Tag Archives: SENI

Energi Hari Esok Bali dari Bali yang Binal

Kami tetap berdiri ketika yang dikritik sudah mati.

Bali yang Binal (disingkat BYB) adalah sebuah festival seni yang lahir dari sebuah kritik pada Bali Biennale di medio 2005. BYB diinisiasi para seniman muda yang waktu itu tergabung dalam Komunitas Pojok dan Komunitas Seni di Denpasar (KSDD).

Nama Bali yang Binal sendiri adalah parodi dari Bali Biennale. Ketika Bali Biennale mati di tahun pertamanya, BYB justru mampu berjalan hingga ke edisi #7 pada 2017 lalu. Sebagai sebuah festival dua tahunan yang terlahir dari kritik, BYB selalu membawa tema spesifik yang terbungkus dengan baik secara estetik.

Pada edisi kali ini BYB mengangkat tema “Energi Esok Hari”. Tema ini dipilih sebagai intisari dari semua permasalahan yang sedang atau berpotensi menjadi masalah di masa depan. Bali mempunyai potensi investasi tinggi yang selalu menjadi obyek menggiurkan untuk dieksploitasi karena peran pentingnya dalam industri pariwisata.

Banyak kebutuhan diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Namun, yang kami sayangkan dan butuh dikritik adalah keputusan-keputusan instan pemangku kebijakan dan investor dalam menentukan arah pembangunan pariwisata

Keinginan pemerintah dan investor untuk membangun sarana-sarana penunjang pariwisata seperti rencana reklamasi Teluk Benoa, rencana pembangunan tol lintas utara, rencana pembangunan bandara baru di Bali utara, dan sebagainya tentu membutuhkan energi yang besar.

Kebutuhan energi ini hendak dijawab dengan cepat oleh para pemangku kebijakan tadi dengan membangun sebuah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara baru di Celukan Bawang, Buleleng. Sebuah langkah yang tergesa-gesa dan bagi kami keliru, karena Bali mempunyai potensi energi serta waktu cukup untuk beralih pada penggunaan energi terbarukan dan ramah lingkungan.

Batubara sudah dikenal sebagai sumber energi fosil yang merusak. Tidak hanya dalam proses perubahannya menjadi energi tapi juga sejak proses pengambilannya sampai distribusinya. Berbagai pertanyaan baru kemudian muncul membutuhkan jawaban dan solusi, dan bagi kami batubara bukanlah jawaban dan solusinya.

Sawer Nite

Untuk itu kami menarik kesimpulan bahwa dengan kemampuan yang kami miliki sebagai seniman, ingin berkontribusi dalam mengkampanyekan penggunaan energi ramah lingkungan. Bergandengan bersama dengan semua pihak yang peduli lingkungan dan Bali, demi hari esok yang lebih baik.

Dalam setiap helatan BYB (hampir) selalu diawali dengan Sawer Nite, sebuah proses penggalangan dana secara swadaya. SawerNite juga menjadi pintu gerbang rangkaian acara selanjutnya yaitu Pra-BYB (pemantapan materi bagi para seniman), pembukaan (sekaligus Technical Meeting ), jamming mural dan kolaborasi seni, serta Malam Seni sebagai penutup.

Pada setiap kegiatan Sawer Nite kami menjual berbagai karya seni dari seniman-seniman pendukung, menjual merchandise ataupun membuat pertunjukan seni yang mana segala keuntungan dari acara ini akan kami gunakan dan kembalikan ke masyarakat dalam bentuk mural di beberapa titik di Denpasar.

Sesuai prinsip yang kami percaya semenjak awal: setiap orang berhak menikmati seni, bahwa seni tidak seharusnya dikurung dalam ruang elit galeri.

Untuk edisi kali ini Sawer Nite akan diadakan di Cushcush Gallery pada 19 April. Agung Alit-Mitra Bali akan membuka acara ini. Lalu, diramaikan juga Matrix Collapse Project, Bread Island, dan Made Mawut. Pada acara penutupannya, 21 April, akan diadakan lelang beberapa karya yang telah dipamerkan.

Sawer Nite terbuka untuk umum, dan kami mengundang semuanya untuk hadir dan berpesta bersama. [b]


The post Energi Hari Esok Bali dari Bali yang Binal appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Kemungkinan Tak Terbatas “Puisi-Puisi Visual” Wai

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Seminyak.

