Tag Archives: Seni Rupa

Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Bali Yang Binal (BYB) adalah sebuah pagelaran yang lahir dari kritik atas Bali Biennale, medio 2005. Event ini diinisiasi oleh Komunitas Pojok dan Komunitas Seni di Denpasar (KSDD ). Nama Bali Yang Binal sendiri berasal dari parodi Bali Biennale.

Dalam perjalanannya, BYB tumbuh melebihi ekspetasi awal yang dibayangkan. BYB bukan hanya sebagai acara alternatif, namun menjadi wadah berkumpulnya seniman-seniman muda yang kemudian rutin mengadakan acara ini setiap 2 tahun sekali. BYB menjadi even dimana banyak seniman dengan berbagai bidang seni menunjukkan kepiawaiannya masing-masing, baik itu visual, musik, teater dan sebagainya, yang tidak ragu bereksperimen atau bersenang-senang menciptakan karya seni baru.

Kala acara Bali Biennale yang dikritik mati di tahun keduanya, BYB justru mampu melewati jaman hingga ke edisi #7 pada tahun 2017 yang lalu. Pada setiap pagelaran BYB, Komunitas Pojok selalu memilih tema-tema aktual yang dibungkus dalam balutan estetika. Seni dan kritik adalah formula untuk kemampuan keberlangsungan acara ini.

Pada edisi kali ini (BYB #8) yang menjadi tema adalah “Energi Esok Hari”. Kami memilih tema ini sebagai intisari dari semua permasalahan yang sedang terjadi atau yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari apabila dibiarkan. Bali sebagai sebuah pulau kecil yang mempunyai potensi investasi tinggi selalu menjadi obyek yang menggiurkan untuk dieksploitasi.

Benar bahwa Bali telah menjadi mesin yang memutar gerigi industri pariwisata, banyak kebutuhan yang kemudian diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Namun yang kemudian disayangkan dan butuh dikritik adalah keputusan-keputusan instan yang dipilih pemangku kebijakan dan investor dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.

Pra Bali Yang Binal di TBB. Foto Luh De

Keinginan pemerintah dan investor untuk membangun sarana-sarana penunjang pariwisata seperti rencana reklamasi Teluk Benoa, rencana pembangunan tol lintas utara, rencana pembangunan bandara baru di Bali utara, dan lain sebagainya tentu membutuhkan energi yang besar. Dan kebutuhan energi ini hendak dijawab dengan cepat oleh para pemangku kebijakan tadi dengan membangun PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara baru di Celukan Bawang, Buleleng. Sebuah langkah yang tergesa-gesa dan keliru, karena Bali mempunyai potensi energi serta waktu yang cukup untuk beralih pada penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Batubara sudah dikenal sebagai sumber energi fosil yang merusak, tidak hanya dalam proses perubahannya menjadi energi tapi juga sejak proses pengambilannya. Diawali dengan kerusakan hutan, hilangnya ekosistem flora dan fauna, kerusakan di laut dalam proses distribusi dan pengolahan energi. Pembuangan limbah asap dari pembangkit-pembangkitnya serta konflik sosial yang ditimbukannya. Keheranan muncul ketika pulau kecil seperti Bali yang sudah memiliki satu unit PLTU Batubara, masih perlu membangun lagi yang baru. Berbagai pertanyaan baru kemudian muncul membutuhkan jawaban dan solusi, dan bagi kami batubara bukanlah jawaban dan solusinya.

Untuk itu, dengan kemampuan yang kami miliki sebagai seniman, kami ingin berkontribusi dalam mengkampanyekan penggunaan energi ramah lingkungan, menarik dan bergandengan bersama dengan semua pihak yang peduli lingkungan dan Bali, demi hari esok yang lebih baik. Rangkaian BYB #8 telah dimulai dengan gelaran Sawer Nite, sebuah event penggalian dana pada 19–21 April 2019 lalu di Cushcush Gallery. Pada 18 Mei, Pra Bali Yang Binal #8 digelar di Taman Baca Kesiman.

Pada tahapan ini akan dilakukan pemantapan materi, sehingga karya-karya yang dihasilkan pada Bali Yang Binal #8 bisa sesuai dengan tema yang diangkat. Selain itu akan ada juga pameran baliho dari seniman-seniman pendukung Bali Yang Binal #8. Selanjutnya baliho-baliho ini akan dibawa ke Celukan Bawang sebagai media “demonstrasi visual”.

