Tag Archives: Politik

Inilah Rencana Pembangunan Gubernur Bali Terpilih

Ruang rapat Gedung DPRD Bali pagi itu dipenuhi ratusan orang.

Mereka adalah kepala desa, bendesa adat dan tokoh masyarakat yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Bali. Tak ketinggalan, para Bupati/Wali Kota turut hadir. Terlihat pula para mantan pejabat yang tak asing di mata.

Mereka menghadiri sidang paripurna DPRD Provinsi Bali pada Minggu, 9 September 2018. Kali ini istimewa karena dirangkai dengan acara serah terima jabatan dan memori jabatan Gubernur Bali. Jabatan gubernur Bali dijabat sementara selama sepuluh hari oleh Penjabat Gubernur Bali Hamdani.

Sesuatu yang ditunggu-tunggu tiba juga, penyampaian visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali terpilih yang disampaikan Gubernur Koster. Visi dan misi tersebut tertuang pada “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”.

Istilah ini mempunyai arti menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama dan gumi Bali yang sejahtera dan bahagia.

Pembangunan Manusia Bali

Dalam pidatonya, Gubernur Koster memaparkan kondisi Bali di masa lalu. Alamnya masih terjaga serta karakter manusia Bali memegang teguh nilai-nilai agama dan budaya. Saat ini kondisi itu mengalami pergeseran. Alam Bali kini mengalami kerusakan. Begitu juga dengan manusia Bali yang berubah dan melupakan nilai-nilai luhur Hindu dan Bali.

“Manusia Bali dikenal jemet (rajin), seken (serius, fokus) dan rendah hati. Hal ini yang menjadikan mereka berbeda dari yang lain,” kata Koster. Menurutnya, melebihan inilah yang mesti terus dijaga dan dikembangkan, kembali ke nilai-nilai kearifan lokal di zaman modern ini.

Untuk mengembangkan karakter luhur manusia Bali, pihaknya akan membuat program pendidikan khusus, membangun PAUD dan TK bernapaskan Hindu di setiap desa adat di Bali. Hal ini penting menurutnya karena pendidikan karakter semestinya diberikan sejak dini, mulai dari kanak-kanak.

Guna menunjang hal tersebut, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Parisadha Hindu Dahrma Indonesia (PHDI). Organisasi pemuka agama Hindu ini perlu dikembangkan karena mesti sudah ada sekretariat PHDI di kabupaten/kota di Bali, tetapi kondisinya memprihatinkan. Untuk itu, pemerintah akan membangun kantor PHDI di seluruh Bali yang representatif.

“Bagaimana bisa menjalankan tugas mengembangkan agama jika bangunan tak representatif, seperti ada dan tiada,” katanya.

Hal lain di bidang pendidikan, pemerintahan Koster-Cok Ace akan mengembangkan pasraman di setiap desa adat di Bali. Tujuannya untuk membangun karakter manusia Bali sekaligus mendukung program pemerintah pusat wajib belajar 12 tahun.

Buku-buku Hindu juga akan diperbanyak selain tenaga guru agama Hindu yang akan diperhatikan dan diperbanyak jumlahnya. Juga Dharma Wacana sebagai media pengembangan Hindu juga mendapat perhatian Gubernur dan Wakil Gubernur baru.

Selain itu, membangun akademi komunitas dan perguruan tinggi di kabupaten/kota di Bali yang bisa menyalurkan minat generasi muda dan mengembangkan bakat mereka yang oleh Koster dicontohkan seperti di Jepang. Anak-anak muda yang mempunyai hobi desain disalurkan ke akademi komunitas dan menekuni bidang desain hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut dan berguna ketika mencari kerja atau membangun usaha sendiri.

Calon Pasangan Gubernur Bali nomor urut 1 Wayan Koster dan Cok Ace seusai mengambil nomor undian di Gedung Wiswasabha – areal kantor Gubernur Bali pada Selasa, 13 Februari 2018. Foto Anggara Mahendra.

