Tag Archives: Rockabilly

DRINKING RESPONSIBLY

DRINKING RESPONSIBLY—Stay Sane, Safe, and Sensible!

Sampai jumpa Jumat depan di acara temu wicara dengan sponsor utama Diageo dan berfokus pada isu mengkonsumsi minuman beralkohol secara bertanggungjawab.

Acara edukasional berpadu dengan hiburan musik ini adalah edisi ke-2 setelah sebelumnya diadakan pada pertengahan Februari lalu.

Akan hadir para nara sumber dengan beragam latar belakang:
1. Dendy Borman – Corporate Relation Director Diageo Indonesia
2. Ngurah Arya Wayushantika – District Operations for GO-CAR
3. Sugi Lanus – Founder of Hanacaraka Society
4. Venusia Indah – Music Curator and Creative at Single Fin & The Lawn
5. Brigadir Putu Vindi Mahendra – Dit Pamobvit Polda Bali

Lalu dilanjutkan dengan hiburan musik, menampilkan:
1. DJ Marlowe Bandem
2. Sendawa
3. The Hydrant

15 Mar 2019
Rumah Sanur
18.00-23.00

Ini sekaligus untuk mengenang kepergian karib tercinta kita semua, almarhum Made Indra dan Afi, yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, setahun lalu.

Pasca kejadian memilukan tersebut saya beserta Ewa Wojkowska berjanji untuk menebus kesedihan dengan menyebarkan pemahaman serta kiat-kiat soal minum bertanggungjawab. Menikmati minuman beralkohol seraya selalu mawas diri.

Senang sekali kami berdua bisa menepati janji pada Made serta Afi. Setelah yang kedua ini semoga bisa terus berkeliling berbagi pengetahuan tentang minum bertanggungjawab.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Enjoy alcohol and drink responsibly!

THE DAY THE MUSIC DIED!

Today is the 60th deathiversary of The Day the Music Died.

On February 3, 1959, American rock and roll musicians Buddy Holly, Ritchie Valens, and J. P. “The Big Bopper” Richardson were killed in a plane crash near Clear Lake, Iowa. The event later became known as “The Day the Music Died”, after singer-songwriter Don McLean referred to it as such in his 1971 song “American Pie”.

All three were travelling to Fargo, North Dakota, for the next show on their Winter Dance Party Tour which Holly had set—covering 24 cities in three weeks, to make money after the break-up of his band, The Crickets, a year before. Holly decided to hire the plane after heating problems developed on his tour bus.

Fans of Holly, Valens, and Richardson have been gathering for annual memorial concerts at the Surf Ballroom in Clear Lake since 1979. The 50th-anniversary concert took place on February 2, 2009, with Delbert McClinton, Joe Ely, Wanda Jackson, Los Lobos, Chris Montez, Bobby Vee, Graham Nash, Peter and Gordon, Tommy Allsup, etc. Jay P. Richardson, the son of the Big Bopper, was among the participating artists, and Bob Hale was the master of ceremonies, as he was at the 1959 concert.

Don McLean addressed the accident and dubbing it “the Day the Music Died”, which for McLean symbolised the “loss of innocence” of the early rock-and-roll generation

As we all know, today the music, Rock ‘n’ Roll in particular, is still alive and kicking. Just like Neil Young sings it on “My My, Hey Hey (Out of the Blue)”: Rock ‘n’ roll will never die. Rock ‘n’ roll is here to stay.

Keep on rockin’ in the free world!

Note: you can also read on my blog about the same topic—in Bahasa Indonesia: The Day the Music Died

IS MORRISSEY ROCKABILLY?

Photo: LIPSapp Indie Radio.

Same question that is commonly asked about Social Distortion, can Morrissey be called rockabilly?

Bisa iya. Bisa tidak. Seperti juga Social D—utamanya Mike Ness—citra Morrissey beserta band pengiringnya amat klop dipredikati rockabilly: rambut quiff/pompadour, klimis, minyak rambut melekat mengkilat, kaos berpadu jins, dandanan yang kental bau 50s, sepatu brogues, …apalagi?

Nuansa Rockabilly paling terlihat di album ke-2, Kill Uncle, dan ke-3, Your Arsenal. Kehadiran Boz Boorer dan Alain Whyte sejak Your Arsenal kian memperkuat warna rockabilly pada imej Morrissey. Bukan hal yang aneh sebenarnya sebab Boz dan Alain memang aktivis rockabilly dan memiliki band rockabilly-nya masing-masing di luar Morrissey. Band Boz, The Polecats, merupakan salah satu kelompok British rockabilly yang duhai disegani.

Setelah kedua album tadi Moz cenderung tak akrab lagi dengan rockabilly. Tinggal gaya dandan saja yang bertahan rockabilly.

Silakan simak beberapa tembang yang menunjukkan kepekatan rockabilly mewarnai proses berkesenian Moz.

HAPPY BIRTHDAY, ELVIS PRESLEY!

Photo: dc-shoe.com

Happy birthday Elvis Presley!

Elvis merupakan sosok paling berpengaruh nomer 1 dalam berkesenian, nabi duhai mulia, inspirasi terbesar The Hydrant, pionir Rockabilly di Indonesia, band yang saya manajeri.

Yang paling gamblang terlihat adalah pengaruhnya pada sang biduan, Marshello. Ketika predikat “Brown Elvis” dijatuhkan padanya, kalian tak tahu seberapa ultra girang dan bangganya si Shello.

Untuk riang ria merayakan hari kelahiran pionir rockabilly ini mari kita beberkan gono-gini tak penting tapi penting soal dia:

1. Elvis Aaron Presley memang tenar dengan rambut hitam legamnya. Tapi itu karena disemir. Warna aslinya adalah coklat. 

2. Elvis memiliki gitar kala berusia 11 tahun. Tadinya ia hendak membeli senapan namun ibunya meyakinkannya agar mengambil gitar saja. 

3. Pada 1954 ia mengikuti audisi untuk kuartet gospel the Songfellows. Tapi tidak diterima.

4. Tembang pertama yang mengantarnya menjadi populer, “Heartbreak Hotel”, terinspirasi oleh artikel mengenai bunuh diri di sebuah koran lokal.

5. Nama rumah besar mewahnya di Memphis, Graceland, mengambil dari nama puteri dari pemilik sebelumnya, Grace.

6. Elvis telah merekam lebih dari 600 lagu dan tiada satu pun ditulis oleh dirinya.

7. Saat tampil di TV pada 1956 ia diminta beraksi tanpa gitar. Agar tetap atraktif Elvis lalu menggoyang pinggulnya. Amerika Serikat seketika heboh, ia dicap amoral. Ia lalu dinamai Elvis the Pelvis.

8. Di tahun yang sama seorang hakim menyebutnya “liar” serta musiknya dianggap merusak tatanan moral muda-mudi. Di sebuah konser ia dilarang bergoyang pinggul. Ia kemudian menggoyangkan jari-jarinya saja sebagai bentuk protes.

9. Little Elvis adalah sebutan khusus Elvis untuk penisnya.

10. Elvis kabarnya masih punya hubungan keluarga dengan 2 presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Jimmy Carter.

Video yang diselipkan di sini, “A Big Hunk O’ Love”, semacam kompilasi Elvis the Pelvis.

Cheers on your birthday, the King of Rock and Roll!

GELIAT MUSIK BALI: KECIL, KUAT, BERBAHAYA

The Hydrant | Foto: Forceweb

Tanpa terasa, tiada dinyana, sebentar lagi kita bakal masuk ke tahun baru 2019. Jika seksama diperhatikan, di skena musik, ada fenomena menarik yang terjadi. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja yang tadinya seolah menggiring selera anak muda Nusantara, belakangan tampak berkurang. Terjadi pergeseran kekuatan.

Metropolitan yang selama beberapa dasawarsa berposisi dominan kini pengaruhnya agak melemah. Bali, pulau kecil yang bersebelahan dengan Jawa, mulai angkat bicara. Makin banyak musisi-musisi asal Pulau Dewata yang wira-wiri di konser-konser kelas nasional, kian melimpah paguyuban-paguyuban artis dari Pulau Seribu Pura yang menjadi perbincangan hangat di kancah musik Nusantara.

Jika ditarik sedikit ke belakang, pihak yang pantas “dituduh” paling bertanggung jawab menorehkan nama Bali ke peta musik nasional, tentu saja Superman Is Dead (SID). Bergabungnya trio punk rock ini dengan Sony Music Indonesia serta merilis album fenomenal Kuta Rock City membuat popularitasnya terdongkrak masif, menjangkau penjuru-penjuru Indonesia. Status cult mereka di jagat bawah tanah dalam jangka waktu cukup cepat berubah menjadi “artis nasional”, merangsek masuk ke pusaran arus utama. 

Kiprah mencengangkan dari SID ini sontak menginspirasi dinamika kesenian setempat. Mendadak, kehidupan bermusik di Bali menjadi begitu bergairah. Bejibun artis-artis baru muncul. Seniman-seniman era lama juga ada beberapa yang mencoba peruntungannya, turut memeriahkan belantika Dewata. Dua nama yang paling menonjol di skala lokal kala itu adalah Navicula dan Lolot. Dalam skala lokal mereka tergolong veteran, telah bermusik sejak pertengahan ’90an, hampir sepantaran dengan SID, dan cukup disegani di daerah sendiri.

Superman Is Dead | Foto: Instagram SID

Navicula mengikuti jejak SID lalu bekerja sama dengan Sony Music Indonesia, menjadi band kedua yang “go national” dalam makna sesungguhnya. Sementara Lolot—ia adalah pemain bas pertama SID, saat masih bernama Superman Silvergun—sukses besar menghentak atensi publik muda lokal. Ia menerbitkan album bergenre punk rock dengan menggunakan Bahasa Bali sebagai ujaran pengantar. Ini tergolong revolusioner bagi Bali. Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Sontak disambut gila-gilaan. Albumnya terjual hingga, kabarnya, 60 ribu kopi. Ditambah dengan jadwal manggung yang duhai padat. 

Navicula | Foto: Pica Magz

Meledak-ledaknya kancah musik di Bali ini sayangnya tak dibarengi dengan mutu produk, pengalaman, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. Memang berlimpah artis yang eksis namun kebanyakan memilih jalan generik dan memainkan musik yang mirip dengan SID yaitu melodic punk. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Nusantara juga bejibun band-band yang mengusung melodic punk, dengan mutu yang relatif lebih baik. Pun jika bicara soal pemasaran dan sisi manajerial, rata-rata masih kebingungan, apa strategi terbaik dalam menarik perhatian publik nasional. Belum lagi, stok manajer atau orang yang mau menjadi manajer—posisi vital agar fondasi nge-band lebih kuat—sangatlah terbatas, bahkan hampir nihil. 

Gejolak eksplosif ini berangsur meredup. Kerjasama Navicula dengan Sony Music Indonesia hanya menghasilkan letupan kecil, kurang signifikan. The Hydrant yang bergabung dengan EMI juga nasibnya segendang sepenarian. Lolot yang sempat meraih penghargaan di SCTV Music Award, sayup-sayup memudar. Ketiga “sinar harapan” Pulau Dewata tersebut bisa dibilang sekadar ribut sebentar lalu beringsut sirna. Navicula, The Hydrant, dan Lolot balik lagi jadi jago kandang.

Berakhir hingga di situ saja? Syukurnya tidak. Mereka konsolidasi ke dalam, mempersiapkan amunisi yang lebih canggih, menambahkan pengalaman agar lebih kaya. Hanya SID yang justru makin jaya wijaya menaklukkan percaturan musik nasional.

Sampai akhirnya sejak sekitar empat tahun lalu Bali kembali menyeruak ke permukaan. Balik dari masa meditasi dan penggemblengan diri yang lumayan lama, dengan kekuatan penuh. Back in full effect. Navicula dan The Hydrant, misalnya, beredar pesat lagi di skena musik nasional. Dibarengi dengan rangkaian tur luar negeri yang konstan. Minimum setahun dua kali—utamanya The Hydrant—terhitung sejak 2015.

Yang menarik, yang menampakkan diri bukan cuma wajah-wajah lama, tapi dibarengi muka-muka baru. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “gelombang baru”. Sebut saja misalnya Zat Kimia, Nosstress, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Joni Agung & Double T, Leanna Rachel, Sandrayati Fay, dsb. Secara nasional nama-nama itu mampu menancapkan cakarnya dengan tajam. Lagu-lagu mereka dikenal dengan baik, sanggup mengundang sing along kala mereka manggung. Ajakan tampil bukan lagi sekadar dalam rangka promosi, dibayar sekadarnya. Tapi sudah secara profesional, diganjar dengan jumlah dana yang layak.

Zat Kimia | Foto: Teddy Drew

Mengapa bisa seperti tiba-tiba legiun musisi Bali keras menghentak belantika musik Indonesia? Dari sepengamatan saya terpapar beberapa faktor penting:

1. Bali Tolak Reklamasi.

Bisa dibilang nyaris semua musisi-musisi yang diidolakan di Bali turut berpartisipasi aktif di gerakan sosial ini. Mulai dari yang generasi lawas hingga milennial. Barangkali karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama berjuang untuk keselamatan Bali, dan kompak melawan kekuatan besar serta menakutkan, respek satu sama lain antar musisi tumbuh secara alami dan mempererat hubungan pertemanan. Berdampak kemudian menjadi saling mendukung dalam soal berkesenian. Yang namanya gontok-gontokan, saling sikut, apalagi permusuhan antar musisi, hampir tidak ada, nyaris nihil. Sangat harmonis. Situasi sehat macam begini menjadi dasar kuat dalam mencapai kemaslahatan skena musik.

2. Berlimpah Ruang Ekspresi

Tempat-tempat untuk unjuk gigi ada banyak bertebaran di Bali serta cenderung mudah diajak bekerjasama. Di sekitar Sanur ada Rumah Sanur, Taman Baca Kesiman, serta baru saja selesai direnovasi: Antida Sound Garden. Di seputaran Denpasar ada Two Fat Monks, Rumahan Bistro, serta CushCush Gallery yang sesekali menyelenggarakan sesi akustik. Jauh di Selatan, Uluwatu, Single Fin cukup sering menampilkan musisi-musisi lokal Bali. Di Kuta ada Twice Bar dan Hard Rock Cafe. Di Canggu terdapat Gimme Shelter, Sunny Cafe, Deus Ex Machina, Old Man’s, juga yang baru saja buka: Backyards. Setiap tempat yang disebut barusan semuanya amat terbuka dan nyaris tanpa birokrasi ribet kalau mau menggunakan tempat tersebut untuk, misalnya, pesta peluncuran album. Tinggal kontak dan cocokkan jadwal serta urusan penjualan tiket, bagaimana pola pembagian keuntungan. Gampang, ringan, lancar.

Konser musik di Rumah Sanur.

3. Intensitas Konser yang Frekuentif

Bisa dibilang selain di klub dan kafe yang membuat pertunjukan musik secara reguler, acara-acara konser lainnya (korporat, pensi, ulang tahun banjar, dll) hampir pasti ada di setiap akhir pekan. Entah di jantung kota Denpasar, di Sanur, Nusa Dua, Ubud, Kuta, di banyak penjuru di Bali. Ada terus. Sampai sering bingung memutuskan bagusnya pergi ke pertunjukan yang mana.

4. Fenomena Hijrah

Bejibunnya anak-anak muda yang hijrah di kantong-kantong kreatif macam Jakarta, Bandung, dan Jogja, membuat gairah bermusik di kota-kota tersebut terkesan agak menurun. Anak-anak mudanya lebih sibuk mengurusi agama. Malah, sebagian lagi, memusuhi musik, mencapnya haram. Ini sedikit “membantu” Bali mengisi kekosongan kreativitas di skena musik anak muda. Bali adem saja menjunjung tinggi rock and rolltanpa lupa pada kewajiban beragama/sisi kultural sebab sedari dulu telah terbiasa menjalankan dua hal tersebut secara beriringan. Pergi ke tempat ibadah jalan terus, aktivitas rock and roll pun berlangsung biasa. 

Nah, jika pulau sekecil Bali saja bisa lantang bersuara di belantika musik Indonesia, bagaimana dengan daerah kamu?

Selamat Tahun Baru 2019!

________

*Artikel yang saya tulis ini pertama kali tayang di situs web DCDC minggu lalu.