Tahapan selanjutnya adalah pembukaan Bali Yang Binal #8 pada 30 Juni di Taman Baca Kesiman. Pembukaan akan diisi dengan technical meeting untuk seniman-seniman yang berpartisipasi. Pada 6-8 Juli Bali Yang Binal #8 akan mengajak seniman-seniman mural untuk jamming mural langsung di daerah terdampak. Hal ini dilakukan agar seniman-seniman lebih memahami persoalan, dan pada sisi lain kegelisahan masyarakat terdampak terwakili oleh visual-visual yang ditampilkan oleh seniman-seniman tersebut.

Kemudian penutupan Bali Yang Binal #8 akan dilaksanakan pada 14 Juli 2019. Penutupan rencananya diadakan di lapangan Lumintang dengan memamerkan kembali baliho-baliho yang dipamerkan pada pra Bali Yang Binal #8 dan mural jamming di Celukan Bawang dan diiringi oleh beberapa kawan-kawan musisi.

The post Perjalanan Bali Yang Binal untuk Energi Esok Hari appeared first on BaleBengong.

Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata



Senjakala Bali Dwipa karya Made Bayak.

Made Bayak bercerita tentang pameran tunggalnya di Amerika Serikat.

Rencana pameran ini sudah dirancang selama dua tahun. Dari awal tahun 2016 pertama kali proses interview karya dan aktivitas saya sebagai seniman (visual dan musik). Kurator dan penulis pameran ini adalah Peter Brosius, Alden DiCamilio dan Sarah Hitchner.

Judul Pameran old Gods | new Gods in Bali, bisa diartikan bebas Tuhan lama dan baru (di Bali), merupakan gagasan yang membingkai pameran tunggal ini. Berikut penjelasan tentang tema ini.

Berbicara Bali tidak akan pernah habis. Pulau kecil ini sudah sangat terkenal di mana-mana. Bahkan, saat masuk imigrasi di Amerika pun ini terjadi. Ketika saya ditanya “Kamu dari mana?”, saya jawab, “Indonesia..” mereka masih bertanya. Saat saya bilang dari Bali suasana menjadi lebih cair.

Tidak bisa dipungkiri juga popularitas Bali sebagai tujuan wisata dunia adalah sebuah kenyataan dan anugerah luar biasa. Alam yang konturnya berbukit, gunung dan danau, wilayah pedesaan dipenuhi sawah berpetak-petak, sungai-sungai mengalir seperti ular, pantai dengan pemadangan indah nan eksotis, masayarakat Bali yang masih menghidupi tembah sembahyang/pura-pura dengan napas spiritual peninggalan leluhur.

Semuanya menghasilkan banyak sekali bentuk-bentuk kebudayaan yang bisa kita lihat sampai saat ini. Semua gambaran brosur dan promosi wisata Bali adalah benar adanya.

Namun, ada wacana lain yang ternyata sangat miris seiring dengan semua gambaran pariwisata eksotis Bali. Ada “Tuhan” baru menyeruak di antara tuhan “lama” yang menjadi warisan leluhur di Bali. Ada sejarah kelam (pembunuhan masal) yang sampai saat ini masih tersembunyi kemudian coba dihilang ingatkan secara memori kolektif kita.

Peranan politik kebudayaan dengan ritual pembersihan tanah Bali dari hal-hal yang dianggap mengganggu keseimbangan sangat berhasil membuat sebagian besar generasi Bali tertidur dan mimpi indah tentang peninggalan Bali yang adiluhung. Kita disuguhi dan dipaksa mengonsumsi konsep-konsep seperti Tri Hita Karana dan bangga sudah merasa menyeimbangkan hidup dengan alam, manusia dan tuhan.

Karya kolaborasi Made Bayak dan anak istri, Sekala Niskala Bali Tolak Reklamasi

Tidak Terkendali

Padahal, di lain sisi kita membiarkan Teluk Benoa mau diuruk. Kita biarkan wilayah tempat suci kita dijual dan membangun beton-beton baru tidak terkendali. Kita biarkan sumber-sumber air kita kotor oleh sampah. Kita hanya asyik memenuhi hasrat supaya dibilang menjadi lebih modern.

