistik, maupun estetiknya.

Para pegrafis Bali Utara yang berpameran kali ini antara lain: Hardiman, Kadek Septa Adi, I Nyoman Sukerta Yasa, I Putu Aditya Diatmika, Ni Luh Pangestu Widya Sari, I Gede Riski Soma Himawan, Ni Luh Ekmi Jayanti, Dewa Made Johana, Gde Deny Gita Pramana, Irma Dwi Noviani, I Kadek Budiana, I Putu Nana Partha Wijaya, I Kadek Susila Priangga, Mirza Prastyo, Pande Putu Darmayana, I Nyoman Putra Purbawa, Saupi, I Gede Dwitra Natur Artista, Kholilulloh.

Serangkaian pameran yang berlangsung hingga 25 Mei 2017 ini diselenggarakan pula Workshop serta Diskusi Seni Rupa pada Selasa (23/05). Secara khusus workshop akan mengulas mengenai teknik linocut (cukil kayu). Workshop yang ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa ini dipandu oleh I Nyoman Putra Purbawa bersama para pegrafis lainnya.

Sedangkan dalam diskusi akan dibahas mengenai Seni Grafis dalam Pendidikan Seni bersama Hardiman Adiwinata dan I Made Susanta Dwitanaya.

Seni grafis terbukti telah turut mewarnai konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia. Kehadirannya kini memiliki peluang yang besar untuk berkembang secara dinamis melalui berbagai ragam medium berikut presentasinya; mulai dari karya- karya cukil, stensil, etsa, sablon, serta cetak digital, tentu dengan tetap mengacu dan berpegang pada konvensi seni grafis sebagai seni cetak.

Namun menurut Susanta, dalam konteks seni rupa Bali aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu menggeliat jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia sebut saja di Yogyakarta ataupun Bandung. Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya- karya seni grafis masih terbilang minim, sehingga pewacanaan tentang seni grafis di Bali nyaris sangat jarang terdengar.

Minimnya pewacanaan terhadap perkembangan seni grafis di Bali secara tidak langsung juga menjadi sebuah ruang untuk mempertanyakan ihwal proses regenerasi dalam perkembangan seni grafis di Bali. Di Bali ada beberapa perguruan tinggi ataupun lembaga pendidikan dengan basis kesenirupaan di dalamnya, dan hal ini tentu saja adalah salah satu potensi yang bisa digerakkan lebih jauh untuk melakukan proses tranfer pengetahuan yang dapat menstimulus dalam menggeliatkan gairah para pegrafis pegrafis muda untuk berkarya pada jalur seni grafis.

Peran lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali bisa menjadi salah satu ranah yang penting dalam mengembangkan seni grafis di Bali. namun dari beberapa lembaga pendidikan kesenirupaan di Bali sampai saat ini masih belum ada yang memiiki program studi ataupun jurusan yang khusus seni grafis.

Seni grafis baru menjadi mata kuliah dengan jumlah SKS yang minim, ataupun baru menjadi salah satu pilihan konsentrasi pada mata kuliah Tugas Akhir seperti yang diterapkan di Prodi Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja.

Berangkat dari hal tersebut, maka para perupa yang berasal dari Dosen, Mahasiswa dan Alumni Prodi Seni Rupa Undiksha yang memilih untuk menekuni seni grafis sebagai pilihan kreatif mereka dalam berkarya seni rupa, menggagas sebuah pameran bersama yang terbingkai dalam tema kuratorial “Explora(c)tion”.

Pameran ini menghadirkan bingkai kuratorial yang sedemikian cair dalam artian tidak menghadirkan isu atau tema yang spesifik, hal ini bertimbang pada sangat beragamnya kecenderungan gagasan masing-masing perupa yang tidak mungkin dapat diringkas dalam satu tema yang spesifik.

Dengan demikian bingkai kuratorial ini diarahkan pada usaha untuk merayakan keberagaman gagasan tematik serta upaya untuk menelisik dan mempresentasikan bagaimana ihwal proses eksplorasi gagasan, medium, dan teknik pada karya para perupa masing masing.