Melihat karya-karya Wai seperti melihat puisi yang divisualkan.

Menyambut bulan Agustus, Uma Seminyak menyajikan pameran terbarunya, proyek 100 hari dari Wai berjudul “Wonder: Tiny People, Big Places”. Pameran dibuka pada 5 Agustus dan akan berlangsung hingga 21 Agustus 2018.

Santy Wai Zakaria atau Wai,lahir di Jakarta. Ia dibesarkan di Medan, Sumatera Utara, sebelum ia pindah kembali ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan di jurusan Desain Komunikasi. Setelah lulus, ia bekerja sebagai direktur kreatif dan desainer untuk berbagai perusahaan asing di sektor ritel dan komersial.

Sebagai seorang perancang dan seniman, ia selalu terpesona oleh banyaknya bentuk seni. Keindahan visual yang dapat diciptakan seseorang tidak terbatas; dari lukisan minyak renaisans klasik hingga animasi yang dihasilkan komputer: semuanya merupakan inspirasi baginya.

Ide awal proyek 100 hari ini adalah membuat cerita setiap hari selama 100 hari, yang dimulai sekitar April 2018. Pada saat itu dia menyadari bahwa setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah; dan baginya, jalan untuk menemukan kebenaran versinya kali ini adalah yang terbaik dicapai dengan mengusahakannya.

“Saya pernah mendengar sebuah kutipan ‘Jika kamu dapat memimpikannya, kamu dapat melakukannya’. Pernyataan itu mengilhami saya untuk merenungkan kisah saya sendiri sebagai titik belaka di dunia yang sangat besar ini”, Wai menjelaskan titik awal proyek seninya ini.

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Semiyak.

Untuk menceritakan kisah-kisahnya, Wai mencoba merangkul medium-medium sederhana yakni kertas kecil dan tinta/cat air untuk menggambarkan puisi-puisi visual yang ada di kepalanya. Tujuan proyek ini adalah untuk mengungkap keindahan mimpi, kerapuhan, main-main, keintiman dan gairah.

“Akhirnya, keajaiban potensi yang dapat dicapai oleh orang kecil di dunia besar ini tidak ada habisnya. Keingintahuan dimulai dengan mengamati alam dan manusia, dan saya belum menemukan apa yang akan menjadi akhir dari pencarian ini,” kata Wai

Keseluruhan proyek ini masih merupakan proses yang sedang berjalan dan hari terakhir diadakan pada 4 Agustus 2018. Ketika dia mencapai hari ke-100, dia berharap untuk merayakan akhir proyek ini dengan memiliki pameran tunggal untuk membagikan prosesnya, kebenaran yang dia temukan dan keindahan visual yang membuatnya jatuh cinta setiap saat dengan seni.

Selama pameran di Uma Seminyak, Wai juga akan melakukan dua lokakarya pada akhir pekan berikutnya. Lokakarya kali ini akan menekankan pada memvisualisasikan ide-ide dengan cat air dan abstraksi dalam figur gambar.

Wai mulai melukis sejak delapan tahun lalu, yakni pada tahun 2010 dan lebih banyak menggunakan media oil painting serta telah beberapa kali melakukan pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama di Bali, Jakarta dan Singapura. Ia menetap di Bali sejak sepuluh tahun lalu, melukis sembari bekerja sebagai designer grafis dan produk, pekerjaan yang ditekuninya sejak tinggal di Jakarta.

Pameran lukisan karya Santy Wai Zakaria. Foto Uma Seminyak.

“Pameran ini untuk merayakan proyek 100 hari. Setelah berhenti bekerja di Jakarta saya ingin kembali melukis dan memulai sesuatu namun ternyata tak gampang. Saya lalu berpikir ‘OK, I take the challenge’, dalam 100 hari satu lukisan dalam sehari. Pokoknya saya harus duduk 2 hingga 3 jam sehari bikin satu gambar apapun itu dengan menggunakan media cat air. Along the way, kok sepertinya makin lama makin menarik, lalu saya bertemu Ruth, Community Manager Uma Seminyak. Kemudian saya membuat komitmen 100 hari dan per 2 Agustus 2018 lalu saya memutuskan karya saya harus saya perlihatkan ke publik dan tak disimpan sendiri. Dan, jadilah pameran ini,” ujar Wai.

