Tag Archives: Pluralism

#BreakTheSilence Seminar untuk Menggunakan Suara dengan Bijak

Anton Muhajir, salah satu narasumber, sedang membagikan pengalamannya bermedia sosial. Foto: Dokumentasi Panitia.

Pernah dengar Facebook Global Digital Challenge (FGDC)? 

Inilah salah satu program kampanye platform media sosial terbesar abad ini, Facebook. Platform jejaring sosial ini mengajak mahasiswa di seluruh dunia untuk menunjukkan kepada masyarakat.

Bahwa media sosial dapat menjadi wadah positif yang memberikan banyak keuntungan jika dipergunakan dengan bijak.

Salah satu kampus di Indonesia yang terpilih untuk ikut pada program kerja sama dengan EdVenture Partners ini adalah Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar. Lima mahasiswa Undiknas yang berhasil lolos seleksi pada tahap pendaftaran peserta adalah; Sean Conti dari Jurusan Manajemen, Deviyanti Putri dan Upayana Wiguna dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ada Pipin Carolina dari Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum dan  Maria Pankratia dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kegiatan ini dimulai dengan tahap seleksi sejak Januari 2017 dan akan berakhir pada pengumpulan laporan kegiatan pada Juni 2017. Para Peserta wajib mengirimkan esai yang menjelaskan motivasi mereka untuk terlibat dalam kegiatan ini.

Kelimanya terpilih setelah melewati proses seleksi cukup ketat dari pihak EdVenture Partners. Pada Februari 2017, tim ini pun mulai bekerja. Bersama dengan Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, selaku Direktur Akademi dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Ida Nyoman Basmantra, MPD selaku Manager Team yang juga Koordinator Divisi Kelas Internasional, Undiknas Denpasar, tim ini membahas mengenai tema besar apa yang sebaiknya diangkat dalam kampanye ini.

Melihat situasi Bangsa dan Negara Indonesia yang mulai diserang berbagai macam isu radikalisme, pada akhirnya sebuah gagasan tentang #BreakTheSilence muncul. Sebuah kampanye yang menyasar para silence majority, orang-orang yang selama ini memiliki cukup wawasan dan memahami situasi namun lebih memilih diam.

Seperti ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa, “Dalam situasi perang, ketika kamu tidak memihak siapa pun, kamu sebenarnya sedang mendukung pihak yang berkuasa.” Kampanye ini berusaha mengajak lebih banyak orang untuk peduli dan menentukan sikap sehingga tidak semakin banyak orang-orang picik yang mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan segala sesuatu yang sudah susah payah dibangun oleh para pendahulu.

Menindaklanjuti ide ini, beberapa konsep kegiatan dirancang. Antara lain kunjungan ke panti asuhan, kompetisi foto dan video bercerita, pembuatan video testimoni dan social experiment serta produksi film.

Ada juga Seminar bertajuk “Pluralisme Dalam Hubungannya dengan Media Sosial.” Seminar ini diadakan pada 29 Mei 2017, diikuti 250 Mahasiswa/I Undiknas Denpasar serta melibatkan 30 orang Panitia yang bekerja sama mensukeskan kegiatan.

Seminar #BreakTheSilence membahas tentang Bagaimana memaknai Keberagaman dan menyuarakannya secara bijak melalui Media Sosial yang ada sehingga memberikan dampak baik yang besar bagi seluruh masyarakat dunia.”

Hadir selaku Pembicara, ada Dea Rangga, Selebgram; Yoga Arsana dan Sugi Suwartana, pasangan Youtubers; dan Anton Muhajir, Editor, Jurnalis dan Blogger. Kepada para peserta yang hadir, keempat narasumber dan Tim Facebook Global Digital Challenge saling berbagi pengalaman dan anjuran tentang penggunaan media sosial di tengah arus informasi yang berlebihan seperti sekarang ini.

Melalui Seminar ini, diharapkan makin banyak mahasiswa yang disadarkan untuk menggunakan internet serta media sosial dengan bijak, juga tidak alpa untuk meneruskan pesan baik ini kepada orang-orang yang mereka temui di lingkungan sekitar mereka.

Saatnya bersikap, peduli dan menggunakan suaramu dengan bijak! Lebih lengkap tentang Kampanye #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, bisa dilihat di:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC

Jangan lupa untuk Follow dan Subscribe akun-akun di atas. Terima Kasih. Salam Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!

The post #BreakTheSilence Seminar untuk Menggunakan Suara dengan Bijak appeared first on BaleBengong.

MUSIK DAN PERGERAKAN BERSAMA RUDOLF DETHU

Bisa dibilang, melalui kata dan tulisan Rudolf Dethu, scene musik Bali kemudian didengar dan dibaca. Tak hanya oleh penduduk Indonesia, tetapi juga warga dunia. Belakangan, Dethu juga aktif dalam beberapa movement yang aktif dalam melawan ketidakadilan. Di sela-sela aktivitasnya, whiteboardjournal berbincang dengan Dethu mengenai musik, rockabilly dan pergerakan yang ia mulai melalui nada dan bahasa.

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan aktivis Rudolf Dethu (R).

H: Mas Dethu aktif di berbagai aktivitas, tapi sepertinya musik merupakan salah satu katalis utama diantaranya, ada alasan tertentu?

R: Saya mengawali segalanya sebagai penikmat musik. Dulu saya sempat bekerja di kapal pesiar, mengikuti keluarga saya yang berprofesi di bidang pariwisata. Hampir lima tahun saya bekerja di kapal pesiar, ternyata saya tidak terlalu menikmatinya. Tapi di saat yang sama, saya mendapat banyak musik dari luar negeri yang saya suka. Saat itu saya mengumpulkan CD, dan vinyl dari kunjungan saya bersama kapal pesiar ini. Dari musik yang saya kumpulkan, saya lalu membuat materi siaran radio saya sendiri. Dan dari situ saya baru merasa bahwa musik adalah jiwa saya. Dari situ saya lantas mencoba lebih dalam dengan menjadi manajer band, dan berbagai aktivitas lainnya.

Sekian tahun mendalami musik, saya lalu sadar bahwa musik memiliki kekuatan besar yang bisa jadi inti pergerakan. Ketika kami menghadapi berbagai isu sosial dan alam yang harus dilawan, kami kemudian melihat bahwa musik bisa jadi salah satu corong suara. Akhirnya sampai sekarang kalau kami bikin movement, selalu ada divisi musik untuk menggalang massa. Karena musik adalah bahasa yang universal, bisa menembus segala macam segmen. Inilah kenapa musik selalu kuat posisinya dalam setiap pergerakan yang kami mulai. Tapi positifnya, band yang kami ajak dalam pergerakan tak hanya berperan melalui musiknya. Ketika harus turun ke jalan, mereka juga ikut disana. Jadi keterlibatan mereka nyata, bukan cuma tempelan.

H: Salah satu pencapaian besar dari Dethu adalah menjadi manajer dari Superman Is Dead. Membawa sebuah band yang relatif tak dikenal dari Bali menjadi salah satu yang terdepan di Indonesia, kenapa justru meninggalkan band ketika band sedang di puncak?

R: Saya sempat “meninggalkan musik”, dalam artian saya pernah dalam masa tak memegang band selama beberapa tahun. Ketika itu saya mulai merasa jenuh, karena setiap kali ada pentas untuk band yang saya manajeri, saya jatuhnya jadi selalu stress karena harus mempersiapkan berbagai hal. Saya merasa bahwa saya tak bisa lagi menikmati musik ketika ada panggung. Saya merasa bahwa kekuatan utama saya ada pada berbincang-bincang, menulis dan mengabarkan berita kepada semua, dan hal ini hilang ketika saya berperan sebagai manajer band.

Saya lantas memutuskan untuk berhenti jadi lalu berfokus pada usaha clothing yang saya miliki saat itu. Ketika itu saya juga ingin mendalami dunia tulis menulis. Maka jadilah satu buku biografi Superman Is Dead yang berjudul Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! itu. Selain itu saya juga sempat menulis buku yang berjudul Blantika Linimasa yang mendokumentasikan scene musik Bali.

H: Apa yang kemudian menjadi trigger untuk kembali menjadi manajer band sekarang ini?

R: Yang membuat saya kembali ke dunia music showbiz adalah Leonardo and His Impeccable Six. Saya sangat mencintai band itu. Baik di panggung, maupun di luar panggung. Leonardo Ringo adalah sahabat saya.

Suatu saat ia datang kepada saya dan meminta saya memanajeri mereka. Saya tak mungkin menolak permintaannya, karena saya sangat menggemari musik mereka. Tak lama setelah itu, The Hydrant menghubungi saya dan meminta hal yang sama. Yang saya pikir saat itu adalah sepertinya pas dua band ini, kuat secara attitude, slick tampilannya dan sama-sama klimis (tertawa).

Prinsip saya dalam menjadi manajer sangat sederhana sebenarnya. Saya tidak akan memanajeri band yang saya tidak suka musiknya. Sebesar apapun bandnya, kalau tidak suka, saya tidak akan mengambilnya. Toh ketika menjadi manajer saya juga tak pernah menggaungkan nama saya di atas nama band-nya. Posisi yang saya ambil cenderung lebih ke ghostwriter dalam menjadi manajer band. Band yang saya pegang juga semuanya memiliki kedekatan secara personal dengan saya pribadi, ini penting bagi saya. Karena saya sebenarnya tak memiliki strategi khusus dalam menjadi manajer. Saya tidak seprofesional itu. Kalau boleh jujur, I’m not very good at being a manager. Yang biasa saya lakukan adalah menceritakan band saya melalui foto dan cerita. Dengan dekat dengan setiap personelnya, maka cerita yang keluar natural adanya. Tidak dibuat-buat. Kalaupun ada gimmick dalam hal tulisan misalnya, yang harusnya pakai tanda seru satu, saya tambah jadi tiga (tertawa).

H: Bagaimana perjalanan Mas Dethu ketika itu dan bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi sekarang?

R: Kalau dibandingkan, kondisi sekarang jelas lebih mudah. Teman-teman saya yang masih sama-sama berjuang ketika awal saya membangun jaringan dan skena di Bali, sekarang sudah menjadi tokoh di bidangnya masing-masing. Jadi ketika saya memiliki progam sekarang, mereka akan dengan senang hati ikut memberitakan, atau bahkan mengajak band saya ikut bermain di acara mereka. Jauh lebih mudah dibanding ketika dahulu.

H: Kalau pergulatan di scene bagaimana? Terutama mungkin ketika dahulu?

R: Pergulatan skena di jaman dahulu jelas lebih berat. Dulu itu ngeri banget. Terutama di skena punk rock-nya ya. Mereka bukan cuma memaki, tapi juga menggunakan kekerasan fisik. Di jaman awal SID, kami adalah band punk rock yang datang dari Bali untuk bersenang-senang, tapi ketika kami keluar dari Bali, ternyata keadaan yang ada sangat berbeda. Contohnya, kami biasa mengkonsumsi alkohol sebagai bagian dari rutinitas panggung, tapi ketika kami keluar, hal yang menurut kami sederhana, ternyata jadi masalah tersendiri (tertawa). Dan dari situ, banyak yang kemudian nge-judge kami dengan tuduhan imoral, miskin moral dan semacamnya. Bahwa kami berusaha menyebarkan budaya negatif. Padahal minum alkohol adalah hal yang sangat normal di Bali. Yang disayangkan adalah ketika ada yang tidak sepakat dengan kebiasaan kami, mereka menggunakan kekerasan fisik untuk melawannya. Untungnya SID itu mampu membuktikan bahwa meski mereka kena berbagai macam stigma, mereka mampu bertahan. Sekarang saya rasa keadaannya lebih mudah. Scene jaman sekarang lebih open-minded terhadap berbagai budaya yang ada.

H: Ada karakter yang cukup menonjol dari musik yang muncul dari Bali, terutama mungkin tampilan rockabilly yang kuat, darimana karakter ini muncul?

R: Sebenarnya mungkin karakter ini muncul secara tidak sengaja. Di banyak aspek, Jakarta adalah tempat pertama yang menerima budaya dari luar negeri. Termasuk dalam musik punk, jadi anak punk dengan spike pertama ada mungkin di Jakarta. Hal yang sama juga berlaku pada subkultur lain, semua sudah berkembang lebih dahulu di kota-kota besar. Sementara di Bali, ada satu tempat dimana kami masih bisa steal the show, yakni melalui punk rock ala Amerika dan rockabilly. Dan ini pas dengan kondisi kota Bali yang penuh kegembiraan dan suasana santainya. Budaya street-punk kurang laku di Bali, agak susah untuk jadi depresi di alam yang sejahtera seperti di Bali. Se-street punk apapun orang yang ada di Bali, kalau pulang ke rumah juga akan tunduk pada ibunya dan tidur di rumah, tak akan di jalanan juga. Rockabilly dalam hal ini pas untuk menggambarkan nuansa gembira dari Pulau Bali.

Tapi dari kondisi yang demikian juga ada dilema tersendiri. Awalnya ketika mengajak anak-anak ini untuk ikut bergerak, mereka kebanyakan tak mau. Mereka tidak biasa diajak protes, karena keadaan yang nyaman. Tapi pelan-pelan mereka akhirnya mau untuk ikut turun karena mereka melihat keadaan di sekitar mereka berbeda. Yang menarik adalah ketika anak-anak ini turun, pendekatan yang mereka gunakan juga asik. Dimana mereka turun ke jalan sembari menyanyi, dan bersenang-senang. Mereka memperjuangkan aspirasi dengan rasa gembira di dada. Tak pernah ada kerusuhan di dalamnya.

H: Dethu aktif dalam mengkampanyekan semangat keberagaman melalui musik. Bagaimana sejauh ini peran musik sebagai motor utama pergerakan?

R: Bagi saya, keberhasilan utama kami dalam berkampanye adalah mengumpulkan ribuan nama baru untuk bergabung dalam pergerakan dan turun ke jalan bersama. Musik sekali lagi menjadi alat bagi kami untuk mengundang orang untuk ikutan. Dalam beberapa kali aksi yang kami gelar, banyak orang bergabung hanya karena melihat ada personil Navicula, Dialog Dini Hari atau Superman Is Dead di situ, tanpa tahu isu apa sebenarnya yang kami angkat.

Kami memang menerapkan strategi dimana kami tidak pilih-pilih siapa orang yang bisa bergabung dengan kami. Kalaupun ada yang cuma ingin ikut keren-kerenan saja, kami akan menerima dengan tangan terbuka. Seiring waktu, mereka akan belajar bersama kami tentang masalah apa yang kami lawan bersama. Semangat inilah yang menjadi dasar tumbuh kembang pergerakan kami. Dengan ini pula, kami semakin percaya bahwa musik adalah senjata, ini mungkin terdengar klise, tapi kami merasakan sendiri buktinya. Kampanye kami selalu berjalan tanpa uang, atau modal tertentu, hidupnya mungkin hanya dari jual kaos, tapi musiklah yang membuat suara pergerakan kami lebih lantang untuk melawan penindasan dengan modal uang trilyunan.

Sekarang, kalau SID main, akan ada ratusan bahkan ribuan orang yang memakai kaos Bali Tolak Reklamasi. Dan ini terjadi bahkan di luar Bali, rasanya seperti ribuan orang tersebut tahu dan menghadapi masalah reklamasi bersama kami.

Semangat ini powerful sekali. Mereka juga sangat militan dalam mendukung dan menyuarakan kegelisahan kami. Tak hanya di musik punk rock, musik folk juga sama pergerakannya. Mungkin hampir sama dengan musik era 50 atau 60’an jaman dahulu dimana musik folk dan budaya hippies menjadi katalis perlawanan.

H: Belakangan, Mas Dethu cukup aktif dalam mengkampanyekan keberagaman. Apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang Mas Dethu sebagai warga Bali yang lekat dengan bermacam budaya? Dan kenapa keberagaman penting bagi Mas Dethu?