Bentara Budaya sendiri secara konsisten menyelenggarakan Kompetisi Trienal Seni Grafis Indonesia sedini tahun 2003 dengan beragam tematik yang terbukti memicu kreativitas para pegrafis. Bahkan pada penyelenggaraan ke-5 tahun 2015 lalu, kompetisi itu diperluas, berskala internasional.

Tercatat 355 karya dari 198 peserta, berasal dari berbagai kota di Tanah Air dan luar negeri meliputi sejumlah negara di Amerika Latin, semisal: Argentina, Brazil, Peru, Kolombia, serta negara-negara lain seperti: Kroasia, Australia, Belgia, Bulgaria, Kanada, Cina, Italia, India, Jepang, Jerman, Malaysia, Mesir, Polandia, Serbia, Spanyol, Swedia, Thailand dan Turki.

Pemenang pertama diraih oleh Jayanta Naskar (India), pemenang kedua adalah Puritip Suriyapatarapun (Thailand) dan pemenang ketiga yakni Muhlis Lugis (Indonesia). Karya-karya seni grafis Jayanta Naskar termasuk yang meraih juara pertama telah dipamerkan di empat venue Bentara Budaya sepanjang tahun 2016, khusus di Bentara Budaya Bali berlangsung 14-27 Januari 2017. Demikian juga pemenang kedua dan ketiga berkesempatan menyelenggarakan pameran tunggal grafis di empat venue Bentara Budaya. [b]

The post Eksplorasi Tiada Henti Pegrafis Bali Utara appeared first on BaleBengong.

Pameran Lukisan Tiga Generasi Padangtegal

Maret ini, Bentara Budaya Bali menggelar program Sedulur Air.

Pameran Seni Lukis Tiga Generasi Padangtegal membuka rangkaian program sepanjang Maret 2017 itu. Pameran menghadirkan 46 karya rupa dari tiga generasi seniman di Padangtegal Ubud.

Melalui karya-karyanya, para seniman ini merespon tematik Air, baik secara simbolis, filosofis maupun cerminan kehidupan sehari-hari masyarakat. Gelar karya yang dikuratori oleh Ketut Budiana, I Made Subrata dan I Made Mastra ini akan berlangsung sampai 21 Maret 2017.

Air merupakan salah satu memori kultural Bali yang memiliki peranan penting dalam tataran keseharian masyarakat, juga secara simbolis dan filosofis. Sebagai sebuah budaya yang memuliakan air, Bali memandang toya dalam aneka perspektif penting: Air mengalir sebagai karunia yang menumbuhkan, menyuburkan sekaligus menyucikan seisi semesta.

Kehadirannya begitu dipuja dalam berbagai ritual keseharian maupun keagamaan— bahkan menjadi kebutuhan utama setiap upacara. Dalam tataran lain, air adalah representasi dari sang Dewata itu sendiri, termanifestasikan dalam keagungan Dewa Wisnu, yang memelihara seluruh alam semesta ini.

Penghormatan kita terhadap air, sang sedulur yang menghidupi manusia dan makhluk lainnya, diuji oleh arus perubahan yang membutuhkan sikap konkrit atas upaya-upaya pelestariannya. Hal inilah yang melatari keseluruhan rangkaian program Sedulur Air yang digelar di BBB.

Selain Pameran Seni Lukis Tiga Generasi Padangtegal, rangkaian program Sedulur Air mengetengahkan juga Pementasan “Seni Jantur Panji Udan” oleh Agus Bima Prayitna; Timbang Pandang “Air Dalam Kata dan Rupa”; Workshop “Komunitas Air Langit” bersama Romo V. Kirjito; serta dialog Bali Tempo Doeloe #16 “Air: Harmoni Bumi dan Diri” yang menayangkan pula dokumenter Bali 1928.

