Tag Archives: Politik

Tak Perlu Serba Salah jadi Perempuan

Selain postingan TikTok dan virus Corona Baru yang menjadi “primadona” belakangan ini, ada satu lagi yang juga banyak dibahas media hingga warganet di dunia maya. Ya, Tara Basro dan kampanye body positivity-nya.

Melalui beberapa unggahan foto yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, pemeran dalam film Perempuan Tanah Jahanam ini mengajak orang-orang untuk mencintai diri mereka. Bahwa seperti apa pun bentuk tubuh, warna kulit, berat badan, dan ketidaksempurnaan lain dalam tubuh, bukan penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Tanpa harus khawatir terlihat kurang begini kurang begitu.

Kampanye tersebut menuai banyak respon warganet. Tentu banyak sekali perempuan bahkan laki-laki yang merasa termotivasi oleh unggahan Tara. Namun, di sisi lain masih ada juga yang berpendapat negatif, mengganggap bahwa unggahan Tara mengandung unsur pornografi, melanggar UU ITE. Sedihnya, pernyataan itu disampaikan oleh seorang pejabat Kominfo. Ini memang bukan pertama kali lembaga itu mengeluarkan pernyataan “ajaib”, tapi tetap saja, saya masih dibuat heran.

Pada akhirnya saya juga merasa terusik dan teringat pengalaman saat diberi cap sebagai sesuatu yang saya sendiri sebenarnya tidak bisa terima. Dulu, ketika pertama kali mendengar jokes harta, tahta, wanita, saya tertawa karena merasa hal tersebut sebuah lelucon, selain itu juga karena kata-katanya terdengar memiliki rima yang senada. Terdengar padu di telinga. Saya juga masih tertawa ketika istilah itu berubah jadi becandaan harta, tahta, Raisa. Lalu ada Harta, tahta, Isyana, hingga harta, tahta, Pevita.

Kata-kata ini sering saya baca dari kiriman media sosial teman laki-laki, atau tak sengaja melihat kiriman dari sebuah akun secara acak di media sosial. Saya rasa semua orang sepakat untuk mengakui bahwa Raisa, Isyana, dan Pevita memiliki sesuatu yang membuat mereka terlihat mengagumkan, hingga bermunculan banyak kiriman media sosial yang memakai sosok mereka sebagai objeknya.

Namun semakin sering saya pikirkan, semakin tak saya temukan letak lucunya. Saya malah jadi risih. Perasaan berbeda dibandingkan ketika pertama kali membacanya. Kemudian yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana mereka menempatkan dan menilai perempuan?

Saya tidak tahu apa yang dirasakan Raisa, Isyana, dan Pevita ketika mereka dijadikan objek demikian. Mungkin ini juga bukan pertama kalinya bagi mereka, mengingat ketiganya adalah tokoh publik ternama di Indonesia. Muda, berkarya, dan mapan. Mereka terlihat tanpa cela. Siapa yang tak mengagumi?

Namun dari jokes yang saya rasa sudah tidak lucu itu, saya akhirnya menangkap dua hal. Menempatkan Raisa, Isyana, dan Pevita, atau perempuan lainnya, selain dilihat sebagai ekspresi kekaguman, kebanyakan laki-laki menggunakan 3 kata itu sadar atau tidak, menyatakan pula godaan terbesarnya sebagai seorang laki-laki. Walaupun itu tidak secara langsung mengarah pada diri saya. Saya perempuan. Sekali lagi, saya merasa risih.

Pertanyaan itu tak berhenti pada contoh di atas. Ia kembali menggelitik ketika pada sebuah pertemuan, seseorang pernah berkata, “Ada dua hal yang membuat sebuah kelompok itu hancur. Kalau tidak uang, ya perempuan.”