Ekonomi Bali

Tak hanya pendidikan, kesejahteraan krama Bali juga diperhatikan dengan membangun perekonomian berbasis kebudayaan. Konkretnya, memberi bantuan dana sebesar Rp 300 juta kepada setiap desa adat di Bali yang terealisasi mulai tahun depan. Bantuan ini bisa digunakan desa adat untuk membuat berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan warga desa.

“Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar enam persen per tahun hal yang bagus, dan tertinggi di Indonesia. Itu karena pariwisata. Ada bidang lain yang terlupakan yakni pertanian dan kami akan menyeimbangkan antara pariwisata dan pertanian,” katanya.

Koster menambahkan, pendapatan per kapita penduduk Bali sebesar Rp 51 juta per tahun. Ini akan terus ditingkatkan dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali dengan membuat peraturan misalnya di bidang ketenagakerjaan yang memihak kepada penduduk lokal.

“Bali kini tak hanya ditempati oleh warga Bali tapi juga warga luar Bali. Kami akan membuat peraturan yang mengharuskan investor dan pengusaha di Bali dalam merekrut tenaga kerja untuk lebih mengutamakan warga lokal. Dan pengusaha diharapkan ikut membangun Bali dengan membuat kebijakan yang berpihak kepada warga lokal,” ujarnya.

Kesehatan dan Pertanian

“Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, istilah yang diambil dari kearifan dan nilai luhur agama dan budaya ini bisa dibilang menitikberatkan pada penguatan adat dan budaya. Tak hanya bidang fisik yang dibangun namun juga mental, budaya dan agama. Kesejahteraan krama Bali menjadi perhatian pemerintahan Koster-Cok Ace.

Tak ketinggalan, pertanian yang menjadi ciri khas Bali selain pariwisata akan lebih diperhatikan. Hotel dan restoran di Bali dihimbau untuk menggunakan produk lokal sehingga petani Bali tak kesulitan memasarkan produk pertanian mereka.

Di bidang kesehatan, program pemerintahan terdahulu akan dikembangkan di mana Poskesdes dan Puskesmas akan lebih diberdayakan. RSUD di kabupaten/kota di Bali juga akan dikembangkan lebih baik. RS Bali Mandara juga akan dikembangkan menjadi RS Internasional yang representatif sehingga warga Bali yang berkecukupan tak harus berobat di luar negeri seperti Singapura dan bisa berobat di Bali.

BLK atau Balai Latihan Kerja yang selama ini nyaris tak terdengar kiprahnya juga akan dikembangkan. Bagi warga Bali terutama generasi muda yang ingin bekerja di luar negeri akan diberi kemudahan dengan bantuan pinjaman lunak. Pun jika ingin berkerja di luar daerah, Pemprov Bali akan menjalin kerja sama dengan provinsi-provinsi lain di Bali sehingga warga Bali yang ingin bekerja di luar daerah tak perlu ragu akan tak mendapat pekerjaan.

Kesejahteraan prajuru adat di seluruh Bali akan mendapat perhatian dengan diberikannya insenstif yang menurut Koster saat ini belum merata jumlahnya, Prajuru adat sebagai ujung tombak pembangunan adat di Bali akan lebih diperhatikan. Demikian juga dengan pecalang yang akan diberi kompetensi lebih untuk meningkatkan kinerja mereka yang akan dikerjasamakan dengan Polda Bali.

Program Holistik

Koster juga akan melaksanakan pengembangan sistem jaminan sosial mulai lahir, tumbuh, berkembang. Dalam kesempatan tersebut ia juga memaparkan tentang janji kampanyenya One Island One Managament and One Commando. Karena menurutnya, Bali sebagai pulau adalah satu kesatuan dengan daerah yang saling mendukung, untuk itu Koster berharap bisa terjadi pemerataan pembangunan dan ekonomi di seluruh Bali.

“Kita akan buat branding Bali sebagai penarik wisata kita, jadi saya harap kabupaten/kota tidak mengembangkan brand sendiri,” katanya.

Agaknya program Gubernur-Wakil Gubernur Bali terpilih ini sangatlah holistik atau menyeluruh, menyangkut bidang-bidang strategis baik pembangunan fisik juga mental. Semoga semua bisa direalisasikan untuk Bali yang lebih baik di masa kini dan mendatang. [b]

The post Inilah Rencana Pembangunan Gubernur Bali Terpilih appeared first on BaleBengong.

Lukisan sebagai Dialog Budaya Jepang-Indonesia

Foto Danes Art Veranda

Warih Wisatsana tampak serius mengamati lukisan-lukisan di tembok galeri.

Selain penyair itu, pengunjung lain juga menikmati karya-karya pelukis dari dua negara, Jepang dan Indonesia di Galeri Danes Art Veranda, Denpasar pada Jumat, 24 Agustus 2018, sore. Para pelukis itu berkolaborasi dalam pameran bersama menyambut 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia.

Saya berbincang singkat dengan Warih perihal kolaborasi seni apik ini. Menurutnya, sebagai peristiwa seni kegiatan ini layak diapresiasi karena membuka kemungkinan kreatif lintas bangsa. “Bali memungkinkan untuk dilaksanakannya kolaborasi lintas bangsa. Ini harus dijadikan bagian kekuatan masyarakat Bali dalam pergaulan global yang berkeadilan,” ujarnya.

Warih menambahkan, pergaulan kreatif lintas bangsa ini sesungguhnya sudah jadi pengalaman sejak dulu. Misalnya merujuk pada pendirian Pitamaha, perkumpulan para seniman seluruh Bali yang dibentuk Tjokorda Gede Agung Sukawati pada 1936 dan berpusat di Ubud, serta kehadiran seniman serta intelektual luar di Bali.

“Kesadaran ini mestinya menjadi landasan bersama. Baik oleh pengambil kebijakan seni budaya, ruang publik, seniman, kurator, dan masyarakat pendukung bidang seni dimaksud,” katanya.

Sejarah Panjang

Hubungan budaya antara Jepang dan Indonesia sesungguhnya memiliki akar sejarah. Di masa silam, sebelum hubungan diplomatik kedua negara diresmikan, Pemerintah Jepang mendirikan sebuah Pusat Kebudayaan yang disebut sebagai Keimin Bunka Shidosho pada 1 April 1943.

Lembaga kebudayaan ini bekerja untuk mengasah ketrampilan dan memperluas wawasan kesenian bangsa Indonesia. Aktivitas seni budaya seperti sastra, musik, tari, drama, film dan seni lukis mendapat ruang pengembangannya.

Catatan sejarah di masa pendudukan Jepang tidak harus dibaca dalam konteks sejarah kolonial semata, namun juga bisa dilihat bagaimana di masa tersebut kesenian berkembang. Di masa itu, dalam kurun 3,5 tahun, telah diselenggarakan puluhan pameran yang berlangsung meriah di tempat khusus atau hanya di pasar malam (rakutenci), dan biasanya disertai penghargaan karya seni lukis terbaik.

Pada masa itu pula, pelukis Indonesia mulai mengenal banyak teknik baru dari para seniman Jepang. Dari Saseo Ono (karikaturis), seniman Indonesia mengenal mural dan mulai membuat sketsa cepat di luar studio. Sementara Takahashi Kono (desainer grafis) memperkenalkan teknik montase dan kolase di bidang seni fotografi dan desain. Takahashi Kono juga menjadi pengarah desain untuk media massa Indonesia, semisal Djawa Baroe.

Mengutip siaran pers EMP Gallery dan Danes Art Veranda selaku penyelenggara, hubungan diplomatik bilateral antara Jepang dan Indonesia telah lama dilakukan. Hubungan dibuka sejak April 1958 melalui penandatanganan perjanjian perdamaian antara Jepang dan Indonesia.

Pada tahun yang sama juga ditandatangani perjanjian rampasan perang. Sejak saat itu hubungan bilateral kedua negara berlangsung baik, akrab, dan terus berkembang tanpa mengalami kendala berarti.

Bahkan, kini berada taraf “mitra strategis” menyusul kesepakatan The Strategic Partnership for Peaceful and Prosperous Future pada 2006 dan Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement pada 2007.

Hubungan bilateral kedua negara meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya di bidang politik dan ekonomi, tapi juga kebudayaan. Kebudayaan menjadi salah satu jembatan untuk mencapai keberhasilan diplomasi.

Foto Danes Art Veranda.

Perayaan Hubungan

Kini, di tahun 2018, hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia memasuki usia yang ke-60 tahun.

Pameran di Danes Art Veranda termasuk salah satu upaya merayakan hubungan tersebut dengan melibatkan 10 seniman Indonesia dan 53 seniman Jepang. Sepuluh seniman Indonesia tersebut adalah Anthok S, Diwarupa iNm, Herry Yahya, Galung Wiratmaja, Made Budhiana, Made Gunawan, Made Supena, Rendra Samjaya, Tatang B.Sp dan Winarto.

Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini meliputi karya lukis dan patung. Pilihan tema pada keseluruhan karya sangatlah beragam, di antaranya tema sosial, binatang, landscape, still life, tradisi, kaligrafi, dan abstrak, dengan pendekatan teknik yang juga beragam.

Pada saat yang sama, dalam pameran ini akan ditampilkan pula 36 lukisan karya anak-anak Bali Japan Club dan 10 lukisan para pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri 81 Jakarta.

Setelah dipamerkan selama dua hari di Bali, sepuluh karya seniman asal Indonesia akan dipamerkan di Jepang selama sebulan. Inisiatif budaya melalui pertukaran karya seni semacam ini diharapkan merupakan pendekatan terbaik untuk memperkenalkan kepada masyarakat kedua negara tentang khazanah seni budaya masing-masing.

Pertukaran Generasi

Koichi Ohashi, Deputi Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar mengatakan, kegiatan pameran bersama ini merupakan ajang pertukaran generasi muda antara Jepang dan Indonesia dalam bidang seni.

Koichi menambahkan, dipiilihnya kegiatan seni dalam peringatan hubungan diplomatik ini karena antara Jepang dan Indonesia banyak memiliki kesamaan. “Hal itu bisa dilihat dari lukisan-lukisan karya seniman dua negara. Karya mereka menggambarkan budaya masing-masing negara dan tak sedikit kesamaan yang dimunculkan,” katanya.

Pengalaman sejarah yang panjang antara Jepang dan Indonesia di satu sisi, dan kerja sama di forum-forum seni rupa yang yang melibatkan seniman kedua negara yang kini semakin intensif di sisi lain, pastilah menjadi diskursus penting bagi masyarakat budaya kedua belah pihak. [b]

The post Lukisan sebagai Dialog Budaya Jepang-Indonesia appeared first on BaleBengong.

Pelajaran dari Politik Hari Ini Untuk Kita Semua

Pelajaran dari Agus Harimurti untuk kita semua : Jangan resign kalau belum dapat kerjaan baru, meskipun dapet rekomendasi dari bapak. Pelajaran dari Pak Mahfud buat kita semua : Jangan cerita ke orang-orang dapat kerjaan baru kalau belum sign kontrak. Pelajaran dari Sandiaga untuk kita semua : Selalu liat peluang baru yang lebih baik. Berani keluarin […]

Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018

Pembaca kartu tarot Age Darmaniaga.

Besok, 27 Juni 2018 adalah hari penting bagi masyarakat Bali.

Mereka menggunakan hak politik memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Bali untuk lima tahun ke depan. Bagi tim sukses tiap pasangan calon (paslon) besok adalah hari penentuan bagi kerja keras mereka dalam memenangkan paslon menjadi pemimpin Bali pilihan rakyat.

Saya tak hendak menulis analisis politik. Sudah banyak tulisan mengenai itu baik yang ditulis oleh pakar dan pengamat politik atau orang biasa yang banyak menulis, berdebat hingga ribut karena berbeda pandangan di berbagai grup yang ada di media sosial.

Kali ini saya ingin menulis tentang Pilgub Bali berdasarkan kartu tarot, oleh banyak orang dikenal sebagai media untuk meramal nasib dan masa depan berdasarkan kartu yang memiliki makna serta arti yang berlainan satu dengan lainnya.

Pembacaan kartu tarot ini atas inisiatif saya sendiri saat mengunjungi Age Darmaniaga, seorang wirausahawan yang juga pembaca tarot. Pertemuan saya dengannya berlangsung di kantornya di bilangan Padangsambian, Denpasar pada 21 Juni 2018.

Sebaran Kartu Koster – Cok Ace.

Tahap pertama, saya meminta ia membuka kartu tarot dan mencoba ‘membaca’ pasangan calon (paslon) I yakni I Wayan Koster –Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Koster-Cok). Metode yang dipakai adalah pembacaan lima kartu, artinya ada lima kartu yang ditebar dan memiliki makna yang berbeda namun merupakan satu-kesatuan.

Kartu pertama yang muncul adalah kartu ‘Strength”.

Pada konteks Paslon I bermakna banyak sekali kendala atau rintangan yang dihadapi baik dari dalam maupun dari luar, sebelum atau saat proses pencalonan diri sebagai Paslon. Seperti seekor singa buas, tak semua pihak bisa diajak bekerja sama. Ada yang terang-terangan ‘membelot’ dan memberikan dukungan pada lawan politik.

Dikaitkan dengan keadaan saat ini, dalam politik memang tidak ada yang abadi, mesti benar-benar kuat menghadapi segalanya.

Kartu kedua yang muncul adalah Nine Pentacles, bermakna Paslon ini sangat berharap sebuah kebaikan –terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali dan memiliki ambisi serta tekad yang kuat dalam mewujudkan hal itu.

Kartu ketiga yang muncul adalah Eight of Cups bermakna hendaknya Paslon ini tetap berjalan pada jalurnya, mengikuti arus dan menyerahkan segalanya pada Tuhan.

Waktu akan menjawab semuanya, tak perlu menghiraukan berbagai kendala yang dihadapi betapapun besarnya kendala tersebut. Walaupun banyak kendala dan cobaan yang datang seperti orang dalam yang ‘berkhianat’ tak usah dihiraukan, masih banyak orang yang mendukung Paslon ini.

Kartu keempat yang muncul adalah King of Wands, bermakna harapan baik datang dari Paslon ini. Dia sudah memegang harapan itu, walaupun banyak cobaan yang diterima. Harapan akan terpilih menjadi pemimpin Bali akan terkabul dan kemungkinan besar terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali yang baru.

Kartu kelima yang muncul adalah Knight of Cups. Bermakna memegang harapan dan kemenangan, seperti pasukan yang memenangkan sebuah pertempuran.

Foto kartu tarot Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta.

Pada tahap kedua kartu yang dibuka adalah untuk Paslon II yakni Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta (Mantra-Kerta) Sama seperti tahap pertama, kartu tarot yang ditebar berjumlah lima, dan berikut kartu-katu yang muncul: kartu pertama adalah Three of Pentacles, bermakna saat ini banyak orang belum memutuskan pilihan pada Paslon ini. Hanya menilai dari luar berbagai program yang ditawarkan dan mempertanyakan gebrakan Paslon ini.

Kartu kedua yang muncul adalah Ace of Wands, bermakna Paslon ini memiliki harapan baru, dalam artian ingin menjadi pemimpin dan menjalankan program-program yang belum atau tidak dijalankan sebelumnya sebagai orang yang pernah menjabat sebuah jabatan,

Kartu ketiga yang muncul Four of Pentacles, bermakna adanya kendala. Paslon ini mesti lebih ‘lepas’ dalam penyampaian program-program dan tidak tertutup—dalam kampanye program yang disampaikan belum menyentuh lapisan bawah dan hanya pada level atau golongan tertentu.

Kartu keempat yang muncul adalah Five of Pentacles, bermakna hasil akhir kurang bagus. Kartu ini bergambar orang miskin dan menderita yang mempunyai arti kurang memuaskan, banyak berdoa semoga ada mukjizat dari Tuhan. Ikhlaskan dan serahkan semua pada-Nya.

Kartu kelima yang muncul adalah The Star, bermakna tak usah khawatir akan kekalahan, Paslon ini masih akan bersinar karir politiknya dan masih diperlukan sumbangsih serta keahliannya dalam membangun Bali.

Demikianlah hasil pembacaan kartu tarot berkaitan dengan Pligub Bali 2018. Mohon tidak dimaknai lain selain sebagai sebuah ramalan berdasarkan kartu tarot. Bisa jadi apa yang disampaikan salah dan meleset, berbeda dengan kenyataan.

Ini hanyalah sebuah prediksi, sama seperti prediksi tim sepakbola yang menang dalam sebuah pertandingan pada Piala Dunia yang sedang berlangsung dan digemari masyarakat seantero negeri. Selamat menggunakan hak pilih Anda. [b]

The post Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018 appeared first on BaleBengong.

TerBirahi Kekuasaan

Alkisah sebuah negara bernama Turate berpenduduk 10 juta jiwa. Wilayah kekuasaannya punya banyak cabang-cabang kota. Awal sejarah dan berdiri nya negara Turate ini berasal dari kota bernama Madina. Maka pusat pemerintahan nya pun di kota Madina.

Negara Turate dipimpin oleh seorang Ksatria. Pemilihan seorang Ksatria berdasarkan hasil musyarawah 10 orang sesepuh negara yang terkumpul dalam Majelis Tetua. Hasil pemilihan ini bersifat mutlak dan harus ditaati oleh warga negara Turate. Semua aturan tata kelola negara sudah tertuang dalam prasasti bernama Serat Nagari Turate.

Semua aturan dalam Serat Nagarai Turate itu hasil musyawarah besar yang dihadiri oleh Majelis Tetua, Ksatria dan para bawahannya di seluruh negara Turate. Tiap-tiap cabang kota dipimpin oleh para Senopati.

*) Nilai Persaudaraan.

Kehebatan negara Turate adalah punya nilai utama bernama Persaudaraan. Karena nilai itulah yang mempersatukan perbedaan penduduknya. Beda agama, beda suku, beda kelas (miskin, menengah, kaya raya). Semuanya harmoni terapkan nilai-nilai Persaudaraan.

Semua penduduk dan para generasi muda negara Turate harus berlatih ilmu dan nilai-nilai Persaudaraan. Selama 3 tahun mereka di gembleng Persaudaraan. Bila ada penduduk dari negara lain ingin tinggal di Turate, mereka harus ikut latihan Persaudaraan itu.

Tujuan dari latihan Persaudaraan adalah terjadinya kehidupan dengan prinsip saling sayang-menyayangi, hormat-menghormati dan saling bertanggungjawab. Mulia sekali kan?

Sudah 95 tahun warga negara Turate hidup guyup, rukun, “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (kekayaan alam yang berlimpah dengan keadaan yang tenteram)”. Semua pada “Memayuhayuning Bawana (memperindah dunia)”. Hingga suatu ketika birahi kekuasaan itu muncul!

*) Pembelotan dan Pengkhianatan

Ada beberapa bawahan Ksatria yaitu para patih dan para senopati yang kasak kusuk berupaya merebut kekuasaan dengan membuat pemerintahan sendiri dalam Negara Turate.

Alasan para patih dan para senopati adalah:
– Menggugat aturan tentang pengangkatan Ksatria dalam Prasasti Serat Nagari Turate.
– Menggugat perolehan suara Ksatria terpilih yang angkanya kecil dari Ksatria lain nya.
– Tidak terima dengan gaya kepemimpinan Ksatria yang dekat dengan negara-negara lain.
– Ksatria terpilih akan merebut aset negara dan memindahkan pusat pemerintahan/ibu kota.

Akibat alasan itu, para patih dan para senopati menciptakan kepemimpinan sendiri. Membuat kepengurusan sendiri dari pusat hingga cabang-cabang. Mempengaruhi semua warga negara Turate bahwa Ksatria terpilih adalah pemimpin yang berbahaya.

Para patih dan senopati dengan birahi kekuasaannya membuat pernyataan bahwa para warga Negara Turate yang tidak mendukung berarti bukan saudara lagi!

Persaudaraan yang sudah menjadi nilai dan nafas kehidupan warga negara, diperkosa, dikoyak dan dipaksa untuk mengikuti birahi kekuasaan!

Terjadilah dualisme kepemimpinan di Negara Turate. Siapakah yang membelot dan jadi pengkhianat kalau seperti ini? Bila sudah merasakan 95 tahun harmonisasi persaudaraan.

*) Ksatria Berjiwa Persaudaran

Ksatria dan para pengikutnya dengan sabar memberitahukan kepada seluruh warga Turate. Bahwa alasan para patih dan senopati itu mengingkari janji nya sendiri. Menodai sumpah nya sendiri. Kenapa?

– Prasasti Serat Nagari Turate adalah hasil kesepakatan bersama. Termasuk para patih dan senopati yang membelot itu dulu menyetujui tata cara pengangkatan Ksaria. Kalau sekarang tidak terima, itu pengkhianatan.

– Perolehan suara itu hanyalah cara mengetahui aspirasi. Menurut Prasasti Serat Negari Turate, keputusan tertinggi memilih Ksatria adalah di tangan Majelis Tetua. Kalau para patih dan senopati yang membelot itu tidak terima, artinya mereka berkhianat.

– Gaya kepemimpinan Ksatria adalah hak istimewa penuh kebijaksanaan untuk keberlangsungan negara Turate. Seharusnya para patih dan senopati tunduk dan percaya pada sang Ksatria. Lha ini kok tidak terima, tersinggung, dan mengecam. Berarti siapa yang berkhianat?

– Ksatria ketika memimpin, disumpah atas nama Tuhan YME. Aset negara adalah milik para warga dan harus dipertanggungjawabkan. Uang-uang yang mengalir ke kas Negara Turate berasal dari uang para warga. Harus ada sistem akunting dan transparansi. Sistem inilah yang tidak bisa dipenuhi oleh para patih dan senopati yang membelot tadi. Makanya mereka berkhianat dengan membentuk kepemimpinan baru, sepertinya agar penggunaan uang negara tidak perlu diaudit dan tidak perlu diketahui oleh warga penduduk negara Turate. Para pengkhianat itu sepertinya ingin warga terus-menerus setor ke negara dan mereka tidak melaporkan penggunaannya. Ini penjajahan warga negara!

Menurut Prasasti Serat Nagari Turate, ibu kota dan pusat pemerintahan tetaplah di Madina. Bukan lah di kota Jukarti atau Yugyakarti. Ksatria adalah simbol negara dan boleh berada dimana saja untuk menyapa warga negara nya. Para patih lah yang menjalankan roda organisasi dari Madina.

Para Patih dan Para Senopati ingin berebut kekuasaan. Mereka lah Sengkuni dalam Negara Turate. Kenapa para warga nya jadi ikut-ikutan terbirahi membela Sengkuni? Memang nya dapat apa dari Sengkuni?

Yuk kita kembali ke nilai-nilai kehidupan yang telah berjalan 95 tahun yaitu nilai-nilai PERSAUDARAAN. Biarkanlah para Sengkuni berulah. Kita harus nya tetap hidup normal “mencangkul sawah” dan tetap bersilaturahim.