Turut memaknai “Sedulur Air”, akan dipertunjukkan Arja Siki bertajuk “Kampanye Calon Gubernur Air” oleh Cok Sawitri menggunakan visual art dan instalatif art oleh Adrian Tan, merujuk pada “Perayaan Perempuan dan Air”. Pementasan ini menampilkan juga tari “Sesapi Ngundang Ujan” buah cipta koreografer Ida Ayu Arya Satyani.

Melalui perspektif para perupa Tiga Generasi Padangtegal, yang merespon tematik “Sedulur Air” ini, kita diajak untuk meresapi kembali makna air dalam kehidupan masyarakat Bali. Mereka, para pelukis ini, tumbuh dari komunitas tradisi yang mempraktikkan laku keseniannya mula-mula sebagai undagi; masing-masing merespon filosofi Hindu dan mewujudkannya ke bentuk patung, relief maupun ukiran seperti yang digeluti oleh para pendahulunya.

Aspek teknis dan filsafati mengalir terwariskan dalam komunitas ini hingga sejauh tiga generasi, di mana tiap-tiap dari seniman mengetengahkan kosarupa yang khas dengan dirinya, tanpa kehilangan ciri lukis Padangtegal yang dari waktu ke waktu terbukti memperkaya khazanah seni lukis di Bali.

Para seniman tiga generasi tersebut antara lain, Dewa Ketut Ding (1924), Mangku Wayan Nomer (1932), Ida Bagus Rai (1933), I Wayan Tegun (1936), Ni Luh Siki (1940), I Ketut Rawiasa (1950), Ketut Budiana (1950), Nyoman Suradnya (1951), I Made Subrata (1952), Drs. I Made Subrata, M.Si (1952), I Wayan Sulendra (1954), I Made Parna (1955), Nyoman Wardana (1959), Ida Bagus Jembawan (1960), I Wayan Supartama (1962), Ketut Parmita (1963), I Wayan Wartama (1963), I Made Karsa (1964), Nyoman Cheeyork Anna (1966), I Nyoman Darmayasa (1969), I Wayan Mudara (1970), Putra Gunawan (1971), Kadek Suraja (1972), Dewa Gede Artawan (1972), I Nyoman Sudana (1976) dan Ida Bagus Putra Yadnya (1987).

Rangkaian Program
Serangkaian Pameran Seni Lukis Tiga Generasi Padangtegal dan program Sedulur Air diselenggarakan pula timbang pandang bersama para seniman yang terlibat pada Sabtu (11/3) pukul 19.00 WITA.

Akan berbicara perupa I Ketut Budiana dari Komunitas Seniman Padangtegal dan Romo V. Kirjito dari Komunitas Air Langit. Keduanya akan mengetengahkan perspektif dan pembacaan kreatifnya masing-masing atas tema Air ini.

Selain itu, akan tampil pula sebagai pembicara budayawan Wayan Westa, yang akan memaparkan pandangannya seputar peranan Air dalam konteks kultural Bali, berikut pemaknaannya secara simbolis maupun filosofis.

Selain itu, secara khusus, pada Sabtu (11/3) pukul 15.00 WITA dan Minggu (12/3) pukul 10.00 WITA di BBB digelar pula Workshop Bersama Komunitas Air Langit, sebuah komunitas budaya yang berupaya mengembangkan pemanfaatan air hujan atau air langit sebagai air minum sehat.

Pada workshop kali ini akan diulas mengenai proses pembuatan instalasi ionisasi Air Hujan di bawah arahan langsung Romo Kirjito, Agus Bima Prayitna, dr. Frederik Kosasih dan Edgar Nguwisa. Akan dipaparkan pula berbagai upaya dan kajian yang telah dilakukan komunitas ini guna mempelajari Air Hujan secara saintifik eksperimental.

Sejarah mencatat, ada banyak masyarakat yang hidup sehat dengan Air Hujan. Hal itu sudah berlangsung secara turun-temurun puluhan bahkan ratusan tahun. Sebut saja masyarakat di beberapa daerah di Pulau Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di sana air tanahnya bersifat payau, banyak mengandung logam berat, sehingga tidak aman dikonsumsi terus-menerus.

