Tag Archives: Pariwisata

BUMDA Ungasan Gandeng Unud Tata Pantai Melasti

Tim BUMDA Ungasan dan Prodi S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Foto I Made Sarjana.

Bagaimana BUMDA Ungasan bangkit setelah Rp 48 miliar dananya pernah digondol pengurus lama?

Masyarakat Desa Adat Ungasan Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung kini sedang berbenah memperbaiki perekonomian desa. Pantai Melasti pun disulap menjadi daya tarik pariwisata.

Demi percepatan penataan daya tarik wisata baru tersebut, Bhaga Utsaha Manunggal Desa Adat (BUMDA) milik Desa Adat Ungasan menggandeng Program Studi (Prodi) S2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana sebagai mitra kerja sama untuk melakukan kajian sekaligus pembinaan secara berkelanjutan. Perjanjian kerja sama dua belah pihak ditandatangani di Kantor LPD Desa Ungasan pada Sabtu (2/3/2019).

Perjanjian ditandatangani Bendesa Adat Ungasan I Wayan Disel Astawa, SE bersama Ketua Prodi S2 Kajian Pariwisata Dr. Ir. IGA Suryawardani, M.Mgt

Usai menandatangani surat perjanjian, Gung Dani, panggilan akrab IGA Suryawardani, menyampaikan kesannya atas potensi pariwisata di Pantai Melasti. Menurut Gung Dani pantainya eksotis, dari segi nama maupun potensi fisik. Keunikan ini memberi peluang lebih mudah untuk dipasarkan.

“Dalam bahasa Inggris kata melasti artinya purification. Ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung,” tutur ahli pemasaran produk pariwisata dan pertanian ini.

Gung Dani mengingatkan, perlunya mengelola Pantai Melasti dengan mempertahankan kesucian dan meminimalkan kebencian. Kesucian yang dimaksud Pantai Melasti sebagai tempat upacara keagamaan, taksunya harus dijaga. Kebersihan dan keasrian wilayah ditingkatkan dengan model penataan yang ramah lingkungan.

Harmoni di tengah-tengah masyarakat menjadi kunci dalam membangun industri jasa. Jadi, kata Gung Dani, konflik social akibat pengembangan Pantai Melasti harus dihindari dengan cara menumbuhkan kepercayaan satu sama lain dan hilangkan perasaan dengki.

Lebih Jauh, Gung Dani menjelaskan dalam merealisasikan kerja sama bertajuk “Pengembangan Daya Tarik Pantai Melasti” pihaknya didukung ahli-ahli pariwisata Unud yang mengajar di S2 Kajian Pariwisata dan Pusat Unggulan Pariwisata. Ada Dr. Agung Suryawan, Dr. Pujaastawa , Dr. Nyoman Sudiantara, Dr. Indra, dan juga para guru besar seperti Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, Prof. Dr. Sukaatmaja, Prof. Dr. Made Budiarsa, Prof. Dr. Made Antara.

“Ini adalah kerja sama yang pertama bagi S2 Kajian Pariwisata. Saya berharap proyek rintisan ini bisa bermanfaat bagi Desa Adat Ungasan dan Unud sendiri,” tutur Gung Dani penuh semangat.

Suasana pantai Melasti menjadi daya tarik selain keunikan namanya. Foto I Made Sarjana.

Bangkit setelah Bangkrut

Sementara Wayan Disel Astawa menuturkan Pantai Melasti yang diluncurkan sebagai daya tarik pariwisata per 1 Agustus 2018 sudah memberi manfaat nyata bagi Desa Adat Ungasan. Pemasukan bersih yang mereka dapatkan sekitar Rp 600-700 juta per bulan.

Pada periode awal pembukaan, LPD sudah mampu menyelamatkan LPD Ungasan tetap beroperasi setelah bangkrut akibat “dibobol” pengurus lama sekitar Rp 48 miliar. “Syukur sekarang kami sudah punya dana cadangan 12 miliar,” tutur mantan anggota DPRD Provinsi Bali itu.

Astawa menambahkan Pantai Melasti dikelola dengan berbasis masyarakat di mana peluang usaha dan peluang kerja yang tercipta setelah Pantai Melasti jadi daerah tujuan wisata (DTW) sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat Ungasan.

