Tag Archives: perempuan

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini

MEN COBLONG memajukan kursinya. Wajahnya tepat berada di depan sahabatnya yang sejak pagi uring-uringan.

Tidak jelas ke mana arah pembicaraannya. Kelihatan sekali perempuan yang usianya sebaya dengan Men Coblong itu dilumuri bau stres akut. Terasa sekali hawa kesedihan dan luka hati terlacak mengguyur seluruh tubuh sahabat Men Coblong. Di usia yang tidak lagi muda apakah yang sesungguhnya dicari seorang perempuan di dalam rumah perkawinannya?

Perkawinan itu bagi Men Coblong adalah tumpukan tangga-tangga yang harus dilewati oleh pasangan. Setiap tangga memiliki kisah-kisahnya sendiri. Ada urutan tangga yang terasa nyaman untuk dikenang dan ditimbang. Ada urutan tangga yang selalu ingin dijebol dan dirusak karena memiliki kesan dan justru membuat hidup yang rumit jadi bertambah rumit.

Tangga yang mengandung beragam masalah-masalah tidak enak dan “menyakitkan” itu tentu tidak bisa ditinggal, tidak bisa dipotong. Juga tidak bisa dihilangkan. Kalau dihilangkan tentu ornamen rumah jadi terlihat “aneh”.

“Aku sudah membesarkan anak-anak dengan seluruh kemampuan yang kumiliki,” kata sahabat Men Coblong terdengar getir. Sebentar-sebentar perempuan itu menark napas. Matanya yang bulat terlihat cekung dan penuh warna merah.

Men Coblong melirik kaca di sampingnya. Terpantul wajahnya yang terlihat agak berubah. Tubuh dan wajah dalam pantulan kaca di samping kirinya terlihat berbeda. Tubuh di pantulan kaca itu terlihat lebih besar dan tambun.

Men Coblong memonyongkan mulutnya. Di usianya yang setengah abad, dia merasa makin tertimbun lemak. Berat tubuhnya 52 kg, 10 kg lebih berat dari biasanya. Tetapi Men Coblong kok merasa sehat-sehat saja. Di usianya yang setengah abad ini, dia merasa tidak lagi memiliki banyak target di kepalanya. Target-target yang bertumpuk dan selalu menghantui setiap langkahnya menuju tangga-tangga berikutnya.

Sejak muda Men Coblong dikenal teman-temannya sebagai perempuan ambisius.

“Masa muda itu harus dinikmati. Jika kau tua, kau tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas,” itu kata-kata teman-teman Men Coblong ketika masih berumur 20-an. Bagi mereka hidup itu harus diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Puaskan hidup dengan beragam kesenangan selagi tubuh masih bisa diajak kompromi.

“Benarkah hidupku terasa aneh bagi orang-orang di sekitarku?” gumam Men Coblong dingin pada diri sendiri.

Men Coblong terus memainkan bibirnya. Secangkir cokelat panas belum tersentuh. Men Coblong masih asyik dengan pantulan wajahnya di dinding kaca yang agak gelap. “Ah, aku kok merasa baik-baik saja, aku juga sudah mengisi masa mudanya dengan hal-hal gila.”

Ada arogansi yang berlebihan juga, terutama jika bersama para sahabatnya semasa kuliah dulu. Men Coblong juga merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang direkayasa.

“Ah, kamu itu sewaktu mahasiswa sok angkuh. Kamu itu lebih terlihat rileks justru setelah usia saat ini. Kulihat tubuhmu juga lebih berisi. Sorot matamu juga lebih ramah dan bersahabat,” kata teman yang lain.

Sorot mata bersahabat?

“Iya, dulu matamu penuh perhitungan,” jawab sahabat yang lain.

Mata penuh perhitungan? Ada-ada saja istilah para perempuan menilai perempuan-perempuan lain.

