Tag Archives: SENI

Kritik Kebudayaan (Kesenian) Bali yang Involutif

Salah satu karya dalam Bali yang Binal #4. Foto Art of Whatever.

Saya masih ingat betul kritik kami pada PKB media 2001.

Kami, saya dan beberapa teman, dengan keberanian dan sedikit nekad mengkritik Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai Pesta Kapitalisme Bali. Saat itu, kampus ISI Denpasar hanya dijadikan tempat parkir. Tertulis di plang besi di pinggir jalan bukannya “Hati-Hati ada Upacara Adat”, tetapi “Parkir ISI Denpasar”.

Menyedihkan. Institusi kesenian terpuruk hanya menjadi lahan parkir.

Pada saat itu juga, even “Mendobrak Hegemoni” berlangsung pada Februari 2001. Pameran ini lumayan membuat heboh dunia kesenian dan kebudayaan di Bali. Sebelumnya, mengiringi gerakan Mendobrak Hegemoni, Komunitas Pojok berpameran keliling di ruang-ruang publik bertajuk “Fuck Seni Kapitalis” yang mengkritik dunia seni visual Bali yang berkubang dalam labirin kapitalisme (baca: pariwisata).

Jejaring dan kuasa seni visual Bali adalah potret dari kemandegan kritik kebudayaan itu sendiri. Eksponen gerakan Mendobrak Hegemoni kemudian mendirikan Klinik Seni Taxu dan menggebrak dengan pameran Memasak dan Sejarah pada Juni – Juli 2004.

Belakangan, Komunitas Pojok dan beberapa komunitas kesenian lainnya menginisiasi Bali yang Binal sejak 2005 untuk mengkritik pelaksanaan Bali Bienalle yang hanya berlangsung sekali dan terkubur entah ke mana.

Hingga kini, Bali yang Binal terus berlangsung.

Sependek pengetahuan saya, gerakan Mendobrak Hegemoni, Pesta Kapitalisme Bali, dan Bali yang Binal yang kemudian melahirkan Komunitas Pojok dan Klinik Seni Taxu (alm) inilah gerakan kritik kebudayaan Bali kontemporer. Pada saat itu, dunia kritik kebudayaan Bali sunyi senyap tanpa gebrakan apapun (hingga kini?).

Saya mungkin mensederhanakan berbagai even lain yang megah dan dianggap penting pada masa itu. Namun, sependek pengetahuan saya, dunia kritik kebudayaan (kesenian) Bali selalu malu-malu menunjukkan kritik kerasnya. Yang terjadi adalah involusi (pengulangan) even-even kesenian tanpa spirit berarti.

Pencanggihan seni yang mengabdi kepada kepentingan “budaya pariwisata”, yang seolah tidak menawarkan apapun dalam pergolakan kritik kebudayaan Bali. Layaknya mesin dan rutinitas. “Pang ade gen pameran.”

Jika disebutkan terjadi kemandegan, rutinitas pameran selalu menghebohkan pemberitaan media massa dan gosip media sosial. Even-even seni dan kebudayaan berlangsung tiada henti.

Namun, apa yang terjadi setelah itu? Tidak lebih dari rutinitas yang tanpa menawarkan kritik apapun. Adakah yang bisa kita renungkan mendalam dalam membingkai kritik kebudayaan Bali kontemporer? Bagaimana gerakan kritik kebudayaan ini terwakili dalam event Pesta Kesenian Bali misalnya?

Mesin Kebudayaan

Hanya dengan oli untuk melumaskan mesin kebudayaanlah manusia Bali bisa hidup dan bertaruh di daerahnya sendiri. Berbagai jargon-jargon pasca Ajeg Bali kini hadir berlimbah. Salah satunya adalah Nangun Sad Kertih Loka Bali.

Selain itu, gempuran hibah-hibah untuk praktik ritual masyarakat Bali hadir silih berganti. Benteng kebudayaan Bali, desa adat, dibuatkan peraturan daerah khusus sebagai pondasi menjaga kebudayaan Bali. Penguatan kebanggaan sebagai orang Hindu Bali dengan berpakaian adat dan aksara Bali terus dipompa.

Berbagai ormas dan politisi juga berkomentar nyaring untuk pelestarian kebudayaan Bali.