Demikian pula daerah perbukitan kapur Wonosari, Yogyakarta, sulit sekali mendapatkan air tanah. Air hujan pun dimanfaatkan sejak dulu kala oleh masyarakat lereng timur Merapi (ketinggian di atas 400 meter dari permukaan air laut), seperti Kecamatan Kemalang dan Jatinom, Kabupaten Klaten.

Meskipun hawanya dingin, sejuk, tanaman dan hutan hidup subur, namun tidak ada mata air. Menggali tanah hingga kedalaman 10 hingga 40 meter pun tidak menemukan air. Syukurlah Air Hujan tersedia berlimpah pada setiap musimnya.

Romo V. Kirjito, sejak beberapa terakhir telah melakukan riset dan kajian mengenai pengolahan air hujan sebagai air minum sehat. Berdasarkan penelitiannya, Air Hujan di Indonesia memiliki kandungan mineral terlarut (total dissolved solid/TDS) di bawah 20 miligram per liter (mg/l). Angka ini lebih rendah dari batas ketentuan WHO tentang kadar mineral dalam air tertinggi yang boleh dikonsumsi, yaitu 50mg/liter. Penelitian itu juga menyebutkan bahwa semakin rendah nilai TDS, maka air tersebut semakin murni.

Romo Kirjito kemudian mengembangkan teknologi sederhana untuk penampungan dan pengolahan air hujan menggunakan peralatan sehari-hari dengan biaya yang terbilang murah. Atas upayanya membangun kesadaran publik tentang manfaat Air Hujan ini, Romo Kirjito meraih penghargaan Maarif Award (2010) di bidang kepemimpinan lokal, lingkungan dan kemanusiaan dan penghargaan Kebudayaan Kementerian Pendidikan RI (2015) dalam bidang Penelitian Budaya Air Hujan secara sientifik. Di Bali sendiri, atas dorongannya, telah berdiri Komunitas Air Langit Bali yang secara guyub berupaya memasyarakatkan penemuan ini.

RANGKAIAN PROGRAM SEDULUR AIR

Pameran Seni Lukis Tiga Generasi Padangtegal
Pembukaan : Jumat, 10 Maret 2017, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 11 – 21 Maret 2017, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Workshop
BERSAMA KOMUNITAS AIR LANGIT
Sabtu, 11 Maret 2017, pukul 15.00 WITA
Minggu, 12 Maret 2017, pukul 10.00 WITA

Timbang Pandang
AIR DALAM KATA DAN RUPA
Sabtu, 11 Maret 2017, pukul 19.00 WITA
Narasumber : I Ketut Budiana, Romo Kirjito dan Wayan Westa

Bali Tempo Doeloe #16
AIR: HARMONI BUMI DAN DIRI
Tayang Dokumenter Bali 1928 & Timbang Pandang
Selasa, 14 Maret 2017, pukul 19.00 WITA
Narasumber : Marlowe M. Bandem (Koordinator Proyek Repatriasi Rekaman Bali 1928) dan Drs Deny Suhernawan Yusup, MSc. (Dosen Jurusan Biologi Universitas Udayana).

Pertunjukan
PERAYAAN PEREMPUAN DAN AIR
Sabtu, 18 Maret 2017, pukul 19.00 WITA
Menampilkan : Arja Siki “Kampanye Calon Gubernur Air” oleh Cok Sawitri, Visual art & instalatif art oleh Adrian Tan, dan Tari “Sesapi Ngundang Ujan” (koreografer Ida Ayu Arya Satyani)

Sinema Bentara #KHUSUSMISBAR
AIR DAN PESISIR
Pemutaran Film Fiksi & Dokumenter
Sabtu – Minggu, 25 – 26 Maret 2017, pukul 17.00 WITA

The post Pameran Lukisan Tiga Generasi Padangtegal appeared first on BaleBengong.

Pameran Bersama Melampaui Batas Baliseering

Crossing: Beyond Baliseering menghadirkan karya-karya perupa Bali yang melampaui imaji tentang Bali masa lalu atau Baliseering. Foto Citra Sasmita.

