Tag Archives: Rudolf Dethu Showbiz

THE HYDRANT KE TANAH SUCI LAS VEGAS. LAGI.

Petang ini, Rabu, 18 April 2018; The Hydrant pergi terbang meninggalkan Bali. Menuju Amerika Serikat untuk tampil di Viva Las Vegas Rockabilly Weekend. Lagi. Yang kedua kali.

Kembali beraksinya Empat Klimis-Parlente di festival rockabilly terbesar sejagat ini menjadi amat istimewa karena mereka bakal tampil di malam yang sama dengan−Gusti Alloh mohon beri kami petunjuk− …ya, Stray Cats!

Pun kehadiran kuartet asal Bali di festival rockabilly paling panjang dalam sejarah ini−tahun 2018 merupakan penyelenggaraan yang ke-21 alias telah berjalan selama 21 tahun−pantas dicatat karena mereka masih menjadi satu-satunya grup musik asal Asia yang berkesempatan unjuk gigi di Viva Las Vegas.

Satu-satunya? Jepang memangnya bukan di Asia? Well, band-band asal negeri Matahari Terbit sudah pastilah kerap manggung di situ. Kan skena rockabilly Jepang adalah—remas testikel saya jika saya salah—yang kedua terbesar setelah Amerika Serikat. Terlalu masif untuk dibandingkan dengan negara-negara di seputaran Asia lainnya yang skena rockabilly-nya sebagian besar mikro-mini, sporadis, dan banyak di antaranya yang kembang kempis, hidup bosan mati segan.

Eh, atau mungkin direvisi sedikit untuk menghindari dinyinyiri netizen (dan PKS serta Fadli Zon): Sampai tahun ke-21 The Hydrant menjadi satu-satunya paguyuban Rockabilly di Asia Tenggara yang pernah tampil di Viva Las Vegas. Bagaimana? Puas?

Marshello, Adi, Christ, dan Vincent sungguh keterlaluan rasa girangnya. Tentu saja, wong Stray Cats itu kan bagi mereka edan-edanan suri tauladan. Bak Mario Teguh di mata orang-orang yang rasa percaya dirinya kurang. Bagi The Hydrant sosok Brian Setzer, Slim Jim Phantom, dan Lee Rocker; tak ubahnya nabi.

Belakangan ini di wajah personel The Hydrant ekspresi bahagia lebar terkembang. Ditanya apa kabar dijawab dengan senyum lebar. Dibisikkan berita kurang enak malah tertawa riang. Diledek soal lupa lirik direspons dengan girang terpingkal-pingkal. Mereka cuma merengut jutek ketika 2 botol wiski tiada disediakan panitia di dressing room. Pula saat disodori formulir pendaftaran relawan Gerakan Nasional Anti Miras.

Di bandara Ngurah Rai. Bersiap menuju Amerika Serikat lewat Hong Kong.

Perjalanan ke Las Vegas sendiri bakal ditempuh hampir sehari penuh. Maklum, terbangnya menggunakan maskapai paling murah yang pernah beroperasi sepanjang sejarah. Mesti ngider Probolinggo 7 kali, transit di Kampung Rambutan 11 jam serta disediakan fasilitas mandi pakai gayung + shampoo 1 sachet bagi ber-6 pun bakal dijabani asal bisa sampai di The Orleans Hotel & Casino, lokasi penyelenggaraan Viva Las Vegas.

Memang, untuk tur kali ini kami harus sedikit irit. Pasokan duit pas-pasan. Dibayar secukupnya saja oleh Tom Ingram, sang bos Viva Las Vegas. Alokasi dana nanti lebih untuk jaga-jaga: transportasi darat terbayarkan, penginapan beres, makan tidak masalah, pomade aman, wiski sans. Perkara belanja, beli titipan buat bapak, ibu, anak, dan kerabat di seluruh Nusantara; biar itu jadi urusan masing-masing anggota kontingen. Kalau saya mah bisa membeli sebotol Lagavulin 16 saja sudah sujud syukur ikhlas tawakal pada Tuhan Yang Maha Esa.

19 April jam 10.30 pagi kami dijadwalkan mendarat di bandara Tom Bradley, Los Angeles. Dari situ dengan mengendarai mobil van 12 kursi−mirip seperti situasi pada 2016, kala pertama kami ke Viva Las Vegas−langsung lanjut menyusuri jalan bebas hambatan menembus Gurun Nevada. Dalam perjalanan kami akan putar haluan sedikit untuk menjemput si Putri Sendu, Leanna Rachel. Sabtu, 21 April, 20.30 WHLV (Waktu Hedonis bagian Las Vegas), Pompadour Four bakal menggebrak panggung Piano Bar, salah satu lokasi jejingkrakan paling bergengsi di The Orleans Hotel & Casino.