Wacana pelestarian dan penguatan kebudayaan kembali nyaring terdengar. Samar-samar, saya menduganya tidak berbeda dari suara sebelumnya, saat Ajeg Bali latah terucap. Fanatisme lokal dan ancaman keterdesakan menjadi amunisi pemompa sentimen ke-Balian yang ampuh.

Tokoh-tokoh publik, dengan sadar saya kira, memainkan ini untuk mengaduk emosi orang Bali yang sedang panik terhimpit.

Saya menaruh curiga jika kita selalu berlindung di balik kebudayaan dan melumaskannya terus-menerus, tanpa adar kita telah menggadaikan pada suatu hal yang kita pahami samar-samar? Apa bentuk menjaga kebudayaan Bali? Apa imajinasi kita tentang pelestarian kebudayaan?

Jika imajinasi kita masih samar-samar dan anti-kritik, kita akan perlahan, tetapi pasti terjebak menjadi manusia picik. Berpikir pragmatis dan sing nyak ruwet (tidak mau ribet) adalah awal mula kehancuran Bali.

Berbagai jargon dan mesin kebudayaan yang terpapar kini, menarasikan wacana tunggal anti-kritik. Seolah-olah cinta kebudayaan Bali tetapi menepikan beberapa jejak-jejaknya yang dianggap “kiri” dan tidak penting. Jejak kekerasan 1965, ormas dan politik, dan saling tikam antar sesama manusia Bali harus disimpan dalam selimut kecintaan terhadap budaya Bali yang adilihung dan cinta damai.

Jika demikian adanya, generasi yang dihasilkan adalah generasi pragmatis, dangkal, sing nyak ruwet tersebut. Kritik dan meresapi jejak-jejak yang tersingkir dalam politik kebudayaan Bali dianggap tidak berpikiran ke masa depan.

Ironis.

Apakah even kebudayaan megah bertajuk PKB menghadirkan ruang untuk kritik kebudayaan tersebut? Saya pesimis. Saya justru melihat harapan itu justru muncul dengan geliat ruang-ruang publik yang menjadi oase dari involutifnya gerakan kritik kebudayaan Bali. Hadirnya Taman Baca Kesiman, Komunitas Mahima (Buleleng), Rompyok Kopi (Jembrana), Rumah Sanur, Kulidan, dan yang lainnya menyemai kritisisme generasi muda Bali.

Gerakan ForBali Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjadi medium yang penting untuk memahami pergolakan kritisisme generasi muda Bali. Di samping itu, hal yang juga penting diperhatikan adalah transmisi gerakan sosial yang menyentuh organisasi sekaa teruna (organisasi pemuda desa) dan Desa Adat. Saya melihat ada oase baru dalam menyemaikan gerakan social dan kritisisme dalam Bali kontemporer.

Berkesenian di tembok adalah petualangan menyimak kegalauan manusia Bali. Lukisan Komunitas Pojok.

Kritik Kebudayaan

Namun, jika kita melihat even-even kebudayaan dan kesenian akbar juga terperangkap dalam wacana mesin kebudayaan ini. Rangkaian pesta tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) setali tiga uang. Pesta tahunan ini tidak ubahnya seperti mesin dalam rutinitas kebudayaan Bali.

Karena sudah menjadi mesin dan rutinitas, kehadirannya tidak memberikan pelajaran dan refleksi apapun dalam dunia kritik kebudayaan Bali. Tidak heran yang terjadi tidak hanya kemandegan kritisisme, tetapi alpa untuk memikirkan kritik. Hampir mustahil gerakan kritik kebudayaan dalam Mendobrak Hegemoni atau Komunitas Pojok direnungkan dalam-dalam.

Kehadiran pesta kebudayaan Bali ini juga melegetimasi apa yang disebut oleh Foucault (via Aditjondro, 1994) sebagai inisiatif “kekuasaan resmi” yang selalu mendukung dan mengembangkan “pengetahuan resmi.” Kurang lebihnya, inilah pentas puncak-puncak kesenian daerah yang ditampilkan selama sebulan perhelatan pesta.

Berbagai pentas kesenian berlangsung, tetapi tidak begitu dengan transmisi kebudayaan yang terjadi di tengah masyarakat. Jika pondasi yang ditanamkan adalah proyek, memantik gerakan sosial kebudayaan adalah kemustahilan. Kita akan tetap saja terhenti pada persoalan pelestarian kesenian dan “memelihara” stabilitas kebudayaan. Tanpa belajar dari kritik.

Praktik kebudayaan juga menafikkan kelahiran kritikus-kritikus kebudayaan (kesenian) yang bernas. Yang ada hanyalah akademisi, seniman, dan kritikus yang dengan pongahnya menghamba kepada kekuasaan. Mentalnya adalah sebagai tukang cap akademik kegiatan kebudayaan dan kesenian.

Ini yang memprihatinkan di Bali.

Saya meyakini ada yang hilang dalam rutinitas praktik kebudayaan resmi yang berlangsung dalam PKB atau even kebudayaan lainnya. Saya kok melihat even-even kesenian cap pemerintah tidak ubahnya sebagai proyek mekanik (mesin) yang tanpa naluri kritisisme. Keinginan besar untuk menarasikan kebudayaan, khususnya kesenian Bali, adalah hal yang umum dan abstrak.

Jika suatu wacana terbangun secara umum dan abstrak, semakin umum pula kekuasaan yang menyertainya, semakin terbuka pula munculnya bentuk-bentuk wacana dan kekuasaan alternative di aras lokal.

Saya masih merindukan kehadiran wacana-wacana kebudayaan Bali yang terempas—tersisih dari “kebudayaan dan pengetahuan resmi” yang sedikit tidaknya direpresentasikan dengan Mendobrak Hegemoni, Fuck Seni Kapitalis, atau Pesta Kapitalisme Bali, dan gerakan lainnya.

Hanya dengan berefleksi dan membuka kritik Bali akan selalu hidup sebagai spirit yang terus bergerak, bukannya Bali yang terus-menerus merindukan mesin kuasa kebudayaan bernama pelestarian. [b]

The post Kritik Kebudayaan (Kesenian) Bali yang Involutif appeared first on BaleBengong.

Energi Hari Esok Bali dari Bali yang Binal

Kami tetap berdiri ketika yang dikritik sudah mati.

Bali yang Binal (disingkat BYB) adalah sebuah festival seni yang lahir dari sebuah kritik pada Bali Biennale di medio 2005. BYB diinisiasi para seniman muda yang waktu itu tergabung dalam Komunitas Pojok dan Komunitas Seni di Denpasar (KSDD).

Nama Bali yang Binal sendiri adalah parodi dari Bali Biennale. Ketika Bali Biennale mati di tahun pertamanya, BYB justru mampu berjalan hingga ke edisi #7 pada 2017 lalu. Sebagai sebuah festival dua tahunan yang terlahir dari kritik, BYB selalu membawa tema spesifik yang terbungkus dengan baik secara estetik.

Pada edisi kali ini BYB mengangkat tema “Energi Esok Hari”. Tema ini dipilih sebagai intisari dari semua permasalahan yang sedang atau berpotensi menjadi masalah di masa depan. Bali mempunyai potensi investasi tinggi yang selalu menjadi obyek menggiurkan untuk dieksploitasi karena peran pentingnya dalam industri pariwisata.

Banyak kebutuhan diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Namun, yang kami sayangkan dan butuh dikritik adalah keputusan-keputusan instan pemangku kebijakan dan investor dalam menentukan arah pembangunan pariwisata

Keinginan pemerintah dan investor untuk membangun sarana-sarana penunjang pariwisata seperti rencana reklamasi Teluk Benoa, rencana pembangunan tol lintas utara, rencana pembangunan bandara baru di Bali utara, dan sebagainya tentu membutuhkan energi yang besar.

Kebutuhan energi ini hendak dijawab dengan cepat oleh para pemangku kebijakan tadi dengan membangun sebuah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara baru di Celukan Bawang, Buleleng. Sebuah langkah yang tergesa-gesa dan bagi kami keliru, karena Bali mempunyai potensi energi serta waktu cukup untuk beralih pada penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Batubara sudah dikenal sebagai sumber energi fosil yang merusak. Tidak hanya dalam proses perubahannya menjadi energi tapi juga sejak proses pengambilannya sampai distribusinya. Berbagai pertanyaan baru kemudian muncul membutuhkan jawaban dan solusi, dan bagi kami batubara bukanlah jawaban dan solusinya.