Saya diam beberapa saat, berusaha menelaah maksud pernyataan yang dilontarkan lelaki itu. Situasi yang mendorong keluarnya pernyataannya adalah konflik pada sebuah komunitas yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Lalu saya bertanya lagi dalam hati, kenapa karena perempuan? Bagaimana kalau ternyata, Si Laki-laki lah yang menyebabkan konflik itu terjadi?

Dari ketiga contoh yang saya sebut, kok saya merasa jadi perempuan itu serba salah, ya? Bahkan dengan potensi yang mereka miliki, hal apa yang disuarakan, seperti belum cukup untuk membuatnya dipandang sebagai hal lain di luar urusan domestik bahkan potensi ancaman.

Ternyata di lingkungan yang saya kira sudah sangat memiliki pikiran terbuka, tidak sepenuhnya pelabelan negatif itu hilang. Menurut saya, ini jadi bukti betapa gagap dan takutnya makhluk bernama laki-laki (walaupun tidak semua) untuk menilai dan menerima perempuan tidak sekadar dari fisik, tetapi juga potensi-potensi baik dalam diri mereka.

Kenapa Harus Takut Menjadi, eh, Membahas Radikal

Foto Berita Satu

Makna kata radikal kian melenceng dan disalahpahami.

Akhir-akhir ini, radikal atau radikalisme menjadi kata yang kerap diperbincangkan. Mungkin, jika ada pemilihan kata tahun ini, kata radikal bisa masuk nominasi sebagai yang paling banyak dibicarakan.

Radikal merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau kkbi.web.id berarti, 1 secara mendasar. 2 amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintah). 3 maju dalam berpikir atau bertindak.

Beberapa artikel yang mengulas ihwal kata radikal di Internet juga menyebutkan hal serupa. Rasanya agak aneh jika kata radikal ini dikaitkan dengan tindakan atau perilaku brutal yang menjurus pada kriminal.

Paling baru dari perkembangan kata radikal, presiden Joko Widodo menyebutkan pengganti istilah radikal dengan manipulator agama. Entah bagaimana maksudnya, masing-masing bisa menafsirkan sendiri.

Pengalaman menggelitik sempat saya alami ketika membahas soal kata radikal pada sebuah grup WhatsApp.

Saat itu, saya melemparkan sebuah artikel dari berdikarionline dengan judul menyelamatkan istilah radikal dan mendapatkan respon yang antusias bahkan cenderung melenceng. Melenceng seperti nasib kata radikal saat ini.

Saya hanya ingin membuka sebuah ruang diskusi. Karena ada yang membuat talkshow tentang kata radikal dan pemberitahuannya dibagikan dalam grup WhatsApp ini, dengan judul upaya generasi muda (milenial) dalam menghadapi radikalisme.

Jujur, saya tidak ada maksud apa, hanya ingin diskusi dari dua hal yang memiliki sudut pandang berbeda.

Salah satu contoh gerakan radikal internasional adalah menyuarakan pentingnya dunia yang lebih baik untuk semua orang. Foto Medium.

Penentang Raja

Selanjutnya, dalam obrolan WhatsApp tersebut ada yang mempertanyakan kualitas artikel berdikarionline. Saya menyatakan, artikel ini cukup kredibel.

Pertama, saya menilai berdikarionline bisa dipercaya sebagai media. Kedua, apa yang disampaikan cukup masuk akal. Ada perbedaan mendasar, pengertian kata radikal saat ini (yang ramai dibicarakan) jika dibandingkan dengan kamus besar bahasa Indonesia.

Ketiga, dalam artikel berdikarionline yang mengulas soal istilah radikal, juga dijelaskan asal istilah kiri yang bermula saat Revolusi Prancis. Saat itu kelompok penentang Raja menyebut diri sebagai kelompok radikal, salah satunya adalah gerakan Jacobin.

Ketika parlemen Perancis terbelah menjadi dua kubu, semua penentang Raja duduk di sebelah kiri. Pendukung Raja duduk di sebelah kanan. Pembahasan ini juga saya temukan di buku Epstimologi Kiri oleh Listiyono Santoso dkk.

