Tag Archives: Sekolah

Sebuah Khayalan Tentang Sistem Sekolah Dasar

Saya sedang berkhayal tentang sistem di Sekolah Dasar. Saya membayangkan sebuah sekolah dimana semua murid senang dan bahagia mengikuti berbagai macam pelajaran dan kegiatan di sekolah. Tidak ada beban dan paksaan, semua dilakukan dengan penuh keceriaan.

Pelajaran dan kegiatan yang dilakukan di sekolah pun tidak selalu akademis, tapi juga olahraga dan senia serta yang lainnya. Mungkin dari 100% waktu yang ada, akademis maksimal 50% dan sisanya untuk olahraga dan seni atau kegiatan lainnya. Murid bebas memilih kegiatan yang mau diikuti, tentunya dengan arahan/rekomendasi dari guru dan orangtuanya.

Dari semua kegiatan yang diikuti pun tidak ada sistem lulus dan tidak lulus. Semua murid mengikuti kegiatan sesuai dengan kemampuannya. Artinya tidak ada rangking.

Pada akhirnya ketika murid menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, semua dinyatakan lulus namun yang terpenting bukan pada lulus atau tidaknya, juga bukan pada nilainya. Tapi hasil akhir di Sekolah Dasar mampu mengeluarkan sebuah rekomendasi tentang minat dan bakat seorang anak. Di bidang apa si anak akan bisa maksimal, di bidang apa si anak punya bakat yang bagus dan lainnya.

Jadi pada intinya Sekolah Dasar adalah proses penggalian minat dan bakat si anak. Sehingga di tahap selanjutnya anak bisa mulai diberikan kegiatan yang lebih menjurus sesuai bidangnya. Tentunya sesuai dengan tahapan yang sesuai dengan umurnya. Dengan demikian saya berkhayal setiap anak bisa ketika dewasa nanti bisa merasa senang dan nyaman menjalani kehidupan sesuai dengan passion-nya masing-masing.

Tapi ini hanyalah sebuah khayalan di siang bolong. Bisa jadi saya salah berkhayal.

Baca Juga:

Sekolah, Sekarang Justru Aku Takut Padamu!

Pembacaan petisi Reformasi Pendidikan oleh siswa SMA 3 Denpasar. Foto Madyapadma.

Kejadian ketika SMA itu masih saya ingat sampai sekarang.

Ada yang memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), siap-siap dihina dengan sorakan siswa satu lapangan upacara. Memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), mendapatkan tepuk tangan karena masuk dalam kerumunan.

Ada cerita dari seorang teman yang sekolah di wilayah perkotaan dan masuk katagori favorit. Di sekolah itu malah para siswanya berkompetisi masuk IPA.

Hingga saat ini masyarakat memandang jurusan IPA bergengsi, karena dari IPA bisa melanjutkan studi ke jurusan apa saja yang tersedia di perguruan tinggi.

Jurusan IPS terbatas. Ada juga anggapan anak masuk jurusan IPA pintar sementara anak IPS kurang pintar dan cenderung bengal.

Kenangan di atas muncul karena saya melihat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2017. Ada aturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai rombongan belajar (rombel) atau kelas. Setiap sekolah negeri SMP dan SMA rata-rata menyediakan tujuh hingga 10 rombel. Satu rombel diisi maksimal 36 siswa untuk SMA dan SMP 32.

Tentunya pembatasan ini menimbulkan persaingan ketat bagi siswa menuju sekolah favorit.

Bahkan, ada sekolah yang memberlakukan aturan pemeriksaan jasmani sebelum menerima siswa seperti tindik kuping, cat rambut dan tato. Hampir sama dengan pemeriksaan jasmani untuk menjadi polisi atau tentara. Bagi saya cukup menyeramkan.

Dalam penerapan aturan tersebut, sekolah itu tidak menerima siswa jika ditemukan bekas tindik, tato atau cat pada rambut.

Inilah kompetisi.

Ada sekolah yang memberlakukan aturan pemeriksaan jasmani sebelum menerima siswa seperti tindik kuping, cat rambut dan tato.

Adanya kompetisi menjadikan sekolah ketat dan menimbulkan tekanan. Semuanya harus bersaing. Itu nyata dalam sistem peringkat atau rangking dengan unsur nilai pelajaran dan pendidik menerapkan pola pengajaran sama, siswa harus menghafal. Padahal tidak semua siswa senang menghafal.

Selain nilai, siswa juga bersaing secara sosial. Misalkan harus jadi anak yang pintar, anak pejabat, berasal dari golongan keluarga kaya atau ukurannya seberapa keren penampilan kita di sekolah. Jika gagal dalam kompetisi itu, kita bisa tidak dianggap oleh lingkungan.

Saya sempat mendengar keluhan seorang karena anaknya belum diterima di SMP negeri yang berada di kota. Hal itu karena nilai ujian akhir anaknya belum memadai bersaing masuk di sekolah favorit.