Wai menuturkan, pameran yang bertajuk “Wonder: Tiny People, Big Places” memiliki makna filosofis ia selalu merasa bahwa kita (manusia) kecil di dunia ini, namun perasaan kecil tersebut memberikan possibility atau kemungkinan yang bisa kita capai tak terbatas. Maka itu Wai memberi tajuk “Tiny People, Big Places” pada pamerannya.

“Bagi orang-orang yang suka travelling atau suka makanan, you can do it, it’s your dream, jadi basically ini tentang mimpi, tentang membiarkan pikiran kita terbuka supaya jangan menutupi kemungkinan yang bisa kita raih. Itu makna pameran ini bagi saya. Dalam setiap gambar saya terdapat figur manusia kecil, itu bermakna sebuah mimpi dari setiap orang. Dari perasaan kecil sebagai manusia di dunia yang luas ada kemungkinan yang tak terbatas, dan itu mesti kita raih,” kata Wai.

Melihat karya-karya Wai dalam pameran ini seperti melihat puisi yang divisualkan, setiap lukisan memiliki arti tersendiri yang bisa “dibaca” dan ditafsirkan berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Sebagai penikmati seni, saya mengapresiasi semangat pelukis dalam menyeselaikan tantangan yang bisa jadi bukan berasal dari orang lain melainkan dari diri sendiri, untuk mengukur serta membuktikan eksistensi berkesenian berupa proyek 100 hari di mana ia mesti menghasilkan karya setiap hari dalam kurun waktu 100 hari.

Alhasil, lahirlah seratus lukisan yang dipamerkan di Uma Seminyak tersebut. “Puisi-puisi visual” yang perlu “dibaca” dan dinikmati secara mendalam. [b]

The post Kemungkinan Tak Terbatas “Puisi-Puisi Visual” Wai appeared first on BaleBengong.

Mural, Seni yang Unik dan Menggelitik

Ada sisi positif yang bisa didapat ketika upaya mengejar langkah kaki dilakukan dengan cara mencari ruas jalan yang berbeda setiap harinya. Seperti hari sabtu dan minggu lalu. Sambil liburan di Batu Mejan, saya mengitari ruas jalan disekitarnya dan menemukan beberapa karya Mural yang dilukiskan pada tembok lapang sebelah ruang terbuka dan terlihat unik dari jauh […]

Catatan Mingguan Men Coblong: Filter

MEN COBLONG membelalakkan matanya.

Pikirannya tiba-tiba saja jadi terasa lemah dan Men Coblong merasa menjelma menjadi “umat” manusia yang makin hari makin bodoh. Bukannya makin hari makin cerdas.

“Harusnya, makin tua usia, makin memudahkan kita untuk memiliki pikiran-pikiran lebih sublim. Pikiran-pikiran yang menuai kebijakan. Bukan pikiran-pikiran yang menampung beragam hawa busuk. Hawa yang tidak terlihat tetapi tercium begitu dekat di lingkungan kita. Sangat menganggu tetapi wujudnya tidak terlihat,” kata sahabat Men Coblong serius sambil mengiris potongan bistik vegetarian yang dipesannya di sebuah kafe baru di Denpasar.

Men Coblong terdiam sambil melirik kafe baru. Kata sahabatnya, kafe itu membuat pikiran lapuk dan haus seperti disuntik zat yang membuat pengunjung ingin kembali lagi. Menikmati beragam mural lucu-lucu di setiap dinding-dinding tembok yang mengepung kursi-kursi.

Belakangan ini Men Coblong memang hobi berat mengelilingi beragam kafe kecil di kota Denpasar. Kafe-kafe itu mengingatkan Men Coblong pada “aroma” dan suasana khas dari negara-negara tetangga.

“Haloooo, kau dengar aku bicara?” tanya sahabat Men Coblong mengusik pikiran Men Coblong. Suaranya yang cukup keras dan setengah berteriak membuat mata beberapa pengunjung kafe mengarah ke meja Men Coblong. Men Coblong mendelik kepada sahabatnya.

“Mereka yang datang itu kebanyakan anak muda. Kau tidak usah takut. Harga diri dan eksistensimu sebagai perempuan “dewasa” tidak akan tercemar. Mereka generasi yang sibuk dan hiruk-pikuk dengan gawai mereka. Bukan generasi kita yang hobi ribut dan berisik,” suara sahabat Men coblong terdengar santai dan ringan.

