Tag Archives: sejarah

Beginilah Sejarah Terbentuknya Identitas Bali


Michel Picard (kanan) dalam diskusi tentang pembentukan identitas orang Bali. Foto Bentara Budaya Bali.

Lahirnya majalah turut membentuk kesadaran orang Bali.

Dua antropolog asal Prancis, Michel Picard dan Jean Couteau, membahas sejarah munculnya identitas Bali semasa era kolonial dan transformasinya kini. Diskusi berlangsung pada Jumat (22/03) di Bentara Budaya Bali (BBB) Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, Bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Michel Picard merupakan peneliti dan pendiri Pusat Studi Asia yang berpusat di Paris, Prancis. Dia telah banyak menerbitkan buku terkait Bali, terutama perihal studi pariwisata, budaya, identitas, etnis dan agama. Pada diskusi ini ia memaparkan hasil kajiannya terkait bagaimana orang Bali kala itu mengkonstruksi identitas ke-Bali-annya. Ini terutama terkait konteks agama, adat dan budaya.

Penggabungan Bali dalam kuasa kolonial Hindia Belanda, pada pergantian abad ke-20, tak pelak mendorong tumbuhnya kehidupan intelektual Bali. Saat itu pemerintah kolonial membutuhkan penduduk asli berpendidikan. Mereka lalu menjadi penghubung antara penduduk lokal dan pendatang asing.

Generasi pertama Bali yang memperoleh pendidikan era kolonial itu, turut serta dalam proses identifikasi diri sebagai orang Bali. Mereka mendirikan organisasi modern dan mulai menerbitkan majalah dalam bahasa Melayu. Konten dan bentuk majalhnya terbilang inovatif atau kreatif.

Dalam terbitan-terbitan ini, orang Bali menafsirkan identitas Kebaliannya. Mereka sebut sebagai “Balineseness”, dalam istilah “agama” (agama), “tradisi” (adat) dan “budaya” (budaya).

Kala itu masih jauh dari ekspresi esensi primordial, sebagaimana akan lebih mengemuka belakangan. Kategori-kategori konseptual ini adalah hal baru dan harus diselaraskan serta ditafsirkan oleh orang Bali sesuai referensi, keprihatinan serta pengharapan mereka sendiri.

Pertentangan

Mengemukanya pergulatan intelektual dan upaya identifikasi diri sebagai orang Bali tecermin pada empat majalah yang terbit di era kolonial. Bali Adnjana (1924-1930), Surya Kanta (1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), dan Djatajoe (1936-1941).

“Tujuan Surya Kanta adalah memberi posisi pada kaum jaba yang ingin mengakhiri dominasi gaya Barat. Mereka merasa hambatan mereka adalah keistimewaan yang diperoleh kaum Tri Wangsa,” terang Michel Picard.

Menurut Picard hal ini memiliki tujuan yang berbeda dengan Bali Adnjana.

Namun, terlepas dari pertentangan kedua media ini, di Bali Adnjana dan Surya Kanta inilah orang-orang Bali pertama kali mendeklarasikan diri sebagai sebuah masyarakat, society, people, yaitu kaum Bali sendiri. Pada awalnya, kata Picard, mereka hanya dilihat berdasarkan etnis atau apa yang didefinisikan oleh penjajah Belanda.

Lebih lanjut, Surya Kanta dan Bali Adnjana mulanya diterbitkan dalam bahasa Melayu. Hal ini juga menimbulkan krisis identitas bagi orang-orang Bali terdidik kala itu.

Sementara itu, Jean Couteau, penulis yang telah puluhan tahun bermukim di Bali, lebih banyak mengungkapkan perihal identitas orang Bali kontemporer atau saat ini.

Program timbang pandang ini digelar serangkaian perayaan Hari Frankofoni Internasional atau la journée de la francophonie. Ini adalah perayaan bagi para penutur Bahasa Prancis di seluruh dunia yang diperingati setiap 20 Maret. Buah kerja sama Institut Français d’Indonésie (IFI) dan Alliance française Bali dengan Bentara Budaya Bali.

Pekan Frankofoni menjadi pertemuan budaya dalam berbagai bentuk. Ada pertunjukan seni, pemutaran film, diskusi, kuliner serta pameran. Bahasa Prancis telah menjadi bahasa pengantar oleh 220 juta orang di lima benua.

Bahasa Prancis juga menjadi bahasa resmi di berbagai organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa. Begitu pula lembaga-lembaga nirlaba seperti Palang Merah Internasional dan Amnesti Internasional. Di Asia Tenggara, bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah dasar maupun menengah, Alliance Française dan institusi Prancis lainnya.

Memaknai perayaan Hari Frankofoni Internasional di Bali ada pula pembacaan dan dramatisasi puisi oleh Teater Kalangan, pemutaran film pendek Prancis adaptasi puisi Apollinaire, serta persembahan musik Prancis DJ Soundsekerta. [b]

The post Beginilah Sejarah Terbentuknya Identitas Bali appeared first on BaleBengong.

Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel

Apakah daging kelapa di Desa Nyuhtebel lebih tebal? Atau kulitnya yang tebal? Kepala Desa atau Perbekel Ketut Mudra, merangkumnya dalam narasi sejarah dan kondisinya kini.

Oleh Pewarta Warga Nyuhtebel

Desa Nyuhtebel di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Bali memiliki asal usul nama desa berkaitan dengan keberadaan hutan kelapa. Hal tersebut tersurat di dalam prasasti Kerajaan Gelgel tentang misi pasukan Kerajaan Gelgel atas perintah Raja Gelgel tahun 1465 M Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan untuk melumpuhkan kekuatan dan mengambil alih kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan karena tidak tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Gelgel.

Setelah misi tersebut berhasil, hutan kelapa yang sangat lebat di sebelah selatan Desa Tenganan hingga ke tepi pantai diserahkan kepada pasukan perang kerajaan Gelgel dibawah komando Ki Bedolot untuk membangun benteng pertahanan perang, mengawasi antek antek De Dukuh Mengku yang belum tertangkap dan juga melindungi keamanan Kerajaan Gelgel di bagian Timur.

Pusat Benteng pertahanan perang inilah yang lambat laun berkembang menjadi desa bernama Desa Nyuhtebel. Nyuh berarti Kelapa, tebel bermakna sangat lebat. Nyuhtebel mengandung makna hamparan hutan kelapa yang sangat lebat.

Seiring perjalanan waktun semenjak tahun 1465 hingga masa kini, hamparan hutan kelapa yang sangat lebat mengalami alih fungsi menjadi tegalan dengan tanaman campuran kelapa, pisang, kakao, dan kayu hutan.  Ada juga yang diolah menjadi lahan sawah. Memasuki tahun 80-an hingga tahun 90-an, alih fungsi lahan tegalan kelapa meningkat.

Sejumlah penyebabnya adalah, perkembangan kepariwisataan kawasan Candidasa di era tahun 80-an. Kemudian berkembangnya usaha agribisnis peternakan ayam ras dan babi di desa Nyuhtebel. Kedua sektor usaha tersebut telah mencaplok lahan tegalan kelapa puluhan hektar beralih fungsi menjadi sarana wisata dan juga kandang ternak.

Ribuan pohon kelapa lokal produktif menjadi korban penebangan dimanfaatkan untuk bahan bangunan wisata dan kandang ternak. Dampak ikutan perkembangan industri pariwisata Candidasa mendorong percepatan pembangunan sektor perumahan di desa Nyuhtebel yang juga banyak mencaplok lahan tegalan kelapa dan penebangan pohon kelapa produktif dijadikan bahan bangunan.

Memasuki era 90-an, potensi tegalan kelapa Nyuhtebel hanya tinggal 50 persen dari era sebelum 80-an. Upaya rehabilitasi juga dilakukan oleh pemerintah melalui proyek (PRPTE) tanaman perkebunan. Tujuan proyek untuk meningkatkan produksi kelapa melalui intensifikasi, perluasan tanam tidak banyak dapat dilakukan karena lahan sudah sangat terbatas.

Kini tegalan kelapa di Desa Nyuhtebel keberadaanya sekitar 153 hektar. Populasi tanaman kelapa berbuah berkisar 9.120 pohon, tanaman kelapa umur bawah lima tahun/belum berbuah sekitar 1.530 pohon.

Panen kelapa di desa Nyuhtebel dilakukan sebanyak 6 kali dalam setahun.  Panen tidak dilakukan serentak, tetapi bertahap sesuai kemampuan kelompok pemanen kelapa disebut “sekaa penek nyuh”.

Hasil panen kelapa setiap kali panen dapat mencapai 63.840 kelapa butiran. Atau dalam kurun waktu setahun desa Nyuhtebel dapat menghasilkan 383.040 kelapa butiran.

Harga kelapa butiran di tingkat pengepul berfluktuasi antara Rp 1.500 – Rp2500 perbutir. Potensi pendapatan desa Nyuhtebel dari buah kelapa mencapai Rp574.560.000 setahun.

 

Pengolahan lengis nyuh

Desa Nyuhtebel banyak menghasilkan buah kelapa butiran. Sebelum era 80-an, tingkat hasil kelapa lokal Nyuhtebel mencapai 4 kali lipat dari sekarang. Di samping karena populasi pohon kelapa berbuah/produktif masih tinggi, juga karena rerata hasil per pohon relatif lebih tinggi dari saat ini.

Rerata hasil kelapa lokal Nyuhtebel saat ini 14 butir per pohon produktif.  Dari jumlah pohon kelapa produktif yang ada saat ini diperoleh sekitar 63.840 butir setiap panen. Panen kelapa dilakukan antara 52-60 hari sekali.

Sebelum era 80-an, hasil buah kelapa butiran di desa Nyuhtebel diolah menjadi kopra dan juga minyak goreng skala rumah tangga. Setelah tahun 90-an, bisnis kelapa butiran mulai marak.

Para pengupul kelapa berlomba lomba untuk dapat membeli kelapa petani saat panen. Harga kelapa butiran menjadi sangat fluktuatif. Hari ini harga kelapa butiran di Nyuhtebel sangat anjlok mencapai Rp 800 per butir. Harga paling tinggi yang pernah dicapai Rp 4200 perbutir.

Pada saat harga kelapa anjlok, banyak petani yang tertarik untuk mengolah buah kelapanya menjadi minyak goreng.  Alasan yang dikemukakan, jika harga anjlok panen kelapa sering molor karena juru petik kelapa kurang bersemangat. Akibatnya buah kelapa tua di pohon jatuh sendirinya.  Buah kelapa yang sudah sangat matang/tua di pohon dipercaya petani akan banyak menghasilkan minyak jika diolah.

Pengolahan kelapa butiran menjadi minyak dilakukan oleh petani secara tradisional. Hasil rata rata dari 25 butir kelapa dapat diperoleh minyak goreng 3 liter. Harga lokal untuk 3 liter minyak goreng kelapa lokal Nyuhtebel mencapai Rp 50.000

Jika suatu saat harga kelapa butiran lebih dari Rp 2.000 per butir, maka petani akan memilih menjual kelapanya dalam bentuk kelapa butiran. Selain itu, petani akan mempercepat panen buah kelapanya untuk cepat dapat uang.

Teknik tradisional pengolahan lengis nyuh

Petani Desa Nyuhtebel memanfaatkan buah kelapa yang sudah tua untuk membuat minyak goreng dari sejak dahulu hingga sekarang. Teknik membuat minyak kelapa di Nyuhtebel dilakukan secara tradisional dan turun temurun. Teknik yang diterapkan sangat sederhana, mudah, dan murah.

Langkah pertama, petani memilih buah kelapa yang tua yang banyak mengandung minyak. Daging kelapa dipisahkan dari batoknya lalu dicuci bersih dan diparut.

Hasil parutan daging kelapa dibuat santan dengan menggunakan air hangat secukupnya. Santan hasil pemerasan pertama ditambahkan dengan hasil pemerasan kedua kali.  Selanjutnya santan tersebut didiamkan di baskom.

Di dalam baskom, santan kelapa akan mengalami fermentasi. Setelah kurang lebih satu jam akan tampak di baskom santan yang mengandung minyak bergerak menuju lapisan permukaan sedangkan air santan terdesak turun ke lapisan  di bawahnya. Santan kental yang berada di atas lapisan air ini disebut “santan prima”. Santan prima akan menghasilkan minyak kurang lebih setelah sepuluh jam didiamkan di dalam baskom.

Ada juga petani yang menggunakan teknik fermentasi lanjutan yaitu: santan prima dipanen/diambil/ dipisahkan dengan airnya, lalu ditempatkan pada baskom lain. Selanjutnya santan prima ini dicampur dengan air kelapa bersih sebanyak 10 persen. Diaduk aduk supaya air kelapa larut di santan selanjutnya didiamkan di baskom.

Setelah kurang lebih 8 jam akan terjadi reaksi fermentasi yaitu: air akan terpisah dari minyak. Lapisan air berada di bawah lapisan minyak, bagian padatan/zat padat berminyak (disebut blondo, atau telengis dalam bahasa Bali) terdesak ke lapisan atas minyak, sehingga di dalam baskom tampak lapisan minyak berada di antara lapisan air dan lapisan blondo. Reaksi fermentasi ini terus terjadi berkelanjutan sehingga lapisan minyak tumbuh semakin tebal. Setelah 24 jam lebih kemudian lapisan minyak  dapat dipanen untuk diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng.

Minyak yang sudah dipanen kadang tercampur air dan blondo, oleh karena itu perlu dibersihkan. Petani ada yang memanfaatkan kertas filter untuk memisahkan blondo yang tercampur di minyak, ada juga yang menggunakan teknik pemanasan.

Tujuannya sama yaitu supaya minyak tidak tengik. Untuk minyak yang dipanasi dengan cara digoreng terkadang petani menambahkan daun pandan ke dalamnya untuk membuat bau yang harum.

The post Sejarah dan Keunikan Kelapa di Desa Nyuhtebel appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Mural Prasasti Tragedi Trisaksti dan Mei 1998 di Jakarta. Foto Antara via BeritaDaerah.co.id

BULAN Mei bagi Men Coblong adalah bulan yang menggelisahkan.

Beragam peristiwa-periswa besar terus mengusik dan menjadi teror yang terus menusuk-nusuk dan menguliti otaknya. Sebagai perempuan, ibu, dan istri banyak sekali pertanyaan yang menjegal hati dan pikirannya.

Men Coblong jujur saja merasa tidak nyaman.

Apakah yang sesungguhnya salah dari dirinya? Apakah karena usia yang makin “sepuh” membuatnya jadi penuh perasaan, jadi pandir dengan logika-logika yang telah dibangunnya sejak kana-kanak? Logika-logika kehidupan yang tiba-tiba saja jadi rubuh dan rapuh di dalam dirinya.

Peristiwa pengebom di Surabaya masih mencekik denyut nafasnya. Juga kematian tiga anak di Bali yang dibekap ibunya yang belum tuntas. Anak-anak yang jadi korban ideologi orang tua. Juga peristiwa politik yang menggugah

Dua puluh tahun lalu, 12 Mei 1998, peristiwa mencekam dan berdarah terjadi di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, saat mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto. Empat mahasiswa tewas dalam penembakan terhadap peserta demonstrasi yang melakukan aksi damai, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie. Sementara itu, dokumentasi Kontras menulis, korban luka mencapai 681 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tragedi Trisakti menjadi simbol dan penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Setelah tragedi itu, perlawanan mahasiswa dalam menuntut reformasi semakin besar, hingga akhirnya memaksa Presiden Soeharto untuk mundur pada 21 Mei 1998. Kerusuhan yang bernuansa rasial sebenarnya sempat terjadi sehari setelah Tragedi Trisakti, yaitu pada 13-15 Mei 1998. Namun, kerusuhan itu tidak mengalihkan perhatian mahasiswa untuk tetap bergerak dan menuntut perubahan.

