Tag Archives: perempuan

Inilah Dia, Sepuluh Perempuan Legenda Kuliner Bali

Para legenda inilah yang turut membentuk tradisi kuliner Bali.

Merayakan Hari Kartini, 21 April 2019, mari bersua para perempuan pembawa popularitas menu khas Bali ini. Kenapa sepuluh? Karena energi merangkumnya baru sepuluh, silakan ditambahkan yoa.

  1. Dadong Songkeg: Tahu Pejeng

Jangan menunda untuk menemui Dadong Songkeg di Pejeng, Gianyar. Perempuan lanjut usia yang terlihat eksotis dengan rambut gimbal panjang sampai betisnya. Ia terlihat jarang mengenakan baju atas, hanya kamen dan sabuk kain melilit pinggangnya.

Tak mungkin tak tersihir penampilan dadong ini. Dengan tekun memotong-motong tahu yang baru saja membeku setelah dimasak di tungku rumahnya. Melayani pembeli yang datang, memasukkan tahu ke kresek dan menerima pembayaran. Tangkas.

Menemukan rumah sekaligus dapur produksi tahunya yang gurih dan padat ini bukan hal mudah, Tak ada papan nama atau nomor rumah. Hanya mengandalkan ingatan jika sudah pernah ke sana. Jika belum, jaraknya sekitar 10 menit dari Pasar Pejeng ke arah Utara. Rumahnya di kanan jalan pinggir jalan raya Pejeng.

Tahu sudah matang sekitar pukul 3 sore. Ada juga yang digoreng tapi baru siap sekitar pukul 5. Tak hanya citarasa tahunya yang pulen karena padatnya sari kedelai, namun perjumpaan dengan Dadong Songkeg membuat hati ini kembung. Tips penting jika tak sabar mengunyah tahu di dapurnya, jangan lupa bawa sambel.

The post Inilah Dia, Sepuluh Perempuan Legenda Kuliner Bali appeared first on BaleBengong.

Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas


Melalui laku kreatif, mereka melintasi batas di antara para perempuan.

Empat perempuan pekerja seni berdomisili di Bali ikut serta dalam acara Peretas Berkumpul Pakaroso 01!. Mereka menjadi bagian dari 50 perempuan dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Institut Mosintuwu, Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 21 – 25 Maret 2019.

Pakaroso adalah ajakan untuk saling menguatkan dalam Bahasa Pamona. Dalam acara itu Perempuan Lintas Batas (Peretas) mengajak para perempuan menengok narasi-narasi yang telah dilahirkan dari pengalaman perempuan. Mereka juga menentukan strategi kerja seni budaya dalam jaringan perempuan lintas batas yang saling menguatkan kerja perempuan secara kolektif.

Acara yang dilaksanakan di sekolah perempuan penyintas konflik Poso ini diinisiasi oleh organisasi Peretas. Tujuannya sebagai upaya mengembangkan, membuka adanya diskursus, ruang berbagi dan menemukan potensi kolaborasi antara para pelaku kreatif. Penulis, aktor, perupa, penari, pemusik, penyanyi, perupa, peramu masakan, cendekia, kurator, kritikus atau pelaku kreatif lain yang bersifat memperkaya dan memajukan ekspresi kebudayaan perempuan.

Empat perempuan pekerja seni dari Bali yang lolos seleksi sebagai peserta Pakaroso 01! adalah Citra, Novi, Tria dan Lilu. Kami akan berbagi pengalaman Peretas di Littletalks, Jl Campuhan, Sayan, Ubud, Bali pada Sabtu, 27 April 2019, pukul 17.00 WITA. Presentasi dan diskusi akan dipandu oleh Ruth Onduko dari Futuwonder.

Citra adalah perupa asal Indonesia. Namanya mulai dikenal dalam seni rupa Indonesia melalui karya-karyanya yang tidak hanya berupa lukisan, seni instalasi dan performance art dan telah dipamerkan di dalam dan di luar negeri.

Citra merupakan salah satu penerima penghargaan Gold Award Winner dalam kompetisi seni lukis UOB Painting of The Year 2017 kategori seniman profesional. Karya-karya Citra banyak mewakili isu-isu perempuan terutama mengenai identitas kultural, posisi perempuan dalam kultur patriarki dan realitas sosial dan budaya.

Novieta Tourisia adalah seniman serat, wastra dan pewarnaan alami. Novieta mendirikan Cinta Bumi Artisans, studio kriya yang proaktif menciptakan karya seni yang dapat dikenakan (wearable art) dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi berkelanjutan.

Karya-karya kolaboratifnya dihasilkan bersama pengrajin di Lembah Bada, Poso. Mereka mengangkat ranta atau kain kulit kayu. Bukan hanya dibuat sebatas menjadi aksesoris biasa, tapi juga menyuarakan kembali peran-peran perempuan adat dan kekuatan kosmologinya di masa pra-kolonial dan agama-agama baru masuk.

Beberapa karyanya telah dipamerkan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Meet the Makers Indonesia, Beaten Bark of Asia Pasific, dan And the Beat Goes On di Weltkulturen Museum Jerman.

Trianingsih seniman multidisiplin yang juga menjadi founder Slab Indonesia, organisasi yang berfokus pada seni, sains dan teknologi. Beberapa karyanya telah dipamerkan di Uma Seminyak, Outpost Canggu, dan Rumah Sanur.

Tria terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif seperti lokakarya, pameran dan talkshow. Selain pernah menjadi produser di Solo Radio dan Hardrock FM Bali, ia juga menjadi penulis lepas untuk Kelola Foundation. Tulisannya dapat dibaca di buku We Indonesians Rule dan Festival Fiksi Kompasiana. Tria tertarik dengan kerja kolektif perempuan dan kerjasama kreatif berbagai latar belakang akademisi dan seni.

Lilu merupakan seniman mural yang menyuarakan kepeduliannya terhadap anjing-anjing terlantar. Lilu juga menjadi penyelamat tunggal (solo rescuer) di Bali. Lilu tanpa pamrih menolong anjing-anjing terlantar, memberi makan, merawat dan memastikan bahwa anjing-anjing yang ia tolong mendapatkan kehidupan lebih baik. Lilu pernah berpartisipasi di pameran Micro Galleries, Trashstock, Mural Pasca Panen 2 dan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. [b]

The post Berkumpulnya Para Perempuan yang Melintas Batas appeared first on BaleBengong.

Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki


Para perempuan muda ini mendobrak kondisi kultural nak mule keto.

Perjumpaan pertama dengan geng Futuwonder ini adalah sebuah sesi setengah hari untuk menulis dan mengarsipkan biografi seniman perempuan Bali ke Wikipedia. Para relawan dibekali beberapa artikel untuk dirangkum dalam beberapa paragraf. Nantinya itu menjadi pintu masuk mengembangkan artikel-artikel lanjutan.

“Sangat sedikit profil seniman perempuan yang tersedia dan bisa diakses publik,” urai Citra Sasmita.

Citra salah satu perintis Futuwonder bersama Seni Savitri, Ruth Onduko, dan lainnya.

Dalam sesi saat itu kami agak terburu-buru membuat konten karena sebagian waktu diisi belajar cara memasukkan dan aturannya dulu di Wikipedia. Namun, sesi itu tetap produktif dan mendorong kami untuk mengenal lebih jauh para seniman perempuan di Bali.

Setelah sesi itu, saya jadi sangat ingin bersua atau berkunjung ke salah satu seniman. Mengenal karya, gagasannya, dan suka duka mereka.

Ketika itu saya kebagian merangkum profil Mangku Muriati. Sosok perempuan pelukis tradisional khas Wayang Kamasan di Klungkung yang membuat lukisan mengejutkan berjudul Wanita Karir.

Terlihat sosok perempuan sedang mengajari laki-laki, menunjukkan pekerjaannya sebagai guru. Ada juga perempuan dalam figur wayang mengenakan pakaian resmi jas menenteng tas. Di tengah keseragaman lukisan Kamasan, pengembangan ide untuk merekam kehidupan sosial ke lukisan tradisi sangat menyegarkan dahaga.

