Tag Archives: pensisba

Rapat Persiapan Grand Launching SBMPTNP di Lombok

Masih dalam rangka SBMPTNP 2018, saya kembali mendapat tugas perjalanan dinas yaitu mengikuti Rapat Persiapan Grand Launching SBMPTNP di Lombok pada tanggal 8-10 Maret 2018. Acara rapat diadakan selama 1 hari yaitu tanggal 9 Maret 2018. Sebenarnya agenda rapat selain persiapan grand launching, dilanjutkan juga dengan agenda membahas kesepakatan mengenai kelebihan sks mengajar di 6 Perguruan Tinggi Pariwisata (PTP) di lingkungan Kemenpar. Pembahasan ini cukup krusial dan alot karena akan berdampak langsung pada keuangan khususnya bagi para dosen.

Acara Grand Launching SBMPTNP 2018 rencananya akan dilaksanakan di Bali pada 23-24 Maret 2018. Yang dibahas pada rapat persiapan ini sangat teknis, khususnya video yang akan diputar di puncak acara grand launching. Acara grand launching sendiri rencananya akan disisipkan pada acara Rakornas SMK Pariwisata yang dihadiri Menteri Pariwisata sekaligus melakukan grand launching SBMPTNP 2018.

Kami berangkat ke Lombok pada tanggal 8 Maret 2018 dengan pesawat Garuda Indonesia tipe ATR, itu lho yang baling-balingnya terlihat jelas. Penerbangan kami ke Lombok lancar namun terasa agak lama yaitu 45 menit, mungkin karena pesawat sempat memutar beberapa kali sebelum tiba di Lombok. Di Lombok, kami menginap di Hotel Astoria Lombok, karena acara rapat juga disana.

Acara rapat tanggal 9 Maret kami ikuti dengan baik dan lancar. Saat istirahat siang, kami terpaksa harus check out dari hotel karena ternyata hanya di booking 1 malam saja, dan tidak bisa extend karena penuh. Sore hari selesai rapat kami pindah ke hotel Golden Palace untuk menginap 1 malam lagi. Sebelumnya saya sudah pernah menginap di Golden Palace Lombok yaitu tahun 2017 kemarin.

Tanggal 10 Maret 2018 kami kembali ke Bali dengan Garuda Indonesia. Penerbangan ke Bali kali ini terasa cepat yaitu hanya 25 menit saja. Mungkin karena langsung lurus saja dari Lombok ke Bali. Kami tiba dengan selamat. Demikian perjalanan dinas saya kali ini.

Baca Juga:

Pre Launching SBM-PTNP di Poltekpar Palembang

Perjalanan dinas kali ini saya ditugaskan mengikuti acara Pre Launching SBM-PTNP (sebelumnya bernama SBMSTAPP) di Poltekpar Palembang. Saya ditugaskan menemani Ketua STP Bali dan Kabag Adak. Sebenarnya minggu sebelumnya saya juga ditugaskan untuk rapat ke Medan dalam rangkaian SBM-PTNP juga, tapi karena istri dan anak sakit jadi saya tidak bisa ikut dan digantikan teman lainnya. Tidak apalah karena urusan keluarga tetap nomor 1 bagi saya.

Oya, SBM-PTNP itu singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata. Sebelumnya bernama SBMSTAPP (Seleksi Bersama Masuk Sekolah Tinggi, Akademik dan Politeknik Pariwisata), tapi karena sekarang Akademi Pariwisata Medan sudah berubah menjadi Politeknik Pariwisata Medan, jadi kini perguruan tinggi yang ada adalah 2 Sekolah Tinggi Pariwisata (Bali dan Bandung) dan 4 Politeknik Pariwisata (Medan, Makassar, Palembang dan Lombok). Maka dirubahnya namanya menjadi SBM-PTNP.

Acara Pre Launching SBM-PTNP 2018 adalah tanggal 14 Pebruari, kami berangkat tanggal 13 Pebruari siang yaitu sehari sebelum acara menggunakan Garuda Indonesia dengan penerbangan direct dari Denpasar ke Palembang. Kami menumpang pesawat Garuda Indonesia tipe CRJ1000 NEXTGEN yang ukurannya agak kecil (seperti pertama kali saya ke Palembang tahun lalu), 1 baris hanya terdiri dari 4 seat yaitu masing-masing 2 di kiri dan kanan. Walaupun kecil tapi tetap nyaman, bahkan dari segi suara jauh lebih senyap karena mesin pesawat yang jauh di belakang.

