Tag Archives: PSHT

Warga Tingkat II PSHT

Latihan tingkat II sebaiknya di usia muda. Sudah terjadi di era Mas Tarmadji Boedi Harsono. Mas Madji (panggilan akrabnya) adalah salah satu Ketua Umum PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) di era 80 – 90 an. Sekarang sudah almarhum.

Mas Madji lahir tahun 1946. Disahkan menjadi warga PSHT tingkat 1 pada tahun 1963 (usia 17 tahun). Kemudian disahkan tingkat II pada tahun 1970 (usia 24 tahun).

Usia 24 tahun adalah usia yang sangat muda untuk menapaki tingkat II. Menjadi seorang perwira di organisasi PSHT. Menjadi panutan bagi para warga tingkat I dan para siswa nya.

Kenapa sebaiknya di usia muda? Jawaban ini saya rangkum dari pendapat para senior tingkat II juga. Karena jurus-jurus nya bermain di bawah. Kekokohan kuda-kuda kaki sangat penting. Disamping kecepatan (speed) dan kelenturan tubuh juga sangat dibutuhkan.

Usia paroh baya atau tua, sangat sulit aplikasikan jurus itu. Bukan berarti tidak bisa namun hanya orang-orang tua yang atletis sering olah raga lah yang kemungkinan bisa aksi jurus-jurus tersebut. Apalagi yang kena asam urat, dipastikan nggak bisa bergerak.

Tingkat II Tidak Dicari

Pendidikan umum, banyak yang berniat mencari ilmu atau ijazah S1, S2, dan S3. Bagaimana di PSHT yang punya 3 tingkatan keilmuan, yaitu tingkat I, II, dan III? Khusus tingkat II dan III sebaiknya tidak mencarinya.

Tingkatan itu akan datang ketika PSHT membutuhkan. Tanda nya gimana? Para senior tingkat III atau tingkat II akan bilang, “Dik, Anda sudah waktunya naik tingkat.” Sama seperti peristiwa yang terjadi dulu ketika Mas Imam memberikan ‘titah’ ke Mas Madji.

Apakah tidak boleh mencari? Boleh-boleh saja asalkan mampu dan bertanggungjawab atas konsekwensi tingkat II dan tingkat III.

Apa saja konsekwensinya? Biarlah jadi rahasia para pemegang tingkat II dan III 🙂

Tingkat II Tidak Selalu disahkan di Madiun

AD/ART PSHT menjelaskan bahwa Majelis Luhur bertanggungjawab atas kebijakan pengajaran budi luhur di PSHT. Mereka lah yang menetapkan garis besar program dan pelaksanaan ajaran.

PSHT sejatinya milik yang mempelajarinya. Milik siswa dan warga-warga di seluruh dunia. Pusat organisasi PSHT menurut AD/ART adalah di Madiun namun ajaran nya bisa dilakukan di seluruh dunia.

Maka pengesahan warga tingkat I dan II bisa dilaksanakan di tempat pengajaran itu berlangsung. AD/ART tidak mengatur secara spesifik tempat pengesahan. Murni hal itu ada di kebijakan Majelis Luhur. Ini menandakan PSHT kekinian dan memahami kebutuhan warganya.

Bayangkan jika ada orang dari suku Eskimo di kutub utara sana mau pengesahan tingkat II, butuh biaya berapa untuk datang ke Madiun?

Selamat mengabdi wahai para perwira tingkat II PSHT di seluruh dunia.

“Selama matahari terbit dari timur, selama bumi masih dihuni manusia dan selama itu pula PSHT akan abadi jaya selama-lamanya.”

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali) pada hari Rabu, 9 September 2020 bertempat di Bedugul, Bali, saya bersama 14 siswa lainnya disahkan jadi warga PSHT tingkat II.

