Tag Archives: penanganan korban

Waspada Corona, Bukan Berarti Parno

Jenazah ditolak masyarakat untuk dikubur. Tim medis yang merawat pasien juga ada yang ditolak pulang ke rumah. Orang terkapar di jalan tak ada yang berani mendekat.

Rupanya stigma terhadap Covid-19 bermunculan. Betapa sosialisasi dan edukasi yang benar harus terus dilakukan. Jika tidak, informasi yang tidak benar, banyaknya hoax, akan membuat masyarakat menjadi semakin memberi cap buruk terhadap pasien beserta orang-orang terdekatnya.

Bahkan saat ini juga banyak kejadian orang pingsan atau terkapar di jalan tidak ada yang berani menolong. Masyarakat mengaitkan dengan disebabkan virus corona. Tentu saja tidak benar. Banyak kejadian adalah karena kelelahan, epilepsi yang kambuh, serangan jantung, hingga kecelakaan tunggal. Jangan sampai akhirnya malah tidak ada yang membantu dan terlambat memberikan pertolongan.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

1. Pastikan dulu dari tampilan visual apakah benar orang yang terkapar membutuhkan pertolongan dengan memperhatikan jarak aman atau physical distance.

2. Secepatnya menelpon atau menghubungi RS atau pusat layanan kesehatan terdekat. Dapat juga menghubungi kepolisian.

3. Bantu meminggirkan yang terkapar ke posisi aman, sehingga bisa tidur terlentang lurus dalam keadaan rileks. Pastikan saat menolong menggunakan masker dengan baik serta jangan sesekali membuka masker untuk memegang mulut, hidung, dan mata. Jika ada sarung tangan, akan lebih baik gunakan sarung tangan.

4. Jika dugaannya adalah serangan jantung dan yang berniat menolong pernah mendapatkan pelatihan kegawatdaruratan jantung, pastikan melakukan bantuan tidak dengan nafas buatan, tetapi dengan pijatan dada. Pastikan menggunakan masker, dan area mulut yang ditolong ditutup terlebih dahulu.

5. Selanjutnya tunggu bantuan datang. Pastikan orang di sekitar menjaga jarak.

6. Demikian juga jika ternyata akhirnya meninggal di tempat, lakukan langkah 2,3,5.

7. Setelah tuntas, pastikan segera mencuci tangan. Sampai di rumah segera ganti baju semua, juga masker dan mandi.

Ini semua untuk menghindari risiko penularan jika yang ditolong kemungkinan seorang yang mengidap Covid-19, yang bisa jadi ada di sekitar karena tanpa gejala. Ini bisa tetap dilakukan untuk tetap menjalankan kepedulian untuk menolong seseorang yang mengalami musibah di jalan. Tanpa kemudian kita ikut menyebar stigma.

Sementara Majelis Adat di Bali sendiri sudah memberi panduan yadnya di tengah pandemi ini.