Tag Archives: Sanur Village Festival 2017

Enam Alasan Mengunjungi Sanur Village Festival 2017

Pertunjukan musik dan tari di SVF2017. Foto Herdian Armandhani.

Sanur Village Festival selalu mendapatkan tempat di hati warga.

Terbukti penyelenggaraan even Sanur Village Festival ke-12 tahun ini ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Pegunjung festival yang berlangsung pada 9 – 13 Agustus 2017 di Lapanagan Maisonette, Pantai Segara, Kawasan Sanur, Denpasar ini pun penuh sesak.

Lokasi Sanur Village Festival dapat ditempuh dari Kota Denpasar selama 20 Menit. Bila Anda dari Bandara Internasional Ngurah Rai bisa tiba di lokasi selama 30 menit.

Mumpung masih hari ini masih berlangsung, mari berkunjung. Ada lima alasan kenapa Anda harus ke Sanur Village Festival tahun ini.

1. Merayakan Keberagaman

Tahun ini tema yang diangkat adalah “Bhineka Tunggal Ika” sama seperti slogan Pancasila. Tema ini diangkat untuk menyampaikan pesan ke seluruh masyarakat Indonesia agar tetap memiliki jiwa persatuan dan kesatuan.

Oleh karena itu, mengunjungi festival ini berarti ikut menjaga nasionalisme sebagai simbol sekaligus menjaga perbedaan masyarakat Indonesia yang penduduknya Heterogen.

2. Beragam Festival

Dari tahun ke tahun, rangkaian kegiatan Sanur Village Festival semakin banyak ragamnya. Tahun ini ada turnamen golf, aksi peduli lingkungan, festival bawah air, pesta makanan, pagelaran musik jazz, dan aneka lomba.

Lomba tahun ini antara lain lomba layangan internasional, lomba berlayar dengan jukung, kontes Burung, dan kompetisi surfing. Ada pula yoga dan parade musik maupun budaya Bali.

3. Menikmati Lampu Hias Cantik

Sanur Village Festival diadakan pada akhir pekan. Kebanyakan pengunjung lebih memilih berkunjung saat malam hari karena bisa melihar lampu-lampu hias sedemikian cantik.

Pengunjung yang memasuki areal Sanur Village Festival tidak dikenakan biaya. Hanya dikenakan biaya parkir kendaraan saja.

SVF 2017 menyediakan banyak tempat menarik untuk foto-foto. Foto Herdian Armandhani.

4. Banyak Tempat Selfie

Saat memasuki pintu areal Sanur Village Festival 2017, kita akan disambut replika patung ogoh-ogoh. Di sini banyak wisatawan yang mengabadikan momen bersama replika ogoh-ogoh dengan berfoto beramai-ramai ataupun berswafoto sendiri.

Lokasi Sanur Village Festival dibuat berbentuk kotak di mana para pengunjung bisa memutari stan-stan terbuka yang telah disediakan pihak panitia. Tiap stan juga bisa jadi tempat foto-foto.

5. Melihat Pertunjukan Musik

Ada panggung panggung utama di Sanur Village Festival di mana pengunjung dapat menikmati sajian hiburan mulai dari tarian khas Bali sampai iringan musik dan gamelan khas Bali.

Tiap malam ada musiknya. Dua hari lalu, saya beruntung saat ke sana ada Gede Bagus, jebolan kompetisi menyanyi X Factor Indonesia session pertama membawakan lagu-lagu Katon Bagaskara untuk menghibur para pengunjung.

Gede Bagus pun mendapatkan tepuk tangan para pengunjung yang menikmati malam di Sanur hingga waktu menunjukan pukul 22.00 wita. Selain itu ada pula beragam banda lainnya.

6. Bergaul dengan Turis

Selama Sanur Village Festival, pengunjung dari berbagai negara menikmatinya. Kita bisa bergaul dan hitung-hitung ngobrol dengan mereka.

Salah seorang wisatawan asal Australia bernama Scott dengan bahasa Indonesia sedikit terbata-bata mengatakan bahwa pagelaran festival sangat luar biasa, menghibur, dan juga bisa dijadikan referensi kunjungan pariwisata saat ke Pulau Bali.

“Menarik sekali acara ini, saya tidak pernah bosan untuk menyaksikan hiburan yang disajikan, tahun depan saya akan akan teman-teman saya ke Bali lagi” ungkapnya. [b]

The post Enam Alasan Mengunjungi Sanur Village Festival 2017 appeared first on BaleBengong.

Menumbuhkan Sinergi di Sanur Village Festival 2017

Berbagai agenda menarik hadir lagi di Britama Sanur Village Festival 2017.

BritAma Sanur Village Festival 2017 menumbuhkan sinergi komunitas warga, pemerintah, dan badan usaha milik negara (BUMN) untuk mendorong produktivitas para pelaku ekonomi kreatif dan membina talenta muda.

Hal tersebut mengemuka dalam jumpa pers BritAma Sanur Village Festival 2017 yang dihadiri Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar Anak Agung Bagus Sudarsana, Ketua Umum BritAma SVF Ida Bagus Gede Sidharta Putra dan BRI Regional Vice President Bali-Nusra Yoyok Mulawarman ?di Maya Sanur Resort, Senin (7/8/2017).

BritAma Sanur Village Festival 2017 akan berlangsung pada 9-13 Agustus 2017 mendatang.

Menurut Sudarsana tiga komponen strategis yakni masyarakat dalam hal ini Yayasan Pembangunan Sanur sebagai penyelenggara BritAma ?SVF, Pemkot Denpasar dan Bank BRI sebagai salah satu usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bergandeng tangan mempersembahkan festival yang diisi puluhan kegiatan ekonomi, sosial, lingkungan dan seni budaya. Selain untuk promosi destinasi, kegiatan ini juga bermuara untuk mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Pemkot Denpasar, lanjutnya, menganggarkan sejumlah dana untuk penyiapan infrastruktur dan berbagai keperluan festival ini seperti panggung, toilet umum, kebersihan dan lain-lain.

“Kami berharap kegiatan dari Desa Sanur memberikan sumbangsih bagi pariwisata Bali dan nasional serta peningkatan ekonomi kerakyatan yang nyata bagi semua lapisan masyarakat,” katanya.

Menurut Sidharta Putra ?festival yang telah memasuki tahun ke-12 ini telah merangkul para pelaku ekonomi? kreatif untuk menampilkan berbagai gagasan dan produk dalam ajang pertunjukan, pameran, workshop dan puluhan kegiatan selama penyelenggaraan festival. Tak sedikit pula para pemiliki talenta muda yang ikut andil meramaikan festival yang setiap hari menyedot ribuan pengunjung.

Untuk menjaga agar tetap eksis dan berkualitas, Sidharta Putra atau akrab disapa Gusde ini selalu melibatkan tokoh berpengalaman untuk melakukan kurasi. Pemilihan pertunjukan seni budaya misalnya, panitia selalu mengundang para seniman senior untuk menentukan kelompok mana saja yang bisa tampil.

“Untuk musik, kami dibantu musisi Indra Lesmana untuk memilih pengisi di panggung? utama,” ujarnya.

Selain kurasi juga dilakukan regenerasi terhadap kelompok-kelompok penampil. “Dan, yang lebih penting kita lakukan riset tren pasar?, sehingga apa yang kita suguhkan memang diminati pengunjung,” kata Gusde.

Gusde yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Denpasar mengatakan SVF telah berhasil mencetak “repeater guest” atau tamu yang berulang hadir ke Sanur. Ini terbukti dari sejumlah pesanan hotel maupun penjadwalan ulang kedatangan wisatawan yang watkunya bersamaan dengan pelaksanan Sanur Village Festival 2017.

Sementara itu, BRI Regional Vice President Bali-Nusra Yoyok Mulawarman? mengatakan BRI telah mendukung SVF sejak 2010 dan kali ini ingin mengoptimalkan layanan transaksi nontunai. “Seluruh transaksi di arena festival hanya dilakukan dengan nontunai menggunakan kartu digital atau uang elektronik,” ujarnya.

Pengunjung yang menggunakan uang elektronik Kartu Brizzi akan mendapatkan berbagai bonus dan hadiah. Kata Yoyok penawaran menarik juga diberikan kepada pengunjung yang membuka tabungan BRI BritAma, registrasi e-banking, aplly kartu kredit maupun pembelian kartu Brizzi.

Selain itu, Bank BRI akan mengangkat 146 UMKM (33 UMKM di antaranya merupakan binaan BRI) melalui pameran produk di ajang festival ini. “Melalui festival ini kami berharap bisa meningkatkan ‘fee-based income’ dan menggali potensi bisnis lainnya yang terkait dengan UMKM,” kata Yoyok. [b]

The post Menumbuhkan Sinergi di Sanur Village Festival 2017 appeared first on BaleBengong.

Memamerkan Perbedaan lewat Pameran Foto

Indahnya Keragaman. Foto Anom Manik Agung

Tak sekadar gambar, foto-foto ini juga merayakan perbedaan.

Sanur Village Festival (SVF) 2017 hadir dalam tema “Bhinneka Tunggal Ika” pada, 9-13 Agustus 2017. Mengacu pada tema tersebut, maka pameran foto di Santrian Gallery mengambil tema “Bhinneka Tunggal Ika” yang berlangsung pada 4 – 19 Agustus 2017.

Pameran foto dengan kurasi ini merupakan ajang ke-8 kali sejak berlangsungnya Sanur Village Festival yang sudah sampai pada penyelenggaraan ke-12 tahun ini.

Foto-foto merupakan visualisasi aktivitas masyarakat Indonesia dalam merefleksikan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai filsafah hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berbeda-beda dalam ragam agama, bahasa, suku dan budaya, namun aktivitasnya menunjukan rasa persatuan sebagai Bangsa Indonesia.

Proses kurasi dilakukan lewat kurator tunggal I Made Iwan Darmawan, di mana setiap peserta mengirimkan karya fotonya lewat group facebook “Bhinneka Tunggal Ika (SVF 12)”.