Hampir 1 tahun belajar materi tingkat II ini. Dilatih oleh Kakung Senan, Mas Jarko, Mas Cipto, Mas Zaenuri, Mas Dody, Mas Edi dan Mas Sadar. Disahkan oleh Majelis Luhur tingkat III yaitu Mas Simun dan Mas Suryono.

Saya pribadi tak pernah punya cita-cita ini (menjadi tingkat II). Tak pernah berharap ini. Namun Dia selalu mendekatkan kepada ini. Meski ada usaha menolak karena blum lah pantas, namun arus dariNya begitu deras untuk tetap ke ini.

Ya sudah, dijalani saja. Saya belum tahu apakah ini baik atau tidak karena saya belum tahu mana diantaranya yang lebih baik dimata Allah SWT. Wahai Panjenengan Yang Maha Perkasa dan Kuasa atas hidup ini, mohon memberikan tuntunan dan kekuatan. Aamiin YRA.

Kebenaran dan Pembenaran

Kebenaran tanpa perjuangan akan kalah dengan kejahatan yang terus menerus menebar pembenaran” ~ Hendra W Saputro

Banyak yang salah jalan tapi merasa tenang karena banyak orang yang sama-sama salah. Beranilah untuk menjadi benar walau sendirian.

Contoh: Korupsi berjamaah. Pengkhianatan berkedok penyelamatan aliran/ajaran/ideologi.

Saya merasa quote paling atas adalah hasil temuan sendiri. Saya coba cari di Google belum ada. Ya, kalimat ini: “Kebenaran tanpa perjuangan akan kalah dengan kejahatan yang terus menerus menebar pembenaran

Latar belakang peristiwa nya apa?

PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate), organisasi pencak silat historis Indonesia yang berdiri sejak tahun 1922 dan pendirinya ditetapkan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan Republik Indonesia, sedang diuji ketangguhannya terpecah jadi 2 kubu. Masing-masing kubu punya ketua umum.

Syarat adanya organisasi adalah adanya aturan yang disepakati bersama. Biasanya bernama AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga). AD/ART PSHT lahir hasil dari musyawarah besar yang dihadiri oleh perwakilan cabang-cabang.

Tercatat, AD/ART terbaru hasil musyawarah besar (yang akhirnya dinamakan Perapatan Luhur – PARLUH) adalah hasil PARLUH 2016. Hasil dari pemutakhiran AD/ART 2008.

Tugas, syarat, dan kewenangan masing-masing perangkat/susunan pengurus organisasi sudah diatur di AD/ART. Termasuk cara penyelesaian masalah juga sudah diatur. Ada pengurus organisasi yang bernama Majelis Luhur (terdiri dari 9 orang tua yang bijaksana dan punya 1 ketua) bertugas dan punya hak selesaikan masalah. Majelis Luhur yang berhak memutuskan/memilih ketua umum pusat PSHT. Tidak diperbolehkan voting!

Pemilihan ketua umum terjadi setiap 5 tahun sekali. Itu bunyi pasal dalam AD/ART hasil PARLUH 2016.

Eh ada pada tahun 2017 ada beberapa anggota Majelis Luhur memecat ketua Majelis Luhur. Kemudian menunjuk ketua baru berdasar voting. Tahun itulah oknum PSHT itu mengadakan PARLUH 2017 yang acara itu awalnya hanya untuk rapat kerja nasional PSHT. Dasarnya telah terjadi kegaduhan di PSHT akibat ketidakcakapan ketua umum selesaikan masalah.

Secara logika, AD/ART 2016 tidak mengenal PARLUH istimewa apalagi 1 tahun. AD/ART itu memberikan petunjuk bahwa segala masalah biarlah sang Majelis Luhur yang memberikan jalan keluar. Eh anggota nya malah memecat ketua nya. Padahal pasal tata cara pemecatan ketua oleh anggota itu tidak ada di AD/ART.

