Tag Archives: Satori

Karena Tindakan adalah Pelajaran Terbaik

Tanpa diperintah, Satori mengambil lap kain.

Dengan berjalan agak tertatih, dia membawa, tepatnya menyeret kain kumal dari handuk bekas itu, ke dekat tempat minum. Lalu, dia letakkan kain lap tersebut di lantai basah karena sisa air minum yang dia tumpahkan.

Handuk dia injak. Lalu digeser-geser untuk membersihkan air tumpah tersebut. Dia ngelap lantai basah tersebut.

Kejutaaaaan. Satori kereeen…

Tentu saja bagiku ini mengejutkan. Anak kami yang baru berumur 1,5 tahun itu ternyata sudah punya inisiatif untuk membersihkan sendiri sisa air minum yang dia tumpahkan. Padahal kami tak pernah mengajari dia.

Tak cuma sekali itu Satori melakukan. Besoknya dia melakukan hal serupa ketika pipis di kamar. Padahal itu sudah sekitar pukul 8.30 malam, jam di mana kami sudah memadamkan lampu dan bersiap tidur di kamar.

Eh, begitu pipis, dia langsung bangun, ambil kain lap, dan membersihkan pipisnya sendiri.

Tak cuma soal membersihkan air. Hal lainnya adalah soal buang sampah. Misal pas kami lagi makan kue. Tanpa diperintah, Satori kemudian membawa bungkus makanan dari ruang tamu ke tempat sampah di dapur.

Begitu pula pagi ini. Setelah makan ubi goreng, dia membawa sisa makanan itu ke tempat sampah di depan rumah. Padahal ya kami tak menyuruh sama sekali.

Begitulah hal menyenangkan pada Satori. Meski tak pernah disuruh, tak pernah diperintah, tak pernah diajari, dia mulai membuang sampah dan membersihkan sisa pipisnya sendiri.

Bisa jadi karena dia belajar dari kebiasaan kami di rumah. Bagi bayi, yang belum terlalu mengerti bahasa omongan, cara belajar terbaik mereka memang lewat tindakan. Orang terdekat mereka, orangtua, saudara, pengasuh, adalah contoh utama.

Merayakan Satu Tahun Satori

Niat kami tak berjalan dengan baik.

Petugas penjaga di pintu masuk Candi Borobudur tak mengizinkan kami membawa brownies. Padahal kue manis itu maunya kami jadikan sebagai kue ulang tahun

Meski aku udah coba merayu mbak petugas, tetap dia tidak kasih izin. “Maaf, Pak. Pengunjung memang tidak boleh membawa makanan ke dalam karena bisa merusak,” kurang lebih begitulah si Mbak menjawab dengan sopan. Dia petugas yang baik.

Aku segera menitipkan kue brownies itu ke loket.

Maka, batallah niat kami untuk merayakan ulang tahun pertama Satori dengan tiup lilin dan potong kue di Candi Borobudur. Aku cuma bawa lilin buat jaga-jaga siapa tahu nanti bisa ditiup pas di atas sana. Ternyata kami juga tidak bisa menyalakan lilin itu di sana. Jadilah hanya jalan-jalan dan foto-foto pas di atas candi.

Niat kami untuk merayakan ulang tahun Satori di Borobudur itu datang begitu saja. Kami sedang liburan di Jogja sebelum lanjut kerja di Solo. Pas banget ketika kami jalan-jalan ke Borobudur tersebut juga ultah pertama Satori. Maka, kami pun bikin rencana untuk sekalian tiup lilin dan potong kue ultah di sana. Apa daya niat itu gagal.

But, tetap saja ini perayaan ultah yang menyenangkan. Istimewa karena pas kami sekeluarga sedang liburan di Jogja.

Lalu, soal Satori.

Dia tumbuh sehat dan menyenangkan. Contoh sederhana saja selama perjalanan kali ini. Tak rewel sama sekali. Sama seperti jika kami ajak jalan-jalan atau kegiatan di Bali. Dia anak yang cepat beradaptasi. Karena itu pula selalu menyenangkan kalau diajak jalan. Tak pernah bikin repot.

Di usia satu tahunnya, dia belum bisa jalan. Berdiri pun amat jarang. Paling hanya satu dua menit sambil berjalan selangkah dua langkah. Giginya sudah ada delapan. Rambutnya yang justru sejak dulu tak terlalu banyak.

Dari sisi kesehatan, Satori sepertinya lebih tangguh daripada kakaknya, Bani. Hanya pernah satu dua kali ke dokter atau bidan. Bisa jadi karena dia lahir lewat metode water birth dan minum ASI eksklusif. Tak tahu juga sih berpengaruh atau tidak. Yang jelas dia terlihat lebih kuat.

