Tag Archives: Politik

Sexy Killers Bukan Penghakiman

Apa Itu Sexy Killers?

Sexy Killers merupakan film dokumenter tentang kisah produksi, distribusi dan konsumsi listrik masyarakat Indonesia yang digarap oleh Watchdoc Indonesia. Jika belum tahu, Watchdoc Indonesia adalah rumah produksi audio visual yang berdiri sejak tahun 2009.

Sepanjang berdirinya, Watchdoc sudah memproduksi lebih dari 160 film dokumenter dan juga memperoleh berbagai penghargaan. Adapun orang yang berada di balik Watchdoc Indonesia adalah Dandy Dwi Laksono. Seorang mantan jurnalis di beberapa stasiun tv swasta.

Famplet Film Dokumenter Sexy Killer

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang siapa Dandy Dwi Laksono tersebut. Tulisan ini akan lebih membahas tentang isi film ini dari awal hingga akhir serta beberapa pendapat tentang tulisan ini. Karena sungguh di luar dugaan, film ini dapat memunculkan berbagai pandangan di kepala setiap orang. Sangat luar biasa.

Kontroversi Sexy Killers

Sejak kemunculannya, film ini sudah menjadi perbincangan banyak orang. Film yang ramai-ramai di tonton oleh banyak orang ini menuai berbagai pandangan. Sejak dikeluarkannya film ini, juga banyak daerah yang melaksanakan nonton bareng di tempatnya masing-masing. Hingga hari ini lebih dari 250 titik lokasi nonton bareng film ini. Bisa dibayangkan berapa juta masyarakat Indonesia yang sudah menonton film ini? Selain itu, sejak film ini resmi di unggah dalam platform Youtube sejak tanggal 14 April 2019 viewers film ini mencapai 21 juta hanya dalam waktu 2 minggu saja. Namun, uniknya film ini tidak masuk dalam trending youtube. Padahal jika dilihat dari jumlah viewersnya yang fantastis, film ini pantas masuk dalam trending youtube.

Selain dari segi jumlah penontonnya, baik pada momen nonton bareng maupun yang menonton di platform youtube. Film ini juga cukup menuai kontroversi, karena dalam film ini benar-benar mengupas habis keterlibatan kedua belah paslon yang sedang berkontestasi dalam Pemilu Tahun 2019 ini. Tanpa ada yang ditutup-tutupi, semua dibahas sampai tuntas keterlibatan elite politik Indonesia dalam oligarki tambang Indonesia.

Banyak juga yang mempertanyakan, kenapa film ini diputar pada detik-detik menjelang Pemilu diselenggarakan? Pertanyaan ini banyak sekali dilayangkan sebelum atau setelah menonton film ini. Bahkan dalam sesi diskusi Nonton Bareng film Sexy Killers di ISI Denpasar, ada salah satu penonton menanyakan hal tersebut kepada Dandy Dwi Laksono yang juga hadir sebagai narasumber kala itu.

Jawabannya sangat simpel dan masuk akal, “agar masyarakat dapat mengetahui siapa sebenarnya orang-orang yang akan dipilihnya nanti,” kurang lebih itulah yang dikatakannya. Jika, mengambil sudut pandang dari Sutradara Film, film ini diputar menjelang perhelatan demokrasi terbesar di Indonesia adalah untuk membuka wawasan masyarakat Indonesia akan calon pemimpin yang dipilihnya dan lebih memperkenalkan rekam jejaknya dalam bidang tambang khususnya.

Elite Politik Meragukan?

Saya yakin banyak yang meragukan elite-elite politik Indonesia setelah mengetahui data dan fakta yang disajikan dalam film Sexy Killers tersebut. Apalagi kebanyakan narasi-narasi yang dilontarkan oleh mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang nyataya terjadi.

Fakta bahwa bisnis tambang ini hanya dikuasai oleh segelintir orang dan ternyata dua kubu yang saling menyerang satu sama lain juga menjadi kolega dalam bisnis ini tentu akan menurunkan tingkat kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah sekarang. Dalam film tersebut juga disajikan cuplikan debat kandidat yang diikuti oleh kedua Calon Presiden yang pada kala itu sang moderator memberikan pertanyaan tentang nasib lubang bekas galian tambang yang terbengkalai dan memakan banyak korban jiwa di Kalimantan.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, moderator menyebutkan 3500 lubang tambang yang belum direklamasi kembali. Namun, respon dari kedua Capres tersebut sangatlah mengecewakan. Hanya melontarkan narasi bahwa akan tegas melawan mafia-mafia tambang perusak lingkungan dan tidak ingin banyak berdebat akan hal tersebut. Mengecewakan bukan?

