Tag Archives: Pertanian

Saatnya Bali Kembali ke Jati Dirinya, Bertani

Petani mengerjakan lahannya di Jatiluwih, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Pandemi ini mengingatkan kembali pada pertanian yang sudah terlupakan.

Pada mulanya masyarakat Bali mata pencahariannya adalah petani. Itu kita masih bisa lihat dengan jelas dari video, foto dan sejarah Bali tempo dulu.

Selain sejarah itu, kebudayaan agraris sampai sekarang kita lihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Contoh kecil saja pada bahan penjor, semua menggunakan bahan pertanian dan perkebunan.

Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat nyaman untuk berkesenian. Misalnya melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal. Hal ini misalnya dilakukan Walter Spies.

Kemudian para seniman itu mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.

Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Yang semula petani kini menjadi dagang acung, sopir travel dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat, sekarang didominasi pelaku pariwisata. Alasan utamanya, pariwisata membuat orang lebih mudah mendapat uang. Di sisi lain, pekerjaan sebagai petani makin kehilangan gengsinya.

Kemudian Bom Bali meledak 2002. Pariwisata Bali terpuruk.

Banyak pakar dan praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Menurut mereka selain karena pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.

Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakkan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata lahir kembali (reborn). Jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan sebelum bom. Itu karena baiknya ekonomi dunia dan promosi pariwisata.

Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ”kecanduan”, pertumbuhan akomodasi tak terkendali. Membuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi.

Pantai Kuta ditutup untuk mencegah meluasnya COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Kemudian muncullah virus corona baru penyebab COVID-19 di tahun 2020. Semua terenyak karena sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit ini. Hotel, restoran, objek wisata dan travel semua lumpuh total. Demikian juga efek multipliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dilakukan. Badai krisis membayangi. Suara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.

Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian. Sambil bekerja dari rumah, pemerintah bisa mulai merumuskan itu kembali. Tentu dengan para tim ahlinya, sehingga ada peta jalan tentang pertanian Bali. Misalnya dengan mengadakan moratorium perizinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.

Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian. Pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga. [b]

Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar

Ketua Koperasi KSS menunjukkan cokelat olahan anggota koperasi.

Oleh Luh Komang Desita Anggraeni

Suatu ketika tiba-tiba saya dipanggil ibu guru ke depan kelas. Saya kira mau diberikan uang. Eeeehh, ternyata saya disuruh untuk mengikuti suatau kegiatan bersama teman satu kelompok ekstrakulikuler jurnalistik di sekolah.

Awalnya saya merasa kurang yakin untuk mengikuti kegiatan itu. Karena, dari judulnya saja, kegiatan sudah kelihatan bergengsi sekali. Nama kegiatan tersebut Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) yang diadakan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) bersama Yayasan Kalimajari.

Setelah saya mencari tahu, ternyata benar bukan saya yang awalnya dipilih untuk mengikuti kegiatan tersebut tetapi teman lain. Karena dia sakit, akhirnya sayalah yang ditunjuk untuk menggantikanya. Karena alasan tersebut, saya pun mau dan mengiyakannya.

Terlalu Bersemangat

Awalnya saya diberitahukan untuk datang pada 2 Juni 2019 di SMKN 2 Negara. Datanglah saya dan teman ke sana. Kami berangkat pukul 06.00 WITA. Sesampainya di sana kami tidak melihat adanya kehidupan. Hanya ada keheningan dan kesunyian. Kami bingung bagaikan anak kehilangan induknya. Entah harus berbuat apa kami di sana.

Setelah menanti hampir tiga jam, kami memutuskan untuk menelepon ibu guru. Ternyata kami salah tanggal. “Ya ampuuuun…,” kami berteriak. Tanggal yang seharusnya itu 2 Juli 2019. Guru kami ternyata salah melihat jadwal. Maklum akibat faktor umur. Saking kesalnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi, ada enaknya juga dari kejadian ini, kami dapat bensin gratis.

Akhirnya pada tanggal sesuai jadwal, kami datang kembali ke SMKN 2 Negara. Tepat pukul 06.00 WITA kami sampai di lokasi. Kami datang sepagi itu karena saking semangatnya untuk mengikuti kegiatan ini. Sembari menunggu peserta lainnya, kami memutuskan untuk berkeliling sekolah.

Di sana kami bertemu seorang ibu yang sedang membersihkan salah satu ruangan. Kami bertanya kepada ibu itu. “Permisi, Ibu.. Mau tanya. Benar di sini tempat seleksi beasiswa AJS?” tanya Naning teman saya.

Si ibu menjawab, “Iya benar, Dik. Tunggu dulu ya ruangannya masih dibersihkan,” sahut ibu itu dengan tergesa-gesa.

Waktu berlalu. Tidak terasa kami sudah menunggu cukup lama di depan ruangan itu. Tapi, ternyata ruangan tersebut digunakan untuk pendaftaran siswa baru. Ibu itu mengira kami mau mendaftar di SMKN 2 Negara. Kami bertanya pada salah satu OSIS di sana. Dia menjawab sebenarnya ruangan seleksinya di dalam. Pas masuk kami melihat presentasi yang sedang ditanyangkan, kebetulan di presentasi itu ada foto kakek saya, Wayan Rata. Dari sanalah saya dikenal dengan, “Cucunya kakek Rata”.

Kami pun mengikuti kegiatan seleksi tersebut dengan baik. Bersaing dengan teman-teman dari sekolah lain jugayang memiliki bakat luar biasa. Dalam kegiatan itu kami menuliskan tentang dua tema yang telah diberikan panitia AJS.

Setelah menunggu cukup lama, sebulan setelah seleksi lomba dilakukan saya menerima telpon dari Auditya Sari atau Kakak Tya, selaku panitia AJS mengabarkan bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya, 10 besar.

Kami para finalis diundang kembali mengikuti tiga hari penelitian kakao lestari Jembrana. Dari sepuluh besar kemudian diseleksi kembali mencari tiga besar sebagai pemenang untuk menerima beasiswa AJS.

Kurang Peka

Dari AJS inilah saya tahu hebatnya kakao Jembrana padahal saya sendiri berdampingan langsung dengan kakao. Kebetulan juga kakek saya seorang petani kakao asli Jembrana. Baru saya berpikir kenapa tidak dari dulu belajar tentang kakao. Padahal hasil bertani kakao lumayan menjanjikan, dengan proses fermentasi tentu saja.

Selama ini saya hanya membantu kakek memupuk kakao serta mengangkut air sebagai pelarut obat hama kakao serta memanen buah kakao. Itupun saya lakukan saat ada waktu luang.

Sebenarnya bukannya saya tidak berminat menangani kakao, tapi karena saking sibuknya harus sekolah full day sehingga tidak sempat untuk ikut membudidayakan kakao Jembrana. Saya hanya bisa membantu kegiatan-kegiatan ringan. Saya juga masih belum mengerti dan paham tentang cara membudidayakan kakao.

Berharga

Pada awal Agustus 2019, kami dikumpulkan kembali untuk mengikuti tiga hari pelatihan. Kali ini untuk lebih mendalami kakao Jembrana sekaligus menyeleksi finalis yang akan mendapatkan tiga terbaik dari yang terbaik.

Selama tiga hari pelatihan saya banyak sekali mendapatkan ilmu terutama tentang mengolah dari kakao sampai menjadi coklat siap makan (bean to bar). Selama pelatihan juga kami bisa lebih mengenal anggota peserta lain dan membangun tali persahabatan. Tawa riang kami rasakan semua selama pelatihan berlangsung dan lebih mengenal satu sama lain.

Pada hari pertama pelatihan kami diajarkan tentang proses fermentasi, penghasilan petani kakao dalam sebulan, budidaya kakao Jembrana dan banyak hal lain lagi.

Di hari kedua kami diajak berkunjung ke Cau Chocolate di Desa Cau, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Di sana kami belajar proses pengolahan kakao menjadi cokelat siap makan di mana kakao yang digunakan murni kakao Jembrana dan bersertifikat organik.

Tibalah saatnya kami para semifinalis untuk menulis apa yang didapat dari pelatihan tiga hari tersebut. Temanya sesuai yang kami dapatkan masing-masing. Tulisan itu digunakan sebagai bahan seleksi juga di hari ketiga.

Banyak hal kami dapatkan selama pelatihan ini. Misalnya informasi bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi yang memiliki harga jual tinggi. Hal ini merupakan hasil kerja keras Koperasi Kerta Samaya Samaniya (KS) bekerja sama dengan Kalimajari. Ini membuktikan bahwa kakao Jembrana mampu menembus pasar Internasional.

Bahkan Koperasi KSS memiliki tiga sertifikat yaitu UTZ, EU, dan Organic USDA. Ketiga sertifikat organik ini berguna untuk memenuhi kebutuhan kakao organik internasional, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini membuktikan bahwa walaupun bertempat di daerah terpencil, Jembrana memiliki sebuah komoditas yang menghasilkan banyak dolar dan memiliki nilai gizi untuk kesehatan. Kakao Jembrana telah membuktikan bahwa kami bisa dan mampu untuk melakukannya.

Saya sebagai generasi penerus bangsa yang tinggal di Jembrana bangga tinggal di sini. Saya ingin mengembangkan lebih banyak lagi perusahaan cokelat terutama di Jembrana dan lebih memperkenalkan lebih luas tentang betapa hebatnya kakao Jembrana.

Satu Kata Kunci

Agar kakao Jembrana bisa menembus pasar internasional ada satu kata kunci yang bisa kita gunakan yaitu “FERMENTASI”. Dari proses inilah kakao Jembrana sudah terkenal sampai ke dunia Internasional dan patut di perhitungkan untuk nilai jualnnya. Banyak pembeli dari luar negeri berdatangan untuk melihat, menjalin kerja sama, atau membeli kakao Jembrana. Mungkin mereka penasaran bagaimana kakao Jembrana bisa sehebat itu.

Para pembeli tersebut datang dari berbagai negara di seluruh dunia. Ada beberapa pembeli yang bekerja sama dengan Koperasi KSS, seperti Valrhona dari Perancis, Ubud Raw dari Gianyar, Cracacoa, Cau Cocolate dari Tabanan, dan Pod dari Badung.

Banyaknya pembeli kakao Jembrana membuktikan bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi dan mutu terjamin. Hal ini karena Koperasi KSS mampu memenuhi syarat-syarat yang diberikan pembeli sehingga pembeli pun percaya dan berani membeli biji kakao Jembrana. Sertifikat juga sebagai kunci utama untuk menarik pembeli dan sebagai pembuktian bahwa kakao Jembrana hebat setelah difermentasi.

Fermentasi. Apa sih fermentasi? Yang saya tahu, fermentasi adalah pematangan biji kakao supaya bagian dalam biji kakao ketika dijemur akan kering sempurna antara kulit dan daging dalam biji kakao.

Tujuan fermentasi adalah meningkatkan kualitas biji kakao, membangkitkan aroma khas biji kakao, serta mengurangi rasa pahit biji kakao. Dengan demikian saat pengolahan menjadi cokelat rasa pahit yang timbul tidak terlalau kuat. Sebab, rasa pahit biji kakao yang belum difermentasi akan membuat yang memakannya merasa mual. Tujuan lain fermentasi adalah mengurangi kadar air dari kakao tersebut.

Proses fermentasi dimulai dari biji basah setelah panen dilakukan. Fermentasi dilakukan selama 6-7 hari, tergantung ukuran biji kakao itu. Jika biji kakao berukuran sedang, proses fermentasi dilakukan 6 hari dengan pembalikan biji kakao 2 kali selama 2 hari dihitung setelah biji kakao sudah masuk ke kotak fermentasi. Sedangkan untuk biji kakao berukuran besar proses pembalikannya dilakukan 3 kali selama 2 hari dan bertambah waktu fermentasi menjadi 7 hari (1 minggu).

Proses pembalikan juga berbeda-beda. Jika ukuran kotak fermentasi itu 40 cm, pengadukan dilakukan sedalam 20 cm dari bibir kotak fermentasi. Kemudian yang mengalami proses pengadukan paling atas dipindahkan ke paling bawah. Kegiatan ini dilakukan agar biji kakao mengalami proses fermentasi secara lancar dan merata. Untuk membantu penghangatan dan membangkitkan aroma, setelah kotak fermentasi penuh terisi biji kakao ditambahkan daun pisang di kotak paling atas.

Saat melakukan fermentasi, pastikan kotoran dalam lubang-lubang di kotak dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar pada saat penyusutan atau air yang keluar dari biji kakao dapat mengalir lancar dan tidak tersendat di dalam kotak. Jika tidak dibersihkan dia bisa mengakibatkan air yang keluar akan tertampung di dalam kotak fermentasi. Proses fermentasi akan gagal dan dapat mempengaruhi kualitas dari biji kakao itu sendiri.

Pembersihan kotoran dari lubang kotak fermentasi sebaiknya tidak menggunakan deterjen ataupun pewangi lain. Cukup bersihkan dengan air. Membersihkan menggunakan pewangi akan mengakibatkan rasa, aroma, dan kualitas kakao tersebut menurun dan jamur akan berkembang biak nanti. Alat yang digunakan pun tidak sembarangan. Cukup dengan serabut kelapa saja kita sudah dapat membersihkan kotoran yang menempel pada kotak fermentasi.

Sesudah melakukan proses fermentasi biji kakaonya pasti akan kotor. Betul tidak? Pastinya! Pasti diri setiap orang menginginkan agar semua terlihat bersih. Seperti saya contohnya jika melihat biji kakao kotor, ada keinginan dalam hati saya untuk mencucinya supaya terlihat bersih.

Tapiiii, Kakak Pepeng, salah satu pegawai Koperasi KSS yang ahli fermentasi, menyarankan agar biji kakao yang kotor tidak usah dicuci. Hal ini karena akan mengakibatkan aroma biji kako tersebut menghilang dan tidak ada aroma yang timbul. Akibat lainnya, biji kakao akan rentan terkena jamur dalam yang akan mengakibatkan harga jual kakao menurun.

Malaikat Membantu

Para petani kakao Jembrana terutama di sekitar Melaya yang melakukan proses fermentasi biasanya menjual biji kakao mereka di Koperasi KSS. Kantor Koperasi KSS di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Lokasinya strategis dan mudah untuk dicari karena berada di pinggir jalan raya Gilimanuk – Denpasar, tepatnya di depan gedung olahraga Yowana Mandala.

Adanya Koperasi KSS membantu petani kakao dengan cara membeli kakao mereka dan langsung memasarakan kepada para pembeli. Sebelum ada Koperasi KSS, para petani kakao Jembrana membawa biji kakao mereka ke pedagang biasa. Itu pun tanpa proses fermentasi. Harga yang diberikan pun sangat rendah, berkisar Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram sesuai dengan daerah masing-masing.

Para petani kakao kurang puas dengan hasil yang didapat karena biji kakao yang mereka jual tidak dapat menutupi biaya budidaya. Para petani mengeluh karena murahnya harga yang diberikan. Itu pun belum dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itulah para petani kakao mau membawa hasil panen mereka ke Koperasi KSS karena koperasi mampu menjamin harga dan memenuhi keinginan para petani. Koperasi juga bisa memotivasi dan mengajak para petani melakukan proses fermentasi untuk meningkatan nilai jual biji kako.

Terkait harga yang diberikan pada anggota Koperasi KSS, biasanya para anggota akan rapat terlebih dahulu untuk menentukan harga. Dalam rapat, para anggota akan menyampaikan pendapat sampai mendapat kesepakatan bersama. Kesepakatan hasil rapat akan dijadikan sebagai harga tetap dan menjadi harga beli tertinggi (plafon) dalam membeli biji kakao dari petani.

Pada tahun 2019 harga jual kakao kering dan difermentasi yang sudah tersertifikasi UTZ akan dihargai Rp 36.000 per kg. Kakao organik kering dan sudah difermentasi seharga Rp 38.000 per kg sedangkan basah organik dibeli Rp 12.000 per kg. Adapun kakao basah non-organik Rp 11.000 per kg. Harga kakao dapat diturunkan sesuai kualitas.

Salah satu petani, I Wayan Rata, kurang setuju dengan harga yang diberikan Koperasi KSS karena proses fermentasi dan perawatan menghabiskan cukup banyak biaya. Harga tersebut belum dapat menyeimbangkan antara pengeluaran perawatan si kakao dan pemasukannya.

Koperasi KSS membantu para petani untuk meningkatkan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Membantu perekonomian petani yang hanya bergantung dari hasil kebun mereka. Koperasi mau memberikan harga tinggi untuk biji kako berkualitas dan menggunakan pupuk organik. Petani yang mau melakukan fermentasi dan saran-saran dari Koperasi KSS pasti akan mendapatkan harga yang layak.

Koperasi KSS bekerja sama dengan Yayasan Kalimajari memberi inovasi untuk melakukan suatu proses yaitu fermentasi. Awalnya petani tidak mau melakukan fermentasi karena kata petani hanya berpikir instan. Tidak mudah bagi Koperasi KSS untuk mengajak para petani agar mau melakukan fermentasi, tetapi dengan seiringnya waktu para petani mau melakukan fermentasi.

Para petani yang mau melakukan proses fermentasi pun sekarang perekenomian mereka agak meningkat dan terbantu dengan adanya Koperasi KSS.

Sejuta Harapan

Adalah selembar kertas yang mampu membawa para pembeli luar negeri berdatangan untuk membeli kakao Jembrana. Kertas itu adalah sebuah gambaran dan pembuktian bahwa kakao Jembrana memiliki kualitas tinggi.

Seperti kata I Gusti Agung Widiastuti, Direktur Kalimajari, banyak sekali biji kakao di Indonesia dan seluruh dunia, akan tetapi orang tidak akan peduli kakaonya ini dari mana. Mereka hanya melihat kualitas dari biji kakao tersebut. Para pembeli pun bertanya-tanya, “Apa yang Anda miliki sehingga percaya diri sekali?”. Sertifikasi inilah yang membuktikan dan meyakinkan pembeli bahwa kakao Jembrana ini memiliki kualitas tinggi.

Lembaran kertas itu adalah sertifikat UTZ, Organic USDA, dan Organic EU. Di balik kertas ini terlihat bagaimana perjalanan dan proses dari biji kakao sekaligus membuktikan kepada pembeli dari mana asalnya dan bagaimana pengelolaan dari kebun hingga koperasi. Sertifikasi ini juga membuktikan bahwa makanan yang dimakan kakao ini memang dari bahan organik tanpa tercampur dengan bahan kimia (pestisida). Sertifikat seolah berbicara kepada orang sehingga orang baru itu tertarik. Dari sertifikasi inilah pembeli dapat memilih kriteria seperti apa yang mereka inginkan. Dengan sertifikat ini pembeli bisa menilai bahwa kakao Koperasi KSS sudah lolos kriteria yang mereka inginkan.

Hebatnya lagi, pemilik sertifikat ini adalah koperasi itu sendiri. Bukan di pembeli, seperti halnya terjadi di Sulawesi. Ini menunjukkan perbedaannya. Kalau sertifikasi berada di tangan pembeli, maka petani bekerja hanya untuk kepentingan mereka, sedangkan jika di tangan koperasi, maka koperasilah yang menyejahterakan para petani kakao.

Meskipun demikian, adanya sertifikasi juga menambah tanggung jawab Koperasi KSS untuk bisa mempertahankannya. Ini bukan perkara mudah. Di dalam sertifikasi terdapat informasi bagaimana caranya agar dapat melanjutkan sertifikasi tersebut, baik dari sisi kualitas ataupun tanggung jawab terhadap seluruh mekanisme sertifikat. Tanggung jawab tersebut ada di level koperasi maupun petani.

Untuk tetap mempertahankan sertifikasi itu, Koperasi harus bisa membuktikan bahwa mereka tetap mampu memenuhi kriteria yang diminta dari waktu ke waktu. Pihak pembeli akan membuktikan sendiri apakah kakao Jembrana memang organik atau tidak. Caranya antara lain dengan menguji sampel biji, daun, batang, dan dicampur dengan bahan lainnya kemudian dikirim ke laboratorium di Belanda.

“Kenapa di Belanda? Karena laboratoriumnya independen. Ketika laboratorium di Belanda mengatakan lolos, barulah Koperasi KSS bisa mendapat sertifikat tersebut,” kata Bu Agung.

Bu Agung menambahkan tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat ini. Banyak hambatan, seperti kurangnya pola pikir petani, mahalnya dana sertifikasi, dan belum optimalnya sosialisasi.

Koperasi KSS juga memiliki sertifikasi UTZ dari Belanda. UTZ berbicara soal produk-produk yang dihasilkan secara berkelanjutan, berbicara tentang stabilitas serta akuntabilitas, sosial dan ekonomi bahwa biji kakao yang dihasilkan bukan dari hutan lindung.

Jadi, dengan adanya sertifikasi tersebut Koperasi sudah bisa berjualan berdasarkan standar organik yang benar. Tidak hanya sertifikat abal-abal. Koperasi akan menjual barangnya kepada pembeli yang juga punya sertifikat sama. Koperasi KSS akan mengeluarkan satu surat bernama transaction certificate (TC) yang hanya boleh dikeluarkan apabila produsen telah sah memiliki sertifikat organik. Itu pun hanya untuk pembeli tertentu.

Sertifikat yang dimiliki Koperasi Koperasi KSS tidak bisa dicabut oleh orang lain, karena sertifikat tersebut sudah dipatenkan. Kecuali sertifikat ini dipegang oleh pembeli baru bisa dicabut. Kecuali Koperasi KSS membuat kesalahan pada waktu perpanjangan sertifikat dan saat itu melakukan transaksi jual beli, tetapi tidak bisa dicabut juga.

Sedikit Saja

Dengan semua hal yang tidak mudah untuk dilalui ini, petani kakao Jembrana tetap semangat dan semakin maju.

Harapan saya sebagai generasi penerus pertanian di Jembrana, semoga semakin banyak pembeli yang datang ke Jembrana untuk menjalin kerja sama agar dapat meningkatkan perekonomian para petani.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha dan sungguh-sungguh melakukannya, seperti halnya petani di Jembrana. Kunci menuju sukses adalah rajin, tekun, kreatif, dan displin.

Berakit-berakit kita kehulu, berenang-renang kita ketepian. Bersakit- sakit kita dahulu, bersenang-senang kita kemudian. Berjuanglah kita dahulu, merasakan sakit, sedih, nanti hasilnya akan memuaskan hati dan kemudian baru merasakan senang dan beruntung. [b]

Keterangan: Artikel ini merupakan karya favorit dalam Anugerah Jurnalisme Warga (AJS) 2019 yang diadakan Yayasan Kalimajari dengan Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

The post Satu Cara dan Selembar Kertas Membawa Sejuta Dolar appeared first on BaleBengong.

Berikut Ini Sejumlah Konflik Agraria di Pulau Dewata

KPA Bali saat jumpa pers di Denpasar menyoroti maraknya konflik agraria di Bali. Foto Anton Muhajir.
KPA Bali saat jumpa pers di Denpasar menyoroti maraknya konflik agraria di Bali. Foto Anton Muhajir.

Tanggal 24 September adalah hari bersejarah bagi kalangan tani.

Tepat 59 tahun lalu, 24 September 1960, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno mengundangkan Undang-Undang (UU) No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang biasa disingkat UU PA.

UU itu lahir sebagai tuntutan perubahan terhadap peraturan agraria produk kolonial yang tidak memenuhi azas keadilan. Presiden Soekarno membuat UU Agraria untuk meningkatkan kesejahteraan petani nasional dan sebagai tonggak sejarah menghentikan sistem hukum agraria kolonialisme.

Namun, 59 tahun berselang setelah UU tersebut dikeluarkan, nasib petani Indonesia masih tetap tertindas dan tidak mengalami peningkatan kesejahteraan hidup. Hal tersebut terjadi sejak zaman Orde Baru sampai saat ini.

Saat ini, program reforma agraria sejati yang dicanangkan Presiden Joko Widodo menempatkan Reforma Agraria sebagai prioritas nasional yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019. Lebih lanjut dia juga diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2018.

Tanah seluas 9 juta hektare menjadi rencana redistribusi tanah dan legalisasi aset di bawah payung reforma agraria. Sumber tanahnya berasal dari kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.

Bali sendiri termasuk salah satu lokasi di mana konflik agraria juga terjadi. Terdapat konflik agraria di tiga kabupaten yaitu Klungkung, Buleleng dan Gianyar. Konflik-konflik agraria itu sudah terjadi sangat lama, antara 15 sampai 30 tahun.

Masyarakat di lokasi konflik harus bolak balik mendatangi kantor pemerintah untuk memperjuangkan Hak Milik atas tanah yang telah dikuasai dan ditempati mereka secara turun temurun. Berbagai dialog dan pertemuan telah dilakukan oleh masyarakat dengan pemerintah, tetapi hasilnya nihil dan menjadi wacana belaka.

Persoalan lain yang lebih serius, pemerintah pusat dan daerah ternyata masih belum mampu menyelesaikan konflik tenurial secara tuntas di Indonesia, termasuk khususnya di Buleleng, Klungkung dan Gianyar.

Usulan

Berkaitan dengan hal tersebut, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengonsolidasikan dan mengusulkan Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA). LPRA yang diinisiasi dan dibangun KPA bersama anggota KPA sudah diserahkan kepada pemerintah.

Pada saat acara Global Land Forum di Bandung, 24 September 2018, KPA menyerahkan 462 objek LPRA seluas total 668.109 Hektar. Luas itu meliputi 148.286 rumah tangga petani di 98 kabupaten/kota, 20 provinsi, termasuk Provinsi Bali.

Adapun potensi objek reforma agraria yang dapat ditindaklanjuti oleh segenap pemerintah provinsi dan kabupaten di Bali adalah seluas 997,01 Hektar. Mereka tersebar Buleleng, Gianyar dan Klungkung.

Lokasi-lokasi yang terkonsolidasikan dalam LPRA diusulkan petani di Bali, tidak semata-mata lokasi konflik agraria. Lebih dari itu dalam LPRA, lokasi-lokasi tersebut sudah terorganisir dengan baik. Petani telah menggarap secara penuh. Juga terdapat data subjek-objek Reforma Agraria lengkap dan valid serta mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah.

Pada 29 Juni 2018 sudah terdapat kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah dengan petani di Bali untuk percepatan pelepasan kawasan hutan di Kabupaten Buleleng. Di lokasi lain yakni Dusun Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng pada 5 Desember 2018 Pemprov Bali dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah melakukan tinjauan lapangan atas objek lahan HGU terlantar PT Margarana.

Perkembangan terbaru, pada 4 Juli 2019, KPA wilayah Bali bekerja sama dengan Kantor Wilayah BPN Provinsi Bali melaksanakan Percepatan Penyelesaian Konflik Pertanahan dalam Kerangka Reforma Agraria di Provinsi Bali.

Koordinator KPA Wilayah Bali telah menyerahkan data LPRA di Provinsi Bali kepada Kepala BPN Provinsi Bali seluas 997,01 hektare. Di dalamnya terdapat 1.465 KK penggarap di enam lokasi. Lima lokasi non-hutan seluas 914 Hektar, dengan jumlah penggarap 1.358 KK, dan 1 lokasi dalam kawasan hutan seluas 83,01 Hektar, dengan jumlah penggarap 107 KK.

Perabasan kebun di Payangan, Gianyar termasuk salah satu konflik agraria di Bali. Foto KPA Bali.
Perabasan kebun di Payangan, Gianyar termasuk salah satu konflik agraria di Bali. Foto KPA Bali.

Perlu Dialog

Perkembangan konflik agraria terbaru juga terjadi di Dusun Selasih Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Sumber ekonomi masyarakat penggarap terancam hilang karena kebun-kebun pisang petani penggarap diterabas secara sepihak oleh tenaga pengaman dari PT. Ubud Resort Duta Development.

Kebun pisang yang telah diterabas paksa oleh tenaga pengaman PT. Ubud Resort Duta Development, berdasarkan data yang dihimpun petani penggarap, seluas kira-kira 25 ha. Jika dihitung kerugian materi yang dialami oleh petani penggarap adalah sebesar Rp 300 juta dalam sekali panen.

Berdasarkan beberapa gambaran kondisi di atas, KPA Wilayah Bali menilai bahwa Hari Tani Nasional merupakan hari sangat penting bagi petani penggarap dan pemerintah dalam upaya bersama-sama mencari solusi damai. Puncak Hari Tani ini akan diadakan pada 24 September 2019 di Dusun Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Jalan dialog atau diskusi terbuka antara unsur pemerintah dan perwakilan serikat tani/perwakilan masyarakat petani penggarap bertujuan mencari jalan keluar percepatan penyelesaian konflik agraria. Upaya ini dalam rangka melaksanakan reforma agraria sejati yang mengacu pada Perpres Nomor 86 Tahun 2018 Tentang Reforma Agraria dan ketentuan lain.

Harapannya, pemerintah dan pihak lain bisa hadir untuk bersama-sama membuat strategi pelaksanaan percepatan penyelesaian konflik agraria di Provinsi Bali. Strategi itu harus lebih mengedepankan hak-hak masyarakat tani dari pada kepentingan golongan pemodal. [b]

The post Berikut Ini Sejumlah Konflik Agraria di Pulau Dewata appeared first on BaleBengong.

Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba


Seorang petani memanen bunga gemitir di Plaga. Foto Anton Muhajir.

Hujan deras turun di Desa Belok Sidan awal bulan lalu.

Langit gelap di kawasan pegunungan berjarak sekitar 60 km utara Denpasar tersebut. Namun, derasnya hujan justru membersihkan desa sejuk di ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut itu.

Begitu hujan selesai, udara desa di Kecamatan Plaga, Kabupaten Badung itu makin terasa segar. Daun-daun makin menghijau. Begitu pula kuning terang bunga gemitir (Tagetes erecta L.) di kebun milik Wayan Jirna. Bunga berbentuk bulat itu mekar kuning terang di antara daun-daun menghijau.

Made Kastika bersama tiga buruh harian lainnya memanen bunga gemitir di lahan seluas 20 are milik Jirna. Menggunakan gunting, dia memotong satu per satu bunga sebesar kira-kira sekepal tangan orang dewasa itu dan memasukkannya ke keranjang.

Ketika keranjang itu sudah penuh, dia akan membawanya ke tempat pengumpulan.

Tidak hanya menjadi sarana sembahyang bagi umat Hindu Bali, bunga gemitir kini juga menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di Bali, seperti halnya Jirna.

Sejak sekitar lima tahun lalu, Jirna dan petani lain di kawasan Plaga mulai menanam bunga gemitir. Bunga ini melengkapi komoditas lain yang sudah ada sebelumnya seperti sayuran, kopi, dan buah-buahan.

“Dulu coba-coba saja pas mulai. Ternyata hasilnya bagus,” kata Jirna.

Dari 1 hektare lahan miliknya, Jirna kini menanam bunga gemitir 20 are. Dia memilih lahan yang di pinggir jalan. Kemudahan untuk terlihat dari jalan raya menjadi salah satu alasannya. Kebun bunga gemitir Jirna ini memang berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan dua kabupaten yaitu Badung dan Bangli.

Dengan warna merah menyala, bunga gemitir menarik mata termasuk bagi serangga. Foto Anton Muhajir.

Kebutuhan Sembahyang

Secara ekonomi, menurut Jirna, hasil budi daya bunga gemitir juga bagus. Petani tidak memerlukan lahan atau bedengan khusus. “Guludannya pakai yang sudah ada. Bisa gantian pula dengan tanaman cabai atau tomat,” kata Kastika.

Ketika berumur 55 hari, bunga pun sudah siap dipanen antara 5 – 10 kali selama satu kali musim tanam. Dalam setahun, petani menanam gemitir 2-3 kali bergantian dengan komoditas lain, seperti cabai atau tomat.

“Kalau bunganya tidak terlalu bagus, lima kali panen sudah dicabut,” ujar Jirna.

Sekali panen, dari 20 are lahan miliknya, Jirna bisa mendapatkan bunga potong, nama lain gemitir, sebanyak 900 kg. Kalau sepi hanya sekitar sepertiganya. Dia kemudian menjual bunga itu langsung ke pasar di Denpasar.

Bunga gemitir saat ini menjadi salah satu kebutuhan di Bali. Umat Hindu Bali menjadikan bunga ini sebagai salah satu perlengkapan banten, sesaji saat sembahyang, sehari-hari. Karena permintaan makin banyak, petani pun makin banyak yang membudidayakannya.

Menurut Jirna harga per kilogram bunga gemitir juga relatif. Tergantung pasar. Ketika permintaan banyak sedangkan persediaan sedikit harganya bisa sampai Rp 100 ribu. “Kalau sekarang suplainya lagi banyak, jadi harganya turun. Paling hanya Rp 10 ribu,” katanya.

Jirna mengatakan bunga gemitir saat ini memang makin banyak ditanam di berbagai tempat. Tidak hanya di kawasan sejuk seperti Plaga, tetapi juga daerah lain termasuk Karangasem. “Sekarang makin menyebar ke mana-mana,” tambahnya. Bunga gemitir memang relatif mudah dibudidayakan.

Menurut Kastika salah satu masalah dalam budidaya bunga gemitir hanya busuk daun dan cacar daun. “Kadang-kadang juga batangnya kering tidak mau berbunga,” ujarnya. Namun, secara umum penyakit semacam itu dengan mudah bisa diatasi.

Petani menyiapkan bunga gemitir untuk dikirimkan ke pasar. Foto Anton Muhajir.

Tempat Selfie

Toh, meskipun harga bunga gemitir sedang turun, petani bisa mendapatkan pemasukan dari cara lain dengan menjadikan kebunnya sebagai lokasi berfoto-foto, seperti milik Jirna. Lokasinya yang berada di samping Jembatan Tukad Bangkung, jembatan tertinggi di Bali, membuatnya menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung.

Dia memasang papan untuk pengunjung: Rp 5.000 per orang.

Sepanjang jalan dari Badung menuju Plaga kebun-kebun semacam ini dengan mudah ditemukan di kanan kiri jalan. Dengan warna kuning mencolok, bunga gemitir langsung menarik mata, termasuk bagi Sri Utami dan teman-temannya.

Siang itu, sepulang dari Kintamani, dia sengaja lewat Plaga meskipun agak memutar. Ketika lewat salah satu kebun di Desa Plaga, dia pun berhenti lalu berfoto-foto. Petani di belakangnya sedang memanen bunga seperti halnya di kebun milik Jirna.

“Bagus buat lokasi selfie,” katanya lalu tertawa.

Menurut Utami, kebun bunga gemitir bisa menjadi pemandangan menarik terutama ketika sudah mekar bunganya. Bunga kuning merekah bisa jadi objek foto yang menarik bagi dia dan teman-temannya.

Made Weti, pemilik kebun mengatakan makin banyak pengunjung datang ke kebun bunga gemitir miliknya. Umumnya mereka anak-anak muda dan berombongan. Kadang ada yang bayar, tetapi tak sedikit yang hanya berfoto lalu pergi begitu saja.

“Tidak apa-apa. Yang penting tidak merusak kebun saya,” ujarnya.

Ketika musim liburan, dalam satu hari bisa 100an orang yang datang untuk berfoto-foto. Namun, ketika sepi seperti saat ini karena musim hujan, dapat 30 tamu saja sudah untung.

Selain pengunjung lokal, menurut Weti, banyak pula tamu asing datang ke kebunnya, terutama dari Cina. Umumnya mereka melakukan foto-foto sebelum menikah (pra wedding) sehingga Weti memberikan harga khusus.

“Lumayanlah buat tambahan pendapatan,” katanya.

Dari semula hanya di Plaga, kebun buga gemitir semacam itu kini makin marak di Bali. Beberapa tempat wisata pun memiliki kebun khusus gemitir di lahannya. Pemandangan seperti itu menambah panjang lokasi-lokasi menarik untuk berwisata alam di Pulau Dewata. [b]

Catatan: tulisan ini juga terbit di Mongabay Indonesia.

The post Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba appeared first on BaleBengong.

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Pengolahan cokelat di Primo Chocolate Bali lebih banyak menggunakan tangan daripada mesin. Foto Auditya Sari.

Penggemar cokelat pastilah ingin tahu rahasia kelezatan cokelat favorit.

Primo Chocolate Bali membeberkan formulasi yang mereka terapkan sehari-hari dalam produksi cokelat premium mereka. “Cokelat premium adalah di mana martabat dan kehormatan petani berada pada puncak tertinggi di suatu rantai nilai,” kata Giuseppe Verdacchi.

Pepe, panggilan akrabnya, adalah pemilik pabrik pengolah cokelat premium asal Italia yang sudah menetap di Bali puluhan tahun lamanya.

Pepe arsitek dari Roma yang jatuh cinta atas keindahan alam Indonesia. Dia bertemu Ni Komang Jati, wanita asal Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pernikahan mereka memberikan anugerah dua orang anak sekaligus mewujudkan cita-citanya untuk menetap di Bali.

Primo Chocolate hanya menyasar pasar premium yang mempunyai standar kualitas tinggi. Pemenuhan kebutuhan akan pasar premium ini mengharuskan Primo Chocolate selektif dalam memilih biji kakao yang akan diolah.

Tidak main-main, dengan alasan yang sama perusahaan ini membeli biji kakao fermentasi hasil produksi petani dengan harga 50 persen lebih tinggi dari pasar internasional pada umumnya. Mereka percaya bahwa petani akan menghargai pembeli dan dengan senang hati memproduksi biji kakao berkualitas kepada pembeli yang menghargai petani itu sendiri.

Dengan demikian rantai suplai pengolahan biji hingga pemasaran berkelanjutan tetap dapat berjalan secara berkesinambungan. Karena Pepe pun menyadari, tidak mudah mengajak petani untuk melakukan hal tersebut. Terlebih petani sudah sering mengalah terhadap harga biji di pasaran.

Petani lebih sering memproduksi biji kakao asalan tanpa fermentasi sehingga dibeli dengan harga murah.

Mendapat kesempatan untuk berkembang melalui penawaran harga tinggi dari Primo Chocolate merupakan satu penghargaan sendiri bagi petani kakao yang tergabung dalam Koperasi Kerta Samaya Samaniya, di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Petani yang tergabung dalam program Kakao Lestari sejak tahun 2011 ini memproduksi biji kakao fermentasi dan menghasilkan suatu produk biji kakao yang mempunyai profil aromatik seperti madu, buah, dan bunga.

Namun, tentunya kesempatan datang dengan sebuah tantangan. Petani dipaksa belajar lebih giat mengenai pertanian berkelanjutan agar menjadi siap untuk bersaing dengan potensi pasar lokal maupun internasional. Dalam mengembangkan hal tersebut, Koperasi Kerta Samaya Samaniya didampingi oleh Yayasan Kalimajari, lembaga pendampingan masyarakat tani berbasis di Bali yang mempunyai keahlian di komoditas kakao dan rumput laut.

Pekerja di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Rahasia

Primo Chocolate mempunyai rahasia khusus dalam mempertahankan kualitas dan menjaga produk cokelat olahan pabriknya menjadi berbeda dengan produk lainnya. Selain menjaga sektor hulu dengan meningkatkan perekonomian petani, sektor hilir di bagian pengolahan juga tak kalah pentingnya untuk diperhatikan.

“Handmade, heartmade,” ujar Komang Jati.

Menurut Komang, Primo mengolah biji kakao menjadi cokelat siap saji dengan peralatan sederhana, dikerjakan oleh tangan-tangan anak bangsa, yang peduli akan potensi negerinya sendiri. Mereka mau bekerja.

“Keringat mereka terlupakan oleh senyuman ketika produk yang mereka olah berhasil masuk ke pasar premium, dan pastinya dengan harga yang sepadan dengan kerja kerasnya,” kata Komang.

Selain itu, Komang menambahkan, Primo juga konsisten untuk tidak berpindah haluan menjadi industri besar yang terjun ke pasar cokelat umum. Produksi mereka memang tidak banyak, bahkan tergolong minim. Namun, Primo memastikan setiap cokelat yang keluar dari pabrik terjamin kualitas, tresibilitas dan petani yang memproduksi hidupnya sejahtera.

“Oleh karena itu kami hanya bermain di niche market, pasar premium lokal, nasional, bahkan internasional,” tambahnya.

Proses pengolahan Primo Chocolate pada dasarnya sama dengan proses pengolahan cokelat pada umumnya. Hanya saja, penggunaan mesin diminimalisir sedikit mungkin. Hanya ada beberapa alat mekanisasi, yaitu grinder dan roaster.

Selebihnya, seperti proses pemecahan biji kakao menjadi nibs dilakukan dengan menumbuk biji menggunakan lesung dan alu, persis seperti proses pemisahan beras dari gabah. Sedangkan proses tempering, dilakukan secara manual dengan menggunakan meja marmer dan alat oles sederhana.

Proses pencetakan menjadi cokelat batang pun menggunakan cetakan manual, dibantu dengan mesin mini untuk memberikan vibrasi untuk menghindari adanya rongga udara yang mempengaruhi kualitas. Pendingin cokelat yang sudah dicetak dilakukan di dalam ruangan tertutup bersuhu 16 derajat celcius.

Jangan tanya tentang higienitas. Ketika mengunjungi ruangan ini, kita diharuskan menggunakan alas kaki khusus, apron, penutup kepala dan mulut.

Satu yang menarik adalah mesin-mesin yang digunakan Primo merupakan hasil kolaborasi desain antara Pak Pepe dan satu anak bangsa, tertulis jelas namanya di setiap mesin yang digunakan, yaitu “Verdacchi and Mulyadi”.

Memang terdapat beberapa material yang harus didatangkan dari wilayah lain, seperti batu yang digunakan untuk mesin grinder harus didatangkan dari India. Namun, hal ini karena setelah melalui beberapa kali eksperimen, batu di wilayah Indonesia tidak cukup kuat dengan pertimbangan mesin produksi yang efektif dan efisien.

Terlepas dari itu semua, seperti kita sudah punya alasan cukup kuat untuk berhenti meremehkan kualitas dan potensi anak bangsa.

Dalam menjalankan usahanya, Pepe dan Komang dibantu oleh anak pertamanya, Gusde Verdacchi. Gusde merupakan bukti anak milenial yang mematahkan anggapan bahwa membantu orang tua menjalankan bisnis usaha keluarga merupakan hal yang kuno.

Bersama-sama dengan orang tua dan tim Primo Chocolate Bali, Gusde saat ini sedang bereksperimen untuk menemukan formulasi proses pemanasan (roasting) yang terbaik untuk meningkatkan kualitas produk yang diolah. “Masing-masing biji kakao dari beda lokasi, mempunyai karakteristik berbeda pula sehingga perlakuan juga harus dibedakan untuk memunculkan sifat terbaik dari biji kakao tersebut,” kata Gusde.

Gusde kemudian melanjutkan dengan menyebutkan beberapa hasil percobaan yang sudah ia lakukan, termasuk pengaturan suhu optimal dan waktu yang dibutuhkan dalam proses pemanasan.

Jika kalian tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses pengolahan cokelat dari bean to bite, atau sekadar ingin tahu mengenai sejarah dan cerita menarik mengenai cokelat. Primo Chocolate Factory membuka kelas setiap hari kerja dari Senin hingga Jumat dari pukul 8 pagi hingga 6 sore.

Jangan lupa mendaftar terlebih dahulu melalui website resminya di www.primobali.net atau datang langsung ke Cafe Primo Bali di Jalan Bumbak Dauh No.130, Kerobokan, Kuta Utara, Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361. [b]

The post Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali appeared first on BaleBengong.