Aku ingat ketika Bani baru satu tahun. Nyaris tiap bulan kami harus ke dokter. Bisa jadi karena belum berpengalaman jadi cepat panik. Sakit sedikit ke dokter, demam sedikit langsung kasih obat. Kini, kami tak perlu melakukannya lagi.

Bani. Satori. Keduanya tumbuh sehat, menyenangkan, dan terus memberi energi. Seperti matahari..

Tetaplah Menjadi Matahari Kami, Bani dan Satori

Hari ini mungkin mewakili perjalanan kami.

Pukul 8 pagi Bunda duluan keluar. Dia liputan tentang anak-anak autis di wantilan DPRD Bali. Aku giliran momong Satori, yang kini berumur enam bulan. Karena hari Minggu, maka Bani juga di rumah. Libur sekolah. Pengasuh keduanya tak masuk.

Sekitar pukul 9.30 Bunda datang. Sekarang gantian. Dia yang momong, aku yang keluar rumah untuk berbagi pengalaman meliput isu HIV & AIDS di lokakarya Komunitas Jurnalis Peduli AIDS.

Selesai kasih pelatihan, aku ambil kue ulang tahun dan beli kado. Begitu sampai rumah, sekitar pukul 1 siang, giliran Bunda yang keluar untuk beli kado buat Bani. Aku yang kini di rumah jagain Bani dan Satori.

Pukul 3.30 sore, ketika Bani sudah selesai tidur siang, pesta kecil di rumah kami pun mulai, Anak-anak tetangga berkumpul di perpustakaan. Bani meniup lilin di kue ulang tahunnya. Aku dan Bunda memberikan kado untuknya. Sederhana. Buku dan jaket.

Sesederhana itulah kami selama ini mengisi hari-hari hingga Bani berusia enam tahun dan Satori berusia enam bulan. Kami bergantian berbagi peran demi Bani dan Satori.

Sejak Bani lahir enam tahun lalu, kami ingin sebisa mungkin mengasuh sendiri anak-anak kami. Tak ada campur tangan kedua orang tua kami, enaknya karena kami sudah tinggal terpisah dari orang tua, ataupun dari orang lain.

Salah satu pilihan kemudian adalah dengan bekerja paruh waktu ataupun menulis lepas. Dengan cara itu, kami merasa bisa lebih banyak waktu untuk Bani dan Satori. Memang belum seratus persen, karena kami juga mempekerjakan pengasuh pada hari kerja atau ketika kami harus keluar rumah bersama saat akhir pekan, namun  setidaknya anak-anak kami bisa punya waktu lebih banyak dengan kami.

Dan, begitulah kami saling mengisi bersama Bani & Satori. Tak terasa Bani, anak pertama kami, sudah enam tahun saat ini. Sementara itu Satori sudah enam bulan per 10 September lalu. Mereka tumbuh baik. Tak hanya sehat tapi juga, menurut kami, sesuai harapan. Mereka anak-anak yang membanggakan.

Maka, perayaan enam tahun Bani dan enam bulan Satori hari ini adalah hadiah bagi kami. Hadiah yang selalu kami sirami dengan cinta dan cita-cita kami. Terima kasih selalu menjadi matahari dan matahati bagi kami, Bani dan Satori..

Merayakan Sunatnya Bani dan Aqiqah Satori

Kami setengah putus asa. Hampir saja membatalkannya.

Bani menangis sampai meronta-ronta. Padahal dia sudah telentang di kasur serta membuka sarung dan celana. Dia siap disunat.

Kesiapan itu pun dia katakan lagi ketika tukang sunat tiba di rumah. “Bani sudah siap?” tanya tukang tersebut. “Iya. Siap,” jawab Bani. Aku sama sekali tak melihat rasa gentar atau takut di balik omongan Bani.

Keinginan untuk sunat itu memang datang dari dia sendiri. Meski umurnya baru 5,5 tahun, baru mau masuk SD, dia sudah minta untuk disunat. Padahal, biasanya sih sunat untuk anak-anak berusia sekitar 10 tahun. Aku dulu malah ketika lulus SD.

Kami tak tahu kenapa Bani sudah minta. Asumsi kami sih karena dia pernah melihatnya di film kartun Ipin & Upin. Karena dia terus minta ya kami dengan senang hati menerimanya. Maka, kami pun merencanakannya. Sunat akan dilaksanakan Kamis, 21 Juni 2012.

Tapi, begitulah. Ketika akhirnya sudah dibius tukang sunat, Bani baru merasakan kesakitan. Dia menangis. Meskipun sudah dirayu dan ditenangkan, dia tetap menangis keras. Tukang sunat yang sudah siap pun malah sampai berhenti dulu.

