Tag Archives: Reklamasi

Pletan Cai, de!

1 menit waktu bacaBeberapa hari lalu, seorang teman, sebut saja ratna, mengirimi saya sebuah tangkapan layar cuitan Jerinx, drummer dari grup musisi Superman Is Dead. Fuck you so much Indonesia, begitu cuitnya. Apa salah Indonesia? Apa salah kami semua? Apa karena sebagian kami tidak pernah ikut aksi demonstrasi menolak reklamasi Benoa, sehingga kau merasa berhak … Continue reading "Pletan Cai, de!"

The post Pletan Cai, de! appeared first on Blog Pushandaka.

Banyak Alasan Membenci Jakarta

5 menit waktu bacaSejahatnya ibu tiri, masih lebih jahat ibukota. Apa itu alasan untuk membenci Jakarta? Saya dulu pernah merasakan bagaimana kesalnya dengan segala hal yang berbau Jakarta. Saya lahir dan tumbuh di Denpasar, Bali. Masa itu, sentralisasi a la orde baru sangat besar pengaruhnya sampai ke daerah, termasuk Bali. Bahkan saya juga kesal kepada … Continue reading "Banyak Alasan Membenci Jakarta"

The post Banyak Alasan Membenci Jakarta appeared first on Blog Pushandaka.

Jelang 25 Agustus Baliho BTR Terus Bertambah

Izin Lokasi reklamasi Teluk Benoa segera berakhir.

Menjelang berkhirnya izin lokasi reklamasi milik PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) pada 25 Agustus 2018 nanti, berbagai elemen masyarakat di Bali terus bersikukuh menentang proyek reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa.

Hal itu terlihat dari antusiasme komunitas maupun desa adat di Bali untuk mendirikan baliho penolakan reklamasi yang tiap hari saling susul-menyusul dan berlipat ganda.

Bagai bara api yang disiram bensin, setiap hari pendirian baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan imbauan habisnya izin lokasi reklamasi milik investor yang akan memasuki batas akhir pada 25 Agustus 2018 mendatang saling susul-menyusul dan berlipat ganda. Aksi itu menjadi momentum puncak dari gerakan rakyat yang terus bergerak selama lima tahun melawan proyek rakus tersebut.

Antusiasme ini menjadi pertanda jelas bahwa masyarakat Bali siap memenangkan Teluk Benoa.

Pada Rabu, 22 Agustus 2018, pendirian baliho penolakan reklamasi dilakukan oleh Forum Generasi Pemuda Kusamba Klungkung. Mereka memasang baliho berukuran 3×4 meter di Jalan ByPass Kusamba Lingkungan Desa Pekraman Kusamba dan di Jln Raya Kusamba, Desa Pekraman Kusamba.

Koordinator pemasangan I Ketut Agus Susanto menjelaskan bahwa Generasi Muda Kusamba dengan tegas menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa karena Bali tidak butuh pulau buatan. Bali dikenal dengan adat dan budayanya. Selain itu Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi dan kawasan suci bagi masyarakat Hindu pada umumnya dan sangat tidak layak untuk direklamasi.

Agus mengatakan reklamasi Teluk Benoa sangat berpotensi untuk menyebabkan bencana ekologis akut yang dapat menyebabkan abrasi di sepanjang pantai di Bali timur. “Jadi, bagi kami Generasi Muda Kusamba tolak reklamasi Teluk Benoa ialah harga mati untuk mencegah kerusakan lingkungan di Bali,” pungkasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Forum Pemuda Batubulan Gianyar. Mereka mendirikan baliho berukuran 4×2 meter di pertigaan patung barong Batubulan sekitar pukul 19:30 WITA Selasa kemarin.

I Kadek Yuliana Putra selaku koordinator aksi pemasangan baliho mengatakan pemasangan baliho tersebut merupakan bentuk imbauan kepada masyarakat luas bahwa 25 Agustus merupakan batas akhir dari izin lokasi reklamasi yang dimiliki investor.

Dia menegaskan bahwa 25 Agustus 2018, izin lokasi akan habis, AMDAL akan tumbang dan otomatis Teluk Benoa akan menang.

Marak dan Serentak

Sebelumnya di Desa Pakraman keramas juga warga mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Lokasinya di pintu masuk Desa Keramas, tepatnya di pertigaan Jalan Selukat. Aksi pemasangan baliho berukuran 3×5 meter tersebut dilakukan pada Selasa, 22.30 Wita dan dikoordinatori oleh Gede Supartha.

Supartha mengatakan Desa Pakraman Keramas konsisten mendukung gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa bersama ForBALI dan siap memenangkan Teluk Benoa.

Begitu pula di Desa Adat Sanur. Baliho penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa juga didirikan oleh Semeton Buruwan Sanur Kaja di Jalan Danau Beratan tepatnya di depan Banjar Buruwan Sanur Kaja.

Setiap hari baliho-baliho penolakan terhadap rencana reklamasi semakin marak berdiri secara serentak. Hal ini karena 25 Agustus sudah dekat dan pada tanggal tersebut merupakan batas akhir izin lokasi reklamasi yang dimiliki pemrakarsa yang dalam hal ini PT. TWBI.

Baliho-baliho terus berdiri sebagai bentuk konsistensi penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa dan imbauan bahwa tanggal 25 Agustus 2018 mendatang izin lokasi akan habis dan AMDAL dinyatakan tidak layak, maka otomatis rencana reklamasi di Teluk Benoa batal.

Pemasangan baliho ini juga merupakan respon balasan terhadap perusakan baliho oleh oknum tak bertanggung jawab. “Semoga oknum yang merusak baliho tolak reklamasi Teluk Benoa kami ini tahu, kami ini serius untuk memenangkan Teluk Benoa. Jangan anggap remeh komitmen Desa Adat Kelan untuk memenangkan Teluk Benoa,” ujar Koordinator aksi pemasangan baliho, Ketut Sukadana di Desa Kelan, Badung. [b]

The post Jelang 25 Agustus Baliho BTR Terus Bertambah appeared first on BaleBengong.

Spanduk Reject Reclamation Of Benoa Bay di Teluk Benoa

Environtment activists from ForBali, Walhi and supported by Greenpeace spreading a floating banner during the solidarity action to reject Reclamation of Benoa Bay in in Benoa Bay, 14 April 2018. Greenpeace Rainbow Warrior ship visiting Benoa Bay as a part of the Southeast Asia ship tour 2018.

ForBALI, Walhi Bali, dan Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk besar di perairan Teluk Benoa sehari setelah kapal Rainbow Warrior merapat di Pelabuhan Benoa.

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali melakukan aksi di kawasan perairan Teluk Benoa pada hari sabtu pagi, 14 April 2018. Aksi mereka kali ini dilakukan dengan membentangkan spanduk berukuran 15 x 9 meter bertuliskan “Reject Reclamation of Benoa Bay” dan 2 spanduk berukuran masing-masing 10 x 1 meter dengan pesan Batalkan Perpres Nomor 51 Tahun 2014.

Selain bersama WALHI Bali, ForBALI juga mendapat solidaritas dari Greenpeace yang sejak hari jumat sore, kapal mereka “Rainbow Warrior” bersandar di pelabuhan Benoa, Bali.

Koordinator Divisi Politik ForBALI menyebut aksi kali ini juga terbilang spesial mengingat aksi dilakukan pada saat kedatangan kapal Rainbow Warrior. “Lima tahun lalu silam, kapal Greenpeace pernah ke Bali, sebulan setelahnya isu reklamasi ini mencuat ke publik. Lima tahun setelah itu kapal rainbow warrior datang lagi, ini menjadi penanda bahwa selama lima tahun ini kita berhasil menyelamatkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi” ujarnya.

Momentum kedatangan kapal rainbow warior ini juga disebutnya sebagai pemantik semangat untuk terus berjuang melawan investasi rakus yang selalu mendapatkan backup kekuasaan. Untuk itu pihaknya mengajak serta Greenpeace dalam upaya penyelamatan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi. Dengan bergandengan tangan dengan semua komponen masyarakat sipil, Ia berharap tahun 2018 Teluk Benoa bisa menang. “untuk mencegah penghancuran lingkungan dan bencana di masa depan, tidak ada pilihan lain selain menghentikan upaya untuk mereklamasi teluk benoa, dan di tahun 2018 ini Teluk Benoa harus menang” tegas Moko.

Direktur Eksekutif WALHI Bali, I Made Juli Untung Pratama menjelaskan momentum kedatangan rainbow warior ini juga disebut sebagai momentum untuk menggaungkan bahwa teluk benoa sedang terancam. “Teluk benoa merupakan salah satu situs penting pendukung ekosistem global terutama burung-burung lintas benua. Sehingga pesan ini kita sampaikan kepada dunia internasional untuk bergandengan tangan bersama-sama menjaga teluk benoa dari ancaman eksploitasi” ujar Untung.

Juru kampanye Laut Greenpeace, Arifsyah Nasution mengatakan, pihaknya akan terus bersolidaritas untuk mendukung gerakan masyarakat adat dan seluruh komponen masyarakat sipil yang dengan tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “Greenpeace hari ini hadir di Teluk Benoa bersama WALHI Bali dan ForBALI untuk menjalankan aksi pembentangan spanduk dengan pesan “Reject Reclamation of Benoa Bay,” ujar Arifsyah.

(siaran pers)

The post Spanduk Reject Reclamation Of Benoa Bay di Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.

Kenapa Saya Menolak Reklamasi Teluk Benoa

Vifick_04 Nov_Renon Dps_Parade Budaya Tolak Reklamasi-0

Banyak yang menyebut Bali sebagai Pulau Surga. 

Pulau ini mendapat predikat pulau terbaik kedua di dunia setelah Santorini Yunani dalam rilis salah satu media asing beberapa bulan lalu. Bali, menurut saya memang dilahirkan dengan budaya yang memikat mata dunia.

Keunikannya dapat disejajarkan dengan budaya Tiongkok, Jepang, India, dan lain-lain.

Kemajuan Bali dalam bidang pariwisata tidaklah mengejutkan karena Bali memang sejak dahulu telah menjadi tujuan pariwisata dunia karena keunikannya. Namun, karena pariwisata inilah kehidupan masyarakat Bali khususnya di Bali selatan sudah mulai terkikis oleh gemerlapnya pariwisata dan orang-orang luar Bali yang mengais rejeki di pulau ini.

Tanah di Bali sangatlah mahal karena di Bali tidak boleh mendirikan bangunan atau gedung layaknya di Jakarta atau kota-kota lain di dunia. Hal tersebut membuat membangun di Bali harus melebar ke samping atau horizontal, semakin lama semakin sedikit ruang untuk membangun di Bali.

Mahalnya harga tanah dan terbatasnya tanah di Bali membuat investor yang masih percaya dengan pariwisata Bali berpikir untuk mereklamasi Teluk Benoa dengan harapan dan hitung-hitungan biaya yang jauh lebih murah. Selain itu kawasan reklamasi ini nantinya akan sangat mewah dan tak mencerminkan budaya Bali bagi saya pribadi.

Budaya Bali bukanlah budaya hedonisme yang dibawa dari dunia barat. Bali tak sepantasnya menjadi seperti itu.

Awal rencana reklamasi teluk Benoa saya sendiri masih biasa-biasa saja. Bahkan saya cenderung setuju-setuju saja akan salah satu wacana yang akan mendongkrak pesat kemajuan Bali.

Namun, beberapa tokoh mulai menolak dan di sanalah mata saya akhirnya terbuka melihat situasi ini. Investor yang terlalu memaksakan kehendaknya dengan berbagai cara membuat saya tak percaya lagi akan janji-janji yang didengungkan.

Biarkanlah alasan-alasan penolakan baik berwujud akademis maupun filosofis diutarakan oleh yang menguasainya karena saya tak akan menjelaskan itu.

Saya menolak dengan alasan ketidakmerataan pembangunan. Saya lebih setuju pemerintah membangun Bali barat dan utara. Roti pariwisata di Bali saat ini sebagian besar masih dirasakan hanya oleh Bali bagian selatan. Kondisi tersebut tentu sangat timpang. Suatu saat bisa saja akan menjadi bom waktu bagi masyarakat Bali di luar Bali Selatan.

Lupakan reklamasi Teluk Benoa. Bangun pemerataan pembangunan di Bali. Wujudkan pariwisata berbasis Budaya di Bali. Dengan hal tersebut selain Bali akan tetap maju dan sejahtera, Bali tidak akan kehilangan Budaya nya yang dikagumi dunia Internasional.

God Bless My Homeland! [b]

The post Kenapa Saya Menolak Reklamasi Teluk Benoa appeared first on BaleBengong.