Tag Archives: SENI

Mural, Seni yang Unik dan Menggelitik

Ada sisi positif yang bisa didapat ketika upaya mengejar langkah kaki dilakukan dengan cara mencari ruas jalan yang berbeda setiap harinya. Seperti hari sabtu dan minggu lalu. Sambil liburan di Batu Mejan, saya mengitari ruas jalan disekitarnya dan menemukan beberapa karya Mural yang dilukiskan pada tembok lapang sebelah ruang terbuka dan terlihat unik dari jauh […]

Catatan Mingguan Men Coblong: Filter

MEN COBLONG membelalakkan matanya.

Pikirannya tiba-tiba saja jadi terasa lemah dan Men Coblong merasa menjelma menjadi “umat” manusia yang makin hari makin bodoh. Bukannya makin hari makin cerdas.

“Harusnya, makin tua usia, makin memudahkan kita untuk memiliki pikiran-pikiran lebih sublim. Pikiran-pikiran yang menuai kebijakan. Bukan pikiran-pikiran yang menampung beragam hawa busuk. Hawa yang tidak terlihat tetapi tercium begitu dekat di lingkungan kita. Sangat menganggu tetapi wujudnya tidak terlihat,” kata sahabat Men Coblong serius sambil mengiris potongan bistik vegetarian yang dipesannya di sebuah kafe baru di Denpasar.

Men Coblong terdiam sambil melirik kafe baru. Kata sahabatnya, kafe itu membuat pikiran lapuk dan haus seperti disuntik zat yang membuat pengunjung ingin kembali lagi. Menikmati beragam mural lucu-lucu di setiap dinding-dinding tembok yang mengepung kursi-kursi.

Belakangan ini Men Coblong memang hobi berat mengelilingi beragam kafe kecil di kota Denpasar. Kafe-kafe itu mengingatkan Men Coblong pada “aroma” dan suasana khas dari negara-negara tetangga.

“Haloooo, kau dengar aku bicara?” tanya sahabat Men Coblong mengusik pikiran Men Coblong. Suaranya yang cukup keras dan setengah berteriak membuat mata beberapa pengunjung kafe mengarah ke meja Men Coblong. Men Coblong mendelik kepada sahabatnya.

“Mereka yang datang itu kebanyakan anak muda. Kau tidak usah takut. Harga diri dan eksistensimu sebagai perempuan “dewasa” tidak akan tercemar. Mereka generasi yang sibuk dan hiruk-pikuk dengan gawai mereka. Bukan generasi kita yang hobi ribut dan berisik,” suara sahabat Men coblong terdengar santai dan ringan.

Dia ngomong sambil melirik kepada segerombolan anak muda yang asyik dengan gawai mereka. Sesekali mereka juga melirik ke arah kursi Men Coblong. Mungkin mereka berpikir, gaul juga ibu-ibu ini, gumam Men Coblong dalam hati.

Men Coblong kembali asik menatap beragam mural-mural besar yang dilukis di dinding.

“Sebetulnya apa yang menjadi fokus perhatianmu? Kau suka suasana kafe ini kan?” tanya sahabat Men Coblong terdengar semakin nyinyir.

“Ya.”

“Kupikir aku memilih tempat yang pas untukmu. Agar pikiranmu tidak cupet dan mampet,” kata sahabat Men Coblong makin menohok.

“Ah, kau ini… Justru berada di dalam kafe ini aku mulai berpikir,” jawab Men Coblong serius.

“Tidak bisakah kau berhenti berpikir dan bersantai menikmati beragam menu sehat di kafe ini?”

“Maksudmu?”

“Menikmati dengan rileks dan tanpa beban,” jawab sahabat Men Coblong tanpa ekspresi.

“Menu organik ini?”

“Iya.” Jawab sahabat Men Coblong tegas.

“Dari mana kau tahu beragam bahan yang diolah di kafe ini organik?”

“Dari rasa, teknik pengolahan. Cobalah! Ayo… Kau harus mencicipinya. Rasakan bedanya dengan beragam menu-menu yang telah kau santap.”

“Aku tidak percaya dengan cap organik itu. Kau tahu dari mana?”

“Dari iklan.”

“Sudah ada bukti yang menyakinkanmu bahwa menu yang ditawarkan di kafe ini betul-betul organik? Aku tidak melihat cara memasaknya.”

“Ngapain kamu ingin melihat cara memasaknya!” Suara sahabat Men Coblong meninggi.

