Tag Archives: Rock ‘n’ Roll Storytelling

LP: LOST ON YOU

Was just introduced to this song by a friend. Damn, so hauntingly beautiful. And it’s got more than 308 million views on YouTube already. Didn’t know about her before. Where have I been?

Part Feist and part Joan Jett, genre-bucking Los Angeles-based singer/songwriter Laura Pergolizzi, who operates under the stage name LP, emerged in the early 2000s with a vibrant blend of vulnerability, swagger, and steely hooks. Known for her elastic and expressive voice, which invokes names like Linda Perry, Gwen Stefani, and Chrissie Hynde.

Raised in New York on a steady diet of Joni Mitchell, the Doors, the Pretenders, Nirvana, and Jeff Buckley, Pergolizzi spent her formative years honing her craft in other band before relocating to California and releasing her 2001 solo album, Heart-Shaped Scar. She began to hit her stride in 2004 with her second outing, Suburban Sprawl & Alcohol. Her 200t appearance at SXSW prompted a bidding war, resulting a deal with Island.

A 2011 Citibank television commercial gained Pergolizzi a huge fan base viewers eagerly looked to the internet to discover the identity of the artist singing “Somebody left the gate open”—the track earned enough attention to warrant a CNN news piece. In 2016, Pergolizzi issued her much-anticipated fourth studio long-player, Lost on You.

• The second till the last paragraphs, originally written by James Christopher Monger.
• Featured image via Aspen Times.

The post LP: LOST ON YOU appeared first on RUDOLF DETHU.

FICTION FACTORY: FEELS LIKE HEAVEN

There are happy synthpop songs. There are sad synthpop songs. And there are synthpop songs that instantly bring you to tears. Here’s one of them.

Don’t get fooled by the title: (Feels Like) Heaven. It talks about a bitter breakup, not a love story. One of my main anthems for gloomy days.

This classic track is by the Scottish band Fiction Factory and appears on their debut album Throw the Warped Wheel. It’s a regular feature on 1980s and new wave compilations. In 2016, the song was performed live by Manic Street Preachers during their Everything Must Go 20th Anniversary Tour.

Heaven is closer now today
The sound is in my ears
I can’t believe the things you say
They echo what I fear
Twisting the bones until they snap
I scream but no one knows
You say I’m familiar cold to touch
And then you turn and go

Feels like heaven ….

• Fiction Factory featured image via Nostalgia Central

The post FICTION FACTORY: FEELS LIKE HEAVEN appeared first on RUDOLF DETHU.

GEMPITA ROCKABILLY NUSANTARA: SEJARAH, EVOLUSI & GEMAH RIPAH

The Hydrant formasi mutakhir. Foto: Erick Est.

Gilang gemilangnya The Hydrant yang hingga dua kali berturut-turut, 2016 dan 2018, tampil di Viva Las Vegas tentu saja membanggakan. Sebab bicara ajang bertitel lengkap Viva Las Vegas Rockabilly Weekend itu setara dengan bicara tentang kewajiban dalam agama. Utamanya bagi penganut kepercayaan rockabilly. Menghadiri Viva Las Vegas bagi umat rockabilly nyaris sebanding maknanya dengan naik haji ke Mekah. Khidmat dan tawakal berserah diri pada Elvis Presley.

Sejauh pengetahuan saya, hingga tahun 2016, bahkan di seantero Asia—selain Jepang, tentunya—belum pernah ada satu pun grup musik yang berkesempatan manggung di Viva Las Vegas yang notabene festival rockabilly terbesar di dunia, paling megah dan meriah, dikunjungi lebih dari 20 ribu pengunjung, serta telah memasuki tahun ke-23 penyelenggaraan. Belum ada festival rockabilly yang bisa menandingi daya tahan Viva Las Vegas yang sanggup menggelinding sampai melampaui dua dasa warsa. Adalah pantas bagi The Hydrant untuk menepuk dada. Prestasi Rockabilly Nusantara yang tidak main-main.

Nah, tentang Rockabilly Nusantara, bagaimana sebenarnya kisahnya? Sejak kapan menyerbu Indonesia? Mengapa posisi The Hydrant signifikan dalam sejarah dan tumbuh kembang rockabilly di negeri ini?

Rock ‘n’ Roll dan Rockabilly

Di masa lalu, istilah “rockabilly” belum terlalu dikenal di Indonesia. Musik yang dimainkan oleh Elvis Presley, Carl Perkins, Jerry Lee Lewis, Johnny Cash, Wanda Jackson, dll; ini digebyah uyah dinamai “rock ’n’ roll”. Saya tidak menemukan jawaban jelas siapa kelompok bumiputra yang telah mendendangkan musik macam begini di Indonesia pada tahun 50an (periode kemunculan rockabilly). Saya hanya bisa menduga-duga bahwa pionir Indo Rock (rock ’n’ roll dengan akar Kroncong yang kental), Tielman Brothers, telah memainkan rockabilly kala bermukim di Surabaya hingga akhirnya hijrah ke Belanda pada 1957 lalu menggaet perhatian global lewat Indo Rock yang diwarnai aksi panggung nan akrobatik.

Salah satu rekaman lama, di rentang 60an, yang bertendensi rockabilly yang pernah saya dengar adalah reinterpretasi “Bengawan Solo” oleh Oslan Husein. Ia ubah iramanya menjadi rock ’n’ roll serta dinyanyikan dengan cengkok Elvis yang kuat.

Rockabilly Revival

Mulai dikenalnya istilah “rockabilly” di Nusantara tiada lepas dari popularitas tiga sekawan Stray Cats yang mendunia, termasuk di Indonesia. Barangkali tembang “Runaway Boys” yang nyelip di dalam album kompilasi (bajakan) punk rock & new wave—saya lupa judul kompilasinya—di awal 80an itulah menjadi tonggak penting pertama menyeruaknya irama gaul baru: Rockabilly.

Walau sejatinya rockabilly bukan barang baru dan kehadirannya yang sekarang adalah daur ulang alias “rockabilly revival” namun kedatangannya kali ini berhasil menarik atensi remaja. Brian Setzer, Slim Jim Phantom, Lee Rocker sukses mengemas rockabillymenjadi lebih segar sekaligus kekinian. Para anak muda di kota-kota besar di Indonesia macam Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar ramai-ramai merangkulnya. Resep Stray Cats yang menggabungkan antara sound Sun Studio, jambul dan minyak rambut berlebih, main drum berdiri, bas betot, serta digarami elemen punk rock (style dan attitude) terbukti ampuh. Seandainya saja Stray Cats sepenuhnya mempertahankan gaya bak Elvis Presley barangkali bakal kurang diminati. “Ogah ah, gaya om-om, bapak-bapak banget,” negasi macam begitu sepertinya akan menyeruak.

Lagu-lagu ciamik dari trio asal New York tersebut seperti “Rock This Town” dan “(She’s) Sexy + 17” menyusul memeriahkan album-album kompilasi bajakan punk rock & new wave berikutnya. Setelah itu barulah album macam Built For Speed mulai dijual di toko-toko kaset. 

Demam Stray Cats kemudian dimulai. Di Denpasar di tembok depan sebuah hotel di bilangan jalan Hayam Wuruk terpampang besar tulisan Suranadhi Stray Cats Complex. Logo kucing pompadour Stray Cats juga mulai banyak muncul di sana-sini. Di acara-acara internal sekolah serta bar-bar di seputaran Kuta lagu “Rock This Town” mulai rajin dikumandangkan.

Sementara di Jakarta, menurut David Tarigan, sama juga. Di kompleks tempat dia tinggal beberapa rekannya merajah logo Stray Cats di lengannya. Belum lagi gambar kucing pompadour di kaos serta stiker yang ditempelkan entah di gitar dan perangkat sehari-hari. Dalam skala nasional, majalah Hai termasuk rajin mengekspos Stray Cats. 

Rockabilly memang belum jaya wijaya pamornya saat itu. Namun perlahan eksistensinya mulai menggerogoti benak kawula muda.

Rockabali

Di program radio yang saya produseri sekaligus menjadi penyiarnya di tahun 1998 hingga 2000, Alternative Airplay, di masa itu saya sering memutar lagu-lagu rockabilly, bukan semata terbatas pada Stray Cats. Hanya saja tidak pernah secara spesifik membahas rockabilly

Secara gaya dandan, di awal 2000an sosok paling mula yang saya perhatikan telah menggunakan simbol-simbol rockabilly adalah JRX. Salah satunya, di halaman dalam album Bad Bad Bad (2002) JRX tampak memakai bola 8 serta gesper Chevrolet. Namun jauh sebelum itu gono-gini rockabilly sudah dominan mewarnai kesehariannya. Gara-gara ia amat kepincut dengan Social Distortion. Ia menyukai gaya dandan Mike Ness yang memang kental nuansa rockabilly.