Katanya, si anak jadi murung karena hal itu. Bapak itu sempat menyebut, sistem persaingan sejak dini harus ditumbuhkan kepada anak-anak.

Ngeri juga jika menjadi anak si bapak itu. Syukurnya orangtua saya tidak pernah menuntut saya menjadi anak berprestasi dan harus diterima di sekolah favorit. Jika pun beberapa kali sempat juara kelas, itupun karena sedang beruntung.

Padahal sekolah bagi orang Yunani kuno adalah tempat untuk mengisi waktu luang anak-anak. Mengutip buku Sekolah Itu Candu karya Roem Topatimasang, kegiatan mengisi waktu luang itu disebut skhole, scola, scolae atau schola artinya waktu luang untuk belajar.

Pola mereka dengan mendatangi orang yang dianggap pandai dan waktunya tidak mengikat dan ketat seperti sekarang. Pendidikan yang utama tetap di keluarga.

Seiring berjalanya waktu dan desakan kebutuhan hidup yang beragam, orang tua tidak lagi sempat untuk mengajari anaknya banyak hal. Maka, pengajaran sepenuhnya diserahkan kepada lembaga pengisi waktu luang.

Fungsi scolaa matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu) berubah menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah pengganti ayah dan ibu). Lembaga pengasuhan ini biasanya juga disebut “ibu asuh” atau ibu yang memberikan ilmu pengetahuan (alma mater).

Sejak saat itu model sekolah berubah menjadi seperti yang kita kenal sekarang.

Pakar pendidikan kelahiran Brasil, Paulo Freire menyebut, sistem pendidikan menjadikan guru pusat segalanya adalah otoriter atau diistilahkan banking education. Banking education adalah ilmu pengetahuan yang ditransfer dari pengajar kepada pelajar.

Transfer informasi ini menjadi lambang dan instrumen penindasan yang melarang dan menghalangi penyelidikan, kreativitas dan dialog. Simpelnya pelajar paling mudah diisi oleh guru adalah pelajar yang baik. Jika menolak untuk diisi, adalah pelajar bermasalah.

Freire mengajukan pendidikan pembebasan atau yang diistilahkan problem-posting education yang didasarkan pada hubungan demokratis guru dan murid. Guru adalah murid, begitu juga sebaliknya. Adanya demokrasi akan memicu penelitian, kreativitas dan kekritisan serta mendorong munculnya kesadaran.

Tokoh yang lahir di Recife, sebuah kota pelabuhan di timur laut Brasil menjabarkan pendidikan pembebasan di antaranya harus mengacu dialog untuk bisa menyingkap realitas dan siswa diajar untuk berpikir kritis.

Siswa sekolah SMA yang memilih jurusan IPS tanpa harus bersaing masuk jurusan IPA, bagi saya adalah rebel. Mereka berani melawan sistem mapan yang menjadikan sekolah seperti kompetisi. Mungkin sebagian besar anak-anak di sekolah saya tidak memilih kelas unggulan karena kompetisi bukan jiwanya.

Waktu itu mereka lebih memilih menikmati masa sekolah dengan riang gembira, bolos sekolah, lepas dari tekanan pelajaran, ribut ketika kelas kosong dan kenakalan lain ala anak sekolah.

Masuk jurusan IPS bisa dicap bengal dan warga kelas dua, itu adalah pilihan. Karena bagi kami belajar di sekolah lebih dari sekedar menghafal dan berkompetisi. [b]

The post Sekolah, Sekarang Justru Aku Takut Padamu! appeared first on BaleBengong.

Viral, Surat Kepala Sekolah Yang Wajib Dibaca Para Orangtua!

Beredar viral sebuah surat dari seorang kepala sekolah yang ditujukan kepada para orangtua. Isinya membuat para orangtua sangat terkesan. Berikut isi suratnya:

Baca Juga:

Punya Anak PG (lagi)

Lama gak berkabar tentang putri putri kami, di tahun 2016 ini malah sudah punya anak PG (lagi). Kali kedua. Ya, di usianya yang menginjak 3,5 tahun kini giliran Intan bersekolah di TK Lokasari. Itupun karena keinginannya bersekolah makin lama makin besar, setelah melihat banyaknya fasilitas mainan anak di pelataran halaman sekolah. Hmmm… Namanya juga anak […]

Punya Anak PG (lagi)

Lama gak berkabar tentang putri putri kami, di tahun 2016 ini malah sudah punya anak PG (lagi). Kali kedua. Ya, di usianya yang menginjak 3,5 tahun kini giliran Intan bersekolah di TK Lokasari. Itupun karena keinginannya bersekolah makin lama makin besar, setelah melihat banyaknya fasilitas mainan anak di pelataran halaman sekolah. Hmmm… Namanya juga anak […]