Men Coblong terdiam. Sebetulnya tidak enak juga berdebat dengan sahabatnya itu. Tetapi sebagai sahabat tentu harus paham karakter dan beragam tindak-tanduk Men Coblong yang kata orang-orang sering tidak masuk akal.

Kata para sahabatnya, aneh juga dirimu itu tidak sadar betul pertambahan usia. Harusnya di usia makin tinggi harus mulai hati-hati membuat filter pikiran-pikiran yang harus tetap ditimbun di otak, dan pikiran-pikiran yang mana saja harus segera disingkirkan dalam otak.

Sebetulnya ucapan-ucapan dari para sahabatnya itu ada benarnya juga sih. Namun, apakah di usia lima puluh ke atas harus menyerah dengan beragam kerentaan yang datang silih berganti? Apakah di usia yang makin bertambah kita tidak lagi memiliki tanggung jawab kepada lingkungan sosial, politik, budaya, dan agama? Tetapi fokus menyerahkan diri dengan pasrah pada Hyang Kosmis untuk mulai menghadap padaNya dengan rapalan-rapalan doa?

Men Coblong menarik napas. Baginya di usia yang makin matang seharusnya kita semua wajib jadi “filter” hidup yang kritis dengan beragam persoalan di negeri ini. Mural-mural dalam kafe itu justru mengganggu Men Coblong, kenapa tidak memiliki memori tentang budaya Bali dalam mural-mural itu?

Kenapa mural-mural dalam beragam cafe-cafe itu justru mengingatkan Men Coblong pada kafe-kafe di Amsterdam, Denhaag? Juga di Hamburg dan Frankfurt? Kenapa mural-mural itu tidak mengingatkan Men Coblong tentang keindonesiaan? Di Seoul, Korea Selatan, justru Men Coblong menemukan cafe-cafe yang berbau sangat Korea dengan ilustrasi cafe busana khas Korea Hanbok?

Mana wajah Indonesia dalam ilustrasi kafe-kafe di Bali?

Soal menu, bagaimana Men Coblong bisa yakin, menu yang ditawarkan benar-benar organik? Siapa yang bisa menjamin? Sarden, makanan khas yang lezat dan digemari Men Coblong pun mengandung cacing. Bahkan aparat yang berwenang mengatakan, cacing dalam sarden tidak berbahaya. Siapa yang ikhlas ada cacing sebagai menu di atas meja? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Filter appeared first on BaleBengong.

Hand Lettering, Seni Merangkai Pesan dengan Keindahan

Hand Lettering oleh Lugu Gumilar bertema No Neuus Without U. Foto Anton Muhajir.

Ada pesan dan suasana baru di kantor kami.

Sejak akhir Februari, dinding ruang kelas kami berisi warna-warni tulisan besar “NO NEUUS WITHOUT U” dan “Yang hanya terucap akan menguap. Yang tercatat akan selalu diingat.”. Melalui dua tulisan itu, kami ingin menyampaikan pesannya kita menulis.

Tak sekadar kalimat dan jargon, tulisan itu juga tergambar indah di dinding putih ruang tempat kami biasa mengadakan diskusi, pelatihan, atau menerima tamu itu. Tulisan berwarna merah dan hitam itu serupa kaligrafi, dengan permainan jenis font dan warna huruf.

Untuk membuat hand lettering, istilah menggambar kalimat indah dalam tampilan dan pesan berbentuk serupa kaligrafi itu, kami bekerja sama dengan Lugu Gumilar. Pecinta kopi ini memang salah satu pembuat hand lettering, yang dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diterjemahkan sebagai seni menulis dengan tangan.

Meskipun sangat mirip, kaligrafi dan hand lettering ada bedanya.

Perbedaan hand lettering dengan kaligrafi ada di teknik. Keduanya sama-sama seni menulis indah, tetapi kaligrafi lebih identik menggunakan pena dengan tinta dan menghasilkan huruf dengan tebal-tipis yang bervariasi. Skala kaligrafi juga lebih kecil.

Adapun hand lettering lebih bebas menggunakan pena, kuas, atau apa saja untuk menulis huruf dengan lebih beragam. Skala hand lettering bisa lebih besar, mulai di kertas sampai di tembok.

Media sosial turut mempengaruhi popularitas hand lettering di Indonesia, termasuk Bali. Lugu mengatakan, sejak 2014 mulai banyak penggiat lettering dan kaligrafi yang meramaikan karya di sosial media. Hal ini didukung dengan kesan manual atau analog yang unik dan menarik.

