Tag Archives: perempuan

Catatan Mingguan Men Coblong: Tetas

Aksi menentang kekerasan seksual pada perempuan. Foto Bhagavad Sambadha via Twitter dengan modifikasi.

MEN COBLONG menatap tubuhnya sendiri di dalam cermin.

Apakah tubuh perempuan itu tidak memiliki harga? Apakah hanya sekedar “pabrik” untuk melahirkan bayi-bayi demi kelanjutan hidup manusia. Seberapa dalam dan seriuskah negara mengurus tubuh perempuan?

Berdasarkan berita yang santer meluncur di telinga Men Coblong seperti ini: Dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukuk Pidana (RKUHP), perempuan yang menggugurkan kandungan terancam pidana 4 tahun penjara. Sedangkan hukuman penjara mininum bagi koruptor hanya 2 tahun.

Apa yang ada di dalam pikiran kita jika ada perempuan yang diperkosa lalu hamil? Bagaimana jika itu anak perempuan kita sendiri? Apakah tidak boleh melakukan aborsi? Bukankah diperkosa saja sudah merupakan beban berat, beban tenang akan dibawa mati, dan terus ditenteng selams hidup si Perempuan?

Siapa yang bisa dibagi serpihan-serpihan luka itu? Tidak ada!

Perempuan sendirilah yang akan menanggung akibatnya. Tak ada manusia yang mampu menambung butiran-butiran serpihan itu walaupun sangat kecil. Apalagi negara?

Men Coblong pernah menyaksikan dalam sebuah wawancara dengan dua orang anak perempuan yang diperkosa ayah kandungnya, Ayah yang seharusnya melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya malah berbuat sebaliknya. Di Denpasar, Bali, seorang ayah malah tega memperkosa kedua buah hatinya. Biadab!

Ayah berusia 41 tahun itu memperkosa kedua anaknya berulang kali kurun 2009-2013. Pemerkosaan dilakukan di rumahnya atau di villa. Lokasi pemerkosaan seperti di kamar tidur, ruang tamu atau di kamar mandi dengan didahului ancaman dan kekerasan.

”Saya sempat melawan, menendang perut Bape, bapak, tetapi malah ditampar dua kali dan diancam tidak boleh memanggail Bape lagi kalau bilang-bilang ke Ibu,” ujar seorang korban dalam kesaksiannya.

Masih di Bali ada lagi kasus, di Dusun Kubukuli desa Sudaji, Kecamatan Sawan Buleleng, di Bali heboh karena ada seorang ayah kandung yang tega menghamili anaknya sendiri yang duduk di bangku kelas 2 SMA.

Informasi yang didapat, terbongkarnya kehamilan remaja 17 tahun itu, setelah seorang temannya melihat siswi tersebut keluar dari tempat bidan. Ketika didesak oleh rekan-rekannya, gadis itu mengaku kalau dirinya sudah tidak lagi menstruasi sejak tiga bulan.Lebih mengejutkan lagi, jika wanita yang dikenal kalem dan jarang bergaul ini hanya menyebutkan kalau laki-laki yang selama ini menidurinya adalah ayah kandungnya sendiri, GPY (40).

Kalau mau dirunut tentu banyak kasus-kasus terjadi seperti itu. Apakah hukum bisa dengan tega membiarkan anak-anak yang belum mengerti banyak asam-garam kehidupan terus semakin terbuang dan tidak ada artinya lagi. Jika kasus seperti ini tentu membuat aib tidak menyenangkan, luka, dan torehan penderitaan yang tidak bisa dihapus sampai nyawa direnggut sang Hidup. Siapa yang harus dimintai tanggungjawab?

Anak-anak korban perkosaan dan kekerasaan ini akan terus memikul tanggungjawab yang tidak kecil. Hidup mereka telah jadi milik publik, mereka akan merasa sebagai manusia-manusia “sisa” , manusia terbuang. Karena tidak ada lagi pilihan hidup yang bisa mereka pilih. Karena hidup memang tidak menyisakah pilihan hidup untuk orang-orang “terbuang” seperti ini. Lalu untuk siapa hukum tata masyarakat itu dibuat?

“Jadi lebih enak korupsi dong?” tanya sahabat Men Coblong ketika Men Coblong menggerutu dan mulai nyinyir.

“Sebetulnya kan gampang itu mengatur hukum-hukum itu, apa namanya tadi itu? Pokoknya aturan-aturan untuk kita-kita, masyarakat kayak kita ini sesungguhnya bisa apa ya, Men Coblong?” tanya sahabatnya yang lain dengan gagap.

Lalu kembali melanjutkan, “di rumah kecilku, aku juga memiliki aturan-aturan di dalam rumah yang harus ditaati seluruh warga rumahku. Aturan itu dibuat bersama-sama, bahkan asisten rumah tanggaku juga boleh ikut urun rembug, karena aturan di dalam rumahku tujuannya untuk; keselamatan, kenyamanan, kebahagiaan di dalam rumah. Jadi semua boleh bersuara, semua boleh mengajukan usul.”

“Tidak masalah usul itu bentuknya apa. Atau usul itu diusulkan untuk membuat salah satu anggota keluarga diuntungkan. Ditampung dulu seluruh saran-saran itu, kemudian dibicarakan,” sahabat Men Coblong mulai berteori.

“Aku bukan pakar hukum, tetapi hal yang paling penting. Belajar hidup itu harus dimulai dari keluarga. Kau serius, koruptor di hukum 2 tahun?”

“Rencananya begitu,” jawab Men Coblong serius.

“Apa ada pasa-pasalnya yang menyebutkan begini: koruptor jika kena operasi tangkap tangan (OTT), harus dimiskinkan! Seluruh hartanya harus jadi milik negara. Milik kita-kita ini. Apa bisa seperti itu Men Coblong?”

“Atau, hasil proses kreatif mereka sebagai koruptor bisa digunakan untuk membangun jalan-jalan yang rusak. Sekolah yang sudah mau ambruk, atau dananya disimpan untuk para siswa miskin di pelosok.”

“Ah siswa miskin, tetangga depan rumahku cari surat keterangan miskin untuk beasiswa Bidikmisi, anaknya kuliah di luar Bali lagi, harusnya kan tinggal di asrama, tetapi dia memilih tempat kost yang nyaman lengkap dengan pendingin udara? Bagaimana kalau rakyat juga ikutan korupsi seperti tetanggaku itu. Apa coba hukumnya?” sahut sahabat Men Coblong. Men Coblong terdiam. Teringat kasus yang lain.

Dalam laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I-2019 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditemukan 14.965 permasalahan senilai Rp 10,35 triliun. Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara menjelaskan, temuan di atas meliputi 7.236 permasalahan kelemahan sistem pengendalian internal lembaga, 7.636 permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan senilai Rp 9,68 triliun, serta 93 permasalahan ketidakhematan, ketidakeflsienan, dan ketidakefektifan senilai Rp 676,81 miliar.

Kalau sudah begini siapa yang bisa mengurus tubuh perempuan? Negara? Para pejabat? Anggota DPR? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Tetas appeared first on BaleBengong.

Inilah Dia, Sepuluh Perempuan Legenda Kuliner Bali

Para legenda inilah yang turut membentuk tradisi kuliner Bali.

Merayakan Hari Kartini, 21 April 2019, mari bersua para perempuan pembawa popularitas menu khas Bali ini. Kenapa sepuluh? Karena energi merangkumnya baru sepuluh, silakan ditambahkan yoa.

  1. Dadong Songkeg: Tahu Pejeng

Jangan menunda untuk menemui Dadong Songkeg di Pejeng, Gianyar. Perempuan lanjut usia yang terlihat eksotis dengan rambut gimbal panjang sampai betisnya. Ia terlihat jarang mengenakan baju atas, hanya kamen dan sabuk kain melilit pinggangnya.

Tak mungkin tak tersihir penampilan dadong ini. Dengan tekun memotong-motong tahu yang baru saja membeku setelah dimasak di tungku rumahnya. Melayani pembeli yang datang, memasukkan tahu ke kresek dan menerima pembayaran. Tangkas.

Menemukan rumah sekaligus dapur produksi tahunya yang gurih dan padat ini bukan hal mudah, Tak ada papan nama atau nomor rumah. Hanya mengandalkan ingatan jika sudah pernah ke sana. Jika belum, jaraknya sekitar 10 menit dari Pasar Pejeng ke arah Utara. Rumahnya di kanan jalan pinggir jalan raya Pejeng.

Tahu sudah matang sekitar pukul 3 sore. Ada juga yang digoreng tapi baru siap sekitar pukul 5. Tak hanya citarasa tahunya yang pulen karena padatnya sari kedelai, namun perjumpaan dengan Dadong Songkeg membuat hati ini kembung. Tips penting jika tak sabar mengunyah tahu di dapurnya, jangan lupa bawa sambel.

The post Inilah Dia, Sepuluh Perempuan Legenda Kuliner Bali appeared first on BaleBengong.

Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas


Melalui laku kreatif, mereka melintasi batas di antara para perempuan.

Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali ikut serta dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01!. Mereka menjadi bagian dari 50 perempuan dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 21 – 25 Maret 2019.

Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona. Dalam acara itu Perempuan Lintas Batas (Peretas) mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan. Mereka juga menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.

Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh organisasi Peretas. Tujuannya sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara para pelaku kreatif. Penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, penyanyi, perupa, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Citra adalah perupa asal Indonesia. Namanya mulai dikenal dalam seni rupa Indonesia melalui karya-karyanya yang tidak hanya berupa lukisan, seni instalasi dan performance art dan telah dipamerkan di dalam dan di luar negeri.

Citra merupakan salah satu penerima penghargaan Gold Award Winner dalam kompetisi seni lukis UOB Painting of The Year 2017 kategori seniman profesional. Karya-karya Citra banyak mewakili isu-isu perempuan terutama mengenai identitas kultural, posisi perempuan dalam kultur patriarki dan realitas sosial dan budaya.

Novieta Tourisia adalah seniman serat, wastra dan pewarnaan alami. Novieta mendirikan Cinta Bumi Artisans, studio kriya yang proaktif menciptakan karya seni yang dapat dikenakan (wearable art) dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi berkelanjutan.

Karya-karya kolaboratifnya dihasilkan bersama pengrajin di Lembah Bada, Poso. Mereka mengangkat ranta atau kain kulit kayu. Bukan hanya dibuat sebatas menjadi aksesoris biasa, tapi juga menyuarakan kembali peran-peran perempuan adat dan kekuatan kosmologinya di masa pra-kolonial dan agama-agama baru masuk.

Beberapa karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Meet the Makers Indonesia, Beaten Bark of Asia Pasific, dan And the Beat Goes On di Weltkulturen Museum Jerman.

Trianingsih seniman multidisiplin yang juga menjadi founder Slab Indonesia, organisasi yang berfokus pada seni, sains dan teknologi. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Uma Seminyak, Outpost Canggu, dan Rumah Sanur.

Tria terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif seperti lokakarya, pameran dan talkshow. Selain pernah menjadi produser di Solo Radio dan Hardrock FM Bali, ia juga menjadi penulis lepas untuk Kelola Foundation. Tulisannya dapat dibaca di buku We Indonesians Rule dan Festival Fiksi Kompasiana. Tria tertarik dengan kerja kolektif perempuan dan kerjasama kreatif berbagai latar belakang akademisi dan seni.

Lilu merupakan seniman mural yang menyuarakan kepeduliannya terhadap anjing-anjing terlantar. Lilu juga menjadi penyelamat tunggal (solo rescuer) di Bali. Lilu tanpa pamrih menolong anjing-anjing terlantar, memberi makan, merawat dan memastikan bahwa anjing-anjing yang ia tolong mendapatkan kehidupan lebih baik. Lilu pernah berpartisipasi di pameran Micro Galleries, Trashstock, Mural Pasca Panen 2 dan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. [b]

The post Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas appeared first on BaleBengong.

Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki


Para perempuan muda ini mendobrak kondisi kultural nak mule keto.

Perjumpaan pertama dengan geng Futuwonder ini adalah sebuah sesi setengah hari untuk menulis dan mengarsipkan biografi seniman perempuan Bali ke Wikipedia. Para relawan dibekali beberapa artikel untuk dirangkum dalam beberapa paragraf. Nantinya itu menjadi pintu masuk mengembangkan artikel-artikel lanjutan.

“Sangat sedikit profil seniman perempuan yang tersedia dan bisa diakses publik,” urai Citra Sasmita.

Citra salah satu perintis Futuwonder bersama Seni Savitri, Ruth Onduko, dan lainnya.

Dalam sesi saat itu kami agak terburu-buru membuat konten karena sebagian waktu diisi belajar cara memasukkan dan aturannya dulu di Wikipedia. Namun, sesi itu tetap produktif dan mendorong kami untuk mengenal lebih jauh para seniman perempuan di Bali.

Setelah sesi itu, saya jadi sangat ingin bersua atau berkunjung ke salah satu seniman. Mengenal karya, gagasannya, dan suka duka mereka.

Ketika itu saya kebagian merangkum profil Mangku Muriati. Sosok perempuan pelukis tradisional khas Wayang Kamasan di Klungkung yang membuat lukisan mengejutkan berjudul Wanita Karir.

Terlihat sosok perempuan sedang mengajari laki-laki, menunjukkan pekerjaannya sebagai guru. Ada juga perempuan dalam figur wayang mengenakan pakaian resmi jas menenteng tas. Di tengah keseragaman lukisan Kamasan, pengembangan ide untuk merekam kehidupan sosial ke lukisan tradisi sangat menyegarkan dahaga.

Beberapa bulan kemudian, Futuwonder membuat pameran bertajuk Efek Samping: Masa Subur. Judul unik dan mendorong pertanyaan, tebak-tebakan, dan rasa penasaran. Sebelumnya ada serial poster publikasi di medsos dari akun @Futuwonder yang memberi tahu ada undangan (open call) bagi seniman perempuan dan akan diseleksi untuk pameran Efek Samping pada 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali tetapi juga peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Mereka turut mengirimkan karya dan ide terbaik dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Saya tidak menghadiri pembukaan pameran, tetapi untungnya bisa hadir saat diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman Bali mukim di Inggris) pada 27 Oktober 2018.

Belasan orang, laki-laki dan perempuan duduk lesehan. Salah satunya mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden SBY, Marty Natalegawa bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembicara di perhelatan Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), dan pameran ini jadi salah satu mata acara yang didukung.

Ketika tiba di lokasi pameran, mata langsung terarah pada rangkaian plastik bening yang disusun tergantung. Isinya kutipan-kutipan isi Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat pengertian kata “perempuan” dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebuah politik bahasa yang perlu digugat.

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Apakah anak-anak dibiarkan mengutip arti kata perempuan ini dari KBBI, kitab bahasa yang menjadi pedoman formal. Ada beberapa versi KBBI yang rutin diperbaharui, namun uraian kata ini sama saja.

Gerakan Dialektika

Ingatan pun terbang ke dua sosok pemikir dan perangkum pengetahuan. Paulo Freire protes atas “kebudayaan bisu” yang menimpa lingkungannya kala itu. Ini adalah kondisi kultural masyarakat yang memiliki ciri takut mengungkapkan pikiran dan perasaanya sendiri. Ada lagi Socrates yang senang mendengar gagasan orang lain, memertentangkan, kemudian mengeksplorasi menjadi sebuah pemikiran baru.

Futuwonder kemudian adalah wujud gerakan dialektika, untuk mempertanyakan, melawan, dan memberikan pengetahuan untuk keluar dari kondisi kultural “nak mule keto.” Ungkapan dalam basa Bali yang bermakna biarkan saja, sudah dari sononya.

Karya lain dalam Efek Samping ini sangat beragam, mengeksplorasi keramik, kain, game board, dan lainnya. Saya akan bernapas dulu sebelum menyelesaikan merangkum karya mereka. 🙂

Saras Dewi, dosen Universitas Indonesia yang juga menulis puisi dan menyanyi mengingat sosok Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang mukim di Bali. Menurut penulis buku Island of Bali pada 1938 ini, (pada saat itu) semua orang Bali adalah seniman. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari bak seniman, dengan menari, megambel, sembahyang, membuat ragam sarana upakara, dan lainnya.

“Dia memiliki kepekaan pada situsi estetik,” tutur Saras memulai bahasan soal seni. Namun secara sosial kegiatan luar domestik didominasi laki-laki, situasinya menjadi patriarkhi.

Sinta Tantra yang mukim 30 tahun di Inggris merasakan kehidupan berkesenian yang multikultural. Ini berpengaruh pada minatnya pada kebebasan eksplorasi. Tidak ada yang membatasi bentuk seni menurut gender. Ia menyukai street art, membuat mural di gedung dan jalanan.

“Bali sangat turisme, lebih kontemporer di Jogja dan Jakarta,” sebut perempuan muda ini.

Futuwonder memberi ruang untuk jeda sekaligus jalur marathon. Mulai mengenal isunya jika belum familiar dari evolusi kata perempuan dari KBBI terbitan 80an sampai 90an yang sangat diskriminatif. Kemudian mendorong penikmat Efek Samping: Masa Subur untuk sprint, lari kencang atau maraton. Pembelajaran harus dipercepat karena terlalu banyak yang harus dilakukan, untuk bersuara.

“Masa Subur dianggap tanggungjawab rahim. Menerjemahkan kesuburan di luar pengertian tradisional. Kesuburan ingin berkarya, saya lihat tak hanya jadi objek tapi pengetahuan ketimpangan gender masih ada di Bali,” Citra Sasmita memaparkan pemikirannya. Ini adalah sebuah aktualisasi gagasan jadi karya seni.

Karja, pemilik galeri yang juga melukis masih merasakan stereotip dalam karya seni.

Menurutnya sebagai seniman ia mengeksekusi inspirasi. Tapi kemudian ada pengkotak-kotakan, cap tradisi atau turisme?

Futuwonder dibentuk pada awal tahun 2018 oleh empat perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Masa Subur adalah awalnya diajukan untuk salah satu hibah seni, tapi sayangnya tidak lolos. Meskipun gagal dapat dana hibah, tetap dilaksanakan secara swadaya dan swadana.

Tantangan yang masih dirasakan adalah sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya yang tidak mengikuti arus utama estetika dalam ruang yang representatif. [b]

The post Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.