Ada Dewa-dewa baru berwujud dolar dan investasi yang cenderung rakus dalam pawisata massal. Mereka mengabaikan semua aspek manusia, lingkungan dan tuhan di Bali. Wujud Dewa Konsumerisme yang menjangkiti kita adalah seberapa banyak barang baru yang kita punya. Itu menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang.

Hal paling mengkawatirkan adalah berkurangnya pasokan air tanah yang notabene sumber kehidupan bagi kebudayaan Bali. Tercemarnya sumber-sumber air dari sampah plastik dan limbah rumahan adalah dampak nyata yang bisa kita lihat dari ketidakpedulian.

Ini bukan persoalan anti pariwisata atau anti pembangunan, tapi bagaimana kebenaran itu seharusnya diketahui bersama, dipelajari sehingga kita bisa melangkah lebih percaya diri untuk melanjukan kebudayaan Bali. Harusnya kita bisa melahirkan sebuah budaya belajar, terbuka, dan bisa bersikap kritis terhadap diri kita sendiri.

Industry, hidden history and legacy the island of the gods karya Made Bayak.

Tentang Karya

Pameran ini bisa dikatakan kerja sama dengan salah satu dosen di universitas di Atlanta Amerika, University of Georgia (UGA) Departemen Antropologi, tepatnya berada di Athens Georgia. Untuk pameran karya-karya seni akan berlangsung di galeri Athens Institute for Contemporary Art (ATHICA). Pameran akan dibuka pada 25 Maret 2019 dan berlangsung hingga 28 April 2019.

Karya-karya yang dipilih kurator dan penulis merupakan keseluruhan tema dan gagasan yang menjadi ketertarikan saya sebagai seniman. Mulai dari tema lingkungan, pariwisata massal di Bali, kekerasan, kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM), serta keterlibatan seni dan kesenian pada perjuangan Bali tolak reklamasi. Pameran ini akan menyentuh karya-karya musik bersama band GEEKSSMILE di mana saya bergabung sebagai pemain gitar.

Ada sekitar 15 karya dengan berbagai ukuran yang akan dipajang selama pameran berlangsung. Ukuran karya terbesar adalah 2×3 meter dengan judul “Senja Kala Bali Dwipa”. Karya ini bercerita tentang cikal bakal pariwisata Bali dimulai dengan datangnya kapal Belanda KPM membawa orang-orang yang ingin melihat surga terakhir. Kemudian ada cerita bagaimana pembunuhan masal yang menghilangkan 80.000 jiwa manusia Bali dan tak pernah tercatat dalam sejarah resmi yang bisa kita pelajari.

Saya juga memajang sebuah karya instalasi tentang kosmologi Bali yang berkaitan erat dengan berbagai peristiwa di Bali. Kabarnya kosmologi ini pernah dipakai referensi untuk membuang potongan tubuh korban pembataian masal sesuai arah mata angin. Dia juga sempat digunakan sebagai tema perjuangan dan even besar menolak rencana busuk reklamasi Teluk Benoa.

Ada beberapa karya dalam ilustrasi buku Prison Songs bersama kawan-kawan Taman 65 di Denpasar juga akan dipamerkan. Dua buah karya kolaborasi saya dengan anak, Damar Langit Timur dan istri, Kartika Dewi juga dipilih dan diikutsertakan dalam pameran ini. Satu dengan judul “Skala Niskala Bali tolak reklamasi” dengan ukuran 2×2 meter. Satu lagi dengan judul “Reminder of the Nir Gender” dengan ukuran 170x300cm.

Selama pameran berlangsung akan ada banyak kegiatan mulai dari artist talk, diskusi panel, workshop, pemutaran video, diskusi kelas dan lainnya.

Kontak personal jika ada yang ditanya untuk mempertegas adalah dengan saya langsung, Made Bayak, bisa kirim pesan melalui WhatsApps 08174763566. Mohon sabar kalau responnya agak lambat. [b]

The post Pertarungan Tuhan Baru vs Tuhan Lama di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki


Para perempuan muda ini mendobrak kondisi kultural nak mule keto.