Sawer Nite

Untuk itu kami menarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan yang kami miliki sebagai seniman, ingin berkontribusi dalam mengkampanyekan penggunaan energi ramah lingkungan. Bergandengan bersama dengan semua pihak yang peduli lingkungan dan Bali, demi hari esok yang lebih baik.

Dalam setiap helatan BYB (hampir) selalu diawali dengan Sawer Nite, sebuah proses penggalangan dana secara swadaya. SawerNite juga menjadi pintu gerbang rangkaian acara selanjutnya yaitu Pra-BYB (pemantapan materi bagi para seniman), pembukaan (sekaligus Technical Meeting ), jamming mural dan kolaborasi seni, serta Malam Seni sebagai penutup.

Pada setiap kegiatan Sawer Nite kami menjual berbagai karya seni dari seniman-seniman pendukung, menjual merchandise ataupun membuat pertunjukan seni yang mana segala keuntungan dari acara ini akan kami gunakan dan kembalikan ke masyarakat dalam bentuk mural di beberapa titik di Denpasar.

Sesuai prinsip yang kami percaya semenjak awal: setiap orang berhak menikmati seni, bahwa seni tidak seharusnya dikurung dalam ruang elit galeri.

Untuk edisi kali ini Sawer Nite akan diadakan di Cushcush Gallery pada 19 April. Agung Alit-Mitra Bali akan membuka acara ini. Lalu, diramaikan juga Matrix Collapse Project, Bread Island, dan Made Mawut. Pada acara penutupannya, 21 April, akan diadakan lelang beberapa karya yang telah dipamerkan.

Sawer Nite terbuka untuk umum, dan kami mengundang semuanya untuk hadir dan berpesta bersama. [b]


The post Energi Hari Esok Bali dari Bali yang Binal appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Kemungkinan Tak Terbatas “Puisi-Puisi Visual” Wai

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Seminyak.

Melihat karya-karya Wai seperti melihat puisi yang divisualkan.

Menyambut bulan Agustus, Uma Seminyak menyajikan pameran terbarunya, proyek 100 hari dari Wai berjudul “Wonder: Tiny People, Big Places”. Pameran dibuka pada 5 Agustus dan akan berlangsung hingga 21 Agustus 2018.

Santy Wai Zakaria atau Wai,lahir di Jakarta. Ia dibesarkan di Medan, Sumatera Utara, sebelum ia pindah kembali ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan di jurusan Desain Komunikasi. Setelah lulus, ia bekerja sebagai direktur kreatif dan desainer untuk berbagai perusahaan asing di sektor ritel dan komersial.

Sebagai seorang perancang dan seniman, ia selalu terpesona oleh banyaknya bentuk seni. Keindahan visual yang dapat diciptakan seseorang tidak terbatas; dari lukisan minyak renaisans klasik hingga animasi yang dihasilkan komputer: semuanya merupakan inspirasi baginya.

Ide awal proyek 100 hari ini adalah membuat cerita setiap hari selama 100 hari, yang dimulai sekitar April 2018. Pada saat itu dia menyadari bahwa setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah; dan baginya, jalan untuk menemukan kebenaran versinya kali ini adalah yang terbaik dicapai dengan mengusahakannya.

“Saya pernah mendengar sebuah kutipan ‘Jika kamu dapat memimpikannya, kamu dapat melakukannya’. Pernyataan itu mengilhami saya untuk merenungkan kisah saya sendiri sebagai titik belaka di dunia yang sangat besar ini”, Wai menjelaskan titik awal proyek seninya ini.

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Semiyak.

Untuk menceritakan kisah-kisahnya, Wai mencoba merangkul medium-medium sederhana yakni kertas kecil dan tinta/cat air untuk menggambarkan puisi-puisi visual yang ada di kepalanya. Tujuan proyek ini adalah untuk mengungkap keindahan mimpi, kerapuhan, main-main, keintiman dan gairah.

