Tag Archives: Perjalanan Dinas

Rapat Koordinasi PTNP Kemenpar dan Rapat Persiapan Ujian SBMPTNP 2018

Perjalanan dinas saya kali ini mengikuti 2 agenda rapat. Yang pertama adalah Rapat Koordinasi Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTNP) di lingkungan Kementerian Pariwisata yang dilaksanakan tanggal 30 April – 1 Mei 2018. Yang kedua adalah Rapat Persiapan Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata yaitu tanggal 2 – 3 Mei 2018. Keduanya dilaksanakan di Poltekpar Makassar. Jadi kami berangkat tanggal 29 April sore dan rencana kembali ke Bali tanggal 3 Mei 2018, 5 hari 4 malam.

Kami dari STP Bali berangkat 6 orang, termasuk Bapak Ketua dan Kabag Adak serta 3 orang dosen. Tapi 3 orang dosen tersebut hanya ikut Rakor saja, sedangkan saya menemani Bapak Ketua dan Kabag Adak ikut Rakor dan juga rapat SBM. Kami berangkat hari Minggu sore menggunakan Garuda Indonesia. Penerbangan dari Bali ke Makassar hanya sekitar 1 jam 10 menit. Tiba di Makassar kami dijemput dan langsung diajak makan malam di restoran New Dinar dengan menu utama ikan.

Setelah makan malam kami check in di hotel Arya Duta Makassar. Kami check in satu kamar sendiri-sendiri karena ternyata harga kamar per malam adalah Rp. 600.000,-  dan masih mencukupi tarif yang ditentukan yaitu maksimal Rp. 650.000,-. Kamar yang saya dapatkan sangat bagus, berada di lantai 7 dengan pemandangan langsung ke pantai Losari. Relatif luas dan nyaman, kamar mandinya juga bagus dan lengkap dengan bath tub (walau pembuangan air di bath tub sempat mampet). Suhu kamar juga bagus, bahkan di malam hari saya tidak perlu pakai AC dan kamarnya masih terasa dingin. Dengan harga sekian dan breakfast yang sangat lengkap, saya merasa puas.

Lanjut tentang acara Rakor. Pagi hari sekitar pukul 8.00 kami dijemput dan diajak ke kampus bersama rombongan lainnya untuk mengikuti Rakor. Acara Rakor berjalan dengan lancar, siangnya kami makan di restoran kampus Poltekpar Makassar dengan hidangan hasil praktek mahasiswa. Acara Rakor dilanjutkan sampai sore. Malamnya kami diajak makan malam lagi di restoran Dinar. Malamnya kami istirahat di hotel.

Hari kedua kami kembali mengikuti Rakor sampai siang dan diakhiri dengan makan siang di kampus lagi. Selesai acara Rakor, 3 orang dosen yang dari STP Bali kembali ke Bali pada sore hari itu. Sedangkan saya tetap di Makassar menemani Pak Ketua dan Kabag Adak untuk Rapat SBMPTNP tanggal 2 – 3 Mei 2018 keesokan harinya. Malam itu kami ternyata dijamu makan malam lagi bersama rombongan peserta rapat SBMPTNP.

Rapat hari pertama untuk SBMPTNP berjalan lancar juga walau sempat ada satu pembahasan yang cukup alot yaitu terkait Pemeriksaan Kesehatan, tapi sebelum makan siang akhirnya bisa diambil keputusan. Sore hari sekitar pukul 17.00 rapat selesai dan kembali dilanjutkan dengan makan malam. Hari terakhir tidak ada agenda dan kami sempat istirahat di hotel, tidak kemana-mana. Kami kembali ke Bali dengan pesawat Garuda sore harinya dan tiba di Bali dengan selamat.

