Tag Archives: Personal

Amed yang Selalu Memanggil untuk Kembali

Matahari yang baru terbit membawa merah saga. Cahayanya pelan-pelan tiba di pantai yang pagi itu menyambut dengan debur ombak tak kunjung berhenti. Udara segar. Air jernih. Ombak terasa amat tenang. Pasir dan kerikil-kerikil kecil menjadi tempat nyaman berjalan dengan telanjang kaki. Menyusuri pantai dari timur ke barat. Tak hanya menikmati tenang suasana tetapi juga anggun Continue Reading

Melanjutkan Hidup Bebas sebagai Pekerja Lepas

“Jadi, apa resolusi tahun ini?” tanya Bunda. Pertanyaan itu mengantarkan kami ketika meninggalkan Amed, tempat kami melewatkan pergantian tahun kali ini. Aku diam. Tidak langsung menjawabnya. Sambil menyetir mobil aku baru berpikir. Mengingat-ingat apakah memang ada hal yang amat aku inginkan tahun sepanjang 2018 ini. “Tidak ada. Memang mau apa lagi? Kita sudah punya semua Continue Reading

Tak Ada Kabar Setelah Rempong saat Liburan

Hampir dua minggu berlalu, tak ada juga kabar berita. Mahasiswa itu tidak memberikan informasi sama sekali bagaimana hasil akhir lomba yang aku nilai. Bahkan sekadar ucapan terima kasih pun tidak. Sedih.. Rasanya kok ngenes. Masak sih mahasiswa sekarang tidak tahu bagaimana cara menghargai, atau ya setidaknya cara berkomunikasilah. Biar orang merasa berguna terhadap apa yang Continue Reading

Sebuah Langkah Baru

Tahun 2017 ini saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 setelah dulu sempat gagal di tahap seleksi. Jujur saja kegagalan itu sempat membuat saya trauma, saya merasa sangat bodoh dan tidak mampu. Maklum sejak SD sampai lulus S1 saya merasa tidak pernah gagal dalam urusan sekolah. Kalaupun ada yang saya anggap sebuah kegagalan, mungkin satu-satunya adalah ketika saya gagal lulus UMPTN di pilihan 1 Teknik Informatika ITS. Bahkan mungkin sedikit sombong, saya merasa sekolah/kuliah itu tidaklah sulit. Mungkin karena belum pernah merasakan kegagalan dan menyepelekan tahap seleksi itulah saya menjadi gagal. Sebelumnya saya cukup yakin bakal diterima, tapi ternyata saya gagal. Yang lebih memalukan lagi adalah mantan mahasiswa saya dulu malah lulus. Ah, betapa bodohnya saya.

Tahun ini saya mencoba kembali, dengan sisa-sisa rasa percaya diri yang hampir musnah. Kali ini saya mencoba mendaftar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Kampusnya di Singaraja, 3 jam perjalanan darat dari rumah. Tapi beberapa tahun terakhir Undiksha sudah punya kampus di Denpasar, jadi saya bisa memilih kelas di Denpasar. Untuk pilihan program studi, saya inginnya yang linier, di Undiksha ada program studi Ilmu Komputer. Tetapi tahun lalu ketika saya mencari-cari informasi, prodi tersebut belum akreditasi, jadi sempat saya rencana mau mencoba ke prodi lain. Tapi kebetulan sekali awal tahun ini prodi Ilmu Komputer Undiksha sudah terakreditasi B sehingga pilihan saya semakin mantap, karena akreditas B adalah syarat minimal untuk saya sehingga nanti pendidikan saya bisa diakui.

Di tahap pendaftaran saya menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, saya mengikuti semua perkembangan informasi, saya tidak ingin lengah bahkan dalam hal yang sepele. Proses ujian seleksi yang dilaksanakan di kampus Undiksha Singaraja bisa saya ikuti dengan baik. Dan syukurlah saat pengumuman saya termasuk salah satu peserta yang dinyatakan lulus. Selanjutnya tinggal membayar biaya kuliah saya sekitar 7 jutaan di semester 1.

Awal September lalu kalau tidak salah diadakan Kuliah Perdana di kampus Undiksha Singaraja, saya juga telah ikuti dengan baik. Dalam pertemuan itu dijelaskan secara umum tentang segala sesuatu yang terkait perkuliahan di jenjang S2. Pada intinya, satu hal yang saya simpulkan yaitu saya harus mempersiapkan diri terkait tesis sedini mungkin. Semoga saya mampu. Perkuliahan selanjutnya dilaksanakan di kampus Undiksha di Denpasar. Saat ini sudah berjalan sekitar 4 minggu.

Jujur saja, sampai di tahap ini, saya belum tahu akan seperti apa ke depan. Saya tidak terlalu berani berharap, saya yakin akan ada banyak sekali tantangan dan beban yang akan saya tanggung. Saya hanya akan terus mencoba dan berusaha, semoga saja saya bisa melewati semua tahap, langkah demi langkah.

Baca Juga:

Pasti Orang Lain yang Salah, Bukan Kita

Tiga kursi satu baris itu telah terisi. Dua perempuan dan satu laki-laki. Salah satunya sudah duduk manis di kursi bernomor sama dengan nomor kursi di boarding pass punyaku. Aku langsung ragu-ragu. Jangan-jangan aku yang salah. Aku lihat lagi baik-baik keduanya, nomor di boarding pass lalu nomor kursi itu. Aku benar sih. Di depanku, dua penumpang Continue Reading