Beberapa bulan kemudian, Futuwonder membuat pameran bertajuk Efek Samping: Masa Subur. Judul unik dan mendorong pertanyaan, tebak-tebakan, dan rasa penasaran. Sebelumnya ada serial poster publikasi di medsos dari akun @Futuwonder yang memberi tahu ada undangan (open call) bagi seniman perempuan dan akan diseleksi untuk pameran Efek Samping pada 20 Oktober hingga 9 November 2018, di Karja Art Space, Ubud.

Tercatat lebih dari 100 aplikasi dari berbagai kota dan daerah di Indonesia. Tidak hanya peserta dari Jawa dan Bali tetapi juga peserta dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Mereka turut mengirimkan karya dan ide terbaik dalam mengangkat permasalahan keperempuanan, pengalaman sosial dan kultural serta tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan.

Seniman yang akhirnya terpilih dari proses seleksi adalah Ika Yunita Soegoro, Ni Luh Listya Wahyuni, Sekar Puti, Santy Wai Zakaria, Siti Nur Qomariah, Patricia Paramita, Nuri F.Y, Tactic Plastic Project, Findy Tia Anggraini, A.Y Sekar F, Christine Mandasari Dwijayanti, Venty Vergianti, Irene Febry, Osyadha Ramadhana, Evy Yonathan, Caron Toshiko Monica, Khairani Larasati Imania, Luna Dian Setya, Dea Widya, Sumie Isashi, dan Salima Hakim. Sedangkan seniman undangan yang dipilih untuk merepson tema Masa Subur adalah Mangku Muriati, Ika Vantiani, Andita Purnama, dan Citra Sasmita.

Saya tidak menghadiri pembukaan pameran, tetapi untungnya bisa hadir saat diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” menghadirkan Saras Dewi (dosen filsafat) dan Sinta Tantra (seniman Bali mukim di Inggris) pada 27 Oktober 2018.

Belasan orang, laki-laki dan perempuan duduk lesehan. Salah satunya mantan Menteri Luar Negeri di era Presiden SBY, Marty Natalegawa bersama keluarganya. Ia menjadi salah satu pembicara di perhelatan Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), dan pameran ini jadi salah satu mata acara yang didukung.

Ketika tiba di lokasi pameran, mata langsung terarah pada rangkaian plastik bening yang disusun tergantung. Isinya kutipan-kutipan isi Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) yang memuat pengertian kata “perempuan” dan hasilnya sangat mengejutkan. Sebuah politik bahasa yang perlu digugat.

perempuan/pe·rem·pu·an/ n 1 orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
— geladak pelacur;
— jahat 1 perempuan yang buruk kelakuannya (suka menipu dan sebagainya); 2 perempuan nakal;
— jalan pelacur;
— jalang 1 perempuan yang nakal dan liar yang suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila;
— jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya);
— lacur pelacur; wanita tuna susila;
— lecah pelacur;
— nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal;
— simpanan istri gelap;

Apakah anak-anak dibiarkan mengutip arti kata perempuan ini dari KBBI, kitab bahasa yang menjadi pedoman formal. Ada beberapa versi KBBI yang rutin diperbaharui, namun uraian kata ini sama saja.

Gerakan Dialektika

Ingatan pun terbang ke dua sosok pemikir dan perangkum pengetahuan. Paulo Freire protes atas “kebudayaan bisu” yang menimpa lingkungannya kala itu. Ini adalah kondisi kultural masyarakat yang memiliki ciri takut mengungkapkan pikiran dan perasaanya sendiri. Ada lagi Socrates yang senang mendengar gagasan orang lain, memertentangkan, kemudian mengeksplorasi menjadi sebuah pemikiran baru.

Futuwonder kemudian adalah wujud gerakan dialektika, untuk mempertanyakan, melawan, dan memberikan pengetahuan untuk keluar dari kondisi kultural “nak mule keto.” Ungkapan dalam basa Bali yang bermakna biarkan saja, sudah dari sononya.