Jadi, mengacu pada tiga hal tadi saya menilai artikel dari berdikarionline patut dijadikan rujukan untuk memulai sebuah diskusi sederhana mengantarkan kita tidur.

Cuman, apa yang saya inginkan dari obrolan sambil menunggu tayangan pertandingan antara klub sepak bola Liverpool dan Mancester United di Liga Inggris ternyata tidak berjalan lancar.

Saya tidak mendapatkan feedback yang bagus. Malah ada yang mengajak untuk membuat semacam seminar tentang apa yang saya bahas. Ini konyol.

Kenapa konyol, pertama saya bukan siapa-siapa. Saya juga tidak memiliki kepentingan soal istilah radikal ini. Saya hanya ingin belajar dan berdiskusi sehingga mendapatkan pandangan baru dari lawan bicara yang berkompeten. Ternyata keliru.

Kedua, saya memiliki urusan yang lebih penting. Yakni memastikan susu anak bisa tetap terbeli setiap bulannya. Alih-alih ingin mengubah pandangan masyarakat terhadap kata radikal, saya lebih senang jika memiliki pemahaman yang beragam dan benar lebih dahulu.

Ketiga, pola langsung menghantam dengan mengajak membuat seminar, seolah-olah menunjukkan minim pengetahuan dan tidak berani memberikan pandangan. Saya tidak suka sesuatu yang seremonial. Yang santuy saja.

Harapan saya sebenarnya, generasi yang beruntung dan bisa mengecap pendidikan lebih dari orang kebanyakan, bisa memelihara sikap kritis.

Meski dengan kritis kadang membuat kita berbeda dengan orang lain, jangan takut menjadi berbeda. Bagi saya itu bukan persoalan. Karena saya (kita) bukan generasi pengekor.

Kritis dalam arti tidak begitu saja percaya dengan wacana yang sedang ramai. Karena sebagai manusia yang terdidik, kita bisa menakar sesuatu, apakah itu baik untuk masyarakat secara umum, atau hanya bagi segelintir orang. Selalu berusaha mengumpulkan keping-keping informasi dan merangkainya sehingga memiliki sudut pandang sendiri.

Entah, sudut pandang itu bisa diterima oleh orang kebanyakan atau tidak, yang jelas kita sudah berusaha menemukan apa yang menurut kita paling benar.

Pada era post-truth ini, musuh kebenaran bukan lagi ketidakbenaran, melainkan kebenaran yang berbeda kepentingan. [b]

The post Kenapa Harus Takut Menjadi, eh, Membahas Radikal appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Panggung

Pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Foto Setkab.

MEN COBLONG lega melihat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden berjalan lancar.

Semua terlihat riang. Semua terlihat lapang dada. Men Coblong tidak ingin berpikiran buruk mencoba membaca bahasa tubuh para petinggi negeri yang ikut merayakan pesta pelantikan pemimpin negeri ini. Sebab, dari layar TV terpapar jelas aroma persahabatan.

Soal tulus dan tidak, Men Coblong tidak ingin ambil pusing. Sudah terlalu lelah Men Coblong berseteru dengan teman-teman SD, SMP, SMA dan teman kuliah.

Aneh sekali. Yang bertarung Jokowi dan Prabowo, tetapi yang babak belur justru pertemanan, persahabatan, persaudaraan. Bahkan masa-masa panas itu masih terasa hawanya sampai saat ini.

Syukurlah tahap pelantikan adem, karena cuaca sudah terlalu panas. Apa salahnya para pemimpin juga tidak ikut menambah panas negeri dengan tingkah dan polahnya. Agaknya sebagai presiden Jokowi paham sesekali rakyat juga perlu dihibur.

Pagi-pagi Men Coblong sudah bersiap melirik pesawat TV sambil menyiapkan menu makan pagi. Wah, lucu sekali para calon menteri itu berdatangan satu persatu. Semua rata-rata berpakaian seragam, bawah hitam, atas putih. Wajah mereka juga rata-rata semringah tidak ada yang merengut.