Sebelas perupa Bali menghadirkan karya di Negeri Kanguru akhir tahun lalu.

Selain kematangan teknik, mereka juga membawa gagasan untuk mempertanyakan kembali mengenai identitas seni rupa Bali yang telah dikonstruksi dalam politik etis Belanda pada 1920an yang disebut Baliseering.

Politik etis Belanda ini merupakan upaya kolonialiasi terhadap masyarakat Bali. Caranya dengan mengambil peran-peran kekuasaan untuk mengembangkan dan mengeksploitasi kebudayaan Bali serta mengisolasinya dari pengaruh luar etnis Bali.

Pameran perupa Bali di Australia mengusung tajuk Crossing: Beyond Baliseering. Sebanyak 22 karya telah dipamerkan dan menjadi titik acuan bagi seni rupa Bali untuk melompati batas-batas Balinisasi. Pameran di galeri Fortyfivedownstairs, Melbourne, ini dipersembahkan oleh Project 11 dan didukung Multicultural Arts Victoria, Pemerintah Negara bagian Victoria, Australia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Melbourne Australia, dan maskapai Garuda Indonesia.

Pameran ini menjadi momentum penting di penghujung tahun 2016. Wacana dan karya yang dihadirkan tidak hanya menjadi formulasi antara kultur Bali dan tawaran visual di luar konvensional. Tidak menampilkan idiom tradisi sebagai fokus visual yang kerap kali sulit diinterpretasikan oleh penikmat seni yang awam terhadap budaya Bali.

Pameran ini juga menghadirkan pemetaan mengenai sejarah dan akar seni rupa Bali yang masih memberikan dampak dan ekses-ekses baik secara sosio kultural dan kode visual para seniman Bali.

Selama ini, Bali dianggap tidak mempunyai seni rupa kontemporer. Minimnya jumlah artspace dan galeri yang representatif untuk memamerkan karya-karya kontemporer menjadi persoalan kecil yang kerap kali diperbincangkan.

Padahal, banyak faktor yang menyebabkan seni rupa Bali dipandang berada di luar konstelasi seni rupa kontemporer Indonesia. Misalnya citra Bali yang sangat turistik sehingga berpengaruh pada praktik seni rupa yang bertumpu pada arus pasar. Karya-karya yang hadir dalam ruang komersial pun kerap menghadirkan keindahan alam dan imaji kehidupan masyarakat Bali yang disambut dengan laris manis.

Seperti tidak bisa beranjak dari eforia masa lalu, praktik seni rupa Bali masih dinaungi pemujaan terhadap keindahan yang melenakan dan tanpa esensi. Tidak hanya kemolekan alam yang menjadi sumber inspirasi dan daya tarik orang asing datang ke Bali. Eksotika perempuan Bali juga mengalami komodifikasi melalui kartu pos, foto ataupun video dokumenter yang menampilkan tubuh perempuan Bali setengah terbuka.

Sehingga, tidak bisa dipungkiri jika Bali benar-benar menjadi representasi surga bagi para pendatang.

Bali diisolasi layaknya akuarium dengan memperkuat feodalisme dan otonomi raja-raja kecil di dalamnya. Tujuannya untuk menekan gerakan nasionalisme dan pengaruh Islam yang sangat dinamis di Indonesia. Struktur sosial Bali yang diwarnai dengan sistem kasta pun semakin membuat masyarakat Bali lebih tertutup. Dengan mengatasnamakan sakralitas, masyarakat kelas bawah (jaba) menjadi kelas pekerja melalui pelaksanaan ritual dan segala bentuk perayaan dan kesenian demi kepuasan orang-orang kolonial.

Tak dinyana, Clifford Geertz dalam bukunya Negara Teater (1906) menjangkarkan analisisnya mengenai habitus orang Bali yang selayaknya pemain teater, mementaskan simbol-simbol sakral dan upacara sebagai napas utama kehidupannya. Masyarakat Bali kelas bawah kerap melaksanakan peran sosial dan ritual tanpa memahami esensi dan filsafatnya. Sebab, akses filsafat dan pengetahuan dikuasai oleh kaum atas dan para brahmana.

