Tag Archives: rujak

Warung Men Gege, Udah Pernah Kesini?

Menikmati kuliner tradisional Bali semacam tipat, blayag atau rujak memang perlu sedikit ekstra mencarinya sebab tidak semua memberikan rasa yang sesuai dengan harapan. Iseng penulis mencoba kuliner yang direkomendasikan oleh seorang teman yang katanya sih enak dan nikmat mengoda saylalala….. Dan akhirnya tepat siang tadi sekitar pukul 12.00 wita Kamis, (13/9) penulis meluncur ke Warung…

Ke Bali? Musti Coba Ini!

Sudah pernah ke Bali? Syukurlah.

Sudah lihat-lihat pantai dan pura? Yah, tidak sia-sia.

Sudah coba Ayam Betutu? Selamat.

Sudah ke Bali dan belum pernah coba Rujak kuah pindang? Lebih baik sekalian bilang belum pernah ke Bali.

Rujak kuah pindang, semacam jajanan sehat dari Bali. Rujak ini sebenarnya salah satu kuliner khas Denpasar (agak berlebihan sih kalau belum pernah coba ini sampe bilang belum ke Bali, hihi). Tapi kalau punya teman yang orang Bali yang sedang merantau ke daerah lain, sebagian besar kalau ditanya apa yang paling dikangenin pasti mereka akan menjawab ‘Rujak kuah pindang!’ setelah itu baru mereka menjawab, ibu, ayah, adik, kakak, nenek, kakek, tetangga, dan pacar (kalau punya).

10612567_684692758274210_1120545315195516750_n

Rujak ini sesederhana campuran dari potongan-potongan mangga muda (diiris tipis-tipis tentu), lalu disiram dengan bumbu yang isinya terasi, cabe, garam (ditumbuk tidak terlalu halus supaya potongan cabe seksi masih terlihat), lalu sebagai sentuhan akhir disiramkanlah kuah dari rebusan ikan pindang.

Rasanya? (telen ludah dulu), rasanya gurih dan pedas (penulis biasa pake 5-6 cabe), pedasnya bisa dipilih sendiri sesuai dengan selera. Buahnya juga bisa dipilih sendiri, tergantung buah apa yang dimiliki ibu/bapak penjual. Kesukaan penulis sih Mangga muda, kadang Nenas dan Pepaya juga segar. Selain bisa memilih buah, dan cabe, bumbunya sendiri bisa ditambahkan gula merah, atau gula pasir, atau asam, atau bahkan kacang untuk yang suka.

Dimana mencari rujak kuah pindang? Yah, pedagang rujak kuah pindang bertebaran di daerah Denpasar lebih banyak daripada warung kopi yang sekarang sedang menjamur. Kalau lewat warung kelontong yang ada ulekan batunya, sudah hampir pasti itu warung jualan rujak (kecuali si ibu ternyata jualan ulekan). Di gang-gang kecil, di pinggir jalan besar, boleh melambat kalau melihat warung kelontong, untuk mencari rujak kuah pindang. Biasanya mereka akan jualan dari pagi sampai habis itu bahan baku rujak, kalau malam, ada juga beberapa pedagang yang jualan rujak berbarengan dengan nasi Jinggo (apa itu nasi Jinggo? Tunggu postingan selanjutnya yah).

Sudah coba Rujak kuah pindang? Kalian luar biasa! ;)