Perjumpaan pertama dengan geng Futuwonder ini adalah sebuah sesi setengah hari untuk menulis dan mengarsipkan biografi seniman perempuan Bali ke Wikipedia. Para relawan dibekali beberapa artikel untuk dirangkum dalam beberapa paragraf. Nantinya itu menjadi pintu masuk mengembangkan artikel-artikel lanjutan.

“Sangat sedikit profil seniman perempuan yang tersedia dan bisa diakses publik,” urai Citra Sasmita.

Citra salah satu perintis Futuwonder bersama Seni Savitri, Ruth Onduko, dan lainnya.

Dalam sesi saat itu kami agak terburu-buru membuat konten karena sebagian waktu diisi belajar cara memasukkan dan aturannya dulu di Wikipedia. Namun, sesi itu tetap produktif dan mendorong kami untuk mengenal lebih jauh para seniman perempuan di Bali.

Setelah sesi itu, saya jadi sangat ingin bersua atau berkunjung ke salah satu seniman. Mengenal karya, gagasannya, dan suka duka mereka.

Ketika itu saya kebagian merangkum profil Mangku Muriati. Sosok perempuan pelukis tradisional khas Wayang Kamasan di Klungkung yang membuat lukisan mengejutkan berjudul Wanita Karir.

Terlihat sosok perempuan sedang mengajari laki-laki, menunjukkan pekerjaannya sebagai guru. Ada juga perempuan dalam figur wayang mengenakan pakaian resmi jas menenteng tas. Di tengah keseragaman lukisan Kamasan, pengembangan ide untuk merekam kehidupan sosial ke lukisan tradisi sangat menyegarkan dahaga.

Beberapa bulan kemudian, Futuwonder membuat pameran bertajuk Efek Samping: Masa Subur. Judul unik dan mendorong pertanyaan, tebak-tebakan, dan rasa penasaran. Sebelumnya ada serial poster publikasi di medsos dari akun @Futuwonder yang memberi tahu ada undangan (open call) bagi seniman perempuan dan akan diseleksi untuk pameran Efek Samping pada 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali tetapi juga peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Mereka turut mengirimkan karya dan ide terbaik dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Saya tidak menghadiri pembukaan pameran, tetapi untungnya bisa hadir saat diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman Bali mukim di Inggris) pada 27 Oktober 2018.

Belasan orang, laki-laki dan perempuan duduk lesehan. Salah satunya mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden SBY, Marty Natalegawa bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembicara di perhelatan Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), dan pameran ini jadi salah satu mata acara yang didukung.

Ketika tiba di lokasi pameran, mata langsung terarah pada rangkaian plastik bening yang disusun tergantung. Isinya kutipan-kutipan isi Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat pengertian kata “perempuan” dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebuah politik bahasa yang perlu digugat.

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Apakah anak-anak dibiarkan mengutip arti kata perempuan ini dari KBBI, kitab bahasa yang menjadi pedoman formal. Ada beberapa versi KBBI yang rutin diperbaharui, namun uraian kata ini sama saja.

Gerakan Dialektika

Ingatan pun terbang ke dua sosok pemikir dan perangkum pengetahuan. Paulo Freire protes atas “kebudayaan bisu” yang menimpa lingkungannya kala itu. Ini adalah kondisi kultural masyarakat yang memiliki ciri takut mengungkapkan pikiran dan perasaanya sendiri. Ada lagi Socrates yang senang mendengar gagasan orang lain, memertentangkan, kemudian mengeksplorasi menjadi sebuah pemikiran baru.

Futuwonder kemudian adalah wujud gerakan dialektika, untuk mempertanyakan, melawan, dan memberikan pengetahuan untuk keluar dari kondisi kultural “nak mule keto.” Ungkapan dalam basa Bali yang bermakna biarkan saja, sudah dari sononya.

Karya lain dalam Efek Samping ini sangat beragam, mengeksplorasi keramik, kain, game board, dan lainnya. Saya akan bernapas dulu sebelum menyelesaikan merangkum karya mereka. 🙂

Saras Dewi, dosen Universitas Indonesia yang juga menulis puisi dan menyanyi mengingat sosok Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang mukim di Bali. Menurut penulis buku Island of Bali pada 1938 ini, (pada saat itu) semua orang Bali adalah seniman. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari bak seniman, dengan menari, megambel, sembahyang, membuat ragam sarana upakara, dan lainnya.