“Jangan menganggap negatif para perempuan? Tanpa perempuan dunia ini ambruk. Siapa yang akan mengurus anak? Siapa yang memasak? Siapa yang bisa membuat rumah bersih dan nyaman? Siapa yang mengatur kebun? Mengantar jemput anak? Memilihkan mereka sekolah itu juga bagian dari tanggungjawab kita. Makanya jadi perempuan itu hebat,” suatu hari Men Coblong mendengar seorang teman berkata sedikit ketus dengannya ketika Men Coblong berada di ruang tunggu menunggu anak semata wayangnya keluar dari kelas.

“Lelaki itu bisanya apa, sih?” jawab ibu teman anak Men Coblong itu getir.

Men Coblong menarik napas. Perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang berderet menjemput anaknya di sebuah sekolah di bilangan jalan Hayam Wuruk itu terus berkata-kata dan yang satu memperkuat yang lain. Bahwa tanpa seorang perempuan di Bumi ini, mungkin matahari tidak akan pernah terbit dari Timur.

Sebagai perempuan pada saat itu Men Coblong memang merasa bahwa perkawinannya dibanding para ibu-ibu itu baru saja beranjak hitungan satu tangan. Belum memahami beragam “cuaca” buruk dan “cuaca” baik. Juga belum paham “arah angin”. Men Coblong baru menikmati saat-sat memiliki seorang anak yang terasa ganjil dan aneh. Seorang manusia yang selalu memerintah dirinya. Terasa lucu peran “jadi ibu” itu jika dihayati.

Sekarang di usia setengah abad, Men Coblong harus berhadapan kembali dengan seorang temannya, perempuan 60 tahun yang merasa “dibuang” oleh lima anak perempuannya. Lima anak perempuan yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Perempuan itu menanggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar demi membesarkan lima anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar dan memilih bekerja di rumah dengan membuat usaha kuliner. Syukurnya usahanya maju, lima anak perempuannya bisa sekolah di luar Bali di universitas-universitas ternama di dalam negeri.

Kemana lelakinya? Menikah lagi karena teman Men Coblong itu tidak memiliki anak lelaki. Menyedihkan juga, sih. Dan saat ini Men Coblong berhadapan dengan perempuan “hebat” itu, wajahnya kuyu dan terlihat tidak bahagia. Dia merasa ditinggalkan oleh lima anak perempuannya yang memilih hidup terpisah satu sama lain.

Men Coblong terdiam. Tidak menemukan solusi. Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit juga. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga “kekasih”.

Masalahnya, kok di tengah kerumitan-kerumitan menjadi ibu dan beragam masalah perempuan lainnya. Masih ada saja perempuan yang “tega” mengambil kebahagiaan perempuan lainnya. Perempuan tega melukai hati perempuan. Kok masih ada saja yang mau jadi istri kesekian. Di mana sesungguhnya arti perjuangan Kartini bagi mereka? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini appeared first on BaleBengong.

Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan

Ayu dan barisan massa aksi Women’s March Bali. Foto Iin Valentine

Minggu, 4 Maret 2018  lalu, menjadi hari yang tidak biasa bagi saya.

Ya, Minggu, bangun pagi. Jarang sekali terjadi. Pukul 07.10 WITA, saya sampai di area parkir timur Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar untuk mengikuti aksi Women’s March. Ini adalah aksi pertama yang saya ikuti setelah terakhir, sekitar tahun 2016 lalu ikut aksi Bali Tolak Reklamasi di Desa Kelan.

Namun, di tempat saya berdiri, tak ada tanda-tanda yang merujuk pada aksi tersebut. Saat itu saya jadi ragu. Bener ngga nih acaranya hari ini?

Masih berbekal sedikit rasa ngantuk, saya merogoh tas yang isinya amburadul untuk mengambil ponsel. Saya mau memastikan kembali pengumuman acaranya, apakah sudah berada di tempat dan waktu yang benar. Poster digital yang saya simpan di ponsel mengatakan bahwa titik kumpulnya memang benar, di area parkir timur Lapangan Renon. Jamnya pun benar (walaupun ngaret 10 menit).