Maka membaca potensi seni rupa kontemporer Bali, merupakan upaya untuk melepaskan diri dari ekses-ekses Balinisasi yang membuat praktek seni rupa di Bali dicap stagnan dan tidak bisa berkembang. Para pelukis Bali dianggap hanya bisa melukis dengan kemampuan teknis yang mumpuni namun tidak memberikan dinamika kebudayaan yang signifikan.

Pameran Crossing: Beyond Baliseering di Australia pada Desember 2016 menghadirkan karya yang melampaui Balinisasi. Foto Citra Sasmita.

Cikal Bakal
Bali sesungguhnya merupakan sejarah cikal bakal seni rupa di Indonesia. Terbukti dengan adanya kunjungan-kunjungan pelukis Jawa yang ingin merasakan sendiri atmosfer kesenian di Bali  seperti Hendra Gunawan, Affandi, Nashar, dkk. Namun, sungguh harus dimaklumi, akibat kolonialisasi ini, para pelukis Bali sulit mengungkapkan gagasan dan mepresentasikan realita sosial dalam karya-karya lukis mereka.

Pada era revolusi, pelukis Nyoman Ngendon hadir dengan tema-tema perjuangan sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda. Namun, ia lekas gugur dalam peperangan sebelum menghasilkan lebih banyak pengaruh kebudayaan melalui lukisan-lukisannya.

Barangkali mesti menunggu seabad lebih untuk memantik gerakan-gerakan senirupa di Bali. Meskipun hanya sekadar letupan membara lalu kian meredup karena benturan wacana dan kondisi pasar, tetapi usaha para perupa Bali untuk merombak kembali identitas kerupaan mereka sungguh patut diapresiasi.

Dalam pameran Crossing: Beyond Baliseering, perupa Wayan Upadana, Budi Agung Kuswara dan Kemal Ezedine menghadirkan keotentikan Bali melalui idiom barong, rangda, dan perempuan Bali tempo dulu.

Perupa Wayan Upadana mempertanyakan posisi orang Bali yang terjebak dalam transisi antara tradisi dan modern. Seperti dalam karya trimatranya berjudul “Si Gendut Pencari Tuhan”. Sebuah patung bertubuh gemuk, berkepala barong duduk dalam posisi meditatif. Cukup menyiratkan pertanyaan-pertanyaan kontemplatifnya sebagai orang Bali. Mengenai kekayaan alam melimpah, dipersembahkan dengan penuh gegap gempita dalam setiap upacara, perayaan, dan ritual dengan segala kompleksitas prosesinya. Namun, lagi-lagi semua itu dilaksanakan oleh orang Bali tanpa memahami apa esensinya, apa tujuan spiritualnya, bahkan cenderung bisa menghabiskan biaya yang cukup besar.

Budi Agung Kuswara dan Kemal Ezedine menghadirkan sosok perempuan Bali tempo dulu sebagai representasi identitas Bali yang dieksploitasi Belanda melalui politik etisnya. Sama-sama menghadirkan posisi orang Bali yang berada di bawah invansi kolonial. Tidak hanya secara teritori, namun menginfeksi lebih jauh lagi hingga ke mentalitas masyarakatnya. Mentalitas inlander.

Selain itu, I Made Aswino Aji dan Slinat hadir dengan instalasi cukup frontal. Mereka menggambarkan asimilasi kebudayaan barat yang mengakibatkan hilangnya identitas orang Bali. Suatu peralihan dari sakral menuju profan. Dari yang berpusat kepada harmoni alam kini beralih kepada yang industrial. Karya-karya mereka sangat bernas menghadirkan realita kehidupan yang dihadapi masyarakat Bali saat ini.