Komunitas penggiat hand lettering di Indonesia pun bermunculan, seperti Kaligrafina dan Belmen (Belajar Menulis). “Di Bali, saya sempat bertemu dengan teman-teman Baligrafi yang giat bertukar informasi dan berkarya bersama,” ujar Lugu.

Lugu Gumilar saat membuat teks di BaleBengong. Foto Anton Muhajir.

Lebih Unik

Sebagai sebuah hobi, atau bahan pekerjaan baru, hand lettering memiliki keunikan tersendiri. “Mungkin karena hand lettering identik dengan handmade atau berkarya secara analog, membuat tulisan dengan tangan. “Jadi lebih unik dan spesial,” lanjut Lugu.

Meskipun demikian, di kalangan penggiat hand lettering, tidak ada batasan kriteria bagus atau tidak. Seiring latihan dan ketekunan, sebuah karya hand lettering bisa semakin bagus dari karya sebelumnya.

Biasanya, karya hand lettering dibedakan dari penggunaan alat, gaya menulis, dan dekorasi yang digunakan.

Lugu sendiri memulai hobi baru ini sejak 2011 karena dia memang senang dengan permainan font (tipografi) untuk kebutuhan desain grafis. Dari sana, dia makin menemukan keasyikan hingga kemudian sejak 2015 makin sering berkarya dengan hand lettering.

“Rasa senang, kepuasan, dan kemudahan menyampaikan pesan (untuk karya mural) menjadi alasan utama akhirnya saya menjadikan ini sebagai pekerjaan,” ujarnya.

Dalam karya-karyanya, Lugu mengaku menggunakan banyak referensi. Biasanya tergantung tema atau konsep yang diminta klien. Media sosial Instagram menjadi salah satu tempatnya mencari referensi sekaligus mempromosikan karya.

Instagram Photo

Beberapa yang menginspirasi, di Indonesia ada Erwin Indrawan, Jamal M. Azis, dan kawan-kawan. Di Luar negeri ada Lauren Hom, Jon Contino, dan masih banyak lagi.

Dalam karya-karyanya, Lugu lebih suka berkarya sesuai tema, tapi beberapa karyanya juga banyak menggunakan kombinasi huruf block dan handwriting yang jika bisa menjadi sebuah ciri khas. “Mungkin ini yang saya tonjolkan,” katanya.

Sejak menggeluti hand lettering sebagai pekerjaan, Lugu sering mendapat pesanan. Mulai dari lingkaran pertemanan, pergaulan, lalu ke pelanggan-pelanggan baru.

Karyanya pun tersebar dari sketchbook, papan tulis, mural di rumah, kantor sampai kafe. Proyek paling berkesan baginya adalah ketika dia mengerjakan proyek di kedai kopi. Dari mural, papan menu sampai visual identity dia kerjakan semua.

“Berkesan karena lebih bisa mengontrol tema dan leluasa dalam hal waktu pengerjaannya,” kata Lugu.

Kini, Lugu dan istrinya yang juga desainer interior dan arsitek, Nadjma Achmad, sedang memulai Kalih Studio. “Kami ingin menjadikan mural (hand-lettering) dan interior menjadi satu paket pekerjaan yang kami tawarkan,” katanya. [b]

The post Hand Lettering, Seni Merangkai Pesan dengan Keindahan appeared first on BaleBengong.

Menanti Pertunjukan Sapi Tak Berjudul Nomor Satu

Jadwal show UCNO. Foto Cata Odata.

Bersiaplah untuk menikmati kolaborasi lintas-negara dan kota ini.

Cata Odata berkolaborasi dengan The Necessary Stage, Singapura dan WAFT-LAB, Surabaya akan mengadakan pementasan monodrama berjudul ‘Untitled Cow Number One’ (UCNO) atau ‘sapi tak berjudul nomor satu’ di GEOKS Art Space, Singapadu, Bali pada 23-25 Maret 2018 nanti.

Acara ini merupakan bagian dari CO.Lab, singkatan dari Cata Odata Laboratory. Program ini untuk meningkatkan pertemuan antara para seniman dan pelaku kreatif dari latar belakang sosial budaya berbeda. Ratna Odata, salah satu pendiri Cata Odata mengatakan CO.Lab, terbuka bagi mereka yang memiliki semangat untuk berkolaborasi serta berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Ratna menambahkan program ini diadakan setidaknya setahun sekali diikuti dengan workshop kreatif dan sesi percakapan bersama. “Kali ini dengan para tim UCNO,” kata Ratna.

