Tag Archives: perempuan

Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini

MEN COBLONG memajukan kursinya. Wajahnya tepat berada di depan sahabatnya yang sejak pagi uring-uringan.

Tidak jelas ke mana arah pembicaraannya. Kelihatan sekali perempuan yang usianya sebaya dengan Men Coblong itu dilumuri bau stres akut. Terasa sekali hawa kesedihan dan luka hati terlacak mengguyur seluruh tubuh sahabat Men Coblong. Di usia yang tidak lagi muda apakah yang sesungguhnya dicari seorang perempuan di dalam rumah perkawinannya?

Perkawinan itu bagi Men Coblong adalah tumpukan tangga-tangga yang harus dilewati oleh pasangan. Setiap tangga memiliki kisah-kisahnya sendiri. Ada urutan tangga yang terasa nyaman untuk dikenang dan ditimbang. Ada urutan tangga yang selalu ingin dijebol dan dirusak karena memiliki kesan dan justru membuat hidup yang rumit jadi bertambah rumit.

Tangga yang mengandung beragam masalah-masalah tidak enak dan “menyakitkan” itu tentu tidak bisa ditinggal, tidak bisa dipotong. Juga tidak bisa dihilangkan. Kalau dihilangkan tentu ornamen rumah jadi terlihat “aneh”.

“Aku sudah membesarkan anak-anak dengan seluruh kemampuan yang kumiliki,” kata sahabat Men Coblong terdengar getir. Sebentar-sebentar perempuan itu menark napas. Matanya yang bulat terlihat cekung dan penuh warna merah.

Men Coblong melirik kaca di sampingnya. Terpantul wajahnya yang terlihat agak berubah. Tubuh dan wajah dalam pantulan kaca di samping kirinya terlihat berbeda. Tubuh di pantulan kaca itu terlihat lebih besar dan tambun.

Men Coblong memonyongkan mulutnya. Di usianya yang setengah abad, dia merasa makin tertimbun lemak. Berat tubuhnya 52 kg, 10 kg lebih berat dari biasanya. Tetapi Men Coblong kok merasa sehat-sehat saja. Di usianya yang setengah abad ini, dia merasa tidak lagi memiliki banyak target di kepalanya. Target-target yang bertumpuk dan selalu menghantui setiap langkahnya menuju tangga-tangga berikutnya.

Sejak muda Men Coblong dikenal teman-temannya sebagai perempuan ambisius.

“Masa muda itu harus dinikmati. Jika kau tua, kau tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas,” itu kata-kata teman-teman Men Coblong ketika masih berumur 20-an. Bagi mereka hidup itu harus diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Puaskan hidup dengan beragam kesenangan selagi tubuh masih bisa diajak kompromi.

“Benarkah hidupku terasa aneh bagi orang-orang di sekitarku?” gumam Men Coblong dingin pada diri sendiri.

Men Coblong terus memainkan bibirnya. Secangkir cokelat panas belum tersentuh. Men Coblong masih asyik dengan pantulan wajahnya di dinding kaca yang agak gelap. “Ah, aku kok merasa baik-baik saja, aku juga sudah mengisi masa mudanya dengan hal-hal gila.”

Ada arogansi yang berlebihan juga, terutama jika bersama para sahabatnya semasa kuliah dulu. Men Coblong juga merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang direkayasa.

“Ah, kamu itu sewaktu mahasiswa sok angkuh. Kamu itu lebih terlihat rileks justru setelah usia saat ini. Kulihat tubuhmu juga lebih berisi. Sorot matamu juga lebih ramah dan bersahabat,” kata teman yang lain.

Sorot mata bersahabat?

“Iya, dulu matamu penuh perhitungan,” jawab sahabat yang lain.

Mata penuh perhitungan? Ada-ada saja istilah para perempuan menilai perempuan-perempuan lain.