Pengelola Pantai Melasti telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,7 miliar untuk membangun berbagai fasilitas dan penataan wilayah pantai ke dalamlima5 zonasi. Nantinya disiapkan 15 kios untuk masing-masing banjar adat dan ada 22 kios yang disewakan untuk perorangan.

Penandatangan kerja sama tersebut dirangkaikan dengan kegiatan pelatihan jurnalisme wisata untuk pengisian website secara berkala. Pakar jurnalistik Bali Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Lit. tampil sebagai instruktur bagi 30 pegawai BUMDA peserta pelatihan tersebut. [b]


The post BUMDA Ungasan Gandeng Unud Tata Pantai Melasti appeared first on BaleBengong.

Mengebiri Demokrasi demi Pariwisata Massal Bali


Pariwisata Bali akan makin dikembangkan untuk bersaing dengan Malaysia dan Singapura.

Ambisi itu bisa terlihat dari pemetaan program kerja Gubernur Bali periode 2018-2023 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali. Untuk itu tatanan hukum baik nasional maupun daerah yang mendukung dan memperkuat investasi di seluruh pulau Bali akan diperkuat.

Hal itu sesuai jargon Gubernur Bali saat ini, “One island, one management, one commando.” Hal ini didukung dengan gencarnya pembangunan infrastruktur dan industri yang difokuskan pada jaringan transportasi berupa jalan, bandara di Buleleng dan Pelabuhan Amed.

Pembangunan jaringan transportasi ini memerlukan tambahan energi, telekomunikasi, sumber daya air dan prasarana lingkungan yakni pembangunan PLTU di 3 titik yakni Bali timur, Celukan Bawang dan Nusa Penida. Akibatnya, alih fungsi kawasan pesisir pantai menjadi lahan privatisasi bagi para investor akan terus terjadi. Begitu pula reklamasi Pelindo dan Teluk Benoa yang masih terus dilakukan hingga saat ini.

Hilangnya Budaya Agraris

Seiring alih fungsi pesisir, terjadi pula hal serupa di darat. Budaya agraris yang melestarikan tanah pertanian dan perkebunan serta sistem irigasinya kian terancam.

Padahal budaya inilah yang memikat wisatawan baik nasional maupun mancanegara untuk datang ke Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 luas tanah di Bali sejumlah 563.666 hektar. Seluas 210.175 hektar difungsikan untuk pembangunan infrastruktur, rumah, hotel, vila, penginapan restoran dan pembangunan lainnya di luar pertanian.

Hal ini menunjukkan bahwa 37 persen tanah di Bali tidak lagi berfungsi sebagai tanah pertanian.

Di sisi lain, pembangunan pariwisata massal Bali yang sangat gencar berbanding terbalik dengan penegakkan Hak Asasi Manusia. Pariwisata massal memang membawa pemasukan besar, tetapi apakah pariwisata tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang sangat besar juga?

Liberalisasi izin untuk akomodasi berimplikasi pada Bali kelebihan kamar hotel hingga 98.000, ditambah krisis air akibat pembangunan, privatisasi lahan pesisir serta beralih fungsinya lahan 1.000 ha per tahun untuk kebutuhan pembangunan pariwisata. Itu belum termasuk tanah yang akan dialihfungsikan untuk pembangunan infrastruktur baik Pembangkit Listrik dan jaringan transportasi.

Kebutuhan listrik Bali tahun 2016 dipasok dari berbagai pembangkit listrik dan kabel listrik dari Jawa yang sudah ada yaitu PLTU CB tahap 1 sebesar 380 MW, kabel listrik dari Jawa bawah laut sebesar 340 MW, PLTG Pesanggaran 187 MW, PLTG Gilimanuk 130 MW, PLTD Pesanggaran 100 MW, PLTG Pemaron 80 MW, PLTD BOT 45 MW, PLTS kubu 1 MW, PLTS Bangli 1 MW dan PLTM Buleleng 1,4 MW.

Jumlah kemampuan daya pasokan listrik mencapai 1.263 MW dengan beban puncak 811 MW, sehingga pasokan listrik di Bali dapat dikatakan masih surplus 452 MW.

Namun, masyarakat terdampak tidak dilibatkan dalam partisipasi mendapatkan informasi yang utuh, mengawal, memberi masukan, terlibat secara penuh dalam pembentukan Revisi Perda RTRW hingga penyusunan amdal. Walaupun secara hukum partisipasi masyarakat menjadi salah satu factor yang wajib dipenuhi dalam mendorong lahirnya suatu kebijakan maupun perizinan.

Hal ini sebagai cerminan adanya dugaan indikasi korupsi yang masih marak terjadi khususnya dalam pembangunan infrastruktur dan pariwisata masal. Sebagai destinasi wisata dunia Bali sudah seharusnya memiliki sumber daya energi terbarukan agar tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan agar sejalan dengan motto pemerintah Provinsi Bali “Bali Clean and Green” yang dicanangkan oleh Gubernur Bali.

Nasib Buruh

Alih fungsi lahan berimplikasi pada alih fungsi lapangan pekerjaan, masyarakat Bali yang awalnya sebagai petani dan pekebun beralih menjadi buruh. Apabila dilihat dari jumlah devisa yang disumbangkan Bali melalui sektorpPariwisatanya yakni Rp 47 triliun, tentu buruh seharusnya dapat hidup sejahtera.

Nyatanya, dalam data pendampingan kasus ketenagakerjaan, YLBHI-LBH selama ini menemukan ada bentuk-bentuk perlakuan tidak manusiawi.

Pertama, pemberian upah minimum kepada buruh yang telah mengabdikan hidupnya bertahun-tahun di perusahaan. Kedua, sistem buruh kontrak dan outsourcing pada pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya menjadi buruh tetap. Ketiga, beban berlebih pada buruh perempuan yang sedang hamil sehingga mengalami keguguran.

Keempat, upah pekerja yang tidak dibayar. Kelima, Pemutusan Hubungan Kerja sewenang-wenang. Keenam, minimnya pengawas di Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan Provinsi Bali yang hanya berjumlah 9 orang.

Menurut Akademisi Hukum, Wiryawan upah minimum sebenarnya sebagai jaring pengaman terendah yang ditujukan bagi ibu-ibu yang membantu suami mencari nafkah, upah bagi pekerja yang tidak memiliki skill. Upah minimum dikorelasi untuk memenuhi kehidupan minimum, bukan memenuhi kebutuhan hidup layak apalagi berkeadilan.

Wiryawan menambahkan pemotongan upah bagi buruh outsourcing merupakan pelanggaran HAM dan termasuk perdagangan orang dikarenakan upah tidak boleh dipotong dengan alasan apapun. Pola-pola perdagangan orang juga berlaku bagi pekerja buruh kontrak pada sector-sektor pekerjaan yang seharusnya tidak boleh dikontrak.

Hal ini sebagai bentuk upaya perusahaan untuk berkilah dari kewajiban membayar pesangon buruh apabila terjadi PHK. Perusahaan hanya mengambil manfaat sebesar-besarnya dari buruh tanpa melihat kesejahteraan buruhnya dengan menggunakan pola relasi kuasa yang timpang.

Pemberangusan Demo(krasi)

Di awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, janji penegakan hak asasi manusia sempat melambungkan harapan masyarakat Indonesia akan hadirnya negara baru yang demokratis dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Lalu, bagaimana faktanya?

Kemunduran demokrasi terus berlangsung. Penegakan hukum dan hak asasi manusia terus kalah dan diabaikan. Hukum hanya dijadikan alat politik dan kekuasaan.

Fenomena rule by law yang tersaji bukan rule of law.

Negara yang mestinya tampil sebagai pemegang tanggungjawab penghormatan, perlindungan, pemenuhan dan penghormatan hak asasi manusia justru acapkali melakukan pembiaran dan bahkan menjadi pelaku pelanggaran HAM yang terjadi. Penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak sipil politik, hak ekonomi sosial dan budaya serta hak atas pembangunan dan lingkungan hidup yang sehat semakin terpinggirkan.

Pelibatan masyarakat dalam bentuk partisipasi diindahkan hanya untuk ambisi membangun infrastruktur yang menompang laju pariwisata. Konflik vertikal acap kali digunakan dengan membenturkan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya. Bali sebagai tempat perhelatan Bali Democracy Forum nyatanya tidak memberikan ruang bagi tumbuhnya demokrasi.

Masyarakat Bali yang ingin menyuarakan aspirasinya diintimidasi dengan dalil akan mengancam laju pariwisata bahkan merusak citra Bali sebagai pulau yang damai. Alat-alat Negara juga tidak jarang digunakan seperti Polisi dan TNI untuk melakukan intimidasi terhadap masyarakat sipil yang menolak program pemerintah.