Yang tampil agak beda justru Prabowo Subianto dan Eddy Prabowo. Mereka berdua mengenakan celana krim. Men Coblong sedikit terganggu juga, tapi sekali lagi harus berpikiran positif. Karena toh dua tokoh yang dulu berseberangan sangat keras itu mau juga masuk ke dalam kubu pemenang. Lega rasanya setelah keluar dua tokoh Gerindra itu juga tersenyum manis.

Panggung-panggung itu bagi Men Coblong memang pertunjukan sangat manis. Syukurlah mereka mau juga menjadi pembantu presiden. Karena kalau dicermati Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Negara menegaskan, menteri bertugas membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Menteri harus dipastikan membantu Presiden bukan membebani.

Men Coblong sangat berharap terutama bagi menteri-menteri yang dari partai politik sadar, bahwa panggung yang dipertontonkan dengan sangat baik dan menghibur bagi rakyat adalah pangggung para pembantu presiden.

Hal sama juga berlalu bagi wakil menteri. Bahkan Presiden duduk di tangga depan Istana Merdeka. “Saya kira memang duduk itu memfilosofikan rendah hati, merakyat, tetapi tetap harus bekerja keras karena diumumkan dalam kondisi yang panas luar biasa. Bisa saja dikenalkan di dalam ruangan yang ber-AC sejuk, tapi kita ingin keterbukaan sehingga di tempat terbuka,” tutur Jokowi rileks.

Panggung para pembantu itu akhirnya selesai. Sekarang rakyat tinggal menunggu, apakah para pembantu presiden itu bisa bekerja.

Hawa pelantikan masih meninggalkan aroma. Beberapa tokoh politik sudah grasa-grusu membuat beragam pernyataan dengan kalimat seperti biasa, berputar-putar. Padahal intinya tidak puas karena jagoan mereka tidak mendapat tempat sesuai tempat yang diinginkan.

Men Coblong menarik napas ketika teringat Presiden mengungkap dapur di balik seleksi menteri-wakil menteri Kabinet Indonesia Maju. Beliau menerima lebih dari 300 nama calon.

“Dalam seminggu ini, saya dan Pak Wakil Presiden sibuk membentuk kabinet mengangkat menteri dan wakil menteri. Pekerjaan yang sangat berat. Ini pekerjaan yang sangat berat,” kata Presiden di Jakarta, Sabtu (26/10/2019).

Presiden pun mengaku dalam penyusunan kabinet, sudah mempertimbangkan dari segala arah. Mulai dari suku, agama, hingga parpol juga menentukan kalangan profesional. Nama yang masuk lebih dari 300 orang, padahal jumlah menterinya hanya 34,” katanya. Men Coblong terbelalak. Dan paham berat menyusun kabinet yang harus beragam karena memang Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika.

“Oleh sebab itu, saya sadar mungkin yang senang atau yang gembira karena terwakili dalam kabinet itu hanya 34 orang yang dilantik. Yang kecewa berarti berarti lebih dari 266 orang pasti kecewa. Artinya, yang kecewa pasti lebih banyak dari yang senang dan mungkin juga sebagian dari yang hadir ada yang kecewa. Jadi saya mohon maaf tidak bisa mengakomodir semuanya karena ruangnya hanya 34,” lanjutnya.

Men Coblong hanya bisa menarik napas. Semoga riak-riak ketidakpuasan itu tidak lagi menjadi bahan perseteruan yang menguras energi.

Senin besok, 28 Oktober rakyat Indonesia merayakan hari besar dalam hidup berbangsa, Sumpah Pemuda. Inilah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap “perkumpulan kebangsaan Indonesia” dan agar “disiarkan dalam berbagai surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”.