Saya sendiri kerap memakai kemeja montir dengan kerah macan yang saya beli di Kanada, saat masih bekerja di kapal pesiar. Baru belakangan paham bahwa itu lekat dengan imej rockabilly ketika mulai mendalaminya.

Saat saya dan karib saya mendirikan Suicide Glam di tahun 2000 itu kami memproklamirkan arah gaya: GlampunkabillyGlamour x punk rock + rockabilly. Bayangkan David Bowie dan Depeche Mode x Stray Cats + Punk 77. Kemeja kerah macan itu jadi semacam panduan mendasar seperti apa Glampunkabilly.

Sumber foto: What Drops Now.

Puncak dari segala histeria rockabilly tersebut adalah ketika The Hydrant menjejakkan kaki di belantika musik pada 2004. Saat itu bak jadi tahun resmi lahirnya rockabilly di Indonesia. Aksi panggung, gestur, dan pompadour Marshello yang sungguh Elvis—Brown Elvis! He totally is!—serta ditimpali gaya klimis-parlente Wis, Zio, dan Morris; duhai menarik perhatian skena musik lokal. Apalagi kala The Hydrant lebih mendorong arah imej mereka ke Stray Cats.

The Hydrant formasi pertama. Nabi rockabilly Indonesia.

Sejak momen tersebut, wabah rockabilly di Bali kemudian meluas. Di program radio saya berikutnya di OZ Bali, OZ Clash Pistol, secara rutin saya membahas tuntas rockabilly. Memutar lagu-lagunya, bicara sejarahnya, mewawancara pegiat dan penggiatnya. Selain itu saya juga rutin menerbitkan tulisan tentang geliat rockabilly di Bali, menyelenggarakan konser-konser kecil yang khusus bertemakan rockabilly, malah turut membidani lahirnya band pyschobilly pertama di NKRI: Suicidal Sinatra.

Kuartet yang tadinya menamakan dirinya S.O.S. (Soul of Speed) tersebut saya rombak namanya menjadi lebih sensasional: Suicidal Sinatra. Rupawan seperti Frank Sinatra namun attitude-nya bergajulan. Nama masing-masing personel—Opix, Leo, Kappe, Ajie—semuanya dibubuhi Sinatra di belakangnya. Terinspirasi The Ramones. Berikutnya suri tauladan yang tadinya lebih mengarah pada The Living End bergeser ke Tiger Army dan Reverend Horton Heat. Ketika usaha busana saya, Suicide Glam, menyelenggarakan pagelaran busana, saya pertemukan The Hydrant dan Suicidal Sinatra sebagai hiburan musik. Glampunkabilly (Suicide Glam) berjabat erat dengan Rockabilly (The Hydrant) serta Psychobilly (Suicidal Sinatra).

Gempita rockabilly nan meriah ini menarik perhatian majalah Playboy—jika tak salah di tahun 2007—sampai akhirnya menerbitkan artikel yang panjang lebar menjabarkan dinamika rockabilly di Bali. Secara jitu Playboy mentajuki fenomena ini: Rockabali.

Rockabilly Mutakhir

Setelah Bali, kota-kota lain di Indonesia pula menyambut rockabilly dengan hangat. Yang paling bersemangat adalah Jogja dan Jakarta. Di Jogja, Athonk merupakan tulang punggung tumbuh kembangnya rockabilly di kota ini dan disokong oleh pria flamboyan Kiki Pea dengan grup rockabilly akrobatiknya, Kiki and The Klan. Sementara di Jakarta tercatat ada, salah satunya, The Gokilbillies yang sudah wira-wiri sejak 2006. Keberadaan komunitas Jakarta Rockabilly juga membuat demam musik pompadour ini bisa bertahan lama, tak tergerus oleh tren musik lain.

Lalu di Surabaya tercatat di masa-masa awal ada Anarchy Juice yang sebagian dari personelnya belakangan bertransformasi menjadi The Dynamite Rockers.

Keberhasilan The Hydrant tampil di Viva Las Vegas hingga dua kali niscaya berperan besar mendongkrak tingginya rasa percaya diri aktivis rockabilly Nusantara untuk melebarkan sayap ke manca negara. Prison of Blues yang memainkan sub genre rockabilly yaitu psychobilly. September 2016, beberapa bulan setelah The Hydrant tampil di Viva Las Vegas, grup asal Temanggung ini berangkat ke Northampton, Inggris, untuk unjuk aksi di festival Bedlam Breakout, festival psychobilly yang berlangsung dua kali dalam setahun (kebetulan saya yang dimnta mendampingi Prison of Blues menjadi tour manager). Sejak saat itu pula Prison of Blues rutin menyambangi ajang-ajang rockabilly/psychobilly internasional.

Prison of Blues di Bedlam Breakout. Foto: Erick Est.

Gemah ripah Rockabilly Nusantara!

• Tulisan saya ini pertama kali terbit di DCDC
• Nantikan tulisan berikutnya yang membahas soal pernak-pernik rockabillyPompadourHepcatBrothel Creepers, simbol kartu remi, hingga playlist rockabilly yang dibuat oleh Adi Hydrant!

The post GEMPITA ROCKABILLY NUSANTARA: SEJARAH, EVOLUSI & GEMAH RIPAH appeared first on RUDOLF DETHU.

UNKNOWN PLEASURES: THE STORY BEHIND THE FAMOUS ALBUM COVER

Photo: Cococubed.com

June 1979, 40 years and a month ago, Unknown Pleasures, Joy Division’s debut studio album, was released. It has been named as one of the best albums of all time by publications such as NME, AllMusic, Select, and Spin. But, there’s more, the oh-so interesting story behind the legendary album cover, as told by The Magic Sugarcube:

“The cover art for Joy Division’s 1979 album Unknown Pleasures was originally published as a black-on-white science plot by Harold Craft in his 1970 PhD thesis Radio observations of the pulse profiles and dispersion measures of twelve pulsars. Page 215 shows 80 successive pulses of the first pulsar observed, CP1919, tastefully stacked on top of one another. The plot was subsequently reproduced as a white-on-red image for the cover art of the 1970 International Astronomy Union General Assembly Highlights of Astronomy edited by Cornelis De Jager, as the green-on-white image in Ostriker’s article mentioned above, as a white-on-black image in Walter Herdeg’s 1974 Graphis Diagrams: The Graphic Visualization of Abstract Data, and then in the black-on-white style in Simon Mitton’s editing of the 1977 edition of The Cambridge Encyclopaedia of Astronomy.”

The post UNKNOWN PLEASURES: THE STORY BEHIND THE FAMOUS ALBUM COVER appeared first on RUDOLF DETHU.

PIXIES AT TINY DESK CONCERT: GREENS AND BLUES

Heard this jangly tune before. But, in the beginning, it didn’t really strike me. And in my personal experiences, most of Pixies’ stuff have the same stories: slow at first then I was hooked. Today, I was incidentally exposed again to “Greens and Blues” via NPR Tiny Desk Concert on YouTube. It hit me hard. Such a beautiful bittersweet goodbye song.

Frontman Black Francis stated, “It was my attempt to come up with another song that would musically, emotionally and psychologically sit in the same place that ‘Gigantic’ has sat. Not that I could ever replace that song: you write songs and they come out the way they come out. ‘Greens and Blues’ fills the emotional niche that ‘Gigantic’ occupied, another show-closer. I think the lyric alludes to that, the fact that it’s the end of the night, the end of something. And a separation if you will. So I guess it’s kind of a goodbye song, or really more of a ‘good night’ song.”

The song itself is included in Pixies fifth studio album, Indie Cindy, released in April 2014. It was the band’s first album since 1991’s Trompe le Monde, and the first Pixies album not to feature bassist Kim Deal.

Photo: NPR.

Bob Bolen wrote that Pixies’ performance in 2014 was the largest crowd they’ve ever assembled for a Tiny Desk Concert. “You may miss Kim Deal on bass for all the good reasons one might miss Kim Deal, but Paz Lenchantin rhythmically fits in well, and was a treat to hear (albeit quietly) on violin,” continued Bolen.

______________________

Cover photo via Slicing Up Eyeballs.

The post PIXIES AT TINY DESK CONCERT: GREENS AND BLUES appeared first on RUDOLF DETHU.