Tag Archives: seni kaus

Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca

kaos2/ka·os/ n keadaan kacau-balau. (https://kbbi.web.id/kaos-2-)

“Arak Connecting People” sebuah kalimat di salah satu kaus, plesetan dari salah satu raksasa telekomunikasi. Di awal kemunculan telepon genggam menjadi merek yang menghiasi tangan, telinga, dan saku masyarakat. Merek ini awalnya begitu berjaya, tetapi akhirnya limbung dan kini entah ke mana.

Toh, jargon dalam kaus tersebut masih mudah ditemui dalam lingkaran pergulan hingga kini.

Arak merupakan salah satu alkohol lokal. Minuman ini berhasil membuat lingkaran-lingkaran yang melahirkan obrolan konyol hingga perbincangan serius. Dari persoalan ringan koin jatuh hingga persoalan berat tentang negara bahkan agama.

Lingkaran-lingkaran yang tidak berhasil dibentuk secara turun temurun, bertukar pendapat hingga gagasan. Jauh sebelum merek yang mengklaim menghubungkan orang tersebut hadir dan semakin memisahkan setiap individu dalam ruang-ruang privat. Ruang yang membuat kebijakan publik pun menjadi urusan personal masing-masing, dan harus diselesaikan sendiri-sendiri.

Baju kaus tersebut tentu tidak hadir hanya sekadar memplesetkan sebuah jargon, tapi menggambarkan bagaimana jemawanya sebuah perusahaan mengklaim dirinya begitu berjasa menghubungkan setiap orang. Sementara ada hal kecil seperti arak (dan alkohol lokal lain seperti tuak, sopi dll) yang lebih dahulu melakukannya dan tentu saja menghubungkan dalam arti sebenarnya.

Tidak hanya sebuah suara ke telinga, tetapi menghubungkan dalam bentuk lebih intim, kehadiran seseorang dalam sebuah lingkaran. Kehadiran yang memungkinkan pertukaran pendapat dan gagasan di tempat yang sama. Mempererat lingkaran menjadi sebuah kelompok dan membuka kemungkinan bergerak menjadi kesatuan.

Melampau Jarak

Kata “connecting” yang didefinisikan oleh merek itu hanya membuat setiap orang terhubung melampaui jarak (pak pos sudah lakukan lebih dahulu) tapi mengabaikan kehadiran secara fisik. Tanpa disadari itu membuat setiap orang larut dalam persoalan dan kesendiriannya masing-masing. Padahal kehadiran satu sama lain bisa memunculkan dan menumbuhkan solidaritas.

Di barisan baju kaus yang lain sebuah kalimat tidak kalah nyentil juga hadir, “Dicari agama murah meriah” tertera di baju kaus belel yang sudah pudar, entah berapa kali perlakuan kering-cuci-pakai. Perlakuan yang bisa jadi timbul akibat si pemilik kaus harus bekerja keras memenuhi keinginan agama yang nyatanya tidak murah.

Baju kaus yang menyentil bagaimana gemercik rupiah harus dikeluarkan untuk membiayai keberlangsungan pesta sebuah agama. Menemukan agama yang murah meriah tentu menjadi sebuah misi mustahil. Kepercayaan yang diyakini akhirnya dilembagakan dalam sebuah agama akan memunculkan biaya. Biaya yang harus dikeluarkan pemeluk agama walau Tuhan tidak pernah menuntut.

Bahkan kalimat “tuhan maha pemurah” menunjukkan bagaimana kasih tuhan sering kali didengar walau pada kenyataannya tetap saja biaya harus dihadirkan untuk menjaga eksistensi agama tersebut.

Ada juga “Naskleng” baju kaus merah dengan font tulisan dan logo mirip dengan merek yang diplesetkan dari kata tersebut. Di bagian belakang ada sebuah kalimat ”acces to water sould NOT not be a public right”, sebuah kutipan dari Peter Brabeck, CEO Nestle (saat itu).

Naskleng dengan seekor burung terbaring mati adalah protes dari pernyataan itu.

Sosok pengusaha dengan kekuatan modalnya, secara sepihak dan seenaknya melihat dan menganggap air, kebutuhan utama semua makhluk hidup sebagai sebuah komoditi yang bisa dijual seenaknya. Sekali lagi bagaimana suara-suara gerah muncul dan berseliweran di antara kelakuan perusahan besar dengan kekuatan modal mereka.

Tidak ada banyak suara dari beragam kekacauan akibat kerakusan pengusaha dengan modalnya yang berhasil berkongsi dengan pemerintah. Membuat kebijakan hukum yang pada kenyataannya merebut ruang-ruang hidup warganya.

Informasi tentang pameran Kaos Keos. Foto Baskara

Miris

Ada yang miris dan menumpahkan lewat kaus, bahwasanya republik ini tak seperti “republic indomie”, ketika semua dikelola dan diorientasikan secara instan. Juga kalimat kutipan puisi Wiji Thukul “Ini tanah airmu di sini kita bukan turis”. Sampai plesetan cK (circle) menjadi circle Kleng, suara protes invasi retail 24 jam.

Ada pula kaus plesetan BALI “Bali Amblas Lantaran !nvestor” (tanda seru mewakili I ). Juga teriakan warga Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen yang merusak alam, dan warga Banyuwangi yang menolak tambang emas merenggut Gunung Tumpang Pitu. Kaus penolakan warga Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut pencabutan Perpres 51 Tahun 2014 cukup banyak dari beragam daerah dengan desain masing-masing.

Teriakan seorang anak yang kehilangan ayahnya di masa rezim Suharto yang otoriter, hingga teriakan penolakan pembangunan PLTU Batu Bara di Celukan Bawang di rezim Jokowi yang bebal.

Semua suara dari berbagai lapisan warga dari berbagai wilayah yang termuat dalam baju kaus berkumpul, membentuk sebuah barisan. Menunjukkan bahwa ada sikap kritis di antara dominasi penguasa pengusaha. Lahir kesadaran kritis yang menyeruak di antara sikap pengabaian dan abai berjamaah. Ada yang mengepalkan tangan dan melawan di antara ketakutan dan kepatuhan yang melanda.

Suara kritis perlawanan, dari masalah lingkungan, desakan adat dan tradisi, kuasa modal, kelakuan penguasa (pemerintah). Suara kecil yang menggendor dominasi perampasan ruang hidup yang terjadi. Suara dari masa ke masa, dari era Taring Padi yang baju kausnya telah belel, hingga kini ke era baju kaus Bali Tolak Reklamasi yang masih kinclong.

Barisan baju kaus ini dipajang, ditata berundag hingga menjadi sebuah karya instalasi berjudul “Kaos Keos” dari Agung Alit yang menghiasi halaman belakang Taman Baca Kesiman. Karya instalasi ini dibuat dan dipertontonkan dalam rangkaian Pesta Baca, perayaan ulang tahun yang ke-5 dari Taman Baca Kesiman. Karya yang mengingatkan bahwa baju kaus bukan hanya sebuah sarana untuk tampil gaul, tetapi juga media untuk menyuarakan sikap. Menyuarakan keberpihakan.

Sebuah karya yang kemudian tanpa disadari mendokumentasikan bagaimana suara-suara itu lahir dan terus didengungkan. Dari satu masa ke masa lain, dari generasi ke generasi berikutnya terhubung lewat media baju kaus. berhasil dikumpukan dan menjadi sebuah karya instalasi .

Sebuah karya seni instalasi bagaimana Sukarno sebagai proklamator dibandingkan dengan SiBuYa (SBY) sebagai reklamator, presiden di balik terakomodasinya ide reklamasi Teluk Benoa. Bagaimana perhatian seharusnya lebih diberikan pada dunia (bumi) bukan bank dengan rayuan kredit-kredit murah yang memenjara setiap orang pada kewajiban membayar bunga dari setiap kredit yang mereka dapatkan. “More World, Less Bank” hingga sentilan “For Sale, otak masih waras dijual karena jarang dipakai.”

Teriakan warga bahwa Bali akan hancur ketika sawah sebagai dasar tradisi dan budaya punah “Sawah punah, Bali benyah” sampai parodi Visit Bali Years.

Instalasi “Kaos Keos” menjadi gambaran bagaimana kekacauan situasi sosial jika kekuasaan modal (pengusaha) didukung penguasa (pemerintah) telah mengeksploitasi alam dan merenggut nilai-nilai warga. Ruang hidup mereka direbut. Alih-alih berpihak dan melindungi mereka sebagai kesatuan ruang-manusia yang dihidupi, malah merenggut ruang dan merampas ruang tersebut.

Jika suara-suara dalam baju kaus akhirnya bisa berkumpul dan berteriak bersama, semoga juga gerakan-gerakan perlawanan di setiap daerah bisa berkumpul, bersatu, dan saling menyuarakan. Bukankah Belanda berkuasa sedemikian lama akibat perlawanan terlokalisir di daerah, tidak bersatu. Bersatu dengan satu tujuan, merebut kembali ruang hidup yang dirampas penguasa-pengusaha dan menunjukkan suara rakyat bukan suara yang bisa dengan mudah diabaikan.

Semoga seni instalasi Kaos Keos bisa memicu perlawanan yang awalnya gelinding kecil menjadi sebuah gelindingan bola salju. Bisa menghancurkan dominasi oligarki dan kekuasaan rakus, bagaimana nyala kecil bisa bisa berkobar menjadi api yang berkobar untuk membakar kerakusan kongsi pengusaha-penguasa.

Ada teks di seni instalasi ini yang tidak kalah penting, “Kaos keos ulian bansos” dan “Wangun zat kimia lokal Bali.” Jika bansos memunculkan bentuk bantuan yang memanjakan, pembungkaman serta penundukan, mengebiri kesadaran dan sikip kritis warga. Penggunan zat kimia serta eksploitasi alam Bali sama kencangnya dengan jargon pemerintah yang menggunakan frase lokal.

Kebijakan yang akan membuat Bali harus menanggung beban infrastruktur atas nama pembangunan, kemajuan, dan kemakmuran masyarakat. Silakan cari tahu bagaimana rancang bangun yang mereka rencanakan untuk panglima yang bergelar, Industri Pariwisata”. [b]

The post Kaos, eh Kaus, yang Keos di Pesta Baca appeared first on BaleBengong.