Tidak hanya sampai disana, dalam film tersebut juga ditampilkan cuplikan rapat komisi VII DPR RI yang dipimpin oleh Muhammad Nasir selaku Wakil Ketua Komisi dari Fraksi Partai Demokrat. Secara tegas menanyakan soal pertanggungjawaban pemerintah terhadap lubang-lubang bekas galian yang terbengkalai kepada pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM yang kembali lagi tidak dapat mempertanggungjawabkan ijin yang telah mereka keluarkan.

Mirisnya, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor tidak memiliki langkah strategis untuk menanggulangi lubang galian tambang yang makin hari semakin banyak merenggut korban jiwa. Pernyataan yang lebih parah lagi disampaikan oleh Gubernur Kaltim tersebut bahwa “korban jiwa terjadi dimana-mana, ya namanya nasib dia meninggal di kolam tambang.” Pernyataan yang sama sekali tidak memihak kepada masyarakat.

Dimana Posisi Negara dalam Kasus Ini?

Kembali lagi, dalam kasus yang melibatkan kehidupan masyarakat kecil negara tidak serius dalam menanggapai. Bahkan bisa dikatakan negara lebih memihak kepada pemilik modal yang secara nyata tidak memperdulikan nasib masyarakat terdampak langsung.

Bukan tanpa alasan, melihat dan membaca respon yang disampaikan oleh pemerintah yang notabene memiliki instrumen untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak terlihat keseriusannya. Terlihat hanya sekedar memberikan jawaban yang mampu memuaskan rasa ingin tau dari masyarakat banyak. Padahal belum tentu apa yang mereka katakan akan langsung ditindak lanjuti. Ditunda? Sangat besar kemungkinan tersebut karena tidak dalam prioritas mereka.

Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 UUD 1945 berbunyi sebagai berikut : ayat (1) berbunyi; Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, ayat (2); Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional dan ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Meneropong bunyi dari pasal 33 ayat 3, maka jika melihat realita hari ini apakah negara sudah mampu mengamalkannya? Belum. Kenapa demikian? Karena masih sangat banyak sumber daya kita yang dikuasai oleh pihak asing dan negara hanya bisa menikmati sedikit dari sumber daya melimpah yang dinikmati oleh pihak asing. Negara harus segera berbenah.

Bukan Penghakiman

Walaupun kita sebagai warga negara sudah mengetahui bahwa pemerintah kita memiliki banyak kekurangan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun, bukan berarti kita harus sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sebagai warga negara, kita mesti memberikan kontribusi kepada negara, apalagi jika melihat pemerintah berada dalam track yang salah.

Wajib kita perbaiki yang dapat kita lakukan dengan berbagai cara, baik itu audiensi, demonstrasi atau bisa langsung melakukan aduan kepada Instansi terkait. Selain itu, media hari ini sangatlah efektif untuk menjadi ruang kita menyampaikan aspirasi. Tuangkanlah aspirasi dan pemikiranmu ke dalam bentuk tulisan dan sebarkan, sehingga banyak orang mengetahui apa saja keresahan serta apa solusi yang akan kamu berikan untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah.

Warga negara yang cerdas adalah warga negara yang memberikan kritik sekaligus solusi atau gagasan kepada pemerintah.

The post Sexy Killers Bukan Penghakiman appeared first on BaleBengong.

Siang Hari di TPS 03, Celukan Bawang

Tabel DPT dan contoh surat suara di TPS 03, Celukan Bawang

Duh, iya e. Jokowi kalah..

Saya menghabiskan 17 April siang di TPS 03, Celukan Bawang dengan Pak Eko, sekretaris kelompok warga Tolak PLTU Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Malam sebelumnya, saya ikut dengannya menonton film Sexy Killers di Taman Kota Singaraja.

