Tag Archives: Pertanian

Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana

Pegawai di Koperasi Kerta Semaya Samaniya Jembrana menyortir biji kakao fermentasi pada Jumat (20/7). Foto Anton Muhajir.

Menara Kembar di Negara, Jembrana, Bali bagian barat menjadi saksi.

Jumat pekan lalu, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS), mengikat janji kerja sama pemasaran dengan salah satu pembeli kakao fermentasi bersertifikat organik, yaitu PT Cau Coklat Internasional.

Kedua pihak menandatangani kerja sama itu pada seremoni puncak acara Hari Ulang Tahun Koperasi Provinsi Bali ke-71. Acara itu diadakan di Gedung Kesenian Ir. Bung Karno Jembrana yang populer dengan nama Twin Tower alias Menara Kembar.

Kegiatan yang diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional XXV tersebut dihadiri Gubernur Bali (diwakili Sekda), Bupati dan Wakil Bupati Jembrana beserta ibu, para Asisten, Sekwan dan staf ahli. Hadir pula organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Bali dan Kabupaten Jembrana serta para undangan serta masyarakat Jembrana dengan total hadirin lebih 1.000 orang.

Perjanjian Kerja Sama antara Koperasi KSS dengan PT Cau Coklat Internasional mencangkup komitmen aktivitas pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik di antara kedua belah pihak. Melalui perjanjian ini PT Cau Coklat Internasional menjamin tersedianya pasar berkelanjutan bagi biji kakao fermentasi bersertifikat organik yang diproduksi Koperasi KSS. Keduanya menyepakati volume jual beli sesuai dengan kebutuhan pada saat pembelian.

Koperasi KSS merupakan satu-satunya koperasi komoditas kakao di Bali yang membuka pemasaran satu pintu untuk produk biji kakao fermentasi bersertifikat UTZ dan organik di pasar premium lokal, nasional maupun internasional.

Sejak tahun 2011, bersama dengan Yayasan Kalimajari melalui program Kakao Lestari, Koperasi KSS telah berkolaborasi dengan 609 petani kakao dari 41 subak abian di Kabupaten Jembrana untuk melakukan pelatihan berkaitan dengan praktik pertanian kakao yang ramah lingkungan, praktek gizi yang baik, penerapan praktik keuangan yang bijak, termasuk sertifikasi produk.

Saat ini, biji kakao fermentasi Koperasi KSS mampu menembus pasar ekspor premium hingga ke Prancis (Valrhona), Jepang (Tachibana), Finlandia (Godio) dan menjadi penyedia bahan baku untuk perusahaan pengolah coklat nasional seperti POD, Primo, Cau Coklat, Mason, Krakakoa, Tripper, P3ER, Javara, Dari K, dan lain-lain.

Selain itu, biji kakao fermentasi dari Jembrana juga mendapat pengakuan “Cacao of Excellence” yang diselenggarakan oleh organisasi Biodiversity International yang didukung oleh Salon du Chocolat di Paris, pada November tahun lalu.

Penghargaan ini merupakan sebuah amunisi karena mampu memberikan peluang dan insentif untuk semakin berperan aktif dalam industri kakao premium, baik di tingkat nasional maupun dunia. Akibatnya, peran Koperasi KSS pun semakin strategis dalam memastikan biji kakao berkualitas tetap tersedia untuk kebutuhan dunia di masa depan.

Tujuan keseluruhan dari ruang gerak Koperasi KSS adalah untuk menciptakan lapangan kerja, memastikan kondisi kerja yang aman dan sehat, melestarikan lingkungan, meningkatkan produktivitas petani dan menambah pendapatan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan kata lain, Koperasi KSS adalah bukti bahwa lembaga ekonomi bisnis berbasis kemasyarakatan dapat menjadi solusi ekonomi berkelanjutan yang harus didukung perkembangannya dalam meningkatkan potensi lokal menembus pasar global.

Ketua Koperasi KSS, I Ketut Wiadnyana, menuturkan bahwa ditandatanginya perjanjian kerja sama pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik melalui satu pintu ini, dapat memberikan jaminan pasar berkelanjutan serta meningkatkan motivasi pihak yang terlibat untuk tetap berkomitmen memperjuangkan kepentingan bersama menuju kemandirian lembaga koperasi di Jembrana pada khususnya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Sementara pada waktu yang sama, Direktur Utama PT. Cau Coklat Internasional, Surya Prasetya Wiguna, menambahkan perjanjian kerjasama terkait pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik ini sekiranya dapat menguatkan komitmen dalam rantai nilai kakao di Bali pada khususnya. Sehingga petani kakao di Jembrana dapat langsung menikmati harga premium yang ditawarkan oleh pasar, sebagai timbal balik dari konsistensi memproduksi biji kakao berkualitas premium.

Direktur Yayasan Kalimajari, I Gusti Ayu Agung Widiastuti, ketika dihubungi di lain tempat sepakat bahwa penandatangan perjanjian kerja sama di antara kedua belah pihak ini adalah satu langkah menuju implementasi pemasaran kakao fermentasi di pasar premium secara berkelanjutan.

Perjanjian ini bersifat mengikat sehingga dapat dijadikan jaminan komitmen dan konsistensi untuk menyejahterahkan petani kakao di Jembrana yang tergabung dalam program Kakao Lestari melalui Koperasi KSS. [b]

The post Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana appeared first on BaleBengong.

Habis Sawah, Terbit Toko Modern, lalu Mati!

Petani menggarap sawah di antara bangunan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri Tabanan. Foto Made Argawa.

Sebagai kota penyangga Denpasar, Tabanan berkembang cepat.

Beberapa kawasan tampak berubah drastis seperti jalur By Pass Denpasar – Gilimanuk terutama di kawasan Kecamatan Kediri, Tabanan. Toko dan pusat perbelanjaan berjajar di sepanjang jalan penghubung Jawa – Bali ini.

Perubahan ini tentunya berdampak langsung terhadap lingkungan di wilayah tersebut. Makin banyak pembangunan, alih fungsi lahan pun meningkat.

Tabanan memiliki jargon terkenal dan sering diungkapkan oleh pimpinan daerah maupun instansi, Tabanan adalah lumbung padi Bali. Namun, sampai kapan jargon tersebut bisa bertahan?

Data Dinas Pertanian Tabanan, pada 2010 jumlah lahan pertanian di Tabanan seluas 22.455 hektare. Setelah itu luas lahan pertanian di Tabanan terus turun menjadi 22.435 hektare (2011), 22.388 hektare (2012 dan 2013), 21.962 hektare (2014), 21.742 hektare (2015) dan 21.452 hektare (2016).

Apakah Tabanan bisa mempertahankan identitas budaya agraris di tengah gempuran pembangunan? Bagaimana petani berjuang dalam banyaknya masalah pertanian seperti ketersediaan air, regenerasi petani, masalah pupuk hingga pasca panen?

Jargon lumbung padi Bali selayaknya diganti menjadi Tabanan gudang toko modern.

Anggaplah Tabanan sudah gagal mempertahankan budaya agrarisnya karena generasi muda enggan menjadi petani, jargon lumbung padi Bali selayaknya diganti menjadi Tabanan gudang toko modern.

Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu pada 2017, Tabanan memiliki sekitar 126 toko modern atau berprilaku modern yang belum jelas perizinannya. Sementara, 76 lainnya sudah pernah memiliki izin namun belum memperbaharui izin lagi. Totalnya 202 toko modern.

Jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak jika mengacu pada Denpasar atau Badung. Namun, menurut saya jumlah tersebut luar biasa kalau ukurannya untuk kota satelit atau penyangga seperti Tabanan.

Ada moratorium toko modern merujuk pada Surat Edaran Gubernur Bali tahun 2011 mengenai pendirian toko modern. Adalah menunda sementara atau moratorium setiap pembangunan dan pemberian izin pasar modern (hypermaket, supermarket dan minimarket baik minimarket berjeraring maupun non-berjejaring) sampai kabupaten/kota memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detail Tata Ruang yang memiliki kekuatan hukum. Setahu saya saat ini Tabanan belum memiliki Rencana Detai Tata Ruang (RDTR).

Tabanan memiliki Peraturan Daerah (Perda) Toko Swalayan dan sudah ketok palu pada 1 Maret 2016. Namun, celakanya, dalam Perda tersebut masih ada ketidaksingkronan nomenklatur. Pada Bab III, Pasal V, Ayat IV di Perda ini mengatur pendirian minimarket berjaringan hanya dapat dilakukan di tepi jalan protokol dan jalan arteri.

Sementara saat ini klasifikasi jalan yang digunakan oleh Pemerintah Tabanan adalah jalan pemerintah pusat, jalan pemerintah provinsi, jalan pemerintah kabupaten dan jalan desa. Ini menjadi salah satu alasan Perda belum bisa berjalan.

Rupa-rupanya perbaikan teks dalam Perda membutuhkan waktu panjang sehingga pertumbuhan toko modern di Tabanan sama seperti cendawan di musim penghujan.

Seiring dengan itu, pertumbuhan toko modern mengurangi luas sawah.

Mati Oleh Globalisasi

Toh, toko-toko modern itu juga kemudian mati akibat globalisasi, seperti dialami Jhon Khanedy.

Duduk di pojok tokonya yang hanya berisi beberapa barang dagangan, Jhon Khanedy termenung sambil melihat pembeli hilir mudik di toko modern berjaringan (Indomaret) yang tepat berdiri di sebelah selatan toko kelontongnya. Tiga bulan awal pada 2017 omset jualan pria 40 tahun itu menurun 100 persen karena kalah bersaing dengan toko di sebelahnya.

Toko Khanedy didirikan pada 2007 dan harus dijual untuk menutupi hutang Rp 400 juta. Hutang itu dari pembangunan toko dan mengisi modal usaha. Suami dari Ni Wayan Niti itu menceritakan, sebelum berdirinya toko modern berjaringan di sebelahnya pada 1 Maret 2017, omset jualannya lumayan, bisa mencapai Rp 3 juta perhari.

Khanedy berencana setelah tokonya yang berlokasi di Jalan Yehgangga-Pesiapan itu laku, Ia pulang ke rumah istrinya di Desa Tangguntiti, Selemadeg Timur dan kembali akan memulai usaha baru.

Kisah dari Jhon Khanedy mungkin menggambarkan kejadian serupa dibanyak tempat di Tabanan. Masyarakat kalah berhadapan dengan korporasi besar yang berbentuk toko modern berjaringan.

Pada narasi awal film The New Rules Of The World, Jhon Pilger mengatakan globalisasi adalah sekelompok kecil orang-orang yang lebih kaya dibandingkan jumlah keseluruhan.

Toko modern berjaringan adalah pasar yang dikuasai segelintir orang dengan kemampuan membuka outlet secara luas. Sistem yang dibentuk, menjaring pada banyak tempat dan mengantarnya pada satu kantong.

Jika pemerintah daerah berpihak pada wong cilik, persoalan toko modern di Tabanan harusnya tidak sampai berlarut-larut. Menurut saya mutlak dibutuhkan ketegasan pimpinan daerah.

Toko modern semakin memperjelas tampilan globalisasi sebenarnya seperti yang digambarkan Jhon Pilger pada film dokumenternya yang dirilis pada 2001. Globalisasi yang membunuh hajat hidup masyarakat kecil secara langsung, seperti Jhon Khanedy. [b]

The post Habis Sawah, Terbit Toko Modern, lalu Mati! appeared first on BaleBengong.

Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali

Petani menggarap sawah di antara bangunan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri Tabanan. Foto Made Argawa.

Seorang kawan bercerita saat kami bertemu.

Dia menceritakan aktivitasnya saat ini sebagai petani di kampung halamannya. Ia sangat bersemangat dan antusias menceritakan hal tersebut. Kawan saya pembuat film. Beberapa filmnya memenangkan berbagai festival dan kompetisi film.

Saya mengenalnya sebagai pemuda Bali yang cerdas dan kritis. Ia pernah masuk kuliah di beberapa universitas namun tak satupun yang selesai. Mungkin karena kegelisahan yang dirasakan tak mendapat jawaban dari menuntut ilmu.

Sejak beberapa tahun terakhir ia balik ke kampung halaman setelah lama tinggal di Denpasar. Sesekali ia pergi ke Denpasar jika ada acara seni atau ditunjuk menjadi juri festival dan pembicara diskusi seni.

Kawan lain, seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) kini juga menjadi petani. Saya kerap melihatnya menggunggah foto aktivitasnya di kampung halaman dengan latar belakang ladang dan sawah.

Ia dikenal kritis dan pernah bergabung di beberapa LSM serta sering menulis ide dan pemikirannya di koran. Saya bertemu dengannya di sebuah kedai kopi di Denpasar beberapa waktu lalu dan melihat semangat dan jiwa kritisnya tetap sama seperti lima belas tahun lalu saat pertama kali berkenalan dengannya.

Aktivitas terkini dua teman saya tersebut menerbitkan pertanyaaan di benak saya; kenapa memilih menjadi petani? Bukankah masih banyak aktivitas lain yang bisa dilakoni yang berhubungan dengan bakat dan minat mereka?

Soal pilihan hidup tentu saya tak mau mencampuri, namun menarik dicermati tentang bidang yang digeluti yakni pertanian. Saya melihat pilihan dua kawan itusemacam kerinduan pulang ke kampung halaman dan kembali mengulang kenangan masa kecil dalam kultur agraris; menyabit rumput atau memetik kelapa bersama ayah, atau menggembala sapi sambil mandi di sungai.

Kenangan yang mengendap di alam bawah sadar dan muncul kembali saat menginjakan kaki pulang ke kampung halaman.

