Tag Archives: Pers Mahasiswa

Mempertegas Posisi dan Peran Pers Mahasiswa

Ini hanya sebuah pemikiran dan tawaran. Munculnya setelah Jumat malam lalu aku diundang diskusi untuk berbagi pengalaman tentang media komunitas dan jurnalisme warga oleh pegiat pers mahasiswa (persma). Diskusinya dalam rangka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Jember. Ada sekitar 70 peserta pegiat persma dari berbagai kota, seperti Palembang, Yogyakarta, Denpasar, Continue Reading

Berharap Kualitas pada Pers Mahasiswa

Pagi ini aku harus meralat omongan semalam. Tadi malam, di depan sekitar 70 pegiat pers mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia, aku bilang betapa susahnya menemukan tulisan-tulisan bagus dari media mahasiswa. Pernyataan itu sekadar contoh penilaian sekilas terhadap kualitas anggota ataupun pers mahasiswa. Kebetulan pengurus Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) mengundangku berbagi pengalaman tentang mengelola Continue Reading

Tak Ada Lagi Rumah Kedua Kami

Hampa rasanya melihat bangunan itu.

Tidak ada lagi ruangan kumuh penuh tumpukan koran dengan pintu kusam tempat kami pernah membangun masa-masa penuh gairah sebagai mahasiswa. Tidak ada lagi tempat di mana kami selalu merasa kembali ke 10 atau 15 tahun silam.

Tidak ada lagi rumah kedua kami, sekretariat Pers Mahasiswa Akademika.

Begitu pula ketika kemarin aku ke sana kemarin. Sekretariat [aka], begitu kami menyebutnya dulu, kini berganti entah kantor apa. Bangunan baru. Tidak ada pintu di sisi mana dulu menjadi pintu masuk kami di [aka]. Hanya kaca gelap dari luar yang tak ramah sekali.

Aku ke kampus Unud di jalan Sudirman tersebut sana ketika ada kegiatan di depannya. Mumpung di sana, sekalian saja lewat bekas sekretariat [aka]. Ini bukan kali pertama melihat sekretariat [aka] yang sudah berganti tersebut. Namun, tetap saja rasa kehilangan itu begitu kuat.

Kalau saja sekretariat [aka] itu masih ada, tentu aku akan masuk ke sana. Duduk sebentar baca koran atau baca buletin buntu yang berisi segala curhat anggotanya.

Sekretariat [aka] itu sudah menjadi rumah kedua bagi para anggotanya. Setidaknya begitulah dulu aku dan teman-teman seangkatan mengalaminya, terutama yang anak kos. Antara 1998-2002, tak lengkap rasanya jika sehari saja tidak mampir [aka].

Kegiatan resmi [aka] adalah penerbitan mahasiswa. Kami mengelola tabloid yang terbit tiap tiga bulan sekali. Tapi bagi kami, [aka] itu lebih dari sekadar unit kegiatan mahasiswa untuk belajar jurnalistik. Di sana kami belajar tentang banyak hal.

Saling Tuding
Diskusi tak kenal waktu dan tema. Bisa saja pagi-pagi sudah debat. Atau tengah malam hingga pagi lagi. Temanya bisa saja tak jelas hingga sangat berat. Kuliah, kampus, musik, media, buku, politik, filsafat. Apa sajalah yang ingin dibahas.

Dari diskusi kemudian jadi aksi. Menuntut agar mahasiswa dilibatkan dalam pemilihan rektor, menolak campur tangan dosen sebagai pembina UKM, diserbu preman ketika diskusi. Ah, betapa kami merasa heroik sekali ketika di [aka].

Kadang-kadang kami berdebat sangat keras. Saling tuding demi adu argumen. Tapi, selesai diskusi ya sudah. Makan bareng lagi. Jalan kaki dari kampus ke Genteng Biru di Diponegoro untuk makan mie ayam bareng.

Tak ada senioritas. Boleh saja seseorang masuk duluan di [aka]. Tapi, pas diskusi dia tidak akan lalu menjadi “Yang Disegani”. Biasa saja. Dengan begitu, kami jadi akrab. Lintas angkatan, fakultas, etnis, agama.

[aka] yang mengajari kami tentang bagaimana toleransi tak sebatas kata-kata. Saat Maghrib, teman yang sholat di sana bisa saja barengan dengan teman yang mebanten petang. Atau saat Galungan, kami yang tak merayakan akan kecipratan kue-kue sesaji. Atau saat Ramadhan, teman-teman yang Hindu tak cuma bawa makanan untuk buka puasa tapi juga sahur.

Di [aka], kami kemudian menjadi keluarga. Layaknya keluarga besar, ada kisah romantika. Ada sakit hati. Ada (juga) permusuhan. Ah, terlalu banyak cerita di sana. Apa pun itu, kami tetap keluarga. Dan, rumah kami adalah sekretariat [aka].

Kini, rumah kedua itu kini sudah tak ada.

Agar Pelatihan Persma Lebih Tepat Guna

Sekadar perbaruan saja, sih.

Sebenarnya, materi tentang pelatihan pers mahasiswa (persma) ini sudah pernah aku tulis. Tapi, mumpung ada cantolan terbaru, maka aku tulis lagi. Ada pembaruan berdasarkan hasil diskusi hari ini dengan teman-teman pegiat persma di Denpasar, Bali.

Jadi, hari ini kami berdiskusi dengan sekitar 30 anggota persma Universitas Udayana (Unud) Bali. Niat diskusi muncul karena kami, aku dan Lode, merasa makin hari sebagian persma di Bali makin tak tahu bagaimana mengelola pelatihan jurnalistik dengan baik.

Sampai saat ini kami masih sering diminta jadi pemateri pelatihan-pelatihan jurnalistik oleh persma selain juga ke komunitas. Namun, menurut kami, sebagian pelatihan jurnalistik persma ini tak dikelola dengan baik. Tak ada konsep atau acuan kegiatan, tak bisa bedakan metode apa yang dipilih, dan seterusnya.

Maka, kami berinisiatif untuk diskusi dengan teman-teman pegiat persma ini. Akademika, persma tempat kami dulu belajar, kami menerima ajakan tersebut. Mereka yang mengundang dan jadi tuan rumah.

Diskusi selama sekitar 3 jam tersebut kami adakan di Rumah Jabatan Rektor Unud di Jl Goris Denpasar, sebelah utara kampus. Pesertanya dari beberapa persma di Unud, seperti Maestro (Teknik), Akademika (Unud), Suara Satwa (Kedokteran Hewan), Psyco (Kedokteran), Kanaka (Sastra), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Unud.

Berdasarkan hasil diskusi, kurang lebih inilah lima hal yang sebaiknya menjadi acuan ketika mengadakan pelatihan jurnalistik untuk persma.

1. Materi dan Metode
Materi pelatihan jurnalistik yang baik terdiri dari dua hal, yaitu wawasan dan keterampilan. Materi wawasan biasanya bersifat teoritik. Adapun keterampilan harus diimbangi praktik.
Idealnya sih 50 persen teori, 50 persen praktik. Dengan demikian, peserta bisa langsung mempraktikkan teori yang mereka pelajari dari pemateri.

Materi teori ini, misalnya, dasar-dasar jurnalisme, perkembangan jurnalisme saat ini, atau tentang persma dan gerakan mahasiswa, dan seterusnya. Adapun materi keterampilan, antara lain tentang teknik wawancara, menulis berita langsung, menulis berita kisah, dan seterusnya.

2. Pemateri
Agar pelatihan lebih tepat guna, maka pemateri pelatihan jurnalistik sebaiknya orang yang memang menguasai tema tersebut. Misalnya, ketika ngomong tentang teori jurnalistik, maka Dosen Ilmu Komunikasi atau wartawan setingkat redaktur atau pemred tentu lebih tepat daripada wartawan baru. Begitu pula materi tentang fotografi tentu lebih tepat kalau pemateri adalah fotografer jurnalistik, bukan fotografer model.

Tak hanya menguasai, pemateri ini sebaiknya juga cakap menyampaikan materinya. Syukur-syukur malah kalau dia bisa memadukan antara serius dan santai. Untuk ini, akan lebih bagus kalau panitia sudah mengenal pemateri. Jika belum cukup tahu bisa tanya ke alumni persma itu, wartawan yang dikenal, organisasi profesi, atau… Mbah Google!

3. Tempat dan Selingan
Suasana sangat memengaruhi asyik tidaknya pelatihan jurnalistik. Nah, salah satu yang amat memengaruhi suasana ini ternyata tempat pelatihan. Tak harus selalu di kelas. Ada teman-teman persma yang mengadakan pelatihan ini di tempat terbuka, seperti pantai, lapangan, dan semacamnya. Tak harus di kota tapi juga bisa sekalian seperti outbond.

Selain tempat yang berbeda, perlu juga dibuat agar suasana pelatihan-pelatihan terasa lebih santai. Salah satu caranya dengan membuat permainan-permainan (ice breaking) selama pelatihan. Biasanya sih permainan ini di sela-sela materi. Misalnya pada saat istirahat pagi atau usai makan siang.

4. Panitia dan Peserta
Bagi sebagian peserta, lagak gaya panitia juga penting. Bawaannya males kalau lihat panitia yang menjaga jarak dengan peserta. Maka, untuk panitia, jangan hanya karena merasa senior lalu belagu setengah mati. Untuk itu, panitia perlu lebih down to earth. Bergaullah dengan peserta. Jalin keakraban biar tidak ada jarak antara panitia dengan peserta.

Panitia sebaiknya membaur saja selama pelatihan. Ikuti materi-materi pelatihan sekalian hitung-hitung menyegarkan kembali pengetahuan dan pengalaman jurnalisme kita. Dengan cara ini, panitia sekalian bisa mengenal lebih jauh sebagian peserta tersebut. Sepertinya asyik juga kalau ada pendampingan dalam penugasan.

5. Apresiasi dan Kompetisi
Terakhir, berikan apresiasi kepada peserta. Kalau memang bagus ya bilang bagus. Kalau tidak  ya tidak. Selama ini ada anggapan bahwa panitia hanya mencari-cari kesalahan peserta. Hal ini terjadi karena memang panitia kurang bisa mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan oleh peserta. Anggapan ini harus diubah. Panitia harus berbenah.

Salah satu cara untuk memberikan apresiasi tersebut adalah lewat kompetisi. Sebaiknya ada persaingan, dalam arti positif, di antara peserta. Ini sih biasanya selalu ada. Tiap pelatihan selalu ada peserta terbaik, kelompok terbaik, dan seterusnya. Kompetisi akan bisa memacu prestasi. Tsaaah! Hehehe..

Demikianlah. Kurang lebih kesimpulan dari diskusi dengan teman-teman pegiat persma di Denpasar. Jika butuh materi diskusi tersebut, silakan unduh materi diskusi tentang pelatihan persma tersebut dalam versi ppt.

Agar Pelatihan Persma Lebih Tepat Guna

Musim pelatihan jurnalistik untuk mahasiswa telah tiba.

Pelatihan ini biasanya diadakan pada bulan-bulan ketiga atau keempat setelah mahasiswa baru masuk di kampus barunya. Urutan kegiatannya ini, biasanya dimulai dari kegiatan di tingkat kampus. Pada bulan pertama, mahasiswa baru sibuk dengan urusan kampus baru. Pada bulan kedua mulai sibuk di tingkat fakultas dan atau jurusan. Pada bulan ketiga atau keempat, barulah sibuk di tingkat unit kegiatan mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan lain.

Kesibukan itu terjadi pula di pers mahasiswa (persma), baik universitas ataupun fakultas. Pada bulan-bulan ini, tiap persma mulai memberikan pelatihan untuk anggota barunya. Tak hanya untuk pelatihan, kegiatan ini biasanya sekaligus menjadi waktu untuk seleksi anggota baru tersebut.

Dan, aku biasanya ketiban sampur. Beberapa persma biasanya masih minta aku untuk kasih pelatihan ini sebagai pemateri. Aku suka sih. Selain untuk tetap membagi pengetahuan dan pengalaman jurnalistik juga bisa mengenal penggiat-penggiat persma baru.

Cuma, kadang-kadang aku merasa ada yang semakin menurun dari kualitas pelatihan persma ini. Selain metode yang kurang jelas juga dari teknis pelaksanaan. Terakhir kali malah pas aku diminta jadi pemateri di Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (PJTL) di salah satu persma fakultas di Udayana awal September lalu.

Karena itulah, aku jadi kepikiran untuk membuat tulisan ini: bagaimana metode pelatihan persma yang lebih efektif?

Berdasarkan pengalaman sebagai anggota dan pengelola persma Akademika pada 1998-2001, maka menurutku, hal-hal berikut penting diperhatikan oleh persma yang akan memberikan pelatihan untuk anggota baru ataupun calon anggota.

Sekali lagi metode ini untuk pelatihan tingkat dasar, bukan tingkat lanjut (intermediate) atau bahkan advance.

Metode
Dari sisi metode pelatihan, hampir semua persma masih menerapkan metode kelas dengan tambahan praktik. Metode ini mirip kuliah biasa. Ada satu pemateri menyampaikan materi selama sekitar 1 jam lalu dilanjutkan dengan tanya jawab.

Menurutku ini masih cara terbaik. Sebab, jumlah anggota baru biasanya relatif banyak, antara 50 hingga 100 peserta. Kalau dibuat dalam bentuk workshop (lokakarya) akan agak susah karena banyaknya peserta plus kurangnya kapasitas panitia.

Dalam lokakarya, biasanya diikuti antara 10-20 peserta, semua peserta berperan sebagai aktor, tak cuma mendengar. Ini perlu fasilitator andal agar bisa memandu dan memancing peserta untuk berdiskusi. Sebatas yang aku tahu, susah cari fasilitator semacam ini di persma.

Jadi, tak apa. Silakan lanjut dengan metode kelas ini. Untuk persma, sampai sekarang, cara ini masih tepat.

Namun, metode kelas ini perlu diikuti dengan praktik langsung. Jadi, peserta pelatihan tak hanya belajar teori tapi juga menerapkannya langsung. Sayangnya, sih, karena terlalu banyak peserta dan terbatas waktu, maka hasil praktik ini tak bisa langsung dievaluasi. Padahal evaluasi tulisan ini penting juga.

Kurikulum
Dalam pelatihan tingkat dasar hal penting adalah memperkuat pondasi pengetahuan tentang jurnalisme pada peserta pelatihan. Pondasi ini ada yang bersifat pengetahuan ada juga untuk keterampilan.

Untuk pengetahuan, tentu penting memberikan materi tentang Dasar-dasar Jurnalistik. Hal ini meliputi definisi dan fungsi jurnalisme. Selain itu perlu juga memberikan wacana tentang situasi pers saat ini, tak hanya media nasional tapi juga di tingkat lokal. Dengan demikian peserta akan punya gambaran (dan semoga) sekaligus daya kritis terhadap situasi pers saat ini.

Setelah materi dasar jurnalisme plus diskusi situasi pers terkini, saatnya materi yang sifatnya praktis, keterampilan. Materi ini meliputi antara teknik menggali informasi, menulis berita langsung, menulis berita kisah, dan menulis opini. Menurutku empat materi ini saja sudah cukup sebagai dasar.

Adapun materi keterampilan lain, misalnya fotografi dan tata letak layout), mending untuk kelas dengan peminat khusus. Begitu pula materi manajemen organisasi dan pemasaran yang biasanya diberikan. Dua hal di atas, kemampuan desain dan manajemen organisasi, lebih sebagai tambahan untuk sebagian peserta daripada untuk semuanya.

Pemateri
Mencari pemateri pelatihan ini salah satu tantangan yang sering dihadapi persma. Sebabnya macam-macam. Dari tidak tahu sama sekali orang yang tepat sampai tidak tahu kontak orang yang diinginkan.

Jika tidak tahu sama sekali, penyelenggara pelatihan perlu mencari informasi ke pihak lain, seperti alumni persma tersebut atau wartawan yang dikenal. Pemilihan pemateri ini harus mempertimbangkan kapasitasnya. Karena sifatnya teknis, maka paling tepat kalau pemateri ini memang wartawan aktif, bukan bekas wartawan atau bekas penggiat persma yang tak lagi aktif menulis.

Setelah itu lihat spesifikasi narasumber. Kalau untuk materi teknik menulis berita langsung, maka wartawan media harian lebih tepat dibanding wartawan majalah mingguan atau bahkan bulanan.

Karena alasan ini pula, aku selalu menolak kalau diminta jadi pemateri teknik menulis berita langsung. Karena tak pernah bekerja untuk harian, aku merasa tak punya pengalaman nulis berita langsung ini. Kalau soal dasar-dasar jurnalistik atau berita kisah sih pasti senang sekali.

Teknis
Terakhir, seberapa pun bagus metode, kurikulum, dan narasumber, semua akan percuma kalau kedodoran di teknisnya. Contoh sederhana mulai dari menghubungi calon pembicara lewat telepon juga bisa lewat email, Twitter, Facebook, atau cara lain. Jangan lupa kenalkan diri, sedikit basa-basi, baru kasih tahu kalau mau minta dia jadi pemateri pelatihan.

Ini berkaca pada pengalaman sekitar Mei lalu ketika ada yang memintaku jadi pemateri tapi cara menghubunginya sama sekali tidak asik. Bawaannya jadi males membantu.

Hal teknis lain saat pelatihan ini sih biasa: tempat, waktu, jadwal, sampai makanan. Semua harus dicek dan dipastikan sesuai rencana. Hal-hal “kecil” seperti ini kalau tak diperhatikan juga bisa berdampak pada kegiatan secara keseluruhan. Jadi, sebaiknya tak dianggap sepele. Bukankah satu hal kecil bermasalah, bisa juga berdampak pada hal lebih besar?