“Dia memiliki kepekaan pada situsi estetik,” tutur Saras memulai bahasan soal seni. Namun secara sosial kegiatan luar domestik didominasi laki-laki, situasinya menjadi patriarkhi.

Sinta Tantra yang mukim 30 tahun di Inggris merasakan kehidupan berkesenian yang multikultural. Ini berpengaruh pada minatnya pada kebebasan eksplorasi. Tidak ada yang membatasi bentuk seni menurut gender. Ia menyukai street art, membuat mural di gedung dan jalanan.

“Bali sangat turisme, lebih kontemporer di Jogja dan Jakarta,” sebut perempuan muda ini.

Futuwonder memberi ruang untuk jeda sekaligus jalur marathon. Mulai mengenal isunya jika belum familiar dari evolusi kata perempuan dari KBBI terbitan 80an sampai 90an yang sangat diskriminatif. Kemudian mendorong penikmat Efek Samping: Masa Subur untuk sprint, lari kencang atau maraton. Pembelajaran harus dipercepat karena terlalu banyak yang harus dilakukan, untuk bersuara.

“Masa Subur dianggap tanggungjawab rahim. Menerjemahkan kesuburan di luar pengertian tradisional. Kesuburan ingin berkarya, saya lihat tak hanya jadi objek tapi pengetahuan ketimpangan gender masih ada di Bali,” Citra Sasmita memaparkan pemikirannya. Ini adalah sebuah aktualisasi gagasan jadi karya seni.

Karja, pemilik galeri yang juga melukis masih merasakan stereotip dalam karya seni.

Menurutnya sebagai seniman ia mengeksekusi inspirasi. Tapi kemudian ada pengkotak-kotakan, cap tradisi atau turisme?

Futuwonder dibentuk pada awal tahun 2018 oleh empat perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Masa Subur adalah awalnya diajukan untuk salah satu hibah seni, tapi sayangnya tidak lolos. Meskipun gagal dapat dana hibah, tetap dilaksanakan secara swadaya dan swadana.

Tantangan yang masih dirasakan adalah sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya yang tidak mengikuti arus utama estetika dalam ruang yang representatif. [b]

The post Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki appeared first on BaleBengong.

Merayakan Kebersamaan dalam Kama Bang Kama Petak

Suasana Pembukaan Pameran MJK di Bentara Budaya Bali.

Kama Bang Kama Petak adalah sebuah kesadaran dari mana eksistensi manusia berasal.

Sejumlah perupa lintas asal yang tergabung dalam Malam Jumat Kliwon Art atau MJK Community menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar. Pameran bertajuk “Kama Bang Kama Petak” ini dibuka secara resmi pada Minggu, 23 September lalu.

Selaras tema yang diusung, pameran ini merupakan sebuah upaya MJK Art Community untuk merayakan semangat kebersamaan dan keberagamaan, baik dalam proses cipta mereka maupun kehidupan keseharian. Kama Bang Kama Petak sendiri diyakini ditandai oleh dua unsur hidup yang berbeda tetapi satu sama lain hakikatnya menyatu; sesuai filosofi yang dihayati masyarakat Bali yaitu “Rwa Bhineda”.

Pameran diikuti 28 seniman dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Sumatera Barat, Palembang, Medan, Lampung, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, Kediri, Pemalang, Surabaya, juga Bali. Terdapat 48 karya lukisan dan 4 karya tiga dimensi yang dipamerkan di BBB hingga 4 Oktober 2018 mendatang.

Budayawan Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., turut memberikan pemaknaan atas pameran ini. “Kama Bang dan Kama Petak ini sesungguhnya ada pada diri manusia, sebuah simbolisme Rwa Bhinneda, laki-laki (petak) dan perempuan (bang), atau simbol dari cinta, sebuah tema yang sangat universal. Melihat pilihan tema ini, saya meyakini akan ada sesuatu karya besar lahir dari komunitas MJK,” ungkapnya.

Selaras itu, Made Susanta Dwitanaya, kurator dan pengamat seni rupa, turut mengungkapkan pemaknaan lebih jauh tentang “Kama Bang Kama Petak” sebagai sebuah kesadaran bahwa eksistensi manusia sesungguhnya berasal dari pertemuan dua unsur yang berbeda. Eksistensi manusia dilatarbelakangi oleh dua unsur yang berbeda, bersinergi dan melahirkan harmoni.