Monodrama ini akan dipentaskan dua kali pada Jumat, 23 Maret dan Sabtu, 24 Maret 2018 pukul 19.00 WITA. Durasi pertunjukan sekitar 30-40 menit. Setiap pertunjukan akan ditutup dengan diskusi selama 30 menit di mana para peserta bisa terlibat dalam percakapan dengan tim kreatif dan produksi dari UCNO.

Produksi ini terwujud dengan bantuan dan dukungan dari para individu, profesional, dan komunitas teater lokal. Di antaranya adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST., MA yang melanjutkan warisan GEOKS Art Space untuk tetap berkontribusi dalam mengembangkan skena seni lokal, Anom Wijaya Darsana dari Antida Music Productions yang aktif terlibat di berbagi bidang industri seni pertunjukan, perusahaan sewa sistem dan produksi pencahayaan Circle Lighting di Bali, serta Uma Seminyak sebagai ruang inklusif yang selalu mewadahi acara-acara kreatif anak muda.

UCNO memiliki beberapa program pendamping seperti lokakarya akting oleh Gloria Tan, DIY sound device (swakriya perangkat suara) oleh WAFT-LAB dan sebuah diskusi terbuka mengenai pentingnya praktik interkultural pada penciptaan seni pertunjukan.

Semua rangkaian acara ini akan berlangsung pada Minggu, 25 Maret 2018, secara bergantian dari pukul 14.00-18.00 WITA di rumah seni Cata Odata, Ubud.

Monodrama adalah drama yang dimainkan atau dirancang untuk dimainkan oleh seorang aktor. Berbeda dengan monolog yang adalah cuplikan dari naskah atau ide cerita utuh, monodrama memiliki komposisi utuh layaknya drama yang memiliki babak awal, tengah dan akhir.

Monodrama UCNO adalah naskah yang dibuat oleh Haresh Sharma, penulis naskah tetap The Necessary Stage sejak 1990. Sepuluh naskahnya telah dipentaskan, dialihbahasakan ke bahasa Malaysia, China, Yunani, dan Italia. Ia juga telah berpartisipasi di sejumlah festival penulis internasional.

Naskah UCNO sendiri sudah pernah ditampilkan di Macau International Fringe Festival (2000), Asian Theater Festival di Busan (2002), National Theatre Festival di New Delhi (2003), dan M1 Fringe Festival di Singapore (2015).

Pada pementasan ini, Gloria Tan hadir sebagai aktor yang membawakan sebuah cerita tentang perjalanan masa 12 hari berkabung dari seekor janda sapi. Pertunjukan ini akan dibagi menjadi 12 bagian dan dilengkapi dengan teks terjemahan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang tersedia pada layar untuk hadirin.

Gloria Tan berbagi mengenai bagaimana ia melihat dirinya berproses sejauh ini. Teksnya bisa dikatakan cair dan terbuka terhadap berbagai interpretasi dan untuk penampilan khusus ini. “Saya mendasarkan struktur emosional peran sesuai dengan kehilangan dan kesedihan personal yang pernah saya jalani, dan mungkin masih saya alami. Bentuk interpretasi ini ada untuk saya, akan selalu tumbuh dan selalu berubah, tergantung aktor yang memerankannya,” kata Gloria.

Aktor sedang melakukan proses latihan. Foto Cata Odata

Alvin Tan, pendiri The Necessary Stage, punya alasan sendiri mengapa The Necessary Stage memilih naskah ini untuk dibawa ke Bali berujar. “Untitled Cow Number One adalah salah satu naskah Haresh yang paling terbuka melibatkan seniman lain sebagai kolaborator,” kata Alvin.

Dia menambahkan tema ini pun dapat dimaknai secara universal, tentang kondisi manusia yang menginvestasikan semua emosi yang dimilikinya dalam satu sumber kebahagiaan, dan kehilangan identitas di saat hubungan tersebut berakhir.

UCNO membawa seluruh tim melalui perjalanan karib yang disarikan ke dalam pementasan 1 jam ini. “Itu adalah sesuatu yang ingin kami bagikan kepada teman-teman di Bali. Untuk bertukar pikiran dan melihat bagaimana, mengapa, dan di mana kita terhubung,” ujarnya.