Dia ngomong sambil melirik kepada segerombolan anak muda yang asyik dengan gawai mereka. Sesekali mereka juga melirik ke arah kursi Men Coblong. Mungkin mereka berpikir, gaul juga ibu-ibu ini, gumam Men Coblong dalam hati.

Men Coblong kembali asik menatap beragam mural-mural besar yang dilukis di dinding.

“Sebetulnya apa yang menjadi fokus perhatianmu? Kau suka suasana kafe ini kan?” tanya sahabat Men Coblong terdengar semakin nyinyir.

“Ya.”

“Kupikir aku memilih tempat yang pas untukmu. Agar pikiranmu tidak cupet dan mampet,” kata sahabat Men Coblong makin menohok.

“Ah, kau ini… Justru berada di dalam kafe ini aku mulai berpikir,” jawab Men Coblong serius.

“Tidak bisakah kau berhenti berpikir dan bersantai menikmati beragam menu sehat di kafe ini?”

“Maksudmu?”

“Menikmati dengan rileks dan tanpa beban,” jawab sahabat Men Coblong tanpa ekspresi.

“Menu organik ini?”

“Iya.” Jawab sahabat Men Coblong tegas.

“Dari mana kau tahu beragam bahan yang diolah di kafe ini organik?”

“Dari rasa, teknik pengolahan. Cobalah! Ayo… Kau harus mencicipinya. Rasakan bedanya dengan beragam menu-menu yang telah kau santap.”

“Aku tidak percaya dengan cap organik itu. Kau tahu dari mana?”

“Dari iklan.”

“Sudah ada bukti yang menyakinkanmu bahwa menu yang ditawarkan di kafe ini betul-betul organik? Aku tidak melihat cara memasaknya.”

“Ngapain kamu ingin melihat cara memasaknya!” Suara sahabat Men Coblong meninggi.

Men Coblong terdiam. Sebetulnya tidak enak juga berdebat dengan sahabatnya itu. Tetapi sebagai sahabat tentu harus paham karakter dan beragam tindak-tanduk Men Coblong yang kata orang-orang sering tidak masuk akal.

Kata para sahabatnya, aneh juga dirimu itu tidak sadar betul pertambahan usia. Harusnya di usia makin tinggi harus mulai hati-hati membuat filter pikiran-pikiran yang harus tetap ditimbun di otak, dan pikiran-pikiran yang mana saja harus segera disingkirkan dalam otak.

Sebetulnya ucapan-ucapan dari para sahabatnya itu ada benarnya juga sih. Namun, apakah di usia lima puluh ke atas harus menyerah dengan beragam kerentaan yang datang silih berganti? Apakah di usia yang makin bertambah kita tidak lagi memiliki tanggung jawab kepada lingkungan sosial, politik, budaya, dan agama? Tetapi fokus menyerahkan diri dengan pasrah pada Hyang Kosmis untuk mulai menghadap padaNya dengan rapalan-rapalan doa?

Men Coblong menarik napas. Baginya di usia yang makin matang seharusnya kita semua wajib jadi “filter” hidup yang kritis dengan beragam persoalan di negeri ini. Mural-mural dalam kafe itu justru mengganggu Men Coblong, kenapa tidak memiliki memori tentang budaya Bali dalam mural-mural itu?

Kenapa mural-mural dalam beragam cafe-cafe itu justru mengingatkan Men Coblong pada kafe-kafe di Amsterdam, Denhaag? Juga di Hamburg dan Frankfurt? Kenapa mural-mural itu tidak mengingatkan Men Coblong tentang keindonesiaan? Di Seoul, Korea Selatan, justru Men Coblong menemukan cafe-cafe yang berbau sangat Korea dengan ilustrasi cafe busana khas Korea Hanbok?

Mana wajah Indonesia dalam ilustrasi kafe-kafe di Bali?

Soal menu, bagaimana Men Coblong bisa yakin, menu yang ditawarkan benar-benar organik? Siapa yang bisa menjamin? Sarden, makanan khas yang lezat dan digemari Men Coblong pun mengandung cacing. Bahkan aparat yang berwenang mengatakan, cacing dalam sarden tidak berbahaya. Siapa yang ikhlas ada cacing sebagai menu di atas meja? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Filter appeared first on BaleBengong.