Tag Archives: Pariwisata

Pariwisata Bali Dibuka Lagi. Siapkah?

Sejak 31 Juli 2020 lalu, pariwisata Bali dibuka kembali untuk turis lokal. September depan untuk turis asing. Siapkah Bali? Pelaku usaha pariwisata pasti akan menjawab siap! Atau jangan-jangan ini bukan lagi masalah siap atau tidak, tapi Bali ngebet pariwisata dibuka lagi. Apalagi kasus Covid-19 di Bali cenderung ringan. Tapi bagaimana dengan unsur masyarakat lainnya, seperti … Continue reading "Pariwisata Bali Dibuka Lagi. Siapkah?"

The post Pariwisata Bali Dibuka Lagi. Siapkah? appeared first on Blog Pushandaka.

Saatnya Bali Kembali ke Jati Dirinya, Bertani

Petani mengerjakan lahannya di Jatiluwih, Tabanan. Foto Anton Muhajir.

Pandemi ini mengingatkan kembali pada pertanian yang sudah terlupakan.

Pada mulanya masyarakat Bali mata pencahariannya adalah petani. Itu kita masih bisa lihat dengan jelas dari video, foto dan sejarah Bali tempo dulu.

Selain sejarah itu, kebudayaan agraris sampai sekarang kita lihat dari sarana banten. Hampir semua banten upacara agama Hindu menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian dan perkebunan. Contoh kecil saja pada bahan penjor, semua menggunakan bahan pertanian dan perkebunan.

Keindahan alam Bali, kebudayaan masyarakat Bali dengan keseharian warganya sebagai petani membuat wisatawan mancanegara tertarik ke Bali. Awal mulanya wisatawan ke Bali mencari tempat nyaman untuk berkesenian. Misalnya melukis, menari dan berinteraksi dengan seniman lokal. Hal ini misalnya dilakukan Walter Spies.

Kemudian para seniman itu mengajak temannya ke Bali. Demikian seterusnya sampai ada video mengulas tentang keindahan Bali yang membuat wisatawan mancanegara ke Bali.

Pelan tapi pasti masyarakat Bali mulai menjadi pelaku pariwisata. Yang semula petani kini menjadi dagang acung, sopir travel dan bekerja di hotel. Akhirnya kita lihat dengan jelas, semula pertanian pekerjaan utama masyarakat, sekarang didominasi pelaku pariwisata. Alasan utamanya, pariwisata membuat orang lebih mudah mendapat uang. Di sisi lain, pekerjaan sebagai petani makin kehilangan gengsinya.

Kemudian Bom Bali meledak 2002. Pariwisata Bali terpuruk.

Banyak pakar dan praktisi mengatakan kembali ke jati diri Bali yaitu bertani. Menurut mereka selain karena pariwisata itu rapuh, pariwisata juga boros terhadap air dan membuat berkurangnya daya dukung lingkungan.

Setahun setelah Bom Bali, pariwisata mulai pulih. Suara yang meneriakkan kembali ke jati diri Bali berangsur menguap tak terdengar. Malah 15 tahun setelah bom Bali, pariwisata lahir kembali (reborn). Jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan sebelum bom. Itu karena baiknya ekonomi dunia dan promosi pariwisata.

Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) terbuai akan kenikmatan pariwisata. Seperti ”kecanduan”, pertumbuhan akomodasi tak terkendali. Membuat banyak daerah yang tadinya air tanahnya belum intrusi, kini malah intrusi.

Pantai Kuta ditutup untuk mencegah meluasnya COVID-19. Foto Anton Muhajir.

Kemudian muncullah virus corona baru penyebab COVID-19 di tahun 2020. Semua terenyak karena sektor pariwisata yang diandalkan Bali paling terpukul dengan penyakit ini. Hotel, restoran, objek wisata dan travel semua lumpuh total. Demikian juga efek multipliernya sudah jelas baik sekarang maupun ke depan.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dilakukan. Badai krisis membayangi. Suara lantang tentang pertanian kembali bergema di media sosial masyarakat Bali. Sejumlah tokoh pun kembali menyuarakan itu.