Ketika sampai di sana sekitar pukul 12.45 WITA, warga sudah hampir selesai dengan proses pencoblosan. Sambil menunggu rekapitulasi jumlah surat suara dan warga yang menyoblos, saya duduk-duduk di depan rumah Pak Eko. Tembok rumahnya bergambar warna-warni. Jaraknya 50 meter di sebelah timur tempat pemungutan suara (TPS).

Obrolan kami ngalor-ngidul membahas seberapa seksi film Sexy Killers hingga cara menghindari mabuk laut. Dia pernah menggantungkan hidupnya dari hasil melaut.

“Saya tidak bisa berenang, Pak,” jawab saya waktu dia menawari untuk ikut mancing naik jukung.

Penghitungan jumlah suara dimulai pukul 13.45 WITA. Warga kumpul di sekitar TPS samping posko Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali. Ada yang jongkok di tanah, duduk di kursi plastik, berdiri menyandar tiang TPS.

Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) masih kelihatan canggung. “Ini yang bikin gemeteran,” kata salah satu petugas penghitung suara sebelum penghitungan mulai.

“Jokowi!” orang yang lewat kadang-kadang berteriak, disambut tawa orang-orang yang duduk.

Warga menyaksikan proses penghitungan suara

“Nomor 02,” petugas mulai menghitung kertas suara untuk pilpres, disusul teriakan ‘yeayy’ oleh  semua yang hadir. Begitu pula waktu kertas suara dengan pilihan nomor 01 dibacakan.

Beberapa anak terlihat tegang pun para orang tuanya. Pemuda-pemuda terlihat mondar-mandir menghisap rokok sambil sesekali memeriahkan teriakan ‘yeay’.

Dari total 295 DPT dan 6 DPTb/DPK, 78 persen melakukan pencoblosan. Ada beberapa orang yang harus urung mencoblos karena hadir saat TPS sudah tutup.

Pak Eko memberikan keterangan, penetapan orang-orang yang memilih di TPS 03 ini dilakukan secara acak. Beberapa adalah warga yang tinggal di sebelah timur dusun yang mayoritas Hindu. Namun, banyak juga warga dari dusun di sebelah barat yang mayoritas muslim.

Waktu saya sampai di sana, sambil menunggu proses penghitungan suara, ibu-ibu berkumpul di warung seberang masjid sambil menyiapkan makanan. Ada 104 pemilih laki-laki dan 130 pemilih perempuan yang memberikan suaranya hari itu.

Ekspresi saat mengetahui hasil penghitungan suara untuk pilpres

Mayoritas Prabowo

Kandani kok, Prabowo presidenku (sudah kubilang, Prabowo presidenku),” seloroh seorang anak ke temannya. Teman itu menimpali dengan, “Duh, iya e. Jokowi kalah,” saat hitung-hitung surat suara pilpres usai dilakukan.

Prabowo mendapat 152 suara dan Jokowi 74. Delapan kertas suara lainnya dinyatakan tidak sah. Orang-orang tampak tenang sambil menunggu penghitungan suara untuk legislatif nasional dan daerah.

Baru kali ini saya ada di tempat dengan suara mayoritas untuk Prabowo. Padahal, 90 persen teman saya adalah Jokowi garis keras. Seperti di tempat-tempat lain, tengkar-tengkar di Facebook dan Instagram Stories tidak berlaku di kehidupan bertetangga.

Pak Eko sendiri bercerita bahwa selama masa kampanye, area rumahnya tak pernah gegap gempita oleh polarisasi kubu 01 atau 02. Semua biasa. Dia berpegang teguh pada prinsip “rahasia” dalam pemilu kali ini.

Dengan banyaknya penutur bahasa Jawa dan suguhan teh super manis, saya merasa seperti di rumah. Namun, agenda lain harus dilaksanakan. Sambil pamit pulang, saya mengingatkan beberapa saksi yang hadir di TPS, “jangan lupa makan, masih sampai malam!”

Perjalanan berlanjut ke Bedugul untuk bermalam sebelum kembali ke Ubud. Tempat menginap sebelahan dengan tempat rekap suara di kecamatan. Sayup-sayup, sekitar pukul 11.30 malam, terdengar proses verifikasi masih dilakukan. Pak Eko kasih kabar siang hari, dia melek di kecamatan sampai pukul 5 pagi!

