Tag Archives: Pertanian Berkelanjutan

Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati

Oleh Rischa Sasmita

Hampir 100 persen siswa di Jembrana enggan bertani.

Keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar dunia tidak lepas dari proses fermentasi. Walaupun Jembrana hanya memiliki 800 ha lahan kering dengan produksi kakao kurang dari 2.000 ton, tetapi biji kakao Jembrana diminati oleh produsen cokelat lokal hingga dunia.

Negara seperti Jepang, Belanda, sampai Perancis antre untuk mendapat biji kakao Jembrana. Negara-negara tersebut jatuh cinta dengan biji kakao Jembrana.

Proses fermentasi sangat berpengaruh pada kualitas biji kakao yang akan dipasarkan. Kakao Jembrana terkenal dan dicintai produsen cokelat karena diproses melalui fermentasi. Proses ini membuat biji kakao sehat dan menciptakan aroma (bunga, buah, rempah dan madu) sekaligus menghilangkan rasa pahit dan memunculkan nutrisi.

Biji kakao Jembrana menjadi pusat perhatian pembeli hingga menerobos pasar dunia. Harganya pun termasuk mahal. Produsen memilih biji kakao Jembrana karena memiliki keunikan aroma. Hanya biji kakao Jembrana yang dapat memberi empat aroma sekaligus.

Menurut Pak Wayan Rata, petani asal Melaya yang sudah lama berkecimpung di pertanian kakao, fermentasi sangat berpengaruh terhadap kualitas biji kakao. Tidak kalah pentingnya adalah perawatan kakao sejak di kebun. “Tanaman kakao hendaknya dirawat layaknya anak,” kata Pak Rata.

Pak Rata berhasil mengelola kebun kakaonya karena merawat tanaman kakao dengan baik, mulai dari memotong cabang pohon, menerapkan sistem sambung dan menggunakan pupuk organik. Pemangkasan untuk menghindari adanya buah di cabang karena buah kakao yang baik adalah buah yang dekat dengan akar serta menggunakan pupuk organik. Adapun pemupukan yang baik dilakukan di awal dan di akhir musim hujan dengan menanam pupuk di area dekat tanaman kakao. Penanaman pupuk bertujuan menghindari penguapan dan dirusak ayam atau ternak lain. Begitu pula yang dilakukan petani kakao di Jembrana lainnya.

Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) didampingi Kalimajari meraih sertifikat komoditas UTZ Certified pertama di Indonesia karena telah memenuhi standar. UTZ Certified adalah standar yang dikembangkan oleh organisasi swasta dengan kantor pusat di Belanda. Selain itu kakao di Jembrana juga memiliki sertifikat dari Lembaga Pengawasan Uni Eropa (UE) sebagai pengakuan kualitas produk kakao di Jembarana. United state department of agriculture (USDA) juga dipegang kakao di Jembrana. Terlebih lagi kakao Jembrana lolos dalam 50 besar dari 166 sample dari 44 negara diajang Cocoa Excellent Award 2017. Penghargaan sangat hebat dan dapat dijadikan motivasi.

Generasi Enggan Bertani

Potensi dan prestasi yang mampu diraih sampai saat ini hendaknya perlu dipertahankan hingga nanti. Karena itu, keberhasilan petani kakao Jembrana memasarkan produknya hingga luar negeri terasa ironis karena berbanding terbalik dengan regenerasi petani kakao di Jembrana. Sebanyak 98 persen anak muda di kabupaten ini enggan bertani. Generasi yang terputus menjadi ancaman petani kakao Jembrana.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara di SMP Negeri 4 Negara mengenai peminatan siswa. Ternyata 98 persen siswa laki-laki di Jembrana tidak ingin menjadi petani. Hanya 2 persen yang ingin menjadi petani. Itu pun karena hobi bercocok tanam. Adapun siswa perempuan sebanyak 95 persen tidak ingin menjadi petani. Hanya 5 persen yang ingin menjadi petani karena membantu orang tuanya. Lebih besar lagi, 99 persen siswa di Jembrana tidak faham tentang kakao, tata cara bertani kakao dan potensi serta prestasi yang sudah diraih kakao di Jembrana.

Salah satunya siswa SMP Negeri 4 Negara I Gede Budi Astudiarta yang berasal dari Desa Baluk tepatnya Banjar Baluk Rening. Orang tuanya bekerja sebagai guru yang dimiliki lahan cukup luas untuk bertani. Namun, ia tidak memiliki minat di bidang pertanian karena alasan capek, kotor, malas, panas dan juga penghasilan yang tidak menjanjikan.

Men ngidang sugih ulian megae aluh di kantor. Ngengken kenyel dadi petani. Adenan asana adep tanah 1 hektar. Enggalan maan pis. Men ngantia cokelat mabuah enggala be mati,” kata Gede.

Kentalnya budaya patriaki dalam tradisi Bali, ditambah minimnya minat siswa di bidang pertanian khususnya pertanian kakao, membuat masa depan pertanian dalam ancaman. Lahan yang menyusut, regenerasi petani yang terputus karena kurangnya sosialisasi budaya agraris tanpa disadari tetapi pasti telah mengarahkan terjadinya pergeseran dan sudah dapat diprediksi dari tahun ke tahun akan punah.

Indonesia dikenal dengan negara agraris, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Kondisi alam mendukung, lahan luas serta iklim tropis dimana sinar matahari terlihat sepanjang tahun menjadi peluang petani untuk bertani sepanjang tahun. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian di Indonesia makin menyusut karena kurangnya minat regenerasi di bidang pertanian. Kurangnya minat ini menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Indonesia akan kehilangan gelar negara agrarisnya.

Budaya patriaki sudah berlangsung dari masa lampau di mana laki-laki ditempatkan di hierarki teratas sedangkan perempuan ditempatkan pada nomor dua. Adanya konsep purusa pradhana yang dianut masyarakat Bali, mengakibatkan perempuan di Bali sering dijuluki “pewaris tanpa warisan”. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kesetaraan gender. “Untuk kesetaraan gender, tidak setuju jika semua jatuh ke tangan laki-laki termasuk lahan untuk bertani. Padahal realita di Bali banyak petani perempuan yang aktif. Bahkan perempuan terlihat lebih banyak dari pada laki-laki,” kata Ibu Ni Ketut Arwati, dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana.

Bu Ketut bekerja di bidang ini sejak 31 Desember 2016. Pengalaman kegiatannya lebih sering terjun ke lapangan seperti memberikan sosialisasi bahwa PPPA bukan laki-laki saja, perempuan pun mampu. Masalah lain yang pernah diterima adalah pertengkaran istri dengan suami akibat media sosial dan kecurigaan.

Menurut Ibu Ni Ketut Arwati, budaya adat purusa pradhana di Bali membuatnya sulit untuk membela perempuan dalam hal hak waris. Namun, ia kagum dengan sosok perempuan yang mampu di bidang pertanian. Masalah patriaki, perempuan tidak mendapat hak waris dalam hal lahan untuk bertani, dapat diminimalisir dengan cara perempuan bekerja sama dengan laki-laki. Wanita harus meyakinkan suami untuk tidak menjual tanahnya dan memintanya untuk mengurus bersama suami. Apabila hal tersebut dapat diterapkan, Bu Arwati yakin 99 persen pertanian khususnya pertanian kakao di Bali tetap berkembang dari tahun ke tahun.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Petani itu Miskin?

Potensi dan prestasi yang mampu diraih kakao di Jembrana akan menurun apabila masyarakat masih takut akan pertanian membawa kemiskinan. Ketakutan masyarakat menjadi masalah besar dalam mempertahankan potensi dan prestasi kakao di Jembrana. Padahal anggapan petani itu miskin tidak selalu benar. Petani akan berhasil apabila bekerja dan bekerja sama secara serius. Kesetaraan gender sangat diperlukan dalam pertanian. Apabila kaum laki-laki dan perempuan mampu bekerja sama secara maksimal, maka hasil pertanian akan memuaskan. Salah satu contoh pertanian yang mampu membawa petani keranah sukses misalnya pertanian kakao.

Contohnya adalah pasangan suami-istri (pasutri) I Gede Eka Arsana, biasa dipanggil Guru Eka (50), dengan istrinya bernama Ni Made Ayu Budi Anggreni (39), biasa dipanggil Ibu Ayu. Pasangan yang memiliki 3 orang putri ini sukses menyekolahkan anaknya karena optimis pada hasil kebun. Pasangan ini kompak dalam menjalankan usaha pertanian kakao. Anggapan bahwa petani itu miskin yang kerap hadir di tengah telinga masyarakat tidak menjadi penghalang bagi pasutri untuk bertani.