Turut memaknai pembukaan pameran ditampilkan pula performing art berupa kolaborasi pembacaan puisi dan permainan suling oleh I Dewa Mustika dan Putu Bonuz Sudiana.

Adapun seniman yang terlibat dalam pameran ini antara lain: Adi Gunawan, Agus Gibbon Priyanto, Agus Putu Suyadnya, Dani Heriyanto, Dedy Sufriadi, Deskhairi, Gusmen Heriadi, Hari Gita, Hayatuddin, I Dewa Made Mustika, I Made Arya Palguna, I Putu Bonuz Sudiana, Iqi Qoror, Jesaya Jerry P, Joni Antara, M. Andi Dwi Iskaryanto, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Norman Hendrasyah, Nyoman Sujana Kenyem, Riki Antoni, Robi Fathoni, Safrul, Seno Andrianto, Suroso Isur, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tofan Muhammad Ali Siregar, Wayan Upadana, dan Wisnu Ari Tjokro.

Wisnu Ari Tjokro, selaku koordinator pameran MJK di Bali, mengungkapkan bahwa ini merupakan kelanjutan dari semangat pameran mereka sebelumnya, yakni “Tulang Rusuk” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta tahun 2017 lalu.

Ia pun mengungkapkan perjalanan MJK selama hampir 10 tahun dengan segala lika liku dan hiruk pikuknya. “Mencari gagasan untuk tema pameran atau mendapatkan titik temu di setiap perjumpaan, selalu dibutuhkan konsistensi dan energi tak sedikit. Menilik kembali semangat itu, kami harus melihat ke belakang dan memulai mencari kesegaran yang harusnya mengembirakan dimasa depan,” ujarnya. [b]

The post Merayakan Kebersamaan dalam Kama Bang Kama Petak appeared first on BaleBengong.

Lukisan sebagai Dialog Budaya Jepang-Indonesia

Foto Danes Art Veranda

Warih Wisatsana tampak serius mengamati lukisan-lukisan di tembok galeri.

Selain penyair itu, pengunjung lain juga menikmati karya-karya pelukis dari dua negara, Jepang dan Indonesia di Galeri Danes Art Veranda, Denpasar pada Jumat, 24 Agustus 2018, sore. Para pelukis itu berkolaborasi dalam pameran bersama menyambut 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia.

Saya berbincang singkat dengan Warih perihal kolaborasi seni apik ini. Menurutnya, sebagai peristiwa seni kegiatan ini layak diapresiasi karena membuka kemungkinan kreatif lintas bangsa. “Bali memungkinkan untuk dilaksanakannya kolaborasi lintas bangsa. Ini harus dijadikan bagian kekuatan masyarakat Bali dalam pergaulan global yang berkeadilan,” ujarnya.

Warih menambahkan, pergaulan kreatif lintas bangsa ini sesungguhnya sudah jadi pengalaman sejak dulu. Misalnya merujuk pada pendirian Pitamaha, perkumpulan para seniman seluruh Bali yang dibentuk Tjokorda Gede Agung Sukawati pada 1936 dan berpusat di Ubud, serta kehadiran seniman serta intelektual luar di Bali.

“Kesadaran ini mestinya menjadi landasan bersama. Baik oleh pengambil kebijakan seni budaya, ruang publik, seniman, kurator, dan masyarakat pendukung bidang seni dimaksud,” katanya.

Sejarah Panjang

Hubungan budaya antara Jepang dan Indonesia sesungguhnya memiliki akar sejarah. Di masa silam, sebelum hubungan diplomatik kedua negara diresmikan, Pemerintah Jepang mendirikan sebuah Pusat Kebudayaan yang disebut sebagai Keimin Bunka Shidosho pada 1 April 1943.

Lembaga kebudayaan ini bekerja untuk mengasah ketrampilan dan memperluas wawasan kesenian bangsa Indonesia. Aktivitas seni budaya seperti sastra, musik, tari, drama, film dan seni lukis mendapat ruang pengembangannya.

Catatan sejarah di masa pendudukan Jepang tidak harus dibaca dalam konteks sejarah kolonial semata, namun juga bisa dilihat bagaimana di masa tersebut kesenian berkembang. Di masa itu, dalam kurun 3,5 tahun, telah diselenggarakan puluhan pameran yang berlangsung meriah di tempat khusus atau hanya di pasar malam (rakutenci), dan biasanya disertai penghargaan karya seni lukis terbaik.

Pada masa itu pula, pelukis Indonesia mulai mengenal banyak teknik baru dari para seniman Jepang. Dari Saseo Ono (karikaturis), seniman Indonesia mengenal mural dan mulai membuat sketsa cepat di luar studio. Sementara Takahashi Kono (desainer grafis) memperkenalkan teknik montase dan kolase di bidang seni fotografi dan desain. Takahashi Kono juga menjadi pengarah desain untuk media massa Indonesia, semisal Djawa Baroe.

Mengutip siaran pers EMP Gallery dan Danes Art Veranda selaku penyelenggara, hubungan diplomatik bilateral antara Jepang dan Indonesia telah lama dilakukan. Hubungan dibuka sejak April 1958 melalui penandatanganan perjanjian perdamaian antara Jepang dan Indonesia.

Pada tahun yang sama juga ditandatangani perjanjian rampasan perang. Sejak saat itu hubungan bilateral kedua negara berlangsung baik, akrab, dan terus berkembang tanpa mengalami kendala berarti.

Bahkan, kini berada taraf “mitra strategis” menyusul kesepakatan The Strategic Partnership for Peaceful and Prosperous Future pada 2006 dan Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement pada 2007.

Hubungan bilateral kedua negara meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya di bidang politik dan ekonomi, tapi juga kebudayaan. Kebudayaan menjadi salah satu jembatan untuk mencapai keberhasilan diplomasi.

Foto Danes Art Veranda.

Perayaan Hubungan

Kini, di tahun 2018, hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia memasuki usia yang ke-60 tahun.

Pameran di Danes Art Veranda termasuk salah satu upaya merayakan hubungan tersebut dengan melibatkan 10 seniman Indonesia dan 53 seniman Jepang. Sepuluh seniman Indonesia tersebut adalah Anthok S, Diwarupa iNm, Herry Yahya, Galung Wiratmaja, Made Budhiana, Made Gunawan, Made Supena, Rendra Samjaya, Tatang B.Sp dan Winarto.

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini meliputi karya lukis dan patung. Pilihan tema pada keseluruhan karya sangatlah beragam, di antaranya tema sosial, binatang, landscape, still life, tradisi, kaligrafi, dan abstrak, dengan pendekatan teknik yang juga beragam.

Pada saat yang sama, dalam pameran ini akan ditampilkan pula 36 lukisan karya anak-anak Bali Japan Club dan 10 lukisan para pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri 81 Jakarta.

Setelah dipamerkan selama dua hari di Bali, sepuluh karya seniman asal Indonesia akan dipamerkan di Jepang selama sebulan. Inisiatif budaya melalui pertukaran karya seni semacam ini diharapkan merupakan pendekatan terbaik untuk memperkenalkan kepada masyarakat kedua negara tentang khazanah seni budaya masing-masing.

Pertukaran Generasi

Koichi Ohashi, Deputi Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar mengatakan, kegiatan pameran bersama ini merupakan ajang pertukaran generasi muda antara Jepang dan Indonesia dalam bidang seni.

Koichi menambahkan, dipiilihnya kegiatan seni dalam peringatan hubungan diplomatik ini karena antara Jepang dan Indonesia banyak memiliki kesamaan. “Hal itu bisa dilihat dari lukisan-lukisan karya seniman dua negara. Karya mereka menggambarkan budaya masing-masing negara dan tak sedikit kesamaan yang dimunculkan,” katanya.

Pengalaman sejarah yang panjang antara Jepang dan Indonesia di satu sisi, dan kerja sama di forum-forum seni rupa yang yang melibatkan seniman kedua negara yang kini semakin intensif di sisi lain, pastilah menjadi diskursus penting bagi masyarakat budaya kedua belah pihak. [b]

The post Lukisan sebagai Dialog Budaya Jepang-Indonesia appeared first on BaleBengong.