Pada penghujung tahun 2018 Bali sebagai tuan rumah perhelatan Annual Meetings – World Bank Group 2018, forum pertemuan terbesar di bidang ekonomi, keuangan dan pembangunan di tingkat global yang mempertemukan pihak pemerintah dari 189 negara dengan pihak non pemerintah yang menguasai sektor keuangan dan ekonomi dunia mendapat penolakkan dari masyarakat sipil di Bali.

Menyikapi hal ini, pemerintah melalui Polda Bali justru melarang seluruh kegiatan yang akan dilangsungkan bertepatan dengan pelaksanaan Annual Meeting bahkan pembubaran secara paksa juga terjadi.

Pembangunan infrastruktur yang telah jelas diatur melalui RTRW, mengabaikan masyarakat terdampak dengan tidak melibatkan dalam proses pembuatan AMDAL sehingga masyarakat terdampak tidak memahami pembangunan apa yang akan dibangun oleh pemerintah, dampaknya hingga bagaimana bagaimana solusi ketika dampak negatif mengancam kehidupan ekonomi, sosial dan budaya mereka.

Maka sesungguhnya Bali hari ini bukanlah pulau yang mencerminkan demokrasi, melainkan hanya tempat untuk mempertontonan begitu masifnya pelanggaran HAM yang terjadi. [b]

The post Mengebiri Demokrasi demi Pariwisata Massal Bali appeared first on BaleBengong.

Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot

Tanah Lot menjadi salah satu tempat wisata populer di Bali. Foto Komang Putrayasa (Flickr).

Apakah kalian pernah mengunjungi Pura Tanah Lot?

Rasanya kurang lengkap kalau ke Bali tidak mampir ke tempat ini. Pura Tanah Lot merupakan tempa persembahyangan bagi umat Hindu Bali. Di tempat ini ada dua pura. Satu di atas bongkahan batu dan yang satu berada di atas tebing di pinggir pantai.

Tanah Lot merupakan tempat wisata eksotis dengan pemandangan laut dan keindahan matahari tenggelamnya. Namun, pernahkah kalian mendengar mitos tentang tempat tersebut?

Ada beberapa mitos tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Nah, kali ini kita akan membahas beberapa mitos tersebut, tetapi sebelumnya mari kita lihat sejarah tempat ini.

Sejarah Pura Tanah lot

Menurut legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Hyang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Jawa ke Bali.

Yang berkuasa di pulau Bali pada saat itu ialah Raja Dalem Waturenggong. Beliau menyambut baik dengan kedatangan dari Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya. Penyebaran agama Hindu pun berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa di Pulau Bali.

Dikisahkan, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi sinar tersebut. Tibalah beliau di sebuah pantai di Desa Beraban Tabanan.

Pada masa itu Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti, yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme.

Lalu Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo. Saat itu batu karang tersebut berada di daratan.

Dengan berbagai cara Bendesa Beraban Berusaha mengusir Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Berdasarkan legenda, Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batukarang di tengah lautan.

Setelah peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti kemudian mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha. Dia pun menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Sebelum meninggalkan Desa Beraban, Dang Hyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada bendesa Beraban. Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman.

Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.

Semenjak upacara tersebut rutin dilakukan penduduk Desa Beraban, kesejahteraan penduduk pun meningkat dengan pesat. Hasil panen pertanian melimpah dan mereka hidup dengan saling menghormati.

Adanya Tanah Lot sebagai tempat wisata populer di Bali saat ini turut meningkatkan kesejahteraan warga Desa Beraban. Namun, hati-hati. Tanah Lot juga memiliki sejumlah mitos.

Apa saja itu?

1. Membawa pasangan akan membuat hubungan cepat berakhir.

Konon, kalau kita membawa pasangan ke Tanah Lot, hubungan cepat berakhir. Menurut saya mitos ini rasanya kurang tepat karena banyak pasangan yang datang ke tempat ini mengaku hubungan mereka baik-baik saja.

Bahkan teman saya yang sering pergi melakukan persembahyangan ke sana dengan pacarnya baik-baik saja. Mungkin mitos ini berkembang untuk menjaga kesucian agar tempat itu tidak digunakan untuk hal yang negatif.

2. Ular Suci Penjaga pura Tanah Lot

Selain itu ada juga mitos tentang ular suci penjaga pura. Ular yang berada di tempat ini berjenis ular laut yang bisanya sangat mematikan.

Kenyataannya, ular di sana sangat jinak. Malah, konon katanya ular yang berada di dalam sebuah goa ini bisa mengabulkan permintaan sekaligus sebagai penjaga pura tersebut.

Tempat ular ini biasanya dijaga pawangnya. Kita dikenakan biaya untuk bisa memegang dan berfoto dengannya.

3. Air suci yang membuat awet muda

Mitos lain yang dipercaya masyarakat adalah air di Tanah Lot bisa membuat orang awet muda. Banyak pengunjung datang untuk membuktikan mitos itu sendiri, tetapi belum ada penelitian tentang kebenaran air suci ini.

Nah, itulah tadi mitos yang melekat pada Pura Tanah Lot. Untuk kalian yang ingin liburan di Bali jangan lupa mampir ke obyek wisata ini. [b]

The post Inilah Sejumlah Mitos tentang Tanah Lot appeared first on BaleBengong.

Ini Dia 6 Tempat Wisata di Jakarta dengan Sajian Kuliner Lezat

Monumen Nasional Indonesia di Jakarta (sumber: Traveloka)

Tempat wisata di Jakarta hadir dengan cukup beragam. Jika anda ingin berekreasi, anda bisa melihat berbagai tempat wisata di Jakarta di Traveloka. Tapi jika anda termasuk orang yang menyukai santapan lezat dan mencicipi beragam jenis makanan baru, maka ada baiknya untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata kuliner yang ada di kota Jakarta berikut ini, diantaranya :

  1. Pasar santa

Pasar santa dikenal sebagai salah satu lokasi nongkrong dan juga wisata kuliner yang banyak dikunjungi di kota Jakarta. Meskipun memiliki tampilan cahaya yang cukup redup, faktanya kawasan kuliner malam ini tidak pernah sepi dari para pengunjung. Hal ini berkaitan dengan sajian makanan serta minuman yang ditawarkan di tempat tersebut. Selain dikenal dengan beragam sajian unik, harga yang ditawarkannya pun cukup terjangkau. Tidak hanya itu saja, lokasi wisata kuliner ini juga dikenal sebagai tempat berkumpul yang cocok untuk membahas beragam jenis hal serta topik bahasan. Selain itu, bagi anda yang ingin mendapatkan nuansa yang lebih ramai dan menyenangkan, maka pastikanlah untuk mengunjungi lokasi ini di malam hari.

  1. Southbox

Southbox dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner yang banyak diminati oleh kaum muda. Karena selain nyaman, tempat ini menyediakan variasi dari makanan serta minuman yang terjamin tingkat kelezatannya. Southbox itu sendiri terdiri dari dua bagian lantai yang mana tempat tersebut hadir dengan desain unik melalui penggunaan kotak container, sehingga membuat tampilan yang dimilikinya jauh lebih menarik. Dikenal dengan tema semi outdoor yang juga dilengkapi oleh meja serta kursi tentunya menjadikan suasana wisata kuliner anda jauh lebih menyenangkan dan juga terkesan santai.

  1. Holycow steak

Jika dilihat dari nama yang dimilikinya tentu anda pun sudah mengetahui dengan pasti bahwa menu sajian utama yang dihidangkan di tempat tersebut adalah steak. Restoran ini sudah dikenal dan populer di kalangan para pecinta steak, hal ini berkaitan dengan sajian steak yang dimilikinya yang mana memiliki rasa lezat serta wangi yang khas. Restoran ini banyak diburu ketika memasuki akhir pekan. Untuk itu, bagi anda yang ingin mengunjungi tempat tersebut ada baiknya untuk memilih hari biasa, sehingga tidak kehabisan dan bisa mendapatkan tempat duduk dan dapat menikmati sajian steak dengan lebih menyenangkan

  1. Tony Roma’s

Tempat wisata kuliner selanjutnya yang wajib untuk anda kunjungi dari Kota Jakarta ini adalah Tony Roma’s. Restoran ini dikenal dengan beragam menu yang berkaitan dengan iga. Namun patut untuk anda ketahui pula bahwa harga yang ditawarkannya bukan harga murah, pasalnya iga itu sendiri dikenal sebagai produk makanan berharga tinggi, namun anda yang menikmati kuliner di tempat ini tidak akan menyesal dengan uang yang harus anda keluarkan, pasalnya setiap sajian yang dihidangkannya pun memliki rasa yang lezat, bahkan banyak diantaranya para pengunjung yang merasa ketagihan dan ingin memesan kembali. Restoran ini dibuka dari pukul 11.00 siang hingga 23.00 malam sehingga cocok bagi  anda yang ingin menikmati nuansa malam di kota Jakarta.

  1. Café siang malam

Sesuai dengan nama yang dimilikinya, tempat kuliner yang satu ini dibuka sejak siang hingga malam, lebih tepatnya hingga pukul 2 atau bahkan 3 pagi hari. Sementara itu, untuk menu makanan yang ditawarkannya termasuk dalam menu makanan simple dan sederhana yang cukup banyak dikonsumsi oleh anak muda, seperti halnya ayam penyet, roti bakar, nasi dengan sarden dan juga beragam menu lainnya. Tempat ini menjadi lokasi wisata kuliner favorit, utamanya bagi mereka yang ingin mendapatkan makanan dengan rasa lezat di malam hingga subuh hari.

  1. Kemang food festival

Berlokasi di kawasan kemang, lebih tepatnya di jalan Kemang Raya Nomor 18 Mampang Prapatan dari kawasan Jakarta Selatan. Di tempat ini anda bisa menemukan beragam jenis makanan yang tampil dengan bentuk food court, Sementara itu, menu makanan yang disajikannya dimulai dari menu tradisional, hingga sajian bergaya eropa. Sementara itu untuk harga yang ditawarkan anda tidak perlu khawatir, pasalnya tempat ini menyediakan harga makanan yang relatif murah dan terjangkau, utamanya untuk kalangan mahasiswa juga pelajar. Selain itu, lokasi makan yang dimilikinya pun sangat nyaman, tempat wisata kuliner ini dapat anda kunjungi dari pukul 5 sore hingga larut malam.

Itulah kiranya beberapa lokasi wisata kuliner dari beberapa tempat wisata di Jakarta yang dapat anda kunjungi dan nikmati.

The post Ini Dia 6 Tempat Wisata di Jakarta dengan Sajian Kuliner Lezat appeared first on BaleBengong.

SVF 2018: Pesona Wisata Sanur di Bulan Agustus

Jangan lewatkan bulan Agustus nanti.

Inilah waktu untuk menikmati pengalaman mengesankan panorama pantai bersama mentari yang lagi sedang manjanya, mendengarkan alunan musik, menyantap makanan dan menyesap minuman atau sekadar bersantai memanjakan diri bersama masyarakat di desa ujung timur Kota Denpasar ini.

Cuaca cerah, sedikit sejuk dengan angin muson dari timur yang biasa menerbangkan layang-layang masyarakat Bali, adalah penanda alam ketika menikmati pesta hajatan tahunan masyarakat Desa Sanur atau yang dikenal dengan Sanur Village Festival. Desa perintis pariwisata Bali ini telah berubah secara perlahan-lahan menjadi desa internasional.

Terlebih setelah kehadiran kaum ekspatriat yang terlebih awal tinggal, desa ini menjadi sohor karena warga dunia ingin tahu keindahan alam, tradisi, budaya serta kehidupan sosial masyarakatnya. Dari semula Sanur adalah desa nelayan, kini menjadi desa pariwisata yang mendunia. Siapa yang tidak mengenal Sanur, atau belum ke Bali kalau tidak berkunjung ke Sanur.

Sanur Village Festival yang dihelat pertama kali pada tahun 2006, semakin membuktikan dirinya menjadi festival kebanggan masyarakat Bali. Dia bahkan telah masuk dalam sepuluh besar agenda pariwisata Indonesia.

Pada 22-26 Agustus, agenda ini akan dilaksanakan di Pantai Matahari Terbit Sanur. Seluruh rangkaian event yang dihelat selama lima hari penuh ini akan dibingkai dengan tema besar “Mandala Giri”.

Ketua Umum Sanur Village Festival Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan konsep Mandala Giri sebagai kerangka acuan adalah sebuah semangat pemikiran untuk memusatkan perhatian kembali kepada Gunung Agung. Ketika aktivitas vulkanik Gunung Agung meningkat pada November 2017 dan berulang erupsi belum lama ini adalah kenyataan yang memberikan refleksi dalam hal kemanusiaan, persaudaraan, dan pendekatan terhadap alam.

Semangat inilah yang perlu diwadahi kembali menjadi kekuatan yang senantiasa menyadarkan kita untuk berempati, ‘menyama braya’ maupun hormat dan berbuat yang terbaik bagi alam.

“Sebagai masyarakat Bali yang menjujung filosofi kehidupan Tri Hita Karana, kami dingatkan secara terus-menerus untuk menjaga Bali baik secara keduniaan maupun taksunya,” kata Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau yang dikenal Gusde.

Lebih dari itu menurut Gusde, semangat kebersamaan dan rasa memiliki telah mengantar SVF menjadi kegiatan komunal yang memberikan kemanfaatan nyata bagi warga dan sejumlah komunitas desa pesisir ini dan sekitarnya. Spirit kreativitas, motivasi, dan inovasi ala Sanur yang diadahi dan disalurkan melalui SVF ini bakal terus dikembangkan untuk mewujudkan tatanan sosial dan budaya yang berkesejahteraan dan berkedamaian.

Perjalanan 12 tahun SVF telah mewujudkan ciri khas warga desa yang dengan penuh rasa kekeluargaan, gotong royong (ngayah), metetulung, menjaga lingkungan dan mewujudkan kenyamanan dalam suatu komunitas yang membanggakan.

Pelaksanaan festival kali ini tetap berpegang pada potensi alam dan budaya yang ada, seperti tujuan utama festival sebagai respons atas peristiwa bom pada 2005 silam. Ketika itu Yayasan Pembangunan Sanur menggagas kegiatan untuk menghidupkan kembali serta mengangkat citra pariwisata Bali, dan Sanur khususnya, untuk bangkit dari keterpurukan.

SVF dirancang bukan sekadar promosi pariwisata yang berdampak terhadap terdorongnya perekonomian setempat, tetapi juga menjadi ajang pengayaan keberagaman seni dan budaya, memperluasn ruang kreatif, sekaligus perayaan kehidupan masyarakat Sanur dengan segala keramahtamahan dan keterbukaannya. Dedikasi yang berawal dari tanggap darurat pascabom itu kini kian memposisikan Sanur yang memiliki daya saing di industri pariwisata.

Para pengunjung SVF bisa memilih program untuk berpartisipasi maupun menikmati program-program yang digelar setelah terbit fajar sampai malam hari. Adapun program itu diantaranya adalah parade budaya, malam seni dan budaya, musik dan aneka hiburan, bazar aneka kuliner, turnamen golf (Sanur Open Golf Turnament), festival bawah air, kompetisi jukung, turnamen memancing di laut lepas, festival layang-layang internasional, kompetisi fotografi, aneka olah raga air, Jelajah Sanur dengan sepeda, olah raga dan permainan gembira, kegiatan seni rupa, yoga bersama, peragaan busana, festival memahat es, diskusi budaya, pameran kartun, temu bisnis dan Sanur Creative Expo, Sanur Run dan Triathlon.

Setiap pengunjung memiliki kegemaran yang kadang tidak sama, maka SVF memberikan suguhan yang berbeda dimana pengunjung dapat memilih program yang sesuai dengan pilihannya. Salah satu yang paling menarik dikunjungi adalah stan food bazar yang menyajikan makanan rasa bintang lima dengan harga kaki lima. Setiap pengunjung yang memendam rindu selama setahun tentu akan menantikan stan-stan kuliner yang menjadi idolanya. Ini bukan masalah sensasi rasa tapi suasana, seperti diungkapkan oleh kebanyakan pengunjung.

Bersinergi dengan food bazar, pagelaran seni budaya dan musik dari musisi dan penyanyi papan atas Indonesia akan menambahi kenikmatan yang tidak lagi melangkahkan kaki kemana. Belum lagi, tatanan panggung yang terus berubah semakin menemukan pesonanya lewat kemunculan garapan kreatif seniman-seniman Sanur. Yang pasti, SVF punya banyak kejutan menyenangkan untuk para pengunjungnya. [b]

The post SVF 2018: Pesona Wisata Sanur di Bulan Agustus appeared first on BaleBengong.