Kurator menyeleksi dengan format sebuah foto esai untuk dapat menggambarkan sebuah filosofi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia yang dijiwai dari Bhinneka Tunggal Ika.

Kurasi ini mulai pemilihan foto “Tarian Wayang Wong Sutasoma” (karya Wayan Gunadi). Dalam kitab Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular di jaman kerajaan Majapahit dalam pemerintahan Raja Hayam Wuruk pada abad ke-14, disebutkan kalimat “Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Artinya Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

Pada lambang Negara, kata Bhinneka Tunggal Ika tertulis dalam pita yang dicengkram oleh Burung Garuda Pancasila, seperti dalam foto Bersama Dalam Keberagaman (Gede Sudika Pratama) dan Bhinneka Tunggal Ika Maha Sakti (karya I Wayan Gede Supartha).

Para fotografer juga ada yang membuat format menerjemahkan filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” seperti yang dimunculkan dalam foto karya Indahnya Keragaman (karya Anom Manik Agung), Bhinneka Tunggal Ika, Refleksi Sebuah Keberagaman (karya I Made Adi Dharmawan), Temanku Sahabat Baikku (karya Puja Astawa), Aku, Kamu dan Kita Tertawa Bersama (karya Kadek Arya Wahyu Diputra) dan juga foto berjudul Barong (karya Wayan Aksara) yang memunculkan sebuah bentuk kesenian dengan nama sama yaitu Barong, satu berkembang di Bali dan satu berkembang dalam kesenian Tiongkok yang juga berkembang di Bali.

Konsep nyata Bhinneka Tunggal Ika adalah dengan membangun semua tempat ibadah umat beragama dalam satu wilayah dan saling berdampingan di Nusa Dua, Bali seperti yang ditunjukan dalam foto Puja Mandala (karya Nyoman Arya Suartawan).

Para fotografer pula mencoba menemukan titik konsepsi perbedaan adalah satu dengan kegiatan yang digagas bersama, yang muncul dalam foto Kolaborasi Seni (karya Made Dwi Priyatna Indrawan), Megibung (KM Agus Mahendra) dan Upacara Bendera (Nur Efendi), Upacara Bendera di Kaki Semeru (Putu Sukmana Ghitha), dan Kesatuan dalam Keragaman (karya Agus Wiryadhi Saidi).

Foto lainnya menggambarkan bahwa sejumlah kesenian tumbuh dan besar di tanah Bali namun berasal dari luar Bali, dan menyatu dengan kebudayaan Bali. Seperti pementasan Tari Rodat di Goa Gajah (karya Kadek Raharja), Penjaga (karya Gusti Semarabawa), Ngayah (karya IB Subhakarma), Baris Cina Sanur (Linggar Saputra), Pelebon dengan Musik Rodat (karya Budiarta Aryawan) dan Angpao untuk Barongsai (Wayan Naya).

Pada foto lainnya terkurasi sebagai kegiatan yang beragam agama dan suku, namun tanpa ada jarak dalam memahami hubungan satu dengan yang lainnya dalam koridor berbangsa, terlihat dari, Saling Menghormati (karya Nyoman Hendra Adhi Wibowo), Doa Bersama (karya I Ketut Gede Kochiana), Beda Agama, Satu warna Satu Tujuan (karya I Made Satriya Dwi Baskhara), Ikut Bersedekah (karya I Ketut Widiatmika), Menabur Abu Jenazah (karya Raka Bujangga), Ied In Bali (karya Ida Bagus Krisna Wirajaya), Peringatan Yubelium 75TH (karya Agustinus Satmoko Tody P) dan Malabuh Gentuh (karya Putri Kusuma)

Foto pergaulan antar suku, agama dalam kegiatan yang lebih terbuka dan bebas seperti foto judul Moto Perbedaan (karya Taum Sardika), Lentera pemersatu (karya I Nyoman Kusala) dan Belajar Tari Bali (karya Wayan Gunada).

Juga kegiatan yang ada menunjukan bahwa keragaman itu bagian dari penyatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti ditunjukkan dalam foto judul “NKRI Harga Mati” (karya I Wayan Erwin Widyaswara) dan Penghormatan Terakhir (karya I Wayan Mardana).

Foto terakhir, sebuah foto close up suku Papua, membuat semua orang yang melihatnya danyakin bahwa kita semua akan berucap sesuai judul foto “Saya Indonesia” (karya foto I Wayan Gunayasa).

Foto yang dipamerkan lewas kurasi ini, akan diteruskan untuk terlibat dalam lomba foto oleh 3 juri independen (bukan kurator) yang merupakan fotografer, wartawan dan budayawan.

Hadiah yang diperebutkan adalah total Rp 14.000.000. Dengan perincian juara Juara 1 mendapat hadiah Rp 4.000.000,-. Juara 2 mendapat hadiah Rp 3.000.000,- Juara 3 mendapat hadiah Rp 2.000.000,- Dan 10 juara harapan dan masing masing mendapat Rp 500.000. [b]

The post Memamerkan Perbedaan lewat Pameran Foto appeared first on BaleBengong.