Setelah lama tinggal di kota dan bergelut dalam aktivitas kota yang banal pulang ke kampung halaman memang semacam oase. Sering kita rasakan ketika pulang kampung merasa betah dan ingin berlama-lama disana serta enggan kembali ke kota.

Namun, karena tuntutan pekerjaan kita mesti balik ke kota dan hidup lagi sebagai pekerja atau orang kantoran. Sedikit orang yang berani memilih pulang dan bekerja sebagai petani, profesi yang kini dipandang sebelan mata dan mulai ditinggalkan generasi muda Bali.

Pilihan kedua kawan saya tersebut tidak salah. Bali kini memang krisis petani. Apalagi alih fungsi lahan begitu masif terjadi. Banyak orang Bali yang menjual tanahnya yang kemudian dijadikan hotel, vila, atau ruko. Tak jarang warga lokal yang menjual tanahnya lalu menjadi pekerja hotel atau vila di bekas tanah yang dijualnya.

Ironis memang.

Di tengah arus pariwisata yang menenggelamkan jati diri orang Bali menjadi petani menjadi semacam “arus balik”, kembali kepada kesejatian orang Bali yang dulunya memang sebagai petani dan hidup dalam budaya agraris. Tak aneh jika program transmigrasi yang menawarkan tanah untuk digarap di luar Bali begitu diminati orang Bali.

Ini menunjukkan bahwa pertanian adalah jiwa orang Bali, bukan industri pariwisata yang semu dan menyilaukan.

Kisah kedua kawan saya di atas bisa dijadikan cermin di tengah kegamangan orang Bali kini yang mencari identitas dan jati diri. Arus perubahan yang begitu dahsyat membuat pertanian sebagai jati diri orang Bali kian terpinggirkan. Sangat mendesak diberlakukannya regulasi untuk melindungi petani dan pertanian. Misalnya dengan menekan atau bahkan meniadakan pajak sawah atau ladang. Dengan demikian petani tidak diberatkan kewajiban membayar pajak yang berujung pada keputusan menjual tanah daripada menderita kerugian karena hasil yang didapat dari pertanian tidak sebanding dengan pengeluaran.

Perlu juga membuat regulasi bagi hotel, vila, atau restoran di Bali untuk menggunakan produk pertanian lokal sehingga petani Bali bisa memasarkan produknya dengan harga bersaing. Namun, semua itu hanya akan menjadi sebatas wacana jika pemerintah tidak mempunyai keberpihakan terhadap Bali.

Para aktivis sudah waktunya menyuarakan pentingnya pertanian bagi Bali dan terjun langsung merasakan hidup sebagai petani seperti yang dilakukan kawan saya. Bukan hal yang mustahil di masa depan pertanian hanya menjadi sebuah cerita dan generasi mendatang melihat sawah sebagai sesuatu yang langka dan klasik, serta menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-cucu kita kelak. [b]

The post Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali appeared first on BaleBengong.

Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus

Kadek Jonita atau Dek Joy menggagas penangkaran burung hantu di Dusun Pagi, Desa Senganan, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Deretan burung hantu terlihat di pinggir jalan dusun di kaki Gunung Batukaru.

Mereka hinggap di depan rumah warga Dusun Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan. Saat malam, burung-burung itu mengeluarkan pendar cahaya dari lampu di dalamnya.

Deretan burung itu memang sekadar lampu. Mereka inisiatif untuk mengenalkan kembali pada generasi kini. Burung hantu adalah predator alami hama tikus yang membuat hasil panen sengkarut.

Beberapa tahun ini, petani di Dusun Pagi resah. Hama tikus merajelala. Panen padi berkurang. Padahal warga sedang semangat menanam padi lokal jenis beras merah yang ditanam enam bulan sekali. Dusun ini juga baru memulai meninggalkan asupan kimiawi.

Anak-anak dan remaja kini makin akrab dengan rupa si Tyto Alba, nama latin burung hantu pemburu tikus sawah ini. Ada yang membuat rupa burung terkenal di kisah Harry Potter ini dalam bentuk patung, tanah liat, dan lainnya.

Selain bertengger sebagai hiasan depan rumah warga, burung-burung ini juga dibudidayakan. Dari empat anakan, kini sudah beranak pinak lagi hampir 10 ekor dalam dua tahun terakhir ini.

Misalnya saja, satu anakan kini berusia setahun dan punya lima anak. Tiap malam, rata-rata satu ekor burung hantu perlu dua ekor tikus yang diburu untuk menu pokok mereka. Dari empat ekor anakan pertama, tiga ekor sudah beranak pinak. Seekor tak bisa produktif karena kakinya patah kena benang layangan yang tajam.

Pergerakan para burung hantu bisa sampai radius 20 km, artinya ia bisa mengurangi tikus tak hanya sawah sekitar kandangnya juga desa lain. Tyto Alba dewasa mulai dilepas akhir 2015 sebanyak 4 ekor.

Adanya burung hantu di Dusun pagi bisa mengendalikan hama tikus di dusun tersebut. Foto Anton Muhajir.

Panen Berkurang

Kisah pelestarian burung hantu sebagai predator alami hama tikus ini dimulai karena hasil panen terus berkurang. “Ada petani, jerami saja tak dapat,” ingat Kadek Jonita, salah seorang penggerak dusun ini. Pria yang dipanggil Dek Enjoy ini berdiskusi dengan warga lain.

Hingga mereka memutuskan harus belajar dulu ke Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Demak, Jawa Tengah yang berhasil membudidayakan burung hantu. Mereka berhasil membuat unit rumah-rumah burung hantu menjulang di tengah sawah dan hama tikus lebih terkendali.

Pulang dari Demak, warga Dusun Pagi kemudian memburu anakan Tyto Alba di Tabanan. Mereka berkeliling sekitar sebulan ke sejumlah lokasi yang disebut pernah terlihat kandang burung hantu. Sebagai binatang nocturnal, mereka mencari lokasi sepi, agak tinggi tak terjangkau warga.

“Mereka bersarang di atap rumah-rumah karena sudah sulit buat kandang di pohon-pohon tinggi dan tanpa sumber air,” tutur Dek Enjoy.

Dengan dana swadaya, warga mulai menangkar burung hantu ini di dusun Pagi. Sebagai awalan, Dek Enjoy yang juga petani ini mencarikan makanan bagi anak-anak burung hantu ini. Di rumahnya terlihat deretan senapan angin untuk memburu tikus yang merusak sawahnya. Dalam seminggu ia harus mendapatkan setidaknya 200 tikus yang diburu malam hari, dibantu senter. Sebelum diringankan oleh para preadator ini, senapan angin lah senjatanya memerangi hama.

Warga juga membuat rumah burung hantu di sawah dan tempat penangkaran. Di dalam kandang, terlihat empat ekor dewasa. Satu ekor yang sudah dilepasliarkan malah memilih sebuah atap bangunan tua untuk rumahnya.

Sekitar kandang berbau tajam. Tulang belulang dan kepala tikus terihat di sana-sini. Para burung hantu ini memang melepehkan sisa yang tak disukainya. Bau sisa organ tikus dan air ludah ini juga yang menjadi jejaknya untuk kembali pulang ke kandang, menuntunnya memastikan itu rumahnya.

Untuk memperbanyak burung hantu, petani di Dusun Pagi membuatkan rumah di sawah. Foto Anton Muhajir.

Burung Hantu sang Pengendali

Dusun ini sudah lebih tiga tahun bergerak untuk kembali mempraktikkan tradisi pertaniannya yang alami di masa lalu sebelum revolusi hijau terjadi. Mereka beberapa kali membuat event pertanian bersama kelompok subak (organisasi pertanian di Bali). Namanya UmaWali. Sebuah perayaan alam dengan kesenian dan pendidikan. Warga diajak mengunjungi pertanian yang selaras alam dan mengenalkan anak-anak setempat tentang potensi alamnya.

Sebuah komunitas warga Tabanan bernama Tabanan Lover (Talov) mencoba mendorong pertanian organik dan menjawab keresahan petani Bali hingga kini yakni pemasaran beras langsung ke konsumen. Mereka membuat sistem pemasaran beras petani langsung ke konsumen. Caranya dengan program beras indent.

Tiap konsumen yang terdaftar sebagai pelanggan melakukan indent atau menyetorkan uang 10% pembelian dahulu ke kelompok petani Subak Ganggangan, di Desa Pagi, Tabanan. Ini adalah kelompok subak yang didorong Talov untuk tetap lestari dengan menjaga tradisi dan lahannya.

Pada awalnya ada petani yang ragu karena mereka terlalu sering dapat janji-janji dari berbagai pihak tetapi tidak terlaksana. “Saya sendiri sudah melakukan pola tanam organik ini sekitar 3 tahun. Meskipun lahan yang saya kelola sekitar 30 are tidak luput dari serangan hama tikus namun hasil yang saya capai masih sangat lumayan yaitu 1,8 ton Padi Bali,” tutur Dek Enjoy. Jika tidak diserang tikus hasilnya lebih dari 2,5 ton.

Tetapi yang paling mempengaruhi kesadaran petani adalah faktor biaya produksi. Walau hasil padi sama antara organik dan anorganik, setelah diselip hasil berasnya berbeda. Gabah anorganik kering giling umumnya menghasilkan maksimal 60kg beras/100kg gabah kering giling. Sementara yang organik mampu menghasilkan hampir 80kg beras/100 kg gabah kering giling.

Para pelanggan beras indent yang terdaftar disebut Sahabat Umawali. Mereka memberikan deposit di awal sebesar 10% dari total paket yang disepakati. Deposit dibayar di awal musim tanam. Tujuan dari deposit ini adalah menjalin ikatan pertemanan anatar petani dan calon pembelinya. Sehingga diharapkan ada gairah dan semangat lebih bagi petani mengolah lahannya.

Dengan jalinan yang erat, kedua pihak akan diyakini muncul ikatan emosional antara pemroduksi beras dan pengkonsumsi beras. Petani tidak lagi merasa sebagai profesi rendahan, dan konsumen menyadari ketergantungan mereka akan pangan.

Kesadaran ini diharap mampu memperbaiki sudut pandang masyarakat umum terhadap sistem Subak di Bali. “Karena Subak bukan hanya urusan produksi beras, tetapi adalah tempat hidup. Banyak filosofi hidup dan kehidupan ditanam di Subak. Utamanya adalah menjaga keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan sang pencipta,” jelas Dek Enjoy.

Warga dari dusun lain di Tabanan mulai banyak mengapresiasi inisiatif komunitas ini. Misalnya ada gerakan Sahabat Peduli Celepuk dari Nang Oman untuk menggalang dana bagi pengembangan Tyto Alba. Celepuk adalah bahasa Bali untuk burung hantu. “Kecil-kecilan, sisihkan Rp 500 per hari untuk penangkaran celepuk,” katanya.

Ada penelitian untuk tesis di Program Pascasarjana Universitas Diponegoro oleh Johan Setiabudi (2014). Judulnya Strategi Pengembangan Pengendalian Populasi Tikus Sawah (Rattus Argentiventer) menggunakan Predator Burung Hantu (Tyto Alba) pada Lahan Pertanian Sawah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.

Salah satu simpulannya, petani masih pasif dalam kampanye preadtor alami ini. Barangkali inilah yang coba digiatkan Talov dengan membuat sejumlah pernak-pernik burung hantu agar lebih banyak yang terlibat, termasuk anak-anak.

Laman Undip menyebutkan di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang pengendalian populasi hama tikus sawah telah dilakukan dengan cara fisik (gropyokan) atau kimia (emposan, racun) namun kedua cara tersebut memiliki dampak lingkungan yaitu cara fisik akan merusak padi, lahan pertanian dan cara kimia akan mencemari lingkungan baik padi, lahan pertanian maupun bagi kesehatan petani sendiri.

Pengendalian ramah lingkungan dengan cara hayati saat ini sedang dilakukan. Salah satunya dengan pemanfaatan musuh alami tikus sawah yaitu predator burung hantu yang dapat mengendalikan hama tikus sawah tanpa merusak padi, lahan dan tidak menimbulkan pencemaran. Pengembangan pemanfaatan burung hantu antara lain pembuatan karantina burung hantu, pembuatan rumah burung hantu (rubuha) secara kontinyu dan pembuatan peraturan desa mengenai perlindungan, pemanfaatan dan kelestarian burung hantu.

Tujuan penelitian di Kecamatan Banyubiru ini adalah untuk mengetahui berapa nilai kerugian yang dialami petani. Selain itu persepsi dan perilaku petani yang memanfaatkan burung hantu, pelaksanaan pengendalian hama tikus sawah, dan prioritas kebijakan yang dapat diambil dalam mengembangkan pemanfaatan burung hantu.

Metode yang digunakan untuk penentuan prioritas adalah menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Pengambilan data dengan menggunakan kuisioner ke berbagai pihak antara lain Bappeda, BLH, Bakorluh, akademisi, Kecamatan, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan serta pihak karantina burung hantu.

Hasil penelitian menunjukan, pertama, kerusakan padi di Kecamatan Banyubiru pada tahun 2013 mencapai 98 ha dengan kerugian petani lebih 1 milyar. Kedua, persepsi petani dalam memanfaatan burung hantu di Kecamatan Banyubiru dirasa cukup efektif, efisien dan ramah lingkungan namun tidak dilakukan sebagian besar petani yang belum tergerak mengikuti langkah pemanfaatan tersebut karena ingin melihat hasil dan bukti dahulu.

Perilaku petani yang pasif ditunjukan dengan kurang aktifnya petani terlibat dalam pengendalian hama tikus sawah melalui pemanfaatan burung hantu.

Ketiga, pelaksanaan pengendalian hama tikus sawah dilakukan dengan sanitasi lingkungan, gropyokan dengan emposan, umpan beracun dan burung hantu secara berkesinambungan. Pemanfaatan burung hantu telah berjalan 1,5 tahun sudah mulai tampak hasilnya dan diperkirakan dalam 5 tahun ke depan akan terasa hasil dan manfaatnya.

Keempat, prioritas kebijakan dalam pengembangan pemanfaatan burung hantu adalah pembuatan karantina burung hantu, pembuatan peraturan desa mengenai perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan burung hantu dan pembuatan rumah burung hantu secara kontinyu. [b]

Tulisan ini pernah dimuat media lingkungan Mongabay Indonesia.

The post Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus appeared first on BaleBengong.

Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta

Setidaknya 200 petani di Pancasari mengalami kerugian akibat air danau meluap. Foto Anton Muhajir.

Tak ada lagi tanaman stroberi di kebun Gede Sudarsana.

Lahan seluas 3 hektar di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali itu kini terendam air. Sejak sekitar sebulan lalu, lahan ratusan petani di tepi Danau Buyan itu pun tak lagi berfungsi, seperti halnya Gede.

Kebun itu kini lebih serupa rawa-rawa. Tidak ada lagi satu pun sayur atau buah-buahan. Hanya rumput, kangkung, dan enceng gondok di lahan itu. Padahal, kebun itulah sumber pendapatan utama Sudarsana sebelumnya.

Kamis pekan lalu, Gede tak lagi memanen stroberi, komoditas andalannya selama ini. Bersama petani lain, mereka mencari rumput dan kangkung yang kini subur di bekas kebun stroberinya. “Mending cari rumput untuk makanan babi. Sekalian menghilangkan stres. Daripada sakit jiwa gara-gara rugi,” katanya lalu tertawa.

“Mau diapain lagi. Ini sudah biasa terjadi,” tambahnya.

Pancasari termasuk salah satu desa di kawasan Bedugul yang terkenal sbagai pusat produksi sayur mayur maupun stroberi. Di desa ini terdapat Danau Buyan, salah satu dari empat danau di Bali. Namun, sebulan terakhir, air yang meluber telah menghancurkan kebun-kebun di sekitar danau seluas 360 hektar ini.

Akibat kejadian tersebut, bukan hanya lahan Sudarsana yang menjadi korban tapi juga ratusan petani lain, termasuk Nyoman Suardana dan Made Arsana.

Nasib Suardana memang tak seburuk Sudarsana. Dari 65 hektar lahannya, hanya separuh yang terkena luapan air dari Danau Buyan. Setengahnya lagi masih bisa ditanami sayur mayur, seperti selada, mint, dan seledri. Toh, dia mengaku tetap merugi setidanya Rp 10 juta akibat luapan air Danau Buyan tersebut.

“Kerugian paling besar karena pembelian pupuk dan plastik,” katanya.

Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan menenggelamkan lahan milik setidaknya 200 petani. Luas lahan maupun kerugian mereka pun beragam. Dari kerugian sekitar 30 are seperti dia hingga 3 hektar seperti yang dialami Sudarsana. Nilai kerugiannya antara Rp 10 juta sampai Rp 70 juta.

Wilayah yang terendam air, setidaknya meliputi tiga banjar yaitu Buyan, Dasong, dan Peken. Wilayah ini semuanya berada di sisi selatan dan timur Danau Buyan. Adapun wilayah di sisi utara langsung berbatasan dengan tebing bukit sehingga tidak ada lahan pertanian sama sekali.

Umumnya, jenis komoditas yang paling mengalami kerugian adalah stroberi. I Made Arsana, petani lain, mengalami kerugian Begitu pula I Made Arsana, petani lain. Dia mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta. “Saya tidak terlalu rugi karena tanaman saya sudah berumur lebih dari dua tahun. Sudah sering panen. Jadi ongkosnya sudah balik,” katanya,

Dia merasa nasibnya tidak seburuk kakaknya, yang rugi sampai Rp 70 juta. “Tanamannya baru umur tiga bulan. Baru dua kali panen awal dengan hasil seberapa. Eh, sudah keburu kena banjir,” katanya.

Dibandingkan tiga danau lain di Bali, Danau Buyan mengalami sedimentasi paling tinggi. Foto Anton Muhajir.

Pendangkalan
Menurut Suardana, luapan air Danau Buyan yang masuk hingga merusak kebun-kebun petani sudah pernah terjadi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, lanjutnya, luapan air bahkan sampai di jalan desa yang berjarak sekitar 300 meter dari batas air saat ini.

Tahun ini, meluapnya air hujan terjadi akibat tingginya curah hujan sebulan lalu. Setelah hujan deras berhari-hari saat itu, air kemudian menggenangi lahan-lahan pertanian dan tidak surut sampai sekarang.

Semua petani mengatakan, saat ini Danau Buyan memang mengalami pendangkalan. Sebagai warga setempat yang lahir dan besar di sekitar danau, mereka mengalami perubahan itu. Penyebab pendangkalan itu karena tanah dari bukit di sisi selatan danau kini makin banyak terbawa air terutama saat musim hujan.

“Sekarang kalau hujan, tidak hanya air yang datang tapi juga tanah dari bukit-bukit di atas sana,” kata Suardana.

Alih fungsi lahan dan pergantian komoditas pertanian yang menyebabkan tanah dan air kini langsung terbawa ke danau saat musim hujan. Suardana mengatakan, pada 1990-an, komoditas utama yang ditanam petani di lereng-lereng bukit adalah kopi. Namun, saat ini petani beralih ke tanaman sayur dan stroberi.

Hal tersebut mereka lakukan karena komoditas kopi dianggap kurang menguntungkan secara ekonomi. Tanaman kopi baru menghasilkan setelah berumur setidaknya 2,5 atau 3 tahun. Dalam setahun, dia hanya panen sekali.

Ini berbeda dengan komoditas hortikultura, sepertu sayur mayur dan stroberi. Umumnya, sayuran sudah bisa dipanen pada umur 3-4 bulan. Buah stroberi pun demikian. Dia malah bisa dipanen tiap dua hari sekali hingga umurnya mencapai dua tahun. “Menanam sayur memang lebih capek, tapi lebih banyak dapat uang,” kata Suardana.

Dengan pendapatan dari sayur yang lebih menggoda, petani pun beralih ke sayur. Pohon-pohon kopi di atas bukit kemudian dibabat, menghilangkan tanaman berakar kuat yang biasanya mampu menyimpan air sekaligus menahan tanah. “Ya mau bagaimana lagi. Itu tanah-tanah mereka sendiri ya terserah mau ditanami apa,” ujar Suardana.

Saat ini harga stroberi di tingkat petani mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kg. Tiap panen dua hari sekali, dari lahan seluas 4 are, mereka bisa mendapatkan 20 kg. Dengan asumsi harga rata-rata stroberi Rp 25 ribu per kg, maka tiap panen mereka bisa mendapat Rp 500 ribu dari lahan seluas itu.

Di atas kertas, petani seperti Suardana dengan sekitar 30 are bisa kehilangan pendapatan hingga Rp 3,75 juta tiap panen. Namun, dia mengaku tidak menghitung sejauh sejauh itu kerugian yang mereka alami. “Saya anggap kerugian hanya pada biaya pemupukan dan plastik,” ujarnya.

Petani pun hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa berbuat apapun untuk mengatasi air yang meluap. Tidak juga dengan meminta bantuan ke pemerintah.

Petani beralih ke sayuran karena dianggap lebih cepat menghasilkan. Foto Anton Muhajir.

Eksploitasi
Ni Luh Ketut Kartini, Dosen Program Studi Agro Ekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana mengatakan, pendangkalan di Danau Buyan sebenarnya juga terjadi di tiga danau lain meskipun tidak separah di Buyan. “Dari empat danau di Bali, Danau Buyan memang mengalami sedimentasi paling parah,” katanya.

Dosen yang juga Direktur Bali Organic Association (BOA) itu membenarkan pendapat para petani tentang penyebab pendangkalan. “Sedimentasi Danau Buyan terjadi karena masifnya alih fungsi lahan,” katanya. Selain karena pergantian komoditas dari tanaman umur panjang seperti kopi ke hortikultura termasuk sayur, pembangunan fasilitas wisata seperti vila juga menyebabkan terjadi erosi yang tanahnya menuju danau.

Danau Buyan termasuk salah satu dari empat danau yang ada di Bali. Danau paling luas adalah Batur dengan luas 1.607,5 hektar dan kedalaman 58 meter. Lokasinya di Kabupaten Bangli. Setelah itu ada Danau Beratan di Tabanan seluas 379 hektar dengan kedalaman 35 meter. Danau Buyan dengan luas 360 hektar dan kedalaman 87 meter serta Danau Tamblingan seluas 110 hektar dengan kedalaman 90 meter berada di Kabupaten Buleleng.

Dari empat danau itu, secara fisik memang Danau Buyan terlihat mengalami sedimentasi paling parah.

Menurut Kartini, masalah lain yang dialami danau-danau tersebut adalah pencemaran akibat penggunaan bahan kimia pertanian. “Bukan hanya air yang mengalami eksploitasi untuk kebutuhan irigasi maupun air minum, tapi tanah sekitarnya juga dikapling-kapling untuk bisnis dan pariwisata,” katanya. [b]

The post Danau Buyan Meluap, Petani Rugi Ratusan Juta appeared first on BaleBengong.