Karya lain dalam Efek Samping ini sangat beragam, mengeksplorasi keramik, kain, game board, dan lainnya. Saya akan bernapas dulu sebelum menyelesaikan merangkum karya mereka. 🙂

Saras Dewi, dosen Universitas Indonesia yang juga menulis puisi dan menyanyi mengingat sosok Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang mukim di Bali. Menurut penulis buku Island of Bali pada 1938 ini, (pada saat itu) semua orang Bali adalah seniman. Mereka melakukan pekerjaan sehari-hari bak seniman, dengan menari, megambel, sembahyang, membuat ragam sarana upakara, dan lainnya.

“Dia memiliki kepekaan pada situsi estetik,” tutur Saras memulai bahasan soal seni. Namun secara sosial kegiatan luar domestik didominasi laki-laki, situasinya menjadi patriarkhi.

Sinta Tantra yang mukim 30 tahun di Inggris merasakan kehidupan berkesenian yang multikultural. Ini berpengaruh pada minatnya pada kebebasan eksplorasi. Tidak ada yang membatasi bentuk seni menurut gender. Ia menyukai street art, membuat mural di gedung dan jalanan.

“Bali sangat turisme, lebih kontemporer di Jogja dan Jakarta,” sebut perempuan muda ini.

Futuwonder memberi ruang untuk jeda sekaligus jalur marathon. Mulai mengenal isunya jika belum familiar dari evolusi kata perempuan dari KBBI terbitan 80an sampai 90an yang sangat diskriminatif. Kemudian mendorong penikmat Efek Samping: Masa Subur untuk sprint, lari kencang atau maraton. Pembelajaran harus dipercepat karena terlalu banyak yang harus dilakukan, untuk bersuara.

“Masa Subur dianggap tanggungjawab rahim. Menerjemahkan kesuburan di luar pengertian tradisional. Kesuburan ingin berkarya, saya lihat tak hanya jadi objek tapi pengetahuan ketimpangan gender masih ada di Bali,” Citra Sasmita memaparkan pemikirannya. Ini adalah sebuah aktualisasi gagasan jadi karya seni.

Karja, pemilik galeri yang juga melukis masih merasakan stereotip dalam karya seni.

Menurutnya sebagai seniman ia mengeksekusi inspirasi. Tapi kemudian ada pengkotak-kotakan, cap tradisi atau turisme?

Futuwonder dibentuk pada awal tahun 2018 oleh empat perempuan pekerja seni dari berbagai latar belakang profesi. Mereka adalah Citra Sasmita (perupa), Putu Sridiniari (konsultan desain lepas), Savitri Sastrawan (kurator/penulis), dan Ruth Onduko (manajer seni).

Masa Subur adalah awalnya diajukan untuk salah satu hibah seni, tapi sayangnya tidak lolos. Meskipun gagal dapat dana hibah, tetap dilaksanakan secara swadaya dan swadana.

Tantangan yang masih dirasakan adalah sulitnya apresiasi dan kesempatan memamerkan karya yang tidak mengikuti arus utama estetika dalam ruang yang representatif. [b]

The post Futuwonder Seni Rupa untuk Melawan Patriarki appeared first on BaleBengong.

Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping

Ini cerita-cerita kecil dari perupa-perupa Futuwonder.

Perupa dan pembuka pameran, ada yang membawa keluarganya ke pameran Futuwonder: Efek Samping. Ini jarang terjadi di suatu pembukaan pameran di Bali, karena perupanya jarang ajak keluarga atau tidak mau keluarganya datang.

Mereka memperlihatkan dan menyatakan dukungan pada anaknya, istri, maupun pasangannya, kalau ini adalah sebuah perayaan lahirnya anakmu.

Hiruk pikuk dunia seakan terhenti ketika ada dua perupa perempuan bertukar identitas menumbuk bawang di dalam Karja Art Space, Ubud pada tanggal 20 Oktober 2018 sore.

Performance art Andita Purnama berkolaborasi dengan Citra Sasmita hanyalah salah satu karya dari 24 karya yang disuguhkan untuk Pameran Efek Samping, bagian dari Proyek Masa Subur yang digagas Futuwonder.