Pada 28 Oktober tahun 1928 itu para pemuda dari berbagai suku dan daerah di Indonesia mengikrarkan sumpah yang baru. Pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jadi berhentilah ribut. Mari bekerja membuat membangun Indonesia agar maju. Panggung sudah disediakan rakyat, ayo mainkan pementasan baik yang mampu membuat rakyat bahagia. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Panggung appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa

Pengambilan sumpah Ketua dan Wakil Ketua DPR Periode 2019-2024 di Senayan (1/10/19). Foto DPR RI.

MEN COBLONG tergagap-gagap menyaksikan pelantikan anggota DPR.

Sebanyak 575 orang anggota DPR, wakil rakyat, suara rakyat periode 2019-2024 itu dilantik pada Selasa (1/10/2019) lalu di Senayan. Bahkan yang didapuk jadi ketua DPR juga perempuan.

Sebagai rakyat biasa yang hanya diingat para penguasa menjelang pemilihan, Men Coblong hanya bisa bermimpi dan berharap. Sesekali bolehlah rakyat jemawa dan berharap menjadi pemenang karena suara rakyat untuk kali ini diharapkan Men Coblong didengar oleh para anggota DPR periode 2019-2024.

Di layar TV Men Coblong berkali-kali mengerutkan kening melihat eforia pelantikan itu. Begitu mewah, megah, bahkan ibarat catwalk. Semua anggota semringah. Semua anggota juga selalu mesem-mesem centil ke arah wartawan senyum mereka ibarat mau dipotret untuk cover majalah. Hawa baru, suasana baru, semoga mimpi-mimpi Men Coblong dan rakyat yang lain juga mau di dengar.

Men Coblong juga mencoba berpikiran positif, bahwa DPR baru ini mampu memperbaiki citra dan kepercayaan publik yang sangat rendah terhadap mereka. Komitemen kerja yang kurang pada masa lalu semoga tidak terjadi pada masa ini.

DPR terdahulu juga dinilai masyarakat minim produktivitas. Kali ini semoga produktifitas mereka sedikit menggelembung. Minimal ada hal-hal positif bisa dinikmati rakyat yang sudah bersusah payah memilih mereka.

Men Coblong juga berharap komunikasi para anggota DPR baru ini transparan. Terbuka selebar-lebarnya dan wajib diketahui publik. Karena seluruh anggota DPR ini adalah wakil rakyat. Jika jadi wakil rakyat, ya, minimal mereka juga wajib dan harus mematuhi suara-suara rakyat yang memilih mereka. Apalagi sudah terlacak para pimpinan DPR baru ini banyak memiliki pelbagai perusahaan, entah bergerak dibidang apa, Men Coblong hanya mendengar sama-samar.

Memang sih punya anggota DPR kaya tentu membuat rakyat nyaman, karena mereka duduk sebagai anggota DPR benar-benar mengabdi, itu idealnya. Karena mereka sudah bersumpah, pengambilan sumpah pada 575 Anggota DPR RI periode 2019-2024 telah dilakukan.

Salah satunya, mereka berjanji akan mengedepankan kepentingan bangsa di atas pribadinya. Pengambilan sumpah itu dipimpin Ketua Mahkamah Agung (MA) Muhammad Hatta Ali di Gedung DPR RI, Selasa (1/10/2019). Sebelum pengambilan sumpah, Hatta Ali mengingatkan kepada sumpah atau janji ini harus ditepati dengan segala keikhlasan dan kejujuran.

Mau tahu isi sumpahnya? Begini:

Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945.

Bahwa saya dalam menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan.

Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Men Coblong manggut-manggut. Sebagai perempuan dia juga bangga yang terpilih jadi ketua DPR perempuan, minimal Men Coblong masih boleh bermimpi untuk nasib perempuan lebih baik lagi. Dengan kebaya merah yang diisi pernik-pernik keemasan menghias kebayanya, baru kali ini Men Coblong melihat Puan Maharani terlihat sedikit berwibawa.

Puan Maharani resmi menjabat sebagai Ketua DPR periode 2019-2024 bersama empat wakil ketua melalui rapat paripurna. Mereka resmi dilantik setelah diambil sumpah ooleh Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali. Dalam pidato perdananya, Puan mengatakan ingin menghadirkan kepemimpinan yang bersifat kolektif dengan semangat gotong royong dalam memimpin parlemen lima tahun ke depan.Puan menilai semangat itu dapat mengoptimalkan kinerja DPR, dengan menerima masukan hingga dukungan dari seluruh anggota yang telah dilantik.

“Hanya dengan semangat gotong royong dan niat pengabdian yang tulus dari semua anggota DPR, maka kita akan dapat menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Tugas ini merupakan sebuah amanah mulia yang menuntut tanggung jawab yang harus kita tunaikan bersama,” kata Puan di Gedung DPR.

Terlihat menyakinkan juga.

“Mau berharap apalagi?” tanya sahabat Men Coblong serius.

”Mimpi boleh tetapi jangan berlebihan. Lelaki dan perempuan itu tidak ada bedanya saat ini. Lihat saja koruptor juga banyak yang perempuan, padahal mereka menjabat sebagai Bupati. Jangan jemawa, nanti kau sendiri yang kecemplung got stres.”

Suara sahabat Men Coblong membuat Men Coblong beringsut dan menciut. Apalagi ada info banyak anggota DPR ternyata tidak datang pada sidang pertama. Bahkan ada anggota yang tertidur! Men Coblong menarik napas dalam-dalam. Sambil mengambil kipas tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat sampai membuatnya harus ganti baju, padahal cuaca tidak terlalu panas.

Lalu sebagai rakyat Men Coblong harus bagaimana? Kalau berharap saja tidak memiliki tempat. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Jemawa appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Jerubung

Aksi mahasiswa di Bali.

MEN COBLONG menarik napasnya dalam-dalam.

Sungguh hanya itu yang dia bisa lakukan. Mata Men Coblong sedikit sembap. Entah mengapa tak ada air mata berenang bebas di pinggir-pinggir matanya yang mulai sedikit rabun. Kalau pun ada air mata itu karena mata kirinya belangan ini agak sedikit bermasalah.

Sudah berkali-kali di bawa ke rumah sakit Bali Mandara belum juga menunjukkan hasil memuaskan. Masih saja mengeluarkan air jika mata kiri dipaksa kerja rodi untuk menulis buku, atau membaca buku-buku tebal. Jika mata kiri harus berjibaku dengan beragam kesibukan menyangkut menata huruf-huruf untuk dimasukkan ke dalam kepala, reaksi mata kiri itu benar-benar menjengkelkan.

Si Mata Kiri selalu menolk kerja sama dengan si Mata Kanan. Si Mata Kiri baru mau bekerja sama jika diberi upah satu tetes hialid 0,1 mg. Si Mata Kiri pun baru mau bekerja. Begitulah kondisi saat ini, semua baru bergerak jika diberi upah.

“Hidup ini tidak ada yang gratis, Men Coblong. Jangan mau enaknya saja hidup. Tidak enaknya juga harus dinikmati dengan rasa syukur,” begitu kata-kata bijak yang selalu didengar Men Coblong jika dia sedikit saja mengeluh. Benar juga kalau dipikir-pikir, bicara itu lebih mudah daripada mendengar.

Lalu kalau tidak ada orang yang mau mendengar, masak semua orang harus bicara? Men Coblong menarik napas. Sulit menemukan orang-orang yang mau mendengar dengan khusyuk saat ini. Karena orang-orang ingin selalu dilihat tanpa ingin melihat. Kalau tidak ada orang-orang yang mau mengingatkan alangkah tidak menariknya hidup ini.

Namun, begitulah hidup saat ini, hidup terasa melelahkan. Makanya tidak heran jika banyak mahasiswa dan pelajar baru-baru ini melakukan demo besar-besaran dan serentak di seluruh Indonesia. Demo yang membuat Men Coblong terharu.