Baca Juga:

Rapat Penyusunan Draft SK Standar Kelebihan SKS Mengajar di Jakarta

Perjalanan dinas saya kali ini adalah untuk mengikuti rapat penyusunan draft surat keputusan standar kelebihan sks mengajar di Jakarta, saya menemani atasan saya yaitu Kabag Adak STP Bali. Ya beberapa perjalanan dinas saya belakangan ini memang lebih sering menemani atasan, khususnya rapat-rapat terkait penerimaan mahasiswa baru. Rapat ini dilaksanakan pada tanggal 12 April 2018 di lantai 11 Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata Kami berangkat H-1 jadi penugasan saya adalah tanggal 11-12 April 2018.Awalnya sih kami inginnya berangkat pada hari H karena rapatnya dilaksanakan siang sehingga masih ada waktu kami berangkat paginya dan langsung menuju lokasi rapat. Tetapi karena agak mendadak, kami tidak mendapat tiket untuk tanggal 12 pagi, kami akhirnya mendapat tiket tanggal 11 malam. Jadi kami berangkat H-1 malam dan menginap di hotel Mercure.

Kami berangkat dari Bali sekitar pukul 18.30 dengan pesawat Garuda. Saya lebih senang karena mendapat pesawat yang lebih besar yaitu Airbus A330-200 yang di kelas ekonomi dalam 1 baris terdiri dari 8 tempat duduk, rasanya lebih lega dan nyaman. Tiba di bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, kami langsung naik bus Damri jurusan Gambir dan turun di depan gedung Indosat, sebelah gedung Sapta Pesona. Dari sana kami jalan kaki sekitar 650 meter menuju hotel Mercure Jakarta Sabang untuk menginap semalam. Besoknya sekitar pukul 11.00 kami check out dan menuju Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata untuk mengikuti rapat sampai sore sekitar pukul 16.00.

Selesai rapat kami langsung ke bandara, awalnya kami mau naik Damri, tapi di depan kantor kebetulan ketemu teman dari Medan yang akan ke bandara juga naik Go-Car. Jadi kami ikut menumpang disana. Kami tiba di bandara tepat waktu, sekitar 1,5 jam sebelum boarding. Kami kembali ke Bali naik Garuda yang Airbus A330-200 juga dan tiba dengan selamat.

Baca Juga:

Rapat Persiapan Grand Launching SBMPTNP di Lombok

Masih dalam rangka SBMPTNP 2018, saya kembali mendapat tugas perjalanan dinas yaitu mengikuti Rapat Persiapan Grand Launching SBMPTNP di Lombok pada tanggal 8-10 Maret 2018. Acara rapat diadakan selama 1 hari yaitu tanggal 9 Maret 2018. Sebenarnya agenda rapat selain persiapan grand launching, dilanjutkan juga dengan agenda membahas kesepakatan mengenai kelebihan sks mengajar di 6 Perguruan Tinggi Pariwisata (PTP) di lingkungan Kemenpar. Pembahasan ini cukup krusial dan alot karena akan berdampak langsung pada keuangan khususnya bagi para dosen.

Acara Grand Launching SBMPTNP 2018 rencananya akan dilaksanakan di Bali pada 23-24 Maret 2018. Yang dibahas pada rapat persiapan ini sangat teknis, khususnya video yang akan diputar di puncak acara grand launching. Acara grand launching sendiri rencananya akan disisipkan pada acara Rakornas SMK Pariwisata yang dihadiri Menteri Pariwisata sekaligus melakukan grand launching SBMPTNP 2018.

Kami berangkat ke Lombok pada tanggal 8 Maret 2018 dengan pesawat Garuda Indonesia tipe ATR, itu lho yang baling-balingnya terlihat jelas. Penerbangan kami ke Lombok lancar namun terasa agak lama yaitu 45 menit, mungkin karena pesawat sempat memutar beberapa kali sebelum tiba di Lombok. Di Lombok, kami menginap di Hotel Astoria Lombok, karena acara rapat juga disana.

