Tag Archives: puisi perempuan

Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

Buku “Ovulasi yang Gagal” in memoriam Putu Vivi Lestari

Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater.

Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari.

Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara sastra dan teater sejumlah komunitas tempat di Bali. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Ketika duduk di bangku kuliah, era 2000-an awal, seiring pergaulan dan bacaannya yang luas, puisi-puisi Vivi semakin matang dan mengejutkan khalayak sastra. Puisi-puisinya banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya.

Puisi-puisinya dibangun dari diksi dan metafora-metafora yang digalinya dari berbagai sumber Barat dan Timur: Kitab Injil, Ramayana, Mahabarata, mitologi, tokoh dunia, hingga merek parfum. Dengan kelincahan imajinasi, dia meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi puisi-puisi yang multikultur, dan juga terkesan metropolitan.

Salah satu puisinya yang mengejutkan adalah puisi yang dibubuhi judul berupa gambar salib, dibuka dengan bait pertama: dosa/ adalah firman/ hari ini. Puisi ini membuktikan kemampuan Vivi meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi sebuah puisi yang utuh dan padu. Kisah dan tokoh dalam Injil berpadu dengan kisah dan tokoh dalam Mahabarata, dikaitkan dengan berbagai persoalan perempuan.

Bahkan, dia tak segan memasukkan kata “vagina” dalam puisi ini: aku menebus/ dosa vagina/ sarang laba-laba lapuk/ koyak di taman firdaus. Dalam puisi ini, nuansa religius, erotisme, dan eksistensi diri tampak saling berkelindan.

Puisi tersebut dimuat Kompas pada 2000, berdampingan dengan puisi beberapa penyair senior dari Bali. Sutardji Calzoum Bachri yang saat itu menjadi redaktur puisi Kompas—dalam sebuah esai pendeknya yang bertajuk “Puisi dari Bali”—memuji Vivi sebagai penyair muda usia yang memiliki bakat kuat, dan bakal memberikan kekayaan bagi khazanah perpuisian Indonesia di Bali.

Selain Kompas, pada masa itu, puisi-puisi Vivi juga muncul di Jurnal Kebudayaan Kalam, Majalah Sastra Horison, Bali Echo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Puisi, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Jurnal Kebudayaan Sundih, dan Jurnal Kebudayaan CAK.

Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Catatan Kepedulian (Jukut Ares, Tabanan, 1999), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Kompas, 2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, 2002), Ning: Antologi Puisi 16 Penyair Indonesia (Sanggar Purbacaraka, Denpasar, 2002), Malaikat Biru Kota Hobart (Logung Pustaka, 2004), Roh: Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (bukupop, Jakarta, 2005), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), Rainbow (Indonesia Tera, 2008), Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris & AF Denpasar, 2010).

Vivi juga rajin mengikuti lomba menulis puisi dan meraih sejumlah penghargaan, antara lain: “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Kehadiran Vivi sebagai penyair memang tak dapat ditolak. Dia diundang mengisi sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain: Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Musim Semi Penyair (Printemps de Poetes) 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013).

Karena kecintaannya pada buku dan sastra, sekitar tahun 2002 hingga 2005, Vivi bekerja mengelola Rumah Buku Cengkilung yang berlokasi di pinggiran Denpasar Utara. Kemudian dia terlibat dalam redaksi Jurnal Kebudayaan CAK dan Jurnal Kebudayaan Sundih yang terbit di Bali.

Pendidikan terakhir Vivi adalah Magister Manajemen. Sejak 2005, Vivi menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.

Vivi lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1981 dari pasangan I Nengah Artha dan Ni Nengah Laksmini. Vivi termasuk sosok yang pendiam dan cenderung introvert. Buku harian menjadi kawan akrabnya sejak masa kanak. Tidak banyak orang yang bisa memahami dirinya.

Pada 2007, Vivi kawin dengan pelukis Ketut Endrawan. Tujuh tahun kemudian, mereka dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Made Kinandita Radharani, dan pada 2016 dikarunia anak lelaki bernama Nyoman Akira Bodhi Pawitra.

Kesibukan Vivi sebagai dosen, istri, dan ibu cukup menyita banyak waktunya. Dia lama menghilang dari pergaulan dan panggung sastra, serta puisi-puisinya tidak pernah terlihat lagi di media massa.

Sekitar November 2016, tiga bulan setelah melahirkan Bodhi, Vivi didiagnosis terkena leukemia (kanker darah). Vivi terguncang. Dia sempat bertahan beberapa bulan melawan penyakitnya. Namun, Tuhan berkata lain, pada tanggal 8 April 2017 Vivi menyerah dan menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar. Pada 14 April 2017, jenazah Vivi dikremasi di Krematorium Mumbul dan abunya dilarung di Pantai Matahari Terbit, Sanur.

Putu Vivi Lestari saat membaca puisi dalam sebuah kegiatan sastra. Foto Made Sugianto.

Mengingat puisi-puisi Vivi layak untuk dicatat, dan atas keinginan keluarganya serta sejumlah teman penyair, kami memandang penerbitan buku ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Untuk itu, kami secara khusus berupaya mengumpulkan puisi-puisi Vivi.

Puisi-puisi Vivi berhasil kami kumpulkan dengan bantuan suaminya, Ketut Endrawan. Dia memberikan kami sebuah manuskrip bersampul merah yang berisi tiga puluh satu puisi. Manuskrip itu disusun sendiri oleh Vivi semasa hidupnya, mungkin untuk keperluan tertentu atau dokumentasi pribadi. Dugaan kami, puisi-puisi dalam manuskrip itu dianggap oleh Vivi sebagai karya terbaiknya.

Untuk menghormati pilihan dan keinginan Vivi atas puisi-puisinya, manuskrip tersebut kami masukkan dalam buku sebagaimana adanya. Kami memberi judul “Manuskrip Merah” untuk bagian ini karena mengacu pada warna sampul manuskrip.

Ketika kami memeriksa perpustakaan di rumah Vivi, kami menemukan 21 puisi lain di dalam kliping karya-karya Vivi dan dari buku kumpulan puisi bersamanya.  Selain itu, dalam file-file yang dikirimkan Endrawan, kami juga menemukan sebuah puisi yang tidak ada dalam manuskrip merah, yakni “Aceh: Waktu Yang Kelabu” yang bertitimangsa Januari 2005. Kemungkinan ini puisi terakhir yang dikerjakan penuh oleh Vivi.

Pada November 2016, Vivi juga sempat menulis untaian kata untuk pengantar arsip Jurnal Kebudayaan Sundih yang diluncurkan secara online, yang kami anggap cukup layak dimasukkan dalam buku ini. Untuk kepentingan identifikasi dan daftar isi buku, untaian kata itu kami beri judul “Penyuci Luka”. Semua puisi tersebut kami masukkan ke dalam bagian “Puisi-puisi Temuan”.

Kami memilih judul puisi “Ovulasi yang Gagal” sebagai judul buku ini karena judul tersebut memperlihatkan dengan kuat persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan lainnya yang menjadi tema sebagian besar puisi Vivi. Kami juga menyusun daftar istilah untuk memudahkan pembaca menikmati puisi-puisinya. Selain itu, sketsa-sketsa karya Ketut Endrawan mengenai Vivi turut juga kami sertakan untuk memberi gambaran yang lebih utuh mengenai sosok Vivi semasa hidupnya.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga Vivi yang telah mengijinkan penerbitan buku ini, Made Sugianto dan Pustaka Ekspresi, serta pihak-pihak yang turut mendukung.

Semoga buku ini turut menyemarakkan dunia sastra kita. [b]

***

Judul Buku: Ovulasi yang Gagal
Penulis: Putu Vivi Lestari
Hak Cipta © Ketut Endrawan 2017

Penyunting: Wayan Jengki Sunarta & Phalayasa Sukmakarsa

 

Penerbit: Pustaka Ekspresi
Jl. Diwang Dangin No.54, Br. Lodalang, Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Bali Tlp. 081338722481.
Email: [email protected]

Cetakan pertama: Agustus 2017

ISBN: 978-602-5408-05-2

Harga: Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Bagi yang berminat buku ini silakan langsung memesan pada Obed Wewo (WA : 081236842900. Line : kepui_raho).

The post Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari appeared first on BaleBengong.

Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan

Saya menyukai malam itu.

Pada Minggu, 30 Juli 2017 di malam yang membuat perih mata minus dan silinder saya karena temaramnya Bentara Budaya Bali. Hampir pukul 20.00 WITA.

Pemain Teater Kalangan makin bikin pekat karena berpakaian hitam-hitam. Pembawa cahaya lampu mondar mandir menyinari tubuh mereka. Puisi “Membaca Pagi” merasuki malam.