Di penerbangan kali ini saya pertama kalinya mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan penumpang lain. Duduk di depan saya sepasang bapak dan ibu yang umurnya mungkin sekitar 60 tahun. Dari penampilannya dan gerak-geriknya saya menduga mereka berdua tumben atau jarang naik pesawat. Dari baru masuk pesawat mereka berdua ngobrol terus dengan suara yang relatif lebih keras dibanding penumpang lainnya, tapi saya tidak terlalu terganggu. Kejadian yang tidak mengenakkan terjadi sekitar 15 menit sebelum mendarat, saat pilot sudah mengumumkan pesawat akan segera mendarat dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah menyala, terdengar suara telepon, bahkan relatif keras. Saya awalnya menduga mereka lupa mematikan telepon dan akan segera mematikan teleponnya, tapi malah si ibu mengangkat telepon itu dan berbicara cukup keras, tanpa rasa bersalah! Mungkin sekitar 10 detik saja, lalu dimatikan. Penumpang di dekat mereka semua langsung memandang dengan wajah tidak senang. Selang beberapa detik kemudian telepon berbunyi lagi, kali ini si bapak yang menerima telepon dan berbicara keras-keras dengan santainya. Semua mulai geram dan hanya beberapa detik kemudian pak Byo (bos saya) yang duduk di seberangnya langsung menegurnya, dan berkata “tidak boleh menelepon di pesawat pak!” Akhirnya dia menutup teleponnya. Kami semua hanya geleng-geleng kepala saja dengan ulah penumpang itu. Saya tidak tahu pramugari mengetahui kejadian itu atau tidak. Pesawat pun mendarat dengan sempurna di Palembang. Saya masih agak geregetan.

Lanjut. Kami kemudian dijemput oleh tim Poltekpar Palembang dengan sambutan yang luar biasa bagi saya. Di pintu keluar terminal kami disuguhkan welcome drink oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Setelah menikmati minuman tersebut, kami langsung diantar ke hotel Santika Palembang, tempatnya tepat di depan/seberang TransMart Palembang. Selama di Palembang, kami selalu diantar jemput dan ditemani oleh mahasiswa Poltekpar Palembang. Sore itu kami langsung istirahat di hotel. Malam harinya sekitar pukul 7 kami dijemput dan diajak makan malam makanan khas Palembang, apalagi kalau bukan pempek. Rasanya tentu enak sekali.

Keesokan harinya, acara Pre Launching dilakukan di kampus Poltekpar Palembang yang baru. Tahun lalu saat saya kesana, kampus Poltekpar Palembang masih meminjam gedung rusunawa di komplek Jakabaring Sport City. Sekarang mereka sudah punya kampus yang megah dan lokasinya masih di komplek Jakabaring Sport City. Kalau tidak salah tanah seluas 2 hektar kampus adalah hibah dari Provinsi Sumetera Selatan. Acara Pre Launching berlangsung sederhana namun juga meriah dan dihadiri langsung oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan juga Gubernur Sumatera Selatan, Bapak Alex Noerdin. Dalam sambutannya, saya terkesan dengan penampilan Gubernur yang satu ini, terlihat berwibawa sekali.

Selesai acara Pre Launching, pak Gubernur kemudian meresmikan food truck milik Poltekpar Palembang. Seluruh perwakila dari masing-masing kampus kemudian mengadakan rapat singkat membahas rencana Grand Launching SBM-PTNP 2018. Rencananya akan dilaksanakan nanti di Bali pada pertengahan Maret sekaligus dalam acara Rakernas SMK Pariwisata seluruh Indonesia. Selesai rapat kami menikmati makan siang hasil praktek mahasiswa sambil berkoordinasi beberapa hal lain. Selesai acara kami diantar kembali ke hotel. Malam harinya kami diajak makan malam lagi di pinggir sungai musi. Menu utamanya adalah berbagai olahan ikan, rasanya enak dan tempatnya juga bagus dengan view jembatan Ampera di malam hari. Keren.

Keesokan harinya kami kembali ke Bali. Bapak Ketua STP Bali naik Garuda Indonesia direct ke Bali, sedangkan saya dan Kabag Adak terpaksa harus transit ke Jakarta karena tidak mendapat tiket direct. Penerbangan kami dari Palembang sempat delay lebih dari 1 jam, konon karena kondisi cuaca di Jakarta tidak bagus sehingga pesawat dari Jakarta yang ke Palembang harus delay. Setelah akhirnya berangkat dan tiba di Jakarta, kami tentu saja ketinggalan pesawat yang rencana ke Bali dan harus mundur ke flight selanjutnya. Flight selanjutnya itupun delay lebih dari 2 jam. Jadi kami terpaksa menunggu. Uniknya, karena delay saja jadi makan di Garuda Lounge, ini pertama kalinya saya masuk ke Garuda Lounge, hehe.

Penerbangan kami ke Bali akhirnya berangkat juga, dan kami mendarat di Bali sekitar pukul 10.30 malam, padahal kalau semua lancar kami seharusnya mendarat di Bali sekitar pukul 5 sore. Tidak apalah yang penting kami tiba dengan selamat. Demikianlah catatan perjalanan dinas kali ini.

Baca Juga:

Penerimaan Mahasiswa Baru STP Nusa Dua Bali 2017

Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali melakukan penerimaan mahasiswa baru untuk tahun 2017 yaitu tahun akademik 2017/2018. Untuk diketahui bahwa STP Nusa Dua Bali merupakan perguruan tinggi negeri di bidang pariwisata dan perhotelan yang berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata bersama 5 perguruan tinggi negeri lainnya yaitu : STP Bandung, Akpar Medan, Politeknik Pariwisata Makasar, Politeknik Pariwisata Palembang dan Politeknik Pariwisata Lombok.

Tahun 2017 ini STP Nusa Dua Bali direncanakan akan menerima kurang lebih 600-700 mahasiswa baru yang terdiri dari 10 Program Studi yaitu :

  • Bisnis Hospitaliti (S1)
  • Destinasi Pariwisata (S1)
  • Administrasi Perhotelan (D4)
  • Manajemen Kepariwisataan (D4)
  • Manajemen Akuntansi Hospitaliti (D4)
  • Manejemen Bisnis Perjalanan (D4)
  • Manajemen Konvensi dan Perhelatan (D4)
  • Manajemen Tata Boga (D3)
  • Manajemen Tata Hidangan (D3)
  • Manajemen Divisi Kamar (D3)

Adapun penerimaan mahasiswa baru di STP Nusa Dua Bali tahun 2017 seperti tahun sebelumnya akan dilakukan melalui 2 jalur yaitu jalur SBMSTAPP (bersama) dan SMMSTAPP (mandiri). Jalur SBMSTAPP (bersama) artinya proses penerimaan mahasiswa baru akan dilakukan bersama-sama diantara 6 perguruan tinggi negeri pariwisata dibawah Kementerian Pariwisata. Sedangkan jalur SMMSTAPP (mandiri) akan dilakukan khusus di STP Nusa Dua Bali.

Informasi selengkapnya terkait penerimaan mahasiswa baru STP Nusa Dua Bali tahun 2017 silahkan di website berikut ini :

Semoga bermanfaat.

Baca Juga:

Rapat Pensisba Online di Kementerian Pariwisata

Perjalanan dinas saya kali ini adalah menemani atasan untuk Rapat terkait dengan Penerimaan Mahasiswa Baru (Pensisba). Ceritanya berawal dari suatu sore di akhir bulan Agustus, Bapak Ketua STPNB datang mampir ke ruangan akademik tempat saya bertugas sehari-hari. Di tengah obrolan singkat, beliau menceritakan bahwa nanti akan ada Rapat di kantor Kementerian Pariwisata di Gedung Sapta Pesona, Jakarta. Isi rapat adalah terkait dengan penerimaan mahasiswa baru, oleh karena itu Bapak Ketua minta agar saya ikut menemani karena saya merupakan Ketua Panitia Pelaksana Penerimaan Mahasiswa Baru tahun ini.

Rapat akan diadakan tanggal 7 September 2015 sekitar pukul 11.oo WIB, jadi kemungkinan kami akan berangkat pada hari itu di pagi hari. Beberapa hari sebelum rapat, Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan atau yang biasa kami sebut Kabag Adak menghubungi saya via telepon, beliau menyampaikan bahwa untuk rapat tersebut Bapak Ketua tidak bisa hadir, jadi Bapak Kabag Adak yang akan mewakili, dan saya tetap bertugas menemani. Jadilah saya berangkat dengan Kabag Adak.

Kami berangkat pada hari Senin, 7 September 2015 sekitar pukul 7 pagi, jadi sekitar pukul 6 saya sudah di bandara. Kami merencanakan untuk kembali ke Bali pada hari itu juga sore harinya, jadi PP alias pulang-pergi tanpa menginap. Untuk pertama kalinya saya berangkat membawa kendaraan sendiri tanpa diantar, jadi kendaraan saya tinggalkan di parkir bandara dan kuncinya saya bawa ke Jakarta.

Perjalanan kami berjalan dengan lancar, bahkan agak santai karena ternyata Bapak Kabag Adak juga orangnya santai dalam perjalanan seperti ini. Ketika tiba di bandara di Jakarta, kami mendapat kabar bahwa rapat diundur 1 jam karena Bapak Deputi masih ada acara penting lain. Kami tiba di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, sekitar 30 lebih awal dari jadwal. Setelah menunggu beberapa menit, kami dipersilahkan menikmati makan siang, baru kemudian acara rapat dimulai.

Rapat dipimpin langsung oleh Bapak Deputi Pengembangan Kelembagaan Sumber Daya Manusia, dan dihadiri oleh STP Nusa Dua Bali (STPNB), STP Bandung, Akpar Medan serta Akpar Makasar. Intinya adalah membicarakan mengenai rencana kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di 4 lembaga pendidikan tinggi tersebut mulai tahun 2016 akan dilaksanakan secara bersama-sama. Teknisnya tentu akan dibahas lebih lanjut di rapat-rapat selanjutnya. Rapat pun berjalan lancar, sementara tugas saya hanya menemani atasan.

Selesai rapat, kami pun langsung kembali meluncur ke bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Bali. Karena masih ada waktu sekitar 2 jam, di bandara kami sempat istirahat dan makan. Perjalanan ke kembali ke Bali pun berjalan lancar.

 

Baca Juga:

Rapat Anggaran di Lombok

Perjalanan dinas saya kali ini adalah ke Lombok yaitu tanggal 3-4 Agustus 2015, dalam rangka ikut sebagai peserta dalam rapat penyusunan anggaran (RKA-KL). Saya ikut hadir dalam kapasitas sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (Pensisba) Tahun Akademik 2015/2016 (tahun ini), dimana salah satu anggaran yang dibahas mengenai Pensisba. Mungkin diasumsikan tahun depan saya akan menjadi ketua panitia lagi sehingga bisa ikut memberikan masukan terkait anggaran Pensisba.

Sebelum mendapat tugas dinas ke Lombok ini, saya sebenarnya diminta untuk berangkat ke Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, dalam rangka melaksanakan ujian Pensisba khusus untuk calon mahasiswa dari Bengkayang. Akan tetapi karena orangtua (ayah) saya dalam keadaan sakit, saya memohon kepada pimpinan agar tidak ditugaskan kesana, apalagi kemungkinan dalam waktu lebih dari 3 hari.

Untuk tugas ke Lombok, saya mendapat informasinya sekitar beberapa hari sebelumnya dan peserta yang ikut rapat sekitar 30 orang. Mungkin karena dalam rombongan yang cukup banyak, menyebabkan keberangkatan pada hari Kamis, 3 Agustus 2015 dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang berangkat pukul 10 pagi, pukul 4 sore dan pukul 7 malam. Saya kebagian yang jam 4 sore, tapi sayangnya pakai pesawat Lion Air, bukan Garuda Indonesia seperti yang biasanya saya pakai dalam perjalanan dinas. Tak apalah, pikir saya toh penerbangan sampai di Lombok saja yang notabene jaraknya sangat dekat, sekitar 30 menit saja sudah sampai.

Hari keberangkatan, saya sudah tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 15.00 kemudian check in bersama 5 orang teman lainnya. Setelah menunggu boarding, ternyata ada pengumuman delay 1 jam. Saya pasrah dan tidak terkejut karena sering mendengar bahwa Lion Air sudah biasa delay. Setelah menunggu kembali, kami kembali mendapat informasi delay sekitar 2 jam lebih, jadi kami delay hampir 4 jam. Banyak penumpang yang komplain waktu itu. Kebetulan salah satu penumpang adalah tetangga saya yang seorang anggota polisi. Dia menuntut agar penumpang segera diberikan haknya sesuai aturan, baik berupa snack ataupun makanan, bahkan uang.

Tahap pertama, akhirnya semua penumpang dibagikan snack, isinya roti dan air mineral kemasan gelas. Saya taksir harga rotinya sekitar seribu rupiah, karena mirip dengan roti-roti yang dijual di warung seharga seribuan. Tahap kedua kami dibagian makanan, isinya kalau tidak salah nasi goreng (saya lupa).

Yang menjadi masalah kemudian adalah kami belum yakin akan bisa berangkat sore/malam itu. Kami kemudian berembug dengan teman yang lain, membayangkan seandainya tidak jadi berangkat dan dipindahkan keesokan paginya, gimana jadinya karena sorenya kami sudah dijadwalkan balik lagi ke Bali, bisa jadi kami hanya beberapa jam di Lombok lalu pulang lagi.

Untunglah akhirnya kami tetap berangkat dan tiba di Lombok dengan selamat, walaupun lucunya rombongan yang berangkat pukul 7 malam sudah tiba lebih dulu lagi beberapa menit. Dan kami akhirnya bertemu di rumah makan dengan rombongan di daerah Mataram, dan setelah makan melanjutkan perjalanan ke Senggigi.

Saya sebenarnya senang dengan jadwal berangkat jam 4 sore karena membayangkan bisa melihat suasana jalan di sepanjang pantai Senggigi. Tapi karena pesawat delay, kami akhirnya melewati jalan pinggir pantai tersebut di malam hari sehingga pemandangan tidak terlalu jelas. Maklumlah saya baru pertama kali ke Lombok, berbeda dengan teman lainnya yang hampir semuanya sudah beberapa kali ke Lombok.

Tiba di hotel, saya langsung istirahat. Keesokan harinya, saya sempat berjalan-jalan di lingkungan hotel Holiday Inn tempat kami menginap dan sekaligus mengadakan rapat. Suasananya enak dan nyaman, sangat mirip dengan di daerah Candidasa (Bali), yaitu hotel pinggir pantai dan berdekatan juga dengan bukit-bukit berbatu. Yang menarik di pinggir pantai yang langsung berbatasan dengan hotel adalah tampak Gunung Agung di pulau Bali dengan sangat megah. Apalagi ketika pagi hari ketika Gunung Agung disinari matahari yang baru terbit. Oya, pantai Senggigi ini menghadap ke barat. Konon kalau kita pulang naik kapal laut dari Lombok ke Bali sore-sore, kita bisa melihat sunset yang indah dari atas kapal laut. Saya pun mungkin suatu saat ingin liburan ke Lombok naik kendaraan pribadi dari Bali.

Muncuk Gunung Agung, pukul 06.45 dari Pantai Senggigi pagi ini.

A photo posted by Made Wirautama (@madewirautama) on

Acara rapat saya ikuti dengan baik, dari pagi sampai siang dan dilanjutkan dengan makan siang di hotel. Selesai makan siang, kami langsung check out dan berangkat ke bandara untuk pulang ke Bali. Kami sempat diajak singgah di beberapa tempat membeli oleh-oleh. Tidak seramai di Bali, saya hanya membeli oleh-oleh camilan saja.

Tiba di bandara, semua rombongan dibagi menjadi dua keberangkatan yaitu menggunakan Garuda dan Lion. Jam keberangkatan hampir sama, sayangnya saya kembali kebagian Lion. Dan bisa ditebak, kami kembali delay, kalau tidak salah sekitar 3 jam, saya bahkan sempat mencoba pijat refleksi kaki di bandara. Dan akhirnya kami berangkat serta tiba di Bali dengan selamat.

Oya, yang menarik di Lombok adalah suasana di beberapa tempat sangat mirip dengan di Bali. Bahkan rasanya seperti berada di Bali, karena ada tempat dimana penduduk Hindu dengan budaya yang sama dengan di Bali. Mengenai tempat wisata, konon yang paling bagus adalah di Gili Trawangan. Mudah-mudahan nanti saya bisa mengajak istri dan anak untuk wisata kesana.

Baca Juga: