Tag Archives: Pertanian Berkelanjutan

Belajar Publikasi Bersama Petani Sulawesi

pelatihan-palopo

Para petani Sulawesi ternyata pintar berakting juga.

Tiga petani yaitu Dominggus, Anton, dan Baso masuk ke dalam sungai. Baso yang suka tersenyum membuka celana lalu jongkok di sungai. Anton merekamnya.

Dominggus mengarahkan mereka. Dia juga membuang sampah plastik ke aliran sungai. Anton, namanya memang sama dengan namaku, tetap dengan tugas utamanya, merekam semua akting itu dengan kamera.

Satu jam kemudian mereka mempresentasikan video mereka tentang Internal Control System (ICS), metode pengawasan kualitas produk pertanian. Sehari-hari, petani anggota organisasi petani Cahaya Sehati, Luwu Timur, Sulawesi Selatan sudah menerapkan ICS.

Karena itulah ketiga anggota Cahaya Sehati tersebut berusaha membuat video tentang ICS. “Agar petani lain tahu tentang standarisasi menurut ICS,” kata Dominggus. Video pendek mereka, sekitar 3 menit itu, menceritakan hal-hal yang tak boleh dilakukan di kebun seperti ngengek dan buang sampah plastik di sungai.

Senang sekali melihat antusiasme ketiga petani ini dan peserta lain yang ikut pelatihan publikasi dan Internet di Sulawesi. Mereka semangat 45 mengikuti satu per satu materi dan kemudian membuat video tersebut.

Pelatihan ini agenda tahunan yang kami adakan atas nama VECO Indonesia. Kali ini di Palopo, Sulawesi Selatan selama dua hari, Selasa – Rabu kemarin. Pesertanya para petani atau staf lembaga swadaya masyarakat pendamping petani mitra VECO Indonesia. Misalnya dari Tana Toraja, Polewali Mandar, Enrekang, dan Luwu Timur.

Ada yang agak berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada pelatihan tahun ini kami memasukkan materi baru tentang menggunakan ponsel untuk memotret maupun membuat video.

Pematerinya Ipul Gassing, teman blogger yang juga fotografer di Makassar.

Awalnya aku agak pesimis dengan pelatihan ini. Kalau di Bali sih kami sudah sering mengadakan pelatihan foto ponsel ini. Tapi di Palopo dan pesertanya petani? Aku agak khawatir bermasalah dengan koneksi Internet dan bagus tidaknya ponsel yang digunakan peserta.

Tapi, ternyata lantjar djaja semuanya. Internet memang tak lancar-lancar amat seperti nyaris di semua tempat terpencil di Indonesia. Tapi, bisalah kami menyelesaikan semua prosesnya dari materi tentang dasar-dasar Internet sampai media sosial.

Yang lebih lancar justru pelatihan foto dan video dengan ponsel. Si Ipul yang kasih materi malah memuji-muji hasil kerja para peserta. Aku sepakat dengan dia. Karya para peserta memang asyik. Hanya dengan dua jam pelatihan dan ponsel ala kadarnya – dibandingkan milik anak-anak muda di kota – mereka bisa membuat foto produk-produk serta merekam kegiatan mereka.

Bu Jum, petani dari Polewali Mandar membuat video simulasi tentang kebun kakao. Lokasinya sih di tengah kebun rambutan di halaman belakang hotel tempat pelatihan, Agro Wisata. Tapi aktingnya meyakinkan.

Ketika evaluasi, Bu Jum sendiri malah kemudian mengaku, “Ternyata kami bisa juga membuat video bagus dengan hape saya,” katanya.

Ayo, Bu Jum. Setelah pelatihan, jangan lupa bikin video-video yang lebih ciamik lagi..

Ironi Desa Kota Ada di Mana-mana


Perjalanan ke Junin, pedalaman Peru kali ini benar-benar tak mudah.

Kami naik bus malam selama sekitar 10 jam dari Lima. Bus tingkat dengan sekitar 30 penumpang itu memang enak banget. Kursinya bisa diubah jadi serupa kasur.

Namun, jalan menuju Junin agak jauh dari kata nyaman. Dari Lima menuju Junin, harus melewati pegunungan setinggi sekitar 5.000 meter. Jalannya mendaki naik turun berkelok-kelok esktrem.

Karena perjalanan pada malam hari, saya tidak terlalu merasakannya. Cuma sempat mengalami susah bernapas sekitar pukul 1-3 pagi. Rupanya saat itu kami melewati titik tertinggi sehingga kekurangan oksigen.