Futuwonder, kolektif yang terdiri dari empat perempuan pekerja seni – manajer seni Ruth Onduko, perempuan perupa Citra Sasmita, pekerja desain lepas Putu Sridiniari, dan penulis serta kurator independen Savitri Sastrawan. Awal mula terbentuknya Futuwonder adalah karena impian keempat perempuan pekerja seni tersebut ingin mewadahi hal-hal di kesenian yang masih kurang dilihat dan termasuk perempuan di kesenian.

Masa Subur menjadi salah satu proyek yang dibuat oleh Futuwonder yang bertujuan mewadahi terjadinya suatu pameran. Kali ini, dengan tema Efek Samping, Futuwonder ingin membentuk sebuah pameran yang lintas disiplin dan menjawab pertanyaan, “Benarkah perempuan perupa terbatasi atau dibatasi dalam berkarya dan berkesenian?” dengan fokus di Indonesia.

Dari tulisan kuratorial yang telah ditulis, Futuwonder menemukan bahwa sebenarnya kalau dilhat balik sejarah besar dan kecil seni rupa Indonesia, perempuan perupa atau perempuan pekerja seni, selama ini dibatasi berkeseniannya.

Dengan itu, pembukaan Pameran Efek Samping yang didatangi sebagian besar perupa yang ikut dan dibuka oleh perempuan pekerja seni Bali ternama juga, secara tidak langsung menjadi sebuah perayaan bersama kalau perempuan pekerja seni itu mampu melakukan sesuatu juga. Segala dinding dan terjal yang menghalang itu hilang seketika.

Pembuka pameran, Sinta Tantra, perempuan perupa Inggris keturunan Bali, menyatakan bahwa seni mungkin tidak memberikan kami jawaban. Tetapi terus mempertanyakan dan dengan seni kita dapat berbagi tentang harapan, impian, cinta dan ketakutan. Dengan percakapan kita dapat membuat komunitas dan dengan komunitas kita dapat beraksi dan membuat perubahan.

Sedangkan pembuka pameran berikutnya, Ayu Laksmi, perempuan pekerja seni yang dikenal sebagai penyanyi dan pemeran seorang ibu di beberapa film Indonesia. Ia menyatakan bahwa semua perupa yang hadir untuk pembukaan pameran ini telah melalui penderitaan, dan karya-karya yang dibuat adalah seperti melahirkan anak, yang sudah sepatutnya diempu. Masa Subur, Efek Samping menjadi tema yang sangat kuat dan ia salut dengan kerja keras Futuwonder mewujudkannya menjadi nyata. Kedua pembuka merasa bahwa keseriusan, dukungan dan kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan.

Ada cerita Patricia Paramitha, lulusan Arsitektur itu akhirnya memutuskan untuk menekuni melukis dan menggambar. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat mendukung penuh. Ibu dan adik-adiknya turut ikut ke Ubud menemaninya.

Patricia sangat senang ketika lolos Open Call Futuwonder, dan ternyata ada cerita lain di balik itu. Dilansir di akun Instagram milik Patricia, ketika ia datang ke Ubud saat kuliah arsitektur dan jatuh cinta. Jika dapat kesempatan ke Bali lagi, ia akan berkunjung ke Ubud. Saat ia masih bekerja sebagai arsitek, seorang teman menekankan ia harus bisa ikut pameran seni sesekali.

Pengalamannya dapat mengikuti Pameran Efek Samping dan di Bali, mencentang wishlist (impian) Patricia untuk jalan-jalan ke Bali bersama keluarganya. Mengikuti pameran, serta menjadi sangat spesial karena pameran itu di Ubud.

Ada cerita Siti Nur Qomariah, yang akrab dipanggil Ibu Kokom, partisipan paling senior yang lolos Open Call Futuwonder, yang datang ke pembukaan pameran bersama suaminya menggunakan sepeda motor dari Solo, Jawa Tengah. Suaminya, Pak Santo lah yang membantunya mendaftarkan diri untuk ikut Open Call.

Ibu Siti sempat vakum dari berkarya selama 20 tahun karena hal pribadi dengan Pak Santo. Ia sangat didukung untuk berkarya dan aktif berpameran lagi. Cerita itu sangat menyentuh dan bukti nyata bahwa perempuan pekerja seni itu mampu melakukan apa yang dilakukan serta tidak seharusnya dibatasi.