R: Saya memiliki pengalaman yang tak mengenakkan dalam hal ini. Ketika menjadi manajer SID, salah satu tuduhan yang sering menghampiri kami adalah tuduhan bahwa kami adalah band rasis yang anti orang Jawa. Ini sebuah tuduhan omong kosong yang entah darimana datangnya. Ada yang bilang bahwa tembok latihan kami bertuliskan “Anti Jawa”, atau bahwa ada tato “Fuck Java” di tubuh personil SID, dan semua tuduhan tersebut bohong besar. Padahal pacarnya Bobby (gitaris/vokalis SID) orang Surabaya dan kru kami ada yang dari Tegal. Sayangnya, banyak orang yang percaya dan isu ini menjadi semakin besar. Karena meski isunya sangat dangkal, ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan dari situ timbul kebencian yang tak berdasar.

Ketika saya masih kesal dengan isu tadi, muncul lagi isu besar mengenai pornografi yang jelas-jelas mengoyak semangat pluralisme di Indonesia. Digerakkan hanya oleh sekelompok kecil orang yang anti keberagaman, tiba-tiba muncul undang-undang yang memojokkan orang Bali karena budaya kami akan terganggu dengan undang-undang itu. Trus ada lagi peraturan tentang pelarangan minuman beralkohol, ini semakin menunjukkan bahwa keberagaman sedang terancam di sini. Padahal, minuman beralkohol sebenarnya adalah bagian dari kebudayaan lokal – hampir semua daerah memiliki minuman alkohol khas masing-masing. Juga bahwa seharusnya negara tidak ikut campur pada keseharian orang-orangnya. Toh, minuman tersebut kami dapatkan secara legal, orang lain tidak memiliki hak untuk mengatur apa yang kami konsumsi. Sekarang ada kekerasan seksual dikaitkan dengan minuman beralkohol, ini omong kosong. Ini pandangan sempit yang cenderung menyederhanakan masalah. Yang salah orangnya, bukan minumannya.

Di Bali, yang saya lihat adalah kami adalah daerah yang menjunjung tinggi keberagaman, dan terbukti bahwa keberagaman berpengaruh pada perilaku masyarakatnya, Bali adalah salah satu tempat yang tingkat kriminalitasnya paling rendah.

Dari yang saya lihat, ketika paham keberagaman itu telah dipegang dan dihidupi pada sebauh masyarakat, maka jadinya masyarakatnya akan lebih ramah dan humanis. Ini terbukti pada peristiwa Bom Bali, ketika bom meledak, tak ada yang kemudian menjarah toko, merampas uang turis atau vandalisme lain. Kearifan seperti ini akan terganggu bila keberagaman diusik.

H: Bagaimana Dethu melihat intoleransi yang semakin meningkat beberapa tahun terakhir?

R: Saya jelas sedih. Hal ini menggerakkan saya bersama beberapa teman untuk keliling kampus dan menyurakan semangat toleransi pada mahasiswa sebagai representasi generasi muda. Dan yang membuat saya semakin sedih adalah ketika menjalankan itu, kami sering mendapat ancaman. Saya yakin bahwa intoleransi ini tumbuh karena generasi kita miskin ilmu pengetahuan, karena kalau mereka tahu, mereka harusnya semakin toleran terhadap budaya lain. Ini sangat berbahaya. Jadi meski capek, saya akan terus melawan gerakan intoleran. Di titik tertentu, gerakan seperti ini juga merupakan food for the soul bagi saya.

H: Beberapa tahun terakhir, kalangan di Bali cukup aktif dalam mengkampanyekan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa”, apa sebenarnya masalah yang dihadapi dan bagaimana perkembangannya hingga sejauh ini?

R: Jadi begini, ada sedikitnya tiga masalah utama dalam proyek reklamasi Teluk Benoa. Satu adalah isu sosial dan lingkungan. Bali sudah memiliki ribuan kamar hotel yang surplus, jadi buat apa membuat hotel baru kalau yang ada sekarang saja masih sisa? Kalau alasannya untuk menampung tenaga kerja – ini alasan klise yang selalu dijadikan excuse dari pengembang, yang ada adalah orang-orang pun tak akan mau bekerja kalau nantinya hotel mereka sepi dan tak laku. Kalaupun nantinya kamar-kamar tersebut laku, maka Bali yang sekarang sudah macet, bisa semakin penuh lagi jalanannya. Kalau macet dan semakin penuh, apakah kita akan bisa menikmati hiburan alam di sana? Tentu tidak.

Yang kedua adalah masalah di Teluk Benoa sendiri. Teluk Benoa itu adalah muara dari 6-7 sungai besar di Bali. Jika nantinya di tengah Teluk Benoa akan diisi sebuah pulau buatan, maka pasti air sungai tersebut akan meluap ke daerah sekitar. Tak perlu jadi Einstein untuk tahu bahwa kalau nanti ada pulau baru di tengah Teluk Benoa, akan jadi banjir di sana. Ini logika sederhana saja. Kalau pengembang bisa dapat izin AMDAL, maka izin tersebut patut untuk dipertanyakan kebenarannya.

Belum lagi mengenai fungsi kawasan tersebut yang merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi. Sayangnya, beberapa bulan sebelum lengser dari jabatan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono mengubah fungsi kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan pariwisata yang memungkinkan area tersebut untuk direklamasi. Dan yang mencurigakan adalah izin dari SBY yang membuka izin bagi pengembang persis sesuai luas wilayah yang diinginkan oleh penggerak reklamasi.

Pihak pengembang juga selama ini berkata bahwa seolah-olah proyek ini dibuat demi “kemaslahatan” penduduk Bali. Kalau memang benar mereka membuat proyek ini untuk orang Bali, harusnya mereka melakukan pengembangan di luar daerah Selatan yang sudah overload. Padahal kalau mereka benar-benar setulus itu, ada daerah utara Bali yang lebih butuh pengembangan lebih lanjut. Ini menjadi bukti kesekian tentang tipu daya mereka.

Awalnya rakyat tidak tahu menahu, kami yang sedari awal curiga tentang motif dari proyek ini lantas semakin khawatir ketika kekuatan besar seperti mantan Presiden SBY ikut campur didalamnya. Ketika kami telusuri lebih jauh, hampir semua aparat pemerintah juga sudah dibeli oleh pengembang. Rakyat Bali disini jadi yatim piatu yang tak dipedulikan. Setelah kami giat mensosialisasikan, rakyat kemudian sadar bahwa pengembang tak memperhatikan mereka sama sekali, dan hanya memikirkan berkembangnya bisnis real estate mereka di proyek ini. Bahwa proyek reklamasi adalah murni bisnis real estate semata, tak ada urusannya dengan pengembangan masyarakat dan semacamnya.

Sekarang, rakyat sudah sangat marah. Jika dulu campaign kami masih bernama “Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa”, sekarang ada tambahan “Puputan Teluk Benoa”, yang berarti bahwa rakyat Bali telah siap berperang untuk mempertahankan keberlangsungan hidup ekosistem Teluk Benoa. Ketika Presiden Jokowi akan mengunjungi Bali, oknum keamanan menyebar ke jalanan untuk mencopot poster, baliho atau atribut di jalanan yang dibuat sendiri oleh rakyat untuk menolak proyek reklamasi ini. Untungnya, rakyat tidak takut untuk mempertahankannya.

Terakhir, ada kabar dari orang dalam istana yang menyatakan bahwa proyek reklamasi akan tetap dijalankan. Saya lalu berkata beliau ini bahwa kalau istana memberi lampu hijau untuk proyek ini, maka istana juga harus siap melihat rakyat Bali berjuang hingga tetes darah terakhir untuk mencegah proyek ini berjalan. Ini bukan omong kosong, rakyat sudah siap mati untuk ini. Karena pergerakan rakyat ini juga bukan pergerakan yang instan, telah 4 tahun lebih kami berjuang dan ini bukan gerakan main-main.

Dan tampaknya, sebenarnya pengembang juga telah menyadari kekuatan yang kami miliki. Tapi entah kenapa mereka enggan menyerah. Hingga suatu ketika, pemimpin pengembang ini menggelar press conference dan memimpin sendiri sesi itu sembari menyatakan bahwa beliau telah mengeluarkan uang 1 trilyun untuk melancarkan jalan proyek ini, jadi kalau proyek ini dihentikan, orang-orang yang menerima uang 1 T dari saya juga harus dikuak. Kami lantas agak bertanya-tanya siapa saja yang telah menerima uang tersebut. Tapi di sisi lain kami juga merasa bahwa kalau si pemimpin ini sudah turun tangan sendiri untuk ngomong kepada publik tentang modusnya, ini berarti pergerakan yang kami mulai ada dampaknya. Setelah kami nonton bareng sesi press conference itu, saya bersama teman-teman bertepuk tangan, karena at some point itu pencapaian bagi kami (tertawa). Mungkin dalam hal ini kami kalah secara materi, tapi selama masih punya dukungan dari masyarakat dan KPK saya masih optimis. Kalau dulu kita bisa menurunkan Suharto dari kursi presiden, maka harusnya kita juga bisa menggagalkan usaha developer ini. Ini jadi semangat kami.

RD2

H: Apa visi dari gerakan MBB yang Mas Dethu inisiasi ini?

R: Belakangan saya aktif dalam membuat gerakan pluralisme yang saya namai Forum MBB − Muda, Berbuat dan Bertanggung jawab. Disitu saya berusaha untuk menyebarkan semangat keberagaman. Pergerakan ini merupakan perpanjangan dari movement yang saya mulai ketika kami melawan UU Pornografi di tahun 2008. Meski saat itu saya dan kawan-kawan gagal untuk melawan disahkannya UU Pornografi, ada pencapaian tersendiri disitu. Dari pergerakan saya tersebut, terbentuk jaringan yang berisi individu-individu yang mau bergerak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ini menjadi modal besar bagi saya ketika saya bergabung di gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Awalnya saya sendirian di MBB ini, tapi sekarang saya bergerak bersama Arman Dhani untuk mengkampanyekan semangat pluralisme dan hak-hak sipil. Masih dengan metode dan semangat yang dulu saya pelajari di pegerakan yang telah lalu, saya ingin MBB bisa hidup dan berkembang sembari terus mengkampanyekan semangat pluralisme di Indonesia. Tetap dengan pendekatan pop yang kuat. MBB memiliki website dengan konten yang kuat, facebook page dengan jumlah like ribuan dan terus berkembang hingga sekarang dengan isi yang selalu berfokus pada movement dalam menolak ketidakadilan.

Awal dari MBB ini mungkin ada pada saat dimana saya berperang dengan eks vokalis Rocket Rockers yang dulunya merupakan rekan yang saya hormati di scene punk lokal. Ketika dia tiba-tiba berubah menjadi sosok yang anti keberagaman, saya lalu bertanya, kenapa dia bisa begitu, padahal dia anak punk yang harusnya semangat utamanya adalah liberation. Momen transisi yang drastis ini membuat saya bertanya-tanya, lantas ngapain dia selama ini jadi vokalis band punk, mending bikin lagu religi saja (tertawa). Tapi di satu sisi saya khawatir juga, karena semangat anti keberagaman ini mulai bergerak di area yang saya hidupi. Ini bibit-bibit anti pluralitas yang harus dibasmi, bayangkan, ada dari mereka yang bilang bahwa bersalaman dengan orang yang merayakan Natal itu haram, ini kan absurd. Saya lantas memutuskan untuk melawan. Karena mereka yang anti pluralitas ini lebih militan dan aktif dari kita, maka kita juga harus memulai pergerakan.

Program yang kami persiapkan adalah menyebarkan semangat toleransi, tentang alkohol dan hak publik. Saya sedang membuat proposal tentang acara mengenai kekerasan seksual, di dalamnya kami juga akan mengajarkan mengenai fenomena ini. Aksi ini juga merupakan respon pada pemerintah yang dengan sembrononya mengkambinghitamkan minuman beralkohol sebagai tersangka utama dalam kekerasan seksual ini. Padahal ini juga ada hubungannya dengan ketidakbecusan pemerintah dalam masalah edukasi seksual. Dengan hanya mengkambinghitamkan minuman beralkohol, ini bukan tindakan yang menyelesaikan masalah.

H: Selama ini masyarakat umum hanya mengenal Bali dengan pantai, Kuta, tari Kecak atau baju Bali. Jatuhnya cenderung jadi eksotisme saja. Sebagai salah satu representasi Bali, mungkin bisa diceritakan tentang apa yang sedang terjadi di kultur kreatif di sana?

R: Pantai, hingga Tari Kecak mungkin masih menjadi jualan utamanya. Tapi di scene anak muda, mereka sudah memiliki cara tersendiri dalam berkarya. Masyarakat Bali cukup terbuka dengan budaya urban, dan ini mereka kombinasikan dengan budaya yang ada disana. Seperti tempat yang saya kelola misalnya, Rumah Sanur secara arsitektur menggabungkan budaya Bali dengan gaya urban. Eksotisme masih ada, namun budaya urban juga berkembang di sana, anak muda Bali sudah paham bahwa kalau kami tetap tak berkembang, hasilnya akan membosankan juga, jadi mereka membuat bentuk karya baru yang berbeda dengan apa yang orang tua mereka lakukan dahulu.

H: Bagaimana Mas Dethu melihat pola yang demikian, karena bisa jadi dengan kebudayaan lokal yang semakin tersisihkan, anak-anak mudanya akan lupa dan kehilangan identitas kebudayaannya?

R: Kalau saya pribadi melihat bahwa langkah anak-anak muda Bali yang menggabungkan budaya lokal dengan gaya urban adalah hal yang tepat untuk dikembangkan sekarang ini. Saya rasa, budaya lokal Bali tak akan hilang, karena budaya kami dicintai oleh banyak orang dan selalu ada yang menjaganya. Para millenial ini harus dibiarkan untuk berkreasi, biar ada kebudayaan Bali jadi lebih ekletik. Ini hal yang positif yang harus dikembangkan.

H: Apa rencana Dethu di masa yang akan datang? Ada proyek tertentu mungkin?

R: Untuk proyek pribadi, saya ingin mengembangkan Rudolf Dethu Showbiz yang akan menjadi tempat bagi band atau musisi lokal yang memiliki semangat untuk menampilkan musik yang membawa kebahagiaan, dan berkualitas. Di luar itu, saya ingin membesarkan MBB. Dua proyek ini ingin saya kembangkan bersama, jadi dengan berkembangnya showbiz, saya bisa meningkatkan appeal MBB juga. Inginnya Rudolf Dethu Showbiz bisa jadi industry of cool yang mengingatkan bahwa rock ‘n’ roll bisa juga menjadi agen perubahan.

Artikel ini saya pinjampakai dari Whiteboard Journal

MBB Working for Colorful Indonesia

JakartaPost-logo

by Marcel Thee

Perhaps the advent of social media opinion-purging makes a case feel more widespread than it is, but fundamentalism and proudly unadulterated discrimination seems to have done nothing but grow over the years.

With increasing outspokenness, ignorance — self-justified in the oddest of manners — can now be fully distributed with a simple tap of the “enter” or “send” buttons.

By the same token, an increasing number of rationale-pushing, socially conscious movements have increasing visibility.

One of them is Muda Berbuat Bertanggung jawab (MBB), which roughly translates as Young and Doing Responsible Things.

Photo: Mayang Schreiber.

Photo: Mayang Schreiber.

MBB describes itself as a “forum of diversity, a vessel to exchange minds, to encourage progressive thinking among youngsters — open, cultured and diverse. Proud to be different, always ‘dangerous’ while also staying responsible. Forward onto a self-determined and colorful Indonesia.”

While it is still relatively young, MBB, established by music manager Rudolf Dethu (whose CV includes the popular Balinese pop-punk group Superman is Dead), has actively taken its activities all over the country.

Open discussions, seminars, and forums are often held in public spaces, including universities, concert halls (between performances) and other places often frequented by younger audiences.

The movement’s key goal is to establish the idea of pluralism in its many forms — not just racial, sexual, or religious, but also in terms of different ideas.

Their most recent battle was against the anti-alcohol law, which sold itself as trying to save the younger generation, but MBB saw as an attack on “civil rights [where] the government controls its citizens’ personal lives”.

MBB has also fought against the Pornography Law, which Rudolf considers was established by “cavemen and those whose heads are caught within the groins. They claim to want to save the young generation but end up being counterproductive, discriminative and, in the end, they blame women for what they consider satanic behavior”.

MBB is also actively taking part in the movement against the “reclamation” of Benoa Bay in Bali, which its supporters claim is about rejuvenating Bali but is in actuality a process of urbanizing one of the rare places still undamaged by commercialization.

Hot issue: Forum MBB aims to encourage progressive and critical thinking among young Indonesians.

Hot issue: Forum MBB aims to encourage progressive and critical thinking among young Indonesians.

Rudolf himself, who is clearly frustrated, takes part as speaker in many of MBB’s discussions, for which he also invites other speakers from different backgrounds and discipline.

“From these discussions, I could see how many of the younger generation aren’t aware that their civil liberties are being trampled upon,” he says, explaining that MBB tries to inform its audience that by not speaking out against these attacks, they are unwittingly letting the government into their most private spaces.

In time, Rudolf suggests, the government might as well decide what its people are allowed to eat, who to date, what time people are allowed to make phone calls.

“The country will continue to consider its citizens as being dumb and in need of constant, detailed control.”

As such, Rudolf is very much aware about the government’s and religion’s grip over its people.

“MBB was bred out of my restlessness with fundamentalist and Taliban-styled [beliefs], which is growing strong in this country — especially amongst youngsters,” he said.

“I was bothered that kids, who since they were young were controlled, told what not to do, choose to be so uncritical. Why would they want to voluntarily be restrained? What’s the use of being educated, or to have read books or articles, traveled afar, if so?”

MBB during the discussion at Salihara, late 2015. | Photo: Maggy Horhoruw

MBB during the discussion at Salihara, late 2015. | Photo: Maggy Horhoruw

It hasn’t been easy. MBB has been accused, ironically, of discriminating against certain beliefs, including those who claim that their Muslim belief justifies the restriction of what is considered pornography, which in reality is simple sexism bordering on misogyny.

“In their essence, Indonesians are warm, friendly, helpful and easy to get along with, but because of the low level of education and the incompetence of the government in taking care of its diverse set of citizens, people are easily roused by those they consider smart and/or religious. And, as such, those kinds of Indonesians turn violent — even to the level of murder. Why? Because they think they are doing religious work.”

Rudolf’s background in music means that he often utilizes musicians whose image of being “cool” can help get the attention of youngsters. He hopes to liberate minds through the power of music.

“Music transcends everything — the color of your skin, your religion, race, your background,” he says.

_________

• Original article: MBB Working for Colorful Indonesia
• The third photo on this page is taken from Facebook. Owner unknown.

Pluralitas dan Pluralisme dari Hongkong

Awas! Ini bukan tentang agama atau anti/pro Jaringan Islam Liberal. Ini tentang pilihan pluralisme.

Kerabat Puspawarna, kembali kita bersua di jagat maya. Semoga anda tetap bugar-berjaya dan terus merdeka menjadi bianglala. Saya memang sengaja beristirahat sebentar dari riuh argumen yang sedang terjadi. Akun Twitter pun saya deaktivasi untuk sementara waktu. Saya pikir ketika sedang baku argumen memang lebih baik lewat tulisan yang tak terbatas di 140 karakter. Debat seyogianya lewat blog saja. Pemaparan pikiran satu sama lain pasti lebih nyaman untuk ditelaah, lalu diangguki setuju atau malah ditolak mentah.

Dari tiga rangkuman opini yang sudah saya beberkan, Surat Terbuka untuk Rocket Rockers, Sesat dan Kafir Harus Bersatu, serta Merdeka Menjadi Bianglala, akhirnya saya mendapat respons Dilema Lini Massa Tentang Pluralisme dan Pluralitas yang, harus saya akui, disusun numerikal, rapi, dan runut. Dan saya baca hingga tuntas. Berbeda dengan tanggapan via Twitter yang ditulis oleh manajernya—what’s his name again?—yang, tanpa mengurangi rasa hormat, tidak saya konsumsi hingga selesai karena cengengesan dan mencla-mencle. Itu manajer ya? Atau road manager? Atau manajer ad-hoc, diambil asal saja dari crew karena posisi manajer sedang lowong? Kicauannya paceklik kharisma. Belum lagi… (Lebih baik saya hentikan kalimatnya hingga di situ saja, saya sedang mendisiplinkan diri agar mengurangi drastis kebiasaan menghina, sebab konon murtad pada adat ketimuran.)

Numerikal, rapi dan runut, itu kelebihan respons tersebut. Saya ikhlas angkat topi. Kekurangannya? Kekurangannya sejatinya bahkan sudah dimulai dari detik pertama, yang awalnya membuat saya malas membaca isinya. Haha. Namun karena susunannya apik saya lalu luangkan waktu sekadar menengok macam mana celotehannya. Ya, benar, kesalahan telah dimulai sejak langkah termula: Lini Massa. Cukup lama saya mencoba memahami apa maksud dari "Lini Massa". Garis masyarakat? Lajur publik? Demarkasi umum? …Ah, ternyata maksudnya linimasa yang merupakan terjemahan cerdas dari frase Bahasa Inggris timeline. Terjemahan cerdas yang (sayangnya) dimodifikasi kembali secara tidak cerdas. *uhuk*

Nah, dari gagap linguistik sedemikian rupa wajar saja jika saya berubah ngikik ketika saya hendak diterangkan tentang kebahasaan: apa makna pluralitas, apa bedanya dengan pluralisme. Membedakan "linimasa" dengan "lini massa" saja masih mencret kok malah sekarang sok menjelaskan dikotomi pluralitas dengan pluralisme. (Apalagi jika saya nyinyir mengkoreksi tulisannya, semisal "ke-bhineka-an". Bung, yang lebih tepat adalah "kebinekaan" karena "bineka" telah masuk menjadi salah satu lema di Tesaurus Bahasa Indonesia yang bermakna seragam dengan "majemuk". Jika pun menggunakan slogan negeri ini, yang benar adalah Bhinneka Tunggal Ika (dengan dua "n", bukan satu). Apa mau saya lanjutkan lagi program pencibiran gagap linguistik ini? Jangan. Kasihan.) Tentu saja berikutnya saya coba didikte bahwa pluralitas harus dibedakan dengan pluralisme blablabla… Bahwa yang ditentang olehnya dan kelompoknya adalah pluralisme theosophy. Uh oh. Mungkin maksudnya adalah pluralisme teosofi (Ingat! Photography disadur ke Bahasa Indonesia menjadi fotografi). Kembali saya menjadi ragu apakah ia betul paham dan tahu apa yang sedang dicerocosinya. Semua kawan-kawannya selalu penjelasannya kurang lebih sama. "Pluralitas itu berbeda dengan pluralisme, mas. Yang kita tolak itu pluralisme agama, mas." Bahkan salah satu personel Rocket Rockers yang lain selain pokalis, eh, fokalis, eh, vochalis—aduh, kena gagap linguistik juga saya jadinya—sudah termakan yaddayaddayadda pluralitas-pluralisme tersebut. "Gue menolak pluralisme tapi setuju pluralitas." Duh Gusti, saya jadi heran, sejak kapan istilah pluralisme itu menjadi negatif? Pluralisme itu bagi saya intinya adalah keadaan keberagaman, terjadinya interaksi dan adanya toleransi. Cenderung netral mengarah positif. Alamak jauh dari negatif. Saking penasarannya, saya kemudian bertanya dengan pakar bahasa Eko Endarmoko, penyusun kamus Tesaurus Bahasa Indonesia, tentang hal ini. Ia pada dasarnya sependapat dengan saya. Kalimat Eko persisnya seperti ini, "Buat saya, ‘pluralitas’ itu fakta, yaitu keberagaman, kebinekaan. Sedang ‘pluralisme’ itu sikap mengakui pluralitas. Saya kira banyak orang rada keliru—termasuk MUI ketika menyatakan bahwa pluralisme menganggap semua agama benar. Itu, kita tahu, namanya monisme."

Sudahlah, cukup ah, saya bosan lagi lelah dengan kisruh pemaknaan macam demikian. Muak akibat butek saling silang teori yang tiada berkesudahan. Mbulet. Mendingan langsung ke praktek saja, satunya kata dan perbuatan saja. Benar, baiklah, jika kemudian di antara kita ternyata hanya berbeda pemahaman dalam istilah, sekadar isu kebahasaan, semata debat panas tentang terminologi, okelah, mari kita kembalikan ke substansi: apa benar Ucay (hore!) menghargai keberagaman, sosok bineka, memang toleran seperti pengakuannya? Jika di sekolah nilai anda rendah dalam mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial (baca: tolol) maka anda akan kambing-congek percaya klaim dia begitu saja. Mulut manis dan berondongan ayat suci saja bukan jaminan. Foto ini—cukup satu saja—sudah sangat agresif berbicara, bisa dijadikan dasar kuat sebagai pijakan tuduhan bahwa pengakuannya penuh dusta:

Bagaimana mungkin mengaku toleran, menghargai perbedaan, jika mengagungkan agresor macam Rizieq dan Ba’asyir sebagai suri tauladan? Ndak mungkin toh? Mustahil kan?

Berbeda jika tokoh yang dijadikannya panutan profil teduh macam Gus Mus dan Gus Dur, misalnya.

Sudah. Cukup. Capek. Saya akhiri baku argumen ini hingga di sini. Doi menang mulut manis dan berondongan ayat suci doang. Prakteknya mah bohong besar.

Bhinneka Tunggal Ika,
RUDOLF DETHU

___________________

*Foto Gus Mus dan Gus Dur adalah pengganti dari foto Gus Mus yang tadinya menghiasi artikel ini. Setelah berdiskusi hangat dan riang lewat e-mail dengan putra Gus Mus, Mas Ova, maka diputuskan untuk mengganti foto Abah—demikian beliau sering dipanggil oleh orang dekatnya—dengan yang lain sebab ternyata puisi yang tercantum di situ adalah bukan karya Gus Mus. Penggantian foto tersebut adalah sekaligus permohonan maaf atas keteledoran saya. Pun substansi dari ujaran saya adalah lebih kepada sosok Gus Mus yang teduh, bukan prioritas pada puisinya. Demikian. Terima kasih.