Dalam perjalanan balik lima hari kemudian, saya baru tahu betapa ngeri tapi menakjubkannya puncak yang kami lewati. Jalan yang kami lewati ternyata benar-benar di lereng gunung dengan jurang di kanan kirinya.

Ini jalan paling ngeri yang pernah saya lewati.

Setelah ngerinya jalan, kami harus menghadapi kenyataan lain yang juga tak mudah, susahnya akses ke lokasi liputan. Salah satu lokasi kunjungan kami ada di pedalaman Pangoa, Provinsi Junin. Dari Kota Pangoa, perlu waktu 2,5 jam dengan kendaraan 4×4.

Jalannya memang rusak seperti umumnya di pedalaman Indonesia. Tapi ini lebih parah karena bentuk jalannya masih serupa rintisan. Berlumpur. Licin. Naik. Naik. Naik. Berkelok tanpa henti.

Pada satu titik, perjalanan kami berhenti. Mobil terperangkap di lumpur. Di kiri kami jurang dengan hutan lebat. Di kanan tebing. Sisanya sunyi dengan sesekali suara guntur.

Setelah sekitar 20 menit terjebak di jalan berlumpur plus berdebat lanjut atau tidak, kami memutuskan kembali saja. Eh, benar. Lima belas menit kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Jika tadi kami tak balik, yakin deh akan terulang kisah pilu di San Martin, jalan kaki 2,5 jam di antara derasnya hujan dan hari yang sudah gelap.

Pesan moral dari perjalanan ke pedalaman Peru, amat susah menuju lokasi!

Namun, di lokasi-lokasi terpencil tersebut kami bertemu dengan petani lokal yang menghasilkan produk terbaik untuk negaranya. Di San Martin, petani menghasilkan kopi dan kakao yang diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan Kanada. Begitu pula petani di Junin, salah satu provinsi produsen kopi paling banyak di Peru.

Dari lokasi-lokasi terpencil dan susah dijangkau, petani menghasilkan produk berkualitas internasional dari negara mereka. Produk mereka dikonsumsi orang-orang kota dengan harga mahal yang sering kali tak terjangkau kantong produsennya sendiri.

Sementara itu, akses ke desa tetap dibiarkan merana. Hancur lebur. Bahkan kadang tanpa rupa saking tidak jelasnya.

Begitulah ironi desa kota di negara berkembang. Tak hanya di Peru tapi juga di Indonesia.

The Power of Small Farmers

simpatik02

Dari ketinggian Tanah Pasundan, petani-petani kecil ini membantah mitos tentang kedaulatan pangan.

Selama ini sudah kadung melekat di kepala banyak, urusan pangan hanya bisa dipenuhi industri pertanian berskala besar. Mitos tersebut terus disebar oleh perusahaan-perusahaan pertanian didukung pemerintah dan para peneliti.

Revolusi Hijau hanya salah satu contoh bagaimana mitos tersebut dibangun terus menerus dan dianggap sebagai kebenaran. Kedaulatan pangan hanya bisa dihasilkan dengan input kimia sebanyak-banyaknya.

Tapi, petani-petani kecil yang kami kunjungi selama Pertemuan Tahunan Mitra atau Annual Partner Meeting (APM) 2014 VECO Indonesia kali ini telah membantahnya. Dari lahan-lahan sempit dan terbatas, petani di dua lokasi yang kami kunjungi tak hanya mencukupi kebutuhan mereka sendiri tapi juga ekspor ke negara lain.

Ada dua lokasi yang kami kunjungi yaitu di Tasikmalaya dan Lembang.

Pertama, Kelompok Tani Simpatik di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Tasikmalaya. Perjalanan ke sini sekitar 2-3 jam dari Bandung dengan bus. Jalan naik turun dan berkelok lumayan melelahkan.

Begitu tiba di Cisayong, belasan petani laki-laki berpakaian adat Sunda menyambut sekitar 90 peserta APM 2014. Selama empat jam, kami belajar dari mereka. Lokasinya di gudang beras organik maupun tempat penggilingan dan pengemasan serta di sawah.

Sekitar 1.500 anggota kelompok ini merupakan petani kecil. Luas lahan mereka rata-rata kurang dari 1 hektar. Namun, mereka bisa mendapatkan rata-rata 7-8 hektar padi organik tiap musim panen.

Tak hanya untuk kebutuhan sendiri, para petani juga mengekspor beras organik tersebut ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Singapura, dan lain-lain. Tiap kali ekspor, mereka bisa mengirim 20-25 ton beras organik ke negara tujuan.

Salah satu profil yang menarik di sini adalah Pak Kribo. Nama aslinya Hendra Affandi. Aku pernah bertemu dia sekitar empat tahun lalu di Bondowoso, Jawa Timur di pertemuan petani juga. Kisah hidupnya unik. Ngomongnya lucu. Dari dunia gelap, begitu dia menyebut masa lalunya, kini dia kembali ke desa dan bertani organik.

Pengen juga kapan-kapan bisa seperti dia. ?

lembang04

Kedua, Kelompok Tani Mekar Jaya di Lembang, Bandung Utara. Di daerah pegunungan berhawa sejuk ini, petani menghasilkan produk hortikultura dengan standar mutu internasional. Tak sedikit dari kebun tersebut “hanyalah” halaman depan, belakang, ataupun samping rumah mereka.

Namun dari lahan-lahan sempit tersebut, mereka bisa mengirim sayur ke berbagai kota dan negara, seperti Bandung, Jakarta, Bali, bahkan Papua. Tiap minggu mereka menjual 150 ton sayur dengan keuntungan Rp 3.000 per kg.

Ketika di sana, kami bisa melihat ibu-ibu rumah tangga atau anak-anak lagi menyiram kebun di depan rumah. Ada yang sedang panen, menyiapkan lahan baru, atau mengemas sayur agar siap kirim. Pertanian skala rumah tangga ini menghidupkan desa berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandung itu.

Profil yang menarik di sini adalah Pak Doyo Iskandar. Alumni STM ini beralih jadi petani dan menggerakkan para warga untuk bertani secara profesional. Orangnya lucu juga. Kritiknya pada pemerintah dan pihak swasta juga pedas.

Diskusi dengan petani Mekar Tani Jaya di Lembang melengkapi kunjungan sebelumnya di Gapoktan Simpatik Tasikmalaya.

Menariknya, kedua kelompok tersebut bisa memproduksi komoditas secara mandiri. Mereka tidak tergantung sepenuhnya pada korporasi. Petani padi di Tasikmalaya membuat sendiri benih, pupuk, dan pestisida organik. Petani di Lembang pun demikian meskipun bibit masih membeli dari perusahaan.

Keduanya membuktikan mereka bisa mencukupi kebutuhan sendiri, memberi makan dunia, dan tetap menjaga keberlangsungan bumi.

Pemasaran, Tantangan Berat Petani Organik Flores

beras-mbay07

Ruang depan kantor organisasi petani itu masih acak-acakan.

Dua tukang sedang memperbaiki atap dan dinding ruangan sekitar 4 x 4 meter tersebut. Kayu-kayu berserakan. Suara-suara orang memaku dan memotong kayu meningkahi teriknya siang di Mbay, Flores pekan lalu.

Suasana itu sebenarnya agak mengganggu. Siang lima hari lalu itu saya sedang ngobrol dengan pengurus Koperasi Produksi Andalan Tani Organik Mbay (ATOM) di ibu kota Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut.

Namun, saya justru senang mendengar cerita di baliknya.

“Kami sedang memperluas ruangan. Di depan nanti khusus untuk outlet. Di sini untuk kantor koperasi,” kata Manajer Koperasi Martinus Sirilus Malo. Kami duduk di ruangan belakang. Dua pengurus sedang menyiapkan papan struktur koperasi. Tumpukan beras organik berukuran 10 dan 50 kg ada di dekat pintu ruangan.

Perluasan ruangan koperasi itu bisa mewakili bagaimana koperasi milik petani tersebut berkembang. Pembeli beras organik yang mereka jual makin banyak.

Tapi, mereka berharap bisa lebih berkembang lagi.

Mbay merupakan kawasan pusat pertanian produksi beras di Kabupaten Nagekeo. Kawasan seluas sekitar 3.000 hektar ini bahkan salah satu pusat produksi beras penting bagi Flores selain Lembor di Manggarai Barat.

Sejak sekitar lima tahun lalu, sebagian petani di kawasan pantai utara Flores ini berusaha memutus ketergantungan terhadap bahan-bahan pertanian tak ramah lingkungan. Mereka membuat sendiri pupuk dan pestisida organik secara bersama-sama.

Selain lebih murah dan ramah lingkungan, beras produksi mereka pun kini berbeda, lebih sehat dan berkelanjutan.

Untuk memasarkan produk tersebut, petani mengelola koperasi sendiri. Kios di kota yang disebut-sebut sebagai calon ibu kota Provinsi Flores – jika jadi memisahkan diri dari NTT- ini dipenuhi beras organik dengan merk “Beras Mbay”.

Ada beras merah dan putih. Beras merah seharga Rp 18.000 per kg. Beras putih separuhnya, Rp 9.000 per kg.

Penjualan beras organik tersebut naik turun, antara 300 kg hingga 2 ton per bulan. Dan, inilah tantangan utamanya, meningkatkan pemasaran agar makin banyak pembeli.

Ini bukan pekerjaan mudah, menurut Martinus. Selama empat tahun menjual beras organik di kios, mereka menghadapi banyak tantangan. Selain karena dinamika organisasi, misalnya keluar masuk pengurus organisasi tani, juga karena terbatasnya konsumen.

Umumnya, produk organik menyasar warga dengan status ekonomi lebih tinggi, menengah ke atas. Kelompok ini sudah sadar kesehatan. Tapi, warga kelompok ini tak banyak di Mbay.

Maka, petani Mbay melebarkan pemasaran beras organiknya hingga kota-kota tetangga, seperti Ende dan Maumere.

kopi-bajawa-04

Tantangan serupa, susahnya produk pertanian organik dialami pula petani kopi di Bajawa. Tiga kelompok tani yang saya temui di Kabupaten Ngada, salah satu pusat produksi kopi di Flores menceritakan tantangan tak jauh beda dengan petani padi di Mbay.

Kelompok petani kopi organik di Ngada tersebar di dua kecamatan yaitu Bajawa dan Golewa. Kedua wilayah ini berada di kaki Gunung Aimere dan menghasilkan kopi khas bernama Arabika Bajawa Flores.

Mereka juga sudah bertani secara organik. Pemasaran sudah jelas. Ada salah satu eksportir kopi berkantor di Sidoarjo, Jawa Timur yang rutin membeli kopi mereka. Kopi Bajawa diekspor ke Eropa dan Amerika.

Sayangnya sih pembayaran dari pembeli yang tidak lancar. Dari empat kali pengiriman, hingga pekan lalu baru satu kali dibayar.

Marselina Walu Wajamala, petani di Desa Radabata, Golewa mengatakan rata-rata uang yang belum dibayar ke kelompok petani tersebut Rp 30 juta. Sebagian besar petani menjual kopi mereka melalui kelompok tani sebagai bagian dari pemasaran bersama.

Melalui pemasaran bersama ini, kata Marselina, petani bisa mendapatkan pasar lebih pasti dan harga lebih tinggi. “Tapi, kalau tidak dibayar begini, anggota kelompok malah curiga kepada kami,” katanya.

Sebenarnya, menurut Marselina, petani bisa lebih yakin menjual melalui kelompok kalau kelompok tani bisa membayar langsung. Tapi, untuk itu, kelompok harus punya modal besar. Dengan keterbatasan sumber daya, tak mudah bagi kelompok tani untuk mengakses kredit dari pemerintah atau bank.

Itulah yang sekarang sedang diperjuangkan Marselina dan kawan-kawan, mengupayakan agar mereka bisa punya akses langsung ke bank. Jalan ke arah sana masih panjang..

Jalan Berliku Hasil Pertanian Lokal

Terserahlah. Aku tidak akan pernah bosan menulis tentang ini.

Negara kita kaya raya. Kaya banget. Sayangnya kekayaan itu justru tak diurus dengan baik. Tidak diolah. Atau malah dilupakan.

Pikiran itu muncul lagi setelah aku liputan ke Sulawesi Tengah minggu lalu. Kali ini tentang rantai pemasaran kakao di wilayah program VECO Indonesia yang baru tersebut.

Perjalanan kali dimulai dari pengenalan program VECO Indonesia di Parigi Moutong. Ini wilayah baru bagi lembaga donor bagi pertanian berkelanjutan, tempat aku bekerja sejak 2007 lalu. Mulai tahun ini, kami mendukung rantai kakao di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, VECO Indonesia mendukung organisasi petani dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk rantai kakao di Polewali Mandar (Polman) Sulawesi Barat. Kini, teman-teman dari Polman mendampingi petani kakao di Parigi Moutong, terutama di Kecamatan Parigi dan Tinombo.

Sehari setelah pengenalan program di Parigi, aku dan staf VECO Indonesia bersama mitra di sana mengunjungi petani kakao di Dusun Tompeng, Desa Okualas, Kecamatan Tinombo.

Tinggal di pegunungan dengan jalan rusak parah tentu jadi masalah bagi petani di sini. Namun, sisi baiknya, mereka justru bergantung pada alam. Tidak pakai bahan kimia sama sekali dalam praktik pertaniannya, apakah itu pupuk ataupun pestisida.

Sayangnya, petani setempat juga tak kenal teknologi budi daya yang lebih baik. Mereka menanam pohon kakao dan membiarkannya begitu saja. Tak ada pemangkasan. Tak ada pemupukan.

Hasilnya jadi tak terlalu bagus. Apalagi, menurut para petani, cuaca memang sedang tidak bagus. Terlalu banyak hujan. Akibatnya, buah kakao jadi rusak. Hitam tapi berjamur. Hasil panen pun turun.

Padahal, daerah ini sebenarnya sangat kaya dengan kakao. Wilayah subur tanpa bahan kimia menjadi nilai tambah. Kakao di sini sudah mendapatkan sertifikat sebagai kakao organik dari lembaga sertifikasi Rainforest Alliance (RA). Dengan sertifikat RA ini, kakao dari Tinombo bisa diekspor ke pasar internasional.

Meski berada di wilayah dengan medan sulit dan terpencil, kakao Tinombo memenuhi standar kakao ekspor.

Dari dusun-dusun terpencil di pegunungan Tinombo, kakao kemudian diekspor melalui rantai pemasaran yang lumayan panjang.

Rantai pertama di tingkat dusun. Pengepul di tingkat dusun akan membeli buah kakao yang sudah dikeringkan dari tiap petani. Karena lokasi tempat tinggal yang terpencil dan susah diakses, petani setempat lebih suka jika kakao mereka dibeli dengan sistem jemput bola.

Mereka tinggal menunggu pembeli, tak usah repot menjual.

Dari pengepul di tingkat dusun, kakao kering ini akan dibawa ke pengepul di tingkat desa. Ini rantai kedua. Namun, kadang ada yang langsung membawa dari tingkat dusun ke tingkat kecamatan, seperti di Tinombo.

Tantangannya, para pengepul ini harus melewati jalan super berat. Aku yang hanya bawa diri saja sudah susah setengah mati, apalagi mereka yang naik motor dengan dua karung kakao seberat lebih dari 1 kuintal?

Dalam perjalanan balik dari Tompeng, misalnya, aku bertemu pengepul dari tingkat dusun yang menjual ke pengepul di tingkat kecamatan. Dia menuruni jalan berlumpur, berkerikil, dan naik turun tajam dengan membawa kakao.

Dari tingkat kecamatan, kakao kering itu kemudian dibawa ke pembeli di kabupaten. Dari kabupaten baru ke pembeli di Palu. Pembeli besar di Palu inilah yang akan mengirimkan ke eksportir di Makassar atau Surabaya.

Ringkasnya, rantai pemasaran kakao di Sulawesi Tengah ini memang sangat panjang. Bisa sampai empat atau lima rantai sejak dari petani produsen sampai eksportir. Lebih panjang lagi kalau kita tambahkan pabrik pengolahan kakao menjadi makanan atau bahkan konsumen.

Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk membantu petani? Ya, tetap saja pemerintah.

Tapi begitulah. Petani di Tinombo mengeluh. Akses jalan yang susah ke tempat mereka membuat pemerintah melupakan mereka. “Kami tidak pernah mendapat bantuan dan dukungan apapun dari pemerintah,” kata petani di Tompeng.

Dukungan seperti pendampingan teknologi budi daya secara berkelanjutan seharusnya bisa dilakukan pemerintah.

Dukungan lain adalah fasilitasi pemasaran. Petani didukung agar mereka bisa memasarkan secara langsung ke pembeli di tingkat provinsi atau sekalian ke eksportir, misalnya Armajaro, PT Mars, dan seterusnya. Jika petani langsung menjual ke mereka, tentu mereka bisa mendapatkan harga lebih tinggi.

Biar mudah dalam memasarkan, bangunlah infrastruktur yang baik. Jalan-jalan diperbaiki biar petani mudah membawa hasil pertanian mereka ke kota. Biar tidak seperti menyabung nyawa dengan jalanan berbahaya begitu.

Terus, apa kabar pemerintah setempat? Susah diharapkan. Petani di sana malah bercerita tentang dukungan pemerintah terhadap perusahaan, iya betul, perusahaan kelapa sawit. Padahal ini milik perusahaan, bukan petani.

Padahal, kata petani, kelapa sawit justru berbahaya karena mengancam lahan, memakan air, dan milik perusahaan, bukan petani.