Tag Archives: pengalaman

1001 Alasan Markonah bersiar kabar

WhatsApp grup kampung kami tiba-tiba riuh tak henti-henti. Sejak Markonah, yang dikenal terdepan mengunggah berita; mengeposkan tadi pagi. [Berita duka cita : Innalillahi wainna ilaihi rajiun..Bapak Mrono meninggal semalam. Ga boleh dibawa pulang, langsung dikubur. Katanya covid.] Beberapa ibu menanggapi dengan sedih dan menyatakan simpati. Beberapa ibu lain mempertanyakan kebenaran covid atau tidak? Beberapa lagi […]

Anak-anak semesta

#toleransi Kejadian ini setahun lalu. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakannya. Karena persepsi orang mungkin saja tak sepakat dengan saya dan suami; tentang hubungan manusia dan Tuhannya.Tapiā€¦bagi saya sendiri, tiap mengingat cerita itu; hati saya menghangat. Saat itu kelas TK anak saya yang bungsu sedang mengadakan kemping akhir tahun. Salah satu mata acaranya adalah mancakrida. Si […]

Rasa Malas

Hari ini saya merasa sangat malas. Melihat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan serta hal-hal yang perlu dipikirkan dan diputuskan tindaklanjutnya tidak membuat otak dan badan bereaksi sesuai harapan. Badan terasa lemas dan otak mengirimkan perintah untuk duduk dan mengalihkan perhatian dengan membuka sosial media.

Mulai dari facebook yang ramai dengan status teman-teman yang sibuk dengan aktivitas, pemikiran, dan persoalannya yang beragam. Mau komentar dibeberapa status teman dekat, saya malas mengetik. Akhirnya hanya menekan icon jempol untuk mengirimkan tanda untuk menunjukan bahwa saya membaca status itu. Bentuk perhatian yang paling mudah dan cepat.

Lima belas menitan berlalu, beralih ke instagram, menonton instastory beberapa kawan. Muncul hal-hal acak yang kadang tidak penting dan kadang saya tidak mengerti konteksnya. Tapi otak saya menikmatinya, sebagai pengalih perhatian dari daftar pekerjaan yang menumpuk. Melihat beberapa foto feed, menekan ikon hati tanpa meninggalkan komentar. Paling tidak mereka tahu, saya melihat fotonya dan “menyukainya”. Mungkin mereka akan lebih bersemangat untuk memposting foto dan cerita selanjutnya karena banyak mendapat tanda hati.

Mulai bosan, lalu membuat secangkir kopi. Cangkir kecil, sedikit gula dan tiga perempat air agar rasa kopi lebih kuat dan kental. Menggerus kopi perlahan di depan kantor berusaha mengalihkan pandangan dari layar laptop dan henpon. Berharap hembusan angin panas, hijau dedaunan dan sebatang rokok bisa memunculkan semangat untuk mulai mengerjakan yang seharusnya saya kerjakan hari ini. Ternyata tidak, malah timbul rasa ngantuk dan ingin rebahan sejenak. Sejenak saja, mungkin tidur singkat bisa menyegarkan badan dan otak.

Ahh, malah waktu berlalu lebih cepat tanpa daftar pekerjaan yang selesai. Mungkin saya butuh camilan, beli rujak pedas sepertinya pas. Rasa pedas bisa mengusir ngantuk,membuat badan sedikit berkeringat dan mengusir rasa malas. Baiklah, titip beli rujak. Kebetulan teman-teman dikantor juga sedang ingin makan rujak.

Sambil menunggu pesanan rujak datang, secara cepat dan sadar tangan meroggoh henpon. Otak memberi sinyal untuk melakukan kesibukan lainya sambil menunggu. Yah agar teralih dari daftar pekerjaan yang masih menjadi pikiran. Mulai membuka youtube, kemudian mengetikan “Laziness Motivation”. Muncul berderet video tentang motivasi dan tips yang terbaca sepintas dari judulnya akan bisa menghilangkan kemalasan.

Melihat jumlah tayang video-video tersebut, banyak yang mencapai ratusan ribu dan yang tertinggi 8,5 juta. Video berjudul “RETRAIN YOUR MIND – NEW Motivational Video (very powerful)” diunggah setahun lalu. Tapi tidak saya mainkan, saya sedang malas menonton video šŸ˜ . Hmmm… saya tidak sendirian malas. Banyak orang lain yang merasakan kemalasan lalu berusaha menghilangkan rasa malasnya dengan mencari petunjuk di Youtube. Otak saya mengirimkan sinya, kamu manusia normal. Tuh orang lain juga banyak yang gitu. Tidak apa-apa, nikmati momen malasmu. Begitu kurang lebih nasehatĀ pembenaran otak saya kepada diri saya sendiri.

Eh tunggu, ini bukan pertama kali saya merasakan malas yang teramat sangat. Sebelumnya saya sudah pernah begini. Otak saya berusaha memutar, mencari memori situasi yang sama dengan saat ini. Aha, saya ingat. Saya pernah membaca artkel di medium tentang kemalasan. Buka search bar google di hape, ketik medium laz, muncul history tautan artikel di google yang pernah saya buka. Terima kasih google yang telah memfasilitasi kemalasan saya (dan pengguna lainnya) untuk menyelesaikan mengetik kata kunci pencarian dengan memunculkan riwayat jelajah saya di masa lampau.

Artikel di medium itu “Laziness Does Not Exist, But unseen barriers do. Saya baca cepat sekadar mengingat kembali poin-poin tulisan yang sebelumnya sudah pernah saya baca. Wohoo.. kemalasan itu tidak ada, yang ada hanyalan halangan yang tak tampak. Sebuah perspektif lain tentang rasa malas, memahaminya, dan menemukan solusinya.

Entah mengapa selesai membaca artikel tersebut, otak saya kemudian memerintahkan untuk membuat tulisan tentang rasa malas ini di blog yang sudah lama tidak dijamah ini. Sekitar lima belas menit mengetik sampailah saya pada paragraf ini. Eh, apakah ini sebuah bentuk pengalihan perhatian otak lagi agar tidak mengintip daftar pekerjaan hari ini? Entahlah, saya hanya ingin menyibukan otak dan jari sambil menunggu rujak datang.

 

Aha rujaknya sudah datang. Saya makan rujak dulu ya.

Tulisan tentang rasa malas di Medium :Laziness Does Not Exist, But unseen barriers do. oleh Devon Price

Bumil minta dibuatin foto hamil

Setelah bingung mau beli kamera apa dan konsultasi sana-sini. Menimbang kebutuhan dan aspek teknis sebagai pemula akhirnya memutuskan membeli Canon G7X mark II. Biar si Nyonyah juga gampang makenya. Saya kan juga pengen kelihatan di videoĀ 

Kemaren si Ibu pengen dibuat foto hamil sebelum lahiran. Sekalian mencoba kamera baru buat belajar moto, membuat video, dan ngedit video.

Hasilnya jauh dari bagus, yah namanya juga baru belajar.

Gunung Agung yang Mulai ‘Bangun’ dan Kisah di Sekitarnya


Hari itu, 27 September 2017. Mendekati jam 10 pagi, sebuah mobil Ranger mengarah lurus ke arah Gunung Agung. Saya bersama dua orang di mobil tersebut memiliki misi untuk membawakan bantuan logistik yang diperlukan bagi para pengungsi Gunung Agung. Sebagai cerita awal, sejak beberapa hari yang lalu Gunung Agung telah memperlihatkan gejala aktif yang ditandai dengan gempa dan laporan mengenai peningkatan aktivitas magma. Sejurus kemudian, ā€œKebangkitanā€ Gunung Agung telah membuat sekitar 40.000-an warga di sekitarnya harus memutuskan untuk mengungsi. 

 Walaupun telah dianjurkan untuk mengungsi bahkan oleh pemerintah, ternyata hampir setengah dari hitungan tersebut tetap tinggal di dekat area rumah mereka. Alih - alih meninggalkan rumah demi keselamatan, kebanyakan kembali karena harus memberikan makanan bagi hewan ternaknya yang tidak mungkin mereka bawa. Kejadian ini juga menarik begitu banyak simpati dari masyarakat Bali untuk membantu dalam menyediakan penampungan Pengungsi serta menarik niat buruk para saudagar picik yang mencoba mengambil keuntungan dengan membeli ternak mereka di bawah harga. Berbekal kekhawatiran akan bencana dan topangan kehidupan yang harus dijalani setelah (misalkan) Gunung Agung Erupsi, membuat mereka memutuskan tinggal di zona merah Gunung Agung.

Posko pengungsian berada dalam radius dekat Gunung Agung




Mobil Ranger itu kembali meliuk - liuk di tengah jalanan kecil di daerah yang sudah mulai ditinggalkan oleh penduduknya. Berhenti sejenak setelah melihat beberapa warga yang duduk santai sembari was-was melihat Gunung Agung yang terlihat tenang di hadapannya. kami pun mulai berbincang dan mereka menyampaikan keluhan itu kepada kami. Saya, Mika dan Gati. ā€œKalau pagi sampai siang, kami akan ada di sini. Untuk memberi makan ternak. Begitu malam, kami akan kembali di pengungsian terdekatā€, Ujar Pak Wayan Putra. Seorang warga yang memiliki 4 sapi dan 20 kambing di kediamannya. 


Setelah berbicara sejenak sambil tidak lupa berbagi kontak untuk membantu meneruskan info tentang tempat penitipan ternak gratis, kami pun menuju beberapa posko pengungsian terpencil yang berada di dekat area gunung Agung. Posko pengungsian tersebut ada yang dalam radius Zona Merah dan Zona Kuning. Posko - posko tersebut juga berada dalam jalur jalan utama dan ada juga yang mesti melalui jalan yang lumayan rusak. Suasana pengungsi di lokasi tersebut beragam. Dengan jumlah pengungsi mencapai 200, 400 hingga 700 orang dalam posko, Mereka sangat membutuhkan alas tidur, selimut, kebutuhan bayi, obat - obatan, sayuran hingga air. Sebuah kubutuhan utama yang luput dari para donatur yang saat ini lebih sering terlihat di posko pengungsian utama. Di luar dari kabupaten Karangasem.

Pengalaman unik saya dapatkan ketika berkunjung ke posko Rendang. Disana, kami bertemu dengan salah satu pengungsi tertua. Sebut saja Odah. Berumur sekitar 80 tahun. Kami terlibat perbincangan yang hangat tentang pengalaman Odah dan gunung Agung yang dahulu meletus 1963. Sebuah kata - kata yang saya ingat dari Odah, "Ketika seorang anak bikin ulah, maka orang tua jadi marah dan menghukum anak itu. Gunung Agung adalah orang tua kita.", "lalu siapa anak - anaknya?", Odah pun menjawab, "Kita Semua". Tanpa kesedihan dalam matanya, Odah terlihat begitu riang. Seakan sudah kenyang menikmati asam garam kehidupan dan tahu apa yang harus sebaiknya dilakukan untuk membuat "orang tua" kita tidak menjadi marah.

Sejenak kami merenungkan apa yang dikatakan Odah tersebut. Seperti tertampar bahwa sesungguhnya kita selama ini telah mengambil begitu banyak dari alam. mengambil tanpa memberikan kembali. Mungkin saja ini sebagai pengingat, bahwa kita sejatinya harus memikirkan juga alam dan memberi kembali sekaligus melindungi orang tua kita. Ibu Pertiwi kita.

 


Harapan selalu muncul bahkan bagi Odah, saksi mata letusan gunung Agung tahun 1963

Untuk selanjutnya, foto - foto di bawah akan menunjukkan situasi terkini dari beberapa posko pengungsian yang dekat dengan Gunung Agung dan akan ada sebuah tautan  yang bisa teman - teman gunakan untuk melihat sekaligus melengkapi data base posko pengungsian terpencil. Beserta kontak dan kebutuhan masing - masing. Bagi teman- teman yang akan memberikan donasi, harap perhatikan situasi dan kondisi psikis pribadi dan pengungsi. Sehingga kita bisa mengatur ritme untuk memberikan bantuan karena bencana erupsi gunung memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya. Jadi stay safe dan semoga semua menjadi lebih baik kedepannya.

 

(foto dan video adalah asli milik dari penulis Blog ini, Bligungyudha)


Suasana Pos Pengungsian menanga yang telah siap untuk memindahkan 700an pengungsinya jika Gunung Agung sewaktu - waktu erupsi


Pos pengungsian Rendang dengan alas tidur yang diprioritaskan bagi orang tua. Yang lainnya menggunakan alas tidur seadanya

Ibu dan anak - anak di pos pengungsian Sanggem dengan kapasitas 400 orang
-->


Suasana pos logistik di posko Menanga


Harapan untuk dibagi dalam bantuan logistik


Kondisi Posko Rendang


Logistik Sayuran yang sangat diperlukan bagi pengungsi di Posko Wisma Kerta


Menyusu dalam posko