Lapis demi lapis suara anak-anak Kalangan ini menyamankan mata saya. Merehatkannya karena saya memilih menyiagakan telinga untuk 14 baris puisi dari Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati, perempuan 23 tahun ini.

Kujumpai kau saat pagi merahasiakan rindunya
Di sudut kamar kita saling bertukar cerita
Tentang siapa yang paling setia
…….

Teater Kalangan ini sungguh berenergi merespon Membaca Pagi. Mereka menghormati semua benda yang ada di taman Bentara Budaya tanpa property tambahan. Berlari memeluk pohon-pohon, menyapu dahannya. Mendekap jendela-jendela kaca. Berjingkat di lantai tanah. Berlari mengejar pagi.

Tapi pagi tak akan hadir secepat itu. Api dari puisi-puisi Kadek Sonia Piscayanti menjilat-jilat malam. Api yang bergeming saja, tapi membakar habis mereka yang merasa pernah menyambak rambut perempuan untuk menunjukkan kekuasaaanya. Mereka yang menginginkan perempuan tak bersuara. Atau melenyapkan teriakannya.

Api di sini bukan sekadar kemarahan. Ia adalah elemen penting dalam daur hidup semesta. Api yang menghangatkan, mematangkan masakan, dan melunakkan badan kasar jadi jiwa-jiwa.

If not because of this face
He won’t marry me
If not because of this face I wouldn’t be “we”

Now I don’t need a face
To please you
So I burn it
To know whether or not you still love me
Without my face

I know that it hurts you
But it hurts me even more
To have no face
And no love
And not even a single piece of ‘fire’ within

(puisi berjudul Failed Face)

Tumpek Landep, Gayatri Mantram, berpadu dengan lidah api biru. Api yang paling dinanti agar masakan cepat terhidang. Tak bikin pantat panci gosong.

Semoga kepalamu tak gosong membaca ini. Begini 9 baris pertamanya.

If freedom is free
I will write freely
I will write a poem about Balinese women
A woman who knows prison better than prisoners
A woman who hangs herself and fail
A woman who cries everyday and stays strong
A woman who gets a blame and remains calm
A woman who raise family and get black magic
A woman who does everything and gets nothing

(puisi berjudul No Turning Back)

Sonia, dalam diskusi peluncuran bukunya menyebut usia 33 tahun ini adalah saat yang tepat menerbitkan buku kompilasi puisi sendiri dan dalam bahasa Inggris. “Emang gue banget, tak mungkin akan dibandingkan dengan Ole. Karena selalu akan ada yang membandingkan,” ia tertawa. Adnyana Ole adalah suaminya, wartawan dan penyair. Karena buku puisinya ini dalam bahasa Inggris maka Ole menurutnya nggak bisa masuk.

Dosen jurusan Sastra Inggris di Undiksha ini merasa lebih nyaman menulis puisi terutama Burning Hair ini dalam bahasa Inggris karena kata-kata yang diinginkan jadi lebih lugas dan irit. Menulis Cerpen yang lebih panjang dan naratif, barulah ia merasa mengalir dalam bahasa Indonesia.

Selain refleksi dalam hidup, buku ini juga kado untuk diri sendiri. “Gak dikasi kado Ole, bikin sendiri,” serunya girang.

Buku ini juga untuk mereka yang tak berani bersuara. “Saya bukan malaikat, mereka perlu didengar. My hair.. my hair, rambut tercerabut akarnya. Ini kisah nyata seorang laki menyeret istrinya di depan banyak orang, dan warga menyalahkan si perempuan,” tutur ibu dengan dua anak ini tentang puisi Burning Hair.

Saya pernah berharap mempublikasikan kembali artikelnya, energi yang sama seperti Burning Hair ini, yang dihapus karena protes warganet. Pembaca ini tidak senang dengan isinya. Sonia memilih mengalah dengan menyabut karyanya dari web Tatkala.co, media online yang dibuat Ole.

Sementara buku puisi Wulan bak air, yang tenang kadang bergejolak. Mengalir ke pancuran-pancuran kenangan dan mimpinya. Berakhir di kolam puitik berjudul Seribu Pagi Secangkir Cinta ini. “Sangat sederhana, sebuah perjalanan saya,” kata mantan mahasiswa Undiksha dan kini S2 di Unud. Ia misalnya mengenang laki-laki yang kadang bikin kesal, kadang bikin kangen.

Virginia Helzainka berjudul Cocktail, Waves and Archer.  Suara-suara perlawanan menjejak padat bak tanah. Seperti perbicangan, yang kadang serius campur satir. “Kebanyakan soal hubungan anak dan ibu,” urainya. Kalau ibunya membaca karyanya ia bisa dijewer.

Gaya puisinya yang seperti bahasa lisan seperti ngobrol ini seturut dengan kesukaannya pada slam poetry. Sebuah genre pembacaan puisi yang dibawakan biasanya tanpa teks oleh slamer atau penyaji di panggung. Apa yang disampaikan tak harus persis sama dengan teks, bisa lebih berimprovisasi. Mereka terlihat seperti testimoni. Pertunjukkan poetry slam kerap dikompetisikan, dinilai juri dan penonton.

“Saya ketemu slam poetry di youtube, dapat jiwanya di sini. Ini slam poetry yang dibukukan. Bahasa nyablak, to the point. Emotional reading poetry, jadi tak bertele-tele seperti metafora. Refleksi diri sendiri dan teman-teman,” urai Virginia.

Ia juga mengaku lebih bisa mengekspresikan kata-kata dalam bahasa Inggris karena sejak kecil lebih banyak baca buku berbahasa Inggris. “Baru join Komunitas Mahima kenal bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris lebih percaya diri,” lanjut mahasiswa S2 Undiksha ini.

Tiga buku puisi yang diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia (Singaraja), didirikan Ole dan Sonia ini menjadi temu alumni dua pegiatnya, Wulan dan Virginia. Anak muda Mahima juga mewarnai perayaan ini dengan pementasan musikalisasi dan pembacaan puisi. Anak perempuan Sonia, Putik Padi juga ikut membacakan petikan karya ibunya.

Pembahas buku adalah Arif B. Prasetyo, lebih dikenal sebagai kurator lukisan. Ia mengulas panjang puisi-puisi yang dibahasnya. Misalnya pemberontakan perempuan terhadap kuasa patriarkhi pada karya Sonia. Virginia juga menampilkan pesan feminis namun lebih puitik misalnya protes soal politik tubuh. Sementara Wulan gelisah pada norma, nilai, dan komunitas.

Profil Penulis

Kadek Sonia Pisacayanti lahir di Singaraja, 4 Maret 1984, merupakan Dosen Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha. Ia mengajar bidang sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Ia pernah diundang sebagai pembicara pada Ubud Writers and Readers Festival (2012-2013), Creative Writing Program, Griffith University, Gold Coast, Australia (2011-2012), serta pada ajang OzAsia Festival, Adelaide Australia (2013).

Ia menulis sekaligus menyutradarai naskah “Layonsari“ di Belanda dan Prancis pada acara Culture Grant dari Direktorat Pendidikan Tinggi Indonesia (2014).  Ia juga telah menerbitkan beberapa buku di antaranya, “Karena Saya Ingin Berlari Saya Ingin Berlari“ (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2007), Buku Sastra “Literature is Fun“ (Pustaka Ekspresi, 2012), “The Story of A Tree“ (Mahima Institute Indonesia, 2014), The Art of Drama, The Art of Life (Graha Ilmu, 2014), A Woman Without A Name“ (Mahima Institute Indonesia, 2015).

Ni Luh Putu Wulan Dewi Saraswati, lahir di Denpasar, 10 Juli 1994, S1 di Undiksha, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mendalami  linguistik di Pascasarjana Universitas Udayana.Kini menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing di Yayasan Cinta Bahasa, bergabung di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha 2014 dan 2015, serta mengikuti pertukaran budaya, Muhibah Seni Undiksha di Belanda dan Prancis 2014.

Menjadi sutradara fragmentasi cerpen Penumpang karya Iwan Simatupang, Mega-Mega karya Arifin C. Noor; monolog Bahaya karya Putu Wijaya. Karyanya terhimpun dalam antologi Singa Ambara Raja dan Burung-burung Utara, Ginanti Tanah Bali, Kaung Bedolot, Di Ujung Benang, Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta, dan Lingga. Puisi dan cerpennya kerap dimuat dalam Koran Bali Post Minggu. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta telah terbit pada tahun 2017.

Virginia Helzainka, merupakan mahasiswi S-2 di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Ia pernah menulis naskah sekaligus menyutradai lakon “Trageditrisakti“ (2011), sebagai sutradara pada lakon “A Marriage Proposal“ oleh Anton Chekov (2015), sebagai perwakilan Jakarta Timur dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (2011). [b]

The post Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan appeared first on BaleBengong.