Ada cerita Khairani L. Imania, panggilannya Hanny, yang sendirian ke Bali. Ini pertama kali ia travel lagi sejak melahirkan anaknya, kini sudah balita. Hanny dosen Tipografi di Malang, mendokumentasikan perjalannya melalui tulisan-tulisan uniknya. Ia bahkan meninggalkan sebuah postcard dengan kata-kata “Thank you Bali” untuk dibagikan secara cuma-cuma selama pameran berlangsung.

Karyanya sukses mengubah kata Empower ke Women, terinspirasi dari M.C. Escher, seniman Belanda yang bermain pola-pola tak biasa di karyanya. Ia memposisikan dirinya sebagai perempuan perupa yang dapat melakukan metode tersebut. Tipografi dan kata-kata adalah elemen-elemen yang bisa digunakan untuk suatu pernyataan (statement). Keunikan Hanny mengeksplorasi itu sangat menarik.

Berbicara tentang Bahasa, menjadi bahasan yang menarik setelah pembukaan pameran, saat beberapa perempuan perupa berkumpul dan berbagi tentang Pameran Efek Samping. Ika Vantiani dan Salima Hakim, yang karyanya penuh dengan pembahasan bahasa, menarik perhatian perupa lainnya.

Kata “perempuan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia diperlakukan tidak bijak dan kata “homo” (yang artinya laki-laki [man]) pada setiap spesies manusia sebelumnya, menjadi pertanyaan eksistensi perempuan dari ribuan tahun. Membicarakan suatu kata di bahasa melalui kesenian menjadi metode menarik ditelusuri dan diperbincangkan.

Di kesenian, bahasa sangat berhubungan dan kesenian dapat menjembatani bahasa-bahasa sensitif ini untuk dibawa ke permukaan. Ada bahasan juga perupa lebih baik dari historiografer, karena penggalian paling sensitif pun dapat disampaikan. Elemen-elemen memori itu bisa utuh dipersembahkan.

Ini sempat dibahas oleh Elvira Dyangani Ose pada katalog Gothenburg Biennale yang ia kurasi berjudul A Story Within A Story, Within A Story, Within A Story… (2015). Perupa memiliki perspektif yang non-konvensional dan daya ingatan berbeda termasuk narasi-narasi yang terpinggirkan.

Ada juga pernyataan bahwa kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kegiatan seperti Pameran Efek Samping dirasakan sangat sukses sebagai pameran yang menyuguhkan beragam media serta pesannya. Setiap perupa memiliki cara yang tidak sama merespon atau mengkreasikan karya membicarakan Efek Samping.

Setelah melihat keseluruhan karya secara langsung, sebelumnya hanya dengan per foto yang dikirim peserta, dan membaca lagi latar belakang serta bertemu langsung dengan perupa-perupanya, terlihat bahwa karya-karya Pameran Efek Samping ini tidak hadir karena visual dan konsep yang kuat saja. Latar belakang serta pengetahuan masing-masing perupa merepresentasikan tema Efek Samping.

Pameran ini menjadi pameran yang beda feel-nya, karena penyelenggara adalah perempuan dan partisipan adalah perempuan. Ada pengunjung yang merasakan sensitifitas perempuan itu. Energi yang diekspresikan seorang perempuan memang dinyatakan beda, seperti yang dilansir buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007) oleh Farah Wardani, Wulan Dirgantoro, dan Carla Bianpoen.

Beberapa hal sensitif yang tidak bisa dihadirkan oleh perupa laki-laki tetapi bisa disampaikan oleh perempuan perupa.

Itu pula yang dilansir oleh Saras Dewi dan Sinta Tantra, selaku narasumber Diskusi “Tumbuh Subur: Tantangan Perempuan di Seni Rupa” yang diadakan Futuwonder. Sinta menyatakan bahwa energi seorang perempuan itu selalu suatu yang positif karena ada rasa mengayomi dan mengempu, rasa ini dapat ditemukan melalui karya-karya maupun aktifitas yang dilakukannya.