Agar tak kembali mengulang kesalahan kita saat tak mengambil momen kembali ke jati diri yakni pertanian. Sambil bekerja dari rumah, pemerintah bisa mulai merumuskan itu kembali. Tentu dengan para tim ahlinya, sehingga ada peta jalan tentang pertanian Bali. Misalnya dengan mengadakan moratorium perizinan akomodasi pariwisata, pengetatan rencana tata ruang wilayah yang berpihak ke pertanian dan stimulus pertanian kepada masyarakat.

Kalau bisa demikian, kita akan bisa menjadi Bali ke jati diri yakni pertanian. Pariwisata adalah bonusnya. Sehingga ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi lingkungan dan budaya selalu terjaga. [b]

Pandemi Corona, Momentum Memperbaiki Pariwisata Nusa Penida

Sejak 2014, pariwisata makin menggeliat di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Pariwisata seperti candu memabukkan.

Bila kenikmatannya merasuki jiwa dan seketika dihentikan, maka dia membuat sang penikmatnya menggelepar ketagihan. Persis seperti itu yang terjadi pada pariwisata Bali termasuk Nusa Penida yang berkembang dengan pesat sejak tahun 2014.

Perkembangan Nusa Penida, gugusan pulau di Kabupaten Klungkung, Bali banyak dikunjungi karena memiliki objek wisata alam yang indah. Pariwisata Nusa Penida berkembang dengan pesat membuat masyarakat kecanduan mendapat uang dengan mudah. Seketika semua beralih profesi menjadi pengusaha dan pelaku pariwisata.

Kebun yang tadinya ditanami singkong dialih fungsikan menjadi penginapan. Warga yang tadinya menjadi buruh bangunan kemudian belajar menyopir menjadi pengantar wisatawan. Ada juga yang tadinya punya pengalaman minim di bidang memasak ditambah belajar di YouTube lalu membuka restoran.

Yang punya modal dan keberanian lebih membeli kapal cepat (speed boat) dan membuat beach club. Celakanya para pengusaha lokal itu hampir semuanya akses dana ke bank. Ketika terjadi virus corona yang menyebabkan tak ada wisatawan sama sekali, semuanya “menggelepar”.

Perkembangan pariwisata di Nusa Penida menyisakan sejumlah masalah. Perkembangan begitu pesat membuat pembangunan infrastruktur kalah cepat. Misalnya saja jalan raya baru belakangan diperbaiki. Air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sering mati. Pelabuhan yang representatif pun belum ada.

Begitu pula daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah masih belum memadai. Sampah sering terlihat menumpuk di beberapa lokasi dan ladang masyarakat. Selain masalah itu, tak kalah pelik tentang sumber daya manusia yang masih minim. Tentang bagaiamana keterampilan (skill), sikap (attitude), dan pengetahuan (knowledge) yang masih minim. Bila dibiarkan akan menurunkan citra baik suatu destinasi.

Pemandu dan sopir pariwisata menyambut turis di Nusa Penida, Maret 2020. Foto Anton Muhajir.

Tawaran

COVID-19 yang mewabah ke seluruh dunia menyebabkan semua perekonomian lumpuh termasuk sektor pariwisata. Demikian pula pariwisata Nusa Penida yang baru enam tahun menggeliat. Bila tidak dilakukan pembenahan keberlanjutan, pariwisata Nusa Penida dikhawatirkan keberadaannya. Untuk itu wabah COVID-19 ini bisa menjadi momentum untuk introspeksi bersama.

Secara sadar kita harus akui ada kesalahan pengelolaan pariwisata Nusa Penida. Setelah adanya kesadaran bersama, baru kita benahi bersama-sama. Konsep pengelolaan tiga pulau satu manajemen perlu dilakukan dengan momentum matinya pariwisata akibat virus corona.

Caranya adalaha dengan membentuk satu Badan Pengelola Pariwasata Nusa Penida. Tugasnya mengelola objek wisata, sumber daya manusia, infrasruktur dan sosial budaya masyarakat.

Sedangkan para penginapan yang terbelit utang tak bisa membayar utang di bank bisa melakukan negoisasi dengan bank. Mereka bisa membentuk holding atau perusahan induk yang menaungi seluruh penginapan di Nusa Penida dengan penjamin investor yang pro pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berkelanjutan. Mungkin bisa koperasi atau atau apalah istilahnya yang menyuntikan dana segar agar bisa bayar utang dan perbaikan manajemen secara keseluruhan.

Tentunya pemilik tetap pemilik penginapan saham senilai akurasi tim penilai. Kemudian ada pengelola yang profesional sehingga melatih sumber daya manusia (SDM), memperbaiki standar properti dari pendanaan baru dan terutama karena perusahaan induk yang mengelolanya satu, maka perang harga tidak terjadi.

Demikian pula jumlah kamar di Nusa Penida diatur oleh holding sehingga tidak ada lagi istilah kelebihan kamar. Bila ada wabah seperti virus corona ini terjadi pun semua akan siap. Tak ada kelabakan lagi

Begitupula speed boat dan pemilik kendaraan pengantar tamu. Bisa masing-masing menyatukan diri membuat perusahaaan bersama. Istilahnya membuat perusahaan induk berdasarkan bisnis utamanya. Sehingga tak ada istilah kebanyakan boat yang menyebabkan kekurangan penumpang. Perang harga juga bisa dihindari. Demikian pula sopir. Tak ada saling membanting harga dan standar mobil. SDM juga bisa disamakan dan diperbaiki.

Bila tawaran itu bisa dilakukan, masalah manajemen pulau telah diatur Badan Pengelola Pariwisata, sedangkan perusahaan-perusahaan akomodasi sejenis bisa menggabungkan diri untuk menghindari kejadian gagal bayar bank. Selain itu perang harga dan standardisasi kualitas pelayanan pun akan bisa dibenahi sehingga kualitas pariwisata Nusa Penida akan lebih baik lagi setelah pandemi. [b]

Beginilah Dampak Virus Corona pada Pariwisata Bali

Turis berkunjung di Pura Batuan, Gianyar pada Januari 2020. Foto Anton Muhajir.

Derasnya hujan berbanding terbalik dengan sepinya turis.

Hujan turun lebat di Pura Puseh Batuan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar pada Kamis, 30 Januari 2020, tengah hari. Selama lebih dari dua jam, hujan tak kunjung berhenti di pura berjarak sekitar 15 km dari Denpasar itu.

Lebatnya hujan menambah lengang suasana pura yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan asing itu. Hanya belasan turis siang itu mengunjungi pura yang dibangun sejak abad ke-11 tersebut. Dari wajahnya mereka sebagian besar turis Kaukasian dan India. Tak ada satu pun wajah turis Cina pada tengah hari itu. Padahal, merekalah yang biasanya membanjiri Pura Puseh Batuan.

“Sekarang tidak ada lagi turis Cina karena memang mereka tidak boleh lagi berwisata,” kata Made Jabur, Kepala Desa Adat (Bendesa) Batuan. Pura Puseh Batuan memang dikelola desa adat Batuan.

Menurut Jabur, setiap hari ada sekitar 1.000 turis Cina berkunjung ke Pura Puseh Batuan. Mereka datang terutama dalam grup, sebagaimana karakter turis Cina pada umumnya. Namun, sejak virus corona yang berawal dari Wuhan merebak akhir tahun lalu, kunjungan ke Pura Puseh Batuan pun menurun drastis, terutama dua minggu terakhir.

Pura Puseh Batuan hanya salah satu tempat di Bali yang mulai terdampak virus corona. Akibat merebaknya virus korona yang bermula dari Wuhan, China, pariwisata Bali pun mulai terkena dampak. Sekitar 10.000 turis dari China membatalkan perjalanan ke Bali sejak virus itu menyebar mulai akhir tahun lalu hingga akhir Januari 2020.

Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Bali I Ketut Ardana mengatakan dampak tersebut terutama terjadi pada pelaku pariwisata uang mengandalkan turis dari Cina. “Mereka lumayan terpuruk,” katanya.

Dari sekitar 80 anggota ASITA Bali yang bermain di pasar China, menurut Ardana, ada 27 agen perjalanan yang melaporkan pembatalan tersebut. “Beberapa daerah di Cina kan tidak mengizinkan warganya keluar, oleh karena itu teman-teman travel agent dengan pasar Cina pun kena masalah,” kata Ardana.

Turis di Bali menikmati tari kecak di Uluwatu. Pada 2019, turis Cina merupakan yang terbanyak kedua setelah turis Australia. Foto Anton Muhajir

Terbesar Kedua

Tak hanya bagi pengelola Pura Puseh Batuan, merebaknya virus corona memang berdampak luas pada pariwisata Bali saat ini. “Tidak bisa dipungkiri, pariwisata Bali pun kena dampak karena ada turis yang batal datang,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa.

Astawa belum bisa menjawab seberapa besar dampak tersebut, tetapi karena turis Cina merupakan yang terbesar kedua setelah Australia, dia yakin hal ini akan berdampak pada ekonomi.

Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah turis Cina di Bali saat ini memang berada di urutan kedua setelah Australia. Sepanjang Januari-November tahun lalu, wisatawan Cina di Bali sebanyak 1,1 juta (19,27 persen) sedangkan turis Negeri Kanguru sekitar 23 ribu lebih banyak (19,64 persen).

Namun, pada tahun sebelumnya, turis Cina yang lebih banyak dengan 1,3 juta sedangkan Australia 1 juta. “Tiap tahun jumlahnya naik turun, tetapi secara umum turis China memang berperan penting dalam pariwisata Bali,” ujar Astawa.

Karena itulah, menurut Astawa, banyak pelaku pariwisata yang mulai terkena dampak pembatalan turis Cina ke Bali, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi lokasi favorit bagi turis Cina. Pada umumnya, turis dari Cina menyenangi kegiatan wisata air laut, spa dan belanja. Nusa Penida dan Nusa Lembongan, dua pulau terpisah dari Bali daratan, merupakan wilayah yang makin populer di kalangan mereka.

Nusa Penida adalah pulau di Kabupaten Klungkung yang tiga tahun terakhir menjadi tujuan favorit turis Cina. Pesatnya turis di pulau ini membuat warga setempat makin banyak yang terjun di usaha pariwisata, termasuk membangun akomodasi. Namun, sejak merebaknya virus corona, turis di sana pun berkurang.

“Dampak paling terasa di beach club yang memang semua tamunya dari Cina. Sekarang hanya ada 1-2 turis. Jelas tidak bisa untuk menutupi biaya operasional,” kata I Wayan Sukadana, pengusaha pariwisata di Nusa Penida.

Sukadana memberikan contoh beach club Semaya One dan Caspla yang sekarang sudah hampir tidak ada turisnya sama sekali.

Daftar 10 negara penyumbang turis terbesar di Bali sepanjang 2019. Grafik Anton Muhajir.

Kerugian Ekonomi

Menurut Sukadana, turis Cina di Nusa Penida pada umumnya datang berombongan. Mereka hanya sehari ke Nusa Penida dan langsung balik ke Bali daratan. Karena itu dampak terhadap hotel dan penginapan di Nusa Penida, termasuk miliknya, belum terasa. Namun, dia yakin dampak itu akan terasa juga kepada mereka.

“Efek pariwisata itu kan luas. Tidak hanya langsung kepada pelaku pariwisata, tetapi juga sampai ke masyarakat umum karena ekonomi Bali memang sangat tergantung pariwisata,” kata Sukadana.

Ardana menyatakan hal serupa. “Seluruh Bali pasti akan kena. Tidak hanya biro perjalanan wisata, tetapi juga objek wisata, guide, dan masyarakat umum,” ujarnya.

Ardana memberikan contoh kerugian ekonomi akibat batalnya sekitar 10.000 turis Cina setelah maraknya virus corona. Tiap turis Cina menghabiskan sekitar 1.200 dolar Amerika selama mereka di Bali. “Totalnya silakan hitung sendiri,” katanya.

Mengacu pada angka 10.000 turis yang batal datang sementara pengeluaran rata-rata mereka sekitar 1.200 dolar Amerika, maka kerugian pariwisata Bali akibat virus corona mencapai sekitar Rp 164 miliar.

Di tingkat lapangan, kerugian itu terjadi sebagaiman di Pura Puseh Batuan. Menurut Jabur, tiap hari mereka bisa mendapatkan Rp 10 juta sampai Rp 15 juta dari kunjungan turis. Dengan hilangnya turis hingga 90 persen, maka pendapatan mereka saat ini tinggal Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per hari.

Petugas di Pura Batuan mengenakan masker untuk mengantisipasi penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Antisipasi

Dibandingkan daerah lain di Indonesia, Bali memang termasuk salah satu daerah rentan penularan virus corona. Bali memiliki jalur penerbangan langsung dari Cina terbanyak di Indonesia. Untuk jalur Wuhan – Denpasar saja ada empat penerbangan tiap minggu yaitu Lion Air dan Sriwijaya Air.

Namun, semua penerbangan tersebut sudah ditutup sejak 25 Januari 2020 lalu.

Hingga saat ini, di Bali juga belum ditemukan satu pun kasus virus corona. Pekan lalu sempat ada tiga warga negara asing yang diduga terpapa virus corona dan dirawat di RSUP Sanglah, tetapi ketiganya dinyatakan negatif.

Melalui video yang disebarkan kepada media, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya juga mengatakan bahwa Bali masih aman dari penularan virus corona. Upaya pencegahan penularan juga sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Mulai dari pintu kedatangan di Bandara Ngurah Rai, melalui thermo scanner, tentu akan mencegah masuknya virus. Begitu pula dengan kesiapan layanan kesehatan.

“Sehingga kita berharap dengan cara itu Bali akan terhindar dari masuknya virus corona,” kata Suarjaya.

Dalam diskusi dengan kalangan pariwisata Bali di Denpasar, Kamis, 30 Januari 2020, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Wayan Windia menambahkan Dinas Kesehatan Provinsi Bali sudah mengantisipasi masuknya virus corona ke Bali melalui dua langkah.

Pertama, skrining ketat terhadap penumpang dan kru pesawat yang datang dari daerah terjangkit. Kedua, pemberian Health Alert Card (HAC) bagi penumpang dan kru. “Kami juga melaksanakan surveilens aktif untuk kewaspadaan dini dan menyiagakan seluruh rumah sakit di Bali,” kata Windia.

Khusus untuk pelaku pariwisata, Windia melanjutkan, diharapkan memberikan komunikasi risiko kepada wisatawan. Mereka juga diharapakn melaporkan jika menemukan kasus. “Kami berharap hotel juga bekerja sama dengan memberikan akses kepada petugas yang melakukan pemantauan,” tambahnya.

Di lapangan, antisipasi itu juga terjadi sebagaimana di Pura Puseh Batuan, Gianyar. Para petugas pemberi kain untuk masuk pura dan petugas keamanan (pecalang) pun sudah mengenakan masker untuk pencegahan. “Selebihnya kita mengikuti saja imbauan pemerintah karena mereka juga sudah melakukan pencegahan di bandara dan di hotel-hotel,” kata Jabur.

Dengan cara tersebut para pelaku pariwisata di Bali yakin virus corona tidak akan masuk di Bali dan bisa teratasi. Apalagi pariwisata Bali juga sudah terbukti bisa bangkit setelah mengalami krisis, seperti pada saat wabah kolera, penyakit SARS, bom Bali, dan erupsi Gunung Agung. “Kita sudah mengalami beberapa kali kejadian serupa, termasuk SARS dan kolera terhadap warga Jepang dulu. Buktinya kita bisa menghadapi itu,” kata Ardana.

Adapun Jabur yakin virus corona tidak akan berdampak panjang terhadap kondisi sepinya turis di Pura Puseh Batuan, objek wisata yang dikelola desanya. “Semoga dua bulan lagi sudah pulih kembali,” harapnya. [b]

Keterangan: Versi lain laporan ini juga dimuat BBC Indonesia.

Terapis Spa Tanpa Sentuhan Massage ‘Bum-Bum’

Terapis spa seringkali mendapat stigma dengan ajakan untuk melakukan prostitusi. Foto Indira Rikma.

Benarkah terapis spa sering mendapat ajakan esek-esek dari pelanggannya?

Kuta masih menjadi magnet utama pariwisata Bali. Sebagai ikon pariwisata Bali, Kuta kerap ramai dikunjungi turis yang memiliki tujuan berlibur saat ke Bali. Sejalan dengan itu, di Kuta pun makin banyak hiburan spa atau jasa pijat.

Jasa pijat ini dibuka dengan memanfaatkan kelelahan turis saat jalan berkeliling di kawasan Kuta. Setiap sore terlihat lalu lalang turis mancanegara melintas di sekitaran Jalan Pantai Kuta. Daerah wisata ini biasa dikenal dengan ombak pantainya yang menakjubkan.

Di pinggir jalan bertrotoar yang ramai, berkanopikan tanaman rambat, dengan tiang hijau sebagai ciri khas atap peneduh, terdapat deretan bangunan toko yang menghiasi suasana Kuta.

Selain Art Shop, peluang usaha yang banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat adalah sarana hiburan berupa Spa & Massage atau sebutan lain dari jasa pijat.

Namun, pekerjaan ini tak selalu dipandang positif. Tak jarang, masih ada penilaian masyarakat bahwa bekerja menjadi pegawai spa berarti siap menjadi pelayan pijat plus-plus.

“Emang bener, biasanya tamu India. Dia milih terapis kayak gitu karena pingin enak aja dan pingin yang cantik,” tutur Srini Astuti, pegawai Dikuta Massage & Spa.

Stigma ada terapis itu tak menghalangi suburnya bisnis spa di kawasan Kuta. Jika dihitung jari dengan jarak sekitar 100 meter dari perempatan Bemo Corner hingga gapura Pantai Kuta, terdapat 15 operasional spa yang dikelola oleh manajemen berbeda.

“Kita sebagai karyawan harus bisa menjelaskan ke pelanggan bahwa kita tidak ada massage bum-bum,” ujar Sri yang berumur 19 tahun ini bercerita sambil tertawa menjelaskan konotasi massage bum-bum.

Pada kalangan terapis, istilah massage bum-bum memiliki arti yang mana pelanggan datang dengan harga yang disepakati, memilih terapis yang akan melayani, dan terjadilah tindak prostitusi untuk memenuhi hasrat birahi.

Prostitusi Terselubung

Tak dapat dipungkiri, beberapa daerah di Bali memang masih ada layanan jasa pijat yang berkedok prostitusi terselubung ini. “Sama saja jika dia sudah kelihatan mulai pingin begitu, ya sudah, kelihatan dari cara bicara dan tatapan tamu,” kata Sri.

Dia menyampaikan bahwa dalam sebulan kurang lebih ada 8 kali tamu yang menanyakan jasa massage bum-bum ini.

Tak hanya terapis perempuan, terapis laki-laki pun terkadang saat menawarkan brosur pada tamu yang lewat di jalan, sesekali ditanyakan kesediaan jasa ini oleh tamu laki-laki pula.

“Intinya setiap kami ngasi brosur, mereka selalu bilang ada nggak massage bum-bum atau plus-plus,” jawab Dandi seorang terapis pria.

Turis yang datang tak sedikit memang bertanya jasa itu, datang sendiri dan terkadang berdua. Namun, dengan begitu masih banyak terapis secara profesional terhadap pekerjaannya dan menolak jasa pijat plus-plus.

“Sri pribadi sih sudah pasti menolak ya. Selama satu tahun kerja tidak pernah melayani jasa itu,” aku Sri jujur.

Meski terdapat stigma dari masyarakat tentang sisi kelam sebagai pegawai spa sesuai kondisi lapangan ini, masih banyak pegawai dengan tegas menolak, serta memilih bekerja secara jujur dan profesional. Ini karena seluruh gaji yang didapat, digunakan untuk menghidupi keluarga di kampung halaman. [b]

The post Terapis Spa Tanpa Sentuhan Massage ‘Bum-Bum’ appeared first on BaleBengong.