WAFT-LAB, sebuah kolektif yang sudah lebih dari 10 tahun aktif dalam pengembangan seni interdisipliner di Surabaya melibatkan 6 personilnya untuk membuat bentuk audio dan visual pementasan ini. Salah satu pendirinya, Helmi Hardian mengatakan ini adalah kali pertama WAFT-LAB membuat karya untuk pementasan teater.

“Kami selalu mengerjakan wilayah audio, visual, atau pencahayaan di proyek-proyek sebelumnya. Yang berbeda kali ini adalah kami harus mendukung emosi di setiap babak yang kemunculannya selalu berbeda, runut, dan kadang malah tiba-tiba berubah. Kami bereksperimen dengan memahami naskah, berdiskusi, mencari referensi, dan jamming bareng. Sering kami mengutak-atik alat musik dan membuat simulator pencahayaan untuk coba-coba,” Helmi menjelaskan.

Untuk pementasan ini, WAFT-LAB membuat pencahayaan dalam bentuk poligonal sederhana yang dapat berubah bentuk saat animasi dijalankan di setiap adegannya. Eksplorasi suara yang mereka lakukan pun akan dijadikan sebagai latar. Ini semua agar harmoni antara aktor, suara, dan cahaya dapat berjalan secara beriringan.

Pendaftaran tempat duduk dengan donasi telah dibuka. Informasi selanjutnya mengenai reservasi tempat dan pendaftaran workshop, hubungi Cata Odata melalui surel, Instagram, atau Facebook Page.

Tentang Para Kolaborator:

Cata Odata

Sebuah rumah seni dengan pendekatan interdisipliner berbasis di Cata Odata, Ubud, Bali. Berkeyakinan bahwa seni adalah sebuah ekspresi tanpa batas yang bisa dinikmati secair mungkin, Cata Odata mengadopsi pendekatan interdisipliner dalam merancang berbagai program dan kegiatannya.

Misi utama Cata Odata adalah tumbuh bersama dan memfasilitasi daya berkesenian para pelaku seni terutama yang ada di Bali dan Jawa Timur, menyuguhkan karya yang merespon pada upaya pembacaan konteks yang berlaku bagi penikmatnya baik di ranah lokal maupun global.

The Necessary Stage

Dibentuk pada 1987 oleh Direktur Artistik, Alvin Tan, The Necessary Stage (TNS) adalah perusahaan teater nirlaba dengan status amal di Singapura. Misinya adalah menciptakan teater yang menantang, otentik, dan inovatif. TNS didukung oleh Dewan Kesenian Nasional Singapura di bawah Skema Perusahaan Besar untuk periode 1 April 2017 sampai 31 Maret 2020 dan juga penyelenggara M1 Singapore Fringe Festival yang diadakan tahunan.

TNS mendapatkan kehormatan menjadi satu-satunya perusahaan seni di Singapura yang dipimpin oleh dua penerima Cultural Medallion: Alvin Tan, Direktur Artistik, dan Haresh Sharma, Penulis Naskah Tetap. Setelah menampilkan lebih dari 100 naskah asli di Singapura dan luar negeri, TNS fokus untuk membuat terobosan dengan membuat olahan segar dari konten lokal dan penjelajahan antarbudaya. Sebagai bagian dari upayanya dalam pengarsipan digital, TNS juga telah meluncurkan arsip online di tnsarchive.com yang terbuka untuk umum.

WAFT-LAB

Adalah inisiatif interdisiplin di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, berbasis semangat swakriya melalui praktik seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi tepat guna. Sejak tahun 2011 WAFT-LAB menginisiasi beragam kegiatan yang bertujuan untuk menggali gagasan baru dan membangun jaringan kerja kolektif berkelanjutan.

Fokus mereka ada pada pendekatan lokal dan sudah banyak terlibat proyek seni / residensi seniman di Indonesia dan negara negara lainnya. Mereka telah secara aktif menyelenggarakan workshop untuk berbagi pengetahuan baik berbayar maupun tidak berbayar. Workshop tersebut memfasilitasi eksperimen dan eksplorasi rangkaian elektronik dasar sebagai instrumen suara. [b]

The post Menanti Pertunjukan Sapi Tak Berjudul Nomor Satu appeared first on BaleBengong.