Sekitar 20 menit merayu, kami tak berhasil. Maka, kami pun agak memaksa. Aku dan Bunda memegang tangan dan kaki Bani ketika tukang menyunatnya. Ajaibnya, dia kemudian malah diam pelan-pelan.

Dan, sunat pun berhasil dilakukan.

Tak perlu waktu lama karena setelah itu dia main iPod ketika tukang sunat merapikan jahitan usai sunat.

“Gimana rasanya sunat, Bani?” tanyaku.

“Sakit. Kayak digigit macan,” jawabnya santai.

Kemarin, dua hari setelah sunat, kami pun mengadakan syukuran. Nebeng aqiqah adiknya, Satori. Jadi, resmilah sudah. Kami sudah melaksanakan salah satu kewajiban sebagai orang tua bagi mereka.

Biar ada gunanya tulisan ini, berikut tiga pilihan tempat sunat jika mau sunat di Denpasar.

Rumah Sunat
Jl Ceningan Sari Sesetan Denpasar Bali
Telp. 0361-721518, 0361-7442812, 08174700997
Biaya sunat sekitar Rp 550.000. Tidak memenuhi panggilan.

Susanto
Telp. 081338362166
Tarif Rp 350.000. Bisa dipanggil ke rumah.

Pondok Khitan Bali
Jl. Raya Kuta, Denpasar
Telp. 0361-758033
Biaya sunat sekitar Rp 600.000. Memenuhi panggilan ke rumah.

Ketiga dokter atau tukang sunat tersebut bisa melakukan semua metode sunat. Sebaiknya konsultasi dengan dokter atau tukang sunatnya. Kalau aku sih merasa cocok dengan tukang sunat Susanto. Meskipun masih muda, dia memberikan banyak penjelasan yang membuat persiapan terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Ke Bidan Saja. Lebih Cepat dan Murah.

Tak perlu antre sama sekali.

Kami bisa langsung mendapatkan pelayanan dari bidan Ni Wayan Darsini ketika sampai di rumahnya Kamis sore lalu. Padahal, kalau di dokter anak, kami harus antre setidaknya satu jam.

Begitu masuk ruang pemeriksaan di rumah sekaligus tempat praktik bidan, anak kedua kami, Satori Nawalapatra, pun ditimbang kemudian disuntik imunisasi. Ketika Satori menangis dan membuka mulutnya lebar-lebar, bidan meneteskan imunisasi lainnya.

Semua tahap tersebut tak sampai 15 menit.

Setelah ngobrol sebentar tentang kemungkinan dan cara mengatasi demam setelah imunisasi, kami pun bayar. Harga untuk pelayanan tersebut hanya Rp 25.000. Padahal itu untuk dua jenis imunisasi, DPT (suntik) dan polio (tetes), plus biaya konsultasi.

Jelaslah, imunisasi di bidan tak hanya lebih cepat tapi juga murah. Ada pula keuntungan lain, jaraknya sangat dekat. Tak sampai lima menit dari rumah kami di Jalan Subak Dalem, daerah pinggiran Denpasar Utara.

Karena itu, bagi kami, imunisasi di bidan jauh lebih bagus dibandingkan ketika imunisasi di dokter anak.

Anak kedua kami sudah berusia dua bulan. Dia sudah dua kali imunisasi di dokter anak. Jadi, kami bisa membandingkannya.

Ketika imunisasi di dokter anak, alasan kami sih karena biar lebih bagus. Meskipun lebih jauh dari rumah, kami pun membawanya ke dokter anak di salah satu rumah sakit ibu dan anak di kawasan Gatsu Tengah, Denpasar.

Pelayanan dokter anaknya sih bagus. Dia bersahabat. Dia juga mau menjelaskan apa saja yang kami tanyakan. Cuma untuk mendapatkan pelayanan itu kami harus antre sekitar satu jam. Bayarnya juga mahal. Konsultasi dengan dokter saja sudah Rp 100.000.

Itu belum termasuk harga obat. Sebagai ilustrasi, untuk imunisasi combo meliputi DPT, polio, dan HiB, pasien harus bayar Rp 500.000.

Padahal, kami hanya bayar Rp 25.000 di bidan meski belum termasuk imunisasi HiB. Kata bidan sih untuk imunisasi HiB hanya bisa di dokter dengan harga sekitar Rp 250.000. Tetap saja lebih murah.

Aku sama sekali tak menyalahkan tarif dokter anak yang lebih mahal dibandingkan bidan. Itu amat wajar. Lha wong pendidikan mereka lebih tinggi. Aku justru mengoreksi diri sendiri. Kenapa juga harus imunisasi atau periksa ke dokter anak. Padahal di bidan juga bisa. Itu saja sih. :)