Terasa kontras sekali perjuangan anak-anak itu. Apakah setelah 20 tahun reformasi Indonesia sudah semakin “sehat”?

Presiden ke-3 RI BJ Habibie mengatakan, meski sudah 20 tahun reformasi, Indonesia malah dijajah politik identitas. Politik identitas tersebut diketahui menguat setelah Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu. “Itu yang menjajah kita. Kita diadu domba,” ujar Habibie di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (21/5/2018). Padahal korban politik identitas itu kata Habibie adalah rakyat Indonesia sendiri.

Men Coblong setuju dengan pemikiran itu. Politik identitas telah merasuki beragam “keluarga” yang makin hari merasa hidup ini terlalu berat untuk dinikmati dengan rasa syukur. Lihatlah! Banyak berita tidak masuk akal merambah dinding-dinding rumah keluarga yang privat. Kita bisa dengan mudah membaca via Line, bagaimana seorang anak tega membakar habis rumah orang tuanya sampai rata dengan tanah hanya karena alasan orang tuanya tidak bisa membelikan ponsel.

Di sisi lain, seorang anak SD menghamili anak SMP. Apakah yang sesungguhnya keliru dari cara-cara pendidikan di sekolah-sekolah kita? Merunut komentar di media sosial, ayah yang menuntun keluarganya menuju “jalan surga” sesungguhnya sudah memiliki benih-benih pemikiran anak sejak masih sekolah di sekolah menengah, dia tidak mau ikut upacara bendera. Hal ini diceritakan teman sekolahnya.

Jadi, bibit-bibit kekacauan itu sesungguhnya juga harus mulai menjadi tanggung jawab sekolah formal, untuk mendidik dan memahami arti menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya. Manusia Indonesia yang sadar bahwa mereka majemuk, dengan beragam perbedaan yang tidak bisa lagi dijadikan diskusi-diskusi tidak masuk akal.

Suatu hari ketika menjadi juri membuat buku ajar, Men Coblong juga kaget ada staf yang jelas digaji oleh negara dan bergerak di bidang pendidikan justru tidak menghormati perbedaan dan kemajukan. Padahal dia seorang pejabat tinggi di sebuah institusi pendidikan. Orang itu alergi memberi ucapan selamat hari raya bagi pegawai atau bawahannya yang berbeda keyakinan. Bagaimana mungkin orang-orang dengan pemikiran dan liku-laku seperti ini bisa lulus tes dan menduduki jabatan tinggi? Apakah dia bukan orang Indonesia?

Men Coblong benar-benar heran dengan beragam persoalan-persoalan di negeri ini. Di tengah dua puluh tahun merayakan reformasi, merayakan keterbukaan. Apa yang sesungguhnya berubah ketika saat ini politik identitas justru menjadi jalan untuk melempengkan kekuasaan.

Siapakah korban-korbannya? Anak-anak.

Lihatlah kasus keluarga-keluarga yang memilih “mati” demi masuk surga. Seorang guru yang mencabut nyawa tiga anaknya. Anak yang membakar rumah hanya alasan sepele. Bocah SD yang menghamili anak SMP. Sadarkah para “militan” yang masih membawa panji-panji identitas untuk duduk nyaman di kursi kekuasaan?

Men Coblong masih merasakan betapa getirnya wajah orang tua para pejuang reformasi untuk perubahan negeri ini mengantar jasad anak-anak mereka ke dalam liang lahat. Dua puluh tahun telah berlalu. Apa sesungguhnya yang berubah di negeri ini? Masihkah tega mengorbankan anak-anak? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas appeared first on BaleBengong.

Rara Sekar dan Pesona Sejarah Alternatif

Foto: Luh De

Pesona Rara Sekar tak hanya pada suara, lagu, atau petikan gitarnya. Perempuan yang pernah tinggal di Ubud, kini meneruskan kuliah di New Zealand ini mengusik dengan pernyataan dan gugatannya saat di atas panggung. Tidak berapi-api, namun mempengaruhi penonton.

“Tini Yanti versi Made Mawut, kita inteprestasi ulang. Pernah dibubarkan (diskusi soal 65) waktu kuliah banyak ditabukan, dialog antar agama diserang FPI. Trauma masih membekas dan api amarah. Saya nangis di polisi kenapa justru kami yang mengalah, knowledge dikalahkan. Sejarah untuk siapa, peran kita di mana. Sejarah dibekukan, ingatan dirawat. Kita yang jadi prisma agar echo-echo bertambah,” demikian penggalan dari beberapa menit orasinya di panggung sebelum tampil.

Sebelum konser, saya yang tidak banyak tahu kiprah Rara dan Banda Neira (sudah bubar), menemuinya sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Sebuah konser, pemutaran film, dan dialog bertajuk Sekeping Kenangan di Taman Baca Kesiman, Denpasar. Wawancara singkat tapi merasakan hasratnya yang tinggi pada isu-isu marjinal.

Berikut rangkumannya.

Bagaimana keterlibatan Rara di album Prison Songs?

Tak ikut dokumentasi tapi menginteprestasikan ulang lagu Tini dan Yanti, kemudian kita merekam, dan dirilis bareng. Untuk Prison Songs mendukung proyek sebagai kontributor bukan kapasitas sebagai researcher.

Mau gak mau ikut di arus gerakan tak hanya setor karya, apakah menarik isunya untuk kamu?

Sangat menarik. Dalam diskografi Banda Neira sebagian lagunya politis, dalam satu album pasti ada 1-2 yang berkaitan dengan isu politik. Kenapa mengiyakan terlibat karena Ananda jurnalis dan aku aktif di komunitas aktivis HAM. Dulu pekerja sosial kerja di Kontras sejak kuliah aktif, jebolan sekolah HAM pertama mereka sekitar tahun 2009, masuk komunitas mereka. Saya sudah diperkenalkan dengan tantangan HAM, dan ini sesuatu yang dekat di hati dan menjadi bagian dari gerakan itu.

Tini dan Yanti disebut lagu yang paling sering dinyanyikan di penjara oleh penyintas, bagaimana membayangkan ketika mengaransemen ulang?

Selalu memikirkan tiap membawakan bahwa ini tanggung jawab besar, dikasi kehormatan untuk menciptaan ulang sejarah yang sangat intim. Sejarah keluarga yang jadi alternatif dari buku sejarah di sekolah, dan sering jadi alat politik. Punya beban jadi orang yang menginteprestasikan dan membawakannya secara populer. Energinya kuat walau hanya membayangkan dan dengar cerita behind the scene. Mengumpulkan energi saat memamainkan karena kuat sekali, tak mungkin tak tersentuh, ada perasaan membuncah. Kami (Banda Neira) jarang membawakan karena terlalu besar energinya. Punya makna sejarah yang tinggi yang tak bisa dimainkan semena-mena.

Pernah ketemu keluarga pemilik lagu?

Ketemu tapi tak ngobrol banyak, kan ketemu keluarga penyinats lainnya. Paling ada respon, “Oh yang menyanyikan Tini dan Yanti kamu ya?” Mungkin karena perempuan sendiri di album ini. Lagu kamu menyentuh sekali. Membayangkan yang menyanyi mengalami penderitaan, membuka empati yang dalam. Aku berharap yang dengar di generasi berbeda bisa merasakan sedikit dari waktu itu.

Menurutmu bagaimana Komunitas Taman 65 merangkum jadi 6 lagu dari banyak karya lainnya?

(Wawancara jelang konser ini tiba-tiba disela seorang laki-laki muda yang ingin foto dengan Rara, saya mempersilakan namun Rara meminta fans-nya menunggu sebentar agar selesai dulu)

Apa tadi pertanyaannya? Oh ya, tak tahu persisnya kemarin ngorol dengan anak-anak Taman 65 mereka bilang sulit sekali menemukan karena tergantung memori penyintas yang makin menua seperti kepingan puzzle yang dirangkai ulang. Aku salut sih, terutama Made Maut yang kerja keras kalau false dicari nadanya. Mungkin itu yang membuat kenapa 6 lagu tapi ini inteprestasi aku saja atas cita-cita mereka.

Harapan dari acara ini agar pesannya lebih cepat dirasakan anak muda. Selain lagu apa yang perlu diluaskan untuk mendiskusikan pesannya?

Pertanyaan bagus dan sulit dijawab, tantangan bagi komunitas apa pun. Kelebihan acara seperti ini pop culture, musik paling tepat mengkomunikasikan ke generasi milenial, karena mereka konsumsi tiap hari. Kekuatan audio visual yang perlu diutak atik tapi tak melupakan konten. Tantangan lebih besar tak cuma melakukan event dan penyebaran ide tapi menumbuhkan nalar kritis dari diri kita karena itu yang dimatikan di beberapa dekade. Sesuatu yang membutuhkan proses lama, ini tugas utama kita selain membuat acara juga dialog dan diskusi lebih mendalam dan konsisten.

Judul acara Sekeping Kenangan, tanpa embel 65. Apakah menurutmu ketika menyebut 65, komunisme, atau PKI masih menimbulkan ketakutan?

Bukan takut tapi ketidaktahuan. Acara ini tak berusaha mengeksekusi hanya membicarakan peristiwa 65 yang masih sulit dibicarakan, tapi membawa misi lebih besar. Merawat ingatan sejarah alternatif yang tak tunduk pada kekuasaan. Sejarah ditulis siapa, narasi ini lebih penting. Ketika menggunakan bahasa tentang hubungan kemanusiaan kita perlu merangkul sebagai perjuangan bersama. Tak hanya 65, juga isu lain seperti LGBT karena masih yang banyak menutup dirinya. Ini sebuah kesempatan dan ruang untuk memperkenalkan dan berkenalan. Menurut aku ruang seperti ini sangat penting dan salut untuk komunitas 65 bisa membuat ruang yang aman dan membuka cakrawala.

====

Rara menyanyikan Tini dan Yanti dengan gitar seorang diri saat konser di Taman Baca Kesiman, Denpasar. Banda Neira, duo Rara dan Ananda Badudu sudah dibubarkan dan keduanya melanjutkan hasratnya masing-masing.

Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang. Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia. Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang. La historia me absolvera, La historia me absolvera.”

Gde Putra menyebut dalam buku Prison Songs jika syair “La Historia Me Absolvera” dikutip dari kalimat Fidel Castro saat dia memberikan pidato pembelaan di pengadilan pada 1953. Pemimpin revolusioner Kuba ini diadili karena menyerang Moncada Barack, markas tentara pemerintah. Penyerangan ini menjadi tonggak revolusi di Kuba.

Buku Prison Songs mengisahkan Tini (sang istri) melahirkan anak perempuan mereka. Santosa berimajinasi buah hatinya yang baru lahir itu bernama Yanti. Sebelum pria ini dijemput maut dan hilang tak berjejak, dia menuliskan syair “Tini dan Yanti” di dinding tembok penjara. Si pencipta syair tidak pernah bertemu lagi dengan istri dan buah hati yang dia rindukan setengah mati. Menurut para eks Tapol, Santosa tak tampak lagi di penjara sekitar akhir Desember 1965 atau awal Januari 1966.

Syair puisi Santosa ini lalu digubah menjadi lagu oleh Amirudin (Mister Amir atau Pak Atjit panggilan namanya oleh para tahanan politik). Lelaki asal Madura yang pernah bertugas sebagai Kepala RRI Kupang dan cakap membuat nada lagu.

La Historia Me Absolvera dalam bahasa Indonesia berarti sejarah akan membebaskan kita semua. Salah satunya potongan sejarah yang dihadirkan oleh para penyintas, musisi, seniman, dan komunitas anak muda Taman 65 di TBK.

 

 

The post Rara Sekar dan Pesona Sejarah Alternatif appeared first on BaleBengong.

Meniti Jembatan Sejarah 65 Bersama Anak Muda

Partitur Sekeping Kenangan yang disimpan sebagian penyintas sebagaimana terlihat di film. Foto Anton Muhajir.

Almarhum Ni Ketut Kariasih linglung ditanya soal lirik lagu karyanya.

Roro Sawita dengan tekun mencoba agar ia mengingat, dan harus bicara setengah berteriak persis di kupingnya. “Lagu apa? Ketimbang menyanyi, sibuk mikir disiksa saja,” perempuan lanjut usia ini terus menjawab dengan bingung dalam bahasa Bali.

Roro, relawan pendamping para penyintas kekerasan politik 1965, dan teman-temannya menuntun ingatan Kariasih dengan sebuah buku tulis penuh tulisan tangan indah berisi syair. Dia menyorongkan sebuah buku lusuh.

Kariasih yang biasa dipanggil Bu Pasek, dari nama suaminya, mulai membaca khusyuk. Roman wajahnya berubah. Ada senyum di sana saat membaca syair dengan kutipan kata setangkai bunga mawar.

Senyum, dan bahkan sesekali tawa, yang sama saat Sekeping Kenangan, film dokumenter tentang proses pengumpulan lagu-lagu itu diputar menyebar di Taman Baca Kesiman (TBK) Denpasar akhir Maret lalu.

Film ini disusun dari rekaman-rekaman amatir perjumpaan anak-anak muda komunitas Taman 65 di Bali dengan sejumlah korban pembunuhan massal pada 1965-1966, sejarah kelam bangsa ini.

Sekeping Kenangan adalah sejarah dan jembatan menuju pengungkapan kebenaran. Sejumlah penyintas (survivor) yang direkam, termasuk Bu Pasek, sudah meninggal saat kepingan sejarahnya ditayangkan dan ditonton ratusan orang didominasi anak muda ini.

Lagu dari Penjara

Sebelumnya, hasil menjahit ingatan para korban ini sudah dirangkum dalam buku dan CD musik pada 2015 bertajuk Prison Songs. Buku berisi narasi tiap penyintas yang dipenjara di Bali dan lagu serta syair karya mereka. Sesuatu yang sudah hilang dari ingatan atau sengaja dilupakan.

Enam lagu dalam album Prison Songs inilah yang membawa pembaca dan pendengar ke kisah-kisah tragis tahanan politik ini. Usai penayangan film, ada konser enam lagu karya tapol yang dikumpulkan dan sebagian diaransemen ulang anak-anak muda Taman 65 ini.

Salah satu syair Kariasih dijadikan lagu oleh tahanan politik lain, Amirudin Tjiptaprawira aka Pak Atjit berjudul Di Kala Sepi Mendamba. Oleh Taman 65, Jerinx, personil band rock Superman Is Dead (SID) diminta menyanyikannya. Kali ini digubah ulang dengan nada balada lembut bertenaga.

“Laksana candra menjelang purnama menyinari alam semesta. Duhai juwita rasa kasih mesra kini datang meronta jiwa. Laksana ombak merindukan pantai bergelora sepanjang masa. Curahan kasih kini tak ternilai tertumpah padamu jelita.

Mengapa mengapa dikau menjelma di kala sepi mendamba. Ku tak mengira kerlingan dara membekas sulit kulupa. Aduhai kasih percikan asmara bila kian kan datang menjelang. Kelana resah menantikan tuan di kala sepi mendamba.

Rangkuman Kisah Kelam

Dalam buku yang menyertai terbitnya album Prison Songs pada 2015 silam, para aktivis Taman 65 juga membuat catatan untuk tiap lagu.

Ribka Alvania, misalnya, merangkum perjalanan hidup Kariasih yang kelam.

Pada bulan Desember 1965, berbarengan dengan dimulainya aksi pembantaian massal di daerah Pekambingan, Denpasar, Kariasih yang sedang menggendong anak bungsunya yang masih bayi, ditangkap oleh tentara dan dibawa ke markas Kodim. Siksaan demi siksaan dideritanya setiap hari ketika proses interogasi berjalan. Tuduhan atas keterlibatan pembunuhan 7 orang perwira tinggi Angkatan Darat di Jakarta yang tidak dia ketahui sama sekali terus dikorek oleh para interogator. Dari dalam tahanan, Kariasih mendapatkan kabar dari anak sulungnya bahwa Pak Pasek, suaminya, yang ditahan di kantor polisi dipindahkan entah kemana dan tak diketahui lagi kabarnya, hingga saat ini. Tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata akan perasaannya saat itu. Kesedihan, penderitaan, penyiksaan, bak berlomba-lomba datang menerjang kehidupannya. Kehilangan suami tercinta, harta benda dibakar dan dirampas, dan terpaksa harus meninggalkan ketiga buah hatinya. Hampir 6 bulan menjadi tahanan Kodim, Kariasih dan bayinya dipindahkan ke penjara Pekambingan. Dikeluarkan pada bulan Agustus 1966 dengan status tahanan rumah yang mengharuskannya wajib lapor setiap hari ke kantor Kodim.

Film dokumenter menjelaskan duduk perkara munculnya ide merajut kisah-kisah penyintas ini. Roro Sawita lama meneliti dan bergaul dengan sejumlah korban di Bali. “Kita banyak bergaul dengan survivor, sering ngobrol termasuk lagu-lagu mereka sebelum dan sesudah 65. Selain ingatan tentang kehilangan masa depan dan diskriminasi,” urai Roro, perempuan peneliti yang kini mukim di Australia.

Perburuan ingatan pun dimulai sejak 2012, mereka berbagi peran. Ada yang mewawancarai, mengumpulkan semua penyintas yang berhasil dikontak, mendekati musisi yang diajak terlibat, dan Made Candra aka Made Mawut berperan mengolah jadi komposisi lagu termasuk aransemen baru.

Gde Putra, tim Taman 65 lain, merasakan kuatnya emosi dan komunikasi dalam lagu-lagu yang mereka kumpulkan dari serakan ingatan ini. “Agar bisa kuat dalam kondisi siksaan di penjara dengan berdendang. Bukan semata alat pelipur lara juga tersimpan data sejarah,” tutur penulis muda ini.

Tim dengan sejumlah anak muda bergairah ini mulai menerjemahkan karya yang tersimpan di memori mereka ini, memungut serpihan nada, memadukan lirik untuk jadi puzzle lengkap.

Made Mawut, penyanyi solo genre blues ini menyontohkan ketika menelusuri lagu Tini dan Yanti karya Ida Bagus Santosa dari Klungkung, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana. “Tini dan Yanti” diciptakan untuk mengingat istri dan anaknya saat mendekam di penjara.

Buku Prison Songs mengisahkan Tini (sang istri) melahirkan anak perempuan mereka. Santosa berimajinasi buah hatinya yang baru lahir itu bernama Yanti. Sebelum pria ini dijemput maut dan hilang tak berjejak, dia menuliskan syair Tini dan Yanti di dinding tembok penjara. Si pencipta syair tidak pernah bertemu lagi dengan istri dan buah hati yang dia rindukan setengah mati.

Menurut para eks Tapol, Santosa tak tampak lagi di penjara sekitar akhir Desember 1965 atau awal Januari 1966.

Syair puisi Santosa ini lalu digubah menjadi lagu oleh Amirudin (Mister Amir atau Pak Atjit panggilan namanya oleh para tapol). Lelaki asal Madura yang pernah bertugas sebagai Kepala RRI Kupang dan cakap membuat nada lagu.

“Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang. Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia. Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang. La historia me absolvera. La historia me absolvera.”

Dalam konser ini dinyanyikan Rara Sekar, biduan perempuan muda yang terkenal dengan duo Banda Neira (kini bubar) bersama jurnalis Ananda Badudu. Keduanya membuat aransemen baru Tini dan Yanti dari komposisi awal yang dirajut Made Mawut.

“Hanya sedikit yang ingat lirik Tini dan Yanti. Nada dasar belum lengkap, diciptakan bukan dengan alat musik,” Made Mawut mengingat. Untuk menyiasatinya, tim ini mengumpulkan paa survivor informan mereka jadi satu.

Dalam suasana hujan deras di sebuah tempat di Bali, mereka bersua. Memutar memori, dan diminta menyanyikan sejumlah lagu yang berhasil dirajut. Hadhi Kusuma, sutradara film Sekeping Kenangan memperlihatkan bagaimana bahagia dan suka ria membuncah saat para penyintas ini bersua.

Lagu lain adalah Dekon karya Ketut Putu musisi muda asal Singaraja, Buleleng. Ia menggubah kutipan pidato Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963 di Jakarta, yang berjudul “Deklarasi Ekonomi” tentang kemandirian ekonomi.

Gunawarma, personil band Nosstress menyanyikan lagu berbahasa Bali yang banyak dinyanyikan sebelum 1965 ini dengan syahdu. Memberi suasana sendu pada lirik lagunya yang revolusioner. Memberi kesan jika lagu ini sangat merakyat ketika itu, suara-suara pekerja keras emoh ditindas.

“Pertama dengar, kakak saya kaget. Kenapa menyanyikan lagu seperti ini,” kata Gunawarma yang lebih akrab disapa Kupit. Ia memulai mendiskusikannya bersama ibunya dan mendapati trauma masa lalu yang mencekam.

Lagu Sekeping Kenangan karya Amirudin Tjiptaprawira dinyanyikan Dadang S. Pranoto, personil band Navicula dan Dialog Dini Hari. Saat konser, ia terlihat masih murung dan mengaku menyanyikan lagu sedih ini untuk sahabatnya Made Indra yang baru meninggal kecelakaan bersama calon istrinya, Afi. Saat pemutaran film dokumenter, konser, dan dialog ini panitia menyediakan semacam tugu penghormatan dengan foto Made-Afi serta kotak donasi untuk upacara ngaben Made.

Pak Amir juga menciptakan Si Buyung yang dinyanyikan Nyoman Angga, personel Nosstress lainnya.

Made Mawut mengaransemen dan menyanyikan lagu berjudul Latini, disadur dari puisi karya seorang eksil Agam Wispi. Pria ini terkenal sebagai penyair yang menyuarakan ketidakberdayaan sebelum dinyatakan sebagai tapol.

Puisinya antara lain “Matinya seorang petani”, “Sahabat”, “Yang Tak Terbungkam”, “Pulang”, dll terangkum dalam antologi puisi Agam Wispi. Salah satu puisinya yang terkenal pada masanya yaitu “Latini”, syairnya dijadikan lagu sehingga mudah diingat oleh masyarakat.

 

Sebelum konser, tiga penyintas pria berbagi kisah singkat kehidupannya sebelum dan sesudah dipenjara. Mereka adalah Natar, Jumpung, dan Jenawi.

Jenawi adalah anak tentara, kini berusia 70 tahun. “Saya apresiasi apa yang dibuat anak muda ini,” ujarnya. Ia ikut meneriakkan Barisan Sukarno dengan ikut aksi, buat buletin, dan pamflet menyuarakan anti imperialisme.

Ia ditangkap pada 1968 di sekolah saat SMA dan dituduh subversif dipenjara enam tahun, lalu ditambah empat tahun lagi. “Bagaimana pertahankan diri di penjara? Kami punya keyakinan sejarah akan membebaskan, termasuk bertemu orang tua,” kisahnya.

Ia mengingat lagu Dekon sangat terkenal di Bali sebelum peristiwa pembunuhan dan penangkapan massal dampak peristiwa yang disebut pemberontakan PKI itu. “Dekon itu bagus, agar kemiskinan hilang dengan kemandirian ekonomi karena banyak tikus koruptor,” urainya.

Lagu lain yang juga dihapal para tapol saat dipenjara di Pekambingan, Denpasar adalah Si Buyung. Ketika sepi melanda, mereka berteriak menembus sel agar ada yang mulai menyanyi lalu dilanjutkan tapol-tapol lain jadi koor. Koor kesedihan adalah hiburan.

Testimoni di depan sekitar 500 penonton didominasi anak muda ini membawa keheningan, khusyuk mendengar kisah yang sangat jarang bisa disampaikan para korban, saksi hidup ini. Barangkali sebagian pernah mengalami masa saat rezim Suharto mewajibkan pelajar berbondong ke bioskop menonton film G30SPKI untuk cuci otak sejarah versi penguasa. Film yang memancing amarah dengan adegan-adegan penyiksaan, dan melanggar hak anak karena tak sesuai psikologis mereka.

“Melalui lagu dan dibawakan penyanyi berkualitas adalah strategi untuk ruang dialog karena penguasa menilai musisi dan musik ini kan apolitis,” ujar Gde Putra. Namun, stereotipe ini yang dimanfaatkan untuk mengajak makin banyak anak muda meniti jembatan sejarah yang direkayasa Orde Baru.

Film Sekeping Kenangan sejarah orang biasa yang dipenjara, sejarah bukan hanya milik negara. “Saya anak 90an, selama ini sejarah dikuasai pemenang. Saya perlahan menggali informasi dan menyadari saya pun korban kekejaman peristiwa 65 ini,” ungkap Nyoman Angga, personil band Nosstress.

Film dan konser ini juga sebagai penghormatan terakhir untuk penyintas yang terlibat dan sudah meninggal saat film ditayangkan yakni Santa, Prayitno, Badra, bu Pasek, dan lainnya. Suasana kekelaman masa lalu makin hadir dengan visualisasi kuat karya-karya ilustrasi dari street artist dan seniman grafis berpengaruh Bali seperti WD, Bayak, Slinat, dan Alit Ambara.

Konser lagu-lagu mereka yang dirilis dalam buku dan CD berjudul Prison Songs ini seperti upaya rekonsiliasi damai yang hingga kini tak serius dilanjutkan pemerintah. Forgive but not Forget. [b]

 

*Sebelumnya sudah dimuat di koran dan online The Jakarta Post

The post Meniti Jembatan Sejarah 65 Bersama Anak Muda appeared first on BaleBengong.