Acara rapat tanggal 9 Maret kami ikuti dengan baik dan lancar. Saat istirahat siang, kami terpaksa harus check out dari hotel karena ternyata hanya di booking 1 malam saja, dan tidak bisa extend karena penuh. Sore hari selesai rapat kami pindah ke hotel Golden Palace untuk menginap 1 malam lagi. Sebelumnya saya sudah pernah menginap di Golden Palace Lombok yaitu tahun 2017 kemarin.

Tanggal 10 Maret 2018 kami kembali ke Bali dengan Garuda Indonesia. Penerbangan ke Bali kali ini terasa cepat yaitu hanya 25 menit saja. Mungkin karena langsung lurus saja dari Lombok ke Bali. Kami tiba dengan selamat. Demikian perjalanan dinas saya kali ini.

Baca Juga:

Pre Launching SBM-PTNP di Poltekpar Palembang

Perjalanan dinas kali ini saya ditugaskan mengikuti acara Pre Launching SBM-PTNP (sebelumnya bernama SBMSTAPP) di Poltekpar Palembang. Saya ditugaskan menemani Ketua STP Bali dan Kabag Adak. Sebenarnya minggu sebelumnya saya juga ditugaskan untuk rapat ke Medan dalam rangkaian SBM-PTNP juga, tapi karena istri dan anak sakit jadi saya tidak bisa ikut dan digantikan teman lainnya. Tidak apalah karena urusan keluarga tetap nomor 1 bagi saya.

Oya, SBM-PTNP itu singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata. Sebelumnya bernama SBMSTAPP (Seleksi Bersama Masuk Sekolah Tinggi, Akademik dan Politeknik Pariwisata), tapi karena sekarang Akademi Pariwisata Medan sudah berubah menjadi Politeknik Pariwisata Medan, jadi kini perguruan tinggi yang ada adalah 2 Sekolah Tinggi Pariwisata (Bali dan Bandung) dan 4 Politeknik Pariwisata (Medan, Makassar, Palembang dan Lombok). Maka dirubahnya namanya menjadi SBM-PTNP.

Acara Pre Launching SBM-PTNP 2018 adalah tanggal 14 Pebruari, kami berangkat tanggal 13 Pebruari siang yaitu sehari sebelum acara menggunakan Garuda Indonesia dengan penerbangan direct dari Denpasar ke Palembang. Kami menumpang pesawat Garuda Indonesia tipe CRJ1000 NEXTGEN yang ukurannya agak kecil (seperti pertama kali saya ke Palembang tahun lalu), 1 baris hanya terdiri dari 4 seat yaitu masing-masing 2 di kiri dan kanan. Walaupun kecil tapi tetap nyaman, bahkan dari segi suara jauh lebih senyap karena mesin pesawat yang jauh di belakang.

Di penerbangan kali ini saya pertama kalinya mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan penumpang lain. Duduk di depan saya sepasang bapak dan ibu yang umurnya mungkin sekitar 60 tahun. Dari penampilannya dan gerak-geriknya saya menduga mereka berdua tumben atau jarang naik pesawat. Dari baru masuk pesawat mereka berdua ngobrol terus dengan suara yang relatif lebih keras dibanding penumpang lainnya, tapi saya tidak terlalu terganggu. Kejadian yang tidak mengenakkan terjadi sekitar 15 menit sebelum mendarat, saat pilot sudah mengumumkan pesawat akan segera mendarat dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah menyala, terdengar suara telepon, bahkan relatif keras. Saya awalnya menduga mereka lupa mematikan telepon dan akan segera mematikan teleponnya, tapi malah si ibu mengangkat telepon itu dan berbicara cukup keras, tanpa rasa bersalah! Mungkin sekitar 10 detik saja, lalu dimatikan. Penumpang di dekat mereka semua langsung memandang dengan wajah tidak senang. Selang beberapa detik kemudian telepon berbunyi lagi, kali ini si bapak yang menerima telepon dan berbicara keras-keras dengan santainya. Semua mulai geram dan hanya beberapa detik kemudian pak Byo (bos saya) yang duduk di seberangnya langsung menegurnya, dan berkata “tidak boleh menelepon di pesawat pak!” Akhirnya dia menutup teleponnya. Kami semua hanya geleng-geleng kepala saja dengan ulah penumpang itu. Saya tidak tahu pramugari mengetahui kejadian itu atau tidak. Pesawat pun mendarat dengan sempurna di Palembang. Saya masih agak geregetan.