Masih nalam napas street art M. Yoesoef Olla menghadirkan karya seri “Let’s Play Series #1-3” : 3 panel lukisan di atas kulit yang merespon isu-isu global dan politik melalui ikon pop culture. Kondisi sosial yang karut marut ia ungkapkan melalui figur-figur simbolik. Masing-masing membentuk relasi sebab akibat namun menjadi utuh dalam setiap panelnya.

Kemudian Art of Whatever dalam instalasi sofa berukuran 3 meter, “Everyday is Sunday” seperti sebuah parodi bagi masyarakat yang terjebak arus industri. Instalasi sofa tersebut mengajak pemirsa untuk duduk dan santai sejenak, melupakan jam-jam kesibukan mereka.

Karya Citra Sasmita, Ab Initio, Ab Aeterno, dalam pameran Crossing: Beyond Baliseering.

Menggugat Maskulinitas

Berbeda halnya dengan Citra Sasmita, Natisa Jones, I Made Suarimbawa ‘Dalbo’ dan Valasara. Kami menampilkan narasi tubuh, persoalan identitas kebudayaan masuk ke dalam wilayah yang lebih privat–sulit terdeteksi namun begitu krusial mempengaruhi sistem sosial masyarakat.

Saya sendiri menghadirkan lukisan tubuh perempuan yang ditumbuhi kaktus. Judulnya “Ab Initio, Ab Aeterno (Yang Bermula, Yang Tanpa Akhir)”. Sosok perempuan dalam lukisan memotong satu persatu kaktus tersebut. Kaktus merupakan simbolisasi dari phallus atau maskulinitas yang telah secara alamiah menyertai perkembangan kehidupan manusia.

Bagi saya patriarki merupakan permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Termasuk dalam hal pendidikan bahasa daerah yang salah dipahami sebagai bahasa ibu serta bahasa simbolik yang dipakai dalam lingkungan sosial yang kerap kali mensubordinasi perempuan.

Hal yang saling berkaitan juga tercermin dalam karya Natisa Jones. Karya ini mempertanyakan tentang identitas personal seseorang dengan relasi di luar dirinya serta bagaimana emosi dan psikologi antar relasi tersebut saling mempengaruhi. Hal itu tersirat dalam garis-garis ekspresionis yang membentuk figur tidak utuh. Ketidakutuhan figur tersebut justru menjadi kekuatan dan gagasannya mengenai si sosok liyan.

Kemudian I Made Suarimbawa ‘Dalbo’, “Narasi Menunggu Kelahiran” yang berkaitan dengan peran penting perempuan untuk melanjutkan keturunan. Terakhir adalah Valasara, perupa yang telah menerabas batas dua dimensi dalam karya-karyanya dan menjadikannya tiga dimensi melalui teknik emboss dan deboss. Sebuah upaya estetik yang memberikan perspektif baru mengenai penggunaan medium dalam seni rupa.

Pameran Crossing: Beyond Baliseering berlangsung pada 6 – 17 Desember 2016. Meski periode pameran ini cukup singkat, namun tanggapan luar biasa telah diterima para seniman. Para penikmat seni dan audience dari Melbourne yang selama ini terbiasa dengan seni kontemporer Indonesia yang hanya bertumpu pada seni kontemporer Jogja, Bandung dan Jakarta, ternyata cukup terkejut dan terpukau dengan potensi seniman Bali.

“Kami bangga pameran seni rupa kontemporer Indonesia dipresentasikan di Melbourne,” ungkap Mara Sison, kurator pameran Crossing: Beyond Baliseering.

Menurut Mara Sison, Melbourne adalah sebuah kota multikultural, kota yang tidak asing lagi dengan seni kontemporer dari Jakarta, Yogyakarta dan Bandung. Memamerkan karya seniman yang berbasis di Bali adalah langkah berikutnya.

“Ini hanya awal karena kami bertujuan untuk terus mendukung seniman pendatang baru yang berusaha untuk mendobrak batas-batas seni dan persepsi yang telah ada dan mempertanyakan kembali mengenai norma-norma sosial dan budaya,” ujarnya. [b]

The post Pameran Bersama Melampaui Batas Baliseering appeared first on BaleBengong.