Tak sampai 10 menit berjalan, saya lihat kerumunan orang dengan mengenakan pakaian bernuansa hijau toska dan ungu, sesuai dress code acara itu, sedang berkumpul. Di kerumunan itu, seseorang berpakaian nyentrik telah mencuri perhatian saya. Ia tampil sangat percaya diri dengan balutan kemeja ungu dengan kamen (kain) berwarna pink yang dililitkan khas lelaki Bali, lengkap dengan udeng (hiasan kepala) berwarna senada.

Tak ketinggalan, sepasang anting cantik menghiasi kedua telinganya. Membuat penampilannya sangat eye catching. Ia adalah Ayu Bagaoesoekawatie, salah satu koordinator lapangan aksi Women’s March Bali tersebut.

Sebelum aksi dimulai, Ayu menjelaskan tata tertib kepada para peserta. Menurut Ayu, ini adalah aksi yang tidak sembarangan. Ketertiban dan keamanan tetap harus dijaga, mengingat bahwa aksi itu berlangsung di ruang publik dengan aktivitas yang ramai.

Mereka sudah siap dengan membawa poster yang bertuliskan berbagai pernyataan sikap seputar isu gender, kekerasan, hingga penolakan terhadap RKUHP.

“Perempuan bersatu!”

“Tak bisa dikalahkan!”

“Perempuan Bergerak!”

“Tak bisa dihentikan!”

Begitulah seruan yel-yel yang dikomando oleh Ayu penanda aksi Women’s March telah dimulai. Para peserta menirukan yel-yel tersebut dengan penuh semangat sambil berjalan mengelilingi lapangan. Berbagai kalangan ikut ambil bagian menyuarakan pernyataan sikap. Perwakilan LBH APIK Bali, KISARA Bali, mahasiswa, pelajar, dan kalangan umum membaur dalam barisan.

Massa membawa poster yang bertuliskan penyataan sikap dan tuntutan. Foto Iin Valentine.

Seperti yang tertulis di poster, aksi ini menyoroti isu seputar gender, bagaimana perempuaan, anak, dan kelompok rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan. Baik itu kekerasan fisik psikis, maupun  verbal. Selain menyuarakan pernyataan sikap, ajakan untuk saling menghormati sesama manusia pun ikut disuarakan.

Aksi yang diikuti mayoritas oleh perempuan itu diadakan dalam rangka memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Women’s March sendiri berawal dari perlawanan kaum perempuan dan kelompok minoritas di Amerika Serikat terhadap Presiden Trump yang sering merendahkan hak-hak mereka.

“Tidak ada lagi suit-suitan di jalan! Tidak ada lagi panggilan sayang di jalanan! It’s not gentlemen! Kami cukup dihormati. Hormati sebagai manusia. Berikan ruang hidup yang sama seperti manusia yang lain!” teriak Ayu saat memimpin barisan aksi.

“Melawan penindasan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Perempuan bergerak, melawan penindasan, yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

Yel-yel terdengar dinyanyikan beberapa kali. Mencuri perhatian masyarakat yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sekadar mendokumentasikan, bertanya-tanya itu aksi untuk apa, hingga ada beberapa yang memutuskan untuk ikut bergabung dalam aksi.

Sebanyak 8 tuntutan diajukan dalam aksi. Foto Iin Valentine.

Selanjutnya, Eka Purni Astiti, perwakilan KISARA Bali, menegaskan bahwa isu kekerasan berbasis gender dan kriminalisasi upaya-upaya peningkatan kesehatan reproduksi dan juga seksual menjadi tantangan ke depannya. Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2016, terdapat lebih dari 200.000 kasus kekerasan pada perempuan.

“Ini hanya menjadi sedikit bagian dari apa yang kami perjuangkan. Dengan berjalan kaki di aksi ini,” jelas Eka.

Menurut Eka, untuk dapat mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender, anak-anak muda dan seluruh masyarakat harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa jenis-jenis kekerasan berbasis gender. “Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis dan seksual,” lanjutnya.

Setelah mengelilingi lapangan sebanyak dua kali, aksi ini ditutup di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja dengan pembacaan puisi dan orasi dari beberapa peserta aksi. [b]

The post Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan appeared first on BaleBengong.

Arti Bungan Natah Dalam Bahasa Bali

Bungan Natah dalam bahasa Bali memiliki arti yaitu anak perempuan kesayangan atau kebanggaan dalam keluarga. Bunga artinya bunga atau kembang, Natah artinya halaman atau pekarangan rumah. Kata bunga ditambah akhiran an menyatakan milik, jadi secara harafiah artinya bunga atau kembang di halaman.

Jadi ungkapan “bungan natah” dalam bahasa Bali memiliki makna atau arti anak perempuan kesayangan atau kebanggaan dalam sebuah keluarga. Contohnya seperti kalimat “Niki bungan ngatah tiange” artinya “ini anak gadis kesayangan saya” atau “anak gadis kesayangan keluarga kami”.

Demikianlah penjelasan arti bungan natah dalam bahasa Bali, semoga bisa memberikan gambaran. Jika ada yang kurang tepat, silahkan dikomentari.

Baca Juga:

Lebih Dari 10% Remaja Dunia Adalah Perokok

Sebuah studi global terbaru menyimpulkan bahwa lebih dari 10% penduduk dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun adalah perokok.

Sebagaimana kita ketahui bersama, rokok tembakau menjadi penyebab utama gangguan kesehatan serius yang dialami penduduk dunia. Setiap tahun, sekitar 6 juta penduduk dunia harus kehilangan nyawa akibat dari penyakit serius yang berhubungan dengan rokok tembakau. Sebagian besar perokok memulai kebiasaan merokok di usia remaja.

Studi kali ini, peneliti mengambil data survei remaja dari tahun 2012 sampai 2015 di 61 negara. Hasilnya, setengah dari negara negara tersebut memiliki angka perokok remaja laki laki sebesar 15% sedangkan perokok remaja perempuan sebesar 8%.

Menurut kepala peneliti, Rene Arrazola dari CDC, merokok telah terbukti sangat berbahaya bagi seluruh organ tubuh dan kebiasaan merokok saat dewasa sudah dimulai dari usia remaja.

Mereka yang memulai kebiasaan merokok di usia muda memiliki angka ketergantungan terhadap nikotine yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang mulai merokok di usia dewasa. Sehingga upaya untuk mencegah kebiasaan merokok di usia remaja menjadi sangat penting untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Negara dengan angka perokok remaja yang paling kecil adalah Sri Lanka (1,7%) sedangkan negara dengan angka perokok remaja yang paling tinggi adalah Timor Leste (35%).

Berdasarkan jenis kelamin, negara dengan angka perokok remaja laki laki terkecil adalah Tajikistan (2,9%), sedangkan negara dengan angka perokok remaja laki laki tertinggi adalah Timor Leste (61,4%). Sedangkan untuk perokok perempuan, negara dengan angka perokok perempuan terendah adalah Tajikistan (1,6%) sedangkan negara dengan angka perokok perempuan tertinggi adalah Bulgaria (29%).

Secara umum, setengah dari perokok remaja yang disurvei mengatakan mereka ingin berhenti merokok. Keinginan berhenti merokok paling rendah terjadi di Uruguay (32%) sedangkan keinginan berhenti merokok yang paling tinggi di Filipina (90%).

Kelemahan dari studi ini adalah hanya berdasarkan pengakuan dari remaja yang bersangkutan sehingga tidak menggambarkan perilaku remaja itu secara nyata. Studi juga menyasar remaja yang bersekolah sehingga tidak menggambarkan secara utuh kebiasaan merokok di negara yang bersangkutan.