Salam hangat untuk para petugas KPPS dan saksi-saksi yang sudah menjalankan tugas! [b]

The post Siang Hari di TPS 03, Celukan Bawang appeared first on BaleBengong.

Mereka yang Berjuang di Balik Pemilu


Ada beragam cerita yang menggugah di balik Pemilu.

Bukan lagi tentang perseteruan pilihan satu atau dua. Memilih mencoblos atau memilih golongan putih. Namun, ada semangat panitia pelaksana di setiap tempat pemungutan suarara (TPS) yang bekerja hingga suara bisa terhitung dengan rampung.

Matahari memang belum bersinar. Namun, para panitia pelaksana pemilu di masing-masing TPS sudah berkutik dengan kesibukan. Mulai mempersiapkan bilik suara agar benar-benar mencapai visi pemilu yang rahasia, hingga persiapan surat suara yang berjibun.

Hingga akhirnya, waktu yg ditunggu-tunggu tiba. Tepat pukul 07.00 WITA, para pemilik suara siap memberikan suaranya di balik bilik.

Hari kian penat. Pemilik suara silih berganti. Semakin terik, semakin sedikit. Hingga senja hampir menyongsong. Tiba sudah waktunya merampungkan sekian ratus suara untuk negeri ini.

Beragam cerita di setiap tempat pemungutan suara. Ada yang senang, karena bisa memberikan dukungan nyata untuk pilihannya. Ada yang tak peduli, karena calonnya tidak memenuhi ideologinya. Tak jarang pula yang kecewa karena terlambat mendaftar sehingga tak dapat menyalurkan suaranya.

Tak luput pula ada yang tegang karena menyaksikan orang yang datang ke TPS sambil mengamuk. Ya, tiada lain, karena tidak bisa bersuara dalam perayaan pesta rakyat kali ini.

Rampung

Namun, di balik segala ekspresi yang terjadi. Ada panitia pelaksana yang harus tetap fit dalam segala keadaan, agar bisa merampungkan ratusan suara.

Senja mulai memamerkan hangatnya. Keringat pun saling giliran bercucuran untuk turun di keningnya. Berdampingan dengan para saksi, untuk memastikan suara yang masuk dihitung dengan tepat, tanpa kecurangan. Akhirnya, tagar demi tagar tersusun sehingga memudahkan penghitungan suara.

Setelah melewati peliknya penghitungan suara yang menuntut ketelitian melihat lubang dari paku yg dinyatakan sah pada surat suara. Apakah dengan tanda coblosan ini sah? Atau gumaman tentang, mana coblosannya? Ah, akhirnya rampung!

Tak berhenti di sana, ia harus menyalurkan hasil suara yg terangkum ke pihak publikasi. Dan memastikan bahwa hitungannya benar dengan tingkat kekeliruan seminimal mungkin. Pihak publikasi siap menyampaikan kabar yang ditunggu-tunggu sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini.

Ya, meski lelah seharian ini. Ada jasa besar yang telah dilunasi para panitia pelaksana pemilu yang menjadi penyegar dahaga kepadatan hari ini.

Terima kasih panitia pelaksana. [b]

The post Mereka yang Berjuang di Balik Pemilu appeared first on BaleBengong.

Siapapun Presidennya, Ekonomi Tetap Kokoh, Tapi …

Tetap saja harus memilih presiden Republik Indonesia! Pilihan kepada Jokowi sudah saya lakukan di Pemilu 2014 lalu. Sekarang? Siapakah presiden pilihan saya 2019 – 2024?

“Siapapun presiden nya, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan selalu di angka 4,8%. Mau presiden nya pelawak pun ekonomi Indonesia pondasi nya sudah kuat!” kata Faisal Basri.

Kalimat tersebut saya dapatkan ketika mengikuti acara “Bali Business Round Table” tahun ke 4 yang diselenggarakan oleh BPR Lestari, mengambil tema “Politik & Ekonomi Indonesia 2019” dengan keynote speaker Faisal Basri (Indonesian Economist Analyst) dan Burhanudin Muhtadi (Indonesian Political Analyst).

Masih Faisal Basri bilang, “Penguatan rupiah sifatnya sementara. Keniscayaannya rupiah akan melemah. Siapapun itu presiden nya. Kenapa rupiah melemah? Karena kita masih sering import.”

Burhanudin Muhtadi bilang: “Yang pasti dalam politik adalah KETIDAKPASTIAN!”

Tidak ada negara di dunia ini yang kompleksitas pemilu nya paling rumit selain di Indonesia. Dan syukurnya Indonesia selalu aman selenggarakan Pemilu.

Menurut rekam jejak pemilu di Indonesia, kita akan baik-baik saja siapapun itu presiden nya.

Tidak perlu serius mikir politik karena elit politik kita pun sering ‘bersandiwara’. Lebih-lebih di acara ILC. Kelihatan dilayar mereka debat. Padahal pada saat break mereka ketawa-ketawa sambil tanya, “Bang Karni apakah saya tadi sudah keras atau belum?” Hahaha.

Jadi, menurut ahli-ahli diatas, siapapun presiden nya, Indonesia akan baik-baik saja. Meski Anda memilih Jokowi, adik Anda memilih Prabowo, Indonesia akan baik-baik saja! Tak kan ada dosa diantara kita hehehe.

* Latar Belakang Pendidikan Capres dan Cawapres

Rasionalitas dari kedua pakar ekonomi dan politik diatas tentunya tidak perlu diragukan lagi. Ya, saya lebih percaya mereka daripada kedua capres Indonesia yang bukan berlatar belakang ilmu politik dan ekonomi. Jokowi insinyur kehutanan. Prabowo, tentara tulen.

Cawapres nya? Siapakah yang berlatar belakang ekonomi?

Saya membaca Ma’ruf Amin berlatar belakang Usulludin. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Usulludin yaitu ilmu tentang dasar-dasar agama Islam yang menyangkut iktikad (keyakinan) kepada Allah, rasul, kitab suci, soal-soal gaib (seperti hari kiamat, surga, dan neraka), kada dan kadar; ilmu tauhid; teologi Islam.

Saya membaca Sandiaga Uno berlatar belakang Business Administration. Menurut Wikipedia: Administrasi bisnis adalah proses pengelolaan perusahaan atau organisasi nirlaba guna menjaga kestabilan dan pertumbuhan organisasi. Cakupan bidang utama administrasi bisnis meliputi operasi, logistik, pemasaran, sumber daya manusia, dan manajemen.

Maka dari latar belakang kompetensi nya saja, kita ingin Indonesia jadi apa? Kalau saya, Indonesia harus lebih maju ekonominya. Sandiaga Uno lah yang rasional kalau bicara tentang ekonomi.

Ekonomi tak lepas dari dunia bisnis dan wirausahawan (entrepreneurship). Bagi saya, Sandiaga Uno yang pernah bergumul dengan HIPMI dan dunia wirausahawan sangat memahami kedua dunia itu.

* Politik adalah Kepentingan

Saya punya kepentingan terhadap diri pribadi dan Indonesia pada umumnya. Saya sudah sandarkan kepentingan itu ke Pak SBY yang menang 2x dan periode 2014 lalu yang dimenangkan oleh Jokowi. Tentunya, 5 tahun kedepan saya pun punya kepentingan.

Saya ingin memakmurkan diri dan juga masyarakat disekeliling saya pun ikutan merasakan. Namun ternyata medio tahun 2014 – 2019 saya dan sekeliling saya tidak merasakan adanya peningkatan. Isinya adalah mempertahankan agar tidak berujung bangkrut.

Semenjak Jokowi naik, nilai mata uang rupiah terus melemah. Dollar makin menguat. Bisnis saya berkaitan dengan dollar. Saya butuh dollar untuk membayar operasional bahan baku bisnis. Jaman SBY masih lah berkelimpahan akibat dollar masih bertengger diangka Rp. 9.000 an. Jaman Jokowi? Bertengger diangka Rp. 13.000 an. Sekarang malah Rp. 14.000 an.

Apakah dollar bisa turun? Menurut sejarah, dollar pada era akhir Pak Soeharto adalah Rp. 16.000 dan itu bisa turun jadi Rp. 6.000 setelah presiden nya ganti.

Kenapa saya bisnis yang berkaitan dengan dollar? Daripada area bisnis ini direbut korporasi luar negeri seperti Google, Amazon, Alibaba, Hostinger, Exabytes, lebih baik anak negeri (saya) juga berusaha mengamankan aset pasar di Indonesia. Merekalah perusahaan luar negeri kompetitor bisnis saya.

Maka, siapa tahu wakil presiden nya ganti, maka keadaan dollar akan terkoreksi makin melemah dan rupiah makin menguat. Indonesia nantinya semakin sering export daripada import.

Kemudian, kepentingan lainnya lagi berkaitan dengan harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat. Utamanya listrik, lpg, bbm dan pangan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa menaikkan harga BBM dan listrik adalah kebijakan tidak populer. Ya, akhirnya naik juga di pemerintahan Pak Jokowi. Rentetan yang terjadi adalah segala hal naik. Dibalik jargon Revolusi Mental, rakyat dipaksa untuk bermental bijaksana. Namun meski BBM pernah turun, segala hal yang naik itu tak bisa diturunkan lagi.

Kebutuhan pokok diatas menyangkut hajat hidup warga negara Indonesia. Keberadaannya dikendalikan salah satunya oleh para BUMN ciptaan negara. Pertanyaannya adalah, sudahkah singkronkah antara inti manfaat pasal 33 UUD 1945 dengan UU no. 19 tahun 2003 tentang BUMN?

Menurut UU itu, maksud dan tujuan BUMN adalah menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.

Klo segalanya naik dan sengsarakan orang banyak, apakah kiprah BUMN perlu di Revolusi Mental? Selama ini mereka teriak kalau mengalami kerugian. Kalaupun rugi namun bisa sejahterakan rakyat, why not?

Saya mengalami sendiri jalanan di pelosok desa yang rusak. Seakan tak terjamah dari gemerlap nya infrastruktur tol. Kalau mau pangan kita berdaulat, mulus kan dulu jalan-jalan pedesaan agar petani nya bergairah kirim pangan dari desa ke kota. Tanpa kena sakit encok akibat jalanan rusak.

Pacitan, sebuah kabupaten di ujung barat selatan Jawa Timur punya pembangkit tenaga listrik. Namun aneh nya rumah orang tua saya di pegunungan Pacitan sering banget mati listrik. Kalau sudah mati listrik, provider seluler nya pun mati.

* Bali Tolak Reklamasi

Rakyat Bali sudah berjuang menolak reklamasi Teluk Benoa. Saya pun kadang ikutan terjun demo Bali Tolak Reklamasi bersama masyarakat untuk memberi tahu Presiden RI Joko Widodo dan pejabat bawahannya agar mencabut Perpres no 51 tahun 2014.

Dari awal Presiden Jokowi terpilih sampai sekarang, perjuangan ini tidak mendapatkan hasil. Perpres masih ada.

Maka, siapa tahu, dengan presiden dan wakil nya yang baru dan bukan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, Indonesia akan berubah menjadi lebih baik. Adil dan makmur.

Jadi, pemilu kali ini, saya akan mencoblos Sandiaga Uno.

Salam NKRI harga mati!

Anak Muda, Mari Memilih Pemimpin Bangsa


Kampanye rasanya sudah tidak asing lagi. Apalagi ketika Pemilu sudah dekat.

Saya selaku anak muda yang merasa memiliki dan cinta akan tanah air, pastinya akan turut ikut serta dalam pesta rakyat ini. Namun, pesta bukan sekadar pesta. Untuk menghadiri sebuah pesta kita harus mengetahui tata caranya.

Semisal memilih pakaian yang pas atau cocok untuk menghadiri pesta tertentu. Ini sesuai dengan ruang dan pesta yang kita akan datangi. Agar nanti saat pesta berlangsung kita pribadi merasa nyaman. Pesta pun berjalan aman.

Pun begitu rasanya saat nanti pelaksanaan pesta rakyat. Kalau mau menghadiri pesta besar rakyat tentu kita harus mengumpulkan data dan referensi yang sangat matang. Agar tak terjebak pada tujuan kita pribadi.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan data serta referensi untuk memilih saat pemilu nanti. Bisa kita lihat dari berbagai macam bentuk kampanye. Baik melihat langsung dengan mata dan kepala kita sendiri apa yang ada di sekitaran kita atau melihat dari balik sosial media.

Apapun medianya, tentunya sudah tidak asing lagi soal informasi calon-calon yang akan menjadi kandidat wakil rakyat. Tak terkecuali calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), kedudukan dan peringkat tertinggi untuk negara kita.

Ada banyak hal bentuk-bentuk kampanye. Pertama kita sudah tidak asing lagi dengan baliho ataupun iklan-iklan di pinggir jalan. Bahkan karena terlalu banyaknya baliho di pinggir jalan, saya kadang sampai terheran-heran rasanya melihat begitu banyak foto para calon kandidat beserta visi misinya.

Paling sering saya jumpai adalah jargon “membangun lingkungan masyarakat yang bersih, jujur dan adil.” Kalau boleh saya tertawa kecil. Mau bersih dari mana, Pak? Orang tim suksesnya saja masang baliho ngawur gitu.

Kadang dipaku di pohon, kadang dilem kertas di tiang listrik, kadang membagikan brosur di jalanan setelah dibaca akan di buang oleh masyarakat. Itu sah saja bagi saya. Mungkin untuk kepentingan memenangkan pemilu nanti.

Namun, kalaupun kepilih atau tidak, ingat saja dibersihkan kembali agar tak terlihat omong kosong. Tentu saja untuk kita khususnya saya sebagai anak muda yang akan memilih, ditambah lagi orang awam soal ini. Justru kampanye seperti itu sangat membantu untuk menentukan pilihan. Agar nantinya tidak golput atau asal-asalan.

Ada juga bentuk kampanye langsung oleh calon dengan massa yang datang secara langsung di suatu tempat terbuka. Di sana biasanya akan lebih terlihat lagi, seberapa jauh calon wakil rakyat itu sudah memiliki massa pada daerah tertentu.

Tentu saja pada bentuk kampanye ini pasti ada tim sukses atau tim hore. Ini juga bisa menjadi referensi agar kita mengetahui visi dan misi kandidat tersebut dengan cara ikut secara langsung jika ada waktu luang. Namun, hati-hati. Kadang-kadang beberapa orang yang tak lazim melontarkan ajakan tidak baik. Ada juga yang menyebar hoax.

Kita sebagai anak-anak muda biasanya terjebak dengan ajakan yang menjelekkan satu sama lainya. Padahal kita sendiri kalau mau jujur belum mengerti sejauh mana diri kita mengenal calon kandidat, dan seberapa jauh mengenal dunia politik.

Jadi, kalau boleh saya sarankan, jangan sampai terjebak dan buta oleh hal itu. Hati-hati juga dengan kampanye yang memberikan sangu untuk kuliah atau kampanye yang menyebarkan kebencian pada ras atau agama berbeda. Kita sedang memilih dan memikirkan perkembangan Indonesia sebagai negara berkembang, bukan soal hari kiamat sudah dekat.

Jangan terkecoh teman-teman.

Ada pula kampanye yang sudah tidak asing lagi, bahkan tidak bisa kita tolak adalah dunia maya atau media sosial. Di ruang ini segala informasi dengan cepat kita dapatkan, pun soal kampanye. Saya saja sampai terheran, baru saya buka Facebook sudah ada bentuk kampanye terulis atau foto dan video. Baru saya buka instagram sudah ada kampanye lagi.

Ya, saya tidak menyalahkan. Karena memang pemilu sebentar lagi wajar saja jika hal itu terjadi. Saya pun tidak bisa menghindar dalam hal itu. Pernah ingin menghindar pun tidak bisa karena terus saja informasi itu terbarui. Jadinya mau tidak mau saya lihat dan baca-baca. Mungkin saja bisa jadi referensi saya untuk memilih agar saya mengetahui siapa yang cocok untuk saya pilih.

Namun, ada kejanggalan juga ternyata bentuk kampanye seperti ini. Ada saja oknum-oknum pengguna media sosial tertentu yang boleh saya katakan terlalu berlebihan membela atau menjelekkan lawan kandidatnya. Mungkin tedensinya agar masyarakat ikut-ikutan dan gampang percaya akan hal itu.

Nyatanya? Justru malah ada lagi oknum-oknum yang tidak terima jika kandidatnya difitnah atau dijelek-jelekan. Mereka malah membalas dengan cara yang lebih dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Sampai kalau saya lihat malah seperti menebar kebencian antar satu sama lain. Ditambah lagi kalau saya lihat pada postingan tertentu pasti isi komentar yang kadang melenceng dari konteks pembicaraan sehingga membuat percikan kebencian semakin membesar.

Di sini saya ingin mengungkapkan perasaan saya kepada teman-teman muda yang budiman. Selain media sosial sebagai alat yang mudah untuk mencari referensi dan data soal kandidat yang akan kita pilih, janganlah kita sampai termakan oleh berita-berita yang tidak penting.

Kalau boleh saya katakan, tidak ada orang yang bodoh untuk dipilih menjadi capres dan cawapres. Semua sudah diperhitungkan segala kemungkinanya. Hanya saja kita yang jangan sampai terhasut oleh oknum-oknum yang tidak baik itu. Jangan menerima dan menelan segala informasi khusunya di dunia maya dengan bulat. Coba dikunyah sedikit.

Bayangkan saja teman-teman makan bakso toh tidak mungkin langsung ditelan ‘kan? Kunyah dahulu, dirasakan bagaimana rasa baksonya agar mendapat rasa yang benar-benar bakso. Jangan sampai kita sebagai jiwa muda malah ikut-ikutan menjadi sumbu kebencian. Bagaimana kita sebagai penerus bangsa? Ada baiknya kita mencurigai setiap informasi yang kita terima dari media sosial, guna memperkuat pilihan kita nanti.

Pada tahap selanjutnya, jika sudah menerima berbagai info dan referensi saatnya kita memilih, untuk kemajuan dan perkembangan negara kita. Jangan sampai malah masa bodoh soal ini. Jangan buta teman-teman.

Saya sering mendapat perkataan kecil yang sering menjanggal di hati ketika berbicara atau berkumpul dengan teman-teman, “Terserah siapa presidenya, tetep aja kita miskin. Tetap aja kita susah nyarik uang, tetap saja kita jadi pengangguran.”

Kalau soal ini saya pribadi malah terkadang ingin berbicara. Hanya saja sepertinya dia memang masa bodoh soal ini. Kalau masih ada yang berbicara seperti itu, wahai teman-teman muda yang budiman, sadarkah teman-teman bahwa setiap capres dan cawapres sudah menjanjikan adanya lapangan kerja yang banyak?

Bahkan saat menjabat pun sudah banyak sekali lapangan kerja yang ada. Hanya saja teman-teman sendiri yang terkadang masih menganggap remeh soal pekerjaan. Kerjaanya hanya di warung kecil memesan es sambil ngerokok. Lah gimana pekerjaan dan kekayaan akan datang? Tiba-tiba menyalahkan presiden.

Ayolah teman-teman buka hati dan pikiran. Jangan sampai buta. Sudah saatnya sebagai penerus bangsa yang baik kita wajib menentukan siapa yang benar-benar cocok menjadi pemimpin kita. Sesuai dengan pilihan teman-teman dengan pasti, kemudian bergerak dan tidak hanya bermalas-malasan dengan mengharap bahwa semuanya akan datang sendiri tanpa berusaha.

Sekali lagi, sudah saatnya kita menentukan bangsa kita ke depan dan menjadi penerus bangsa yang berguna nantinya. Ayo ke TPS pada 17 April nanti. Suara kita menentukan nasib Indonesia ke depannya. Gimana udah cocok belum saya sebagai pemuda bangsa?

Ya, mungkin sedikit tambahan lagi dari saya. Sebagai anak muda yang tidak paham betul soal politik. Setidaknya jangan buta soal ini. Mungkin dengan mencurigai segala informasi dan tidak ikut-ikutan menjadi onknum penyebar kebencian kita bisa menjadi pemilih yang baik, dan cocok dengan fostur umur kita.

Ya, walaupun kita dibilang sebagai pimilih dan penyumbang suara yang ecek-ecek, setidaknya kita menyikapi ini dengan sedikit dewasa dan berpikiran terbuka. Agar tak terlihat seperti orang yang paham betul soal politik, tapi nyatanya malah memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat. Mungkin dengan seperti ini kita sebegai anak muda bisa terlihat lebih santai kayak di pantai. Salam santai teman-teman. [b]

The post Anak Muda, Mari Memilih Pemimpin Bangsa appeared first on BaleBengong.