Tunggu kisah selanjutnya! Viva Las Vegas, we’re comin’ atcha!

*Ini status di media sosial beberapa pekan silam. Diunggah kembali di sini demi menuju dokumentasi yang lebih rapi.

MALARIA HOUSE PLAYGROUND: A DAY WITH RUDOLF DETHU

I hosted Malaria House’s Playground series back in February. The video was taken during my first concert series of Singer-Songwriter Session at Fitzroy, Jakarta.

Click here to see the original video.

______________

Rudolf Dethu is a writer, socio-political activist, and creative industry leader in Indonesia. Superman Is Dead and Navicula were his biggest achievements as band managers when they became one of the nation’s biggest rock bands.

Rudolf Dethu is currently working on his two projects, MBB – Muda Berbuat Bertanggung Jawab, a pluralism forum due to his concern about religious fundamentalism that is getting stronger amongst Indonesian youth, and making a come back to the music business with Rudolf Dethu Showbiz, where he currently manages The Hydrant, Leonardo and His Impeccable Six, Negative Lovers, Rebecca Reijman, and Leanna Rachel. Other than that, he is also the Music Content Development of Rumah Sanur, one of the famous vibrant creative hub in Bali.

How is a day in the life of Rudolf Dethu? Check out Malaria House spent a day with Rudolf Dethu during the preparation of Singer Song Writer Session at Fitzroy Jakarta.

Filmed by Boristhemoris

FROZEN MUSIC SESSION

This Saturday, 18 Nov 2017, at Rumahan Bistro, is most definitely gonna be a special Saturday night, presented by Frozen.

A killer combo of movie screening of Trans-Europe Ramblers (The Hydrant’s European Tour), talk show with the movie director Erick Est, live performances of RDS Bali-based artists such as The Hydrant, Leanna Rachel, Manjâ, Truedy, and One Bomb Theory.

7-8pm Movie screening Trans-Europe Ramblers
8-8.20pm Talk show with Erick Est
8.20-8.40pm Truedy
8.40-9pm Leanna Rachel
9-9.30pm Manja
9.30-10pm One Bomb Theory
10-11pm The Hydrant

Free entry!

LEANNA RACHEL: COFFEE

Rilis Pers

LEANNA RACHEL: COFFEE

Nestapa namun nrimo.

Demikian pemaparan ringkas-padat paling pas untuk menggambarkan “Coffee”.

Tembang terbaru milik biduanita jelita asal Los Angeles, Leanna Rachel, ini berkisah soal hubungan asmara yang awalnya mesra berseri-seri tapi ternyata berujung pada patah hati. Segala kenangan manis yang dijalani bersama-sama mesti dilupakan, ditinggalkan sepenuhnya. Hati harus dikuatkan. Menjalani kehidupan sendiri menjadi pilihan.

“Coffee” yang begitu saja tercipta di sepucuk hari kala Leanna tertimpa gelisah, paradoksal senang-sedih, kontradiktif pasif-agresif, mencoba meyakinkan kita bahwa perasaan duka tak mesti terus diratapi. Bahwa duka seyogianya dirangkul, dipeluk saja, terbuka diterima.

Selain mengandung pesan positif—hidup tawakal dijalani, badai pasti berlalu—lagu setengah riang ini juga menjadi semacam pertanda bahwa Leanna serius mengakrabi Indonesia, Sabang-Merauke adalah rumahnya kini. Tahun lalu, 2016, misalnya, merupakan masa paling lama perempuan blasteran Amerika-Filipina ini tinggal di Indonesia. Lebih dari 1 tahun tanpa jeda. Di “Coffee” pula Leanna mulai memasukkan secuplik lirik berbahasa Indonesia.

“Saya senang mendengar ketika orang berbicara dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja saya girang saat menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya, semua pengalaman itu terasa alami dan cair.”

“Saya masih belajar agar bisa lebih lancar, makanya saya hanya memasukkan satu verse saja sebagai permulaan,” ujar Leanna semringah.

Pun “Coffee” menegaskan pekatnya “Selera Nusantara” di diri Leanna sebab seluruhnya direkam di Bali serta para partisipan adalah musisi anak negeri yaitu Noriz Kiki (drum) serta Edi Pande Kurniawan (bas) dengan melibatkan produser sakti mandraguna Dadang Pranoto.

Mari teguk kopi dan sambut hari baru sendiri, mandiri!

__________

https://leannarachel.bandcamp.com/track/coffee
Lagu dan Lirik: Leanna Rachel & Rudolf Dethu
Produser: Dadang Pranoto
Mixing and mastering by: Trigan Young
Studio: Seminyak Pro Studio