Oknum dan perapatan tahun 2017 jelas menciderai kebenaran AD/ART 2016. Sebuah tindak kejahatan telah lahir dan alasan-alasan nya jadi argumentasi pembenaran aksi kelompoknya. Ya begitulah.

Saya, sebelum memutuskan ikut berjuang, berusaha mempelajari arti dan makna yang terkandung di AD/ART 2016. Prinsip nya adalah bila orang itu beragama harus mendasarkan aturan hidup pada kitab suci. Bila orang itu berorganisasi ya harus mendasarkan aturan nya pada AD/ART.

Bila tidak sepakat dengan AD/ART 2016 ya tuntutlah ke pengadilan. Sebuah sistem keadilan yang diciptakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ternyata pada akhirnya oknum yang berbuat jahat itu memperadilkan pengurus dan AD/ART 2016. Mereka kalah di peradilan tingat 1 dan tinggi. Kabar terakhir mereka masih menempuh kasasi.

Ya Allah, berikanlah kemudahan dalam menjalani ujianMu. Yakin ada maksud baik dalam ujianMu ini. Aamiin YRA.

 

 

 

Profil Palsu di FB Atas Namakan Saya

Peristiwa pemalsuan profil saya terjadi di Facebook (FB). Pemilik akun palsu ini tadinya bernama Andria Lesmana. Saya dan dia tergabung dalam satu grup FB bernama Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Dia selalu menuliskan komentar di status-status yang saya buat namun tidak saya balas sama sekali. Alasan saya adalah dia mempergunakan foto dan konten komentar yang tidak relevan sekali dengan isi status. Jadi tidak ada guna nya saya balas.

Tiba-tiba dalam grup ada posting status dari seseorang yang bernama profil Hendra Wahyudi Saputra. Menebarkan identitas saya dan konten-konten provokatif yang bertemakan memutarbalikkan fakta. Saya Hendra W Saputro fakta nya anggota organisasi PSHT yang mengakui kepengurusan hasil Perapatan Luhur 2016. Berusaha edukasi memberantas upaya perampokan aset organisasi oleh oknum PSHT yang terbukti makar dari PSHT dan mendirikan organisasi PPSHTPM.

Berikut adalah gambar upaya dia membuat konten provokatif dan memutar balikkan fakta. Kemudian langkah yang saya tempuh adalah tertuang dibawah gambar:

#Tukang Peli-ntir!

Awalnya saya biarkan tapi ternyata jadi ngeri ketika saya sudah dijapri via WA para dulur-dulur mempertanyakan screenshot penggalan percakapan yang saya anggap unyu itu.

Ternyata jadi nggak lucu. Bakal jadi sumbu pendek ini. Apalagi (maaf) kualitas berfikir grass root punjer yg asal percaya kabar burung.

Saya langsung take down dan report https://www.facebook.com/andria.lesmana.980 ke FB dengan langkah poin 1 – 7.

Kenapa harus ambil langkah ini?

1. Media sosial adalah teknologi yang sejatinya dijalankan oleh diri sendiri.
2. Profil diri di kehidupan sehari-hari sejatinya sama di dunia online (medsos).
3. Salah satu ciri KSATRIA adalah berani berbuat maka berani bertanggungjawab.

PSHT mengajarkan sifat KSATRIA. Baca Wasiat SH Terate yang terucap sebagai sumpah pada malam wisudawan warga PSHT.

Anda KSATRIA? Tunjukkan profil asli Anda!

Ternyata begini PUNJERISME. Tukang plintir.

Pada akhirnya pihak FB take down akun palsu tersebut, terlihat dibawah ini:

Adakah “Bisnis Pengesahan” Cring-Cring di PSHT?

Gelisah bertahun-tahun tentang pertanyaan besar adakah “aroma bisnis Pengesahan” di PSHT akhirnya tertambat pada ayat 29 Surat An-Nisa yang saya baca malam tadi sehabis tarawih yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Pemicu pertanyaan “Adakah bisnis pengesahan” itu?

Adalah Mas Murdjoko yang dulu menjabat ketua harian PSHT Pusat dkk tidak mau mempertanggungjawabkan uang organisasi PSHT sebesar Rp. 8.474.300.000 (8,4 milyar lebih) kepada Yayasan PSHT. Uang itu ditarik-tarik saja tanpa ada pembukuan yang jelas. Baca hasil audit nya disini: https://www.shterate.com/download/audit-keuangan-psht.pdf

Kemudian, tanpa bermaksud ungkit-ungkit yang sudah meninggal yaitu alm Mas Tarmadji, menurut cerita yang pernah saya dengar, melakukan penyobekan laporan keuangan organisasi PSHT di salah satu acara perapatan besar PSHT. Kenapa? Karena di laporan itu ada nama-nama warga senior PSHT yang menggunakan uang organisasi dan belum balik.

Kemudian, sering saya dengar kasak kusuk hasil dana pengesahan PSHT yang dibagi-bagi untuk kas cabang, kas pusat, dan amplopan bagi warga yang mengesahkan. Tidak sedikit. Bahkan jadi pertengkaran didalamnya. Fyuh.

Bayangkan saja, biaya pengesahan warga baru PSHT itu beda-beda disetiap cabang yang berjumlah dua ratusan cabang itu. Mulai dari Rp. 1.000.000 per orang hingga 2.500.000. Setiap cabang ada yang mengesahkan 100 hingga 2.000 calon warga.

Ambil saja 2.000 orang kalikan Rp. 2 juta saja. Sudah dapat duit cring-cring Rp. 4.000.000.000 (4 milyar!) Itu baru 1 cabang PSHT lho!

Perputaran duit pada event pengesahan yang diadakan setahun sekali di bulan suro sungguh menggiurkan. Bulan Suro adalah bulan prihatin. Bulan Muharram nya Islam. Namun di PSHT sepertinya apakah jadi bulan panen raya? Jadi bulan foya-foya? Siap-siap beli Fortuner?

Saya pun sering mendampingi Bapak saya tingkat 2 yang bertugas mengesahkan warga-warga baru di seputaran Jawa Timur. Bapak pun cerita dapat amplopan. Dapat sangu duit dari cabang yang mengundangnya. Dapat ingkung (ayam jago yang dimasak utuh) juga. Alhamdulillah sih jadi rejekinya kami sekeluarga.

Bagaimana Pertanggungjawaban Keuangan di PSHT?

Hmm mungkin ada yang tidak ada pertanggungjawabannya dan mungkin juga ada. Ada juga kok yang saya denger ada ketua cabang PSHT yang menasbihkan diri jadi ketua seumur hidup. Bahkan mendaftarkan organisasi-organisasi cabang nya ke Kementrian Hukum dan HAM. Agar apa sih? Ya mungkin biar kekuasaannya langgeng. Cring-cring nya pun awet nggak kedengeran anggotanya. Mungkin saja lho ya.

Mas Taufiq, selaku ketua umum PSHT Pusat periode 2016 – 2021 ingin menciptakan PSHT sebagai organisasi yang akuntabel. Semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk keuangan.

Uang yang ada di PSHT itu akadnya bukan perdagangan. Bukan untuk bisnis lho. Makanya PSHT harus bersih dari oknum-oknum korup, bersih dari kaum feodalis yang anggap tabu soal duit.

Ah semoga yang saya denger-denger itu salah ya. Hanyalah mencoretkan kegundahan saya aja. Selama yang saya tahu di pengurus rayon, ranting, komisariat, cabang dan pusat PSHT, nggak ada gaji atau honor untuk ngurusin PSHT. Ngurusin atlit pun, ikutan pertandingan murni pengabdian. InshaAllah. Kadang urunan duit pribadi kok untuk urusin PSHT.

Gitu kok ada yang enak pake 8,4 milyar uang organisasi PSHT.

Wallahu Alam Bishawab
Salam Persaudaraan, PSHT Jaya!

Solo Spel dan Sabung Pencak Silat

Pengertian Solo Spel adalah seni pencak silat yang diperagakan oleh pesilat tunggal dimana langkah gerakannya hasil dari inti sari pelajaran bela diri dengan metode shadow fighting (tarung bayangan, seolah-olah bertarung dengan lawan). Sedangkan Sabung adalah pertarungan antara dua orang pesilat dengan tujuan melatih dan mengasah ilmu bela diri nya.

Sabung Pencak Silat

Biasanya Solo Spel terjadi pada acara seremonial seperti peringatan hari kemerdekaan RI, nikahan, khitanan, atau acara seremonial lainnya yang tema/agenda nya masih berkaitan dengan pencak silat. Kemudian Sabung, biasanya terjadi pada latihan pencak silat ataupun acara seremonial yang mengundang para pesilat untuk atraksi.

Dini hari ini pada 19 September 2019, saya sempat menjajal Solo Spel dan Sabung bersama Mas Derajad, Ketua Perwakilan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Bali dan juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PSHT Cabang Badung, Bali. Kualitas secara teknik tentunya sangat jauh dengan para pendekar-pendekar atau atlit-atlit pencak silat pada umumnya. Maklum lah, faktor U. Ya, kami secara usia tidaklah muda lagi hehehe. Maka Solo Spel dan Sabung itu sifat nya fun saja.

PSHT sendiri sebagai organisasi pencak silat besar di Indonesia, merupakan aliran seni bela diri pencak silat penerus tradisi nenek moyang. Pencak Silat sudah menjadi kebudayaan di Indonesia. Bahkan di pusat nya PSHT sendiri di Madiun, daerah tersebut dinobatkan menjadi Kampung Pesilat Indonesia. Begitu banyak aliran dan nama pencak silat lahir dari daerah Madiun.

Sejak tahun 1922 PSHT berdiri. Pendirinya oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo atas restu guru nya Ki Ngabehi Suryo Diwiryo yang akrab dipanggil Eyang Suro, pendiri pencak silat Setia Hati. Oleh pendiri PSHT, perkumpulan pencak silat ini salah satunya digunakan untuk melawan penjajahan Belanda di Indonesia. Atas jasa nya pada masa perjuangan republik ini, pendiri PSHT dinobatkan oleh Pemerintah NKRI jadi Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI.

Saya bersyukur dan merasa beruntung bisa mempelajari dan ikut PSHT. Kenapa beruntung? Awal saya ikut pencak silat PSHT adalah karena Bapak saya menjadi warga tingkat II PSHT terlebih dahulu. Jadi figur Bapak lah yang menjadi tautan diri saya akhirnya ikut berlatih pencak silat.

Solo Spel

Tahun 1990 pertama kali latihan pencak silat PSHT dan tahun 1993 di wisuda / disahkan menjadi warga (anggota) tingkat I PSHT. Selama 3 tahun latihan ada 4 tingkatan/jenjang sabuk yang harus dilewati yaitu sabuk polos, jambon, hijau dan putih.

Setelah menjadi warga, selama 3 tahun saya mengabdi di PSHT Cabang Mojokerto dan akhirnya tahun 1996 harus hijrah ke Denpasar – Bali untuk melanjutkan sekolah ke Universitas Udayana. Solo Spel dan Sabung dini hari tadi serasa mengenang kembali memori berlatih dan melatih. Sempat pula mencicipi jadi atlit pencak silat di 2 pertandingan Pencak Silat Mojokerto. Semuanya kalah hahaha. Sempat pula mencicipi 1 kali tarung beneran dengan preman Bukit Jimbaran pada masa mahasiswa hahaha.

Yuk bermain pencak silat! Fun dan menyehatkan 🙂 trus bisa melestarikan budaya Indonesia pula.