Lanjut. Kami kemudian dijemput oleh tim Poltekpar Palembang dengan sambutan yang luar biasa bagi saya. Di pintu keluar terminal kami disuguhkan welcome drink oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Setelah menikmati minuman tersebut, kami langsung diantar ke hotel Santika Palembang, tempatnya tepat di depan/seberang TransMart Palembang. Selama di Palembang, kami selalu diantar jemput dan ditemani oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Sore itu kami langsung istirahat di hotel. Malam harinya sekitar pukul 7 kami dijemput dan diajak makan malam makanan khas Palembang, apalagi kalau bukan pempek. Rasanya tentu enak sekali.

Keesokan harinya, acara Pre Launching dilakukan di kampus Poltekpar Palembang yang baru. Tahun lalu saat saya kesana, kampus Poltekpar Palembang masih meminjam gedung rusunawa di komplek Jakabaring Sport City. Sekarang mereka sudah punya kampus yang megah dan lokasinya masih di komplek Jakabaring Sport City. Kalau tidak salah tanah seluas 2 hektar kampus adalah hibah dari Provinsi Sumetera Selatan. Acara Pre Launching berlangsung sederhana namun juga meriah dan dihadiri langsung oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan juga Gubernur Sumatera Selatan, Bapak Alex Noerdin. Dalam sambutannya, saya terkesan dengan penampilan Gubernur yang satu ini, terlihat berwibawa sekali.

Selesai acara Pre Launching, pak Gubernur kemudian meresmikan food truck milik Poltekpar Palembang. Seluruh perwakila dari masing-masing kampus kemudian mengadakan rapat singkat membahas rencana Grand Launching SBM-PTNP 2018. Rencananya akan dilaksanakan nanti di Bali pada pertengahan Maret sekaligus dalam acara Rakernas SMK Pariwisata seluruh Indonesia. Selesai rapat kami menikmati makan siang hasil praktek mahasiswa sambil berkoordinasi beberapa hal lain. Selesai acara kami diantar kembali ke hotel. Malam harinya kami diajak makan malam lagi di pinggir sungai musi. Menu utamanya adalah berbagai olahan ikan, rasanya enak dan tempatnya juga bagus dengan view jembatan Ampera di malam hari. Keren.

Keesokan harinya kami kembali ke Bali. Bapak Ketua STP Bali naik Garuda Indonesia direct ke Bali, sedangkan saya dan Kabag Adak terpaksa harus transit ke Jakarta karena tidak mendapat tiket direct. Penerbangan kami dari Palembang sempat delay lebih dari 1 jam, konon karena kondisi cuaca di Jakarta tidak bagus sehingga pesawat dari Jakarta yang ke Palembang harus delay. Setelah akhirnya berangkat dan tiba di Jakarta, kami tentu saja ketinggalan pesawat yang rencana ke Bali dan harus mundur ke flight selanjutnya. Flight selanjutnya itupun delay lebih dari 2 jam. Jadi kami terpaksa menunggu. Uniknya, karena delay saja jadi makan di Garuda Lounge, ini pertama kalinya saya masuk ke Garuda Lounge, hehe.

Penerbangan kami ke Bali akhirnya berangkat juga, dan kami mendarat di Bali sekitar pukul 10.30 malam, padahal kalau semua lancar kami seharusnya mendarat di Bali sekitar pukul 5 sore. Tidak apalah yang penting kami tiba dengan selamat. Demikianlah catatan perjalanan dinas kali ini.

