Tag Archives: Puisi

Sebelum Berbuat Dosa: Puisi Yang Naif

Apa yang sesungguhnya dirayakan di atas meja makan : Hal-hal yang tidak dibicarakan. Hal-hal yang hanya aku dan kamu ketahui sekaligus sembunyikan. Hal-hal yang tidak sepenuhnya remeh dan remah. Hal-hal yang naif. Atau diri kita yang justru naif. Di meja makan, tidak semua orang menjadi hitam atau putih. Ia bisa menjadi abu-abu, biru pirus, hijau […]

Percakapan Imajiner (1)

Di kepala ini, ada satu anasir yang berjalan menyimpang dari kawanannya. Antusiasme untuk menuliskan topic yang serius, teralihkan oleh “distraksi” ini. Beranjak dewasa, taman bermain menjadi tempat yang begitu horror sekaligus artifisial dan manipulatif. Saya berdamai dengan energy itu, mengendurkan kekang yang menegang sekaligus mengencangkan kekang yang kendur. Aku sering bercakap-cakap dengan diri sendiri sembari […]

Yang Beriman Pada Senyap

Adakah seseorang telah berkabar padamu, bahwa ada seseorang yang tetiba merindukanmu di penghujung senja yang sekejap? Dan setelahnya ketika seseorang itu mulai menyantap makan malamnya, dan ingin sekali mengingatkan: apakah kamu sudah makan, tetiba menyulap rasa santapan itu menjadi hambar. Kehampaan menggerogotinya sebentar. Dan mengenang-ngenang yang tergenang di kepalanya. Seseorang itu mengingat pertanyaan seorang noni […]

Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

Buku “Ovulasi yang Gagal” in memoriam Putu Vivi Lestari

Bali pada pertengahan 1990-an sangat bergairah dengan kegiatan sastra dan teater.

Penyair-penyair muda juga tumbuh semarak. Salah satu penyair muda yang sangat berbakat pada saat itu adalah Putu Vivi Lestari.

Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Saat itu, bersama teman-temannya, dia rajin menghadiri acara-acara sastra dan teater sejumlah komunitas tempat di Bali. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Ketika duduk di bangku kuliah, era 2000-an awal, seiring pergaulan dan bacaannya yang luas, puisi-puisi Vivi semakin matang dan mengejutkan khalayak sastra. Puisi-puisinya banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya.

Puisi-puisinya dibangun dari diksi dan metafora-metafora yang digalinya dari berbagai sumber Barat dan Timur: Kitab Injil, Ramayana, Mahabarata, mitologi, tokoh dunia, hingga merek parfum. Dengan kelincahan imajinasi, dia meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi puisi-puisi yang multikultur, dan juga terkesan metropolitan.

Salah satu puisinya yang mengejutkan adalah puisi yang dibubuhi judul berupa gambar salib, dibuka dengan bait pertama: dosa/ adalah firman/ hari ini. Puisi ini membuktikan kemampuan Vivi meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi sebuah puisi yang utuh dan padu. Kisah dan tokoh dalam Injil berpadu dengan kisah dan tokoh dalam Mahabarata, dikaitkan dengan berbagai persoalan perempuan.

Bahkan, dia tak segan memasukkan kata “vagina” dalam puisi ini: aku menebus/ dosa vagina/ sarang laba-laba lapuk/ koyak di taman firdaus. Dalam puisi ini, nuansa religius, erotisme, dan eksistensi diri tampak saling berkelindan.

Puisi tersebut dimuat Kompas pada 2000, berdampingan dengan puisi beberapa penyair senior dari Bali. Sutardji Calzoum Bachri yang saat itu menjadi redaktur puisi Kompas—dalam sebuah esai pendeknya yang bertajuk “Puisi dari Bali”—memuji Vivi sebagai penyair muda usia yang memiliki bakat kuat, dan bakal memberikan kekayaan bagi khazanah perpuisian Indonesia di Bali.

Selain Kompas, pada masa itu, puisi-puisi Vivi juga muncul di Jurnal Kebudayaan Kalam, Majalah Sastra Horison, Bali Echo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Jurnal Puisi, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Jurnal Kebudayaan Sundih, dan Jurnal Kebudayaan CAK.

Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Catatan Kepedulian (Jukut Ares, Tabanan, 1999), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Kompas, 2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, 2002), Ning: Antologi Puisi 16 Penyair Indonesia (Sanggar Purbacaraka, Denpasar, 2002), Malaikat Biru Kota Hobart (Logung Pustaka, 2004), Roh: Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (bukupop, Jakarta, 2005), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), Rainbow (Indonesia Tera, 2008), Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris & AF Denpasar, 2010).

Vivi juga rajin mengikuti lomba menulis puisi dan meraih sejumlah penghargaan, antara lain: “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Kehadiran Vivi sebagai penyair memang tak dapat ditolak. Dia diundang mengisi sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain: Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Musim Semi Penyair (Printemps de Poetes) 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013).

Karena kecintaannya pada buku dan sastra, sekitar tahun 2002 hingga 2005, Vivi bekerja mengelola Rumah Buku Cengkilung yang berlokasi di pinggiran Denpasar Utara. Kemudian dia terlibat dalam redaksi Jurnal Kebudayaan CAK dan Jurnal Kebudayaan Sundih yang terbit di Bali.

Pendidikan terakhir Vivi adalah Magister Manajemen. Sejak 2005, Vivi menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.

Vivi lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1981 dari pasangan I Nengah Artha dan Ni Nengah Laksmini. Vivi termasuk sosok yang pendiam dan cenderung introvert. Buku harian menjadi kawan akrabnya sejak masa kanak. Tidak banyak orang yang bisa memahami dirinya.

Pada 2007, Vivi kawin dengan pelukis Ketut Endrawan. Tujuh tahun kemudian, mereka dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Made Kinandita Radharani, dan pada 2016 dikarunia anak lelaki bernama Nyoman Akira Bodhi Pawitra.

Kesibukan Vivi sebagai dosen, istri, dan ibu cukup menyita banyak waktunya. Dia lama menghilang dari pergaulan dan panggung sastra, serta puisi-puisinya tidak pernah terlihat lagi di media massa.

Sekitar November 2016, tiga bulan setelah melahirkan Bodhi, Vivi didiagnosis terkena leukemia (kanker darah). Vivi terguncang. Dia sempat bertahan beberapa bulan melawan penyakitnya. Namun, Tuhan berkata lain, pada tanggal 8 April 2017 Vivi menyerah dan menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar. Pada 14 April 2017, jenazah Vivi dikremasi di Krematorium Mumbul dan abunya dilarung di Pantai Matahari Terbit, Sanur.

Putu Vivi Lestari saat membaca puisi dalam sebuah kegiatan sastra. Foto Made Sugianto.

Mengingat puisi-puisi Vivi layak untuk dicatat, dan atas keinginan keluarganya serta sejumlah teman penyair, kami memandang penerbitan buku ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Untuk itu, kami secara khusus berupaya mengumpulkan puisi-puisi Vivi.

Puisi-puisi Vivi berhasil kami kumpulkan dengan bantuan suaminya, Ketut Endrawan. Dia memberikan kami sebuah manuskrip bersampul merah yang berisi tiga puluh satu puisi. Manuskrip itu disusun sendiri oleh Vivi semasa hidupnya, mungkin untuk keperluan tertentu atau dokumentasi pribadi. Dugaan kami, puisi-puisi dalam manuskrip itu dianggap oleh Vivi sebagai karya terbaiknya.

Untuk menghormati pilihan dan keinginan Vivi atas puisi-puisinya, manuskrip tersebut kami masukkan dalam buku sebagaimana adanya. Kami memberi judul “Manuskrip Merah” untuk bagian ini karena mengacu pada warna sampul manuskrip.

Ketika kami memeriksa perpustakaan di rumah Vivi, kami menemukan 21 puisi lain di dalam kliping karya-karya Vivi dan dari buku kumpulan puisi bersamanya.  Selain itu, dalam file-file yang dikirimkan Endrawan, kami juga menemukan sebuah puisi yang tidak ada dalam manuskrip merah, yakni “Aceh: Waktu Yang Kelabu” yang bertitimangsa Januari 2005. Kemungkinan ini puisi terakhir yang dikerjakan penuh oleh Vivi.

Pada November 2016, Vivi juga sempat menulis untaian kata untuk pengantar arsip Jurnal Kebudayaan Sundih yang diluncurkan secara online, yang kami anggap cukup layak dimasukkan dalam buku ini. Untuk kepentingan identifikasi dan daftar isi buku, untaian kata itu kami beri judul “Penyuci Luka”. Semua puisi tersebut kami masukkan ke dalam bagian “Puisi-puisi Temuan”.

Kami memilih judul puisi “Ovulasi yang Gagal” sebagai judul buku ini karena judul tersebut memperlihatkan dengan kuat persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan lainnya yang menjadi tema sebagian besar puisi Vivi. Kami juga menyusun daftar istilah untuk memudahkan pembaca menikmati puisi-puisinya. Selain itu, sketsa-sketsa karya Ketut Endrawan mengenai Vivi turut juga kami sertakan untuk memberi gambaran yang lebih utuh mengenai sosok Vivi semasa hidupnya.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga Vivi yang telah mengijinkan penerbitan buku ini, Made Sugianto dan Pustaka Ekspresi, serta pihak-pihak yang turut mendukung.

Semoga buku ini turut menyemarakkan dunia sastra kita. [b]

***

Judul Buku: Ovulasi yang Gagal
Penulis: Putu Vivi Lestari
Hak Cipta © Ketut Endrawan 2017

Penyunting: Wayan Jengki Sunarta & Phalayasa Sukmakarsa

 

Penerbit: Pustaka Ekspresi
Jl. Diwang Dangin No.54, Br. Lodalang, Desa Kukuh, Marga, Tabanan, Bali Tlp. 081338722481.
Email: [email protected]

Cetakan pertama: Agustus 2017

ISBN: 978-602-5408-05-2

Harga: Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Bagi yang berminat buku ini silakan langsung memesan pada Obed Wewo (WA : 081236842900. Line : kepui_raho).

The post Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari appeared first on BaleBengong.