Tag Archives: Politik

Pelajaran dari Politik Hari Ini Untuk Kita Semua

Pelajaran dari Agus Harimurti untuk kita semua : Jangan resign kalau belum dapat kerjaan baru, meskipun dapet rekomendasi dari bapak. Pelajaran dari Pak Mahfud buat kita semua : Jangan cerita ke orang-orang dapat kerjaan baru kalau belum sign kontrak. Pelajaran dari Sandiaga untuk kita semua : Selalu liat peluang baru yang lebih baik. Berani keluarin […]

Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018

Pembaca kartu tarot Age Darmaniaga.

Besok, 27 Juni 2018 adalah hari penting bagi masyarakat Bali.

Mereka menggunakan hak politik memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Bali untuk lima tahun ke depan. Bagi tim sukses tiap pasangan calon (paslon) besok adalah hari penentuan bagi kerja keras mereka dalam memenangkan paslon menjadi pemimpin Bali pilihan rakyat.

Saya tak hendak menulis analisis politik. Sudah banyak tulisan mengenai itu baik yang ditulis oleh pakar dan pengamat politik atau orang biasa yang banyak menulis, berdebat hingga ribut karena berbeda pandangan di berbagai grup yang ada di media sosial.

Kali ini saya ingin menulis tentang Pilgub Bali berdasarkan kartu tarot, oleh banyak orang dikenal sebagai media untuk meramal nasib dan masa depan berdasarkan kartu yang memiliki makna serta arti yang berlainan satu dengan lainnya.

Pembacaan kartu tarot ini atas inisiatif saya sendiri saat mengunjungi Age Darmaniaga, seorang wirausahawan yang juga pembaca tarot. Pertemuan saya dengannya berlangsung di kantornya di bilangan Padangsambian, Denpasar pada 21 Juni 2018.

Sebaran Kartu Koster – Cok Ace.

Tahap pertama, saya meminta ia membuka kartu tarot dan mencoba ‘membaca’ pasangan calon (paslon) I yakni I Wayan Koster –Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Koster-Cok). Metode yang dipakai adalah pembacaan lima kartu, artinya ada lima kartu yang ditebar dan memiliki makna yang berbeda namun merupakan satu-kesatuan.

Kartu pertama yang muncul adalah kartu ‘Strength”.

Pada konteks Paslon I bermakna banyak sekali kendala atau rintangan yang dihadapi baik dari dalam maupun dari luar, sebelum atau saat proses pencalonan diri sebagai Paslon. Seperti seekor singa buas, tak semua pihak bisa diajak bekerja sama. Ada yang terang-terangan ‘membelot’ dan memberikan dukungan pada lawan politik.

Dikaitkan dengan keadaan saat ini, dalam politik memang tidak ada yang abadi, mesti benar-benar kuat menghadapi segalanya.

Kartu kedua yang muncul adalah Nine Pentacles, bermakna Paslon ini sangat berharap sebuah kebaikan –terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali dan memiliki ambisi serta tekad yang kuat dalam mewujudkan hal itu.

Kartu ketiga yang muncul adalah Eight of Cups bermakna hendaknya Paslon ini tetap berjalan pada jalurnya, mengikuti arus dan menyerahkan segalanya pada Tuhan.

Waktu akan menjawab semuanya, tak perlu menghiraukan berbagai kendala yang dihadapi betapapun besarnya kendala tersebut. Walaupun banyak kendala dan cobaan yang datang seperti orang dalam yang ‘berkhianat’ tak usah dihiraukan, masih banyak orang yang mendukung Paslon ini.

Kartu keempat yang muncul adalah King of Wands, bermakna harapan baik datang dari Paslon ini. Dia sudah memegang harapan itu, walaupun banyak cobaan yang diterima. Harapan akan terpilih menjadi pemimpin Bali akan terkabul dan kemungkinan besar terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Bali yang baru.

Kartu kelima yang muncul adalah Knight of Cups. Bermakna memegang harapan dan kemenangan, seperti pasukan yang memenangkan sebuah pertempuran.

Foto kartu tarot Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta.

Pada tahap kedua kartu yang dibuka adalah untuk Paslon II yakni Ida Bagus Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta (Mantra-Kerta) Sama seperti tahap pertama, kartu tarot yang ditebar berjumlah lima, dan berikut kartu-katu yang muncul: kartu pertama adalah Three of Pentacles, bermakna saat ini banyak orang belum memutuskan pilihan pada Paslon ini. Hanya menilai dari luar berbagai program yang ditawarkan dan mempertanyakan gebrakan Paslon ini.

Kartu kedua yang muncul adalah Ace of Wands, bermakna Paslon ini memiliki harapan baru, dalam artian ingin menjadi pemimpin dan menjalankan program-program yang belum atau tidak dijalankan sebelumnya sebagai orang yang pernah menjabat sebuah jabatan,

Kartu ketiga yang muncul Four of Pentacles, bermakna adanya kendala. Paslon ini mesti lebih ‘lepas’ dalam penyampaian program-program dan tidak tertutup—dalam kampanye program yang disampaikan belum menyentuh lapisan bawah dan hanya pada level atau golongan tertentu.

Kartu keempat yang muncul adalah Five of Pentacles, bermakna hasil akhir kurang bagus. Kartu ini bergambar orang miskin dan menderita yang mempunyai arti kurang memuaskan, banyak berdoa semoga ada mukjizat dari Tuhan. Ikhlaskan dan serahkan semua pada-Nya.

Kartu kelima yang muncul adalah The Star, bermakna tak usah khawatir akan kekalahan, Paslon ini masih akan bersinar karir politiknya dan masih diperlukan sumbangsih serta keahliannya dalam membangun Bali.

Demikianlah hasil pembacaan kartu tarot berkaitan dengan Pligub Bali 2018. Mohon tidak dimaknai lain selain sebagai sebuah ramalan berdasarkan kartu tarot. Bisa jadi apa yang disampaikan salah dan meleset, berbeda dengan kenyataan.

Ini hanyalah sebuah prediksi, sama seperti prediksi tim sepakbola yang menang dalam sebuah pertandingan pada Piala Dunia yang sedang berlangsung dan digemari masyarakat seantero negeri. Selamat menggunakan hak pilih Anda. [b]

The post Membaca Tarot, Meneropong Pilgub Bali 2018 appeared first on BaleBengong.

TerBirahi Kekuasaan

Alkisah sebuah negara bernama Turate berpenduduk 10 juta jiwa. Wilayah kekuasaannya punya banyak cabang-cabang kota. Awal sejarah dan berdiri nya negara Turate ini berasal dari kota bernama Madina. Maka pusat pemerintahan nya pun di kota Madina.

Negara Turate dipimpin oleh seorang Ksatria. Pemilihan seorang Ksatria berdasarkan hasil musyarawah 10 orang sesepuh negara yang terkumpul dalam Majelis Tetua. Hasil pemilihan ini bersifat mutlak dan harus ditaati oleh warga negara Turate. Semua aturan tata kelola negara sudah tertuang dalam prasasti bernama Serat Nagari Turate.

Semua aturan dalam Serat Nagarai Turate itu hasil musyawarah besar yang dihadiri oleh Majelis Tetua, Ksatria dan para bawahannya di seluruh negara Turate. Tiap-tiap cabang kota dipimpin oleh para Senopati.

*) Nilai Persaudaraan.

Kehebatan negara Turate adalah punya nilai utama bernama Persaudaraan. Karena nilai itulah yang mempersatukan perbedaan penduduknya. Beda agama, beda suku, beda kelas (miskin, menengah, kaya raya). Semuanya harmoni terapkan nilai-nilai Persaudaraan.

Semua penduduk dan para generasi muda negara Turate harus berlatih ilmu dan nilai-nilai Persaudaraan. Selama 3 tahun mereka di gembleng Persaudaraan. Bila ada penduduk dari negara lain ingin tinggal di Turate, mereka harus ikut latihan Persaudaraan itu.

Tujuan dari latihan Persaudaraan adalah terjadinya kehidupan dengan prinsip saling sayang-menyayangi, hormat-menghormati dan saling bertanggungjawab. Mulia sekali kan?

Sudah 95 tahun warga negara Turate hidup guyup, rukun, “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (kekayaan alam yang berlimpah dengan keadaan yang tenteram)”. Semua pada “Memayuhayuning Bawana (memperindah dunia)”. Hingga suatu ketika birahi kekuasaan itu muncul!

*) Pembelotan dan Pengkhianatan

Ada beberapa bawahan Ksatria yaitu para patih dan para senopati yang kasak kusuk berupaya merebut kekuasaan dengan membuat pemerintahan sendiri dalam Negara Turate.

Alasan para patih dan para senopati adalah:
– Menggugat aturan tentang pengangkatan Ksatria dalam Prasasti Serat Nagari Turate.
– Menggugat perolehan suara Ksatria terpilih yang angkanya kecil dari Ksatria lain nya.
– Tidak terima dengan gaya kepemimpinan Ksatria yang dekat dengan negara-negara lain.
– Ksatria terpilih akan merebut aset negara dan memindahkan pusat pemerintahan/ibu kota.

Akibat alasan itu, para patih dan para senopati menciptakan kepemimpinan sendiri. Membuat kepengurusan sendiri dari pusat hingga cabang-cabang. Mempengaruhi semua warga negara Turate bahwa Ksatria terpilih adalah pemimpin yang berbahaya.

Para patih dan senopati dengan birahi kekuasaannya membuat pernyataan bahwa para warga Negara Turate yang tidak mendukung berarti bukan saudara lagi!

Persaudaraan yang sudah menjadi nilai dan nafas kehidupan warga negara, diperkosa, dikoyak dan dipaksa untuk mengikuti birahi kekuasaan!

Terjadilah dualisme kepemimpinan di Negara Turate. Siapakah yang membelot dan jadi pengkhianat kalau seperti ini? Bila sudah merasakan 95 tahun harmonisasi persaudaraan.

*) Ksatria Berjiwa Persaudaran

Ksatria dan para pengikutnya dengan sabar memberitahukan kepada seluruh warga Turate. Bahwa alasan para patih dan senopati itu mengingkari janji nya sendiri. Menodai sumpah nya sendiri. Kenapa?

– Prasasti Serat Nagari Turate adalah hasil kesepakatan bersama. Termasuk para patih dan senopati yang membelot itu dulu menyetujui tata cara pengangkatan Ksaria. Kalau sekarang tidak terima, itu pengkhianatan.

– Perolehan suara itu hanyalah cara mengetahui aspirasi. Menurut Prasasti Serat Negari Turate, keputusan tertinggi memilih Ksatria adalah di tangan Majelis Tetua. Kalau para patih dan senopati yang membelot itu tidak terima, artinya mereka berkhianat.

– Gaya kepemimpinan Ksatria adalah hak istimewa penuh kebijaksanaan untuk keberlangsungan negara Turate. Seharusnya para patih dan senopati tunduk dan percaya pada sang Ksatria. Lha ini kok tidak terima, tersinggung, dan mengecam. Berarti siapa yang berkhianat?

– Ksatria ketika memimpin, disumpah atas nama Tuhan YME. Aset negara adalah milik para warga dan harus dipertanggungjawabkan. Uang-uang yang mengalir ke kas Negara Turate berasal dari uang para warga. Harus ada sistem akunting dan transparansi. Sistem inilah yang tidak bisa dipenuhi oleh para patih dan senopati yang membelot tadi. Makanya mereka berkhianat dengan membentuk kepemimpinan baru, sepertinya agar penggunaan uang negara tidak perlu diaudit dan tidak perlu diketahui oleh warga penduduk negara Turate. Para pengkhianat itu sepertinya ingin warga terus-menerus setor ke negara dan mereka tidak melaporkan penggunaannya. Ini penjajahan warga negara!

Menurut Prasasti Serat Nagari Turate, ibu kota dan pusat pemerintahan tetaplah di Madina. Bukan lah di kota Jukarti atau Yugyakarti. Ksatria adalah simbol negara dan boleh berada dimana saja untuk menyapa warga negara nya. Para patih lah yang menjalankan roda organisasi dari Madina.

Para Patih dan Para Senopati ingin berebut kekuasaan. Mereka lah Sengkuni dalam Negara Turate. Kenapa para warga nya jadi ikut-ikutan terbirahi membela Sengkuni? Memang nya dapat apa dari Sengkuni?

Yuk kita kembali ke nilai-nilai kehidupan yang telah berjalan 95 tahun yaitu nilai-nilai PERSAUDARAAN. Biarkanlah para Sengkuni berulah. Kita harus nya tetap hidup normal “mencangkul sawah” dan tetap bersilaturahim.

Catatan Mingguan Men Coblong: Aparatus

Sumber KPK.go.id

MEN COBLONG benar-benar nelangsa.

Sesungguhnya apakah yang ingin diperbaiki oleh negeri ini. Di bulan Juni, bangsa ini merayakan hari kelahiran Pancasila, yang membuat umat yang hidup di seluruh ceruk negara Indonesia harus menyadari bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Bangsa yang memiliki beragam budaya dan busana, juga berbeda cara menghadap Tuhannya.

Kita paham, bahkan khatam bahwa bangsa ini sesungguhnya sedang mengalami luka “borok” cukup ganas. Untuk itu diperlukan teknologi canggih mencari “imunisasi” paten untuk mengusir segala rusuh dan kecurigaan antar sesama umat Indonesia terhadap prilaku beragama. Sangat menyedihkan ketika bangsa ini mulai terserang “penyakit” merasa lebih unggul, dibanding yang lain.

Sesungguhnya jika mau merunut sejarah, harusnya bangsa ini “wajib” sadar bahwa sesungguhnya “persaudaraan”, “kerukunan” kita sedang dicederai. Kepercayaan makin digerus. Karena apa? Karena beragam kebijakan-kebijakan yang diambil para petinggi negeri ini makin hari lebih rumit dari makna sebuah “puisi”.

“Kamu itu ada-ada saja. Apa hubungannya puisi dengan beragam peraturan di negeri ini?” sahabat Men Coblong mendelik sambil menatap Men coblong serius. “Aku paham, kamu itu penulis cerita, juga penulis puisi yang pandai bersilat kata-kata yang hanya kamu pahami. Jangan aneh-aneh. Peraturan kok disamakan dengan puisi, agaknya kau juga mulai pandir. Ikut-ikut membingungkan.”

“Ini serius. Coba kamu bayangkan, setiap peraturan yang diucapkan pejabat B, diplintir pejabat C, diterjemahkan berbeda lagi dengan pejabat D. Yang mana sesungguhnya omongan-omongan itu layak kita percaya? Harusnya setiap hal yang menyangkut keputusan publik sebaiknya dibicarakan dulu dengan para pejabat-pejabat itu. Sehingga keputusan yang sudah mereka pahami benar-benar satu suara. Makanya kubilang peraturan dan beragam keputusan di negeri ini lebih rumit dari “puisi”,” Men Coblong tetap ngotot.

Sahabat Men Coblong menatap lebih serius ke dalam mata Men Coblong.

“Iya juga ya. Katanya korupsi harus diberantas. Tapi faktanya orang-orang yang mendukung anti korupsi justru di perkusi,” sahabat Men Coblong mulai paham arah pembicaraan Men Coblong.

Sebelumnya pada 29 Mei 2018 KPU menyatakan keputusan untuk memasukkan larangan mantan napi kasus korupsi menjadi caleg ke dalam peraturan KPU tentang pencalonan sudah final. “Sampai sekarang keputusan kami belum berubah terkait rencana itu (melarang mantan narapidana korupsi menjadi caleg),” kata Komisioner KPU Ilham Syahputra.

“Kau masih ingat kan pernyataan itu?” tanya Men Coblong serius.

Sahabat Men Coblong semakin paham. Sesungguhnya lebih rumit memahami bahasa para pejabat.

Men Coblong terharu ternyata di tengah beragam virus “penyakit” masih ada juga orang-orang yang waras.
Aturan larangan eks napi korupsi menjadi caleg yang digodok KPU masih mendapatkan penolakan. Sungguh suatu hal yang aneh. Masak sih ada orang yang “tega” dan bersedia memilih wakilnya yang hobi korupsi?

Men Coblong senang dengan beragam penolakan, tetapi KPU memastikan melanjutkan penyusunan peraturan KPU (PKPU) untuk segera disahkan.”Ya, jalan terus. (Saat ini) sedang difinalisasi. Disusun ulang, dibaca lagi, dicermati lagi. Karena nanti saat dibawa ke Kemenkum HAM tinggal akan diundangkan saja,” kata anggota KPU Hasyim Asy’ari.

KPU mengatur pelarangan tersebut dalam peraturan KPU atau aturan internal parpol soal rekrutmen caleg. KPU mengusulkan larangan ini masuk dalam Peraturan KPU Pasal 8 tentang pencalonan anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Namun usulan ini tak disetujui Komisi II DPR, yang tetap ingin eks napi kasus korupsi tak dilarang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

KPU RI heran dengan sikap Komisi II DPR yang keberatan dengan rancangan PKPU soal larangan eks napi korupsi untuk mencalonkan diri jadi anggota DPR ataupun anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota.

Draf Peraturan KPU (PKPU) yang mengatur eks narapidana kasus korupsi dilarang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif segera rampung. Direktur Eksekutif Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mendukung aturan yang dibuat KPU itu.

“Kami sangat mendukung ya upaya pencalonan anggota DPR/DPRD dari KPU yang melarang parpol untuk mencalonkan mantan napi korupsi, bandar narkoba, dan kejahatan seksual terhadap anak. Bagi kami ini terobosan hukum luar biasa yang bertujuan juga untuk menjaga integritas hasil pemilu kita,” kata Titi saat berbincang via telepon, Sabtu (26/5/2018).

Padahal sebagai umat negeri ini Men Coblong sadar eks koruptor dilarang nyaleg bisa membantu proses seleksi para caleg yang berlaga di Pemilukada. Sebab, Pemilu menentukan tata kelola pemerintahan yang akan datang.

Yang mengikis “penyakit” di negeri ini adalah korupsi. Sungguh aneh, para petinggi negeri ini justru menolak satu-satunya solusi untuk menata negara ini lebih baik justru ditolak.

Bulan Juni, bulan Pancasila. Semoga di tengah hiruk pikuk “tahun politik” ini para aparatus itu sadar tugas mereka membasmi habis segala bentuk “kecurangan” termasuk korupsi. Karena sampai hari ini Men Coblong belum melihat orang-orang yang tertangkap korupsi merasa malu.

Benar kan, lebih rumit dari “puisi” para aparatus itu? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Aparatus appeared first on BaleBengong.

Nasakom! Jaen Saan… Mari Kita Makan!

Mural Prasasti Tragedi Trisaksti dan Mei 1998 di Jakarta. Foto Antara via BeritaDaerah.co.id

Barangkali hujan bulan Mei akan lebih tabah dari hujan bulan Juni.

Suara adzan baru saja berlalu. Nur Nurhayatun, istri Pan Delem atau ibu dari Wayan Marhaen dan Kadek Dianawati siap-siap berbuka. Di atas meja, aneka makanan telah tersaji. Ada sate lilit, lawar, hingga komoh.

Malam itu menjadi semakin spesial, karena pada pagi harinya Pan Delem dan Wayan Marhaen merayakan Galungan. Mereka duduk melingkar.

“Nasakom! Jaen saan… Mari kita makan!” Marhaen memulai kenduri. Ia bermaksud menyebut akronim nasi, sate, komoh sebagai Nasakom.

“Husshh. Berdoa dulu! Karena ibu sedang menjalankan ibadah puasa, maka ibu kalian yang akan memimpin doa kali ini,” Pan Delem mengingatkan.

Keluarga Pan Delem adalah replika kebhinekaan Indonesia yang raya. Marhaen, karena lahir sebagai laki-laki dari seorang ayah yang Bali, memutuskan untuk menjadi pengikut agama Bali. Ia enggan menyebut dirinya orang Hindu; sebab ketika bersekolah dari TK hingga perguruan tinggi, tak sekalipun dia bersentuhan atau dipersentuhkan dengan Weda. Ia mengikuti Das Kapital, tetapi juga selalu berusaha untuk mencari dan menemukan kearifan agama Bali.

Lagi pula, pikir Marhaen, tak banyak orang Bali yang betul-betul paham hakikat menjadi seorang Hindu. Setidaknya hal itu dirasakannya dari lingkungan sekitarnya. Bahkan, yang juga membuat Marhaen tak habis pikir, orang Bali tak pernah mau tahu makna berbagai ritual yang mereka lakukan hampir setiap hari itu. Kerena putus asa dan malas mencari; ditambah para pemukanya yang tidak dekat dengan umat, mereka kemudian menyederhanakannya dengan istilah nak mula keto — memang begitu adanya.

Sementara itu, anak kedua Pan Delem, Kadek Dianawati, kini kuliah di sebuah perguruan tinggi yang pendiri yayasannya adalah seorang imam Katolik. Kadek sudah terbiasa berinteraksi dengan orang dari berbagai latar keluarga. Bahkan, cowoknya kini seorang Katolik. Malam hari ketika hendak tidur, Kadek selalu menyempatkan diri membaca Bhagawadgita.

Dari ibunya, Kadek sering mendapat pengetahuan tentang iman dari perspektif Muslim. Sesekali ia juga menemukan kearifan dari tradisi Bali dari ayahnya, Pan Delem. Kini, sejak pacaran dengan seorang Katolik, Kadek pun mulai mengenal lagu-lagu gereja yang menyejukkan hati.

“Juni akan datang, tetapi Mei berlalu dengan sisa sesak di dada. Semoga sederet peristiwa di bulan Mei hanya riak kecil dari kebhinekaan kita. Meme (ibu) mengutuk serangkaian teror dan bom di Mako Brimob dan Surabaya beberapa waktu yang lalu! Bila hujan adalah personifikasi air mata, barangkali hujan bulan Mei akan lebih tabah dari hujan bulan Juni,” Nurhayatun membuka percakapan setelah kenduri selesai.

“Nanang rasa, kita sekeluarga tidak sepakat dengan kekerasan. Kita tidak ingin Indonesia terpecah belah; karena keluarga mungil kita adalah cerminan bahwa perbedaan itu niscaya dan bahkan bisa berdampingan!” Pan Delem menimpali.

“Kebhinekaan sudah final sejak negara ini berdiri! Asalkan, empat pilar kebangsaan ajeg, agar kita tidak dibayang-bayangi mimpi buruk perpecahan atau disintegrasi bangsa!” sahut Wayan Marhaen.

“Yang juga harus dituntaskan saat ini adalah cita-cita kemerdekaan yang disebut sebagai jembatan emas itu! Termasuk pula menuntaskan tuntutan Reformasi 98! Dua puluh tahun yang seharusnya membuat segenap bangsa semakin dewasa dalam berdemokrasi!” ujar Wayan Marhaen.

“Kadek sih nggak tahu Soeharto seperti apa, hingga Bli Marhaen sebegitu bencinya pada mantan mertua Prabowo itu. Kan, waktu 98, Kadek baru lahir. Hehehe,” Kadek Dianawati mulai nimbrung, kemudian meraih buah surudan di atas meja.

“Bli waktu itu juga baru enam tahun, Dek. Tetapi, tidak ikut merasakan tangan besi Harto karena masih kecil atau baru lahir, bukanlah sebuah alasan untuk tidak peduli dengan sejarah!” Marhaen menambahkan. “Bukan begitu, Nang?”

Pan Delem mendeham, mengangguk, lalu diperbaikinya kaca matanya yang bulat.

“Yaaa. Waktu itu Nanang masih jadi PNS, dipaksa ikut Golkar. Nanang dan teman-teman yang lainnya dikumpulin di balai banjar; ikut penataran P4; lalu diberi seragam kuning-kuning berlogo pohon beringin. Hahaha!” kenang Pan Delem.

“Agak risih memang mengingat masa-masa itu. Tetapi, seperti kata kakamu, Dek, reformasi harus dituntaskan!” Pan Delem melanjutkan.

“Sebentar, sebentar. Ini diskusi kok jadi melebar ke mana-mana? Tapi, memang sih kalau Meme pikir-pikir, ternyata bulan Mei tahun ini telah melalui banyak peristiwa, ya. Meme menyambut Bulan Ramadhan. Nanang dan Wayan juga baru saja merayakan Galungan. Umat Budha, bulan Mei ini, merayakan Waisak. Termasuk juga itu, peringatan 20 tahun reformasi bagi bangsa Indonesia! Wah, bulan yang istimewa,” Nurhayatun merespon.

“Bagi umat Katolik, Mei juga identik sebagai bulannya Bunda Maria, Me. The Month of Mary,” sahut Kadek.

“Ya, bulan Mei yang luar biasa sekaligus tak berarti apa-apa terutama dalam hal penegakan kasus pelanggaran HAM di masa lalu, termasuk penculikan aktivis dalam prahara Orde Baru,” kata Wayan Marhaen.

“Termasuk Tukul Arwana yang katanya diculik itu?”

“Wiji Thukul, bukan Tukul Arwana!”

“Ooo… hehehe. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap hilangnya anak orang, Bli?”

“Dalam laporannya, Komnas HAM menyebut Tim Mawar yang dibentuk Kopassus semasa Orde Baru adalah yang paling bertanggungjawab terkait kasus itu. Thukul hanya salah satu aktivis – yang juga seorang penyair – dari 13 aktivis lainnya yang belum kembali dan diduga sebagai korban penghilangan secara paksa! Keluarga korban menuntut penyelesaian kasus itu, melalui aksi diam dengan berdiri memegang payung hitam di depan Istana Kepresidenan setiap Kamis sejak 2007. Bayangkan, 11 tahun sudah mereka melakukan aksi itu, tetapi negara tidak pernah bersungguh-sungguh mengungkap kejahatan HAM di masa lalu!”

“Kalau punya niat baik, seharusnya Pak Jokowi sejak dulu bertemu dengan keluarga korban. Lalu, yang paling penting, segera menuntaskan kasus-kasus tersebut! Mumpung pemeran kuncinya masih hidup,” Pan Delem ikut menambahkan.

“Meme sudah merasa aman di era reformasi ini?” tanya Kadek Dianawati kepada Nurhayatun, ibunya.

“Aman-aman saja, toh, Dek. Sudah, jangan memancing-mancing. Meme lagi puasa. Diskusi soal negara itu berat, biar sama kakak dan bapakmu saja,” jawab Nurhayatun.

“Tapi bom dan terorisme lebih marak di era reformasi. Hahaha! Gimana, Bli, Nang?” Kadek Dianawati memantik.

“Ya, itu tantangan negara demokrasi. Memang banyak yang memandang bahwa pemerintahan otoriter seperti negara Orde Baru relatif lebih aman dan terkontrol. Tetapi, hak-hak prinsip manusia diabaikan. Orang tidak boleh berserikat, apalagi mengkritik atau tidak setuju dengan pemerintah. Kebebasan pers juga tidak ada. Mau Kadek kembali ke era itu?” Pan Delem berusaha menjawab.

“Perekonomian Indonesia, Kadek pernah baca, katanya terkuat di Asia Tenggara ketika era Orde Baru,” Kadek Dianawati kembali memancing.

“Pemenang Nobel ekonomi dari Bengala, namanya Amartya Sen, pernah menulis buku Development as Freedom. Sen mengkritik konsep pembangunan yang hanya diukur dari tujuan akhir negara dalam mencapai kesejahteraan. Tesis Sen sekaligus mengkritik mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang merumuskan konsep pembangunan dengan membatasi kebebasan sipil dan politik. Menurut Sen, pembangunan harus menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Dan oleh sebab itu, kesejahteraan perlu beriringan dengan kebebasan berpendapat, berserikat, hingga berkeyakinan.”

“Ini, Dek” Pan Delem melanjutkan, “bukan bermaksud mengungkit-ungkit kesalahan penguasa Orde Baru. Reformasi yang kita raih dengan berdarah-darah dan pertaruhan nyawa adalah ongkos yang sangat mahal untuk mewujudkan pemerintahan yang demokratis. Bahwasannya hari ini masih terseok-seok dalam berdemokrasi, itu persoalan lain. Nanang hanya tidak mau mundur ke belakang dengan kemajuan ekonomi dan keamanan semu seperti era Orde Baru!”

“Telak, Nang! Haha. Bapan cang ne!” Wayan Marhaen menyahut.

“Ya, santai nae, Bli. Kadek tidak ikut arus yang pro, tidak ikut yang kontra. Apalagi sama Harto! Hahaha. Kalau kata si cagub, nasbedag katanya!” ujar Kadek berusaha mengikuti dialek salah seorang calon gubernur yang kontroversial itu sembari terpingkal-pingkal.

“Bisa gitu adikku, nok. Jangan sampai qe kena virus Orba, Dek!” canda Wayan Marhaen.

“Tenang, Bli. Selama ada Nanang dan qe yang selalu sewot, aku sujud. Hahaha.” [b]

The post Nasakom! Jaen Saan… Mari Kita Makan! appeared first on BaleBengong.