First Part of PlayPlay: Charcoal For Children was a Success

Text written by CushCush Gallery

On the first weekend of February 2018 at CushCush Gallery in Denpasar, Bali, CushCush Gallery and LagiLagi presented two plays performed by Yogyakarta’s Papermoon Puppet Theatre and Bali’s Monez & Ninus. They are two of the three artists involved in Charcoal For Children 2017/2018. The third artist Tokyo’s Kawamura Koheisai will be presenting his play later on during the last weekend of February 2018.

Titled “PlayPlay”, these performances were inspired by the resulting artworks of LagiLagi’s and CushCush Gallery’s second edition of Charcoal For Children workshops held at the end of 2017.

Photo Credit: Ni Made Krisna Mahayuni
Monez&Ninus performers and crew after their Premier show of “SangKala” on 2nd February 2018

The premiere shows held on the first evening which was attended by art patrons, the media and the sponsors consisted of the two plays – “The White World of Siwa & Malini” by Papermoon Puppet Theatre and “SangKala” by Monez & Ninus. The second and the third evenings each held two regular shows, alternating between the two artists.

Photo Credit: CushCush Gallery
Papermoon Puppet Theatre and their crew, together with CCG and LagiLagi founders Suriawati and Chua Jindee, with all volunteers taking a group photo after the final show of ‘The White World of Siwa and Malini”.

Supported by over 20 volunteers from various professional fields, the shows were a big success with all the tickets sold out and, due to the unrelenting demand, extra tickets were sold and extra seats were added in the room. About 35% of the audience were children and the rest were mostly working adults, some of which came from outside Bali.

 

LagiLagi had invited children from around the island, including the children from art communities and organizations such as Sanggar Anak Tangguh and Yayasan Gayatri Widya Mandala to the ones around the neighbourhood of Mambal and Denpasar courtesy of generous donors.

 

Suriawati Qiu, the founder of CushCush Gallery and LagiLagi claimed the three-night event to be an enriching experience. “I felt each of the artists shared something meaningful through a simple message that spoke to all of us, young and old. They were sharing their stories for a better world, touching people’s hearts through artistic expressions. In SangKala, we were reminded of how important time is for us to cherish. In The White World of Siwa and Malini, we were taught to embrace the beauty of our differences.”

 

“The packed small venue heightened the already intimate mood created by the settings of the shows and in turn enhanced the experience of watching the beautiful stories that unfold before our eyes,” a visitor said.

 

“Papermoon Puppet Theatre’s play has a different dimension from reality, even though the issue that is brought up is something that is very close to us… Exploration not only focuses on artistic aesthetics, but also covers the aesthetic psychology of the audience, both physically and mentally… It was like watching a movie for me.” shared Santiasa Putu Putra, who is an active Bali based theatre creative.

Photo Credit: Dion Clarensa
“The White World of Siwa & Malini” by Papermoon Puppet Theatre celebrates the different colors of the world, and teaches us to embrace the beauty of our differences.

Another visitor recalled, “In every scene of ‘SangKala’, the performers kept us focused and grounded. At every moment presented, the audience was always made curious, just like the feeling of the little girl in the play who was curious about the stories of the Balinese mythical creatures told by her parents.”

Photo Credit: Dion Clarensa
one of children performers of “SangKala’ responding to on-site live-mapping and live-drawing by Monez.

In the last weekend of February 2018 there will be more plays held at CushCush Gallery with the details as follow:

 

23 February: Premiere show of “Monyet Nishioka Mencari Pulau Baru” by Kawamura Koheisai at 8.30pm and regular show of “SangKala” by Monez & Ninus at 6pm.

 

24 February: Regular shows of “Monyet Nishioka Mencari Pulau Baru” by Kawamura Koheisai at 6pm and “SangKala” by Monez & Ninus at 8.30pm.

 

25 February: Regular shows of “Monyet Nishioka Mencari Pulau Baru” by Kawamura Koheisai at 6pm and 8.30pm.

 

‘LagiLagi’ (translates to ‘repeatedly’, ‘again and again’, ‘keep returning back’) is a social initiative started by CushCush, a designer studio and workshop in Bali that specializes in uniquely designed crafted contemporary furniture, accessories, and artworks. LagiLagi was meant to carry both CushCush’s environmental awareness and social mission of passing the goodness of creativity to the next generation, starting from the early age.

 

Learn more about LagiLagi and Charcoal For Children (CFC) program:

Email: [email protected]

Phone: +62 361 242034 / +62 812 89152130 (Merlins)

Facebook: LagiLagi

Instagram: lagilagi_bali

The post First Part of PlayPlay: Charcoal For Children was a Success appeared first on BaleBengong.