“Akhirnya, keajaiban potensi yang dapat dicapai oleh orang kecil di dunia besar ini tidak ada habisnya. Keingintahuan dimulai dengan mengamati alam dan manusia, dan saya belum menemukan apa yang akan menjadi akhir dari pencarian ini,” kata Wai

Keseluruhan proyek ini masih merupakan proses yang sedang berjalan dan hari terakhir diadakan pada 4 Agustus 2018. Ketika dia mencapai hari ke-100, dia berharap untuk merayakan akhir proyek ini dengan memiliki pameran tunggal untuk membagikan prosesnya, kebenaran yang dia temukan dan keindahan visual yang membuatnya jatuh cinta setiap saat dengan seni.

Selama pameran di Uma Seminyak, Wai juga akan melakukan dua lokakarya pada akhir pekan berikutnya. Lokakarya kali ini akan menekankan pada memvisualisasikan ide-ide dengan cat air dan abstraksi dalam figur gambar.

Wai mulai melukis sejak delapan tahun lalu, yakni pada tahun 2010 dan lebih banyak menggunakan media oil painting serta telah beberapa kali melakukan pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama di Bali, Jakarta dan Singapura. Ia menetap di Bali sejak sepuluh tahun lalu, melukis sembari bekerja sebagai designer grafis dan produk, pekerjaan yang ditekuninya sejak tinggal di Jakarta.

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Seminyak.

“Pameran ini untuk merayakan proyek 100 hari. Setelah berhenti bekerja di Jakarta saya ingin kembali melukis dan memulai sesuatu namun ternyata tak gampang. Saya lalu berpikir ‘OK, I take the challenge’, dalam 100 hari satu lukisan dalam sehari. Pokoknya saya harus duduk 2 hingga 3 jam sehari bikin satu gambar apapun itu dengan menggunakan media cat air. Along the way, kok sepertinya makin lama makin menarik, lalu saya bertemu Ruth, Community Manager Uma Seminyak. Kemudian saya membuat komitmen 100 hari dan per 2 Agustus 2018 lalu saya memutuskan karya saya harus saya perlihatkan ke publik dan tak disimpan sendiri. Dan, jadilah pameran ini,” ujar Wai.

Wai menuturkan, pameran yang bertajuk “Wonder: Tiny People, Big Places” memiliki makna filosofis ia selalu merasa bahwa kita (manusia) kecil di dunia ini, namun perasaan kecil tersebut memberikan possibility atau kemungkinan yang bisa kita capai tak terbatas. Maka itu Wai memberi tajuk “Tiny People, Big Places” pada pamerannya.

“Bagi orang-orang yang suka travelling atau suka makanan, you can do it, it’s your dream, jadi basically ini tentang mimpi, tentang membiarkan pikiran kita terbuka supaya jangan menutupi kemungkinan yang bisa kita raih. Itu makna pameran ini bagi saya. Dalam setiap gambar saya terdapat figur manusia kecil, itu bermakna sebuah mimpi dari setiap orang. Dari perasaan kecil sebagai manusia di dunia yang luas ada kemungkinan yang tak terbatas, dan itu mesti kita raih,” kata Wai.

Melihat karya-karya Wai dalam pameran ini seperti melihat puisi yang divisualkan, setiap lukisan memiliki arti tersendiri yang bisa “dibaca” dan ditafsirkan berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Sebagai penikmati seni, saya mengapresiasi semangat pelukis dalam menyeselaikan tantangan yang bisa jadi bukan berasal dari orang lain melainkan dari diri sendiri, untuk mengukur serta membuktikan eksistensi berkesenian berupa proyek 100 hari di mana ia mesti menghasilkan karya setiap hari dalam kurun waktu 100 hari.

Alhasil, lahirlah seratus lukisan yang dipamerkan di Uma Seminyak tersebut. “Puisi-puisi visual” yang perlu “dibaca” dan dinikmati secara mendalam. [b]

The post Kemungkinan Tak Terbatas “Puisi-Puisi Visual” Wai appeared first on BaleBengong.

Mural, Seni yang Unik dan Menggelitik

Ada sisi positif yang bisa didapat ketika upaya mengejar langkah kaki dilakukan dengan cara mencari ruas jalan yang berbeda setiap harinya. Seperti hari sabtu dan minggu lalu. Sambil liburan di Batu Mejan, saya mengitari ruas jalan disekitarnya dan menemukan beberapa karya Mural yang dilukiskan pada tembok lapang sebelah ruang terbuka dan terlihat unik dari jauh […]