Dulu Men Coblong berpikir Generasi Z saat ini bisanya hanya eksis di media sosial. Saat ini di depan layar TV Men Coblong terpaku. Mereka berdemo dengan cara yang simpatik. Demo untuk belajar bicara dan menyuarakan isi hati mereka berusaha untuk membuat para “tetua” yang berusaha mengatur hidup dan masa depan untuk anak-anak ini sadar. Bahwa apa pun keputusan yang diambil harus menjadi bagian kehidupan dari anak-anak muda milenial ini.

Aturan yang sedang digodok untuk masa depan Indonesia, harus dikoreksi. Diperbaiki.

“Kenapa para orang tua-orang tua itu sulit sekali mengerti bahwa kebutuhan aturan hidup generasiku berbeda dengan generasi Mami, juga generasi Kakiang, kakek,” sahut anak semata wayang Men Coblong ketika mengomentari beragam demo yang terjadi di seluruh negeri ini.

Demo mahasiswa menuntut beragam isu dalam 7 tuntutan. Terkait Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), mahasiswa mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang. Sebab, pasal-pasal dalam RKUP dinilai masih bermasalah.

Pemerintah juga didesak membatalkan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru saja disahkan. Revisi UU KPK dinilai membuat lembaga anti korupsi tersebut lemah dalam memberantas aksi para koruptor.

Selain itu mahasiswa menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di wilayah Indonesia. Terkait RUU Ketenagakerjaan, mahasiswa menilai aturan tersebut tidak berpihak kepada para pekerja.

Perihal RUU Pertanahan, mahasiswa menilai aturan itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria. Mahasiswa juga meminta agar pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). terakhir, mahasiswa menolak kriminalisasi aktivis dan mendorong proses demokrasi di Indonesia. Selama ini, negara dianggap melakukan kriminalisasi terhadap aktivis.

“Mahasiswa itu hanya menuntut 7 tuntutan untuk membuat masa depan generasiku lebih bagus, lebih damai, tidak korup. Tidak semaunya,” tutur anak semata wayang Men Coblong serius, sambil berbicara dengan beberapa temannya yang ada di luar Bali untuk berhati-hati. Men Coblong terdiam, ketika pesan dan sedikit gambar masuk melalui pesan WhatsApp.

Mata kiri Men Coblong semakin berulah. Tidak mau diajak bekerja sama, kaku, kukuh, dan sok merasa paling penting dan paling berjasa. Kali ini air mata Men Coblong benar-benar muncrat dan mengalir deras, tak ada isak. Tetapi ada rasa sakit di seluruh tubuh.

Seorang mahasiswa dari Universitas Halu Oleo bernama Randi tewas tertembak saat ikut berdemonstrasi di DPRD Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginvestigasi peristiwa ini. “Jadi ini akan ada investigasi lebih lanjut,” kata Jokowi usai salat Jumat di Masjid Baiturrahim, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2019).

Jokowi mengaku sudah mendapat laporan Tito sebelumnya bila jajaran kepolisian diperintahkan tidak menggunakan senjata api. Jokowi pun meminta siapa pun tidak berspekulasi tentang siapa yang menembak Randi.

Men Coblong terdiam. Seluruh pori-porinya dalam tubuhnya mengeluarkan air. Seorang anak lelaki telah direnggut ketika menyuarakan pikirannya, suara hatinya, rasa solidaritas untuk ikut peduli dengan negeri ini. Negeri yang diharapkan bisa menolongnya untuk menjangkau masa depan dan mimpi agar Indonesia lebih baik lagi.

Anak-anak muda itu sudah terlalu lelah. Ibarat perahu, nakhoda yang membawa kapal mereka selalu berubah arah. Ke arah yang tidak mereka mau. Bukan mimpi mereka, bukan gagasan mereka.

Men Coblong menutup mata kirinya yang bandel. Seperti kekuasaan yang membuat seluruh orang-orang tua itu buta. [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Jerubung appeared first on BaleBengong.