“Jangan menganggap negatif para perempuan? Tanpa perempuan dunia ini ambruk. Siapa yang akan mengurus anak? Siapa yang memasak? Siapa yang bisa membuat rumah bersih dan nyaman? Siapa yang mengatur kebun? Mengantar jemput anak? Memilihkan mereka sekolah itu juga bagian dari tanggungjawab kita. Makanya jadi perempuan itu hebat,” suatu hari Men Coblong mendengar seorang teman berkata sedikit ketus dengannya ketika Men Coblong berada di ruang tunggu menunggu anak semata wayangnya keluar dari kelas.

“Lelaki itu bisanya apa, sih?” jawab ibu teman anak Men Coblong itu getir.

Men Coblong menarik napas. Perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang berderet menjemput anaknya di sebuah sekolah di bilangan jalan Hayam Wuruk itu terus berkata-kata dan yang satu memperkuat yang lain. Bahwa tanpa seorang perempuan di Bumi ini, mungkin matahari tidak akan pernah terbit dari Timur.

Sebagai perempuan pada saat itu Men Coblong memang merasa bahwa perkawinannya dibanding para ibu-ibu itu baru saja beranjak hitungan satu tangan. Belum memahami beragam “cuaca” buruk dan “cuaca” baik. Juga belum paham “arah angin”. Men Coblong baru menikmati saat-sat memiliki seorang anak yang terasa ganjil dan aneh. Seorang manusia yang selalu memerintah dirinya. Terasa lucu peran “jadi ibu” itu jika dihayati.

Sekarang di usia setengah abad, Men Coblong harus berhadapan kembali dengan seorang temannya, perempuan 60 tahun yang merasa “dibuang” oleh lima anak perempuannya. Lima anak perempuan yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Perempuan itu menanggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar demi membesarkan lima anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar dan memilih bekerja di rumah dengan membuat usaha kuliner. Syukurnya usahanya maju, lima anak perempuannya bisa sekolah di luar Bali di universitas-universitas ternama di dalam negeri.

Kemana lelakinya? Menikah lagi karena teman Men Coblong itu tidak memiliki anak lelaki. Menyedihkan juga, sih. Dan saat ini Men Coblong berhadapan dengan perempuan “hebat” itu, wajahnya kuyu dan terlihat tidak bahagia. Dia merasa ditinggalkan oleh lima anak perempuannya yang memilih hidup terpisah satu sama lain.

Men Coblong terdiam. Tidak menemukan solusi. Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit juga. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga “kekasih”.

Masalahnya, kok di tengah kerumitan-kerumitan menjadi ibu dan beragam masalah perempuan lainnya. Masih ada saja perempuan yang “tega” mengambil kebahagiaan perempuan lainnya. Perempuan tega melukai hati perempuan. Kok masih ada saja yang mau jadi istri kesekian. Di mana sesungguhnya arti perjuangan Kartini bagi mereka? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini appeared first on BaleBengong.

Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan

Ayu dan barisan massa aksi Women’s March Bali. Foto Iin Valentine

Minggu, 4 Maret 2018  lalu, menjadi hari yang tidak biasa bagi saya.

Ya, Minggu, bangun pagi. Jarang sekali terjadi. Pukul 07.10 WITA, saya sampai di area parkir timur Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar untuk mengikuti aksi Women’s March. Ini adalah aksi pertama yang saya ikuti setelah terakhir, sekitar tahun 2016 lalu ikut aksi Bali Tolak Reklamasi di Desa Kelan.

Namun, di tempat saya berdiri, tak ada tanda-tanda yang merujuk pada aksi tersebut. Saat itu saya jadi ragu. Bener ngga nih acaranya hari ini?

Masih berbekal sedikit rasa ngantuk, saya merogoh tas yang isinya amburadul untuk mengambil ponsel. Saya mau memastikan kembali pengumuman acaranya, apakah sudah berada di tempat dan waktu yang benar. Poster digital yang saya simpan di ponsel mengatakan bahwa titik kumpulnya memang benar, di area parkir timur Lapangan Renon. Jamnya pun benar (walaupun ngaret 10 menit).

Tak sampai 10 menit berjalan, saya lihat kerumunan orang dengan mengenakan pakaian bernuansa hijau toska dan ungu, sesuai dress code acara itu, sedang berkumpul. Di kerumunan itu, seseorang berpakaian nyentrik telah mencuri perhatian saya. Ia tampil sangat percaya diri dengan balutan kemeja ungu dengan kamen (kain) berwarna pink yang dililitkan khas lelaki Bali, lengkap dengan udeng (hiasan kepala) berwarna senada.

Tak ketinggalan, sepasang anting cantik menghiasi kedua telinganya. Membuat penampilannya sangat eye catching. Ia adalah Ayu Bagaoesoekawatie, salah satu koordinator lapangan aksi Women’s March Bali tersebut.

Sebelum aksi dimulai, Ayu menjelaskan tata tertib kepada para peserta. Menurut Ayu, ini adalah aksi yang tidak sembarangan. Ketertiban dan keamanan tetap harus dijaga, mengingat bahwa aksi itu berlangsung di ruang publik dengan aktivitas yang ramai.

Mereka sudah siap dengan membawa poster yang bertuliskan berbagai pernyataan sikap seputar isu gender, kekerasan, hingga penolakan terhadap RKUHP.

“Perempuan bersatu!”

“Tak bisa dikalahkan!”

“Perempuan Bergerak!”

“Tak bisa dihentikan!”

Begitulah seruan yel-yel yang dikomando oleh Ayu penanda aksi Women’s March telah dimulai. Para peserta menirukan yel-yel tersebut dengan penuh semangat sambil berjalan mengelilingi lapangan. Berbagai kalangan ikut ambil bagian menyuarakan pernyataan sikap. Perwakilan LBH APIK Bali, KISARA Bali, mahasiswa, pelajar, dan kalangan umum membaur dalam barisan.

Massa membawa poster yang bertuliskan penyataan sikap dan tuntutan. Foto Iin Valentine.

Seperti yang tertulis di poster, aksi ini menyoroti isu seputar gender, bagaimana perempuaan, anak, dan kelompok rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan. Baik itu kekerasan fisik psikis, maupun  verbal. Selain menyuarakan pernyataan sikap, ajakan untuk saling menghormati sesama manusia pun ikut disuarakan.

Aksi yang diikuti mayoritas oleh perempuan itu diadakan dalam rangka memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Women’s March sendiri berawal dari perlawanan kaum perempuan dan kelompok minoritas di Amerika Serikat terhadap Presiden Trump yang sering merendahkan hak-hak mereka.

“Tidak ada lagi suit-suitan di jalan! Tidak ada lagi panggilan sayang di jalanan! It’s not gentlemen! Kami cukup dihormati. Hormati sebagai manusia. Berikan ruang hidup yang sama seperti manusia yang lain!” teriak Ayu saat memimpin barisan aksi.

“Melawan penindasan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

“Perempuan bergerak, melawan penindasan, yang mau perubahan teriak lawan!”

“Lawan!”

Yel-yel terdengar dinyanyikan beberapa kali. Mencuri perhatian masyarakat yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sekadar mendokumentasikan, bertanya-tanya itu aksi untuk apa, hingga ada beberapa yang memutuskan untuk ikut bergabung dalam aksi.

Sebanyak 8 tuntutan diajukan dalam aksi. Foto Iin Valentine.

Selanjutnya, Eka Purni Astiti, perwakilan KISARA Bali, menegaskan bahwa isu kekerasan berbasis gender dan kriminalisasi upaya-upaya peningkatan kesehatan reproduksi dan juga seksual menjadi tantangan ke depannya. Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan pada Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2016, terdapat lebih dari 200.000 kasus kekerasan pada perempuan.

“Ini hanya menjadi sedikit bagian dari apa yang kami perjuangkan. Dengan berjalan kaki di aksi ini,” jelas Eka.

Menurut Eka, untuk dapat mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender, anak-anak muda dan seluruh masyarakat harus mengetahui terlebih dahulu seperti apa jenis-jenis kekerasan berbasis gender. “Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis dan seksual,” lanjutnya.

Setelah mengelilingi lapangan sebanyak dua kali, aksi ini ditutup di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja dengan pembacaan puisi dan orasi dari beberapa peserta aksi. [b]

The post Women’s March Bali Tuntut Hak Perempuan dan Kelompok Rentan appeared first on BaleBengong.

Arti Bungan Natah Dalam Bahasa Bali

Bungan Natah dalam bahasa Bali memiliki arti yaitu anak perempuan kesayangan atau kebanggaan dalam keluarga. Bunga artinya bunga atau kembang, Natah artinya halaman atau pekarangan rumah. Kata bunga ditambah akhiran an menyatakan milik, jadi secara harafiah artinya bunga atau kembang di halaman.

Jadi ungkapan “bungan natah” dalam bahasa Bali memiliki makna atau arti anak perempuan kesayangan atau kebanggaan dalam sebuah keluarga. Contohnya seperti kalimat “Niki bungan ngatah tiange” artinya “ini anak gadis kesayangan saya” atau “anak gadis kesayangan keluarga kami”.

Demikianlah penjelasan arti bungan natah dalam bahasa Bali, semoga bisa memberikan gambaran. Jika ada yang kurang tepat, silahkan dikomentari.

Baca Juga:

Lebih Dari 10% Remaja Dunia Adalah Perokok

Sebuah studi global terbaru menyimpulkan bahwa lebih dari 10% penduduk dunia yang berusia antara 13 sampai 15 tahun adalah perokok.

Sebagaimana kita ketahui bersama, rokok tembakau menjadi penyebab utama gangguan kesehatan serius yang dialami penduduk dunia. Setiap tahun, sekitar 6 juta penduduk dunia harus kehilangan nyawa akibat dari penyakit serius yang berhubungan dengan rokok tembakau. Sebagian besar perokok memulai kebiasaan merokok di usia remaja.

Studi kali ini, peneliti mengambil data survei remaja dari tahun 2012 sampai 2015 di 61 negara. Hasilnya, setengah dari negara negara tersebut memiliki angka perokok remaja laki laki sebesar 15% sedangkan perokok remaja perempuan sebesar 8%.

Menurut kepala peneliti, Rene Arrazola dari CDC, merokok telah terbukti sangat berbahaya bagi seluruh organ tubuh dan kebiasaan merokok saat dewasa sudah dimulai dari usia remaja.

Mereka yang memulai kebiasaan merokok di usia muda memiliki angka ketergantungan terhadap nikotine yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang mulai merokok di usia dewasa. Sehingga upaya untuk mencegah kebiasaan merokok di usia remaja menjadi sangat penting untuk mengurangi angka kematian yang disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan rokok.

Negara dengan angka perokok remaja yang paling kecil adalah Sri Lanka (1,7%) sedangkan negara dengan angka perokok remaja yang paling tinggi adalah Timor Leste (35%).

Berdasarkan jenis kelamin, negara dengan angka perokok remaja laki laki terkecil adalah Tajikistan (2,9%), sedangkan negara dengan angka perokok remaja laki laki tertinggi adalah Timor Leste (61,4%). Sedangkan untuk perokok perempuan, negara dengan angka perokok perempuan terendah adalah Tajikistan (1,6%) sedangkan negara dengan angka perokok perempuan tertinggi adalah Bulgaria (29%).

Secara umum, setengah dari perokok remaja yang disurvei mengatakan mereka ingin berhenti merokok. Keinginan berhenti merokok paling rendah terjadi di Uruguay (32%) sedangkan keinginan berhenti merokok yang paling tinggi di Filipina (90%).

Kelemahan dari studi ini adalah hanya berdasarkan pengakuan dari remaja yang bersangkutan sehingga tidak menggambarkan perilaku remaja itu secara nyata. Studi juga menyasar remaja yang bersekolah sehingga tidak menggambarkan secara utuh kebiasaan merokok di negara yang bersangkutan.

Nonton Bersama Bertajuk “Bukan Perempuan Biasa”

Pasir Berbisik salah satu film yang diputar di Bentara Budaya Bali bulan ini. Foto Internet.

Bulan ini, Sinema Bentara menghadirkan film untuk memaknai Hari Kartini.

Film-film terpilih bertajuk “Bukan Perempuan Biasa” akan diputar selama dua hari pada Jumat dan Sabtu ini di Bentara Buda Bali Jl Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, By Pass Ketewel, Gianyar.

Program ini didukung Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, UI Film Festival, serta Udayana Science Club.

Sepanjang sejarah perfilman, tidak jarang kehadiran sosok perempuan hanya dianggap sekadar pemanis visual. Namun patut pula dicatat ada sejumlah sutradara justru menjadikan perempuan sebagai sosok sentral dengan karakteristik mendalam serta memiliki ‘ketangguhan’ yang melampaui peran lelaki.

Tajuk “Bukan Perempuan Biasa” berangkat dari judul sinetron yang kali pertama dilakoni bintang sohor Christine Hakim, memerankan sosok perempuan ulet dan gigih serta mandiri meski ditinggal suaminya. Bukan Perempuan Biasa (1997) disutradarai oleh Jajang C. Noer dan skenarionya digarap oleh Arifin C. Noer.

Selaras tema, kali ini ditampilkan sejumlah film lintas bangsa peraih berbagai penghargaan nasional dan internasional yang merefleksikan ketangguhan sosok perempuan di tengah kemelut hidup yang serba tidak mudah.

Tayang film kali ini pun terbilang istimewa, sebab salah satu film yang diputar pada program ini yakni “Pasir Berbisik (2001)” yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim. Pada waktu hampir bersamaan, film yang juga dibintangi keduanya, berjudul “Kartini” baru saja dirilis di bioskop.

Selain itu, ditayangkan pula film-film lain di antaranya: Harti(Indonesia, 2016, Ridho Nvgroho), Marguerite (Prancis, 2015, Sutradara: Xavier Giannoli); Four Minutes (Jerman, 2006, Sutradara: Chris Kraus); dan La Ciociara (Italia, 1960, Sutradara: Vittorio De Sica).

Koordinator pemutaran film, Siswan Dewi, mengungkapkan bahwa suasan menonton film dibuat guyub, hangat, dan akrab dengan konsep Misbar atau nonton ala layar tancap. Turut memeriahkan pemutaran film, tampil juga kelompok anak muda kreatif seperti Teater Biner yang akan membawakan musikalisasi puisi, Bryan Petreli, serta Aya & Laras BTMDG.

Sebagai bagian dari upaya transfer of knowledge bagi publik muda, program ini mengagendakan pula sebuah diskusi sinema bersama dosen jurusan Film dan Televisi ISI Denpasar, Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn.

Pada hari pertama tayang Marguerite, Harti dan Four Minutes. Bersetting di Paris pada tahun 1920-an, Marguerite Dumont merupakan seorang wanita paruh baya kaya raya yang memiliki krisis eksistensi diri.

Ia pecinta musik dan opea. Ia gemar bernyanyi untuk teman-temannya meskipun ia bukan penyanyi yang baik. Suami dan teman-temanya selalu memuji dan menjaga mimpinya. Masalah mulai muncul saat ia memutuskan untuk tampil di panggung yang sesungguhnya.

Film ini meraih penghargaan Nazareno Taddei Award pada Venice Film Festival 2015, nominasi Golden Lion pada Venice Film Festival 2015; Aktris Terbaik, Kostum Terbaik, Desain Produksi Terbaik, Musik Terbaik pada César Awards, Prancis 2016; Pemain Wanita Terbaik pada Lumiere Awards – Prancis 2016.

Film karya Ridho Nvgroho, Harti, juga turut hadir dalam program ini. Harti merupakan janda beranak satu. Suaminya telah meninggal dan mewariskan sebidang sawah. Harti berniat melanjutkan menggarap sawah tersebut guna menghidupinya beserta sang anak.

Namunm suatu saat Harti menemukan sebuah benda asing di tengah sawahnya. Sebuah benda yang terlihat remeh namun sebenarnya memiliki arti lebih. Film ini terpilih menjadi finalis pada UI Film Festival.

Sementara itu, tak kalah menarik yakni film Four Minutes dari Jerman di mana Traude Krueger bekerja sebagai pengajar piano di penjara khusus wanita. Sembari menyeleksi murid barunya, ia bertemu dengan Jenny Von Loeben. Ketika Traude memberitahu bahwa Jenny tak bisa mengikuti kelas musik karena tangannnya yang kasar dan sikapnya yang tak kooperatif, Jenny membuktikan kemampuannya.

Film ini meraih penghargaan Aktris Terbaik, Aktris Pendatang Baru Terbaik, Skenario Terbaik, dan Sutradara Terbaik pada Bavarian Film Awards 2006, Film Terbaik pada Shanghai International Film Festival 2006 dan Reykjavik International Film Festival 2006; Penampilan Terbaik untuk Pemeran Wanita pada German Film Awards 2007.

Sedangkan pada hari kedua (22/4) ditayangkan Pasir Berbisik dan La Ciociaria. Film Pasir Berbisik merupakan film Indonesia yang mengisahkan kehidupan gadis bernama Daya (Dian Sastrowardoyo) tinggal bersama ibunya, Berlian (Christine Hakim) di daerah pesisir pantai berpasir hitam di sebuah kawasan terasing.

Ayah Daya, Agus, pergi menghilang entah kemana saat Daya masih kecil. Daya yang kesepian, sering membayangkan sosok ayahnya saat masih kecil dengan wayang-wayang yang biasa dimainkan ayahnya.

Dalam keanehannya, Daya tumbuh sebagai gadis yang introvert, lugu dan polos memiliki kebiasaan yang aneh yaitu menempelkan telinganya di atas pasir, seolah pasir itu berbisik kepadanya.

Film ini meraih penghargaan Best Cinematography Award, Best Sound Award dan Jury’s Special Award For Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacific 2001; Festival Film Asiatique Deauville 2002 untuk Artis Wanita Terbaik; Festival Film Antarabangsa Singapura ke-15 untuk Artis Wanita Terbaik; Festival Film Indonesia 2004 meraih nominasi di 8 kategori: Film Terbaik, Aktris Terbaik (Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim), Aktor Pendukung Terbaik (Didi Petet dan Slamet Rahardjo), Aktris Pendukung Terbaik (Dessy Fitri), Sinematografi Terbaik (Yadi Sugandi), Tata Artistik Terbaik (Frans X.R. Paat), Tata Musik Terbaik (Thoersi Agreswara), dan Tata Suara Terbaik (Adimolana Machmud dan Hartanto).

Selanjutnya, La Ciociaria atau Two Women, berlatar di Italia, mengisahkan tentang cerita seorang wanita yang berusaha untuk melindungi putrinya dari kekejaman perang dunia kedua. La Ciociara memenangkan Academy Award untuk Aktris Terbaik untuk Sophia Loren.

Peristiwa tersebut merujukan pertama kalinya sebuah penghargaan Oscar kategori Aktris Terbaik diberikan untuk film berbahasa asing. Loren juga memenangkan penghargaan untuk Aktris Terbaik di Festival Film Cannes 1961 dan meraih 22 penghargaan internasional lainnya lewat film Two Women. [b]

The post Nonton Bersama Bertajuk “Bukan Perempuan Biasa” appeared first on BaleBengong.