Baca Juga:

Orientasi ke STP Bandung

Belum genap 2 minggu yang lalu saya mendapat tugas perjalanan dinas (ke Bogor), kali ini saya mendapat tugas perjalanan dinas lagi. Mungkin bagi orang lain jarak segitu sudah biasa atau bahkan ada yang seminggu bisa beberapa kali ke luar daerah, tapi bagi saya yang cuma seorang staf biasa, ini terasa cukup sering.

Tugas perjalanan dinas saya kali ini adalah melakukan orientasi ke kampus STP Bandung. Saya ditugaskan menemani teman saya yang merupakan Sekretaris di Program Studi Magister Terapan Pariwisata yaitu sebuah program studi baru di STP Nusa Dua Bali, sekaligus jenjang S2 pertama di STP Nusa Dua Bali. Nah karena ini sebuah prodi baru, maka sebelum proses penerimaan mahasiswa baru dilakukan, perlu diadakan semacam studi banding ke kampus STP Bandung yang sudah memiliki jenjang S2.

Kami berangkat hari Kamis, 16 Nopember 2017 dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 13.20. Perjalanan ke Bandung mengalami beberapa kali goncangan karena cuaca kurang bagus. Meskipun goncangan tidak sekeras ketika dulu saya pertama kali ke Bandung, tapi saya cukup ketakutan juga karena kami sempat memasuki awan gelap dan hujan serta terlihat beberapa cahaya kilat, syukurnya ketika memasuki area bandara beberapa saat sebelum mendarat cuaca masih terang dan kami mendarat dengan lancar. Setelah keluar dari bandara barulah hujan deras mengguyur. Kami cari makanan yang hangat-hangat depan bandara.

Menjelang sore kami naik taksi ke hotel yang lokasinya di Cihampelas. Terakhir kesini tahun lalu belum ada Teras Cihampelas (Skywalk), itu lho jalan Cihampelas yang diatasnya ditutup dan dijadikan tempat jualan baju kaos dan kuliner, ada juga taman dan tempat istirahat. Saya tiba di hotel dan istirahat, malamnya kami makan dekat hotel karena hujan masih sampai malam. Oya, hotel tempat kami menginap ternyata kurang bagus, sempit dan minimalis sekali. Memang sih rata-rata hotel harga 600-700 di sini memang tidak terlalu mewah, tapi ini dengan harga 770 ribu saya rasa masih lebih bagus hotel-hotel di sebelah tempat saya menginap sebelum-sebelumnya.

Hari Jumat agak siang kami berangkat ke kampus STP Bandung dan menemui Direktur Pasca Sarjana STP Bandung. Cuaca di Bandung saat itu hujan lebat sampai malam. Dalam bentuk diskusi yang hangat beliau memberikan banyak informasi terkait pelaksanaan prodi Pasca Sarjana. Diskusi khususnya dengan teman saya selaku sekretaris prodi S2 di STP Bali. Saya sendiri mungkin khusus menanyakan informasi terkait status PDDIKTI untuk prodi S2 di STP Bandung, informasi yang saya dapatkan mahasiswa S2 di STP Bandung sudah terdaftar di PDDIKTI mulai angkatan 2015.

Kami selesai diskusi sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Cuaca masih hujan, kami kembali ke hotel naik taksi. Kami sempat membeli beberapa oleh-oleh di seitar Cihampelas saja. Malamnya kami istirahat karena akan kembali ke Bali pagi-pagi sekali dengan pesawat Garuda Indonesia pukul 06.20 WIB. Sabtu pagi kami sudah bangun pukul 04.00 dan pukul 05.00 sudah berangkat ke bandara. Penerbangan kami ke Bali tepat waktu dan lancar, cuaca cukup bagus dan kami mendarat di Bali dengan selamat pukul 09.00 Wita.

Baca Juga: