Tag Archives: Renungan

Hidup Tak Cuma Kulum Coklat

Tulisan dibawah ini kayaknya cocok bagi yang mau menikah. Benar-benar pikirkan ya bahwa masa depan itu penuh tantangan dan perjuangan. Klo menikah hanya untuk nge-seks saja hmmmm. Nanti bakal banyak tidur nya lho. Simak renungan saya, scroll kebawah ya.

Sayang, betapa indah nya hidup bersamamu di dunia ini.

Bersamamu, ragam kalimat pujangga cinta buat hati gembira.

Bersamamu, janji selangit pun diobral manis meski blum tahu rupa masa depan.

Bersamamu, bisa terbang tinggi ke langit ke tujuh semau kita.

Namun sayang, setelah waktu turun tiba, kita punya bejibun kebutuhan.

Kita butuh makan dan minum untuk usir lapar. Kita butuh atap untuk berteduh. Kita butuh kamar untuk istirahat. Kita butuh listrik untuk terangi gelap nya malam. Kita butuh kuota untuk komunikasi dan bersosial kekinian.

Ketika buah hati muncul bercengkerama, kita butuh susu untuk haus nya dia. Kita butuh spp untuk sekolah nya. Kita butuh berikan atap dan kamar untuk privacy nya.

Sayang, diantara hiruk nya kebutuhan, masihkah kalimat pujangga dan janji itu muncul berikan solusi?

Ya, bisa jadi mereka adalah pembasuh letih nya dunia. Ubah capek jadi segar. Stres jadi fresh. Kecewa jadi puas bahagia.

Janganlah buat kalimat itu untuk pemuas ambisi, ego menjadi raja dan keangkuhan menjadi ratunya.

Jikalau hidup ini ingin nya indah secara cepat, bak pujangga dan janji, lebih baik kita tidur saja. Bermimpi disana lebih cepat dapatkan keindahan daripada realita.

Hidup Tak Cuma Kulum Coklat

Tulisan dibawah ini kayaknya cocok bagi yang mau menikah. Benar-benar pikirkan ya bahwa masa depan itu penuh tantangan dan perjuangan. Klo menikah hanya untuk nge-seks saja hmmmm. Nanti bakal banyak tidur nya lho. Simak renungan saya, scroll kebawah ya.

Sayang, betapa indah nya hidup bersamamu di dunia ini.

Bersamamu, ragam kalimat pujangga cinta buat hati gembira.

Bersamamu, janji selangit pun diobral manis meski blum tahu rupa masa depan.

Bersamamu, bisa terbang tinggi ke langit ke tujuh semau kita.

Namun sayang, setelah waktu turun tiba, kita punya bejibun kebutuhan.

Kita butuh makan dan minum untuk usir lapar. Kita butuh atap untuk berteduh. Kita butuh kamar untuk istirahat. Kita butuh listrik untuk terangi gelap nya malam. Kita butuh kuota untuk komunikasi dan bersosial kekinian.

Ketika buah hati muncul bercengkerama, kita butuh susu untuk haus nya dia. Kita butuh spp untuk sekolah nya. Kita butuh berikan atap dan kamar untuk privacy nya.

Sayang, diantara hiruk nya kebutuhan, masihkah kalimat pujangga dan janji itu muncul berikan solusi?

Ya, bisa jadi mereka adalah pembasuh letih nya dunia. Ubah capek jadi segar. Stres jadi fresh. Kecewa jadi puas bahagia.

Janganlah buat kalimat itu untuk pemuas ambisi, ego menjadi raja dan keangkuhan menjadi ratunya.

Jikalau hidup ini ingin nya indah secara cepat, bak pujangga dan janji, lebih baik kita tidur saja. Bermimpi disana lebih cepat dapatkan keindahan daripada realita.

Pepesan Kosong Itu Bernama Persaudaraan

Sudah kali ke enam ini Suwono harus tidur di teras rumah. Beralaskan kain putih yang biasa digunakan sebagai sabuk. Ya, terkunci tidak bisa masuk rumah karena istrinya tidak bangun ketika pintu di ketok berkali-kali. Handphone pun berkali-kali tidak diangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari.

Yah, Suwono harus kesekian kalinya ikhlaskan diri. Bersiap untuk terima cemberutnya istri di pagi nanti. Anggap ini resiko dari melatih pencak silat.

Suwono kerja di pabrik kertas sebagai buruh kontrak. Istrinya terima jahitan di kost-kostan tempatnya tinggal nya. Ya, Suwono dan istri mampunya indekost untuk hidup bersama satu anaknya yang masih duduk di kelas 1 SD.

Dua kali seminggu Suwono menjadi pelatih bagi para siswa pencak silatnya. Hari Rabu dan Sabtu malam di sebuah perguruan tinggi swasta. Latihan itu mulai jam 8 malam dan berakhir jam 12 nya. Kenapa Suwono bisa sampai rumah jam 02.00? Karena setelah melatih, Suwono berkumpul dulu bersama saudara-saudara seperguruannya. Layaknya saudara, mereka obrol akrab penuh kekeluargaan membahas segala hal dan sesekali diskusi tentang pencak silat dan organisasi yang menaunginya.

Kadangkala saat melatih, Suwono dikunjungi oleh sang Ketua Perguruan Tinggi. Di sela istirahat mereka obrol segala hal. Termasuk soal nasib. Suwono pernah celetuk ke sang Ketua, “Enak ya Pak, jadi Ketua Perguruan Tinggi. Bisa punya rumah besar. Punya Toyota Harrier. Klo bosan bisa pakai Range Rover nya. Trus bisa lepas penat dengan sedan Porsche nya”.

Sang Ketua tertawa lepas. Suka dengan Suwono karena keluguan dan ceplas-ceplos nya dalam setiap tutur kata. Sang Ketua bilang, “Suwono, salah satu bisnis yang enak dan empuk itu bisnis Pendidikan. Karena semua orang yang hidup butuh sekolah. Selama pemerintah blum mampu beri sekolah gratis, ya selama itulah ilmu kita bisnis kan. Ilmu dari perguruan tinggi kan dipakai bekal untuk kerja dan dapat duit.”

Suwono makin penasaran dan tampak sigap menimpali, “Gimana cara dapat duit nya Pak? Ribuan mahasiswa nya juga kelihatan kaya. Rata-rata bermobil dan bermotor. Tidak ada yang pakai sepeda gayung lho!”.

Kesekian kalinya Sang Ketua terbahak. Mungkin senang karena merasa pintar dan sukses. “Para mahasiswa itu kita tarik uang gedung puluhan juta. Trus setiap 6 bulan harus bayar SPP. Jutaan pula tergantung jumlah SKS nya. Uang itu tinggal kalikan saja dengan 5000 an mahasiswa”. Sang Ketua mengerling ke Suwono.

Suwono menegaskan lagi, “Jadi itu ilmu bisa dibisniskan ya Pak? Apa bedanya dengan ilmu pencak silat? Klo kuliah itu ngilmu 4 tahun, klo pencak silat itu ngilmu 3 tahun. Klo ngilmu kuliah itu untuk bekal kerja dan dapat duit, maka ngilmu pencak silat itu untuk bekal kesehatan jiwa dan raga untuk bisa kerja lho! Plus bisa jadi jagoan!”. Lantas terdiam, tercenung tampak berpikir keras.

“Sama-sama beri ilmu kepada orang tapi kenapa saya masih indekost ya?”, teriak Suwono ke Sang Ketua.

Sang Ketua semakin terpingkal-pingkal sambil bilang, “Nah lo, itu urusanmu! Dah lah, waktunya karaoke an sama istri. Saya tinggal dulu ya. Tetap semangat melatihnya. Biar mahasiswa saya sehat dan bisa lancar belajar!”.

Selepas melatih, Suwono berkumpul bersama saudara-saudara seperguruannya. Ceritakan obrolan nya tadi dengan Sang Ketua. Mulailah obrolan yang biasanya ringan, sekarang tampak serius.

Suwono dulunya berstatus siswa pencak silat. Selama 3 tahun berlatih, berhasil menapaki berbagai tingkatan hingga akhirnya di wisuda menjadi pelatih. Selama latihan, ada iuran bulanannya. Bukan lah SPP. Besaran iurannya cuma puluhan ribu saja. Masuk sebagai dana kas latihan. Berguna untuk beli alat-alat latihan seperti matras, body protector, dll.

Pelatih senior berpesan, “Jangan mencari uang di perguruan pencak silat ini. Melatih adalah pengabdian kita kepada perguruan”.

Dari setor iuran bulanan, Suwono dapat ilmu kanuragan pencak silat dan ilmu budi pekerti nya. Suwono dan anggota-anggota lain seperguruan dapatkan ilmu bela diri, kesehatan jiwa dan raga. Supaya bisa wisuda, Suwono harus membayar dana wajib wisuda untuk pengurus pusat perguruannya. Biaya ratusan ribu itu harus di setor ke pusat perguruan.

Perguruan tempat Suwono jadi anggota, telah mewisuda puluhan juta manusia menjadi anggota. Selama latihan dan wisuda, perguruan tersebut mengajarkan budi pekerti berlandaskan persaudaraan. Bahkan kata persaudaraan adalah dogma keramat yang dilarang untuk dilanggar. Bila dilanggar, akan hancur lebur seperti air yang telah terminum di malam wisuda.

Bekal ilmu pencak silat, ilmu budi pekerti, dan wasiat dari perguruan, menjadi nafas kehidupan para anggotanya. Termasuk Suwono dan para saudara-saudara seperguruannya tadi.

Intinya adalah: Perguruan ini berlandaskan Persaudaraan. Para anggota yang telah di wisuda adalah saudara. Salah satu wasiat perguruan adalah agar para anggota membuka tempat latihan dan melatih disana, menyebarkan ilmu perguruan. Dilarang mencari uang didalam perguruan!

Wasiat dan dogma perguruan telah menjadi darah dalam urat nadi kehidupan Suwono dan puluhan juta saudara-saudara lainnya. Melatih adalah pengabdian! Mencetak calon wisudawan sebanyak-banyaknya! Dilarang cari uang di perguruan tapi harus setor dana wajib wisuda ke perguruan pusat!

Tiap tahun telah terwisuda ratusan ribu saudara baru. Puluhan tahun dana wajib wisuda itu telah dikelola oleh pengurus pusat menjadi aset-aset perguruan. Semisal tercipta padepokan super megah. Ada hotel dan sekolah menengah. Itu saja yang terlihat. Bila ada aset lain itupun masih gelap karena tidak ada transparansi atau laporan penggunaan dana wisuda dari perguruan pusat. Tertutup.

Suwono kadang terpesona dengan perguruan bela diri di luar negeri. Mereka punya tempat latihan di dalam gedung. Dinding nya banyak kaca, alat-alat nya lengkap. Bahkan pelatihnya mampu menghidupi dan memperkaya diri dari latihan tersebut. Pelatih adalah profesi utama nya. Profesional dedikasikan waktu dan ilmu nya menjadi pelatih dan dibayar oleh siswa nya.

Mungkin itulah persamaan antara perguruan tinggi milik Sang Ketua tadi dan perguruan bela diri di luar negeri. Sama-sama gunakan ilmu sebagai sarana/alat untuk menghidupi diri. Bahkan bisa untuk memperkaya diri!

Bagaimanakan perguruan nya Suwono?

Suwono saat ini menjumpai para pengurus pusat perguruan nya saling berebut kekuasaan. Padahal tradisi pemilihan ketua umum adalah jadi hak ketua dan beberapa sesepuh sebelumnya yang mau mangkat. Itu masih terjadi pada pemilihan tahun lalu.

Tahun ini ada beberapa sesepuh perguruan yang berkumpul rapat dan undang para sesepuh daerah untuk pecat ketua sebelumnya. Sesepuh ini telah pilih ketua melalui mekanisme voting (pengumpulan suara) dan bentuk kepengurusan baru.

Surat-surat berdatangan ke daerah, berasal dari ketua tahun lalu dan sesepuh pengurus yang tidak puas dengan kepengurusan sebelumnya. Surat yang tema dan topik nya macam-macam. Ada yang berisi penolakan, ilegal, pengumuman, dan lain sebagainya.

Terjadi gugatan secara hukum di pengadilan atas kepengurusan tahun lalu dan ancang-ancang ada gugatan baru untuk tahun ini.

Suwono melihat komunikasi ketidakpuasan antar pengurus ini terbangun di atas kertas. Surat menyurat. Tercipta dokumen dan bentuk-bentuk kegiatan yang formalis.

Suwono dan saudara-saudara seperguruan nya di tataran bawah jadi bingung!

Dari obrolan informal setelah latihan, mereka sepakati telah terjadi:

1. Kerugian waktu dan ruang pikiran. Semua saudara-saudara waktu dan pikirannya habis berbincang tentang perebutan kekuasaan tersebut.
2. Bermunculan cerita sejarah dan macam-macam kepentingan dari para sesepuh atas kehadiran perguruan ini. Ada yang jadikan perguruan ini salah satu media berpolitik. Ada yang ingin transparansi tata kelola organisasi. Ada yang menggugat keaslian ajaran perguruan. Bahkan ada yang menggugat aset kekayaan perguruan.
3. Perpecahan di antara pengurus pusat, daerah dan para anggotanya.
4. Pembiasan makna Persaudaraan.

Suwono dan para saudara seperguruannya tidak ingin berpihak pada salah satu sesepuh yang klaim keabsahan kepengurusan pusat. Karena fakta nya telah tercipta 2 kubu kepengurusan. Pengurus tahun lalu dan tahun ini.

Suwono ingin nya netral dan kedua belah kubu saling rekonsiliasi atas dasar Persaudaraan yang selama ini jadi dogma keramat perguruan.

Suwono akhirnya memahami bahwa kebahagiaan dalam perguruan itu tidak diukur dari kekayaan yang di dapat oleh para anggotanya. Persaudaraan lah yang jadi pemicu anggota nya saling mendapatkan rejeki. Yaitu rejeki kenyamanan hidup, rejeki kesehatan psikis, rejeki sosial bersaudara, bahkan rejeki jabatan, kekuasaan dan materi lainnya.

Suwono pun memahami bahwa perebutan atau pertikaian ini adalah proses tiada henti untuk kesempurnaan jalannya perguruan. Ibarat hidup dalam sebuah negara, Suwono telah saksikan tragedi politik, pergantian presiden, tragedi korupsi hingga tragedi karena SARA. Semua akan baik-baik saja walapun negara itu tidak gunakan dogma keramat bernama Persaudaraan.

Lha ini perguruan yang berlandaskan Persaudaraan tapi cara menjalankan organisasi jauh dari makna Persaudaraan itu sendiri.

Suwono dan para saudara seperguruannya punya analisa bahwa perguruan nya bisa besar, punya puluhan juta anggota dan punya aset bernilai trilyunan rupiah, itu karena peran dari para pelatih.

Suwono dan para saudara-saudara seperguruan lainnya adalah pelatih yang mampu mencetak calon wisudawan. Para pelatih itu pula mampu cetak ‘omzet’ bagi perguruannya. Puluhan juta wisudawan yang sudah jadi anggota, sebelumnya harus setor dana wisuda ke perguruan.

Apakah Suwono dapat gaji selama 3 tahun melatih itu? Tidak! Yang ada adalah Suwono gunakan gaji buruh nya untuk biayai latihan. Bensin dan konsumsi melatih ditanggung sendiri. Waktu berkumpul untuk anak dan istri dikorbankan untuk melatih. Bahkan sampai ikhlas tidur di teras kostan karena pintu dikunci oleh istri!

Apakah para sesepuh pengurus perguruan faham akan hal ini? Mau peduli untuk kesejahteraan para pelatih nya? Bahkan apakah mau turun gunung melatih lagi agar hasilkan omzet perguruan?

Kadangkala inilah yang jadi pertanyaan Suwono atas keributan dan kegaduhan di tingkatan sesepuh perguruan.

Kadangkala pula Suwono ingin menggerak kan semua saudara-saudara nya yang melatih di seluruh dunia untuk stop dulu melatih selama setahun. Bahkan berhenti melatih untuk selamanya apabila perebutan kekuasaan itu masih ada.

Pada akhir kesimpulan, Suwono berpikiran ingin lakukan REFORMASI dogma keramat perguruan ini. Agar tidak terjadi pepesan kosong dalam jalani kehidupan bersama perguruan. Persaudaraan kok isinya ribut!

Meratap, Menghujat, Berbuat atau Penikmat? (Refleksi E-Commerce Indonesia)

Indonesia urutan 4 (58,5%) se Asia Pasific dalam hal belanja online via ponsel (smartphone). Urutan pertama India (75,8%), kedua China (71,4%), dan ketiga Thailand (65%). Keanehan datangnya dari negara maju seperti Jepang yang cuma 31%, Australia (26%) dan Selandia Baru (26%). Angka itu keluar dari Vice President Digital Payments and Labs Asia Pasifik Mastercard, Benjamin Gilbey.

e-commerce Indonesia

Bukalapak, menurut CEO nya Achmad Zaky klaim 80% penggunanya belanja lewat aplikasi mobile di ponsel. Berita itu dilansir Jawapos cetak kemarin.

Perkembangan ter-now untuk investasi e-commerce di Indonesia melahirkan 3 unicorn yaitu Tokopedia, Go-Jek dan Traveloka. Yuk kita lihat hasil para investor yang bakal ‘kuasai’ e-commerce Indonesia:

1. Tokopedia & Lazada -> Diinvest Alibaba (China)
2. Shopee, JD.ID, Traveloka, Go-Jek -> Diinvest Tencent (China)
3. Blibli, Tiket.com -> Diinvest GDP Capital (Djarum Group)
4. Grab -> Diinvest Alibaba dan Tencent (China)

Perkembangan diatas saya ikuti dari dinamika tokoh senior e-commerce Indonesia Mas Jaya Setiabudi dan Dewa Eka Prayoga. Hampir 3/4 barang dalam portal-portal belanja online dan marketplace sudah dipenuhi produk-produk murah dari China. Mereka bisa murah karena skala produksinya besar/masal.

Fakta lapangan mengatakan Alipay (sistem pembayaran asal China) sudah gerilya sosialisasi dan melatih (workshop) para pedagang di Indonesia. Melalui telpon, Alipay undang para pedagang untuk berkumpul bersama memahami dan tawarkan bergabung dengan nya. Investor China peduli hal ini karena penduduknya bisa berkunjung ke Indonesia tanpa Visa! Tourist asal China paling banyak datang ke Indonesia. Bahkan bisa kerja di Indonesia dengan surat resmi atau tanpa surat (ilegal). Di China, penduduknya tidak terbiasa lagi belanja dengan cash. Mereka sudah cashless, bayar dengan mata uang digital dengan handphone didalamnya ada Alipay nya.

Urusan logistik, pengiriman barang, Alibaba sudah bermitra dengan J&T. Lazada sudah punya divisi logistik bernama LEX – Lazada Express. Jaringan besar dibawah Alibaba itu sudah bangun Fulfillment Center (warehouse barang) besar di Indonesia. Tujuannya apa? Mempersingkat waktu kirim barang!

Mungkin petinggi Indonesia mulai ‘gerah’ hingga lahirlah Peraturan Presiden no. 74 Tahun 2017 pada agustus lalu tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road map e-commerce) Indonesia tahun 2017 – 2019. Saya sendiri hadiri sosialisasi Perpres itu. Program nya untuk rakyat Indonesia. Semoga ya 🙂

Indonesia darurat e-commerce? Lantas kita, saya, diam saja? Meratapi dan menghujat yang hanya hasilkan obrolan negatif tak berguna. Atau mau berbuat sesuatu?

Ingat lho masih ada kategori-kategori usaha lain yang bisa dimaksimalkan dan menjuara di dunia online. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dari 17 juta UKM Indonesia, hanya 75 ribu yang memiliki website atau sudah Go Online.

Menurut eMarketer, Indonesia habiskan $ 834.5 juta setara Rp. 11 triliun lebih untuk iklan digital dan hampir setengah dari iklan itu habis untuk beriklan memanfaatkan mesin pencarian yaitu $ 367.2 juta (44%). Sedangkan prediksi nilai transaksi e-commerce tahun 2016 adalah Rp. 394 Triliun. Itu uang yak?

Klo saya, lebih memilih untuk berbuat sesuatu (kerja). Karena berpotensi menghasilkan sesuatu. Utamanya untuk pribadi dan lebih-lebih membawa manfaat bagi bangsa. #Mrinding!

Masyarakat Indonesia perlu diberikan edukasi untuk Go Online. Caranya adalah workshop digital marketing dan pendampingan (one on one coaching). Memberikan ilmu persenjataan berbasis online hadapi potensi pasar dan persaingan. Mereka tidak perlu ikut USP (Unique selling proposition) mereka (China), yaitu murah.

Pendampingan ini harusnya ada sisi edukasi bisnis nya juga. Mulai dari validasi produk, kemasan, branding, manajemen keuangan, SDM, dan produksi, hingga pemasaran. Idealnya si pendamping ini harus mampu jadi trainer, mentor dan seorang business coach. Tentunya dengan bisnis yang sudah proven.

Satu orang praktisi bisnis yang melek digital marketing mendampingi 1 UKM akan berpotensi buat UKM Idonesia naik kelas dan scale up!

Wahai para praktisi dan UKM Indonesia, BANGUN lah! Merapatlah ke komunitas-komunitas bisnis/wirausaha. Ikuti workshop teknologi seperti kelas digital marketing. Ikuti pula festival, workshop, seminar wirausaha. Tempel terus orang pintar disekitar Anda.

Wait, dari kenyataan dunia e-commerce Indonesia, apakah kita cukup sebagai penikmat saja? Apa mau kasus ala Freeport terjadi lagi di Indonesia?

Keputusan ada di tangan kita. Saatnya genggam dunia!

Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia Ecommerce Indonesia

Jemarimu adalah Mulutmu (Status dari Pacitan)

Oleh-oleh dari Pacitan kemarin. Piknik Pacitan – Ponorogo 🙂 bersama Bopo lan Ibu.

Kapan terakhir kau bercuap bercanda dengan sekitarmu? Elastiskan otot-otot mulut dan wajah dengan berbincang. Interaksi nyata hasilkan ekspresi tawa, melongo, terbelalak, menyipit dan kadang tak sadar mengupil.

Beri rasa pada hati dengan cerita kesedihan, empati, keheranan, kebahagian dan terkadang mrinding.

Hal itu bakal terjadi jika mau untuk berbaur. Keluar dari kamar dan segera berbincang dengan sesama. Merasakan keramaian hidup dengan bersilaturahmi. Bisa jadi di tetangga, pos kamling, berkomunitas, berorganisasi, dan bahkan di dalam moda transportasi.

Di video ini, tampak Bapak mengantar Ibu saya rutin seminggu 2x PP dari Wonosobo (Pacitan) ke Ponorogo utk HD (cuci darah). Tamasya dalam bus katanya. Disitu mereka bisa bertemu teman lama, saudara, kerabat jauh, bahkan kenalan baru. Perbincangan seru selalu membahana dalam bus. Itulah salah satu kebahagiaannya. Piknik sekaligus silaturahmi. Menghayati kembali makna lagu ciptaan Ibu Sud, Naik-Naik Ke Puncak Gunung. Mrinding!

Era milenial akrab dengan digitalisasi. Interaksi terbangun dari jemari. Keheningan jadi makanan sehari-hari. Semoga sadar diri silaturahmi adalah bagian dari kebahagiaan sejati hidup ini.

Let’s speak up!