Saras Dewi berbagi bagaimana perempuan perupa dapat mengangkat hal-hal yang cukup sensitif dan menghadirkan lewat sebuah karya dengan berbagai bentuknya. Kedua narasumber ini merasakan bahwa hal-hal ini hadir dalam Pameran Efek Samping.

Elemen-elemen kecil ini, cerita-cerita kecil ini, memperkaya kehadiran Pameran Efek Samping di Karja Art Space, Ubud. Galeri yang letaknya jauh dari kebisingan kota Ubud, menjadi bagian Ubud yang jarang dilalui orang-orang Indonesia, banyak yang kaget bagaimana tempat ini nyempil disini.

Karya-karya 25 perempuan pekerja seni yang terpajang di dalamnya tidak saja menjawab pertanyaan adanya Efek Samping itu tetapi juga mempertanyakan lagi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
Pembahasan perempuan dan kesenian sepertinya tidak berhenti pada kekaryaan saja, tetapi masih banyak lagi. Suatu sisterhood – tali persaudaraan – akhirnya terbentuk dari acara ini dan itu sesuatu yang tidak dilupakan para perempuan perupa yang ikut, juga untuk Futuwonder sendiri. [b]

The post Cerita-cerita Kecil dari Pameran Efek Samping appeared first on BaleBengong.

Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini

MEN COBLONG memajukan kursinya. Wajahnya tepat berada di depan sahabatnya yang sejak pagi uring-uringan.

Tidak jelas ke mana arah pembicaraannya. Kelihatan sekali perempuan yang usianya sebaya dengan Men Coblong itu dilumuri bau stres akut. Terasa sekali hawa kesedihan dan luka hati terlacak mengguyur seluruh tubuh sahabat Men Coblong. Di usia yang tidak lagi muda apakah yang sesungguhnya dicari seorang perempuan di dalam rumah perkawinannya?

Perkawinan itu bagi Men Coblong adalah tumpukan tangga-tangga yang harus dilewati oleh pasangan. Setiap tangga memiliki kisah-kisahnya sendiri. Ada urutan tangga yang terasa nyaman untuk dikenang dan ditimbang. Ada urutan tangga yang selalu ingin dijebol dan dirusak karena memiliki kesan dan justru membuat hidup yang rumit jadi bertambah rumit.

Tangga yang mengandung beragam masalah-masalah tidak enak dan “menyakitkan” itu tentu tidak bisa ditinggal, tidak bisa dipotong. Juga tidak bisa dihilangkan. Kalau dihilangkan tentu ornamen rumah jadi terlihat “aneh”.

“Aku sudah membesarkan anak-anak dengan seluruh kemampuan yang kumiliki,” kata sahabat Men Coblong terdengar getir. Sebentar-sebentar perempuan itu menark napas. Matanya yang bulat terlihat cekung dan penuh warna merah.

Men Coblong melirik kaca di sampingnya. Terpantul wajahnya yang terlihat agak berubah. Tubuh dan wajah dalam pantulan kaca di samping kirinya terlihat berbeda. Tubuh di pantulan kaca itu terlihat lebih besar dan tambun.

Men Coblong memonyongkan mulutnya. Di usianya yang setengah abad, dia merasa makin tertimbun lemak. Berat tubuhnya 52 kg, 10 kg lebih berat dari biasanya. Tetapi Men Coblong kok merasa sehat-sehat saja. Di usianya yang setengah abad ini, dia merasa tidak lagi memiliki banyak target di kepalanya. Target-target yang bertumpuk dan selalu menghantui setiap langkahnya menuju tangga-tangga berikutnya.

Sejak muda Men Coblong dikenal teman-temannya sebagai perempuan ambisius.

“Masa muda itu harus dinikmati. Jika kau tua, kau tidak akan bisa melakukan apa pun dengan bebas,” itu kata-kata teman-teman Men Coblong ketika masih berumur 20-an. Bagi mereka hidup itu harus diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Puaskan hidup dengan beragam kesenangan selagi tubuh masih bisa diajak kompromi.

“Benarkah hidupku terasa aneh bagi orang-orang di sekitarku?” gumam Men Coblong dingin pada diri sendiri.

Men Coblong terus memainkan bibirnya. Secangkir cokelat panas belum tersentuh. Men Coblong masih asyik dengan pantulan wajahnya di dinding kaca yang agak gelap. “Ah, aku kok merasa baik-baik saja, aku juga sudah mengisi masa mudanya dengan hal-hal gila.”

Ada arogansi yang berlebihan juga, terutama jika bersama para sahabatnya semasa kuliah dulu. Men Coblong juga merasa hidupnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang direkayasa.

“Ah, kamu itu sewaktu mahasiswa sok angkuh. Kamu itu lebih terlihat rileks justru setelah usia saat ini. Kulihat tubuhmu juga lebih berisi. Sorot matamu juga lebih ramah dan bersahabat,” kata teman yang lain.

Sorot mata bersahabat?

“Iya, dulu matamu penuh perhitungan,” jawab sahabat yang lain.

Mata penuh perhitungan? Ada-ada saja istilah para perempuan menilai perempuan-perempuan lain.

“Jangan menganggap negatif para perempuan? Tanpa perempuan dunia ini ambruk. Siapa yang akan mengurus anak? Siapa yang memasak? Siapa yang bisa membuat rumah bersih dan nyaman? Siapa yang mengatur kebun? Mengantar jemput anak? Memilihkan mereka sekolah itu juga bagian dari tanggungjawab kita. Makanya jadi perempuan itu hebat,” suatu hari Men Coblong mendengar seorang teman berkata sedikit ketus dengannya ketika Men Coblong berada di ruang tunggu menunggu anak semata wayangnya keluar dari kelas.

“Lelaki itu bisanya apa, sih?” jawab ibu teman anak Men Coblong itu getir.

Men Coblong menarik napas. Perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang berderet menjemput anaknya di sebuah sekolah di bilangan jalan Hayam Wuruk itu terus berkata-kata dan yang satu memperkuat yang lain. Bahwa tanpa seorang perempuan di Bumi ini, mungkin matahari tidak akan pernah terbit dari Timur.

Sebagai perempuan pada saat itu Men Coblong memang merasa bahwa perkawinannya dibanding para ibu-ibu itu baru saja beranjak hitungan satu tangan. Belum memahami beragam “cuaca” buruk dan “cuaca” baik. Juga belum paham “arah angin”. Men Coblong baru menikmati saat-sat memiliki seorang anak yang terasa ganjil dan aneh. Seorang manusia yang selalu memerintah dirinya. Terasa lucu peran “jadi ibu” itu jika dihayati.

Sekarang di usia setengah abad, Men Coblong harus berhadapan kembali dengan seorang temannya, perempuan 60 tahun yang merasa “dibuang” oleh lima anak perempuannya. Lima anak perempuan yang telah dibesarkannya dengan susah payah. Perempuan itu menanggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar demi membesarkan lima anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah tingkat dasar dan memilih bekerja di rumah dengan membuat usaha kuliner. Syukurnya usahanya maju, lima anak perempuannya bisa sekolah di luar Bali di universitas-universitas ternama di dalam negeri.

Kemana lelakinya? Menikah lagi karena teman Men Coblong itu tidak memiliki anak lelaki. Menyedihkan juga, sih. Dan saat ini Men Coblong berhadapan dengan perempuan “hebat” itu, wajahnya kuyu dan terlihat tidak bahagia. Dia merasa ditinggalkan oleh lima anak perempuannya yang memilih hidup terpisah satu sama lain.

Men Coblong terdiam. Tidak menemukan solusi. Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit juga. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga “kekasih”.

Masalahnya, kok di tengah kerumitan-kerumitan menjadi ibu dan beragam masalah perempuan lainnya. Masih ada saja perempuan yang “tega” mengambil kebahagiaan perempuan lainnya. Perempuan tega melukai hati perempuan. Kok masih ada saja yang mau jadi istri kesekian. Di mana sesungguhnya arti perjuangan Kartini bagi mereka? [b]

The post Catatan Mingguan Men Coblong: Kartini appeared first on BaleBengong.