“Dengan bermodalkan niat, fokus dan serius, tidak akan membawa kita pada hasil yang buruk,” kata Ibu Ayu.

Ibu Ayu adalah sosok wanita yang awalnya tidak mempunyai kemampuan mendalam tentang pertanian. Dia terjun di bidang pertanian semenjak awal menikah sekitar 25 tahun lalu. Ketika itu dia tidak mempunyai pikiran untuk bertani. Karena saat itu tidak ada yang membantu suaminya, dia pun ikut terjun ke kebun. Awalnya hanya membantu memetik dan mengangkat biji kakao.

“Saya mengalami banyak keluhan. Mulai dari kesusahan jalan, melihat tebing cukup tinggi dan haluan jalan rumit membuat saya sering terpeleset jatuh. Saat itu saya belum terbiasa menyeberang sungai. Sampai saya sempat jatuh terpeleset di sungai karena tidak bisa memilih haluan hingga nasi bekal ke kebun hanyut terbawa air,” katanya.

Pelan-pelan, Ibu Ayu pun kian paham tentang kakao. Misalnya bahwa buah kakao memiliki kulit tebal sekitar 3 cm. Bahwa setiap buah kako mengandung biji sebanyak 30-50 biji. Bahwa warna biji sebelum proses fermentasi dan pengeringan adalah putih yang lalu berubah mejadi keunguan atau merah kecokelatan.

“Parahnya lagi saya awam akan biji kakao. Pernah sekali memungut biji nangka saya kira biji kakao. Bentuk hampir sama membuat saya mengira biji nangka itu biji kakao. Lumayan si maan a ember. Kejadian tersebut membuat saya beranggapan bahwa cantik tidak menjamin hidup. Walaupun wanita ke kebun panas-panasan, kotor dan mengalami beraneka kejadian tidak menutup kemungkinan untuk bisa maju,” tambahnya lagi.

Pelajaran lain yang dia pelajari adalah sistem tanam. Tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tanaman kakao dengan tanaman lain sangat mempengaruhi hasil produksi kakao oleh karena itu, tata tanam memberikan hasil optimal.

Pasutri ini memiliki kebun seluas 5 hektar jenis tumpang sari, namun lebih banyak pohon kakao diurus bersama. “Panen kakao tidak menentu tergantung cuaca, jika cuaca mendukung setiap minggunya menghasilkan 2 kuintal biji kakao basah. Biji kakao basah dibeli oleh Koperasi KSS dengan harga per kilo Rp. 11.000, jadi dalam satu minggu pendapatan kotor kurang lebih Rp. 2.200.000,’’ katanya.

Suksesnya pasutri ini tidak hanya kompak dalam hal berkebun. Mereka kompak dalam segala bidang. Pasutri ini kompak mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompak dalam mengambil keputusan saat ada perbedaan pendapat. Guru Eka tidak pernah mengabaikan pendapat istrinya. Dia selalu menerima dan mencari jalan tengah apabila ada perbedaan pendapat untuk hal yang lebih positif. Kesetaraan gender membalut kekompakan pasutri ini.

KSS Peduli Petani

Tidak kalah penting suksesnya pasutri ini dari peran Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi ini didirikan dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga, meningkatkan produktivitas, dan kesejateraan petani. Selain itu Koperasi KSS bekerja sama dengan Kalimajari menyediakan bibit kakao berkualitas untuk menghasilkan kakao yang semakin baik. Koperasi KSS pernah mengekspor biji kakao ke pembeli domestik maupun pembeli internasional. Saat ini Koperasi KSS mengayomi 609 petani dari 38 subak abian.

Menurut Guru Eka pada tahun 2015 silam diadakan pelatihan pertanian kakao di subak abian. Subak abian merupakan istilah untuk kelompok tani daerah kering di Bali. Berbeda dengan subak di Bali yang pada umumnya di daerah persawahan. Kakao termasuk komoditas pertanian lahan kering.

Saat itu ia mengikuti dengan semangat hingga tertarik untuk bergabung di Koperasi KSS. Sebelum bergabung di Koperasi KSS, Guru Eka menjual biji kakao asalan yaitu biji kakao dijual dengan harga murah. Biji kakao dijual murah karena kualitasnya kurang baik dan tidak ada proses fermentasi. Karena merasa ada ikatan kemitraan atau sama-sama diuntungkan ia menjual biji kakao ke Koperasi KSS.

Menurut Guru Eka, petani konvensional yang saklek atau keras kepala akan mempengaruhi hasil pertanian kakao di Jembrana. Dia sendiri mengaku selalu cepat menerima informasi mengenai pertanian khususnya pertanian kakao. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong, Gur Eka langsung mengambil tindakan. Beda halnya dengan petani keras kepala. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong cabang, mereka memiliki banyak pendapat untuk membantah anggapan tersebut

“Nah depin gen. Nak nu liu buah pedalem ngetep. Mase batun nu payu adep,” ungkapan seperti itu kerap dikatakan petani konvensional. Petani konvensional lebih memilih membiarkan pohon kakao bercabang karena di cabangnya tumbuh buah kakao yang laku dijual secara asalan dengan harga murah.

Buah kakao pada cabang pohon tidak sama kualitasnya dengan buah kakao pada batang, hal ini menjadi alasan mengapa dilaksankan sistem potong agar menghasilan buah kakao berkualitas, banyak nurisi, harga dari biji kakao tinggi. “Buah yang baik adalah buah yang dekat dengan akar,” kata Bapak I Ketut Wiadnyana selaku Kepala Pengurus di Koperasi KSS (Senin, 5/8/2019).

Pasutri Sukses

Kegiatan bersamaan untuk mendapatkan hasil maksimal merupakan modal petani untuk meraih sukses khususnya pertanian kakao. Contohnya pasutri-pasutri di Jembrana yang berhasil dalam bertani. Kerja sama tidak lepas dari kesetaraan gender yang merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kewajiban setara. Kesetaraan gender sangat berpengaruh pada perkembangan pertanian di Indonesia dan masalah kemiskinan. Apabila diskriminasi berdasarkan gender terus terjadi maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan Indonesia sebagai negara agraris.

Masyarakat hendaknya sadar akan kesetaraan gender dan tidak lagi mendiskriminasi kaum perempuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki saling bekerja sama agar mencapai titik keharmonisan dan keberhasilan di segala bidang, baik bidang rumah tangga maupun pertanian khususnya pertanian kakao. Jika kesetaraan gender diterapkan oleh seluruh pihak maka kehilangan gelar negara agraris tidak akan terjadi. Bahkan akan mengembangkan potensi agraris Indonesia termasuk potensi serta prestasi kakao di Jembrana.

Kesuksesan pasutri di Jembrana telah mengubah image petani dari yang selama ini diidentikkan dengan tua, miskin, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani muda, keren, menguntungkan, kekinian, dan tentunya kaya. Maka jadilah petani modern yang mau berubah, bukan petani kovensional. Dengan bertani berarti bersahabat dengan alam. Bila menghargai alam maka alampun memberikan kesejukan, kedamaian dan kekuatan serta memberikan manfaat pada manusia dan isinya.

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani, maka lahan yang ada lama-kelamaan bisa habis. Masyarakat Jembrana harusnya lebih melek informasi mengenai pertanian khususnya kakao karena kakao Jembrana diminati produsen cokelat dan mampu memiliki prestasi yang baik. Bukan lagi menanam beton-beton yang sudah pasti akan merusak citra agraris dan kakao Jembrana yang sudah mendunia. [b]

The post Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati appeared first on BaleBengong.

Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan

Pekerja perempuan di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Oleh Gladis Desyani Putri

“Kopi cokelat” begitu kerap saya menyebutnya ketika masih belia.

Tidak pernah terpikirkan bahwa buah berbentuk oval dan dominan berwarna hijau ini ternyata memiliki segudang manfaat dan peran. Siapa yang tidak mengenal cokelat? Remaja Indonesia tentu sangat menyukai olahan pabrik satu ini. Bukan hanya manis, tetapi juga lezat. Buah ini juga telah diteliti mampu melepaskan hormon endorfin ke otak sehingga memicu perasaan bahagia pada konsumenya.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu penghasil buah kakao di Bali. Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Bali, Jembrana bukanlah tempat ramai atau sarat dengan kemacetan. Kabupaten ini lebih terasa sunyi dan tenang. Seolah semua penduduknya bergerak perlahan.

Namun, kini Jembrana tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena buah kakao.

Buah yang disebut “makanan para dewa” (the food of the gods) ini dikenal sebagai bahan pembuat makanan seperti bubuk cokelat yang dipakai dalam pembuatan kue, dan permen cokelat. Carolus Linnaeus, ahli botani dari Swedia, memberikan nama Latin “Theobroma cacao” untuk tanaman kakao pada 1735. “Theobroma” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makanan para dewa” sedangkan “cacao” adalah bahasa Maya yang merujuk pada tanaman kakao.

Linnaeus menggunakan nama ini karena pengaruh literatur Bangsa Spanyol yang menceritakan mengenai bangsa Maya dan Aztek. Mereka mengasosiasikan kakao dengan para dewa dan sering menggunakannya dalam ritual keagamaan. Meskipun berasal dari dataran Amerika, kakao kini ditanam di kawasan tropis, termasuk Indonesia. Kakao telah dibudidayakan secara luas di Indonesia sejak tahun 1970. Kakao menjadi salah satu andalan ekspor non migas milik Indonesia (Wardani, 1988).

Menurut Morganelli (2006) cokelat merupakan hasil olahan biji kakao (Theobroma cacao) yang tumbuh pertama kali di hutan hujan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Sejarah mengenai cokelat dimulai dari ditemukanya cokelat oleh Bangsa Olmek di Amerika Selatan tiga ribu tahun lalu. Bertahun-tahun setelah bangsa Olmek punah, cokelat pun masih dinikmati Bangsa Maya yang menghuni Amerika Selatan. Olahan dari tanaman kakao ini, secara historis berasal dari Amerika dan disebarkan ke wilayah Indonesia akibat pengaruh Spanyol pada tahun 1560 tepatnya di Minahasa.

Setelah membaca dari beberapa literatur, saya menyimpulkan bahwa tingkah petani yang hanya kenal instan dan sukar menerima perubahan menyebabkan kualitas kakao di Indonesia tidak pernah meningkat. Hingga saat ini, Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana di Afrika Barat.

Namun, sayangnya, kualitas kakao Indonesia masih rendah di pasar internasional. Kakao Indonesia didominasi oleh biji-biji tanpa fermentasi, biji dengan kadar kotoran tinggi serta terkontaminasi serangga, jamur dan mikotoksin (Wahyudi, et al., 2007).

Untuk menghasilkan produk cokelat berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus terutama dalam tahap fermentasi. Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp (daging buah) dan mematikan biji, tapi juga memperbaiki dan membentuk cita rasa cokelat yang enak serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Savitri, kurangnya perhatian para petani pada proses fermentasi inilah yang menyebabkan produksi biji kakao Indonesia kalah dengan produksi Pantai Gading, Ghana, dan Nigeria. Bahkan, di Jepang, biji coklat dari Indonesia hanya untuk makanan ternak karena kualitasnya rendah.

Dewi dalam Keluarga

Bali telah banyak dikenal hingga kancah internasional sebagai daerah pariwisata. Kultur budaya dan keindahan alamnya menarik turis domestik dan mancanegara untuk bertandang ke Bali. Namun, kini Bali juga memiliki potensi lain yang tak kalah menarik, kakao fermentasi dari Jembrana. Kabupaten di ujung barat Bali ini telah mengirim 11 ton kakao fermentasi dengan tujuan 5 ton ke Perancis, 2 ton ke Jepang, dan 4 ton. Semuanya adalah simbol keberhasilan usaha petani anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

Petani kakao yang tidak mengenal lelah dan terus memupuk semangat untuk lebih baik adalah kunci sukses utama keberhasilan Jembrana. Mendengar kata “petani”, masyarakat mungkin akan cenderung terbayang dengan kehidupan penuh peluh, kotor, dan tentu saja seorang laki-laki dengan cangkul sebagai senjata utamanya. Namun, di era globalisasi yang sudah mengakui emansipasi wanita, peran petani tidak hanya diambil laki-laki.

Ungkapan perempuan sebagai dewi dalam keluarga mungkin cocok dikenakan pada kaum hawa di seluruh dunia. Standar yang sedari dulu dipergunakan oleh perempuan hanya tentang kecantikan dan ketrampilan dalam mengurus suami beserta anak. Namun, tidakkah perlu untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum hawa untuk merentangkan sayapnya? Terutama wanita yang gemar bertani.

Menjadi petani tidak hanya tentang mencangkul di sawah atau pulang dengan baju lusuh dan kotor. Seorang petani juga memiliki harkat dan martabat sendiri. Tidak dipungkiri bahwa seorang petani merupakan seorang pengusaha bertamengkan kebun dan lahan.

Seorang petani kakao dituntut untuk tekun dan sabar. Perempuan sebagai insan yang lembut tentu saja memiliki kemampuan jika diberikan kesempatan untuk menekuni bidang ini. Bukan karena keterpaksaan, tetapi dari hati nurani murni ingin mandiri. Seperti dilansir dari sumber-sumber di Internet, diskriminasi gender masih kerap terjadi. Misalnya dalam hal perbedaan penentuan tugas karena jenis kelamin, bukan berdasarkan kompetensi dan kemampuan. Adapun kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Menjadi petani tidak mesti tampak lusuh, tapi tidak juga takut kotor. Sebuah kerja keras tidak bisa didapat jika setengah-setengah. Karena itu, perempuan belia seperti saya ini supaya jangan takut mencoba hal baru. Para petani kakao Jembrana telah membuktikanya. Kerja keras dan kuatnya pemberdayaan perempuan sehingga timbul hubungan kerja sama yang timbal balik, membuahkan hasil hingga ke kancah dunia.

Pahlawan Agronomi

Secara khusus saya sempat berbincang dengan salah satu petani wanita yang sudah terjun ke bidang ini sejak ia menikah. “Pernah belajar akuntansi pada salah satu universitas di Jakarta, eh, tidak disangka malah menjadi petani kakao untuk membantu suami,” ungkap Ni Made Budi Ayu Anggreni saat kami datangi di kediamanya.

Beliau menceritakan pengalaman pertamanya saat menginjakkan kaki di kebun. Sedari kecil ia hanya fokus pada pendidikan dan sesekali membantu keluarga berdagang. Sama sekali tidak pernah beroikir akan menjadi seorang petani seperti sekarang membuat Kadek Ayu, begitu kerap ia disapa, tidak memiliki pengalaman dan gambaran pasti mengenai dunia pertanian.

Pengalaman menggelikan pun tidak luput ia rasakan ketika pertama kali berada di kebun suami yang diwariskan turun temurun tersebut. Salah satunya saat salah mengira biji nangka sebagai biji kakao. Kedua biji ini memang agak mirip hanya saja memiliki perbedaan dari segi ukuran. Biji nangka lebih besar daripada biji kakao.

“Suami saya sampai tertawa, padahal sudah dapat satu ember,” ucap Kadek Ayu sambil tertawa geli mengingat kejadian itu. Memulai sesuatu dari dasar ketika sudah menikah begini merupakan sesuatu yang unik dan menantang untuk Kadek Ayu. Dia menerangkan, awal mula niatnya hanya untuk membantu suami karena mertua tidak di rumah dan dia sendirian. Bahkan ketika telah dikaruniai seorang putri yang cantik jelita, Kadek Ayu tidak vakum dari kegiatanya bertani kakao.

Kadek Ayu menuturkan dengan senyum semringah mengingat momen pertama ia mengajak kedua putrinya ke kebun. Keduanya tampak senang dan tidak lupa pula ikut membantu. Kedua malaikatnya itu akan mengumpulkan biji kakao kemudian dibawa pulang dan dijemurnya. Setelah itu mereka sepakat menjual biji tersebut kepada guru di sekolah mereka yang juga kebetulan pedagang biji kakao.

Uang hasil penjualan ditabung di bank. Inginnya digunakan untuk keperluan masa depan. Kadek Ayu dan suami telah mengajarkan buah hatinya untuk hidup mandiri dan mencintai pekerjaan kedua orang tuanya.

Kadek Ayu tersenyum sendu sambil menatap kami. “Saya nggak mau mereka merasa malu dan terintimidasi oleh ejekan dari teman-temanya karena kami hanyalah petani kakao. Saya dan suami ingin menanamkan pada mereka bahwa petani kakao juga pahlawan, tapi di ladang,” ujarnya.

Ajaran itu pun tidak sia-sia karena kedua putri mereka kini telah sukses dengan jalan masing-masing. Kini tinggal si bungsu yang masih duduk di sekolah menengah pertama.

Seorang ibu, istri, sekaligus petani wanita yang mengurus kebun bukanlah pekerjaan yang dibilang mudah. Bangun di pagi hari, menyiapkan sarapan untuk anak-anak sekolah. Lalu siangnya berangkat ke kebun hingga sore menjelang. Belum lagi mengurus pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, mencuci, dan memasak merupakan tanggung jawab besar bagi Kadek Ayu. Beliau tidak ingin hal tersebut menghalangi jalanya untuk tetap bertani kakao.

Ibu beranak tiga itu yakin jika sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesabaran, sesulit apapun itu pasti akan diberikan jalan oleh-Nya. Benar saja, masa-masa penuh tantangan ketika harus mengurus si kecil di rumah dan bertani kakao berhasil Kadek Ayu lewati dengan lancar.

“Dulu saya ini juga termasuk perempuan manja di masa muda. Suka belanja, berpenampilan cantik. Ah, pokoknya yang kayak gitu! Tapi sekarang saya sadar bahwa itu semua bukan segalanya,” tuturnya. Lagi-lagi dengan senyum khas di wajahnya.

Kadek Ayu menyayangkan pendidikanya yang tidak bisa lancar hingga usai dikarenakan sakit. Namun, kini ia tidak lagi menyesal karena menyadari bahwa inilah jalan yang ditunjukkan Tuhan. Memiliki suami, tiga anak yang jelita, dan menjadi petani wanita kakao yang berperan dalam memajukan kakao Jembrana merupakan jawaban Tuhan atas hal-hal malang yang menimpanya dahulu. Ia sangat bersyukur.

Wanita berumur 45 tahun ini merasa tidak terbebani dengan profesinya sebagai petani. Malahan merasa sangat menikmatinya. Menurut Kadek Ayu, petani meskipun lusuh-lusuh begitu sebenarnya juga berjasa dalam menghasilkan bahan pangan. Penghasilannya pun tidak kalah dengan pekerjaan orang elite jika musim panen tiba.

Intinya adalah tentang kesabaran dan tekun. Apalagi saat serangan hama beberapa tahun silam. Kala itu keadaan sungguh kacau. Kadek dan suami kebingungan, padahal sudah mencari di berbagai sumber, tidak juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya kedua pasangan petani ini mengenal sistem sambung pucuk, samping, dan batang. Keadaan pun kembali pulih.

Lagi-lagi bicara soal takdir. Tidak lama setelah itu, tepatnya akhir 2015, mereka dipertemukan dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan Yayasan Kalimajari. Mulai dari sini kerja sama dan kerja keras kedua belah pihak digencarkan. Lika-liku akibat musim yang tidak stabil, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), dan belum ditemukanya skill yang tepat dalam memfermentasi biji kakao pun dihadapi.

Sampai akhirnya kakao fermentasi Jembrana berhasil mendapatkan perhatian dunia. Sejumlah besar buah kakao hasil fermentasi dari Jembrana diekspor ke luar negeri dan berhasil menyabet sertifikat Cacao Excellent 2017, di Paris, Perancis.

Kabupaten Jembrana, khususnya di Koperasi KSS menjadi daerah pertama di Indonesia yang berhasil menyabet penghargaan kelas dunia dalam hal fermentasi kakao. Hal ini merupakan sesuatu yang membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat segala dan serta pengorbanan sejumlah komponen koperasi yang terlibat dalam keberhasilan ini. Tidak luput juga peran petani kakao yang atas kerja kerasnya mampu menghasilkan biji berkualitas dan mempertahankan kebun yang terserang hama kala itu. Dalam konteks lebih khusus dari topik yang sedang saya bicarakan, petani wanita juga memegang andil penting.

Kala itu saya dan rekan saya mengunjungi Koperasi KSS. Kami bertemu dengan beberapa petani wanita yang bertugas di penyortiran biji. Semua petani tersebut sangat ramah dan menerima kehadiran kami dengan tangan terbuka. Ketika ditanya soal peran wanita dalam program kakao lestari, mereka memberikan jawaban sederhana namun membuat diri saya baru sadar akan potensi yang dimiliki wanita.

Salah satu petani wanita, Ibu Kerti, menuturkan bahwa penyortiran biji memerlukan kesabaran dan ketelitian. Seorang laki-laki mungkin bisa melakukanya juga, akan tetapi bakat wanita yang merupakan bawaanya dari lahir tentang keterampilan semacam itu tidak bisa diremehkan. Petani wanita ini secara khusus terjun di bidang pengolahan biji kakao sedangkan Ibu Kadek Ayu yang merawat pohon kakao di kebun. Keduanya sama-sama petani wanita kakao di Jembrana dengan peran yang berbeda namun untuk tujuan yang sama.

Kenapa Tidak?

Tingginya peran perempuan di Koperasi KSS, baik dari kebun maupun pengolahan, menunjukkan pentingnya kesetaraan gender dalam pertanian, termasuk kakao berkelanjutan di Jembrana. Petani laki-laki dan perempuan tidak boleh dibeda-bedakan haknya. Kepala Bidang Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jembrana, Ni Ketut Arwati, S.Pd, menyatakan ketidaksetujuanya tentang perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki pada beberapa aspek kehidupan. Salah satunya dalam memilih pekerjaan dan meneruskan kehidupan.

“Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan, sih. Adat purusa di Bali membuat ini susah,” pungkas ibu dua orang anak ini. Budaya yang telah masyarakat yakini sejak dahulu sungguh sulit untuk diubah, meski demi kebaikan dan merupakan bentuk dari proses penyesuaian terhadap globalisasi.

Bagaimanapun, salah merombak tradisi di masyarakat akan menimbulkan perpecahan dan konflik. Anggapan bahwa perempuan hanya bertugas melayani suami dan tidak diberi kesempatan bekerja serta memperluas pengetahuan, sampai saat ini masih saja tertanam dalam benak masyarakat. Mereka belum memahami situasi dunia yang tidak bisa kaku semacam itu.

Akan tetapi, suasana menjadi sedikit canggung setelah membicarakan adat dan nasib perempuan di masa lalu. Ibu Arwati tersenyum dan menatap kami, seolah tidak ingin membuat kami yang masih menempuh pendidikan ini ikut terseret arus. Melihat suasana telah kembali normal, akhirnya kami mulai pada bagian inti yaitu mengenai petani wanita kakao di Jembrana.

“Saya sih setuju-setuju saja dengan wanita yang bertani. Kenapa tidak? Kalau karena gengsi dan takut kotor, itu sih cuma kedok supaya bisa malas-malasan di rumah,” ujarnya sambil mengerling pada kami berdua. Melihat reaksi kami yang salah tingkah, beliau melanjutkan. “Maksud ibu, perempuan juga bisa. Srikandi bahkan bisa membunuh ksatria termasyur semacam Bhisma bukan? Saran saya, tidak perlu gengsi asalkan pekerjaanya positif,” ujarnya.

Banyak pengaduan yang pernah Ibu Arwati terima, tapi yang paling melankolis adalah kasus sepasang suami istri berseteru karena dimulai dari media sosial. Sambil menceritakanya, wanita umur 53 tahun itu menyuguhkan kami segelas air dan beberapa kali bertanya mengenai prospek kami ke depan. Pembicaraan dengan beliau sungguh ringan dan keibuan. Tidak lupa, di akhir percakapan kami Ibu Arwati kembali membuka suaranya.

“Kapan-kapan saya mau, deh, berkunjung ke kebun kakaonya. Siapa tahu tertarik bertani juga!” Kami berdua tersenyum mendapat respon menyenangkan tersebut.

Meninjau hal yang telah saya paparkan, menurut saya pemberdayaan perempuan perlu lebih digencarkan lagi dengan menyadari kelebihan yang dimiliki insan bernama wanita ini. Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang. Tidak memandangnya sebelah mata seolah wanita hanya pelengkap dan tidak bisa berdikari. Saya rasa cukup dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Dari diri saya sendiri yang kebetulan juga merupakan seorang perempuan yang masih menuntut pendidikan, saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan kerja keras. Menekuni bidang yang diminati adalah sebuah pilihan tersendiri. Bila minat saya berada di pertanian kakao, mengapa tidak?

Sedangkan dari lingkungan sekitar saya rasa lebih banyak untuk melibatkan wanita dalam setiap program, khususnya dalam hal ini yaitu program kakao lestari. Bahwa potensi yang ada pada diri wanita tidak akan pernah mencuat jika tidak ada rasa saling menghargai dan membutuhkan. Seseorang akan memberikan hal lebih dari kemampuanya ketika merasa dihargai.

Harapannya, semoga peran perempuan dalam program kakao lestari dapat lebih diapresiasi lagi. Misalkan dengan tidak mencibir setiap langkah yang ia tempuh jika tidak merugikan siapapun. Karena sosok dewi ini pun dapat memimpin tanpa terus harus dipimpin. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan salah satu dari tiga karya terbaik dalam Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS)

The post Kecantikan Bukan sebagai Standar Kesuksesan Perempuan appeared first on BaleBengong.

Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia

Pelepasan biji kakao dari Jembrana ke pembeli.

Harapannya, Jembrana bisa menjadi jendela kakao fermentasi Indonesia.

Petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali mengirimkan biji kakao kering fermentasi sebanyak 11 ton untuk pembelinya di pasar internasional maupun domestik. Pengiriman secara seremonial diadakan pada Kamis, 6 September 2018, di depan Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Negara, Jembrana.

Hadir sekitar 700 undangan, termasuk petani, pelajar, Bupati Jembrana, dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Petani yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS) mengirim biji kakao kering tersebut ke lima pembeli yaitu Valrhona Peranci (5 ton), AKP Organic untuk Dari-K Jepang (2 ton), Cau Chocolate (2 ton), POD (1 ton), dan Bali Chocolate Factory (1 ton). Seluruhnya dalam bentuk kakao kering fermentasi.

Keberhasilan petani kakao Jembrana mengekspor kakao fermentasi ke Perancis dan Jepang maupun pasar domestik ini mendapat apresiasi dari Dirjen Perkebunan Bambang. Dalam sambutan pelepasan ekspor, Bambang mengatakan kakao fermentasi dari Jembrana menjadi bukti bahwa Indonesia bisa memproduksi kakao berkualitas.

“Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas,” kata Bambang.

Jembrana luar biasa karena menjadi percontohan kakao fermentasi nasional. Jembrana bisa menjadi jendela masa depan kakao Indonesia yang berkualitas.

Bambang menambahkan saat ini kebutuhan cokelat dunia semakin bertambah. Indonesia berpotensi menjadi produsen kakao berkualitas dunia karena selama ini merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan kualitas lebih bagus, termasuk melalui fermentasi, kakao Indonesia akan mendapatkan harga lebih tinggi pula.

Menurut Bambang Indonesia sebagai pengahasil kakao terbesar ketiga di dunia justru dikenal sebagai produsen kakao yang terburuk karena tidak terfermentasi. “Kesadaraan untuk mengolah kakao melalui fermentasi itu tumbuh dari Jembrana dan itu pelajaran yang sangat penting untuk kita,” ujarnya.

Masa depan kakao Indonesia, Bambang melanjutkan, akan berjaya seiring dengan perhatian dari para pembeli yang memberikan harga lebih tinggi. Karena itu, Bambang mendesak agar Pemerintah Kabupaten Jembrana lebih serius menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan daerah. “Pemahaman perkebunan yang baik akan berdampak terhadap hasil lebih baik karena pemahaman pejabat-pejabat daerah masih menganggap sektor perkebunan itu belum penting. Padahal, perkebunan adalah fundamental kekuatan ekonomian nasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan MOU antara Koperasi KSS dengan POD Chocolate, Mason Gourmet Chocolate, Cau Chocolate dan AKP Organic untuk dukungan kerjasama yang lebih berkelanjutan. Kampanye Coklat juga menjadi bagian dari membangun kesadaran publik bahwa kakao Jembrana adalah milik bersama dan patut untuk didukung. Public Awareness melalui Chocolate Campaign sepenuhnya didukung oleh Cau Chocolate, POD Chocolate dan Mason Gourmet Chocolate. Dedikasi penuh ini diberikan untuk para pejuang kakao Jembrana.

Penandatanganan MoU antara petani kakao dengan pembeli.

Menjawab Tantangan

Bupati Jembrana I Putu Artha menyatakan menyambut baik saran Dirjen Perkebunan tersebut sebagaimana selama ini sudah ditunjukkan oleh Pemkab Jembrana. Pihak menyadari bahwa sektor pertanian dan perkebunan berperan penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan, tetapi di sisi lain sektor ini justru menghadapi banyak tantangan, seperti alih fungsi lahan dan kurangnya minat anak muda.

“Selama delapan tahun terakhir kami menyambut baik program Kakao Lestari untuk pengembangan kakao unggulan yang dampaknya sudah dirasakan oleh para petani saat ini. Petani mulai bangkit untuk mengelola kebun kakaonya dari hulu sampai hilir, yang hasilnya bisa kita lihat pada hari ini bahwa kakao Jembrana bias merambah dunia internasional. Ini adalah hasil dari komitmen semua pihak,” ujar Bupati Artha.

Bupati menambahkan Jembrana memiliki satu satunya lembaga koperasi yang bergerak di bidang perkakaoan yaitu Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) yang memiliki anggota 38 subak abian atau subak di kawasan kering. Koperasi ini mampu mendampingi dan memfasilitasi anggotanya dalam proses, produksi, mutu dan juga pemasaran walaupun masih sebatas biji kakao fermentasi. Jumlah anggota koperasi saat ini adalah 609 petani kakao.

“Ke depan agar para petani anggota koperasi tidak terhenti hanya pada produk biji kakao fermentasi, tetapi sampai juga kepada produk turunan biji kakao untuk peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Jembrana,” Bupati Artha berharap.

Julien Desmedt, perwakilan Valrhona Perancis yang membeli kakao fermentasi dari Jembrana sejak 2015, berharap petani bisa berkomitmen untuk menjaga kualitas biji kakao dengan dukungan semua pihak. “Hal yang paling penting adalah peremajaan pohon dengan klon-klon baru yang tahan terhadap hama agar dapat memberi hasil kualitas yang lebih baik dan juga akan memberi income yang lebih baik lagi untuk para petani,” katanya.

Adapun Agung Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajari yang mendampingi petani kakao Jembrana dalam program Kakao Lestari sejak 2011, mengatakan pengiriman kakao ini membuktikan bahwa petani bisa mengubah pandangan negatif terhadap sektor pertanian selama ini. “Ini bukti bahwa pasar memang ada di depan mata, tetapi kita harus berjuang untuk mencapainya. Ini bukan mission impossible karena kita bisa mewujudkannya,” kata Widiastuti.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana. Jika dulunya mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan pasar, tetapi saat ini justru mereka yang dicari-cari oleh pembeli. “Kami bangga karena ini sekaligus membuktikan bahwa petani kakao bisa membawa harum nama Jembrana dan Indonesia ke pasar internasional,” ujarnya. [b]

The post Petani Jembrana Harumkan Kakao Fermentasi Indonesia appeared first on BaleBengong.

Kakao Lestari yang Mengubah Hidup Petani

Program Kakao Lestari di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Saya terpaksa terjun di kakao sejak tahun 2016.

Itupun secara profesional dan dalam waktu singkat. Waktu itu, kebetulan saya terlibat dalam penelitian energi baru terbarukan, tentang biogas. Proyek ini multidisiplin dan lintas geografis antarbenua. Donornya European Union (EU) Horizon 2020 dalam sebuah konsorsium bernama Green Growth and Win-win Strategies for Sustainability and Climate Action (GreenWIN).

Namanya juga proyek penelitian, kegiatannya selalu dipenuhi eksperimen. Salah satunya mengenai integrasi pertanian berkelanjutan dengan menambahkan satu nilai berupa adopsi fungsi bioenergi dalam tingkat rumah tangga kelompok tani. Berdasarkan hasil uji kompetensi dan studi kelayakan, sampailah saya pada suatu eksperimen menggunakan limbah perkebunan kakao sebagai bahan baku biogas.

Saya ingat sekali. Saat itu pertama kali saya ke Jembrana, berjarak sekitar 100 km dari Denpasar, bersama empat orang dalam satu tim. Ada Marco, insinyur asal Italia; Cyprien yang juga insinyur dari Prancis; dan Arti, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu baru lulus master di Wageningen, Belanda. Orang-orang pintar semua mereka itu.

Saya sendiri mendapat peran penting dalam tim ini, menyetir mobil selama perjalanan dari basecamp kami di Canggu, hingga sampai di Desa Nusasari, Melaya, Jembrana. Tak lupa juga, yang dipakai pada saat itu adalah mobil pribadi saya. Penting sekali bukan, peran saya? 🙂

Kami berangkat setelah mendapat mandat yang sudah disetujui Direktur Yayasan Kalimajari, pendamping program Kakao Lestari di Jembrana, I Gusti Agung Ayu Widiastuti. Beliau bilang, integrasi ini akan cocok sekali dengan misi yang ingin dicapai petani kakao di Jembrana. Memperkuat ketangguhan petani melalui potensi yang dimiliki dan mendapatkan satu substansi praktik pertanian ramah lingkungan.

Harapannya, petani memperoleh nilai ekonomis lebih tinggi untuk produk biji kakao mereka karena telah menerapkan suatu hal yang meningkatkan rantai nilai.

Kami berangkat membawa peralatan instalasi biogas. Mobil saya yang kecil, diupayakan untuk “mampu” menampung semua properti yang dibutuhkan.

Kami saja sudah berempat, bagian bagasi belakang penuh dengan peralatan pertukangan. Bahan baku biodigester berupa PVC berukuran 2 meter sudah terikat di atap mobil. Ditambah dua buah pipa sepanjang satu meter dengan diameter sebesar 30 cm harus. Ujung-ujungnya kami letakkan di antara tempat duduk masing-masing penumpang. Posisinya melintang dari belakang hingga depan mobil.

Jadilah kami duduk bersebelah-sebelahan, tetapi tidak dapat saling memandang, karena terhalang oleh besarnya pipa itu. Begitulah keadaannya sepanjang tiga jam perjalanan.

Menarik sekali menceritakan pengalaman tak terlupakan. Tapi bukan itu inti cerita ini. Di atas hanyalah prolog tentang bagaimana saya pertama kali berurusan dengan petani kakao. Sebatas profesional dan ikatan kerja, tak sedikit pun terbesit akan ada ikatan emosional setelahnya.

Namun, hari ini saya merasa beda.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Begitu Saja Terjadi

Semenjak saat proyek itu, saya meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan sekolah. Belajar di negeri nun jauh di Eropa bagian Utara sana. Fokus materi pilihan saya adalah pembangunan berkelanjutan. Saya memilih sains karena percaya, pendekatan itulah yang akan mengubah negeri kaya raya ini, menjadi lebih adil dan bijaksana dalam mengelola hasil alamnya.

Setidaknya, itulah yang ada di pikiran saya sebagai manusia yang cukup tahu. Bahwa alam ini tidak dapat menyediakan semua yang kita inginkan dalam tingkat keserakahan.

Kemudian saya pulang.

Entah apa lagi yang membuat saya kembali ke kakao, di Jembrana. Alurnya begitu saja terjadi. Jika saya ceritakan di sini, akan panjang sekali.

Namun, begitulah. Aktivitas saya di Yayasan Kalimajari yang semula hanya untuk memenuhi kredit akademik sebagai standar kelulusan pascasarjana, menjadi lebih kompleks karena sekarang saya terlibat langsung dalam proyek bertajuk Sustainability action and advocacy in Kakao (SUBAK). Proyek ini didanai langsung oleh UTZ, lembaga sertifikasi yang mempunyai basis kerja di Belanda.

Semenjak saat itu hingga tahun 2018 ini, saya menjadi sering sekali ke Jembrana. Menjadi lebih banyak berinteraksi dengan para petani kakao. Baik petani ahli, petani generik, petani muda, petani wanita, hingga petani pemula yang baru mau menjadi petani saking tertariknya dengan visi dan misi program Kakao Lestari di Jembrana ini.

Namun, perjalanan ini menjadi lebih menarik. Terlebih ketika saya terlibat dalam pelatihan membuat The Most Significant Changes (MSC) atau perubahan paling penting. Ini adalah suatu metode pendekatan terkait monitoring dan evaluasi program. Pesertanya kawan-kawan petani yang diberi pelatihan untuk menceritakan perubahan signifikan dalam kehidupannya sebelum dan selama berlangsungnya program Kakao Lestari hingga saat ini.

Pelatihan yang diberikan berupa metode penulisan cerita singkat, dilengkapi beberapa cara pelaporan secara visual melalui gambar-gambar kegiatan dengan topik fermentasi, organisasi, administrasi, budi daya dan pemasaran.

Kegiatan berlangsung menarik, hingga tiba saatnya peer review pada Kamis, 23 Agustus 2018 lalu. Partisipan diminta mengevaluasi tulisan peserta lain secara berpasang-pasangan. Salah satu pasangan selesai sebelum batas waktu yang diberikan. Kami pun memiliki waktu lebih untuk bercerita secara personal kesana kemari. Topiknya tidak jauh-jauh dari perkakaoan.

“Sepuluh tahun yang lalu, kakao menjawab doa saya,” ujarnya.

Jawaban singkat yang menarik untuk melahirkan beberapa pertanyaan lanjutan. Padahal, saya cuma membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan sederhana. “Adi jeg bise kadung tresne jak kakao, Pak?” (Kok bisa jadi telanjur cinta dengan kakao, Pak?)

Gede Eka Aryasa petani di Jembrana peserta program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Konflik Keluarga

Jawaban singkat I Gede Eka Aryasa, petani kakao dari Desa Penyaringan, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, itulah yang menjadi sumber inspirasi tulisan ini.

Bapak berusia 38 tahun, yang biasa dipanggil Guru Eka ini, memulai ceritanya bahwa ia sudah senang berkebun sedari kecil. Lebih tepatnya sejak umur sekitar dua tahun. Dia tak begitu ingat. Sejak itu, ia kerap membantu ayahnya bekerja di kebun, setiap hari, setiap saat, kapan pun setiap ada waktu.

Bagi dia dan keluarganya, menjadi petani adalah mata pencaharian turun temurun. Ibarat sebuah dinasti. Kebun yang dimiliki ayahnya cukup luas, berisi beragam macam tanaman buah-buahan dan hasil alam lainnya. Kebanggaan sebagai petani pada saat itu, luar biasa dianutnya.

Namun, beberapa tahun lalu terjadi konflik keluarga yang membuatnya dibenci dan membenci ayah kandungnya sendiri. Orang yang justru pertama kali memperkenalkannya pada kakao.

Ayahnya yang dulu mempunyai kebiasaan berjudi. Tabiat kurang baik ini membawa dampak ke kehidupan keluarga kecilnya. Ayahnya kerap pulang ke rumah dalam keadaan marah dan merusak perabot di sekitarnya. Tak ayal lagi, orang tuanya pun bercerai.

Kemudian ayahnya menikah lagi. Bakal ibu tiri Guru Eka adalah wanita muda sepantaran dirinya. Situasi ini membuatnya berjanji pada diri sendiri. “Sedetik pun, saya tidak akan pernah berjudi. Apapun jenis permainan judinya. Tidak akan pernah,” ujarnya.

Perpisahan orang tua membuatnya memilih untuk tinggal bersama ibu kandungnya. Keputusan yang membuat sang ayah makin membencinya. “Mungkin sampai sekarang bapak masih benci sama saya,” dia menambahkan dengan lirih.

Semenjak tinggal bersama ibunya, ia membantu sang ibu berjualan ke pasar di Denpasar. Membawa hasil bumi dari kebun orang-orang di sekitar kampungnya.

Iya benar, hasil bumi yang dijual berasal dari kebun orang lain, bukan kebunnya sendiri. Hal itu karena semenjak ayahnya menikah lagi, ia tidak pernah kembali ke kebunnya. Hubungan yang rumit dengan ayahnya membuat Guru Eka menganggap bahwa ia tak pernah memiliki kebun.

“Bukan kebun saya. Kebun bapak itu. Sing juari,” katanya.

Ia juga menyebutkan, terakhir kali ke kebun adalah ketika melihat ayahnya sedang bertengkar dengan ibunya. Di saat sama, ia melihat bibit tanaman kakao yang katanya bibit unggul turun temurun, Lindak namanya. Masih jelas di ingatannya, andai saja ayah dan ibunya tak bertengkar, hari itu sang ayah berencana mengajaknya untuk menanam bibit tersebut di kebunnya.

Setiap hari ke pasar, ia banyak bercakap dengan sang ibu, sehingga ia semakin akrab dengan ibunya. Ibunya seringkali mengatakan bahwa ia berhak atas sebagian kebun yang dimiliki ayahnya, karena ia merupakan anak laki-laki. Di Bali, anak laki-laki memiliki hak prerogatif atas materi yang menjadi barang bukti harta gono gini.

Pemilahan kakao fermentasi di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Tak Ingin Ribut

Guru Eka tidak meragukan bahwa ia sangat menyayangi ibunya, tapi obrolan mengenai ambil alih kebun ini membuatnya jengah. Ia hanya berpikiran bahwa ayahnya masih hidup, dan ia tidak ingin meributkan permasalahan mengenai warisan atau sebagainya. Baginya dibenci oleh ayahnya sendiri saja sudah cukup menyakitkan. Tak usahlah lagi membawa masalah duniawi untuk memperuncing keadaan.

Namun, sang ibu berdalih bahwa ini adalah wujud tanggung jawab sang ayah, dan ia sebagai anak laki-laki harus memperjuangkannya.

“SRAKKKK!”

Guru Eka menirukan bunyi ketika ia memukul buah-buahan dan semua hasil bumi di belakang mobil pikapnya. Refleks karena kesal dengan ibu yang terus menerus memaksanya untuk mengambil alih kebun ayahnya. Ia pun bertengkar dengan ibunya di pasar, di depan para pelanggan mereka. Ia bosan, jengah dan juga marah.

Semenjak pertengkarannya itu, ia memutuskan pindah ke Denpasar. Merantau seorang diri dan menjadi anak kos agar tidak lagi bersama ibunya. Ia rela bekerja apapun yang ia bisa kerjakan asalkan halal untuk bisa bertahan hidup.

Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama, ibunya menyusul ke tempat tinggalnya. Rupanya sang ibu merindukan dirinya, dan memintanya untuk kembali pulang dan tinggal bersamanya. Sekali lagi, kasih sayang terhadap ibu dan mengingat pengorbanan ibunya selama ini, ia pun luluh. Pulanglah ia untuk kembali berjuang bersama sang ibu.

Tak dinyana, ternyata ayahnya mengetahui perihal permasalahannya dengan sang ibu. Di saat yang sama, sang ayah beserta keluarga barunya berniat mengikuti program transmigrasi ke Sulawesi.

Ayahnya menawarkan rumahnya untuk ia tinggali. “Nyak sing nongos di jumah ne? Men ye sing nyak, kal juang ke nyen gen kal meli.” Begitu ia menirukan penawaran ayahnya saat itu. Artinya, kurang lebih sang ayah menawarkan dirinya untuk tinggal di rumah dulu. Jika ia tidak berkenan, maka rumah itu akan dijual saja ke siapapun yang ingin membeli.

Guru Eka sempat menimbang-nimbang, tetapi akhirnya ia memutuskan menerima tawaran itu. Pertimbangannya adalah lagi-lagi sang ibu. Ia tidak ingin menjadi beban bagi sang ibu, terutama ketika ia ingin memulai hidup baru dengan menikahi si bibik, istrinya hingga saat ini.

Jadilah ia tinggal di rumah ayahnya dengan keluarga kecilnya. Semenjak ayahnya hijrah ke Sulawesi, ia tahu bahwa kebun milik sang ayah di sewakan ke orang lain. Tapi ia memilih tidak pernah membahas hal tersebut. “Malu,” ujarnya.

Beberapa sanak keluarga yang kerap mengunjunginya selalu berbicara hal sama dengan sang ibu, bahwa kebun itu miliknya juga. Bahkan ada kerabatnya yang mulai membanding-bandingkan tingkat ekonominya dengan kerabat lain. Andai saja ia memiliki kebun itu, tentu ia bisa hidup lebih baik untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari beserta anak dan istri. Tapi ia tetap bersikukuh.

“Biarlah,” katanya.

Pengolahan kakao secara fermentasi memberikan nilai tambah bagi kakao Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Jual Cincin Kawin

Singkat cerita, masa sewa kebun milik ayahnya berakhir. Kemudian ia mendengar dari salah satu pamannya, bahwa sang ayah akan menjual kebun tersebut. Pamannya menanyakan apakah ia mempunyai tabungan untuk membeli, karena pamannya yakin bahwa kebun itu adalah sesuatu yang harus dimilikinya. Umpamanya, kebun itu adalah jodohnya.

Namun, sayang sekali, ia tidak memiliki tabungan. Gaya hidup sederhana yang terpaksa ia jalani bersama istrinya sudah cukup menyusahkan. Bagaimana mungkin ia membeli kebun? Namun, rupanya tekad sang paman sangat kuat. Guru Ekapun mulai merasakan bahwa kebun tersebut juga menginginkan ia sebagai pemilik berikutnya.

Jadilah Guru Eka menjual satu-satunya harta yang ia miliki, cincin perkawinannya. Uang hasil penjualan cincin, ditambah sedikit pinjaman dari tetangga ia gunakan sebagai uang muka. Sisanya ia berjanji untuk mencicil dengan berbagai cara.

Sebenarnya agak aneh. Guru Eka memilih membeli kebun ayahnya sendiri, yang sebenarnya bisa ia dapatkan dengan gratis kalau saja ia mau mengurus tetek bengeknya. Namun, ia yakin, inilah jalan terbaik. Kebun seluas 5 hektar itu sangat produktif. Setengah lahannya ditanami kakao, setengahnya lagi banyak tanaman hasil bumi lainnya seperti manggis, mangga, pisang, pala, cengkeh, kopi, vanili juga jati.

Dua bulan pertama semenjak resmi memiliki kebun tersebut, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya membayar orang untuk mengurus kebun, karena ia sendiri sudah hampir lupa caranya berkebun. “Jeg bes sai medagang, kanti engsap tiang berkebun,” ujarnya lantas tertawa.

Dia bilang terlalu sering berdagang, sampai lupa saya berkebun.

Selama dua bulan ia memperhatikan cara orang-orang tersebut merawat dan mengurus kebun. Proses menanam hingga memanen. Juga bagaimana memperkirakan tingkat produktivitas dari setiap jenis tanaman di kebun ia perhatikan dengan sangat baik. Ia ingat sekali, zaman itu kebun kakaonya mampu menghasilkan 500 kilogram biji kakao kering yang dipanen setiap 15 hari sekali.

Bahagia sekali ia dapat kembali menjadi petani.

Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Ayu Agung Widiastuti saat berdiskusi dengan petani. Foto Anton Muhajir.

Merosot Tajam

Selama beberapa tahun, kakao menjadi sumber utama pemasukan ekonominya. Namun, di tahun 2000an, terjadi serangan penyakit. Hampir semua tanaman kakao di kebunnya menjadi gundul dan mati akibat vascular streak dieback (VSD). Kondisi ini menyebabkan hasil panennya merosot tajam menjadi hanya 70 kilogram setiap masa panen.

Ia menjadi sedih, terpuruk dan bahkan merasa gagal. Sumber penghidupan yang ia andalkan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya kini menghilang. Ia marah kepada semua pohon-pohon kakao yang dimilikinya. Ia mulai menendangi, memukuli dan memaki. Murni ia lakukan untuk meluapkan kekesalannya.

Pada suatu hari di tahun 2006, ia memutuskan untuk menebang saja semua pohon kakao yang ia miliki. Tujuannya untuk mengganti dengan bibit tanaman lain seperti jati, setidaknya itu lebih aman untuk investasi, pikirnya waktu itu. Ia pun pergi untuk membeli sebanyak 2.000 bibit jati yang rencananya akan ia tanam sesegera mungkin.

Sekembalinya mencari bibit jati, ia mampir ke kebun untuk melihat-lihat. “Mungkin untuk terakhir kali sebelum semua pohon kakao saya tebang esok hari,” begitu ujarnya menirukan pikirannya waktu itu.

Ketika berjalan-jalan, barulah ia melihat ada empat pohon kakao yang tetap berbuah meskipun pohon kakao lain meranggas hampir mati. Ia menjadi bingung, tetapi di saat bersamaan ia merasa mempunyai harapan untuk tetap mempertahankan kebun kakao miliknya. Terlebih ketika ia juga menyadari, keempat pohon itu adalah pohon dengan jenis klon Lindak yang ditanam ayahnya secara turun temurun. Jenis klon sama dengan bibit yang ia lihat dulu sewaktu terakhir kali ke kebun bersama ayahnya.

Ia pun berlari, mencari sang istri untuk menceritakan apa yang terjadi. Di saat itu dia melihat pelinggih (tempat menghaturkan sesaji Tuhan bagi umat Hindu) di tengah kebun.

Tanpa pikir panjang, ia segera bersimpuh. Mengambil sejumput bunga yang di situ. Kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, menutup mata dan berdoa kepada Tuhan yang ia percayai. Terucap di bibirnya waktu itu, “Ida Sang Hyang Widi Wasa, tunjukkan jalan. Jika kakao adalah hidup saya, tunjukkan jalannya. Tunjukkan jalan. Sekali lagi, tunjukkan jalan.”

Pelatihan Most Significant Change untuk petani kakao di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Manfaat Lebih Tinggi

Guru Eka bertahan dengan kebun kakaonya. Sedikit demi sedikit ia berhasil memulihkan pohon kakao yang terserang penyakit. Hal yang ia lakukan adalah belajar, belajar, dan belajar. Ia mencari ilmu dari mana saja, melalui kawan petani yang lebih dahulu berhasil, melalui pelatihan-pelatihan yang didapatkan dari penyuluh, termasuk juga melalui Internet.

Jalannya memang tak mudah, bahkan tidak akan pernah mudah. Namun, ia telanjur percaya bahwa kakao akan menjadi bagian dari hidupnya, selamanya. Di tahun 2016, pertemuannya dengan Koperasi Kerta Samaya Samaniya (Koperasi KSS) dan juga Yayasan Kalimajari selaku pendamping program Kakao Lestari menjadi jawaban dari doanya sepuluh tahun lalu. Biji kakao yang selama ini diolah secara asalan, melalui pendampingan program Kakao Lestari kemudian diproses secara fermentasi.

Begitulah cara memproduksi biji kakao berkualitas, sehingga petani mendapat manfaat ekonomi lebih tinggi untuk hasil kebun kakaonya. Secara angka, biji yang awalnya terjual hanya Rp 17.000 per kg, tetapi setelah dilakukan fermentasi, biji kakao tersebut dibeli oleh koperasi KSS seharga Rp 42.000 per kg.

Ia luar biasa senang sekali.

Seringkali ia mengikuti pelatihan-pelatihan yang difasilitasi Koperasi KSS dan Kalimajari, baik dari sektor hulu di kebun hingga menyasar sektor hilir di pemasaran. Kalimajari dan Koperasi KSS tidak hanya memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas biji kakao fermentasi, tapi juga mengembangkan kapasitas petani menjadi lebih berdaya guna melalui manajemen organisasi serta sertifikasi UTZ dan organik.

Tidak hanya itu, pelatihan MSC ini pun menjadi salah satu upaya meningkatkan kapasitas petani terkait jurnalisme dan fotografi. Pendampingan pelatihan dilakukan Anton Muhajir, jurnalis lepas di Bali, yang dipilih karena kredibilitas dan konsistensinya menyuarakan perubahan-perubahan di kalangan masyarakat sipil.

Tujuan pelatihan MSC ini adalah agar petani mampu menceritakan perubahan yang telah terjadi pada kehidupan mereka baik secara individu maupun kelompok. Pengalaman yang diceritakan harapannya akan mewakili suara-suara mengenai perjuangan petani di lapangan. Untuk memotivasi siapa saja yang terlibat dalam pengembangan kakao berkelanjutan di Jembrana, maupun di Indonesia secara keseluruhan.

Kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai pembuktian bahwa program Kakao Lestari di Jembrana selama hampir delapan tahun berproses, telah melahirkan perubahan-perubahan signifikan bagi petani kakao di Jembrana. Perubahan secara personal maupun profesional di kalangan petani terkait praktik pertanian ramah lingkungan dan pasar berkelanjutan baik di tingkat lokal hingga internasional.

Wow. Luar biasa sekali ya?

Saya bahkan tidak pernah meminta saya bisa bertemu dengan kawan-kawan petani yang selalu punya cerita. Tapi begitulah hidup mencipta. Apa saja bisa terjadi bahkan satu hal yang tidak pernah kau pikirkan. Di luar kesukaan saya terhadap cokelat, sekarang saya jadi tahu, bahwa perjuangan petani kakao di Indonesia masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Pastinya, itu semua tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemangku kepentingan harus bergandengan tangan, tidak memandang bulu asalkan satu napas dalam memperjuangkan hak-hak petani di lapangan.

Ah, semoga saja. [b]

The post Kakao Lestari yang Mengubah Hidup Petani appeared first on BaleBengong.

Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana

Pegawai di Koperasi Kerta Semaya Samaniya Jembrana menyortir biji kakao fermentasi pada Jumat (20/7). Foto Anton Muhajir.

Menara Kembar di Negara, Jembrana, Bali bagian barat menjadi saksi.

Jumat pekan lalu, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS), mengikat janji kerja sama pemasaran dengan salah satu pembeli kakao fermentasi bersertifikat organik, yaitu PT Cau Coklat Internasional.

Kedua pihak menandatangani kerja sama itu pada seremoni puncak acara Hari Ulang Tahun Koperasi Provinsi Bali ke-71. Acara itu diadakan di Gedung Kesenian Ir. Bung Karno Jembrana yang populer dengan nama Twin Tower alias Menara Kembar.

Kegiatan yang diadakan bersamaan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional XXV tersebut dihadiri Gubernur Bali (diwakili Sekda), Bupati dan Wakil Bupati Jembrana beserta ibu, para Asisten, Sekwan dan staf ahli. Hadir pula organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi Bali dan Kabupaten Jembrana serta para undangan serta masyarakat Jembrana dengan total hadirin lebih 1.000 orang.

Perjanjian Kerja Sama antara Koperasi KSS dengan PT Cau Coklat Internasional mencangkup komitmen aktivitas pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik di antara kedua belah pihak. Melalui perjanjian ini PT Cau Coklat Internasional menjamin tersedianya pasar berkelanjutan bagi biji kakao fermentasi bersertifikat organik yang diproduksi Koperasi KSS. Keduanya menyepakati volume jual beli sesuai dengan kebutuhan pada saat pembelian.

Koperasi KSS merupakan satu-satunya koperasi komoditas kakao di Bali yang membuka pemasaran satu pintu untuk produk biji kakao fermentasi bersertifikat UTZ dan organik di pasar premium lokal, nasional maupun internasional.

Sejak tahun 2011, bersama dengan Yayasan Kalimajari melalui program Kakao Lestari, Koperasi KSS telah berkolaborasi dengan 609 petani kakao dari 41 subak abian di Kabupaten Jembrana untuk melakukan pelatihan berkaitan dengan praktik pertanian kakao yang ramah lingkungan, praktek gizi yang baik, penerapan praktik keuangan yang bijak, termasuk sertifikasi produk.

Saat ini, biji kakao fermentasi Koperasi KSS mampu menembus pasar ekspor premium hingga ke Prancis (Valrhona), Jepang (Tachibana), Finlandia (Godio) dan menjadi penyedia bahan baku untuk perusahaan pengolah coklat nasional seperti POD, Primo, Cau Coklat, Mason, Krakakoa, Tripper, P3ER, Javara, Dari K, dan lain-lain.

Selain itu, biji kakao fermentasi dari Jembrana juga mendapat pengakuan “Cacao of Excellence” yang diselenggarakan oleh organisasi Biodiversity International yang didukung oleh Salon du Chocolat di Paris, pada November tahun lalu.

Penghargaan ini merupakan sebuah amunisi karena mampu memberikan peluang dan insentif untuk semakin berperan aktif dalam industri kakao premium, baik di tingkat nasional maupun dunia. Akibatnya, peran Koperasi KSS pun semakin strategis dalam memastikan biji kakao berkualitas tetap tersedia untuk kebutuhan dunia di masa depan.

Tujuan keseluruhan dari ruang gerak Koperasi KSS adalah untuk menciptakan lapangan kerja, memastikan kondisi kerja yang aman dan sehat, melestarikan lingkungan, meningkatkan produktivitas petani dan menambah pendapatan mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Dengan kata lain, Koperasi KSS adalah bukti bahwa lembaga ekonomi bisnis berbasis kemasyarakatan dapat menjadi solusi ekonomi berkelanjutan yang harus didukung perkembangannya dalam meningkatkan potensi lokal menembus pasar global.

Ketua Koperasi KSS, I Ketut Wiadnyana, menuturkan bahwa ditandatanginya perjanjian kerja sama pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik melalui satu pintu ini, dapat memberikan jaminan pasar berkelanjutan serta meningkatkan motivasi pihak yang terlibat untuk tetap berkomitmen memperjuangkan kepentingan bersama menuju kemandirian lembaga koperasi di Jembrana pada khususnya, dan Indonesia secara keseluruhan.

Sementara pada waktu yang sama, Direktur Utama PT. Cau Coklat Internasional, Surya Prasetya Wiguna, menambahkan perjanjian kerjasama terkait pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik ini sekiranya dapat menguatkan komitmen dalam rantai nilai kakao di Bali pada khususnya. Sehingga petani kakao di Jembrana dapat langsung menikmati harga premium yang ditawarkan oleh pasar, sebagai timbal balik dari konsistensi memproduksi biji kakao berkualitas premium.

Direktur Yayasan Kalimajari, I Gusti Ayu Agung Widiastuti, ketika dihubungi di lain tempat sepakat bahwa penandatangan perjanjian kerja sama di antara kedua belah pihak ini adalah satu langkah menuju implementasi pemasaran kakao fermentasi di pasar premium secara berkelanjutan.

Perjanjian ini bersifat mengikat sehingga dapat dijadikan jaminan komitmen dan konsistensi untuk menyejahterahkan petani kakao di Jembrana yang tergabung dalam program Kakao Lestari melalui Koperasi KSS. [b]

The post Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana appeared first on BaleBengong.